Analisis Tafsir Salafy Terhadap Hadis Ali Khalifah Setelah Nabi SAW (Bantahan Untuk Abul Jauza)

Analisis Tafsir Salafy Terhadap Hadis Ali Khalifah Setelah Nabi SAW

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar

.

(Tulisan dibawah adalah bantahan penulis untuk artikel salafy nashibi Abul Jauza INI -Haula Wahabiyah )

Al Hafiz Ibnu Abi Ashim Asy Syaibani dalam Kitabnya As Sunnah hal 519 hadis no 1188 telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih sebagai berikut

ثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى بن حماد عن أبي عوانة عن يحيى ابن سليم أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنك لست نبيا إنه لا ينبغي أن أذهب إلا وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.

Salafy berkata

Hadits di atas dipergunakan dalil oleh kaum Syi’ah sebagai legalitas kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu (yang seharusnya menjadi khalifah setelah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam – bukan Abu Bakr Ash-Shaiddiq radliyallaahu ‘anhu).

Aneh sekali, seolah-olah setiap hadis yang membicarakan kekhalifahan harus dipandang dari sudut yang mana tafsir Sunni dan yang mana tafsir Syiah. Seolah-olah sebuah tafsir harus dipahami dalam kerangka mana anda berdiri. Apakah anda orang sunni? maka tafsirnya harus begini. Kalau anda menafsirkan begitu maka itu adalah tafsir Syiah. Pahamilah sebuah hadis bagaimana hadisnya sendiri berbicara karena kebenaran tidak terikat dengan apakah anda Sunni ataukah Syiah.

Sungguh dugaan mereka keliru. Tidak ada sisi pendalilan atas klaim mereka terhadap hadits tersebut.

Yang keliru berkata keliru. Bagaimana mungkin dikatakan tidak ada sisi pendalilan atas klaim Syiah. Padahal salafy sendiri juga mengklaim. Orang lain juga dengan mudah berkata sebaliknya “Sungguh dugaan salafy keliru, tidak ada sisi pendalilan atas klaim salafy terhadap hadis tersebut”.

Dalam memahami satu hadits tentu saja harus dipahami berbarengan dengan hadits lain yang semakna agar menghasilkan satu pemahaman yang komprehensif.

Mari kita memahami dengan pemahaman yang komprehensif dan mari kita lihat bersama siapa yang mendudukkan dalil dengan semestinya dengan berpegang pada hadisnya dan mana yang menundukkan hadis pada keyakinan yang dianut.

Sa’d bin Abi Waqqash radliyallaahu ‘anhu membawakan hadits semisal dalam Ash-Shahiihain

عن سعد بن أبي وقاص قال خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم علي بن أبي طالب في غزوة تبوك فقال يا رسول الله تخلفني في النساء والصبيان فقال أما ترضى ان تكون مني بمنزلة هارون من موسى غير انه لا نبي بعدي

Dari Sa’d bin Abi Waqqaash ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi tugas ‘Ali bin Abi Thaalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). ‘Ali pun berkata : ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah ?’. Maka beliau menjawab : ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku ?” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 4416 dan Muslim no. 2404].

Hadis Shahihain ini diucapkan Nabi SAW pada perang Tabuk, tetapi Salafy mengklaim bahwa keutamaan yang dimiliki Imam Ali kedudukan Beliau di sisi Nabi SAW seperti kedudukan Harun di sisi Musa adalah terkhusus pada perang Tabuk saja dan tidak untuk setelahnya. Jelas sekali klaim mereka ini memerlukan bukti. Mana bukti dari hadis diatas yang menunjukkan bahwa keutamaan kedudukan Harun di sisi Musa hanya berlaku saat perang Tabuk saja. Hadis di atas hanya menunjukkan bahwa keutamaan tersebut berlaku saat Perang Tabuk tetapi tidak menafikan kalau keutamaan tersebut berlaku untuk seterusnya. Sebuah hadis dengan lafaz yang umum akan berlaku sesuai keumumannya kecuali terdapat pernyataan tegas soal kekhususannya. Dan maaf kita tidak menemukan adanya kekhususan bahwa hadis di atas hanya berlaku saat perang tabuk saja. Kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafal.

Salafy berkata

Dari hadits ini kita dapat mengetahui apa makna “khalifah” sebagaimana dimaksud pada hadits pertama. Makna “khalifah” di sini adalah pengganti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam pengurusan wanita dan anak-anak saat mereka ditinggal oleh ayah atau suami mereka berangkat jihad di Tabuk. Konteks hadits dan peristiwanya menyatakan demikian

Konteks hadis menyatakan bahwa Imam Ali adalah khalifah pengganti Rasulullah SAW saat Perang Tabuk. Dan hal ini adalah bagian dari keumuman lafal kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Selain itu lafal “Tidak sepantasnya Aku pergi Kecuali Engkau sebagai Khalifahku” memiliki arti jika Rasulullah SAW pergi atau tidak ada maka Imam Ali adalah pengganti Beliau. Hal ini selaras dengan kedudukan Harun di sisi Musa. Kedudukan tersebut mencakup jika Nabi Musa AS tidak ada atau pergi dan Nabi Harun AS masih hidup maka Nabi Harun AS yang akan menjadi penggantinya. Perhatikanlah kita menerima keduanya baik konteks hadis dan teks hadis yang umum.

Salafy berkata

Jika mereka (kaum Syi’ah) menyangka dengan hadits ini Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengamanatkan kepemimpinan (khilaafah) kaum muslimin kepada ‘Ali secara khusus setelah wafat beliau, niscaya akan banyak khalifah di kalangan shahabat yang ditunjuk beliau – jika kita mengqiyaskannya sesuai dengan ‘illat haditsnya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi tugas serupa kepada ‘Utsman bin ‘Affaan, Ibnu Ummi Maktum, Sa’d bin ‘Ubaadah, dan yang lainnya.

Sungguh persangkaan mudah sekali keliru. Bagaimana Syiah menafsirkan hadis itu maka itu urusan mereka. Sekarang yang kita bahas adalah apa makna sebenarnya hadis ini. Jika salafy mengqiyaskan dengan illat hadis yang diklaim seenaknya maka begitulah jadinya. Jika salafy hanya berpegang pada asumsi mereka dan menafikan lafal hadisnya maka nampaklah kekeliruan mereka. Kekeliruan salafy adalah mereka bermaksud bahwa keutamaan Kedudukan Harun di sisi Musa itu hanya sebatas perang Tabuk saja dan ini terkait dengan kepemimpinan Imam Ali saat di Madinah saja dan itu pun saat Perang Tabuk saja. Kalau memang Salafy mengakui bahwa banyak sahabat yang mendapat kepemimpinan seperti itu maka jika kita mengqiyaskan dengan illat yang dimaksud salafy niscaya keutamaan Kedudukan Harun di sisi Musa tidak hanya milik Imam Ali tetapi juga milik sahabat lain yang mendapat tugas dari Nabi SAW. Adakah salafy berkeyakinan seperti itu?.

Salafy berkata

Jika ada yang bertanya :
Mengapa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menggunakan redaksi yang sama kepada para shahabat lain saat mereka menjadi pengganti/wakil beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mengurus wanita dan anak-anak ?.
Dijawab :
Perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Ali : “Engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, namun engkau bukanlah seorang nabi….dst.” adalah untuk menghibur sekaligus pembelaan terhadap ‘Ali atas cercaan kaum munafiq.

Saya tidak menafikan bahwa bisa saja untuk dikatakan bahwa perkataan itu untuk menghibur. Tetapi walau bagaimanapun perkataan yang diucapkan oleh Rasulullah SAW adalah sebuah kebenaran. Rasulullah SAW memberikan hiburan bahwa keutamaan Imam Ali di sisi Beliau adalah seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Hal ini mencakup berbagai kedudukan yang dimiliki Harun di sisi Musa kecuali yang telah dikhususkan oleh Rasulullah SAW bahwa itu tidak termasuk yaitu Kenabian. Jika memang salafy berkeyakinan bahwa kata-kata tersebut hanya sekedar perumpamaan artinya kepemimpinan Ali saat perang Tabuk serupa dengan kepemimpinan Harun saat Musa pergi ke Thursina dan hanya terbatas untuk itu saja. Maka tidak ada faedahnya kata-kata “namun engkau bukanlah seorang nabi”. Adanya kata-kata mengkhususkan seperti itu menunjukkan bahwa kedudukan tersebut tidaklah khusus tetapi bersifat umum yaitu Mencakup semua kecuali apa yang telah dikhususkan oleh Nabi SAW bahwa itu tidak termasuk yaitu Kenabian.

Juga, untuk menegaskan keutamaan ‘Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu di sisi beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja, sebuah penegasan keutamaan merupakan jalan yang paling ampuh untuk menangkal cercaan kaum munafiqin tersebut.

Tentu saja benar dan sebuah keutamaan yang disematkan kepada Imam Ali tidaklah akan sirna atau hilang jika kaum munafik sudah tidak mencela. Apakah salafy ingin mengatakan bahwa tujuan keutamaan tersebut hanya untuk menangkal cercaan kaum munafik saja tetapi tidak menjelaskan kedudukan yang sebenarnya?. Keutamaan tersebut menjelaskan kedudukan sebenarnya Imam Ali di sisi Nabi SAW dan kedudukan tersebut akan terus ada dan melekat pada Imam Ali.

Adz-Dzahabiy berkata :
“……..Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menugaskan ‘Aliy bin Abi Thaalib menjaga keluarganya dan mengurus segala keperluannya. Kaum munafiqin pun menyebarkan berita buruk karena penugasan tersebut dan berkata : ‘Tidaklah beliau menugaskannya (untuk tinggal di Madinah/tidak ikut berperang) kecuali karena ia (‘Ali) merasa berat untuk berangkat (jihad) dan kemudian diberikan keringanan (oleh beliau). Ketika kaum munafiqin mengatakan hal itu, ‘Ali bergegas mengambil senjatanya dan kemudian keluar untuk menyusul Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di Jarf. ‘Ali berkata : “Wahai Rasulullah, kaum munafiqin mengatakan bahwa engkau menugaskan aku karena engkau memandang aku berat untuk berangkat jihad dan kemudian memberikan keringanan”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Mereka telah berdusta ! Kembalilah, aku menugaskanmu selama aku meninggalkanmu di belakangku untuk mengurus keluargaku dan keluargamu. ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku ?”. Maka ‘Ali pun akhirnya kembali ke Madinah” [Taariikhul-Islaam, 1/232].

Perhatikanlah hadis di atas. Mari kita berikan analogi yang sama buat salafy. Jika kita memahami hadis riwayat Adz Dzahabi maka disitu disebutkan bahwa Rasulullah SAW menugaskan Imam Ali untuk mengurus keluarga Nabi dan keluarga Ali. Hal ini terlihat dari kata-kata Kembalilah, aku menugaskanmu selama aku meninggalkanmu di belakangku untuk mengurus keluargaku dan keluargamu. Kemudian setelah itu Rasulullah SAW mengucapkan ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku ?”. Dengan cara berpikir salafy maka kita dapat mengatakan bahwa illat hadis Manzilah adalah tugas untuk mengurus keluarga Nabi dan keluarga Ali. Lantas mengapa mereka sebelumnya mengatakan Makna “khalifah” bagi Imam Ali di sini adalah  pengganti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam pengurusan wanita dan anak-anak saat mereka ditinggal oleh ayah atau suami mereka berangkat jihad di Tabuk. Apakah semua orang di Madinah saat itu hanya keluarga Nabi dan keluarga Imam Ali saja?. Yah begitulah kontradiksi salafy dalam memahami hadis.

Salafy berkata

Lantas : “Apa makna : khaliifatii fii kulli mukmin min ba’di ?” – sebagaimana riwayat Ibnu Abi ‘Aashim. Bukankah ia menunjukkan lafadh mutlak yang menunjukkan ‘Ali merupakan pengganti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sepeninggal beliau ? Dan lafadh mukmin ini meliputi seluruh shahabat yang hidup pada waktu itu ?
Bahkan hal itu telah terjawab pada penjelasan sebelumnya.

Anehnya silakan anda perhatikan baik-baik. Penjelasan sebelumnya jauh berbeda dengan penjelasan salafy setelah ini. Sebelumnya ia mengatakan bahwa makna khalifah tersebut Makna “khalifah” bagi Imam Ali di sini adalah  pengganti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam pengurusan wanita dan anak-anak saat mereka ditinggal oleh ayah atau suami mereka berangkat jihad di Tabuk.

Salafy berkata

Makna : khaliifatii fii kulli mukmin min ba’di ; ini mempunyai dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah sebagaimana perkataan mereka (Syi’ah) – yaitu menjadi pengganti beliau secara mutlak setelah beliau wafat;

Ternyata sisi pendalilan itu ada, kata-kata tersebut sangat jelas. Anehnya salafy sebelumnya berkata Tidak ada sisi pendalilan atas klaim mereka terhadap hadits tersebut.

Salafy berkata

sedangkan kemungkinan kedua bahwa perkataan itu menunjukkan ‘Ali menjadi pengganti beliau bagi seluruh orang mukmin (para shahabat) hanya saat setelah kepergian beliau menuju Tabuk. Kemungkinan kedua inilah yang kuat.

Lihatlah baik-baik adakah salafy mengatakan sebelumnya bahwa khalifah itu bagi seluruh orang mukmin. Bukankah kita lihat bahwa sebelumnya salafy berkata Makna “khalifah” bagi Imam Ali di sini adalah  pengganti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam pengurusan wanita dan anak-anak saat mereka ditinggal oleh ayah atau suami mereka berangkat jihad di Tabuk. Jika memang kemungkinan kedua ini yang terkuat maka kepemimpinan tersebut juga bagi ayah atau suami mereka yang ikut berjihad saat perang Tabuk, karena bukankah mereka juga termasuk orang mukmin. Anehnya kalau memang begitu maka kepemimpinan tersebut tidak terbatas pada di Madinah saja (seperti klaim Salafy) tetapi juga mencakup orang mukmin lain yang tidak berada di Madinah. Sekali lagi kita melihat hal-hal yang kontradiksi.

Sejauh ini salafy tidak memiliki dasar untuk mengatakan bahwa khalifah yang dimaksud hanya terkhusus saat perang Tabuk saja. Mereka hanya mengklaim begitu saja bahwa itu dikhususkan tanpa menunjukkan bukti yang mengkhususkannya. Siapa yang mengkhususkan?. Ketika Rasul SAW berkata untuk setiap orang mukmin maka ada yang berkata khusus untuk anak-anak dan wanita di Madinah saja. Ketika Rasul SAW berkata “setelahku” maka ada yang berkata khusus untuk perang Tabuk saja. Siapa yang mengkhususkan kalau bukan klaim mereka sendiri. Padahal lafal hadis yang diucapkan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa Imam Ali adalah pengganti beliau secara mutlak bagi setiap mukmin setelah beliau wafat.

Salafy berkata

Kalimat ‘min ba’dii’ (setelahku) di sini maknanya bukan mencakup setelah wafat beliau. Namun ia muqayyad (terikat) pada ‘illat hadits yang disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari. Yaitu : ‘Ali menjadi pengganti Nabi setelah keberangkatan beliau menuju Tabuk dalam hal pengurusan wanita dan anak-anak di Madinah.

Tidak ada dasar bahwa lafal tersebut muqayyad karena illat hadis yang dimaksud hanyalah klaim salafy semata. Pertama-tama mari kita kembalikan pada riwayat Adz Dzahabi bukankah disana dengan cara berpikir salafy maka ‘illat hadis adalah Ali menjadi pengganti Nabi setelah keberangkatan beliau menuju Tabuk dalam hal pengurusan keluarga Nabi dan keluarga Ali. Bukankah ‘illat dari riwayat Al Bukhari dan ‘illat riwayat yang dikutip Adz Dzahabi berbeda, bagaimana bisa salafy luput melihat hal ini. Bagi saya pribadi kepemimpinan Imam Ali di perang Tabuk baik terhadap keluarga Nabi dan keluarga Ali ataupun terhadap wanita dan anak-anak Madinah adalah bagian dari keumuman Kedudukan Ali di sisi Nabi seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Dan ini mencakup kedudukan Harun yang akan menjadi pengganti bagi Musa jika Musa pergi atau tidak ada, dengan syarat saat itu Nabi Harun AS masih hidup. Dengan kata lain bagian dari kedudukan tersebut adalah Seseorang akan menjadi pengganti bagi orang yang dimaksud jika seseorang tersebut masih hidup. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menjelaskan dengan kata-kata selanjutnya bahwa Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu. Kata-kata ini dengan jelas mendudukkan Imam Ali sebagai khalifah bagi setiap Mukmin selepas Nabi SAW karena selepas Nabi SAW Imam Ali masih hidup.

Salafy berkata

Karena kalimat sebelumnya berbunyi : “Tidak sepantasnya aku pergi” – yaitu kepergian beliau menuju Tabuk.

Satu hal yang perlu diingat hadis riwayat Ibnu Abi Ashim yang memuat kata-kata ini tidak menunjukkan bukti yang pasti bahwa kata-kata ini diucapkan pada perang Tabuk. Ada saja kemungkinan bahwa hadis ini diucapkan Nabi di saat yang lain sehingga perkataan tidak sepantasnya aku pergi dijelaskan oleh kata-kata setelahKu sehingga yang dimaksud kepergian itu adalah kepergian saat Nabi SAW wafat. Salafy tidak bisa menafikan kemungkinan ini hanya dengan klaimnya semata. Seandainya pula hadis ini diucapkan saat Perang Tabuk maka perkataan tersebut diartikan bahwa saat Perang Tabuk Nabi juga telah mengatakan bahwa khalifah sepeninggal Beliau SAW adalah Imam Ali.

Salafy berkata

Sungguh sangat aneh (jika tidak boleh dikatakan mengada-ada) bagi mereka yang paham akan lisan Arab atas perkataan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak sepantasnya aku pergi (menuju Tabuk) kecuali engkau sebagai “khalifah”-ku bagi setiap mukmin setelahku” – mencakup setelah wafat beliau.

Sungguh sangat aneh (jika tidak dikatakan mengada-ada) bagi mereka yang paham akan lisan arab bahwa perkataan khaliifatii fii kulli mukmin min ba’di berarti khalifah bagi wanita dan anak-anak saat perang Tabuk. Secara bahasa arab itu berarti Khalifah bagi setiap orang mukmin sepeninggal Nabi SAW. Dan tentu lafaz ba’di memiliki arti sepeninggal (wafat). Aneh sekali jika orang yang paham lisan arab dengan mudah menafikan makna ba’di sebagai sepeninggal (wafat).

Salafy berkata

Penyamaan ‘Ali bin Abi Thaalib dengan Harun dalam hadits semakin membatalkan klaim mereka. Sebagaimana diketahui bahwa Harun tidak pernah menggantikan Musa ‘alaihimas-salaam sebagai khalifah memimpin Bani Israil. Ia wafat ketika Musa masih hidup, dan hanya menggantikan untuk sementara waktu dalam pengurusan (memimpin) Bani Israil saat Musa pergi untuk bermunajat kepada Rabbnya. Tidak ada riwayat sama sekali yang menjelaskan bahwa Harun ‘alaihis-salaam menjadi khilafah/pemimpin bagi Bani Israil sepeninggal (wafat) Musa, melainkan hanya waktu itu saja. Yang menggantikan Musa setelah wafatnya dalam memimpin Bani Israel adalah Nabi Yusya’ bin Nuun ‘alaihis-salaam

Justru salafy mengetahui tetapi tidak memahami. Penyerupaan yang dimaksud dalam hadis di atas adalah penyerupaan Kedudukan orang yang satu di sisi orang yang lain. Artinya kedudukan Imam Ali di sisi Rasul SAW seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Mengapa Nabi Musa AS menunjuk Nabi Harun AS sebagai penggantinya karena Nabi Harun AS adalah wazir Musa, keluarga dan sekutu dalam urusannya. Sama halnya dengan mengatakan bahwa kedudukan Harun saat itu di sisi Musa adalah kedudukan yang paling layak dan tepat sebagai pengganti Musa jika Musa akan pergi atau jika Musa tidak ada. Kedudukan ini sudah jelas dimiliki Harun semasa hidupnya artinya jika Nabi Harun AS masih hidup maka dialah yang akan ditunjuk sebagai pengganti Nabi Musa AS. Begitu pula dengan kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW, jika Imam Ali masih hidup maka dialah yang akan menggantikan Nabi SAW oleh karena itu Rasulullah SAW menjelaskan dengan kata-kata Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin sepeninggalKu. Karena sepeninggal Nabi SAW Imam Ali masih hidup

Salafy mengutip Nawawi yang sebenarnya tidak sedang menjelaskan hadis riwayat Ibnu Abi Ashim

Berkata An-Nawawi rahimahullah :

وليس فيه دلالة لاستخلافه بعده لأن النبي صلى الله عليه وسلم إنما قال هذا لعلي رضي الله عنه حين استخلفه على المدينة في غزوة تبوك ويؤيد هذا أن هارون المشبه به لم يكن خليفة بعد موسى بل توفي في حياة موسى قبل وفاة موسى نحو أربعين سنة على ما هو المشهور عند أهل الأخبار والقصص

“Tidak ada petunjuk (dilaalah) di dalamnya bahwa ‘Ali sebagai pengganti setelah (wafatnya) beliau. Hal itu dikarenakan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallaqm hanya bersabda kepada ‘Ali radliyallaahu ‘anhu saat menjadikannya sebagai pengganti di Madinah pada waktu (beliau berangkat menuju) Perang Tabuk. Dan ini diperkuat bahwasannya Harun ‘alaihis-salaam yang diserupakan/disamakan dengan ‘Aliy, tidak pernah menjadi khalifah sepeninggal Musa. Bahkan ia meninggal saat Musa masih hidup sekitar 40 tahun sebelum wafatnya Musa – berdasarkan hal yang masyhur menurut para ahli sejarah”

Perkataan ini tidak jauh berbeda dengan kata-kata salafy sebelumnya. Tetapi coba lihat kata-kata

وليس فيه دلالة لاستخلافه بعده

Kata-kata Nawawi diartikan salafy dengan Tidak ada petunjuk (dilaalah) di dalamnya bahwa ‘Ali sebagai pengganti setelah (wafatnya) beliau. Kali ini dengan mudah salafy memaknai kata yang dicetak biru sebagai setelah (wafatnya) Beliau. Anehnya dalam hadis riwayat Ibnu Abi Ashim ia menafikan bahwa kata tersebut berarti wafat. Sekali lagi kontradiksi

Salafy berkata

Harun ‘alaihis-salaam adalah seorang waziir bagi Musa dalam memimpin Bani Israail sebagaimana ditegaskan oleh Allah melalui firman-Nya :

وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي * هَارُونَ أَخِي * اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي * وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي

“Dan jadikanlah untukku seorang wazir (pembantu) dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku” [QS. Thaha : 29-32].

Seorang wazir mempunyai tugas untuk membantu dan memberi dukungan terhadap imam. Begitu pula dengan Nabi Harun yang menjadi waziir bagi Nabi Musa ‘alaihimas-salaam.[3] Jika Syi’ah hendak menyamakan kedudukan ‘Ali dengan Harun, maka cukuplah mereka berpendapat ‘Ali berkedudukan sebagai waziir bagi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bukan sebagai imam/khalifah yang ditunjuk. Oleh karena itu, klaim Syi’ah tentang keimamahan ‘Ali bin Abi Thaalib melalui hadits ini sungguh sangat tidak tepat.

Berdasarkan ayat Al Qur’an yang dikutip salafy maka Nabi Harun AS tidak hanya seorang wazir Musa tetapi juga keluarga dan saudara Musa, orang yang meneguhkan kekuatan Musa dan merupakan sekutu Musa dalam urusannya. Kedudukan Harun di sisi Musa ini dimiliki oleh Imam Ali di sisi Rasul SAW. Tidak hanya itu, Nabi Harun AS juga ditunjuk sebagai Imam atau khalifah bagi kaumnya ketika Musa AS akan pergi

وَقَالَ مُوسَى لاَِخِيه هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلاَ تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِين

“Musa berkata kepada saudaranya yaitu Harun “Gantikan Aku dalam memimpin kaumku, dan perbaikilah, dan jangan kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS Al-A’raf: 142)

Hal ini menunjukkan salah satu kedudukan Harun di sisi Musa adalah Beliau menjadi khalifah semasa hidupnya (selagi hidup) jika Nabi Musa AS akan pergi. Maka begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW, Beliau semasa hidupnya (selagi hidup) menjadi khalifah jika Nabi Muhammad SAW pergi.

Salafy berkata

Kita tidak mengingkari bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan ‘Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Namun membawanya kepada makna ‘Ali adalah orang yang ditunjuk sebagai khalifah/amirul-mukminin sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah yang tidak kita sepakati. Tidaklah setiap lafadh yang menunjukkan keutamaan itu selalu berimplikasi kepada kepemimpinan

Cara berpikir seperti ini jelas-jelas terbalik. Kita tidak mengingkari bahwa lafal hadis Manzilah riwayat Ibnu Abi Ashim memuat lafal Khalifah sepeninggal Nabi SAW dan sudah jelas lafal khalifah berimplikasi kepada kepemimpinan Imam  Ali sepeninggal Nabi SAW. Hal ini menunjukkan hadis Manzilah memiliki makna umum (termasuk dalam hadis shahihain) dan merupakan keutamaan Imam Ali RA yang sangat besar di sisi Nabi SAW.

Salafy berkata

Ada yang sangat memaksakan kehendak dengan menafikkan akal sehat yang padahal sangat mudah untuk memahaminya.

Mereka katakan bahwa Harun itu akan menggantikan Musa jika Harun masih hidup sepeninggal Musa. Begitulah kata mereka.

Jika yang dimaksud akal sehat adalah setiap yang mendukung keyakinan salafy maka akal tersebut sudah menjadi tidak sehat. Karena sebuah keyakinan harus diukur dengan standar kebenaran bukan standar kebenaran yang harus ditundukkan pada keyakinan. Sudah jelas kedudukan Harun di sisi Musa adalah Harun akan selalu menjadi pengganti Musa jika Musa tidak ada dan saat itu Harun masih hidup. Siapapun yang berakal sehat tidak akan menafikan hal ini.

Salafy berkata

Pertanyaannya : Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyamakan kedudukan ‘Ali radliyallaahu ‘anhu dengan Harun; apakah beliau shalallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui bahwa Harun telah meninggal sebelum Nabi Musa meninggal dan tidak pernah memegang tampuk khalifah/imam memimpin Bani Israel sepeninggal Musa ?

Sudah jelas Rasulullah SAW tahu, oleh karena itulah untuk menghapus syubhat dari para pengingkar maka Rasulullah SAW memberikan penjelasan khusus yaitu Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu. Hal ini dikarenakan Rasulullah SAW mengetahui bahwa Imam Ali masih hidup sepeninggal Beliau SAW, dan tentu sebagaimana layaknya Harun akan menjadi pengganti Musa jika Harun masih hidup maka Imam Ali akan menjadi pengganti Rasul SAW jika Imam Ali masih hidup.

Salafy berkata

Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa Harun hanyalah menjadi pengganti (khalifah) bagi Musa untuk mengurus Bani Israel hanya saat Musa pergi ke Bukit Tursina.

Kita sudah jelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa itu tidak hanya soal pengganti Musa ketika Musa pergi ke bukit Thursina saja. Kita telah jelaskan bahwa Harun adalah wazir Musa, keluarga dan saudara Musa, orang yang meneguhkan kekuatan Musa dan sekutu Musa dalam urusannya. Oleh karena itu tidak ada satupun yang layak menggantikan Musa selain Harun jika Nabi Harun AS masih hidup. Inilah kedudukan Harun di sisi Musa yang tidak dipahami oleh salafy. Beginilah cara mereka mengurangi keutamaan Imam Ali dengan menafikan keumuman dan mengkhususkan dengan situasi tertentu saja.

Salafy berkata

Oleh karena itu, beliau mengqiyaskan kedudukan mulia Harun ini kepada ‘Ali yang beliau tugaskan untuk mengurus orang-orang yang tinggal di Madinah saat beliau tinggalkan berperang menuju Tabuk.

Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan Imam Ali di sisi Beliau dengan kata-kata kedudukanMu di sisi Ku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa kecuali tidak ada Nabi setelahKu. Pengecualian yang ditetapkan oleh Rasul SAW adalah untuk membatasi keumuman kedudukan Harun yang memang banyak di sisi Musa. Jika seperti yang salafy katakan bahwa hal itu hanya pengqiyasan untuk situasi yang khusus maka tidak ada faedahnya disebutkan pengecualian. Jika memang sudah dikhususkan mengapa harus dikecualikan.

Salafy berkata

Namun karena Syi’ah hendak memaksakan untuk membawa pengertian ini kepada penunjukan Khalifah sepeninggal Nabi, datanglah tafsir-tafsir aneh mengenai hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Begitulah salafy selalu mengatakan aneh setiap tafsir yang bertentangan dengan mereka karena salafy hendak memaksakan untuk melindungi keyakinan mereka dan menunjukkan kedengkian mereka terhadap mahzab lain. Mereka tidak bisa mengakui kebenaran pada mahzab lain karena menurut mereka apapun setiap mahzab yang menentang mereka maka sudah jelas tafsirnya akan aneh-aneh. Tidakkah cukup kata-kata Rasulullah SAW yang sangat jelas, ternyata tidak karena dalih selalu bisa dicari-cari. Pengingkar akan selalu ada dan itu tidak tergantung dari mahzab apa ia berasal. Untuk menentukan ingkar atau tidak anda hanya perlu melihat dengan jelas siapa yang berpegang pada hadis Rasul SAW dan siapa yang berpegang pada keyakinan pribadi. Sekali lagi saya tekankan kepada para pencari kebenaran, anda tidak perlu menjadi sunni atau syiah untuk memahami hadis di atas dan anda tidak perlu terkelabui oleh syubhat bahwa kalau anda memahami begitu maka anda akan menjadi syiah, atau kalau anda memahami seperti ini maka anda adalah sunni. Cukup pahami hadis tersebut sebagaimana hadis tersebut berbicara.

****************

ARTIKEL TERKAIT

  1. Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait
  2. Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya
  3. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)
  4. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)
  5. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)
  6. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)
  7. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)
  8. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir)
  9. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kekhalifahan Sunni)
  10. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis 12 Khalifah)
  11. Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali
  12. Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW”

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

.

BEBERAPA DISKUSI PENULIS DENGAN PEMBACA

kembali ke aqidah yg benar, on September 15, 2009 at 7:52 pmsaid:

Rasulullah yang mulia Shallallahu ‘alahi wa ‘ala Ali wa Salam pernah bersabda :

من كنت مولاه فعلي مولاه, اللهمّ والى من واله وعادى من عاداه

”Barangsiapa yang menganggap aku sebagai walinya, maka (aku angkat) Ali sebagai walinya, Ya Allah, dukunglah siapa saja yang mendukungnya (Ali)dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya.”

Imam Albani berkata : “Adapun yang disebutkan oleh Syi’ah dalam hadits ini dengan tambahan lafazh yang lain, bahwasanya Nabi bersabda, “Sesungguhnya ia adalah khalifahku sepeninggalku nanti”, maka lafazh (tambahan) ini tidak shahih dari segala penjuru/sisi, bahkan padanya memiliki kebathilan yang banyak, yang menunjukkan kejadian/peristiwa tersebut di atas kedustaan.

Seandainya memang benar Nabi bersabda demikian, pastilah akan terjadi, karena tidaklah beliau mengucapkan sesuatu melainkan dari wahyu yang diwahyukan oleh Allah dan Allah tak pernah menyelisihi perkataannya/janjinya.”

Dan telah dikeluarkan hadits-hadits dusta ini dalam kitab lainnya milik Imam Albani, yakni ‘adh-Dha’ifah’ (4923,4932).

Lucunya, dengan hadits dusta dan munkar ini, syi’ah mengklaim bahwa ‘Ali adalah khalifah setelah Rasulullah, sedangkan Abu Bakar dan Umar mengkhianati Ali dan mengkhianati sabda Rasulullah dengan merampas hak wilayah Ali, maka sungguh mereka (syi’ah) itu telah melakukan:

1.Kedustaan atas nama Allah dan Rasul-Nya.
2. Kedustaan atas nama Ali dan sahabat-sahabatnya.
3.Mengingkari firman Allah subhanahu wa Ta’ala bahwa tidaklah Muhammad itu berkata kecuali dari wahyu yang diwahyukan.
4.Mendustakan kebenaran sabda Nabi.
5.Menuduh Allah Ta’ala tidak amanah dengan perkataan dan janji-Nya.
6.Menuduh Rasulullah berdusta karena sabdanya tidak terlaksana.
7.Menuduh, menfitnah dan mencela sahabat-sahabat Rasulullah yang mulia.
8.Mendustakan hadits-hadist Nabawi yang shohih.
9.Mengada-adakan sesuatu di dalam Islam yang tak pernah dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
10.Mengkafirkan sahabat Rasulullah, melaknat mereka dan mengkafirkan ahlus sunnah wal jama’ah.

Maka wajib atas kita, baro’ terhadap kesesatan dan kekufuran mereka (syi’ah) atas tuduhan dan pengada-adaan yang mereka lakukan di dalam dien ini.

Allahumman-shur man nashoro dien wakh-dzul man khadzalahu.!!!

Ya Alloh tolonglah hamba-Mu yang membela agama-Mu dan hinakanlah mereka yang menghinakan agama-Mu

(diringkas dari Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah IV/330-334/1750)

***********

secondprince, on September 15, 2009 at 9:02 pmsaid:

@Kembali ke aqidah yang benar

Imam Albani berkata : “Adapun yang disebutkan oleh Syi’ah dalam hadits ini dengan tambahan lafazh yang lain, bahwasanya Nabi bersabda, “Sesungguhnya ia adalah khalifahku sepeninggalku nanti”, maka lafazh (tambahan) ini tidak shahih dari segala penjuru/sisi, bahkan padanya memiliki kebathilan yang banyak, yang menunjukkan kejadian/peristiwa tersebut di atas kedustaan.

Silakan dibaca tulisan di atas dengan benar. Jelas sekali hadis di atas riwayat Ibnu Abi Ashim memiliki lafaz “Khalifah sepeninggalku” dan hadis tersebut shahih. Jadi silakan mau ikut Syaikh Albani atau ikut Rasulullah SAW. Sungguh benarlah perkataan Rasulullah, dan Syaikh Al Albani itu salah tenan. Saya heran dengan anda ini, seolah-olah setiap perkataan Syaikh Albani itu seperti hukum yang tidak bisa diganggu gugat atau selalu benar sampai-sampai anda ingin membantah hadis shahih hanya dengan perkataan Syaikh Al Albani. Yee salah tempat dong Mas, yang jadi rujukan itu mah Rasulullah SAW.

*******************

kembali ke aqidah yg benar, on Oktober 4, 2009 at 12:45 amsaid:

@ sp

dari blog anda:

Sa’d bin Abi Waqqash radliyallaahu ‘anhu membawakan hadits semisal dalam Ash-Shahiihain
عن سعد بن أبي وقاص قال خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم علي بن أبي طالب في غزوة تبوك فقال يا رسول الله تخلفني في النساء والصبيان فقال أما ترضى ان تكون مني بمنزلة هارون من موسى غير انه لا نبي بعدي

Dari Sa’d bin Abi Waqqaash ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi tugas ‘Ali bin Abi Thaalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). ‘Ali pun berkata : ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah ?’. Maka beliau menjawab : ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku ?” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 4416 dan Muslim no. 2404].

Hadis Shahihain ini diucapkan Nabi SAW pada perang Tabuk, tetapi Salafy mengklaim bahwa keutamaan yang dimiliki Imam Ali kedudukan Beliau di sisi Nabi SAW seperti kedudukan Harun di sisi Musa adalah terkhusus pada perang Tabuk saja dan tidak untuk setelahnya.

Ada lagi COPAS yg hampir sama dg diatas:
==================================

Apa yang dimaksud dengan hadits :

من كنت مولاه فعلى مولاه .

“ Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”.

Adapun yang dimaksud dari hadits : “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”, maka dalam kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh ulama-ulama Ahlussunnah diterangkan sebagai berikut :

Pada tahun 10 H, Rasulullah beserta para sahabat berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji dan haji tersebut kemudian dikenal dengan haji Wada’.

Bertepatan dengan itu, rombongan Muslimin yang dikirim oleh Rasulullah ke Yaman sudah meninggalkan Yaman, mereka menuju Mekkah, untuk bergabung dengan Rasulullah. Rombongan tersebut dipimpin oleh Imam Ali bin Abi Thalib.

Begitu rombongan sudah mendekati tempat dimana Rasulullah berada, maka Imam Ali segera meninggalkan rombongannya guna bertemu dan melapor kepada Rasulullah SAW, dan sebagai wakilnya adalah sahabat Buraidah.

Sepeninggal Imam Ali, Buraidah membagi-bagikan pakaian hasil rampasan yang masih tersimpan dalam tempatnya, dengan maksud agar rombongan jika masuk kota (bertemu dengan yang lain) kelihatan rapi dan baik.

Namun begitu Imam Ali kembali menghampiri rombongannya beliau terkejut dan marah, serta memerintahkan agar pakaian-pakaian tersebut dilepaskan dan dikembalikan ke tempatnya. Hal mana karena Imam Ali berpendapat, bahwa yang berhak membagi adalah Rasulullah SAW.

Tindakan Imam Ali tersebut membuat anak buahnya kecewa dan terjadilah perselisihan pendapat.

Selanjutnya begitu rombongan sudah sampai ditempat Rasulullah, Buraidah segera menghadap Rasulullah dan menceritakan mengenai kejadian yang dialaminya bersama rombongan dari tindakan Imam Ali. Bahkan dari kesalnya, saat itu Buraidah sampai menjelek-jelekkan Imam Ali di depan Rasulullah SAW.

Mendengar laporan tersebut, Rasulullah agak berubah wajahnya, karena beliau tahu bahwa tindakan Imam Ali tersebut benar.

Kemudian Rasulullah bersabda kepada Buraidah sebagai berikut :

يا بريدة ألست أولى بالمؤمنين من أنفسهم.

“ Hai Buraidah, apakah saya tidak lebih utama untuk diikuti dan dicintai oleh Mukminin daripada diri mereka sendiri”.

Maka Buraidah menjawab :

بلى يارسول الله

“ Benar Yaa Rasulullah”.

Kemudian Rasulullah bersabda :

من كنت مولاه فعلى مولاه رواه الترمذى والحاكم

“ Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka terimalah Ali sebagai pemimpin”.

Yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah, apabila Muslimin menganggap Rasulullah sebagai pemimpin mereka, maka Imam Ali harus diterima sebagai pemimpin, sebab yang mengangkat Imam Ali sebagai pemimpin rombongan ke Yaman itu Rasulullah SAW. Karena itu dia harus dicintai dan dibantu serta dipatuhi semua perintahnya.

Demikian maksud dari hadits : “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”. Sebagaimana yang tertera dalam kitab-kitab yang ditulis oleh ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah (baca kitab Al Bidayatul Hidayah oleh Ibnu Katsir).

Selanjutnya, oleh karena perselisihan tersebut, tidak hanya terjadi antara Imam Ali dengan Buraidah saja, tapi dengan seluruh rombonganya, dimana orang-orang tersebut menjelek-jelekkan Imam Ali dengan kata-kata tidak baik, yang berakibat dapat menjatuhkan nama baik Imam Ali, bahkan perselisihan tersebut didengar oleh orang-orang yang tidak ikut dalam rombongan ke Yaman itu, maka setelah Rasulullah selesai melaksanakan ibadah haji, disaat Rasulullah dan Muslimin sampai di satu tempat yang bernama Ghodir Khum, Rasulullah berkhotbah, dimana diantaranya beliau mengulangi lagi kata-kata yang telah disampaikan kepada Buraidah tersebut, yaitu “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”

Itulah sebabnya hadits tersebut dikenal sebagai hadits Ghodir Khum. Karena waktu disampaikan di Ghodir Khum itu, disaksikan oleh ribuan sahabat.

Jadi sekali lagi, bahwa hadits : “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”. Itu tidak ada hubungannya dengan penunjukan Imam Ali sebagai Khalifah sesudah Rasulullah wafat. Tapi sebagai pemimpin rombongan ke Yaman yang harus dicintai dan ditaati semua perintahnya.

Sebenarnya apabila hadits tersebut akan diartikan sebagaimana orang-orang Syiah mengartikan hadits tersebut, yaitu dianggap sebagai pengangkatan Imam Ali sebagai Khalifah, maka faham yang demikian itu akan membawa konsekuensi dan resiko yang sangat besar. Sebab sangsi bagi orang-orang yang menolak atau meninggalkan nash Rasulullah, apalagi menghianati Rasulullah adalah kafir.

Dengan demikian, Sayyidina Abu Bakar akan dihukum kafir karena melanggar dan meninggalkan nash Rasulullah, demikian pula para sahabat yang membai’at Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar dan Khalifah Ustman mereka juga akan dihukum kafir, sebab tidak melaksanakan dan melanggar nash Rasulullah. Bahkan Imam Ali sendiri akan terkena sangsi kufur tersebut, sebab dia melanggar dan menolak bahkan menghianati nash Rasulullah tersebut.

Itulah resiko dan konsekuensi bila hadits “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”, diartikan sebagai penunjukan Imam Ali sebagai Khalifah pengganti Rasulullah SAW.

Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari aqidah Syiah yang sesat dan menyesatkan. Amin.

APA PERSAMAANNYA:

1. Syiah mengklaim hadits ghadir khum sebagai penunjukan Imam Ali sebagai Khalifah sesudah Rasulullah wafat.
Ternyata, sebagai pemimpin rombongan ke Yaman yang harus dicintai dan ditaati semua perintahnya.

2. Syiah mengklaim, hadits

Sa’d bin Abi Waqqash radliyallaahu ‘anhu membawakan hadits semisal dalam Ash-Shahiihain
عن سعد بن أبي وقاص قال خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم علي بن أبي طالب في غزوة تبوك فقال يا رسول الله تخلفني في النساء والصبيان فقال أما ترضى ان تكون مني بمنزلة هارون من موسى غير انه لا نبي بعدي

Dari Sa’d bin Abi Waqqaash ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi tugas ‘Ali bin Abi Thaalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). ‘Ali pun berkata : ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah ?’. Maka beliau menjawab : ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku ?” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 4416 dan Muslim no. 2404].

sebagai penunjukan Imam Ali sebagai Khalifah sesudah Rasulullah wafat.
Ternyata, terkhusus pada perang Tabuk saja dan tidak untuk setelahnya.

COBA LIHAT HADITS INI:

1.Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Abu Said dan Abu Hurairah Marfu’ (yang tetap sanadnya sampai kepada Rasul): “Jika keluar tiga orang dalam sebuah perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat pemimpin salah satunya. Dan bentuk permintaan dalam hadits adalah perintah sebab menggunakan ungkapan Fi’il Mudhari (kata kerja sekarang dan akan datang) dengan disertai Lamul Amr (Huruf Lam yang mengandung arti perintah) maka ia mengandung makna kewajiban.

2.Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya dari hadits Abdullah bin Amr sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Tidaklah dibenarkan bagi tiga orang yang berada pada sebuah padang di bumi kecuali mereka mengangkat pemimpin salah seorang di antara mereka”.

Dua hadits telah jelas menetapkan kewajiban mengangkat pemimpin pada sebuah kelompok dan golongan yang kecil dalam sebuah perjalanan yang mereka lakukan.

Jadi Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi pemimpin, HANYA dalam perjalanan , seperti Nabi Musa AS mengajak tujuh puluh orang yang telah dipilih diantara pengikutnya untuk menyertainya ke bukit Thur Sina dan mengangkat Nabi Harun AS sebagai wakilnya mengurus serta memimpin kaum yang ditinggalkan selama kepergiannya ke tempat bermunajat itu.

PERTANYAAN BESAR:
Lalu apakah kepemimpinan itu berlanjut setelah USAI perjalanan?
Silahkan cari jawabannya, jika anda benar.

*********************

kembali ke aqidah yg benar, on Oktober 4, 2009 at 10:22 amsaid:

ada tambahan :

Nabi Harun AS wafat sebelum Nabi Musa AS. Jadi tidak bisa DIANALOGIKAN Ali bin abi thalib ra menggantikan kepimpinan setelah Nabi SAW wafat.

Jadi hadits yg @SP berikan, khusus hanya untuk pada saat perang tabuk saja.

BUKAN BEGITU?

*******************

kembali ke aqidah yg benar, on Oktober 4, 2009 at 10:49 amsaid:

@SP

Jadi anda yg SALAH TENAN, bukan Syaikh Albani.

*******************

secondprince, on Oktober 4, 2009 at 11:01 amsaid:

@kembali ke aqidah yang benar
sampean itu ngomong apa?. sebelum komentar baca dulu baik-baik tulisan saya (gak ada bahas hadis ghadir kum di atas), itu ada hadis Rasul SAW di atas yang berbunyi
وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي
Engkau Khalifah bagi setiap mukmin sepeninggalKu.
mau ikut syaikh Albani ya silakan, saya lebih ikut Rasul SAW.

**********************

kembali ke aqidah yg benar, on Oktober 4, 2009 at 4:46 pmsaid:

@SP

Jangan ambil sepotong2 haditsnya.

Hadits yg anda ambil, ketika Nabi SAW hendak pergi ke perang tabuk dan memberikan mandat kepemimpinan kepada Ali ra untuk menjaga anak2 dan wanita di rumah.

Sama halnya ketika Nabi Musa AS memberi mandat kepemimpinan kepada Nabi Harun AS untuk bani israil, ketika Nabi Musa as pergi ke bukit Thur Sina.

Dan itu tidak ada hubungannya untuk kekhalifahan Ali bin Abi Thalib setelah Nabi SAW wafat.
Karena tidak bisa dianalogikan dengan Nabi Harun AS yg wafat lebih dahulu sebelum Nabi Musa As.

*******************

secondprince, on Oktober 4, 2009 at 5:24 pmsaid:

@kembali ke aqidah yang benar
siapa yang motong, saya menunjukkan kalau anda itu tidak membaca lafaz hadis
وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي
Engkau Khalifah bagi setiap mukmin sepeninggalKu
itu kata-kata yang jelas kalau Rasul SAW menunjuk Imam Ali sebagai khalifah sepeninggal Beliau SAW. Jadi kalau memang aqidah anda benar ya berpegang dong pada perkataan Rasul bukannya malah taklid buta sama Syaikh Albani

*******************

kembali ke aqidah yg benar, on Oktober 4, 2009 at 5:25 pmsaid:

@sp

ini juga dari RASULULLAH:

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Ali bin Abi Thalib keluar dari sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: “Wahai Abal Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam?” Beliau menjawab: “Alhamdulillah baik”. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Engkau, demi Allah, setelah tiga hari ini akan memegang tongkat kepemimpinan. Sungguh aku mengerti bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan kepada siapa urusan ini dipegang? Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun mengetahuinya dan beliau akan MEMBERIKAN wasiatnya”. Ali bin Abi Thalib menjawab: “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakannya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan memintanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447)

Nabi saw TIDAK MEMBERIKAN WASIAT KEKHALIFAHAN kpeada ALI ra.

******************

kembali ke aqidah yg benar, on Oktober 4, 2009 at 5:31 pmsaid:

@sp

sepeninggal apanya? wafat atau HANYA pergi ke perang tabuk?

********************

imem, on Oktober 4, 2009 at 6:04 pmsaid:

@kembali ke aqidah yg benar

Siip.. dan hadits yg anda bawakan tsb kualitas keshahihannya di atas hadits yg SP bawakan..

Kita lihat apakah beliau ini akan tetap mengingkari juga hadits yang shahih dengan matan yg begitu jelas yg membantah pemahaman dia mengenai hadits yg dibawakannya? jika tetep spt itu, maka tidak syak lagi memang beliau ini adalah “S**’ *h Tulen”
wuakakakak…

********************

secondprince, on Oktober 4, 2009 at 6:38 pmsaid:

@imem

Siip.. dan hadits yg anda bawakan tsb kualitas keshahihannya di atas hadits yg SP bawakan..

yah sejak kapan situ ngerti soal sanad hadis, bukannya sampean yang terbukti berhujjah dengan hadis dhaif, lucu sekali :mrgreen:
nih simak baik-baik

Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Engkau, demi Allah, setelah tiga hari ini akan memegang tongkat kepemimpinan.

Bukankah ini pengakuan Abbas kalau Imam Ali akan memegang kepemimpinan, lantas darimana dia tahu, sudah jelas dari perkataan Rasulullah SAW sebelumnya, salah satunya yang saya tulis di tulisan di atas.

Sungguh aku mengerti bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan kepada siapa urusan ini dipegang? Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya.

Sahabat Abbas RA hanya ingin meminta kejelasan lagi dari Rasulullah SAW

Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun mengetahuinya dan beliau akan MEMBERIKAN wasiatnya”.

Maka perhatikanlah, tidak ada wasiat dari Rasul bahwa khalifah akan diserahkan kepada sahabat yang lain kecuali kepada Ali bin Abi Thalib diantaranya hadis di atas dan hadis lain yang akan kami kutip nanti. Kalau memang akan diserahkan kepada selain Ahlul bait maka akan diberikan wasiatnya.

Ali bin Abi Thalib menjawab: “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakannya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan memintanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Imam Ali tidak mau menanyakan lagi masalah ini, karena telah diketahui dengan jelas bahwa Ahlul Bait lah pengganti bagi Nabi SAW diantaranya dari hadis berikut yang diucapkan Nabi jauh setelah perang Tabuk

ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لعلي أنت ولي كل مؤمن بعدي
Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelahku”.
[diriwayatkan dalam Musnad Abu Daud Ath Thayalisi no 829 dan 2752, Sunan Tirmidzi no 3713, Khasa’is An Nasa’i no 89, Musnad Abu Ya’la no 355, Shahih Ibnu Hibban no 6929, Musnad Ahmad 5/356 dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dan Al Mustadrak 3/134, Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 4/468 menyatakan sanadnya kuat, Syaikh Al Albani memasukkan hadis ini dalam Silsilah Ahadits As Shahihah no 2223].

Dan Ahlul bait sebagai khalifah pengganti Nabi dapat dilihat di hadis dalam tulisan berikut
http://secondprince.wordpress.com/2008/05/25/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait/

Nah sekarang giliran anda-anda semua, apakah mau mengingkari hadis shahih yang saya bawakan, jika tetap seperti itu maka tidak syak lagi memang kalian ini adalah ing**r sunnah tulen :mrgreen:

*****************

secondprince, on Oktober 4, 2009 at 6:50 pmsaid:

@kembali ke aqidah yang benar

sepeninggal apanya? wafat atau HANYA pergi ke perang tabuk?

Makanya kalau baca hadis itu jangan baca terjemahan doang, tuh baca arabnya yang saya tampilkan, kata-kata Rasul SAW itu
أنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي
jangan cuma ngulang argumennya si imem or antirafidhah, dia mah kagak mau baca arabnya, dan sekalian situ lihat kutipan yang ini dalam tulisan di atas

وليس فيه دلالة لاستخلافه بعده
Kata-kata Nawawi diartikan salafy dengan Tidak ada petunjuk (dilaalah) di dalamnya bahwa ‘Ali sebagai pengganti setelah (wafatnya) beliau. Kali ini dengan mudah salafy memaknai kata yang dicetak biru sebagai setelah (wafatnya) Beliau. Anehnya dalam hadis riwayat Ibnu Abi Ashim ia menafikan bahwa kata tersebut berarti wafat. Sekali lagi kontradiksi
Sudah dari sebelumnya saya katakan, tulisan saya di atas dibaca dulu yang benar, baru komentar :)

*****************

imem, on Oktober 4, 2009 at 7:23 pmsaid:

Bukankah ini pengakuan Abbas kalau Imam Ali akan memegang kepemimpinan, lantas darimana dia tahu, sudah jelas dari perkataan Rasulullah SAW sebelumnya, salah satunya yang saya tulis di tulisan di atas.

Terjemahannya kali yg kurang tepat, seharusnya diterjemahkan bukan memegang kepemimpinan, tetapi sebagai “hamba tongkat” yg artinya dia akan dipimpin oleh seseorang.. wuakakak..

Sahabat Abbas RA hanya ingin meminta kejelasan lagi dari Rasulullah SAW

Menunjukkan bahwa memang sebelumnya tidak ada penunjukkan terhadap Imam Ali.. jelas sekali itu..

Maka perhatikanlah, tidak ada wasiat dari Rasul bahwa khalifah akan diserahkan kepada sahabat yang lain kecuali kepada Ali bin Abi Thalib diantaranya hadis di atas dan hadis lain yang akan kami kutip nanti. Kalau memang akan diserahkan kepada selain Ahlul bait maka akan diberikan wasiatnya.

Ya intinya mereka pun juga tidak menerima wasiat

Imam Ali tidak mau menanyakan lagi masalah ini, karena telah diketahui dengan jelas bahwa Ahlul Bait lah pengganti bagi Nabi SAW diantaranya dari hadis berikut yang diucapkan Nabi jauh setelah perang Tabuk

wuakakak.. bertentangan dengan perkataan Imam Ali sendiri dunk kalo gitu :

Diriwayatkan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim at Taimi dari ayahnya, dia berkata, “Ali bin Abi Thalib berpidato di hadapan kami dan berkata”, “Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah) selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah (secarik kertas yang tersimpan dalam sarung pedangnya berisi tentang umur unta dan diyat tindakan kriminal) maka sesungguhnya dia telah berkata dusta! Dan diantara sahifah itu disebutkan sabda Rasulullah “Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Ir dan Tsaur, maka barang siapa membuat sesuatu yang baru atau melindungi orang tersebut maka atasnya laknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan. dan barangsiapa menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya ataupun menisbatkan dirinya kepada selain tuannya, maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan, dan sesungguhnya dzimmah (jaminan yang diberikan kaum muslimin thd orang kafir) adalah satu. Maka barangsiapa merusak dzimmah seorang mukmin maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan maupun suapan” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad)

Perhatikan Imam Ali tidak pernah merasa mendapatkan wasiat selain yang beliau sebutkan di atas, bahkan beliau mengatakan Dusta! kepada orang2 yg beranggapan selain dari apa yg beliau ucapkan. Nah apakah sampeyan mau mengingkari juga perkataan Imam Ali yg sedemikian jelas di atas?, jika tetap spt itu, wah bener-bener S** ‘ *h tulen nich.. :mrgreen: wuakakakak

********************

secondprince, on Oktober 4, 2009 at 10:53 pmsaid:

@imem
sebelum bawa hadis lain tanggapi dulu dong hadis yang saya bawakan itu, jangan cuma saya aja yang ngoceh. atau memang gak bisa membantah, silakan tanggapi dulu baru kita lanjut :)

**************

kembali ke aqidah yg benar, on Oktober 6, 2009 at 11:19 pmsaid:

salafy memiliki argumen
syiah mempunyai argumen

Tetapi sudah jelas siapa yg berDUSTA tasa nama Ali bin Abi Thalib ra.

******************

secondprince, on Oktober 7, 2009 at 5:05 amsaid:

@kembali ke aqidah yang benar

salafy memiliki argumen
syiah mempunyai argumen

Tetapi sudah jelas siapa yg berDUSTA tasa nama Ali bin Abi Thalib ra.

Dan sudah jelas pula siapa yang berdusta atas nama Rasul SAW :)

*******************

imem, on Oktober 7, 2009 at 1:22 pmsaid:

@SP

@imem
sebelum bawa hadis lain tanggapi dulu dong hadis yang saya bawakan itu, jangan cuma saya aja yang ngoceh. atau memang gak bisa membantah, silakan tanggapi dulu baru kita lanjut

wuakakak… mana yg perlu ditanggapi? kan udah ditanggapi? kalo bukan saya yg laen kan dah nanggapi.. makanya jgn parsial kalo ngambil dalil2 milik sunni, semua ada keterkaitannya… ketauan nech SP ga bs bantah lagi ya… jika sampeyan bukan S** ‘ *h tulen pastilah anda akan membenarkan perkataan Imam Ali di atas sesuai ilmu hadits yg anda tekuni, tapi kalo dasarnya memang S** ‘ *h ya riwayat2 yg diambil hanya yg sesuai keyakinan S** ‘ *h-nya aja iya tho… wuakakak … jangan sampai lho menjadi orang yg termasuk dikatakan Dusta oleh beliau? wuakakakak…

salafy memiliki argumen
syiah mempunyai argumen

Tetapi sudah jelas siapa yg berDUSTA tasa nama Ali bin Abi Thalib ra.

Dan sudah jelas pula siapa yang berdusta atas nama Rasul SAW

Dan sudah jelas siapa yang berdusta atas nama Rasulullah SAW seklaigus Imam Ali ra… terlalu jelas sih… wuakakakak

********************

antirafidhah, on Oktober 7, 2009 at 4:03 pmsaid:

@armand

Mungkin yang dimaksud bung Imem, penunjukkan langsung oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam secara jelas memang tidak ada, tetapi secara isyarat dan signal memang ada, salah satunya adalah hadits yg anda sebutkan di atas dan Rasulullah terlihat mengetahui siapa yang bakal menjadi khalifah selepas beliau dengan ungkapan beliau dalam suatu hadits “Allah dan Kaum Mukminin tidak akan ridha melainkan Abu Bakar”, di sini terlihat Rasulullah mengatakan tanpa melibatkan diri beliau, bahwa yang menghendaki Abu Bakar menjadi khalifah selepas beliau adalah Allah dan kaum mukminin.. dan kenyataannya memang seperti itu. oleh karena itu bisa dipahami mengapa Rasulullah begitu tegas menunjuk Abu Bakar sebagai Imam Shalat pengganti beliau dengan uslub kalimat yang sama ketika beliau mengingkari sahabat selain Abu Bakar menjadi Imam Shalat yaitu “Mana Abu Bakar? Sesungguhnya Allah dan kaum muslimin tidak akan rela dengan ini, Sesungguhnya Allah dan kaum muslimin tidak akan rela dengan ini”

Wallahu A’lam bishowab

*********************

secondprince, on Oktober 7, 2009 at 8:07 pmsaid:

@imem

wuakakak… mana yg perlu ditanggapi? kan udah ditanggapi?

akan lebih baik kalau anda berhenti tertawa dan fokus untuk menanggapi komentar-komentar saya. kecuali kalau anda kehabisan hujjah maka yang bisa anda lakukan cuma tertawa.

kalo bukan saya yg laen kan dah nanggapi..

yang laen mana?, kagak ada tuh. Saya menanggapi dengan membawa dua hadis shahih Rasulullah SAW

  1. Hadis Tsaqalain dengan matan Khalifah
  2. Hadis Ali Pemimpin bagi setiap mukmin setelah Nabi

Nah silakan ditanggapi, atau mau mendustakan kedua hadis tersebut.

makanya jgn parsial kalo ngambil dalil2 milik sunni, semua ada keterkaitannya…

Kagak nyadar ya, kalau yang begitu kan sampean sendiri :)

ketauan nech SP ga bs bantah lagi ya…

Saya cukup membawa perkataan Rasulullah SAW saja, bagi anda yang mau ingkar itu urusan anda sendiri :)

.jika sampeyan bukan S** ‘ *h tulen pastilah anda akan membenarkan perkataan Imam Ali di atas sesuai ilmu hadits yg anda tekuni,

Makanya situ jangan parsial ngambil perkataan Imam Ali. Ada kok atsar Imam Ali yang mengakui kepemimpinannya.

tapi kalo dasarnya memang S** ‘ *h ya riwayat2 yg diambil hanya yg sesuai keyakinan S** ‘ *h-nya aja iya tho…

Yah kalau pengikut salafy kehabisan dalil begitu deh bahasanya. toh bukannya salafy yang punya kebiasaan hanya mengambil sesuai keyakinannya saja dan menakwilkan setiap dalil yang memberatkan mereka agar bisa disesuai-sesuaikan dengan keyakinan salafy. Yah seperti kerja sampean ini :)

wuakakak … jangan sampai lho menjadi orang yg termasuk dikatakan Dusta oleh beliau? wuakakakak…

Insya Allah berpegang pada hadis shahih bukanlah sebuah kedustaan, justru mencatut perkataan Imam Ali dan menjadikannya dalil untuk menentang hadis Rasulullah SAW adalah dusta. Imam Ali sendiri mengakui kepemimpinan yang diberikan Rasul SAW kepadanya dan itu cukup menjadi hujjah :)

@antirafidhah

Mungkin yang dimaksud bung Imem, penunjukkan langsung oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam secara jelas memang tidak ada, tetapi secara isyarat dan signal memang ada,

ada kok, itu hadis dalam tulisan saya di atas plus hadis
ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لعلي أنت ولي كل مؤمن بعدي
Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelahku”. uups ditambah hadis Tsaqalain dengan matan “khalifah”
Tetapi sayangnya anda atau imem mencari-cari dalih untuk menolak. :mrgreen:

salah satunya adalah hadits yg anda sebutkan di atas dan Rasulullah terlihat mengetahui siapa yang bakal menjadi khalifah selepas beliau dengan ungkapan beliau dalam suatu hadits “Allah dan Kaum Mukminin tidak akan ridha melainkan Abu Bakar”,

Gak ada kok soal khalifah dalam hadis yang anda bawa, itu namanya mengada-ada. Tetapi mengagumkan juga, hadis yang ada kata khalifah anda tolak or dicari-cari ta’wilnya tetapi hadis yang gak ada kata khalifah anda tarik seenaknya agar berarti khalifah. aplaus deh buat anda :mrgreen:

di sini terlihat Rasulullah mengatakan tanpa melibatkan diri beliau, bahwa yang menghendaki Abu Bakar menjadi khalifah selepas beliau adalah Allah dan kaum mukminin..

hooo klaim nih, tahu dari mana Allah dan kaum mukminin menginginkan Abu Bakar menjadi khalifah. Jujur ya kalau saja Abu Bakar gak datang ke Saqifah maka kaum Anshar pasti sudah membaiat pemimpin mereka :)

dan kenyataannya memang seperti itu. oleh karena itu bisa dipahami mengapa Rasulullah begitu tegas menunjuk Abu Bakar sebagai Imam Shalat pengganti beliau dengan uslub kalimat yang sama ketika beliau mengingkari sahabat selain Abu Bakar menjadi Imam Shalat yaitu “Mana Abu Bakar? Sesungguhnya Allah dan kaum muslimin tidak akan rela dengan ini, Sesungguhnya Allah dan kaum muslimin tidak akan rela dengan ini”

Nah kalau yang ini mah lebih sesuai dengan hadisnya, itu berarti kata-kata Sesungguhnya Allah dan kaum muslimin tidak akan rela dengan ini, itu ditujukan soal imam shalat bukan kekhalifahan kan, nah gimana, jangan tarik ulur sekenanya :mrgreen:

*************

antirafidhah, on Oktober 8, 2009 at 12:43 amsaid:

@SP

ada kok, itu hadis dalam tulisan saya di atas plus hadis
ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لعلي أنت ولي كل مؤمن بعدي
Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelahku”. uups ditambah hadis Tsaqalain dengan matan “khalifah”
Tetapi sayangnya anda atau imem mencari-cari dalih untuk menolak.

Perasaan hal itu sudah ditanggapi dg panjang lebar dech, Yang memang itulah yang kita pahami, bahwa memang hadits tsb bukanlah dalil penunjukkan Imam Ali untuk menjadi khalifah setelah Rasulullah wafat, silahkan dibaca lg dech.. terlalu banyak dalil utk disebutkan :mrgreen:

Gak ada kok soal khalifah dalam hadis yang anda bawa, itu namanya mengada-ada. Tetapi mengagumkan juga, hadis yang ada kata khalifah anda tolak or dicari-cari ta’wilnya tetapi hadis yang gak ada kata khalifah anda tarik seenaknya agar berarti khalifah. aplaus deh buat anda

Terpaksa saya setuju apa kata bung Imem, memang anda itu parsial dlm memahami sesuatu :mrgreen:
Itu memang salah satu isyarat dari Rasulullah mengenai kepemimpinan Abu Bakar selepas beliau, yang jelas Rasulullah menghendaki menulis wasiat untuk Abu Bakar, supaya tidak ada orang yang nanti mengatakan “aku lebih berhak” tetapi tampaknya beliau tidak jadi karena beliau yakin dan bersabda bahwa “Allah dan kaum mukminin hanya menghendaki Abu Bakar”.. silahkan saja anda mau menta’wilkan dg yang lain ga ada mslh buat kami :mrgreen: , kalau kami sih sudah paham akan isyarat tsb. dan kenyataan yang terjadi menunjukkan kebenarannya, memang Allah dan kaum mukminin berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali, inilah sebaik-baik bukti akan kebenaran pemahaman kami akan hadits tersebut, sedangkan takwilan anda pada hadits yg anda bawakan ternyata tidak terbukti :lol: dan lebih-lebih lagi Imam Ali sendiri berba’iat kepada Abu Bakar, mengakui keutamaan Abu Bakar, bahkan beliau mengaku tidak merasa mendapat wasiat kekhalifahan di dlm riwayat2 yg shahih.

hooo klaim nih, tahu dari mana Allah dan kaum mukminin menginginkan Abu Bakar menjadi khalifah. Jujur ya kalau saja Abu Bakar gak datang ke Saqifah maka kaum Anshar pasti sudah membaiat pemimpin mereka

Lah kalau sesuatu yang sudah terjadi entah bagaimanapun prosesnya, apakah menurut anda itu bukan kehendak Allah? dan ternyata kaum Anshar membai’at Abu Bakar juga, itu kenyataannya mas dan sesuai dengan isyarat Nabi memang Allah dan kaum mukminin menghendaki Abu Bakar yang menjadi khalifah selepas Rasul dan bahkan Imam Ali yang makshum menurut Syi’ah pun berbai’at dan mengakui keutamaan Abu Bakar bahkan 2 khalifah selanjutnya.. 3 periode kepemimpinan mas beliau konsisten dengan sikap beliau tsb.. sekali lagi itu lah kenyataannya mas…. walaupun anda ga mau terima :mrgreen:

Nah kalau yang ini mah lebih sesuai dengan hadisnya, itu berarti kata-kata Sesungguhnya Allah dan kaum muslimin tidak akan rela dengan ini, itu ditujukan soal imam shalat bukan kekhalifahan kan, nah gimana, jangan tarik ulur sekenanya

Ya silahkan saja, yang jelas kedua hadits tersebut sudah terbukti kebenarannya dan telah menjadi kenyataan, orang yg masih jernih pikirannya, akan sangat mudah sekali memahami dan menerimanya. dan kami tidak butuh penakwilan hadits yg ternyata tidak terbukti kenyataannya, apalagi terbukti penakwilan tsb adalah salah dilihat dari berbagai segi :mrgreen: Ya saya cuma bisa kasihan kepada anda jika ternyata keinginan anda dan kaum Syi’ah tidak dikehendaki oleh Allah, Rasul-Nya, kaum mukminin dan Imam Ali sendiri.. jadi maaf-maaf saja ya kalau anda kecewa dg kenyataan yg ada, moga2 saja tidak dibawa sampai mati aja kekesalan itu :lol:

Tapi ga ada paksaan kok, benar salah itu sudah terlihat begitu terang :mrgreen:

*************

antirafidhah, on Oktober 8, 2009 at 4:02 amsaid:

Maaf Ralat :

pada komentar saya di atas

kalau kami sih sudah paham akan isyarat tsb. dan kenyataan yang terjadi menunjukkan kebenarannya, memang Allah dan kaum mukminin berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali, inilah sebaik-baik bukti akan kebenaran pemahaman kami akan hadits tersebut,…

seharusnya

kalau kami sih sudah paham akan isyarat tsb. dan kenyataan yang terjadi menunjukkan kebenarannya, memang Allah dan kaum mukminin menghendaki Abu Bakar menjadi khalifah selepas Rasulullah wafat, kaum mukminin berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali, inilah sebaik-baik bukti akan kebenaran pemahaman kami akan hadits tersebut,…

**************

secondprince, on Oktober 8, 2009 at 5:39 amsaid:

@antirafidhah

Perasaan hal itu sudah ditanggapi dg panjang lebar dech, Yang memang itulah yang kita pahami, bahwa memang hadits tsb bukanlah dalil penunjukkan Imam Ali untuk menjadi khalifah setelah Rasulullah wafat, silahkan dibaca lg dech.. terlalu banyak dalil utk disebutkan

tanggapan dari mana? jangan mengada-adalah. giliran diberi dalil yang jelas bilangnya “ah sudah ditanggapi”. Palsu banget. Memangnya dalil-dalil yang sampean bawa gak ada yang menanggapin apa. terlalu banyak kali yang sudah menanggapi kalian :mrgreen:

Terpaksa saya setuju apa kata bung Imem, memang anda itu parsial dlm memahami sesuatu

ah anda atau imem kan memang sama, jadi gak ada artinya deh :mrgreen:

Itu memang salah satu isyarat dari Rasulullah mengenai kepemimpinan Abu Bakar selepas beliau, yang jelas Rasulullah menghendaki menulis wasiat untuk Abu Bakar, supaya tidak ada orang yang nanti mengatakan “aku lebih berhak” tetapi tampaknya beliau tidak jadi karena beliau yakin dan bersabda bahwa “Allah dan kaum mukminin hanya menghendaki Abu Bakar”.. silahkan saja anda mau menta’wilkan dg yang lain ga ada mslh buat kami

Gampang aja deh Mas, coba jawab itu wasiat buat apa, jawab dengan dalil bukan dengan perasaan :mrgreen:

kalau kami sih sudah paham akan isyarat tsb. dan kenyataan yang terjadi menunjukkan kebenarannya, memang Allah dan kaum mukminin berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali, inilah sebaik-baik bukti akan kebenaran pemahaman kami akan hadits tersebut,

bukti dari mana? kalau memang kaum mukminin hanya rela dengan abu bakar. Kenapa pada awalnya kaum anshar malah mau memilih pemimpin sendiri, dan kenapa ada sahabat-sahabat yang menunda baiatnya, dan kenapa perlu ada ancaman sampai mau membakar rumah Ahlul Bait. siapa nih yang sekarang parsial dalam memahami sesuatu :mrgreen:

dan lebih-lebih lagi Imam Ali sendiri berba’iat kepada Abu Bakar, mengakui keutamaan Abu Bakar, bahkan beliau mengaku tidak merasa mendapat wasiat kekhalifahan di dlm riwayat2 yg shahih.

Imam Ali menunda baiatnya, sangat jelas itu. btw kapan beliau mengakui tidak merasa mendapat wasiat kekhalifahan. hadis yang anda atau imem jadikan hujjah itu soal wasiat yang dimiliki Ahlul Bait tetapi tidak disampaikan kepada umatnya, dan memang tidak ada wasiat seperti itu. sedangkan soal kekhalifahan sudah Rasulullah SAW katakan kepada umatnya.

Lah kalau sesuatu yang sudah terjadi entah bagaimanapun prosesnya, apakah menurut anda itu bukan kehendak Allah?

jangan parsial deh memahami, saya beri contoh nih, kalau suatu kezaliman terjadi di muka bumi ini, itu kehendak Allah SWT bukan? terus itu diridhai Allah SWT tidak?. betapa anehnya cara berpikir anda

dan ternyata kaum Anshar membai’at Abu Bakar juga, itu kenyataannya mas dan sesuai dengan isyarat Nabi memang Allah dan kaum mukminin menghendaki Abu Bakar yang menjadi khalifah selepas Rasul dan bahkan Imam Ali yang makshum menurut Syi’ah pun berbai’at dan mengakui keutamaan Abu Bakar bahkan 2 khalifah selanjutnya.

saya tidak menafikan soal baiat, tapi dalil anda itu kalau kaum mukminin hanya rela dengan Abu Bakar, itu yang saya maksud mengada-ada. kaum muslimin mengalami perselisihan soal khalifah dimulai dari kaum anshar di saqifah sampai sahabat-sahabat di rumah sayyidah Fathimah beserta bani hasyim, nah pertanyaannya kalau memang semua kaum mukminin hanya rela kepada Abu Bakar kok gak dari awal sudah disepakati, itu maksud saya :)

3 periode kepemimpinan mas beliau konsisten dengan sikap beliau tsb.. sekali lagi itu lah kenyataannya mas…. walaupun anda ga mau terima

konsisten apanya? baca tuh sejarah pada zaman Abu Bakar, khalifah Imam Ali memisahkan diri dan btw pada zaman ketiga khalifah Imam Ali tidak satupun aktif mengikuti perperangan ataupun menjadi pejabat pemerintah.

Ya silahkan saja, yang jelas kedua hadits tersebut sudah terbukti kebenarannya dan telah menjadi kenyataan, orang yg masih jernih pikirannya, akan sangat mudah sekali memahami dan menerimanya.

Ya silakan saja, Hadis Rasulullah SAW itu sangat jelas kok sehingga membuat semua penakwilan menjadi tidak ada gunanya. hanya orang yang masih jernih pikirannya yang akan memahami dan menerima hadis Rasulullah SAW dengan baik.

dan kami tidak butuh penakwilan hadits yg ternyata tidak terbukti kenyataannya, apalagi terbukti penakwilan tsb adalah salah dilihat dari berbagai segi

sip itu kata-kata yang tepat buat anda atau imem.

Ya saya cuma bisa kasihan kepada anda jika ternyata keinginan anda dan kaum Syi’ah tidak dikehendaki oleh Allah, Rasul-Nya, kaum mukminin dan Imam Ali sendiri.

ho-ho maaf ya saya lebih kasihan dengan cara berpikir anda yang rusak, seolah setiap yang terjadi di muka bumi ini diridhai oleh Allah SWT. kalau gak paham soal Iradah tasyri’ dan Iradah takwiniyah makanya dipelajari. cara berpikir anda ini sudah dari dulu ditanggapi tapi anda tetap aja gak ngeh

jadi maaf-maaf saja ya kalau anda kecewa dg kenyataan yg ada, moga2 saja tidak dibawa sampai mati aja kekesalan itu

maaf ya Mas gak ada kok yang kesal disini, saya mah cuma memaparkan hadis Rasulullah SAW dan anehnya beberapa orang kok sok sewot dan kesal sampai menuduh-nuduh, biasa aja lagi :mrgreen:

Tapi ga ada paksaan kok, benar salah itu sudah terlihat begitu terang

tidak ada paksaan disini, yang mau mengikuti hadis Rasul SAW silakan, yang tidak mau mengikuti hadis Rasul SAW dan mencari dalih penolakan ya silakan juga. Kebenaran itu jelas tidak tergantung mahzab apapun. :)

*************

antirafidhah, on Oktober 8, 2009 at 3:03 pmsaid:

bukti dari mana? kalau memang kaum mukminin hanya rela dengan abu bakar. Kenapa pada awalnya kaum anshar malah mau memilih pemimpin sendiri, dan kenapa ada sahabat-sahabat yang menunda baiatnya, dan kenapa perlu ada ancaman sampai mau membakar rumah Ahlul Bait. siapa nih yang sekarang parsial dalam memahami sesuatu

Hmm.. anda sy yakin sudah membaca riwayat hadits tsb.. Rasulullah bersabda demikian kepada Aisyah dikala beliau sedang sakit menjelang wafat beliau, dan kaum Anshar belum mengetahui hadits tsb? kalau mereka mengetahui hadits tersebut pastilah mereka langsung mencari Abu Bakar dan membai’atnya, Jadi memang belum ada kesepakatan sebelumnya, semuanya terjadi dengan sendirinya (tentunya atas kehendak Allah) dan berakhir pada terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah Rasulullah, itulah hal yg jelas, apa yang disabdakan Rasulullah telah menjadi kenyataan, bagaimanapun prosesnya akhirnya seluruh kaum mukminin berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali. Ingat mas yang kita bicarakan adalah peristiwa masa lalu yg sudah terjadi, sehingga lebih mudah kita memahami alurnya.

Imam Ali menunda baiatnya, sangat jelas itu. btw kapan beliau mengakui tidak merasa mendapat wasiat kekhalifahan. hadis yang anda atau imem jadikan hujjah itu soal wasiat yang dimiliki Ahlul Bait tetapi tidak disampaikan kepada umatnya, dan memang tidak ada wasiat seperti itu. sedangkan soal kekhalifahan sudah Rasulullah SAW katakan kepada umatnya.

Jelas sekali Imam Ali mengatakan bahwa wasiat yang diberikan Rasulullah hanya Kitabullah dan apa yang ada pada sahifah saja, lainnya tidak ada, termasuk soal kekhalifahan, dan jika ada yg mengatakan yang lain berarti dia telah berdusta atas nama Imam Ali. Maka otomatis hadits Tabuk yg menurut anda sangka adalah wasiat Rasul mengenai kekhalifahan setelah sepeninggal beliau adalah keliru, bukan demikian maksud hadits tersebut, tetapi hanya perintah kepada Imam Ali saat perang tabuk saja. Ingat Imam Ali mengatakan seperti itu dlm riwayat tsb dalam rangka membantah orang yang menganggap dia memiliki wasiat dari Rasulullah melebihi dari apa yang ada pada beliau. Kalau memang beliau memiliki wasiat spt yg anda sangkakan itu, mengapa beliau tidak memperjuangkannya pada saat yg tepat itu? jangan mendiskreditkan Imam Ali ah!

sepengetahuan saya, Imam Ali berbai’at dua kali, yg pertama bai’at bersama kaum muslimin di hari kedua setelah meninggalnya Rasulullah dan kedua 6 bln berikutnya, yg beliau lakukan untuk menghilangkan keraguan kaum muslimin akan tetapnya loyalitas beliau kepada Abu Bakar yg hal tsb terjadi disebabkan perbedaan pandangan soal harta warisan.

jangan parsial deh memahami, saya beri contoh nih, kalau suatu kezaliman terjadi di muka bumi ini, itu kehendak Allah SWT bukan? terus itu diridhai Allah SWT tidak?. betapa anehnya cara berpikir anda

Rasulullah dengan jelas telah bersabda mengenai Abu Bakar, “Allah dan Kaum Mukminin hanya Ridha/Rela kepada Abu Bakar” beberapa waktu sebelum beliau wafat dan kemudian kejadian sesaat setelah Rasulullah wafat yang berkenaan dengan Abu Bakar adalah Abu Bakar dibai’at oleh kaum mukminin. tidak ada selain peristiwa tersebut yang melibatkan kaum mukminin berkenaan dg Abu Bakar. Silahkan tunjukkan jika anda menemukan peristiwa lain yang berkaitan dengan Abu Bakar yang melibatkan kaum mukminin secara massal sesaat selepas Rasulullah wafat selain pembai’atan beliau.. silahkan..

saya tidak menafikan soal baiat, tapi dalil anda itu kalau kaum mukminin hanya rela dengan Abu Bakar, itu yang saya maksud mengada-ada. kaum muslimin mengalami perselisihan soal khalifah dimulai dari kaum anshar di saqifah sampai sahabat-sahabat di rumah sayyidah Fathimah beserta bani hasyim, nah pertanyaannya kalau memang semua kaum mukminin hanya rela kepada Abu Bakar kok gak dari awal sudah disepakati, itu maksud saya

Siapa yang bilang disepakati? sabda Rasulullah tersebut belum sempat tersebar, dan pemilihan Abu Bakar terjadi dengan sendirinya (Atas Kehendak Allah tentunya), bahkan kalau anda membaca, Abu Bakar sendiri pun juga tidak menyangka bahwa dirinya akan terpilih menjadi khalifah, tetapi karena umat Islam mengetahui keutamaan beliau, maka hampir seluruh kaum mukminin membai’at beliau saat itu. adanya friksi2 pd awalnya adalah hal yg wajar, tetapi akhirnya seluruh kaum mukminin disatukan hatinya oleh Allah untuk berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali. dan saya pribadi tidak setuju jika Imam Ali berbai’at secara terpaksa, itu namanya pembunuhan karakter beliau. Anda, sy yakin sudah membaca di shahih bukhari saat beliau membai’at Abu Bakar, bahkan beliau memuji Abu Bakar dan terlihat tidak ada unsur keterpaksaan atau ketidakjujuran pada ucapan beliau tersebut.

konsisten apanya? baca tuh sejarah pada zaman Abu Bakar, khalifah Imam Ali memisahkan diri dan btw pada zaman ketiga khalifah Imam Ali tidak satupun aktif mengikuti perperangan ataupun menjadi pejabat pemerintah.

Kata siapa mas, sepengetahuan saya Imam Ali pun aktif membantu dalam perang Riddah yg dipimpin oleh Abu Bakar, bahkan beliau mendapatkan istri yang bernama Khaulah binti Ja’far bin Qais yang berasal dari Bani Hanifah, dia ditawan oleh Khalid bin Walid dlm perang Riddah dan kemudian diberikan kepada Ali bin Abi Thalib, darinya Imam Ali mempunyai Putra bernama Muhammad Al-Akbar (Muhammad bin Al-Hanafiyah). Ini bukti yg nyata, kalau beliau mendukung apa yg dilakukan Abu Bakar saat itu.

Kemudian pada masa Umar, beliau pernah menjadi khalifah di Madinah saat ditinggal pergi oleh Umar ke Baitul Maqdis. dll

Allahu A’lam bishowab.

*****************

secondprince, on Oktober 8, 2009 at 5:49 pmsaid:

@antirafidhah

Hmm.. anda sy yakin sudah membaca riwayat hadits tsb.. Rasulullah bersabda demikian kepada Aisyah dikala beliau sedang sakit menjelang wafat beliau, dan kaum Anshar belum mengetahui hadits tsb? kalau mereka mengetahui hadits tersebut pastilah mereka langsung mencari Abu Bakar dan membai’atnya, Jadi memang belum ada kesepakatan sebelumnya, semuanya terjadi dengan sendirinya (tentunya atas kehendak Allah) dan berakhir pada terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah Rasulullah, itulah hal yg jelas, apa yang disabdakan Rasulullah telah menjadi kenyataan, bagaimanapun prosesnya akhirnya seluruh kaum mukminin berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali. Ingat mas yang kita bicarakan adalah peristiwa masa lalu yg sudah terjadi, sehingga lebih mudah kita memahami alurnya.

Coba deh anda perhatikan dengan seksama soal hadis yang anda jadikan hujjah, apakah ada dari hadis tersebut keterangan kalau yang dibicarakan itu berkaitan dengan kekhalifahan. Saya rasa anda juga tahu kan hadis lain yang memuat lafaz “Allah dan kaum mukminin tidak rela” dan itu berkaitan dengan Imam shalat. Jadi hadis yang anda jadikan hujjah itu gak bisa sekenanya anda masukkan sebagai hujjah buat kekhalifahan justru hadis tersebut lebih tepat dikatakan berkaitan dengan imam shalat.

Jelas sekali Imam Ali mengatakan bahwa wasiat yang diberikan Rasulullah hanya Kitabullah dan apa yang ada pada sahifah saja, lainnya tidak ada, termasuk soal kekhalifahan,

Yang dimaksud tidak ada wasiat oleh Imam Ali adalah wasiat yang diberikan atau dititipkan kepada Ahlul bait yang belum disampaikan kepada manusia. Jelas tidak ada wasiat yang seperti itu yang dititipkan pada Ahlul Bait. mengenai kekhalifahan hadis-hadisnya telah disampaikan Rasul SAW kepada umatnya. seperti yang saya sebutkan

  1. Hadis Khalifah setelahKu di tulisan saya di atas
  2. Hadis Tsaqalain dengan matan Khalifah
  3. Hadis Pemimpin setelahKu

Kalau anda tidak sependapat ya silakan, saya sudah menampilkan hadisnya dan anda juga sudah menyampaikan penolakan anda :)

dan jika ada yg mengatakan yang lain berarti dia telah berdusta atas nama Imam Ali.

benar jika ada yang mengatakan Ahlul bait menyimpan wasiat lain yang tidak disampaikan kepada manusia maka dia telah berdusta berdasarkan hadis tersebut.

Maka otomatis hadits Tabuk yg menurut anda sangka adalah wasiat Rasul mengenai kekhalifahan setelah sepeninggal beliau adalah keliru,

Sudah ditanggapi dalam tulisan saya di atas, keliru atau tidak harus ada buktinya, tidak dengan mudah mengklaim.

bukan demikian maksud hadits tersebut, tetapi hanya perintah kepada Imam Ali saat perang tabuk saja.

Silakan perhatikan teksnya hadisnya, jika memang terbatas pada saat perang Tabuk, lafaz hadisnya tidak akan seperti itu. Itulah gunanya memahami hadis dengan baik bukan dengan prakonsepsi pribadi

Ingat Imam Ali mengatakan seperti itu dlm riwayat tsb dalam rangka membantah orang yang menganggap dia memiliki wasiat dari Rasulullah melebihi dari apa yang ada pada beliau.

Tidak ada masalah, soal Imam Ali sebagai khalifah itu sudah disampaikan Rasulullah SAW sendiri kepada Umatnya

Kalau memang beliau memiliki wasiat spt yg anda sangkakan itu, mengapa beliau tidak memperjuangkannya pada saat yg tepat itu? jangan mendiskreditkan Imam Ali ah!

memperjuangkan yang anda maksud itu harus seperti apa?. Imam Ali adalah pemimpin setelah Nabi kalau orang-orang tidak mau dan mencari pemimpin lain ya pertanggungjawaban ada pada mereka. Saya yakin Imam Ali bukan orang yang harus menurut kehendak anda atau siapa saja bahwa beliau harus mengangkat senjata atau harus berteriak-teriak di keramaian. Imam Ali lebih memikirkan persatuan Umat dan keutuhan agama Islam.

sepengetahuan saya, Imam Ali berbai’at dua kali, yg pertama bai’at bersama kaum muslimin di hari kedua setelah meninggalnya Rasulullah dan kedua 6 bln berikutnya, yg beliau lakukan untuk menghilangkan keraguan kaum muslimin akan tetapnya loyalitas beliau kepada Abu Bakar yg hal tsb terjadi disebabkan perbedaan pandangan soal harta warisan.

Memangnya kalau terjadi perbedaan pandangan maka harus ada baiat kedua kalinya. baiat yang benar adalah setelah 6 bulan. Dalam Shahih Bukhari hadis riwayat Aisyah yang tampak jelas dari teks hadisnya baiat setelah 6 bulan adalah baiat yang pertama. Menjadikan itu sebagai baiat kedua malah bertentangan dengan hadis Aisyah itu sendiri.

Rasulullah dengan jelas telah bersabda mengenai Abu Bakar, “Allah dan Kaum Mukminin hanya Ridha/Rela kepada Abu Bakar” beberapa waktu sebelum beliau wafat dan kemudian kejadian sesaat setelah Rasulullah wafat yang berkenaan dengan Abu Bakar adalah Abu Bakar dibai’at oleh kaum mukminin. tidak ada selain peristiwa tersebut yang melibatkan kaum mukminin berkenaan dg Abu Bakar.

Hadis yang anda maksud berkaitan dengan Imam shalat, nah itulah yang shahih

Silahkan tunjukkan jika anda menemukan peristiwa lain yang berkaitan dengan Abu Bakar yang melibatkan kaum mukminin secara massal sesaat selepas Rasulullah wafat selain pembai’atan beliau.. silahkan..

Gak ada hubungannya, mengapa saya harus menuruti cara berpikir anda. poin saya itu sudah saya jelaskan bahwa hadis yang anda maksud berkaitan dengan Imam shalat.

Siapa yang bilang disepakati? sabda Rasulullah tersebut belum sempat tersebar, dan pemilihan Abu Bakar terjadi dengan sendirinya (Atas Kehendak Allah tentunya), bahkan kalau anda membaca, Abu Bakar sendiri pun juga tidak menyangka bahwa dirinya akan terpilih menjadi khalifah, tetapi karena umat Islam mengetahui keutamaan beliau,

Kalau anda membaca hadis Saqifah dengan benar maka baiat terhadap Abu Bakar bukan karena sepakat akan keutamaan buktinya bahkan setelah Abu Bakar datang, terdapat sahabat Anshar yang mangatakan untuk mengangkat pemimpin masing-masing bagi Anshar dan Muhajirin. baiat tersebut terjadi terburu-buru atau apa ya istilahnya faltah kali :mrgreen:

maka hampir seluruh kaum mukminin membai’at beliau saat itu. adanya friksi2 pd awalnya adalah hal yg wajar, tetapi akhirnya seluruh kaum mukminin disatukan hatinya oleh Allah untuk berbai’at
kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali.

jika sebagian orang sudah membaiat seseorang maka kewajiabn sebagian orang yang lain adalah mengikuti baiat tersebut tidak ada pilihan buat mereka kecuali mereka akan diperangi. jadi friksi yang ada tidak akan ada artinya jika baiat sudah diberikan, kalau mau dipaksakan ya bisa pertentangan yang besar yang kayaknya tidak diinginkan semua sahabat pada saat itu.

dan saya pribadi tidak setuju jika Imam Ali berbai’at secara terpaksa, itu namanya pembunuhan karakter beliau.

siapa yang bilang begitu?. justru yang harus anda perhatikan adalah mengapa peristiwa baiat membaiat itu sampai menimbulkan ancaman pembakaran rumah Ahlul Bait. Mana mungkin yang begini dianggap remeh kecuali orang yang gak ada cinta di hatinya kepada Ahlul bait.

Anda, sy yakin sudah membaca di shahih bukhari saat beliau membai’at Abu Bakar, bahkan beliau memuji Abu Bakar dan terlihat tidak ada unsur keterpaksaan atau ketidakjujuran pada ucapan beliau tersebut.

Itu kan yang terjadi 6 bulan :mrgreen:

Kata siapa mas, sepengetahuan saya Imam Ali pun aktif membantu dalam perang Riddah yg dipimpin oleh Abu Bakar,

Karena anda yang menampilkan dan berhujjah dengannya maka tugas andalah untuk menampilkan sumber dan kebenaran kisah ini. Apa benar Imam Ali aktif membantu perang Riddah? :mrgreen:

. Ini bukti yg nyata, kalau beliau mendukung apa yg dilakukan Abu Bakar saat itu.

Anda belum membuktikan apapun, itu baru kata anda saja, silakan dibuktikan :)

Kemudian pada masa Umar, beliau pernah menjadi khalifah di Madinah saat ditinggal pergi oleh Umar ke Baitul Maqdis. dll

Nah yang ini juga silakan dibuktikan dulu, insya Allah baru ditanggapi.

******************

antirafidhah, on Oktober 8, 2009 at 10:07 pmsaid:

semakin lama semakin terlihat lemah hujjah anda SP :lol:

Coba deh anda perhatikan dengan seksama soal hadis yang anda jadikan hujjah, apakah ada dari hadis tersebut keterangan kalau yang dibicarakan itu berkaitan dengan kekhalifahan. Saya rasa anda juga tahu kan hadis lain yang memuat lafaz “Allah dan kaum mukminin tidak rela” dan itu berkaitan dengan Imam shalat. Jadi hadis yang anda jadikan hujjah itu gak bisa sekenanya anda masukkan sebagai hujjah buat kekhalifahan justru hadis tersebut lebih tepat dikatakan berkaitan dengan imam shalat.

terpaksa saya harus tertawa :lol: Untuk hadits2 ttg Imam Shalat berbeda dg hadits dari Aisyah mengenai wasiat, Rasulullah langsung menunjuk Abu Bakar menjadi Imam Shalat dihadapan beberapa sahabat dan istrinya dengan tegas, bukan lagi bersifat isyarat atau berbentuk wasiat yg akan ditulis, tetapi merupakan perintah langsung yg keras. karena hal tsb, kedua istri beliau pun beliau tegur, ketika Umar maju menjadi Imam Shalat, beliau marah dan keluarlah sabda beliau tersebut. Maka keinginan yang kuat dari Rasulullah supaya Abu Bakar menggantikan posisinya sebagai Imam Salat di Masjid beliau adalah salah satu isyarat yg lain tentang kepemimpinan Abu Bakar, karena selama Rasulullah masih sehat dan berada di Madinah, yang memimpin shalat di Masjid An-Nabawi adalah beliau sendiri, maka jika beliau menunjuk seseorang menggantikan kedudukan beliau sebagai imam shalat di Masjid beliau sendiri di saat menjelang wafatnya adalah merupakan isyarat yg jelas isyarat penunjukkan beliau thd seseorang tsb untuk menggantikan kedudukan beliau sebagai pemimpin umat selepas beliau, dan ternyata kenyataan Abu Bakar memang menjadi khalifah selepas wafatnya beliau.

sebagaimana Imam Ali sendiri berkata mengenai hal ini :
”… Maka kami memilih untuk urusan dunia kami
orang yang telah kami pilih untuk urusan agama kami. Shalat adalah pokok Islam,
adalah komandan agama dan tiang agama. Oleh sebab itulah kami membaiat Abu
Bakar, sebab dia memang pantas untuk memikul tugas itu…” (Diriwayatkan oleh
Ibnu Asakir)

Berbeda dengan hadits dari Aisyah, Rasulullah baru meminta menulis wasiat untuk Abu Bakar agar tidak ada yg berkeinginan dan yg lain mengatakan lebih berhak, tetapi tampaknya urung niat beliau tersebut dan beliau bersabda bahwa “Allah dan Kaum Mukminin hanya ridha kepada Abu Bakar”.

baik kita coba lihat kembali hadits yang dibawakan oleh saudara kembali ke aqidah yg benar, ttg perkataan Abbas kepada Ali :

Ayo kita masuk kepada Rasulullah SAW dan menanyakan kepada beliau siapa yang akan
memerintah? Apabila diserahkan kepada kita, maka kita akan tahu dan kalau kepada orang lain pun kita akan tahu, atau kita minta agar beliau mewasiatkan kepada kita.” Sayyidina Ali menjawab: ”Demi Allah, apabila kita meminta hal ini kepada Rasulullah SAW, dan ternyata beliau menolaknya, maka orang-orang
selamanya tidak akan memberikan posisi itu kepada kita. Demi Allah, aku tidak akan meminta hal itu kepada Rasulullah SAW.” (HR Imam Bukhari)

Jadi untuk masalah kepemimpinan (khilafah), sudah lazim adanya wasiat, baik wasiat utk ahlul bait, jika memang Rasul menunjuk Ahlul Bait atau wasiat untuk salah seorang sahabatnya jika beliau menunjuk salah satu sahabatnya sebagai pemimpin selepas beliau (dr hadits itu saja sdh terlihat dg jelas bahwa Rasulullah belum memberikan wasiat kepada siapapun, ntah itu ahlul bait ataupun sahabat), sehingga jelaslah bahwa wasiat yg akan ditulis Rasulullah kepada Abu Bakar bukanlah soal Imam Shalat, karena soal Imam Shalat, beliau sudah menunjuk dengan tegas akan hal tsb secara langsung.

Maka tinggal satu lagi yg paling kuat, bahwa wasiat tsb adalah soal pengganti beliau dan ternyata Rasulullah memilih untuk membiarkan saja hal tersebut dan hanya bersabda kepada Aisyah : “Allah dan Kaum Mukminin hanya ridha kepada Abu Bakar” artinya beliau membiarkan saja hal tersebut tanpa wasiat/penunjukkan langsung, karena beliau mengetahui Allah dan kaum mukminin bakal menghendaki Abu Bakar yg menjadi pemimpin selepas beliau. dan terbukti peristiwa besar selepas beliau wafat yang berkaitan dengan Abu Bakar dan melibatkan kaum mukminin adalah peristiwa pembai’atan Abu Bakar oleh Kaum Mukminin. Shadaqa Rasul Shalallahu alaihi wasallam.

Yang dimaksud tidak ada wasiat oleh Imam Ali adalah wasiat yang diberikan atau dititipkan kepada Ahlul bait yang belum disampaikan kepada manusia.

Memangnya Kitabullah adalah wasiat yang belum disampaikan kepada manusia? kenapa masih beliau sebutkan juga di situ? :mrgreen:

Tidak ada masalah, soal Imam Ali sebagai khalifah itu sudah disampaikan Rasulullah SAW sendiri kepada Umatnya

Ya masalah lah.. karena Imam Ali sendiri mengatakan dusta pada org mengatakan bahwa beliau mempunyai wasiat dari Rasul selain Kitabullah dan sahifah miliknya dan kalau benar hadits2 di atas adlah salah satu wasiat Rasulullah kepada beliau, pastilah beliau menyebutkannya juga saat itu.. berarti memang beliau tidak menganggap hadits2 yg anda sebutkan itu adalah wasiat.

Anda, sy yakin sudah membaca di shahih bukhari saat beliau membai’at Abu Bakar, bahkan beliau memuji Abu Bakar dan terlihat tidak ada unsur keterpaksaan atau ketidakjujuran pada ucapan beliau tersebut.

Itu kan yang terjadi 6 bulan :mrgreen:

Apa maksud anda? apakah Imam Ali berubah pendirian stlh 6 bulan? dan apa yg beliau katakan adalah pura2? yang bener aja Mas.. :mrgreen:

Anda belum membuktikan apapun, itu baru kata anda saja, silakan dibuktikan

Lho silahkan anda bisa baca riwayat mengenai istri2 dan anak2 Imam Ali, diantaranya adalah Khaulah binti Ja’far bin Qais yang merupakan tawanan Khalid bin Walid pada perang Riddah yang kemudian diserahkan kepada Imam Ali. lihat ath-thabaqat Al-Kubra, 3/19-20 dan tarikh ath-Thabari, 5/153-155

Yang artinya Imam Ali tidak memisahkan diri sebagaimana anggapan anda, dan dengan dia menerima tawanan tersebut menjadi istrinya, menunjukkan bahwa waktu itu beliaupun aktif berhubungan dengan Abu Bakar dan juga Khalid bin Walid dalam perang Riddah tsb. Masak beliau mau menerima tawanan dr perang Riddah sebagai istrinya tetapi tidak mendukung perang tersebut?

Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abu Bakar mengimami shalat Ashar beberapa malam setelah Rasulullah wafat, kemudian ia keluar dari Masjid dan bertemu dengan al-Hasan bin Ali sedang bermain bersama anak-anak, maka Abu Bakar menggendongnya sembari berkata, “Sungguh mirip dengan Nabi, tidak mirip dengan Ali”, sementara Ali tertawa melihatnya. (Shahih Bukhari, Kitab Al-Manaqib, hadits no. 3750)

Jelas menunjukkan bahwa Imam Ali tidak memisahkan diri saat pemerintahan Abu Bakar.

****************

secondprince, on Oktober 8, 2009 at 11:33 pmsaid:

@antirafidhah

semakin lama semakin terlihat lemah hujjah anda SP

jujur aja deh, sejak kapan anda pernah menganggap kuat hujjah-hujjah saya. hadis seshahih apapun saja bisa anda tolak apalagi perkataan saya :mrgreen:

terpaksa saya harus tertawa :lol: Untuk hadits2 ttg Imam Shalat berbeda dg hadits dari Aisyah mengenai wasiat,

justru yang patut ditertawakan adalah orang yang berhujjah dengan angan-angannya sendiri sambil mencatut hadis, padahal hadis tersebut tidak memuat lafaz yang menjadi hujjahnya. Simpel saja Mas, sejauh ini anda tidak bisa menunjukkan bagian mana dari hadis tersebut yang memuat lafaz kekhalifahan. Tidak bisa makanya mengada-ada ya :mrgreen:

Rasulullah langsung menunjuk Abu Bakar menjadi Imam Shalat dihadapan beberapa sahabat dan istrinya dengan tegas, bukan lagi bersifat isyarat atau berbentuk wasiat yg akan ditulis, tetapi merupakan perintah langsung yg keras. karena hal tsb, kedua istri beliau pun beliau tegur, ketika Umar maju menjadi Imam Shalat, beliau marah dan keluarlah sabda beliau tersebut.

Nah kalau memang begitu ya benar hadis itu berkaitan dengan Imam shalat. Hadis yang samar harus dirujukkan pada hadis yang jelas bukannya mengada-ada :P

Maka keinginan yang kuat dari Rasulullah supaya Abu Bakar menggantikan posisinya sebagai Imam Salat di Masjid beliau adalah salah satu isyarat yg lain tentang kepemimpinan Abu Bakar,

isyarat apa nih, saya juga bisa kok seenaknya mengatakan penunjukkan Usamah bin Zaid sebagai pemimpin kaum muslimin muhajirin dan anshar termasuk di dalamnya Abu Bakar dan Umar sebagai isyarat kekhalifahan. Akui saja Imam shalat, Pemimpin perang adalah hal yang berbeda dengan kekhalifahan :mrgreen:

maka jika beliau menunjuk seseorang menggantikan kedudukan beliau sebagai imam shalat di Masjid beliau sendiri di saat menjelang wafatnya adalah merupakan isyarat yg jelas isyarat penunjukkan beliau thd seseorang tsb untuk menggantikan kedudukan beliau sebagai pemimpin umat selepas beliau,

isyarat yang mengada-ada. btw bicara soal penunjukkan kepemimpinan. Rasulullah SAW telah menyerahkan kepemimpinan dalam hal agama kepada Ahlul bait (merujuk pada hadis Tsaqalain yang anda takwilkan seenaknya), disitu Rasulullah SAW berwasiat kepada semua sahabat (termasuk Abu Bakar) agar mengikuti Ahlul Bait agar tidak sesat. Tidak ada yang lebih jelas dari itu. :)

sebagaimana Imam Ali sendiri berkata mengenai hal ini :
”… Maka kami memilih untuk urusan dunia kami
orang yang telah kami pilih untuk urusan agama kami. Shalat adalah pokok Islam,
adalah komandan agama dan tiang agama. Oleh sebab itulah kami membaiat Abu
Bakar, sebab dia memang pantas untuk memikul tugas itu…” (Diriwayatkan oleh
Ibnu Asakir)

silakan buktikan dulu validitas riwayat anda ini, jangan cuma asal kupipes. Setiap orang bisa kok membawa ribuan dalil kalau cuma menulis dengan gaya anda begitu.

Berbeda dengan hadits dari Aisyah, Rasulullah baru meminta menulis wasiat untuk Abu Bakar agar tidak ada yg berkeinginan dan yg lain mengatakan lebih berhak, tetapi tampaknya urung niat beliau tersebut dan beliau bersabda bahwa “Allah dan Kaum Mukminin hanya ridha kepada Abu Bakar”.

logikanya kok tambah kacau. Kalau wasiat yang anda maksud itu soal kekhalifahan maka seharusnya wasiat itu disampaikan ke orang-orang atau kalau tidak ya benar-benar dituliskan. Tindakan Rasul SAW yang tidak jadi menuliskannya itu berarti berkaitan dengan sesuatu yang sudah Rasul SAW katakan yaitu berkaitan dengan imam shalat. lucunya hadis wasiat gaya anda ini tidak pernah dijadikan hujjah oleh satu orang sahabatpun ketika mereka berselisih soal kekhalifahan.

Jadi untuk masalah kepemimpinan (khilafah), sudah lazim adanya wasiat, baik wasiat utk ahlul bait, jika memang Rasul menunjuk Ahlul Bait atau wasiat untuk salah seorang sahabatnya jika beliau menunjuk salah satu sahabatnya sebagai pemimpin selepas beliau (dr hadits itu saja sdh terlihat dg jelas bahwa Rasulullah belum memberikan wasiat kepada siapapun, ntah itu ahlul bait ataupun sahabat), sehingga jelaslah bahwa wasiat yg akan ditulis Rasulullah kepada Abu Bakar bukanlah soal Imam Shalat, karena soal Imam Shalat, beliau sudah menunjuk dengan tegas akan hal tsb secara langsung.

Kalau memang butuh wasiatnya, mana wasiat yang dituliskan itu?. Sadar gak sih kalau anda ini hanya berhujjah dengan asumsi anda sendiri. Anda hanya mengatasnamakan hadis padahal hadisnya sendiri menentang asumsi anda. Hadisnya tidak ada bicara soal khalifah eh anda memasukkan seenaknya kata khalifah. Hadisnya menunjukkan Rasul SAW tidak jadi menulis wasiat eh anda bilang dalam soal khalifah sudah lazim adanya wasiat. Kalau memang perlu kok gak ditulis :)

Maka tinggal satu lagi yg paling kuat, bahwa wasiat tsb adalah soal pengganti beliau dan ternyata Rasulullah memilih untuk membiarkan saja hal tersebut dan hanya bersabda kepada Aisyah : “Allah dan Kaum Mukminin hanya ridha kepada Abu Bakar”

Maksa nih, satu yang paling kuat menurut anda itu ya satu-satunya yang ada dalam pikiran anda, makanya wajar kalau anda bilang paling kuat :mrgreen:

artinya beliau membiarkan saja hal tersebut tanpa wasiat/penunjukkan langsung, karena beliau mengetahui Allah dan kaum mukminin bakal menghendaki Abu Bakar yg menjadi pemimpin selepas beliau.

Palsu ah, gampang saja nih seperti yang saya katakan sebelumnya kalau kaum mukminin hanya ridha dengan abu bakar maka mengapa kaum Anshar sibuk berkumpul di Saqifah untuk mengangkat pemimpin sendiri. Kayaknya mereka gak seperti anda ya, yang memahami bahwa Abu Bakar sebagai Imam itu isyarat bagi khalifah buktinya mereka (kalau memang ikut) kan berhari-hari sudah mengikut Abu Bakar sebagai Imam kok masih aja tuh berkumpul di Saqifah untuk mengangkat pemimpin dari kalangan mereka sendiri :mrgreen:

Memangnya Kitabullah adalah wasiat yang belum disampaikan kepada manusia? kenapa masih beliau sebutkan juga di situ?

makanya baca hadis jangan parsial,kumpulkan dulu semua hadis yang bicara soal itu, inysa Allah akan saya buat postingan khusus tentang itu :)

Ya masalah lah.. karena Imam Ali sendiri mengatakan dusta pada org mengatakan bahwa beliau mempunyai wasiat dari Rasul selain Kitabullah dan sahifah miliknya

Rasul SAW sudah berwasiat pada umatnya kok, itu tuh di ghadir kum, wasiatnya bukan khusus pada Imam Ali tetapi kepada umatnya. mau menolak ya silakan.

Rasulullah kepada beliau, pastilah beliau menyebutkannya juga saat itu.. berarti memang beliau tidak menganggap hadits2 yg anda sebutkan itu adalah wasiat.

Rasulullah SAW sudah menyebutkannya kok, diantaranya di ghadir kum perihal hadis Tsaqalain.

Apa maksud anda? apakah Imam Ali berubah pendirian stlh 6 bulan? dan apa yg beliau katakan adalah pura2? yang bener aja Mas.

Pahami komentar orang dengan baik, yang saya maksud baiat itu terjadi setelah 6 bulan. :mrgreen:

Lho silahkan anda bisa baca riwayat mengenai istri2 dan anak2 Imam Ali, diantaranya adalah Khaulah binti Ja’far bin Qais yang merupakan tawanan Khalid bin Walid pada perang Riddah yang kemudian diserahkan kepada Imam Ali. lihat ath-thabaqat Al-Kubra, 3/19-20 dan tarikh ath-Thabari, 5/153-155

Ah ini bukti kalau anda tidak memahami komentar saya sebelumnya, yang saya minta bukti itu soal imam Ali aktif di perang Riddah? bukannya yang sampean tulis barusan :mrgreen:

Yang artinya Imam Ali tidak memisahkan diri sebagaimana anggapan anda, dan dengan dia menerima tawanan tersebut menjadi istrinya, menunjukkan bahwa waktu itu beliaupun aktif berhubungan dengan Abu Bakar dan juga Khalid bin Walid dalam perang Riddah tsb. Masak beliau mau menerima tawanan dr perang Riddah sebagai istrinya tetapi tidak mendukung perang tersebut?

jangan mengada-ada deh Mas, memangnya kalau Imam Ali menerima pemberian khalifah itu berarti Imam Ali ikut berperang?. logika dari mana :roll:

Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abu Bakar mengimami shalat Ashar beberapa malam setelah Rasulullah wafat, kemudian ia keluar dari Masjid dan bertemu dengan al-Hasan bin Ali sedang bermain bersama anak-anak, maka Abu Bakar menggendongnya sembari berkata, “Sungguh mirip dengan Nabi, tidak mirip dengan Ali”, sementara Ali tertawa melihatnya. (Shahih Bukhari, Kitab Al-Manaqib, hadits no. 3750)

Jelas menunjukkan bahwa Imam Ali tidak memisahkan diri saat pemerintahan Abu Bakar.

.

lucunya hadis Bukhari no 3750 matannya gak sama dengan apa yang anda kutip, gak ada tuh keterangan soal shalat ashar kemudian beberapa malam terus keluar masjid, anda kupipes dari mana? :roll: Yang saya maksud memisahkan diri bukannya tidak keluar-keluar dari rumah, tapi tidak ikut aktif dalam pemerintahan Abu Bakar :lol:

****************

antirafidhah, on Oktober 9, 2009 at 1:35 amsaid:

justru yang patut ditertawakan adalah orang yang berhujjah dengan angan-angannya sendiri sambil mencatut hadis, padahal hadis tersebut tidak memuat lafaz yang menjadi hujjahnya. Simpel saja Mas, sejauh ini anda tidak bisa menunjukkan bagian mana dari hadis tersebut yang memuat lafaz kekhalifahan. Tidak bisa makanya mengada-ada ya

Tidak juga, emang seluruh sunni berangan-angan? kyknya anda dech yang berangan-angan dg hadits yg jelas tidak menunjukkan kekhalifahan Imam Ali setelah wafatnya Rasulullah, Imam Ali saja tidak merasa kok anda tetep ngotot memakainya :lol: makanya jangan tekstual kalau memahami hadits lihat yg lainnya dunk :mrgreen:

Kalau memang butuh wasiatnya, mana wasiat yang dituliskan itu?. Sadar gak sih kalau anda ini hanya berhujjah dengan asumsi anda sendiri. Anda hanya mengatasnamakan hadis padahal hadisnya sendiri menentang asumsi anda. Hadisnya tidak ada bicara soal khalifah eh anda memasukkan seenaknya kata khalifah. Hadisnya menunjukkan Rasul SAW tidak jadi menulis wasiat eh anda bilang dalam soal khalifah sudah lazim adanya wasiat. Kalau memang perlu kok gak ditulis

Tampak sekali anda ga paham dan ga membaca seluruh komentar saya :mrgreen:

Palsu ah, gampang saja nih seperti yang saya katakan sebelumnya kalau kaum mukminin hanya ridha dengan abu bakar maka mengapa kaum Anshar sibuk berkumpul di Saqifah untuk mengangkat pemimpin sendiri. Kayaknya mereka gak seperti anda ya, yang memahami bahwa Abu Bakar sebagai Imam itu isyarat bagi khalifah buktinya mereka (kalau memang ikut) kan berhari-hari sudah mengikut Abu Bakar sebagai Imam kok masih aja tuh berkumpul di Saqifah untuk mengangkat pemimpin dari kalangan mereka sendiri

Tapi kan yang penting finally mereka semua berbai’at termasuk Imam Ali, hal itu jelas bukti nyata bahwa Allah telah menyatukan hati2 mereka.. itulah kenyataan yg ada.. mau gimana lagi…terima saja lah.. Imam Ali saja menerima kok, anda kok menolak gmn tuch :mrgreen:

makanya baca hadis jangan parsial,kumpulkan dulu semua hadis yang bicara soal itu, inysa Allah akan saya buat postingan khusus tentang itu

Silahkan.. bisa ditebak kok :mrgreen: seperti biasa.. paling2 jg asumsi & apologi lagi.. sami mawon… :lol:

Rasul SAW sudah berwasiat pada umatnya kok, itu tuh di ghadir kum, wasiatnya bukan khusus pada Imam Ali tetapi kepada umatnya. mau menolak ya silakan.

Lha kok Imam Ali ga merasa ya? aneh? bahkan sama Abbas beliau hendak menanyakan lagi? :mrgreen:

Rasulullah SAW sudah menyebutkannya kok, diantaranya di ghadir kum perihal hadis Tsaqalain

komentar idem ama di atas :mrgreen:

Ah ini bukti kalau anda tidak memahami komentar saya sebelumnya, yang saya minta bukti itu soal imam Ali aktif di perang Riddah? bukannya yang sampean tulis barusan

memang Imam Ali bukanlah salah seorang yang ditunjuk sebagai panglima dalam perang Riddah, tetapi keaktifan beliau dan interaksi beliau dengan Abu Bakar dan sahabat yang lain spt misalnya Khalid bin Walid panglima dalam perang Riddah tersebut, terlihat jelas dengan dia mendapatkan istri dari tawanan perang Riddah.. ga bisa dipungkiri hal tsb.. artinya imam Ali masih aktif tidak memisahkan diri dari pemerintahan Abu Bakar itu saja.. :mrgreen: maka asumsi anda lah yang perlu dikoreksi.. :lol:

******************

secondprince, on Oktober 9, 2009 at 6:21 amsaid:

@antirafidhah

Tidak juga, emang seluruh sunni berangan-angan?

logika macam apa itu, orang lain mah enak juga bilang , emang seluruh syiah berangan-angan? :mrgreen:

kyknya anda dech yang berangan-angan dg hadits yg jelas tidak menunjukkan kekhalifahan Imam Ali setelah wafatnya Rasulullah,

hadisnya shahih dan berlafaz jelas :)

Imam Ali saja tidak merasa kok anda tetep ngotot memakainya :lol: makanya jangan tekstual kalau memahami hadits lihat yg lainnya dunk

Imam Ali justru mengakui kepemimpinannya kok itu tertera dalam hadis shahih. situ aja yang gak lihat hadis lainnya :mrgreen:

Tampak sekali anda ga paham dan ga membaca seluruh komentar saya

maaf tapi anda yang sebenarnya gak paham logika anda yang rusak, hadis yang gak bicara soal khalifah eh dijadikan dalil soal kekhalifahan :P

Tapi kan yang penting finally mereka semua berbai’at termasuk Imam Ali, hal itu jelas bukti nyata bahwa Allah telah menyatukan hati2 mereka..

situ kagak ngerti nih, padahal sudah saya jelaskan berulang-ulang. perselisihan sahabat soal siapa yang akan jadi khalifah menunjukkan bahwa lafaz “Allah dan kaum mukminin hanya rela dengan” bukan bicara soal khalifah tetapi soal imam shalat. Lucunya hadis imam shalat yang menurut anda isyarat bagi khalifah tidak dipahami oleh kaum Anshar. Mereka bukannya menunggu-nunggu untuk membaiat Abu Bakar malah sibuk mengangkat pemimpin sendiri di Saqifah. Kalau Abu Bakar gak datang, pemimpinnya udah dibaiat kali oleh kaum Anshar :) . perhatikan kata-kata saya sebelumnya “jika sebagian sahabat sudah membaiat seseorang maka sebagian sahabat lain yang belum membaiat harus memberikan baiatnya jika tidak akan diperangi” makanya dalam peristiwa baiat-membaiat itu perselisihannya begitu besar sampai mau mengancam membakar rumah Ahlul Bait.

Silahkan.. bisa ditebak kok :mrgreen: seperti biasa.. paling2 jg asumsi & apologi lagi.. sami mawon…

ah itu mah kerja sampean atau imem, kita lihat saja nanti lafaz hadisnya menentang asumsi anda yang gak jelas itu :mrgreen:

Lha kok Imam Ali ga merasa ya? aneh? bahkan sama Abbas beliau hendak menanyakan lagi?

ho ho ho gak pernah baca ya, kalau Imam Ali ketika menjadi khalifah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang soal hadis tersebut. Artinya Imam Ali mau menjadi khalifah dengan hujjah dalil tersebut :mrgreen:

memang Imam Ali bukanlah salah seorang yang ditunjuk sebagai panglima dalam perang Riddah,

lho terus kata-kata anda yang ini

Kata siapa mas, sepengetahuan saya Imam Ali pun aktif membantu dalam perang Riddah yg dipimpin oleh Abu Bakar

mau dikemanakan itu, mau menentang perkataan anda sendiri. kan anda yang bilang Imam Ali aktif membantu dalam perang Riddah, ditanya buktinya eh malah ngeles menentang perkataannya sendiri :mrgreen:

artinya imam Ali masih aktif tidak memisahkan diri dari pemerintahan Abu Bakar itu saja..

asumsi andalah yang mesti diperiksa, ditanya bukti kok malah ngelantur. terbukti Imam Ali gak ikut perang apapun di zaman Abu Bakar, nah mau bicara apa lagi :D

****************

antirafidhah, on Oktober 10, 2009 at 12:30 amsaid:

hadisnya shahih dan berlafaz jelas

Itulah yg saya maksud anda itu tekstual dlm memahami hadits, tanpa memperhatikan asbabul wurud & hadits2 yg lain :lol:

Imam Ali justru mengakui kepemimpinannya kok itu tertera dalam hadis shahih. situ aja yang gak lihat hadis lainnya

hoho yang itu tho.. kyknya dah ada yg jawab tuch :mrgreen:

maaf tapi anda yang sebenarnya gak paham logika anda yang rusak, hadis yang gak bicara soal khalifah eh dijadikan dalil soal kekhalifahan

hehehe.. jelas sekali kok logikanya dan buktinya sudah menjadi kenyataan :mrgreen:

situ kagak ngerti nih, padahal sudah saya jelaskan berulang-ulang. perselisihan sahabat soal siapa yang akan jadi khalifah menunjukkan bahwa lafaz “Allah dan kaum mukminin hanya rela dengan” bukan bicara soal khalifah tetapi soal imam shalat. Lucunya hadis imam shalat yang menurut anda isyarat bagi khalifah tidak dipahami oleh kaum Anshar. Mereka bukannya menunggu-nunggu untuk membaiat Abu Bakar malah sibuk mengangkat pemimpin sendiri di Saqifah. Kalau Abu Bakar gak datang, pemimpinnya udah dibaiat kali oleh kaum Anshar . perhatikan kata-kata saya sebelumnya “jika sebagian sahabat sudah membaiat seseorang maka sebagian sahabat lain yang belum membaiat harus memberikan baiatnya jika tidak akan diperangi” makanya dalam peristiwa baiat-membaiat itu perselisihannya begitu besar sampai mau mengancam membakar rumah Ahlul Bait.

Kalau anda faham yg namanya “Proses” maka anda ga akan berpemahaman spt itu, semuanya ada prosesnya ga langsung abakadabra lgsung jadi, maka friksi2 yg terjadi (kalau itu riwayatnya bener) adlh bagian dari proses.., mengenai kaum Anshar, awalnya mungkin bagi mereka belum terpikirkan mengenai keutamaan Abu Bakar, tetapi begitu Abu Bakar datang dan Umar mengingatkan keutamaan beliau, serentak mereka pun berbai’at.. itulah Finally nya.. dan peristiwa tsb bukan peristiwa yg akan dtg tetapi masa lampau yg bisa ditarik alurnya dg mudah.. gimana seh sampeyan ini :mrgreen:

ah itu mah kerja sampean atau imem, kita lihat saja nanti lafaz hadisnya menentang asumsi anda yang gak jelas itu

Ah ga juga ternyata… :mrgreen:

ho ho ho gak pernah baca ya, kalau Imam Ali ketika menjadi khalifah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang soal hadis tersebut. Artinya Imam Ali mau menjadi khalifah dengan hujjah dalil tersebut

udah ada yg ngebantah, kalau dr saya ntar ya… Insya Allah :mrgreen:

memang Imam Ali bukanlah salah seorang yang ditunjuk sebagai panglima dalam perang Riddah,

lho terus kata-kata anda yang ini

Kata siapa mas, sepengetahuan saya Imam Ali pun aktif membantu dalam perang Riddah yg dipimpin oleh Abu Bakar

mau dikemanakan itu, mau menentang perkataan anda sendiri. kan anda yang bilang Imam Ali aktif membantu dalam perang Riddah, ditanya buktinya eh malah ngeles menentang perkataannya sendiri

Bukannya justru anda sendiri yg menentang perkataan anda sendiri :

konsisten apanya? baca tuh sejarah pada zaman Abu Bakar, khalifah Imam Ali memisahkan diri dan btw pada zaman ketiga khalifah Imam Ali tidak satupun aktif mengikuti perperangan ataupun menjadi pejabat pemerintah.

Padahal beliau masih berhubungan dg Abu Bakar dan juga sahabat lain, dan menurut pengertian saya mengikuti peperangan bukan berarti terjun langsung ke medan perang, tetapi berinteraksi dg Abu Bakar dan sahabat yg lain dalam aktivitas mereka. Bukti beliau mendapat istri dari tawanan perang Riddah adalah sebaik-baik bukti bahwa beliau pun ikut terlibat, at least mendukung perang yg dipimpin Abu Bakar tsb. Jadi kira2 siapa yg berasumsi? :mrgreen:

********************

secondprince, on Oktober 10, 2009 at 6:45 amsaid:

@antirafidhah

Itulah yg saya maksud anda itu tekstual dlm memahami hadits, tanpa memperhatikan asbabul wurud & hadits2 yg lain

Gak perlu sok bicara asbabul wurud deh kalau situ gak ngerti, udah dijelasin dari dulu kok gak ngerti, dan ada banyak tuh hadis-hadis lain yang senada, situ aja yang terbiasa membelokkan makna hadis sesuai keinginannya

Kalau anda faham yg namanya “Proses” maka anda ga akan berpemahaman spt itu, semuanya ada prosesnya ga langsung abakadabra lgsung jadi,

Proses yang terjadi justru membuktikan kalau ada banyak pertentangan soal Abu Bakar menjadi khalifah dan itu membuktikan kalau kaum mukminin saat itu gak berpikir kayak anda kalau Imam shalat berarti isyarat kekhalifahan :mrgreen:

maka friksi2 yg terjadi (kalau itu riwayatnya bener) adlh bagian dari proses..,

friksinya sampe keterlaluan tuh, pakai mengancam membakar rumah Ahlul Bait, :roll:

mengenai kaum Anshar, awalnya mungkin bagi mereka belum terpikirkan mengenai keutamaan Abu Bakar,

jawaban model apa ini, kok bisa kaum Anshar belum terpikirkan keutamaan Abu Bakar, bukannya menurut anda Abu Bakar sahabat yang paling utama, kok kaum Anshar gak kepikiran ya, apalagi menurut anda mereka berimam kepada Abu Bakar selama beberapa hari :mrgreen:

tetapi begitu Abu Bakar datang dan Umar mengingatkan keutamaan beliau, serentak mereka pun berbai’at..

keutamaan yang mana, situ kok ngasal :)

itulah Finally nya.. dan peristiwa tsb bukan peristiwa yg akan dtg tetapi masa lampau yg bisa ditarik alurnya dg mudah.. gimana seh sampeyan ini

Gak nyadar ya, situ kan awalnya bilang kata-kata “Allah dan kaum mukminin gak akan rela kecuali dengan Abu Bakar” menunjukkan kekhalifahan tetapi terbukti kok ada sahabat-sahabat yang menentang baiat tersebut sampai ada ancaman membakar rumah ahlul bait, kalau memang gak akan rela kecuali dengan Abu Bakar maka ngapain pake friksi-friksian yang sampe ancam membakar rumah ahlul bait. Jadi jelas sekali kata-kata “Allah dan kaum mukminin gak akan rela kecuali dengan Abu Bakar” bukan merujuk pada kekhalifahn :mrgreen:

udah ada yg ngebantah, kalau dr saya ntar ya… Insya Allah

oooh jadi itu bukan anda yang membantah :mrgreen:

Bukannya justru anda sendiri yg menentang perkataan anda sendiri :

Memisahkan diri itu artinya tidak ikut aktif dalam pemerintahan, bandingkan saja dengan aktivitas Imam Ali di masa Rasul SAW yang hampir mengikuti setiap perperangan kecuali dalam Perang Tabuk, itu pun Imam Ali ingin ikut tetapi diperintahkan Rasul SAW untuk tinggal. udah saya bilang emangnya yang namanya memisahkan diri harus mengurung diri dalam kamar, jangan naif deh :P

Padahal beliau masih berhubungan dg Abu Bakar dan juga sahabat lain, dan menurut pengertian saya mengikuti peperangan bukan berarti terjun langsung ke medan perang,

Gak nyadar ya, situ kan yang bilang sepengetahuan saya Imam Ali pun aktif membantu dalam perang Riddah yg dipimpin oleh Abu Bakar, situ bilangnya aktif membantu dalam Perang lho, lagian lucu banget mengikuti perperangan bukan berarti terjun langsung ke medan perang. Ah ternyata asumsi membuat pikiran anda jadi terbiasa rusak, mengikuti perperangan ya artinya ikut dalam perang, yah masa’ sih tidak mengerti kata-kata yang anda ucapkan sendiri :mrgreen:

*******************

Komen dan diskusi selanjutnya silahkan berkunjung langsung KESINI


%d blogger menyukai ini: