Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali

Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar

Menanggapi komentar seseorang dalam tulisan saya Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah) maka dengan ini saya nyatakan saya akan berusaha menampilkan tulisan yang akan memperjelas Shahihnya pernyataan Ayat Al Wilayah Al Maidah Ayat 55 Turun Untuk Imam Ali.

Ayat yang dimaksud adalah

Sesungguhnya Waliy kamu hanyalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka Ruku’ (kepada Allah).

Kalau terjemahan versi Departemen Agama adalah sebagai berikut

Sesungguhnya Penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka Tunduk (kepada Allah).

Ayat di atas diturunkan untuk Imam Ali AS sehubungan dengan peristiwa dimana Beliau memberikan sedekah kepada seorang peminta-minta ketika sedang ruku’ dalam shalat. Ada banyak hadis yang menjelaskan tentang Asababun Nuzul ayat ini . Di antara hadis-hadis tersebut ada yang shahih dan dhaif ,walaupun begitu As Suyuthi salah seorang Ulama Ahlus Sunnah dalam Kitabnya Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul menyatakan bahwa sanad hadis tersebut saling kuat-menguatkan. Berikut ini saya akan menampilkan salah satu hadis shahih tentang Asbabun Nuzul ayat tersebut.

.

.

Hadis Shahih Dalam Tafsir Ibnu Katsir
Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir jilid 5 hal 266 Al Maidah ayat 55 diriwayatkan dari Ibnu Mardawaih dari Sufyan Ats Tsauri dari Abi Sinan dari Dhahhak bin Mazahim dari Ibnu Abbas yang berkata

“ketika Ali memberikan cincinnya kepada peminta-minta selagi Ia Ruku’ maka turunlah ayat “Sesungguhnya Waliy kamu hanyalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka Ruku’.”(Al Maidah 55).

Hadis ini diriwayatkan oleh perawi-perawi yang dikenal tsiqah. Walaupun begitu Ibnu Katsir mencacatkan hadis ini karena menurutnya Ad Dhahhak tidak bertemu dengan Ibnu Abbas jadi hadis tersebut Munqathi(terputus sanadnya).
Menurut kami pernyataan Ibnu Katsir tersebut keliru, Ad Dhahhak mendengar dari Ibnu Abbas. Berikut adalah sedikit analisis mengenai sanad Ad Dhahhhak dari Ibnu Abbas.

.

.

Ad Dhahhak bertemu dengan Ibnu Abbas
Dalam kitab As Saghir Al Bukhari dan Tarikh Al Kabir jilid 4 hal 332 Bukhari menyatakan bahwa Ad Dhahhak meninggal tahun 102 H, ada yang mengatakan tahun 105 H dan usianya telah mencapai 80 tahun. Sedangkan Ibnu Abbas meninggal tahun 68 H atau 70 H sebagaimana yang dikatakan Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir jilid 5 hal 3. Hal ini menunjukkan bahwa Ad Dhahhak lahir tahun 22 H atau 25 H sehingga beliau satu masa dengan Ibnu Abbas dan ketika Ibnu Abbas meninggal usia Ad Dhahhak mencapai lebih kurang 45 tahun. Adanya kemungkinan bertemu dan satu masa ini sudah cukup untuk menyatakan bahwa sanad Ad Dhahhak dari Ibnu Abbas adalah bersambung(muttasil) dan tidak terputus(munqathi). Persyaratan ketersambungan sanad dengan dasar perawi-perawi tsiqah tersebut dalam satu masa adalah kriteria yang ditetapkan Imam Muslim dalam kitab hadisnya Shahih Muslim. Maka berdasarkan Syarat Imam Muslim, Adh Dhahhak yang tsiqah satu masa dengan Ibnu Abbas maka sanad Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas adalah bersambung atau muttasil.

.

.

Alasan Ulama Menyatakan Inqitha’ Sanad Adh Dhahhak Dari Ibnu Abbas
Lantas Mengapa ada ulama seperti Ibnu Katsir menyatakan bahwa sanad Ad Dhahhak dari Ibnu Abbas adalah terputus atau munqathi?. Hal ini dikarenakan adanya riwayat dalam Kitab Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim jilid 4 no 2024 dari Abdul Malik bin Abi Maysarah yang berkata Ia pernah bertanya kepada Adh Dhahhak “Apakah kamu mendengar sesuatu dari Ibnu Abbas?”. Adh Dhahhak menjawabnya tidak. Abdul Malik kemudian bertanya “Jadi dari mana kamu ambil cerita yang kamu katakan dari Ibnu Abbas?”. Adh Dhahhak menjawab dari fulan dan dari fulan

.

.

Kritik Terhadap Inqitha’ Sanad Ad Dhahhak Dari Ibnu Abbas
Alasan tersebut tetap saja tidak menafikan bersambungnya sanad Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas dengan pertimbangan.

  • Hal ini karena terdapat riwayat yang lain, justru menyatakan bahwa Adh Dhahhak mendengar dari Ibnu Abbas. Ibnu Hajar dalam Tahdzib At Tahdzib jilid 4 hal 398 meriwayatkan dari Abu Janab Al Kalbi yang mendengar Ad Dhahhak berkata “Aku menyertai Ibnu Abbas selama 7 tahun”. Riwayat ini sudah jelas menyatakan bahwa Adh Dhahhak memang bertemu Ibnu Abbas apalagi dikuatkan oleh bahwa beliau memang satu masa dengan Ibnu Abbas.
  • Adh Dhahhak bin Muzahim Adalah seorang tabiin yang terkenal tsiqah dan amanah sedangkan riwayat Ibnu Abi Hatim berkesan beliau meriwayatkan hal yang ia dengar dari orang lain kemudian menisbatkannya kepada Ibnu Abbas tanpa mendengar sendiri dari Ibnu Abbas.
  • Riwayat Ibnu Abi Hatim tertolak(dengan pertimbangan-pertimbangan di atas) atau dapat saja diterima dengan pengertian bahwa apa yang dikatakan Adh Dhahhak itu berkaitan dengan beberapa hadis yang dinisbatkan kepada beliau dari Ibnu Abbas. Padahal beliau sendiri tidak mendengar riwayat itu langsung dari Ibnu Abbas.

.

.

Pernyataan Syaikh Ahmad Muhammad Syakir
Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam Syarh Musnad Ahmad bin Hanbal telah menolak pernyataan Inqitha’(keterputusan) Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas. Beliau menyatakan bahwa hal itu keliru dan beliau telah menshahihkan hadis dengan sanad Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas. Salah satunya tertera dalam Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 3 Syarh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir catatan kaki hadis no 2262, dimana beliau berkata

“…Adh Dhahhak bin Muzahim AlHilali Abu Al Qasim adalah seorang tabiin, dia meriwayatkan dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan yang lainnya, dia orang yang tsiqah lagi amanah sebagaimana yang dinyatakan Ahmad. Sebagian mereka mengingkari mendengarnya Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas atau sahabat lainnya, demikian yang diisyaratkan Al Bukhari pada biografinya dengan ungkapan Humaid ‘mursal’. Mengenai hal ini banyak sekali catatan, bahkan hal itu keliru karena ia meninggal pada tahun 102 ada juga yang mengatakan tahun 105 dan usianya telah mencapai 80 tahun atau lebih…”.

.

.

Semua pertimbangan di atas menunjukkan bahwa yang paling kuat dalam hal ini adalah bahwa sanad Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas adalah bersambung atau tidak terputus. Dalam hal ini Ibnu Katsir keliru ketika mencacat hadis tersebut dan derajat hadis tersebut sebenarnya shahih. Wallahu ‘Alam.

Salam Damai :mrgreen:

____________________________________________________________________________

BEBERAPA DISKUSI PENULIS DENGAN PEMBACA

.

watonist, on April 22, 2008 at 3:05 amsaid:

@As Sunnah
jangan apriori duluan gitu lah …
dalil boleh sama, pemahaman bisa beda … jadi kalau pengen didengar, ajukan saja pemahaman versi sampeyan :)

saya termasuk orang yang kurang sreg jika ada yang tiba-tiba … ucluk … ucluk … ucluk … bilang si A pendusta, golongan B pendusta. adalah lebih elegan jika memang kita menemukan satu kesalahan, kita fokus pada kesalahan tersebut, jangan merembet kemana-mana.

dan satu lagi, saya juga salah satu orang yang yakin “jika ada orang yang melakukan kesalahan” itu bukan semata-mata karena dia mencintai kesalahan tersebut, even orang yang jelas-jelas maling pun masih punya alibi atas ke-maling-annya, entah alasan ekonomi … entah alasan ikut-ikutan … dst, artinya apa ?!, “jelas, pada dasarnya dia tidak nyaman dengan tindakan menjadi maling tersebut”.

maaf, saya nulisnya dengan mengedepankan hawa napsu (tanpa menukil dalil), jadi harap dimaklumi :mrgreen:

************************

secondprince, on April 22, 2008 at 5:14 pm said:

@As Sunnah
Saya memang mengutip Ulama ahlussunnah Mas, dan menurut saya. saya gak pake nafsu-nafsuan waktu nulisnya, kan Mas sendiri yang ngotot mau minta sanad yang shahih. sok atuh saya udah tampilkan, maaf kalau nggak puas.

dari dulu rafidhah memang terkenal pendusta

Kalau menurut saya ini gak nyambung Mas dengan tulisan saya. daripada sibuk dengan yang nggak nyambung lebih baik Mas bahas tulisan saya di atas
salam

***********************

Muhibbin, on Juni 13, 2008 at 12:52 amsaid:

Dalam kitab As Saghir Al Bukhari dan Tarikh Al Kabir jilid 4 hal 332 Bukhari menyatakan bahwa Ad Dhahhak meninggal tahun 102 H, ada yang mengatakan tahun 105 H dan usianya telah mencapai 80 tahun. Sedangkan Ibnu Abbas meninggal tahun 68 H atau 70 H sebagaimana yang dikatakan Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir jilid 5 hal 3…

Hahaha….
Pantesan semua artikel di blog ini pada ngaco semua. Rujukannya banyak yang pake kitab al kabir yak, kitabnya para syiah.

Mau taqiyah kok bahlul sie, masak mau bohong pake rujukan kitab sesat sendiiri. Ya ketahuan lha ^_^

Dasar syiah bin majusi amatiran ^_^

**********************

secondprince, on Juni 13, 2008 at 4:40 pmsaid:

@Muhibbin

Hahaha….
Pantesan semua artikel di blog ini pada ngaco semua. Rujukannya banyak yang pake kitab al kabir yak, kitabnya para syiah.

Maafkan Mas kalau kali ini Mas benar-benar salah besar, Kitab Tarikh al Kabir adalah Kitab karya Al Bukhari Mas, kok Mas bilang kitabnya para Syiah, heran sekali saya . Sejak kapan Bukhari jadi Syiah
Apa ini Mas dapat dari Habib Mas? Kalau begitu maafkan kalau saya menyatakan tidak percaya dengan Mas yang katanya belajar dari Habib. Heran saja saya kalau ada Habib yang tidak tahu Kitab Tarikh Al Kabir, Al Bukhari. Hmm jangan-jangan memang begitu Habibnya Mas, wah sayang sekali saya gak jadi iri nih :mrgreen:

Mau taqiyah kok bahlul sie, masak mau bohong pake rujukan kitab sesat sendiiri. Ya ketahuan lha ^_^

saya nggak pernah taqiyyah, jangan terlalu banyak menghina kalau Mas sendiri keliru besar. Kan sayang kalau merendahkan orang lain karena praduga dan keterbatasan ilmu. Mari belajar Mas dan gak perlu menghina :)

Dasar syiah bin majusi amatiran ^_^

Pakai menghina syiah pula, wah banyak sekali yang sudah anda hina

***********************

al fakir, on Oktober 15, 2008 at 10:57 amsaid:

ga salah tuh, klo gitu imam ali batal donk sholatnya, klo gitu imam ali ga taat ma kewajibannya sendiri, yang benar aja bikin dalil

**********************

secondprince, on Oktober 15, 2008 at 5:40 pm said:

@al fakir
pendapat saya shalatnya gak batal kok Mas, dalilnya sudah saya jelaskan disini, silakan dibaca
Jawaban Buat Saudara Ja’far Tentang Ayat Al Wilayah
Kalau anda kurang berkenan maka saya bisa kupipes salah satu

“Dari Abu Qatadah Al-Anshari berkata, ‘Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam mengimami shalat sedangkan Umamah binti Abi Al-’Ash, yaitu anak Zainab putri Nabi Shallallaahu alaihi wasallam berada di pundak beliau. Apabila beliau ruku’, beliau meletak-kannya dan apabila beliau bangkit dari sujudnya beliau kembalikan lagi Umamah itu ke pundak beliau.” (HR. Muslim)

Saya kira Rasulullah SAW adalah manusia yang paling paham soal batal atau tidaknya shalat. Silakan direnungkan :)

**************************

anti taqiyah ala syiah, on Maret 11, 2010 at 1:02 pmsaid:

Anda bersikeras bahwa Adh-Dhahhak bertemu dgn Ibnu Abbas dgn alasan dia sudah bertetangga dgn Ibnu Abbas selama tujuh tahun? Riwayat siapa itu? Shahihkah riwayat yg menyatakan itu? Silahkan dijawab.

**************************

secondprince, on Maret 11, 2010 at 1:40 pmsaid:

Anda bersikeras bahwa Adh-Dhahhak bertemu dgn Ibnu Abbas dgn alasan dia sudah bertetangga dgn Ibnu Abbas selama tujuh tahun? Riwayat siapa itu? Shahihkah riwayat yg menyatakan itu? Silahkan dijawab

Ah itu riwayat Abu Janab dan dia sendiri memang banyak pembicaraan terhadapnya ada yang menta’dilkannya dan ada pula yang menjarhnya. Silakan kalau anda mau berpegang pada mereka yang menjarhnya sedangkan saya menyatakan kalau jarh terhadapnya dikarenakan ia melakukan tadlis dan ini berlaku buat hadis-hadisnya sedangkan kesaksian Abu Janab Al Kalbi di atas bukan tentang hadis tetapi tentang riwayat kalau Dhahak bertetangga dengan Ibnu Abbas. btw sekalipun anda menolak riwayat ini dan menyatakan Dhahhak tidak bertemu dengan Ibnu Abbas tetap saja riwayat ini shahih karena Dhahhak mengambil tafsir Ibnu Abbas dari Sa’id bin Jubair yang dikenal tsiqah. Begitulah yang dikatakan oleh para ulama seperti Ahmad dan Ibnu Abi Hatim.

**************************

anti taqiyah ala syiah, on Maret 11, 2010 at 4:42 pmsaid:

Andai tidak ada pernyataan dari Adh-Dhahhak sendiri bahwa dia tidak pernah mendengar dari Ibnu Abbas maka pernyataan Abu Janab itu masih bisa dipertimbangkan. Tapi persoalannya adalah karena bertentangan dgn pernyataan ADh-Dhahhak sendiri.

Sekiranya Adh-Dhhak tegas mengatakan bahwa dia mengambil tafsir surah Al-MAidah itu dari Sa’id bin Jubair maka hilanglah syubhat inqitha`, yg jadi soal karena dia tidak dgn tegas dari mana dia mengambil tafsir kali ini, bisa jadi dari sumber yg hanya katanya dan katanya…Bukankah untuk itulah kita mempelajari adanya ittishal dan inqitha’, kalau semuanya dianggap ittishal ya berarti tidak ada namanya inqitha’, sebab bisa jadi si Fulan mengambilnya dari Si Fulan yg tsiqah, sehingga ntuk menetapkan keshahihan riwyaat kita memakai metode “bisa jadi”.

*************************

secondprince, on Maret 12, 2010 at 12:07 amsaid:

@anti taqiyah

Andai tidak ada pernyataan dari Adh-Dhahhak sendiri bahwa dia tidak pernah mendengar dari Ibnu Abbas maka pernyataan Abu Janab itu masih bisa dipertimbangkan.

kayaknya riwayat Abu Janab itu perkataan Adh Dhahhak juga deh. seharusnya kalau mau digabungkan masih bisa kok. Awalnya Adh Dhahhak tidak mendengar dari Ibnu Abbas tetapi di tahun2 terakhir hidupnya ia telah bertetangga dengn Ibnu Abbas selama 7 tahun. masih klop tuh :)

Tapi persoalannya adalah karena bertentangan dgn pernyataan ADh-Dhahhak sendiri.

masih bisa dikompromikan tuh. Itu semua kan perkataan Adh Dhahhak.

Sekiranya Adh-Dhhak tegas mengatakan bahwa dia mengambil tafsir surah Al-MAidah itu dari Sa’id bin Jubair maka hilanglah syubhat inqitha`,

Justru yang menyatakan inqitha’ itu adalah para ulama. dan para ulama juga menyatakan kalau Adh Dhahhak itu mengambil tafsir Ibnu Abbas dari Said bin Jubair. Kasus seperti ini kan mirip sekali dengan Tafsir Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas. Para ulama tetap berpegang pada tafsir itu sekalipun Ali bin Abi Thalhah tidak bertemu dengan Ibnu Abbas karena para ulama menegaskan kalau ia mengambil tafsir dari Mujahid.

yg jadi soal karena dia tidak dgn tegas dari mana dia mengambil tafsir kali ini, bisa jadi dari sumber yg hanya katanya dan katanya…

tapi katanya katanya itu kata siapa :)

Bukankah untuk itulah kita mempelajari adanya ittishal dan inqitha’, kalau semuanya dianggap ittishal ya berarti tidak ada namanya inqitha’, sebab bisa jadi si Fulan mengambilnya dari Si Fulan yg tsiqah, sehingga ntuk menetapkan keshahihan riwyaat kita memakai metode “bisa jadi”.

Secara umum memang begitu ilmu hadis, tetapi secara mendetail faktanya tidak selalu begitu. Saya kasih contoh adalah tentang mudallis. banyak tuh para ulama yang dikatakan mudallis tetapi ‘an ‘an ah mereka diterima karena mereka hanya mentadliskan sanad dari para perawi tsiqat atau hanya sedikit melakukan tadlis. Mereka tidak selalu menyebutkan siapa perawi dari hadis yang mereka tadliskan, yah namanya saja tadlis pasti sumbernya tidak jelas. Nah anehnya banyak tuh mudallis yang dijadikan hujjah, mereka ini yang kata Ibnu hajar masuk dalam kategori mudallis martabat pertama dan kedua. bahkan Imam Malik, Imam Bukhari, Yahya, Sufyan juga tidak lepas dari tadlis seperti ini.

Sama saja tuh dengan anggapan mereka sedikit melakukan tadlis lantas siapa yang bisa menjamin kalau hadis an an ah mereka bukan tadlis lha bisa jadi itu juga termasuk tadlis yang sedikit itu kan. Makany secara metodis para ulama tetap menjadikan riwayat mudallis martabat pertama dan kedua sebagai hujjah.

Begitu pula kasus inqitha’ yang dituduhkan pada Adh Dhahhak, para ulama menegaskan kalau Adh Dhahhak mengambil tafsir Ibnu Abbas dari Said bin Jubair, ini adalah petunjuk yang menguatkan keshahihan, bukan sekedar bisa jadi. Satu lagi saya kasih contoh, banyak para perawi tsiqat bukan pentadlis meriwayatkan hadis dari perawi tsiqat lain yangs semasa tetapi inqitha’. nah dari mana tahunya inqitha’ lagi-lagi dari perkataan ulama jarh wat ta’dil. terkadang ulama itu sendiri tidak hidup semasa dengan perawi tersebut tetapi perkataannya diterima. sama halnya dengan kasus Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas, riwayatnya bisa diterima karena para ulama telah menetapkan bahwa Adh Dhahhak mengambil tafsir Ibnu Abbas dari Said bin Jubair. bukankah perkataan ulama itu dijadikan hujjah dalam perkara jarh wat ta’dil seperti ini.

************************

anti taqiyah ala syiah, on Maret 21, 2010 at 8:06 pmsaid:

SP: erkadang ulama itu sendiri tidak hidup semasa dengan perawi tersebut tetapi perkataannya diterima.

Lalu mengapa anda menolak penilaian Adz Dzahabi terhadap Ibnu Abi Darim, padahal Al Hafizh Ibnu Hajar pun telah menyetujui pernyataan Adz Dzahabi itu sehingga memasukkannya lagi tanpa membantah dalam Lisan Al Mizan??

Bukankah cukup jelas bahwa Adz Dzahabi menukil itu dari Al Hakim dan Ibnu Ahma Al Kufi? Anda malah mempertanyakan sanadnya, bukankah anda sendiri yg mengatakan kepada Abu Al Jauza bahwa tak semua jarh wa ta’dil dari ulama mu’tabar itu butuh sanad??

Tambahan lagi, Adz-Dzahabi mengindikasikan nukilannya dari Ibnu Hammad Al Kufi dari kitab, karena dia menyebutkan “setelah dia (Ibnu Hammad) menyebutkan tarikh wafatnya (Ibnu Abi Darim)….” dan bisa saja kitab itu tidak sampai kepada kita, betapa banyak kitab yg ada di tangan ulama seperti Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar yg tidak sampai kepada kita.

Lalu tak satupun ulama setelah Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar yg menentang pernyataan mereka yg menganggap Ibnu Abi Darim itu rafidhi ghairu tsiqah atau kadzdzab. Andai mereka anggap salah tentu mereka sudah menentangnya.

*************************

@anti taqiyah ala syiah

SP: erkadang ulama itu sendiri tidak hidup semasa dengan perawi tersebut tetapi perkataannya diterima.

lha iya toh, kalau hal begini mau pakai sanad bisa kacau balau ilmu hadis sekarang. tapi yang aneh itu kayaknya para ulama hadis itu berasa-rasa bangga bener sampai ada anekdot “sanad itu separuh dari agama” nyatanya biasa saja tuh, sebagai sebuah metode kaidah ilmu hadis gak “emas-emas amat” :)

Lalu mengapa anda menolak penilaian Adz Dzahabi terhadap Ibnu Abi Darim,

kan sudah disebutkan sebelumnya kalau Adz Dzahabi itu mengalami tanaqudh. Kalau memang ia mencela Ibnu Abi Darim ngapain ia menyatakan Ibnu Abi Darim Al Hafizh Al Imam Fadhl, kalau ia mencela hadis-hadisnya Ibnu Abi Darim maka ngapain ia menshahihkan hadis-hadis Ibnu Abi Darim. Saya tanya anda nih, mengapa anda gak ikut Adz Dzahabi menshahihkan hadis-hadis Ibnu Abi Darim?

padahal Al Hafizh Ibnu Hajar pun telah menyetujui pernyataan Adz Dzahabi itu sehingga memasukkannya lagi tanpa membantah dalam Lisan Al Mizan??

lha itu berarti Ibnu Hajar dalam perkara ini hanya taklid semata kepada Adz Dzahabi dan kebanyakan memang begitulah, lisan al mizan biasanya cuma pengulangan mizan al itidal plus kalau ada keterangan lain.

Bukankah cukup jelas bahwa Adz Dzahabi menukil itu dari Al Hakim dan Ibnu Ahma Al Kufi?

Sepertinya saya sudah bahas masalah penukilan Al Hakim. Al Hakim sendiri dalam Al Mustadrak telah berhujjah dengan hadis Ibnu Abi darim yang merupakan gurunya sendiri. Jika Al Hakim menganggap Ibnu Abi Darim tidak tsiqah mengapa Al Hakim selalu menshahihkan hadis-hadis gurunya itu?. Disini saja kalau kita berpegang dengan metode yang benar maka apa yang dinyatakan Al Hakim dalam Al Mustadrak jelas lebih bernilai dibanding penukilan Adz Dzahabi yang jelas-jelas bertentangan dengan pernyataan Al Hakim sendiri.

Anda malah mempertanyakan sanadnya, bukankah anda sendiri yg mengatakan kepada Abu Al Jauza bahwa tak semua jarh wa ta’dil dari ulama mu’tabar itu butuh sanad??

Karena dalam perkara ini memang dibutuhkan hal seperti itu, buktinya Adz Dzahabi sendiri masih menshahihkan hadis-hadis Ibnu Abi darim lha bukankah ini namanya “aneh”. kalau satu dua kali mah bisa saja dibilang waham tetapi tuh berkali-kali ia bilang shahih ni kan bukti kalau Adz Dzahabi sendiri tidak mempermasalahkan hadis Ibnu Abi darim. Seperti yang saya bilang Adz Dzahabi itu mengalami tanaqudh soal Ibnu Abi darim maka dari itu sangat perlu sekali untuk mencari bukti yang benar-benar kuat.

Tambahan lagi, Adz-Dzahabi mengindikasikan nukilannya dari Ibnu Hammad Al Kufi dari kitab, karena dia menyebutkan “setelah dia (Ibnu Hammad) menyebutkan tarikh wafatnya (Ibnu Abi Darim)….” dan bisa saja kitab itu tidak sampai kepada kita, betapa banyak kitab yg ada di tangan ulama seperti Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar yg tidak sampai kepada kita.

tidak ada masalah tuh, mau kitab atau orang tetap perlu dinilai kredibilitasnya, itu kalau mau mencari bukti yang kuat. Kalau mau asal taklid yo wes. Bagi saya pribadi, Al Hakim sebagai ulama yang belajar dan mengambil langsung hadis Ibnu Abi Darim tentu lebih mengenal Ibnu Abi Darim. Lucunya Ibnu Hammad itu kayaknya juga menyampaikan kata-kata penta’dilan kepada Ibnu Abi Darim :)

Lalu tak satupun ulama setelah Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar yg menentang pernyataan mereka yg menganggap Ibnu Abi Darim itu rafidhi ghairu tsiqah atau kadzdzab. Andai mereka anggap salah tentu mereka sudah menentangnya.

Ya tak satupun menentang karena mereka tidak memiliki bukti atau dasar untuk menentangnya. toh mereka juga tidak mengenal keterangan seperti itu di kitab lain atau sanad yang sampai kepada mereka. Intinya jarh terhadap Ibnu Abi darim itu dikarenakan tuduhan rafidhah dan ini kayaknya bukan jarh yang tsabit karena cukup banyak rafidhah yang dikenal jujur seperti Abbad bin yaqub. Seorang yang dikatakan rafidhah bisa saja ditolak pendapat atau penafsirannya tetapi diterima periwayatannya dalam hadis karena ia seorang yang shaduq atau tsiqat bukankah ini yang terjadi pada Abbad bin Yaqub. Kalau anda mau mempermasalahkan Ibnu Abi darim yang katanya mencela sahabat lalu bagaimana anda bersikap terhadap para nashibi yang membenci dan mencaci Imam Ali tetapi tetap dinyatakan tsiqat oleh para ulama?.Mengapa ulama2 itu tidak menuduh mereka kadzdzab karena telah mencela sahabat? silakan dijawab :)

________________

Dialog selanjutnya dan juga kalo mau nimbrung silahkan dirujuk DISINI

***********************

ARTIKEL TERKAIT

  1. Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait
  2. Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya
  3. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)
  4. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)
  5. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)
  6. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)
  7. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)
  8. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir)
  9. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kekhalifahan Sunni)
  10. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis 12 Khalifah)
  11. Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali

___________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN-KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: