Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW”

Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW”

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar

.

Imam Ali AS memiliki kemuliaan yang tinggi dalam Islam. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kedudukan Imam Ali AS di sisi Rasulullah SAW sama seperti kedudukan Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS. Seharusnya kita sebagai umat Islam menerima dengan baik keutamaan Imam Ali AS dan mengecam sikap-sikap yang menurunkan atau meragukan keutamaan Beliau. Berikut akan kami sajikan hadis keutamaan Imam Ali AS yang mungkin memicu keraguan dari sebagian orang.

Al Hafiz Ibnu Abi Ashim Asy Syaibani dalam Kitabnya As Sunnah hal 519 hadis no 1188 telah meriwayatkan sebagai berikut

ثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى بن حماد عن أبي عوانة عن يحيى ابن سليم أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنك لست نبيا إنه لا ينبغي أن أذهب إلا وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.

.

.

Kedudukan Hadis

Syaikh Al Albani dalam kitabnya Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah hal 520 hadis no 1188 memberikan penilaian bahwa hadis ini sanadnya hasan, dimana Beliau menyatakan bahwa semua perawinya tsiqat. Hadis ini telah diriwayatkan oleh para perawi Bukhari Muslim kecuali Abi Balj yang dinilai shaduq sehingga Syaikh Al Albani menyatakan hadis tersebut hasan. Setelah kami melakukan penelitian lebih lanjut maka kami temukan bahwa hadis ini adalah hadis Shahih dan Yahya bin Sulaim Abi Balj adalah perawi tsiqat. Berikut analisis terhadap para perawinya.

.

.

Analisis Perawi Hadis

Muhammad bin Al Mutsanna
Muhammad bin Al Mutsanna Abu Musa Al Bashri adalah seorang Hafiz yang tsiqat. Hadisnya telah dijadikan hujjah oleh Bukhari dan Muslim serta Ashabus Sunan. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Daruquthni, Al Khatib dan Ibnu Hajar. Dalam At Tahdzib juz 9 no 698 disebutkan

قال عبد الله بن أحمد عن بن معين ثقة وقال أبو سعد الهروي سألت الذهلي عنه فقال حجة وقال صالح بن محمد صدوق اللهجة

Abdullah bin Ahmad berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqah” dan Abu Sa’ad Al Harawi bertanya kepada Adz Dzahili yang berkata “hujjah” dan Shalih bin Muhammad berkata “shaduq hujjah”.

وقال أبو حاتم صالح الحديث صدوق

Abu Hatim berkata “ hadisnya baik, shaduq (jujur)”

Ibnu Syahin memasukkan Muhammad bin Al Mutsanna dalam kitabnya Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1278. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit dalam Taqrib At Tahdzib 2/129. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 5134 juga menyatakan Muhammad bin Al Mutsanna tsiqat.
.

.

Yahya bin Hamad
Yahya bin Hamad Al Bashri adalah seorang perawi tsiqat yang dijadikan hujjah oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud dalam Nasikh Wa Mansukh, Trimidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Disebutkan dalam At Tahdzib juz 11 no 338

قال بن سعد كان ثقة كثير الحديث وقال أبو حاتم ثقة وذكره بن حبان في الثقات

Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat dan memiliki banyak hadis”. Abu Hatim berkata “tsiqat” dan disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat.

Al Ajli dalam Ma’rifat Ats Tsiqat no 1971 menyatakan Yahya bin Hamad tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/300 menyatakan ia tsiqat. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 6158 juga menyatakannya tsiqat.
.

.

Abu Awanah

Abu Awanah atau Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri adalah perawi yang dijadikan hujjah oleh Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan, Ia telah meriwayatkan hadis dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dan telah meriwayatkan darinya Yahya bin Hamad. Abu Awanah telah dinyatakan tsiqah oleh Al Ajli, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim, Ibnu Ma’in dan yang lainnya. Al Ajli dalam Ma’rifat Ats Tsiqah no 1937 berkata

وضاح أبو عوانة بصرى ثقة مولى يزيد بن عطاء الواسطي

Wadhdhah Abu Awanah orang Bashrah yang tsiqat mawla Yazid bin Atha’ Al Wasithi

Ibnu Syahin memasukkan namanya dalam Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1508 dan berkata

قال يحيى بن معين أبو عوانة ثقة واسمه الوضاح

Yahya bin Ma’in berkata “Abu Awanah tsiqat namanya adalah Wadhdhah”

Dalam At Tahdzib juz 11 no 204 disebutkan bahwa Abu Hatim, Abu Zar’ah Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abdil Barr menyatakan Abu Awanah tsiqat, Ibnu Kharrasy menyatakan ia shaduq dan Yaqub bin Abi Syaibah menyatakan Abu Awanah seorang Hafiz yang tsabit dan shalih. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/283 menyatakan Abu Awanah tsiqat tsabit dan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 6049 juga menyatakan ia tsiqah.
.

.

Yahya bin Sulaim Abi Balj
Yahya bin Sulaim adalah perawi Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Beliau dikenal dengan kunniyah Abu Balj dan ada pula yang menyebutnya Yahya bin Abi Sulaim. Beliau telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Sa’ad dan Daruquthni. Dalam At Tahdzib juz 12 no 184 Ibnu Hajar menyebutkan

وقال بن معين وابن سعد والنسائي والدارقطني ثقة وقال البخاري فيه نظر وقال أبو حاتم صالح الحديث لا بأس به

Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Nasa’i dan Daruquthni menyatakan ia tsiqat. Bukhari berkata “perlu diteliti lagi” dan Abu Hatim berkata “hadisnya baik dan tidak ada masalah dengannya”.

Yaqub bin Sufyan Al Fasawi dalam Ma’rifat Wa Tarikh 3/106 menyebutkan tentang Abu Balj

قال يعقوب بن سفيان أبي بلج كوفي لا بأس به

Yaqub bin Sufyan berkata “Abi Balj Al Kufi tidak ada masalah dengannya”

Pernyataan Bukhari “fihi nazhar (perlu diteliti lagi)” terhadap Yahya bin Sulaim Abi Balj tidaklah benar. Kami telah menelusuri karya-karya Bukhari seperti Tarikh As Shaghir dan Tarikh Al Kabir ternyata tidak ada keterangan bahwa Bukhari menyatakan Abu Balj dengan sebutan “fihi nazhar”. Selain itu, Bukhari sendiri tidak memasukkan Abu Balj dalam kitabnya Adh Dhua’fa As Shaghir yang berarti Bukhari tidak menganggapnya cacat. Bukhari menyebutkan biografi Yahya bin Abi Sulaim Abu Balj dalam Tarikh Al Kabir juz 8 no 2996 dan beliau menyebutkan

يحيى بن أبي سليم قال إسحاق نا سويد بن عبد العزيز وهو كوفي ويقال واسطي أبو بلج الفزاري روى عنه الثوري وهشيم ويقال يحيى بن أبي الأسود وقال سهل بن حماد نا شعبة قال نا أبو بلج يحيى بن أبي سليم

Yahya bin Abi Sulaim, Ishaq berkata telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Abdul Aziz “dia orang Kufah dan dikatakan juga orang Wasith Abu Balj Al Fazari, telah meriwayatkan darinya Tsawri dan Hasym, ada yang mengatakan Yahya bin Abil Aswad”. Sahl bin Hamad berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Balj Yahya bin Abi Sulaim.

Dalam biografi Abu Balj yang disebutkan Bukhari tidak ada pernyataan Bukhari yang menyebutnya cacat apalagi dengan sebutan fihi nazhar bahkan dari keterangan Bukhari dapat diketahui bahwa Syu’bah telah meriwayatkan dari Yahya bin Abu Sulaim Abu Balj. Hal ini berarti Syu’bah menganggap Abu Balj sebagai tsiqah karena telah sangat dikenal bahwa Syu’bah tidak meriwayatkan kecuali dari para perawi tsiqah. Oleh karena itu tidak diragukan lagi kalau Abu Balj seorang yang tsiqat.
.

.

Amr bin Maimun
Amr bin Maimun Al Audi adalah seorang tabiin yang tsiqah termasuk Al Mukhadramun menemui masa jahiliyah tetapi tidak bertemu dengan Nabi SAW. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA. Al Ajli dalam Ma’rifat Ats Tsiqah no 1412 berkata

عمرو بن ميمون الأودي كوفي تابعي ثقة

Amr bin Maimun Al Audi Tabiin kufah yang tsiqat.

Ibnu Hajar menyebutkan dalam At Tahdzib juz 8 no 181 bahwa selain Al Ajli, Amr bin Maimun juga dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Nasa’i dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/747 mengatakan kalau Amr bin Maimun adalah mukhadramun yang dikenal tsiqat.
.

.

Kesimpulan
Hadis di atas telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat. Dimana semua perawinya adalah perawi Bukhari dan Muslim kecuali Yahya bin Sulaim Abi Balj dan dia adalah perawi yang tidak diragukan ketsiqahannya. Oleh karena itu hadis tersebut sanadnya Shahih.

.

.

Catatan :

  • Semoga Hadis  ini bisa didiskusikan dengan sebijak mungkin tanpa hujatan dan tuduhan :)
  • Kepada seseorang, silakan dibaca hadiah saya yang tertunda :mrgreen:

——————————————————————————————————————-

 BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

——————————————————————————————————————–

 

_____________________

BEBERAPA DIALOG PENULIS DENGAN PEMBACA

hadi, on Juli 5, 2009 at 4:50 pmsaid:

Salam

Mungkin hadis berikut bisa mencerahkan bagi mereka yang suka bersilat lidah setiap kali menemukan hadis yang menyudut pegangan mereka:

كتاب السلسة الصحيحة للألباني (5/222 ( صحيح )
[2223 – ” ما تريدون من علي ؟ إن عليا مني و أنا منه و هو ولي كل مؤمن بعدي ” . ]

Sabda Nabi saaw, ‘Apa yang kalian mahukan dari Ali? Dia adalah dariku dan aku darinya dan dia adalah wali bagi mukmin sesudahku’.
(al Albani menshahihkannya dlm kitab silsilat alahadith alsahihah jilid 5 hlm 222)

Salam Damai

********************

imem, on Juli 5, 2009 at 8:52 amsaid:

Sebagaimana yg masyhur telah kita ketahui, hadits Manzilah tidak terlepas dari peristiwa perang Tabuk, dimana pada perang ini Imam Ali oleh Rasulullah tidak diikutsertakan, karena beliau ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjadi pejabat interim, yaitu diserahi tanggung jawab menggantikan Rasulullah dalam memimpin Madinah yang terdiri dari orang tua, perempuan, anak-anak dan orang-orang yang mendapat uzur utk tdk ikut perang. Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau karena beliau tidak bisa ikut berjihad bersama sahabat2 Nabi yg lain, kemudian beliau menghadap kepada Rasulullah mengadukan hal ini.. sehingga keluarlah sabda Rasulullah kepada Imam Ali yg dikenal dg hadits Manzilah untuk menyenangkan Imam Ali.

Maka marilah kita coba pahami hadits tsb dg benar agar tidak salah paham..

KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.

Penyerupaan ini mengingatkan kita kepada kisah Nabi Musa ketika hendak pergi ke bukit Thursina untuk menerima perintah Allah, beliau serahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun, dan sekembalinya Nabi Musa dari gunung Thursina, kepemimpinan kembali kepada Nabi Musa, demikian juga halnya, begitu Nabi Muhammad kembali dari perang Tabuk, maka kepemimpinan pun kembali kepada Rasulullah.

Jadi jelas di sini terlihat bahwa kepemimpinan yg diserahkan kepada Imam Ali dalam hadits tersebut bersifat sementara di saat Rasulullah masih hidup (dan hal spt itu juga pernah terjadi pada sahabat2 yg lain selain Imam Ali), jadi yg dimaksud khalifah/wakil (jika tambahan ini benar) pada hadits di atas adalah bukan khalifah setelah Rasulullah meninggal tetapi hanya khalifah yg terbatas utk kota madinah dan bersifat sementara saja sampai Rasulullah kembali.

Sbgmana kita tahu, pengganti Nabi Musa setelah beliau wafat adalah Yusya’ (Joshua) bin Nun, bukan Nabi Harun. Jika hadits dia atas difahami sebagai khalifah pengganti Rasulullah setelah beliau wafat, maka seharusnya Imam Ali diserupakan kedudukannya dengan Yusya’ bin Nun bukan dengan Nabi Harun.

Sedangkan yang dimaksud kalimat Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu pada hadits di atas adalah Sesungguhnya tidak sepatutnya aku pergi (ke perang Tabuk), kecuali engkau sebagai penggantiku untuk setiap mukmin di Madinah setelah kepergianku..

Seorang pengganti hanya bisa menjadi pengganti ketika yang digantikan sedang tidak ada atau telah meninggal. Karena itu, setiap pengganti Nabi di kala beliau masih hidup, penggantiannya (khilafah) berakhir begitu Nabi kembali ke Madinah.

****************************

secondprince, on Juli 5, 2009 at 6:10 pm said:

@hadi
ho ho ah Mas ini kayak nggak tahu aja, dalih itu selalu bisa dicari-cari :)

@imem

Sebagaimana yg masyhur telah kita ketahui, hadits Manzilah tidak terlepas dari peristiwa perang Tabuk, dimana pada perang ini Imam Ali oleh Rasulullah tidak diikutsertakan, karena beliau ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjadi pejabat interim, yaitu diserahi tanggung jawab menggantikan Rasulullah dalam memimpin Madinah yang terdiri dari orang tua, perempuan, anak-anak dan orang-orang yang mendapat uzur utk tdk ikut perang.

Yang harus diclearkan terlebih dahulu adalah apakah anda menganggap hadis Manzilah sebuah keutamaan bagi Imam Ali atau tidak?.

Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau karena beliau tidak bisa ikut berjihad bersama sahabat2 Nabi yg lain, kemudian beliau menghadap kepada Rasulullah mengadukan hal ini.. sehingga keluarlah sabda Rasulullah kepada Imam Ali yg dikenal dg hadits Manzilah untuk menyenangkan Imam Ali.

pernyataan anda bahwa Imam Ali merasa tugas itu merendahkan Beliau adalah interpretasi anda sendiri. Saya pribadi mengartikan bahwa Imam Ali ingin bersama Rasul SAW dalam perang tersebut dan ingin melindungi Beliau oleh karenanya Beliau merasa sedih. Ada perbedaan nyata antara orang yang berhati-hati dalam menggunakan kata-kata dengan yang tidak.

Maka marilah kita coba pahami hadits tsb dg benar agar tidak salah paham..

mari kita lihat

Penyerupaan ini mengingatkan kita kepada kisah Nabi Musa ketika hendak pergi ke bukit Thursina untuk menerima perintah Allah, beliau serahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun, dan sekembalinya Nabi Musa dari gunung Thursina, kepemimpinan kembali kepada Nabi Musa, demikian juga halnya, begitu Nabi Muhammad kembali dari perang Tabuk, maka kepemimpinan pun kembali kepada Rasulullah.

silakan kalau mau mengartikan begitu, pertanyaannya adalah apa dasarnya bahwa penjelasan anda benar. Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?. Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.

Jadi jelas di sini terlihat bahwa kepemimpinan yg diserahkan kepada Imam Ali dalam hadits tersebut bersifat sementara di saat Rasulullah masih hidup

seperti biasa anda melihat banyak hal yang tidak dilihat orang lain karena kenyataannya memang tidak ada. Tidak ada indikasi dalam teks tersebut yang bersifat sementara. Apalagi teks yang saya kutip memiliki kata-kata yang jelas yaitu Khalifah bagi setiap mukmin dan kata-kata SetelahKu. Teks hadis ini jauh lebih terlihat jelas dibandingkan semua asumsi yang anda katakan.

(dan hal spt itu juga pernah terjadi pada sahabat2 yg lain selain Imam Ali),

Pertanyaan mudah untuk mengugurkan klaim anda adalah coba tunjukkan sahabat lain yang disebut Rasulullah SAW dengan kedudukan Harun di sisi Musa?. Silakan kalau bisa, kalau tidak maka tidak ada gunanya berasumsi. Dan coba perhatikan kata-kata anda sendiri kalau memang sahabat-sahabat yang lain banyak mengalami hal seperti itu mengapa para sahabat menganggap hadis Manzilah ini sebagai keutamaan Imam Ali yang begitu besar.

jadi yg dimaksud khalifah/wakil (jika tambahan ini benar) pada hadits di atas adalah bukan khalifah setelah Rasulullah meninggal tetapi hanya khalifah yg terbatas utk kota madinah dan bersifat sementara saja sampai Rasulullah kembali.

Itu kan asumsi anda dan teks hadisnya menolak semua asumsi anda. Khalifah itu untuk setiap mukmin, perhatikan teks arabnya yang bersifat umum. Kemudian kata-kata SetelahKu apakah bersifat sementara.

Sbgmana kita tahu, pengganti Nabi Musa setelah beliau wafat adalah Yusya’ (Joshua) bin Nun, bukan Nabi Harun.

Pertanyaan sederhana, anda tahu itu dari mana?, jangan-jangan dari sumber yang anda lecehkan sendiri. Silakan tunjukkan bukti pernyataan anda itu

Jika hadits dia atas difahami sebagai khalifah pengganti Rasulullah setelah beliau wafat, maka seharusnya Imam Ali diserupakan kedudukannya dengan Yusya’ bin Nun bukan dengan Nabi Harun.

Jangan terburu-buru, dasar argumen anda adalah informasi sepotong yang tidak valid pula oleh karena itu silakan tunjukkan dulu validitas informasi yang anda gunakan sebagai dasar argumen anda.

Sedangkan yang dimaksud kalimat Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu pada hadits di atas adalah Sesungguhnya tidak sepatutnya aku pergi (ke perang Tabuk), kecuali engkau sebagai penggantiku untuk setiap mukmin di Madinah setelah kepergianku..

Wah wah anda bukannya menjelaskan hadis tetapi malah merubah-rubah teks hadis :mrgreen:

Seorang pengganti hanya bisa menjadi pengganti ketika yang digantikan sedang tidak ada atau telah meninggal. Karena itu, setiap pengganti Nabi di kala beliau masih hidup, penggantiannya (khilafah) berakhir begitu Nabi kembali ke Madinah.

Pertanyaan lagi buat anda, apakah sebelum Rasulullah SAW mengucapkan hadis Manzilah di atas Rasulullah SAW sudah memutuskan Imam Ali akan tinggal atau belum?. Jika seperti yang anda katakan bahwa hadis tersebut diucapkan karena Imam Ali mengadu pada Rasulullah SAW maka seharusnya saya bisa berasumsi bahwa sebelum Hadis Manzilah tersebut diucapkan, Imam Ali sudah diputuskan Rasulullah SAW untuk tinggal dan ditunjuk sebagai pemimpin kota Madinah tetapi karena Imam Ali ingin sekali bersama Rasulullah SAW dan melindungi Beliau maka Imam Ali mengadukan kesedihannya kepada Rasulullah SAW.

***********************************

imem, on Juli 6, 2009 at 9:06 amsaid:

Yang harus diclearkan terlebih dahulu adalah apakah anda menganggap hadis Manzilah sebuah keutamaan bagi Imam Ali atau tidak?.

Iya jelas itu adalah salah satu keutamaan dan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul, tidak ada keraguan padanya..

pernyataan anda bahwa Imam Ali merasa tugas itu merendahkan Beliau adalah interpretasi anda sendiri. Saya pribadi mengartikan bahwa Imam Ali ingin bersama Rasul SAW dalam perang tersebut dan ingin melindungi Beliau oleh karenanya Beliau merasa sedih. Ada perbedaan nyata antara orang yang berhati-hati dalam menggunakan kata-kata dengan yang tidak.

Jgn salah paham dulu, Imam Ali itu tipe pejuang yg tidak bisa tinggal diam, beliau selalu mengikuti peperangan2 yg ada, shg dg tugas memimpin Madinah yg diberikan oleh Rasul padanya pada perang Tabuk adlh sangat membuat beliau merasa kurang berperan saat itu.. padahal sebenarnya tugas yg diemban beliau di Madinah adalah sangat berat, karena selama Rasulullah tidak ada, beliau hrs menjaga stabilitas politik & keamanan di Madinah, apalagi saat itu gerakan Kaum Munafiqin begitu mengkhawatirkan.

silakan kalau mau mengartikan begitu, pertanyaannya adalah apa dasarnya bahwa penjelasan anda benar. Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?.

Loh, saya yakin anda telah byk membaca riwayat2 mengenai hadits manzilah ini di kutubus sittah.. dan tidak ada perselisihan bahwa hadits manzilah ini diucapkan Rasulullah pada perang Tabuk ketika Imam Ali menghadap Rasulullah sambil menangis, karena beliau tidak diikutsertakan dalam perang dan ditugaskan untuk memimpin Madinah. itu sangat jelas sekali.. kecuali kalo anda memahami hadits di atas secara tekstual saja tanpa memperhatikan asbabul wurudnya, ya silahkan aja tidak ada paksaan..

Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.

Selagi lagi kalo anda memahami secara tekstual tanpa memperhatikan asbabul wurudnya ya silahkan saja… jelas sekali penyerupaan yang diucapkan Nabi tsb sangat berkaitan dengan tugas yg diberikan oleh beliau kepada Imam Ali untuk memimpin Madinah sebagaimana Nabi Musa menyerahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun di saat beliau bermunajat ke bukit Thursina.. ini pointnya.. jadi ini bukan hal yg umum tetapi hal yg khusus dan sangat berkaitan sekali dg peristiwa yg terjadi.. kalo misalnya ada lagi peristiwa yg mirip dg peristiwa ini di perang2 yg lain, ya hadits ini berlaku lagi, tetapi kan ternyata ga ada lagi toh..

Konteks haditsnya spt di atas, tetapi kalo anda melihatnya dari sisi hubungan antara Rasulullah dan Imam Ali spt hubungan antara Nabi Musa dan Harun secara umum ya boleh-boleh aja.

seperti biasa anda melihat banyak hal yang tidak dilihat orang lain karena kenyataannya memang tidak ada.

Kalo anda dan yang lain tidak bisa melihat sesuatu yg menurut saya sangat jelas, ya jangan salahkan saya, tanyakan apakah sebenarnya yang telah menutupi mata hati anda shg tdk bisa melihat sesuatu yg begitu jelas..

Tidak ada indikasi dalam teks tersebut yang bersifat sementara. Apalagi teks yang saya kutip memiliki kata-kata yang jelas yaitu Khalifah bagi setiap mukmin dan kata-kata SetelahKu. Teks hadis ini jauh lebih terlihat jelas dibandingkan semua asumsi yang anda katakan.

ya itu kalo anda memahami secara tekstual dan mengabaikan asbabul wurud dr hadits tsb.

Pertanyaan mudah untuk mengugurkan klaim anda adalah coba tunjukkan sahabat lain yang disebut Rasulullah SAW dengan kedudukan Harun di sisi Musa?. Silakan kalau bisa, kalau tidak maka tidak ada gunanya berasumsi.

Maksud saya adalah jabatan memimpin Madinah di saat Rasulullah tidak ada juga pernah dipercayakan kepada selain Imam Ali, dan mereka langsung menerimanya dan tidak bersedih hati..

penyerupaan2 spt di atas tidak hanya diberikan kepada Imam Ali saja tetapi jg kepada sahabat-sahabat yang lain, dan memang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun adalah hanya pernah diucapkan rasulullah kepada Imam Ali saja..

contoh :

“Akan kuceritakan kepadamu tentang dua orang yang sepadan dengan kamu. Engkau, wahai Abu Bakar, sama dengan Ibrahim ketika ia berkata: Barangsiapa mengikuti aku, ia termasuk golonganku. Barangsiapa durhaka kepadaku, sesungguhnya Tuhan maha pengampun dan maha Pengasih (QS, Ibrahim, 14:36). Engkau juga sama dengan Nabi Isa ketika ia berkata: “Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Mulia dan Maha Bijaksana”. (QS, al-Ma’idah, 5:118). Adapun engkau, wahai ‘Umar, sama seperti Nuh ketika ia berkata: “Ya Tuhanku janganlah Engkau biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir tinggal di atas bumi”. (QS, Nuh, 71:26). Engkau juga seperti Nabi Musa ketika ia berkata: “Ya Tuhan kami binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih”. (QS, Yunus, 10:88). (HR. Bukhari & Muslim)

Persamaan di atas sebatas konteks yang ditunjukkan oleh pernyataan di atas, yaitu sifat keras (asy-syiddah) dari lembut (al-layyin) kepada musuh-musuh Allah. Demikian pula, kesamaan kedudukan Ali dengan Harun adalah sebatas yang ditunjukkan oleh konteks perkataan itu, yaitu menjadi pengganti Nabi dikala beliau tidak ada, sebagaimana Musa mengangkat Harun sebagai penggantinya

Itu kan asumsi anda dan teks hadisnya menolak semua asumsi anda. Khalifah itu untuk setiap mukmin, perhatikan teks arabnya yang bersifat umum. Kemudian kata-kata SetelahKu apakah bersifat sementara.

Lha asbabul wurud hadits Manzilah memang spt itu mau apa lagi..

Sbgmana kita tahu, pengganti Nabi Musa setelah beliau wafat adalah Yusya’ (Joshua) bin Nun, bukan Nabi Harun.

Pertanyaan sederhana, anda tahu itu dari mana?, jangan-jangan dari sumber yang anda lecehkan sendiri. Silakan tunjukkan bukti pernyataan anda itu

Anda baca aja kitab2 tarikh baik dari kalangan Muslim maupun Ahli Kitab, yang jelas setelah Nabi Musa wafat, Yusya’ bin Nun lah yang menjadi pemimpin Bani Israel dan berhasil memasuki Palestina. dan tidak ada pakar sejarah yg menselisihi dalam hal ini, sedangkan Nabi Harun wafat ketika Nabi Musa masih hidup, jadi beliau tidak pernah menjadi khalifah setelah Nabi Musa.. maka jika kedudukan Imam Ali seperti Nabi Harun, berarti khalifah yg dimaksud dlm hadits di atas adalah khalifah sementara bukan khalifah setelah Rasulullah wafat.. jika anda tidak setuju silahkan tunjukkan siapa pemimpin Bani Israel setelah Nabi Musa wafat jika bukan Yusya’ bin Nun.. silahkan..

Jika seperti yang anda katakan bahwa hadis tersebut diucapkan karena Imam Ali mengadu pada Rasulullah SAW maka seharusnya saya bisa berasumsi bahwa sebelum Hadis Manzilah tersebut diucapkan, Imam Ali sudah diputuskan Rasulullah SAW untuk tinggal dan ditunjuk sebagai pemimpin kota Madinah tetapi karena Imam Ali ingin sekali bersama Rasulullah SAW dan melindungi Beliau maka Imam Ali mengadukan kesedihannya kepada Rasulullah SAW.

bisa-bisa aja kok, memang sebelum berangkat ke perang Tabuk Rasulullah sudah menunjuk Imam Ali untuk memimpin Madinah, setelah beliau kembali kemudian beliau memerintahkan Imam Ali ke Yaman..

Oooh jadi maksudnya hanya untuk menyenangkan saja, begitukah?. Pertanyaannya kata-kata yang diucapkan Rasul SAW untuk menyenangkan itu adalah kata-kata yang benar atau tidak menurut anda atau cuma untuk menghibur?.

dua2nya.. Penyerupaan Rasulullah sangat tepat dan penuh makna sekaligus berhasil menghibur Imam Ali. makanya Rasulullah dikenal memiliki jawami’ al kalim (ucapan ringkas, tapi padat maknanya).

Perumpamaan itu memang sangat tepat untuk menjelaskan Keutamaan Imam Ali yang begitu tinggi di sisi Rasulullah SAW sama seperti keutamaan Harun di sisi Musa. Dan tentu sama seperti umat Nabi Musa AS saat itu yang tidak bisa dibandingkan dengan Nabi Harun AS maka begitu pula Umat Nabi Muhammad SAW saat itu jelas tidak bisa dibandingkan dengan Imam Ali AS

Iya memang itu adalah salah satu keutamaan Imam Ali, memang benar, kecuali 3 khalifah sebelumnya, tidak ada umat Nabi Muhammad yg sebanding dengan Imam Ali dalam hal keutamaan..

Hadits2 semacam itu juga pernah disampaikan kepada sahabat yg lain, contoh kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah :”Sesungguhnya orang yang paling terpercaya bagiku, baik dalam persahabatan maupun dalam hartanya, adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih selain Tuhanku, pasti aku mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Akan tetapi cukuplah menjadi saudara seagama (Islam) dan berkasih sayang didalamnya. Janganlah ada pintu terbuka di dalam masjid selain pintu Abu Bakar.” (HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

**************************

secondprince, on Juli 6, 2009 at 8:53 pm said:

@imem

Iya jelas itu adalah salah satu keutamaan dan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul, tidak ada keraguan padanya..

Saya catat ini, hadis Manzilah adalah keutamaan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul SAW

Jgn salah paham dulu, Imam Ali itu tipe pejuang yg tidak bisa tinggal diam, beliau selalu mengikuti peperangan2 yg ada, shg dg tugas memimpin Madinah yg diberikan oleh Rasul padanya pada perang Tabuk adlh sangat membuat beliau merasa kurang berperan saat itu.. padahal sebenarnya tugas yg diemban beliau di Madinah adalah sangat berat, karena selama Rasulullah tidak ada, beliau hrs menjaga stabilitas politik & keamanan di Madinah, apalagi saat itu gerakan Kaum Munafiqin begitu mengkhawatirkan.

Saya tidak salah paham, saya menunjukkan ketidakhati-hatian anda dalam menggunakan kata-kata. Maafkan kalau saya katakan anda berbicara terlalu banyak sehingga lupa apa yang telah anda bicarakan. Sekarang anda mengatakan kalau tugas Imam Ali sangat berat karena harus menjaga stabilitas politik dan keamanan Madinah padahal sebelumnya anda mengatakan Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau. Itu kontradiksi anda yang harus anda jelaskan, kemudian pernyataan anda soal kaum munafik yang mengkhawatirkan adalah asumsi baru yang saya tidak tahu benar atau tidak

Loh, saya yakin anda telah byk membaca riwayat2 mengenai hadits manzilah ini di kutubus sittah.. dan tidak ada perselisihan bahwa hadits manzilah ini diucapkan Rasulullah pada perang Tabuk ketika Imam Ali menghadap Rasulullah sambil menangis, karena beliau tidak diikutsertakan dalam perang dan ditugaskan untuk memimpin Madinah. itu sangat jelas sekali..

Lho apakah anda tidak mengerti pertanyaan saya, saya tidak mengingkari Rasulullah SAW pernah mengucapkan hadis Manzilah saat perang Tabuk tetapi yang saya tanyakan adalah Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?.. Bunyi hadis yang diucapkan Rasulullah SAW di atas bersifat umum dan saya telah menjelaskan Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.

kecuali kalo anda memahami hadits di atas secara tekstual saja tanpa memperhatikan asbabul wurudnya, ya silahkan aja tidak ada paksaan..

Secara tekstual hadis tersebut berarti umum secara kontekstual peristiwa yang anda katakan asbabul wurud tidak menafikan keumumman hadis tersebut.

Selagi lagi kalo anda memahami secara tekstual tanpa memperhatikan asbabul wurudnya ya silahkan saja…

asbabul wurud yang anda maksud tidak bersifat mengkhususkan, silakan anda tampilkan apa yang anda sebut asbabul wurud dan akan kita lihat bahwa dari asbabul wurudnya tidak ditemukan pengkhususan bahwa hadis Manzilah hanya berlaku saat perang Tabuk saja.

jelas sekali penyerupaan yang diucapkan Nabi tsb sangat berkaitan dengan tugas yg diberikan oleh beliau kepada Imam Ali untuk memimpin Madinah sebagaimana Nabi Musa menyerahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun di saat beliau bermunajat ke bukit Thursina.. ini pointnya..

Anda perhatikan penjelasan saudara Nomad, dia menjelaskan maksud saya dengan baik yaitu pada poin bahwa kata-kata yang digunakan Nabi bersifat umum sehingga ia berlaku pada saat Perang Tabuk dan setelahnya atau tepat setelah hadis tersebut diucapkan hingga seterusnya.

jadi ini bukan hal yg umum tetapi hal yg khusus dan sangat berkaitan sekali dg peristiwa yg terjadi..

Pernahkah anda mendengar kaidah kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafaz.

kalo misalnya ada lagi peristiwa yg mirip dg peristiwa ini di perang2 yg lain, ya hadits ini berlaku lagi, tetapi kan ternyata ga ada lagi toh..

Maaf kalau tidak salah, sebelumnya anda mengatakan bahwa Hadis Manzilah terkait dengan peristiwa Imam Ali ditunjuk sebagai pemimpin Madinah. Kemudian anda juga mengatakan banyak sahabat lain yang ditunjuk Nabi sebagai pengganti di Madinah, maka tidak salah kalau saya bertanya pada peristiwa sahabat-sahabat lain itu kenapa tidak ada disebutkan hadis Manzilah.

Konteks haditsnya spt di atas, tetapi kalo anda melihatnya dari sisi hubungan antara Rasulullah dan Imam Ali spt hubungan antara Nabi Musa dan Harun secara umum ya boleh-boleh aja.

Rasulullah SAW yang mengucapkan hadis tersebut dengan makna yang umum sehingga beliau memberi satu batasan bahwa hubungan yang dimaksud tidak mencakup Kenabian. Anda jelas tidak memperhatikan lafaz hadis yang diucapkan

Kalo anda dan yang lain tidak bisa melihat sesuatu yg menurut saya sangat jelas, ya jangan salahkan saya, tanyakan apakah sebenarnya yang telah menutupi mata hati anda shg tdk bisa melihat sesuatu yg begitu jelas..

Apa sebenarnya yang menutupi mata hati anda sehingga tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas. Bukankah anda mengatakan bahwa hadis Manzilah sebagai keutamaan ketinggian kedudukan Imam Ali, tetapi anda menyatakan bahwa hadis manzilah hanya berlaku saat perang Tabuk saja terkait dengan Imam Ali yang ditunjuk sebagai pengganti Madinah dan anda juga mengatakan banyak sahabat lain yang seperti itu. Bukankah para sahabat menganggap hadis Manzilah sebagai keutamaan khusus Imam Ali. Saya tanya apakah sahabat yang lain juga menyandang keutamaan hadis Manzilah merujuk pada penafsiran anda bahwa hadis manzilah terkait dengan penggantian pemimpin di Madinah?

ya itu kalo anda memahami secara tekstual dan mengabaikan asbabul wurud dr hadits tsb.

Saya tidak mengabaikan asbabul wurudnya, saya berpegang pada teks hadisnya dan mendudukkan asbabul wurud sebagai bagian dari keumuman lafaz hadisnya. sedangkan anda tidak memperhatikan lafaz hadisnya dan maaf salah mendudukkan asbabul wurudnya?. Buktinya adalah hadis-hadis yang menyebutkan asbabul wurud seperti kata anda pada saat Perang Tabuk tidak menunjukkan adanya indikasi mengkhususkan, hadis asbabul wurud itu justru menunjukkan Nabi SAW mengucapkan lafaz hadis yang umum saat Perang Tabuk :)

Maksud saya adalah jabatan memimpin Madinah di saat Rasulullah tidak ada juga pernah dipercayakan kepada selain Imam Ali,

Dan bukankah anda sebelumnya mengatakan bahwa hadis Manzilah terkait dengan jabatan memimpin Madinah, kalau memang terkait ya wajar kan saya bertanya adakah sahabat lain (yang menurut anda pernah memimpin Madinah) juga mendapatkan hadis Manzilah?.

dan mereka langsung menerimanya dan tidak bersedih hati..

Apa maksud dari pernyataan anda ini? saya tidak berani menduga-duga, jadi kalau anda mau jelaskan kalau tidak ya sudah :)

penyerupaan2 spt di atas tidak hanya diberikan kepada Imam Ali saja tetapi jg kepada sahabat-sahabat yang lain, dan memang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun adalah hanya pernah diucapkan rasulullah kepada Imam Ali saja..

Anda bilang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun terkait dengan jabatan memimpin Madinah, dan anda bilang jabatan tersebut juga diberikan kepada sahabat2 lain. lalu kenapa sahabat2 lain tidak mendapat hadis Manzilah. Ini membuktikan bahwa jabatan memimpin Madinah bukanlah sebab bagi hadis Manzilah. Sebab bagi hadis Manzilah adalah keutamaan Imam Ali itu sendiri.

contoh :

“Akan kuceritakan kepadamu tentang dua orang yang sepadan dengan kamu. Engkau, wahai Abu Bakar, sama dengan Ibrahim ketika ia berkata: Barangsiapa mengikuti aku, ia termasuk golonganku. Barangsiapa durhaka kepadaku, sesungguhnya Tuhan maha pengampun dan maha Pengasih (QS, Ibrahim, 14:36). Engkau juga sama dengan Nabi Isa ketika ia berkata: “Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Mulia dan Maha Bijaksana”. (QS, al-Ma’idah, 5:118). Adapun engkau, wahai ‘Umar, sama seperti Nuh ketika ia berkata: “Ya Tuhanku janganlah Engkau biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir tinggal di atas bumi”. (QS, Nuh, 71:26). Engkau juga seperti Nabi Musa ketika ia berkata: “Ya Tuhan kami binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih”. (QS, Yunus, 10:88). (HR. Bukhari & Muslim)

Contoh yang anda bawa sangat tepat untuk menjelaskan asbabul wurud yang bersifat mengkhususkan atau tidak. Perhatikan lafal hadis yang diucapkan Rasulullah SAW yaitu Engkau, wahai Abu Bakar, sama dengan Ibrahim ketika ia berkata:. Lafal ini bersifat khusus artinya aspek kesamaan Abu Bakar dengan Ibrahim telah dijelaskan oleh Nabi SAW sendiri. begitu pula lafal Nabi SAW terhadap Umar Adapun engkau, wahai ‘Umar, sama seperti Nuh ketika ia berkata: lafal ini sudah jelas bersifat khusus dimana Nabi SAW telah menjelaskan letak kesamaan atau penyerupaannya.

Persamaan di atas sebatas konteks yang ditunjukkan oleh pernyataan di atas, yaitu sifat keras (asy-syiddah) dari lembut (al-layyin) kepada musuh-musuh Allah.

.
tentu saja konteks yang anda maksud sangat terkait dengan lafal hadisnya yang bersifat khusus. Berbeda dengan Hadis Manzilah, Rasulullah SAW menyebutkan lafal yang umum sehingga itu mencakup keseluruhan kecuali yang Rasulullah SAW batasi yaitu Kenabian. Semoga anda bisa memahami penjelasan saya :)

Demikian pula, kesamaan kedudukan Ali dengan Harun adalah sebatas yang ditunjukkan oleh konteks perkataan itu, yaitu menjadi pengganti Nabi dikala beliau tidak ada, sebagaimana Musa mengangkat Harun sebagai penggantinya

Penjelasan ini adalah asumsi anda, karena Rasulullah SAW tidak mengucapkan atau mengindikasikan suatu lafal/ucapan yang bersifat mengkhususkan kalau hadis manzilah terbatas saat Perang Tabuk saja

Lha asbabul wurud hadits Manzilah memang spt itu mau apa lagi..

Seperti itu bagaimana, silakan anda pahami dulu yang benar penjelasan saya :mrgreen:

Anda baca aja kitab2 tarikh baik dari kalangan Muslim maupun Ahli Kitab, yang jelas setelah Nabi Musa wafat, Yusya’ bin Nun lah yang menjadi pemimpin Bani Israel dan berhasil memasuki Palestina. dan tidak ada pakar sejarah yg menselisihi dalam hal ini,

Maaf kan yang mengeluarkan informasi ini adalah anda bahkan anda menjadikannya sebagai hujjah anda, sangat wajar jika saya meminta anda membuktikan validitas informasi yang anda pakai sebagai berhujjah. Lucu sekali, anda yang berhujjah kok saya yang harus buktikan dasar hujjah anda. Anda menyebutkan kitab Tarikh dari kalangan Muslim dan Ahli Kitab, jadi tugas anda untuk menyebutkan secara lengkap sumber informasi anda?. kemudian apakah anda mengakui semua yang ada dalam kitab tarikh adalah benar?. Bukankah saya pernah mengatakan jangan2 sumber yang anda gunakan adalah sumber yang justru anda lecehkan, maafkan kalau dugaan saya salah dan silakan membuktikannya

sedangkan Nabi Harun wafat ketika Nabi Musa masih hidup, jadi beliau tidak pernah menjadi khalifah setelah Nabi Musa.. maka jika kedudukan Imam Ali seperti Nabi Harun, berarti khalifah yg dimaksud dlm hadits di atas adalah khalifah sementara bukan khalifah setelah Rasulullah wafat..

Lho bukankah itu malah memberatkan hujjah anda, kalau memang yang menyebabkan Nabi Harun tidak menjadi khalifah adalah karena Beliau AS wafat ketika nabi Musa AS masih hidup maka seandainya Nabi Harun AS masih hidup ketika Nabi Musa AS wafat beliaulah yang akan menggantikan Nabi Musa. Intinya penyerupaan yang dimaksud dalam hadis Manzilah adalah kedudukan Harun di sisi Musa, jika Nabi Musa wafat ketika Nabi Harun masih ada maka Beliaulah yang akan menggantikannya. Nah bagaimana?

jika anda tidak setuju silahkan tunjukkan siapa pemimpin Bani Israel setelah Nabi Musa wafat jika bukan Yusya’ bin Nun.. silahkan..

Lho sekali lagi andalah yang berhujjah dengan itu bukan saya, sebelum saya menyatakan setuju atau tidak setuju maka saya harus yakin dulu apakah anda sedang berbohong atau tidak, apakah anda keliru atau tidak yaitu dengan cara terlebih dahulu tunjukkan referensi lengkap yang bisa saya rujuk. Kalau anda tidak bisa, maka lebih baik tidak usah anda gunakan sebagai hujjah :)

bisa-bisa aja kok, memang sebelum berangkat ke perang Tabuk Rasulullah sudah menunjuk Imam Ali untuk memimpin Madinah, setelah beliau kembali kemudian beliau memerintahkan Imam Ali ke Yaman..

Ah anda tidak memahami penjelasan saya, yang saya maksud sebelum Rasulullah SAW mengucapkan hadis Manzilah, Imam Ali sudah ditunjuk sebagai pemimpin Madinah, nah anda setuju tidak?

dua2nya.. Penyerupaan Rasulullah sangat tepat dan penuh makna sekaligus berhasil menghibur Imam Ali. makanya Rasulullah dikenal memiliki jawami’ al kalim (ucapan ringkas, tapi padat maknanya).

Penyerupaan Rasulullah SAW memang penuh makna hanya orang-orang tertentu saja yang saya tidak tahu terpengaruh apa, kok berani-beraninya membatasi makna yang disampaikan Rasulullah SAW :)

Iya memang itu adalah salah satu keutamaan Imam Ali, memang benar, kecuali 3 khalifah sebelumnya, tidak ada umat Nabi Muhammad yg sebanding dengan Imam Ali dalam hal keutamaan..

Hadis Manzilah justru menunjukkan keutamaan Imam Ali di atas semua sahabat yang lain termasuk 3 khalifah, bukankah kedudukan Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi Musa AS maka begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi SAW. Ditambah lagi anda perhatikan lafal hadis yang saya kutip di atas bagi setiap mukmin, saya rasa 3 khalifah juga orang mukmin kan :)

Hadits2 semacam itu juga pernah disampaikan kepada sahabat yg lain, contoh kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah :”Sesungguhnya orang yang paling terpercaya bagiku, baik dalam persahabatan maupun dalam hartanya, adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih selain Tuhanku, pasti aku mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Akan tetapi cukuplah menjadi saudara seagama (Islam) dan berkasih sayang didalamnya. Janganlah ada pintu terbuka di dalam masjid selain pintu Abu Bakar.” (HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Lho bukankah ada juga hadis bahwa yang paling terpercaya itu adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, kok saya jadi bingung :roll: tapi kita tak perlu melebar, cukup bahas hadis manzilah dulu :)

*******************************

imem, on Juli 7, 2009 at 8:56 amsaid:

Saya catat ini, hadis Manzilah adalah keutamaan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul SAW

Silahkan dicatat, karena bagi saya Imam Ali adalah termasuk dalam 4 besar manusia yang paling utama setelah Nabi Muhammad Shalalallahu alaihi wassalam..

Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau

Sudah saya terangkan maksud saya dengan :

membuat beliau merasa kurang berperan saat itu

Lho apakah anda tidak mengerti pertanyaan saya, saya tidak mengingkari Rasulullah SAW pernah mengucapkan hadis Manzilah saat perang Tabuk tetapi yang saya tanyakan adalah Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?..

Para ahli hadits telah sepakat bahwa hadits manzilah itu tidak pernah diucapkan oleh Nabi kecuali sekali saja. Beliau tidak pernah mengulanginya, sebelum ataupun sesudahnya. Nabi hanya mengatakannya sekali saja, yaitu pada perang Tabuk. Dalam kutubussittah, sebagian besar menerangkan sebab lahirnya hadits itu, yaitu pengaduan ‘Ali dan tangisannya ketika ia ditunjuk sebagai pengganti Nabi di Madinah untuk mengurus kaum wanita dan anak-anak serta orang-orang yang mendapat izin absen dalam perang Tabuk.

Riwayat hadits itu terdapat dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Tirmidzi, Ibn Majah, Thabaqat ibn Sa’ad, Musnad Imam Ahmad, dan Musnad Abi Daud ath-Thayalisi. Semua riwayat tersebut bersepakat, seperti dikemukakan tadi, bahwa hadits tersebut tidak pernah disampaikan Nabi pada kesempatan lain, kecuali pada perang Tabuk itu. Dan sebab lahirnya hadits itu juga ada di sekitar perang itu.

Maka cukuplah itu menjadi dasar yang kuat dalam memahami hadits manzilah. Jika pun ada riwayat2 yg lain yg seolah-olah menselisihinya, tidaklah cukup kuat untuk mengalahkan kesepakatan di atas.

Bunyi hadis yang diucapkan Rasulullah SAW di atas bersifat umum dan saya telah menjelaskan Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.

Justru dengan kalimat pengecualian dari Rasulullah, bahwa Imam Ali bukan Nabi, menunjukkan unsur kesamaan antara Ali dan Harun terletak pada masalah penggantian. Zhahir hadits ini menetapkan bahwa Ali adalah pengganti Nabi selama beliau berada di Tabuk, sebagaimana Harun menjadi pengganti Musa bagi kaumnya selama Musa pergi meninggalkan mereka untuk bermunajat kepada Tuhannya. Inilah yang dimaksud perkataan Musa kepada saudaranya, Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku”. (QS, al-A’raf, 7:142). Dalam pernyataan ini tidak ada keumuman sama sekali.

Secara tekstual hadis tersebut berarti umum secara kontekstual peristiwa yang anda katakan asbabul wurud tidak menafikan keumumman hadis tersebut.

Sudah berulangkali saya jelaskan..

asbabul wurud yang anda maksud tidak bersifat mengkhususkan, silakan anda tampilkan apa yang anda sebut asbabul wurud dan akan kita lihat bahwa dari asbabul wurudnya tidak ditemukan pengkhususan bahwa hadis Manzilah hanya berlaku saat perang Tabuk saja.

Sekali lagi sudah saya jelaskan.

Anda perhatikan penjelasan saudara Nomad, dia menjelaskan maksud saya dengan baik yaitu pada poin bahwa kata-kata yang digunakan Nabi bersifat umum sehingga ia berlaku pada saat Perang Tabuk dan setelahnya atau tepat setelah hadis tersebut diucapkan hingga seterusnya.

Silahkan jika anda berpendapat demikian, tetapi maaf saya tidak sependapat, saya tetap berpendapat bahwa kalimat Rasulullah kepada Imam Ali “kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harum di sisi Musa” sangat terkait dengan tugas yang diberikan Rasul..

Sebagaimana Musa memberi tugas kepada Harun dan begitu Musa kembali dari bukit Thursina, maka tugas Harun memimpin nabi Israel pun berakhir, demikian juga begitu Rasul kembali ke Madinah, maka penyerupaan itu pun berakhir. Tetapi bukan berarti bahwa saya tidak mengakui penyerupaan tsb merupakan keutamaan Imam Ali bahkan saya mengakui perumpamaan tsb merupakan keistimewaan yg dimiliki Imam Ali yg menunjukkan begitu dekatnya hubungan beliau dengan Rasulullah.

Pernahkah anda mendengar kaidah kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafaz.

Tetapi kayaknya kaidah tsb tidak cocok diterapkan untuk kasus ini.

Maaf kalau tidak salah, sebelumnya anda mengatakan bahwa Hadis Manzilah terkait dengan peristiwa Imam Ali ditunjuk sebagai pemimpin Madinah. Kemudian anda juga mengatakan banyak sahabat lain yang ditunjuk Nabi sebagai pengganti di Madinah, maka tidak salah kalau saya bertanya pada peristiwa sahabat-sahabat lain itu kenapa tidak ada disebutkan hadis Manzilah.

“Rasulullah keluar menuju perang Tabuk, dan beliau mewakilkan Ali (untuk tinggal di kota Madinah), maka Ali pun berkata, “Apakah
engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak?”
Rasulullah bersabda,
“Apakah engkau tidak rela apabila kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, namun tidak ada nabi setelahku.” (HR. Bukhari)

Yang dicetak tebal itu adalah jawabannya. sedangkan sahabat yang lain tidak menanyakan seperti itu ketika mereka ditunjuk oleh Rasulullah. Tetapi karena pengaduan itulah Rasulullah menunjukkan kasih sayang beliau dan itu adalah merupakan keutamaan Imam Ali. wallahu A’lam.

Saya tanya apakah sahabat yang lain juga menyandang keutamaan hadis Manzilah merujuk pada penafsiran anda bahwa hadis manzilah terkait dengan penggantian pemimpin di Madinah?

Masing-masing sahabat punya keutamaan sendiri-sendiri..

Anda bilang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun terkait dengan jabatan memimpin Madinah, dan anda bilang jabatan tersebut juga diberikan kepada sahabat2 lain. lalu kenapa sahabat2 lain tidak mendapat hadis Manzilah. Ini membuktikan bahwa jabatan memimpin Madinah bukanlah sebab bagi hadis Manzilah. Sebab bagi hadis Manzilah adalah keutamaan Imam Ali itu sendiri.

Saya sudah jawab di atas.

Penjelasan ini adalah asumsi anda, karena Rasulullah SAW tidak mengucapkan atau mengindikasikan suatu lafal/ucapan yang bersifat mengkhususkan kalau hadis manzilah terbatas saat Perang Tabuk saja

Saya hanya berdasarkan asbabul wurud dan saya telah jelaskan, dan menurut saya itulah yg benar, kalo tidak sependapat ya ga pa2.

Maaf kan yang mengeluarkan informasi ini adalah anda bahkan anda menjadikannya sebagai hujjah anda, sangat wajar jika saya meminta anda membuktikan validitas informasi yang anda pakai sebagai berhujjah.

Al Qurtubi di dalam tafsirnya membantah keyakinan syi’ah dalam memahami hadits manzilah :

“Maka tidak ada ikhtilaf bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak memaksudkan kedudukan Harun bagi Musa itu sebagai khalifah setelahnya. Tidak ada perselisihan bahwa Harun meninggal sebelum Musa ‘Alaihi Sallam dan tidak menjadi khalifah setelah Musa. Justru yang menjadi khalifah setelah Musa adalah Yusya’ Bin Nun. Kalau yang dimaksud dengan ucapan :” Engkau bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa.” Adalah khilafah, maka pasti beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan mengatakan :” Engkau bagiku seperti Yusya’ bagi Musa.” Maka ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mengatakan demikian maka hal ini menjadi dalil bahwa maksud beliau tidaklah demikian. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanyalah memaksudkan bahwa aku menjadikanmu sebagai penggantiku terhadap keluargaku dalam kehidupanku sebagaimana Harun menjadi pengganti (khalifah) bagi Musa atas kaumnya ketika Musa ‘Alaihi Sallam keluar (pergi) untuk menujat kepada Allah.” (Tafsir Al Qurthubi 1/268)

Lho bukankah itu malah memberatkan hujjah anda, kalau memang yang menyebabkan Nabi Harun tidak menjadi khalifah adalah karena Beliau AS wafat ketika nabi Musa AS masih hidup maka seandainya Nabi Harun AS masih hidup ketika Nabi Musa AS wafat beliaulah yang akan menggantikan Nabi Musa. Intinya penyerupaan yang dimaksud dalam hadis Manzilah adalah kedudukan Harun di sisi Musa, jika Nabi Musa wafat ketika Nabi Harun masih ada maka Beliaulah yang akan menggantikannya. Nah bagaimana?

Anda mulai berasumsi dech.. jelas Rasulullah hidup jauh setelah Nabi Musa dan Harun, dan semuanya telah terjadi, jadi ga bisa diterima pengandaian anda yg seperti itu..

Ah anda tidak memahami penjelasan saya, yang saya maksud sebelum Rasulullah SAW mengucapkan hadis Manzilah, Imam Ali sudah ditunjuk sebagai pemimpin Madinah, nah anda setuju tidak?

Saya setuju, dan setelah Rasulullah kembali ke Madinah, kepemimpinan Imam Ali pun berakhir.

Penyerupaan Rasulullah SAW memang penuh makna hanya orang-orang tertentu saja yang saya tidak tahu terpengaruh apa, kok berani-beraninya membatasi makna yang disampaikan Rasulullah SAW

Justru yg saya tidak ngerti dan terpengaruh apa, kok ada orang yg suka melebih-lebihkan sesuatu yang disampaikan Rasulullah melebihi dari yg seharusnya.

Hadis Manzilah justru menunjukkan keutamaan Imam Ali di atas semua sahabat yang lain termasuk 3 khalifah, bukankah kedudukan Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi Musa AS maka begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi SAW. Ditambah lagi anda perhatikan lafal hadis yang saya kutip di atas bagi setiap mukmin, saya rasa 3 khalifah juga orang mukmin kan

Oh kalo yg itu biar Imam Ali sendiri yg menjawab :

Hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri yang diriwayatkan secara mustafidlah dari Muhammad Ibnil Hanafiyah:

قُلْتُ ِلأَبِي: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهَ ?؟ قَالَ: أَبُو بَكْرٍ. قَلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: عُمَرُ. وَخَشِيْتُ أَنْ يَقُوْلَ عُثْمَانُ. قُلْتُ: ثُمَّ أَنْْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلاَّ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. رواه البخاري: كتاب فضائل الصحابة باب 4 وفتح البارى 7/20

Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu): Siapakah manusia yang terbaik setelah Rasulullah ? ? Ia menjawab: “Abu Bakar”. Aku bertanya (lagi): “Kemudian siapa?”. Ia menjawab: “Umar”. Dan aku khwatir ia akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau menjawab: “Tidaklah aku kecuali seorang dari kalangan muslimin”. (HR. Bukhari, kitab Fadlailus Shahabah, bab 4 dan Fathul Bari juz 4/20)

Lho bukankah ada juga hadis bahwa yang paling terpercaya itu adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, kok saya jadi bingung tapi kita tak perlu melebar, cukup bahas hadis manzilah dulu

Tak perlu bingung, Abu Ubaidah adalah kepercayaan Umat, sedangkan Abu Bakar adalah orang kepercayaan (istilah sekarang “tangan kanan”) Rasulullah. Lagian poin yg saya maksud dlm hadits tsb adlh Rasulullah mengambil Abu Bakar sebagai kekasihnya.

************************

secondprince, on Juli 7, 2009 at 9:39 pmsaid:

@imem

Sudah saya terangkan maksud saya dengan :

membuat beliau merasa kurang berperan saat itu

Ooh kalau begitu anda memahami bahwa tugas Imam Ali kurang berperan padahal sebenarnya tugas yg diemban beliau di Madinah adalah sangat berat, karena selama Rasulullah tidak ada, beliau hrs menjaga stabilitas politik & keamanan di Madinah, apalagi saat itu gerakan Kaum Munafiqin begitu mengkhawatirkan. Ehem itu kata-kata siapa ya :mrgreen:

Para ahli hadits telah sepakat bahwa hadits manzilah itu tidak pernah diucapkan oleh Nabi kecuali sekali saja. Beliau tidak pernah mengulanginya, sebelum ataupun sesudahnya. Nabi hanya mengatakannya sekali saja, yaitu pada perang Tabuk.

Bukannya saudara hadi telah menunjukkan kepada anda riwayat bahwa hadis manzilah selain pada peristiwa perang tabuk dimuat oleh sebagian ulama, baik anda dan Mas Hadi telah membawa hujjah masing-masing, bedanya Mas Hadi menyebutkan hadisnya dengan jelas dan anda tidak menyebutkan nama ulama-ulama yang sepakat itu dengan jelas.

Dalam kutubussittah, sebagian besar menerangkan sebab lahirnya hadits itu, yaitu pengaduan ‘Ali dan tangisannya ketika ia ditunjuk sebagai pengganti Nabi di Madinah untuk mengurus kaum wanita dan anak-anak serta orang-orang yang mendapat izin absen dalam perang Tabuk.

Disini letak perbedaan anda dan saya. Saya memandang bahwa hadis tersebut dikeluarkan oleh Nabi SAW ketika Imam Ali bertanya kepada Nabi. Di sini Nabi SAW menunjukkan bahwa keutamaan Imam Ali begitu tinggi di sisi Nabi layaknya keutamaan Harun di sisi Musa tetapi Nabi SAW memberi batasan bahwa keutamaan itu tidak mencakup Kenabian.

Riwayat hadits itu terdapat dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Tirmidzi, Ibn Majah, Thabaqat ibn Sa’ad, Musnad Imam Ahmad, dan Musnad Abi Daud ath-Thayalisi. Semua riwayat tersebut bersepakat, seperti dikemukakan tadi, bahwa hadits tersebut tidak pernah disampaikan Nabi pada kesempatan lain, kecuali pada perang Tabuk itu. Dan sebab lahirnya hadits itu juga ada di sekitar perang itu.

Anda salah menarik kesimpulan, semua kitab hadis yang anda sebutkan bersepakat bahwa hadis Manzilah pernah diucapkan Nabi SAW saat perang Tabuk. Sedangkan kesimpulan bahwa hadis tersebut tidak pernah disampaikan pada kesempatan lain harus melihat hadis-hadis di kitab lain. Dan salah satunya sudah disebutkan oleh saudara Hadi. Poin saya disini saya tidak menolak bahwa semua kitab hadis yang anda sebutkan memuat hadis Manzilah saat Perang Tabuk.

Maka cukuplah itu menjadi dasar yang kuat dalam memahami hadits manzilah. Jika pun ada riwayat2 yg lain yg seolah-olah menselisihinya, tidaklah cukup kuat untuk mengalahkan kesepakatan di atas.

Dari dasar yang keliru maka anda menarik kesimpulan yang keliru pula. Hadis Manzilah di kitab-kitab hadis yang anda sebutkan tidak sedikitpun memuat pernyataan bahwa hadis tersebut terkhusus saat Perang Tabuk saja. Sehingga hadis-hadis tersebut tidak bisa anda jadikan dasar untuk menolak jika ada hadis lain yang menyebutkan hadis Manzilah di tempat yang lain. Seandainya ada Hadis Manzilah di tempat yang lain maka dengan merujuk adanya hadis Manzilah saat perang Tabuk, kesimpulan yang benar adalah hadis Manzilah diucapkan saat Perang Tabuk dan di tempat yang lain.

Justru dengan kalimat pengecualian dari Rasulullah, bahwa Imam Ali bukan Nabi, menunjukkan unsur kesamaan antara Ali dan Harun terletak pada masalah penggantian.

Mari kita analisa dengan baik logika anda. Anda mengatakan pengecualian Imam Ali bukan Nabi menunjukkan unsur kesamaan antara Ali dan Harun terletak pada masalah penggantian.Kata-kata Nabi SAW adalah kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahKu..
Ada dua premis disini
1. Premis pertama kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa. Premis ini menurut saya umum, sedangkan menurut anda khusus
2. Premis kedua hanya saja tidak ada Nabi setelahku, premis ini bersifat khusus.
Premis khusus diucapkan untuk membuat pengecualian premis umum sebelumnya, tidak ada suatu kaidah bahwa premis khusus membuat pengecualian premis yang khusus pula. sehingga pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi adalah untuk membatasi semua keutamaan yang dimiliki Harun di sisi Musa. Jika premis kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa bersifat khusus maka tidak perlu memberi batasan, kalau premis kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa seperti kata anda terbatas pada perang Tabuk saja maka tidak perlu memberi batasan dengan kata-kata hanya saja tidak ada Nabi setelahku.

Zhahir hadits ini menetapkan bahwa Ali adalah pengganti Nabi selama beliau berada di Tabuk

Disinilah anda keliru, karena sebelum hadis Manzilah tersebut diucapkan Nabi SAW telah menetapkan Imam Ali sebagai pengganti Nabi di Madinah, hal yang bahkan saya lihat sudah anda setujui. Ditambah lagi tidak ada kata-kata secara zahir yang menyebutkan bahwa Imam Ali sebagai pengganti di Madinah pada saat perang Tabuk saja.

sebagaimana Harun menjadi pengganti Musa bagi kaumnya selama Musa pergi meninggalkan mereka untuk bermunajat kepada Tuhannya. Inilah yang dimaksud perkataan Musa kepada saudaranya, Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku”. (QS, al-A’raf, 7:142). Dalam pernyataan ini tidak ada keumuman sama sekali.

Kedudukan Harun dalam memimpin umat Nabi Musa adalah bagian dari keumuman kedudukan Harun disisi Musa. Hal itu yang harus anda pahami, dan jika anda mau mengetahui bagaimana kedudukan Harun disisi Musa, maka anda harus melihat banyak ayat lain. misalnya pada surah Thaha ayat 29-32 Nabi Musa AS berdoa kepda Allah SWT Jadikan untukku wazir (pembantu) dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku, teguhkan dengan dia kekuatanku, dan jadikan dia sekutu dalam urusanku.. Sehingga dengan ayat ini dan ayat yang anda kutip maka kedudukan Harun di sisi Musa adalah seorang Wazir, saudara dan menjadi sekutu dalam urusannya termasuk ketika Nabi Musa akan pergi maka Nabi Harun AS yang akan memegang kepemimpinan.

Sudah berulangkali saya jelaskan..

dari awal juga saya tahu penjelasan anda, saya menunjukkan bahwa asbabul wurud hadis Manzilah tidak mengkhususkan lafal hadisnya sehingga dalam hal ini kaidah kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafal jelas sangat berlaku :)

Silahkan jika anda berpendapat demikian, tetapi maaf saya tidak sependapat, saya tetap berpendapat bahwa kalimat Rasulullah kepada Imam Ali “kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harum di sisi Musa” sangat terkait dengan tugas yang diberikan Rasul..

Silakan tidak ada paksaan disini, saya cuma menunjukkan penjelasan saya yang bersandar pada teks hadisnya dan penjelasan anda yang menambahkan asumsi anda sendiri. tidak ada masalah jika mau berpegang teguh pada keyakinan masing-masing.

Sebagaimana Musa memberi tugas kepada Harun dan begitu Musa kembali dari bukit Thursina, maka tugas Harun memimpin nabi Israel pun berakhir, demikian juga begitu Rasul kembali ke Madinah, maka penyerupaan itu pun berakhir.

Bahkan ketika Musa kembali dari bukit Thursina kedudukan Harun di sisi Musa tetaplah ada yaitu ia sebagai wazir, saudara, sekutu urusan Nabi Musa dan jika Musa pergi kembali maka Harun akan menggantikannya lagi. Maka begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi Muhammad SAW.

Tetapi bukan berarti bahwa saya tidak mengakui penyerupaan tsb merupakan keutamaan Imam Ali bahkan saya mengakui perumpamaan tsb merupakan keistimewaan yg dimiliki Imam Ali yg menunjukkan begitu dekatnya hubungan beliau dengan Rasulullah.

Hubungan Beliau Imam Ali dengan Rasulullah SAW memang begitu dekat sehingga Rasulullah SAW berkata “tidak sepatutnya aku pergi kecuali engkau sebagai KhalifahKu bagi setiap mukmin setelahKu.

Tetapi kayaknya kaidah tsb tidak cocok diterapkan untuk kasus ini.

Sayangnya anda tidak memiliki alasan atau bukti dari klaim anda ini, sehingga saya dengan mudah bisa saja berkata sebaliknya, kayaknya anda keliru

“Rasulullah keluar menuju perang Tabuk, dan beliau mewakilkan Ali (untuk tinggal di kota Madinah), maka Ali pun berkata, “Apakah
engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak?” Rasulullah bersabda,
“Apakah engkau tidak rela apabila kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, namun tidak ada nabi setelahku.”

Saya rasa inilah asbabul wurud yang menjadi hujjah anda, sekarang perhatikanlah baik-baik Rasulullah SAW telah menunjuk Imam Ali sebagai pengganti di Madinah, maka Imam Ali berkata kepada Rasulullah Apakah engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak? di sini Rasulullah SAW menjawab yang menurut anda untuk menenangkan Imam Ali yaitu dengan mengatakan bahwa Kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW begitu besar yaitu kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, namun tidak ada nabi setelahku. Disini Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kepemimpinan di Madinah adalah bagian dari Kedudukan Imam Ali yang begitu tinggi yaitu seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Seandainya kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud hanya terbatas pada pemimpin di Madinah maka apa bedanya sebelum hadis Manzilah diucapkan dan setelah hadis Manzilah diucapkan.
Sebelum hadis Manzilah diucapkan, Imam Ali sudah ditunjuk sebagai pemimpin di Madinah.
Setelah hadis Manzilah diucapkan, anda mengatakan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud adalah sebagai pemimpin di Madinah.
Jadi tidak ada bedanya, dan saya jadi bingung apa makna keutamaan Imam Ali yang anda maksud. Apalagi anda mengatakan banyak sahabat lain yang memimpin Madinah, jadi tambah bingung saya makna keutamaan yang anda maksud
Lain halnya dengan memperhatikan bahwa sebenarnya kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum artinya mencakup semuanya seperti wazir, saudara dan sekutu dalam urusan termasuk kepemimpinan setiap Rasul SAW akan pergi, sehingga dalam hal ini keumuman tersebut dibatasi oleh Rasul SAW tidak mencakup Kenabian.
Kemudian silakan anda perhatikan hadis manzilah yang saya kutip di atas,bukankah menurut anda hadis tersebut diucapkan saat perang Tabuk maka hadis tersebut justru membuktikan keumuman yang saya bicarakan. Ketika Imam Ali berkata Apakah engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak? maka Rasulullah SAW menjawab sesungguhnya KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.
Rasulullah SAW mengatakan bahwa sama seperti kedudukan Harun disisi Musa bahwa dia akan menggantikan Musa sebagai khalifah bagi setiap umat Musa maka begitu pula Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Ali adalah khalifah bagi setiap mukmin Umat Nabi SAW.

Yang dicetak tebal itu adalah jawabannya. sedangkan sahabat yang lain tidak menanyakan seperti itu ketika mereka ditunjuk oleh Rasulullah.

Dari mana anda mengetahui tidak ada?. apakah jika ada sahabat lain yang bertanya seperti itu maka Rasulullah SAW juga akan menyebutkan hadis Manzilah?. Kalau anda bilang tidak, lalu apa gunanya anda menampilkan pernyataan itu.

Tetapi karena pengaduan itulah Rasulullah menunjukkan kasih sayang beliau dan itu adalah merupakan keutamaan Imam Ali.

Rasulullah SAW menunjukkan kasih sayangnya dengan menjelaskan keutamaan Imam Ali yang begitu tinggi seperti kedudukan Harun disi Musa diantaranya Imam Ali adalah khalifah bagi setiap mukmin setelah Nabi SAW.

Masing-masing sahabat punya keutamaan sendiri-sendiri..

lho Saya menanyakan apakah sahabat yang lain juga menyandang keutamaan hadis Manzilah merujuk pada penafsiran anda bahwa hadis manzilah terkait dengan penggantian pemimpin di Madinah bukankah anda menyebutkan ada banyak sahabat yang memimpin di Madinah, jika keutamaan kedudukan Harun di sisi Musa adalah sebagai pemimpin di Madinah saat perang Tabuk saja maka dengan alasan apa anda membedakan sahabat2 lain yang memimpin Madinah seperti kata anda.

Saya hanya berdasarkan asbabul wurud dan saya telah jelaskan, dan menurut saya itulah yg benar, kalo tidak sependapat ya ga pa2.

Silakan kita sudah sama-sama menjelaskan :)

Al Qurtubi di dalam tafsirnya membantah keyakinan syi’ah dalam memahami hadits manzilah :

Mari kita lihat apakah Al Qurtubi menuruti keinginannya semata untuk membantah syiah atau malah membantah hadis Manzilah itu sendiri

Maka tidak ada ikhtilaf bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak memaksudkan kedudukan Harun bagi Musa itu sebagai khalifah setelahnya

Perhatikan teks hadis di atas Rasulullah SAW bersabda Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.. Perkataan Al Qurtubi bertentangan dengan perkataan Rasulullah SAW. Perkataan Rasulullah SAW lebih layak dijadikan pegangan

Tidak ada perselisihan bahwa Harun meninggal sebelum Musa ‘Alaihi Sallam dan tidak menjadi khalifah setelah Musa. Justru yang menjadi khalifah setelah Musa adalah Yusya’ Bin Nun. Kalau yang dimaksud dengan ucapan :” Engkau bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa.” Adalah khilafah, maka pasti beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan mengatakan :” Engkau bagiku seperti Yusya’ bagi Musa.”

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, seberapa valid informasi ini?. Kemudian poin yang dimaksud hadis Manzilah tersebut adalah kedudukan Harun di sisi Musa sama seperti kedudukan Ali di sisi Nabi Muhammad SAW. Kedudukan tersebut mencakup semuanya kecuali Kenabian seperti kedudukan sebagai wazir, sebagai saudara sebagai sekutu dalam urusan dan sebagai orang yang akan menjadi pemimpin jika yang lain pergi. Oleh karena itu saya katakan kepada anda, dengan melihat kedudukan Harun yang begitu tinggi maka ketika Nabi Musa AS pergi tidak ada satupun dari umat Musa yang layak menggantikan kecuali Harun dan begitu pula dengan Imam Ali, tidak ada satupun dari Umat Muhammad yang lebih layak sebagai pengganti Nabi SAW kecuali Imam Ali.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanyalah memaksudkan bahwa aku menjadikanmu sebagai penggantiku terhadap keluargaku dalam kehidupanku

Sekali lagi hadis di atas dengan jelas membantah Al Qurtubi. Rasulullah SAW mengatakan bahwa Imam Ali sebagai Khalifah tidak hanya bagi keluarga Beliau tetapi bagi stiap kaum mukmin dan Rasulullah SAW mengatakan bahwa hal itu terjadi sepeninggal Beliau SAW, hal ini terlihat jelas dari kata-kata SetelahKu

Anda mulai berasumsi dech.. jelas Rasulullah hidup jauh setelah Nabi Musa dan Harun, dan semuanya telah terjadi, jadi ga bisa diterima pengandaian anda yg seperti itu..

Siapa yang berandai saya menunjukkan kepada anda bahwa keutamaan hadis Manzilah terletak pada Kedudukan Harun di sisi Nabi Musa dimana jika Nabi Musa AS pergi dan Nabi Harun masih ada maka tidak ada satupun Umat Musa AS yang berhak memegang kepemimpinan karena selagi Nabi Harun masih ada maka beliaulah yang layak memegang kepemimpinan. Dan begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW, selagi Imam Ali AS masih ada maka tidak ada satupun dari Umat Muhammad SAW yang berhak memegang kepemimpinan kecuali Imam Ali.

Saya setuju, dan setelah Rasulullah kembali ke Madinah, kepemimpinan Imam Ali pun berakhir.

Tidak masalah, yang tetap ada dan menjadi keutamaan melekat bagi Imam Ali adalah Kedudukannya di sisi Nabi SAW sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa.

Justru yg saya tidak ngerti dan terpengaruh apa, kok ada orang yg suka melebih-lebihkan sesuatu yang disampaikan Rasulullah melebihi dari yg seharusnya.

Contoh sederhana adalah hadis di atas, mau anda kemanakan kata-kata Rasulullah SAW Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu. Rasulullah berkata dengan lafal umum untuk setiap mukmin, eh anda mengkhususkan untuk di Madinah saja :mrgreen:
Nah bukankah ini namanya membatasi apa-apa yang sudah ditetapkan Rasulullah SAW

Oh kalo yg itu biar Imam Ali sendiri yg menjawab :Hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri yang diriwayatkan secara mustafidlah dari Muhammad Ibnil Hanafiyah:

قُلْتُ ِلأَبِي: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهَ ?؟ قَالَ: أَبُو بَكْرٍ. قَلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: عُمَرُ. وَخَشِيْتُ أَنْ يَقُوْلَ عُثْمَانُ. قُلْتُ: ثُمَّ أَنْْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلاَّ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. رواه البخاري: كتاب فضائل الصحابة باب 4 وفتح البارى 7/20

Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu): Siapakah manusia yang terbaik setelah Rasulullah ? ? Ia menjawab: “Abu Bakar”. Aku bertanya (lagi): “Kemudian siapa?”. Ia menjawab: “Umar”. Dan aku khwatir ia akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau menjawab: “Tidaklah aku kecuali seorang dari kalangan muslimin”. (HR. Bukhari, kitab Fadlailus Shahabah, bab 4 dan Fathul Bari juz 4/20)

Anehnya hadis yang anda kutip justru menyerang klaim anda sendiri. Bukankah anda mengatakan bahwa

Silahkan dicatat, karena bagi saya Imam Ali adalah termasuk dalam 4 besar manusia yang paling utama setelah Nabi Muhammad Shalalallahu alaihi wassalam

Padahal hadis yang anda jadikan hujjah menyatakan manusia yang terbaik setelah Rasul SAW ada tiga yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman sedangkan Imam Ali hanyalah seorang dari kaum muslimin. Nah saya jadi bingung, kok keyakinan anda bertentangan dengan hadis yang menjadi hujjah anda :roll:

Tak perlu bingung, Abu Ubaidah adalah kepercayaan Umat, sedangkan Abu Bakar adalah orang kepercayaan (istilah sekarang “tangan kanan”) Rasulullah. Lagian poin yg saya maksud dlm hadits tsb adlh Rasulullah mengambil Abu Bakar sebagai kekasihnya.

Ooooh jadi beda ya, Abu Ubaidah kepercayaan umat dan Abu Bakar kepercayaan Rasul SAW. Jika memang begitu bukankah ketika Rasul SAW wafat dan kepemimpinan diserahkan kepada umat maka logika sederhana orang kepercayaan Umat lebih layak jadi khalifah, La kan yang milih Umat, jadi bingung lagi :mrgreen:

***************************

antirafidhah, on Juli 7, 2009 at 10:37 pmsaid:

Ya sudah.. yang jelas Imem dan SP berbeda dalam memahami hadits. dan saya salut sama bung Imem yg tetep tegas dan jelas prinsipnya dalam berdiskusi walopun banyak yang ngroyok dia :lol:

Bravo bung Imem! :lol:

tetapi yg membuat saya tersenyum dengan bantahan SP yg ini :

Anehnya hadis yang anda kutip justru menyerang klaim anda sendiri. Bukankah anda mengatakan bahwa

Silahkan dicatat, karena bagi saya Imam Ali adalah termasuk dalam 4 besar manusia yang paling utama setelah Nabi Muhammad Shalalallahu alaihi wassalam

Padahal hadis yang anda jadikan hujjah menyatakan manusia yang terbaik setelah Rasul SAW ada tiga yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman sedangkan Imam Ali hanyalah seorang dari kaum muslimin. Nah saya jadi bingung, kok keyakinan anda bertentangan dengan hadis yang menjadi hujjah anda :roll:

dan juga yang ini :

Ooooh jadi beda ya, Abu Ubaidah kepercayaan umat dan Abu Bakar kepercayaan Rasul SAW. Jika memang begitu bukankah ketika Rasul SAW wafat dan kepemimpinan diserahkan kepada umat maka logika sederhana orang kepercayaan Umat lebih layak jadi khalifah, La kan yang milih Umat, jadi bingung lagi :mrgreen:

Saya yakin bung Imem akan tersenyum juga membacanya :lol: saya heran, secara SP hal yang tidak terlalu menggigit kayak gini kok dipermasalahkan, ada indikasi SP mau memperlebar topik nich :roll:

***************************

secondprince, on Juli 7, 2009 at 10:57 pmsaid:

@antirafidhah

Saya yakin bung Imem akan tersenyum juga membacanya :lol:

Saya juga yakin, tentu setelah anda mengatakan kalau anda tersenyum :P

saya heran, secara SP hal yang tidak terlalu menggigit kayak gini kok dipermasalahkan, ada indikasi SP mau memperlebar topik nich

saya malah tersenyum dengan komentar anda. Bisa dibilang saya selalu menyesuaikan dengan lawan bicara saya. Dan saya rasa kalau anda melihat dengan lebih jeli, antara saya dengan orang yang anda sebut imem siapakah yang pertama-tama membawa hadis lain di luar tema tulisan ini alias tidak berkaitan? Orang tersebut terbukti sudah memperlebar topik. Nah silakan dilihat, biar anda bisa kembali tersenyum atau terdiam :mrgreen:

*************************

antirafidhah, on Juli 8, 2009 at 5:50 pmsaid:

Kalau yang saya tangkap dari pendapat saudara Imem, fungsi dari penserupaan kedudukan Ali di sisi Rasul seperti kedudukan Harun di sisi Musa yang berupa pelimpahan wewenang di Madinah, telah berakhir semenjak kembalinya Rasul dari perang Tabuk dan ini sangat jelas sekali, tetapi keutamaan dari penserupaan tersebut akan tetap langgeng sebagai sebuah keutamaan khusus Imam Ali di sisi Rasul yang tidak terdapat pada sahabat lain, dan ini diakui oleh saudara imem, tetapi bukanlah berarti keutamaan tersebut menutupi keutamaan sahabat-sahabat yang lain, karena setiap sahabat (termasuk Imam Ali) mempunyai keutamaan sendiri-sendiri berdasarkan hadits-hadits Rasullah Sahalallahu Alaihi Wassalam.

Dan juga yang saudara Imem tolak adalah anggapan bahwa keutamaan tersebut membawa implikasi penunjukkan Imam Ali sebagai khalifah setelah Rasul wafat. padahal sebenarnya penunjukkan tersebut terbatas hanya pada saat Rasulullah keluar dari Madinah untuk memimpin perang Tabuk.

Sehingga saya tidak melihat adanya ketidak-konsistenan dari argumentasi saudara Imem di atas, justru yang saya anggap tidak konsisten adalah orang yang mengakui keutamaan Imam Ali berdasarkan hadits Rasulullah, tetapi di sisi lain dia tidak mengakui keutamaan Sahabat Nabi yang lain, padahal sumbernya sama-sama dari hadits Rasulullah juga.

Salam

**************************

secondprince, on Juli 8, 2009 at 6:21 pm said:

@antirafidhah

Kalau yang saya tangkap dari pendapat saudara Imem, fungsi dari penserupaan kedudukan Ali di sisi Rasul seperti kedudukan Harun di sisi Musa yang berupa pelimpahan wewenang di Madinah, telah berakhir semenjak kembalinya Rasul dari perang Tabuk dan ini sangat jelas sekali,

Mari kita lihat apa yang anda sebut jelas, anda mengatakan penyerupaan itu berupa pelimpahan wewenang di Madinah. Kemudian anda berkata

tetapi keutamaan dari penserupaan tersebut akan tetap langgeng sebagai sebuah keutamaan khusus Imam Ali di sisi Rasul yang tidak terdapat pada sahabat lain, dan ini diakui oleh saudara imem,

Kalau anda mengakui bahwa penyerupaan itu berarti pelimpahan wewenang di Madinah maka sahabat-sahabat lain juga ada yang mendapat pelimpahan wewenang di Madinah. Lalu apa bedanya dan dimana letak keutamaan yang anda maksudkan. Kalau anda bilang sahabat-sahabat lain tidak mendapat penyerupaan, hakikatnya sama saja karena anda mengatakan bahwa penyerupaan itu berarti pelimpahan wewenang di Madinah dan para sahabat yang dimaksud imem itu telah mendapatkan pelimpahan ini. Lantas dimana keutamaan yang anda maksud?

Dan juga yang saudara Imem tolak adalah anggapan bahwa keutamaan tersebut membawa implikasi penunjukkan Imam Ali sebagai khalifah setelah Rasul wafat. padahal sebenarnya penunjukkan tersebut terbatas hanya pada saat Rasulullah keluar dari Madinah untuk memimpin perang Tabuk.

Hadis Rasulullah SAW yang saya tulis di atas adalah sebaik-baik bukti bahwa pembatasan anda keliru. Rasulullah SAW mengatakan Imam Ali Khalifah bagi setiap mukmin Setelah Beliau SAW. Silakan kalau mau menolak

Sehingga saya tidak melihat adanya ketidak-konsistenan dari argumentasi saudara Imem di atas,

Ada kok Mas, coba jawab keutamaan Hadis Manzilah itu apa bagi Imam Ali?.

justru yang saya anggap tidak konsisten adalah orang yang mengakui keutamaan Imam Ali berdasarkan hadits Rasulullah, tetapi di sisi lain dia tidak mengakui keutamaan Sahabat Nabi yang lain, padahal sumbernya sama-sama dari hadits Rasulullah juga.

Ini ngomongin siapa ya :roll: .Saya pribadi mengakui bahwa sahabat Nabi memiliki keutamaan tetapi saya tidak pernah menganggap keutamaan mereka adalah hujjah yang membuat mereka selalu benar atau membuat mereka tidak layak untuk dikritik jika melakukan kesalahan.

***************************

antirafidhah, on Juli 13, 2009 at 1:07 amsaid:

@blockquote>
وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي

Engkau sebagai KhalifahKu untuk
setiap mukmin setelahKu

Yaitu ketika Ali menjadi Khalifah/pengganti Rasulullah untuk setiap mukmin di Madinah pada saat Rasulullah pergi untuk perang Tabuk.. dan ketika Rasulullah kembali, kekhalifahan Imam Ali pun berakhir.. jelas sekali itu? :lol:

atau kalau mau ditafsirkan setelah Rasulullah wafat, ya bisa aja, bukankah Imam Ali memang telah menjadi Khalifah setelah Rasulullah wafat, yaitu khalifah ke 4 setelah Abu Bakar, Umar dan Utsman… :P

Tetapi kalau kalian memahami bahwa khalifah yg dimaksud di atas adalah khalifah pertama setelah Rasulullah wafat haruslah Imam Ali, berarti kalian telah merendahkan Rasulullah, karena dalam hadits di atas disebutkan bahwa “Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu”. sedangkan kita tahu bahwa Rasulullah adalah seorang yang maksum, maka sabdanya adalah suatu keniscayaan, dan ternyata pada kenyataannya yang menjadi khalifah setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, bukan Imam Ali.. maka mau ga mau pemahaman tsb adalah keliru dan pendapat di atas-lah yang benar sebagaimana juga yang telah disebutkan oleh bung Imem, bahwa yg dimaksud khalifah dlm hadits di atas adalah khalifah/pengganti Rasulullah untuk sementara di Madinah di saat Rasulullah pergi untuk perang Tabuk.

************************

imem, on Juli 13, 2009 at 4:48 amsaid:

Iya anda benar, dan Rasulullah pun telah mengabarkan kepada kita melalui hadits yang shahih, bahwa Allah dan kaum Mukminin tidak meridhai kecuali Abu Bakar… dan hadits tersebut telah terbukti kebenarannya bahwa ternyata Abu Bakar-lah kemudian yang dikehendaki oleh Allah menjadi Khalifah Rasulullah dan dibai’at oleh seluruh kaum mukminin saat itu termasuk oleh Imam Ali sendiri…

Saran saya kepada anda-anda sekalian… terimalah kenyataan yang ada dengan ikhlas, Ikutilah Imam Ali, beliau saja telah membai’at 3 khalifah sebelumnya.. beliau membai’at Abu Bakar, kemudian beliau membai’at Umar dan sebelum Umar wafat, beliau pun bersedia dipilih sebagai anggota formatur pemilihan khalifah pengganti Umar, dan ketika terpilih Utsman beliau pun membai’at Utsman… selama 3 periode kehalifahan ato 24 thn lebih beliau tetap konsisten dengan sikapnya tersebut… ya itu kalo kalian memang benar-benar pengikut beliau, tetapi kalo hanya di bibir aja saya maklum kalo kalian ga mau meneladani beliau bahkan menselisihi beliau… tapi ga ada paksaan kok…

*************************

imem, on Juli 13, 2009 at 6:32 amsaid:

banyak umat yang mengaku mengikut Rasul tetapi mereka membuat penentangan atas perkataan Rasul, Rasul berkata begini mereka berkata bukan begitu, Rasul berkata semua mereka berkata sebagian, tidak heran kalau pendahulu mereka juga dulu ingkar apalagi mereka, kebenaran telah jelas dan kebatilan akan lenyap, salut dan terimakasih buat empunya blog

Apakah anda masukkan juga Imam Ali termasuk yang menentang Rasul? karena beliau telah berbai’at kepada ke 3 khalifah sebelum beliau? dan beliau pun turut berperan dalam pemerintahan ke 3 khalifah tsb?
apakah menurut anda Rasul telah gagal mendidik umatnya? padahal jelas-jelas Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Allah akan memenangkan agama ini di atas agama-agama yang lain, dan ternyata orang-orang yang anda anggap menentang Rasul itulah yang Allah kehendaki untuk memenuhi janji-Nya tersebut… buka mata, buka hati, lihatlah kenyataan yang terjadi, buanglah virus rafidhah yg ada pada diri anda, supaya mati anda tenang dg tidak membawa warisan dendam dari musuh2 Islam yang telah dikalahkan pada masa lalu…

anda hanya memahami hadits tsb secara tekstual dg mengabaikan asbabul wurudnya.. ya silahkan saja.. tidak ada paksaan kok…

*************************

secondprince, on Juli 13, 2009 at 6:38 am said:

@antirafidhah

Yaitu ketika Ali menjadi Khalifah/pengganti Rasulullah untuk setiap mukmin di Madinah pada saat Rasulullah pergi untuk perang Tabuk.. dan ketika Rasulullah kembali, kekhalifahan Imam Ali pun berakhir.. jelas sekali itu?

Sesuatu yang sudah jelas malah anda buat kabur, hadis di atas tidak ada kata-kata “di Madinah” dan “pergi untuk perang Tabuk”. Itu yang sangat jelas, dan tidak terlihat oleh anda :)

sedangkan kita tahu bahwa Rasulullah adalah seorang yang maksum, maka sabdanya adalah suatu keniscayaan,

Setuju tapi penerapan anda keliru, saya misalkan saja Banyak Nabi yang ditetapkan oleh Allah SWT sebagai Nabi tetapi ternyata kaum Nabi tersebut mengingkarinya dan menolak kenabian. Padahal yang menetapkan Kenabian itu adalah Allah SWT. Nabi tersebut tetaplah Nabi dan yang ingkar atau menolak kenabian tetap ada. Padahal penetapan Allah SWT merupakan suatu keniscayaan. silakan direnungkan analogi yang saya tampilkan.

@imem

Iya anda benar, dan Rasulullah pun telah mengabarkan kepada kita melalui hadits yang shahih, bahwa Allah dan kaum Mukminin tidak meridhai kecuali Abu Bakar…

Yah begitulah anda, dalil yang jelas anda paksakan kabur yang kabur anda paksakan jelas. Contohnya hadis yang anda bawa, sedikitpun tidak bicara soal kekhalifahan dan ngomong-ngomong bagaimana kalau orang lain berkata hadis itu terbatas waktu itu saja dan tidak berlaku selepas Rasulullah SAW wafat. Nah lho

*************************

SaifulIslam, on Oktober 13, 2011 at 1:40 pmsaid:

Pernyataan Sp berkenaan dengan Yahya bin Sulaim Abi Balj perlu dinilai semula

1. Pernyataan al-Bukhari tidak semestinya disebut dalam kitabnya bahkan disebutkan juga dengan bersanad oleh imam huffaz yang lain seperti Ibnu Adiy dalam al-Kamil fi Du’afa al-Rijal

الكامل في ضعفاء الرجال ج7/ص229
2128 يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري ثنا علان ثنا بن أبى مريم سمعت يحيى بن معين يقول أبو بلج يحيى بن أبى سليم سمعت بن حماد يقول قال البخاري يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري سمع محمد بن حاطب وعمرو بن ميمون فيه نظر .

2. Kita tidak mesti membutuhkan al-Bukhari untuk memasukkan setiap perawi dalam buku-bukunya untuk kita menerima apa yang dikatakan tentang perawi tersebut. Hal ini sama kasusnya dengan tautheeq Nasa’ie terhadap Abi Balj.

3. Terdapat bukti al-Bukhari tidak menerima hadith Abi Balj. Perhatikan hadith berikut dalam Tarikh al-Kabir

قال نعيم بن حماد حدثنا هشيم عن ابى بلج وحصين: عن عمرو بن ميمون: رأيت في الجاهلية قردة اجتمع عليها قرود فرجموها فرجمتها معهم

Terjemahan: Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dari Hushaim dari Abi Balj dan Hussain dari Amr bin Maymun. Aku melihat di waktu jahiliyyah monyet , monyet lain berkumpul padanya merejamnya dan aku merejam bersama mereka

Namun dalam Shahih al-Bukhari, tiada nama Abi Balj dalam sanad yang dibawakan

حدثنا نعيم بن حماد حدثنا هشيم عن حصين عن عمرو بن ميمون قال
رأيت في الجاهلية قردة اجتمع عليها قردة قد زنت فرجموها فرجمتها معهم

Terjemahan: Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dari Hushaim dari Hussain dari Amr bin Maymun, Aku melihat di waktu jahiliyyah monyet , monyet lain berkumpul padanya, dia berzina dan mereka merejamnya dan aku merejam bersama mereka

Ini bukti jelas dia bukan hujah disisi al-Bukhari

4. Terdapat pernyataan jelas akan penolakan Yahya bin Sulaim Abi Balj

a) Abdul Ghani bin Sa’eed al Masri al Hafiz menyatakan dia melakukan kesilapan dalam penyebutkan nama Amru bin Maymun dan dia tidak sama dengan yang masyhur disebut iaitu Amru bin Maymun tapi dia adalah Maymun Abu Abdullah Maula AbdurRahman bin Samrah dan dia adalah lemah

وذكر عبد الغني بن سعيد المصري الحافظ أن أبا بلج أخطأ في اسم عمرو بن ميمون هذا ، وليس هو بعمرو بن ميمون المشهور، إنما هو ميمون أبو عبد الله مولى عبد الرحمن بن سمرة، وهو ضعيف.

b) Ibn Abdul Barr dan Ibnul Jauzi meriwayatkan Ibn Ma’in melemahkan beliau dan Ahmad menyatakan dia meriwayatkan hadith mungkar

ونقل ابن عبد البر وابن الجوزي: أن ابن معين ضعفه، وقال أحمد: روى حديثا منكرا.

c) Al Hafiz Ibn hajar menyatakan dalam at-Taqrib dia Saduq tapi melakukan kesalahan

وقال الحافظ ابن حجر في (التقريب): صدوق ربما أخطأ.

d) Al Sa’adee menyatakan : Abu Balaj al Wasiti tidak tsiqah

وقال السعدي: أبو بلج الواسطي غير ثقة.

e) Az-Zahabi menyatakan dia layyin dalam al-Muqtana

وقال الذهبي في (المقتنى): لين.

f) Az-Zahabi sendiri menyatakan hadith ini mungkar dalam Mizan al-‘itidal dibawah biografi Abu Balj. Kitab ini adalah antara kitab terakhir beliau. Komen beliau dalam al-Mustadrak ditulis semasa beliau masih muda dan dia sendiri menyatakan ia perlukan usaha yang lebih. Sila rujuk Siyar A’alam Al-Nubala pada biografi Al-Hakim.

g) Al jawzjani menyebutkan dalam “Ahwal al Rijal” bahawa dia tidak tsiqah

وقال الجوزجاني في (أحوال الرجال): كان يروج الفواخت؛ ليس بثقة.

h) Ibn HIbban menyebutkan dalam al-Majruhin bahawa dia termasuk dikalangan mereka yang melakukan kesalahan dalam hadith dan riwayat yang hanya datang darinya perlu ditolak dan bukan hujah

قال ابن حبان في (المجروحين): كان ممن يخطئ ، لم يفحش خطؤه حتى استحق الترك ، ولا أتى منه ما لا ينفك البشر عنه فيسلك به مسلك العدول، فأرى أن لا يحتج بما انفرد من الرواية، وهو ممن أستخير الله فيه

i) Dia diketahui meriwayatkan banyak hadith mungkar. Az-Zahabi menyebutkan dalam al-Mizan

الذهبي في (الميزان): ومن مناكيره عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بسد الأبواب إلا باب علي رضي الله عنه، رواه أبو عوانة عنه، ويروى عن شعبة عنه.

Kesimpulan

Sesetengah ulama menstiqahkannya dan sesetengah yang lain menjarahkannya. Ada ulama yang mengambil pendekatan sederhana seperti Ibnu Hibban

Secara umumnya, dia termasuk dikalangan orang yang lemah dan secara specifiknya hadith ini ditolak

**************************

SaifulIslam, on Oktober 13, 2011 at 2:15 pmsaid:

Ulasan tambahan

Sp berkata,’ Syaikh Al Albani dalam kitabnya Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah hal 520 hadis no 1188 memberikan penilaian bahwa hadis ini sanadnya hasan, dimana Beliau menyatakan bahwa semua perawinya tsiqat. Hadis ini telah diriwayatkan oleh para perawi Bukhari Muslim kecuali Abi Balj yang dinilai shaduq sehingga Syaikh Al Albani menyatakan hadis tersebut hasan.’

Sp ingin memberikan impression bahawa semua lafaz hadith tersebut diperakui oleh Syeikh Albani sebagai hasan

Hakikatnya lafaz hadith tu memang diperakui sebagai hasan tapi syeikh Al Albani sendiri menolak tambahan ‘Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu’

Beliau menjelaskan dalam Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, vol. 4, ms. 343, no1750,

أما ما يذكره الشيعة في هذا الحديث و غيره أن النبي صلى الله عليه وسلم قال في علي رضي الله عنه : ” إنه خليفتي من بعدي ” . فلا يصح بوجه من الوجوه , بل هو من أباطيلهم الكثيرة التي دل الواقع التاريخي على كذبها لأنه لو فرض أن النبي صلى الله عليه وسلم قاله , لوقع كما قال لأنه ( وحي يوحى ) و الله سبحانه لا يخلف وعده

Terjemahan: Adapun apa yang disebutkan oleh syiah berkenaan hadith (i.e. Hadith al-Ghadir) dan selainnya bahawa nabi SAW berkata kepada Ali ra ‘ Engkau adalah khalifahku untuk setiap mukmin selepasku’, tidaklah sahih dalam apa saja wajah bahkan ia adalah kebatilan banyak yang ditolak sejarah keatas kedustaannya …

*****************************

secondprince, on Oktober 13, 2011 at 11:35 pmsaid:

@SaifulIslam

Pernyataan Sp berkenaan dengan Yahya bin Sulaim Abi Balj perlu dinilai semula

1. Pernyataan al-Bukhari tidak semestinya disebut dalam kitabnya bahkan disebutkan juga dengan bersanad oleh imam huffaz yang lain seperti Ibnu Adiy dalam al-Kamil fi Du’afa al-Rijal

الكامل في ضعفاء الرجال ج7/ص229
2128 يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري ثنا علان ثنا بن أبى مريم سمعت يحيى بن معين يقول أبو بلج يحيى بن أبى سليم سمعت بن حماد يقول قال البخاري يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري سمع محمد بن حاطب وعمرو بن ميمون فيه نظر .

2. Kita tidak mesti membutuhkan al-Bukhari untuk memasukkan setiap perawi dalam buku-bukunya untuk kita menerima apa yang dikatakan tentang perawi tersebut. Hal ini sama kasusnya dengan tautheeq Nasa’ie terhadap Abi Balj.

Terlihat bahwa anda [atau siapapun yang berkata seperti ini] tidak berpengalaman membahas kitab kitab Rijal. Ini bukan perkara butuh dan tidak butuh tetapi soal “asal penukilan”. Ilmu Rijal itu ilmu nukil menukil dan faktanya tidak setiap ulama yang menukil selalu benar dalam penukilannya. Ada banyak ulama yang salah dalam menukil [contohnya banyak]. Maka yang kami permasalahkan disini adalah apakah penukilan itu tsabit?. Ibnu Hammad mengatakan bahwa Bukhari berkata soal Yahya bin Abi Sulaim “fihi nazhar” tetapi Bukhari sendiri dalam kitab Rijal-nya ia menulis Yahya bin Abi Sulaim tanpa menyebutkan jarh tersebut. Ini yang kami maksud bahwa penukilan pendapat Bukhari itu tidaklah tsabit.

Hal ini berbeda dengan tautsiq Nasa’I yang anda permasalahkan. Apakah Nasa’I memiliki kitab rijal yang dapat kita jadikan tempat untuk melihat “asal penukilan”?. Apakah Nasa’I memiliki kitab yang memuat para perawi tsiqat menurutnya?. Kalau memang ada maka kita dapat mengoreksinya kalau tidak ada ya kita menerimanya. Ilmu hadis itu bukan ilmu pasti, pendekatannya ya disesuaikan dengan “bahan” yang ada dan kaidah atau metode yang disesuaikan.

Selain itu anda juga harus sering mengupdate “ilmu hadis”. Pernyataan “fihi nazhar” ala Bukhari memang masyhur sebagai jarh syadid [dulu kami pun beranggapan begitu] tetapi sekarang sudah diperselisihkan keadaannya karena dalam kitab Bukhari sendiri terdapat perawi Bukhari yang dikatakan “fihi nazhar” bahkan dapat dilihat bahwa Bukhari pernah menyatakan “fihi nazhar” kepada sahabat Nabi Sha’sha’ah bin Najiyah [Tarikh Al Kabir juz 4 no 2978].

3. Terdapat bukti al-Bukhari tidak menerima hadith Abi Balj. Perhatikan hadith berikut dalam Tarikh al-Kabir

قال نعيم بن حماد حدثنا هشيم عن ابى بلج وحصين: عن عمرو بن ميمون: رأيت في الجاهلية قردة اجتمع عليها قرود فرجموها فرجمتها معهم

Terjemahan: Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dari Hushaim dari Abi Balj dan Hussain dari Amr bin Maymun. Aku melihat di waktu jahiliyyah monyet , monyet lain berkumpul padanya merejamnya dan aku merejam bersama mereka

Namun dalam Shahih al-Bukhari, tiada nama Abi Balj dalam sanad yang dibawakan

حدثنا نعيم بن حماد حدثنا هشيم عن حصين عن عمرو بن ميمون قال
رأيت في الجاهلية قردة اجتمع عليها قردة قد زنت فرجموها فرجمتها معهم

Terjemahan: Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dari Hushaim dari Hussain dari Amr bin Maymun, Aku melihat di waktu jahiliyyah monyet , monyet lain berkumpul padanya, dia berzina dan mereka merejamnya dan aku merejam bersama mereka

Ini bukti jelas dia bukan hujah disisi al-Bukhari

Maaf ini argumen yang lemah. Bisa saja Bukhari tidak memasukkan sanad Abu Balj dalam Shahih-nya karena ia merasa cukup dengan menyebutkan Hushain saja. Anda berhujjah dengan kemungkinan maka saya katakan kemungkinan anda tidak menafikan kemungkinan yang lain. Analogi sederhana, jika ada dua orang teman baik yang anda percaya yaitu si farid dan si efendi mengabarkan bahwa karim itu pendusta, kemudian anda mengabarkan kepada saya “kata si efendi saudara Karim itu pendusta”. Anda tidak menyebutkan nama Farid, apakah langsung bisa disimpulkan kalau anda menuduh Farid seorang pendusta yang tidak bisa dipercaya. Bisa saja anda merasa cukup dengan menyebutkan nama Efendi tanpa menyebutkan nama Farid, ya lumrah lumrah saja.

4. Terdapat pernyataan jelas akan penolakan Yahya bin Sulaim Abi Balj

a) Abdul Ghani bin Sa’eed al Masri al Hafiz menyatakan dia melakukan kesilapan dalam penyebutkan nama Amru bin Maymun dan dia tidak sama dengan yang masyhur disebut iaitu Amru bin Maymun tapi dia adalah Maymun Abu Abdullah Maula AbdurRahman bin Samrah dan dia adalah lemah

وذكر عبد الغني بن سعيد المصري الحافظ أن أبا بلج أخطأ في اسم عمرو بن ميمون هذا ، وليس هو بعمرو بن ميمون المشهور، إنما هو ميمون أبو عبد الله مولى عبد الرحمن بن سمرة، وهو ضعيف.

Abdul Ghani bin Sa’id disini jelas keliru. ‘Amru bin Maimun dengan Maimun Abu Abdullah itu tidak sama. Hadis yang dipermasalahkan Abdul Ghani ini sebenarnya adalah hadis lain tentang keutamaan Imam Ali yang kedudukannya shahih. Kedua perawi yang dimaksud berbeda. ‘Amru bin Maimun meriwayatkan hadis ini dari Ibnu Abbas dan Abu Balj memang dikenal meriwayatkan dari ‘Amru bin Maimun. Anda sendiri mengutip atsar ‘Amru bin Maimun dalam kisah “monyet merajam” yang diriwayatkan oleh Hushain dan Abi Balj. Sedangkan Maimun Abu Abdullah meriwayatkan dari Zaid bin Arqam dan tidak dikenal Abu Balj meriwayatkan darinya. Jadi pernyataan Abdul Ghani di atas tidak bernilai karena hanya dugaan saja.

b) Ibn Abdul Barr dan Ibnul Jauzi meriwayatkan Ibn Ma’in melemahkan beliau dan Ahmad menyatakan dia meriwayatkan hadith mungkar

ونقل ابن عبد البر وابن الجوزي: أن ابن معين ضعفه، وقال أحمد: روى حديثا منكرا.

Penukilan ini tidaklah tsabit. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari ayahnya dari Ishaq bin Manshur dari Ibnu Ma’in bahwa Abu Balj tsiqat. Kemudian perkataan Imam Ahmad tidak memiliki asal penukilan yang tsabit, kami juga tidak menemukan pernyataan ini dalam kitab Al Ilal Ahmad bin Hanbal.

c) Al Hafiz Ibn hajar menyatakan dalam at-Taqrib dia Saduq tapi melakukan kesalahan

وقال الحافظ ابن حجر في (التقريب): صدوق ربما أخطأ.

Pernyataan “melakukan kesalahan” terkait dengan pendapat ulama yang mempermasalahkan hadis Abi Balj padahal sebenarnya hadis tersebut shahih. Jadi kesalahan yang dituduhkan tidaklah tsabit

d) Al Sa’adee menyatakan : Abu Balaj al Wasiti tidak tsiqah

وقال السعدي: أبو بلج الواسطي غير ثقة.

Pernyataan As Sa’diy tidak menjadi hujjah. Maaf dia bukanlah ulama yang bisa dijadikan pegangan perkataannyamengenai perawi hadis. Dikenal dia terlalu berlebihan mencela perawi tsiqat

e) Az-Zahabi menyatakan dia layyin dalam al-Muqtana

وقال الذهبي في (المقتنى): لين.

Pernyataan Adz Dzahabi disebabkan oleh hadis Abu Balj yang ia katakan mungkar. Dan pernyataan ini keliru karena hadis yang disebutkan Adz Dzahabi bukan hadis mungkar melainkan hadis shahih dan diriwayatkan dengan banyak jalan. [hadis yang dimaksud adalah hadis tutuplah pintu masjid selain pintu Imam Ali]

f) Az-Zahabi sendiri menyatakan hadith ini mungkar dalam Mizan al-‘itidal dibawah biografi Abu Balj. Kitab ini adalah antara kitab terakhir beliau. Komen beliau dalam al-Mustadrak ditulis semasa beliau masih muda dan dia sendiri menyatakan ia perlukan usaha yang lebih. Sila rujuk Siyar A’alam Al-Nubala pada biografi Al-Hakim.

Yang dinyatakan mungkar oleh Adz Dzahabi bukan hadis di atas melainkan hadis tutuplan pintu masjid kecuali pintu Imam Ali. Hadis tersebut kedudukannya shahih dengan mengumpulkan jalan-jalannya.

g) Al jawzjani menyebutkan dalam “Ahwal al Rijal” bahawa dia tidak tsiqah

وقال الجوزجاني في (أحوال الرجال): كان يروج الفواخت؛ ليس بثقة.

Nah kebetulan anda menyebut Al Jawzjani disini, sekedar info buat anda karena sepertinya anda tidak tahu [sebab asal mengutip hujjah orang lain] bahwa As Sa’diy yang anda sebutkan sebelumnya adalah Al Jawzjaniy, dia ulama yang berlebihan dalam menjarh perawi apalagi perawi yang meriwayatkan hadis keutamaan Imam Ali sebab ia dikenal nashibi. Ada baiknya anda membaca At Tahdzib dimana Ibnu Hajar berkata tentang Abu Balj

وقال إبراهيم بن يعقوب الجوزجاني وأبو الفتح الأزدي كان ثقة
Ibrahim bin Ya’qub Al Jawzjaniy dan Abu Fath Al Azdiy berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 12 no 184]

Kami kutip ini sebagai contoh bagi anda bahwa ulama terkenal pun sering salah dalam mengutip. Dalam kitabnya Al Jawzjaniy jelas menyatakan Abi Balj tidak tsiqat tetapi Ibnu Hajar malah mengutip “tsiqat”. Al Jawzjaniy yang tanaqudh atau Ibnu Hajar yang salah mengutip. Makanya mencari “asal penukilan” itu sangat penting dalam pembahasan perawi hadis :mrgreen:

h) Ibn HIbban menyebutkan dalam al-Majruhin bahawa dia termasuk dikalangan mereka yang melakukan kesalahan dalam hadith dan riwayat yang hanya datang darinya perlu ditolak dan bukan hujah

قال ابن حبان في (المجروحين): كان ممن يخطئ ، لم يفحش خطؤه حتى استحق الترك ، ولا أتى منه ما لا ينفك البشر عنه فيسلك به مسلك العدول، فأرى أن لا يحتج بما انفرد من الرواية، وهو ممن أستخير الله فيه

Pernyataan ini tertolak karena kesalahan yang dituduhkan pada Abu Balj tidak terbukti. Hadis yang dikatakan kesalahan Abu Balj ternyata memiliki syawahid dengan banyak jalan sehingga kedudukannya shahih

i) Dia diketahui meriwayatkan banyak hadith mungkar. Az-Zahabi menyebutkan dalam al-Mizan

الذهبي في (الميزان): ومن مناكيره عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بسد الأبواب إلا باب علي رضي الله عنه، رواه أبو عوانة عنه، ويروى عن شعبة عنه.

Hadis ini shahih, silakan baca penjelasan Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari 7/14

وأخرج النسائي من طريق العلاء بن عرار بمهملات قال : فقلت لابن عمر : أخبرني عن علي وعثمان – فذكر الحديث وفيه – وأما علي فلا تسأل عنه أحدا وانظر إلى منزلته من رسول الله (ص) , قد سد أبوابنا في المسجد وأقر بابه ، ورجاله رجال الصحيح إلا العلاء وقد وثقه يحيى بن معين وغيره . وهذه الأحاديث يقوي بعضها بعضا وكل طريق منها صالح للاحتجاج فضلا عن مجموعها

Ibnu Hajar sendiri telah menshahihkan hadis Abu Balj soal menutup pintu masjid selain pintu Imam Ali karena telah diriwayatkan dengan banyak jalan yang saling menguatkan. Jadi tuduhan hadis tersebut mungkar adalah keliru

Kesimpulan

Sesetengah ulama menstiqahkannya dan sesetengah yang lain menjarahkannya. Ada ulama yang mengambil pendekatan sederhana seperti Ibnu Hibban

Secara umumnya, dia termasuk dikalangan orang yang lemah dan secara specifiknya hadith ini ditolak

Mereka yang membicarakan Abu Balj jelas keliru karena hujjah mereka hanya bersandar pada dugaan dan kutipan yang tidak tsabit. Abu Balj telah dita’dilkan oleh ulama mutaqaddimin seperti Syu’bah, Ibnu Ma’in, Nasa’I, Ibnu Sa’ad, Daruquthni, Abu Hatim, Al Fasawi. Selain Nasa’i semua penukilan tersebut tsabit.

************************

SaifulIslam, on Oktober 14, 2011 at 2:56 pmsaid:

Sp katakan,

Terlihat bahwa anda [atau siapapun yang berkata seperti ini] tidak berpengalaman membahas kitab kitab Rijal. Ini bukan perkara butuh dan tidak butuh tetapi soal “asal penukilan”. Ilmu Rijal itu ilmu nukil menukil dan faktanya tidak setiap ulama yang menukil selalu benar dalam penukilannya. Ada banyak ulama yang salah dalam menukil [contohnya banyak]. Maka yang kami permasalahkan disini adalah apakah penukilan itu tsabit?. Ibnu Hammad mengatakan bahwa Bukhari berkata soal Yahya bin Abi Sulaim “fihi nazhar” tetapi Bukhari sendiri dalam kitab Rijal-nya ia menulis Yahya bin Abi Sulaim tanpa menyebutkan jarh tersebut. Ini yang kami maksud bahwa penukilan pendapat Bukhari itu tidaklah tsabit.
Hal ini berbeda dengan tautsiq Nasa’I yang anda permasalahkan. Apakah Nasa’I memiliki kitab rijal yang dapat kita jadikan tempat untuk melihat “asal penukilan”?. Apakah Nasa’I memiliki kitab yang memuat para perawi tsiqat menurutnya?. Kalau memang ada maka kita dapat mengoreksinya kalau tidak ada ya kita menerimanya. Ilmu hadis itu bukan ilmu pasti, pendekatannya ya disesuaikan dengan “bahan” yang ada dan kaidah atau metode yang disesuaikan.

Ulasan saya

Tidak semestinya perkataan ulama hanya sekadar apa yang ditulis dalam kitabnya sahaja. Boleh saja diketahui pendapat ulama melalui pernyataan dalam kitab-kitab yang lain.

Mencukupkan pernyataan hanya berdasarkan kepada kalam ulama adalah fatal kerana sebahagian ulama tidak mempunyai kitab khusus dalam jarah wa ta’dil

Sp boleh menerima kalam mereka walaupun mereka tiada kitab tapi tidak boleh menerima kalam ulama yang direkodkan oleh ulama lain.

Ini pandangan lemah

Kita sendiri tahu salah satu sumber utama kenyataan al-Bukhari adalah dalam Ilal Al-Tirmithi Al-Kabeer.

Cuba kita perhatikan muka surat #328, Al-Tirmithi bertanyakan Al-Bukhari berkenaan sebuah hadith. Al-Bukhari menjawab Mohammed bin Fadha’a adalah lemah. Dia samada pemabuk ataupun penjual alcohol dan ayahnya majhul.

Sekarang, apabila kita rujuk kepada kitab al-Bukhari, tidak ditemui pandangan al-Bukhari ini. Kita hanya temui dia memetik Sulaiman bin Harb yang menuduh Mohammed bin Fadha’a menjual alcohol dan melemahkannya (Al-Tareekh Al-Kabeer 1/210, Al-Tareekh Al-Awsat 2/109)

Perhatikan perbandingannya, dalam Ilal Al-Tirmithi adalah pandangan al-Bukhari tapi dalam buku al-Bukhari sendiri, kita ada pandangan Sulaiman bin Harb dan tiada berkenaan dengan Fadha’a dan ayahnya yang dihukum majhul

Maka apakah kita akan menuduh Tirmidzi sebagai penipu??ataupun menolak mentah-mentah pernyataan tersebut??

Seperti yang SP sebutkan, ilmu hadith terbatas maka sepatutnya kita mengumpulkan sebanyak maklumat yang penting.

Kalam ulama tidak terbatas hanya kepada apa yang disebut dalam kitab mereka. Ia juga boleh ada dalam karya anak murid mereka

MAka kita patut menggabungkan kesemuanya dan bukan memilih apa yang kita suka

*******************************

SaifulIslam, on Oktober 14, 2011 at 3:18 pmsaid:

Sp katakan,
Selain itu anda juga harus sering mengupdate “ilmu hadis”. Pernyataan “fihi nazhar” ala Bukhari memang masyhur sebagai jarh syadid [dulu kami pun beranggapan begitu] tetapi sekarang sudah diperselisihkan keadaannya karena dalam kitab Bukhari sendiri terdapat perawi Bukhari yang dikatakan “fihi nazhar” bahkan dapat dilihat bahwa Bukhari pernah menyatakan “fihi nazhar” kepada sahabat Nabi Sha’sha’ah bin Najiyah [Tarikh Al Kabir juz 4 no 2978].

Ulasan saya

Al-Bukhari merujuk kepada hadith yang dihujahkan dan bukannya sahaba tersebut. Al-Bukhari tidak mengomentari kredibiliti sahabah

Sp katakan,
Maaf ini argumen yang lemah. Bisa saja Bukhari tidak memasukkan sanad Abu Balj dalam Shahih-nya karena ia merasa cukup dengan menyebutkan Hushain saja. Anda berhujjah dengan kemungkinan maka saya katakan kemungkinan anda tidak menafikan kemungkinan yang lain. Analogi sederhana, jika ada dua orang teman baik yang anda percaya yaitu si farid dan si efendi mengabarkan bahwa karim itu pendusta, kemudian anda mengabarkan kepada saya “kata si efendi saudara Karim itu pendusta”. Anda tidak menyebutkan nama Farid, apakah langsung bisa disimpulkan kalau anda menuduh Farid seorang pendusta yang tidak bisa dipercaya. Bisa saja anda merasa cukup dengan menyebutkan nama Efendi tanpa menyebutkan nama Farid, ya lumrah lumrah saja.

Ulasan saya

Realitinya bukan seperti yang Sp sebutkan. Telah tsabit dari kalam al-Bukhari sendiri dia adalah lemah. Maka al-Bukhari sering menyebut perawi lemah sebagai mutaba’ah untuk menguatkan hadith. Sudah semestinya dia tidak memasukkan al-Balj kerana kelemahannya itu

Sp katakan,

Abdul Ghani bin Sa’id disini jelas keliru. ‘Amru bin Maimun dengan Maimun Abu Abdullah itu tidak sama. Hadis yang dipermasalahkan Abdul Ghani ini sebenarnya adalah hadis lain tentang keutamaan Imam Ali yang kedudukannya shahih. Kedua perawi yang dimaksud berbeda. ‘Amru bin Maimun meriwayatkan hadis ini dari Ibnu Abbas dan Abu Balj memang dikenal meriwayatkan dari ‘Amru bin Maimun. Anda sendiri mengutip atsar ‘Amru bin Maimun dalam kisah “monyet merajam” yang diriwayatkan oleh Hushain dan Abi Balj. Sedangkan Maimun Abu Abdullah meriwayatkan dari Zaid bin Arqam dan tidak dikenal Abu Balj meriwayatkan darinya. Jadi pernyataan Abdul Ghani di atas tidak bernilai karena hanya dugaan saja.

Ulasan saya

Abdul Ghani seorang hafiz dan dia sedia maklum keduanya tidak sama. Dia menyebutkan Abu Balj membuat kesilapan dan menyandarkan hadith Maymun Abu Abdullah kepada Amr bin Maimun yang dikenal sebagai Abu Abdullah. Rujuk riwayat Ibnu Adiy sebelumnya

Sp katakan

Kemudian perkataan Imam Ahmad tidak memiliki asal penukilan yang tsabit, kami juga tidak menemukan pernyataan ini dalam kitab Al Ilal Ahmad bin Hanbal.

Ulasan saya

Perkataan Imam Ahmad tidak mesti ada hanya dalam kitab ‘Ilalnya sama seperti Nasai’e yang tidak juga ditemui . An-Nasai juga ada mengarang kitab al-JArh wa Ta’dil

Kelemahan Abu Balj oleh imam Ahmad boleh didapati lebih dari satu sumber seperti yang disebutkan Abu Ahmad Al-Hakim (d. 378) dalam Kuna (2/352) dan Ibn Al-Jawzi (d. 592) dalam Al-Dhu’afa’a wal Matrookeen (3/196).

Menurut muhaqiq Al-Kuna, manuskrip Al-Kuna oleh Ibn Abdulbar juga memetik dari Imam Ahmad dalam melemahkan Abu Balj. Maka, apakah SP menganggap kesemua mereka salah?

Sp katakan,

Pernyataan As Sa’diy tidak menjadi hujjah. Maaf dia bukanlah ulama yang bisa dijadikan pegangan perkataannyamengenai perawi hadis. Dikenal dia terlalu berlebihan mencela perawi tsiqat

Ulasan saya

Dia menjadi hujjah kepada sunni dan bukan shia. Sila rujuk kepada muqadimah Ahmwal ar-Rijal oleh Subhi Al-Samera’ee

Sp katakan,

Yang dinyatakan mungkar oleh Adz Dzahabi bukan hadis di atas melainkan hadis tutuplan pintu masjid kecuali pintu Imam Ali. Hadis tersebut kedudukannya shahih dengan mengumpulkan jalan-jalannya.

Ulasan saya

Ia adalah hadith yang sama. Rujuk hadith panjang dalam Musnad Ahmad berkenaan 10 kemuliaan Ali r.a

Sp katakan

Mereka yang membicarakan Abu Balj jelas keliru karena hujjah mereka hanya bersandar pada dugaan dan kutipan yang tidak tsabit. Abu Balj telah dita’dilkan oleh ulama mutaqaddimin seperti Syu’bah, Ibnu Ma’in, Nasa’I, Ibnu Sa’ad, Daruquthni, Abu Hatim, Al Fasawi. Selain Nasa’i semua penukilan tersebut tsabit.

Ulasan saya

Sp seolah-oleh menunjukkan Al-Bukhari, Ahmad, dan Al-Jawjazani bukan ulama mutaqaddimin.

Abu Hatim mengatakan dia salih menunjukkan hadithnya tidak diterima jika dia tafarrud

***********************

secondprince, on Oktober 14, 2011 at 4:21 pmsaid:

@SaifulIslam

Tidak semestinya perkataan ulama hanya sekadar apa yang ditulis dalam kitabnya sahaja. Boleh saja diketahui pendapat ulama melalui pernyataan dalam kitab-kitab yang lain.
Mencukupkan pernyataan hanya berdasarkan kepada kalam ulama adalah fatal kerana sebahagian ulama tidak mempunyai kitab khusus dalam jarah wa ta’dil
Sp boleh menerima kalam mereka walaupun mereka tiada kitab tapi tidak boleh menerima kalam ulama yang direkodkan oleh ulama lain.
Ini pandangan lemah

Maaf anda tidak mengerti penjelasan saya. Perkataan ulama terkait penukilan atau pendapat ulama lain tidak selalu benar. Jika ulama yang dimaksud memang memiliki kitab yang memuat biografi perawi menurutnya maka mengoreksi penukilan ulama lain dengan kitab tersebut adalah sesuatu yang lumrah. Jika kitab yang dimaksud tidak ada maka kita menerima perkataan ulama tersebut. Banyak contohnya penukilan pendapat ulama yang tidak tsabit, itu telah dijelaskan oleh para muhaqqiq.

Bukankah sudah saya kasih contoh dalam At Tahdzib Ibnu Hajar berkata Al Jauzjaniy dan Abu Fath Al Azdiy menyatakan Abu Balj tsiqat. Bisa saja saya mencukupkan diri dengan penukilan ini tetapi ternyata dalam kitab Al Jauzjaniy justru ia menyatakan Abu Balj tidak tsiqat. Maka saya katakana penukilan Ibnu Hajar itu tidak tsabit. Terus apa salahnya saya melakukan hal yang sama terhadap penukilan pendapat Bukhari.

Kita sendiri tahu salah satu sumber utama kenyataan al-Bukhari adalah dalam Ilal Al-Tirmithi Al-Kabeer.
Cuba kita perhatikan muka surat #328, Al-Tirmithi bertanyakan Al-Bukhari berkenaan sebuah hadith. Al-Bukhari menjawab Mohammed bin Fadha’a adalah lemah. Dia samada pemabuk ataupun penjual alcohol dan ayahnya majhul.
Sekarang, apabila kita rujuk kepada kitab al-Bukhari, tidak ditemui pandangan al-Bukhari ini. Kita hanya temui dia memetik Sulaiman bin Harb yang menuduh Mohammed bin Fadha’a menjual alcohol dan melemahkannya (Al-Tareekh Al-Kabeer 1/210, Al-Tareekh Al-Awsat 2/109)
Perhatikan perbandingannya, dalam Ilal Al-Tirmithi adalah pandangan al-Bukhari tapi dalam buku al-Bukhari sendiri, kita ada pandangan Sulaiman bin Harb dan tiada berkenaan dengan Fadha’a dan ayahnya yang dihukum majhul
Maka apakah kita akan menuduh Tirmidzi sebagai penipu??ataupun menolak mentah-mentah pernyataan tersebut??

Alangkah lucunya perkataan anda di atas. Apa yang anda katakan justru menjadi hujjah bagi saya. Pernyataan Bukhari memang ada dalam kitabnya, dalam hal ini Bukhari mengikuti apa yang dikatakan oleh Sulaiman bin Harb. Jarh tersebut ya memang ada dalam kitab Bukhari, hal ini menunjukkan bahwa apa yang ditulis Bukhari dalam kitabnya itu menjadi dasar bagi pendapatnya yang dikutip oleh Tirmidzi. Selain itu ada perbedaan nyata antara nukilan Tirmidzi dan Ibnu Hammad. Tirmidzi itu dikenal sebagai murid Bukhari tetapi saya tidak tahu kalau Ibnu Hammad.

Seperti yang SP sebutkan, ilmu hadith terbatas maka sepatutnya kita mengumpulkan sebanyak maklumat yang penting.
Kalam ulama tidak terbatas hanya kepada apa yang disebut dalam kitab mereka. Ia juga boleh ada dalam karya anak murid mereka
MAka kita patut menggabungkan kesemuanya dan bukan memilih apa yang kita suka

Yah mungkin anda bisa menunjukkan kepada saya bukti bahwa Ibnu Hammad termasuk salah satu murid Al Bukhari. Itu akan menjadi tambahan info bagi saya

Al-Bukhari merujuk kepada hadith yang dihujahkan dan bukannya sahaba tersebut. Al-Bukhari tidak mengomentari kredibiliti sahabah

Rasanya Bukhari itu berkata “fihi nazhar” bukan “fi isnad nazhar” atau “fi hadits nazhar”. Jika memang seperti yang anda katakan maka pernyataan “fihi nazhar” Bukhari tidak selalu berarti komentar bagi kredibilitas perawi bisa jadi itu komentar hadis tertentu dari perawi tersebut.

Realitinya bukan seperti yang Sp sebutkan. Telah tsabit dari kalam al-Bukhari sendiri dia adalah lemah. Maka al-Bukhari sering menyebut perawi lemah sebagai mutaba’ah untuk menguatkan hadith. Sudah semestinya dia tidak memasukkan al-Balj kerana kelemahannya itu

Maaf andalah yang keliru, tidak tsabit penukilan Bukhari yang melemahkan Abu Balj karena ia sendiri dalam kitabnya tentang biografi perawi tidak sedikitpun mencela Abu Balj. Ini adalah hujjah yang utama. Bagaimana bisa penukilan Ibnu Hammad itu dikatakan tsabit jika Bukharinya sendiri tidak mencela Abu Balj dan tidak juga memasukkannya dalam Adh Dhu’afa. Apa Bukhari begitu “lazy” untuk sekedar menuliskan dua kata “fihi nazhar” dalam kitabnya ketika ia menulis biografi Abu Balj?. Hujjah anda soal kemungkinan itu tidak menafikan kemungkinan yang saya katakan. Berhujjah dengan kemungkinan bukan hujjah yang kuat

Abdul Ghani seorang hafiz dan dia sedia maklum keduanya tidak sama. Dia menyebutkan Abu Balj membuat kesilapan dan menyandarkan hadith Maymun Abu Abdullah kepada Amr bin Maimun yang dikenal sebagai Abu Abdullah. Rujuk riwayat Ibnu Adiy sebelumnya

Kenapa tidak terpikir oleh anda apa dasarnya mengatakan Abu Balj keliru dalam menyebutkan nama perawi. Hadis Maimun Abu Abdullah ia riwayatkan dari Zaid bin Arqam sedangkan hadis ‘Amru bin Maimun ia riwayatkan dari Ibnu Abbas. Abu Balj tidak pernah meriwayatkan dari Maimun Abu Abdullah justru Abu Balj dikenal sering meriwayatkan dari ‘Amru bin Maimun. Jadi logika dari mana dikatakan Abu Balj salah menyebutkan nama.

Perawi yang satu bernama ‘Amru sedangkan perawi yang lain bernama Maimun. Perawi yang satu meriwayatkan dari Ibnu Abbas sedangkan perawi yang lain meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Jadi bagaimana ceritanya Abu Balj dikatakan keliru. Orang yang mengatakan keliru itu tidak memiliki hujjah atau dasar selain dugaannya saja.

Perkataan Imam Ahmad tidak mesti ada hanya dalam kitab ‘Ilalnya sama seperti Nasai’e yang tidak juga ditemui . An-Nasai juga ada mengarang kitab al-JArh wa Ta’dil

Kitab Nasa’I mana yang anda maksud, Adh Dhu’afa?. Yang benar saja kemana pikiran anda, apa anda akan menemukan nama perawi tsiqat menurut Nasa’I dalam kitabnya yang memuat perawi dhaif. Lucu sekali, lain ceritanya jika memang ada kitab Nasa’i yang secara jelas menyebutkan berbagai pendapatnya seputar perawi hadis. Silakan tampilkan saya ingin lihat

Kelemahan Abu Balj oleh imam Ahmad boleh didapati lebih dari satu sumber seperti yang disebutkan Abu Ahmad Al-Hakim (d. 378) dalam Kuna (2/352) dan Ibn Al-Jawzi (d. 592) dalam Al-Dhu’afa’a wal Matrookeen (3/196).
Menurut muhaqiq Al-Kuna, manuskrip Al-Kuna oleh Ibn Abdulbar juga memetik dari Imam Ahmad dalam melemahkan Abu Balj. Maka, apakah SP menganggap kesemua mereka salah?

Itulah fenomena nukil menukil dalam ilmu hadis. Tugas seorang peneliti ya membuktikan apakah penukilan itu tsabit atau tidak. Al Hakim dan Ibnu Jauzi itu tidak dikenal sebagai murid Ahmad bin Hanbal antara mereka terpisah jarak yang jauh. Anda tidak bisa belajar dari contoh yang saya berikan. Sebelumnya anda bilang Ibnu Jauzi dan Ibnu Abdil barr mengutip bahwa Ibnu Main mendhaifkan Abu Balj ternyata penukilan ini keliru karena justru yang tsabit adalah Ibnu Main menyatakan Abu Balj tsiqat. Maka sangat mungkin penukilan pendapat Imam Ahmad juga keliru mengingat tidak ada sanad yang tsabit sampai ke Ahmad bin Hanbal soal perkataan itu. Dalam kitab Al Ilal Ahmad bin Hanbal ada menyebutkan tentang Abu Balj atau Yahya bin Abi Sulaim tetapi tidak ada sedikitpun ia mencelanya. Maka jika ada penukilan Ahmad bin Hanbal yang mencela Abu Balj silakan buktikan penukilan itu tsabit sanadnya sampai ke Ahmad bin Hanbal.

Dia menjadi hujjah kepada sunni dan bukan shia. Sila rujuk kepada muqadimah Ahmwal ar-Rijal oleh Subhi Al-Samera’ee

Silakan perhatikan apa yang dikatakan Ibnu Hajar. Dalam Lisân Mizânnya, Ibnu Hajar berkata, “Maka sesungguhnya seorang yang jeli jika ia memperhatikan pencacatan Abu Ishaq Al Jawzjâni tehadap penduduk kota Kufah pasti ia menyaksikan hal dahsyat, yang demikian itu disebabkan ia sangat menyimpang dalam kenasibiannya, sementara penduduk kota Kufah tersohor dengan kesyi’ahnnya. Engkau tidak menyaksiannya segan-segan mencacat siapa pun dari penduduk Kufah yang ia sebut dengan lisan sadis dan redaksi lepas. Sampai-sampai ia melemahkan seorang perawi seperti al A’masy, Abu Nu’aim, Ubaidillah bin Musa dan tokoh-tokoh hadis dan pilar-pilar riwayat. [Lisan Al Mizan 1/16]. Selain Ibnu Hajar, Daruquthni dan Ibnu Ady juga menyatakan kalau Al Jawzjaniy itu seorang nashibi. Bisa dimengerti kalau para pengikut nashibi menjadikan perkataan Al jawzjaniy sebagai hujjah ya karena ia adalah ulama nashibi panutan mereka.

Sp seolah-oleh menunjukkan Al-Bukhari, Ahmad, dan Al-Jawjazani bukan ulama mutaqaddimin.
Abu Hatim mengatakan dia salih menunjukkan hadithnya tidak diterima jika dia tafarrud

Pernyataan Bukhari “fihi nazhar” itu tidak tsabit. Seandainya tsabit pun tetap saja tidak menjadi jarh yang menjatuhkan Abu Balj karena terdapat juga perawi sahih yang ditsiqatkan ulama lain dan dikatakan Bukhari fihi nazhar seperti Habib bin Salim [perawi Muslim]. Pernyataan Ahmad itu tidak tsabit dan seandainya tsabitpun maka akar permasalahannya adalah hadis yang dikatakan mungkar oleh Ahmad adalah hadis yang shahih kedudukannya dan diriwayatkan dengan banyak sanad [insya Allah kalau sempat akan saya buat takhrijnya, doakan saja]. Pernyataan Al Jawzjaniy bukan hujjah karena ia sering berlebihan mencacatkan perawi tsiqat yang dituduh syiah atau yang meriwayatkan hadis keutamaan Imam Ali. Pernyataan Abu Hatim itu adalah bentuk ta’dil dan siapa bilang Abu Balj tafarrud dalam meriwayatkan hadis di atas. Bukankah ada lagi hadis dengan matan yang sama maknanya yaitu Waliy bagi setiap mukmin sepeninggalku, silakan lihat pembahasannya dalam tulisan saya tentang hadis tersebut.

**************************

SaifulIslam, on Oktober 15, 2011 at 11:17 pmsaid:

Sp, sebelum pergi lebih jauh. Saya ingin ulas beberapa perkara yang penting dahulu

Saya lihat anda tidak konsisten dalam hujah yang anda berikan.

Pada awalnya anda menolak kenyataan al-Bukhari kerana ia tidak ada dalam kitab karangannya sendiri dan nukilan ulama lain tidak boleh diterima kerana boleh berlaku kesilapan

Dalam masa yang sama, anda menerima kalam an-Nasa’i walaupun ia tidak ditemui dalam kitab yang ditulis sendiri oleh beliau dan tidak disandarkan kepada beliau dengan sanad

Kemudiannya, anda boleh menerima kalam al-Bukhari tapi dengan syarat ia mesti dari anak murid beliau dan anda tidak tahu samada Ibnu Hammad adalah anak murid beliau

Hakikatnya, Ibnu Hammad adalah anak murid al-Bukhari dan merupakan salah satu perawi utama kitab Al-Dhu’afa’ Al-Sagheer. Rujuk muqadimah Fathul al-Bari

Keduanya, al-Nasaie mempunyai kitab yang berjudul Al-Jarh wal Ta’deel dimana dia menguatkan perawi dan merujuknya sebagai tsiqaat. Salah satu contoh ialah Sa’eed bin Hakeem. Rujuk Tahtheeb Al-Tahtheeb berkenaan hal ini

********************

Sunnah, on Oktober 16, 2011 at 12:37 amsaid:

Sp,

Bukankah terdapat hadith sahih nabi ingin melantik Abu Bakar sebagai pengantinya

Narrated Al-Qasim bin Muhammad:

‘Aisha, (complaining of headache) said, “Oh, my head”! Allah’s Apostle said, “I wish that had happened while I was still living, for then I would ask Allah’s Forgiveness for you and invoke Allah for you.”

Aisha said, “Wa thuklayah! By Allah, I think you want me to die; and If this should happen, you would spend the last part of the day sleeping with one of your wives!” The Prophet said, “Nay, I should say, ‘Oh my head!’ I felt like sending for Abu Bakr and his son, and appoint him as my successor lest some people claimed something or some others wished something, but then I said (to myself), ‘Allah would not allow it to be otherwise, and the Muslims would prevent it to be otherwise”.

(Sahih alBukhari – Book #70, Hadith #570)

***************************

secondprince, on Oktober 16, 2011 at 1:22 amsaid:

@SaifulIslam

Sp, sebelum pergi lebih jauh. Saya ingin ulas beberapa perkara yang penting dahulu
Saya lihat anda tidak konsisten dalam hujah yang anda berikan.

Silakan cek kembali komentar saya dan silakan pahami kata-kata yang saya gunakan. Saya masih maklum kalau anda tidak begitu memahami bahasa yang saya gunakan, apa daya saya tak pandai bahasa “seberang”.

Pada awalnya anda menolak kenyataan al-Bukhari kerana ia tidak ada dalam kitab karangannya sendiri dan nukilan ulama lain tidak boleh diterima kerana boleh berlaku kesilapan

Anehnya saya tidak mengerti apa yang anda maksud dari kata “tidak boleh diterima”. Meragukan suatu penukilan itu wajar-wajar saja jika penukilan tersebut tidak terdapat dalam kitab Ulama yang dinukil. Saya tidak menyatakan mutlak semua penukilan tidak diterima. Dan harap anda juga perhatikan ada perbedaan yang nyata dari dua fenomena berikut. Perawi yang memang tidak disebutkan dari kitab tersebut dan perawi yang disebutkan tetapi nukilannya tidak ada.

Dalam masa yang sama, anda menerima kalam an-Nasa’i walaupun ia tidak ditemui dalam kitab yang ditulis sendiri oleh beliau dan tidak disandarkan kepada beliau dengan sanad

Pertama, apa masalahnya dengan itu. Kalau itu anda katakan tidak konsisten maka ilmu hadis pun sebenarnya gak konsisten. Mengapa? karena dalam ilmu hadis penta’dilan itu tidak diperlukan alasan tetapi jarh diperlukan alasan yang jelas [mufassar]. So dalam ilmu hadis jika terdapat nukilan penta’dilan dan jarh maka metode penetapan jarh lebih ketat dari penetapan ta’dil.

Kedua, kitab Nasa’I yang ada pada saya memang Ad Dhu’afa. Lah kalau memang situ punya kitab lain ya silakan cek ada tidak disebutkan nama Abu Balj dan apa pendapat Nasa’i tentangnya.

Kemudiannya, anda boleh menerima kalam al-Bukhari tapi dengan syarat ia mesti dari anak murid beliau dan anda tidak tahu samada Ibnu Hammad adalah anak murid beliau

Maaf kapan saya menetapkan begitu, komentar saya sebelumnya terkait dengan hujjah anda yang mengutip riwayat Tirmidzi dari Bukhari. Nah saya bandingkan dengan riwayat Ibnu Hammad dari Bukhari [yang anda kutip]. Saya katakana ada perbedaan nyata antara keduanya, pada riwayat itu Tirmidzi dikenal sebagai murid Bukhari sedangkan Ibnu Hammad pada awalnya saya tidak tahu siapa dia dan riwayatnya dari Bukhari itu seperti riwayat pengutipan bukan riwayat langsung [saya lihat sighat-nya yang memang berbunyi “Bukhari berkata”]

Hakikatnya, Ibnu Hammad adalah anak murid al-Bukhari dan merupakan salah satu perawi utama kitab Al-Dhu’afa’ Al-Sagheer. Rujuk muqadimah Fathul al-Bari

Sudah saya cek ternyata Ibnu Hammad itu adalah Muhammad bin Ahmad bin Hammad Ad Duulabiy. Memang disebutkan ia salah satu perawi kitab Ad Dhu’afa Ash Shaghiir tetapi anehnya dalam kitab Adh Dhuafa tidak ada disebutkan Abu Balj, tanya kenapa?. Btw sekedar info tuh buat anda dan sahabat tercinta anda itu “si Farid” silakan baca kutipan ini [kalian kan ahlinya kritik pakai kutip mengutip]

قال أبو سعيد بن يونس كان أبو بشر من أهل الصنعة وكان يضعف

Abu Sa’id bin Yunus berkata Abu Bisyr termasuk penduduk Shan’ah dan ia telah didhaifkan

Adz Dzahabi memasukkan Ibnu Hammad dalam Mughni Adh Dhu’afa no 5255 dan berkata

محمد بن أحمد بن حماد الحافظ أبو بشر الدولابي قال الدارقطني تكلموا فيه

Muhammad bin Ahmad bin Hammad Al Hafizh Abu Bisyr Ad Duulabiy, Daruquthni berkata “ia telah diperbincangkan”

Kedua kutipan di atas adalah bentuk jarh dan bagaimana menurut anda dan [saudara Farid] soal kutipan di atas. Kalian mau cari-cari alasan pembelaan ya silakan :mrgreen:

Saya tetap konsisten dari awal. Hujjah utama saya adalah ya apa yang tertulis ulama dalam kitabnya dalam hal ini Bukhari dalam Tarikh Al Kabir. Ia menyebutkan Abu Balj tidak menjarh-nya bahkan menegaskan kalau Syu’bah meriwayatkan darinya. Ini adalah indikasi ta’dil, yah anda kan tidak akan mengharap Bukhari berkata “tsiqat” dalam kitab-kitabnya :mrgreen:

Saya pribadi bukan pertama kalinya menghadapi kasus penukilan seperti ini. Nah ada yang lumayan mirip dengan kasus Abu Balj ini yaitu soal perawi yang bernama Sa’id bin Zaid

نا عباس الدوري قال سمعت يحيى بن معين يقول: سعيد بن زيد اخو حماد بن زيد ليس بقوى

[Abu Hatim berkata] telah menceritakan kepada kami ‘Abbas Ad Duuriy yang berkata aku mendengar Yahya bin Ma’in mengatakan Sa’id bin Zaid saudara Hammad bin Zaid “tidak kuat”. [Al Jarh Wat Ta’dil 4/21 no 87]

Tetapi dalam kitabnya Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy yang tertulis adalah berikut

سمعت يحيى يقول سعيد بن زيد أخو حماد بن زيد ثقة

[Ad Duuriy] berkata “aku mendengar Yahya mengatakan Sa’id bin Zaid saudara Hammad bin Zaid tsiqat” [Tarikh Ibnu Ma’in no 3851]

Yang menjadi hujjah jelas apa yang tertulis dalam kitab Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy sedangkan riwayat Abu Hatim walaupun bersanad langsung kepada Ad Duuriy keliru. Ini Cuma contoh mengapa kami katakan hujjah utama adalah apa yang tertulis dalam kitab ulama yang bersangkutan.

Keduanya, al-Nasaie mempunyai kitab yang berjudul Al-Jarh wal Ta’deel dimana dia menguatkan perawi dan merujuknya sebagai tsiqaat. Salah satu contoh ialah Sa’eed bin Hakeem. Rujuk Tahtheeb Al-Tahtheeb berkenaan hal ini

Lha silakan kalau anda memang punya kitab tersebut, silakan cek apakah Abu Balj ada di dalamnya?. Kalau ada maka apa yang dikatakan Nasa’i tentangnya. Ngapain anda minta saya rujuk kitab At Tahdzib, seharusnya yang dirujuk ya kitab yang anda sebut “Al Jarh Wal Ta’dil”. Pertanyaan saya, ada tidak nama Abu Balj dalam kitab tersebut?.

Btw walaupun diskusi ini arahnya sudah tidak jelas, saya tetap akan menyesuaikan saja. Walaupun begitu tidak ada salahnya saya katakan satu permasalahan lagi buat anda para nashibi, penta’dilan terhadap Abu Balj itu sudah tsabit sedangkan jarh terhadapnya jika memang tsabit bukan jarh mufassar melainkan jarh mubham. Sedangkan soal hadis Abu Balj yang dikatakan mungkar atau khata’ maaf itu tidak terbukti karena ulama lain yang telah mengumpulkan sanad-sanadnya menyatakan hadis tersebut shahih [seperti Ibnu Hajar dan Asy Syaukani]. Pernyataan mereka berdua memang terbukti dari thuruq hadis tersebut sedangkan pernyataan mungkar dan khata’ itu cuma perkataan tanpa bukti alias dugaan semata. Dalam ilmu hadis ta’dil lebih didahulukan daripada jarh mubham.

*****************

secondprince, on Oktober 16, 2011 at 1:37 amsaid:

@Sunnah

Bukankah terdapat hadith sahih nabi ingin melantik Abu Bakar sebagai pengantinya

Narrated Al-Qasim bin Muhammad:

‘Aisha, (complaining of headache) said, “Oh, my head”! Allah’s Apostle said, “I wish that had happened while I was still living, for then I would ask Allah’s Forgiveness for you and invoke Allah for you.”

Aisha said, “Wa thuklayah! By Allah, I think you want me to die; and If this should happen, you would spend the last part of the day sleeping with one of your wives!” The Prophet said, “Nay, I should say, ‘Oh my head!’ I felt like sending for Abu Bakr and his son, and appoint him as my successor lest some people claimed something or some others wished something, but then I said (to myself), ‘Allah would not allow it to be otherwise, and the Muslims would prevent it to be otherwise”.

(Sahih alBukhari – Book #70, Hadith #570)

Perkataan “and appoint him as my successor ” itu muncul dari mana. Coba anda lihat teks arabnya, apa benar artinya begitu. Banyak nashibi menuduh syiah berdusta tetapi faktanya nashibi pendusta juga

**********************

Sunnah, on Oktober 16, 2011 at 6:47 amsaid:

Hadith di atas tu ada versi yang lainnya

ادعي أبا بكر أباك ، و أخاك ، حتى أكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمن ، و يقول قائل : أنا أولى ، و يأبى الله و المؤمنون إلا أبا بكر
الراوي: عائشة المحدث: الألباني – المصدر: صحيح الجامع – الصفحة أو الرقم: 247
خلاصة حكم المحدث: صحيح

**************************

Saifulislam, on Oktober 16, 2011 at 7:05 amsaid:

Sp katakan,

Pertama, apa masalahnya dengan itu. Kalau itu anda katakan tidak konsisten maka ilmu hadis pun sebenarnya gak konsisten. Mengapa? karena dalam ilmu hadis penta’dilan itu tidak diperlukan alasan tetapi jarh diperlukan alasan yang jelas [mufassar]. So dalam ilmu hadis jika terdapat nukilan penta’dilan dan jarh maka metode penetapan jarh lebih ketat dari penetapan ta’dil.

Ulasan saya

Ulasan Sp tidak tepat. Apakah ini menunjukkan untuk penta’dilan tidak langsung diperlukan sumber tapi untuk jarh mesti dibutuhkan??

Sp katakan,

Sudah saya cek ternyata Ibnu Hammad itu adalah Muhammad bin Ahmad bin Hammad Ad Duulabiy. Memang disebutkan ia salah satu perawi kitab Ad Dhu’afa Ash Shaghiir tetapi anehnya dalam kitab Adh Dhuafa tidak ada disebutkan Abu Balj, tanya kenapa?

Ulasan saya

Seperti yang disebutkan, bukan semuanya mesti terdapat dalam kitab ulama tersebut. Boleh saja ia datang dalam bentuk periwayatan. Tambahan, versi al-Dhu’afa yang kita ada hari ini bukanlah riwayat al-Dulabi

Sp katakan,
Kedua kutipan di atas adalah bentuk jarh dan bagaimana menurut anda dan [saudara Farid] soal kutipan di atas. Kalian mau cari-cari alasan pembelaan ya silakan

Ulasan saya

Sekali lagi Sp telah berubah pandangan. Sp tidak menerima pernyataan verbal pada mulanya, kini Sp menerimanya tapi menolak al-Dulabi

Hakikatnya, kenyataan al-Dulabi sudah memadai bagi ulama menerima beliau sebagai tsiqa

Ibn Qotlobogha menyebutkan dala Al-Thiqaat (8/123) memetik Ibn Yunus yang berkata:

كان من أهل الصنعة، حسن التصنيف، وله بالحديث معرفة، وكان يصحف

Al-Daraqutni mengatakan:

تكلموا فيه، ما تبين من أمره إلا خير.

Tautheeq ulama sangat jelas hinggakan dia menjadi salah satu sumber utama al-Bukhari dalam pandangan ulama awal

Sp katakan

Lha silakan kalau anda memang punya kitab tersebut, silakan cek apakah Abu Balj ada di dalamnya?. Kalau ada maka apa yang dikatakan Nasa’i tentangnya. Ngapain anda minta saya rujuk kitab At Tahdzib, seharusnya yang dirujuk ya kitab yang anda sebut “Al Jarh Wal Ta’dil”. Pertanyaan saya, ada tidak nama Abu Balj dalam kitab tersebut?.

Ulasan saya

Kitab ini tidak lagi wujud tapi itulah hujah saya. Sp melemahkan kenyataan al-Bukhari dan Ahmad hanya kerana ia tidak ada dalam kitab beliau tapi dalam masa yang An-Nasa’I juga mempunyai kitab yang tidak sampai kepada kita.

Sp katakan

Dalam ilmu hadis ta’dil lebih didahulukan daripada jarh mubham.

Ulasan saya

Ini tidak benar. Biarpun jarh mufassar diutamakan dari ta’dil tapi itu bukanlah bererti ta’dil diutamakan dari jarh mubham. Jika tidak, kebanyakan perawi yang dianggap lemah akan menjadi tsiqaat

***************************

secondprince, on Oktober 16, 2011 at 8:30 amsaid:

@SaifulIslam

Ulasan Sp tidak tepat. Apakah ini menunjukkan untuk penta’dilan tidak langsung diperlukan sumber tapi untuk jarh mesti dibutuhkan??

Tepat atau tidak itu terserah sampean. Poin yang saya tanggapi adalah “inkonsistensi” yang anda sebutkan. Bagi saya apa masalahnya kalau metode untuk menetapkan jarh lebih kuat dari metode penetapan ta’dil. Dalam ilmu hadis hasil akhir kesimpulan perawi digunakan kaidah ta’dil didahulukan dari jarh mubham kecuali jika jarh-nya mufassar maka jarh tersebut didahulukan. Untuk mengugurkan ta’dil maka diperlukan jarh yang tsabit dan mufassar, bukankah ini sesuai dengan metode ilmu hadis bukannya dibalik untuk menggugurkan jarh maka diperlukan ta’dil yang tsabit dan mufassar. Kalau anda punya kaidah ilmu sendiri ya silakan saja

Seperti yang disebutkan, bukan semuanya mesti terdapat dalam kitab ulama tersebut. Boleh saja ia datang dalam bentuk periwayatan. Tambahan, versi al-Dhu’afa yang kita ada hari ini bukanlah riwayat al-Dulabi

Hey tolong bangun, sepertinya anda ini menggerutu soal yang bahkan tidak pernah saya nyatakan. Saya tidak pernah menolak periwayatan tetapi akar permasalahan yang kita bahas awalnya soal penukilan yang tidak tsabit. Silakan saja anda membawakan riwayat Ibnu Hammad dari Bukhari tetapi saya berhujjah dengan apa yang ditulis Bukhari dalam kitabnya. Yang mana yang lebih kuat, silakan anda jawab sendiri.

Sekali lagi Sp telah berubah pandangan. Sp tidak menerima pernyataan verbal pada mulanya, kini Sp menerimanya tapi menolak al-Dulabi

Sekali lagi betapa menyedihkan akal anda dalam menangkap apa yang saya katakan. Pandangan saya yang mana yang berubah. Sejak tadi itu itu saja, anda saja yang mempersepsi begitu. Anda mempersepsi sendiri kemudian menisbatkan persepsi itu kepada saya. Kapan saya katakan tidak menerima pernyataan verbal, itu kan ocehan anda saja. Awalnya kita bicara soal penukilan, sebelumnya saya anggap Ibnu Hammad itu cuma menukil perkataan Bukhari secara saya tidak tahu siapa dia tetapi setelah tahu bahwa ia adalah Ad Duulabiy maka saya bawakan kutipan jarh terhadapan Ad Duulabiy itu sebagai hadiah buat anda.Karena orang seperti anda suka melemahkan perawi hanya dengan menukil jarh terhadap perawi tersebut maka silakan lemahkan juga Ad Duulabiy

Pandangan saya sendiri dari semula tetap apa yang ditulis Bukhari dalam kitabnya adalah hujjah yang utama. Bukankah sudah saya kasih contoh, sebagaimana Abu Hatim bisa tersilap soal riwayat dari Ad Duuriy maka Ad Duulabiy bisa juga tersilap soal riwayat dari Bukhari. Apa buktinya, silakan lihat apa yang ditulis Bukhari dalam kitabnya tidak ada sebutan “fihi nazhar”

Hakikatnya, kenyataan al-Dulabi sudah memadai bagi ulama menerima beliau sebagai tsiqa

Ucapan apa ini, kalau anda diskusi dengan patung lha iya maka anda bisa berucap sesuka hatinya. Mengapa tidak anda katakan kenyataan Abu Balj sudah memadai bagi ulama yang menerima beliau sebagi tsiqat. Sebagaimana anda melemparkan pendapat yang menjarh Ad Dulabi maka silakan lempar juga pendapat yang menjarh Abu Balj. Siapa nih yang sebenarnya inkonsisten

Ibn Qotlobogha menyebutkan dala Al-Thiqaat (8/123) memetik Ibn Yunus yang berkata:
كان من أهل الصنعة، حسن التصنيف، وله بالحديث معرفة، وكان يصحف
Al-Daraqutni mengatakan:
تكلموا فيه، ما تبين من أمره إلا خير
Tautheeq ulama sangat jelas hinggakan dia menjadi salah satu sumber utama al-Bukhari dalam pandangan ulama awal

Masih tidak mengerti juga, tinggal saya ulang taustiq ulama awal terhadap Abu Balj itu sudah sangat jelas hingga para ulama menshahihkan hadisnya. Hanya saja ketika ia meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul Bait muncul pendapat pendapat nyeleneh bin ajaib. Yang saya herankan mau anda kemanakan pendapat yang melemahkan Ad Duulabiy, apa dasar anda menafikannya hanya karena ada ulama yang menta’dilkan Ad Duulabiy kalau begitu seharusnya begitu juga dalam kasus Abu Balj ya nafikan saja pendapat yang melemahkan Abu Balj karena banyak ulama yang menta’dilkan Abu Balj. Disini Ad Duulabiy anda katakan tsiqat tetapi Abu Balj anda katakan dhaif.

Kitab ini tidak lagi wujud tapi itulah hujah saya. Sp melemahkan kenyataan al-Bukhari dan Ahmad hanya kerana ia tidak ada dalam kitab beliau tapi dalam masa yang An-Nasa’I juga mempunyai kitab yang tidak sampai kepada kita.

Astaga, ternyata anda masih belum mengerti juga. Wajar saja anda muter muter disitu. Saya tidak pernah menafikan penukilan ulama terhadap ulama lain tetapi jika ulama yang dinukil memiliki kitab dimana ia menuliskan pendapatnya maka merujuk pada kitab tersebut adalah lebih utama dibanding penukilan. Itulah yang saya lakukan dalam kasus Bukhari terhadap Abu Balj. Tidak ada gunanya anda mempertikaikan kutipan An Nasa’I secara anda katakan sendiri kitab tersebut tidak lagi wujud jadi tidak ada yang bisa kita rujuk dari kitab yang ditulis Nasa’i. Kasihan sekali kalau masih tidak mengerti.

Ini tidak benar. Biarpun jarh mufassar diutamakan dari ta’dil tapi itu bukanlah bererti ta’dil diutamakan dari jarh mubham. Jika tidak, kebanyakan perawi yang dianggap lemah akan menjadi tsiqaat

Jadi apa yang benar, jarh mubham diutamakan dari ta’dil? Kalau begitu gak usah ada kaidah jarh mufassar diutamakan dari ta’dil toh setiap jarh diutamakan daripada ta’dil. Praktekkan saja tuh, Ad Duulabiy ternukil pendapat yang menjarah-nya maka ini lebih diutamakan dari ta’dil. Nah itulah konsekuensi perkataan anda. Justru dengan perkataan anda maka banyak perawi tsiqat [bahkan perawi shahih] menjadi dhaif. Lucu sekali, tampaknya untuk membantah hujjah orang-orang seperti anda saya hanya cukup mengikuti cara berhujjah yang anda pakai.

****************************

secondprince, on Oktober 16, 2011 at 8:49 amsaid:

@Sunnah

Hadith di atas tu ada versi yang lainnya

ادعي أبا بكر أباك ، و أخاك ، حتى أكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمن ، و يقول قائل : أنا أولى ، و يأبى الله و المؤمنون إلا أبا بكر
الراوي: عائشة المحدث: الألباني – المصدر: صحيح الجامع – الصفحة أو الرقم: 247
خلاصة حكم المحدث: صحيح

Maaf apa saudara tidak bisa membaca komentar saya. Sebelumnya saya katakan Perkataan “and appoint him as my successor ” itu muncul dari mana. Lafaz mana dari arab yang anda kutip memiliki arti seperti itu

******************

Sunnah, on Oktober 17, 2011 at 4:47 pmsaid:

Sp,

Berkenaan dengan perntanyaan anda, baik ditanya kepada penterjemah Sahih al-Bukhari dalam english. Bisa saja dia tersilap atau terkeliru dengan lafaz-lafaz yang lain

Kini saya bertanyakan hadith yang berikut

ادعي أبا بكر أباك ، و أخاك ، حتى أكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمن ، و يقول قائل : أنا أولى ، و يأبى الله و المؤمنون إلا أبا بكر

الراوي: عائشة المحدث: الألباني – المصدر: صحيح الجامع – الصفحة أو الرقم: 247
خلاصة حكم المحدث: صحيح

The prophet SAWS told ‘Aisha (ra): Call your father Abu Bakr and your brother so that I may write them a book, I fear that someone might wish for it and say “I am more worthy” however Allah and the believers will not accept anyone other than Abu Bakr.
source: Sahih al-Jami’i 247.

**********************

Saifulislam, on Oktober 17, 2011 at 5:20 pmsaid:

Sp katakan,

Tidak ada gunanya anda mempertikaikan kutipan An Nasa’I secara anda katakan sendiri kitab tersebut tidak lagi wujud jadi tidak ada yang bisa kita rujuk dari kitab yang ditulis Nasa’i. Kasihan sekali kalau masih tidak mengerti.

Ulasan saya

Sebagian kitab al-Bukhari juga telah hilang seperti Al-Dhu’afa’a Al-Kabeer dan Al-Dhu’afa’a Al-Sagheer dengan periwayatn al-Dulabi
Anda mengkritik saya kerana tidak menerima tauthiq Abu Balj sedangkan dalam post yang sebelumnya telahpun dibawakan pandangan mereka yang menyakini kestiqahannya. Saya memilih pandangan Ibnu Hibban yang lebih seimbang.

Sp katakan

Jadi apa yang benar, jarh mubham diutamakan dari ta’dil?

Ulasan saya

Dengan melihat kepada qara’in. Jika majoriti melemahkan seorang perawi dengan jarh mubham maka ia diterima. Jika mereka yang memberikan ta’dil termasuk dikalangan yang lembut maka penjarahan lebih diterima.

**********************

secondprince, on Oktober 17, 2011 at 9:58 pmsaid:

@SaifulIslam

Sebagian kitab al-Bukhari juga telah hilang seperti Al-Dhu’afa’a Al-Kabeer dan Al-Dhu’afa’a Al-Sagheer dengan periwayatn al-Dulabi

Ini jawaban orang ngedumel. Saya heran kok anda tidak paham pokok permasalahan yang saya jadikan hujjah. Anda malah sibuk mempertikaikan kalimat saya dan mencari bantahannya. Saya katakana lha iya memang ada kitab Bukhari yang juga telah hilang jadi kenapa?. Apa itu meruntuhkan hujjah saya? Tidak. Kitab yang hilang ya tidak bisa kita rujuk, kitab yang ada itulah yang harus kita rujuk. Itulah pendekatan secara metodologis. Jika anda tidak setuju dengan metode yang saya jadikan hujjah ya silakan. Ambil saja jarh “fihi nazhar” Bukhari itu untuk anda jadikan hujjah dan itu sedikitpun tidak mengganggu hujjah saya karena kalimat “fihi nazhar” di sisi Bukhari tidak selalu bersifat “jarh syadid” bahkan bisa juga ditujukan Bukhari untuk perawi dita’dilkannya. Selain itu dari segi jenis jarh-nya, “fihi nazhar” adalah jarh mubham bukan jarh mufassar. Silakan anda belajar ilmu musthalah hadis untuk mengetahui secara detailnya.

Anda mengkritik saya kerana tidak menerima tauthiq Abu Balj sedangkan dalam post yang sebelumnya telahpun dibawakan pandangan mereka yang menyakini kestiqahannya. Saya memilih pandangan Ibnu Hibban yang lebih seimbang.

Pandangan Ibnu Hibban itu keliru, silakan anda lihat Ibnu Hibban memasukkannya dalam Adh Dhu’afa dan mengutip riwayat sebagai bukti khata’ Abu Balj. Kekeliruan Ibnu Hibban sangat jelas karena hadis yang ia sebutkan itu telah dikuatkan oleh para ulama seperti At Tirmidzi dan Ibnu Thahir. Hadis-hadis Abu Balj lain yang dinyatakan mungkarpun tidak terbukti karena memiliki syawahid dan tidak ada bukti kemungkarannya.

Dengan melihat kepada qara’in. Jika majoriti melemahkan seorang perawi dengan jarh mubham maka ia diterima. Jika mereka yang memberikan ta’dil termasuk dikalangan yang lembut maka penjarahan lebih diterima.

Lha itu berarti anda gak ngerti saya bicarakan. Saya belum membicarakan soal “mayoritas” atau “sedikit” saya bicarakan dari segi kaidah ta’dil lebih didahulukan daripada jarh mubham dan jarh mufassar lebih didahulukan daripada ta’dil. Ini yang dibicarakan soal kaidahnya, Selain kaidah itu ya ada pula soal lain misalnya mengenai kualitas ulama yang menjarh dan menta’dil itu kan macam-macam. Ada yang pertengahan, ada yang tasahul dan ada yang berlebihan atau terlalu ketat, kemudian bagaimana tingkatan jarh atau ta’dil yang diberikan ulama-ulama tersebut. Termasuk soal lainnya adalah jumlah ulama yang menjarh dan menta’dil dan dari kalangan mana ulama tersebut apakah mutaqaddimin atau mutaakhirin .

Kita gak usah panjang-panjang bicara soal metode [bisa lama]. Langsung to the point, si Abu Balj ini anda simpulkan bagaimana keadaannya. Kalau anda katakan ia tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud maka ia tidak tafarrud dalam meriwayatkan hadis tersebut. Kalau pandangan saya, ia jelas tsiqat karena tuduhan terhadapnya tidak tsabit [itu jika anda menelitinya dengan baik dan objektif bukan asal menukil ini itu]. Case closed kecuali kalau anda mau komentar “siklik” lagi ya silakan :mrgreen:

*******************

secondprince, on Oktober 17, 2011 at 11:25 pmsaid:

@Sunnah

Berkenaan dengan perntanyaan anda, baik ditanya kepada penterjemah Sahih al-Bukhari dalam english. Bisa saja dia tersilap atau terkeliru dengan lafaz-lafaz yang lain

Heh bukannya anda yang menampilkan hadis tersebut dalam bahasa inggris kok nyuruh saya nanya penerjemahnya. Kalau saya yang buat ya iya, lha ini anda yang buat. Aneh sepertinya anda suka sekali membantah bukannya mengakui kalau salah menerjemahkan atau kalau anda tidak mau mengakui salah menerjemahkan maka silakan akui kalau anda berdusta. Kalau orang tidak sepaham dengan anda, akan mudah sekali anda tuduh bodoh, taqiyyah, syiah, rafidhah, munafik, pendusta tetapi jika diri anda terbukti seperti di atas, anda berkelit melemparkan kesalahan pada orang lain yang tidak jelas. Anehnya diri anda wahai nashibi

Kini saya bertanyakan hadith yang berikut
The prophet SAWS told ‘Aisha (ra): Call your father Abu Bakr and your brother so that I may write them a book, I fear that someone might wish for it and say “I am more worthy” however Allah and the believers will not accept anyone other than Abu Bakr.
source: Sahih al-Jami’i 247.

Tepatnya apa yang akan anda tanya. Tulisan saya di atas membicarakan soal Imam Ali menjadi pemimpin sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tidak ada dalam lafaz hadis yang anda sebutkan keterangan yang membatalkan hadis yang saya jadikan hujjah di atas. Lain ceritanya jika anda tidak bisa membedakan lafaz hadisnya dengan persepsi anda soal hadis tersebut. Silakan terangkan lebih jelas apa hujjah anda dengan hadis Bukhari yang anda kutip baru kemudian akan saya tanggapi.

***********************

RIAN, on Oktober 16, 2011 at 8:26 pmsaid:

@Sp….

Just curios…Apakah hadits hadits ttg keutamaan Ahlul bait dilemahkan selama ini dgn modus seperti ini. dilemahkan dgn pernyataan yg tdk berdasar atau mengatasnakan Jarh pada satu ulama Hadits padahal tdk ada dalam kitabnya.

selain modus lain dengan menjarh karena mereka mencintai Ahlul bait..? sorry OOT hihihiihihii

*********************

secondprince, on Oktober 17, 2011 at 11:51 pmsaid:

@Rian

Just curios…Apakah hadits hadits ttg keutamaan Ahlul bait dilemahkan selama ini dgn modus seperti ini. dilemahkan dgn pernyataan yg tdk berdasar atau mengatasnakan Jarh pada satu ulama Hadits padahal tdk ada dalam kitabnya.

selain modus lain dengan menjarh karena mereka mencintai Ahlul bait..? sorry OOT hihihiihihii

Yah macam-macam modus mereka kan tergantung orangnya tetapi kalau yang dibicarakan adalah orang yang sedang diskusi tidak langsung dengan saya seperti efendi farid dan nashibi lainnya mereka suka melemahkan hadis keutamaan ahlul bait hanya dengan mengutip jarh ulama terhadap perawinya. Padahal hampir sebagian besar perawi bahkan perawi shahih pasti ada saja ternukil ulama yang menjarh-nya. Mereka ingin hadis shahih itu perawinya adalah perawi yang “zero jarh-nya”

Modus lain adalah mereka suka mengkritik sanad hadis satu-satu seolah-olah hadis-hadis tersebut terpisah satu dengan lainnya sehingga jika setiap sanad tidak ada satupun yang selamat dari kritik maka dhaiflah hadis tersebut. Ini penyakit khas mereka kaum nashibi, kaidah seperti ini tidak ada dalam ilmu hadis. Hadis dengan pembahasan atau matan yang sama harus dikumpulkan jalan-jalannya walaupun tiap jalan mengandung kelemahan tetap dinilai apakah kelamahan itu saling menguatkan sehingga kedudukannya bisa terangkat menjadi hasan atau shahih sehingga dalam ilmu hadis dikenal istilah hasan lighairihi dan shahih lighairihi

******************

Komen dan diskusi selanjutnya silahkan berkunjung langsung KESINI


***********************

ARTIKEL TERKAIT

  1. Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait
  2. Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya
  3. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)
  4. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)
  5. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)
  6. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)
  7. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)
  8. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir)
  9. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kekhalifahan Sunni)
  10. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis 12 Khalifah)
  11. Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali

___________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: