Hadis Tsaqalain : Membantah Syubhat Nashibi Terhadap Lafaz “Bihi”

Hadis Tsaqalain : Membantah Syubhat Nashibi Terhadap Lafaz “Bihi”

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar

Pembahasan ini bukan hal yang baru tetapi kami berinisiatif membahasnya secara khusus karena semakin lama kami melihat banyak “para pengingkar” menjadikan syubhat ini untuk menyimpangkan makna hadis Tsaqalain. Pada dasarnya mereka cuma mengekor atau taklid pada syubhat yang disebarkan oleh orang yang mereka anggap “ustadz”. Orang yang menurut mereka “berilmu ala salafus salih” tetapi maaf saja cara berhujjahnya dalam perkara ini seperti “orang yang tidak paham bahasa Arab”.

Diantara mereka yang pernah berhujjah dengan syubhat “bihi” adalah Efendi, seorang antisyiah yang kebablasan kemudian diikuti oleh para muqallidnya di forum-forum diskusi [baik yang Arabic or English]. Syubhat ini juga dilontarkan oleh orang yang menyebut dirinya Abul-Jauzaa’ dalam salah satu artikel ngawurnya yang diikuti dan dikopipaste oleh para muqallidnya [seperti alfanarku dkk].

حَدَّثَنَا يحيى قَال حَدَّثَنَا جرير عن الحسن بن عبيد الله عن أبي الضحى عن زيد بن أرقم قَال النبي صلى الله عليه وسلم إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا كتاب الله عز وجل وعترتي أهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض

Telah menceritakan kepada kami Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hasan bin Ubaidillah  dari Abi Dhuha dari Zaid bin Arqam yang berkata Nabi SAW bersabda “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang-teguh kepadanya maka kalian tidak akan sesat yaitu Kitab Allah azza wa jalla dan ItrahKu Ahlul Baitku dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaKu di Al Haudh [Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 1/536]

Mereka mengatakan bahwa lafaz “bihi” [dengan-nya] pada “maa in tamassaktum bihi” [apa yang jika kalian berpegang teguh dengannya] hanya merujuk pada Kitab Allah saja karena kalau merujuk pada keduanya [kitab Allah dan Ahlul Bait] maka lafaz yang dipakai adalah “bihima” [dengan keduanya]. Intinya mereka mau menyimpangkan hadis Tsaqalain agar bermakna perintah berpegang teguh kepada kitab Allah saja dan tidak kepada Ahlul Bait.

Syubhat ini bisa dibilang “murahan” atau “rendahan”. Kata “bihi” [dengan-nya] merujuk pada kata “maa” [apa] yaitu sesuatu yang dinyatakan harus dipegang teguh. Jadi “nya” itu kembali pada sesuatu. Sesuatu ini jumlahnya bisa berapa saja tergantung dengan lafaz selanjutnya, dalam hadis Tsaqalain di atas disebutkan kalau sesuatu yang harus dipegang teguh itu ada dua yaitu Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jadi disini sifat berpegang teguh itu berlaku pada masing-masing yang disebutkan Nabi SAW yaitu Kitab Allah dan Ahlul Bait.

Penggunaan lafaz seperti ini adalah sesuatu yang ma’ruf dari segi bahasa arab. Mereka yang mempermasalahkannya hanya menunjukkan “kelemahan akal” dalam berhujjah, anehnya hal itu dilontarkan oleh orang yang alim di sisi mereka. Silakan perhatikan hadis berikut

حدثنا يحيى بن أيوب وقتيبة وابن حجر جميعا عن إسماعيل بن جعفر قال ابن أيوب حدثنا إسماعيل أخبرني العلاء عن أبيه عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ويرفع به الدرجات ؟ قالوا بلى يا رسول الله قال إسباغ الوضوء على المكاره وكثرة الخطا إلى المساجد وانتظار الصلاة بعد الصلاة فذلكم الرباط

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayub, Qutaibah dan Ibnu Hujr semuanya dari Ismail bin Ja’far. Ibnu Ayub berkata telah menceritakan kepada kami Ismail yang berkata telah mengabarkan kepadaku Al Alaa’ dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan kesalahan dan dengannya Allah mengangkat derajat?. Mereka berkata “tentu wahai Rasulullah”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Menyempurnakan wudhu di saat kesukaran, banyak berjalan menuju masjid dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat maka itulah ribath [Shahih Muslim 1/219 no 251]

Perhatikan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “maa yamhullaahu bihi khathaayaa” dan “wa yarfa’u bihi darajaat”. Lafaz “bihi” ini kembali pada “maa” atau sesuatu yang disifati oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa dengannya bisa menghapus kesalahan dan mengangkat derajat. Sesuatu itu ternyata tidak tunggal atau satu melainkan ada tiga hal yaitu

  1. Menyempurnakan wudhu’ saat keadaan sukar
  2. Banyak berjalan menuju masjid
  3. Menunggu shalat berikutnya setelah shalat.

Tiga hal inilah yang dimaksud oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan lafaz “bihi”. Lafaz ini dimengerti bahwa pada ketiga hal itu masing-masing berlaku dengannya Allah SWT menghapus kesalahan dan mengangkat derajat. Hadis shahih Muslim di atas jelas membantah syubhat konyol salafy dalam mendistorsi hadis Tsaqalain.

Penggunaan lafaz “bihi” seperti yang nampak dalam hadis Tsaqalain juga banyak ditemukan dalam Al Qur’an yaitu merujuk pada sesuatu yang ternyata sesuatu itu adalah objek yang jamak sehingga yang dimaksud “nya” itu berlaku pada masing-masing objek yang disebutkan.

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Katakanlah [hai orang-orang mukmin]`Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya`. Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan [dengan kamu]. Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui [QS Al Baqarah ; 136-137]

Perhatikan lafaz “maa amantum bihi” yaitu “apa yang kamu telah beriman kepadanya”. Lafaz “bihi” kembali pada kata “maa” dimana dalam ayat sebelumnya apa yang diimani itu adalah beriman kepada Allah SWT, beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan beriman kepada apa yang diturunkan pada Nabi-Nabi sebelum kami.

وَلاَ تَتَّخِذُوَاْ آيَاتِ اللّهِ هُزُواً وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُم بِهِ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai permainan dan ingatlah nikmat Allah kepadamu dan apa yang telah Allah turunkan kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah, Allah memberikan pengajaran kepadamu dengannya [apa yang diturunkan kepadamu]. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu [QS Al Baqarah ; 231]

Perhatikan lafaz “ya’izhukum bihi” yaitu “memberikan pengajaran kepadamu dengannya”. Lafaz “bihi” atau “dengan-nya” itu merujuk pada “ma anzala ‘alaikum” yaitu apa yang diturunkan Allah SWT kepadamu dan disebutkan bahwa itu adalah Al Kitab dan Al Hikmah.

Masih banyak contoh-contoh lain tetapi apa yang telah kami sebutkan telah cukup sebagai hujjah bagi mereka yang tunduk kepada apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Memang sangat mengherankan jika seorang yang punya keilmuan seperti Efendi dan Abul-Jauzaa’ berhujjah dengan cara yang menyedihkan. Jika yang bersangkutan bodoh ada baiknya ia belajar dan jika yang bersangkutan pura-pura bodoh maka itu lebih celaka lagi karena telah sengaja memelintir hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan membodohi orang lain [setidaknya di kalangan pengikutnya]. Semoga para pengikut salafy nashibi itu bisa merenungkan betapa “menjijikkannya” hujjah mereka. Kepada Allah SWT kami berlindung dan memohon ampun.

____________________________

BEBERAPA DIALOG PENULIS DENGAN PEMBACA

.

dede, on September 20, 2011 at 10:09 am said:

Ada orang Syi’ah membantah artikel di atas. Katanya, lafadh bihi pada riwayat Abudl-Dluhaa bisa kembali kepada Al-Qur’an dan Ahlul-Bait. Katanya, dalam bahasa Arab itu bisa terjadi dengan bukti semisal hadits :

حدثنا يحيى بن أيوب وقتيبة وابن حجر جميعا عن إسماعيل بن جعفر قال ابن أيوب حدثنا إسماعيل أخبرني العلاء عن أبيه عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ويرفع به الدرجات ؟ قالوا بلى يا رسول الله قال إسباغ الوضوء على المكاره وكثرة الخطا إلى المساجد وانتظار الصلاة بعد الصلاة فذلكم الرباط

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayub, Qutaibah dan Ibnu Hujr semuanya dari Ismail bin Ja’far. Ibnu Ayub berkata telah menceritakan kepada kami Ismail yang berkata telah mengabarkan kepadaku Al Alaa’ dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan kesalahan dan dengannya Allah mengangkat derajat?. Mereka berkata “tentu wahai Rasulullah”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Menyempurnakan wudhu di saat kesukaran, banyak berjalan menuju masjid dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat maka itulah ribath [Shahih Muslim 1/219 no 251].

Dan yang semisalnya.

SAYA JAWAB :

Ini adalah jawaban yang sok tahu. Ia tidak melihat keseluruhan riwayat dan bentuk kalimat yang ada, padahal saya telah membawakan qarinahnya dalam artikel di atas. Saya sebutkan :

1. Dalam lafadh-lafadh lain sangat jelas disebutkan bahwa hanyalah Al-Qur’an yang kita diwajibkan berpegang-teguh dengannya.

Apalagi dalam riwayat Muslim, Ahmad, dan yang lainnya sangat jelas disebutkan setelah menyebutkan ats-tsaqalain, maka beliau mewajibkan berpegang teguh dengan dengan Al-Qur’an saja. Dan ketika menyebutkan ‘Ithrah/ahlul-baitnya, beliau memperingatkan tentang hak-hak mereka yang wajib ditunaikan.

2. Ahlul-Bait tidak ma’shum, sehingga sangat musykil kita diwajibakan berpegang teguh dengannya dengan ‘athaf kepada Al-Qur’an yang merupakan jaminan tidak tersesat. Buktinya telah saya paparkan.

3. Dalam lafadh At-Tirmidziy (no. 3788), ketika menyebut Al-Qur’an dan ‘ithrah, disebutkan dengan bentuk mutsannaa :

Walay-yatafarraqaa hattaa yaridaa ‘alayyal-haudl. Fandhuruu kaifa takhlufuunii fiihimaa.

وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ فَانْظُرُوا كَيْفَ تَخْلُفُونِي فِيهِمَا

……dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang menemuiku di telaga, oleh karena itu perhatikanlah oleh kalian, apa yang kalian perbuat terhadap keduanya sesudahku” [no. 3788].

Dan juga beberapa lafadh lain yang tidak disebutkan dalam artikel di atas seperti itu.

Seandainya yang dimaksud untuk berpegang teguh dengannya adalah Al-Qur’an dan ‘Ithrah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, niscaya yang lebih fasih menggunakan bentuk mutsnannaa juga, yaitu bihimaa sesuatu dengan kalimat yang lainnya. Namun di situ menggunakan bihi, sehingga dipahami merujuk pada satu hal saja (yaitu Al-Qur’an).

4. Kalimat : ‘dan ‘itrahku ahlul-baitku’ (وعترتي أهل بيتي) mansub kepada fi’il mahdzuuf dan itu merujuk pada kalimat : “aku ingatkan kalian akan Allah” (أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ) sebagaimana terdapat dalam riwayat Zaid bin Arqam yang dibawakan Muslim dan Ahmad.

Selebihnya,… telah saya sebutkan dalam artikel di atas.

Qarinah-qarinah yang saya sebutkan merupakan satu kesatuan sebab.

—–

Tidak ada hubungannya artikel ini dengan nama ‘Efendi’ yang disebut orang Syi’ah itu. Saya mendapatkan penjelasan dalam artikel di atas dari Dr. Su’uud Ash-Shaa’idiy dalam Al-Ahaadiitsul-Waaridah fii Fadlaailush-Shahaabah (2/59-dst.). Dan beliau (2/66-67) menisbatkan penjelasan tersebut pada kitab Fathul-Bariy 7/98, Syarh An-Nawawiy 15/180, Hujiyyatus-Sunnah lis-Suyuuthiy, Haasyiyyah As-Sindiy ‘alaa Musnad Ahmad (17/175), dan Al-Qur’aaniyyuun li-Khaadim Husain.

__________________________

secondprince, on September 20, 2011 at 10:18 am said:

@dede

Sepertinya itu bantahan dari Abul-Jauzaa’, bantahan yang “ngeyel” dan bantahan yang lahir dari orang yang tidak mau menerima kebenaran dari orang yang ia tuduh Syiah. Berikut bantahan terhadapnya

Ini adalah jawaban yang sok tahu. Ia tidak melihat keseluruhan riwayat dan bentuk kalimat yang ada, padahal saya telah membawakan qarinahnya dalam artikel di atas. Saya sebutkan :

Ternyata setelah ditunjukkan kekeliruannya, ia masih saja “ngeyel” dengan berbagai hujjah dusta. Qarinah yang ia sebutkan hanya mengada-ada dan menunjukkan bahwa yang bersangkutan benar-benar tidak paham bahasa arab.

1. Dalam lafadh-lafadh lain sangat jelas disebutkan bahwa hanyalah Al-Qur’an yang kita diwajibkan berpegang-teguh dengannya.

Dalam lafaz hadis mana yang menyebutkan “hanyalah Al Qur’an”. Selain itu telah jelas pada hadis-hadis lain bahwa keduanya yang diwajibkan berpegang teguh. Telah kami katakan hadis Muslim tidaklah menafikan berpegang teguh pada Ahlul Bait justru sebaliknya hadis Muslim harus dijelaskan bersandar pada hadis yang menyebutkan bahwa Ahlul Bait juga harus dipegang teguh

Apalagi dalam riwayat Muslim, Ahmad, dan yang lainnya sangat jelas disebutkan setelah menyebutkan ats-tsaqalain, maka beliau mewajibkan berpegang teguh dengan dengan Al-Qur’an saja. Dan ketika menyebutkan ‘Ithrah/ahlul-baitnya, beliau memperingatkan tentang hak-hak mereka yang wajib ditunaikan.

Perkataan akhir nashibi ini “memperingatkan tentang hak-hak mereka yang wajib ditunaikan” adalah ucapan dusta. Tidak ada dalam lafaz hadis riwayat Muslim dan Ahmad, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan “hak-hak mereka yang wajib ditunaikan”. Silakan wahai nashibi tunjukkan lafaz tersebut dan hak-hak apa yang disbeutkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] itu dalam hadis Muslim dan Ahmad. Jika tidak bisa silakan akui kalau anda sedang berdusta :mrgreen:

2. Ahlul-Bait tidak ma’shum, sehingga sangat musykil kita diwajibakan berpegang teguh dengannya dengan ‘athaf kepada Al-Qur’an yang merupakan jaminan tidak tersesat. Buktinya telah saya paparkan.

Bweh kalau menuruti bukti yang anda paparkan dan pemahaman anda terhadap bukti itu maka jangan-jangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak maksum dalam pandangan anda. Nashibi ini pernah mengatakan Imam Hasan tidak taat pada orang tua, seperti dalam judul tulisannya yang lain Imam ma’shum tidak taat pada orang tua, Imam ma’shum yang dimaksud adalah Imam Hasan. Artinya nashibi itu mau mengatakan Hasan radiallahu ‘anhu tidak taat pada orang tua dan ini menjadi bukti bahwa ia tidak ma’shum. Kalau begitu maka bagaimana dengan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang diyakini nashibi itu bermuka masam dan berpaling ketika ada yang meminta petunjuk kepada Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam], apa itu menjadi bukti kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak ma’shum?. Apakah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] salah atau benar ketika ia bermuka masam dan berpaling wahai nashibi?. Jika anda katakan benar maka mengapa Allah SWT menurunkan teguran untuk sesuatu yang benar dan jika anda katakan salah maka itu berarti dalam keyakinan anda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bisa salah dan seharusnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak ma’shum menurut pandangan anda. Itu berarti menurut anda juga, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak layak dipegang teguh.

Dalam tulisannya, nashibi itu menyalahkan Imam Ali yang membakar kaum zindiq dan menjadikan ini bukti kalau ia tidak ma’shum. [terlepas dari berbagai bantahan kami soal ini] kami katakan kalau begitu Nabi pun ternyata tidak ma’shum karena ada seorang Nabi yang pernah membakar kaum yang bertasbih kepada Allah SWT [silakan lihat dalam hadis shahih bahwa ada Nabi yang membakar semut kaum yang bertasbih kepada Allah]. Berarti Nabi pun juga tidak maksum.

Dan satu lagi bukankah anda termasuk yang meyakini bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bisa lupa sebagaimana dalam hadis-hadis shahih. Apakah lupanya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ini menjadi bukti bahwa Beliau tidak ma’shum, wahai nashibi?. Sepertinya anda dan mazhab anda itu tidak konsisten dalam masalah “ma’shum”

Permasalahan disini bukan soal ma’shum karena kami sendiri lebih suka dengan lafaz “orang yang layak dipegang teguh”. Jika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan Ahlul Bait harus dipegang teguh bersama Al Qur’an maka kami menerima. Kami tidak peduli dengan penolakan nashibi itu terhadap hadis shahih dengan syubhat yang murahan.

3. Dalam lafadh At-Tirmidziy (no. 3788), ketika menyebut Al-Qur’an dan ‘ithrah, disebutkan dengan bentuk mutsannaa :

Walay-yatafarraqaa hattaa yaridaa ‘alayyal-haudl. Fandhuruu kaifa takhlufuunii fiihimaa.

وَلَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ فَانْظُرُوا كَيْفَ تَخْلُفُونِي فِيهِمَا

……dan keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang menemuiku di telaga, oleh karena itu perhatikanlah oleh kalian, apa yang kalian perbuat terhadap keduanya sesudahku” [no. 3788].

Dan juga beberapa lafadh lain yang tidak disebutkan dalam artikel di atas seperti itu.

Seandainya yang dimaksud untuk berpegang teguh dengannya adalah Al-Qur’an dan ‘Ithrah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, niscaya yang lebih fasih menggunakan bentuk mutsnannaa juga, yaitu bihimaa sesuatu dengan kalimat yang lainnya. Namun di situ menggunakan bihi, sehingga dipahami merujuk pada satu hal saja (yaitu Al-Qur’an).

Ucapannya yang lebih fasih hanyalah mengada-ada. Wahai nashibi silakan perhatikan lafaz “fiihima” itu kembali kepada apa dan silakan cek lafaz “bihi” kembali kepada apa dalam kalimat tersebut. Lucu sekali cara berhujjah orang yang kalau bicara soal hadis seolah ia telah banyak membaca kitab berbahasa arab tetapi kaidah sederhana bahasa arab saja ia pura-pura tidak paham. Dan btw hadis Tirmidzi itu sendiri anda dhaifkan, kalau anda bisa berhujjah dengan hadis Tirmidzi maka mengapa kami tidak bisa berhujjah dengan hadis Tsaqalain riwayat Hakim yang memuat lafaz “bihiima”.

4. Kalimat : ‘dan ‘itrahku ahlul-baitku’ (وعترتي أهل بيتي) mansub kepada fi’il mahdzuuf dan itu merujuk pada kalimat : “aku ingatkan kalian akan Allah” (أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ) sebagaimana terdapat dalam riwayat Zaid bin Arqam yang dibawakan Muslim dan Ahmad.

Terus apa hubungannya, bagian mana dari lafaz yang anda kutip “aku ingatkan kalian akan Allah” diartikan bahwa Ahlul Bait tidak layak dipegang teguh. Apa maksud “aku ingatkan kalian kepada Allah”. Jangan menambah waham disini, dimana anda memasukkan kata-kata “memperingatkan tentang hak-hak Ahlul Bait”. Justru dalam hadis Tsaqalain lain riwayat Yaqub dan Thahawi bahwa Al Qur’an dan Ahlul Bait harus dipegang teguh maka kata “aku ingatkan kalian akan Allah” maksudnya mengingatkan mereka bahwa Ahlul Bait juga harus dipegang teguh.

Tidak ada hubungannya artikel ini dengan nama ‘Efendi’ yang disebut orang Syi’ah itu. Saya mendapatkan penjelasan dalam artikel di atas dari Dr. Su’uud Ash-Shaa’idiy dalam Al-Ahaadiitsul-Waaridah fii Fadlaailush-Shahaabah (2/59-dst.). Dan beliau (2/66-67) menisbatkan penjelasan tersebut pada kitab Fathul-Bariy 7/98, Syarh An-Nawawiy 15/180, Hujiyyatus-Sunnah lis-Suyuuthiy, Haasyiyyah As-Sindiy ‘alaa Musnad Ahmad (17/175), dan Al-Qur’aaniyyuun li-Khaadim Husain.

Maaf kami tidak pernah menyebut anda taklid pada si effendi. Kami cuma bilang kalau pada dasarnya kalian berdua itu sama saja, terlepas dari mana anda mengutip toh telah kami tunjukkan kalau orang yang berhujjah lafaz “bihi” dalam hadis Tsaqalain merujuk pada satu hal saja adalah orang yang tidak bisa bahasa arab atau berniat membodohi orang awam. [aneh, kami tidak menemukan hujjah soal lafaz “bihi” dalam penjelasan Ibnu Hajar dan Nawawi].

Banyak tuh para ulama dan silakan anda buka kitab apa saja yang membahas hadis kitabullah wa sunnati dengan lafaz “bihi” tidak ada satupun dari mereka menyatakan “bihi” hanya merujuk pada Kitab Allah saja. Mereka semua berkata bahwa kitab Allah dan Sunnah Rasul keduanya harus dipegang teguh dan mereka berhujjah dengan hadis lafaz “bihi”. Maka dari segi struktur bahasa arab, hadis Tsaqalain itu tidak bermasalah sedikitpun. Qarinah yang anda maksud cuma akal-akalan untuk membodohi orang awam. Sungguh menyedihkan

Tujuan utama artikel di atas adalah untuk membuktikan bahwa lafaz “bihi” pada hadis Tsaqalain secara bahasa arab itu memiliki konsekuensi bahwa Al Qur’an dan Ahlul Bait keduanya harus dipegang teguh. Itulah inti penjelasan hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi”. Sedangkan qarinah qarinah yang disebutkan nashibi itu adalah syubhatnya sendiri yang tidak ada kaitannya dengan struktur bahasa arab baik lafaz tersebut “bihi” atau “bihiima” karena penggunaan kedua lafaz tersebut disesuaikan dengan struktur kalimat. Lafaz “bihi” kembali pada kata “ma” yang berarti “apa atau sesuatu” dan ini bisa berjumlah berapa saja sesuai dengan yang disebutkan dalam hadis tersebut [lihat penjelasan dalam artikel di atas].Terkait dengan hadis Tsaqalain maka “ma” itu adalah dua hal yaitu Al Qur’an dan Ahlul Bait. Sedangkan lafaz “Bihima” kembali kepada “amrain” atau “tsaqalain” dimana lafaz ini mengandung jumlah “dua” jadi kata ganti yang digunakan adalah “bihima” bukan “bihi” karena dari awal sudah disebutkan jumlahnya ada dua maka kata ganti yang digunakan merujuk pada “keduanya”.

________________________________

secondprince, on September 23, 2011 at 8:33 amsaid:

Salah seorang nashibi [alfanarku] berusaha menjawab tulisan di atas, dan setelah kami baca tulisannya “aneh bin ajaib” ia tidak mengerti apa yang kami tulis dan mengikuti kesesatan berpikir yang dikatakan Ustadnya si Abul Jauzaa. Alfanarku berkata

Yang pada intinya berdasarkan keseluruhan riwayat hadits tsaqalain, Tsaqal pertama yang wajib dipegang teguh agar tidak sesat adalah Kitabullah sedangkan Tsaqal berikut-nya yaitu Ahlul Bait yang diperingatkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dengan tekanan agar kaum muslimin memperhatikan-nya.

Ucapan ini dusta, jika seseorang memperhatikan dengan baik keseluruhan riwayat hadis Tsaqalain. Maka ada dua hal yang harus dipegang teguh yaitu Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sedangkan lafaz riwayat Muslim dan Ahmad yaitu “aku ingatkan kalian akan Allah tentang ahlul baitku” bermakna Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengingatkan kepada kaum muslimin agar mereka juga berpegang teguh pada Ahlul Bait.

Nashibi memiliki penafsiran tersendiri hanya saja penafsiran mereka itu berdasar pada angan-angan mereka sendiri tidak bersandar pada teks hadis Tsaqalain

Memperingatkan agar kaum muslimin memperhatikannya. Apa maksudnya? Diperhatikan seperti apa. Adakah lafaz “memperhatikan mereka” dalam hadis Tsaqalain riwayat Muslim dan Ahmad.

Memperingatkan agar kaum muslimin memenuhi hak-hak ahlul bait. Apa maksudnya? Hak-hak apa. Adakah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan hak-hak ahlul bait yang dimaksud dalam hadis Tsaqalain. Adakah lafaz “memenuhi hak-haknya” dalam hadis Tsaqalain riwayat Muslim dan Ahmad.

Jadi penafsiran lafaz “aku ingatkan kalian akan Allah tentang Ahlul Baitku” yang dikemukakan para nashibi tidak bersandar pada teks hadis Tsaqalain tetapi pada “konsepsi” mereka sendiri. Berbeda halnya ketika kami menafsirkan bahwa lafaz “aku ingatkan kalian akan Allah tentang Ahlul Baitku” itu bermakna peringatan agar kaum muslimin berpegang teguh. Qarinahnya terletak pada lafaz hadis Tsaqalain.

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mewasiatkan dua hal pada hadis Tsaqalain. Pertama tentang kitab Allah agar berpegang teguh dengannya kedua tentang ahlul bait, Rasulullah mengingatkan tentang ahlul bait. Tetapi tidak disebutkan dengan jelas pada riwayat Muslim apa peringatan yang dimaksud. Sangat tidak mungkin jika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berwasiat memperingatkan tetapi tidak menyebutkan dengan jelas apa maksud peringatan tersebut. Maka tidak lain peringatan ini mengandung pesan yang sama dengan kitab Allah yaitu peringatan untuk berpegang teguh dengannya. Apalagi dalam hadis Tsaqalain, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyatakan bahwa Kitab Allah dan Ahlul Bait akan selalu bersama tidak terpisah sampai keduanya kembali kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Al Haudh. Makna “selalu bersama dan tidak akan berpisah” menunjukkan kalau pesan tentang keduanya adalah sama yaitu sama-sama harus dipegang teguh.

Hadis Tsaqalain selain riwayat Muslim yaitu riwayat Tirmidzi, Yaqub Al Fasawi dan Ath Thahawi jelas menyatakan bahwa kitab Allah dan ahlul bait keduanya harus dipegang teguh. Lafaz “bihi” dalam hadis-hadis tersebut bermakna keduanya harus dipegang teguh karena “bihi” dalam kalimat tersebut kembali pada kata “ma” yaitu “apa atau sesuatu” yang belum disebutkan jumlahnya. Setelah disebutkan kalau “ma” itu ada dua yaitu Kitab Allah dan Ahlul Bait maka itu bermakna keduanya Kitab Allah dan Ahlul Bait harus dipegang teguh. Itulah makna hadis Tsaqalain. Nashibi yang membuat syubhat kalau “bihi” disini bermakna satu saja yaitu Kitab Allah jelas bertentangan dengan struktur kalimat tata bahasa arab, karena struktur kalimat seperti yang ditunjukkan hadis Tsaqalain sama persis dengan ayat Al Quran dan hadis yang kami tunjukkan di atas.

Pada sisi ini kami telah membuktikan bahwa hadis Tsaqalain riwayat Muslim, lafaznya tidaklah bertentangan dengan hadis Tsaqalain yang lain [riwayat Tirmidzi, Thahawi danyang lainnya] melainkan memiliki makna yang sama yaitu berpegang teguh pada kitab Allah dan ahlul bait.

Mengapa kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam hadits Tsaqalain, Tsaqal yang wajib kita pegang teguh agar tidak sesat adalah Kitabullah saja dan tidak termasuk ahlul bait? Ada beberapa qarinah dan argumentasi yang kuat :

Qarinah dan argumentasi yang ia katakan kuat adalah sok tahu, omong kosong tong kosong nyaring bunyinya. Silakan perhatikan, kalau memang argumentasi mereka kuat maka silakan mereka menjawab dengan benar tanggapan berikut

1. Di dalam riwayat-riwayat tsaqalain yang shahih terdapat penjelasan yang sangat gamblang bahwa yang wajib dipegang teguh agar tidak sesat adalah Kitabullah, sebagai contoh dalam shahih Muslim :

Apakah ini argumentasi kuat? Jawabannya tidak. Karena tidak ada satupun pada lafaz ini yang menentang perintah berpegang teguh kepada Ahlul Bait. Apakah ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyuruh kaum muslimin berpegang teguh pada kitab Allah itu bermakna “hanya Kitab Allah”?. Nashibi sendiri masih berpegang pada hadis [sunnah] jadi seharusnya ia tidak menafsirkan bahwa pada riwayat Muslim itu hanya kitab Allah yang harus dipegang teguh dan tidak selainnya. Jadi cara penafsiran nashibi itu sendiri adalah kontradiktif. Kami sebelumnya telah menafsirkan dengan baik hadis Tsaqalain riwayat Muslim dimana hadis riwayat Muslim menguatkan hujjah kami.

2. Sebagian besar riwayat-riwayat tsaqalain menggunakan lafaz “Bihi” yang merujuk pada pada satu hal dan bukan dua hal, “Bihi” di sini adalah Kitabullah

Ini adalah ucapan dusta yang tidak paham bahasa arab dan menunjukkan kebodohan nyata terhadap struktur bahasa arab. Hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi” dipandang dari struktur kalimat secara tata bahasa arab bermakna “bihi” itu merujuk pada kata “ma” dan “ma” disana ada dua yaitu Kitab Allah dan ahlul bait maka itu berarti keduanya harus dipegang teguh. Sekali lagi secara bahasa arab lafaz “bihi” dalam hadis Tsaqalain bermakna keduanya harus dipegang teguh. Kami telah menunjukkan penggunaan lafaz “bihi” yang persis dalam hadis Tsaqalain dari Al Quran dan hadis shahih yang lain [silakan lihat tulisan di atas] dan menunjukkan bahwa “bihi” dalam kalimat-kalimat itu berlaku pada masing-masing item yang disebutkan atau terlingkup dalam kata “ma”.

3. Wasiat Rasulullah yang terbesar yang disampaikan pada saat haji Wada’ kepada seluruh kaum muslimin adalah berpegang kepada kitabullah tanpa ada tambahan itrati ahlul bait.

Ini bukan argumentasi yang kuat wahai nashibi. Jika ada hadis shahih lain yang memuat tambahan itrati ahlul bait maka tambahan itu diterima dan tidak bertentangan dengan hadis yang tidak menyebutkan tambahan tersebut. Inilah logika yang benar dan hal ini sangat sering terjadi pada berbagai riwayat hadis shahih.

4. Ahlul bait sebagaimana para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah orang-orang yang tidak ma’shum, maka wajib berpegang kepada mereka selama mereka berpegang kepada Kitabullah dan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam.

Ini ucapan tanaqudh. Kami tanya pada ana wahai nashibi, apa dasar anda menyatakan ahlul bait tidak ma’shum?. Kalau anda ingin menunjukkan berbagai riwayat yang menurut anda menunjukkan kesalahan ahlul bait atau teguran Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] terhadap Ahlul Bait maka bagaimana anda bersikap terhadap riwayat tentang salah atau lupanya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan teguran Allah SWT terhadap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Seharusnya dengan cara berpikir anda itu wahai nashibi maka anda juga harus berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak ma’shum.

Kalau anda mau menyatakan Rasulullah ma’shum dengan dalil baik Al Qur’an maupun hadis maka anda juga harus berkata ahlul bait pun juga ma’shum dengan dalil hadis Tsaqalain di atas. Kami pribadi tidak akan sibuk dengan kata “mas’hum” karena kata itu sendiri sering disalah artikan terutama oleh kaum nashibi. Kalau nashibi mengartikan “ma’shum” sebagai tidak pernah salah sedikitpun atau sekalipun maka kami akan lemparkan pada muka mereka berbagai riwayat shahih dimana mereka sendiri mengakui kalau para Nabi pernah berbuat salah termasuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jadi argumentasi anda wahai nashibi pada poin ini berbalik menyerang anda sendiri.

Dari qarinah-qarinah di atas sangat jelas bahwa yang wajib dipegang teguh oleh kaum Muslimin adalah Kitabullah, sekaligus menjelaskan “bihi” yang dimaksud adalah Kitabullah dan hal tersebut sudah sesuai dengan kaidah bahasa Arab.

Ini ucapan orang yang tidak mengerti apa yang ia katakan. Qarinah yang ia maksud tidak ada sedikitpun kaitannya dengan kaidah bahasa arab. Itu Cuma syubhat murahan “asal Jawab” atau “basa-basi” biar kelihatan sudah membantah padahal “tidak bernilai hujjah”. Lafaz “Bihi” harus dimengerti sesuai dengan struktur kalimatnya bukan dengan qarinah yang dibuat-buat, itulah kaidah bahasa arab. Kalau nashibi itu mau memahami hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi” maka yang ia lakukan harus merujuk pada hadis Tsaqalain yang dimaksud.

Kemudian orang syi’ah rafidhah ini berusaha mencari-cari bukti dalam ayat maupun hadits bahwa “bihi” bisa juga merujuk pada lebih dari satu hal, saya pikir boleh-boleh saja dan saya tidak akan membahasnya satu-per satu dari contoh-contoh yang dia sampaikan, tetapi hal yang terpenting adalah contoh-contoh tersebut tidak bisa diberlakukan untuk hadits tsaqalain ini, karena qarinah-qarinah di atas dengan jelas telah menjelaskan bahwa yang dimaksud “bihi” pada hadits tsaqalain adalah Kitabullah saja tidak termasuk ahlul bait.

Ini bukti nyata kalau nashibi itu tidak mengerti tulisan kami di atas. Perkaranya bukan hanya kami sedang menunjukkan lafaz “bihi” bisa merujuk pada lebih dari satu sehingga ia bisa berkata dalam hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi” ada dua kemungkinan itu merujuk pada satu saja atau merujuk pada keduanya sehingga harus melihat qarinah-qarinah lain. Maaf bukan seperti itu wahai nashibi, yang ingin kami tunjukkan dari tulisan di atas adalah lafaz “bihi” harus dimengerti sesuai dengan kalimat yang digunakan. “bihi” itu adalah kata ganti dan sebagai kata ganti ia harus dimengerti dengan melihat kata ganti itu kembali atau merujuk kepada apa. Untuk mengetahuinya ya dilihat dari kalimat yang dimaksud.

Hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi” secara kaidah bahasa arab sama persis dengan ayat Al Qur’an dan hadis yang kami tulis di atas bahwa itu kembali pada kata “ma” yaitu “apa atau sesuatu” dimana “ma” itu sendiri telah disebutkan ada berbagai item.

Dalam hadis Tsaqalain “ma” itu adalah Kitab Allah dan ahlul bait. Jadi hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi” secara bahasa arab mutlak bermakna keduanya harus dipegang teguh. Nashibi yang mengartikan hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi” bermakna berpegang teguh pada kitab Allah saja dan tidak ahlul bait jelas bertentangan dengan kaidah bahasa arab yang digunakan dalam kalimat tersebut. Ucapan nashibi itu “contoh-contoh tersebut tidak bisa diberlakukan untuk hadis Tsaqalain ini” menunjukkan kalau nashibi itu tidak paham kaidah bahasa arab bahkan setelah kami tunjukkan ayat Al Qur’an dan hadis shahih dalam tulisan di atas. Bagaimana bisa ia berkata “tidak bisa diberlakukan” padahal secara struktur kalimat penggunaaan lafaz bihi dalam hadis Tsaqalain jelas sama dengan contoh contoh yang kami tulis di atas

So bagaimana ini wahai nashibi, argumentasi mana yang anda nilai kuat. Apa karena jika anda nashibi dan kami anda tuduh syiah maka anda sudah pasti benar dan kami sudah pasti salah?. Kalau begitu silakan anda hidup dalam dunia khayalan anda sendiri. Salam

______________________

secondprince, on September 25, 2011 at 2:10 pmsaid:

Berikut balasan dari alfanarku [yang di blockquote] dan tanggapaan dari kami

Terdapat bantahan dari si rafidhi nashibi (SP) berkaitan dengan artikel di atas, saya tidak akan terlalu banyak menanggapi karena bantahan-bantahan tersebut hanya kesesatan berpikir yang diulang-ulang olehnya.

Kalau cuma mengklaim maaf semua orang juga bisa, sekarang mari berbicara atas dasar fakta dan ilmu logika. Jika anda wahai nashibi berani berbicara “kesesatan berpikir” maka silakan tunjukkan dahulu dasar pikir yang benar baru anda katakan kami sesat darinya. Jangan hanya mampu berbahasa tetapi kosong maknanya.

Sudah sangat jelas pada riwayat Muslim bahwa hanya Al-Qur’an yang diperintahkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam untuk berpegang teguh kepadanya agar tidak sesat, disamping itu hanya Al-Qur’an yang ma’shum (terjaga) setiap huruf dan lafaz-nya sedangkan ahlul bait tidak.

Lihatlah baik-baik anda ini tidak mengerti perkataan orang lain. Pertama bagian mana dalam riwayat Muslim yang mengandung lafaz “hanya Al Qur’an”. Kalau anda mengartikan riwayat Muslim bahwa hanya Al Qur’an yang dipegang teguh dan tidak untuk selainnya maka anda pun tidak layak berkata sunnah Rasul harus dipegang teguh karena itu tidak disebutkan dalam riwayat Muslim wahai nashibi. Jika anda berpegang pada sunnah Rasul dengan mengandalkan hadis lain maka begitu pula yang kami lakukan kami berpegang teguh pada ahlul bait berdasarkan hadis Tsaqalain yang dengan jelas menyebutkan lafaz berpegang teguh pada Al Qur’an dan Ahlul Bait. Pandangan kami sendiri soal hadis Tsaqalain riwayat Muslim jelas sudah kami sebutkan. Lafaz “aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlul baitku” mengandung makna Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengingatkan umatnya untuk berpegang teguh pada Ahlul Bait

Kalau si rafidhi nashibi ini tidak mengerti apa maksud Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam memperingatkan kaum muslimin atas ahlul baitnya?

Wahai nashibi kami tidak seperti anda yang jika berhujjah tidak bisa membedakan mana lafaz hadisnya dan mana asumsi anda sendiri. Kebiasaan anda yang suka mencampuradukkan asumsi anda pada hadis-hadis membuat anda mengalami kesesatan berpikir yang nyata dalam menarik kesimpulan. Kalau memang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berwasiat memperingatkan kaum muslim tentang ahlul bait maka sudah pasti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan isi peringatan tersebut. Mana mungkin Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memperingatkan sesuatu tetapi isi peringatan itu tidak disebutkan dan dipersilakan isi peringatan itu terserah pikiran umatnya. Anda ini sedang melucu ya :mrgreen:

ya silahkan pikir sendiri dengan logikanya yang sehat (jika dia punya) tidak usah memaksakan bahwa maksud Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah memerintahkan kaum muslimin untuk berpegang teguh kepada ahlul bait agar tidak sesat, karena pada kenyataannya hanya Al-Qur’an saja yang diperintahkan seperti itu.

Wahai nashibi, mana logika yang sehat?. Nabi memperingatkan sesuatu tetapi isi peringatannya terserah pikiran umatnya atau Nabi memperingatkan sesuatu sekaligus menyebutkan isi peringatannya. Kalau anda katakan yang pertama maka jelas anda tidak punya logika yang sehat kalau anda katakan yang kedua maka apa isi peringatan tentang ahlul bait dalam hadis Tsaqalain.

Setelah itu mari kita lanjut, mana logika yang benar. Menafsirkan peringatan itu berdasarkan lafaz hadis Tsaqalain atau menafsirkan peringatan itu berdasarkan asumsi pribadi misalnya dengan berkata “menghormati hak-hak ahlul bait”. Jelas menafsirkan berdasarkan hadis Tsaqalain adalah logika yang benar dan maaf banyak hadis Tsaqalain yang menyebutkan dengan jelas kalau Al Quran dan Ahlul Bait keduanya sama-sama dipegang teguh.

jangan samakan donk kedudukan dan fungsi sesuatu yang jelas berbeda. ini kengawuran (kesesatan berpikir) yang sangat nyata!

Maaf wahai nashibi tetapi andalah yang sedang mengalami kesesatan berpikir yang nyata. Mana dasar anda menyatakan kedudukan dan fungsi Al Qur’an dan ahlul bait berbeda. Apa kedudukan yang anda maksud?. Apa pada lafaz Al Qur’an lebih besar dari Ahlul Bait? Hal ini tidak ada bedanya dengan aqidah “taat pada Allah dan Rasul-Nya”. Apa anda pikir Allah SWT itu kedudukannya sama dengan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]? Hati-hati bisa syirik anda. Lantas apa karena kedudukannya berbeda jadi keduanya tidak layak dipegang teguh. Tundukkan hati anda pada dalil bukannya sok menilai mana yang sesuai nafsu anda. Hadi Tsaqalain walaupun menyebutkan bahwa yang satu lebih besar dari yang lain tetap menyatakan bahwa keduanya harus dipegang teguh. Jadi jangan mengambil sebagian hadis untuk mendustkan sebagian hadis yang lain.

Saya tidak mempermasalahkan bahwa bihi bisa merujuk pada lebih dari satu hal yang sepadan, tetapi untuk hadits tsaqalain jelas terdapat qarinah bahwa yang dimaksud bihi adalah Kitabullah, shahih Muslim telah menunjukkan hal tersebut dengan sangat jelas :

Aduhai nashibi betapa buruknya kemampuan kognitif anda dalam memahami tulisan orang lain. Silakan baca baik-baik, masalahnya bukan terletak pada “bihi” bisa bermakna satu atau lebih dari satu. Tetapi masalahnya dalam hadis Tsaqalain, lafaz “bihi” itu bermakna apa. Apa itu merujuk pada salah satu saja atau keduanya?. Ya caranya dengan melihat kalimat hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi”. Hadis shahih Muslim tidak pernah menafikan “berpegang teguh pada ahlul bait” justru peringatan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang ahlul bait tidak lain adalah berpegang teguh seperti yang dinyatakan dengan jelas pada hadis Tsaqalain selain riwayat Muslim.

Pertama, Kitabullah yang padanya berisi petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah ia (yaitu melaksanakan kandungannya) dan berpegang teguhlah kalian kepadanya’. Beliau menghimbau/mendorong pengamalan Kitabullah
Jadi apapun penafsiran anda mengenai peringatan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam mengenai ahlul bait adalah bukan untuk dipegang teguh sebagaimana kedudukan Kitabullah,

Lho bagian pertama itu bercerita tentang Kitab Allah. Apa ada pada bagian pertama yang anda kutip itu terdapat lafaz yang menyebutkan kalau Ahlul Bait tidak dipegang teguh. Apa karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sudah menyebutkan Kitab Allah yang harus dipegang teguh maka tidak boleh ada lagi yang lain yang harus dipegang teguh. Kalau begitu pemahaman anda maka anda adalah orang yang ingkar sunnah. Penafsiran “ngeyel” anda hanya menunjukkan kalau anda seorang yang ingkar sunnah. Bagian pertama itu tidak pernah dipahami sebagai pembatas mutlak bahwa selain Kitab Allah tidak boleh ada yang dipegang teguh.

Kalau anda tidak bisa memahami maka kami bisa memberikan analogi sederhana. Seorang guru berkata kepada muridnya “nak Ibu guru nasehatkan kalian akan dua hal, pertama Ibumu taatlah padanya dan jangan menyaikitinya kedua ayahmu, ibu guru peringatkan engkau akan ayahmu”. Apa perkataan Ibu guru tentang Ibu menafikan anak tersebut harus taat pada ayahnya juga?. Di saat yang lain ibu guru itu berkata begini “nak ibu guru nasehatkan kalian apa yang jika kalian taat kepadanya maka kalian akan selamat yaitu ibu dan ayahmu”. Orang yang punya logika waras akan paham maksud nasehat guru adalah keduanya ayah dan ibu harus ditaati oleh anak tersebut. Cuma orang “sedeng” yang bilang ayah tidak perlu ditaati karena pada perkataan ibu guru yang pertama hanya Ibu yang harus ditaati sedangkan ayah hanya berupa peringatan saja.

Justru ini adalah qarinah yang sangat kuat wahai rafidhi nashibi, dimana wasiat beliau ini beliau sampaikan di tengah-tengah haji wada’, jika ahlul bait adalah sesuatu yang harus dipegang teguh agar tidak sesat selain Kitabullah, tentu beliau sudah sampaikan di moment yang sangat penting tersebut, dimana beliau berdiri di hadapan kaum muslimin dari berbagai daerah, bukan di saat beliau kembali dari Haji Wada’

Wah justru kalau begitu perkataan anda menyerang aqidah anda sendiri wahai nashibi. Kalau memang sunnah Rasul harus dipegang teguh oleh umat islam selain Kitab Allah maka tentu beliau sudah sampaikan di momen yang sangat penting dimana Beliau berdiri di hadapan kaum muslimin dari berbagai daerah saat Haji wada. Jadi jika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak menyampaikan wasiat berpegang teguh pada sunnah Nabi saat Haji wada maka sunnah Rasul tidak wajib dipegang teguh cukup kitab Allah saja. Bukankah begitu wahai nashibi yang ternyata ingkar sunnah :mrgreen:

Inilah kesalahan berpikir rafidhi nashibi ini dalam memahami konsep kema’shuman, jaminan kema’shuman (keterjagaan) hanya untuk para Nabi tidak untuk selainnya.

Tergantung bagaimana anda membuat batasan soal “kema’shuman” yang anda bicarakan. Jika yang anda sebut ma’shum adalah tidak pernah salah maka seharusnya Nabi pun tidak ma’shum dalam pandangan anda. Jika batasan “ma’shum” atau tidak bukan dengan melihat “pernah salah” maka apa gunanya anda mengaitkan riwayat yang menurut anda adalah kesalahan ahlul bait dengan kema’shuman mereka.

Kekeliruan para Nabi yang ditegur oleh Allah adalah masuk dalam proses penjagaan Allah atas mereka dimana dalam proses tersebut terdapat hikmah didalamnya sehingga kekeliruan tersebut tidaklah menodai kema’shuman mereka, sedangkan hal ini tidak berlaku buat selain para Nabi dan Rasul.

Kekeliruan ahlul bait yang anda persepsikan sendiri jelas termasuk dalam proses penjagaan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atas mereka. Kekeliruan mereka di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah bagian dari pendidikan khusus Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] atas mereka dan ketika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan wafat Beliau mewasiatkan agar umat islam berpegang teguh pada ahlul bait.

Contoh Allah pernah menegur Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dalam Al-Qur’an karena beliau tidak menyebut Insya Allah ketika menjanjikan sesuatu, ini adalah suatu hal yang dikehendaki oleh Allah dan salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap beliau yang terdapat banyak hikmah di dalam-nya, diantaranya :
1. Syari’at untuk mengucapkan Insya Allah jika menjanjikan sesuatu kepada orang
2. Menunjukkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah manusia biasa
3. Bukti Allah selalu menjaga Nabi-Nya atas perbuatan beliau yang belum atau sudah beliau lakukan, ini justru bukti kema’shuman (keterjagaan) Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, karena jika kekeliruan tersebut telah dilakukan oleh beliau, maka akan langsung ditegur dan diluruskan oleh Allah. sedangkan yang lain tidak ada jaminan penjagaan dari Allah atas kekeliruan yang mereka lakukan.
4. Membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah Kitabullah bukan datang dari Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam
5. Dll

Jangan bicara kepanjangan wahai nashibi, pahami duduk persoalan yang sedang didiskusikan. Anda dari awal mengaitkan kesalahan ahlul bait sebagai bukti tidak ma’shumnya mereka maka seharusnya dengan kesalahan Nabi maka itu bukti Nabi juga tidak ma’shum. Itulah konsekuensi ucapan anda.

Nah sekarang setelah anda merasa dilematis maka anda bermain kata-kata kalau ma’shum itu maksudnya keterjagaan dari Allah SWT jadi walaupun Nabi berbuat salah ya tetap ma’shum. Toh kami bisa juga berkata kesalahan ahlul bait yang anda tuduhkan itu bagian dari tarbiyah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] jadi tidak ada alasan dengan menjadikan hal ini untuk menolak hadis Tsaqalain.

Jadi wahai rafidhi nashibi, berfikirlah yang sehat, jangan biarkan virus syi’ah rafidhah menggerogoti akal sehat anda.

Insya Allah kami akan berpikir dengan sehat dan kami harap anda mulai belajar untuk berpikir sehat dan tidak perlu mengaitkan dengan “syiah rafidhah”. Semakin anda menuduh syiah hanya semakin menunjukkan kalau anda nashibi tulen.

_________________________

ARTIKEL TERKAIT

  1. Hadis Tsaqalain Hadis Tsaqolain 1
  2. Kekeliruan Hafiz Firdaus Dalam Memahami Hadis Tsaqalain Hadis tsaqolain 2
  3. Kekeliruan Ali As Salus Yang Mengkritik Hadis Tsaqalain Dalam Sunan Tirmidzi Hadis tsaqolain 3
  4. Kekeliruan Ali As Salus Yang Mengkritik Hadis Tsaqalain Dalam Musnad Ahmad Hadis tsaqolain 4
  5. Kekeliruan Ibnu Jauzi Terhadap Hadis Tsaqalain Hadis tsaqolain 5
  6. Analisis Kredibilitas Athiyyah Al ‘Aufi  Hadis tsaqolain 6
  7. Kekeliruan Ibnu Taimiyyah Terhadap Hadis Tsaqalain Hadis tsaqolain 7
  8. Penolakan Ibnu Taymiah Terhadap Hadis Tsaqolain Hadis tsaqolain 8
  9. Kritik Terhadap Distorsi Hadis Tsaqalain Hadis tsaqolain 9
  10. Tinjauan Ulang Hadis Tsaqalain Hadis tsaqolain 10
  11. Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait  Hadis Tsaqolain 11
  12. Hadis Tsaqalain Riwayat Yaqub bin Sufyan Al Fasawi    Hadis Tsaqolain 12
  13. Hadis Tsaqalain : Ahlul Bait Jaminan Keselamatan Dunia Dan Akhirat  Hadis Tsaqolain 13
  14. Hadis Tsaqalain : Membantah Syubhat Nashibi Terhadap Lafaz “Bihi” Hadis Tsaqolain 14. Bantahan Untuk Abul Jauza dan Al Fanarku

_________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: