Hadis Tsaqalain : Membantah Syubhat Nashibi Terhadap Lafaz “Bihi” – Bantahan Untuk Al Fanarku

Hadis Tsaqalain : Membantah Syubhat Nashibi Terhadap Lafaz “Bihi” – Bantahan Untuk Al Fanarku

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar

Artikel dibawah adalah bantahan Sdr J Algar terhadap Nashibi Salafy/Wahabi Al Fanarku yang ditulis di kolom “komen” ( ini dan ini ) dalam artikelnya INI -Haula Wahabiyah-

.

secondprince, on September 23, 2011 at 8:33 amsaid:

Salah seorang nashibi [alfanarku] berusaha menjawab tulisan di atas, dan setelah kami baca tulisannya “aneh bin ajaib” ia tidak mengerti apa yang kami tulis dan mengikuti kesesatan berpikir yang dikatakan Ustadnya si Abul Jauzaa. Alfanarku berkata

Yang pada intinya berdasarkan keseluruhan riwayat hadits tsaqalain, Tsaqal pertama yang wajib dipegang teguh agar tidak sesat adalah Kitabullah sedangkan Tsaqal berikut-nya yaitu Ahlul Bait yang diperingatkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dengan tekanan agar kaum muslimin memperhatikan-nya.

Ucapan ini dusta, jika seseorang memperhatikan dengan baik keseluruhan riwayat hadis Tsaqalain. Maka ada dua hal yang harus dipegang teguh yaitu Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sedangkan lafaz riwayat Muslim dan Ahmad yaitu “aku ingatkan kalian akan Allah tentang ahlul baitku” bermakna Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengingatkan kepada kaum muslimin agar mereka juga berpegang teguh pada Ahlul Bait.

Nashibi memiliki penafsiran tersendiri hanya saja penafsiran mereka itu berdasar pada angan-angan mereka sendiri tidak bersandar pada teks hadis Tsaqalain

Memperingatkan agar kaum muslimin memperhatikannya. Apa maksudnya? Diperhatikan seperti apa. Adakah lafaz “memperhatikan mereka” dalam hadis Tsaqalain riwayat Muslim dan Ahmad.

Memperingatkan agar kaum muslimin memenuhi hak-hak ahlul bait. Apa maksudnya? Hak-hak apa. Adakah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan hak-hak ahlul bait yang dimaksud dalam hadis Tsaqalain. Adakah lafaz “memenuhi hak-haknya” dalam hadis Tsaqalain riwayat Muslim dan Ahmad.

Jadi penafsiran lafaz “aku ingatkan kalian akan Allah tentang Ahlul Baitku” yang dikemukakan para nashibi tidak bersandar pada teks hadis Tsaqalain tetapi pada “konsepsi” mereka sendiri. Berbeda halnya ketika kami menafsirkan bahwa lafaz “aku ingatkan kalian akan Allah tentang Ahlul Baitku” itu bermakna peringatan agar kaum muslimin berpegang teguh. Qarinahnya terletak pada lafaz hadis Tsaqalain.

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mewasiatkan dua hal pada hadis Tsaqalain. Pertama tentang kitab Allah agar berpegang teguh dengannya kedua tentang ahlul bait, Rasulullah mengingatkan tentang ahlul bait. Tetapi tidak disebutkan dengan jelas pada riwayat Muslim apa peringatan yang dimaksud. Sangat tidak mungkin jika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berwasiat memperingatkan tetapi tidak menyebutkan dengan jelas apa maksud peringatan tersebut. Maka tidak lain peringatan ini mengandung pesan yang sama dengan kitab Allah yaitu peringatan untuk berpegang teguh dengannya. Apalagi dalam hadis Tsaqalain, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyatakan bahwa Kitab Allah dan Ahlul Bait akan selalu bersama tidak terpisah sampai keduanya kembali kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Al Haudh. Makna “selalu bersama dan tidak akan berpisah” menunjukkan kalau pesan tentang keduanya adalah sama yaitu sama-sama harus dipegang teguh.

Hadis Tsaqalain selain riwayat Muslim yaitu riwayat Tirmidzi, Yaqub Al Fasawi dan Ath Thahawi jelas menyatakan bahwa kitab Allah dan ahlul bait keduanya harus dipegang teguh. Lafaz “bihi” dalam hadis-hadis tersebut bermakna keduanya harus dipegang teguh karena “bihi” dalam kalimat tersebut kembali pada kata “ma” yaitu “apa atau sesuatu” yang belum disebutkan jumlahnya. Setelah disebutkan kalau “ma” itu ada dua yaitu Kitab Allah dan Ahlul Bait maka itu bermakna keduanya Kitab Allah dan Ahlul Bait harus dipegang teguh. Itulah makna hadis Tsaqalain. Nashibi yang membuat syubhat kalau “bihi” disini bermakna satu saja yaitu Kitab Allah jelas bertentangan dengan struktur kalimat tata bahasa arab, karena struktur kalimat seperti yang ditunjukkan hadis Tsaqalain sama persis dengan ayat Al Quran dan hadis yang kami tunjukkan di atas.

Pada sisi ini kami telah membuktikan bahwa hadis Tsaqalain riwayat Muslim, lafaznya tidaklah bertentangan dengan hadis Tsaqalain yang lain [riwayat Tirmidzi, Thahawi danyang lainnya] melainkan memiliki makna yang sama yaitu berpegang teguh pada kitab Allah dan ahlul bait.

Mengapa kita dapat menarik kesimpulan bahwa dalam hadits Tsaqalain, Tsaqal yang wajib kita pegang teguh agar tidak sesat adalah Kitabullah saja dan tidak termasuk ahlul bait? Ada beberapa qarinah dan argumentasi yang kuat :

Qarinah dan argumentasi yang ia katakan kuat adalah sok tahu, omong kosong tong kosong nyaring bunyinya. Silakan perhatikan, kalau memang argumentasi mereka kuat maka silakan mereka menjawab dengan benar tanggapan berikut

1. Di dalam riwayat-riwayat tsaqalain yang shahih terdapat penjelasan yang sangat gamblang bahwa yang wajib dipegang teguh agar tidak sesat adalah Kitabullah, sebagai contoh dalam shahih Muslim :

Apakah ini argumentasi kuat? Jawabannya tidak. Karena tidak ada satupun pada lafaz ini yang menentang perintah berpegang teguh kepada Ahlul Bait. Apakah ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyuruh kaum muslimin berpegang teguh pada kitab Allah itu bermakna “hanya Kitab Allah”?. Nashibi sendiri masih berpegang pada hadis [sunnah] jadi seharusnya ia tidak menafsirkan bahwa pada riwayat Muslim itu hanya kitab Allah yang harus dipegang teguh dan tidak selainnya. Jadi cara penafsiran nashibi itu sendiri adalah kontradiktif. Kami sebelumnya telah menafsirkan dengan baik hadis Tsaqalain riwayat Muslim dimana hadis riwayat Muslim menguatkan hujjah kami.

2. Sebagian besar riwayat-riwayat tsaqalain menggunakan lafaz “Bihi” yang merujuk pada pada satu hal dan bukan dua hal, “Bihi” di sini adalah Kitabullah

Ini adalah ucapan dusta yang tidak paham bahasa arab dan menunjukkan kebodohan nyata terhadap struktur bahasa arab. Hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi” dipandang dari struktur kalimat secara tata bahasa arab bermakna “bihi” itu merujuk pada kata “ma” dan “ma” disana ada dua yaitu Kitab Allah dan ahlul bait maka itu berarti keduanya harus dipegang teguh. Sekali lagi secara bahasa arab lafaz “bihi” dalam hadis Tsaqalain bermakna keduanya harus dipegang teguh. Kami telah menunjukkan penggunaan lafaz “bihi” yang persis dalam hadis Tsaqalain dari Al Quran dan hadis shahih yang lain [silakan lihat tulisan di atas] dan menunjukkan bahwa “bihi” dalam kalimat-kalimat itu berlaku pada masing-masing item yang disebutkan atau terlingkup dalam kata “ma”.

3. Wasiat Rasulullah yang terbesar yang disampaikan pada saat haji Wada’ kepada seluruh kaum muslimin adalah berpegang kepada kitabullah tanpa ada tambahan itrati ahlul bait.

Ini bukan argumentasi yang kuat wahai nashibi. Jika ada hadis shahih lain yang memuat tambahan itrati ahlul bait maka tambahan itu diterima dan tidak bertentangan dengan hadis yang tidak menyebutkan tambahan tersebut. Inilah logika yang benar dan hal ini sangat sering terjadi pada berbagai riwayat hadis shahih.

4. Ahlul bait sebagaimana para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah orang-orang yang tidak ma’shum, maka wajib berpegang kepada mereka selama mereka berpegang kepada Kitabullah dan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam.

Ini ucapan tanaqudh. Kami tanya pada ana wahai nashibi, apa dasar anda menyatakan ahlul bait tidak ma’shum?. Kalau anda ingin menunjukkan berbagai riwayat yang menurut anda menunjukkan kesalahan ahlul bait atau teguran Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] terhadap Ahlul Bait maka bagaimana anda bersikap terhadap riwayat tentang salah atau lupanya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan teguran Allah SWT terhadap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Seharusnya dengan cara berpikir anda itu wahai nashibi maka anda juga harus berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak ma’shum.

Kalau anda mau menyatakan Rasulullah ma’shum dengan dalil baik Al Qur’an maupun hadis maka anda juga harus berkata ahlul bait pun juga ma’shum dengan dalil hadis Tsaqalain di atas. Kami pribadi tidak akan sibuk dengan kata “mas’hum” karena kata itu sendiri sering disalah artikan terutama oleh kaum nashibi. Kalau nashibi mengartikan “ma’shum” sebagai tidak pernah salah sedikitpun atau sekalipun maka kami akan lemparkan pada muka mereka berbagai riwayat shahih dimana mereka sendiri mengakui kalau para Nabi pernah berbuat salah termasuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jadi argumentasi anda wahai nashibi pada poin ini berbalik menyerang anda sendiri.

Dari qarinah-qarinah di atas sangat jelas bahwa yang wajib dipegang teguh oleh kaum Muslimin adalah Kitabullah, sekaligus menjelaskan “bihi” yang dimaksud adalah Kitabullah dan hal tersebut sudah sesuai dengan kaidah bahasa Arab.

Ini ucapan orang yang tidak mengerti apa yang ia katakan. Qarinah yang ia maksud tidak ada sedikitpun kaitannya dengan kaidah bahasa arab. Itu Cuma syubhat murahan “asal Jawab” atau “basa-basi” biar kelihatan sudah membantah padahal “tidak bernilai hujjah”. Lafaz “Bihi” harus dimengerti sesuai dengan struktur kalimatnya bukan dengan qarinah yang dibuat-buat, itulah kaidah bahasa arab. Kalau nashibi itu mau memahami hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi” maka yang ia lakukan harus merujuk pada hadis Tsaqalain yang dimaksud.

Kemudian orang syi’ah rafidhah ini berusaha mencari-cari bukti dalam ayat maupun hadits bahwa “bihi” bisa juga merujuk pada lebih dari satu hal, saya pikir boleh-boleh saja dan saya tidak akan membahasnya satu-per satu dari contoh-contoh yang dia sampaikan, tetapi hal yang terpenting adalah contoh-contoh tersebut tidak bisa diberlakukan untuk hadits tsaqalain ini, karena qarinah-qarinah di atas dengan jelas telah menjelaskan bahwa yang dimaksud “bihi” pada hadits tsaqalain adalah Kitabullah saja tidak termasuk ahlul bait.

Ini bukti nyata kalau nashibi itu tidak mengerti tulisan kami di atas. Perkaranya bukan hanya kami sedang menunjukkan lafaz “bihi” bisa merujuk pada lebih dari satu sehingga ia bisa berkata dalam hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi” ada dua kemungkinan itu merujuk pada satu saja atau merujuk pada keduanya sehingga harus melihat qarinah-qarinah lain. Maaf bukan seperti itu wahai nashibi, yang ingin kami tunjukkan dari tulisan di atas adalah lafaz “bihi” harus dimengerti sesuai dengan kalimat yang digunakan. “bihi” itu adalah kata ganti dan sebagai kata ganti ia harus dimengerti dengan melihat kata ganti itu kembali atau merujuk kepada apa. Untuk mengetahuinya ya dilihat dari kalimat yang dimaksud.

Hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi” secara kaidah bahasa arab sama persis dengan ayat Al Qur’an dan hadis yang kami tulis di atas bahwa itu kembali pada kata “ma” yaitu “apa atau sesuatu” dimana “ma” itu sendiri telah disebutkan ada berbagai item.

Dalam hadis Tsaqalain “ma” itu adalah Kitab Allah dan ahlul bait. Jadi hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi” secara bahasa arab mutlak bermakna keduanya harus dipegang teguh. Nashibi yang mengartikan hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi” bermakna berpegang teguh pada kitab Allah saja dan tidak ahlul bait jelas bertentangan dengan kaidah bahasa arab yang digunakan dalam kalimat tersebut. Ucapan nashibi itu “contoh-contoh tersebut tidak bisa diberlakukan untuk hadis Tsaqalain ini” menunjukkan kalau nashibi itu tidak paham kaidah bahasa arab bahkan setelah kami tunjukkan ayat Al Qur’an dan hadis shahih dalam tulisan di atas. Bagaimana bisa ia berkata “tidak bisa diberlakukan” padahal secara struktur kalimat penggunaaan lafaz bihi dalam hadis Tsaqalain jelas sama dengan contoh contoh yang kami tulis di atas

So bagaimana ini wahai nashibi, argumentasi mana yang anda nilai kuat. Apa karena jika anda nashibi dan kami anda tuduh syiah maka anda sudah pasti benar dan kami sudah pasti salah?. Kalau begitu silakan anda hidup dalam dunia khayalan anda sendiri. Salam

*********

secondprince, on September 25, 2011 at 2:10 pm said:

Berikut balasan dari alfanarku [yang di blockquote] dan tanggapaan dari kami

Terdapat bantahan dari si rafidhi nashibi (SP) berkaitan dengan artikel di atas, saya tidak akan terlalu banyak menanggapi karena bantahan-bantahan tersebut hanya kesesatan berpikir yang diulang-ulang olehnya.

Kalau cuma mengklaim maaf semua orang juga bisa, sekarang mari berbicara atas dasar fakta dan ilmu logika. Jika anda wahai nashibi berani berbicara “kesesatan berpikir” maka silakan tunjukkan dahulu dasar pikir yang benar baru anda katakan kami sesat darinya. Jangan hanya mampu berbahasa tetapi kosong maknanya.

Sudah sangat jelas pada riwayat Muslim bahwa hanya Al-Qur’an yang diperintahkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam untuk berpegang teguh kepadanya agar tidak sesat, disamping itu hanya Al-Qur’an yang ma’shum (terjaga) setiap huruf dan lafaz-nya sedangkan ahlul bait tidak.

Lihatlah baik-baik anda ini tidak mengerti perkataan orang lain. Pertama bagian mana dalam riwayat Muslim yang mengandung lafaz “hanya Al Qur’an”. Kalau anda mengartikan riwayat Muslim bahwa hanya Al Qur’an yang dipegang teguh dan tidak untuk selainnya maka anda pun tidak layak berkata sunnah Rasul harus dipegang teguh karena itu tidak disebutkan dalam riwayat Muslim wahai nashibi. Jika anda berpegang pada sunnah Rasul dengan mengandalkan hadis lain maka begitu pula yang kami lakukan kami berpegang teguh pada ahlul bait berdasarkan hadis Tsaqalain yang dengan jelas menyebutkan lafaz berpegang teguh pada Al Qur’an dan Ahlul Bait. Pandangan kami sendiri soal hadis Tsaqalain riwayat Muslim jelas sudah kami sebutkan. Lafaz “aku ingatkan kalian kepada Allah tentang ahlul baitku” mengandung makna Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengingatkan umatnya untuk berpegang teguh pada Ahlul Bait

Kalau si rafidhi nashibi ini tidak mengerti apa maksud Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam memperingatkan kaum muslimin atas ahlul baitnya?

Wahai nashibi kami tidak seperti anda yang jika berhujjah tidak bisa membedakan mana lafaz hadisnya dan mana asumsi anda sendiri. Kebiasaan anda yang suka mencampuradukkan asumsi anda pada hadis-hadis membuat anda mengalami kesesatan berpikir yang nyata dalam menarik kesimpulan. Kalau memang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berwasiat memperingatkan kaum muslim tentang ahlul bait maka sudah pasti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan isi peringatan tersebut. Mana mungkin Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memperingatkan sesuatu tetapi isi peringatan itu tidak disebutkan dan dipersilakan isi peringatan itu terserah pikiran umatnya. Anda ini sedang melucu ya :mrgreen:

ya silahkan pikir sendiri dengan logikanya yang sehat (jika dia punya) tidak usah memaksakan bahwa maksud Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah memerintahkan kaum muslimin untuk berpegang teguh kepada ahlul bait agar tidak sesat, karena pada kenyataannya hanya Al-Qur’an saja yang diperintahkan seperti itu.

Wahai nashibi, mana logika yang sehat?. Nabi memperingatkan sesuatu tetapi isi peringatannya terserah pikiran umatnya atau Nabi memperingatkan sesuatu sekaligus menyebutkan isi peringatannya. Kalau anda katakan yang pertama maka jelas anda tidak punya logika yang sehat kalau anda katakan yang kedua maka apa isi peringatan tentang ahlul bait dalam hadis Tsaqalain.

Setelah itu mari kita lanjut, mana logika yang benar. Menafsirkan peringatan itu berdasarkan lafaz hadis Tsaqalain atau menafsirkan peringatan itu berdasarkan asumsi pribadi misalnya dengan berkata “menghormati hak-hak ahlul bait”. Jelas menafsirkan berdasarkan hadis Tsaqalain adalah logika yang benar dan maaf banyak hadis Tsaqalain yang menyebutkan dengan jelas kalau Al Quran dan Ahlul Bait keduanya sama-sama dipegang teguh.

jangan samakan donk kedudukan dan fungsi sesuatu yang jelas berbeda. ini kengawuran (kesesatan berpikir) yang sangat nyata!

Maaf wahai nashibi tetapi andalah yang sedang mengalami kesesatan berpikir yang nyata. Mana dasar anda menyatakan kedudukan dan fungsi Al Qur’an dan ahlul bait berbeda. Apa kedudukan yang anda maksud?. Apa pada lafaz Al Qur’an lebih besar dari Ahlul Bait? Hal ini tidak ada bedanya dengan aqidah “taat pada Allah dan Rasul-Nya”. Apa anda pikir Allah SWT itu kedudukannya sama dengan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]? Hati-hati bisa syirik anda. Lantas apa karena kedudukannya berbeda jadi keduanya tidak layak dipegang teguh. Tundukkan hati anda pada dalil bukannya sok menilai mana yang sesuai nafsu anda. Hadis Tsaqalain walaupun menyebutkan bahwa yang satu lebih besar dari yang lain tetap menyatakan bahwa keduanya harus dipegang teguh. Jadi jangan mengambil sebagian hadis untuk mendustkan sebagian hadis yang lain.

Saya tidak mempermasalahkan bahwa bihi bisa merujuk pada lebih dari satu hal yang sepadan, tetapi untuk hadits tsaqalain jelas terdapat qarinah bahwa yang dimaksud bihi adalah Kitabullah, shahih Muslim telah menunjukkan hal tersebut dengan sangat jelas :

Aduhai nashibi betapa buruknya kemampuan kognitif anda dalam memahami tulisan orang lain. Silakan baca baik-baik, masalahnya bukan terletak pada “bihi” bisa bermakna satu atau lebih dari satu. Tetapi masalahnya dalam hadis Tsaqalain, lafaz “bihi” itu bermakna apa. Apa itu merujuk pada salah satu saja atau keduanya?. Ya caranya dengan melihat kalimat hadis Tsaqalain dengan lafaz “bihi”. Hadis shahih Muslim tidak pernah menafikan “berpegang teguh pada ahlul bait” justru peringatan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang ahlul bait tidak lain adalah berpegang teguh seperti yang dinyatakan dengan jelas pada hadis Tsaqalain selain riwayat Muslim.

Pertama, Kitabullah yang padanya berisi petunjuk dan cahaya, karena itu ambillah ia (yaitu melaksanakan kandungannya) dan berpegang teguhlah kalian kepadanya’. Beliau menghimbau/mendorong pengamalan Kitabullah
Jadi apapun penafsiran anda mengenai peringatan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam mengenai ahlul bait adalah bukan untuk dipegang teguh sebagaimana kedudukan Kitabullah,

Lho bagian pertama itu bercerita tentang Kitab Allah. Apa ada pada bagian pertama yang anda kutip itu terdapat lafaz yang menyebutkan kalau Ahlul Bait tidak dipegang teguh. Apa karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sudah menyebutkan Kitab Allah yang harus dipegang teguh maka tidak boleh ada lagi yang lain yang harus dipegang teguh. Kalau begitu pemahaman anda maka anda adalah orang yang ingkar sunnah. Penafsiran “ngeyel” anda hanya menunjukkan kalau anda seorang yang ingkar sunnah. Bagian pertama itu tidak pernah dipahami sebagai pembatas mutlak bahwa selain Kitab Allah tidak boleh ada yang dipegang teguh.

Kalau anda tidak bisa memahami maka kami bisa memberikan analogi sederhana. Seorang guru berkata kepada muridnya “nak Ibu guru nasehatkan kalian akan dua hal, pertama Ibumu taatlah padanya dan jangan menyaikitinya kedua ayahmu, ibu guru peringatkan engkau akan ayahmu”. Apa perkataan Ibu guru tentang Ibu menafikan anak tersebut harus taat pada ayahnya juga?. Di saat yang lain ibu guru itu berkata begini “nak ibu guru nasehatkan kalian apa yang jika kalian taat kepadanya maka kalian akan selamat yaitu ibu dan ayahmu”. Orang yang punya logika waras akan paham maksud nasehat guru adalah keduanya ayah dan ibu harus ditaati oleh anak tersebut. Cuma orang “sedeng” yang bilang ayah tidak perlu ditaati karena pada perkataan ibu guru yang pertama hanya Ibu yang harus ditaati sedangkan ayah hanya berupa peringatan saja.

Justru ini adalah qarinah yang sangat kuat wahai rafidhi nashibi, dimana wasiat beliau ini beliau sampaikan di tengah-tengah haji wada’, jika ahlul bait adalah sesuatu yang harus dipegang teguh agar tidak sesat selain Kitabullah, tentu beliau sudah sampaikan di moment yang sangat penting tersebut, dimana beliau berdiri di hadapan kaum muslimin dari berbagai daerah, bukan di saat beliau kembali dari Haji Wada’

Wah justru kalau begitu perkataan anda menyerang aqidah anda sendiri wahai nashibi. Kalau memang sunnah Rasul harus dipegang teguh oleh umat islam selain Kitab Allah maka tentu beliau sudah sampaikan di momen yang sangat penting dimana Beliau berdiri di hadapan kaum muslimin dari berbagai daerah saat Haji wada. Jadi jika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak menyampaikan wasiat berpegang teguh pada sunnah Nabi saat Haji wada maka sunnah Rasul tidak wajib dipegang teguh cukup kitab Allah saja. Bukankah begitu wahai nashibi yang ternyata ingkar sunnah :mrgreen:

Inilah kesalahan berpikir rafidhi nashibi ini dalam memahami konsep kema’shuman, jaminan kema’shuman (keterjagaan) hanya untuk para Nabi tidak untuk selainnya.

Tergantung bagaimana anda membuat batasan soal “kema’shuman” yang anda bicarakan. Jika yang anda sebut ma’shum adalah tidak pernah salah maka seharusnya Nabi pun tidak ma’shum dalam pandangan anda. Jika batasan “ma’shum” atau tidak bukan dengan melihat “pernah salah” maka apa gunanya anda mengaitkan riwayat yang menurut anda adalah kesalahan ahlul bait dengan kema’shuman mereka.

Kekeliruan para Nabi yang ditegur oleh Allah adalah masuk dalam proses penjagaan Allah atas mereka dimana dalam proses tersebut terdapat hikmah didalamnya sehingga kekeliruan tersebut tidaklah menodai kema’shuman mereka, sedangkan hal ini tidak berlaku buat selain para Nabi dan Rasul.

Kekeliruan ahlul bait yang anda persepsikan sendiri jelas termasuk dalam proses penjagaan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atas mereka. Kekeliruan mereka di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah bagian dari pendidikan khusus Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] atas mereka dan ketika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan wafat Beliau mewasiatkan agar umat islam berpegang teguh pada ahlul bait.

Contoh Allah pernah menegur Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dalam Al-Qur’an karena beliau tidak menyebut Insya Allah ketika menjanjikan sesuatu, ini adalah suatu hal yang dikehendaki oleh Allah dan salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap beliau yang terdapat banyak hikmah di dalam-nya, diantaranya :
1. Syari’at untuk mengucapkan Insya Allah jika menjanjikan sesuatu kepada orang
2. Menunjukkan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah manusia biasa
3. Bukti Allah selalu menjaga Nabi-Nya atas perbuatan beliau yang belum atau sudah beliau lakukan, ini justru bukti kema’shuman (keterjagaan) Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, karena jika kekeliruan tersebut telah dilakukan oleh beliau, maka akan langsung ditegur dan diluruskan oleh Allah. sedangkan yang lain tidak ada jaminan penjagaan dari Allah atas kekeliruan yang mereka lakukan.
4. Membuktikan bahwa Al-Qur’an adalah Kitabullah bukan datang dari Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam
5. Dll

Jangan bicara kepanjangan wahai nashibi, pahami duduk persoalan yang sedang didiskusikan. Anda dari awal mengaitkan kesalahan ahlul bait sebagai bukti tidak ma’shumnya mereka maka seharusnya dengan kesalahan Nabi maka itu bukti Nabi juga tidak ma’shum. Itulah konsekuensi ucapan anda.

Nah sekarang setelah anda merasa dilematis maka anda bermain kata-kata kalau ma’shum itu maksudnya keterjagaan dari Allah SWT jadi walaupun Nabi berbuat salah ya tetap ma’shum. Toh kami bisa juga berkata kesalahan ahlul bait yang anda tuduhkan itu bagian dari tarbiyah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] jadi tidak ada alasan dengan menjadikan hal ini untuk menolak hadis Tsaqalain.

Jadi wahai rafidhi nashibi, berfikirlah yang sehat, jangan biarkan virus syi’ah rafidhah menggerogoti akal sehat anda.

Insya Allah kami akan berpikir dengan sehat dan kami harap anda mulai belajar untuk berpikir sehat dan tidak perlu mengaitkan dengan “syiah rafidhah”. Semakin anda menuduh syiah hanya semakin menunjukkan kalau anda nashibi tulen.

_________________________________________________

ARTIKEL TERKAIT HADIS TSAQOLAIN

  1. Hadis Tsaqalain Hadis Tsaqolain 1
  2. Kekeliruan Hafiz Firdaus Dalam Memahami Hadis Tsaqalain Hadis tsaqolain 2
  3. Kekeliruan Ali As Salus Yang Mengkritik Hadis Tsaqalain Dalam Sunan Tirmidzi Hadis tsaqolain 3
  4. Kekeliruan Ali As Salus Yang Mengkritik Hadis Tsaqalain Dalam Musnad Ahmad Hadis tsaqolain 4
  5. Kekeliruan Ibnu Jauzi Terhadap Hadis Tsaqalain Hadis tsaqolain 5
  6. Analisis Kredibilitas Athiyyah Al ‘Aufi  Hadis tsaqolain 6
  7. Kekeliruan Ibnu Taimiyyah Terhadap Hadis Tsaqalain Hadis tsaqolain 7
  8. Penolakan Ibnu Taymiah Terhadap Hadis Tsaqolain Hadis tsaqolain 8
  9. Kritik Terhadap Distorsi Hadis Tsaqalain Hadis tsaqolain 9
  10. Tinjauan Ulang Hadis Tsaqalain Hadis tsaqolain 10
  11. Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait  Hadis Tsaqolain 11
  12. Hadis Tsaqalain Riwayat Yaqub bin Sufyan Al Fasawi    Hadis Tsaqolain 12
  13. Hadis Tsaqalain : Ahlul Bait Jaminan Keselamatan Dunia Dan Akhirat  Hadis Tsaqolain 13
  14. Hadis Tsaqalain : Membantah Syubhat Nashibi Terhadap Lafaz “Bihi” Hadis Tsaqolain 14. Bantahan Untuk Abul Jauza dan Al Fanarku

_________________________________________________________________________

******************************************************************************

SELANJUTNYA SILAHKAN BERKOMEN DAN MENANGGAPI  -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: