Anomali Hadis Abu Bakar Tentang Warisan Nabi?

Anomali Hadis Abu Bakar Tentang Warisan Nabi?

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar

Anomali Hadis Abu Bakar Tentang Warisan Nabi?

Tulisan ini tentu saja tidak bertujuan merendahkan sahabat yang mulia Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] tetapi tulisan ini bertujuan untuk membela ahlul bait dan syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh salafy dan pengikutnya [yang ngaku-ngaku mencintai ahlul bait]. Perselisihan yang terjadi antara Ahlul bait [Sayyidah Fathimah] dan Abu Bakar bukan perselisihan biasa layaknya perselisihan antar mujtahid. Sayyidah Fathimah meminta warisan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Abu Bakar menolak permintaan Sayyidah Fathimah [‘Alaihis salam] dengan membawakan hadis “Nabi tidak mewariskan dan semua yang ditinggalkan adalah sedekah”. Mendengar hal ini, Sayyidah Fathimah marah dan tidak berbicara kepada Abu Bakar sampai Beliau wafat.

Hadis yang dibawakan Abu Bakar adalah keliru, Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga mewariskan seperti yang dikatakan Ahlul bait. Abu Bakar sendiri pada awalnya ternyata mengakui kalau keluarga Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah yang mewarisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Anehnya setelah itu Abu Bakar membawakan hadis yang menentang perkataannya.

حدثنا عبد الله قال حدثني أبي قال ثنا عبد الله بن محمد بن أبي شيبة قال عبد الله وسمعته من عبد الله بن أبي شيبة قال ثنا محمد بن فضيل عن الوليد بن جميع عن أبي الطفيل قال لما قبض رسول الله صلى الله عليه و سلم أرسلت فاطمة إلى أبي بكر أنت ورثت رسول الله صلى الله عليه و سلم أم أهله قال فقال لا بل أهله قالت فأين سهم رسول الله صلى الله عليه و سلم قال فقال أبو بكر إني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول إن الله عز و جل إذا أطعم نبيا طعمة ثم قبضه جعله للذي يقوم من بعده فرأيت أن أرده على المسلمين فقالت فأنت وما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم أعلم

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah. Abdullah berkata dan aku mendengarnya [juga] dari ‘Abdullah bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Walid bin Jumai’ dari Abu Thufail yang berkata “ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat, Fathimah mengirim utusan kepada Abu Bakar yang pesannya “engkau yang mewarisi Rasulullah atau keluarganya?”. Abu Bakar menjawab “bukan aku tapi keluarganya”. Sayyidah Fathimah berkata “dimana bagian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?”. Abu Bakar berkata “aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla jika memberi makan seorang Nabi kemudian ia wafat maka dijadikan itu untuk orang yang bertugas setelahnya, maka aku berpendapat untuk menyerahkannya kepada kaum muslimin”. Sayyidah Fathimah berkata “engkau dan apa yang engkau dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah lebih tahu” [Musnad Ahmad 1/4 no 14, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya hasan perawinya perawi tsiqat perawi Bukhari dan Muslim kecuali Walid bin Jumai’ ia termasuk perawi Muslim]

Hadis riwayat Ahmad di atas kedudukannya shahih dengan syarat Muslim. Faedah yang dapat diambil dari hadis ini adalah Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] sendiri mengakui bahwa keluarga Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang mewarisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].  Tetapi setelah itu, ketika Sayyidah Fathimah [‘Alaihis salam] datang kepadanya dan meminta warisan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] Abu Bakar malah membawakan hadis bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak diwarisi.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام ابْنَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَتْ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقْسِمَ لَهَا مِيرَاثَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْه فَقَالَ لَهَا أَبُو بَكْرٍ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ.ِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Shalih dari Ibnu Syihaab yang berkata telah mengabarkan kepadaku ‘Urwah bin Zubair bahwa ‘Aisyah Ummul Mukminin radiallahu ‘anha mengabarkan kepadanya bahwa Fathimah [‘Alaihimus Salaam] putri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] meminta kepada Abu Bakar shiddiq setelah wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] agar membagi untuknya bagian harta warisan yang ditinggalkan Rasulullah [shallallahu ‘alihi wasallam] dari harta fa’i yang Allah karuniakan untuk Beliau. Abu Bakar berkata kepadanya bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “kami tidak mewariskan dan apa yang kami tinggalkan adalah sedekah” maka Fathimah binti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] marah dan tidak berbicara kepada Abu Bakar dan ia terus tidak berbicara dengan Abu Bakar sampai ia wafat, ia hidup setelah wafatnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] selama enam bulan. [Shahih Bukhari 4/79 no 3092]

Pada awalnya Abu Bakar mengakui bahwa keluarga Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang mewarisi Nabi [shallallahu ‘alihi wasallam] tetapi setelah itu ia mengatakan bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak diwarisi. Sikap Sayyidah Fathimah [‘Alaihis salam] yang marah dan tidak berbicara kepada Abu Bakar menunjukkan bahwa Sayyidah Fathimah menolak hadis yang disampaikan Abu Bakar tersebut.

Mari kita tanyakan kepada nashibi yang ngaku-ngaku salafy. Jika memang Nabi tidak diwarisi maka mengapa Abu Bakar mengakui kalau keluarga Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang mewarisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Apakah pada saat itu Abu Bakar belum mendengar hadis tersebut? lho kalau begitu kapan lagi Abu Bakar mendengar hadis tersebut padahal ketika Abu Bakar mengakui hal itu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sudah wafat. Atau Abu Bakar sengaja mendustakan hadis yang ia dengar?. btw silakan pilih wahai nashibi. Kalau pilihan kami cukup sederhana Abu Bakar keliru dalam meriwayatkan hadis tersebut, lebih sederhana dan lebih menjaga etika baik kepada Ahlul Bait ataupun kepada sahabat. Banyak sekali contohnya sahabat bisa salah dalam meriwayatkan hadis, yang tidak tahu silakan cari tahu.

Seandainya Sayyidah Fathimah menerima hadis tersebut maka tidak ada alasan bagi Beliau untuk marah dan tidak berbicara kepada Abu Bakar. Ada baiknya mereka yang membela Abu Bakar dan menyalahkan Sayyidah Fathimah itu memperhatikan ayat Al Qur’an berikut

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجاً مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيماً

Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakikatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya [QS An Nisa : 65]

Jika memang hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang disampaikan Abu Bakar adalah benar maka sikap Sayyidah Fathimah yang keberatan sehingga Beliau marah dan tidak berbicara kepada Abu Bakar sampai enam bulan dapat dikenakan pada ayat Al Qur’an di atas. Kami berlindung kepada Allah SWT atas konsekuensi yang seperti ini.

Sayyidah Fathimah adalah Ahlul Bait yang selalu bersama Al Qur’an. Beliau adalah putri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Sayyidah wanita di surga, orang yang paling memahami Al Qur’an setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Orang yang kemarahannya sama dengan kemarahan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Maka tidak lain kemarahan Sayyidah Fathimah menunjukkan bahwa hadis yang disampaikan Abu Bakar itu adalah keliru.

Apalagi hadis bahwa Nabi tidak mewariskan adalah hadis musykil yang bertentangan dengan Al Qur’anil Karim yang jelas menyatakan kalau para Nabi juga mewariskan. Perhatikan ayat berikut dimana Nabi Zakaria [‘Alaihis salam] berdoa

.

وَإِنِّي خِفْتُ الْمَوَالِيَ مِن وَرَائِي وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِراً فَهَبْ لِي مِن لَّدُنكَ وَلِيّا يَرِثُنِي وَيَرِثُ مِنْ آلِ يَعْقُوبَ وَاجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيّاً

Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul maka anugrahilah aku dari sisiMu seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia Tuhanku seorang yang diridhai [QS Maryam : 5&6]

Sebagian orang berusaha mencari dalih bahwa “mewarisi” yang dimaksud adalah mewarisi kenabian. Tentu saja ini alasan yang dicari-cari, kami pribadi tidak tahu berasal dari mana konsep “kenabian itu diwariskan”. Sangat jelas bahwa doa Nabi Zakaria di atas adalah keinginan Beliau memiliki seorang putra yang akan menjadi ahli waris Beliau. Karena konsep putra sebagai ahli waris yang mewarisi orang tuanya [ayah dan ibunya] adalah konsep yang sudah ada sepanjang masa dan ditetapkan dalam kitab-kitab samawi. Seandainya dari dahulu para Nabi tidak mewariskan maka Nabi Zakaria tidak akan melafazkan doa dengan lafaz yang seperti itu. Lafaz doa Nabi Zakaria menunjukkan bahwa Nabi pun dapat mewariskan kepada putranya.

Kata “mawaliy” yang berkaitan dengan kata “mewarisi” itu terkait dengan mewariskan harta atau apa-apa yang dimiliki seseorang.

وَلِكُلٍّ جَعَلْنَا مَوَالِيَ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالأَقْرَبُونَ وَالَّذِينَ عَقَدَتْ أَيْمَانُكُمْ فَآتُوهُمْ نَصِيبَهُمْ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيداً

Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, kami jadikan [mawaliy] pewaris-pewarisnya. Dan jika ada orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka maka berikanlah kepada mereka bagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu [QS An Nisa : 33]

Jadi arti dari mawaliy itu adalah orang-orang yang akan mewarisi harta. Nabi Zakaria khawatir terhadap orang [kerabat] yang akan mewarisi harta Beliau, sehingga Beliau berdoa kepada Allah SWT agar diberikan seorang putera yang dapat mewarisi Beliau. Maka kata “mewarisi” disini sangat berkaitan dengan pewarisan harta peninggalan.

Kesimpulan : Hadis Abu Bakar bahwa para Nabi tidak mewariskan jelas bertentangan dengan Al Qur’an dan Ahlul Bait maka dengan jelas menurut kami hadis tersebut keliru. Ahlul Bait Sayyidah Fathimah jelas berada dalam kebenaran.

_____________________________

ARTIKEL TERKAIT TENTANG “FADAK”

  1. Analisis Riwayat Fadak Antara Sayyidah Fatimah Az-Zahra AS Dan Abu Bakar RA. Fadak 1
  2. Menolak Keraguan Seputar Riwayat Fadak Fadak 2
  3. Tanggapan Tulisan ”Makna Hadis Tanah Fadak” Fadak 3
  4. Penyimpangan Kisah Fadak Oleh Situs Hakekat.Com Fadak 4
  5. Imam Ali Berselisih Dengan Abu Bakar Dalam Masalah Fadak Fadak 5
  6. Bantahan Atas Situs Hakekat.Com: “Tidak Shahih Abu Bakar Meminta Ma’af Pada Sayyidah Fatimah” Fadak 6
  7. Kedudukan Hadis “Rasulullah SAW Memberikan Fadak Pada Sayyidah Fathimah AS” Fadak 7
  8. Apakah Ali dan Abbas Mendengar dari Rasulullah Hadis Nabi Tidak Mewariskan? Fadak 8
  9. Ternyata Tidak Semua Peninggalan Rasulullah SAW Menjadi Sedekah? Fadak 9
  10. Anomali Salafy Yang Berhujjah Dengan Hadis ‘Amru bin Al Haarits (Tentang Fadak) Fadak 10
  11. Analisis Kredibilitas Athiyyah Al ‘Aufi  Hadis tsaqolain & Fadak 11
  12. Apakah Ali dan Abbas Menerima Hadis Abu Bakar dan Umar Tentang Warisan Nabi: Bantahan Atas Alfanarku Fadak 12

____________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: