Analisis Hadis Kesucian Rasulullah dan Ahlul Bait

Analisis Hadis Kesucian Rasulullah dan Ahlul Bait

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar (SP)

Kedudukan Hadis Kemuliaan Rasulullah dan Ahlul Bait

Muqaddimah
Dua malam yang lalu di tengah kelelahan dan pikiran yang tidak tenang, ingin sekali rasanya mata ini terlelap tetapi entah mengapa kedua mata ini tidak bisa terpejam. Yah daripada melamun dan bengong nggak jelas akhirnya diputuskan untuk mengecek blog secondprince yang sudah tidak terurus itu. Tidak ada yang spesial tetapi ada komentar yang bikin senang sekaligus kesal. Komentar dari seseorang dalam tulisan Al Quran dan Hadis Menyatakan Ahlul Bait Selalu Dalam Kebenaran

@SP
Dari tulisan Anda: Al-Syawkani menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas sebagaimana yg diriwayatkan oleh Al Hakim, At Turmudzi, Ath Thabarani, Ibnu Mardawaih, dan Al Baihaqi dalam kitab Ad Dalail jilid 4 hal 280, bahwa Nabi saw. bersabda … “Aku dan Ahlul BaitKu tersucikan dari dosa-dosa”.
Mohon bantuan tambahan info berupa letak hadis tsb dlm kitab hadis yg disusun Al-Hakim, Tirmidzi, Al-Thabrani, & Ibnu Mardawayh? Atau bisakah saya dikirimi teks hadis beserta sanadnya (via email)? Terima kasih sebelumnya. Salam ‘alaykum.

Senang karena saya punya dorongan untuk menulis, kesal karena saya sebenarnya ingin sekali tidur. Pyuuuuuh karena mata ini tidak bisa tidur maka ada baiknya saya memenuhi permintaan saudara tersebut.
.

.

Kutipan Hadis
Jalaludin As Suyuthi Dalam Kitab Tafsirnya Durr Al Mantsur 6/605 mengeluarkan riwayat berikut

وأخرج الحكيم والترمذي والطبراني وابن مردويه وأبو نعيم والبيهقي معا في الدلائل عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ” ان الله قسم الخلق قسمين فجعلني في خيرهما قسما فذلك قوله وأصحاب اليمين الواقعة الآية 27 و أصحاب الشمال الواقعة الآية 41 فأنا من أصحاب اليمين وأنا خير أصحاب اليمين ثم جعل القسمين أثلاثا فجعلني في خيرها ثلثا فذلك قوله ” وأصحاب الميمنة ما أصحاب الميمنة وأصحاب المشأمة ما أصحاب المشأمة والسابقون السابقون ” الواقعة الآية 8 – 10 فأنا من السابقين وأنا خير من السابقين ثم جعل الأثلاث قبائل فجعلني في خيرها قبيلة وذلك قوله وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا أن أكرمكم عند الله أتقاكم الحجرات الآية 13 وأنا أتقى ولد آدم وأكرمهم على الله تعالى ولا فخرثم جعل القبائل بيوتا فجعلني في خيرها بيتا فذلك قوله إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا فأنا وأهل بيتي مطهرون من الذنوب ”

Dikeluarkan oleh Al Hakim, Tirmidzi, Thabrani, Ibnu Mardawaih. Abu Nuaim dan Baihaqi dalam Ad Dalail dari Ibnu Abbas yang berkata “Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah SWT membagi manusia menjadi dua kelompok. Dan Dia menjadikanku pada kelompok yang paling baik dan adalah firmanNya “Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu”(Al Waqiah 27). “Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu” (Al Waqiah 41). Dan aku dari golongan kanan bahkan sebaik-baik golongan kanan. Kemudian Allah SWT menjadikan kedua kelompok itu menjadi tiga kelompok dan Dia menjadikanku pada yang paling baik, itu adalah firmanNya “Yaitu golongan kanan, alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu(masuk surga). Mereka itulah orang-orang yang didekatkan(kepada Allah SWT)” (Al Waqiah 8-10). Aku dari kelompok yang paling awal dan sebaik-baik kelompok yang paling awal (as sabiqun). Kemudian Dia menjadikan ketiga kelompok itu kabilah-kabilah dan Dia menjadikanku pada sebaik-baik kabilah. Dan itu firmanNya “Dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal” (Al Hujurat 13). Dan Aku anak cucu Adam yang paling bertakwa dan paling mulia di sisi Allah. Kemudian Dia menjadikan kabilah-kabilah itu menjadi keluarga-keluarga dan Dia menjadikanku pada sebaik-baik keluarga. Itulah firmanNya “Sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya” (Al Ahzab 33). Aku dan Ahlul BaitKu tersucikan dari dosa-dosa.

Dalam Kitab Tafsir Fathul Qadir Asy Syaukani 4/278 ketika menafsirkan Al Ahzab 33, beliau juga mengeluarkan riwayat tersebut dengan sedikit perbedaan yaitu beliau tidak mengatakan kalau riwayat ini dikeluarkan oleh Abu Nu’aim. Asy Syaukani berkata

وأخرج الحكيم الترمذي والطبرانى وابن مردويه والبيهقى فى الدلائل عن ابن عباس

Dan dikeluarkan oleh Al Hakim, Tirmidzi, Thabrani, Ibnu Mardawaih dan Baihaqi dalam Ad Dalail dari Ibnu Abbas

Berdasarkan keterangan As Suyuthi dan Asy Syaukani di atas maka hadis tersebut diriwayatkan oleh

  • Al Hakim
  • At Tirmidzi
  • At Thabrani
  • Ibnu Mardawaih
  • Abu Nu’aim
  • Abu Bakar Baihaqi dalam Dalail

.

.

.

Takhrij Hadis
Sayangnya hadis ini hanya saya temukan dalam kitab Ad Dalail Baihaqi, Mu’jam Ath Thabrani, Majma’ Az Zawaid Al Haitsami, dan Ma’rifat Al Tarikh Al Fasawi. Saya tidak berhasil menemukan hadis ini dalam kitab Mustadrak Al Hakim, Sunan Tirmidzi dan Hilyatul Aulia Abu Nu’aim. Sedangkan riwayat Ibnu Mardawaih, saya tidak memiliki sumber untuk mengaksesnya.

Riwayat ini saya temukan dalam Ad Dalail Baihaqi 1/170-171, Mu’jam Al Kabir Thabrani 3/56 hadis no 2674 dan 12/103 hadis no 12604. Hadis riwayat Thabrani ini disebutkan juga oleh Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 8/396 hadis no 13822. Selain itu hadis ini juga saya temukan dalam Ma’rifat Al Tarikh Yaqub Al Fasawi 1/498. Riwayat Thabrani, Baihaqi dan Ya’qub Al Fasawi semuanya melalui sanad dari Yahya bin Abdul Hamid dari Qais bin Rabi’ dari Al ‘Amasy dari Ubayah bin Rib’i dari Ibnu Abbas. Walaupun begitu ada sedikit perbedaan antara riwayat Thabrani dengan riwayat Baihaqi dan Al Fasawi. Riwayat dengan kata-kata Rasulullah SAW “Aku dan Ahlul BaitKu tersucikan dari dosa-dosa” ada dalam riwayat Baihaqi dan Al Fasawi sedangkan dalam riwayat Thabrani tidak disebutkan, riwayat tersebut berhenti pada penggalan Ayat Al Ahzab 33.

.

.

Analisis Sanad Hadis
Berikut sanad lengkap riwayat Baihaqi dalam Ad Dalail An Nubuwah1/170-171

أخبرنا أبو الحسين بن الفضل قال أخبرنا عبد الله بن جعفر قال حدثنا يعقوب بن سفيان قال حدثني يحيى بن عبد الحميد قال حدثنا قيس عن الأعمش عن عباية بن ربعي عن ابن عباس قال

Telah mengabarkan kepada kami Abu Husain bin Fadhl yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Sufyan yang berkata telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abdul Hamid yang berkata telah menceritakan kepada kami Qais dari Al ‘Amasy dari Ubayah bin Rib’i dari Ibnu Abbas yang berkata.

Hadis ini sanadnya hasan, berikut keterangan mengenai para perawinya

  • Abu Husain bin Fadhl, dia adalah Muhammad bin Husain bin Muhammad bin Fadhl Al Azraq Abu Husain Al Qathan Al Baghdadi, mendengar hadis dari Abdullah bin Ja’far dan merupakan salah satu guru Abu Bakar Baihaqi. Adz Dzahabi dalam Tarikh Al Islam 28/391 berkata “tsiqat masyhur” dan dalam As Siyar ‘Alam An Nubala 17/331 Adz Dzahabi mengatakan kalau Abu Husain bin Fadhl seorang syaikh yang tsiqat.
  • Abdullah bin Ja’far juga dikenal dengan Abu Muhammad Al Farsi meriwayatkan dari Yaqub bin Sufyan Al Fasawi. Adz Dzahabi dalam Siyar ‘Alam An Nubala 15/531 mengatakan kalau ia “Al Imam, Allamah, Syaikh” . Disebutkan dalam Tarikh Baghdad Al Khatib 9/435 no 5045 bahwa ia seorang yang tsiqat. Al Baihaqi menshahihkan hadis riwayatnya dalam Sunan Baihaqi 1/399.
  • Ya’qub bin Sufyan Al Fasawi, beliau adalah perawi Tirmidzi dan An Nasa’i. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam Tahdzib At Tahdzib juz 11 no 648. Beliau dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban. An Nasa’i berkata “la ba’sa bihi(tidak cacat)” Al Hakim berkata kalau dia seorang Imam ahli hadis. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/337 mengatakan kalau Yaqub bin Sufyan tsiqat hafiz.
  • Yahya bin Abdul Hamid, beliau perawi yang dijadikan hujjah oleh Imam Muslim dalam Shahihnya. Disebutkan Ibnu hajar dalam Tahdzib At Tahdzib juz 11 no 399 bahwa beliau dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Numair dan Al Busyanji, Al Khalili menyebutnya sebagai hafiz.
  • Qais bin Rabi’ Al Asadi, Abu Muhammad Al Kufi, beliau adalah perawi Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Disebutkan Ibnu Hajar dalam Tahdzib At Tahdzib juz 8 no 698 bahwa Afan, Syu’bah, Sufyan Ats Tsawri dan Abul Walid menyatakan kalau ia tsiqah dan hadisnya hasan. Ibnu Ady berkata “kebanyakan hadisnya lurus”. Ibnu Ma’in, Nasa’I dan Daruquthni melemahkannya. Ibnu Hajar menyebutkannya dalam At Taqrib 2/33 dengan predikat shaduq atau jujur tetapi mengalami perubahan hafalan di masa tuanya, mungkin karena ini ia dinyatakan dhaif oleh sebagian Ulama. Oleh karena itu hadisnya dinilai hasan.
  • Al ’Amasy adalah Sulaiman bin Mihran Al Kufi. Dalam Tahdzib At Tahdzib juz 4 no 386, beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, Ibnu Main, An Nasa’i dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat.
  • Ubayah bin Rib’i, beliau adalah tabiin generasi awal. Ibnu Abi Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 7/29 no 155 menyatakan kalau ia meriwayatkan dari Ali, Abu Ayub dan Ibnu Abbas, kemudian meriwayatkan darinya Khaitsamah bin Abdurrahman, Salamah bin Kuhail, Al ’Amasy dan Musa bin Tharif. Abu Hatim mengatakan kalau ia termasuk sesepuh syiah dan ia seorang Syaikh. Pernyataan Syaikh adalah penilaian ta’dil yang setingkat dengan hasanul hadis. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat Al Kubra juz 6 hal 127 mengatakan ”Ubayah bin Rib’i meriwayatkan dari Umar dan Ali bin Abi Thalib, ia sedikit meriwayatkan hadis, semoga rahmat Allah dan kesejahteraan dilimpahkan kepadanya”.

Jadi hadis tersebut telah diriwayatkan oleh para perawi yang sebagiannya tsiqat dan sebagiannya lagi berstatus hasan hadisnya. Oleh karena itu kedudukan hadis ini adalah hasan.

.

.

Tinjauan Atas Kritik Hadis
Sebagian orang yang tentunya dari kalangan salafiyun telah menolak dengan keras hadis ini. Terkadang mereka mengatakan hadis ini maudhu’ atau palsu seperti Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ad Dhaifah no 5495 dan terkadang mereka mengatakan hadis ini dhaif. Di antara mereka ada yang berhujjah dengan pernyataan Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah bahwa di dalam hadis ini terdapat hal yang gharib dan mungkar. Pernyataan Ibnu Katsir tidaklah benar, cobalah lihat hadis tersebut sekali lagi tidak ada satupun sesuatu yang gharib ataupun mungkar. Jika kemuliaan dan kesucian Rasulullah SAW dan Ahlul Bait dikatakan sebagai gharib mungkar maka tidak ada lagi yang patut untuk didiskusikan.

Mereka juga terkadang berhujjah dengan pernyataan Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 8/396 no 13822 yaitu

رواه الطبراني وفيه يحيى بن عبد الحميد الحماني وعباية بن ربعي وكلاهما ضعيف

Hadis riwayat Thabrani dan didalamnya terdapat Yahya bin Abdul Hamid Al Hamani dan Ubayah bin Rib’i yang dikatakan dhaif.

Pernyataan Al Haitsami juga tidaklah benar. Yahya bin Abdul Hamid telah dijadikan hujjah oleh Imam Muslim, dan dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Numair dan Ibnu Ma’in. Walaupun ada yang melemahkan Yahya maka itu tidak membuat hadis tersebut menjadi dhaif, apakah mereka akan berani menyatakan yang seperti ini terhadap hadis Yahya yang dijadikan hujjah oleh Imam Muslim dalam Shahihnya. Yah sepertinya kita akan melihat kembali antagonisme salafy dalam menilai hadis.

Di antara mereka yang mendhaifkan hadis ini telah menilai cacat kepada Ubayah bin Rib’i. Mereka berhujjah dengan pernyataan Ibnu Hajar dalam Lisan Al Mizan juz 3 no 1082 yang mengatakan kalau Ubayah bin Rib’i adalah syiah ekstrem dan Al Uqaili yang memasukkan Ubayah dalam kitabnya Ad Dhu’afa 3/415 no 1457. Hujjah seperti ini bersifat bias sektarian. Ubayah adalah seorang tabiin awal yang meriwayatkan dan bertemu dengan sahabat Nabi dimana Al Hakim dalam Ma’rifat Ulumul Hadis hal 41 berkata tentang golongan tabiin awal

فخير الناس قرناً بعـد الصحـابة من شـافه أصحـاب رسول الله صلى الله عليه وسلّم، وحفظ عنهم الدين والسنن، وهم قد شهدوا الوحي والتنزيل

Sebaik-baik manusia setelah sahabat adalah mereka yang bertemu langsung dengan sahabat Rasulullah SAW, memelihara dari mereka agama dan sunnah dan mereka para sahabat telah menyaksikan turunnya wahyu.

Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Abu Hatim dan Ibnu Sa’ad telah memberikan predikat ta’dil kepada Ubayah, padahal Abu Hatim mengetahui kalau Ubayah adalah seorang Syiah. Kemudian Al Hakim juga telah menshahihkan hadis Ubayah dalam kitab Mustadrak As Shahihain hadis no 3717, 3831 dan 4095 yang berarti predikat ta’dil bagi Ubayah bin Rib’i.

Lagipula tuduhan syiah ekstrem adalah tuduhan yang tidak jelas jika disematkan kepada para tabiin awal. Bagaimana Ubayah bisa dituduh sebagai syiah ekstrem?. Dalam Lisan Al Mizan ternyata satu-satunya alasan mengapa Ubayah dituduh syiah ekstrem adalah karena ia meriwayatkan hadis-hadis yang berbau syiah diantaranya riwayat Imam Ali yang berkata “Aku adalah pembagi neraka dan surga”. Alasan ini jugalah yang membuat Al Uqaili memasukkan Ubayah dalam kitab Ad Dhu’afa. Alasan seperti ini memiliki beberapa kerancuan

  • Jika memang orang yang meriwayatkan hadis tersebut dikatakan dhaif maka mengapa bukan perawi-perawi lain sebelum Ubayah yang dijadikan sasaran tuduhan. Mengapa bukan Al’Amasy misalnya?. Apakah karena ‘Amasy tsiqah lantas ia bebas dari tuduhan?. Apakah orang dengan tingkatan seperti Ubayah yaitu tabiin awal yang bertemu dengan sahabat Nabi tidak pantas untuk dibebaskan dari tuduhan?. Jadi mau dikemanakan hadis kebanggaan salafy kalau tabiin adalah generasi terbaik setelah sahabat.
  • Bisa jadi hadis-hadis Ubayah yang dipermasalahkan para salafy sebenarnya bukanlah tanggung jawab Ubayah. Misalnya hadis Qasim An Nar yaitu Imam Ali sebagai pembagi neraka. Hadis tersebut diriwayatkan dari Musa bin Tharif dari Ubayah. Musa telah dinyatakan matruk oleh Ad Daruquthni dalam Ad Dhu’afa no 519. Nah bukankah ini berarti yang seharusnya jadi sasaran tuduhan adalah Musa bin Tharif bukan Ubayah.

Aneh sekali kalau melihat berbagai kejanggalan yang berbau syiahpobhia. Apalagi kalau kejanggalan seperti ini menjangkiti para ahli hadis. Adz Dzahabi misalnya tidak segan-segan mencela Al Uqaili ketika Al Uqaili memasukkan Ali bin Madini ke dalam kitab Ad Dhu’afa 3/235 tetapi ketika seorang Ubayah meriwayatkan hadis tentang Ahlul Bait maka ia dengan mudahnya bertaklid dengan Al Uqaili yang mendhaifkan Ubayah. Padahal ketika Ubayah bin Rib’i tidak meriwayatkan hadis yang berbau syiah, sedikitpun Adz Dzahabi tidak mencacatnya bahkan menyatakan shahih hadis Ubayah bin Rib’i dalam Talkhis Al Mustadrak 3/333 hadis no 3717. Jadi tuduhan syiah ekstrem adalah tuduhan yang terkesan dicari-cari dan tuduhan seperti ini menjadi dasar bagi Al Uqaili untuk mendhaifkan Ubayah, padahal dikenal kalau Al Uqaili suka berlebihan dalam mencacat orang bahkan ulama besar sekaliber Ali bin Madini pun tidak lepas dari pencacatan Al Uqaili dalam kitabnya Ad Dhu’afa.

.

.

Kesimpulan

Hadis tersebut sanadnya hasan dan kelemahan yang ada pada sebagian perawinya memang tidak membuat shahih hadis tersebut tetapi juga tidak menjatuhkannya ke derajat dhaif apalagi maudhu’.

.

.

Lampiran
Berikut saya lampirkan hadis ini yang dikutip dalam kitab Tafsir Al Alusi Ruhul Ma’ani juz 22 hal 13-14.

Di bawah ini kutipan riwayat tersebut dari hal 13 sampai dengan hal 14

.

Salam Damai

.

Catatan :

  • Sayangnya karena situasinya tidak memungkinkan maka tulisan ini tidak melalui fase pengeditan :(
  • Semoga sebentar lagi keadaan jadi lebih baik :)
  • Saya menunggu hadiah dari seseorang :mrgreen:

______________________

ARTIKEL TERKAIT AHLUL BAIT

  1. Ketika Pendengki Ahlulbait Suci Nabi saw. Sok Berlagak Membela Ahlulbait (1) Ahlul-bait 1
  2. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Hadis Tsaqalain) Ahlul-bait 2
  3. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Ayat Tathir) Ahlul-bait 3
  4. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Ayat Tathir Bukan istri-istri Nabi SAW) Ahlul-bait 4
  5. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Kerancuan Tafsir Ibnu Katsir dkk) Ahlul-bait 5
  6. Berpegang Teguh Pada Ahlul Bait Nabi SAW Atau Sahabat Nabi SAW  Ahlul-bait 6
  7. Ahlulbait as adalah Ahlu adz Dzikr Ahlul-bait 7
  8. Imam Besar Wahabi Ibnu taymiah: Pengutamaan Ahlul Bait Nabi saw adalah Peninggalan Jahiliyah Ahlul-Bait 8
  9. Bantahan Dan Tantangan Untuk haulasyiah: “Tak Ada Gunanya Membela Gembong Kaum Munafik!”  Ahlul-Bait 9
  10. Ayat Tathhir Khusus Untuk Ahlul Kisa’  Ahlul-Bait 10
  11. Dalil Ahlul Bait Bukanlah Istri-istri Nabi  Ahlul-Bait 11
  12. Hadis Yang Menjelaskan Siapa Ahlul Bait Yang Disucikan Dalam Al Ahzab 33  Ahlul-Bait 12
  13. Pengakuan Ummu Salamah : Dirinya Bukan Ahlul Bait Dalam Al Ahzab 33  Ahlul-Bait 13
  14. Analisis Hadis Kisa’ Dalam Musnad Ahmad  Ahlul-Bait 14
  15. Konsisten Dalam Inkonsisten [Menjawab Hujjah Salafy]  Ahlul-Bait 15
  16. Ahlul Bait Dalam Pandangan Imam Ali?  Ahlul-Bait 16
  17. Ahlul Bait Mengakui Kepemimpinan Mereka Dengan Ayat Tathhiir Ahlul-Bait 17
  18. Al Quran Dan Hadis Menyatakan Ahlul Bait Selalu Dalam Kebenaran Ahlul-Bait 18
  19. Analisis Hadis Kesucian Rasulullah dan Ahlul Bait Ahlul-Bait 19
  20. Hadis Nabi Memerangi Orang Yang Memerangi Ahlul Bait Ahlul-Bait 20

____________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: