Ahlul Bait Mengakui Kepemimpinan Mereka Dengan Ayat Tathhiir

Ahlul Bait Mengakui Kepemimpinan Mereka Dengan Ayat Tathhiir

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar (SP)

Dimana saja dan di zaman manapun akan selalu ada orang-orang yang dengan segala cara mengingkari keutamaan Ahlul Bait. Diantara kaum ingkar tersebut, yang paling berbahaya adalah orang yang menyebut diri mereka “salafy”. Dengan symbol palsu seperti itu mereka mengatasnamakan kaum salaf sambil mengutip hadis-hadis yang mereka simpangkan artinya demi mengingkari keutamaan Ahlul Bait. Salafy adalah kaum yang paling keras pengingkarannya terhadap kepemimpinan Ahlul Bait dan insya Allah, dalam perkara “Ahlul Bait” blog ini akan menjadi yang paling keras membantah salafy. Salafy mengingkari kepemimpinan Ahlul Bait maka kami katakan Ahlul Bait sendiri mengakui kepemimpinan mereka

اخبرنا أبو بكر محمد بن عبد الباقي أنا الحسن بن علي أنا محمد بن العباس الخزاز أنا احمد بن معروف نا الحسين بن محمد أنا محمد بن سعد نا يزيد بن هارون أنا العوام بن حوشب عن هلال بن يساف قال سمعت الحسن بن علي وهو يخطب وهو يقول يا أهل الكوفة اتقوا الله فينا فإنا أمراؤكم وأنا اضيافكم ونحن أهل البيت الذين قال الله تعالى ” إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا ” قال فما رأيت يوما قط اكثر باكيا من يومئذ

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin ‘Abdul Baaqiiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abbas Al Khazzaaz yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ma’ruf yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’ad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Awwaam bin Hausyab dari Hilal bin Yasaaf yang berkata aku mendengar Hasan bin Ali dan ia berkhutbah, ia mengatakan “wahai ahlul kufah bertakwalah kepada Allah tentang kami, kami adalah pemimpin-pemimpin kalian dan tamu-tamu kalian dan kami ahlul bait yang difirmankan Allah SWT “sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya”. [Hilal bin Yasaaf] berkata “aku belum pernah melihat hari dimana banyak orang menangis seperti pada hari itu” [Tarikh Ibnu Asakir 13/270]

Atsar Imam Hasan ini sanadnya shahih. Para perawinya tsiqat, Husain bin Muhammad adalah Husain bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Fahm dikatakan Daruquthni “tidak kuat” tetapi Al Hakim berkata “tsiqat ma’mun hafizh”.

  • Abu Bakar Muhammad bin ‘Abdul Baaqiy adalah Syaikh [guru] Ibnu Asakir yang tsiqat. Adz Dzahabi menyebutnya Syaikh Imam Al Alim. Ibnu Jauzi menyatakan ia tsiqat tsabit dan hujjah [As Siyar 20/23-28 no 12]
  • Hasan bin Ali adalah Abu Muhammad Hasan bin Ali Al Jauhariy Asy Syiraaziy Al Baghdadiy. Adz Dzahabi menyebutnya Syaikh Imam muhaddis shaduq. Al Khatib telah menulis darinya dan menyatakan ia tsiqat dapat dipercaya [As Siyaar 18/68 no 30]
  • Muhammad bin ‘Abbas adalah Abu ‘Umar Muhammad bin ‘Abbas bin Muhammad bin Zakariya bin Yahya Al Baghdadiy Al Khazzaaz yang dikenal dengan Ibnu Haywayh. Adz Dzahabi menyebutnya imam muhaddis yang tsiqat. Al Khatib menyatakan tsiqat. Al Barqaniy berkata “tsiqat tsabit hujjah” [As Siyar 16/409-410 no 296]
  • Ahmad bin Ma’ruf adalah Ahmad bin Ma’ruf bin Basyr bin Musa Abu Hasan Al Khasysyaab mendengar dari Husain bin Fahm dan telah meriwayatkan darinya Ibnu Haywayh. Al Khatib berkata “ia tsiqat” [Tarikh Baghdad 5/368 no 2920]
  • Husain bin Muhammad adalah Husain bin Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Fahm. Al Hakim berkata “tsiqat ma’mun hafizh” [Mustadrak Ash Shahihain no 4638]. Daruquthni berkata “tidak kuat” [Su’alat Al Hakim no 85]. Al Khatib berkata “ia tsiqat berhati-hati dalam riwayat” [Tarikh Baghdad 8/92 no 4190]
  • Muhammad bin Sa’ad Al Hasyimi Abu ‘Abdullah Al Bashriy penulis kitab Thabaqat. Ibnu Hajar berkata “ia hafizh besar yang tsiqat”. Al Khatib menyatakan Ibnu Sa’ad termasuk ahli ilmu yang memiliki keutamaan, kefahaman dan ‘adalah [At Tahdzib juz 9 no 275]. Ibnu Hajar juga berkata “shaduq memiliki keutamaan” [At Taqrib 2/79].
  • Yazid bin Harun bin Waadiy adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Madini berkata “ia termasuk orang yang tsiqat” dan terkadang berkata “aku tidak pernah melihat orang lebih hafizh darinya”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit dalam hadis”. Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata “aku belum pernah bertemu orang yang klebih hafizh dan mutqin dari Yazid”. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat imam shaduq. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun” [At Tahdzib juz 11 no 612]
  • ‘Awwaam bin Hausyaab adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Telah meriwayatkan darinya Syu’bah yang berarti Syu’bah menganggapnya tsiqat. Ahmad bin Hanbal berkata “tsiqat tsiqat”. Ibnu Ma’in dan Abu Zur’ah berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “shalih tidak ada masalah padanya”. Al Ijli, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 8 no 298]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit dan memiliki keutamaan” [At Taqrib 1/759]
  • Hilaal bin Yasaaf adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. Ia menemui masa Ali dan meriwayatkan dari Hasan bin Ali. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Al Ijli berkata “tabiin kufah yang tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 11 no 144]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 2/274]

Tidak diragukan lagi semua perawinya tsiqat. Hanya Husain bin Fahm yang dikatakan Daruquthni “tidak kuat” tetapi ini bukan jarh yang menjatuhkan karena perawi dengan predikat seperti ini bisa jadi hadisnya hasan. Apalagi jarh Daruquthni ini bersumber dari Al Hakim sedangkan Al Hakim sendiri menyatakan Husain bin Fahm tsiqat ma’mun dan Hafizh. Pendapat yang rajih Husain bin Fahm seorang yang tsiqat.

Hilaal bin Yasaaf dalam periwayatan dari Imam Hasan memiliki mutaba’ah yaitu dari Abu Jamilah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Tafsiir Ibnu Abi Hatim no 16776 dan Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 3/93 no 2761. Berikut sanad riwayat Ibnu Abi Hatim dari ayahnya

حدثنا أبو الوليد حدثنا أبو عوانة عن حصين بن عبد الرحمن عن أبى جملية قال إن الحسن بن علي

Telah menceritakan kepada kami Abul Walid yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Hushain bin ‘Abdurrahman dari Abi Jamilah yang berkata bahwa Hasan bin Ali-riwayat di atas-

Riwayat Abu Jamilah ini sanadnya hasan. Para perawinya tsiqat kecuali Abu Jamilah ia seorang yang shaduq hasanul hadis. Dalam riwayat Abu Jamilah terdapat tambahan lafaz yang menyebutkan kalau khutbah Imam Hasan itu diucapkan ketika Imam Ali telah wafat.

  • Abu Walid adalah Hisyam bin Abdul Malik seorang Hafizh Imam Hujjah. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [2/267]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 5970]
  • Abu Awanah adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yaskuri. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 2/283]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqah [Al Kasyf no 6049].
  • Hushain bin Abdurrahman adalah seorang yang tsiqah. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqah [At Taqrib 1/222] dan Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 1124]
  • Abu Jamilah adalah Maisarah bin Yaqub seorang tabiin yang melihat Ali dan meriwayatkan dari Ali dan Hasan bin Ali. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 693]. Ibnu Hajar menyatakan ia maqbul [At Taqrib 2/233]. Pernyataan Ibnu Hajar keliru karena sebagai seorang tabiin dan telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqah bahkan Ibnu Hibban menyebutnya dalam Ats Tsiqat maka dia adalah seorang yang shaduq hasanul hadis seperti yang dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib [Tahrir At Taqrib no 7039]

Abu ‘Awanah dalam periwayatan dari Hushain bin ‘Abdurrahman memiliki mutaba’ah yaitu dari Khalid bin ‘Abdullah Al Wasithiy sebagaimana yang diriwayatkan Ath Thabrani dengan jalan sanad berikut

حدثنا محمود بن محمد الواسطي ثنا وهب بن بقية أنا خالد عن حصين بن أبي جميلة أن الحسن بن علي رضي الله عنه

Telah menceritakan kepada kami Mahmuud bin Muhammad Al Wasithiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Wahb bin Baqiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid dari Hushain dari Abu Jamilah bahwa Hasan bin Ali radiallahu ‘anhu-riwayat-

Riwayat ini sanadnya hasan. Mahmud bin Muhammad Al Wasithiy dikatakan Daruquthni seorang yang tsiqat [Su’alat Hamzah no 367]. Wahb bin Baqiyah adalah perawi Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i, Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 2/291]. Khalid bin ‘Abdullah Al Wasithiy adalah perawi kutubus sittah, Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit” [At Taqrib 1/259]. Dengan mengumpulkan sanad-sanadnya maka riwayat Imam Hasan ini kedudukannya shahih tanpa keraguan. Telah meriwayatkan dari Imam Hasan, Hilal bin Yasaaf dan Abu Jamilah Maisarah bin Ya’qub.
.

.

.

Pembahasan Matan Riwayat

Khutbah Imam Hasan ini diucapkan beliau setelah Imam Ali meninggal atau syahid [sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Abu jamilah]. Imam Hasan mengingatkan kepada para penduduk kufah dengan lafaz “wahai penduduk kufah bertakwalah kepada Allah tentang kami”. Lafaz ini menunjukkan bahwa terdapat sesuatu tentang “kami” [yang dikatakan Imam Hasan] dimana hal tersebut diwajibkan bagi umat islam [yang saat itu diseru adalah penduduk kufah].

Apa sebenarnya sesuatu tentang “kami” yang dimaksud oleh Imam Hasan?. Jawabannya terletak pada kalimat setelahnya yaitu pada lafaz “kami adalah pemimpin-pemimpin kalian”. Lafaz “pemimpin” disini diucapkan dalam bentuk jamak, artinya lebih dari satu. Apakah kepemimpinan yang dimaksud merujuk pada kepemimpinan Khalifah dimana Imam Hasan telah dibaiat?. Jawabannya bukan, karena kalau kepemimpinan yang menyangkut pemerintahan maka pemimpin saat itu hanya ada satu yaitu Khalifah Hasan bin Ali radiallahu ‘anhu. Imam Hasan mengucapkan dengan lafaz jamak “kami pemimpin-pemimpin kalian” untuk menunjukkan kepemimpinan jenis lain yaitu kepemimpinan Ahlul Bait sebagai pribadi-pribadi yang menjadi pedoman umat islam agar tidak tersesat. Sehingga kata “kami” yang diucapkan oleh Imam Hasan merujuk kepada “Ahlul Bait”. Lagipula termasuk aneh jika Imam Hasan mengingatkan penduduk Kufah agar mereka mengikuti dirinya dengan cara mengatakan kalau dirinya adalah khalifah mereka, aneh karena sudah sejak awal mereka telah membaiat Imam Hasan sebagai khalifah atau telah mengakui Imam Hasan sebagai khalifah.

Siapakah Ahlul Bait yang ada saat itu dan yang dimaksudkan oleh Imam Hasan dalam ucapannya tersebut?. Jawabannya terletak pada kalimat selanjutnya “kami adalah ahlul bait yang difirmankan Allah SWT : sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya”. Ayat ini turun untuk Imam Ali, Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husain, merekalah ahlul bait yang dimaksud. Pada saat Imam Hasan mengucapkan khutbah tersebut, ahlul bait yang dimaksud dalam ayat tathhiir adalah Imam Hasan dan Imam Husain. Mereka berdua yang dimaksud dalam ucapan Imam Hasan “kami adalah pemimpin-pemimpin kalian”.

Khutbah Imam Hasan juga memberikan faedah bagi kita bahwa sebenarnya ayat tathhiir sedari awal memang turun untuk ahlul kisa’. Perhatikan lafaz ucapan Imam Hasan “kami adalah ahlul bait yang difirmankan Allah SWT”, lafaz ini bukti nyata bahwa Imam Hasan mengakui ayat tersebut turun untuk Beliau. Ucapan Imam Hasan ini juga membantah pernyataan kaum pengingkar [baca : Nashibi] yang mengatakan kalau ayat tathhiir turun khusus untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sedangkan ahlul kisa’ hanya didoakan oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] supaya ikut masuk.

Khutbah Imam Hasan ini juga memberikan faedah soal makna ayat tathhiir. Bagi kaum pengingkar [baca : salafy nashibi] ayat tathhiir bermakna pribadi-pribadi yang dimaksud harus melaksanakan syariat “jangan berhias” atau “tetaplah dirumahmu” agar mendapatkan penyucian yang dimaksud. Ternyata apa yang dikatakan Imam Hasan sangat jauh dari itu, Bagamana mungkin ahlul bait dalam ayat tathiir harus “tetap di rumahmu” padahal Beliau Imam Hasan malah pergi ke medan perang untuk memerangi Muawiyah dan Imam Hasan mengakui kalau dirinya adalah ahlul bait yang dimaksud dalam ayat tathhiir.

Imam Hasan menjadikan ayat tathhiir sebagai hujjah agar umat islam mengikuti dan berpedoman kepada Ahlul Bait [dalam hal ini beliau sendiri dan Imam Husain]. Hal ini menunjukkan bahwa makna ayat tathhiir dalam pandangan Imam Hasan adalah sebagai iradah yang takwiniyah artinya pribadi-pribadi yang dimaksud telah disucikan sehingga penyucian itu menjadi keutamaan bagi mereka dimana sebagai orang yang suci pribadi tersebut harus diikuti dan dijadikan pedoman agar tidak tersesat. Pandangan seperti ini selaras dengan wasiat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam hadis Tsaqalain.

Tentu saja para pengingkar [baca : Nashibi] akan merasa sakit hati untuk mengakui kepemimpinan Ahlul Bait. Mengapa? Karena mereka malu [padahal tidak tahu malu] atau mereka sombong untuk mengakui kebenaran. Akibatnya kerja mereka menebar berbagai syubhat “itu syiah” atau “itu ucapan syiah” atau “syiah yang menyesatkan” atau “hawa nafsu kaum syiah” dan yang lain-lain kalau bisa disyiah-syiahkan. Orang-orang seperti ini mungkin layak untuk dikatakan neonashibi [nashibi model baru]. Penyakit nashibi ini memang parah, setiap yang mengutamakan ahlul bait di atas sahabat pasti akan mereka tuduh syiah padahal itulah kedudukan ahlul bait yang telah ditetapkan Allah SWT dan Rasul-Nya SAW. Siapapun yang berpegang teguh pada sunnah akan mengetahui betapa mulia dan tingginya kedudukan Ahlul Bait sehingga tidak ada satupun [bahkan dari kalangan sahabat] yang dapat dibandingkan dengan Mereka. Akhir kata, kami berlepas diri dari ucapan para penuduh dan pengingkar, kepada Allah SWT kami memohon ampun. Salam Damai

_____________

TULISAN TERKAIT TENTANG AHLUL BAIT

  1. Ketika Pendengki Ahlulbait Suci Nabi saw. Sok Berlagak Membela Ahlulbait (1) Ahlul-bait 1
  2. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Hadis Tsaqalain) Ahlul-bait 2
  3. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Ayat Tathir) Ahlul-bait 3
  4. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Ayat Tathir Bukan istri-istri Nabi SAW) Ahlul-bait 4
  5. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Kerancuan Tafsir Ibnu Katsir dkk) Ahlul-bait 5
  6. Berpegang Teguh Pada Ahlul Bait Nabi SAW Atau Sahabat Nabi SAW  Ahlul-bait 6
  7. Ahlulbait as adalah Ahlu adz Dzikr Ahlul-bait 7
  8. Imam Besar Wahabi Ibnu taymiah: Pengutamaan Ahlul Bait Nabi saw adalah Peninggalan Jahiliyah Ahlul-Bait 8
  9. Bantahan Dan Tantangan Untuk haulasyiah: “Tak Ada Gunanya Membela Gembong Kaum Munafik!”  Ahlul-Bait 9
  10. Ayat Tathhir Khusus Untuk Ahlul Kisa’  Ahlul-Bait 10
  11. Dalil Ahlul Bait Bukanlah Istri-istri Nabi  Ahlul-Bait 11
  12. Hadis Yang Menjelaskan Siapa Ahlul Bait Yang Disucikan Dalam Al Ahzab 33  Ahlul-Bait 12
  13. Pengakuan Ummu Salamah : Dirinya Bukan Ahlul Bait Dalam Al Ahzab 33  Ahlul-Bait 13
  14. Analisis Hadis Kisa’ Dalam Musnad Ahmad  Ahlul-Bait 14
  15. Konsisten Dalam Inkonsisten [Menjawab Hujjah Salafy]  Ahlul-Bait 15
  16. Ahlul Bait Dalam Pandangan Imam Ali?  Ahlul-Bait 16
  17. Ahlul Bait Mengakui Kepemimpinan Mereka Dengan Ayat Tathhiir Ahlul-Bait 17

____________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: