Pengakuan Ummu Salamah : Dirinya Bukan Ahlul Bait Dalam Al Ahzab 33

Pengakuan Ummu Salamah : Dirinya Bukan Ahlul Bait Dalam Al Ahzab 33

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar (SP)

Telah disebutkan dalam riwayat shahih kalau istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah Ahlul Bait dan telah disebutkan dalam riwayat shahih kalau Keluarga Ali, Keluarga Ja’far dan  Keluarga Abbas juga adalah Ahlul Bait Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Lantas apakah Ahlul Bait dalam surat Al Ahzab ayat 33 ditujukan untuk mereka semua?. Jawabannya tidak, tidak diperselisihkan kalau keluarga Abbas dan keluarga Ja’far tidak termasuk Ahlul Bait dalam Al Ahzab ayat 33 [Ayat tathiir]. Perselisihan yang terjadi adalah apakah istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] termasuk Ahlul Bait dalam surah Al Ahzab 33 atau bukan?.

Diriwayatkan dengan sanad yang shahih kalau Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33 adalah ahlul kisa’ yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein. Ummu Salamah sendiri sebagai salah satu istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengakui kalau ayat tathiir turun di rumahnya dan dirinya bukan termasuk dalam ayat tersbeut.

وحدثنا ابن أبي داود أيضا قال حدثنا سليمان بن داود المهري قال حدثنا عبد الله بن وهب قال حدثنا أبو صخر عن أبي معاوية البجلي عن سعيد بن جبير عن أبي الصهباء عن عمرة الهمدانية قالت قالت لي أم سلمة أنت عمرة ؟ قالت : قلت نعم يا أمتاه ألا تخبريني عن هذا الرجل الذي أصيب بين ظهرانينا ، فمحب وغير محب ؟ فقالت أم سلمة أنزل الله عز وجل إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا وما في البيت إلا جبريل ورسول الله صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهما وأنا فقلت : يا رسول الله أنا من أهل البيت ؟ قال أنت من صالحي نسائي قالت أم سلمة : يا عمرة فلو قال نعم كان أحب إلي مما تطلع عليه الشمس وتغرب

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud Al Mahriy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Wahb yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Shakhr dari Abu Muawiyah Al Bajaliy dari Sa’id bin Jubair dari Abi Shahba’ dari ‘Amrah Al Hamdaniyah yang berkata Ummu Salamah berkata kepadaku “engkau ‘Amrah?”. Aku berkata “ya, wahai Ibu kabarkanlah kepadaku tentang laki-laki yang gugur di tengah-tengah kita, ia dicintai sebagian orang dan tidak dicintai oleh yang lain. Ummu Salamah berkata “Allah SWT menurunkan ayat Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, dan ketika itu tidak ada di rumahku selain Jibril, Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan, Husein dan aku, aku berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “engkau termasuk istriku yang shalih”. Ummu Salamah berkata “wahai ‘Amrah sekiranya Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab iya niscaya jawaban itu lebih aku sukai daripada semua yang terbentang antara timur dan barat [dunia dan seisinya] [Asy Syari’ah Al Ajjuri 4/248 no 1542]

Hadis ini sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya, ‘Amrah Al Hamdaniyah adalah tabiin wanita di kufah yang tsiqat dikenal meriwayatkan dari Ummu Salamah.

  • Ibnu Abi Dawud adalah Abdullah bin Sulaiman bin Al Asy’at As Sijistani putra dari Abu Dawud, kuniyahnya Abu Bakar sehingga lebih dikenal dengan sebutan Abu Bakar bin Abi Dawud. Al Khalili menyebutnya Al Hafizh Al Imam Baghdad seorang alim yang muttafaq ‘alaihi [Al Irshad Al Khalili 2/6]. Ia termasuk Syaikh [guru] Ath Thabrani, seorang yang hafiz tsiqat dan mutqin [Irsyad Al Qadhi no 576]
  • Sulaiman bin Dawud Al Mahriy adalah perawi Abu Dawud dan Nasa’i. Nasa’i menyatakan ia tsiqat dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 317]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/384]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat faqih [Al Kasyf no 2083]
  • ‘Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasiy adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ahmad menyatakan shahih hadisnya. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Zur’ah, Ibnu Sa’ad dan Al Ijli juga menyatakan tsiqat. Nasa’i menyatakan tsiqat. As Saji berkata “shaduq tsiqat”. Al Khalili berkata “tsiqat muttafaq ‘alaihi” [At Tahdzib juz 6 no 141]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat faqih hafizh dan ahli ibadah [At Taqrib 1/545]
  • Abu Shakhr adalah Humaid bin Ziyad perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i. Yahya bin Sa’id Al Qaththan telah meriwayatkan darinya itu berarti Humaid tsiqat dalam pandangannya. Ahmad bin Hanbal berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Daruquthni menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 3 no 69]. Al Ijli menyatakan Humaid bin Ziyad tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqat no 362]. Terdapat perselisihan mengenai pendapat Ibnu Ma’in terhadapnya. Dalam riwayat Ad Darimi dari Ibnu Ma’in menyatakan “tsiqat tidak ada masalah” [Al Jarh Wat Ta’dil juz 3 no 975]. Dalam riwayat Ibnu Junaid dari Ibnu Ma’in menyatakan “tidak ada masalah padanya” [Sualat Ibnu Junaid no 835]. Dalam riwayat Ishaq bin Manshur dari Ibnu Ma’in menyatakan “dhaif” [Al Jarh Wat Ta’dil juz 3 no 975]. Dalam riwayat Ibnu Abi Maryam dari Ibnu Ma’in menyatakan “dhaif” [Al Kamil Ibnu Adiy 2/236]. An Nasa’i memasukkannya dalam Adh Dhu’afa dan berkata “tidak kuat” [Adh Dhu’afa An Nasa’i no 143]. Yang rajih disini Humaid bin Ziyad adalah seorang yang tsiqat, Ibnu Ma’in telah mengalami tanaqudh dimana ia melemahkannya tetapi juga menguatkannya sedangkan pernyataan Nasa’i “tidak kuat” berarti ia seorang yang hadisnya hasan dalam pandangan An Nasa’i [tidak mencapai derajat shahih].
  • Abu Muawiyah Al Bajaliy adalah ‘Ammar bin Muawiyah Ad Duhniy perawi Muslim dan Ashabus Sunan. Telah meriwayatkan darinya Syu’bah yang berarti ia tsiqat dalam pandangan Syu’bah. Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Hatim dan Nasa’i menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 662]. Ibnu Hajar menyatakan “shaduq” tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau ‘Ammar Ad Duhniy seorang tsiqat [Tahrir At Taqrib no 4833]
  • Sa’id bin Jubair adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Abu Qasim Ath Thabari berkata tsiqat imam hujjah kaum muslimin. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan menyatakan faqih ahli ibadah memilik keutamaan dan wara’. [At Tahdzib juz 4 no 14]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit faqih” [At Taqrib 1/349]. Al Ijli berkata “tabiin kufah yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 578]
  • Abu Shahba’ Al Bakriy namanya adalah Shuhaib termasuk perawi Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i. Abu Zur’ah menyatakan ia tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Nasa’i menyatakan “dhaif” [At Tahdzib juz 4 no 771]. Al Ijli berkata “Shuhaib mawla Ibnu Abbas tabiin Makkah yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 770]. Ibnu Khalfun menyebutkannya dalam Ats Tsiqat [Al Ikmal Mughlathai 2/198]. Yang rajih dia seorang yang tsiqat, sedangkan pernyataan Nasa’i tidak memiliki asal penukilan yang shahih, namanya tidak tercantum dalam kitab Adh Dhu’afa milik Nasa’i.
  • ‘Amrah Al Hamdaniyah adalah tabiin wanita kufah yang tsiqat. Dalam riwayat lain disebutkan kalau ia adalah ‘Amrah binti Af’a atau ‘Amrah binti Syafi’ [menurut Ibnu Hibban]. Al Ijli berkata “tabiin wanita kufah yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 2345]. Ibnu Hibban menyebutkan dalam Ats Tsiqat, ‘Amrah binti Asy Syaafi’ meriwayatkan dari Ummu Salamah dan telah meriwayatkan darinya ‘Ammar Ad Duhniy [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 5 no 4880]

Jadi para perawi yang meriwayatkan hadis di atas dalah para perawi tsiqat sehingga hadis tersebut shahih. Tetapi para pendengki yang buruk ternyata tidak henti-hentinya menyebarkan syubhat untuk melemahkan hadis di atas. Diantara syubhat mereka ada yang memang layak ditanggapi dan ada pula yang tidak. Melemahkan salah satu perawinya adalah usaha yang sia-sia karena yang rajih para perawinya tsiqat seperti yang telah dibahas di atas. Syubhat lain yang dilontarkan adalahAmmar Ad Duhniy tidak mendengar dari Sa’id bin Jubair jadi riwayat itu terputus. Disebutkan dari Al Qawaririy dari Abu Bakar bin ‘Ayasy bahwa ‘Ammar Ad Duhniy tidak mendengar dari Sa’id bin Jubair [Ilal Ma’rifat Ar Rijal no 3033]. Pernyataan ini tidak benar karena Ammar Ad Duhny telah mendengar dari Sa’id bin Jubair.

Al Bukhari telah menyebutkan biogarfi ‘Ammar bin Mu’awiyah Ad Duhniy dan berkata “mendengar dari Abu Thufail dan Sa’id bin Jubair” [Tarikh Al Kabir juz 7 no 120] kemudian Imam Muslim berkata

أبو معاوية عمار بن أبي معاوية الدهني سمع أبا الطفيل وسعيد بن جبير روى عنه الثوري أبو مودود وأبو صخر

Abu Mu’awiyah ‘Ammar bin Abi Muawiyah Ad Duhniy telah mendengar dari Abu Thufail dan Sa’id bin Jubair, telah meriwayatkan darinya Ats Tsawriy, Abu Mawdudi dan Abu Shakhr [Al Asma’ Wal Kuna Muslim 1/758 no 3803]

Selain itu ‘Ammar Ad Duhniy sendiri menyatakan kalau ia pernah bertemu Sa’id bin Jubair dan bertanya kepadanya, sebagaimana yang disebutkan oleh Abdurrazaq

أخبرنا عبد الرزاق قال أخبرنا بن عيينة عن عمار الدهني قال سألت سعيد بن جبير

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrazaq yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Uyainah dari ‘Ammar Ad Duhniy yang berkata aku bertanya kepada Sa’id bin Jubair [Mushannaf Abdurrazaq 8/26 no 14160]

Jadi pernyataan Abu Bakar bin ‘Ayasy kalau ‘Ammar tidak mendengar dari Sa’id bin Jubair itu tidak shahih. Abu Bakar bin ‘Ayasy sendiri memang seorang yang tsiqat atau shaduq tetapi disebutkan kalau ia banyak melakukan kesalahannya karena hafalan yang buruk atau mengalami ikhtilath di akhir umurnya. Ahmad terkadang berkata “tsiqat tetapi melakukan kesalahan” dan terkadang berkata “sangat banyak melakukan kesalahan”. Muhammad bin Abdullah bin Numair mendhaifkannya, Al Ijli menyatakan ia tsiqat tetapi sering salah. Ibnu Sa’ad juga menyatakan ia tsiqat shaduq tetapi banyak melakukan kesalahan, Al Hakim berkata “bukan seorang yang hafizh di sisi para ulama” Al Bazzar juga mengatakan kalau ia bukan seorang yang hafizh. Yaqub bin Syaibah berkata “hadis-hadisnya idhthirab”. As Saji berkata “shaduq tetapi terkadang salah”. [At Tahdzib juz 12 no 151]. Ibnu Hajar berkata “tsiqah, ahli ibadah, berubah hafalannya di usia tua, dan riwayat dari kitabnya shahih” [At Taqrib 2/366].

Bisa jadi riwayat Abu Bakar bin ‘Ayasy ini bagian dari keburukan hafalannya atau bagian dari ikhtilathnya dimana tidak diketahui apakah Al Qawaririy meriwayatkan sebelum atau sesudah ia mengalami ikhtilath. Jadi riwayat Abu Bakar bin ‘Ayasy tidak bisa dijadikan hujjah apabila bertentangan dengan pendapat ulama lain dan riwayat shahih lain kalau ‘Ammar bertemu dengan Sa’id bin Jubair. Dari hadis di atas terdapat beberapa faedah yang bisa kita ambil

  • Al Ahzab 33 ayat tathiir turun di rumah Ummu Salamah dimana saat itu berkumpul Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husein
  • Ayat tathiir turun untuk Ahlul kisa’ dan hal ini menjadi keutamaan bagi mereka, sehingga ketika ‘Amrah bertanya kepada Ummu Salamah tentang Ali maka Ummu Salamah menyebutkan keutamaan ini.
  • Ummu Salamah bukan ahlul bait dalam ayat tathir karena terdapat perkataan Ummu Salamah jika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengiyakan atau membenarkan dirinya ahlul bait yang dimaksud maka itu lebih ia sukai dari dunia dan seisinya. Kalau sekiranya Ummu Salamah sebagai istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah ahlul bait dalam Al Ahzab 33 maka dirinya tidak perlu berharap-harap. tidak mungkin mengharapkan sesuatu yang telah ditetapkan, perandaian atau harapan terjadi untuk peristiwa yang memang belum terjadi.
  • Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menunjukkan akhlak yang mulia, dimana Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menolak Ummu Salamah sebagai ahlul bait dengan penolakan yang halus dan menenangkan bagi Ummu Salamah. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “engkau termasuk istriku yang shalih”. Perkataan ini juga mengisyaratkan kalau istri Nabi bukanlah ahlul bait yang dimaksud dalam Al Ahzab 33 tetapi walaupun begitu istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetap memiliki keutamaan.

Akhir kata mari kita tunggu syubhat salafy yang hati mereka tidak tenang jika keutamaan Ahlul Bait melebihi keutamaan sahabat pujaan mereka. Tiada daya dan upaca kecuali milik Allah SWT. Salam Damai

.

.

Catatan :

Berikut ini adalah tambahan riwayat yang semakna dengan hadis di atas. Riwayat ini menjadi penguat bagi riwayat di atas bahwa Ummu Salamah bukanlah ahlul bait bersama ahlul kisa’

حدثنا محمد بن إسماعيل بن أبي سمينة حدثنا عبد الله بن داود عن فضيل عن عطية عن أبي سعيد عن أم سلمة أن النبي – صلى الله عليه و سلم – غطى على علي و فاطمة و حسن و حسين كساء ثم قال هؤلاء أهل بيتي إليك لا إلى النار قالت أم سلمة : فقلت : يا رسول الله وأنا منهم ؟ قال : لا وأنت على خير

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma’il bin Abi Samiinah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Dawud dari Fudhail dari ‘Athiyah dari Abu Sa’id dari Ummu Salamah bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menutupi Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dengan kain kemudian berkata “mereka adalah ahlul baitku, kepadamu [ya Allah] jangan masukkan ke dalam neraka”. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah, apakah aku bersama mereka?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab “tidak dan engkau di atas kebaikan” [Musnad Abu Ya’la 12/313 no 6888]

Riwayat di atas diriwayatkan para perawi tsiqat dan shaduq kecuali Athiyah. Athiyah bin Sa’ad bin Junadah Al ‘Aufiy adalah perawi yang shaduq tetapi ia dituduh melakukan tadlis syuyukh dari Al Kalbi. Tuduhan tadlis syuyukh ini adalah dusta karena itu berasal dari Al Kalbi sendiri seorang yang pendusta tetapi aneh sekali tuduhan ini malah diikuti oleh para ulama seperti Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Hibban.

  • Muhammad bin Isma’il bin Abi Saminah adalah perawi Bukhari dan Abu Dawud. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat. Shalih bin Muhammad berkata “tsiqat dan ia lebih terpercaya dari Muhammad bin Yahya bin Abi Samiinah”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 9 no 59].
  • ‘Abdullah bin Dawud bin ‘Aamir Al Hamdhaniy adalah perawi Bukhari dan Ashabus Sunan. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat shaduq ma’mun”. Abu Zur’ah dan Nasa’i berkata “tsiqat”. Abu Hatim menyatakan ia shaduq. Daruquthni dan Ibnu Qani’ menyatakan tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 5 no 346]
  • Fudhail bin Marzuq termasuk perawi Bukhari [dalam Juz Raf’ul Yadain], Muslim dan Ashabus Sunan. Ats Tsawriy menyatakan ia tsiqat. Ibnu Uyainah menyatakan ia tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim menyatakan ia shalih shaduq banyak melakukan kesalahan dan tidak bisa dijadikan hujjah. Nasa’i berkata “dhaif”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan ia shaduq tasyayyu’ [At Tahdzib juz 8 no 546]. Pendapat yang rajih Fudhail seorang yang hadisnya hasan pembicaraan terhadapnya tidak menurunkan derajatnya dari derajat hasan. Ibnu Ady berkata “Fudhail hadisnya hasan kukira tidak ada masalah padanya” [Al Kamil Ibnu Adiy 6/19].
  • Athiyyah bin Sa’ad bin Junadah Al ‘Aufiy adalah tabiin yang hadisnya hasan. Ibnu Sa’ad berkata ”seorang yang tsiqat, insya Allah memiliki hadis-hadis yang baik dan sebagian orang tidak menjadikannya sebagai hujjah” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/304]. Al Ijli berkata ”tsiqat dan tidak kuat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1255]. Ibnu Syahin memasukkannya sebagai perawi tsiqat dan mengutip Yahya bin Ma’in yang berkata ”tidak ada masalah padanya” [Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1023]. At Tirmidzi telah menghasankan banyak hadis Athiyyah Al Aufiy dalam kitab Sunan-nya. Sebagian ulama mendhaifkannya seperti Sufyan, Ahmad dan Ibnu Hibban serta yang lainnya dengan alasan tadlis syuyukh. Telah kami buktikan kalau tuduhan ini tidaklah tsabit sehingga yang rajih adalah penta’dilan terhadap Athiyyah. Satu-satunya kelemahan pada Athiyah bukan terletak pada ‘adalah-nya tetapi pada dhabit-nya. Abu Zur’ah berkata “layyin”. Abu Hatim berkata “dhaif ditulis hadisnya dan Abu Nadhrah lebih aku sukai daripadanya” [At Tahdzib juz 7 no 414]

Di sisi kami, Athiyah bin Sa’ad Al Aufiy adalah seorang yang hadisnya hasan. Kelemahan terhadap dhabit-nya tidak menurunkan hadisnya dari derajat hasan. Dan walaupun salafy bersikeras untuk mendhaifkannya maka dengan penta’dilan terhadapnya dan kelemahan pada dhabit-nya maka Athiyah adalah perawi yang hadisnya bisa dijadikan i’tibar dan syawahid. Hadis ini menjadi penguat bagi hadis riwayat ‘Amrah Al Hamdaniyah karena keduanya berada dalam satu makna yaitu Ummu Salamah mengakui bahwa dirinya tidak bersama mereka [ahlul kisa’] sebagai ahlul bait.

_________________________________

.

BEBERAPA KOMEN DAN TANGGAPAN PENULIS

.

secondprince, on Mei 4, 2011 at 8:01 amsaid:

@sok tau banget

Letak kelemahannya ada pada ‘Amrah Al-Hamdaaniyyah, seorang yang MAJHUUL HAAL. Ia hanya ditautsiq oleh Ibnu Hibbaan dan Al-‘Ijliy, yang keduanya ini dikenal ulama hadits yang tasaahul dalam pentautsiqan. Sementara hanya dua orang perawi yang diketahui meriwayatkan darinya, yaitu ‘Ammaar bin Mu’aawiyyah Ad-Duhniy dan Abush-Shahbaa’.

Orang yang berkata ini tidak jeli dalam belajar ilmu hadis. Silakan tuh anda lihat para ulama seperti Syaikh Al Abani dan Syaikh Ahmad Syakir mereka tetap menghasankan hadis yang diriwayatkan oleh tabiin awal walaupun tidak mendapat tautsiq dari ulama lain kecuali dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat dan telah meriwayatkan darinya dua orang perawi tsiqat [banyak sekali contohnya]. Nah ‘Amrah ini selain itu telah disebut dengan lafaz jelas oleh Al Ijli kalau ia tsiqat. Ini sudah cukup sebagai hujjah. Kemudian mengenai ucapannya yang meragukan periwayatan ‘Ammar Ad Duhniy dari Ummu Salamah sangat tidak valid karena bukan hanya riwayat Ibnu Lahi’ah yang menyebutkan riwayat Ammar Ad Duhny dari Ummu Salamah.

Oleh karena itu dapat kita lihat bahwa ‘Amrah Al-Hamdaniyyah telah menyelisihi Syahr bin Hausyab, ‘Athaa’ bin Yasaar, ‘Abdullah bin Wahb bin Zam’ah, dan Ummu Habiibah binti Kaisaan yang mereka semua menetapkan bahwa Ummu Salamah termasuk Ahlul-Bait Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits kisaa’.

Ah palsu sekali, justru riwayat ‘Amrah Al Hamdaniyah dari Ummu Salamah sesuai dengan riwayat lain seperti riwayat Syahr, riwayat Athaa’ bin Yasaar, riwayat Umar bin Abu Salamah, riwayat Hakim bin Sa’ad, riwayat Abu Laila Al Kindi, riwayat Abu Sa’id, riwayat Bilal bin Muradis dan yang lainnya [semuanya meriwayatkan dari Ummu Salamah]. Lagipula hadis yang ditulis Abul Jauzaa itu tidak ada lagaz tegas kalau istri Nabi adalah Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33. Abul Jauzaa itu tidak memperhatikan bentuk lafaznya dengan baik, nanti deh dibahas secara khusus kalau sebenarnya ia sendiri yang inkonsisten :)

Bagaimana bisa berkesimpulan demikian ? Tentu saja pertanyaan Ummu Salamah itu muncul karena adanya doa Nabi tentang Ahlul-Baitnya, sehingga Ummu Salamah bertanya apakah ia termasuk di dalamnya. Lucu, jika Ummu Salamah bertanya pada hal lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan doa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ringkasnya, kata alastu min ahlika itu merujuk kepada Ahlul-Bait itu sendiri. Apalagi kemudian setelah itu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan masuk ke dalam kain.

Lho lafaz Ummu Salamah di riwayat Syahr memang “apakah aku termasuk ahli [keluarga]mu”?. Jawabannya memang begitu dan lafaz ini tidak menunjukkan kalau Ummu Salamah masuk dalam al ahzab 33. Sama hal-nya dengan riwayat dimana Watsilah bin Atsqa bertanya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] “apakah aku termasuk [ahli]keluargamu?” dan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab “engkau termasuk [ahli] keluargaku”. Lafaz ini tidak menunjukkan kalau Watsilah bin Atsqa juga ahlul bait dalam al ahzab 33. Itu semua adalah penolakan Rasulullah [shalallahu ‘alaihi wasallam] dengan cara yang halus dengan tetap memberikan keutamaan kepada mereka yang bertanya. Yang tidak masuk akal dari dulu itu adalah jika memang Ummu Salamah sebagai istri Nabi adalah ahlul bait dalam al ahzab 33 maka untuk apa lagi ia bertanya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Pemahaman itu dibuktikan secara tegas dalam jalur ‘Atha’ bin Yasaar yang secara tegas pertanyaan Ummu Salamah menggunakan lafadh : Ahlul-Bait, yang kemudian dijawab : “Benar/tentu, insya Allah (balaa insya Allah)”. Perkataan balaa ini dalam bahasa Arab lebih kuat daripada sekedar na’am.

silakan tuh belajar lagi bahasa arab. Perkataan “tentu jika Allah menghendaki [insya Allah]” adalah lafal bersyarat artinya semuanya itu tergantung kehendak Allah SWT. Lafaz ini tidak menunjukkan kalau Ummu Salamah termasuk ahlul bait dalam al ahzab 33. Kan aneh saja jika memang Ummu Salamah termasuk Ahlul Bait dalam al ahzab 33 maka tidak perlu menggunakan lafaz insya Allah. ayatnya sudah turun dan sudah jelas siapa yang tertuju. Dan satu lagi riwayat Atha’ bin Yasar yang lengkap justru berbunyi “kamu [ahli]keluargaku yang baik dan Merekalah Ahlul BaitKu” tuh lihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan Ummu Salamah adalah ahli-nya yang baik tetapi merekalah [ahlul kisa’] adalah ahlul bait [dalam al ahzab 33].

Oleh karena itu, lafadh Ahl dalam pertanyaan Ummu Salaamah itu tidak lain yang dimaksudkan adalah Ahlul-Bait itu sendiri. Setara, sebagaimana dalam riwayat ‘Abdullah bin Wahb.

Jelas beda lah, terbukti dalam beberapa riwayat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menggabungkan kedua lafaz itu bersama ahli dan ahlul bait. Dan lafaz dalam al ahzab 33 adalah “ahlul bait”.

Sesuai pula dengan pemahaman dalil-dalil yang lain bahwa istri-istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam termasuk Ahlul-Bait beliau. Sebagian haditsnya telah disebutkan di atas. Ini syahid kuat atas hadits Ummu Salamah tersebut.

Tidak ada yang menyangkal kalau istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] termasuk Ahlul Bait. Yang dipermasalahkan adalah siapa ahlul bait dalam al ahzab 33. Jadi berhentilah mencampuraduk seolah2 tak mengerti. Keluarga Ja’far, keluarga Aqil dan keluarga Abbas pun juga termasuk Ahlul Bait tetapi apakah mereka masuk dalam ayat al ahzab 33?. salafy sendiri menganggap mereka tidak masuk. Jadi jangan sok menuduh orang pilih-pilih kalau anda sendiri juga pilih2. Yang dibicarakan disini adalah dalilnya. Terdapat dalil jelas kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengkhususkan Ahlul bait dalam al ahzab 33 kepada ahlul kisa’

****************************

.

@sok tahu banget

Iya lebih shahih menurut anda

maaf shahih sesuai ilmu hadis kok, kalau anda tidak menerima ya bisa dimaklumi dan silakan belajar kembali ilmu hadis :)

Ndak usah saya sebutkan, otomatis apa yang menyangkut ahlul bait beliau ya berhubungan dengan Nabi SAW sebagai sayyidul bait

kalau memang otomatis menyangkut Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka ya dari awal saja pakai kata “kum” kok ini malah pakai “kunna”. Begitu pula setelah disebutkan lafaz Ahlul bait dalam ayat 33 di ayat 34 kok balik ke kunna lagi padahal disitu kan ada lafaz “buyutikunna”. Rumah itu kan rumah Nabi sebagai Sayyidul bait [shallallahu ‘alaihi wasallam] jadi otomatis milik Nabi dan lafaznya harusnya “kum” tetapi kok pakai “kunna”. Jadi hujjah “otomatis” versi anda itu cuma akal-akalan anda saja yang bingung dengan penggunaan kata ganti.

Pertanyaan yang menggelikan, ketika Allah menyinggung Ahlul Bait disitu maka semua penghuni rumah yang dimaksud, yaitu istri-istri Nabi dan termasuk juga Nabi SAW di dalamnya, pembersihan ahlul bait sangat berhubungan dg beliau sebagai sayyidul bait. Karena Ahlul Bait di sini adalah Ahlul Bait-nya Nabi SAW atau penghuni rumah-nya Nabi SAW. kalau anda hendak memperpanjang mendebat masalah ini maka cukuplah firman Allah dalam surat Adh-Dhuha : 5 : “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau (Muhammad) menjadi puas“. dibersihkannya Ahlul Bait beliau oleh Allah adalah merupakan karunia-Nya kepada Nabi SAW.

Ini bukti kalau anda tidak konsisten. Bukankah anda mengatakan ayat tathiir itu terikat dengan ayat sebelumnya. Jadi penyucian itu terkait dengan perintah2 yang Allah SWT sebutkan. Untuk siapa perintah itu diberikan maka untuk merekalah tujuan penyucian itu. Perintah2 yang disebutkan sebelumnya adalah perintah khusus untuk istri-istri Nabi dan bagaimana mungkin Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] masuk kedalamnya.

Uslub yang sama dipakai dalam Al-Qur’an untuk menyebut Ahlul Bait dengan “kum”

72. Isterinya berkata: “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.”

73. Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu (disini dipakai bentuk jamak “Kum”), hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”

Disini kalau kita konsisten dengan urutan ayat maka penggunaan lafal “kum” memang benar ditujukan kepada Nabi Ibrahim dan istrinya. Sekarang yang dimaksud rahmat Allah itu terkait soal apa?. Jawaban dari ayat sebelumnya adalah terkait dengan anak yang diberikan Allah SWT. Kepada siapa Allah SWT memberikan anak tersebut, ya kepada Nabi Ibrahim dan istrinya maka digunakan lafal “kum”. Kembali ke al ahzab 33 kalau mau konsisten dengan urutan ayat maka lafaz “kum” menjadi rancu makanya anda pakai akal-akalan sendiri kalau “kum” disebabkan Nabi sebagai sayyidul bait ikut masuk

Artinya keberkatan-Nya dicurahkan atas Ahlul Bait yaitu istri Nabi Ibrahim dan Nabi Ibrahim sendiri sebagai sayyidul bait.

keberkatan itu memang ditujukan kepada Nabi Ibrahim dan Istrinya sebagai orang yang diberikan anak oleh Allah SWT.

Padahal jelas obyek yang sedang diajak bicara oleh Malaikat dari ayat 71 adalah istri Nabi Ibrahim AS. Nah kalau dalam ayat ini saja Allah dengan jelas memasukkan istri Nabi Ibrahim sebagai bagian Ahlul Bait kok anda berani-beraninya mengeluarkan istri Nabi SAW dari lingkup ahlul bait dalam ayat 33:33.

Surah Hud itu jelas berurutan dan tidak ada yang rancu dalam penggunaan kata “kum” dan lagi tidak ada hadis yang menjelaskannya. Sedangkan al ahzab 33 terdapat hadis yang menjelaskan kalau ayat tersebut tidak berurutan dan penggunaan kata “kum” akan rancu jika dipaksakan ayatnya berurutan ditambah lagi terdapat hadis-hadis shahih bahwa Ahlul Bait yang dimaksud adalah ahlul kisa’

Dan jika kita perhatikan semua istilah ahlul bait yang disebutkan dalam Al-Qur’an berkaitan dengan istri-istri. Please jangan berapologi dengan sesuatu yg tdk berdasar atau sekedar asumsi spt “karena itu ada hubungannya keturunan

Lho dalam Al Qur’an penggunaan lafaz Ahlul Bait juga tertuju kepada Ibu Nabi Musa. Jadi juga terkait dengan nasab. Ahlul Bait bisa berhubungan lewat nasab dan bisa juga lewat pernikahan. Apanya yang asumsi? dari dulu memang begitulah keadaannya. Keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas itu semuanya terikat nasab dan tetap disebut Ahlul Bait.

Weleh pendapat anda ini yg benar2 kacau dan bertentangan dengan uslub Al-Qur’an dalam penyebutan Ahlul Bait, sudah saya jelaskan di atas saat Ahlul Bait Nabi SAW disinggung maka secara otomatis akan berhubungan dengan sang Sayyidul bait. saya tanya, mereka itu istri2 siapa? mereka adalah istri-istri Nabi SAW, pembersihan terhadap mereka sebagai Ahlul Bait beliau adalah karunia Allah untuk beliau, maka sangat berhubungan dengan beliau,

akal-akalan anda itu gak kena tuh dengan ayat Al Qur’annya. Anda lihat lafaz “buyutikunna”. Saya tanya itu rumah-rumah siapa?. Ya Rumah Nabi[shalallahu ‘alaihi wasallam] jadi Nabi sebagai pemilik rumah juga ikut masuk. nah menuruti logika anda Nabi sebagai Sayyidul bait harusnya pakai kata “kum”. Tapi Al Qur’an pakai kata “kunna”. Nah loh logika anda yang keliru dan gak sesuai dengan bahasa Al Qur’an :)

sehingga begitu ayat pembersihan tsb turun beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan tsb sehingga beliau memohon/berdo’a kepada Allah agar keluarga Fatimah pun diikutkan termasuk yang dibersihkan oleh Allah, hingga beliau berusaha menyelimuti mereka dg satu kain yang menunjukkan bahwa mereka adalah ahlul bait beliau juga disamping istri2 beliau.

Coba jawab pertanyaan ini dengan konsisten?. Dimana letak keutamaan al ahzab 33 yang anda maksud?. Kalau dipahami secara berurutan maka ayat 33 berarti penyucian itu terkait dengan semua bentuk perintah yang diberikan oleh Allah SWT. Dengan kata lain penyucian itu adalah konsekuensi syariat artinya ia terjadi jika mereka yang bersangkutan itu menjalankan perintah-perintah yang Allah SWT sebutkan. Pertanyaannya? keutamaan mana yang anda maksud sehingga Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menginginkan keluarga Ali juga ikut masuk. Justru makna yang harusnya anda tangkap adalah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menginginkan keluarga Ali agar ikut dalam al ahzab 33 melaksanakan perintah2 di ayat sebelumnya sehingga mereka akan mendapat penyucian yang dikehendaki Allah SWT. Hal yang tidak pernah anda pahami adalah konsekuensi dari ayat yang berurutan menunjukkan kalau penyucian itu bersifat syar’i terkait dengan perintah2 yang disebutkan di ayat sebelumnya.

Inilah rahasia ayat Ad-Dhuha:5 di atas, bahwa apa yang terjadi pada Ahlul Bait beliau sangat berhubungan dan tidak terpisahkan dengan beliau, dengan dibersihkannya ahlul bait beliau, maka beliaupun akan merasa puas atas karunia tsb. Jadi berdasarkan hal-hal di atas, Ahlul Bait yg dimaksud dalam 33:33 adalah Nabi SAW, istri2 beliau dan ahlul kisa’. Ini pendapat yang paling rajih.

Ah anda ini cuma asal nyebut saja, pertanyaannya gampang Nabi SAW, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein itu kok masuk dalam perintah khusus wanita dan kok Nabi SAW disuruh taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya?.Silakan tuh baca al ahzab 33 dengan lengkap, toh anda meyakini kalau ayat tathir tidak turun terpisah maka pertanyaan di atas adalah konsekuensi yang harus anda jawab. Uups ya satu lagi kenapa anda tidak memasukkan keluarga Ja’far, Aqil dan Abbas?.

Keluarga bagi Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam adalah hal yang sangat berharga, maka pembersihan untuk keluarga beliau (istri-istri beliau, anak, cucu dan menantu beliau) dalam ayat 33:33 adalah anugerah yang tiada tara bagi beliau dari Allah Azza wa Jalla.

Anugerah tiada tara yang bagaimana yang anda maksudkan?. Apakah penyucian itu yang anda maksud. Lho bukankah berdasarkan siyaq al ayat [urutan ayat] maka penyucian itu terkait dengan syariat perintah yang disebutkan sebelumnya. Jadi penyucian itu akan menjadi anugerah jika mereka yang dimaksud konsisten dalam melaksanakan perintah Allah SWT tersebut. Itukah keutamaan yang anda maksud?. Apa bedanya dengan syariat wudhu’ yang Allah SWT tetapkan untuk manusia dengan tujuan menyucikan manusia?. Apakah penyucian itu termasuk anugerah yang sangat besar?. Kesannya seperti anda berusaha mengaburkan keutamaan dengan sok bilang “anugerah”. Seperti orang yang jualan teriak-teriak “barang paling bagus” tetapi setelah dilihat diteliti dengan baik barangnya ternyata biasa saja gak beda dengan barang lain

Misalkan anda seorang suami mempunyai seorang istri yang mendapatkan penghargaan atas prestasi yang dia raih dari Bupati misalnya, apakah hal tersebut tidak ada hubungan atau pengaruhnya dengan anda sebagai seorang suami, kepala rumah tangga atau sayyidul bait? jika ada, apalagi anugrah Allah yang diberikan kepada istri-istri dan anak cucu Nabi SAW berupa pembersihan, maka hal tsb sangat berpengaruh dan berhubungan dan merupakan anugrah buat beliau shalallahu ‘alaihi wasalam.

ini kan lumrah sekali, tapi ya gak ada hubungannya dengan pembahasan di atas. Penyucian dalam ayat tathiir menjadi anugerah yang besar jika penyucian itu bersifat takwiniyah bukan bersifat tasyri’iyah. Jika penyucian itu terikat syariat maka penyucian itu tidak jauh bedanya dengan penyucian terhadap semua umat islam dengan adanya syariat perintah bersuci. Kelihatan jelas kalau yang namanya salafy itu gak konsisten :)

note : ngapain anda kutip ayat ini “…Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu suatu apapun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam keluargaku.” (As-Syura:23). Setahu saya, salafy berpendapat kalau ayat ini untuk semua kaum Quraisy tidak hanya Ahlul Bait. Dan artinya menurut salafy benar-benar lain gak kelihatan sebagai keutamaan. Sepertinya memang sudah kerja salafy berbasa-basi memangkas keutamaan Ahlul Bait

**************************

.

secondprince, on Mei 5, 2011 at 12:19 pmsaid:

@sok tau banget

Weleh gimana sih, Al-Ahzab dari 28-35 bicara berkaitan dengan istri-istri, istri-istri siapa??? Istri anda? Bukan! Istri-istri NABI :

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain (QS 33:32)

Maka jelas sangat berkaitan dengan Nabi SAW, mengapa Allah menurunkan ayat-ayat untuk mereka? Apakah mereka wanita2 biasa??? Tidak! Karena Mereka sangat berkaitan dengan pribadi Nabi SAW, mereka adalah istri2 beliau, tidak seperti wanita yang lain, Allah sendiri yang mengatakannya! Maka ketika menyinggung Ahlul Bait, Nabi SAW terkait di dalam-nya sebagai sayyidul bait, jelas uslub tersebut ada dalam Al-Qur’an di ayat yang lain, anda saja yg berusaha dengan akal-akalan anda mengeluarkan istri2 Nabi SAW dari lingkup Ahlul Bait dalam QS 33:33.
Lho kok anda mengatur Al-Qur’an, Allah memakai istilah buyutikunna karena memang Allah sedang bicara dengan istri2 Nabi yang mereka tinggal di masing2 rumah yang disediakan oleh Nabi SAW di dekat masjidil Haram, dan istri2 Nabi berkaitan erat dg Nabi, karena itulah Allah menurunkan Ayat2 untuk mereka. Jangan Naif gitu ah :mrgreen: Di lain Ayat di dalam surat yang sama Allah menyebut buyutannabiyyi karena yang sedang diajak bicara adalah orang-orang yang beriman maka lawannya adalah Nabi SAW, lihat dong konteksnya :

waduh anda ini lucu sekali ya, perkataan anda itu adalah hujjah untuk menyerang anda. Yang kita permasalahkan adalah kata ganti “kum”. Anda itu kan awalnya bilang yang terkait istri Nabi otomatis Nabi sebagai sayyidul bait masuk juga makanya digunakan kata “kum”. Itu artinya pembersihan dalam al ahzab 33 adalah untuk Nabi dan istri-istrinya tetapi berdasarkan urutan ayatnya maka penyucian itu adalah terkait dengan perintah sebelumnya. Mereka yang melaksanakan perintah itu maka akan disucikan. Istri-istri Nabi melaksanakan perintah tersebut maka dengan perintah itulah Allah SWT menyucikan mereka sedangkan Nabi SAW, apakah harus melaksanakan perintah khusus istri2 Nabi itu?. Ngapain anda sok berbasa-basi bahwa untuk Nabi ada syariat sendiri. lha yang dibicarakan itu al ahzab 33 bukan ayat lain. penyucian al ahzab 33 jika dipandang dengan urutan ayat adalah terikat dengan perintah sebelumnya. Jadi usaha basa-basi anda yang mengaitkan dengan syariat lain tidak ada gunanya.

Lho emang iya, tetapi begitu disinggung pembersihan terhadap Ahlul bait maka terkait dengan sang sayyidul bait yaitu Nabi SAW, apa anehnya? Perintah dan larangan memang diberikan saat itu untuk istri-istri beliau, karena apa?? KARENA MEREKA ADALAH ISTRI-ISTRI NABI TIDAK SEPERTI WANITA YANG LAIN, JELAS?? Kalau ga jelas lihat kembali QS 33:32 di atas. Ketika mereka mendapat anugerah pembersihan ya tentunya sangat terkait dengan beliau sebagai sayyidul bait. Ingat mereka adalah Ahlul Bait Nabi, anggota keluarga Nabi, hidup serumah dengan Nabi, dibawah kepemimpinan Nabi SAW, tidak terpisah dengan Nabi dan Nabi pun tinggal dalam rumah-rumah tersebut. Naif sekali argumentasi anda

Justru anda sendiri yang naif, apa saya sedang memisahkan antara Nabi dan istri-istrinya. Jangan menunjukkan kelemahan pikiran anda dalam memahami komentar orang lain. Sekali lagi yang kita permasalahkan adalah penggunaan kata ganti kum. Kum disitu merujuk kepada siapa? apakah kepada istri-istri Nabi saja atau Nabi beserta istrinya. Jika merujuk pada istri2 saja maka ini jelas bertentangan dengan lafaz ayatnya yaitu “kum”. Jika anda mau menambahkan Nabi sebagai sayyidul bait sebagai yang tertuju pada al ahzab 33 maka ini rancu mengapa Nabi SAW disuruh taat kepada Allah dan Rasul-nya atau melaksanakan perintah ini yang dengan perintah ini Allah SWT menyucikan mereka?. Atau anda mau mengatakan Rasul SAW dapat penyuciannya tetapi tidak untuk perintahnya, nah itu berarti anda sedang memisahkan ayat tathhir dengan ayat sebelumnya yang bicara soal perintah-perintah untuk istri Nabi

Kalau anda mau mengatakan penyucian untuk istri-istri Nabi berarti penyucian untuk Nabi juga maka saya tanya apakah ketika istri Nabi [SAW] melanggar perintah Nabi [SAW] maka Nabi [SAW] menjadi tidak suci lagi?. Jawab dengan jelas jangan basa-basi. Kenapa penyucian terhadap Nabi SAW anda mau ikatkan dengan perilaku istri-istri Beliau. Dalam Al Qur’an terdapat ayat yang mengecam perilaku sebagian istri Nabi yaitu dalam surat At Tahrim. Apakah perilaku mereka membuat Nabi [SAW] menjadi tidak suci lagi?.

Ga usah kemana-mana dulu, anda telah mengakui bahwa istri Nabi Ibrahim dan Nabi Ibrahim sendiri yang dimaksud Ahlul Bait dalam Huud:73,

Apanya yang gak usah kemana-mana? kan anda yang kemana-mana sambil membawa surah Hud ayat 73 itu. saya cuma menjelaskan penggunaan kata “kum” disana bukan seperti yang anda kira. Saya katakan kalau rahmat itu untuk Nabi Ibrahim AS dan istrinya makanya digunakan kata “kum”. Gak ada tuh saya berhujjah dengan perkataan anda Nabi Ibrahim sebagai “sayyidul bait”. Itu gak ada hubungannya disini, rahmat itu ditujukan pada mereka berdua karena anak tersebut adalah karunia dan rahmat bagi mereka berdua. kalau mau dianalogikan dengan al ahzab 33 berarti penyucian itu untuk mereka yang mendapatkan perintah-perintah yang disebutkan Allah SWT dalam ayat sebelumnya. Kalau mau anda tujukan kepada Nabi [SAW] berserta istri-istrinya maka itu berarti Nabi [SAW] dan istri-istrinya mendapatkan perintah-perintah dari Allah SWT dan dengan perintah itu Allah SWT menyucikan mereka. Tetapi anehnya perintah yang dimaksud adalah perintah khusus bagi kaum wanita bukan untuk Nabi [SAW].

lalu apa masalahnya jika Ahlul Bait dalam Al-Ahzab:33 adalah istri-istri Nabi Muhammad dan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam sendiri?

Masalahnya adalah bagaimana anda menjelaskan Nabi [SAW] sebagai ikut dalam penyucian padahal penyucian itu terikat dengan perintah khusus wanita dan perintah taatilah Allah SWT dan Rasul-Nya.

Bukankah istri-istri Nabi SAW memang benar Ahlul Bait berdasarkan dalil2 sunnah?

Keluarga Ja’far, keluarga Aqil dan keluarga Abbas juga adalah ahlul bait. Siapa yang sedang menafikan kalau mereka semua adalah Ahlul bait. Anda sendiri yang cuap-cuap berkomentar tetapi tidak memahami bagaimana pandangan orang lain. Yang kita bicarakan adalah ahlul bait dalam al ahzab 33, just it. Anda sendiri bisa tuh tidak memasukkan keluarga Abbas, Ja’far dan Aqil kedalam ayat tersebut padahal mereka juga Ahlul bait.

Jika yg anda permasalahkan konteksnya, saya sudah jelaskan panjang lebar di atas, soal rahmat dan keberkatan dalam QS 11:73 itu untuk istri Nabi Ibrahim dan terkait dengan Nabi Ibrahim sebagai sayyidul bait,

Apa anda tidak membaca penjelasan saya disitu mengapa di surah Hud menggunakan kata “kum”. Itu karena memang ditujukan untuk Nabi Ibrahim dan istrinya. Anak yang dikandung oleh istri Nabi Ibrahim adalah karunia atau rahmat bagi Nabi Ibrahim beserta istrinya makanya digunakan kata “kum”. Gak ada kaitannya dengan ucapan anda “sayyidul bait”

demikian juga pembersihan/penyucian dlm QS 33:33 adalah untuk istri-istri Nabi dan terkait dengan Nabi SAW sebagai sayyidul bait. Sungguh aneh anda berusaha memisahlan ahlul bait dengan sayyidul bait-nya.

Ngawurnya gak hilang-hilang. Siapa yang sedang memisahkan ahlul bait dari sayyidul bait-nya?. saya sedang membicarakan rapuhnya alasan anda soal penggunaan kata ganti “kum” dengan alasan Nabi sebagai sayyidul bait. Coba jawab pertanyaan saya kalau memang Nabi yang dituju dalam ayat al ahzab 33 maka perintah apa yang harus dilaksanakan Nabi agar mendapat penyucian tersebut?. Jangan ngeles bahwa Nabi punya perintah sendiri, jelas2 yang dimaksud itu kan penyucian yang ada dalam al ahzab 33 dimana itu terkait dengan perintah 2 sebelumnya.

Kalau anda mau mengatakan Nabi mendapat mendapat penyucian tetapi gak dapat perintah. maka itu berarti anda sedang memisahkan ayat tathir dari ayat-ayat sebelumnya. Kalau untuk istri Nabi ayat tersebut bersambung tetapi kalau untuk Nabi ayat tersebut terpisah. Kalau begini pendapat anda maka ini cuma akal-akalan saja :)

Kalau anda mau mengatakan Nabi mendapat penyucian karena istri Nabi yang melakukan perintah tersebut artinya penyucian istri Nabi otomatis berarti penyucian terhadap Nabi. Maka konsekuensi nya penyucian Nabi [SA] bersifat bersyarat yaitu tergantung dengan istri-istri Beliau. Seandainya istri2 Nabi [SAW] melanggar perintah Nabi [SAW] maka Nabi [SAW] tidak lagi suci menurut anda, begitukah?. Kalau ini alasan anda mengapa digunakan kata “kum” yaitu penyucian terhadap istri Nabi SAW otomatis terhadap Nabi SAW maka alasan ini gak tepat dengan penggunaan kata “buyutikunna”. Rumah itu adalah rumah istri Nabi-istri Nabi SAW nah rumah istri Nabi otomatis rumah Nabi, menuruti logika anda ya otomatis juga pakai kata ganti “kum”.

      Karena Nabi sayyidul bait maka Penyucian istri-istri Nabi otomatis penyucian Nabi makanya digunakan kata “kum”
    karena Nabi sayyidul bait maka Rumah istri-istri Nabi otomatis rumah Nabi harusnya pakai kata “kum” [buyutikum] juga tetapi Al Qur’an gak pakai “kum” malah tetap pakai “kunna” [buyutikunna]

Yang kedua itulah yang dipakai Al Qur’an, sehingga timbul pertanyaan apa alasannya dipakai “kunna” jawabannya karena yang diajak bicara adalah istri-istri Nabi SAW. Gak ada hubungan apakah Nabi sayyidul bait atau bukan tetap yang diajak bicara saat itu adalah istri-istri Nabi makanya pakai kata ganti “kunna”.

Begitu pula dengan ayat tathiir jika memang itu ditujukan untuk istri-istri Nabi [SAW] atau jika memang yang sedang diajak bicara itu istri-istri Nabi [SAW] maka kata ganti yang dipakai adalah “kunna” bukannya “kum”. Lafaz “kum” menunjukkan ayat tersebut turun untuk orang lain yaitu jamak laki-laki dan perempuan bukan turun khusus untuk perempuan. Sedangkan ayat sebelumnya turun khusus untuk perempuan [istri-istri Nabi SAW] sehingga sesuai dengan kata gantinya yaitu “kunna”.

Artinya apapun yang terjadi dengan istri2 beliau akan sangat berpengaruh dan berkaitan dengan beliau. Dan karena alasan ini juga Allah menurunkan ayat pembersihan dari tuduhan untuk Aisyah istri beliau dalam QS An-Nuur:26 dalam peristiwa berita bohong, saya juga telah menukilkan hadits bagaimana Nabi SAW membela Aisyah dan menyebutnya sebagai ahlul bait beliau di komentar sebelumnya. Apakah anda buta dengan fakta2 yg jelas seperti ini?

Maaf tapi saya katakan andalah yang buta dengan apa yang saya katakan, perkataan anda di atas tidak ada satupun yang tidak sesuai dengan apa yang saya yakini. Saya meyakini soal Allah SWT membersihkan tuduhan Aisyah, saya meyakini Nabi [SAW] menyebut Aisyah Ahlul Bait. jadi fakta jelas apa yang saya butakan. Perkataan ini justru membuktikan andalah yang buta tapi menuduh orang lain buta

Terus apa yang aneh jika Allah menurunkan pembersihan untuk istri-istri Nabi SAW dalam ayat thathir? Dan jelas memang mereka lah shahibul ayat tersebut dr awal.

Keanehannya sudah saya sebutkan, dari awal ayat tersebut menggunakan kata “kunna” yang merujuk pada istri2 Nabi yang semuanya wanita tetapi pada kata “Innama Yuridullah Liyudzhiba ankumm” [sesungguhnya Allah SWT berkehendak menyucikan kamu] kata ganti yang digunakan adalah “kum” yang tertuju untuk laki-laki dan perempuan. Dimana laki-laki yang dimaksud dalam ayat sebelumnya? tidak ada, maka ini menunjukkan kalau ayat tathiir mulai dari innama itu terpisah dari ayat sebelumnya.

Keanehan lain, tidak ada satupun istri Nabi [SAW] yang mengaku kalau mereka adalah Ahlul Bait dalam ayat tathiir dan sebaliknya mereka malah meriwayatkan berbagai hadis yang menunjukkan kalau Ayat tathiir untuk Ahlul Kisa’. Dan terdapat riwayat dari Ummu Salamah yang menegaskan kalau ia bukan Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33.

Anda mengatakan bahwa Al Ahzab 33 adalah milik istri2 Nabi sebagai shahibul ayat tetapi aneh bin ajaib sampai Ummu Salamah menceritakan hadis kisa’ tersebut ia tetap tidak mengetahui kalau ayat tersebut turun untuknya. bahkan ia dengan mudah menceritakan kalau ia bertanya kepada Nabi [SAW] apakah ia bisa ikut masuk bersama mereka?. Pertanyaan ini saja sudah aneh. Mengapa orang yang untuk siapa ayat itu dituju kok malah bertanya dan berharap dirinya ikut masuk?. pertanyaan itu menjadi bukti kalau ayat tersebut bukan untuk istri Nabi makanya Ummu Salamah berharap ikut masuk. Gak usah pakai ngeles kalau Ummu Salamah tidak tahu, masa’ tidak tahu terus-terusan ditambah lagi kok Nabi [SAW] lebih mendahulukan kehendaknya sendiri untuk memasukkan keluarga Ali daripada menyampaikan ayat tersebut terlebih dahulu kepada Ummu Salamah?.

Pembersihan adalah konsekuensi pelaksanaan syari’at, Ahlul Kisa’ adalah perluasan ahlul bait dalam QS 33:33 atas do’a Nabi SAW, maka syariat-nya pun disesuaikan.

Maaf anda ini memang bisanya cuma basa-basi. ibratanya diskusi dengan orang yang cuma banyak bicara tetapi isinya tidak ada. Menurut anda Penyucian dalam al ahzab 33 bukan penyucian takwiniyah tetapi penyucian bersyarat dan syaratnya ada pada ayat sebelumnya maka syariat penyucian itu disebutkan dalam ayat sebelumnya. Jadi perkataan anda syariatnya disesuaikan adalah basa basi anda sendiri karena anda tidak memiliki jawaban atau anda tidak paham dengan ayat tersebut.

Untuk mereka para wanita termasuk Fatimah ya mengikuti syari’at khusus untuk para wanita, yang syari’at khusus untuk istri Nabi ya khusus untuk istri Nabi SAW, untuk laki-laki ya syari’at khusus untuk mereka. Untuk Nabi ya syari’at khusus untuk Nabi SAW.

Mana syariat yang anda maksud, coba sebutkan. Jatuhnya anda ini tidak sedang menjelaskan al ahzab 33 tetapi menjelaskan waham pikiran anda sendiri. Kelihatan tuh kalau anda tidak konsisten. kalau mau konsisten bahwa al ahzab 33 berurutan dengan ayat sebelumnya maka syariat itu ya syariat di ayat sebelumnya. penyucian itu terikat dengan ayat sebelumnya itulah konsekuensi urutan ayat. Perhatikan saja al ahzab 32 dan 33 maka sangat jelas kalau penyucian itu terkait dengan syariat khusus wanita. Karena bertentangan dengan teori anda maka anda memasukkan obrolan basa-basi syariatnya disesuaikan, wah wah wah

Bukankah Nabi SAW setelah turun-nya ayat tsb ketika pergi ke Masjid selalu mengingatkan keluarga Fatimah untuk melaksanakan syari’at Allah salah satunya shalat shubuh?

Maaf saya pribadi tidak pernah berhujjah dengan hadis ini dan kalau saya tidak salah hadis tentang ini kan didhaifkan oleh para salafiyun. Lucu sekali orang seperti anda, kalau ada hadis shahih dipakai lawan diskusi anda, anda mencari-cari celah mendhaifkan walaupun dengan cara yang menyedihkan tetapi ketika anda sendiri berhujjah asal menguntungkan anda maka anda tidak segan-segan memakai hadis yang didhaifkan kelompok anda sendiri.

penyucian itu terkait dengan syariat perintah yang disebutkan sebelumnya. Memang benar dan tentunya pembersihan kepada Ahlul Bait adalah kekhususan yang berbeda dengan pembersihan untuk yang lainnya, jelas Allah membedakan istri2 Nabi SAW tidak seperti wanita yang lain, ini adalah pengkhususan terhadap ahlul bait Nabi SAW. Saya kira cukup jelas hal ini

Lucunya anda menanggapi komentar saya dengan komentar yang bahkan saya tidak melihat apa hubungannya. Bukankah yang saya tanyakan sebelumnya adalah “anugerah besar” mana yang anda maksud. Anugerah penyucian mana yang anda maksudkan. Bukankah penyucian itu sendiri bersyarat?. Dari sisi ini tidak ada perbedaan dengan penyucian terhadap semua umat islam terkait dengan syariat wudhu’. Hanya beda objek saja yang satu untuk umat islam yang satu untuk istri-istri Nabi dan ahlul Bait. dari sudut pandang anda saya tidak melihat apa yang anda maksud anugerah besar sampai-sampai Rasulullah [SAW] menginginkan keluarga Ali untuk ikut masuk?. Anehnya mengapa Rasul SAW meninggalkan keluarga Ja’far, keluarga Abbas, keluarga Aqil padahal mereka juga ahlul bait Nabi dan mereka juga dikenakan syariat. Mengapa mereka tidak diselimuti oleh Nabi [SAW]?

Sunnatullah, semua di dunia itu berlaku sebab dan akibat, Nabi SAW dan keluarganya pun dituntut melaksanakan syari’at untuk mendapatkan pembersihan, tentu saja anugrah buat mereka tingkatannya lebih tinggi daripada yg lainnya. Nabi SAW saja melaksanakan syari’at, ahlul bait pun dituntut spt itu kok faktanya, Tentunya Allah telah menjadikan keluarga Nabi SAW adalah keluarga yang sholeh dan shalihah sehingga mereka layak mendapatkan pembersihan/penyucian dari Allah. justru pikiran anda saja yang aneh

Maaf, pikiran anda itu yang aneh. Semua umat islam itu juga dikenakan syariat maka menuruti logika anda semuanya juga akan mendapatkan pembersihan jika melaksanakan syariat. Singkat cerita jika saya berdiri pada sudut pandang anda, saya tidak melihat apa yang anda sebut anugerah besar penyucian. Jika ahlul bait mendapat penyucian dengan syarat melaksanakan syariat dalam surah al ahzab maka semua umat islam pun mendapatkan penyucian dengan syariat bersuci dalam surah al maidah. Jadi dari sudut pandang anda berdiri, itu tidak terlihat seperti keutamaan tetapi hanya pembedaan syariat yang dilaksanakan saja, ujung-ujungnya sama mendapatkan penyucian.

*********************

.

secondprince, on Mei 6, 2011 at 1:39 pmsaid:

@sok tau banget

1. Orang Syi’ah itu mengatakan bahwa ‘Amrah Al-Hamdaaniyyah adalah tabi’iyah awal. Itu katanya. Kalau kita cek dari referensi yang ia pakai, Ibnu Hibbaan hanya mengatakan dalam Ats-Tsiqaat (5/no. 4880) :

meriwayatkan dari Ummu Salamah, dan meriwayatkan darinya ‘Ammaar Ad-Duhniy.

Juga Al-‘Ijliy hanya mengatakan dalam Ma’rifatuts-Tsiqaat :

Kuufiyyah (orang Kuffah), taabi’iyyah tsiqah.

Sama sekali tidak ada pernyataan tabi’in generasi awal. Entah dari mana ia bisa menyimpulkan itu. Atau mungkin yang dimaksudkan tabi’iy generasi awal itu ya semua tabi’iy dalam semua thabaqah. Kalau yang dimaksudkan adalah ini, ya tentu saja keliru besar. Istilah tabi’iy awal itu adalah tabi’iy senior yang berada – terutama – pada thabaqah kedua.

Makanya kalau mau mengecek ya silakan dicek baik-baik dan tolong logikanya jalan sedikit. Yang meriwayatkan dari ‘Amrah Al Hamdaniyah adalah Abu Shahba’ Al Bakriy dan dia adalah tabiin thabaqat ketiga dikenal meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib. Jadi sangat mungkin sekali kalau ‘Amrah Al Hamdaniyah ini adalah tabiin awal thabaqat kedua atau thabaqat ketiga.

Tapi yang prinsip saja, generasi tabi’iy itu bukanlah generasi yang anti kemajhulan dalam ilmu rijaal.

Halooo, apakah ada yang bilang begitu?. anda saja yang main pukul rata seolah semua tautsiq Ibnu Hibban dan Al Ijli gak ada artinya. Kami tidak pernah menafikan kalau Ibnu Hibban mentautsiq perawi majhul tetapi menyatakan perawi majhul itu juga harus ada dasarnya.

‘Amrah bin Al Hamdaniyah ini telah meriwayatkan darinya dua orang perawi tsiqat yaitu Abu Shahba’ dan ‘Ammar Ad Duhniy. Ia seorang tabiin dari sisi ini saja hadisnya dinilai hasan. Silakan tuh dibaca pernyataan syaikh anda Syaikh Al Albani [Silsilah Ahadits Ash Shahihah no 680] tentang perawi yang bernama Abu Sa’id Al Ghifariy disitu tertulis

و قال المناوي في ” الفيض ” : ” و رواه أيضا الطبراني . قال الهيثمي : و فيه
أبو سعيد الغفاري , لم يرو عنه غير حميد بن هانىء , و رجاله وثقوا , و رواه عنه
ابن أبي الدنيا في ” ذم الحسد ” قال الحافظ العراقي : و سنده جيد ” .
قلت : قد روى عنه خلاد بن سليمان أيضا كما تقدم , فقد ارتفعت عنه جهالة العين ,
ثم هو تابعي , فمثله يحسن حديثه جماعة من الحفاظ

Silakan dibaca baik-baik terutama kalimat di bagian akhir dan tolong dipahami dulu sebelum berkomentar :)

Dan kita lanjut jika ditambah dengan pentautsiqan Ai Ijli yang menyatakan ‘Amrah tsiqat maka kami punya hujjah yang cukup untuk menyatakan ia tsiqat.

Adapun Asy-Syaikh Ahmad Syaakir, maka sudah menjadi pengetahuan umum bagi penuntut ilmu hadits tentang kaedahnya dalam mengikuti pentautsiqan Ibnu Hibbaan, sehingga beliau (Syaikh Ahmad Syaakir) banyak terjatuh dalam kekeliruan seperti Ibnu Hibbaan dalam pentautsuqan majaahil. Banyak kitab yang telah dituliskan.

Cukup menunjukkan kalau tautsiq Ibnu Hibban berarti majhul bukanlah pendapat mutlak yang disepakati para ulama. Anda saja bisa mengangkat majhul-nya itu dengan dalil “tiga perawi tsiqat meriwayatkan darinya”. jadi kan tergantung qarinah [petunjuk] yang menguatkannya, bagi saya dua perawi tsiqat meriwayatkan darinya, dia seorang tabiin dan Al Ijli menyatakan ia tsiqat cukup sekali untuk menyatakan tsiqat. Dan maaf rasanya tidak ada ulama yang menyatakan ‘Amrah Al Hamdaniyah majhul :)

Ibnu ‘Asaakir ketika membawakan riwayat hadits tersebut di atas dari jalur ‘Ammaar Ad-Duhniy, dari ‘Amrah, dari Ummu Salamah (At-Taariikh 14/144-145) berkata :

عمرة هذه ليست بنت عبد الرحمن إنما هي عمرة بنت أفعى كوفية

“’Amrah ini bukanlah Bintu ‘Abdirrahmaan, akan tetapi ia adalah ‘Amrah bintu ‘Af’aa, Kuufiyyah” [selesai].

Apa artinya ? Ibnu ‘Asaakir membedakan antara Al-Hamdaaniyyah dan Bintu Af’aa.

Ini nih orang panik yang menuduh orang lain panik, kelihatan sekali kalau ia sedang kelagapan dalam berhujjah. Yang dibedakan Ibnu Asakir itu kan ‘Amrah binti Abdurrahman dan ‘Amrah binti Af’aa. Lalu mengapa anda tiba-tiba berkata Ibnu Asakir membedakan antara Al Hamdaniyah dan bintu Af’aa. Apa mau bilang ‘Amraah binti ‘Abdurrahman dalah ‘Amrah Al Hamdaniyah, wah kalau begitu lebih beres lagi masalahnya ‘Amrah binti ‘Abdurrahman itu perawi kutubus sittah yang tsiqat.

Perkataan Ibnu ‘Asaakir ini sesuai dengan perkataan Ibnu Hibbaan, bahwa ‘Amrah yang meriwayatkan darinya ‘Ammaar Ad-Duhniy itu bukan Al-Hamdaaniyyah. Bukankah Ibnu Hibbaan menyebutkan : Bintu Syaafi’ ?. Dan sependek pengetahuan saya, orang yang diambil riwayatnya oleh ‘Ammaar Ad-Duhniy adalah Bintu Af’aa Al-Kuufiyyah.

Ini orang sedang melucu tapi gak lucu, ngawurnya kok keterusan, yang dibilang Ibnu Asakir saja anda gak ngerti kemudian sok bawa2 perkataan Ibnu Hibban. ‘Amrah binti Af’aa sama saja dengan ‘Amrah binti Syafii’ dan ‘Amrah Al Hamdaniyah, dikenal meriwayatkan dari Ummu Salamah dan telah meriwayatkan darinya adalah ‘Ammar Ad Duhniy. Buktinya tampak jelas dalam riwayat hadis kisa’ yang ia riwayatkan. Bukankah perkara perbedaan nama adalah hal yang lumrah menurut anda

Jadi,…. ini menguatkan status kemajhulan diri ‘Amrah Al-Hamdaaniyyah dalam riwayat yang disebutkan oleh orang Syi’ah tersebut, karena kemungkinan kuat hanya satu orang perawi yang meriwayatkan darinya, yaitu Abush-Shahbaa’.

Ck ck kalau orang hatinya sakit memang ada saja bantahannya, btw bantahan anda yang lain cukup dilihat dari thread saya yang baru, selamat bersakit hati

***********************

.

secondprince, on Mei 7, 2011 at 11:12 amsaid:

@sok tau banget

Wah anda yg masih ga ngerti juga uraian yang panjang lebar di atas, ayat 28-35 itu berbicara tentang istri-istri Nabi berupa perintah dan larangan, mengapa ayat-ayat tersebut diturunkan? Sebagaimana QS 33:32 telah menjelaskan, alasannya adalah mereka adalah istri-istri Nabi, yang tidak sama dengan wanita lain. Inilah kunci keterkaitan dengan Nabi SAW, kalau mereka bukan istri-istri Nabi, tentu Allah tidak akan menurunkan ayat2 yg seperti itu untuk mereka. Ketika Allah berbicara dengan secara khusus kepada istri2 Nabi, Allah menggunakan “kunna”, tetapi begitu menyinggung istilah ahlul bait, maka bukan hanya istri2 Nabi yang terkait di dalamnya tetapi di situ ada sayyidul bait yaitu Nabi SAW

Maaf, situ bisa bangun tidak dari mimpinya, perkataan anda “begitu menyinggung istilah ahlul bait” maksudnya apa. jika mengandalkan urutan ayat maka ahlul bait di ayat al ahzab 33 tidak lain adalah istri-istri Nabi. gak percaya perhatikan nih ayatnya

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan menyucikan kamu sesuci-sucinya” [QS Al Ahzaab : 33]

Menurut anda kan al ahzab 33 turunnya seperti itu, nah jelas sekali disitu “kum” pada kata “liyudzhiba ‘ankum” merujuk pada istri-istri Nabi karena Allah SWT hendak menghilangkan dosa istri-istri Nabi dengan memerintahkan mereka agar tetap di rumah, tidak berhias dan mentaati Allah SWT dan Rasulnya. Jadi “kum” pada kata liyudzihiba ‘ankum adalah tertuju pada istri-istri Nabi bukannya Nabi, masa’ sih Nabi juga terikat perintah itu agar dihilangkan dosanya.

Kalau anda mau mengatakan “kum” disana hanya istri-istri Nabi tetapi karena penghilangan dosa terhadap istri-istri Nabi berarti penghilangan dosa Nabi juga maka itu hanya waham anda yang suka basa-basi. Tidak ada tuh jika istri2 Nabi melanggar perintah Allah SWT atau berdosa maka Nabi [SAW] otomatis juga ikut berdosa sehingga jika dosa istri Nabi dihilangkan maka dosa Nabi juga hilang, itu konsekuensi ngawur dari teori anda soal kata “kum”. Ditambah lagi, jika “kum” disana hanya tertuju pada istri-istri Nabi maka itu bertentangan dengan lafaz bahasa arab bahwa “kum” adalah untuk jamak perempuan dan laki-laki.

Pembersihan/penyucian yang hendak Allah berikan kepada istri-istri Nabi dengan pelaksanaan syari’at sebelumnya akan sangat terkait dengan Nabi SAW, dan menambah kemuliaan beliau sebagai sayyidul bait.

Tapi apa hubungannya kalimat anda ini dengan penggunaan kata “kum”. Istri-istri Nabi mulia, saya setuju. Nabi lebih mulia saya lebih setuju sekali

Karena istri/ahlul bait adalah dibawah naungan suami/sayyidul bait, maka “kum” pada ayat tersebut adalah benar adanya dan sudah sesuai dengan uslub bahasa yang ada pada ayat yang lain yaitu Huud:73. Sampai di sini jelas?.

Anda itu maaf tidak mengerti, siapapun tahu kalau istri Nabi itu dibawah naungan Nabi, tapi yang dipermasalhkan apakah ketika ada ayat khusus untuk istri-istri Nabi maka Nabi juga ikut masuk?. Lafaz “kum” itu berarti orangnya adalah laki-laki dan perempuan. kalau “perempuan saja” maka bukan “kum” tapi “kunna”. Kata “kum” pada lafaz Innama Yuridullah Liyudzhiba ‘ankum itu tertuju pada istri-istri Nabi jika kita melihat al ahzab 33 sebagai satu kesatuan. Perhatikan saja lafaz

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu

Kum [kamu] pada kalimat terakhir itu sama atau tidak dengan kum pada kalimat sebelumnya?. Gak ngerti juga saya buat lebih simpel

Siapakah “kamu” yang disuruh tetap dirumahmu,yang disuruh jangan berhias dan yang disuruh taat pada Allah SWT dan Rasulnya?
Siapakah “kamu” yang hendak dihilangkan dosanya dengan melaksanakan perintah tersebut?

Jawabannya sama “kamu” disana adalah istri-sitri Nabi [dengan syarat ayat al ahzab 33 satu kesatuan]. Terus bagaimana jawaban anda? apa anda mau jawab bahwa “kamu” yang pertama adalah “istri-istri Nabi saja” tetapi “kamu” yang terakhir adalah Nabi beserta istrinya. Ini tidak benar karena “kamu” yang terakhir yang hendak dihilangkan dosanya oleh Allah SWT dengan menjalankan perintah salah satunya “tetap di rumahmu dan jangan berhias” adalah orang-orang yang sama. Nabi SAW tidak mungkin ikut di dalamnya karena perintah itu khusus wanita.

Kalau anda mau berteori “kamu” yang terakhir adalah istri-istri Nabi saja tetapi karena penghilangan dosa istri Nabi berarti menghilangkan dosa Nabi juga maka pendapat ini lebih tertolak lagi.
Pertama : bukankah itu berarti “kum” disana tertuju pada istri-istri nabi saja maka ini secara bahasa saja tidak tepat alias cuma orang gak ngerti bahasa arab yang bilang begini. Harusnya pakai “kunna” terlepas apapun teori anda kalau yang dituju atau diajak bicara hanya “semuanya perempuan” maka kata yang dipakai “kunna” walaupun pada ujung2nya perempuan itu berada di dalam tanggungan suaminya. Kalau anda masih kurang jelas anda boleh lihat lafaz bahasa arab “buyutikunna”. Yang diajak bicara dalam lafaz ini adalah istri-istri Nabi yang tinggal di rumah mereka nah rumah mereka itu kan rumah Nabi SAW juga jadi seharusnya dengan teori anda maka harusnya pakai kata “buyutikum” tetapi faktanya Allah SWT tetap menggunakan “buyutikunna” walaupun rumah istri2 Nabi otomatis rumah Nabi juga sebagai sayyidul bait. Kalau sudah panjang begini masih gak ngerti, lebih baik cukup deh saya males denger hujjah basa-basi anda.

Kedua : pernyataan Allah berkehendak menghilangkan dosa istri-istri Nabi, tetapi karena istri-istri Nabi dibawah naungan Nabi maka menghilangkan dosa istri nabi berarti menghilangkan dosa Nabi juga, makanya dipakai kata “kum”. Ini adalah dari teori anda dan maaf saya gak setuju sama sekali. Dosa istri Nabi tidak terikat kepada Nabi [SAW] Seandainya istri Nabi melanggar perintah Allah SWT maka itu tidak akan membuat Nabi berdosa. Lihat saja ayat yang tertuju pada istri Nabi

Jika kamu berdua membantu menyusahkan Nabi maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya begitu pula Jibril dan orang mukmin yang baik dan selain itu malaikat2nya adalah penolongnya juga. Jika Nabi menceraikan kamu boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu yang patuh, yang beriman yang taat yang bertobat yang mengerjakan ibadah yang berpuasa yang janda dan yang perawan [At Tahrim 4-5]

Surah Hud itu jelas berbeda dengan Al Ahzab 33. Bedanya sudah saya jelaskan dengan baik. Rahmat yang berupa anak itu tertuju pada Ibrahim dan istrinya karena mereka berdua yang sedang berhadapan dengan malaikat dan yang dikatakan oleh malaikat sebagai ahlul bait, jadi penggunaan kata “kum” karena mereka berdua adalah laki-laki dan perempuan. Kalau al ahzab 33 “kum” disana berarti laki-laki dan perempuan maka penghilangan dosa dan penyucian itu tertuju pada laki-laki dan perempuan. Siapa perempuannya? anda akan jawab dari bagian sebelumnya diketahui bahwa perintah itu tertuju pada istri-istri Nabi. Kalau begitu siapa laki-lakinya? anda bilang Nabi [SAW], ya keliru sekali pada kalimat mana Nabi [SAW] menjadi yang tertuju pada ayat tersebut, kalimat sebelumnya yang menyebutkan perintah khusus wanita jelas membuat pernyataan anda mustahil.

Nah yang lucu jika jawaban anda “kum” itu sebenarnya hanya istri-istri Nabi tetapi karena apa yang terjadi pada istri Nabi juga berpengaruh pada Nabi maka digunakan kata “kum”. Ini yang saya namakan waham, “kum” tidak pernah ditujukan untuk “perempuan saja” bukti paling jelas adalah pada lafaz buyutikunna, rumah itu sebenarnya rumah istri-istri Nabi tetapi karena yang namanya rumah istri Nabi berarti rumah Nabi [SAW] juga maka kalau menyebut rumah istri-istri Nabi harus dengan lafaz “buyutikum” itu kan teori anda. Faktanya Allah SWT menyebut dengan “buyutikunna” makanya saya bilang teori anda soal kata “kum” itu tertolak.

Masih tidak mengerti juga, lihat ayat ini baik-baik

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِير وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ

Sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu.

“mu” pada kata “rumahmu” itu merujuk atau kembali kemana. Kalau dilihat dari satu kesatuan ayat tersebut maka “mu” pada kata “rumahmu” kembali kepada Ahlul Bait, lho kok pakai kata buyutikunna padahal itu kan sedang menyinggung ahlul bait, seharusnya pakai buyutikum, see itulah waham anda. Jadi gak usah cuap-cuap kepanjangan, pahami dulu apa yang saya maksud.

Inilah kenaifan anda, memangnya Nabi dan keluarga Nabi tidak dikenai hukum syari’at? Terus kalau pembersihan thd keluarga Nabi itu dilakukan dengan menjalankan syari’at itu bukan suatu keutamaan? pembersihan terhadap keluarga Nabi dan kaum muslimin ya jelas berbeda, letaknya adalah mereka adalah keluarga Nabi sedangkan yang lain bukan.

Saya gak pernah bilang Nabi dan keluarga Beliau tidak dikenakan hukum syariat. Yang saya tidak mengerti adalah bagaimana syariat yang diberikan Allah SWT menjadi sebuah keutamaan besar bagi mereka yang mendapatkan syariat tersebut.

Kalau memang begitu maka semua umat islam juga memiliki keutamaan besar. terkait penyucian maka semua umat islam juga mendapatkan keutamaan penyucian, terserah anda mau bilang penyucian itu berbeda dengan penyucian terhadap Nabi dan Istri2nya ya tetap saja itu keutamaan. Bisa tunjukkan kepada saya hadis Manaqib dimana manaqib [keutamaan] itu berupa syariat yang ditujukan kepada yang mengembannya.

Misalnya para sahabat mendapat perintah untuk menegakkan shalat dan menunaikan zakat sehingga dengan perintah itu mereka akan mendapat pahala surga. Saya tanya apakah ada ulama yang memasukkan perintah terhadap sahabat itu sebagai keutamaan atau manaqib shahabat

Jadi istri-istri Nabi mendapat perintah dimana dengan perintah itu Allah SWT bertujuan menghilangkan dosa dari mereka. Dan anda mau mengatakan kalau itu adalah keutamaan yang besar bagi mereka, yang mana? perintahnya? atau penghilangan dosanya? kalau mau jawab perintahnya maka sama tuh dengan permisalan saya soal sahabat yang mendapat perintah shalat. Kalau mau jawab penghilangan dosanya maka bukankah penghilangan dosa itu terkait dengan perintah-perintahnya. Jika melakukan perintah tersebut maka dosanya akan hilang, so tidak jauh berbeda kedudukannya dengan umat muslim yang mendapat berbagai perintah dari Allah SWT dimana dengan perintah tersebut Allah SWT menginginkan agar manusia selalu berada diatas jalan yang lurus dan mendapat imbalan surga. Kalau gak ngerti uraian saya, ya sudah :)

*************************

.

secondprince, on Mei 8, 2011 at 6:59 amsaid:

@ sok tau banget

Sudah saya sampaikan berulang kali, perintah dan larangan adalah buat istri2 Nabi SAW tetapi hasilnya berupa pembersihan benefitnya dirasakan oleh Nabi SAW juga sebagai sayyidul bait sehingga benarlah penggunaan kata “kum” yaitu merujuk istri2 Nabi SAW dan Nabi SAW sendiri pada ayat tsb saat menyinggung ahlul bait.

wah sudahlah kalau tidak bisa mengerti uraian saya yang panjang lebar. Penjelasan saya itu sudah cukup untuk membungkam anda tapi dasar andanya saja yang ngeyel. Kenapa anda tidak menjawab Pertanyaan saya buat anda, seandainya istri Nabi [SAW] melanggar perintah yang dimaksud [ini seandainya lho] kemudian “kum” pada kata liyudzhiba ‘ankum anda artikan Nabi dan istri-istrinya. Apa anda mau bilang kalau kesucian Nabi [SAW] jadi terganggu, Nabi [SAW] gak suci lagi, begitu?. kesucian yang anda yakini dalam ayat tathir adalah kesucian yang terikat syariat jadi ia terikat perintah. Jadi kesucian yang tertuju pada istri2 Nabi itu terikat perintah, apakah mereka melaksanakannya atau tidak. Dan anda juga mau mengikatkan kesucian Nabi [SAW] tergantung dengan istri-istri Beliau. coba dijawab pertanyaan itu.

saya tanya, menurut Anda Nabi SAW ikut termasuk dalam ahlul bait yang dimaksud dalam ayat QS 33:33 atau tidak?

Jika anda jawab tidak, maka anda tidak konsisten, karena di topik yang lain anda berdalil pada hadits dari Ummu Salamah “dan ahlul bait adalah Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain” artinya bahwa Nabi SAW pun masuk dalam ayat pembersihan dari dosa dan penyucian. dan juga di dalam hadits-hadits kisa’ diceritakan bahwa Nabi juga berada dalam kisa’, artinya beliau pun adalah ahli kisa’ yang mendapatkan penyucian.

Benar dan penyucian yang dimaksud adalah bersifat takwiniyah artinya ia tidak terikat syariat tertentu melainkan adalah anugerah Allah SWT yang begitu besar

Jika anda jawab Iya, maka anda pun tidak konsisten juga, karena anda mengatakan di atas bahwa tidak mungkin Nabi SAW bersama istri-istri Nabi yang dimaksud ayat tsb, karena menurut anda Nabi tidak mungkin dibersihkan dari dosa dan disucikan.

Tolong deh belajar dulu apa itu konsisten dan inkonsisten? kebanyakan salafy memang suka asal cuap istilah yang tidak mereka mengerti. saya katakan Nabi [SAW] tidak mungkin bersama istri-nya yang dimaksud dalam ayat tersebut jika mengandalkan urutan ayat, karena kontradiksi dalam penggunaan kata “kum”. Nah urutan ayat itu kan pendapat anda, saya berpendapat ayat al ahzab 33 soal penyucian itu turun terpisah dari sebelum dan sesudahnya dan kesucian yang dimaksud bersifat takwiniyah.

Jadi dalam QS 33 : 28-33, Allah sebenarnya dari awal sedang berbicara dengan Nabi SAW dan tidak berbicara langsung dengan istri2 Nabi, perintah dan larangan Allah untuk istri2 Nabi dari ayat 28-33 didelegasikan kepada Nabi SAW untuk disampaikan kepada istri2 beliau, jadi dari awal Nabi SAW terlibat dalam ayat ini dan beliau lah yang sedang diperintah dan diajak bicara oleh Allah dalam ayat ini untuk menyampaikannya ke istri2 beliau. Nah sampai akhir ayat 33, Allah memberikan tujuan akhir dari perintah dan larangan untuk istri2 Nabi yang disampaikan melalui Nabi SAW tersebut, yaitu untuk membersihkan/menyucikan keluarga beliau (yaitu Nabi SAW sendiri dan istri2 beliau /ahlul bait).

Dengan turun-nya ayat ini, Nabi SAW tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, beliau memanggil ahlul bait beliau berdasarkan hubungan nasab, menyelimuti mereka dalam satu kain dan mendo’akan mereka supaya juga disucikan oleh Allah, bukan hanya beliau dan istri2 beliau. hal ini sangat lah wajar beliau ingin seluruh ahlul bait beliau disucikan oleh Allah.

Maaf hujjah anda soal ayat 28-33 itu keliru sekali. Alasannya terdapat asbabun nuzul yang shahih bahwa ayat 28-29 itu turun untuk peristiwa lain bukan peristiwa yang sama dengan ayat tathiir. Silakan baca disini

http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%E2%80%99far-tentang-ahlul-bait-ahlul-bait-dalam-ayat-tathir-bukan-istri-istri-nabi-saw/

btw kalimat anda “ingin seluruh ahlul bait beliau disucikan oleh Allah” nah itu berarti harusnya yang Nabi [SAW] panggil tidak hanya keluarga Ali, tetapi keluarga Aqil, Keluarga Ja’far dan Keluarga Abbas, faktanya “tidak” jadi kalimat anda itu saya katakan cuma basa-basi saja :)

Lagipula kalau memang ayat tersebut turunnya dengan lafaz dari 28-33 maka disitu ada perintah Allah SWT dari Nabi [SAW] untuk langsung menyampaikan kepada istri-istriNya. Maaf saja Nabi yang saya yakini akan menyampaikan ayat tersebut terlebih dahulu kepada istri-istri-Nya daripada mendahulukan kehendaknya. Jadi Nabi [SAW] akan menceritakan ayat itu lebih dahulu kepada istrinya baru memasukkan keluarga yang lain. Gak ada ceritanya hujjah anda Ummu Salamah “heran” dengan perilaku Nabi [SAW] jelas-jelas Ummu Salamah mengetahui dengan jelas saat itu kalau ayat al ahzab 33 turun kepada Nabi [SAW]. Darimana datangnya heran itu, dari angan-angan anda saja :)

*******************

.

Komen-komen yang lain silahkan berkunjung ke SINI

_____________________

TULISAN TERKAIT TENTANG AHLUL BAIT

  1. Ketika Pendengki Ahlulbait Suci Nabi saw. Sok Berlagak Membela Ahlulbait (1) Ahlul-bait 1
  2. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Hadis Tsaqalain) Ahlul-bait 2
  3. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Ayat Tathir) Ahlul-bait 3
  4. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Ayat Tathir Bukan istri-istri Nabi SAW) Ahlul-bait 4
  5. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Kerancuan Tafsir Ibnu Katsir dkk) Ahlul-bait 5
  6. Berpegang Teguh Pada Ahlul Bait Nabi SAW Atau Sahabat Nabi SAW  Ahlul-bait 6
  7. Ahlulbait as adalah Ahlu adz Dzikr Ahlul-bait 7
  8. Imam Besar Wahabi Ibnu taymiah: Pengutamaan Ahlul Bait Nabi saw adalah Peninggalan Jahiliyah Ahlul-Bait 8
  9. Bantahan Dan Tantangan Untuk haulasyiah: “Tak Ada Gunanya Membela Gembong Kaum Munafik!”  Ahlul-Bait 9
  10. Ayat Tathhir Khusus Untuk Ahlul Kisa’  Ahlul-Bait 10
  11. Dalil Ahlul Bait Bukanlah Istri-istri Nabi  Ahlul-Bait 11
  12. Hadis Yang Menjelaskan Siapa Ahlul Bait Yang Disucikan Dalam Al Ahzab 33  Ahlul-Bait 12
  13. Pengakuan Ummu Salamah : Dirinya Bukan Ahlul Bait Dalam Al Ahzab 33  Ahlul-Bait 13
  14. Analisis Hadis Kisa’ Dalam Musnad Ahmad  Ahlul-Bait 14
  15. Konsisten Dalam Inkonsisten [Menjawab Hujjah Salafy]  Ahlul-Bait 15
  16. Ahlul Bait Dalam Pandangan Imam Ali?  Ahlul-Bait 16
  17. Ahlul Bait Mengakui Kepemimpinan Mereka Dengan Ayat Tathhiir Ahlul-Bait 17

______________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************


%d blogger menyukai ini: