Analisis Hadis Kisa’ Dalam Musnad Ahmad

Analisis Hadis Kisa’ Dalam Musnad Ahmad

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar (SP)

Yah berhubung ada seseorang yang menanggapi salah satu tulisan kami tentang Ayat Tathhir dan dalam komentarnya itu ia telah berhujjah dengan salah satu hadis Kisa’ yang diriwayatkan dalam Musnad Ahmad. Oleh karena itu dengan sedikit berberat hati kami akan sedikit membahas hadis tersebut. Semoga bisa diperhatikan bahwa tulisan ini menegaskan bahwa “Hadis Musnad Ahmad tersebut tidak kami gunakan sebagai hujjah” dan dalam kerangka itulah kami membahasnya. Perhatikan baik-baik kata-kata miring itu. Setelah itu, mari kita langsung melihat hadis Kisa’ yang dimaksud.

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو النضر هاشم بن القاسم ثنا عبد الحميد يعنى بن بهرام قال حدثني شهر بن حوشب قال سمعت أم سلمة زوج النبي صلى الله عليه و سلم حين جاء نعى الحسين بن على لعنت أهل العراق فقالت قتلوه قتلهم الله غروه وذلوه لعنهم الله فإني رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم جاءته فاطمة غدية ببرمة قد صنعت له فيها عصيدة تحمله في طبق لها حتى وضعتها بين يديه فقال لها أين بن عمك قالت هو في البيت قال فاذهبي فادعيه وائتني بابنيه قالت فجاءت تقود ابنيها كل واحد منهما بيد وعلى يمشى في أثرهما حتى دخلوا على رسول الله صلى الله عليه و سلم فأجلسهما في حجره وجلس على عن يمينه وجلست فاطمة عن يساره قالت أم سلمة فاجتبذ من تحتى كساء خيبر يا كان بساطا لنا على المنامة في المدينة فلفه النبي صلى الله عليه و سلم عليهم جميعا فأخذ بشماله طرفي الكساء وألوى بيده اليمنى إلى ربه عز و جل قال اللهم أهلي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا اللهم أهل بيتي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا اللهم أهل بيتي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قلت يا رسول الله ألست من أهلك قال بلى فادخلي في الكساء قالت فدخلت في الكساء بعد ما قضى دعاءه لابن عمه على وابنيه وابنته فاطمة رضي الله عنهم

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr Hasym bin Al Qasim yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid yaitu Ibnu Bahram yang berkata telah menceritakan kepadaku Syahr bin Hausab yang berkata aku mendengar Ummu Salamah istri Nabi SAW ketika datang berita kematian Husain bin Ali telah mengutuk penduduk Irak. Ummu Salamah berkata “Mereka telah membunuhnya semoga Allah membinasakan mereka. Mereka menipu dan menghinakannya, semoga Allah melaknat mereka. Karena sesungguhnya aku melihat Rasulullah SAW didatangi oleh Fatimah pada suatu pagi dengan membawa bubur yang ia bawa di sebuah talam. Lalu ia menghidangkannya di hadapan Nabi. Kemudian Beliau berkata kepadanya “Dimanakah anak pamanmu(Ali)?”. Fatimah menjawab “Ia ada di rumah”. Nabi berkata “Pergi dan panggillah Ia dan bawa kedua putranya”. Maka Fatimah datang sambil menuntun kedua putranya dan Ali berjalan di belakang mereka. Lalu masuklah mereka ke ruang Rasulullah dan Beliau pun mendudukkan keduanya Al Hasan dan Al Husain di pangkuan Beliau. Sedagkan Ali duduk disamping kanan Beliau dan Fatimah di samping kiri. Kemudian Nabi menarik dariku kain buatan desa Khaibar yang menjadi hamparan tempat tidur kami di kota Madinah, lalu menutupkan ke atas mereka semua. Tangan kiri Beliau memegang kedua ujung kain tersebut sedang yang kanan menunjuk kearah atas sambil berkata “Ya Allah mereka adalah keluargaku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. Ya Allah mereka adalah Ahlul Baitku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ya Allah mereka adalah Ahlul Baitku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Aku berkata “Wahai Rasulullah bukankah aku juga keluargamu?”. Beliau menjawab “Ya benar. Masuklah ke balik kain ini”. Maka akupun masuk ke balik kain itu setelah selesainya doa Beliau untuk anak pamannya, kedua putra Beliau dan Fatimah putri Beliau”.(Hadis dalam Musnad Ahmad Juz 6 hal 298 hadis no 26592 Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

.

.

Telaah Sanad Hadis

Dalam sanad hadis ini terdapat perawi yang dibicarakan hadisnya yaitu Syahr bin Hausab. Dalam kitab Tahdzib At Tahdzib juz 4 biografi no 635 dan Mizan Al Itidal biografi no 3756 disebutkan ada yang menta’dilkan beliau

  • Beliau dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Main, Al Ajli, Yaqub bin Syaibah dan Ahmad bin Hanbal
  • At Tirmidzi mengatakan kalau Bukhari menyatakan hadisnya Syahr bin Hausab hasan.
  • Abu Zar’ah menyatakan bahwa Syahr bin Hausab la ba’sa bihi(tidak cacat)

Tetapi terdapat juga yang mencacatkan beliau diantaranya adalah An Nasa’i, Ibnu Ady, Ibnu Hibban dan lain-lain.

Imam Nasa’i memasukkan Syahr bin Hausab dalam kitabnya Ad Dhu’afa no 294

شهر بن حوشب ليس بالقوي

Syahr bin Hausab itu tidak kuat hadisnya

Al Uqaili juga memasukkan Syahr bin Hausab dalam kitabnya Ad Dhu’afa no 716, Ibnu Hibban memasukkan Syahr bin Hausab dalam kitabnya Al Majruhin no 476 seraya mengatakan bahwa Syahr sering meriwayatkan hadis mu’dal(terputus) dan hadis maqlub(terbalik)

.

.

Dalam Mizan Al Itidal biografi no 3756 terdapat keterangan berikut

قال الفلاس كان يحيى بن سعيد لا يحدث عن شهر

Al Fallas berkata “Yahya bin Said tidak meriwayatkan hadis Syahr bin Hausab”

عن ابن عون قال إن شهرا تركوه

Ibnu ‘Aun berkata “Syahr bin Hausab ditinggalkan hadisnya”

سألت شعبة عن عبدالحميد بن بهرام فقال : صدوق ، إلا أنه يحدث عن شهر

Syu’bah ketika membicarakan Abdul Hamid bin Bahram berkata “Jujur kecuali hadisnya dari Syahr.

.

.

Dalam kitab Tahdzib At Tahdzib juz 4 biografi no 635, terdapat keterangan sebagai berikut

قال الساجي فيه ضعف وليس بالحافظ

As Saji berkata bahwa “Ada kelemahan padanya dan ia tidak hafal”

قال الحاكم أبو أحمد ليس بالقوي

Al Hakim Abu Ahmad berkata “Tidak kuat hadisnya”

قال البيهقي ضعيف

Al Baihaqi berkata “Ia dhaif”

قال بن حزم ساقط

Ibnu Hazm berkata “riwayatnya jatuh”

قال بن عدي ضعيف جدا

Ibnu Adiy berkata “dhaif jiddan(lemah sekali)”

أن شعبة ترك شهرا

Syu’bah meninggalkan hadis Syahr bin Hausab

قال النضر تركوه أي طعنوا فيه

An Nadhr berkata tentang Syahr “Ia ditinggalkan dan tercela”

قال موسى بن هارون ضعيف

Musa bin Harun berkata “Ia dhaif”

.

.

Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Ahmad Syakir

Mereka berdua adalah pensyarh kitab Musnad Ahmad dan tanpa merendahkan salah satu dari mereka, maka kami katakan bahwa Mereka berdua memimiliki penilaian berbeda terhadap hadis ini. Kitab Syarh Musnad Ahmad versi Syaikh Ahmad Syakir adalah kitab yang tidak selesai ditulis dan tulisan tersebut dilanjutkan oleh orang lain. Walaupun begitu Syaikh Ahmad Syakir sendiri telah berhujjah dengan hadis Syahr bin Hausab, hal ini telah kami lihat pada hadis-hadis lain. Dalam hal ini Syaikh Ahmad Syakir berpegang pada mereka yang menta’dilkan Syahr bin Hausab. Sedangkan Syaikh Syu’aib Al Arnauth memiliki pendapat yang berbeda dalam masalah ini. Beliau dalam kitab Musnad Ahmad versi beliau telah menyatakan dhaif hadis ini tampaknya beliau lebih berpegang pada mereka yang mencacatkan Syahr bin Hausab, beliau berkata

إسناده ضعيف لضعف شهر بن حوشب

Hadis ini sanadnya dhaif karena dhaifnya Syahr bin Hausab.

.

.

Pandangan Kami

Sudah kami katakan bahwa kami tidak berhujjah dengan hadis ini, oleh karena itu bagaimana sebenarnya kedudukan hadis ini maka itu bukan urusan kami. Bisa dibilang kami masih memerlukan penelitian lebih lanjut mengenai Syahr bin Hausab. Ketika kami menuliskan tentang Ayat Tathhir maka sejauh ini kami hanya mengambil dari hadis-hadis yang shahih dan tidak dipermasalahkan hadisnya. Walaupun begitu untuk memudahkan diskusi dengan mereka yang berkeras mau berhujjah dengan hadis ini maka untuk selanjutnya kami akan membahas bagaimana makna hadis itu sebenarnya.

Perlu diingatkan sebelumnya, bahwa setiap orang memiliki masing-masing persepsi dan mungkin saja dalam membahas sesuatu sama-sama memiliki prakonsepsi masing-masing. Hal ini sangat manusiawi dan yang mestinya diingat adalah jika kami punya prakonsepsi dan orang lain juga punya prakonsepsi maka itu tidak berarti bahwa kedua prakonsepsi itu akan menjadi benar begitu saja. Kalau kita membicarakan dan berhujjah dengan hadis maka tolak ukur penafsiran yang benar itu adalah berpegang pada teks hadisnya. Dengan teks hadis itu maka kami menilai apakah prakonsepsi yang kami miliki yang benar atau prakonsepsi orang lain. Jadi Teks hadis adalah bukti yang jelas apa maksud sebenarnya hadis tersebut. Tidak perlu memasukkan pandangan sendiri terhadap suatu teks jika memang teks tersebut sudah jelas tidak seperti itu. Dengan metode Berpegang pada Teksnya maka kami akan membahas hadis Musnad Ahmad tersebut.

Ada seseorang yang berkomentar tentang hadis ini dengan berkata(kami akan kutip komentarnya yang berkaitan dengan Hadis ini)

Dalam hadits riwayat Ahmad dengan jelas Nabi mengiyakan bahwa Ummu Salamah adalah termasuk ahlul baitnya

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ternyata akhirnya Ummu Salamah pun dibolehkan masuk ke dalam selimut setelah Rasulullah berdo’a untuk keluarga Fathimah.

Kita sudah jelaskan di atas bahwa ahlul bait ini adalah istri-istri Nabi (tidak syak lagi) berdasarkan konteks ayat tsb turun untuk mereka, keterangan dari ayat-ayat Al-Qur’an yang lain yang menyebut istri-istri Nabi dengan sebutan Ahlul Bait, disamping itu juga keterangan dari hadits riwayat Bukhari ketika Rasulullah memanggil istrinya Aisyah dengan panggilan Ahlul Bait. Hadits kisa’ riwayat Ahmad dll.

Dari semua komentarnya itu yang benar hanya yang nomor dua sedangkan yang lainnya itu keliru. Hadis Musnad Ahmad di atas tidak menyatakan bahwa Nabi memasukkan Ummu Salamah sebagai Ahlul Bait dalam Ayat Tathhir. Buktinya dapat dilihat sekali lagi pada teks hadis tersebut.

.

.

Bukti Pertama

Hadis Musnad Ahmad di atas memiliki perbedaan yang nyata dengan hadis Sunan Tirmidzi. Dalam hadis Sunan Tirmidzi yang kami kutip terdapat teks yang berbunyi

Ayat ini turun kepada Nabi SAW (Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya).

Sedangkan pada hadis Musnad Ahmad tidak ada satupun kata-kata yang menyebutkan tentang Ayat Al Ahzab 33 yang turun. Jadi bagaimana bisa langsung main pukul rata kalau hadis Musnad Ahmad bicara soal Asbabun Nuzul Ayat Tathhir.

.

.

Bukti Kedua

Dengan bermaksud tidak merendahkan orang tersebut maka kami katakan ia telah salah dalam menuliskan hadis. Anehnya hal ini sudah kami nyatakan sebelumnya ketika menjawab komentar-komentar beliau. Awalnya beliau tidak hanya keliru menuliskan hadis tetapi juga memotong bagian akhir hadis tersebut. Untuk bagian yang dipotong sepertinya beliau mengakuinya, anehnya untuk bagian yang keliru beliau tetap saja seperti itu.

Bagian inilah yang keliru, ia menuliskan

Ya Allah, (mereka adalah) ahli bait (keluarga)ku, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.
Ya Allah, (mereka adalah) ahli bait (keluarga)ku, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.
Ya Allah, (mereka adalah) ahli bait (keluarga)ku, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.

Aku (Ummu Salamah) berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah aku termasuk ahli bait (keluarga)mu?” Beliau menjawab, “Tentu, masuklah ke dalam selimut.”

Teks hadisnya berbunyi seperti ini

اللهم أهلي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا

اللهم أهل بيتي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا

اللهم أهل بيتي اذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا

قلت يا رسول الله ألست من أهلك

قال بلى فادخلي في الكساء

Yang kalau terjemahannya adalah

Ya Allah (mereka adalah) Ahli(keluarga)ku, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.

Ya Allah (mereka adalah) Ahlul BaitKu, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.

Ya Allah (mereka adalah) Ahlul BaitKu, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.

Aku (Ummu Salamah) berkata, “Wahai Rasulullah, bukankah aku termasuk ahli (keluarga)mu?” Beliau menjawab, “Tentu, masuklah ke dalam selimut.”.

Perbedaannya, dengan teks yang ditulis oleh orang itu maka seolah-olah Nabi menyatakan kalau Ummu Salamah adalah Ahlul Bait Beliau. Padahal kalau dengan teks yang sebenarnya maka yang dimaksud itu Nabi menyatakan bahwa Ummu Salamah adalah Ahli nya bukan dengan kata-kata Ahlul Baitnya. Ummu Salamah juga menggunakan kata-kata Ahli bukan Ahul Bait(bukankah aku termasuk ahli (keluarga)mu?). Dan dengan kekeliruan ini orang tersebut langsung mengambil hujjah.

Jadi pernyataan orang itu

Dalam hadits riwayat Ahmad dengan jelas Nabi mengiyakan bahwa Ummu Salamah adalah termasuk ahlul baitnya

Adalah keliru karena pernyataan ini berlandaskan pada penulisan hadis yang keliru.

.

.

Penafsiran Kami
Hadis Musnad Ahmad di atas menceritakan peristiwa lain dimana Rasulullah SAW menyelimuti Ahlul Kisa’ dan berdoa untuk mereka. Peristiwa ini bukan ketika ayat tersebut turun karena dalam hadis Musnad Ahmad di atas tidak disebutkan soal Al Ahzab 33 yang turun sebagaimana yang tertera jelas pada hadis Sunan Tirmidzi. Tetapi saya tidak pernah bilang kalau hadis ini tidak ada kaitannya sama sekali. Hadis ini bisa jadi menunjukkan bahwa Nabi SAW mengulang-ngulang penyelimutan tersebut kepada Ahlul Kisa’ .

Karena lafaz doa ini serupa dengan lafaz Al Ahzab 33 maka ada dua kemungkinan.

  • Peristiwa dalam Hadis Musnad Ahmad terjadi setelah Ayat Tathir turun
  • Peristiwa dalam Hadis Musnad Ahmad terjadi sebelum Ayat Tathhir turun

.

.

Kemungkinan Pertama

Peristiwa ini terjadi setelah Ayat Tathir turun. Maka ini berarti kembali menguatkan bahwa Ummu Salamah selaku istri Nabi bukan Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33. Karena untuk apa bertanya atau berharap ikut masuk dalam selimut atau berharap ikut dalam doa Rasulullah SAW. Bukankah sudah jelas kalau ayat tersebut telah turun maka Ummu Salamah sebagai istri Nabi akan tahu bahwa dialah yang dimaksud. Dengan kemungkinan ini maka untuk mereka yang menyatakan(ketika membahas hadis Sunan Tirmidzi)

bahwa Ummu Salamah saat itu bertanya kepada Nabi SAW karena pada saat itu Nabi SAW belum memberitahukan ayat tersebut kepadanya sehingga ia bertanya dalam kondisi tidak tahu.

Maka perhatikan kalau peristiwa ini terjadi setelah turunnya Ayat Tathhir maka hal ini akan menjadi bukti yang menolak dugaan mereka bahwa Nabi SAW belum memberitahu Ummu Salamah. Dari Hadis di atas bahkan setelah Ayat Tathhir turun Ummu Salamah tetap tidak diberitahu oleh Nabi SAW kalau ia yang dimaksud Ayat Tathhir. Beliau tetap ingin ikut bersama Ahlul Kisa’ padahal kalau memang ia yang dimaksud dalam Ayat Tathir maka gak perlu ikut-ikutan mau masuk. Lha kan sudah jelas toh, ngapain nanya lagi. Dengan kata lain bahkan selepas Ayat Tathhir turun Ummu Salamah tidak memahami seperti anggapan mereka para penentang bahwa Istri Nabi adalah Ahlul Bait dalam Ayat Tathhir.

.

.

Kemungkinan Kedua

Persitiwa ini terjadi sebelum Al Ahzab 33 turun. maka hadis ini tidak layak dijadikan hujjah bahwa istri-istri nabi SAW adalah ahlul bait yang dituju dalam ayat tersebut. Lha ayat nya saja belum turun. Justru yang bisa ditangkap dari kemungkinan ini maka Al Ahzab ayat 33 adalah penegasan atau penetapan Allah SWT terhadap apa yang telah dinyatakan oleh Rasulullah SAW bahwa yang disucikan itu adalah Mereka Ahlul Bait yang didoakan dan diselimuti oleh Nabi SAW. Seperti yang telah ditetapkan dalam hadis Sunan Tirmidzi riwayat Umar bin Abu Salamah dan sudah saya bahas.

.

.

Mungkin Peristiwa ini terjadi selepas Ayat Tathir turun sebagaimana yang dimuat dalam hadis Sunan Tirmidzi . Selepas ayat tersebut turun, Rasulullah SAW berulangkali menyelimuti Ahlul Kisa’ dan mendoakan mereka. Doa ini adalah suatu penegasan berulang-ulang bahwa Merekalah ahlul bait yang dimaksud. Melihat hal ini maka Ummu Salamah yang sebelumnya(pada hadis Sunan Tirmidzi) bertanya Apakah aku bersama mereka?, sekarang malah menggunakan kata-kata wahai Rasul bukankah aku termasuk ahlumu?.

Hal ini dikarenakan pada doa Nabi yang pertama, Nabi SAW menggunakan kata Ahlu dan baru yang kedua dan ketiga menggunakan kata Ahlul bait. Nabi menjawab bahwa Ummu Salamah memang ahlu beliau dan mempersilakan masuk ke dalam selimut hanya saja Ummu Salamah masuk setelah semua doa Rasul SAW selesai.

.

.

Kesimpulan Hadis

  • Hadis ini tidak memuat sedikitpun hujjah bahwa Al Ahzab ayat 33 turun untuk istri-istri Nabi SAW. karena memang hadis tersebut tidak menceritakan soal turunnya Al Ahzab ayat 33
  • Hadis ini hanya menceritakan kalau Ummu Salamah adalah Ahlu Nabi, sayangnya beliau bukan termasuk dalam mereka yang didoakan oleh Nabi SAW sebanyak 3 kali dan jelas bukan Ahlul Bait dalam Ayat tathir. Hal ini tampak dalam kata-kata terakhir hadis tersebut bahwa Ummu Salamah masuk ke dalam selimut setelah doanya selesai.

____________________

.

BEBERAPA KOMEN DAN TANGGAPAN PENULIS

.

secondprince, on Juli 27, 2010 at 4:45 pmsaid:

@painter

Hal demikian seperti itulah umpama susu bercampur madu. Bagi Syiah mudah saja dikatakan hadis kisa telah menjelaskan segala-galanya. Tapi loh, aneh, mengapa Rasulullah BERDOA PULA pada Allah dengan MENUNJUK ” Ya Allah MEREKALAH Ahlul BaitKu…” Sekarang sebenarnya apa?

Tidak ada kaitan tafsir ayat ini dengan syiah atau tidak. Lafaz “merekalah ahlul baitKu” menunjukkan bahwa merekalah yang dimaksud ahlul bait dalam ayat tersebut. Jadi lafaz yang anda sebut sebagai doa adalah lafaz penunjukkan bagi siapapun yang mendengar bahwa merekalah ahlul bait yang dimaksud.

Yang aneh dengan pandangan anda adalah orang yang menurut anda nyata-nyata dituju dalam ayat tersebut yaitu Ummu Salamah [istri Nabi SAW] malah meminta kepada Nabi SAW agar bersama mereka Ahlul Kisa’. Fakta ini justru menjelaskan kalau Ummu Salamah bukanlah yang dituju oleh ayat tersebut sehingga ia meminta Nabi SAW agar dirinya bisa ikut bersama mereka.

Ada analogi yang pas untuk cara berpikir anda soal “sia-sia”. Ini hujjah seseorang yang saya kutip : Mungkin bisa kita ambil pelajaran dari ayat “Inna Allaha wa malaikatahu yushalluna ‘ala Al-Nabiyy” (Sesungguhnya Allah & para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi [Muhammad]).

Lalu, dari hadis, Nabi Muhammad saw. mengajari kita membaca “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad” (Ya Allah, sampaikanlah shalawat atas Nabi Muhammad & keluarganya).

Sungguh tidak layak dikatakan bahwa Nabi SAW mengajarkan yang sia-sia karena sudah jelas Allah SWT bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW [sebagaimana yang ditetapkan dalam Al Qur’an] lantas mengapa pula mesti ada doa “ya Allah sampaikanlah shalawat atas Nabi Muhammad SAW “. Jadi pandangan anda soal “sia-sia” itu perlu diteliti kembali. :)

*********************

secondprince, on Juli 31, 2010 at 5:44 amsaid:

itu tuh jadinya kalau diskusi hanya sibuk dengan argumennya sendiri tanpa memperhatikan dengan baik argumen orang lain. Bermunculan pengulangan syubhat yang sudah lama dibantah. Buat saudara painter, ayat shalawat dan al ahzab 33 memang berbeda tetapi saya menunjukkan kepada anda bahwa cara berpikir anda keliru, siapa nih yang sebelumnya berkata

sudah tersebut dalam riwayat yang diketahui oleh kita, setelah turunnya ayat – (Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya), -maka Nabi s.aw memang mereka berempat lalu ditutupinya dengan selimut dan baginda berdoa: “Ya Allah (mereka adalah) Ahlul BaitKu, lenyapkanlah kotoran dosa dari mereka.”
Jauh Nabi s.a.w dari melakukan perkara yang sia-sia. Baginda lebih memahami ayat Allah, maka dimanakah letak kewajaran untuk baginda mendoakan mereka yang sudah diberi jaminan?

Nah sekarang perhatikan komentar saya yang ini

Mungkin bisa kita ambil pelajaran dari ayat “Inna Allaha wa malaikatahu yushalluna ‘ala Al-Nabiyy” (Sesungguhnya Allah & para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi [Muhammad]). Lalu, dari hadis, Nabi Muhammad saw. mengajari kita membaca “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad” (Ya Allah, sampaikanlah shalawat atas Nabi Muhammad & keluarganya). Sungguh tidak layak dikatakan bahwa Nabi SAW mengajarkan yang sia-sia karena sudah jelas Allah SWT bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW [sebagaimana yang ditetapkan dalam Al Qur’an] lantas mengapa pula mesti ada doa “ya Allah sampaikanlah shalawat atas Nabi Muhammad SAW “

Kalau saya memakai kata-kata anda maka bunyinya akan jadi begini. Jauh Nabi SAW dari melakukan perkara yang sia-sia. Baginda lebih memahami ayat Allah, maka dimanakah letak kewajaran untuk baginda mengajarkan umatnya untuk mendoakan Nabi yang sudah diberi jaminan oleh Allah SWT?. Dimana letak kewajaran berdoa agar Allah menyampaikan sahlawat kepada Nabi padahal Al Qur’an telah menetapkan Allah bershalawat kepada Nabi. Ngapain berdoa kalau sudah ditetapkan, nah itu kan logika anda.

Aneh bin ajaib anda malah memberikan jawaban melalang buana soal hikmah ayat shalawat dan sebagainya. Saya tidak pernah mempermasalahkan doa maupun shalawat atau hikmah shalawat, yang saya permasalahkan adalah cara berpikir anda yang benar-benar keliru. Allah telah bershalawat kepada Nabi, tetapi Nabi tetap mengajarkan doa yang berbunyi Ya Allah sampaikanlah shalawat kepada Nabi. Allah telah menyucikan Ahlul Kisa’ dan Rasulullah SAW berkata “Ya Allah sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. Kenapa juga anda malah bicarakan soal hikmah shalawat, saya juga berkata kepada anda hikmah dari ucapan Rasulullah SAW “Ya Allah sucikanlah mereka sesuci-sucinya” menunjukkan dengan jelas bahwa ketika al ahzab 33 turun maka orang-orang yang dimaksud sebagai ahlul bait dalam ayat tersebut adalah mereka yang diselimuti Nabi dan mereka yang dikatakan oleh Nabi “Ya Allah sucikanlah mereka sesuci-sucinya” yaitu Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Tolong dipahami dulu baik-baik perkataan lawan bicara anda baru anda memberikan bantahan yang melalang buana seperti yang anda tunjukkan

******************

secondprince, on Agustus 6, 2010 at 1:33 amsaid:

@painter

Syiah yakin banget hadis Kisa’ itu adalah menandakan kemuliaan Ahl Bait Imam Ali dan ahli kerabatnya,

Tidak hanya syiah kok, sunni juga mengakui bahwa hadis Kisa; adalah kemuliaan Ahlul Bait yaitu Imam Ali dan keluarganya :)

tetapi Syiah tidak dapat menerima dilemma mengapa Allah turunkan ayat Tahirah itu bercampur dgn ayat 33:33 yang bersama dgn ayat2 33:32-34 untuk istri Nabi dalam surah al Ahzab

Tidak ada yang dilema disini, setiap ayat Al Qur’an tidak mesti diturunkan berurutan. Lihat saja memangnya ayat yang turun pertama adalah Fathihah ayat ?, nggak kok. Untuk mengetahui kapan suatu ayat turun ya merujuk pada hadis shahih. Dalam kasus ini terdapat hadis shahih bahwa Ummu salamah mengatakan kalau Al Ahzab 33 turun berkenaan dengan Ahlul Kisa’ bukan istri-istri Nabi SAW. Nah begitulah kesimpulan yang benar, sekian saja untuk anda dan selamat berpuasa, Wassalam :)

____________

Komen-komen lainnya silahkan berkunjung ke SINI

________________________

TULISAN TERKAIT TENTANG AHLUL BAIT

  1. Ketika Pendengki Ahlulbait Suci Nabi saw. Sok Berlagak Membela Ahlulbait (1) Ahlul-bait 1
  2. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Hadis Tsaqalain) Ahlul-bait 2
  3. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Ayat Tathir) Ahlul-bait 3
  4. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Ayat Tathir Bukan istri-istri Nabi SAW) Ahlul-bait 4
  5. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Kerancuan Tafsir Ibnu Katsir dkk) Ahlul-bait 5
  6. Berpegang Teguh Pada Ahlul Bait Nabi SAW Atau Sahabat Nabi SAW  Ahlul-bait 6
  7. Ahlulbait as adalah Ahlu adz Dzikr Ahlul-bait 7
  8. Imam Besar Wahabi Ibnu taymiah: Pengutamaan Ahlul Bait Nabi saw adalah Peninggalan Jahiliyah Ahlul-Bait 8
  9. Bantahan Dan Tantangan Untuk haulasyiah: “Tak Ada Gunanya Membela Gembong Kaum Munafik!”  Ahlul-Bait 9
  10. Ayat Tathhir Khusus Untuk Ahlul Kisa’  Ahlul-Bait 10
  11. Dalil Ahlul Bait Bukanlah Istri-istri Nabi  Ahlul-Bait 11
  12. Hadis Yang Menjelaskan Siapa Ahlul Bait Yang Disucikan Dalam Al Ahzab 33  Ahlul-Bait 12
  13. Pengakuan Ummu Salamah : Dirinya Bukan Ahlul Bait Dalam Al Ahzab 33  Ahlul-Bait 13
  14. Analisis Hadis Kisa’ Dalam Musnad Ahmad  Ahlul-Bait 14
  15. Konsisten Dalam Inkonsisten [Menjawab Hujjah Salafy]  Ahlul-Bait 15
  16. Ahlul Bait Dalam Pandangan Imam Ali?  Ahlul-Bait 16
  17. Ahlul Bait Mengakui Kepemimpinan Mereka Dengan Ayat Tathhiir Ahlul-Bait 17

 

____________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: