Hadis Yang Menjelaskan Siapa Ahlul Bait Yang Disucikan Dalam Al Ahzab 33

Hadis Yang Menjelaskan Siapa Ahlul Bait Yang Disucikan Dalam Al Ahzab 33

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar (SP)

Hadis Yang Menjelaskan Siapa Ahlul Bait Yang Disucikan Dalam Al Ahzab 33

Dalam Al Qur’anul Karim terdapat ayat yang cukup fenomenal dan menjadi kontroversi diantara pengikut salafy dan pengikut syiah. Syiah meyakini kalau Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33 [ayat tathir] bukanlah istri-istri Nabi sedangkan salafy dan para nashibi justru mengkhususkan bahwa ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi. Selain itu terdapat penafsiran baru dari kalangan “mereka yang terinfeksi virus nashibi” yaitu mereka mengatakan kalau Al Ahzab 33 turun memang untuk istri-istri Nabi hanya saja Nabi SAW memperluas makna Ahlul Bait itu kepada Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain.

Dalam pembahasan ini kami akan membuktikan bahwa penafsiran ini keliru, yang benar adalah Al Ahzab 33 turun untuk Ahlul Kisa’ yaitu Nabi SAW, Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Tentu saja kami akan membawakan riwayat-riwayat shahih yang menjadi bukti kejahilan mereka.

عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير

Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?”. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”. [Shahih Sunan Tirmidzi no 3205].

Salafy nashibi berusaha berdalih dengan mengatakan bahwa hadis di atas bukan berarti mengkhususkan Ahlul Bait untuk Ahlul Kisa’ justru hadis di atas merupakan perluasan dari makna Ahlul Bait oleh Nabi SAW. Ayat tersebut memang turun untuk istri-istri Nabi tetapi Nabi SAW karena kecintaannya juga menginginkan ayat tersebut untuk Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Hujjah mereka ini batal dengan alasan berikut

  • Hadis Sunan Tirmidzi di atas menyebutkan bahwa ketika ayat tersebut turun Rasulullah SAW langsung memanggil Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain bukannya memanggil istri-istri Beliau. Ini bukti kalau ayat tersebut ditujukan untuk Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain dan bukan untuk istri-istri Nabi SAW.
  • Ummu Salamah tidak merasa kalau dirinya adalah Ahlul Bait yang dimaksud, padahal jika memang seperti yang diklaim para nashibi kalau Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33 turun untuk istri-istri Nabi SAW maka Ummu Salamah pasti tahu kalau dirinyalah Ahlul Bait yang dimaksud dan Beliau tidak perlu mengajukan pertanyaan kepada Nabi [“Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?”] bahkan dalam riwayat lain Ummu Salamah bertanya [“Apakah Aku termasuk Ahlul Bait?”].

Nashibi berusaha membela diri dengan mengatakan kalau Ummu Salamah awalnya tidak tahu kalau ayat tersebut ditujukan untuknya sehingga pada saat itu ia bertanya dalam kondisi tidak tahu, barulah setelah itu ia mengetahui kalau ayat tersebut turun untuknya. Jawaban ini batal dengan alasan berikut

  • Pada awalnya nashibi mengatakan kalau ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi SAW dan Nabi SAW berkehendak agar Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain juga masuk dalam Ahlul Bait.  Kalau memang benar kejadiannya seperti itu maka ketika ayat tersebut turun Rasulullah SAW pertama-tama akan memberitahu Ummu Salamah karena sudah jelas beliau adalah istri Nabi SAW [apalagi ayat tersebut turun di rumahnya sehingga Nabi SAW bisa langsung memberitahu] kemudian Rasulullah SAW juga akan memanggil istri-istri Beliau yang lain untuk menyampaikan ayat tersebut. Setelah ayat tersebut disampaikan kepada orang-orang yang dituju maka barulah Rasulullah SAW melakukan keinginan atau kehendaknya agar Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain ikut masuk sebagai Ahlul Bait. Tetapi fakta yang ada dalam hadis shahih justru menyebutkan kalau Rasulullah SAW malah langsung memanggil Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain bukan istri-istrinya bahkan Rasulullah SAW tidak menyampaikan ayat tersebut kepada Ummu Salamah yang dari awal berada disana. Sungguh mustahil mengatakan kalau Nabi SAW lebih mendahulukan kehendak atau keinginannya dan menunda untuk menyampaikan firman Allah kepada orang yang dituju.
  • Kalau memang seperti yang dikatakan nashibi Ummu Salamah bertanya dalam kondisi tidak tahu atau Nabi SAW belum memberitahu kalau ayat tersebut turun untuknya selaku istri Nabi maka setelah itu sudah pasti Ummu Salamah akan diberitahu oleh Nabi SAW. Tentunya ketika Ummu Salamah meriwayatkan hadis ini kepada para tabiin maka saat itu Ummu Salamah pasti sudah mengetahui kalau pertanyaan yang ia ajukan sebelumnya kepada Nabi adalah kesalahpahamannya [karena pada dasarnya ia tidak perlu bertanya, toh ayat itu untuknya]. Jadi Ummu Salamah pasti akan menjelaskan kesalahpahamannya itu kepada para tabiin tetapi faktanya dalam riwayat-riwayat Ummu Salamah pertanyaan itu tetap ada dan tidak ada penjelasan Ummu Salamah kalau sebenarnya ia sudah salah paham. Ini justru membuktikan kalau arguman nashibi itu tidak bernilai dan hanya basa basi semata.

Al Ahzab 33 memang turun untuk Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Merekalah yang dituju dalam ayat tersebut bukannya seperti yang dikatakan nashibi kalau ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi dan ahlul kisa’ hanyalah perluasan ahlul bait berdasarkan kehendak Nabi. Perhatikan riwayat Ummu Salamah berikut

عن حكيم بن سعد قال ذكرنا علي بن أبي طالب رضي الله عنه عند أم سلمة قالت فيه نزلت (إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا) قالت أم سلمة جاء النبي صلى الله عليه وسلم إلى بيتي, فقال: “لا تأذني لأحد”, فجاءت فاطمة, فلم أستطع أن أحجبها عن أبيها, ثم جاء الحسن, فلم أستطع أن أمنعه أن يدخل على جده وأمه, وجاء الحسين, فلم أستطع أن أحجبه, فاجتمعوا حول النبي صلى الله عليه وسلم على بساط, فجللهم نبي الله بكساء كان عليه, ثم قال: “وهؤلاء أهل بيتي, فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا, فنزلت هذه الآية حين اجتمعوا على البساط; قالت: فقلت: يا رسول الله: وأنا, قالت: فوالله ما أنعم وقال: “إنك إلى خير”

Dari Hakim bin Sa’ad yang berkata “kami menyebut-nyebut Ali bin Abi Thalib RA di hadapan Ummu Salamah. Kemudian ia [Ummu Salamah] berkata “Untuknyalah ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun . Ummu Salamah berkata “Nabi SAW datang ke rumahku dan berkata “jangan izinkan seorangpun masuk”. Lalu datanglah Fathimah maka aku tidak dapat menghalanginya menemui Ayahnya, kemudian datanglah Hasan dan aku tidak dapat melarangnya menemui kakeknya dan Ibunya”. Kemudian datanglah Husain dan aku tidak dapat mencegahnya. Maka berkumpullah mereka di sekeliling Nabi SAW di atas hamparan kain. Lalu Nabi SAW menyelimuti mereka dengan kain tersebut kemuian bersabda “Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. Lalu turunlah ayat tersebut ketika mereka berkumpul di atas kain. Ummu Salamah berkata “Wahai Rasulullah SAW dan aku?”. Demi Allah, beliau tidak mengiyakan. Beliau hanya berkata “sesungguhnya engkau dalam kebaikan”. [Tafsir At Thabari 22/12 no 21739]

Riwayat Hakim bin Sa’ad di atas dikuatkan oleh riwayat dengan matan yang lebih singkat dari Ummu Salamah yaitu

حدثنا فهد ثنا عثمان بن أبي شيبة ثنا حرير بن عبد الحميد عن الأعمش عن جعفر بن عبد الرحمن البجلي عن حكيم بن سعيد عن أم سلمة قالت نزلت هذه الآية في رسول الله وعلي وفاطمة وحسن وحسين  إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا

Telah menceritakan kepada kami Fahd yang berkata telah menceritakan kepada kami Usman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid dari ’Amasy dari Ja’far bin Abdurrahman Al Bajali dari Hakim bin Saad dari Ummu Salamah yang berkata Ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun ditujukan untuk Rasulullah, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/227]

Riwayat Hakim bin Sa’ad ini sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat

  • Fahd, Beliau adalah Fahd bin Sulaiman bin Yahya dengan kuniyah Abu Muhammad Al Kufi. Beliau adalah seorang yang terpercaya (tsiqah) dan kuat (tsabit) sebagaimana dinyatakan oleh Adz Dzahabi  dan Ibnu Asakir [Tarikh Al Islam 20/416 dan Tarikh Ibnu Asakir 48/459 no 5635]
  • Usman bin Abi Syaibah adalah perawi Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ibnu Main berkata ”ia tsiqat”, Abu Hatim berkata ”ia shaduq(jujur)” dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 7  no 299]
  • Jarir bin Abdul Hamid, beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Main, Al Ajli, Imam Nasa’i, Al Khalili dan Abu Ahmad Al Hakim. Ibnu Kharrasy menyatakannya Shaduq dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 2 no 116]
  • Al ’Amasy adalah Sulaiman bin Mihran Al Kufi. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, Ibnu Main, An Nasa’i dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]
  • Ja’far bin Abdurrahman disebutkan oleh Ibnu Hajar bahwa Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Ta’jil Al Manfaah 1/ 387].  Imam Bukhari menyebutkan biografinya seraya mengutip kalau dia seorang Syaikh Wasith tanpa menyebutkan cacatnya [Tarikh Al Kabir juz 2 no 2174]. Disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat bahwa ia meriwayatkan hadis dari Hakim bin Saad dan diantara yang meriwayatkan darinya adalah Al ’Amasy. [Ats Tsiqat juz 6 no 7050]
  • Hakim bin Sa’ad, sebagaimana disebutkan bahwa beliau adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad, dan perawi Imam Nasa’i. Ibnu Main dan Abu Hatim berkata bahwa ia tempat kejujuran dan ditulis hadisnya. Dalam kesempatan lain Ibnu Main berkata laisa bihi ba’sun(yang berarti tsiqah). Al Ajli menyatakan ia tsiqat dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 2 no 787]

Riwayat Ummu Salamah dikuatkan oleh riwayat Abu Sa’id Al Khudri sebagai berikut

حدثنا الحسن بن أحمد بن حبيب الكرماني بطرسوس حدثنا أبو الربيع الزهراني حدثنا عمار بن محمد عن سفيان الثوري عن أبي الجحاف داود بن أبي عوف عن عطية العوفي عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه في قوله عز و جل إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قال نزلت في خمسة في رسول الله صلى الله عليه و سلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ahmad bin Habib Al Kirmani yang berkata telah menceirtakan kepada kami Abu Rabi’ Az Zahrani yang berkata telah menceritakan kepada kami Umar bin Muhammad dari Sufyan Ats Tsawri dari Abi Jahhaf Daud bin Abi ‘Auf dari Athiyyah Al ‘Aufiy dari Abu Said Al Khudri RA bahwa firman Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun untuk lima orang yaitu Rasulullah SAW Ali Fathimah Hasan dan Husain radiallahuanhum [Mu’jam As Shaghir Thabrani 1/231 no 375]

Riwayat Abu Sa’id ini sanadnya hasan karena Athiyyah Al Aufy seorang yang hadisnya hasan dan Hasan Al Kirmani seorang yang shaduq la ba’sa bihi.

  • Hasan bin Ahmad bin Habib Al Kirmani dia seorang yang shaduq seperti yang disebutkan Adz Dzahabi [Al Kasyf no 1008]. Ibnu Hajar menyatakan ia la ba’sa bihi [tidak ada masalah] kecuali hadisnya dari Musaddad [At Taqrib 1/199]
  • Abu Rabi’ Az Zahrani yaitu Sulaiman bin Daud seorang Al Hafizh [Al Kasyf no 2088] dan Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/385]
  • Umar bin Muhammad Ats Tsawri seorang yang tsiqah, ia telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma’in, Ali bin Hujr, Abu Ma’mar Al Qathi’I, Ibnu Saad dan Ibnu Syahin. Disebutkan dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 4832].
  • Sufyan Ats Tsawri seorang Imam Al Hafizh yang dikenal tsiqah. Adz Dzahabi menyebutnya sebagai Al Imam [Al Kasyf no 1996] dan Ibnu Hajar menyatakan ia Al hafizh tsiqah faqih ahli ibadah dan hujjah [At Taqrib 1/371]
  • Daud bin Abi Auf Abu Jahhaf, ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan Ahmad bin Hanbal. Abu Hatim berkata “hadisnya baik” dan An Nasa’i berkata “tidak ada masalah dengannya”. [At Tahdzib juz 3 no 375] dan Ibnu Syahin telah memasukkan Abul Jahhaf sebagai perawi tsiqah [Tarikh Asma’ Ats Tsiqat no 347].

Athiyyah Al Aufy adalah seorang yang hadisnya hasan, kami telah membuat pembahasan yang khusus mengenai Beliau. Beliau adalah seorang tabiin dan pencacatan terhadapnya tidaklah tsabit seperti yang telah kami bahas.

Ummu Salamah sendiri tidak memahami seperti pemahaman nashibi. Ummu Salamah mengakui kalau ia bukan ahlul bait yang dimaksud dan jawaban Nabi “kamu dalam kebaikan” dipahami oleh Ummu Salamah bahwa ia tidak termasuk dalam Ahlul Bait Al Ahzab 33 yang disucikan

عن أم سلمة رضي الله عنها أنها قالت : في بيتي نزلت هذه الآية { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت } قالت : فأرسل رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى علي و فاطمة و الحسن و الحسين رضوان الله عليهم أجمعين فقال : اللهم هؤلاء أهل بيتي قالت أم سلمة : يا رسول الله ما أنا من أهل البيت ؟ قال : إنك أهلي خير و هؤلاء أهل بيتي اللهم أهلي أحق

Dari Ummu Salamah RA yang berkata “Turun dirumahku ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait] kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali Fathimah Hasan dan Husain radiallahuanhu ajma’in dan berkata “Ya Allah merekalah Ahlul BaitKu”. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Rasul SAW menjawab “kamu keluargaku yang baik dan Merekalah Ahlul BaitKu Ya Allah keluargaku yang haq”. [Al Mustadrak 2/451 no 3558 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi].

حدثنا الحسين بن الحكم الحبري الكوفي ، حدثنا مخول بن مخول بن راشد الحناط ، حدثنا عبد الجبار بن عباس الشبامي ، عن عمار الدهني ، عن عمرة بنت أفعى ، عن أم سلمة قالت : نزلت هذه الآية في بيتي : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا ، يعني في سبعة جبريل ، وميكائيل ، ورسول الله صلى الله عليه وسلم ، وعلي ، وفاطمة ، والحسن ، والحسين عليهم السلام وأنا على باب البيت فقلت : يا رسول الله ألست من أهل البيت ؟ قال إنك من أزواج النبي عليه السلام  وما قال : إنك من أهل البيت

Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hakam Al Hibari Al Kufi yang berkata telah menceritakan kepada kami Mukhawwal bin Mukhawwal bin Rasyd Al Hanath yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Jabar bin ‘Abbas Asy Syabami dari Ammar Ad Duhni dari Umarah binti Af’a dari Ummu Salamah yang berkata “Ayat ini turun di rumahku [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] dan ketika itu ada tujuh penghuni rumah yaitu Jibril Mikail, Rasulullah Ali Fathimah Hasan dan Husain. Aku berada di dekat pintu lalu aku berkata “Ya Rasulullah Apakah aku tidak termasuk Ahlul Bait?”. Rasulullah SAW berkata “kamu termasuk istri Nabi Alaihis Salam”. Beliau tidak mengatakan “sesungguhnya kamu termasuk Ahlul Bait”. [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/228]

Riwayat Ummu Salamah ini memiliki sanad yang shahih diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat

  • Husain bin Hakam Al Hibari Al Kufi adalah seorang yang tsiqat [Su’alat Al Hakim no 90] telah meriwayatkan darinya para perawi tsiqat dan hafiz seperti Ali bin Abdurrahman bin Isa, Abu Ja’far Ath Thahawi dan Khaitsamah bin Sulaiman.
  • Mukhawwal adalah Mukhawwal bin Ibrahim bin Mukhawwal bin Rasyd disebutkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 9 no 19021]. Abu Hatim termasuk yang meriwayatkan darinya dan Abu Hatim menyatakan ia shaduq [Al Jarh Wat Ta’dil 8/399 no 1831].
  • Abdul Jabbar bin Abbas disebutkan oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Dawud dan Al Ajli bahwa tidak ada masalah padanya. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 6 no 209]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq tasyayyu’ [At Taqrib 1/552]. Adz Dzahabi menyatakan ia seorang syiah yang shaduq [Al Kasyf no 3085]
  • Ammar Ad Duhni yaitu Ammar bin Muawiyah Ad Duhni dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, An Nasa’i, Abu Hatim dan Ibnu Hibban [At Tahdzib juz 7 no 662]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq [At Taqrib 1/708] tetapi justru pernyataan ini keliru dan telah dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Ammar Ad Duhni seorang yang tsiqat [ Tahrir At Taqrib no 4833]
  • Umarah binti Af’a termasuk dalam thabaqat tabiin wanita penduduk kufah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 5 no 4880]. Hanya saja Ibnu Hibban salah menuliskan nasabnya. Umarah juga dikenal dengan sebutan Umarah Al Hamdaniyah [seperti yang diriwayatkan oleh Ath Thahawi dalam Musykil Al Atsar]. Al Ajli menyatakan ia tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqah no 2345].

عن أم سلمه رضي الله عنها قالت نزلت هذه الاية في بيتي إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قلت يارسول الله ألست من أهل البيت قال إنك إلى خير إنك من أزواج رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت وأهل البيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم أجمعين

Dari Ummu Salamah RA yang berkata “Ayat ini turun di rumahku [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya]. Aku berkata “wahai Rasulullah apakah aku tidak termasuk Ahlul Bait?. Beliau SAW menjawab “kamu dalam kebaikan kamu termasuk istri Rasulullah SAW”. Aku berkata “Ahlul Bait adalah Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radiallahuanhum ajma’in”.[Al Arba’in Fi Manaqib Ummahatul Mukminin Ibnu Asakir hal 106]

Ibnu Asakir setelah meriwayatkan hadis ini, ia menyatakan kalau hadis ini shahih. Hadis ini juga menjadi bukti kalau Ummu Salamah sendiri mengakui bahwa Ahlul Bait yang dimaksud dalam Al Ahzab 33 firman Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] adalah Rasulullah SAW, Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain.

Nashibi mengatakan kalau Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain pada awalnya tidak termasuk Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33, mereka bukanlah yang dituju oleh ayat tersebut tetapi karena kecintaan Rasulullah SAW kepada mereka maka Beliau menyelimuti mereka agar mereka bisa ikut masuk sebagai Ahlul Bait. Perkataan nashibi ini merupakan perkataan yang bathil karena Ahlul Kisa’ sendiri mengakui kalau merekalah yang dimaksud dalam Firman Allah SWT Al Ahzab 33. Diriwayatkan dari Abu Jamilah bahwa Imam Hasan pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dan beliau berkata

ياأهل العراق اتقوا الله فينا, فإِنا أمراؤكم وضيفانكم, ونحن أهل البيت الذي قال الله تعالى: {إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيراً} قال فما زال يقولها حتى ما بقي أحد في المسجد إِلا وهو يحن بكاءً

Wahai penduduk Iraq bertakwalah kepada Allah tentang kami, karena kami adalah pemimpin kalian dan tamu kalian dan kami adalah Ahlul Bait yang difirmankan oleh Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya]. Beliau terus mengingatkan mereka sehingga tidak ada satu orangpun di dalam masjid yang tidak menangis [Tafsir Ibnu Katsir 3/495]

Riwayat Imam Hasan ini memiliki sanad yang shahih. Ibnu Katsir membawakan sanad berikut

قال ابن أبي حاتم: حدثنا أبي, حدثنا أبو الوليد, حدثنا أبو عوانة عن حصين بن عبد الرحمن عن أبي جميلة قال: إِن الحسن بن علي

Ibnu Abi Hatim berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan  kepada kami Abu Walid yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Hushain bin Abdurrahman dari Abi Jamilah bahwa Hasan bin Ali berkata [Tafsir Ibnu Katsir 3/495]

Ibnu Abi Hatim dan Abu Hatim telah dikenal sebagai ulama yang terpercaya dan hujjah sedangkan perawi lainnya adalah perawi tsiqah

  • Abu Walid adalah Hisyam bin Abdul Malik seorang Hafizh Imam Hujjah. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [2/267]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 5970]
  • Abu Awanah adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yaskuri. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 2/283]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqah [Al Kasyf no 6049].
  • Hushain bin Abdurrahman adalah seorang yang tsiqah. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqah [At Taqrib 1/222] dan Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 1124]
  • Abu Jamilah adalah Maisarah bin Yaqub seorang tabiin yang melihat Ali dan meriwayatkan dari Ali dan Hasan bin Ali. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 693]. Ibnu Hajar menyatakan ia maqbul [At Taqrib 2/233]. Pernyataan Ibnu Hajar keliru karena Abu Jamilah adalah seorang tabiin dan telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqah bahkan Ibnu Hibban menyebutnya dalam Ats Tsiqat maka dia adalah seorang yang shaduq hasanul hadis seperti yang dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib [Tahrir At Taqrib no 7039].

Tulisan ini kami cukupkan sampai disini dan tentu kami tertarik untuk melihat berbagai dalih nashibi yang mau membela keyakinan or dogma yang sudah lama jadi penyakit mereka. Entah mengapa mereka seperti keberatan kalau Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain mendapatkan keistimewaan dan keutamaan yang khusus. Apapun cara mereka, kebathilan akan selalu terungkap dan dikalahkan oleh kebenaran.

.

_________________________________

BEBERAPA KOMEN DAN TANGGAPAN PENULIS

.

secondprince, on Februari 25, 2010 at 9:54 pmsaid:

Nah ini jawaban alfanarku

Ah ternyata mudah sekali ditebak alur pikiran orang rafidhi sekaligus nashibi (karena diduga dia membenci ahlul bait yaitu istri2 Nabi) itu :D .

Silakan saja kalau mau berdusta :)

saya sudah pernah membaca sebagian besar dalil2 yang dibawakannya di sebuah blog syi’ah rafidhah yg sebenarnya riwayat2 tsb sebagian besar bermasalah, tidak ada yang baru.

Silakan saja, btw gak perlu mengklaim, justru dengan metode anda yang mudah mengklaim seperti itu maka kita dapat menemukan banyak sekali hadis kutubus sittah [termasuk Bukhari dan Muslim] yang bermasalah. Penolakan dengan gaya alfanarku ini bukan hal yang baru

pertama, dia masih mempermasalahkan mengapa Nabi segera memanggil keluarga Fatimah ketika ayat tsb turun, bagi kami hal itu bisa dimaklumi, agar makna ahlul bait segera mencakup keluarga beliau berdasarkan nasab yaitu keluarga Fatimah saat ayat tsb baru turun,

Kalau alfanarku tidak bisa memahami hujjah kami ya sudah, toh ia tidak mendengarkan dengan baik kalau saat itu Ummu Salamah ada di dekat Beliau, mengapa Rasulullah SAW gak langsung memberitahu dulu. Allah SWT dalam ayat tersebut sedang berbicara kepada istri-istri Nabi, otomatis sebagai seorang Nabi SAW Beliau akan menyampaikan terlebih dahulu firman Allah tersebut kepada orang yang memang dituju oleh Allah SWT dalam firmannya baru kemudian Rasulullah SAW melaksanakan keinginannya. Itu kalau memang hujjah alfanarku benar faktanya kan tidak begitu :mrgreen:

dan itu adalah kekhususan yg Allah berikan kepada beliau, apalagi ayat tsb menyinggung ahlul bait beliau, bukan ahlul bait orang lain, sehingga hal yang wajar apabila beliau memohon kekhususan untuk urusan ahlul bait beliau tsb.. ah ada2 saja nich rafidhi nashibi.

Silakan saja, alfanarku tidak bisa mengerti or tidak mau mengerti kalau hujjahnya itu rapuh

kedua, riwayat2 yang ditampilkan oleh rafidhi nashibi tsb selain Tirmidzi adalah bukan dari kutubussittah,

Gak ada masalah dengan ini, cuma orang yang awam dalam hadis yang mempermasalahkan hal seperti ini. Yang penting dalam sebuah riwayat adalah perawi-perawi yang meriwayatkannya. Kalau perawinya shahih ya bisa diterima

apalagi ternyata sebagian besar riwayat tsb bermasalah sanadnya, yg sebagian rawinya kalau ga dilemahkan oleh sebagian para ulama mutaqodimin, eh ternyata terinfeksi syi’ah..

Yah lagu lama yang basi, saya kasih contoh nih siapa yang terinfeksi syiah, apakah Al ‘Amasy yang hadis-hadisnya banyak sekali dalam kitab -kitab hadis kutubus sittah. melemahkan hadis karena perawinya syiah adalah hujjah yang sangat rapuh dan menunjukkan kedangkalan dalam ilmu hadis. Dan ngomong2 soal sanad yang bermasalah, ada tuh orang yang tidak tahu malu berhujjah dengan hadis riwayat Ahmad seolah hadisnya itu sendiri tidak bermasalah. btw memangnya Musnad Ahmad yang dijadikan hujjah oleh alfanarku itu apa termasuk kutubus sittah ya :roll:

jika bertentangan dengan Al-Qur’an yang begitu jelas bahwa ayat tsb berkenaan dengan Nabi dan istri-istri beliau pada awalnya, ga usah terlalu diperhatikan-lah.

Kita telah membahas justru menyatakan turun ayat tersebut untuk ahlul kisa’ sangat sesuai dengan lafaz ayat dalam Al Qur’an yang menggunakan lafaz “kum” untuk laki-laki dan perempuan. Sedangkan yang mengkhususkan ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi bertentangan dengan lafaz ayat dalam Al Qur’an. Btw kalau alfanarku memang tidak tahu ada ayat yang bisa terselip seperti itu maka kita maklum saja dengan sedikitnya pengetahuan yang ia punya. Dalam Al Quran terdapat ayat lain yang kasusnya mirip seperti al ahzab 33 yaitu al maidah ayat 3. Kasus-kasus terselip seperti ini diketahui melalui dalil hadis yang shahih

ketiga, Justru terlihat dalil-dalil yang dibawakannya mengenai cerita Ummu Salamah dalam riwayat2 tersebut saling bertentangan, contoh riwayat dari Hakim bin Sa’ad bertentangan dg riwayat Tirmidzi dan yg lainnya dimana jelas dalam riwayat Tirmidzi ayat tsb turun terlebih dahulu, sedangkan dalam riwayat Hakim bin Sa’ad ayat tsb baru turun setelah datang keluarga Fatimah, mana yang benar?

Tidak ada masalah kok, yang penting keduanya menunjukkan kalau ayat tersebut turun untuk ahlul kisa’. Jadi pertentangan [jika memang mau dikatakan pertentangan] disini masih bisa dikompromikan, bisa saja untuk dikatakan kalau ayat tersebut turun berulang-ulang seperti yang terjadi di rumah Ummu Salamah dan juga di rumah Fathimah. Lagipula sebenarnya riwayat yang kita jadkan hujjah adalah riwayat Hakim bin Sa’ad yang kedua itu yang menyatakan bahwa Ummu Salamah mengakui kalau ayat tathir turun untuk ahlul kisa’.

maka kita lebih merujuk kepada riwayat yg terdapat dalam kutubussittah yaitu hadits riwayat Tirmidzi. riwayat2 Ummu Salamah yg lain pun yg dibawakannya juga saling bertentangan, hal ini dimungkinkan kekeliruan terletak pada perawinya dalam memahami perkataan beliau.

Seperti biasa, nashibi tidak akan menerima kok dalil shahih yang memberatkan mereka. Ada saja dalih mereka, jadi kita maklumi saja :mrgreen:

Kemudian ada lagi riwayat yg musykil, dimana disebutkan Ummu Salamah bisa melihat malaikat Jibril dan Mikail, tapi begitu melihat sanadnya, saya jadi ga heran, ternyata ada rawi yg syi’ah tho..

Tidak ada yang musykil, karena Ummu Salamah bukannya melihat Malaikat Jibril dan Mikail tetapi ia menceritakan hadis tersebut setelah diberitahu oleh Nabi SAW bahwa ada ayat yang sedang turun yaitu al ahzab 33 dan ada malaikat jibril dan mikail disitu. Tidak ada dalam hadis tersebut kalau Ummu Salamah melihat langsung malaikat jibril dan mikail. Jadi penolakan alfanarku ini sangat mengada-ada sekali. mari kita maklumi kedangkalan pemahamannya :)

kemudian riwayat Said Al-Khudry yang didalamnya terdapat Athiyah Al- Aufi, tidak perlu kita perhatikan riwayatnya, jelas banyak ulama2 mutaqodimin yang lebih kompeten tentunya dibandingkan dg si Rafidhi Nashibi yg bukan ulama ini,

Terus dia dan abul-jauzaa itu siapa? ulamakah? silakan saja deh, lucu ya hujjah dengan cara seperti ini. Benar-benar seperti anak kecil yang gak tahu cara berhujjah. Memangnya kamu siapa?. Perhatikan isi hujjahnya dong kalau memang mau kritis tetapi kalau memang mau taklid yo wes silakan saja. Lagipula dalam pembahasan kami tentang Athiyyah kami juga mengutip ulama-ulama yang menta’dil Athiyyah. Sepertinya alfanarku itu tidak bisa membaca dengan baik :)

jelas telah melemahkan Athiyah dari berbagai sisi, aksi penyelamatan si rafidhi nasibhi ini thd Athiyah tidaklah ada gunanya sama sekali, yg jelas Athiyah ini memang pernah berguru & bermajelis kepada Al-Kalbi

Mungkin alfanarku ini tidak tahu kali ya kalau banyak para imam yang ternyata pernah bermajelis kepada para perawi dhaif seperti Asy Sya’bi yang pernah berguru kepada Al Harits padahal ia sendiri mengakui kalau Al Harits itu berdusta bahkan Sufyan Ats Tsawri yang dikenal imam tsiqat dan hujjah pernah bermajelis kepada Al Kalbi, jadi apa masalahnya?. kembali ke Athiyah kita telah membuktikan bahwa jarh atas dasar Al Kalbi ini tidak bisa dijadikan hujjah karena bersumber dari perkataan Al Kalbi. lucu sekali ulama yang menjarh athiyah dengan berhujjah melalui perkataan Al Kalbi yang diakui pendusta atau pemalsu hadis. Mungkin begitu kali metode yang dibanggakan oleh alfanarku

dan Athiyah ini dikenal adalah seorang syi’ah, maka jika dia meriwayatkan sesuatu yg mendukung kebid’ahannya, tidak perlulah untuk diperhatikan.

Athiyyah adalah seorang tabiin, dan menyatakan ahlul bait dalam hadis tersebut khusus untuk ahlul kisa’ bukanlah bid’ah karena riwayat yang shahih memang membuktikannya. lagipula Athiyah itu dituduh syiah karena apa? karena meriwayatkan hadis-hadis keutamaan ahlul bait? lha kalau begitu apa setiap hadis keutamaan ahlul bait disebut bid’ah. Lebih masuk akal kalau seorang tabiin seperti Athiyyah disebut syiah karena ia lebih condong dalam memihak Imam Ali beserta keluarganya dalam perselisihan yang terjadi di masa itu, dan tentu saja sikap seperti ini adalah kebenaran :)

keempat, Perkataan Al-Hasan ra tidaklah ada masalah, dengan do’a Nabi, mereka (ahlul kisa’) termasuk menjadi ahlul bait yang difirmankan oleh Allah dalam QS 33:33, kami pun tidak pernah mengingkari keutamaan ahlul kisa’ dalam hal ini.

Kalau alfanarku tidak paham maka mari kita bantu ia memahami “tanaqudh” nya. awalnya ia bilang ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi artinya Allah SWT berfirman dan menujukan firmannya tersebut kepada istri-istri Nabi. Sedangkan Ahlul Kisa’ kan ia nyatakan cuma keinginan atau kehendak Nabi yang ingin mendoakan mereka. Faktanya Imam Hasan sendiri mengakui kalau dirinya adalah pribadi yang dinyatakan dalam firman Allah Al Ahzab 33 artinya Imam Hasan dari awal memang Ahlul Bait dalam Firman Allah SWT tersebut. Bagi orang yang paham akan mengerti kalau hujjah alfanarku ini sudah mengalami pertentangan, alias cuma basa-basi saja

Ada sedikit kerancuan yang tidak disadari oleh alfanarku. Ia berkata bahwa al ahzab 33 itu adalah keutamaan bagi ahlul kisa’. Maka kita tanyakan padanya sebenarnya apa makna al ahzab 33 itu sehingga bisa disebut keutamaan?. Bukankah jika ia konsisten dengan siyaq ayat maka lafaz al ahzab 33 adalah lafaz penyucian yang terikat dengan perintah-perintah di ayat sebelumnya. Kalau ia mengatakan bahwa Imam Hasan sebagai Ahlul bait juga dalam al ahzab 33 maka lafaz penyucian itupun terikat dengan perintah-perintah sebelumnya tetapi hal ini musykil bukankah perintah sebelumnya yaitu “tetaplah di rumahmu” dan “jangan berhias” adalah perintah khusus bagi wanita kok bisa itu juga menjadi keutamaan Imam Hasan. Tentu ini rancu sekali bagi mereka yang bisa memahami dengan baik.

Berbeda halnya jika kita mengakui kalau al ahzab 33 turun terpisah maka lafaz penyucian tersebut bersifat takwini atau tidak terikat dengan syariat/perintah apapun, artinya kesucian itu justru menunjukkan keutamaan yang besar dan sejalan dengan keutamaan Ahlul bait dalam hadis Tsaqalain dimana mereka Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat islam agar tidak tersesat. Sangat masuk akal jika pedoman bagi Umat islam adalah pribadi-pribadi yang disucikan oleh Allah SWT

Intinya dalil-dalil yg ditampilkan si Rafidhi Nashibi ini tidaklah cukup untuk menutupi kebenaran dari ayat Al-Qur’an yang jelas dan terang.

Ayat Al Qur’an yang jelas dan terang dan hadis-hadis shahih telah membuktikan kalau ayat tathir turun khusus untuk Ahlul Kisa’. Jadi percuma saja penolakan alfanarku yang dicari-cari untuk melindungi dogma yang ia anut. kita masih ingat kok bagaimana hadis tsaqalain yang sanadnya shahih terang benderang saja bisa ia tolak nah begitu pulalah dengan ayat tathir.

*************************

.

secondprince, on Maret 11, 2010 at 11:27 pmsaid:

@KAB

mari kita cermati kembali ayat di atas, bukankah Malaikat sedang berbicara dengan istri Nabi Ibrahim saat itu? pada kalimat “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?” (“kamu” dalam kalimat tsb adlh bentuk mu’anats (perempuan) bentuk kedua tunggal yaitu istri Nabi Ibrahim) dan selanjutnya Malaikat berkata dengan menggunakan jama’ muzakkar “(Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.” hal ini disebabkan karena ada Nabi Ibrahim di di situ sebagai sayyidul bait.

Kalau ayat yang anda bawakan ini lafal ayatnya memang jelas dan urutan ayatnya memang cocok dan sesuai kalau itu ditujukan kepada Nabi Ibrahim juga. Karena anak itu adalah rahmat tidak hanya bagi istri Nabi Ibrahim tetapi juga bagi Nabi Ibrahim. Jadi struktur ayatnya memang jelas. Lha kalau Al Ahzab ayat 33 mah mana masuk, masa’ anda mau bilang Nabi SAW itu disuruh tetap di rumah, jangan berhias, atau bertingkah jahiliyah dan apalagi Nabi SAW disuruh untuk taat kepada Allah dan RasulNya. sudah jelas yang Rasul itu ya Nabi Muhammad SAW. maka dari itu struktur ayatnya tidak ikut memasukkan Nabi SAW. pahamkah? baca baik-baik deh :)

sungguh lucu jika ada orang yg akan mengatakan ayat di atas terpenggal hanya karena perubahan kalimat dari Mu’anats ke jama’ Muzakkar?

gak ada yang lucu ah kalau dipahami dengan benar. Justru yang lucu adalah anda tidak memahami dengan benar Al Ahzab 33 itu. banyak qarinah yang menunjukkan ayat tersebut terpenggal alias tidak berurutan. perubahan kata ganti itu adalah salah satunya ditambah lagi berbagai hadis shahih yang sudah dibawakan di atas.

Demikian juga dalam al-Ahzab 33, jelas dari awal Allah melalui perantaraan Malaikat Jibril berbicara dengan istri-istri Nabi pada kalimat “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya” kemudian selanjutnya Allah menggunakan jama’ muzakkar pada kalimat berikutnya “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” karena ada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam di situ sebagai penerima wahyu dan sebagai sayyidul bait.

Alasan anda itu gak nyambung, pada kasus Nabi Ibrahim, Malaikat menyatakan dengan kata “kum” karena rahmat tersebut tidak terkhusus pada istri Nabi Ibrahim tetapi juga untuk Nabi Ibrahim. makanya digunakan kata “kum”. Tetapi pada Al Ahzab 33 Nabi Muhammad SAW jelas tidak bisa anda masukkan [kalau berhujjah dengan urutan ayat] karena kesucian yang dimaksud berhubungan dengan perintah yang dilakukan yaitu tetap di rumah, jangan berhias dan sebagainya yang tidak mungkin ditujukan pada Rasulullah SAW. Jadi pahami dulu dengan benar.

sungguh begitu jelas hal ini, jadi Allah berbicara kepada istri-istri Nabi, tetapi ketika menyinggung ahlul bait (penghuni rumah) ya otomatislah suami mereka dimasukkan ke dalamnya, bukankah para suami adalah sayyidul bait? dan mereka juga penghuni rumah (ahlul bait)? Demikian juga dalam al-Ahzab 33, jelas dari awal Allah melalui perantaraan Malaikat Jibril berbicara dengan istri-istri Nabi pada kalimat “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya” kemudian selanjutnya Allah menggunakan jama’ muzakkar pada kalimat berikutnya “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” karena ada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam di situ sebagai penerima wahyu dan sebagai sayyidul bait. sungguh begitu jelas hal ini, jadi Allah berbicara kepada istri-istri Nabi, tetapi ketika menyinggung ahlul bait (penghuni rumah) ya otomatislah suami mereka dimasukkan ke dalamnya, bukankah para suami adalah sayyidul bait? dan mereka juga penghuni rumah (ahlul bait)?

Sekarang saya tanya nih, kalau Allah SWT berbicara kepada istri-istri Nabi sebagai ahlul bait agar mereka tetap di rumah, jangan berhias dan taat kepada Allah dan Rasulnya agar mereka disucikan, maka apakah itu juga ditujukan untuk Rasulullah SAW. Masa’ sih Rasul disuruh taat kepada Allah dan Rasul-Nya agar bisa disucikan juga. Tolong dipikirkan dengan baik-baik.

apa lagi suami tersebut adalah seorang Nabi dan Rasul yang menerima wahyu/ayat tsb turun, maka secara otomatis berubahlah kata penunjuknya menjadi jama’ muzakkar, karena ada laki-laki yang berkumpul dengan para wanita di situ

Ini ucapan yang terburu-buru. Nabi SAW memang yang menerima wahyu. tetapi wahyu tersebut ditujukan untuk istri-istri Beliau SAW agar mereka tetap di rumah, jangan berhias, taat kepada Allah dan Rasul-Nya agar mereka dijaga kesuciannya. Bukankah wahyu ini adalah untuk para istri Nabi. Nabi SAW tidak diperintahkan untuk tetap di rumah, jangan berhias apalagi taat pada Allah dan Rasul-Nya. kata-kata ini jelas untuk orang lain selain Rasul SAW. Mana mungkin Nabi SAW disuruh taat kepada Rasul agar dijaga kesuciannya juga. kalimat macam apa itu :mrgreen:

apa lagi suami tersebut adalah seorang Nabi dan Rasul yang menerima wahyu/ayat tsb turun, maka secara otomatis berubahlah kata penunjuknya menjadi jama’ muzakkar, karena ada laki-laki yang berkumpul dengan para wanita di situ..

Berubahnya kata ganti itu harus disesuaikan dengan siapa yang sedang diajak bicara. Jika memang saat itu Allah SWT menunjukan perintahnya kepada laki-laki dan wanita yang sedang ada di sana otomatis digunakan kata “kum” tetapi jika Allah SWT menujukan perintah tersebut khusus untuk wanita maka ya lafal digunakan adalah “kunna”. Al Ahzab 33 Allah SWT menujukan perintah-perintah kepada para istri Nabi agar mereka terjaga kesuciannya. Nah sudah jelas Nabi SAW tidak ikut mendapat perintah tersebut alias perintah itu memang khusus untuk istri2 Nabi SAW maka searusnya lafal yang digunakan adalah “kunna” tetapi faktanya lafal yang ada malah “kum”. Ini menunjukkan bahwa penggalan ayat tersebut ditujukan untuk pribadi2 lain selain istri2 Nabi SAW dan ini telah dijelaskan dalam berbagai hadis shahih asbabun nuzul ayat tersebut. Silakan deh dipahami :)

*************************

.

secondprince, on Maret 16, 2010 at 3:03 amsaid:

@KAB

Tambahan deh buat anda yang ngotot taklid dengan logika alfanarku [antirafidhah]. Silakan lihat baik-baik ayat yang kita bicarakan

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu,

Lihat baik-baik, Awal ayat Allah SWT menggunakan kata buyutikunna [itu artinya untuk wanita] kemudian para wanita ini dikatakan

وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ

dan taatilah Allah dan Rasulnya. Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dari kamu “Rijs”.

Perhatikan baik-baik bahkan sebelum Allah SWT mengucapkan kata Ahlul Bait, kata ganti yang digunakan adalah “kum” yaitu Liyudzhiba ‘ankum [menghilangkan dari kamu]. Kalau memang ayat tersebut berurutan maka orang-orang yang dituju dengan kata وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُdan kataلِيُذْهِبَ عَنكُمُ adalah orang yang sama.Tetapi secara bahasa ada perbedaan kata ganti. Lagipula mana mungkin Nabi SAW dituju pada kata لِيُذْهِبَ عَنكُمُ padahal orang yang sama juga diharuskan dengan kataوَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ bukankah aneh kalau Nabi disuruh mentaati Rasul. Jadi gak cocok kalau dipaksakan ayat tersebut turun berurutan. Akan muncul kontradiksi-kontradiksi. Kemudian silakan perhatikan lanjutannya

أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراوَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفاً خَبِيراًً

wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan Ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah.Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.

Kalau memang ayat tersebut turun berurutan maka orang yang dituju dengan kata وَيُطَهِّرَكُمْdan kata بُيُوتِكُنَّ adalah orang yang sama. Tetapi faktanya kataوَيُطَهِّرَكُمْ itu untuk laki-laki/laki-laki dan wanita bersama-sama sedangkan kata بُيُوتِكُنَّ khusus untuk wanita.

Selain itu kalau dipaksakan berurutan maka yang ada dalam kata بُيُوتِكُنَّ yang artinya [rumah kalian] bukankah yang dimaksud adalah rumah Ahlul bait dan sudah jelas Nabi SAW sebagai sayyidulbait adalah pemilik rumah tersebut. Otomatis Nabi SAW juga masuk dong dalam kata بُيُوتِكُنَّ begitu kan kalau menuruti logika anda, tapi anehnya kok kata yang digunakan “kuna” alias khusus wanita, gak pakai “kum” padahal jelas-jelas Nabi sebagai sayyidul bait dan pemilik rumah. Ini menunjukkan kalau penafsiran anda soal kata ganti [yang taklid semata dengan alfanarku] dengan alasan Nabi sebagai Sayyidul bait adalah tafsir yang seenaknya saja dan bertentangan dengan lafaz Ayat Al Qur’an tersebut. btw kayaknya akal sehat versi alfanarku itu memang hanya sehat untuk dirinya saja kali :)

************************

.

secondprince, on Maret 16, 2010 at 8:49 amsaid:

@KAB

Silakan perhatikan dengan jelas Surah Hud yang anda jadikan hujjah.

قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَاْ عَجُوزٌ وَهَـذَا بَعْلِي شَيْخاً إِنَّ هَـذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌقَالُواْ أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ رَحْمَتُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَّجِيدٌفَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ وَجَاءتْهُ الْبُشْرَى

Isterinya berkata “Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh. Para malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah. Maka tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya

Silakan perhatikan baik-baik. Para malaikat membawa kabar gembira kelahiran Ishaq untuk Nabi Ibrahim dan istrinya. kabar gembira itu sudah jelas tidak hanya untuk istri Nabi Ibrahim melainkan juga untuk Nabi Ibrahim, buktinya pada ayat tersebut sebelum diucapkan kata Ahlul Bait istrinya berkataوَأَنَاْ عَجُوزٌ وَهَـذَا بَعْلِي شَيْخاً , ini menunjukkan kalau kata Ahlul Bait itu adalah Nabi Ibrahim berserta istrinya maka digunakan kata “kum”. Juga tampak jelas setelah diucapkan kata Ahlul Bait, Nabi Ibrahim hilang rasa takutnya sebagaimana tampak dalam kataذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ dan jelas pula bahwa rahmat itu adalah untuknya juga sebagaimana tampak dalam kataوَجَاءتْهُ الْبُشْرَى.

Dalam Surah Hud ini penunjukkan ayatnya jelas-jelas menunjukkan kalau lafal “kum” ditujukan untuk Nabi Ibrahim berserta istrinya. Berbeda sekali dengan kasus surat Al Ahzab dimana urutan ayat menunjukkan kalau ayat tersbut khusus untuk wanita. Mengertikah anda? :)

Ada hal yang aneh dalam komentar anda yaitu soal ayat yang terpenggal. Al Ahzab 33 itu terpenggal dari ayat sebelumnya dan turun untuk peristiwa lain berdasarkan hadis-hadis shahih asbabun nuzulnya tidak hanya terbatas pada perubahan kata ganti. Yang lucu adalah orang yang katanya mengaku salaf tetapi malah menentang hadis shahih, apalah namanya itu :mrgreen:

*******************

.

secondprince, on Maret 17, 2010 at 7:01 pmsaid:

@alfanarku

Lihatlah dalam hadits shahih di atas sangat jelas sekali, bukankah Nabi SAW juga menggunakan dhamir jama’ muzakkar ketika menyebut istri-istri beliau sebagai ahlul bait. dan saat itu beliau hanya berbicara dengan istri-istri beliau saja dan tidak kepada orang lain. beliau menggunakan “kum” bukan “kunna”.

Silakan dipikirkan dulu baik-baik, anda sudah salah dlam menarik kesimpulan. Ucapan salam ditujukan tidak hanya khusus kepada siapa yang akan kita tuju, melainkan kepada siapapun yang mendengar salam tersebut. Makanya salam yang diajarkan dalam islam bersifat jamak muzakkar artinya ia ditujukan bagi semua orang islam baik laki-laki maupun wanita yang mendengar salam tersebut. Tidak ada tuh dalam islam kita mengucapkan salam harus khusus melihat dulu siapa yang ada di dalam rumah atau siapa yang harus kita tuju. walaupun di dalam rumah yang ada hanya perempuan tetap saja salam yang kita ucapkan berlafal jamak muzakkar karena memang ucapan salam bersifat jamak untuk siapapun yang mendengar baik laki-laki maupun perempuan. Ini kan ma’ruf sekali, bahkan jika kita hanya bertemu seorang teman di jalan, lafal salam yang digunakan tetap bersifat jamak muzakkar, jadi kata ganti jamak memang ditujukan bagi setiap orang muslim yang mendengar salam tersebut

sudahlah dalih SP itu sangat-sangat lemah jika mau mengeluarkan istri-istri Nabi dari makna ahlul bait dalam ayat thathir.

Ehem kayaknya dalil-dalilnya shahih bahkan sampai yang gak setujupun gak bisa komen apa-apa membantah dalilnya kecuali dengan ucapan “ah itu lemah”.ya setiap orang bisa saja bilang begitu :)

Ngomong-ngomong kayaknya anda gak ada urusannya deh berhujjah dengan hadis Shahih Bukhari di atas, justru malah menentang hujjah anda sendiri, tapi maaf andanya malah gak paham. Nih saya tunjukkan ya, bukankah dari awal anda mengatakan lafal “kum” dalam ayat tathir dikarenakan Nabi sebagai Sayyidul bait juga ikut sebagai yang dimaksud, nah oleh karena wanita dan laki-laki bergabung maka digunakan lafal jamak muzakkar. Lha sekarang justru dengan hadis Shahih Bukhari yang anda bawa bertentangan dengan hujjah anda. Disitu Rasulullah SAW menyampaikan salam kepada istri-istri Beliau, dan lafal “kum” yang ada disana mana mungkin mau ditafsirkan kalau Nabi sebagai Sayyidul Bait ikut masuk, lha yang kasih salam kan Nabi SAW sendiri. Nah anda sendiri akan mentafsirkan lafal “kum” dalam salam itu sebagai apa, mau pakai dalih Nabi sebagai sayyidul bait, he he he lucunya.

jadi ke laut aja dech.. wuakakakak

He he he ini kan blog saya, saya mah gak perlu ke mana-mana, mungkin anda kali yang mau pergi ke laut, eh btw ketawa anda mirip seseorang yang dulu sering banget ketawa disini :mrgreen:

*************************

.

secondprince, on Maret 18, 2010 at 9:32 amsaid:

@edi

Ya berarti, kalau seperti itu, istri-istri Nabi adalah memang ahlul bait dalam al-ahzab : 33, orang Nabi juga menggunakan kum, artinya pakai kum dan kunna tinggal melihat siapa yang ada dalam rumah itu,

kayaknya yang ada di dalam rumah itu awalnya cuma Ummu Salamah deh, dan alih-alih menyampaikan ke Ummu Salamah Rasulullah SAW malah memanggil Imam Ali, Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husain. Ini bukti kalau ayat tersebut bukan untuk istri-istri Nabi tetapi untuk ahlul kisa’. Perhatikan baik-baik istri-istri Nabi SAW lain kan tiak tinggal di rumah Ummu Salamah tetapi di rumah mereka sendiri, so seharusnya mereka yang dipanggil ketika ayat tersebut turun tetapi faktanya Rasulullah SAW tidak memanggil mereka tuh :)

dan yang ada dalam rumah itu saat ayat tersebut turun adalah Nabi dan istri-istrinya

Maaf Mas sudah saya tunjukkan anda asal saja berkata begitu. Yang ada di dalam rumah tersebut hanya Ummu Salamah dan maaf Rasulullah SAW sendiri mencegah Ummu Salamah untuk ikut masuk sebagai Ahlul Bait yang disucikan :)

jadi merekalah yang disebut ahlul bait, karena penyucian terhadap istri-istri Nabi tidaklah lepas dari Nabi SAW,

penarikan kesimpulan anda berdasarkan arguman yang asal saja, seperti yang telah saya tunjukkan, istri-istri Nabi yang lain tidak dipanggil tuh :)

karena mereka adalah bagian dari ahlil bait Nabi. jadi penyucian mereka dalam ayat itu adalah dalam rangka menyucikan Nabi juga,

Saya bingung nih, seandainya istri Nabi berbuat salah melakukan hal yang maaf menyakiti Nabi SAW baik sengaja ataupun tidak, atau melanggar perintah Nabi SAW agar tetap di rumah apakah itu semua menodai kesucian Nabi SAW?. Apakah Nabi SAW tidak suci jika istrinya ada yang berbuat salah.

kalau pendapat yg punya blog ini kan seolah-olah istri-istri Nabi ga ada sangkut pautnya dg Nabi, jelas hal ini sangat keliru.

saya males nih dengan orang yang dengan asalnya berkata atas nama orang lain. Saya gak pernah tuh bilang atau berpendapat seolah-olah istri Nabi tidak ada sangkut paut dengan Nabi, jadi perkataan Mas itu sungguh keliru

bukankah dalam Al-Qur’an ada ayat yang berbunyi : “Kuu anfusakum wa ahlikum naaro” (jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka)?

Lha iya dan ayat itu untuk semua kaum muslimin kan

dan beliau adalah memang sayyidul bait sebgaimana yang disampaikan oleh blog alfanarku.

Tolong dimengerti dengan baik, kami tidak menolak kalau Nabi SAW adalah sayyidul bait, hal begitu tidak perlu diperdebatkan. Yang kami tolak adalah cara beragumen alfanarku dan orang-orang seperti anda yang menjadikan alasan perubahan kata ganti “kum” karena Nabi sebagai Sayyidul bait ikut masuk. Struktur ayatnya jelas gak mungkin. penyucian yang dimaksud dalam ayat 33 jika dipandang dengan urutan ayat maka itu karena berbagai perintah seperti “jangan berhias” atau “tetaplah di rumah” atau “taatilah Allah SWT dan Rasul-Nya” dan perintah ini adalah perintah khusus terhadap istri2 Nabi. Kalau memang ayat tersebut berurutan maka kata ganti yang dipakai misalnya dalam kata {liyudzhiba ankum} harus dengan kata ganti “kunna” karena di ayat2 sebelumnya semuanya menggunakan kata ganti kunna.

saya kira ini adalah penjelasan yang paling masuk akal dan dilupakan oleh pemilik blog ini.

Saya heran dengan anda ini, mau dikemanakan hadis-hadis shahih yang mengkhususkan ahlul bait dalam al ahazab 33 khusus untuk ahlul kisa’. Apakah anda lebih mementingkan “akal” yang anda punya daripada hadis-hadis shahih?. silakan saja

maka kesimpulan yang paling logis adalah seperti pemahaman ahlussunnah yang bersifat tengah-tengah, bahwa ahlul bait dalam ayat tersebut mencakup Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, istri-istri Nabi, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhum.

tentu bagi anda pikiran anda itu logis, padahal tuh banyak mengandung kontradiksi. Ditambah lagi ini bukan masalah tengah2 seperti yang anda katakan tetapi masalah yang mana yang benar. Kalau memang Rasulullah SAW sudah mengkhususkan ayat al ahzab 33 untuk ahlul kisa’ maka tidak ada gunanya argumen basa-basi baik dari anda alfanarku abu-abu lain dan sebagainya.

tidak seperti pemahaman syi’ah yang meninggalkan istri-istri Nabi. Alhamdulillah semakin mantap keyakinanku.

Silakan anda berpegang pada keyakinan anda, tapi maaf ya pemahaman al ahzab 33 khusus untuk ahlul kisa’ bukan hak milik kaum Syiah. Ulama sunni yang terkenal seperti Abu Ja’far Ath Thahawi dalam kitabnya Musykil Al Atsar juga berpandangan demikian karena ia menerima hadis-hadis Rasul SAW yang mengkhususkan Ahlul bait dalam Al Ahzab 33 khusus untuk ahlul kisa’ saja. Jadi berhentilah mengumbar-ngumbar kata-kata “pemahaman syiah”. btw dan anda mungkin gak perlu deh ngaku-ngaku ahlus sunnah dalam perkara ini karena yang namanya ahlus sunnah itu berpegang pada sunnah atau hadis-hadis shahih bukannya malah menentang hadis shahih dengan dalih “akal logis” versi mereka sendiri :mrgreen:

*****************************

.

secondprince, on Maret 19, 2010 at 12:00 amsaid:

@edi

Saya sudah baca hadits lengkap bukhari yg dibawakan alfanarku, ternyata tempat kediaman istri-istri Nabi adalah berupa bilik-bilik atau kamar-kamar yang saling berdekatan dalam satu area, terbukti di saat pernikahan beliau dengan Zainab binti Jahsy, beliau mengunjungi seluruh istri-istri beliau untuk mengucapkan salam dan memanggil mereka ahlul bait.

Pernyataan anda yang ini tidak ada relevansinya dengan al ahzab 33. sudah jelas setiap istri Nabi punya rumah sendiri-sendiri bisa saja berdekatan dalam satu area atau bisa juga tidak berdekatan. Dalam hadis shahih bukhari tidak ada indikasi yang menunjukkan tempat tersebut berdekatan kan kata-kata yang ada bunyinya seperti ini Lalu beliau pergi ke tempat-tempat kediaman semua istri-istri beliau yang lain maaf sepertinya di dalam kalimat itu tidak terdapat indikasi dekat atau jauh. Terlepas dari dekat atau tidak, setiap istri Nabi punya rumah sendiri artinya mereka tidak tinggal di rumah Ummu Salamah. Jadi ketika ayat tathir [al ahzab 33] turun di rumah Ummu Salamah maka Nabi SAW pasti memanggil istri2 Nabi dahulu dan memberi tahu mereka. Kenyataannya tidak begitu, yang Nabi SAW panggil adalah Ahlul Kisa’ dan hal ini karena memang merekalah yang dituju oleh ayat tersebut.

maka kalau boleh dibilang mereka sebenarnya menempati satu area kediaman, hanya bilik-bilik saja yang membatasi kediaman mereka dan sayyidul bait dari tempat kediaman tersebut adalah Nabi SAW.

hampir semua sahabat Nabi menempati satu area kediaman yaitu di Madinah dan Nabi SAW adalah Sayyid bagi mereka semua. btw kayaknya anda mengaburkan sesuatu yang sudah jelas. istri2 nabi yang lain tidak tinggal satu rumah dengan ummu salamah dan ayat tersebut kan menurut kesaksian Ummu Salamah turun di rumahnya. lantas mengapa istri-istri nabi yang lain tidak dipanggil. Apalagi jika menuruti logika anda bahwa areanya berdekatan tentu sangat mudah bagi Nabi SAW memanggil mereka semua dan menyampaikan ayat tathir tersebut dan faktanya lagi-lagi tidak begitu. Ada hal aneh yang tidak pernah terpikirkan oleh pengikut salafiyun. Kalau memang ayat tathir Al Ahzab 33 turun untuk istri-istri Nabi maka mengapa Ummu Salamah memenggal ayat tersebut. Seharusnya ummu Salamah menyebutkan bahwa ayat tersebut turun secara lengkap dengan kata-kata ‘hai istri-istri Nabi sampai akhir ayat”. sudah jelas Ummu Salamah tidak memenggal ayat tersebut, ayat tersebut memang turun terpisah dengan ayat sebelumnya oleh karena itulah Ummu Salamah ketika menceritakan hadis tersebut ia bersaksi kalau ayat yang turun dimulai dari kata “innama yuridullah”.

Mengenai pemanggilan Fatimah dan keluarganya ke tempat kediaman Ummu Salamah, saya sependapat dengan alfanarku, karena Nabi ingin mendo’akan mereka agar menjadi bagian ahlul bait dalam ayat tsb.

Anda atau alfanarku silakan saja berpendapat tetapi bukti hadisnya menunjukkan kalau Rasulullah SAW memanggil mereka karena memang merekalah yang dituju oleh ayat tersebut. Jika memang Ummu Salamah sebagai istri Nabi adalah sebagai yang dituju oleh ayat tersebut lantas mengapa ia meminta kepada Nabi agar dirinya ikut masuk sebagai ahlul bait. Bukankah ini bukti shahih kalau Ummu Salamah tidak merasa dirinya sebagai ahlul bait. jadi pendapat anda itu bertentangan dengan hadis shahih.

di atas anda mengatakan sendiri, bahwa ayat yang turun terhadap istri-istri Nabi tidak ada sangkut pautnya dg Nabi, itu yg saya tangkap.

Yang saya maksudkan adalah, jika berpegang pada urutan ayat maka Nabi SAW bukanlah pribadi yang dituju dalam ayat tersebut karena penyucian yang dimaksud akan terjadi jika istri-istri Nabi melakukan berbagai perintah yang disebutkan dalam ayat tersebut. Sangat jelas kok ini, saya kasih contoh ya misal nih Rasulullah SAW menyampaikan ayat kepada umatnya agar mereka mentaati Allah dan Rasul-Nya. Maka apakah anda akan mengatakan bahwa ayat ini juga ditujukan untuk Rasul SAW. Apakah anda ingin mengatakan bahwa Rasul SAW diperintah untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Saya yakin anda pasti akan berkata tidak. Nah apakah ketika anda berkata begitu maka anda bisa langsung mengatakan kalau Nabi SAW gak ada sangkut pautnya dengan umatnya. Silakan diperiksa kekeliruan persepsi anda.

padahal istri-istri adalah masih dibawah tanggung jawab suami, jika ada kenapa-kenapa tentunya sang suami juga paling tidak ditanyain, bagaimana kepemimpinannya thd ahlul baitnya.

Itu benar tetapi apakah itu berarti setiap ayat yang turun untuk istri-istri Nabi maka itu juga untuk Nabi SAW pula.

karena Nabi Muhammad SAW adalah penghulu para ambiya’ dan kekasih Allah maka dalam rangka memuliakan nama beliau dengan sempurna yg berbeda dg nabi2 sebelumnya, sehingga tidak ada celah bagi orang yg akan mencela beliau, Allah mentarbiyah keluarga beliau dan Allah bersihkan mereka dari dosa.

Allah SWT mentarbiyah mereka para istri-istri Nabi SAW dengan ayat tersebut itu benar. Yang sedang kita permasalahkan adalah mengenai penggunaan kata ganti dari “kunna” menjadi “kum” terus menjadi “kunna” lagi. Nah saya menunjukkan kepada anda bahwa perubahan kata ganti karena memang ayat tersebut terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya dan “kum” ditujukan untuk ahlul kisa’ yang merupakan gabungan laki-laki dan perempuan. Ini sangat klop dengan hadis-hadis shahih asbabun nuzulnya.

bukankah Nabi juga terkena syari’at? dan beliau adalah suri teladan seperti firman Allah sendiri.

Nabi SAW adalah pembawa syariat dan maaf ya tidak ada yang mengingkari ini.

memang ayat sebelumnya adalah ayat perintah dan larangan untuk istri-istri Nabi, tetapi itu semua adalah untuk mensucikan mereka,

nah kalau begitu mereka itu khusus istri-istri Nabi SAW kan

dalam rangka mensucikan Nabi juga, mereka bagian dari kehidupan Nabi mas.

Ada hal yang rancu dengan ini. kalau anda katakan “bagian dari kehidupan Nabi” maka saya katakan kehidupan Nabi SAW tidak terbatas pada istri-istri Nabi SAW saja. Nabi SAW punya kaum kerabat yaitu keluarga Ja’far, keluarga Aqil dan keluarga Abbas. Nabi SAW juga punya banyak sahabat dan bukankah itu bagian dari kehidupan Nabi juga. Kesucian Nabi SAW tidak tergantung pada apakah semua yang menjadi bagian kehidupan Nabi SAW atau yang berinteraksi dengan Nabi SAW harus terbebas dari salah atau dosa. Saya jadi bingung apakah jika seandainy ada istri Nabi SAW yang berbuat salah atau berbuat dosa maka kesucian Nabi SAW jadi ternoda. Apakah surah At Tahrim itu menodai kesucian Nabi SAW. Apakah ketika Aisyah RA memimpin sebagian kaum muslim dalam perang Jamal maka itu berarti menodai kesucian Nabi SAW? bukankah Aisyah RA tidak tetap di rumah sesuai dengan perintah al ahzab 33 di atas?. apakah ketika istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth menyimpang dari kebnaran maka hal tersebut menodai kesucian Nabi Nuh AS atau Nabi Luth AS. Itulah yang saya bingung dari argumen anda dan semoga anda bisa menjelaskannya dengan baik.

jadi anda ga bisa memisahkan mereka dengan Nabi, makanya digunakanlah “kum”. bukankah dalam ayat sebelumnya Allah berfirman : “kalian tidak sama dengan wanita yang lain” maksudnya mereka adalah istri Nabi, Ahlul bait beliau.

kalau memang pandangan anda benar maka seharusnya Allah SWT menggunakan kata “kum” bukan “kunna”. contohnya nih, Allah SWT berkata وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ yang artinya dan hendaklah kamu tetap di rumahmu. Bukankah rumahnya istri-istri Nabi SAW adalah rumah Nabi SAW juga bukankah Nabi SAW sebagai Sayyidul bait bukankah istri-istri Nabi SAW menurut anda tidak bisa dipisahkan dari Nabi SAW lantas mengapa Allah SWT menggunakan kata kunna, jika menuruti logika anda itu maka seharusnya Allah SWT menggunakan kata “buyutikum” bukan “buyutikunna”. Inilah yang kita permasalhkan dari awal, saya menangkap semua argumen versi alafanarku dan versi anda itu terkesan basa basi dan gak sesuai dengan lafal ayatnya.

coba anda baca lagi ayat tersebut dari awal sampai akhir pasti sangat klop.

kalau anda hanya baca terjemah saja ya klop tetapi jika anda membaca bahasa arabnya maka akan muncul kerancuan dan kerancuan ini adalah perubahan kata ganti yang ternyata dijelaskan dalam hadis-hadis shahih bahwa “kum” disana merujuk pada ahlul kisa’ bukan istri-istri Nabi SAW.

hadits yg shahih tidak mengkhususkan mereka, tetapi Nabi mendo’akan mereka agar menjadi bagian ahlul bait tsb.

Apa sih kriteria shahih atau tidaknya versi anda ini. Apakah shahih itu adalah apa yang dikatakan ulama anda shahih? Apakah tidak shahih itu jika ulama anda mengatakan tidak shahih?. Ataukah shahih tidaknya tergantung dengan metode ulumul hadis. Silakan saja anda lihat hadis-hadis yang saya bawakan di atas. Itu lebih dari cukup bagi mereka yang memang mau berpegang teguh pada Sunnah. Kalau anda bisa seenaknya bilang tidak shahih maka orang lain bisa seenaknya mengatakan semua keyakinan anda tidak shahih pula. So kita tidak perlu diskusi kalau memang posisinya sudah main klaim, saya telah memaparkan berbagai riwayat di atas dan membuktikan keshahihannya maka bagi anda yang mengatakan tidak shahih silakan tunjukkan hujjah anda dlm perkara ini, dimana letak tidak shahihnya hadis-hadis yang saya bawa di atas.

saya meyakini kebenaran dari argumentasi sebagian besar pendapat ahlussunnah, jelas, adil, logis dan bisa mengkompromikan dalil-dalil yg ada serta tidak ada tendensi apa-apa terhadap orang-orang terdekat Nabi.

Dalam perkara ini justru pendapat yang menyatakan Al Ahzab 33 untuk istri-istri Nabi SAW dan ahlul kisa’ tidak memiliki dalil satupun untuk menopang pendapat mereka. Tidak ada dalil shahih yang menunjukkan kalau ayat tersebut turun untuk istri Nabi SAW dan ahlul kisa’ justru dalil yang shahih menunjukkan kalau ayat tersebut turun untuk Ahlul Kisa’.

saya kira pendapat yg berbeda dg anda juga berpegang kepada dalil, baik al-qur’an, sunnah dan aqwal para ulama. dan menurut saya lebih mantap dan tidak bertendensi apapun dalam memuliakan ahlul bait nabi secara keseluruhan.

anda berhak berkata begitu sebagaimana saya pula berhak berkata seperti itu pula kepada anda. Jadi kalau anda sudah tidak mampu menunjukkan hujjah-hujjah anda maka diskusi kita cukupkan saja karena tidak ada gunanya kita main pengakuan dalam berdiskusi.

Jika anda mengaku atau merasa anda yang benar maka begitu pula orang lain. Hormati saja apa yang diyakini saudara anda yang lain yang berbeda dengan anda, dan saya sarankan anda untuk tidak perlu mengucapkan kata-kata “itu tafsiran syiah rafidhah” atau kata-kata ‘hanya orang syiah yang berkata begitu”. Pertama karena kebenaran itu tidak bermahzab, kebenaran bukan terletak pada “karena Sunni maka itulah yang benar ” dan tidak juga terletak pada “karena Syiah maka itulah yang benar”. Kebenaran selalu memliki dasar-dasar yang benar dan bahkan dengan dasar itulah kita bisa menilai apakah tafsiran Sunni yang benar atau tafsiran syiah yang benar? atau malah tafsiran lain yang benar?. Kedua Bukankah pengikut Syiah sendiri akan mengaku atau merasa kalau mereka berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Jadi saran saya ya kalau anda tidak suka dituduh maka berusahalah untuk tidak menuduh, kalau anda tidak suka keyakinannya disalahkan maka tidak usah menyalhkan keyakinan orang lain. Kalau anda tidak suka keyakinan anda dikritik maka diam sajalah, kalau anda tidak mau dikatakan sesat ya jangan mensesatkan orang lain. lain halnya jika anda mau mendiskusikan hujjah keyakinan anda dan hujjah keyakinan orang lain, maka dalam hal ini semua pengakuan tidaklah penting karena yang dilihat adalah sejauh mana dalil atau hujjah tersebut benar.

**********************

.

secondprince, on Maret 19, 2010 at 3:16 pmsaid:

@edi

lho memang menurut banyak riwayat, Rumah Nabi dan istri-istrinya itu dalam satu area dekat Masjid Nabawi, Ketika beliau berada di Madinah, beliau pertama kali membangun tempat Ibadah, baru kemudian beliau membagun dua rumah sederhana. Kedua rumah itu diperuntukan istri termuda (Aisyah r.a) dan istri tetua (Saudah Binti Zam’ah). Sedangkan istri-istri lain, mereka dibuatkan kamar-kamar (Hujurat) khusus.

silakan tuh dibawa riwayat yang mau anda jadikan hujjah, tentu jika valid saya tidak akan keberatan menerimanya. lgipula yang kita diskusikan bukan soal ini.

Jumlah kamar-kamar (hujurat/rumah), sesuai dengan jumlah istrinya yaitu sembilan, kalau ayat tsb turun di rumah Ummu Salamah, ya artinya turun di rumah istri-istri Nabi juga,

wah ayat tersebut berdasarkan hadisnya turun di rumah Ummu Salamah dan ketika itu Rasul SAW malah memanggil ahlul kisa’ danmencegah Ummu Salamah untuk ikut masuk sebagai ahlul bait. Nah disinilah seharusnya yang menjadi fokus diskusi. Kalau ayat tersebut turun untuk Ummu Salamah maka mengapa Ummu Salamah tidak merasa begitu bahkan ia sendiri dicegah oleh Nabi SAW untuk ikut masuk sebagai ahlul bait. Ditambah lagi mengapa Rasul SAW tidk memanggil istri-istri beliau yang lain dan menyampaikan ayat tersebut untuk mereka. Ingat ayat yang kita bicarakan ini hanya dimulai dari kata “innama”.

bukankah ayat selanjutnya Allah mengingatkan kembali tentang ayat-ayat yang turun di rumah-rumah mereka, kalau memang ayat tersebut bukan untuk mereka tentunya Allah tidak mengingatkan mereka tentang ayat yg turun di rumah mereka.

Silakan tuh perhatikan kata ganti di ayat selanjutnya. Allah SWT menggunakan kata “kunna”. Jadi tentu yang dimaksud ayat-ayat untuk istri-istri Nabi adalah ayat sebelumnya yang menggunakan kata “kunna” sedangkan ayat tathir itu untuk ahlul kisa’ :)

silahkan dibaca ayat berikut :
buyutannabiyyi artinya rumah-rumah nabi yg dihuni oleh beliau dan istri-istri beliau, maka mereka-lah yang dimaksud ahlul bait itu.

Kalau begitu maka anda tolong perhatikan dengan baik disitu digunakan kata “buyutannabiyyi”. nah sekarang saya tanya mengapa di Al Ahzab 32 dan 34 justru digunakan kata buyutikunna, bukannya buyutannabiyy. Bukankah ini menunjukkan kalau ayat tersebut ditujukan untuk istri-istri Nabi saja dan bukan untuk Nabi :mrgreen:

sedangkan Fatimah, Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhum tinggal di rumah Ali bin Abi Thalib ra yang terpisah dengan Nabi. dan asbabun nuzulnya adalah hadits riwayat bukhari di atas. (alhamdulillah tulisan alfanarku telah membuat saya paham)

Kata Ahlul Bait itu memiliki banyak pengertian. Ia bisa berarti penghuni rumah, bisa juga keluarga secara nasab, bisa juga keluarga melakui ikatan perkawinan. oleh karena itu silakan tentukan dulu apa makna ahlul bait dalam ayat tersebut. Jika melihat hadis asbabun nuzulnya maka sudah jelas ahlul bait yang dimaksud adalah bermakna ahlul bait secara nasab bukan penghuni rumah karena Ummu Salamah sendiri si penghuni rumah tidak ikut masuk dalam ayat tersebut.

sedangkan syubhat anda sudah dijawab oleh alfanarku, kalau memang ayat itu untuk ahlul kisa’, mengapa Nabi masih meminta kepada Allah atau mendo’akan untuk mereka? dll.

Kayaknya yang membuat syubhat adalah si alfanarku. sekarang saya tanya kalau lafaz yang anda katakan doa itu tidak ada maka bagaimana bisa orang-orang tahu kalau ahlul kisa’ adalah pribadi yang dimaksud dalam ayat tersebut. lafaz itu justru menunjukkan kepada siapapun yang mendengarnya kalau ayat tersebut adalah untuk mereka. btw silakan deh anda lihat pernyataan saudara Badari di atas

Mungkin bisa kita ambil pelajaran dari ayat “Inna Allaha wa malaikatahu yushalluna ‘ala Al-Nabiyy” (Sesungguhnya Allah para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi [Muhammad]).
Lalu, dari hadis, Nabi Muhammad saw. mengajari kita membaca “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad” (Ya Allah, sampaikanlah shalawat atas Nabi Muhammad & keluarganya).
Apakah kita akan berkomentar, “Yg logis kan beliau SAW mestinya mengajari kita kalimat “Mahasuci Allah yg telah bershalawat atas Nabi Muhammad.”?
Ah, ada-ada aja.

Tentu saja dengan logika alfanarku itu maka anda atau dia patut bertanya kepada Nabi SAW mengapa nabi SAW mengajarkan kita shalawat Ya Allah, sampaikanlah shalawat atas Nabi Muhammad padahal dalam Al Qur’an sendiri Allah SWT telah bershalawat kepada Nabi SAW. Mengapa masih dipinta kalau memang sudah terjadi, begitu kan logika anda atau alfanarku. Jadi saran saya jangan merasa cara berpikir anda atau alfanarku itu sudah benar, silakan diperhatikan dulu jawaban orang lain.

Mas, Nabi diikutkan ketika menyinggung term penyucian dan ahlul bait,

kalau anda berpegang pada urutan ayat maka term penyucian itu berkaitan dengan perintah dan larangan pada ayat sebelumnya. Jadi penyucian itu dimaksudkan untuk istri-istri nabi jika mereka melakukan perintah yang dimaksud, itu kalau anda berpegang pada urutan ayat.

maksudnya hasil dari perintah dan larangan terhadap istri-istri (ahlul bait) beliau pada akhirnya disamping dirasakan oleh istri-istri beliau akan dirasakan juga oleh beliau sebagai sayyidul bait, jadi saya merasa tidak ada yang keliru dengan persepsi saya

Anda belum menjawab apa yang membuat saya bingung dari pernyataan anda sebelumnya. contohnya adalah Aisyah RA pada insiden Jamal itu “tidak tetap di rumah” bukankah itu sudah bertentangan dengan ayat tersebut. maka tolong dijawab dulu dengan baik apakah tindakan Aisyah RA yang bertentangan dengan ayat tersebut menodai kesucian Nabi SAW?

ayat itu diawali dengan “wahai istri-istri Nabi”, juga “kalian tidaklah sama dengan wanita-wanita lain” bukankah ini sangat jelas ada sangkut pautnya dg Nabi?

Maaf Mas anda tidak mengerti kata-kata saya. saya mengatakan apakah setiap ayat yang turun untuk istri Nabi SAW maka otomatis itu juga untuk Nabi SAW?. tidak ada gunanya anda menggunakan kata “sangkut paut” sudah jelas Nabi ada sangkut pautnya dengan istri Nabi SAW.

bukankah sudah dijawab oleh alfanarku dan di atas sudah saya tambahi mengapa berkaitan deb Nabi?

Bukankah saya sudah menjawab baik hujjah anda maupun alfanarku, wah apalah artinya kata-kata seperti ini :roll:

tetapi ayat di atas menyinggung istri-istri Nabi Mas, bukan keluarga yang lain, jadi case by case sajalah.

Satu hal yang harus anda ingat, ayat yang kita bicarakan itu dimulai dari kata “innama” gak ada tuh bunyi istri-istri Nabi di ayat tersebut. kemudian anda juga tidak menjawab pertanyaan saya. kalau memang ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah secara berurutan maka mengapa Ummu Salamah memenggal ayat tersebut. mengapa ia tidak mengatakan bahwa ayat yang turun dimulai dari kata “hai istri-istri nabi” sampai akhir ayat?. Mana mungkin Ummu Salamah memotong ayat tersebut kecuali ayat tersebut memang turun terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya :)

surat At-Tahrim justru menunjukkan penjagaan Allah / tarbiyah-Nya kepada istri-istri Nabi,

Anda tidak menjawab pertanyaan saya. surat At Tahrim membuktikan bahwa para istri Nabi SAW bisa juga berbuat salah dan apakah kesalahan mereka itu menodai kesucian Nabi SAW? Adakah dalam surat At Tahrim kata-kata kalau mereka telah menodai kesucian Nabi SAW? itulah yang harus anda jawab.

lebih tepat adalah insiden Jamal bukan perang Jamal, karena memang tidak ada niat dari Aisyah maupun Ali untuk saling berperang, tetap tinggal di rumah memang benar tetapi tentunya bukan berarti tidak boleh keluar rumah sama sekali.

Lagi-lagi anda tidak menjawab pertanyaan saya. Apakah ketika Aisyah melanggar perintah “tetap di rumah” maka itu menodai kesucian Nabi SAW? silakan dijawab dulu. btw yang saya bingung dari pernyataan anda adalah “tetap tinggal di rumah” bukan berarti tidak boleh keluar rumah sama sekali”. Maksudnya apa, jadi tetap boleh keluar rumah?. wah saya malah bingung, semakin anda banyak bicara kok semakin banyak muncul pertanyaan

tentang istri Nabi Nuh maupun Luth, bukankah di atas sudah saya sampaikan, dengan tarbiyah Allah terhadap ahlul bait Nabi, dimaksudkan untuk memuliakan beliau melebihi segenap para Nabi dan menutup celah bagi para pencela,

Anda silakan menjawab dulu pertanyaan saya, apakah ketika istri nabi Nuh dan Nabi Luth AS menyimpang dari kebenaran maka itu telah menodai kesucian Nabi Nuh dan Nabi Luth? silakan dijawab dulu. Kalau kemuliaan Nabi Muhammad SAW di atas para Nabi yang lain, maka hal itu tidak usah dipermasalahkan. yang kita bicarakan adalah premis anda itu bahwa jika istri Nabi melanggar perintah Allah SWT maka itu menodai kesucian Nabi.

jadi mohon jangan disamakan. jika anda punya keyakinan lain terhadap kemulian Nabi Muhammad atau anda menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW sederajat dg Nabi lain ya silahkan, kalau saya tidak.

anda tidak perlu berbasa-basi, silakan jawab dulu pertanyaan yang sudah saya ajukan sebelumnya kepada anda bukannya malah berkelit mengalihkannya kepada hal-hal lain yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan

Mas, saya tidak pernah mengingkari bahwa ayat-ayat sebelumnya adalah perintah dan larangan untuk istri-istri Nabi, tetapi begitu menyinggung term pembersihan dan ahlul bait, Nabi diikutkan karena perintah dan larangan terhadap istri nabi
dimaksudkan untuk membersihkan mereka yg pada akhirnya membersihkan Nabi sebagai suami/sayyidul bait mereka.

Nah disinilah poinnya, dan membuat saya bingung karena anda ingin menyatakan kalau kesucian dan kebersihan Nabi SAW tergantung dengan apakah istri Beliau SAW taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Inilah yang sedang dibahas dan silakan dijawab dulu kebingungan yang muncul dari pernyataan anda ini. Apakah jika istri Nabi SAW melanggar perintah Allah SWT atau melanggar perintah Rasul SAW maka itu menodai kesucian Nabi SAW atau Nabi SAW menjadi tidak bersih? :roll:

silahkan jika anda menganggap kami berbasa basi, tetapi kami tidak pernah merasa spt itu.

Buktikan saja kalau anda tidak berbasa-basi, silakan dijawab pertanyaan saya dengan fokus.

lho kita baca kan dua bahasa, arab dan terjemahan, dan tidak ada yang rancu saya rasa, semua sudah ada penjelasannya.

Betulkah, terus apakah anda paham. saya tanya makna kata “innama” itu apa, bukankah kata itu bermakna “hashr”. terus makna “yuthahhirakum tathiira” bermakna apa?. btw kalau anda tidak merasa rancu ya silakan saja

silahkan anda mentakhrij hadits2 di atas sesuai dg versi anda,

versi saya? wah wah Mas kayaknya saya melakukan yang sesuai dengan metode Ulumul hadis, kalau anda tidak tahu lagi-lagi bukan salah saya.

tetapi jelas banyak yg mendhaifkan hadits2 di atas dari kalangan ulama hadits terdahulu.

Tunjukkan, silakan tunjukkan ulama hadis terdahulu yang mendhaifkan hadis di atas. Buktikan kalau anda gak asal bicara :)

jadi saya lebih memilih mengikuti mereka yg sudah jelas kredibilitasnya.

Maaf ya, ini yang saya sebut argumen basa basi. silakan anda lihat kembali tulisan saya. Disana bahkan saya mengutip kalau Al hafizh Ibnu Asakir menshahihkan hadis yang mengkhususkn ayat tersebut turun untuk ahlul kisa’. begitu pula dengan Al Hakim dan sekedar info buat anda Abu ja’far At Thahawi dalam Musykil Al Atsar telah berhujjah dengan hadis-hadis di atas dan menyatakan kalau ayat tathir tersebut turun untuk ahlul kisa’. Jadi tidak ada gunanya berbasa basi. Bukankah sebelumnya anda berkata riwayat tersebut tidak shahih kalau begitu silakan tunjukkan dalil atau hujjah anda.

justru saya melihat begitu banyak dalil penopang bahwa istri-istri Nabi termasuk yang dimaksud ahlul bait dalam ayat tersebut. bertebaran di sana sini malahan. sedangkan hadits kisa’ yg shahih tidak terlihat mengkhususkan bahwa ahlul bait itu mereka saja.

wah mana tuh, buktikan deh apa yang anda lihat “banyak dalil” buknkah sudah saya katakan tidak ada gunanya pengakuan. silakan bawakan buktinya dan itulah yang kita bahas. Jika tidak maka tidak ada gunanya diskusi :)

terakhir, mengenai syi’ah, tidak ada kompromi buat mereka, dengan paham mereka yang menghina para sahabat dan istri-istri Nabi SAW yang telah mengantarkan agama ini sampai ke kita, yang riwayat2 mereka sering anda tampilkan di blog ini,

silakan saja, kalau anda mau memfitnah syiah dan pengikutnya itu bukan urusan saya.

sungguh sangat menyakitkan kita dan kaum muslimin seluruhnya. maka jika mereka berhenti dari itu, tentunya kita pun akan berhenti melawan mereka.

Pernah memandng diri anda atau pengikut mahzab anda. pernahkah anda mendengar bahwa anda atau mahzab anda dikatakan sebagai orang yang membela dan memuliakan mereka yang memerangi dan menyakiti ahlul bait. anda merasa tidak terima? lha sama, mereka juga begitu tidak terima tuh dengan tuduhan anda?. saya sering bertemu dengan penganut Syiah dan maaf saya tidak seperti anda atau mahzab anda yang akan mengatakan Syiah menghina para sahabat dan istri Nabi SAW, saya juga tidak seperti anda atau mahzab anda yang mengatakan syiah menyakiti kaum muslimin. Yang saya tahu, mereka sangat mencintai ahlul bait Nabi dan mereka tidak suka kepada sahabat yang menyakiti ahlul bait Nabi dan diantara sahabat yang dimaksud itu menjadi kebanggaan anda dan mahzab anda. Jadi ya kalau anda tidak bisa mengerti mereka, maka mereka pun tidak akan bisa mengerti anda atau mahzab anda. kalau anda merasa membela islam maka mereka pun juga merasa membela islam. jadilah seperti yang saya bilang “hanya saling rasa-merasa”. gunakan kepala dingin, bicara dengan fakta dan bukti, bersikap objektif dan tidak perlu tuduh menuduh. simpan tuduhan itu didalam hati dan berdiskusilah dengan mengajukan bukti dan fakta atau argumen yang valid.Jika tidak mau diskusi ya sudah, diam lebih baik :)

*************************

.

secondprince, on Maret 22, 2010 at 7:47 pmsaid:

@edi

Sudah dijawab oleh alfanarku, Nabi mencegah Ummu Salamah saat beliau sedang berdo’a buat Fatimah dan keluarganya, bukan berarti beliau menolak Ummu Salamah sebagai ahlul bait beliau.

Kalau dari hadisnya Rasulullah SAW mencegah Ummu Salamah untuk ikut mereka sebagai ahlul bait yang disucikan. lafaz yang anda katakan doa itu kan merupakan petunjuk bahwa ayat tersebut ditujukan untuk mereka. Lagipula kalau memang Ummu Salamah adalah ahlul bait maka yang seharusnya dikatakan Nabi SAW adalah sesuangguhnya kamu Ummu Salamah juga ahlul baitku dan rasanya Nabi SAW juga tidak perlu mencegah Ummu Salamah. Kembali saya tunjukkan rusaknya logika anda, alfanarku dkk. kalian menganggap bahwa istri-istri Nabi SAW termasuk Ummu Salamah untuk tidak perlu lagi diikutkan dalam doa Nabi SAW karena mereka telah disucikan, tentu saja pernyataan ini rancu. Jika kita berpegang pada penyucian ayat maka penyucian dalam ayat tathir bersifat syar’i artinya ia terkait dengan apakah istri-istri Nabi SAW melakukan yang diperintahkan kepada mereka. Jadi apakah istri Nabi SAW disucikan atau tidak itu tergantung dengan perbuatan mereka selanjutnya. Oleh karena itu tidak ada istilah “telah disucikan” bahkan yang paling masuk akal adalah para istri Nabi SAW harus senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar mereka bisa selalu taat terhadap perintah Allah SWT sehingga kesucian mereka terjaga.

Jadi kalau memang berpegang pada urutan ayat maka tidak ada alasan Rasulullah SAW mencegah Ummu Salamah dalam lafaz yang anda katakan doa. Apakah salah jika Nabi SAW mengikutkan Ummu Salamah di dalam doa beliau terhadap ahlul kisa’ [ini menurut pengertian kalian lho]? Bukankah dengan mengikutkan Ummu Salamah dalam doa tersebut berarti Rasulullah SAW juga menginginkan agar Ummu Salamah itu bisa selalu mentaati perintah Allah SWT dalam ayat tersebut sehingga kesucian mereka terjaga?. Tapi lagi-lagi faktanya tidak seperti itu, Ummu Salamah dicegah oleh Rasul SAW untuk ikut bersama ahlul kisa’ maka itu berarti lafaz yang anda katakan doa itu sebenarnya adalah lafaz yang bersifat mengkhususkan bahwa hanya merekalah ahlul bait yang dimasukkan dalam ayat tersebut sedangkan Ummu Salamah dalam kebaikan.

Mengapa yg disebutkan Ummu Salamah mulai kata “innama” karena ketika menyinggung pembersihan ahlul bait, Nabi menghendaki agar Fatimah dan keluarganya turut serta.

Anda keliru, jelas-jelas Ummu Salamah sedang menyatakan kesaksian bahwa saat itu ada ayat yang sedang turun. Jadi kalau memang ayat tersebut turun berurutan maka Ummu Salamah akan menyebutkan ayat yang turun dimulai dari kata-kata “hai sitri-istri Nabi” sampai akhir ayat tetapi lagi-lagi faktanya tidak seperti itu. Ummu Salamah hanya mengatakan bahwa ayat yang turun adalah dimulai dari kata “innama”.

Makanya saat beliau sedang berdo’a Ummu Salamah dicegah karena kata Nabi Ummu Salamah “sudah dalam kebaikan”,

Dalam kebaikan punya banyak makna, artinya Ummu Salamah itu punya kedudukan yang baik, misalnya beliau akan mendapatkan surga atau menjadi istri Rasul SAW dunia akhirat atau yang lainnya. Justru kalau memang beliau Ummu Salamah adalah ahlul bait yang disucikan maka seharusnya Rasulullah SAW mengatakan dengan jelas bahwa Ummu Salamah adalah ahlul bait yang dimaksud dalam ayat tersebut.

secara tidak langsung menunjukkan bahwa Ummu Salamah tidak perlu dido’akan lagi oleh Nabi dan telah mendapatkan apa yang sedang Nabi mintakan kepada Allah buat Fatimah dan keluarganya.

Saya sudah tunjukkan logika rusak anda. jika anda berpegang pada urutan ayat maka lafal penyucian itu bersifat syar’i artinya mereka istri Nabi SAW tersucikan jika mereka melaksanakan berbagai perintah yang ditetapkan oleh Allah SWT dalam ayat tersebut. Sesuatu yang bersifat syar’i ya tergantung individunya, apakah mereka melakukannya atau tidak? maka tidak ada istilah “telah disucikan”. Contoh nyata adalah bukankah kita umat islam mendapat banyak perintah dari Allah SWT lantas bukankah kita selalu berdoa kepada Allah SWT agar kita bisa selalu mentaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Allah SWT. Begitu pula justru sangat baik sekali kalau Ummu Salamah ikut didoakan oleh Nabi SAW plus istri-istri Nabi yang lain sehingga mereka senantiasa mentaati perintah Allah SWT. jadi logika anda itu tidak konsisten alias banyak kontradiksi sehingga jika dianalisis hanya tampak sebagai pembenaran saja :)

Lho bukankah ayat thathir turun di rumah Ummu Salamah, istri Nabi dan tentunya adalah rumah Nabi juga. Gimana sich mas.

Kalau begitu, rumah istri Nabi pada dasarnya rumah Nabi SAW juga kan. Maka mengapa gak pakai istilah buyutikum, nah kan Nabi beserta istri-istri beliau adalah laki-laki dan perempuan yang berarti jamak muzakkar. Apalagi menurut anda ayat tersebut ya untuk Nabi SAW juga jadi akan sangat wajar kalau dari awal digunakan kata ganti “kum” [terutama pada kat”buyutikuna”] tetapi faktanya malah digunakan kata “buyutikunna”. Anda tidak mngerti komentar saya ya, gimana sich :mrgreen:

Lho lho.. bukankah rumah istri-istri Nabi adalah rumah Nabi juga? Jadi yang dimaksud “buyutannabiyyi” maupun “buyutikunna” ya sama lah fisiknya yaitu rumah yang didiami Nabi bersama istri-istri beliau dan yang jelas bukan rumah Ali bin Abi Thalib.

Nah kalau menurut anda bukan rumah Ali RA maka justru menjadi kontradiksi buat anda tentunya. Bukankah anda mengatakan kalau Rasulullah SAW memperluas ahlul bait yang dimaksud dalam ayat tersebut untuk Ahlul Kisa’ artinya ayat tersebut untuk istri Nabi dan ahlul kisa’. Lha ini jelas rancu bagaimana mereka bisa dituju bersama oleh ayat tersebut. Kalau berpegang pada urutan ayat mana mungkin pakai kata “buyutikunna” bukankah harusnya pakai kata “buyutikum”. istri Nabi dan ahlul kisa’ kan jamak muzakkar. sekali lagi saya ingatkan lafal penyucian dalam ayat tersebut kan terkait dengan ayat perintah dan larangan maka jika berpegang pada urutan ayat maka penyucian itu terjadi jika orang-orang yang dituju melakukan perintah dan larangan. Kalau anda mengatakan Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain juga masuk kedalam ayat tersebut karena doa Nabi SAW, maka ini menimbulkan kerancuan masa’ mereka disuruh “tetaplah di rumahmu” dan janganlah berhias. Itu kan perintah khusus wanita :)

Dalam ayat 32 dan 34 obyek yg dibicarakan adalah istri-istri Nabi, di ayat 33 obyek yg dibicarakan adalah Nabi dan istri-istri beliau karena menyangkut term pembersihan dan ahlul bait,

Ngomong-ngomong saya tanya nih, apakah perintah di ayat tersebut hanya khusus untuk istri-istri Nabi SAW saja. kalau memang begitu lantas mengapa Rasulullah SAW menginginkan Imam Ali Imam Hasan dan Imam Husain masuk dalam ayat tersebut. Terus kenapa Imam Hasan bersaksi kalau ayat tersebut turun untuk mereka, seperti hadis shahih yang saya tulis di atas.

kemudian juga di ayat 53 di surat yg sama obyek pembicaraan adalah kaum mukminin mengenai adab di rumah-rumah Nabi (yang dihuni oleh istri-istri beliau) Lalu apa yang anda bingungkan mas?

awalnya sih saya bingung karena anda tidak bisa dengan cermat memahami setiap sanggahan yang sampai kepada anda. Akibatnya anda [dan termasuk alfanarku] terus mengulang-ngulang logika yang sama padahal telah jelas ditunjukkan kalau logika tersebut cacat. Alhamdulillah pada akhirnya saya paham, ini bukan masalah paham atau tidak tetapi ini masalah “anda harus benar” dan “saya harus salah” makanya anda saya lihat kurang serius memahami komentar saya.

Tetapi jelas konteks dan urutan ayat sangat jelas berbicara tentang Nabi dan istri-istrinya yang tinggal dalam satu rumah tangga, tidak bicara sama sekali tentang ahlul bait yang lain,

Kalau begitu kenapa ayat yang turun cuma dari kata “innama”. kalau begitu mengapa Ummu Salamah sampai akhirnya ia meriwayatkan hadis tersebut ia tetap tidak merasa sebagai ahlul bait yang dimaksud. Anda silakan saja kalau mau menentang fakta yang begitu jelasnya.

justru Ummu Salamah dikatakan Nabi sudah dalam kebaikan sehingga yang dido’akan ya tentunya yang belum dapat kebaikan (ayat pembersihan).

Apakah Nabi SAW ketika menyelimuti Nabi SAW berdoa “ya Allah SWT berikan kebaikan pada mereka”. Rasulullah SAW justru menegaskan bahwa mereka adalah Ahlul Bait. Jika memang Ummu Salamah adalah ahlul bait dalam ayat tersebut seharusnya Rasulullah SAW menggunakan lafal yang jelas yaitu “ahlul bait” bukan dengan term “dalam kebaikan” adanya perbedaan term ya karena maknanya beda. Nabi SAW menolak Ummu Salamah sebagai ahlul bait dengen mencegahnya tetapi beliau tetap menyenangkan Ummu Salamah yaitu dengan menyatakan bahwa ia dalam kebaikan. Penolakan Rasul SAW adalah penolakan yang sangat baik dan sesuai dengan akhlak mulia Beliau SAW.

Maka itulah perlunya hadits tersebut, untuk menunjukkan bahwa Fatimah dan keluarganya termasuk yang dido’akan Nabi sebagai ahlul bait dalam ayat tsb.

Mengapa Fathimah AS dan keluarganya diinginkan Nabi untuk masuk dalam ayat tersebut? padahal jika berpegang pada urutan ayat maka penyucian itu tekait dengan perintah khusus bagi wanita, nah mengapa Imam Ali AS dan kedua putranya AS harus masuk ke dalam ayat tersebut yang penyuciannya terkait dengan perintah khusus wanita?. bagaimana anda menjelaskan hal yang musykil seperti ini. bagi saya ini bukti kalau ayat tersebut tidak terkait dengan perintah sebelumnya artinya ayat tersebut turun terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya oleh karena itu tidak ada masalah Imam Ali dan Kedua putra Beliau AS adalah ahlul bait dalam ayat tersebut.

Ya jelas beda lah mas, pada hadits shalawat jelas-jelas Nabi mengajarkan umatnya untuk bershalawat untuk beliau, sedangkan hadit kisa’ adalah mencatat kejadian ketika Nabi sedang berdo’a untuk keluarga Fatimah. Beda kasus mas

Namanya analogi sudah jelas peristiwanya beda, siapapun tahu itu. Seharusnya yang anda perhatikan adalah persamaan keduanya yang saya tanpilkan. kedua peristiwa itu sama-sama menyatakan hal yang sudah ditetapkan tetapi Rasulullah SAW tetap menyampaikan dengan lafal yang anda katakan “doa”. Logika anda itu kan seolah-olah adanya doa berarti sebelumnya ahlul kisa’ itu bukan termasuk dalam ayat tersebut. nah saya tunjukkan peristiwa lain dimana tetap saja ada “doa” padahal hal tersebut sudah terjadi yaitu Allah SWT telah bershalawat kepada Nabi. Terus Nabi SAW mengajarkan agar kita bershalwat dengan doa “Ya Allah sampaikanlah shalawat kepada Nabi”. apakah adanya doa ini menunjukkan kalau Allah SWT belum bershalwat kepada Nabi SAW. Kalau anda tidak bisa memahami dengan cermat komentar orang lain maka anda tidak perlu berkomentar panjang-panjang.

Dan tidak diragukan berhubungan juga dengan Nabi sebagai sayyidul bait.

para sahabat yang dekat dengan Nabi SAW pun selalu berhubungan dengan Nabi, karena Nabi adalah sayyid bagi mereka. Lantas apakah setiap ayat yang ditujukan untuk para sahabat berlaku untuk Nabi SAW. Apakah ketika digunakan lafal “kum” agar orang-orang beriman mentaati Allah SAW dan RasulNya maka Nabi SAW juga ikut dalam ayat tersebut. Rasul SAW disuruh taat kepada Allah SWT dan RasulNya, logika rusak yang muncul dari premis-premis anda.

Apakah menurut anda perintah “tetaplah di rumah” itu berarti tidak boleh keluar sama sekali walaupun itu mungkin adalah untuk hal syar’i? sekarang tinggal anda punya definisi kayak apa tentang perintah itu.

Lagi-lagi anda tidak menjawab pertnyaan saya. Alih-alih menjawab anda malah mengajukan pertanyaan kepada saya. Sekalian saja anda bilang Aisyah RA melakukan hal syar’i sehingga ia boleh keluar rumah. Itukah maksud anda? kalau iya maka saya katakan, hal yang syar’i bagi istri Nabi SAW itu sudah dijelaskan dalam al ahzab yaitu agar mereka tetap di rumah mereka, jangan berhias dan taatilah Allah SWT dan RasulNya. Lagipula apakah hal syar’i yang anda maksud?. Apakah istri-istri Nabi SAW yang lain selain Aisyah tidak mengerti hal syar’i yang anda maksud?. Kalau anda mengakui istri Nabi SAW tidak maksum maka akui saja kalau Aisyah RA keliru ketika ia keluar rumah memimpin orang-orang. Memangnya apa yang ingin dilakukan oleh Aisyah RA dengan keluar rumah?. Kalau Beliau SAW ingin mengajak umat bersatu maka cukuplah Beliau SAW menulis surat atau menyampaikan pesan kepada orang-orang agar mentaati khalifah yang sah dan telah dibaiat pada saat itu yaitu Imam Ali. Apapun yang telah dilakukan Aisyah RA adalah ijtihad Beliau, saya tidak mau merendahkan Aisyah RA sebagai istri Nabi SAW tetapi bukan berarti saya menyatakan bahwa yang Beliau lakukan benar. Bagi saya pribadi, sikap istri-istri Nabi SAW lainlah yang benar karena mereka tetap tinggal di rumah mereka. Jadi kembali saya ingatkan apakah kesalahan Aisyah RA di atas dimana ia tidak tetap dirumah itu telah menodai kesucian Nabi SAW? silakan dijawab dengan lugas, ya atau tidak kemudian jelaskan :)

Ya jelas karena pada ayat tersebut Ummu Salamah melihat Nabi mendo’akan keluarga Fatimah agar mereka dibersihkan oleh Allah, dan itulah yg diceritakan oleh beliau tidak yang lain-lain.

Inilah yang saya sebut logika basa basi. Jelas-jelas dalam kata-kata kesaksian Ummu Salamah ia mengatakan ada ayat yang turun. nah kalau berpegang pada urutan ayat maka ayat yang turun dimulai dari kata “hai sitri-istri Nabi” kalau memang ayat yang turun mencakup ayat sebelumnya maka mengapa lantas Ummu Salamah memotong atau memenggalnya. Kalau anda mau bilang itu karena Rasul SAW memperluasnya, lha bukankah menurut anda ayat tersebut turun dulu baru kemudian diperluas. Artinya ya ayat tersebut turun seluruhnya dulu kemudian baru yang khusus kata innama diperluas oleh Nabi SAW, kok malah faktanya Ummu Salamah hanya menyatakan ayat yang turun dimulai dari kata “innama”?. Dan ini sangat wajar dengan sikap Ummu Salamah, toh ia tidak merasa kalau ayat tersebut tertuju untuknya karena ketika ayat tersebut turun tidak ada kata-kata “hai istri-istri Nabi”. Kalau ada, maka Ummu Salamah gak perlu berharap ikut masuk bersama ahlul kisa’ sebagai ahlul bait.

Memang istri-istri Nabi bukanlah orang-orang maksum, makanya mereka hendak dibersihkan oleh Allah karena kedudukan mereka adalah sebagai istri-istri Nabi, termasuk perbuatan mereka yang diceritakan dalam ayat tsb. Dan Allah telah mentarbiyah mereka, meluruskan yang keliru, itu semua akhirnya untuk kebaikan mereka dan tentunya untuk kebaikan Nabi juga dan akhirnya mereka memilih untuk bertaubat untuk mendapatkan kebahagiaan akhirat. Perbuatan mereka jika tidak diluruskan oleh Allah tentunya akan mengurangi kinerja Nabi sebagai Nabi Allah, karena Nabi sempat mengharamkan menggauli salah satu istri beliau, sehingga kemudian beliau ditegur oleh Allah dan kemudian Allah menegur istri-istri beliau tersebut dan meluruskan segala kekeliruan. Jadi apa yg mereka perbuat berpengaruh terhadap pribadi beliau karena mereka adalah orang terdekat beliau di rumah beliau dan Allah pun meluruskannya dan membersihkan mereka dari dosa, tentunya pada akhirnya untuk menjaga kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Happy ending dech jadinya.

Anda tetap tidak menjawab pertanyaan saya. Apakah ketika Aisyah dan Hafsah yang dimaksud dalam ayat tahrim itu melakukan kekeliruan atau kesalahan maka itu telah melanggar kesucian Nabi SAW?. silakan dijawab dulu, Allah SWT mentarbiyah mereka ya karena mereka adalah istri-istri Nabi SAW tetapi apakah jika istri Nabi SAW berbuat salah maka itu menodai kesucian Nabi SAW. Apakah Nabi SAW jadi tidak mulia jika ada istrinya yang berbuat salah?. Mengapa dalam ayat tersebut ada kata-kata “Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhan-Nya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan [At Tahrim ayat 5].

Ngomong-ngomong soal ayat At Tahrim ada analogi yang bagus buat anda [dan termasuk alfanarku]. Di ayat tersebut firman Allah SWT menggunakan kata “istri-istriMu” nah pertanyaan saya, apakah itu untuk semua istri-istri Nabi SAW? kalau tidak bagaimana anda bisa tahu, dan mengapa para penerjemah memasukkan nama Aisyah dan Hafsah padahal tidak ada tuh tertulis dalam ayatnya. Nah dari mana mereka tahu kalau ayat tersebut tertuju pada kedua istri nabi Hafsah dan Aisyah?. Hayo dari mana, dari urutan ayat :mrgreen:

Sudah saya jawab di atas, tinggal bagaimana anda mendifinisikan “tetap tinggal di rumah” tersebut, kalau anda memahami “tetap tinggal di rumah” adalah tidak boleh keluar sama sekali walaupun untuk keperluan syar’i, terus terang saya tidak sependapat.

Ngomong-ngomong Istri Nabi SAW setelah wafat Nabi SAW pergi haji tidak? nah silakan dijawab, itu syar’i kan :)

Sudah saya sampaikan Allah menghendaki kemuliaan Nabi Muhammad dengan kemuliaan yang sempurna sehingga tidak ada celah bagi para pencela, maka Allah tarbiyah ahlul bait beliau dan membersihkan mereka, yang hal itu menunjukkan keutamaan beliau dibandingkan Nabi-Nabi yang lain,

Maaf anda belum menjawab pertanyaan saya, apakah jika istri Nabi Luth AS atau Nabi Nuh AS menyimpang maka kedua Nabi tersebut jadi tidak suci atau kesuciannya ternoda?.

dimana pada Nabi2 yang lain kadang ada istrinya yang durhaka atau anaknya. tentunya hal ini membuat point mereka menjadi berkurang dan jadi bahan celaan bagi musuh2 mereka,

poin? siapa nih yang sedang berebut poin, dan siapa yang menentukan poin para Nabi, anda kah? saran saya silakan berhati-hati menggunakan kata-kata untuk membela keyakinan anda. dipikirkan dulu dengan baik. Adakah Allah SWT menyatakan poin Nabi Luth atau Nabi Nuh berkurang? atau adakah Allah SWT mengkritik kedua Nabinya karena perkara istri mereka?. Ngomong2 kerabat Nabi lain yang dinyatakan kafir oleh salafy seperti kedua orang tua Nabi dan paman tercinta Nabi Abu Thalib, adakah anda merasa risih? atau mari saya bertanya pada anda apakah hal itu menodai kesucian Nabi SAW? atau dengan bahasa anda poin Nabi berkurang?. saya malah bingung

apalagi Allah telah mengukuhkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah uswatun hasanah, maka hal ini adalah pengukuhan yang menuntut adanya keniscayaan teladan dalam segala aspek kehidupan beliau, termasuk hal kepemimpinan dalam rumah tangga beliau, sebagaimana ayat kuu anfusakum wa ahlikum naaro. Saya kira sudah begitu jelas maksud saya.

Bagaimana dengan kasus Abu Thalib RA, apakah anda mau mempermasalahkan dakwah Nabi?. bukankah menurut anda keniscayaan uswatun hasanah, saya lihat logika anda itu logika hasil, artinya keteladanan seseorang dilihat dari hasilnya. Jika istri Nabi melanggar perintah Nabi maka apakah anda mau mengatakan Nabi tidak bisa memimpin rumah tangga?. logika hasil yang memaksa, seolah-olah karena Nabi maka semua yang dibawah kepemimpinannya akan selalu baik, padahal namanya manusia yang dipimpin ada yang baik dan ada pula yang buruk. Apakah jika suatu umat menolak untuk beriman maka akan adan katakan bahwa Nabi itu tidak bisa menyampaikan dakwah?. Apakah jika Nabi memimpin suatu kaum maka tidak akan ada diantara kaumnya ingkar? apakah jika ada diantara orang atau kaum yang dipimpin Nabi melakukan penyimpangan maka Nabi tidak bisa memimpin?. Apakah semua itu membuat poin Nabi berkurang? jujur saja jawaban anda malah membuat saya semakin bingung.

Saya tidak berbasa basi, justru anda lah yang seharusnya juga berintrospeksi diri.

Kalau tidak mau berbasa basi ya jawablah dengan jelas, introspeksi itu tugas setiap orang kan :)

Saya sudah jelaskan maksud saya di atas, saya kira cukup jelas yaitu menyangkut kemuliaan yang sempurna dari Allah kepada penghulu para Nabi.

Saya deskripsikan untuk anda. Diantara istri Nabi SAW selepas Nabi SAW wafat ada yang melakukan kesalahan yaitu Aisyah RA. Beliau tidak seperti istri Nabi yang lain malah keluar rumah dan memimpin orang-orang hingga terjadi “perang Jamal”. Beliau Aisyah RA pun mengakui kesalahannya. Nah apakah dengan ini anda akan menyatakan kemuliaan Nabi SAW tidak sempurna?. Contoh lain Nabi SAW punya banyak sahabat yang beliau didik dan diantara mereka ternyata ada yang terbukti melakukan kesalahan dan penyimpangan termasuk diantaranya Abu Bakar dan Umar yang pernah melarang haji tamattu. Apakah kesalahan sahabat ini menunjukkan kemuliaan Nabi SAW jadi kurang sempurna? silakan dijwab dengan baik dan tidak perlu basa-basi. :)

Saya sudah jawab, bagaimana dg anda? Akankah anda akan melebar kemana-mana?

Kan saya bilang jawab dengan fokus, saya ingin membuktikan kepada anda bahwa kesucian Nabi SAW adalah suatu sifat yang niscaya diberikan Allah SWT tidak mesti tergantung dengan manusia yang berinteraksi dengan Nabi SAW. Jika istri Nabi SAW tidak taat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya maka Allah SWT akan mengganti dengan istri lain yang lebih taat. Itulah firman Allah SWT dan maaf sangat bertentangan dengan premis anda.

Para ulama sudah menjelaskannya, malah maaf penjelasan anda yg terlihat rancu dan dipaksakan.

Ulama yang mana ya, kayaknya anda belum bilang tuh. kalau cuma begitu orang lain pun bisa berkata “para ulama sudah menjelaskannya”. :)

Tetapi banyak ulama sunni yang berpendapat bahwa ayat tersebut untuk istri-istri Nabi dan juga ada yang mengkompromikan keduanya, anda juga mengetahuinya kan? jadi siapa yang berbasa basi?

lho maaf ya anda ini yang terbukti berbasa-basi. Anda boleh saja bilang banyak tetapi seyogianya anda menyebutkan dulu siapa-siapa mereka, begitulah caranya berhujjah, bila perlu referensi anda mengutip. Yang anda lakukan itu cuma pengakuan, dan setiap orang bisa ngaku-ngaku, pengakuan anda bisa benar dan bisa pula salah. kalau tidak mau dikatakan berbasa-basi ya to the point saja, kalau memang tahu sebutkan, kalau tidak tahu ya katakan tidak tahu, kalau lupa ya katakan lupa. jangan pakai logika “katanya” atau “katanya”. Berhujjah dengan gaya begitu yang saya sebut basa-basi

Saya tidak memfitnah, itu kenyataan yang ada. Kalau anda tidak tahu atau merasa ya bukan salah saya

kenyataan apa? kenyataan karena anda berkata begitu?. Apa dasar anda? apa bukti anda? pengalaman anda ketemu orang syiah?. lho pengalaman saya beda terus gimana. Saya juga pernah tuh pengalaman ketemu orang islam [sunni] yang suka menghina dan mensesatkan orang? terus apa saya bilang “begitulah Sunni” wah wah bisa rusak pikiran saya kalau menuruti cara kerja pikiran anda :)

Saya pun sering berdiskusi dengan mereka, dan kenyataan mereka memang meremehkan para sahabat Nabi dan istri-istri beliau, silahkan anda berselancar di internet atau di blog anda sendiri, fakta yang berbicara, maka tidak perlu adanya basa basi mengenai mereka.

Itu karena anda gak berada di posisi mereka, bagi mereka mungkin anda kali yang akan dituduh menghina atau merendahkan ahlul bait. Anda gak terima sambil berkata “itu fitnah saya mencintai ahlul bait” lalu mereka berkata “bohong mana mungkin mengaku mencintai ahlul bait tetapi memuliakan mereka yang menyakiti ahlul bait”. Kan sudah saya bilang anda tidak mau mengerti mereka maka sama mereka pula tidak mau mengerti anda. Mau bilang mereka sesat, ya sama anda dibilang mereka sesat. teruslah begitu sampai tua dan saya gak ikut-ikutan. Mau sibuk merasa-rasa ya silakan, saya sih jalan terus menyisihkan untaian benang kusut satu-satu :mrgreen:

***********************

.

secondprince, on Maret 23, 2010 at 3:34 pmsaid:

@edi

1. saya tidak melihat kerancuan dari al-ahzab : 33, semuanya sangat jelas dan berurutan dan terdapat penjelasannya, dalil-dalil dari Al-Qur’an dan sunnah menunjukkan bahwa istri-istri Nabi adalah sebagai ahlul bait dalam ayat thathir dan ahlul kisa’ pun masuk dalam pengertian ahlul bait yang dibersihkan dalam ayat tersebut berdasarkan do’a Nabi dalam hadits kisa’

Silakan anda berpendapat begitu, anda mau mengatakan anda yang paling benar juga gak ada masalah karena bagi saya yang namanya pengakuan setiap orang bisa merasa-rasa. Anda boleh berkata tidak rancu yang jelas saya sudah menjelaskan panjang lebar kerancuan anda, kalau anda tidak mau melihat atau menutup mata ya silakan, lagi-lagi gak ada gunanya buat saya. Kalau mau berdiksusi maka anda harus fokus dengan argumen lawan bicara anda bukannya fokus dengan perasaan anda :mrgreen:

2. ayat pembersihan untuk ahlul bait Nabi adalah sebesar-besar kenikmatan yang diberikan kepada Nabi-Nya sebagai anugrah untuk sang penghulu Nabi dan Rasul agar kemuliaan beliau semakin sempurna.

Sudah jelas itu,kita disini cuma beda siapa yang dimaksud ahlul bait dalam ayat tersebut :)

3. yang saya maksud poin adalah bagi musuh-musuh para Nabi, dengan dibersihkannya ahlul bait beliau menutup celaan dari para pencela di kalangan musuh-musuh beliau (orang2 kafir, munafik dll). bukan dari kalangan yg mendukung beliau. saya kira sudah jelas maksud saya, dan hal itu sebagai anugrah untuk penghulu para Nabi, silahkan jika anda masih bingung.

Maaf anda ini tidak konsisten dengan argumen anda sendiri, terkadang bilang begini terkadang bilang begitu. Bukankah telah dijelaskan kepada anda bahwa pembersihan tersebut jika berpegang pada urutan ayat maka bersifat syar’i artinya tergantung perbuatan para istri Nabi SAW nantinya. Yang kita bahas kan adalah mengenai kesucian Nabi, apakah jika istrinya berbuat salah maka itu menodai kesucian Nabi SAW? ini kan gara-gara premis yang anda ajukan sebelumnya. Lucunya sekarang anda malah komentar bahwa “istri Nabi bukan kafir”. anda ini sedang melucu atau tidak tahu cara berdiskusi ya, siapapun juga tahu kalau istri Nabi bukan kafir, yang kita bahas kan jika istri Nabi SAW melakukan kesalahan, apakah kesalahan mesti disamakan dengan kafir. :)

4. anda harus bedakan istri Nabi Luth dan Nabi Nuh adalah perumpamaan orang yg kafir sebagaimana yg disebutkan dlm Al-Qur’an, sedangkan istri-istri Nabi SAW, walaupun mereka pernah berbuat keliru karena sifat mereka sebagai manusia biasa yang punya rasa cemburu thd suami mereka, tetapi tidak ada satu dalil pun yg mengatakan mereka telah kafir karena kekeliruan mereka tersebut. jelas bedanya kan?

Memang jelas bedanya, yang saya harapkan anda mengerti persamaannya. jika istri Nabi bisa kafir dan kekafiran mereka tidak menodai kesucian Nabi seperti Nabi Nuh dan Nabi Luth maka apalagi kalau cuma sekedar kesalahan. Wajar saja istri Nabi SAW yang tidak maksum bisa salah dan kesalahan mereka tidaklah menodai kesucian Nabi SAW. pahamkah? ah rasanya tidak :mrgreen:

keluarga terdekat beliau adalah keturunan dan istri-istri beliau, dan berada bawah kepemimpinan beliau, yg berhubungan dg kedudukan beliau sbg sayyidul bait dalam rumah tangga harus sesuai ayat kuu anfusakum wa ahlikum naaro. dan ayat tsb tidak berlaku untuk ahlul bait yg lain ataupun umat beliau, Abu Thalib tidaklah termasuk dalam rumah tangga beliau, sedangkan kedua orang tua beliau telah meninggal di saat beliau masih kecil. saya kira hal ini sudah jelas.

Logika anda yang sederhana itu juga tidak hanya berlaku buat istri Nabi tetapi juga berlaku buat para sahabat Nabi. Bukankah mereka para sahabat berada di bawah kepemimpinan Beliau sebagai Sayyid mereka. Nah jika akhirnya para sahabat melakukan kesalahan bahkan diantara mereka terjadi perperangan apakah itu semua menodai kesucian Nabi SAW?. Jelas tidak, Nabi SAW telah memimpin dengan baik telah menyampaikan dan menjelaskan dengan baik nah semuanya kembali kepada para manusianya.

5. ayat yg anda sebutkan mengenai istri-istri Nabi adalah bentuk peringatan kepada mereka agar ta’at dan akhirnya mereka pun memilih keta’atan dan tetap menjadi istri Nabi baik di dunia maupun di akhirat.

Inilah salah satu contoh anda tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan, lha jelas sekali ayat tersebut untuk istri Nabi tidak ada yang menolak. Saya kan cuma mau menunjukkan lemahnya premis anda yang menyamakan antara Nabi dengan istri-istri Beliau. seolah jika istri Beliau salah maka Nabi jadi gak suci lagi. gak ada yang begini kecuali paham anda sendiri.

6. Hidayah adalah milik Allah, memang jika anak ataupun istri Nabi kafir misalnya, tidaklah akan mengurangi kemuliaan beliau,

Nah ini yang seharusnya anda akui dari awal, bukannya malah berkomentar panjang tak jelas :)

tetapi yg saya maksud adalah pembersihan thd mereka oleh Allah adalah merupakan anugrah untuk kemuliaan Nabi yang sempurna, sehingga orang kafir pun tertutup pintu untuk mencela beliau, anda tentu mengetahui haditsul ifki, tentang berita bohong mengenai A’isyah ra, bagaimana hal tsb berpengaruh thd Nabi, hingga Allah menurunkan ayat untuk membersihkan Aisyah. jadi viewnya kemuliaan beliau dilihat dr sisi luar (musuh2 beliau). dan Allah tidak menghendaki hal spt itu trjd pada diri beliau. inilah maksud saya dan kenyataan bahwa anak dan istri beliau tidak ada satupun yg kafir, tetapi mereka adalah orang2 yg ta’at dan istri2 beliaupun menjadi ummahatul mukminin. kekeliruan yg pernah terjadi adalah bagian dari proses tarbiyah. jadi yg kita bicarakan adalah tentang Nabi SAW yg sudah terjadi, ga perlu pengandaian2 lg.

Tidak ada masalah yang ini, yang jadi masalah dari awal adalah anda menjadikan ini sebagai hujjah untuk kata ganti “kum”. Bukankah anda mengatakan kalau digunakan kata ganti “kum” karena pada dasarnya menyucikan Nabi juga. Nah hujjah anda inilah yang keliru dari awal. Kenapa? karena penyucian dalam urutan ayat tersebut tergantung perintah dan larangan maka penyucian tersebut ya tergantung individu yang dikenakan perintah tersebut yaitu khusus untuk istri-istri Nabi, maka kata ganti yang digunakan haruslah “kunna”. Apakah kalau digunakan kata “kunna” maka penyucian terhadap istri Nabi SAW tidak ada sangkut pautnya dengan Nabi?. cek tuh kata “buyutikunna” rumah istri Nabi adalah rumah Nabi SAW juga, mengapa Allah SWT gak pakai kata “kum” apakah itu bukan rumah Nabi SAW? ya jelas rumah Nabi SAW siapapun tahu itu, tapi gak mesti pakai kata ganti “kum” justru Allah SWT menggunakan kata “kunna” untuk mengkhususkan kalau yang sedang diajak bicara oleh Allah SWT itu adalah mereka khusus istri-istri Nabi. Lantas mengapa ketika kata “kum” di ayat tathir anda mengatakan itu penyucian untuk Nabi SAW juga karena otomatis penyucian terhadap istri Nabi juga berarti mensucikan Nabi?. siapapun tahu kali kalau istri Nabi SAW disucikan maka itu akan ada efeknya buat Nabi. artinya Beliau punya istri yang mentaati Allah SWT dan Rasulnya, tetapi sebagaimana kata buyutikunna yang sedang diajak bicara itu kan istri-istri Nabi jadi kata ganti yang digunakan ya tetap “kunna” mengapa harus kum. “kum” menandakan yang diajak bicara adalah laki-laki dan wanita bukan khusus wanita. Saya ulangi rumah istri Nabi itu kan rumah Nabi juga tapi kenapa Allah SWT pakai kata “buyutikunna” gak pakai buyutikum kan sama dengan logika anda “penyucian istri Nabi kan ujungnya penyucian Nabi juga”. so kenapa mesti pakai kata “kum” gak ada keharusan tuh. Jelas kata ganti disini merujuk pada siapa yang dituju oleh Allah SWT bukannya dengan logika anda yang “penyucian istri Nabi ya mengikutkan Nabi” lha sama dengan “rumah istri Nabi ya rumah Nabi” tetapi Allah SWT tetap pakai kata “buyutikunna”.

7. mungkin kita berbeda memahami insiden Jamal dan keluarnya Aisyah ra. demikian juga mengenai ijtihad Abu Bakar, Umar, Utsman maupun Ali. jika mereka keliru dalam berijtihad ya karena mereka manusia biasa dan tentunya tidak sebanding dengan keutamaan mereka berdasarkan ayat Alqur’an dan hadits yg menyinggung tentang mereka.

Apanya yang beda, jelas-jelas anda mengakui kalau mereka bisa keliru. Nah bagi saya Aisyah RA keliru dalam perkara ini, nah apakah kekeliruan beliau ini akan menodai kesucian Nabi SAW?. Tidak akan ada yang bilang begitu kecuali orang yang terperangkap nafsu ingin membantah saja. Kekeliruan Aisyah RA tidak menodai kesucian Nabi SAW. Kesucian Nabi SAW adalah sesuatu yang niscaya diberikan oleh Allah SWT

8. Hadits Kisa’ bukanlah asbabun Nuzul al-ahzab : 33, menurut hadits Tirmidzi, ayat tsb turun duluan baru mereka dipanggil. maka jelas hadits kisa’ adalah tambahan makna ahlul bait dalam ayat itu bukan asbabun nuzul. jadi simpan saja analogi anda itu.

Apalagi argumen anda yang ini, menunjukkan anda tidak mengerti apa itu asbabun nuzul. Jika memang ayat yang ingin disampaikan terkait hukum-hukum syariat tertentu maka memang biasanya ada peristiwa yang mendahului, lha ayat ini kan tentang Allah SWT yang berkehendak menyucikan ahlul bait dan memuliakan mereka. Nah ketika ayat ini turun Rasul SAW langsung memanggil mereka yang dituju oleh ayat tersebut makanya disebut asbabun nuzul. Kalau memang sekedar perluasan saja maka Nabi SAW tidak perlu buru-buru, tugas Nabi SAW terlebih dahulu adalah menyampaikan wahyu kepada siapa yang dituju dalam wahyu tersebut. jika memang ayat tersebut turun dan untuk istri-istri Nabi SAW maka ketika ayat itu turun Nabi SAW akan langsung memanggil istri-istri Beliau SAW dan menyampaikan ayat perintah dan larangan tersebut kepada mereka, setelah selesai barulah melakukan perluasan. Itu kalau logika anda dan alfanarku yang benar tetapi faktanya tidak begitu, Rasul SAW tidak memanggil istri Beliau malah langsung memanggil ahlul kisa’. Hal ini bukti kalau ayat tersebut turun untuk mereka bukan istri Nabi. Jadi silakan anda simpan logika cacat milik anda dan alfanarku, hujjah anda itu sudah terjawab semua disini. Jadi kalau anda tidak punya jawaban lain ya silakan cukupkan diri.

9. Justru karena rasulullah adalah manusia yang suci, maka Allah berkehendak untuk membersihkan ahlul bait beliau yaitu istri2 beliau plus anak cucu beliau, jadi pembersihan itu jelas ada hubungannya dg beliau kan.

Terus kerabat Nabi SAW Beliau lain gimana? mana keluarga Ja’far? mana keluarga Abbas?. lho padahal ada hadis shahih yang bilang mereka adalah ahlul bait yang diharamkan menerima sedekah. Kenapa mereka gak masuk ayat tersebut?. Artinya tidak semua kerabat mendapat ayat tathir hanya ahlul bait tertentu saja dan siapa mereka ya dijelaskan oleh Rasul SAW sendiri yaitu ahlul kisa’.

10. Tentang Syi’ah sangat jelas sekali bahwa paham mereka berusaha menghancurkan agama ini, yaitu menjarh generasi awal Islam yg membawa agama ini.

Anda gak usah terlalu sibuk dengan logika cacat yang diulang-ulang. Saya tanya anda, apakah anda mengambil agama islam ini dari para sahabat langsung? jawabannya pasti tidak, ada berapa generasi yang dilewati?. Saya tanya apakah semua generasi tersebut tidak bisa disalahkan jika mereka memang salah?. Heh lucu logika anda ini yang kayaknya cuma mengulang logika basi : para sahabat telah menyampaikan agama ini kepada kita jadi tidak boleh menyatakan mereka cacat atau keliru. lantas bagaimana dengan generasi tabiin terus tabiit tabiin dan seterusnya yang ternyata banyak sekali pribadi2 dhaif yang dicacat para ulama padahal generasi2 itu menyampaikan agama kepada anda. Jadi main tebang pilih saja kan.

konsekuensi dr paham mereka adalah Nabi telah gagal berdakwah selama 23 th karena sebagian besar sahabatnya saat itu telah menyimpang dengan tidak memilih Ali sebagai khalifah,

Saya tidak bermaksud membela Syiah, tetapi justru logika anda inilah yang cacat. Nabi SAW tidak gagal berdakwah, Beliau SAW telah menyampaikan dengan jelas apa yang harus disampaikan. maka semuanya itu kembali kepada para sahabat sendiri. Kalau memang para sahabat dikatakan salah, terus kenapa? bukankah anda mengakui kalau mereka tidak maksum?. Apa kalau para sahabat salah lantas Nabi SAW gagal berdakwah?. Kenapa anda gak pakai bilang mereka para sahabat berijtihad dalam perkara kekhalifahan ini dan mereka keliru, salah satu pahala benar dua pahala. Sedangkan nash yang jelas menunjukkan Imam Ali sebagai khalifah maka itulah yang benar karena Rasulullah SAW lebih layak untuk diikuti. Nah silakan lihat sendiri saya kasih contoh tuh bagaimana bersikap tanpa mengkafirkan para sahabat Nabi.

padahal Allah sendiri yang telah memenangkan agama-Nya melalui mereka dan memuji mereka. dan konsekuensinya juga adalah hampir semua riwayat adalah cacat karena sebagian besar sahabat dicacat oleh mereka.

Saya tanya nih apakah setiap kesalahan sahabat membuat mereka menjadi cacat sepanjang masa? sehingga tidak bisa dijadikan hujjah?. Saya rasa saya telah menunjukkan berbagai kesalahan yang dilakukan sahabat termasuk Abu Bakar dan Umar, dan tidak ada tuh saya mengkafirkan mereka karena kesalahan tersebut. Saya tetap memakai hadis-hadis mereka disini. logika anda itu seolah manusia itu kalau tidak hitam seluruhnya maka ia harus putih seluruhnya. siapapun tahu kali kalau logika seperti itu tidak benar :)

daya rusak mereka lebih dahsyat drpda kaum tartar. maka tidak ada kompromi / rasa merasa dg mereka, sudah jelas kok bahaya paham mereka. tapi silahkan jika anda membelanya. kita pun sedang menguntai benang2 yg kusut yg telah dikusutkan oleh mereka.

Jangan sok deh, anda justru membuat yang kusut malah jadi lebih kusut. Yang saya bela adalah yang benar, kalau anda yang benar saya tidak keberatan membela anda. Dalam soal rasa merasa baik anda maupun mereka gak ada yang benar. Yah namanya saja rasa merasa ya sama-sama merasa benar. Kalau mau mencari yang benar maka bukan dengan pamer pengakuan tetapi dianalisis dengan tenang dan objektif dalil-dalil atau dasar-dasarnya. Anda saja yang sok merasa mereka lebih berbahaya dari kaum tartar, padahal anda sendiri tuh cuma bisa merasa-rasa sambil menuduh sesat. Mau bersikeras dengan tuduhan anda atau waham anda ya silakan. Saya tidak berniat mengubah diri anda, saya ya saya dan anda ya anda. Salam :)

**************************

.

secondprince, on Maret 22, 2011 at 1:10 pmsaid:

@Yantz

Bismillah…

salam SP..kalau benar anda dipihak yg benar..jawablah hujah ini…dan haruslah adil..jangan kerna anda tidak tahu menjawabnya lalu anda tidak mengapprove komentar saya…lalu orang2 sunni disini tidak mengetahui hakekat yg dapat mematahkan hujjah syiah..lagi sekali saya nasihatkan..tolonglah adil…kerna saya ada mengomentar tentang ini di blog syiahali.wordpress…tapi pemilik blog tdk mengapprove komentar saya..lalu org sekitarnya tidak mengetahui apa yg hakekatnya..yg dapat mematahkan hujjah syiah yg jahil dlm ilmu bahasa Arab..saya minta maaf kalau bahasa saya kasar..

Salam, saya akan menjawabnya dan tolong pahami jawaban saya baik-baik sebelum balik membantah karena maaf saya bosan mengulang jawaban apalagi kepada orang yang hanya mengandalkan kupipes :)

Pertama

Adakah ayat 33 surah al-Ahzab membicara subjek kemaksuman?

Jawapannya tidak. Perhatikan semula ayat 33 surah al-Ahzab:

Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud hendak menghilangkan dosa kamu wahai Ahl al-Bait dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya. [al-Ahzab 33:33][3]

Perhatikan bahawa Allah ‘Azza wa Jalla menggunakan perkataan Yuridu (يريد) yang bererti “kehendak” atau “keinginan” atau “bermaksud”. Kemudian perkataan Yuzhiba (يذهب) didahului dengan huruf Lam (ل) yang bererti “untuk” atau “supaya”. Justeru firman Allah:(إنما يريد الله ليذهب) hanyalah menerangkan “kehendak” Allah “untuk” menghilangkan dosa para Ahl al-Bait.

Seandainya Allah ingin menetapkan sifat maksum (bebas dari dosa dan suci), Allah akan berfirman dengan sesuatu yang bersifat menetapkan, umpama:

“Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dosa kamu wahai Ahl al-Bait dan telah membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Oleh itu Syi‘ah telah melakukan satu kesalahan yang amat besar lagi fatal apabila mereka mendakwa ayat 33 surah al-Ahzab membicara subjek kemaksuman. Yang benar ayat 33 surah al-Azhab tidak membicara subjek kemaksumam, jauh sekali daripada berperanan menetapkan sifat maksum kepada sesiapa, sama ada kepada para isteri Rasulullah atau kepada ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.[4]

Anda berpanjang-panjang menjawab padahal anda tidak memahami kalau Iradah Allah SWT itu ada yang bersifat takwiniyah dan ada yang bersifat tasyri’iyah.

Iradah takwiniyah adalah Iradah yang sifatnya langsung terjadi atau sebuah ketetapan. seperti pada ayat

Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya. Kami hanya berkata kepadanya “Jadilah” maka terjadilah ia [AnNahl ayat 40]

Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap Apa yang Dia kehendaki [Hud ayat 107]

Masih banyak ayat lain. Iradah dalam ayat di atas adalah iradah yang sifatnya ditetapkan oleh Allah SWT dan itulah makna Iradah dalam Al Ahzab 33. karena Iradah tersebut diawali dengan kata Innama yang bermakna hashr atau pembatasan.

Timbul soalan seterusnya, apakah maksud sebenar firman Allah dalam ayat 33 surah al-Ahzab? Jawapannya akan diperolehi dalam perbahasan kedua seterus ini.

Sebelum itu untuk memantapkan fahaman para pembaca, berikut dikemukakan contoh sebuah ayat yang juga menggunakan perkataan (يريد) dan (التطهير). Ia adalah ayat berkenaan perintah wudhu’, firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan sembahyang (padahal kamu berhadas kecil), maka (berwuduklah) iaitu basuhlah muka kamu, dan kedua belah tangan kamu meliputi siku, dan sapulah sebahagian dari kepala kamu, dan basuhlah kedua belah kaki kamu meliputi buku lali; dan jika kamu junub (berhadas besar) maka bersucilah dengan mandi wajib; dan jika kamu sakit (tidak boleh kena air), atau dalam pelayaran, atau salah seorang dari kamu datang dari tempat buang air, atau kamu sentuh perempuan, sedang kamu tidak mendapat air (untuk berwuduk dan mandi), maka hendaklah kamu bertayamum dengan tanah – debu yang bersih, iaitu: sapulah muka kamu dan kedua belah tangan kamu dengan tanah – debu itu.

Allah tidak mahu menjadikan kamu menanggung sesuatu kesusahan (kepayahan), tetapi berkehendak untuk membersihkan (طهر) kamu dan hendak menyempurnakan nikmat-Nya kepada kamu, supaya kamu bersyukur. [al-Maidah 5:06]

Perhatikan perenggan kedua ayat di atas. Seandainya Syi‘ah menafsirkan ayat 33 surah al-Ahzab sebagai menetapkan sifat maksum kepada Ahl al-Bait, maka dengan itu juga setiap orang beriman yang berwudhu’ akan memiliki sifat maksum juga. Ini kerana kedua-dua ayat 33 surah al-Ahzab dan ayat kelima surah al-Maidah mengunakan istilah Tahara (طهر) yang bermaksud “bersih” atau “suci”.

Iradah yang dimaksud dalam ayat yang anda kutip adalah Iradah yang bersifat tasyri’iyyah artinya ia terikat syariat tertentu. Jika kita melakukan syariat yang dimaksud dalm hal ini wudhu maka tujuan tersebut akan terlaksana yaitu tujuannya Allah SWT membersihkan orang-orang yang beriman. AL maidah ayat lima itu berbeda dengan Al Ahzab 33. Iradah dalam Al Ahzab 33 adalah Iradah yang dibatasi pada pribadi -pribadi tertentu yang disebutkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan tidak terikat dengan syariat tertentu. ditambah lagi pada lafaz akhir terdapat penekanan “wayuthahhirakum tathhiira” artinya “dan menyucikanmu sesuci-sucinya”. Jadi Iradah yang dimaksud disini bersifat takwiniyah bukan terikat syariat seperti contoh yang anda kutip.

Di sisi Ahl al-Sunnah, kedua-dua ayat 33 surah al-Ahzab dan ayat kelima surah al-Maidah tidak membicarakan sifat maksum mahupun menetapkan sifat maksum kepada orang yang dirujuk olehnya. Perhatikan, sebagaimana ayat 33 surah al-Ahzab, ayat di atas juga menggunakan perkataan Yuridu dan tambahan huruf Lam: …tetapi (Allah) berkehendak (يريد) untuk membersihkan (ل + يطهر = ليطهر) kamu dan…

Berdasarkan penggunaan perkataan Yuridu (يريد) dan tambahan huruf Lam (ل), maka ayat kelima surah al-Maidah ini tidak berperanan menetapkan sifat maksum kepada setiap orang beriman yang berwudhu’. Demikianlah juga bagi ayat 33 surah al-Ahzab, ia tidak berperanan menetapkan sifat maksum kepada Ahl al-Bait.

Satu hal lagi Iradah Tasyri’iyah tidak dibatasi, ia berlaku untuk seluruh orang yang terikat dengan syari’at. nah antara Al Ahzab 33 dan Al Maidah ayat 5 terdapat perbedaan nyata. Al Ahzab Iradahnya terbatas pada pribadi tertentu sedangkan Al Maidah Iradahnya untuk semua orang bahkan termasuk Ahlul Bait. Jadi Iradah dalam Al Ahzab 33 bersifat Takwiniyah sedangkan Iradah dalam Al Maidah ayat 5 bersifat Tasri’iyah.

Jawapan

Kedua: Adakah istilah Ahl al-Bait dalam ayat 33 surah al-Ahzab merujuk kepada para isteri Rasulullah atau ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain?

Jawapannya akan diperolehi dengan mengkaji keseluruhan konteks perbincangan ayat dari mula hingga akhir. Ia bermula dengan ayat 28 surah al-Ahzab:

Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: Sekiranya kamu semua mahukan kehidupan dunia (yang mewah) dan perhiasannya (yang indah), maka marilah supaya aku berikan kepada kamu pemberian mut’ah (sagu hati), dan aku lepaskan kamu dengan cara yang sebaik-baiknya. [al-Ahzab 33:28]

Dan sekiranya kamu semua mahukan (keredaan) Allah dan Rasul-Nya serta (nikmat kemewahan) di Negeri Akhirat maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi orang-orang yang berbuat baik di antara kamu: pahala yang besar. [al-Ahzab 33:29]

Wahai isteri-isteri Nabi, sesiapa di antara kamu yang melakukan sesuatu perbuatan keji yang nyata, nescaya akan digandakan azab seksa baginya dua kali ganda. Dan (hukuman) yang demikian itu adalah mudah bagi Allah melaksanakannya. [al-Ahzab 33:30]

Dan sesiapa di antara kamu semua tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta mengerjakan amal yang salih, Kami akan beri kepadanya pahala amalnya itu dua kali ganda, dan Kami sediakan baginya limpah kurnia yang mulia. [al-Ahzab 33:31]

Wahai isteri-isteri Nabi, kamu semua bukanlah seperti mana-mana perempuan yang lain kalau kamu tetap bertaqwa. Oleh itu janganlah kamu berkata-kata dengan lembut manja (semasa bercakap dengan lelaki asing) kerana yang demikian boleh menimbulkan keinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya (menaruh tujuan buruk kepada kamu), dan sebaliknya berkatalah dengan kata-kata yang baik (sesuai dan sopan). [al-Ahzab 33:32]

Dan hendaklah kamu tetap di rumah kamu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu; dan dirikanlah solat, tunaikanlah zakat; dan taatlah kamu kepada Allah dan RasulNya.

Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud hendak menghilangkan dosa kamu wahai Ahl al-Bait dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya. [al-Ahzab 33:33][5]

Dan ingatlah (serta amalkanlah) apa yang dibaca di rumah kamu dari ayat-ayat Allah (Al-Quran) dan hikmah pengetahuan (hadis-hadis Rasulullah). Sesungguhnya Allah Maha Halus Tadbir-Nya, lagi Maha Mendalam pengetahuanNya. [al-Ahzab 33:34]

Jelas daripada ayat-ayat di atas bahawa yang menjadi konteks perbincangan ialah tunjuk ajar serta perintah dan larangan Allah ‘Azza wa Jalla kepada para isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, radhiallahu ‘anhum. Firman Allah dalam ayat 33 ……Sesungguhnya Allah hanyalah bermaksud hendak menghilangkan dosa kamu wahai Ahl al-Bait dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya…… bukan suatu ayat yang terpisah daripada rangkaian ayat 28 hingga 34. Akan tetapi ia termasuk sebahagian daripada ayat-ayat tersebut. Ia berperanan menerangkan tujuan atau hasil yang ingin dikurniakan oleh Allah kepada para isteri Rasulullah dengan segala tunjuk ajar, perintah dan larangan tersebut.

Menjadikan ayat Al Ahzab 33 sebagai ayat yang berurutan sesuai dengan ayat sebelum dan sesudahnya jelas tertolak. Kenapa? karena jika memang berurutan maka ayat tersebut hanya tertuju pada istri-istri Nabi saja dan jika memang demikian maka kata ganti yang digunakan harus “kunna” bukannya “kum”. Adanya kata ganti “kum” menunjukkan ayat tersebut tidak berurutan berkaitan dengan istri-istri Nabi tetapi berkaitan dengan pribadi lain yaitu Ahlul Kisa’ dimana terhimpun laki-laki dan perempuan sehingga digunakan kata “kum”.

Oleh itu perkataan Ahl al-Bait dalam ayat 33 surah al-Ahzab tetap merujuk kepada para isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, radhiallahu ‘anhum. Jika ditafsirkan ayat 33 ini merujuk kepada ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, ia bererti ‘Ali, Hasan dan Husain diperintahkan untuk tetap berada di dalam rumah. Seterusnya mereka dilarang berhias (tabarruj) apabila berada di luar rumah. Ini adalah tafsiran yang menjauhi fakta yang benar dan pemikiran yang sihat kerana sedia diketahui bahawa ‘Ali, Hasan dan Husain sentiasa bergiat aktif di luar rumah dalam ekspedisi dakwah dan jihad. Lebih dari itu mereka terdiri daripada kaum lelaki yang tidak berhias sebagaimana kaum wanita. Justeru tidak mungkin menafsirkan perkataan Ahl al-Bait dalam ayat di atas sebagai merujuk kepada ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.

Seharusnya ini menjadi bukti kalau ayat tersebut tidak turun berurutan degan ayat sebelum dan sesudahnya. Berbagai hadis shahih sudah membuktikan kalau ayat tathir turun untuk Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein, Sayyidah Fathimah dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sangat tidak mungkin kalau Imam Ali Imam Hasan dan Imam Husein terikat syariat khusus wanita dari ayat sebelum dan sesudahnya. Maka satu2nya penjelasan yang mungkin adalah ayat tersebut tidak berkaitan dengan ayat sebelum dan sesudahnya.

Adapun beberapa petunjuk daripada al-Qur’an yang dikemukakan oleh Syi‘ah sebagai bukti bahawa ayat 33 surah al-Ahzab hanya merujuk kepada ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radhiallahu ‘anhum, ia dapat dijawab dengan mudah seperti berikut:

Jawapan Kepada Petunjuk Pertama:

Istilah Ahl al-Bait tidaklah mutlak merujuk kepada keluarga yang memiliki ikatan nasab sahaja. Ia juga merujuk kepada keluarga yang memiliki ikatan pernikahan. Berikut adalah satu contoh ayat al-Qur’an yang menggunakan istilah Ahl al-Bait ketika merujuk kepada isteri Nabi Ibrahim ‘alaihi salam.

Isteri (Nabi Ibrahim) berkata: Sungguh ajaib keadaanku! Adakah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua dan suamiku ini juga sudah tua? Sesungguhnya kejadian ini suatu perkara yang menghairankan.

Malaikat-malaikat itu berkata: Patutkah engkau merasa hairan tentang perkara yang telah ditetapkan oleh Allah? Memanglah rahmat Allah dan berkat-Nya melimpah-limpah kepada kamu, wahai Ahl al-Bait. Sesungguhnya Allah Maha terpuji, lagi Maha Melimpah kebaikan dan kemurahanNya. [Hud 11:72-73]

Istilah Ahlul Bait memang bersifat umum bisa karena ikatan perkawinan dan bisa karena ikatan nasab jadi untuk urusan siapa Ahlul bait dalam ayat tathir kita tidak usah mengira-ngira, cukup berpegang pada penjelasan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri] bahwa Ahlul Bait yang dimaksud adalah Ahlul Kisa’. Penjelasan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah satu-satunya penjelasan yang mutlak benar.

Jawapan Kepada Petunjuk Kedua:

Ayat 33 surah al-Ahzab yang bersifat maskulin (muzakkar) bukan kerana ia mengecualikan para isteri Rasulullah tetapi kerana ia merujuk kepada perkataan Ahl (أهل) yang sememangnya bersifat maskulin. Dalam kaedah bahasa Arab:

1. Apabila istilah Ahl bersifat maskulin, maka seluruh ayat akan bersifat maskulin juga sekalipun yang dibicarakan ialah berkenaan kaum wanita.

Keliru sekali, perhatikan lafaz “liyudzhiba ankummur rijsa”. nah kum disana merujuk pada kata apa?. Kum disana diucapkan sebelum kata “Ahlul bait” jadi kalau menuruti metode ayat berurutan maka kum disana merujuk pada istri-istri Nabi. Lho kok bisa begitu, ini tidak mungkin kalau berdasarkan kaidah bahasa arab untuk istri2 Nabi seharusnya digunakan kata “kunna”.

2. Ayat yang bersifat maskulin tidak mengecualikan kaum wanita kerana lafaz mazkulin boleh mewakili kedua-dua lelaki dan wanita.[6]

Tetapi tidak mungkin lafaz maskulin digunakan untuk ayat yang hanya khusus untuk kaum wanita. Bukankah anda bilang sebelumnya kalau al ahzab 33 hanya untuk istri-istri Nabi saja. Nah bagaimana bisa lafaz maskulin untuk wanita saja. Lafaz “Kum” adalah untuk wanita dan laki-laki yaitu Imam Ali Imam Hasan Imam Husain dan Sayyidah Fathimah.

Kedua-dua poin di atas merupakan kaedah yang amat asas dalam ilmu bahasa Arab.

Hujah ini sebenarnya menunjukkan kejahilan mereka (Syi‘ah) dalam bahasa Arab kerana kebanyakan mereka daripada bangsa Parsi tidak memahami bahasa Arab secara mendalam.

Sebenarnya yang berucap inilah yang lebih pantas untuk dikatakan tidak memahami kaidah bahasa Arab yang sangat jelas.

Jawapan Kepada Petunjuk Ketiga:

Syi‘ah menggunakan teguran Allah kepada para isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, radhiallahu ‘anhum dalam ayat 4 surah al-Tahrim sebagai hujah bahawa mereka (para isteri) tidak termasuk dalam ciri-ciri kemaksuman yang ditetapkan dalam ayat 33 surah al-Ahzab. Hujah ini tertolak dengan dua sebab:

1. Teguran Allah kepada para isteri Rasulullah bukanlah untuk merendahkan mereka tetapi kerana ingin memelihara mereka daripada sifat-sifat yang tidak baik. Para isteri Rasulullah radhiallahu ‘anhum adalah ibu kepada umat Islam seluruhnya sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala:

Nabi itu lebih menolong dan lebih menjaga kebaikan orang-orang yang beriman daripada diri mereka sendiri; dan isteri-isterinya adalah menjadi ibu mereka. [al-Ahzab 33:06]

Sebagai “ibu” umat Islam, para isteri Rasulullah menjadi teladan kepada para isteri orang beriman seluruhnya. Justeru apabila Allah menegur dan memberi tunjuk ajar, ia bukanlah kerana keburukan yang ada pada para isteri Rasulullah tetapi kerana Allah ingin menjadikan mereka sumber teladan atau rujukan kepada para isteri umat Islam seluruhnya.

2. Ayat 33 surah al-Ahzab tidak menetapkan sifat maksum kepada sesiapa, sama ada kepada para isteri Rasulullah mahupun ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Oleh itu sia-sia sahaja penghujahan Syi‘ah ini.

sudah dijelaskan bahwa Al Ahzab 33 menunjukkan kesucian pribadi yang dimaksud yaitu Ahlul Kisa’. Dalil shahih Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang shahih menetapkan kalau Ahlul Kisa’ lah pribadi yang dituju dalam Al Ahzab 33

Demikianlah jawapan Ahl al-Sunnah kepada petunjuk-petunjuk al-Qur’an yang dikemukakan oleh Syi‘ah untuk mengecualikan para isteri Rasulullah daripada istilah Ahl al-Bait. Kembali kita kepada persoalan asal yang sedang dibahas: Adakah istilah Ahl al-Bait dalam ayat 33 surah al-Ahzab merujuk kepada para isteri Rasulullah atau ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain?

Jawapannya: Istilah Ahl al-Bait dalam ayat 33 surah al-Ahzab merujuk kepada para isteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sahaja radhiallahu ‘anhum.

Jawaban ini kan cuma kupipes jawaban hafiz firdaus yang sudah lama sekali. Sebenarnya dari artikel di atas dan komentar-komentar saya sebelumnya sudah cukup jelas menjawab hujjah Hafiz Firdaus ini. Itulah jawaban saya dan tolong dibaca dulu artikel saya di atas beserta komentar2 saya disini.

_________________________

Komen-komen lainnya silahkan berkunjung ke SINI

___________________

TULISAN TERKAIT TENTANG AHLUL BAIT

  1. Ketika Pendengki Ahlulbait Suci Nabi saw. Sok Berlagak Membela Ahlulbait (1) Ahlul-bait 1
  2. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Hadis Tsaqalain) Ahlul-bait 2
  3. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Ayat Tathir) Ahlul-bait 3
  4. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Ahlul Bait Dalam Ayat Tathir Bukan istri-istri Nabi SAW) Ahlul-bait 4
  5. Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Ahlul Bait (Kerancuan Tafsir Ibnu Katsir dkk) Ahlul-bait 5
  6. Berpegang Teguh Pada Ahlul Bait Nabi SAW Atau Sahabat Nabi SAW  Ahlul-bait 6
  7. Ahlulbait as adalah Ahlu adz Dzikr Ahlul-bait 7
  8. Imam Besar Wahabi Ibnu taymiah: Pengutamaan Ahlul Bait Nabi saw adalah Peninggalan Jahiliyah Ahlul-Bait 8
  9. Bantahan Dan Tantangan Untuk haulasyiah: “Tak Ada Gunanya Membela Gembong Kaum Munafik!”  Ahlul-Bait 9
  10. Ayat Tathhir Khusus Untuk Ahlul Kisa’  Ahlul-Bait 10
  11. Dalil Ahlul Bait Bukanlah Istri-istri Nabi  Ahlul-Bait 11
  12. Hadis Yang Menjelaskan Siapa Ahlul Bait Yang Disucikan Dalam Al Ahzab 33  Ahlul-Bait 12
  13. Pengakuan Ummu Salamah : Dirinya Bukan Ahlul Bait Dalam Al Ahzab 33  Ahlul-Bait 13
  14. Analisis Hadis Kisa’ Dalam Musnad Ahmad  Ahlul-Bait 14
  15. Konsisten Dalam Inkonsisten [Menjawab Hujjah Salafy]  Ahlul-Bait 15
  16. Ahlul Bait Dalam Pandangan Imam Ali?  Ahlul-Bait 16
  17. Ahlul Bait Mengakui Kepemimpinan Mereka Dengan Ayat Tathhiir Ahlul-Bait 17

________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: