Dalil Ahlul Bait Bukanlah Istri-istri Nabi

Dalil Ahlul Bait Bukanlah Istri-istri Nabi

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar (SP)

Salah satu situs yang mengaku salafy pernah membawakan pembahasan istri-istri Nabi sebagai Ahlul Bait. Situs tersebut berhujjah dengan hadis shalawat yang ditujukan kepada Nabi, Istri-istrinya dan keturunannya. Ternyata banyak pula orang yang ikut-ikutan alias taklid kepada situs tersebut padahal hujjah seperti itu tidak ada nilainya di sisi orang yang memang mengenal ilmu hadis. Silakan perhatikan hujjah yang dimaksud. Situs itu membawakan riwayat Al Bukhari tentang shalawat

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد اللهم بارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [Shahih Bukhari no. 3370].

.

اللهم صل على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما صليت على آل إبراهيم. وبارك على محمد وعلى أزواجه وذريته. كما باركت على آل إبراهيم. إنك حميد مجيد

“Ya Allah, berikanlah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad, dan kepada istri-istrinya serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia” [Shahih Bukhari no. 3369 dan Shahih Muslim no. 407].

Dengan kedua hadis ini mereka berpendapat bahwa Lafaz “wa ‘alaa azwaajihi wa dzurriyyaatihi” (dan kepada istri-istrinya serta keturunannya) merupakan penafsir dari lafaz “wa ‘alaa aali Muhammad” (dan kepada keluarga Muhammad). Kemudian mereka menyimpulkan bahwa Ahlul Bait adalah istri-istri dan keturunan Nabi SAW.

Hujjah mereka ini keliru, entah mengapa mereka tidak menyadari lompatan kesimpulan mereka yang seenaknya. Silahkan perhatikan hadis shalawat dalam Musnad Ahmad berikut

.

اللهم صل على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما صليت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد وبارك على محمد وعلى أهل بيته وعلى أزواجه وذريته كما باركت على آل إبراهيم إنك حميد مجيد

Ya Allah, berilah kebahagiaan kepada Muhammad dan kepada Ahlul baitnya dan kepada istri-istrinya serta keturunannya sebagaimana Engkau telah memberikan kebahagiaan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berikanlah barakah kepada Muhammad dan kepada Ahli Baitnya, istri-istrinya, serta keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberikan barakah kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” [Hadis Musnad Ahmad 5/374 no 23221 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth].

Dengan memperhatikan ketiga hadis tersebut maka yang dimaksud Aali Muhammad [keluarga Muhammad] adalah

  • Ahlul Bait Muhammad SAW
  • Istri-istri Muhammad SAW
  • Keturunan Muhammad SAW

Bukankah ini justru menunjukkan kalau Ahlu Bait dan Istri-istri Nabi adalah dua entitas yang berbeda walaupun keduanya termasuk “keluarga Muhammad”. Ditambah lagi terdapat hadis shahih lain yang menunjukkan dengan jelas kalau Istri-istri Nabi SAW bukan Ahlul Bait yaitu riwayat Zaid bin Arqam. Tetapi anehnya salafiyun ketika berhujjah mereka hanya membawakan hadis Zaid bin Arqam yang berikut

عن يزيد بن حيان قال قال زيد بن أرقم قام رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فينا خطيبا بماء يدعى خما بين مكة والمدينة. فحمد الله وأثنى عليه ووعظ وذكر ثم قال “أما بعد ألا أيها الناس فإنما أنا بشر يوشك أن يأتي رسول ربي فأجيب وأنا تارك فيكم ثقلين أولهما كتاب الله فيه الهدى والنور فخذوا بكتاب الله واستمسكوا به” فحث على كتاب الله ورغب فيه ثم قال “وأهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي أذكركم الله في أهل بيتي” فقال له حصين ومن أهل بيته؟ يا زيد أليس نساؤه من أهل بيته؟ قال نساؤه من أهل بيته ولكن أهل بيته من حرم الصدقة بعده قال وهم؟ قال هم آل علي، وآل عقيل وآل جعفروآل عباس قال كل هؤلاء حرم الصدقة؟ قال نعم

Dari Yaziid bin Hayyaan ia berkata Telah berkata Zaid bin Arqam “Pada satu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri dan berkhutbah di sebuah mata air yang disebut Khumm. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan kepada kami “Amma ba’du, ketahuilah wahai sekalian manusia, bahwasannya aku hanyalah seorang manusia sama seperti kalian. Sebentar lagi utusan Rabb-ku (yaitu malaikat maut) akan datang dan dia diperkenankan. Aku akan meninggalkan kepada kalian dua hal yang berat, yaitu Al-Qur’an yang berisi petunjuk dan cahaya, karena itu laksanakanlah isi Al-Qur’an itu dan berpegangteguhlah kepadanya – beliau mendorong dan menghimbau pengamalan Al-Qur’an – dan Ahlul-Baitku (keluargaku). Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul-Bait-ku (beliau mengucapkan tiga kali)”. Hushain berkata kepada Zaid “Wahai Zaid, siapakah ahlul-bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul-baitnya ?”. Zaid bin Arqam menjawab “Istri-istri beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memang ahlul-baitnya. Namun ahlul-bait beliau adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat sepeninggal beliau”. Hushain berkata “Siapakah mereka itu ?”. Zaid menjawab “Mereka adalah keluarga ‘Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas”. Hushain berkata “Apakah mereka semua itu diharamkan menerima zakat ?”. Zaid menjawab “Ya” [Shahih Muslim no. 2408 dan Shahih Ibnu Khuzaimah no. 2357].

Mereka salafiyun patut disayangkan seolah-olah tidak pernah membaca hadis riwayat Muslim lain [yang berada tepat di bawah hadis di atas dalam Shahih Muslim] yang bertentangan dengan hujjah mereka [dimana dalam hadis ini Zaid bin Arqam bersumpah “Demi Allah”]

فقلنا من أهل بيته ؟ نساؤه ؟ قال لا وايم الله إن المرأة تكون مع الرجل العصر من الدهر ثم يطلقها فترجع إلى أبيها وقومها أهل بيته أصله وعصبته الذين حرموا الصدقة بعده

“Kami berkata “Siapa Ahlul Bait? Apakah istri-istri Nabi? . Kemudian Zaid menjawab ” Tidak, Demi Allah seorang wanita(istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”. [Shahih Muslim no 2408]

Tulisan ini hanya ingin menunjukkan betapa cara pendalilan mereka yang ngakunya salafiyun itu terkesan seenaknya. Terdapat dalil shahih yang menunjukkan bahwa Ahlul Bait Nabi SAW bukanlah istri-istri Nabi sebagaimana terdapat pula dalil shahih dimana Nabi SAW terkadang memanggil istrinya dengan sebutan Ahlul Bait. Kami telah membahas tentang ini dalam pembahasan tersendiri. Sebutan Ahlul Bait bisa memiliki makna umum maupun khusus. Secara umum baik istri Nabi ataupun kerabat Nabi lainnya [keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas] bisa saja disebut sebagai Ahlul Bait tetapi secara khusus Nabi SAW pernah mengkhususkan siapa yang dimaksud Ahlul Bait terkait dengan keutamaan dan kemuliaan khusus yang mereka sandang seperti Ahlul Bait dalam Ayat Tathir yang dikhususkan oleh Nabi SAW untuk Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS.

____________________________________________________________

BEBERAPA KOMEN DAN TANGGAPAN PENULIS

.

secondprince, on Januari 22, 2010 at 3:07 pmsaid:

@aqidah yang benar

Kalau anda mengatakan ketiga golongan di atas merupakan entitas yg BERBEDA,
jadi Fatimah ra, Hasan ra, Husein ra itu masuk yg mana, mas? Ahlul Bait Muhammad saw atau Keturunan Muhammad saw?

Saya sih sederhana saja. Berdasarkan hadisnya lafaz Ahlul Bait, istri, keturunan itu dihubungkan dengan kata penghubung “dan”. Nah itu berarti objek yang berbeda bukan. kalau menurut anda entitas2 itu sama yo wes terserah. Ehem kok Gak sekalian tanya tuh, jadi Sayyidah Fatimah AS, Imam Hasan AS, Imam Husain AS termasuk Ahlul Bait atau istri-istri Nabi? :mrgreen:

@Nomad

Koq ke 2 hadis Muslim tsb sama2x bernomer 2408 yah? Apakah 1 nomor hadis bisa ada dua hadis yg berbeda?

Hadis Shahih Muslim yang saya maksud adalah tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi. Hadis pertama no (2408)-36 sedangkan hadis kedua no (2408)-37. kedua hadis itu ada di Shahih Muslim 4/1873.

@Gandung
he he he nyantai saja Mas :)

@aburahat
yup si Aqidah itu mesti belajar lagi :)

@armand
kurang tahu sih, teks hadisnya seperti itu, apa mau dikata :mrgreen:

@bob
*bingung*

****************************

.

@aqidah

waduh2 sejak kapan saya bertanya begitu mas…… logika anda di taruh di mana?

waduh2 sejak kapan saya mengatakan kalau anda bertanya begitu. saya justru tanya kok sekalian anda gak pake nanya jadi Sayyidah Fatimah AS, Imam Hasan AS, Imam Husain AS termasuk Ahlul Bait atau istri-istri Nabi?. Memahami komentar orang lain saja anda tidak bisa, wah wah :)

Kalau Sayyidah Fatimah ra termasuk Ahlul bait dan keturunannya, maka
Berarti kemungkinan Siti Aisyah ra misalnya, termasuk Ahlul bait sekaligus istri2 nabi saw bisa saja kan?

Lha iya toh apa masalahnya, apa situ gak baca paragraf terakhir tulisan saya. Justru tulisan saya menunjukkan kalau cara berdalil anda itu gak ada kenanya sama sekali. Bukankah sebelumnya anda pernah berhujjah dengan hadis shalawat kalau istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Padahal justru dalam shalawat tersebut kata Ahlul Bait dibedakan dengan kata istri dan dibedakan dengan kata keturunan. silakan deh situ baca baik-baik paragraf terakhir yang saya tulis. Tolong matanya digunakan dengan benar ya :)

Karena kesederhanaan cara berpikir itulah anda jadi menggampangkan perbedaan itu. Dan lagi2 berdasarkan LAFAZ (dangkal banget) :mrgreen:
Cuma karena kata “dan”…..

Jelas sekali lafaz hadis itu pedoman utama kalau anda mau berhujjah dengan hadis. Kalau mau pake khayalan anda atau imajinasi anda atau takwil anda yang gak karuan ya dari awal gak usah berhujjah pake hadis dong :mrgreen:

Kalau begitu tolong tafsirkan untuk saya
QS Al-Ashr:
3. Kecuali orang-orang yang beriman DAN berbuat amal saleh, DAN saling menasihati untuk kebenaran, DAN saling menasihati untuk kesabaran.

Apakah mereka objek yg berbeda, mas? Berhati-hatilah…

Apanya yang berhati-hati. Silakan deh anda itu belajar lagi struktur kalimat dengan benar. kata dan dalam surat Al Ashr di atas itu memisahkan bagian kata yang disebut predikat dan maaf kayaknya gak secara spesifik menunjuk objek tertentu. Nah kalau hadis shalawat itu jelas sekali kata dan memisahkan objek yang memang dituju yaitu Ahlul Bait dan istri dan keturunan. btw kalau menurut anda dengan hadis shalawat itu istri bisa disebut Ahlul Bait, kok anda gak sekalian bilang istri bisa juga disebut keturunantolong digunakan deh logika bahasanya kalau memang anda punya :mrgreen:

***************************

.

secondprince, on Januari 24, 2010 at 10:10 pmsaid:

@imem

pertanyaan anda begitu simple tetapi berbobot..wuakakakak

ya bobotnya gak jauh beda dengan komentar anda :mrgreen:

kalo SP membedakan entitas antara ahlul bait dan istri-istri Nabi seharusnya dia juga membedakan entitas antara ahlul bait dan keturunan beliau

baca tuh paragraf terakhir, heran deh kok mata tidak digunakan dengan benar. Sederhana saja, dalam hadis shalawat di atas Rasulullah SAW memang membedakan kata Ahlul Bait dan kata istri dan kata keturunan. Lagian yang sedang dibahas kan hadis shalawat itu :)

jika SP menganggap hadits Ahmad di ata sebagai dalil bahwa ahlul bait bukan istri2 Nabi, maka seharusnya SP juga menganggap bahwa keturunan Nabi juga bukan ahlul bait beliau, jadi Fatimah, Hasan, Husain dan seluruh keturunan mereka yg terdiri dari imam2 ahlul bait sampai yg diduga sedang sembunyi adalah bukan ahlul bait

aduduh Mas, ada kok hadis shahih yang menunjukkan siapa Ahlul Bait yaitu Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Mereka adalah Ahlul Bait Nabi dan selain Imam Ali AS adalah keturunan Nabi. Sangat jelas sekali kok. Justru saya nih yang nanya kalau dengan hadis shalawat itu anda berhujjah istri Nabi disebut Ahlul Bait, kok gak sekalian anda bilang istri Nabi itu disebut keturunan Nabi. :mrgreen:

lagian riwayat kutubussittah lebih shahih lah daripada riwayat yang bukan dari kutubussittah… wuakakakak..

Terkadang saya ingin sekali menertawakan kebodohan tapi saya justru kasihan. Rasanya cukup banyak hadis kutubussittah yang tidak sesuai dengan paham anda malah anda tolak. ehem dan syaikh salafy anda itu cukup banyak lho menyatakan dhaif bahkan palsu hadis kutubussittah. Lha kok sekarang pakai dalih begitu, sok membangga-banggakan. Bangun bung, kutubussittah itu cuma nama saja, itu kan doktrin yang sudah melekat jadi penyakit di keyakinan anda. Silakan deh belajar ilmunya, hadis itu yang dilihat ya perawi-perawinya. Kalau saja anda tahu ilmunya maka anda pasti akan mentertawakan komentar anda sendiri. perawi-perawi hadis Ahmad di atas adalah perawi syaikhan alias Bukhari Muslim, nah itu perawi kutubussittah kan. So kalau anda mengerti sekarang tolong tertawakan komentar anda sendiri :mrgreen:

************************************

.

secondprince, on Januari 26, 2010 at 7:42 amsaid:

@aqidah yang

Secara LAFAZ pun ayat tathir itu berbicara tentang istri2 nabi saw. Kenapa anda sampai berani atas Nabi saw mengkhususkan hanya untuk Sayyidah Fathimah ra, Ali ra, Hasan ra dan Husain ra saja.

Justru secara lafaz ayat tersebut tidak mungkin untuk istri-istri Nabi, karena kata ganti yang digunakan adalah ‘kum”. Kalau memang untuk istri-istri Nabi maka kata gantinya harusnya jadi “kunna”. Selain dengan lafaz terdapat tuh hadis shahih asbabun nuzul ayat tathir yang dengan jelas menyatakan kalau ayat tersebut turun untuk Ahlul Kisa’ dan bukan untuk istri-istri Nabi SAW. btw saya sih sudah menulis jauh lebih banyak dan lebih komprehensif soal ini, silakan tuh dicek sendiri. btw gak usah sok pamer blog alfanarku deh, yang punya blog itu kan si antirafidhah yang suka menggerutu disini :mrgreen:

Makanya mas, jangan merasa BENAR sendiri .

Wah Maling teriak maling, coba deh saudara lihat komentar saudara sendiri di blog saya ini. Orang yang komentarnya suka mensesatkan orang lain ya anda ini, nah bukankah anda ini yang merasa benar sendiri, padahal argumen dan hujjahnya cuma kopipaste hujjah abul-jauzaa atau si antirafidhah (alfanarku) :P

*******************************

.

secondprince, on Februari 21, 2010 at 12:21 amsaid:

@KAB

Di dalam Al-Qur’an, yang namanya Ahlul Bait yaitu:

1.Nabi Ibrahim dan istrinya, berdasarkan
(QS Huud : 72-73)

Ini jelas kok karena sesuai dengan lafaz ayat tersebut

2. Nabi Muhammad saw dan istri2nya berdasarkan
(QS Al- Ahzab :33)

Ini tidak sesuai dengan lafaz ayatnya. ayat sebelum dan sesudahnya adalah ayat yang berbicara dengan lafaz khusus wanita bahkan ayat tersebut berbicara tentang “jangan berhias” atau “tetaplah di rumahmu” atau “jangan bertingkah laku seperti jahiliah” perintah ini berlaku buat istri-istri Nabi bukan buat Nabi SAW. Tidak masuk akal menyuruh agar Nabi SAW jangan berhias apalagi menyuruh Nabi SAW tetap di rumah atau menyuruh Nabi jangan bertingkah laku jahiliah [naudzubillah]. Jadi penggalan pertama Al Ahzab 33 memang untuk istri-istri Nabi bukan untuk Nabi. sedangkan penggalan terakhir al Ahzab 33 adalah ayat yang turun terpisah dari penggalan sebelumnya karena disini terdapat hadis shahih yang menjelaskan kalau ayat penggalan terakhir ini khusus untuk ahlul kisa’. Kalau anda memaksakan penggalan terkahir Al Ahzab 33 itu lanjutan penggalan sebelumnya maka itu mustahil karena kalau memang seperti itu maka kata ganti yang digunakan harusnya khusus wanita karena perintah itu khusus untuk wanita. Faktanya lafaz yang ada malah bukan khusus wanita yaitu lafaz “kum” yang menunjukkan itu untuk pria atau pria dan wanita. lafaz kum tidak mungkin untuk khusus wanita. Lucunya antirafidhah dan abul-jauzaa berdalih kalau lafaz kum itu mencakup Nabi SAW dan istri-istri Nabi. Ini cuma dalih dicari-cari, perintah dlm Al Ahzab 33 adalah perintah khusus buat wanita bukan buat Nabi. Masa’ Nabi disuruh tetap di rumah, jangan berhias dan jangan bertingkah laku jahiliah. wah wah yang benar saja, begitulah kalau kebanyakan berdalih tapi gak pakai mikir :)

*****************************

.

secondprince, on Februari 23, 2010 at 7:48 pmsaid:

@KAB

No 2. Bagaimana kalau lafaz “kum” di penggalan terakhir itu menunjukkan suami dan istrinya. Bisa kan? Jelas itu.

Jelas gak bisa Mas. Al Ahzab 33 berbunyi sebagai berikut :

dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.

Perhatikan baik-baik jika anda mau berhujjah dengan siyaq atau urutan ayat maka sudah jelas kalau maksud disucikan disini terkait dengan perintah yang Allah tetapkan. Artinya mensucikan dan menghilangkan dosa Ahlul Bait terjadi jika istri-istri Nabi mentaati apa yang Allah SWT tetapkan yaitu ” tetaplah di rumahmu” dan “janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliyah” serta ” dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya”. Nah jika memang begitu maka Ahlul Bait yang dimaksud tidk bisa tidak hanya terbatas pada istri-istri Nabi SAW dan tidak termasuk Nabi karena mana mungkin Nabi SAW dikenakan perintah “tetaplah dirumahmu” atau “jangan berhias seperti jahiliyah” apalagi perintah “taatilah Allah dan Rasul-Nya” lha yang Rasul itu kan Nabi sendiri. Maka tidak mungkin memasukkan Nabi kedalam Ahlul Bait Al Ahzab 33 jika anda bersikeras berpegang pada urutan ayat. Oleh karena perintah itu merupakan perintah khusus wanita maka Ahlul Bait yang dimaksud jika memang istri-istri Nabi harus menggunakan lafal kunna bukan kum. tetapi faktanya yang ada malah lafaz “kum”. Dari sini maka seharusnya kita tahu bahwa hujjah berdasarkan urutan ayat bertentangan dengan lafaz Al Qur’an.

Kemudian Jika kita melihat hadis asbabun nuzulnya maka diketahui kalau penggalan terakhir Al Ahzab 33 tidak turun untuk istri-istri Nabi tetapi kepada pribadi2 lain yaitu Nabi SAW, Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Karena Mereka berlima adalah wanita dan laki-laki maka lafaz yang digunakan adalah “kum”. Dari hadis asbabun nuzulnya bahwa penggalan terakhir ayat tersebut terpisah dari sebelumnya maka maksud “menghilangkan dosa dan menyucikan” disini tidak terkait dengan perintah sebelumnya yaitu “tetap di rumahmu” dan “jangan berhias” melainkan kesucian itu bersifat iradah takwiniyah atau ketetapan Allah SWT yang menunjukkan keutamaan sehingga Nabi SAW memang masuk dalam lafaz Ahlul Bait.

Lihat juga penggalan hadits Ummu Salamah:

“Beliau berkata, “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”.

Jawaban Nabi saw ini mengundang pertanyaan:
-kedudukan seperti apa yg ditujukan kepada Ummu
Salamah?

Kedudukan yang dimaksud sudah dijelaskan Rasulullah SAW sendiri yaitu dalam kebaikan dan jawaban Rasulullah SAW justru menunjukkan bahwa kedudukan mereka yang diselimuti kain [yang disebut Nabi sebagai Ahlul Bait] berbeda dengan kedudukan Ummu salamah.

-Tidak ada kata yg tegas yg menunjukkan bahwa Nabi mengatakan Ummu Salamah termasuk atau tidak termasuk Ahlul Baitnya yg disucikan. Tidak ada kata “Ya atau Tidak” dari Nabi saw.

Ummu Salamah RA itu sedang bertanya apakah ia bisa ikut bersama mereka [sebagai Ahlul Bait yang disucikan] dan Rasul SAW menjawab “kamu punya kedudukan sendiri”. Jawaban ini jelas menunjukkan penolakan halus dari Rasul SAW bahwa Ummau Salamah itu kedudukannya berbeda dengan mereka yang diselimuti sehingga Ummu Salamah tidak bisa ikut bersama mereka. Justru kalau memang Ummu Salamah adalah Ahlul Bait dalam ayat Al Ahzab 33 maka ia tidak perlu bertanya dan Rasul SAW pasti akan mengiyakan pertanyaan Ummu Salamah tetapi yang terjadi Rasul SAW menolak secara halus dan agar tidak mengecewakan Ummu Salamah Rasul SAW menyampaikan kalau kedudukan Ummu Salamah itu dalam kebaikan. jelas sekali bukan :)

Bahkan sebetulnya kedudukan Istri2 Nabi saw sudah dijawab oleh Allah swt pada ayat sebelumnya:

يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ
“Wahai istri Nabi, (kedudukan) kalian bukanlah seperti wanita-wanita yang lainnya.” (Al Ahzab: 32)

Justru kalau anda berhujjah dengan ayat sebelumnya maka lafaz “kum” itu jelas tidak klop seperti yang sudah saya jelaskan. Urutan ayat bertentangan dengan lafaz Al Qur’annya sendiri [dalam Al Ahzab 33]

Jadi seperti apa kedudukannya?

Apakah lebih tinggi atau lebih rendah dari yg wanita lain (termasuk Fatimah ra)??? :?:

Tolong kalau ada yg bisa menjawab?

Istri-istri Nabi SAW punya kedudukan sendiri, mereka yang dikenal dengan sebutan Ummul Mukminin. Mereka yang dikenakan perintah oleh Allah SWT agar “tetaplah dirumahmu” atau “jangan berhias dan bertingkah laku seperti jahiliyah”. Mengenai kedudukan Sayyidah Fathimah AS maka Beliau adalah Pemimpin or penghulu wanita di surga dan Sayyidah wanita mukmin dari umat Islam

***********************************

.

secondprince, on Februari 23, 2010 at 8:18 pmsaid:

Saya ingin menambahkan tanggapan terhadap hujjah batil dari alfanarku alias antirafidhah, ia berkata

sedangkan pertanyaan Ummu Salamah kepada Nabi adalah hal yang sangat bisa dimaklumi, jika posisi kita menjadi Ummu Salamah saat itu, kita pasti akan heran dan mau ga mau akan bertanya melihat apa yang dilakukan oleh Rasul yang tiba-tiba memanggil keluarga Fatimah ke tempat kediamannya dan berdo’a kepada Allah untuk mereka tak lama setelah ayat tsb turun.

Sepertinya alfanarku mau menjawab mengapa Ummu Salamah mengajukan pertanyaan kepada Nabi SAW. Disini ada kesan memaksakan hujjah sendiri tetapi tanpa disadari telah mengurangi keutamaan Nabi sebagai penyampai wahyu. Perhatikanlah baik-baik, Alfanarku mengklaim kalau ayat tathir turun untuk istri-istri Nabi SAW. Nah jika memang begitu maka seharusnya yang dilakukan oleh Nabi SAW pertama kali adalah menyampaikan ayat tersebut kepada Ummu Salamah dan memanggil istri-istri Beliau yang lain kemudian menyampaikan ayat tersebut. Tetapi apa yang terjadi bukan demikian Rasulullah SAW malah memanggil pribadi-pribadi lain. Ini menunjukkan kalau ayat tersebut tidak ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW.

Kemudian Alfanarku mengklaim kalau Ahlul Kisa’ itu hanya perluasan dari ayat tersebut berdasarkan kehendak Nabi. Ia berkata

Karena kecintaan Nabi yang begitu besar terhadap mereka (dan ini adalah sebesar-besar keutamaan keluarga Fathimah ra), maka Rasulullah berkehendak untuk memasukkan mereka sebagai ahlul bait beliau yang dibersihkan oleh Allah

Jadi jika kita menuruti logika alfanarku ini maka Rasulullah SAW lebih mementingkan kehendak Beliau daripada menyampaikan terlebih dahulu ayat tersebut kepada istri-istrinya. Hal ini sangat mustahil terjadi pada diri Nabi SAW [kita berlindung kepada Allah SWT dari hujjah alfanarku ini]. Fakta yang sebenarnya adalah ayat tersebut memang ditujukan untuk Ahlul Kisa’ sehingga Rasulullah SAW memanggil mereka dan ini sangat sesuai dengan tugas Rasul SAW menyampaikan kepada mereka yang dituju oleh ayat tersebut.

Lagipula Ummu Salamah menyampaikan hadis ini setelah Rasulullah SAW wafat jadi sudah pasti kalau memang alfanarku benar maka Ummu Salamah akan tahu kalau ialah ahlul bait yang dituju dalam ayat tathir artinya Ummu Salamah akan tahu kalau pertanyaan yang ia ajukan sebelumnya kepada Nabi SAW itu sangat tidak perlu maka Ummu Salamah akan menjelaskan kesalahpahamannya itu ketika ia menyampaikan hadis tersebut kepada para tabiin. Faktanya tidak ada hadis shahih yang menjelaskan pernyataan Ummu salamah yang meralat pertanyaannya. justru terdapat hadis shahih kalau Ummu Salamah mengakui bahwa ayat tathir turun untuk Nabi SAW, Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Bukankah ini bukti kalau hujjah alfanarku itu mengada-ada dan yang benar ayat tathir memang turun untuk ahlul kisa’ bukan perluasan seperti yang diklaim antirafidhah alias alfanarku.

Pernyataan alfanarku kalau Rasul SAW berkehendak memasukkan keluarga Fathimah sebagai ahlul bait karena kecintaan yang besar terhadap mereka adalah hujjah yang tidak nyambung. Cukuplah kita jawab apakah Rasulullah SAW tidak mencintai Pamannya Abbas beserta keluarganya [Ibnu Abbas]?. Apakah Rasul SAW tidak mencintai keluarga Aqil?. Sudah pasti Rasulullah SAW mencintai mereka tetapi mengapa Rasulullah SAW tidak melakukan hal yang sama kepada keluarga Abbas dan keluarga Aqil?. Inilah kerancuan hujjah alfanarku yang tidak ia mengerti karena maaf ia tidak bisa berpikir secara logis dengan metode yang baik dan benar. Bagi kami ini bukan perkara kecintaan tetapi hal ini sudah menjadi ketetapan Allah SWT sehingga hanya keluarga Fathimah saja [Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain] yang ikut bersama Nabi sebagai Ahlul Bait dalam ayat tathir. Sedangkan keluarga yang lain tidak dimasukkan karena memang ketetapan Allah dan Rasul-Nya menetapkan demikian.

*************************

.

secondprince, on Februari 23, 2010 at 8:46 pmsaid:

Alfanarku kemudian berkata

Demikian juga dalam al-Ahzab 33, jelas dari awal Allah melalui perantaraan Malaikat Jibril berbicara dengan istri-istri Nabi pada kalimat “dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya”

Perhatikanlah baik-baik, disini alfanarku memastikan kalau yang dituju itu istri-istri Nabi.

kemudian selanjutnya Allah menggunakan jama’ muzakkar pada kalimat berikutnya “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” karena ada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam di situ sebagai penerima wahyu dan sebagai sayyidul bait.

Nah disini muncul kerancuan yang tidak bisa dihindari alfanarku. sudah jelas bahwa yang dituju terhadap perintah tersebut adalah istri-istri Nabi. Lantas maka mengapa sekarang ia malah memasukkan Nabi pula sebagai yang dituju. Perhatikan kata-kata dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Bukankah kalau ayat tersebut turun bersamaan maka itu bermaksud bahwa jika istri Nabi mentaati Allah dan Rasul-nya maka itu akan menghilangkan dosa dari mereka dan mensucikannya sesuci-sucinya. Artinya perintah itu menjadi syarat kesucian yang dimaksud, nah kalau memang begitu maka sangat tidak mungkin Nabi SAW yang dituju dalam ayat penyucian tersebut karena Nabi SAW tidak dikenakan perintah “taatilah Allah dan Rasul-Nya”. Bukankah ini sangat tidak masuk akal.

sungguh begitu jelas hal ini, jadi Allah berbicara kepada istri-istri Nabi, tetapi ketika menyinggung ahlul bait (penghuni rumah) ya otomatislah suami mereka dimasukkan ke dalamnya, bukankah para suami adalah sayyidul bait? dan mereka juga penghuni rumah (ahlul bait)?

Alfanarku tidak memahami ayat tersebut dengan baik. lafaz Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33 adalah lafaz yang tertuju pada pribadi yang dihilangkan dosa dan disucikan. Nah bukankan berdasarkan urutan ayat maka syarat kesucian ini adalah perintah yang Allah SWT tetapkan yaitu “tetaplah dirumahmu” dan “janganlah berhias” dan “taatilah Allah dan Rasul-Nya”. Bagaimana mungkin Nabi SAW terikat dengan syarat tersebut, sungguh ini menjadi bukti kalau alfanarku sedang bermain kata-kata untuk menyesuaikan dengan dogma yang ia yakini tanpa ia menyadari implikasi dari permainan kata-katanya. Sungguh patut dikasihani.

apa lagi suami tersebut adalah seorang Nabi dan Rasul yang menerima wahyu/ayat tsb turun, maka secara otomatis berubahlah kata penunjuknya menjadi jama’ muzakkar,

Cukuplah sebagai jawaban bahwa walaupun Nabi SAW sebagai penerima wahyu maka tidak setiap wahyu yang turun kepada Nabi SAW itu tertuju kepada Nabi juga. Bukankah banyak ayat-ayat yang memerintahkan umat islam untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ayat-ayat ini terkadang menggunakan kata “hai orang-orang beriman”. Bukankah Rasul SAW itu beriman lantas apakah Rasul SAW juga menjadi orang yang dituju untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sungguh logika yang kacau balau. :)

************************

.

secondprince, on Februari 24, 2010 at 6:42 amsaid:

Ehem alfanarku menjawab seperti ini

Saya kira tidak ada cela dengan hal tersebut, toh Nabi hanya mendo’akan keluarga Fatimah saja kok, yg hal ini bisa kita maklumi, dengan Nabi memanggil mereka sesegera mungkin adalah agar mereka pun masuk dalam makna ahlul bait dalam ayat yang baru turun tersebut

Wah sepertinya saudara alfanarku itu tidak memahami pembicaraan. Walaupun Nabi SAW ingin mendoakan keluarga Fathimah bukankah sebagai seorang Nabi SAW sudah seharusnya Beliau SAW menyampaikan terlebih dahulu ayat tersebut kepada istri-istri Beliau karena di dalam ayat tersebut terdapat perintah dan hal-hal yang harus ditaati istri-istri Nabi. Sangat tidak mungkin Nabi SAW lebih menuruti kehendak pribadi Beliau dan menunda menyampaikan ayat tersebut kepada istri-istri Nabi. Jika bagi alfanarku tidak ada masalah Nabi bersikap seperti itu, maka cukuplah kita berlepas diri darinya.

Orang itu memastikan (untuk hadits kisa’ riwayat Tirmidzi) Ummu Salamah menyampaikannya saat Rasul sudah wafat, bagaimana dia bisa memastikan hal itu? kita tahu bahwa hadits Tirmidzi tersebut diriwayatkan oleh anak Ummu Salamah sendiri yaitu Umar bin Abi Salamah, apakah tidak mungkin beliau telah menceritakan peristiwa itu tak lama setelah kejadian itu kepada anaknya di saat Nabi masih hidup? dan itulah yang diingat oleh Umar bin Abi Salamah yang akhirnya dia ceritakan kepada perawi berikutnya.

Btw hadis Ummu Salamah itu tidak hanya disampaikan kepada Umar bin Abi Salamah tetapi juga kepada para tabiin. Anehnya alfanarku tidak menangkap esensi pembicaraan. Perhatikan hadis riwayat Tirmidzi, anggap sajalah Ummu Salamah menceritakan kejadian itu kepada anaknya saat Nabi masih hidup. Nah bukankah jika memang Ummu Salamah menyadari kalau ia tidak perlu bertanya, Ummu Salamah pasti juga akan memberitahukan kepada anaknya kalau sebenarnya ketika itu Ummu Salamah tidak perlu bertanya. tapi faktanya tidak ada tuh kata-kata Ummu Salamah yang menjelaskan kesalahpahamannya.

Sedangkan hadits Kisa’ riwayat Ahmad, jelas Ummu Salamah sendiri menceritakan di saat selepas Kematian Husein Ra. dan beliau telah menjelaskannya dalam hadits tersebut bahwa dia adalah termasuk ahlu (keluarga) Nabi,

senyum saja deh lihat komentarnya, sepertinya alfanarku ini hanya tahu hadis kisa’ itu riwayat Tirmidzi dan riwayat Syahr bin Hausyab[Ahmad] sahaja. Riwayat Ahmad yang ia jadikan hujjah sudah pernah saya bahas secara komprehensif dalam tulisan khusus. kami tidak pernah menafikan kalau istri Nabi adalah ahlu Nabi bahkan keluarga Nabi yang lain juga bisa dibilang ahlu Nabi. Justru dalam riwayat Ahmad terdapat indikasi kalau Ummu Salamah tidak bersama Ahlul Kisa’ walaupun ia termasuk keluarga Nabi.

Ingat, yang Nabi tolak adalah Ummu Salamah bersama dengan keluarga Fatimah yang sedang dido’akan oleh Rasulullah dengan alasan bahwa Ummu Salamah dalam kedudukannya sendiri dan dalam kebaikan, tetapi Nabi tidak menolak bahwa Ummu Salamah merupakan Ahlul Bait beliau.

kami tidak menolak sebutan ahlul bait untuk istri Nabi. Yang jadi pokok bahasan adalah mereka ahlul bait yang disucikan itu adalah ahlul kisa’ bukan Ummu Salamah buktinya dalam hadis riwayat Ahmad Ummu Salamah tidak ikut masuk dalam lafaz penyucian yang diucapkan oleh Rasulullah SAW untuk ahlul kisa’.

Hal ini semakin membuktikan bahwa memang QS 33:33 tersebut berkenaan dengan istri-istri Nabi, karena mereka sudah dalam kebaikan dan tidak perlu dido’akan lagi ketika ayat tersebut turun, sebaliknya jika ayat tsb memang utk ahlul kisa’, mengapa Rasul masih berdo’a (meminta kepada Allah) agar Ahlul Kisa’ dibersihkan dari kotoran dosa dan dibersihkan sebersih-bersihnya?.

Lafaz yang dimaksud adalah “Ya Allah merekalah Ahlul Baitku maka hilangkanlah dosa mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. Lafaz ini adalah penjelasan Nabi SAW bahwa Ayat Tathir itu turun kepada Nabi SAW dan siapa Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat tersebut, yaitu orang yang kepada siapa Nabi mengucapkan lafaz tersebut. Buktinya Nabi SAW mengucapkan lafaz tersebut kepada Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain maka sudah jelas ayat tersebut turun untuk mereka. Kalau memang Ummu Salamah selaku istri Nabi adalah ahlul bait yang dimaksud maka ia tidak perlu bertanya kepada Nabi. Lagipula kalau cuma berdoa, Rasul SAW tidak perlu memanggil dan menyelimuti Ahlul Kisa’. Beliau cukup mendoakan saja. Tapi kenyataannya Rasul SAW memanggil Ahlul Kisa’ tentu saja ini dikarenakan merekalah yang dituju oleh ayat tersebut. Kitapun patut bertanya kepada alfanarku itu mengapa Nabi SAW tidak mendoakan keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas? Bukankah mereka semua keluarga Nabi SAW?. btw saya rasa sudah cukup jelas kok, apalagi banyak sekali riwayat lain yang cukup untuk membatalkan semua argumen basa-basi ala alfanarku itu. Salam

***********************

.

secondprince, on Februari 24, 2010 at 11:03 pmsaid:

Ada tambahan lagi dari alfanarku

Semakin membaca komentar terakhir orang itu, makin lebar aja kita tersenyum, dia mencoba melakukan putaran balik, syubhat yg sdh dijelaskan dimunculkan lg… :D ya maklum lah.. jadi ga perlu ditanggapi.. saran saya baca lagi dech artikel di atas, semua sudah dijelaskan dg mendetail & komprehensif syubhat2 macam itu

Silakan saja tersenyum, lagian situ kan biasa ketawa ketawa disini. btw seperti biasa kalau sudah bingung or tidak bisa menjawab maka jusrus terakhirnya “semua sudah dijelaskan” :mrgreen:

dan seperti biasa orang Syi’ah menterjemahkan hadits sesuai selera sendiri untuk mengelabui kaum awwam, contohnya mereka menterjemahkan hadits di atas seperti ini : “Ya Allah merekalah Ahlul Baitku maka hilangkanlah dosa mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya” lihatlah pada kalimat yg mereka gunakan “Ya Allah merekalah…” mereka ingin terlihat hadits tsb membatasi ahlul bait adalah utk ahlul kisa’ saja, padahal seharusnya terjemahannya “Ya Allah mereka adalah Ahlul Baitku” yang di sini tidak ada sama sekali indikasi pembatasan, dengan do’a tersebut Nabi ingin mereka dimasukkan ke dalam ahlul bait dalam QS 33:33 9lihat penjelasannya di atas).

silakan deh pembaca yang bisa bahasa arab, coba lihat apakah terjemahan هؤلاء أهل بيتيyaitu Merekalah Ahlul BaitKu adalah terjemahan yang salah?. duh duh duh Mas silakan deh dipikirkan lagi kalau bicara :)

Oho.. justru ini adalah esensi dari maksud Nabi memanggil mereka, karena pada faktanya mereka berpisah dengan Nabi dan mendiami rumah mereka sendiri, sedangkan ayat tsb menyinggung ahul bait (penghuni rumah) beliau, maka pemanggilan mereka ke rumah salah satu istri beliau dan penyelimutan mereka adalah ekspresi Nabi untuk memasukkan mereka dalam ahlul bait beliau yg dimaksud dlm ayat tsb, dan apa yang beliau lakukan adalah dalam rangka memohon dengan sebenar-benarnya kepada Allah agar do’a beliau dikabulkan. dan ini adalah sebesar-besar bukti bahwa awalnya memang ahlul kisa’ bukan termasuk dalam ahlul bait dlm ayat tsb, krn jika mereka yg dimaksud oleh ayat tsb ketika turun, mengapa Rasulullah masih memerlukan untuk berdo’a dengan segala ekspresi memohon beliau kepada Allah?? jadi jelas memang mereka sebelumnya bukanlah termasuk yg dimaksud ayat tsb.

Kayaknya argumen alfanarku itu cuma basabasi saja dan bisa dimaklumi karena ia tidak memiliki modal riwayat kecuali riwayat Tirmidzi dan riwayat Ahmad [itupun terbatas riwayat Syahr bin Hausab]. Silakan deh saya tambahkan riwayat Ahmad dari Syadad Abi Ammar dari Watsilah

Syaddad Abi Ammar berkata “Aku masuk menemui Watsilah, ketika itu ada sekelompok orang yang menyebut-nyebut Ali lalu mencacinya. Akupun ikut mencaci bersama mereka. Setelah mereka bangun dan pergi, Watsilah menegur. Ia berkata “Kamu juga mencaci pribadi itu?”.Aku menjawab “aku melihat mereka mencacinya maka akupun mencacinya bersama mereka. Watsilah berkata “maukah kamu kuberitahu apa yang aku lihat dari Rasulullah SAW?”. aku menjawab “tentu”.Watsilah berkata “aku datang ke tempat Fathimah menanyakan tentang Ali”. Maka ia menjawab “Ia pergi menemui Rasulullah SAW” maka aku duduk menantinya. lalu datanglah Rasulullah SAW bersama Hasan dan Husain dan keduanya dituntun. Rasulullah SAW masuk mendekati Ali dan Fathimah mendudukkan keduanya di hadapan Beliau dan memangku Hasan dan Husain di pangkuan Beliau. kemudian Beliau menyelimuti mereka dengan kain dan membaca [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] kemudian berkata “Ya Allah merekalah ahlul baitku dan ahlul baitku yang haq” [Fadhail Shahabah Ahmad bin Hanbal no 978]

Dari riwayat di atas diketahui bahwa kejadian penyelimutan ini juga terjadi di rumah Fathimah AS dan Imam Ali tidak berada di belakang punggung Beliau SAW.

Mengapa hanya keluarga Fatimah saja yg beliau panggil? jawabannya sangat mudah, ya karena mereka adalah keluarga terdekat beliau berdasarkan hubungan Nasab dan yang sangat dicintai oleh beliau,

Nabi juga mencintai pamannya Abbas beserta keluarganya? nah bingung tuh.

jelas dalam hadits Tirmidzi, Ali di taruh di belakang punggung beliau, yang menurut Al-Akh Abul-Jauzaa hal itu menunjukkan pemisahan, karena menurut bahasa, orang yang di depan lah yang dido’akan beliau, sedangkan yg dibelakang tidak termasuk. Allahu A’lam

Arahnya mau kemana, mau memisahkan Imam Ali juga. duh duh duh parah sekali ini. Silakan tuh lihat riwayat Watsilah dimana Imam Ali tidak berada di belakang punggung Nabi SAW. Begini jadinya kalau tidak punya modal riwayat selain mengkopi dari orang lain, btw tidak hanya itu bahkan cara berhujjah orang lain seperti abul-jauzaa’ yang tidak ada nilainya itu malah diikuti seenaknya alias taklid buta. Menurut bahasa “orang di depanlah yang didoakan” wah bahasa apa ya itu. Apakah setiap anda mau mendoakan seseorang anda harus buru-buru pergi ke hadapan orang tersebut, salut deh dengan anda :mrgreen:

******************

Komen-komen lainnya silahkan masuk disini

__________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: