Pandangan Imam ‘Aliy bin Abi Thalib Terhadap Perangnya Dengan Muawiyah

Pandangan Imam ‘Aliy bin Abi Thalib Terhadap Perangnya Dengan Muawiyah

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar (SP)

 

Tidak diragukan kalau Imam Ali benar dalam tindakannya memerangi Muawiyah. Sebagaimana yang telah dengan jelas disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Muawiyah dan pengikutnya adalah kelompok pemberontak [baaghiyyah]. Hanya saja beberapa orang dari pengikut salafy yang ghuluw mencintai Muawiyah tidak bisa menerima kenyataan ini, mereka dengan segenap usaha “yang melelahkan” membela Muawiyah. Tidak jarang demi membela Muawiyah mereka mengutip perkataan Imam Ali. Bagaimana sebenarnya pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah dan para pengikutnya?. Perhatikanlah hadis-hadis berikut

.

Doa Imam Ali Untuk Muawiyah dan Pengikutnya

حدثنا تميم بن المنتصر الواسطي قال أخبرنا إسحاق يعني الأزرق عن شريك عن حصين عن عبد الرحمن بن معقل المزني قال صليت مع علي بن أبي طالب رضوان الله عليه الفجر ” فقنت على سبعة نفر منهم فلان وفلان وأبو فلان وأبو فلان

Telah menceritakan kepada kami Tamim bin Muntashir Al Wasithiy yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ishaq yakni Al Azraq dari Syarik dari Hushain dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanniy yang berkata “aku shalat fajar bersama Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu maka ia membaca qunut untuk tujuh orang, diantara mereka adalah fulan, fulan, abu fulan dan abu fulan” [Tahdzib Al Atsar Ibnu Jarir Ath Thabari no 2628]

Riwayat ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Syarik ia memang seorang yang tsiqat shaduq tetapi diperbincangkan hafalannya. Ishaq Al Azraq meriwayatkan dari Syarik sebelum hafalannya berubah maka riwayatnya shahih.

  • Tamim bin Muntashir Al Wasithiy adalah perawi Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Nasa’I menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 958]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat dhabit [At Taqrib 1/143-144]
  • Ishaq bin Yusuf Al Azraq adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ahmad, Ibnu Ma’in dan Al Ijli menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “shahih hadisnya shaduq tidak ada masalah dengannya”. Yaqub bin Syaibah berkata “ia termasuk orang yang alim diantara yang meriwayatkan dari Syarik”. Al Khatib berkata “termasuk tsiqat dan ma’mun”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Bazzar menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 486]. Ibnu Hajar menyatakan tsiqat [At Taqrib 1/87]
  • Syarik Al Qadhi adalah Syarik bin Abdullah An Nakha’i perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Ibrahim Al Harbi menyatakan ia tsiqat. Nasa’i menyatakan “tidak ada masalah padanya”. Ia diperbincangkan sebagian ulama bahwa ia melakukan kesalahan dan terkadang hadisnya mudhtharib diantara yang membicarakannya adalah Abu Dawud, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban tetapi mereka tetap menyatakan Syarik tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 587]. Hafalan yang dipermasalahkan pada diri Syarik adalah setelah ia menjabat menjadi Qadhi dimana ia sering salah dan mengalami ikhtilath tetapi mereka yang meriwayatkan dari Syarik sebelum ia menjabat sebagai Qadhi seperti Yazid bin Harun dan Ishaq Al Azraq maka riwayatnya bebas dari ikhtilath [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 6 no 8507]
  • Hushain adalah Hushain bin Abdurrahman As Sulami Al Kufi seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan  kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Al Ajli, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban [At Tahdzib juz 2 no 659]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/222] dan Adz Dzahabi  menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 1124].
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menyebutkan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah [At Tahdzib juz 6 no 543]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/591].

Riwayat di atas menyebutkan bahwa Imam Ali membaca qunut nazilah untuk beberapa orang pada shalat fajar. Terdapat riwayat lain yang menyebutkan kalau Imam Ali juga membaca qunut ini [nazilah] pada shalat maghrib

حدثني عيسى بن عثمان بن عيسى قال حدثنا يحيى بن عيسى عن الأعمش عن عبد الله بن خالد عن عبد الرحمن بن معقل قال صليت خلف علي المغرب فلما رفع رأسه من الركعة الثالثة قال اللهم العن فلانا وفلانا وأبا فلان وأبا فلان

Telah menceritakan kepadaku Isa bin Utsman bin Isa yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Isa dari Al A’masy dari ‘Abdullah bin Khalid dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata “aku shalat maghrib di belakang Ali ketika ia mengangkat kepalanya pada rakaat ketiga, ia berkata “ya Allah laknatlah fulan, fulan, abu fulan dan abu fulan” [Tahdzib Al Atsar Ibnu Jarir Ath Thabari no 2627]

Riwayat ini sanadnya hasan dengan penguat riwayat sebelumnya. ‘Abdullah bin Khalid adalah seorang kufah yang tsiqat dimana telah meriwayatkan darinya Sufyan Ats Tsawri dan Al A’masy.

  • Isa bin Utsman bin Isa adalah perawi Tirmidzi. Telah meriwayatkan darinya jama’ah hafizh diantaranya Tirmidzi dan Ibnu Jarir. Nasa’I menyatakan “shalih” [At Tahdzib juz 8 no 410]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/772]
  • Yahya bin Isa Ar Ramliy adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Ahmad bin Hanbal telah menta’dilnya. Al Ijli menyatakan ia tsiqat tasyayyu’. Abu Muawiyah telah menulis darinya. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Ibnu Ma’in berkata dhaif atau tidak ada apa-apanya atau tidak ditulis hadisnya. Maslamah berkata “tidak ada masalah padanya tetapi di dalamnya ada kelemahan”. Ibnu Ady berkata “kebanyakan riwayatnya tidak memiliki mutaba’ah” [At Tahdzib juz 11 no 428]. Ibnu Hajar berkata “jujur sering salah dan tasyayyu’” [At Taqrib 2/311-312]. Adz Dzahabi berkata “shuwailih” [Man Tukullima Fihi Wa Huwa Muwatstsaq no 376]
  • Sulaiman bin Mihran Al A’masy perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Al Ijli dan Nasa’i berkata “tsiqat tsabit”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]. Ibnu Hajar menyebutkannya sebagai mudallis martabat kedua yang ‘an anahnya dijadikan hujjah dalam kitab shahih [Thabaqat Al Mudallisin no 55]
  • ‘Abdullah bin Khalid meriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanniy dan telah meriwayatkan darinya Sufyan dan ‘Amasy. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 7 no 8812]. Al Fasawiy menyebutkan ia seorang yang tsiqat [Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 3/104]
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menyebutkan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah [At Tahdzib juz 6 no 543]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/591].

Kedua riwayat ini menyebutkan kalau Imam Ali membaca qunut nazilah pada shalat shubuh dan maghrib dimana Beliau mendoakan keburukan atau melaknat orang-orang tertentu. Siapa orang-orang tersebut memang tidak disebutkan dalam riwayat Ibnu Jarir tetapi tampak jelas kalau perawi [entah siapa] menyembunyikan nama-nama mereka karena tidak mungkin ada seseorang bernama fulan atau abu fulan. Alhamdulillah ternyata terdapat riwayat-riwayat yang menyebutkan nama beberapa diantara mereka.

حدثنا هشيم قال أخبرنا حصين قال حدثنا عبد الرحمن بن معقل قال صليت مع علي صلاة الغداة قال فقنت فقال في قنوته اللهم عليك بمعاوية وأشياعه وعمرو بن العاص وأشياعه وأبا السلمي وأشياعه وعبد الله بن قيس وأشياعه

Telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata Aku shalat bersama Ali dalam shalat fajar dan kemudian ketika Qunut Beliau berkata “Ya Allah hukumlah Muawiyah dan pengikutnya, Amru bin Ash dan pengikutnya, Abu As Sulami dan pengikutnya, Abdullah bin Qais dan pengikutnya” [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/108 no 7050]

Riwayat ini sanadnya shahih, Husyaim adalah Husyaim bin Basyiir seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli, Ibnu Saad dan Abu Hatim. Ibnu Mahdi, Abu Zar’ah dan Abu Hatim memuji hafalannya [At Tahdzib juz 11 no 100]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 2/269]. Adz Dzahabi menyebutkan kalau Husyaim seorang Hafiz Baghdad Imam yang tsiqat [Al Kasyf no 5979]. Sedangkan Hushain dan Abdurrahman bin Ma’qil telah disebutkan kalau mereka tsiqat.

حَدَّثَنَا عُبَيد الله بن معاذ قَال حدثني أبي قَال حَدَّثَنَا شُعبة عن عُبَيد أبي الحسن سمع عبد الرحمن بن معقل يقول شهدت علي بن أبي طالب قنت في صلاة العتمة بعد الركوع يدعو في قنوته على خمسة رهط على معاوية وأبي الأعور

Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidillah bin Mu’adz yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Ubaid Abi Hasan yang mendengar ‘Abdurrahman bin Ma’qil berkata “aku menyaksikan Ali bin ‘Abi Thalib membaca qunut dalam shalat ‘atamah [shalat malam yaitu maghrib atau isya’] setelah ruku’ untuk lima orang untuk Mu’awiyah dan Abul A’war [Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 3/134]

Riwayat ini sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat. Ubaidillah bin Mu’adz adalah seorang hafizh yang tsiqat termasuk perawi Bukhari Muslim [At Taqrib 1/639] dan ayahnya Mu’adz bin Mu’adz adalah seorang yang tsiqat mutqin perawi kutubus sittah [At Taqrib 2/193]. Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]. Ubaid bin Hasan Al Muzanniy atau Abu Hasan Al Kufiy adalah perawi Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah dan Nasa’I menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “tsiqat shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 128]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/643]. Dan ‘Abdurrahman bin Ma’qil telah disebutkan bahwa ia tabiin yang tsiqat.

Kedua riwayat Abdurrahman bin Ma’qil ini menyebutkan kalau diantara mereka yang didoakan [dalam qunut] keburukan atau laknat oleh Imam Ali adalah Mu’awiyah. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Imam Ali, Muawiyah dan pengikutnya itu menyimpang dan telah sesat plus menyesatkan banyak orang sehingga Imam Ali sampai membaca qunut nazilah untuk mereka. Abbas Ad Duuriy berkata

سمعت يحيى يقول أبو الأعور السلمي رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم وكان مع معاوية وكان علي يلعنه في الصلاة

Aku mendengar Yahya [bin Ma’in] berkata “Abul A’war As Sulamiy seorang sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ia bersama Muawiyah dan Ali telah melaknatnya di dalam shalat” [Tarikh Ibnu Ma’in 3/43 no 175]

.

.

Kelompok Muawiyah Berada Di Jalan Yang Bathil

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ وَلِابْنِهِ عَلِيٍّ انْطَلِقَا إِلَى أَبِي سَعِيدٍ فَاسْمَعَا مِنْ حَدِيثِهِ فَانْطَلَقْنَا فَإِذَا هُوَ فِي حَائِطٍ يُصْلِحُهُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَاحْتَبَى ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى أَتَى ذِكْرُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ كُنَّا نَحْمِلُ لَبِنَةً لَبِنَةً وَعَمَّارٌ لَبِنَتَيْنِ لَبِنَتَيْنِ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْفُضُ التُّرَابَ عَنْهُ وَيَقُولُ وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ قَالَ يَقُولُ عَمَّارٌ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Mukhtar yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid Al Hidzaa’ dari Ikrimah yang berkata Ibnu Abbas berkata kepadaku dan kepada anaknya Ali, pergilah kalian kepada Abu Sa’id dan dengarkanlah hadis darinya maka kami menemuinya. Ketika itu ia sedang memperbaiki dinding miliknya, ia mengambil kain dan duduk kemudian ia mulai menceritakan kepada kami sampai ia menyebutkan tentang pembangunan masjid. Ia berkata “kami membawa batu satu persatu sedangkan Ammar membawa dua batu sekaligus, Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihatnya, kemudian Beliau berkata sambil membersihkan tanah yang ada padanya “kasihan ‘Ammar, dia akan dibunuh oleh kelompok baaghiyah [pembangkang], ia [Ammar] mengajak mereka ke surga dan mereka mengajaknya ke neraka. ‘Ammar berkata “aku berlindung kepada Allah dari fitnah” [Shahih Bukhari 1/97 no 447]

Telah terbukti kalau ‘Ammar terbunuh dalam perang shiffin dan ia berada di pihak Imam Ali jadi kelompok baaghiyyah [pembangkang] yang membunuh ‘Ammar dalam hadis Bukhari di atas adalah kelompok Muawiyah. Muawiyah dan pengikutnya adalah kelompok yang mengajak ke neraka. Jadi berdasarkan dalil shahih dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka dalam perang shiffin Imam Ali dan pengikutnya berada dalam kebenaran sedangkan Muawiyah dan pengikutnya berada dalam kesesatan.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن عمرو بن مرة قال سمعت عبد الله بن سلمة يقول رأيت عمارا يوم صفين شيخا كبيرا آدم طوالا آخذا الحربة بيده ويده ترعد فقال والذي نفسي بيده لقد قاتلت بهذه الراية مع رسول الله صلى الله عليه و سلم ثلاث مرات وهذه الرابعة والذي نفسي بيده لو ضربونا حتى يبلغوا بنا شعفات هجر لعرفت أن مصلحينا على الحق وأنهم على الضلالة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari ‘Amru bin Murrah yang berkata aku mendengar ‘Abdullah bin Salamah berkata “aku melihat ‘Ammar dalam perang shiffin, dia seorang Syaikh yang berumur, berkulit agak gelap dan berperawakan tinggi, ia memegang tombak dengan tangan bergetar. Ia berkata “demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku telah berperang membawa panji ini bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tiga kali dan ini adalah yang keempat. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya sekiranya mereka menebas kami hingga membawa kami kepada kematian maka aku yakin bahwa orang-orang shalih yang bersama kami berada di atas kebenaran dan mereka berada di atas kesesatan [Musnad Ahmad 4/319 no 18904]

Riwayat ini sanadnya hasan. ‘Abdullah bin Salamah seorang yang hadisnya hasan terdapat sedikit perbincangan karena hafalannya. Riwayat ini juga disebutkan Ibnu Hibban dalam Shahih Ibnu Hibban 15/555 no 7080 dan Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 no 5651.

  • Muhammad bin Ja’far Al Hudzaliy Abu Abdullah Al Bashriy yang dikenal dengan sebutan Ghundar adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ali bin Madini berkata “ia lebih aku sukai daripada Abdurrahman [Ibnu Mahdi] dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim berkata dari Muhammad bin Aban Al Balkhiy bahwa Ibnu Mahdi berkata “Ghundar lebih tsabit dariku dalam periwayatan dari Syu’bah”. Abu Hatim, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan ia orang bashrah yang tsiqat dan ia adalah orang yang paling tsabit dalam riwayat dari Syu’bah [At Tahdzib juz 9 no 129]
  • Syu’bah bin Hajjaj adalah perawi kutubus sittah yang telah disepakati tsiqat. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin dan Ats Tsawri menyebutnya “amirul mukminin dalam hadis” [At Taqrib 1/418]
  • ‘Amru bin Murrah adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Hatim menyatakan shaduq tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Numair dan Yaqub bin Sufyan menyatakan tsiqat. [At Tahdzib juz 8 no 163]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat ahli ibadah [At Taqrib 1/745]
  • ‘Abdullah bin Salamah adalah perawi Ashabus Sunan. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ai Ijli menyatakan ia tsiqat. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat termasuk thabaqat pertama dari ahli fiqih kufah setelah sahabat”. Abu Hatim berkata “dikenal dan diingkari”. Bukhari berkata “hadisnya tidak memiliki mutaba’ah”. Ibnu Ady berkata “aku kira tidak ada masalah padanya”. [At Tahdzib juz 5 no 421]. Ibnu Hajar berkata “shaduq mengalami perubahan pada hafalannya” [At Taqrib 1/498]. Adz Dzahabi berkata “shuwailih” [Al Kasyf no 2760], Adz Dzahabi juga memasukkannya dalam Man Tukullima Fihi wa huwa Muwatstsaq no 182. Ibnu Hibban telah menshahihkan hadisnya [Shahih Ibnu Hibban 15/555 no 7080]. Ibnu Khuzaimah telah berhujjah dan menshahihkan hadisnya [Shahih Ibnu Khuzaimah 1/104 no 208]. Al Hakim ketika membawakan hadis ‘Abdullah bin Salamah ia menyatakan hadis tersebut shahih sanadnya walaupun syaikhan tidak berhujjah dengan ‘Abdullah bin Salamah tetapi tidak ada cela terhadapnya [Al Mustadrak juz 1 no 541] itu berarti Al Hakim menganggap ‘Abdullah bin Salamah tsiqat. Pendapat yang rajih, ‘Abdullah bin Salamah adalah seorang yang hadisnya hasan terdapat sedikit pembicaraan dalam hafalannya tetapi itu tidak menurunkan hadisnya dari derajat hasan.

Riwayat ini dengan tegas menyatakan kalau ‘Ammar dan orang-orang shalih di pihak Imam Ali adalah berada di atas kebenaran sedangkan mereka kelompok Muawiyah berada di atas kesesatan atau kebathilan. Kami tidak akan berbasa-basi seperti sebagian orang yang mengklaim kalau Muawiyah berijtihad dan walaupun salah ijtihadnya tetap mendapat pahala. Itu berarti Muawiyah yang dalam perang shiffin dikatakan mengajak orang ke neraka tetap mendapat pahala. Sungguh perkataan yang aneh bin ajaib.

Kami juga ingin menegaskan kepada orang yang memang tidak punya kemampuan memahami perkataan orang lain bahwa kami tidak pernah menyatakan kalau Muawiyah dan pengikutnya kafir dalam perang shiffin berdasarkan hadis-hadis di atas. Jika dikatakan mereka bermaksiat maka itu sudah jelas, orang yang mengajak ke jalan neraka maka sudah jelas ia bermaksiat. Tetapi apakah maksiat itu membawa kepada kekafirannya maka hanya Allah SWT yang tahu. Soal Muawiyah kami sudah pernah membahas hadis shahih yang menunjukkan bahwa pada akhirnya ia mati tidak dalam agama islam sedangkan soal pengikutnya yang lain kami tidak memiliki dalil yang jelas soal itu.

.

.

.

Syubhat Salafy Dalam Membela Muawiyah

.

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَيُّوبَ الْمَوْصِلِيُّ ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ بُرْقَانَ ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ الأَصَمِّ ، قَالَ : سُئِلَ عَلِيٌّ عَنْ قَتْلَى يَوْمِ صِفِّينَ ، فَقَالَ : قَتْلاَنَا وَقَتْلاَهُمْ فِي الْجَنَّةِ ، وَيَصِيرُ الأَمْرُ إلَيَّ وَإِلَى مُعَاوِيَةَ

Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Ayub Al Maushulliy dari Ja’far bin Burqaan dari Yazid bin Al Aasham yang berkata Ali pernah ditanya tentang mereka yang terbunuh dalam perang shiffin. Ia menjawab “yang terbunuh diantara kami dan mereka berada di surga” dan masalah ini adalah antara aku dan Muawiyah [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 15/302 no 39035]

Riwayat ini secara zahir sanadnya shahih dan para perawinya tsiqat tetapi terdapat illat di dalamnya. Adz Dzahabi mengatakan tentang Yazid bin Al Aasham kalau riwayatnya dari Ali tidak shahih [As Siyar 4/517 no 211]. Walaupun dikatakan Adz Dzahabi ia menemui masa khalifah Ali tetapi tetap saja Adz Dzahabi sendiri mengatakan kalau riwayatnya dari Ali tidak shahih. Cukup ma’ruf dalam ilmu hadis bahwa terkadang ada perawi yang melihat atau bertemu atau semasa dengan perawi lain tetapi tidak mendengar hadis darinya sehingga hadisnya dikatakan tidak shahih. Salah satu contohnya adalah Atha’ bin Abi Rabah, Ibnu Madini berkata tentangnya “ia melihat Abu Sa’id Al Khudri tawaf di baitullah dan ia melihat Abdullah bin Umar tetapi tidak mendengar hadis dari keduanya [Jami’ Al Tahsil Fii Ahkam Al Marasil no 520].

Ada yang berhujjah sembarangan dengan hadis ini. Mereka dengan hadis ini membela Muawiyah dan pengikutnya. Ini namanya asal berhujjah, telah kami tunjukkan bagaimana pandangan Imam Ali sebenarnya kepada kelompok Muawiyah. Jika Imam Ali sendiri berdoa dalam qunut nazilah agar Muawiyah dan pengikutnya mendapatkan hukuman dari Allah SWT maka sudah jelas menurut Imam Ali mereka kelompok Muawiyah berada dalam kesesatan atau kebathilan dan hal ini pun sesuai dengan petunjuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan pandangan ‘Ammar bin Yasir radiallahu ‘anhu.

Jadi jika riwayat di atas diartikan bahwa Imam Ali membenarkan Muawiyah dan pengikutnya maka itu keliru. Kami pribadi menganggap atsar tersebut matannya mungkar dan sanadnya memang mengandung illat. Bukankah dalam perang shiffin Muawiyah dan pengikutnya telah terbukti berada di atas Jalan yang menuju ke neraka berdasarkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang shahih. Apakah mereka yang gugur karena membela kebathilan akan mendapat imbalan surga?. Jadi dari sisi ini kalau riwayat tersebut diartikan secara zahir maka mengandung pertentangan dengan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Seandainyapun orang-orang tersebut menerima riwayat Imam Ali di atas maka sudah seharusnya diartikan bahwa yang dimaksud bukan secara umum. Bukankah salafy sendiri [Muawiyah dan pengikutnya] menganggap bahwa dalam kelompok Imam Ali terdapat para pembunuh Utsman radiallahu ‘anhu. Nah apakah mereka yang terbunuh dalam kelompok Imam Ali ini akan mendapat surga? Silakan mereka salafy menjawabnya. Begitu pula mungkin saja dalam kelompok Muawiyah terdapat orang-orang yang tidak memahami persoalan, mereka tertipu oleh propaganda Muawiyah atau dengan bahasa yang lebih kasar fitnah kalau Imam Ali dan pengikutnya melindungi para pembunuh khalifah Utsman radiallahu ‘anhu. Mungkin saja kelompok ini yang dikatakan Imam Ali bahwa yang terbunuh diantara mereka mendapat surga. Sehingga sangat wajar di akhir riwayat Imam Ali mengatakan kalau masalah ini adalah antara diri Beliau dan Muawiyah.

Selain itu sangat ma’ruf kalau tidak semua orang yang ikut berperang memiliki niat yang baik walaupun mereka berada di pihak yang benar. Kedudukannya tergantung niat orang tersebut, jika ia berperang dengan niat mendapatkan harta atau niat lain yang buruk dan gugur dalam perang tersebut bukan berarti ia lantas mendapat surga. Terdapat kisah dimana salah seorang sahabat gugur di medan perang kemudian para sahabat yang lain mengatakan ia syahid tetapi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membantahnya dan mengatakan kalau ia di neraka karena sahabat tersebut telah berkhianat dalam harta rampasan perang. Kami cuma ingin menyampaikan bahwa atsar Imam Ali di atas seandainya kita terima maka ia tidak bisa diartikan secara umum untuk semua orang yang terbunuh di shiffin. Apalagi sangat tidak benar menjadikan hadis ini untuk membela Muawiyah dan pengikutnya yang lain.

Sebenarnya ada hal lucu yang tidak terpikirkan oleh salafy. Bukankah mereka sering merendahkan Syiah yang katanya  Syiah mengatakan bahwa Imam Ali mengetahui perkara yang ghaib. Padahal yang dilakukan syiah mungkin hanya berhujjah dengan riwayat yang ada di sisi mereka. Sekarang lihatlah riwayat Imam Ali di atas, bukankah pengetahuan siapa yang akan masuk surga adalah pengetahuan yang bersifat ghaib lantas kenapa sekarang salafy anteng-anteng saja meyakini riwayat tersebut. Sekarang dengan lucunya [demi membela Muawiyah] salafy mengakui kalau Imam Ali mengetahui perkara ghaib bahwa yang terbunuh di shiffin itu masuk surga. Sungguh tanaqudh dan memprihatinkan mereka suka mencela mazhab lain tetapi apa yang mereka cela ada pada diri mereka sendiri.

Salam Damai

_______________________________

.

BEBERAPA DIALOG PEMBACA DENGAN PENULIS

.

secondprince, on Maret 20, 2011 at 11:19 pmsaid:

@sok tau banget

Ini adalah hal yang sangat lucu yg tidak dipikirkan oleh syi’ah, mereka selalu mengexplore riwayat tentang Mu’awiyah yang memerintahkan melaknat Imam Ali di mimbar2 Masjid, kalau dipikir-pikir, jika ini benar terjadi, berarti ini adalah suatu hal yg lazim terjadi saat itu, yaitu saling melaknat diantara dua kubu, karena Imam Ali sendiri bahkan juga melaknat Mu’awiyah di dalam shalatnya (ibadah) yang tentunya ini lebih berat dibandingkan hanya di mimbar (ini jika riwayat tersebut shahih)

Inilah penyakit orang-orang yang terpengaruh dengan virus nashibi. karena terlalu suka membantah dan suka membela Muawiyah sampai-sampai berani tuh mengatakan bahwa apa yang dilakukan Imam Ali dalam qunut nazilah itu lebih berat daripada apa yang dilakukan Muawiyah yaitu mencaci Imam Ali dalam mimbar masjid. Maaf ya sekedar info buat anda, mana bisa disamakan antara Imam Ali dengan Muawiyah. Imam Ali bersama kebenaran, Imam Ali adalah ahlul bait yang merupakan salah satu tsaqalain bagi umat islam, sedangkan Muawiyah sangat jauh dari itu. Selain itu apa yang dilakukan Imam Ali adalah sesuatu yang syar’i dan memiliki dasar hukumnya, mendoakan keburukan dalam qunut nazilah adalah hal yang memang ada syariatnya. Lha itu Muawiyah mencaci di mimbar masjid apa ada syariatnya dari Nabi [shallallahu ‘alihi wasallam]. Apa ada syariatnya memrintahkan untuk mencaci Imam Ali di mimbar-mimbar masjid?. apakah ada ketentuan bahwa itu harus terus-terusan dilakukan?. Gampang sekali anda mengatakan perbuatan Imam Ali “lebih berat”. Jangan menjadikan keterbatasan akal anda untuk menilai jika pengetahuan anda memang kurang :)

Mu’awiyah mengajak berdamai dan Al-Hasan menerimanya bahkan menyerahkan kekuasaan di tangan-nya kepada Mu’awiyah tanpa ada paksaan dari siapapun bukan karena kurang pasukan justru beliau memiliki pasukan yang besar laksana gunung. Jika Mu’awiyah seorang yang di atas kesesatan atau telah kafir atau tidak kapabel dalam memimpin, tentunya beliau tidak akan memberikan tampuk kepemimpinan atas kaum muslimin kepada Mu’awiyah

Cara berhujjah model begini sudah basi sekali, saya sudah membuat tulisan khusus bahwa penyerahan Imam Hasan soal khalifah kepada Muawiyah bukan karena keutamaan atau kebaikan yang dimiliki Muawiyah tetapi karena keadaan saat itu yang membuat Imam Hasan melakukannya dan apa yang dilakukan Imam Hasan sesuai dengan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

بسم الله الرحمن الرحيم حدثنا محمود بن غيلان حدثنا أبو داود الطيالسي حدثنا القاسم بن الفضل الحداني عن يوسف بن سعد قال قام رجل إلى الحسن بن علي بعد ما بايع معاوية فقال سودت وجوه المؤمنين أو يا مسود وجوه المؤمنين فقال لا تؤنبني رحمك الله فإن النبي صلى الله عليه و سلم أري بني أمية على منبره فساءه ذلك فنزلت { إنا أعطيناك الكوثر } يا محمد يعني نهرا في الجنة ونزلت { إنا أنزلناه في ليلة القدر * وما أدراك ما ليلة القدر * ليلة القدر خير من ألف شهر } يملكها بنو أمية يا محمد قال القاسم فعددناها فإذا هي ألف يوم لا يزيد يوم ولا ينقص

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Daud Ath Thayalisi yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Qasim bin Fadhl Al Huddani dari Yusuf bin Sa’ad yang berkata “Seorang laki-laki datang kepada Imam Hasan setelah Muawiyah dibaiat. Ia berkata “Engkau telah mencoreng wajah kaum muslimin” atau ia berkata “Hai orang yang telah mencoreng wajah kaum mukminin”. Al Hasan berkata kepadanya “Janganlah mencelaKu, semoga Allah merahmatimu, karena Rasulullah SAW di dalam mimpi telah diperlihatkan kepada Beliau bahwa Bani Umayyah di atas Mimbar. Beliau tidak suka melihatnya dan turunlah ayat “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadaMu nikmat yang banyak”. Wahai Muhammad Al Kautsar adalah sungai di dalam surga. Kemudian turunlah ayat “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan . Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. Bani Umayyah akan menguasainya wahai Muhammad. Al Qasim berkata “Kami menghitungnya ternyata jumlahnya genap seribu bulan tidak kurang dan tidak lebih”. [Sunan Tirmidzi 5/444 no 3350]

Jadi Imam Hasan sendiri mengatakan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] saja tidak menyukai kepemimpinan bani umayyah di mimbar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi Imam Hasan tetap menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah. Alasannya sudah jelas karena Imam Hasan tidak ingin pertumpahan darah yang lebih banyak lagi dan perkara itu memang sudah dikabarkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jadi ini tidak ada urusannya dengan kebaikan atau keutamaan atau kapabilitas Muawiyah, lha sejak awal Imam Hasan itu bersama ayahnya Imam Ali memerangi Muawiyah di perang shiffin. Kalau memang Muawiyah itu baik dan sebagainya seperti kata anda kenapa gak dari dulu saja Imam Ali yang menyerahkan kepada Muawiyah :mrgreen:

Perkara Muawiyah dalam kesesatan di perang shiffin itu sudah terbukti melalui hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang shahih. Jadi tidak ada lagi yang perlu diragukan

Kelompok Al-Baghiyah adalah kelompok yang memberontak terhadap seorang Imam karena suatu ta’wil dalam agama, mempunyai kekuatan dan mempunyai pemimpin yang dita’ati. Dan mereka tetap sebagai kaum muslimin.

Saya juga tidak pernah mengatakan kalau kelompok baghiyah di situ kafir. Salafy saja [dan anda yang ikut-ikutan] merasa ada yang menganggap kelompok baghiyah disitu sebagai kafir. Saya menyatakan seperti apa yang tertera dalam hadis shahih bahwa kelompok baghiyah itu berada di atas jalan neraka alias mengajak orang kepada neraka

Dengan tindakan Al-Hasan berdamai bahkan menyerahkan tampuk kepemimpinan atas kaum muslimin kepada Mu’awiyah, maka mereka menjadi satu jama’ah kaum muslimin, makanya tahun tersebut dinamakan tahun Jama’ah.

Tidak ada masalah, perdamaian itu baik sekali. Yang lucunya menjadikan perdamaian ini sebagai hujjah untuk membela Muawiyah dan pengikutnya dalam perang shiffin. Kelompok Muawiyah sudah terbukti berada di atas jalan neraka berarti sesat dan kelompok Imam Ali lah yang benar.

Dengan begitu selesailah perselisihan diantara mereka, maka hadits Nabi SAW mengenai Ammar sudah dimansukh oleh hadits Nabi SAW mengenai perdamaian antara kaum muslimin tersebut. (Allahu A’lam)

Apanya yang dimansukh? maaf anda ini memang hobi sekali asal sebut. Coba pikir baik-baik perkataan anda ini. Bukankah Muawiyah dan pengikutnya dan sekarang diikuti anda dan salafy lainnya menganggap bahwa pada saat itu di kelompok Imam Ali terdapat kelompok para pembunuh Utsman. Nah Jika berdalil dengan model anda yang berhujjah dengan hadis perdamaian dua kelompok besar kaum muslimin, maka kelompok pembunuh Utsman di barisan Imam Ali juga termasuk dong. Seharusnya mereka anda bela juga tidak hanya kelompok Muawiyah. Logikanya : apa yang dilakukan pembunuh Utsman itu sudah dimansukh dong oleh hadis tersebut. Faktanya : maaf anda dan salafy lainnya adalah orang yang paling semangat mengatakan kalau kelompok pembunuh Utsman adalah kaum munafik. Tanaqudh oh tanaqudh :mrgreen:

Lagi pula Mu’awiyah adalah pemimpin pasukan Laut Islam yang pertama yang diwajibkan atas mereka (pahala Surga). (HR Bukhari)

ooh gampang banget, kita pakai logika mansukh yang anda lakukan. Hadis bukhari yang anda jadikan hujjah itu telah dimansukh oleh hadis dimana Muawiyah adalah kelompok pembangkang yang mengajak ke neraka. Lagipula terdapat hadis shahih kalau Muawiyah itu pada akhirnya mati tidak dalam agama Islam :mrgreen:

Happy ending tho :mrgreen: hanya org yg ga ada kerjaan kayak syi’ah aja yg sampe hr ini msh aja mempermasalahkan masalah yang udah selesai seribu th yg lalu :)

Halah maaf ya kayaknya anda dan salafy lainnya juga paling hobi mempermasalahkan apa yang anda bilang masalah yang udah selesai seribu tahun lalu. Buktinya berbagai sirah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] kejadiannya juga sudah selesai seribu tahun yang lalu tetapi masih saja tuh dibahas. Apa bedanya? terus bukankah kisah pembunuhan Utsman itu juga sudah selesai seribu tahun lalu tapi banyak tuh salafy yang mempermasalahkan ngotot kalau itu adalah ulah kaum munafik. nah silakan dipikirkan dulu sebelum berbicara :)

Ini pernyataan yang terlucu yg pernah saya baca :lol: setahu saya judul artikel di blog salafy yg sdg dibahas telah menjelaskan apa maksud mereka “Pandangan ‘Aliy bin Abi Thalib Terhadap…. “ istilah pandangan itu artinya pendapat atau bhs jawa-nya = opinion, point of view :mrgreen: lha kok dibilang mengetahui perkara ghaib :lol:

Sekarang saya tanya anda, apakah perkara siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka itu perkara yang bersifat ijtihad atau perkara yang bersifat ghaib. Apakah ketika ada orang yang terbunuh dalam perang? Maka seseorang bisa berpendapat dia masuk surga atau masuk neraka Bukankah tidak ada yang mengetahui isi hati manusia? dan bagaimana nasibnya di akhirat nanti?. Nah kalau tidak ada satupun mengetahui bagaimana hati manusia, apa niatnya, apa dosa yang pernah ia lakukan [misalnya berkhianat dalam rampasan perang, ini bisa menghalangi masuk surga] dan sebagainya maka apakah seseorang bisa mengajukan pendapatnya soal siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka? bisa atau tidak menurut anda?. Heeh kalau asal jawab dan bantah mah bisa, gak usah pakai mikir juga perkataan siapapun ya bisa dibantah :mrgreen:

********************

secondprince, on Maret 22, 2011 at 7:36 amsaid:

@sok tau banget

Intinya saling melaknat dalam peperangan diantara dua kubu adalah hal yang lumrah so ga usah heran dan jangan mengatakan hanya satu pihak saja yang melaknat, to be fair sajalah itu yg sy maksud, baru kebuka kan tanaqudh nya

heh maaf kalau anda mau mengatakan “saling melaknat” itu lumrah ya silakan, mungkin akhlak anda memang begitu. Jadi kan maksud anda kalau ada sahabat Nabi saling laknat itu lumrah-lumrah saja. Akidah model apa itu :mrgreen:

Saya sudah jelaskan tuh duduk persoalannya dengan baik. Antara Ali dan Muawiyah, Imam Ali yang benar itu berdasarkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang shahih. Imam Ali melaknat Muawiyah dalam qunut karena menurut Imam Ali memang Muawiyah layak mendapatkannya karena ia telah menyesatkan banyak orang. Laknat dalam qunut itu adalah sesuatu yang syar’i itu yang disebut dengan qunut nazilah. Jadi jauh sekali bedanya dengan Muawiyah yang bahkan pelaknatannya terus dilakukan setelah Imam Ali wafat. Yang satu karena syar’i yang satu karena memang ingin bermaksiat. Paham tidak tuan yang suka membantah :mrgreen:

Hadits tsb dikatakan gharib oleh Imam Tirmidzi si periwayat hadits itu sendiri jadi bagaimana mau dijadikan hujjah? paling tidak beberapa ulama termasuk Imam Tirmidzi melemahkan hadits ini, tetapi ya terserah bagi yg mau menjadikannya hujjah

aduh maaf, kalau anda sendiri tidak paham artinya “gharib” mending gak usah catut-catut Imam Tirmidzi deh. Lagian gak usah terlalu banyak mencari-cari dalih. Sudah dibahas tuh sanadnya para perawinya terbukti tsiqat tidak ada keraguan hadis tersebut shahih. Jadi apalah guna perkataan yang cuma basa-basi :)

Seandainyapun hadits ini shahih, maka kepemimpinan Bani Umayyah adalah merupakan ketetapan dari Allah, cukuplah itu sebagai hujjah akan keabsahannya. Sebelum Al-Hasan, Imam Ali pun pernah melakukan perdamaian (tahkim) dengan Mu’awiyah.

ehem Allah SWT menetapkan kalau Utsman mati dibunuh dalam pengepungannya. Allah SWT menetapkan kalau Imam Husein dibantai di Karbala. apakah mulut anda itu berani mengatakan bahwa Allah SWT meridhai peristiwa tersebut? atau yang lebih celaka lagi mengatakan mereka para pembunuh itu hanya melakukan apa yang sudah jadi ketetapan Allah?. Ayolah jangan berdalih dengan cara menyedihkan, makin lama saya melihat anda ini memang tipe yang hanya membantah tanpa memperhatikan dalil.

Hadits Nabi SAW mengenai Imam Hasan yg akan mendamaikan 2 kelompok kaum muslimin yg bertikai cukuplah menunjukkan keridhaan beliau, mungkin sebelumnya tidak ridha tetapi kemudian ridha, jadi hadits tsb (jika shahih) tidak bisa dijadikan hujjah bahwa Nabi SAW selamanya tidak ridha akan kepemimpinan bani Umayyah.

Ini lagi, lucu. Yang diridhai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah perdamaian itu. Kalau apa yang dilakukan Muawiyah itu sudah dijelaskan dalam hadis shahih bahwa jalan mereka berada di atas neraka ketika perang shiffin. Ketika perang shiffin berdasarkan hadis shahih maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] meridhai kelompok Imam Ali dan tidak meridhai kelompok Muawiyah.

Dengan adanya Ishlah menjadi satu jama’ah dimana didalam jama’ah tersebut terdapat ahlul bait yaitu Al-Hasan, Al-Husein dll berarti ya sudah tidak ada lagi kelompok Al-Baghiyah, case closed saat itu

ah itu kan sama saja mengatakan sudah tidak ada lagi “kelompok baghiyah” sekarang ini karena perangnya sudah berlalu ribuan tahun. Yang dimaksud kelompok baghiyah itu ya dalam perang shiffin.

Kelompok pembunuh Utsman (khawarij) sudah keluar dari barisan Imam Ali setelah peristiwa Tahkim dan beliau telah memeranginya di Nahrawan, dan sebagian sudah dibunuh oleh pasukan Mu’awiyah jadi mereka tidak termasuk dalam jama’ah kecuali yg sdh bertobat tentunya.

Pembunuh Utsman adalah khawarij?. Lho kalau begitu kenapa Muawiyah gak bergabung sama Imam Ali untuk memberantas khawarij. kenapa setelah muncul khawarij Muawiyah masih tetap memerangi Imam Ali. Dalih terus nih

nah kalau pembunuh Ammar gimana, pembunuh Ammar dan yang merampas harta miliknya divonis masuk neraka oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan pembunuh Ammar terdapat pada kelompok Muawiyah. Kalau anda mau mengatakan karena perdamaian maka kelompok Muawiyah adalah kelompok besar kaum muslimin yang diridhai maka pembunuh Ammar juga diridhai, karena perdamaian maka perbuatan mereka telah dimansukh sehingga mereka jadi diridhai. itulah konsekuensinya logika naif anda :)

Lho Ishlah terjadi setelah peperangan, maka peperangan lah yg dimansukh dengan Ishlah :)

heee makanya tolong komentar itu dibaca dulu baik-baik sebelum membantah. Saya itu sedang menanggapi hadis soal Muawiyah yang kata anda ikut perang di laut. peristiwa itu kan sebelum perang shiffin. Jadi keutamaan yang anda maksud sudah dimansukh dengan hadis bahwa Muawiyah itu berada di atas jalan neraka dalam perang shiffin.

Bagaimana mungkin hadits shahih dalam riwayat Bukhari bisa dimansukh oleh hadits dhaif (Mu’awiyah mati tidak dalam islam) ? anda dan syi’ah saja yg menshahihkan hadits tsb

Mungkin saja, dua-duanya shahih orang seperti anda saja yang gak paham ilmu hadis makanya bilang dhaif. Hadis tersebut ada di kitab sunni bukan kitab syiah, kriteria penilaiannya memakai kriteria penilaiaan ilmu hadis sunni bukan ilmu hadis syiah. Jadi kalau mau komentar yang cerdas lah jangan cuma menampilkan sikap sok “itu syiah”.

Dibahas karena ada yg berusaha mendistorsinya, sbgmana skrg dibahas krn ada yg memulainya

Nah itu dia karena para salafy selalu berusaha mendistorsi hadis Nabi dan sirah [sejarah] demi membela sahabat makanya dibahas :mrgreen:

Itu kan persepsi anda mengenai perkataan Imam Ali, saya kira salafy pun mempunyai persepsi tersendiri mengenai perkataan Imam Ali tsb, yg jelas judul yg mereka pakai utk artikel mereka sdh jelas, jadi sindiran anda itu tidak mengena :) . dan yang jelas Imam Ali berpandangan positif mengenai pertempurannya dg pihak Mu’awiyah

Maaf itu kan riwayat hadisnya. hadis yang anda jadikan hujjah menyatakan Imam Ali mengetahui kalau yang terbunuh di shiffin masuk surga. Kalau anda mengatakan itu pendapat Imam Ali saja ya terserah anda. Saya cuma tanya sejak kapan seseorang bisa berpendapat “ia masuk surga” atau “ia masuk neraka” padahal pahala dan dosa seseorang itu hanya Allah SWT yang tahu. Lain ceritanya jika ada orang yang memang mengetahui pahala dan dosa orang tersebut atau niat orang tersebut atau nasib orang tersebut ketika dihisab maka wajar ia berkata orang tersebut mengatakan “ia masuk surga” atau “ia masuk neraka”. Kalau diartikan secara zahir riwayat itu menunjukkan Imam Ali memang mengetahui perkara ghaib yaitu “mereka yang terbunuh di shiffin masuk surga”. Ini jelas perkara ghaib.

Maaf, anda mengatakan Imam Ali berpandangan positif mengenai pertempuran pihak Muawiyah. Saya heran apa anda ini tidak bisa membaca dengan baik kalau Imam Ali berdoa kepada Allah SWT agar menghukum Muawiyah dan pengikutnya jadi pandangan Imam Ali itu Muawiyah dan pengikutnya berada dalam kesesatan saat perang shiffin. Jadi simpel, kalau anda tidak mau mengakui ya diam saja gak usah membantah seperti anak kecil yang terus mengulang bantahan yang sama. :)

***********************

secondprince, on Maret 23, 2011 at 11:14 amsaid:

@STB

Ya sudah anggap saja hadits tsb sanadnya shahih tetapi matannya mungkar, gampang kan?

Ehem ada dua riwayat pertama riwayat Imam Ali mendoakan keburukan pada Muawiyah dan pengikutnya. kedua riwayat Imam Ali menganggap kelompok Muawiyah yang terbunuh masuk surga. Riwayat pertama shahih dan sesuai dengan hadis shahih Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kalau Muawiyah itu di atas jalan neraka. Riwayat kedua mengandung illat dan matannya bertentangan dengan riwayat pertama dan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] makanya disebut matannya mungkar. Bukannya asal sebut mungkar :mrgreen:

Memang kenyataan-nya seperti itu kok, Imam Tirmidzi sendiri mengatakan bahwa ada rawi yang majhul dan riwayat dg lafaz spt ini tidak diketahui kecuali dari jalur ini saja.

Taklid doang tuh, terbukti para perawinya tsiqat, kalau kaidah kerennya yang tahu mengalahkan yang tidak tahu :)

jika anda mengatakan bahwa Allah tidak meridhai Bani Umayyah memimpin kaum muslimin, mana buktinya? Jangan sok tau ya lah

Buktinya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak menyukainya, itulah yang dikatakan dalam hadis shahih.

Jadi yg berkaitan dengan pembunuhan Ammar yg akan masuk neraka adalah pembunuh dan perampas hartanya, dan tentunya itu adalah perkecualian.

Nah pembunuh dan perampas harta Ammar adalah dari kelompok Muawiyah :mrgreen:

tulah makanya anda tidak pernah membela salafi dikarenakan fikrah anda lebih condong ke syi’ah

mungkin salafy lebih condong ke nashibi sih

perkataan Imam Ali itu, yaitu bagi mereka yg terbunuh dalam perang shifin dari kedua kubu yang benar2 mereka berperang atas nama agama maka baginya Surga tentunya.

Mana mungkin, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] jelas-jelas menyebutkan kelompok Muawiyah itu mengajak neraka jadi sesat dong. Terus Imam Ali sendiri mendoakan agar Allah SWT menghukum Muawiyah dan pengikutnya jadi sama dong bagi Imam Ali, Muawiyah itu sesat :mrgreen:

demikian juga dg Mu’awiyah pun bisa berubah sehingga mereka berdua akhirnya berdamai pada peristiwa Tahkim.

Kalau udah damai kok Muawiyah masih memerangi Imam Hasan, damai apa itu dong?. Kalau sudah damai kok ada ceritanya Imam Hasan mendamaikan lagi, damai apa lagi dong? :mrgreen:

********************

secondprince, on Maret 21, 2011 at 5:02 pmsaid:

Ehem saya ingin menanggapi jawaban dari yang saya sebut “orang yang tidak mampu memahami perkataan orang lain”. Ia begitu bersemangat membantah kami soal illat [cacat] riwayat Imam Ali yang ia jadikan hujjah tetapi anehnya tidak ada satupun bantahan itu yang mengena selain klaim atau ngaku-ngaku

Inilah perkataan Adz Dzahabiy tentang Yazid bin Al Ashaam

ولم تصح روايته عن علي، وقد أدركه وكان بالكوفة في خلافته

Tidak shahih riwayatnya dari Ali ia bertemu dengannya di Kufah pada masa pemerintahannya.

Perkataan Adz Dzahabi ini tidak persis sama dengan perkataan Al Mizzi. Al Mizzi mengatakan “meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib [dari jalan yang dhaif]“. Adz Dzahabi mengatakan riwayat Yazid dari Ali tidak shahihwalaupun ia dikatakan bertemu dengan Ali pada masa pemerintahannya. Jadi disini terdapat indikasi kalau Yazid bertemu dengan Ali tetapi tidak mendengar hadis darinya, ini memang dugaan tetapi sudah cukup sebagai illat [cacat].

Aneh bin ajaib “orang itu” mengatakan bahwa maksud Adz Dzahabi adalah tidak shahih itu maksudnya sanadnya tidak shahih sampai Yazid. Ini keliru jika yang dimaksud makna perkataan Al Mizzi maka itu benar tetapi jika yang dimaksud perkataan Adz Dzahabi maka ia keliru karena Adz Dzahabi dengan jelas mengatakan riwayatnya dari Ali tidak shahih. Kalau memang begitu seharusnya Adz Dzahabi mengatakan seperti Al Mizzi yaitu ia meriwayatkan dari Ali dari sanad yang dhaif atau riwayat Yazid dari Ali sanadnya tidak shahih sampai ke Yazid bukan dengan perkataan riwayatnya dari Ali tidak shahih. Perkataan seperti ini menunjukkan kelemahan itu ada pada sisi antara Yazid dan Ali, sehingga disini dapat dipahami bahwa Yazid bertemu dengan Ali tetapi tidak mendengar hadis darinya.

Sebelumnya saya mengatakan bahwa kasus seperti ini masih mungkin. Terdapat perawi yang bertemu dengan perawi lain tetapi tidak mendengar hadis darinya sehingga hadisnya dinilai tidak shahih. Diantaranya saya mengutip tentang Atha’ bin Abi Rabah.

“orang itu” terlalu bersemangat membantah sampai ia mudahnya membuat aturan ilmu hadis yang diada-adakannya sendiri. Ia mengatakan lafaz bertemu itu lebih khusus dari melihat, lafaz bertemu [idraak] dalam ilmu hadis mengindikasikan bersambungnya riwayat.

Saya jawab : secara umum lafaz periwayat “dari” atau lafaz “melihat” atau lafaz “bertemu” adalah lafaz yang menunjukkan sanad tersebut muttashil dengan syarat kalau lafaz “an” perawi itu bukan mudallis dan kalau lafaz “bertemu” atau “melihat” dianggap muttashil selagi tidak ada keterangan yang mengindikasikan hadis tersebut munqathi’.

Perkataan “orang itu” kalau lafaz “idraak” berarti bersambung tertolak dengan adanya para perawi yang memang bertemu tetapi tidak mendengar hadis dari perawi lain. Salah satu contohnya adalah Rufai’ bin Mihraan Abu ‘Aliyah ia salah satu tabiin perawi kutubus sittah.

رفيع أبو العالية الرياحي قال شعبة وابن معين أدرك عليا رضي الله عنه ولم يسمع منه

Rufai’ Abu ‘Aliyah Ar Riyaahi, Syu’bah dan Ibnu Ma’in berkata “ia menemui [idraak] Ali radiallahu ‘anhu tetapi tidak mendengar hadis darinya” [Jami’ Al tahsil Fi Ahkam Al Marasil no 190].

Contoh lain, Ibnu Abi Hatim berkata tentang Hushain bin Jundub Abu Zhabyan

سمعت أبي يقول حصين بن جندب أبو ظبيان قد أدرك ابن مسعود ولا أظنه سمع منه

Aku mendengar ayahku [Abu Hatim] mengatakan Hushain bin Jundub Abu Zhabyan sungguh bertemu [idraak] Ibnu Mas’ud tetapi aku tidak menganggap ia mendengar hadis darinya [Al Marasil Ibnu Abi Hatim 1/50 no 67]

Jadi walaupun Adz Dzahabi sendiri mengatakan Yazid bin Al Asham bertemu dengan Ali, Adz Dzahabi sendiri menyatakan kalau riwayat Yazid dari Ali tidak shahih. maka ini cukup sebagai illat [cacat] kalau sanad tersebut mungkin terputus

Sungguh perkataan “orang itu” kalau lafaz “idraak’ sudah pasti bersambung hanya muncul dari halusinasinya saja. Mungkin ia pikir cuma dirinya saja yang paling paham soal ilmu hadis :mrgreen:

Ocehannya yang lain adalah perkataan kalau tidak ada ulama mutaqaddimin yang mengatakan riwayat Yazid dari Ali mursal. Saya jawab : tidak ada juga ulama mutaqaddimin yang mengatakan Yazid meriwayatkan dari Ali atau tidak ada ulama mutaqaddimin yang mengatakan salah satu guru Yazid bin Al Asham adalah Ali bin Abi Thalib radiallahu ‘anhu.

Mari kita lihat biografi yang ditulis ulama mutaqaddimin yang memuat biografi Yazid bin Al Ashaam. Ibnu Abi Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 9/22 no 1055, Bukhari dalam Tarikh Al Kabir juz 8 no 3157]. Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat 7/429. Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat juz 5 no 6083. Tidak ada satupun dari mereka yang mengatakan Yazid bin Al Asham meriwayatkan dari Ali. tetapi Adz Dzahabi mengatakan riwayatnya dari Ali tidak shahih maka ini cukup sebagai illat yang membuat kami ragu untuk menerima hadis ini. Masih terdapat kemungkinan kalau Yazid bin Al Asham tidak mendengar hadis dari Ali walaupun ia bertemu dengannya.

“orang Itu” ternyata mengakui kalau Imam Ali telah melaknat Muawiyah dalam perselisihan tetapi ia berusaha mengesankan seolah-olah pelaknatan adalah sesuatu yang lumrah dalam berselisih jadi menurutnya Imam Ali melaknat Muawiyah dan begitu pula Muawiyah melaknat Imam Ali. Kalau memang orang tersebut mengakui maka tidak ada alasan baginya untuk mengatakan bahwa pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah yaitu Muawiyah berijtihad dan ijtihadnya tetap mendapat pahala. Kalau memang Imam Ali melaknat Muawiyah atau mendoakan agar Allah SWT menghukum Muawiyah dan pengikutnya maka itu berarti dalam pandangan Imam Ali, kelompok Muawiyah itu berada di atas jalan yang sesat atau bathil. Kalau saya tidak pernah menyamakan Imam Ali dengan Muawiyah, jauh sekali bagaikan langit dan bumi

Saya pribadi tidak ada urusan dengan ocehan waham orang itu bahwa fokusnya adalah apakah Muawiyah kafir dalam perang shiffin?. Saya tidak pernah mengatakan Muawiyah kafir dalam perang shiffin. Pada saat itu ia jelas seorang muslim dan menampakkan dirinya sebagai seorang muslim. Satu-satunya artikel kami yang mungkin berkaitan soal ini adalah Muawiyah itu pada akhir hayatnya ia mati tidak dalam agam islam, hal itu diriwayatkan oleh hadis shahih sebagaimana yang telah dibahas. Jadi bukan dalam perang shiffin

Kemudian ia membawakan riwayat berikut

Telah menceritakan kepada kami Shadaqah : telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah : Telah menceritakan kepada kami Abu Muusaa, dari Al-Hasan bahwasannya ia mendengar Abu Bakrah : Aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbar bersabda – ketika itu Al-Hasan berada di samping beliau, sesekali beliau melihat ke arah orang banyak dan sesekali melihat kepadanya : “Sesungguhnya anakku ini adalah sayyid (pemimpin) dan semoga dengan perantaraannya Allah akan mendamaikan dua kelompok besar dari kaum Muslimin” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3746]

Saya menerima hadis ini dan tidak ada tuh saya menolak hadis ini. Apa yang ia inginkan dari hadis ini?. Jika ia mau mengatakan Muawiyah tidak kafir dalam perang shiffin maka saya pun tidak pernah mengatakan Muawiyah kafir dalam perang shiffin. jadi hujjahnya dengan membawa hadis ini hanya menunjukkan waham kebenciannya kepada Syiah sehingga ketika ada orang bukan syiah membantah tulisannya ia malah bersikap seolah-olah sedang berhadapan dengan orang Syiah. Sepertinya “orang Itu” punya penyakit siapapun yang menyudutkan Muawiyah akan ia anggap sebagai Syiah.

Lain ceritanya jika ia berhujjah dengan hadis Imam Hasan sebagai Sayyid yang mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin sebagai alasan untuk membela atau mengangkat derajat Muawiyah. Saya katakan itu mengada-ada dan asal berhujjah. kelompk Muawiyah memang kelompok kaum muslimin tetapi mereka saat perang shiffin berada di atas kebathilan yang mengajak ke neraka.

Selain itu mungkin “orang Itu” sendiri mengakui kalau di antara kelompok Imam Ali terdapat kelompok yang disebut Muawiyah sebagai para pembunuh Utsman. bukankah kalau menuruti cara berdalil “orang itu” dengan hadis di atas maka kelompok pembunuh Utsman ini juga berarti kelompok kaum muslimin [bukan munafik dan bukan pula kafir]. kalau orang itu mau mengangkat derajat mauwiyah dengan hadis di atas maka ia pun harus mengangkat derajat para pembunuh Utsman dengan hadis di atas. kalau tidak, berarti ia sendiri asal pilih-pilih walau tanaqudh.

Contoh lain, bukankah Abu Ghadiah itu adalah pembunh Ammar ra, dan berdasarkan hadis shahih pembunuh Ammar berada di neraka. Abu Ghadiah atau pembunuh Ammar itu berasal dari kelompok Muawiyah yang dikatakan sebagai kelompok kaum muslimin dengan hadis di atas. Nah walaupun begitu tetap saja pembunuh Ammar divonis masuk neraka. Atau “orang itu” mau berhujjah dengan hadis Bukhari di atas untuk membela dan mengangkat derajat pembunuh Ammar.

Akhir kata seperti yang selalu saya tekankan. Saya bukan orang Syiah, jadi tidak ada alasan bagi “orang itu” kalau mau membantah saya dengan merendahkan dan menyudutkan orang syiah. Itu hanya menunjukkan akhlak yang tidak baik. Orang Syiah tidak ada urusan bagi mereka memakai kitab hadis sunni mereka sudah cukup dengan kitab syiah mereka sendiri. Mereka hanya memakai hadis sunni ketika mereka mau berdialog dengan orang-orang sunni yang notabene tidak mau menerima riwayat Syiah

Jadi kalau ada orang Syiah berhujjah dengan hadis-hadis sunni sambil menolak hadis suni yang lain kedudukannya sama saja seperti para salafy seperti Abul jauzaa, hakekat.com, haulasyiah dan sebagainya yang berhujjah dengan riwayat-riwayat Syiah ketika mereka ingin merendahkan orang syiah. Ehem maka dari itu saya harap jangan ada orang yang berhalusinasi bahwa orang Syiah Indonesia harus berhujjah dengan semua hadis-hadis sunni, kalau begitu mereka sudah tidak lagi menjadi Syiah tetapi menjadi Sunni :mrgreen:

***********************

secondprince, on Maret 22, 2011 at 11:36 amsaid:

@thirdprince

Tentang ta’lil yang Anda bela, justru saya merasa sangat heran dengan Anda. Lafadh idraak adalah lafadh yang menunjukkan kebersambungan sanad. Bukankah Anda mencontohkan tentang kasus ‘Athaa’ yang hanya sekedar melihat namun tidak meriwayatkan ? Tentu saja, ini berbeda.

Saya membawa contoh itu hanya untuk menunjukkan kalau ada saja perawi bertemu perawi lain tetapi tidak mendengar hadisnya. Anda malah mempermasalhkan lafaz idraak makanya saya ganti dengan contoh lain yang memang ada lafaz idraak. Intinya lafaz idraak tidak selalu muttashil tergantung qarinahnya.

Adakah pernyataan dari ulama mutaqaddimiin sebelum Adz-Dzahabiy yang mengatakan riwayat Yaziid dari ‘Aliy itu mursal ?.

Kalau saya yang menjawab : “Tidak ada”.

Yang saya ketahui yang jelas-jelas mengatakan mursal adalah Al-’Alaaiy, tapi itu bukan dari riwayat ‘Aliy, tapi riwayat yang disandarkan langsung kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Kalau anda meminta qarinah yang seperti itu, ya saya jawab “tidak ada”. Qarinah saya hanya pada pernyataan Dzahabi bahwa riwayat Yazid dari Ali tidak shahih dan tidak ada satupun ulama mutaqaddimin yang menyatakan Yazid meriwayatkan atau berguru kepada Ali. Bagi saya itu sudah cukup sebagai illat yang membuat saya ragu, ditambah lagi dengan matannya yang bertentangan dengan hadis shahih. soal matan sudah saya bahas di atas.

Dulu anda gampangan sekali melemahkan riwayat Abu Shalih dari Malik Ad Daar hanya dengan qarinah pernyataan Al Khalili bahwa “sebagian mengatakan ia mengirsalkannya“. Anda gak peduli dengan qarinah Al Khalili bahwa sebagian yang lain mengatakan Abu Shalih mendnegar hadis dari Malik Ad Daar. Anda gak peduli dengan fakta bahwa tidak ada satupun ulama mutaqaddimin yang menyatakan riwayat Abu Shalih dari Malik adalah irsal. Sekarang kalau saya berhujjah dengan qarinah perkataan Dzahabi bahwa riwayat Yazid dari Ali tidak shahih dan qarinah bahwa Yazid tidak dikenal meriwayatkan dari Ali [di kalangan mutaqaddimin] kenapa anda malah sewot, yang anda lakukan dahulu itu jauh lebih parah

Salaf dari perkataan Adz-Dzahabiy yang semakna adalah Al-Mizziy, yang notabene adalah gurunya. Oleh karena itu, perkataan ini dibawa pada satu makna, karena memang dhahirnya demikian. Dalam kitab Maghaanil-Akhbaar, juga dituliskan sebagaimana yang dikatakan Al-Mizziy.

Kalau mau berpegang pada zhahir perkataan maka sudah saya katakan zahir perkataan Dzahabi adalah riwayatnya dari Ali tidak shahih. sudah dibahas di atas bahwa makna lafaz ini illat itu berada antara Yazid dan Ali, bukannya sanad sblum Yazid

Dalam Taarikh Dimasyq disebutkan beberapa riwayat kisah Yaziid ini ketika ia bertemu dengan ‘Aliy, Mu’aawiyyah, dan Al-Husain bin ‘Aliy (walau saya sendiri belum meneliti satu persatu akurasi/keshahihan masing-masing riwayat).

Silakan tuh ditampilkan analisis anda, kalau memang menjadi bukti kuat saya tidak keberatan menerimanya.

Adalah lucu Anda berhujjah bahwa Al-Bukhaariy, Ibnu Abi Haatim, atau Ibnu Hibbaan tidak menyebutkan ‘Aliy dalam jajaran syaikh Yaziid sebagai satu indikasi bahwa riwayatnya dari ‘Aliy munqathi’. Apa tidak ada alasan lain yang lebih bagus dari ini ? Adakah mereka mengatakan penafikkan itu ? Tidak, karena itu murni perkataan Anda semata. Selain itu, yang menjadi hujjah adalah riwayat. Adapun penyebutan biografi oleh Al-Bukhaariy, Ibnu Abi Haatim, dan yang lainnya bukanlah sebagai pembatas sebagaimana Anda juga telah ketahui. Bukankah banyak contoh yang seperti ini ?

Yang lucu adalah anda yang berulang kali tidak bisa memahami jawaban saya. Saya menjawab seperti itu untuk menanggapi hujjah anda apakah ada ulama mutaqaddimin yang menyatakan riwayat Yazid dari Ali mursal, maka saya jawab dengan menampilkan tidak ada satupun ulama mutaqaddimin yang menyatakan Yazid meriwayatkan dari Ali. Kalau tidak ada satupun yang menyatakan Yazid meriwayatkan dari Ali maka wajar saja tidak ada yang menyatakan riwayat Yazid dari Ali mursal.

Sejauh ini riwayat Imam Ali itu masih mengandung illat yaitu riwayat Yazid dari Ali tidak shahih. Kalau anda mau berkeras shahih ya silakan.

Yaziid juga mempunyai mutaba’ah dari ‘Utbah bin Abi ‘Utbah :

أَنَا بِحَدِيثِهِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ رِزْقَوَيْهِ، وَالْحَسَنُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، قَالا: أَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الْمُعَدَّلُ، نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَسَنِ الْهَاشِمِيُّ، نا شَبَابَةُ، نا حَمْزَةُ بْنُ دِينَارٍ، عَنْ عُتْبَةَ بْنِ أَبِي عُتْبَةَ، قَالَ: وَقَفَ عَلِيٌّ عَلَى قَتْلاهُ وَقَتْلَى مُعَاوِيَةَ، فَقَالَ: ” غَفَرَ اللَّهُ لَكُمْ لِلْفَرِيقَيْنِ جَمِيعًا ”

Telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Rizqawaih dan Al-Hasan bin Abi bakr, mereka berdua berkata : Telah memberitakan kepada kami ‘Abdullah bin Ishaaq bin Ibraahiim Al-Mu’addal : Telah memberitakan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Hasan Al-Haasyimiy : Telah mengkhabarkan kepada kami Syabaabah : Telah mengkhabarkan hamzah bin Diinaar, dari ‘Utbah bin Abi ‘Utbah, ia berkata : ‘Aliy berhenti di dekat orang-orang yang terbunuh dari pihaknya dan pihak Mu’aawiyyah. Lalu ia berkata : “Semoga Allah mengampuni kalian dua kelompok ini semuanya” [Diriwayatkan oleh Al-Khathiib dalam At-Talkhiish no. 1249].

Riwayat ini lemah karena Yaziid bin Diinar adalah majhuul haal(dua orang tsiqah meriwayatkan darinya : Husyaim dan Syabaabah) dan keterputusan antara ‘Utbah dengan ‘Aliy. Namun ia bisa dijadikan i’tibar.

Terlepas dari kelemahan riwayatnya maka dari sini kita dapat memahami kalau Imam Ali mendoakan yang terbunuh dalam perang shiffin agar diampuni oleh Allah SWT dan diberikan imbalan surga. Riwayatnya berhenti disitu nah anda itu kerjaannya melebarkan hadis itu seolah-olah berusaha mengangkat derajat Muawiyah dalam perang shiffin.

Kalau yang anda maksud pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah dan pengikutnya maka itu sudah terjawab dalam riwayat dimana Imam Ali mendoakan agar Allah SWT menghukum Muawiyah dan pengikutnya. Dari sini saja sudah jelas dalam pandangan Imam Ali Muawiyah dan pengikutnya adalah kelompok yang berada dalam kesesatan.

Kalau seandainya ada riwayat dimana Imam Ali mendoakan sebagian yang terbunuh dari pihak Muawiyah maka hal ini masih bisa dipahami bahwa yang didoakan itu adalah sebagian orang yang ikut perang karena fitnah dari Muawiyah dan pengikutnya.

Dan yang paling jelas menunjukkan bagaimana kedudukan Muawiyah dan pengikutnya dalam perang shiffin adalah hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa mereka adalah kelompok yang mengajak ke neraka. Ini bukti shahih kalau Muawiyah dan pengikutnya itu dalam kesesatan saat perang shiffin. Bukankah ini riwayat-riwayat yang anda nafikan begitu saja ketika anda menulis artikel “aneh” anda itu.

saya pun tidak ada urusannya dengan hadits lemah yang Anda katakan bahwa Mu’aawiyyah meninggal dalam keadaan kaafir. Saya pun telah membahasnnya. Yang shahih dalam Shahihain, bahwasannya Mu’aawiyyah diberitakan balasan baginya jannah.

Saya pun sudah membahas bantahan anda. Tidak ada tuh satupun bukti kalau hadis tersebut lemah. Sesuai standar ilmu hadis hadis tersebut shahih. Hadis Ummu Haram pun sudah saya bahas bahwa mereka yang berperang dengan niat agama Allah maka wajib baginya mendapat pahala dan ini tidak berlaku secara umum sebagaimana yang sudah saya bahas. Bagaimana mungkin hadis Ummu Haram itu menjadi keutamaan Yazid bin Muawiyah pula padahal terdapat hadis yang menafikannya, bukankah ini bukti kalau hadis itu tidak bersifat umum

Kalau anda berhujjah dengan hadis Ummu Haram bahwa Muawiyah mendapat surga maka saya dapat berhujjah menuruti logika anda itu dengan hadis pembunuh Ammar dimana Ammar dibunuh oleh kelompok pembangkang dan pembunuhnya berada di neraka. Muawiyah termasuk dalam kelompok yang membunuh Ammar maka Muawiyah berada di neraka. Tetapi saya tidak mau berhujjah demikian karena hadis-hadis itu tidak bersifat umum. Karena terdapat petunjuk yang mengecualikannya.

Kalau Anda tidak menolak hadits Al-Hasan, ya syukurlah. Berarti itu tidak tertuju kepada Anda, tapi tertuju kepada orang-orang Syi’ah yang mirip Anda. Musang seperti Anda memang mudah mengatakan : Saya bukan Syi’ah. Terus bermimpilah bahwa Anda bukan seorang Syi’ah….

Wah maaf saya tidak perlu bermimpi, karena pernyataan “saya bukan Syi’ah” adalah fakta yang ada pada diri saya. Justru banyak musang-musang di dunia maya ini yang mengaku salafy tetapi ketika dihadapkan hadis shahih yang bertentangan dengan keyakinannya seperti hadis Tsaqalain, mereka berusaha menolak dengan segala cara yang bathil. Sungguh mereka Musang yang bermimpi menjadi salafy tetapi mendustakan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Maaf saya bukan orang-orang seperti anda yang terikat dengan kelompok dan syaikh-syaikh tertentu seraya merendahkan syaikh-syaikh yang lain yang tidak sepaham dengan kelompok anda. Bagi saya cukup menerima Al Qur’an dan Al Hadis tanpa intervensi musang-musang yang mengaku salafy.

Semoga Allah SWT menjaga saya dari orang-orang yang suka menuduh. Apalagi mereka yang suka menuduh syiah dan taqiyah hanya karena orang tersebut membantah tulisan-tulisan salafy mereka.

Sesat pikir menjangkiti Anda ketika Anda tidak mampu menangkap esensi yang saya katakan. Bukankah saya mengatakan tentang hadits perdamaian antara Al-Hasan dan Mu’aawiyyah itu menandakan bahwa Mu’aawiyyah bukanlah seorang yang kafir ? Bukankah orang-orang Syi’ah telah menstigma kafir semenjak pertama kali konfrontasi Mu’aawiyyah dengan ‘Aliy.
Urusan Anda tidak mau menerima hadits ini…..

hadis mana yang saya tidak terima? jangan berwaham ria. Saya tidak pernah mengatakan Muawiyah kafir dalam perang shiffin tetapi saya tidak pernah pula menjadikan hadis perdamaian itu sebagai keutamaan bagi Muawiyah. Bukankah pembunuh Ammar itu ada di kelompok Muawiyah dan bukankah pembunuh Ammar itu divonis neraka. terus apakah ada orang “aneh” yang mau menjadikan hadis perdamaian itu sebagai pembelaan bagi “pembunuh Ammar”.

Siapa yang tidak mengerti esensi pembicaraan?. kalau tujuan artikel anda hanya untuk mengatakan Muawiyah tidak kafir dalam perang shiffin maka saya sepakat. tetapi tidak ada alasan untuk menafikan bahwa ada kelompok Muawiyah yang masuk neraka dan tidak pula hadis perdamaian itu menafikan kemungkinan Muawiyah dan pengikutnya sendiri suatu saat setelah perang shiffin bisa menjadi kafir. Kesan yang saya tangkap anda dengan hadis perdamaian itu berusaha membela Muawiyah dan menolak hadis Muawiyah mati tidak dalam agama islam padahal dari mana sisi penolakannya. Seolah-olah mereka yang terlibat dalam perang shiffin setelah perdamaian mustahil menjadi murtad atau kafir.


____________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN-KLIK DISINI-

*******************************************************************************

_______________________________________________________________________________________________

.

TULISAN TERKAIT TENTANG MUAWIYAH

  1. Meluruskan Muawiyah -Inilah Petunjuk yg diberikan Muawiyah- Muawiyah 1
  2. Meluruskan Sikap Muawiyah Terhadap Hadis Nabi SAW -Petunjuk lain yang diberikan Muawiyah- Muawiyah 2
  3. Hadiah Buat Salafiyun : Inikah Bukti Muawiyah Pembawa Petunjuk Yang Memberikan Petunjuk? Muawiyah 3
  4. Kedudukan Hadis “Ya Allah Jadikanlah Muawiyah Seorang Yang Memberi Petunjuk” Muawiyah 4
  5. Sahabat Nabi Yang Menghina Ahlul Bait Muawiyah 5
  6. Muawiyah dan Mimbar Nabi Muawiyah 6
  7. Imam Hasan Dan Bani Umayyah Di Mimbar Nabi Muawiyah 7
  8. Kedudukan Hadis “Jika Kamu Melihat Mu’awiyah Di MimbarKu Maka Bunuhlah Ia” Muawiyah 8
  9. Pembahasan Matan Hadis “Jika Kamu Melihat Muawiyah Di MimbarKu Maka Bunuhlah Ia”.  Muawiyah 9
  10. Pembelaan Nashibi Terhadap Muawiyah : Studi Kritis Hadis Tentang Muawiyah -Tambahan tentang hadis “Jika kamu melihat Muawiyah di mimbarKu maka bunuhlah ia”-  Muawiyah 10
  11. Kedudukan Hadis “Ya Allah Ajarkanlah Muawiyah Al Kitab dan Al Hisab”  -Bantahan Untuk Salafy-  Muawiyah 11
  12. Hadis Penyimpangan Muawiyah Dalam Shahih Muslim Muawiyah 12
  13. Hadis Penyimpangan Muawiyah Dalam Sunan Abu Dawud Muawiyah 13
  14. Hadis Muawiyah Meminum Minuman Yang Haram  Muawiyah 14
  15. Hadis Muawiyah Meminum Minuman Yang Diharamkan : Membantah Syubhat Salafy Bantahan Untuk Salafy- Muawiyah 15
  16. Muawiyah Membunuh Sahabat Nabi Hujr bin Adi Muawiyah 16
  17. Sahabat Nabi Yang Membunuh Ammar bin Yaser RA Muawiyah 17
  18. Keutamaan Penulis Wahyu? Muawiyah 18
  19. Bantahan Atas “Sekelumit Tentang Keutamaan Muawiyah bin Abi Sufyan” (Ibnu Rahawaih: Tidak Shahih Satupun Dari Hadis Keutamaan Muawiyah)  Bantahan Untuk Blog “Haula Syiah” Muawiyah 19
  20. Shahih: Ishaq bin Rahawaih Mengakui Tidak Ada Satupun Hadis Shahih Keutamaan Muawiyah Muawiyah 20
  21. Semua Hadis Keutamaan Mu’awiyah Palsu ! Bantahan Atas Blog Haulasyiah Muawiyah 21
  22. Bantahan Atas -Haula Syiah-: Hadis: “Semoga Allah tidak Mengenyangkan Perutnya, Yakni Perut Muawiyah”. Adalah Doa Keburukan Nabi saw. Atas Mu’awiyah Muawiyah 22
  23.  Hadis Semoga Allah Tidak Mengenyangkan Perut Muawiyah -Meluruskan Distorsi dan Syubhat Salafy-   Muawiyah 23
  24. Doa Qunut Imam Ali Terhadap Muawiyah dan Amru bin Ash Beserta Pengikut Mereka Muawiyah 24
  25. Hadis Muawiyah bin Abu Sufyan Seorang Yang Dilaknat Allah SWT [Bagian 1]  Muawiyah 25
  26. Hadis Muawiyah Dilaknat Allah SWT [Bagian Kedua] Muawiyah 26
  27. Hadis Muawiyah Mati Tidak Dalam Agama Islam? Muawiyah 27
  28. Hadis Muawiyah Mati Tidak Dalam Agama Islam : Bantahan Terhadap Salafy Muawiyah 28
  29. Riwayat Muawiyah Mencela Imam Ali AS Adalah Shahih -Bantahan Untuk Salafy- Muawiyah 29
  30. Mu’awiyah Memberantas Hadis Keutamaan Imam Ali as. Muawiyah 30
  31. Muawiyah dan Pengikutnya Meninggalkan Sunnah Karena Kebencian Terhadap Imam Ali? Muawiyah 31
  32. Pandangan Imam ‘Aliy bin Abi Thalib Terhadap Perangnya Dengan Muawiyah   Muawiyah 32

____________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: