Bantahan Dan Tantangan Untuk haulasyiah: “Tak Ada Gunanya Membela Gembong Kaum Munafik!”

Bantahan Dan Tantangan Untuk haulasyiah: “Tak Ada Gunanya Membela Gembong Kaum Munafik!”

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Oleh Ibnu Jakfari

Ketika Maling Teriak Maling

Bantahan Atas: Ketika sang pendusta sok berbicara di persembahkan untuk haulasyiah.wordpress.com

“Tulisan dibawah ini kami lengkapi dengan bukti scan dari kitab “Minhajus-Snnah” karya Ibnu Taymiah, terbitan Saudi Arabia yang di Tahqiq oleh Dr. Muhammad Rasyad Salim”

Pendahuluan:

Segala puji bagi Allah Rabbul ‘Âlamîn. Shalawat serta salam semoga dicurahkan atas junjungan kita Nabi kita Sayyiduna Muhammad dan keluarganya.

Wa ba’adu,

Allah SWT berfiman:

وَ لا تُجادِلْ عَنِ الَّذينَ يَخْتانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كانَ خَوَّاناً أَثيماً

“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.” (QS. An Nisa’/107)

Dalam ayat di atas Allah SWT menesehati kita agar sekali-kali tidak berdebat membela kaum pengkhianat…. Sebagaimana dalam akhir ayat sebelumnya juga ditegaskan agar kita tidak menjadi pembela kaum pengkianat. Hal demikian dikarenakan“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.” Andai Anda berhasil membela si pengkhinat dan membebaskannya dari kejahatan yang ia lakukan dengan kelihaian pembelaan Anda sehingga banyak orang tertipu dan menganggapnya bersih dari dosa dan kesalahan, lalu siapakan yang membelanya kelak di hadapan Allah ketika Pengadilan Ilahi digelar? Akankah dia terbebas? Akankah kelihaian pembelaan Anda berguna? Sama sekali tidak berguna!!

.

ها أَنْتُمْ هؤُلاءِ جادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَياةِ الدُّنْيا فَمَنْ يُجادِلُ اللَّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيامَةِ أَمْ مَنْ يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكيلاً

“Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat Atau siapakah yang jadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah).” (QS. An Nisâ’/109 )

Membela pendosa yang berterang-terang dalam menjalankan aksi dosa dan kefasikannya bukankah yang diajarkan dan dibenarkan dalam agama Islam…. Membela sesama kaum munafik akan selalu menjadi ciri kaum solidaritas di antara kaum munafik. Allah SWT berfirman:

.

الْمُنافِقُونَ وَ الْمُنافِقاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَ يَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنافِقينَ هُمُ الْفاسِقُونَ وَعَدَ اللَّهُ الْمُنافِقينَ وَ الْمُنافِقاتِ وَ الْكُفَّارَ نارَ جَهَنَّمَ خالِدينَ فيها هِيَ حَسْبُهُمْ وَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَ لَهُمْ عَذابٌ مُقيمٌ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik. Allah mengancam orang- orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal.” (QS. At Taubah/67-68)

Allah juga berfirman:

وَ إِنَّ الظَّالِمينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِياءُ بَعْضٍ وَ اللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقينَ

“Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (QS al Jâtsiyah/19)

Membela Ibnu Taymiah Hanya Menuai Kesia-siaan Belaka!

Penyimpangan Ibnu Taymiah dan sikap sinisnya terhadap Ahlulbait Nabi as., khususnya Imam Ali dan putri tercinta Nabi Fatimah as. bukanlah sesuatu yang samar bagi yang berkesempatan meneliti stitmen dan pernyataan sumbang Ibnu Taymiah…. Apa yang kami paparkan dalam blog ini barulah sekelumit dari pernyataan-pernyataan miring Ibnu Taymiah, sementara yang belum sempat kami ungkap (dan insya Allah akan kami ungkap dengan bantuan dan taufiq dari-Nya) jauh lebih banyak.

Maling Berteriak Maling!

Bukan maksud kami terhanyut dalam akhlak kaum Nawashib (yang sekarang diwakili oleh kaum Ghulât Wahhâbi/Salafi) dalam mengumbar kata-kata kasar dan jauh dari akhlak mulia. Akan tetapi demikianlah kurang lebih gambaran kaum yang berteriak menuduh tanpa malu setiap yang bangkit membela Imam Ali dan Ahlulbait Nabi as. sebagai Syi’ah (yang selalu mereka sebut dengan nada sinis dan mengejek dengan sebutan Rafidhah) dan kemudian memvonisnya sebagai kadzdzâb/pembohong! Dusta adalah akhlak andalan mereka… dan kata-kata palsu lainnya. Seperti ketika mereka menuduh kami dengan kata-kata:

Disana ada sebuah kelompok yang berani menghalalkan dusta bahkan menjadikannya sebagai simbol agama, mereka adalah syi’ah rafidhah. wallahu a’lam, apa yang mendasari mereka berkeyakinan seperti itu. Tapi yang pasti sejak awal munculnya mereka sudah dikenal sebagai pendusta. Bahkan hingga kini, sifat ini masih melekat erat di hati mereka dan menjadi simbol khusus.

Sementara imam kebanggaan mereka yang sedang mereka bela secara Cuma-cuma; Ibnu Taymiah tenggelam dalam dusta tanpa malu hampir dalam setiap stitmennya dalam menghujat Syi’ah dan membantah argumentasi Syeikh Allamah Hilli penulis kitab Minhâj al Karâmah (yang sedang ia bantah habis-habisan dalam kitab Minhaj as Sunnah-nya)….

Sebagai Sunni sejati tentu akan dibuat malu dihadapan kaum Syi’ah ketika Ibnu Taymiah tampil dengan mengatas-namakan Ahlusunnah Wal Jamâ’ah dalam menghadapi Syi’ah Imamiyah sementara akhlak dan argumentasi yang ia jadikan senjata pamungkas adalah argumentasi kaum Nawâshib (para pendengki dan pembenci Ali dan Ahlulbait Nabi as.)…

Para ulama Ahlusunnah sendiri seperti Ibnu Hajar al Asqallâni dll. menegaskan penyimpangan sikap dan bahkan tidak sedikit –kata Ibnu Hajar– di antara ulama Ahlusunnah yang menuuduh Ibnu Taymiah sebagai seorang munafik kerena sikap dan pernyataan sumbangnya tentang Sayyidina  Ali kw.

ومنهم من ينسبه الى الزندقة، لقوله ان النبي لا يستغاث به، وان في ذلك تنقيصا و منعا من تعظيم النبي، ومنهم من ينسبه الى النفاق لقوله في علي ما تقدم، ولقوله انه كان مخذولا حيثما توجه، وانه حاول الخلافة مرار فلم يحصلها، انما قاتلة للرئاسة لا للديانة.

“Dan di antara ulama Islam ada yang menisbatkannya (Ibnu Taimiyah) kepada kakafiran karena ucapannya bahwa Nabi tidak layak diistighatsai. Ucapan itu adalah penghinaan dan larangan untuk mangagungkan Nabi. Dan di antara ulama ada yang menisbatkannya kepada kemunafikan karena ucapannya yang lalu dan ucapannya bahwa Ali selalu dihinakan Allah kemanapun ia menuju. Dan ia (Ali) terus-menerus merusaha merebut Khilafah tetapi tidak pernah berahasil. Ali berperang hanya untuk merebut kekuasaan bukan untuk menegakkkan agama.

(Ibnu Hajar Al Asqalani, Ad Durar al Kaaminah, I/150)

Di sepanjang polemik yang terjadi antara pihak Syi’ah Imamiyah dan Ahlusunnah, para ulama Ahlusunnah tidak pernah sudi menghadapi argumentasi Syi’ah dengan mengedepankan argumentasi kaum Nawâshib, apalagi hanya karena semangat membela kekhalifahan Sayyiduna Abu Bakar dan Umar mereka harus melecehkan Sayyiduna Imam Ali as. dan menghinakan beliau serta menuduhkan tuduhan-tuduhan keji seperti diperankan oleh Ibnu Taymiah dalam kitab Minhâj as Sunnah-nya yang dengan penuh semangat! Sama sekali dalam berdialoq dengan Syi’ah, pihak Ahlusunnah tidak harus menjadi Nawâshib!! Sama sekali tidak!! Dalam mempertahankan konsep kesunniannya, Ahlusunnah tidak harus membela Mu’awiyah apalagi Yazid seperti yang “mati-matian” dibela oleh Ibnu Taymiah Cs…[1] Untuk menjadi Sunni sejati tidak perlu menghujat dan menvonis sesat Imam Husain –cucu tercinta Nabi saw.- seperti yang dilakukan Ibnu Taymiah dan konco-konconya seperti Ibnu al Arabi al Maliki an Nashibi![2]

Memang kaum Nawâshib selalu berusaha menarik para ulama Sunni dan membawa gerbong mazhab Sunni ke rangkaian kereta kebencian kepada Ahlulabit alias kenashibian yang dilakonkan oleh antek-antek kaum Nawâshib di sepanjang sejarah umat Islam! Akan tetapi para ulama Ahlusunnah jauh lebih mulia dari dapat mereka seret ke lembah hina kebencian dan kesinisan sikap terhadap Imam Ali as. dan Ahlulbait Nabi saw.

Inti Hujatan haulasyiah Atas Kami

Sebenarnya inti hujatan dan amukan pengelolah blog haulasyiah atas kami adaalah pada poin nukilan kami atas pernyataan Ibnu Taymiah tentang pengagungan terhadap Ahhlulbait as. di mana haulasyiah menuduh kami sebagai berdusta dan mengada-ngada!

Nukilan yang dimaksud adalah:

Tahukan Anda apa jawaban yang disajikan Ibnu Taimiyah? Anda pasti tidak sabar menanti jawaban dari “Syeikhul Islam” Wahhâbi/salafy ini. Di sini ia menjawab:

إن فكرة تقديم ال الرسول هى من اثر الجاهلية فى تقديم أهل البيت الرؤساء.

“Sesungguhnya konsep pengutamaan Aal Rasul (keluarga Rasulullah saw.) adalah kerak peninggalan jahiliyah dalam mengutamakan keluarga (aalu bait) para penguasa (pimpinan)”

Tolong diperhatikan ini adalah kutipan kami yang salah atas ucapan Ibnu Taymiah dalam artikel kami yang lalu, yang dipermasalahkan oleh haulasyiah. anda bisa melihat kutipan tersebut dalam artikel kami disini atau yang di kutip haulasyiah disini (ditulis dengan tinta hijau)

Sebelumnya telah kami informasikan bahwa tanpa sengaja telah terjadi kesalahan redaksi dalam penukilan pernyataan di atas,  dan  karenanya setelah kami ketahui langsung kami RALAT (tanpa menghapus  kutipan kami yang salah) selanjutnya kami sajikan “redaksi otentik” pernyataan Ibnu Taymiah (dalam bantahan kali ini kami tampilkan scan asli dari Minhajus Sunnah-nya Ibnu Taymiah).  Sebenarnya kesalahan tersebut bukan pada substansi dan maknanya dan tidak berbeda dalam maksud dan hakikatnya.

Saya persilahkan pembaca memperhatikan dua redaksi tersebut, dan setelahnya kami persilahkan Anda untuk membandingkannya, adakah perbedaan dalam hakikat dan esensi antara kedunya dalam tuduhannya bahwa penghormatan Ahlulbait/keluarga Nabi Muhammad saw. itu adalah kerak peninggalan pikiran jahilyah!

Saya persilahkan Anda memperhatikan dan menelitinya:

  • Redaksi yang dihujat haulasyiah:

إن فكرة تقديم ال الرسول هى من اثر الجاهلية فى تقديم أهل البيت الرؤساء.

“Sesungguhnya konsep pengutamaan Aaal Rasul (keluarga Rasulullah saw.) adalah kerak peninggalan jahiliyah dalam mengutamakan keluarga (aalu bait) para penguasa (pimpinan)”

Tolong diperhatikan: ini adalah kutipan kami yang salah atas ucapan Ibnu Taymiah dalam artikel kami yang lalu, yang dipermasalahkan oleh haulasyiah. anda bisa melihat kutipan tersebut dalam artikel kami disini atau yang di kutip haulasyiah disini (ditulis dengan tinta hijau)

  • Redaksi yang benar yang kami sebutkan dalam ralatan:

و إنما قال من فيه أثر جاهلية عربية أو فارسية أنَّ بيت الرسول أحقُّ بالولاية. لأنَّ العرب في جاهليتها كانت تقدم أهل ببت الرؤساء, و كذلك الفرس يقدمون أهل ببت الملك….

“Hanya orang yang padanya terdapat kerak Jahiliyah Arabiyah atau Jahiliyat Persia saja yang mengatakan bahwa keluarga Rasul lebih berhak atas kepemimpinan, al wilâyah. Karena kaum Arab dahulu di masa kejahiliyahan mereka  mengutamakan keluarga para pemimpinnya. Demikian juga dengan bangsa Persi, mereka mengutamakan keluarga raja mereka.”

(Minhaj As Sunnah,3/269.) atau (Minhaj As Sunnah -Cetakan Saudi, Tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim, Jilid6, hal. 455-456)

Tolong diperhatikan: Inilah  kutipan ucapan Ibnu Taymiah yang benar dalam Minhajus-Sunnah-nya -lihat scan- !!

Minhaj_6_Cover_rsz

Minhaj_6_455_rsz_18p

Minhaj_6_456_rsz_18p

Adakah Anda menyimpulkan kesimpulan yang berbeda?

Untuk lebih membuktikan keakuratan penukilan ini (di samping scan diatas) saya persilahkan bagi Anda yang berminat merujuk langsung ke kitab Mihâj as Sunnah pada alamat yang disebutkan haulasyiah di bawah ini:

Dalam bentuk doc (6 jilid): http://www.saaid.net/book/open.php?cat=1&book=760

bentuk Syamilah (.bok): http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?p=421697

atau anda juga bisa mencari kata diatas secara online di: http://arabic.islamicweb.com/books/taimiya.asp?book=365

Dan adalah lebih baik bagi para pembela Ibnu Taymiah untuk memberikan pembelaan juga dalam pernyataan sumbangnya ini! Adapun melempar tuduhan dan memuntahkan luapan emosi dan kedengkian kepada kami karena kami membongkar kesesatan pandangan dan pikiran “Syeikhul Islam mereka” adalah tidak berguna di ruang ilmu pengetahuan.

Adapun kata-kata haulasyiah bahwa:

Zainal Abidin dan konco-konconya adalah makhluk Allah yang sangat benci terhadap Ibnu Taimiyyah…..

Maka kami sama sekali tidak pernah merisaukan apakah kaum Wahhâbi yang Nawâshib akan membenci kami atau menyanjung kami… itu sama sekali tidak pernah kami perhitungkan sebab panutan kami adalah para ulama Ahlusunnah yang jauh lebih mengenal siapa sejatinya Ibnu Taymiah dan bagaimana kesesatan pikiran dan akidanya, khsuusnya tentang para sahabat Nabi saw. dan utamanya adalah Imam Ali as.  dan sekedar mengingatkan pembaca kami sebutkan kembali pernyataan Ibnu Hajar al Haitami tentang siapa sejatinya Ibnu Taymiah –yang selalu dibanggakan dan disanjung bak seorang nabi yunior oleh kaum Wahhâbi yang Nawâshib-:

إبنُ تيمية عبدٌ خذلَهُ اللهُ و أضَلَّهُ و أعماهُ و أَصَمَّهُ و أذلَّهُ. و بذلكَ صرَّحَ الأئمةُ الين بيَّنُوا فسادَ أحوالِهِ و كِذْبَ أقوالِهِ. و من أراد ذلكَ فعليه بِمُطالَعَةِ كلامِ الإمام الْمُجتهد المُتَّفق على إمامتِهِ و جلالَتِهِ و بلوغه مرتبةَ الإجتهاد، أبي الحسن السبكيْ ولدِهِ التاج و الإمام العز إبن جماعَة، و أهلُ عصرِهِ و غيرهم من الشافعية و المالكية و الحنفية. و لم يقتصر أعتراضه على مًتأخري الصوفية، بل اعترض على مثل عمر بن الخطاب و علي بن أبي طالب رضي الله عنهما……

و أياكَ أن تصغِيْ إلى ما في كتب إبن تيمية و تلميذه إبن القيم الجوزية و غيرهما مِمن اتخذ إلهَهُ هواه و أضلَهُ اللهُ على علمٍ و ختم على سمعه و قلبه و جعل على بصرِهِ غشاوَةً، فمن يهديه مِنْ بعد الله… و كيف تجاوز هؤلاء المُلْحِدون الحدودَ و تعدَّوا الرسومَ و خرقوا سياجَ الشريعة و الحقيقة، فظنوا بذلك أنهم على هُدًى مِن ربهم، و ليسوا كذلك بل هم على أسوأ ضلالٍ و أقبحِ خصالٍ و أبلغ المقتِ و الخسران و أنهى الكذب و البهتان… فخذل الله مُتَّبعيهِم و طهَر الأرضَ م أمثالهِم.

Ibnu Taymiah adalah hamba yang telah ditelantarkan Allah, disesatkan, dibutakan, ditulikan dan dihinakan. Demikian dijelaskan para imam yang telah membongkar kejelakan keadaannya dan kepalsuan ucapannya. Siapa yang mengetahui hal itu hendaknya ia menelaah komnetar Imam Mujtahid yang telah disepakati akan ketokohan dan keagaungannya serta sampainya ke derajat ijtihad; Abu al hasan as Subki dan putranya, serta Imam al Izz ibn Jama’ah, demikian pula komentar mereka yang sezaman dan lainnya dari kalangan ulama mazhab Syafi’ah, Malikiah dan Hanafiah. Ibnu Taymiah tidak terbatas hanya mengkritik para pemuka sufi mutaakhkhirîn, tetapi ia juga mengkritik Umar ibn al Khaththab dan Ali ibn Abi Thalib ra….

Hati-hatilah kamu dari menelaah buku-buku Ibnu Taymiah dan muridnya; Ibnu al Qayyim al Jawziah dan selain keduanya dari orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan dan disesatkan Allah kendati ia pandai, serta Ia tutup telinga dan hatinya serta Ia jadikan atas penglihatannya penutup, lalu siapakah yang akan memberi hidayah selain Allah… bagaimana kaum ateis itu menerobos batas dan melampau garis serta menerjang pagar syari’ah dan hakikat, mereka mengira dengan itu mereka berada di atas hidayah dari Tuhan mereka. Tidak demikian! Mereka berada d atas kesesatan paling jelek, keadaan paling buruk, puncak murka dan kebohongan dan kepalsuan paling puncak… Allah menghinakan para pengikut mereka dan membersihkan permukaan bumi dari orang-orang seperti mereka.”

(Ibnu Hajar Al Haitami, Al Fatawa Al Haditsa: 114-115)

Tuduhan Sebagai Syi’ah Rafidhah

Senjata andalan kaum Nawâshib (yang sekarang dilakoni kaum Ghulât Wahhâbi/Salafi) dalam membunuh karakter setiap pecinta Ali dan Ahlulbait Nabi as. adalah menuduh mereka sebagai Syi’ah/Rafidhah! Seakan mereka hendak menandaskan bahwa menjadi Sunni sejati itu harus membenci Sayyidina  Ali dan Ahlulbait Nabi as.! Mereka tidak menyadari bahwa seorang Sunni itu mencintai Ahlulbait Nabi utamanya Sayyidina Ali, dan hanya kaum Nashibi sajalah yang membenci Ahlulbait Nabi as. Mereka kaum Nashibi bukan Sunni walaupun tanpa malu mengaku-ngaku sebagai Sunni bahkan Sunni sejati yang tulen!

Imam Syafi’i ra. juga pernah dituduh oleh sisa-sisa antek-antek bani umayyah dan musuh-musuh Ahlulbait Nabi as. bahwa beliau adalah Syi’ah Rafidhah…. semua gara-gara beliau “mati-matian’ mencintai, mengutamakan dan membela  Sayyidina Ali dan Ahulbait Nabi as. bait-bait syair masyhur beliau adalah saksi nyata kecintaan itu dan juga saksi keganasan dan kekejaman fitnah kaum Nashibi.

Imam Syafi’i bersyair:

إنْ كانَ رَفْضًا حُبُّ آلِ محمد *** فليَشْهَدِ الثقلاَنِ أَنَّيْ رافِضِيْ

Jika mencintai keluarga Muhammad itu kerafidhian, maka hendaknya manusia dan jin menyaksikan bahwa aku adalah seorang Rafidhi

Dalam syair lain beliau juga mengatakan:

قَالُوا تَرَفَّضْتَ! قلتُ كَلاَّ *** ما الرُفْضُ دينِيْ وَ لاَ اعْتقادِيْ

و لـكِنْ تَوَلَّيْتُ دونَ شَكٍّ  ***  خيرَ إمامٍ  و خيرَ هـاديِ

إنْ كـانَ حُبُّ الوَصِيِّ رَفْضًا  ***   فَـإِنَّنِيْ أَرْفَضُ العبادِ

Mereka berkata; kamu telah berfaham Rafdh! Aku berkata: Tidak!

Kerafidhian bukan agamaku dan bukan keyakinanku.

Akan tetapi aku tanpa ragu berwilayah

kepada sebaik-baik Imam dan sebaik-baik pemberi petunjuk.

Jika mencintai washi (penerima wasiat [Ali]) itu kerafidhian

maka ketahuilah bahwa aku paling rafidhinya manusia

.

Tak Ada Guna Berpanjang-panjang!

Setelah semuanya menjadi jelas, bahwa Ibnu Taymiah tak henti-hentinya memuntahkan luapan kedengkian isi hatinya atas Sayyidina Ali kw. dengan berbagai stitmen dan penyataan sumbang, yang sebagain kecilnya telah kami bongkar dalam blog ini, maka apa guna dan manfaat para pembela dan muqallid butanya berpanjang-panjang dalam menghimpun pernyataan yang terkesan membela dan memuliakan Imam Ali dan Ahlulbait Nabi as. karena dalam kondisi seperti itu Anda dan para pembenci Ahlulbait hanya ada satu di antara dua pilihan:

Pertama: bahwa stitmen Ibnu Taymiah yang memuliakan Imam Ali dan Ahlulbait as. adalah yang benar.

Atau

kedua: stitmen Ibnu Taymiah yang menghinakan dan melecehkan Imam Ali dan Ahlulbait as. adalah yang benar.

Jika asumsi pertama yang benar, maka kalian tidak sepatutnya berhujjah dengan Ibnu Taymiah dalam stitmennya yang menghinakan dan melecehkan Imam Ali dan Ahlulbait as. adalah yang benar. Namun kenyataannya, kalian sampai saat ini setiap kali menyudutkan Imam Ali dan Ahlulbait as. selalu berhujjah dengan stitmen Ibnu Taymiah!

Jika asusimi kedua yang benar, berarti benarlah pernyataan para ulama bahwa Ibnu Taymiah adalah musuh Imam Ali dan Ahlulbait as.

Ini Juga Tugas Kalian!

Selain itu, ini adalah tugas kalian untuk mengharmoniskan antara dua stitmen Ibnu Taymiah, yang menghujat dan yang mengagungkan Imam Ali dan Ahlulbait as. sebab kini Imam agung kalian terperangkap dalam dua stitmen yang saling kontradiksi!

Mekenismenya kami serahkan kepada kalian kaum Ghulat Wahhâbi/Nawâshib, apakah kalian akan berlakukan kaidah nasikh dan mansukh? Atau kaidah qaul qadim dan qaul jadid? Dalam arti bahwa Ibnu Taymiah mengalami ber-evolusi dalam kualitas informasi dan keyakinan! Jadi kami hanya menanti keterangan dari kalian, mana yang nasikh dan mana yang mansukh? Mana yang qaul qadim dan mana yang qaul jadid?

Itu urusan kalian! Kami hanya menanti jawaban kalian.

Selain itu, apa nilai sebuah pujian jika dikelilingi oleh hujatan dan celaan?! Apa nilai sebuah sanjungan jika keluar dari mulut sang pendengki dan tidak menaruh sezarrah pun rasa cinta dan ketulusan I’tiqad. Bukankah kaum munafikun juga memuji Nabi as. dan menyanjung sebagai seorang utusan Allah yang mulia? Namun, apa bantahan Allah atas mereka? Allah mendustakan motivasi pujian mereka, kendati kemulian dan keagungan Nabi memang seperti yang mereka pujikan.

Allah SWT berfiman:

إِذا جاءَكَ الْمُنافِقُونَ قالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَ اللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَ اللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنافِقينَ لَكاذِبُونَ * اتَّخَذُوا أَيْمانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ ساءَ ما كانُوا يَعْمَلُونَ * ذلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلى‏ قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَفْقَهُونَ .

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata:”Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.* Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.* Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (QS. al Munafikun/1-3)

Jadi kendati ada seorang berhati sakit –karena satu dan lain hal ia mengeluarkan pernyataan memuji Imam Ali as.- tapi pasti kedengkian dalam dada tak sanggup ia rahasiakan! Pasti akan terlontar dari hati munafik melalui mulut busuk pemiliknya! Allah pasti akan membongkar untuk khalayak ramai agar menjadi pertanda supaya kita berhati dan waspada terhadapnya.

*

Allah berfitman:

أَمْ حَسِبَ الَّذينَ في‏ قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغانَهُمْ * وَ لَوْ نَشاءُ لَأَرَيْناكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسيماهُمْ وَ لَتَعْرِفَنَّهُمْ في‏ لَحْنِ الْقَوْلِ وَ اللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمالَكُمْ.

“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka.* Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (QS. Muhammad/29-30)

*

Imam Jalaluddin as Suyuthi meriwayatkan dalam tafsirnya ad Durr al Mantsûr-nya[3] ketika menafsirkan ayat di atas: Ibnu ‘Asâkir dan Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari sahabat Abu sa’id al Khudri ra. ia berkata tentang ayat:

وَ لَتَعْرِفَنَّهُمْ في‏ لَحْنِ الْقَوْلِ

“Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka”

Ia berkata, “Dengan kebenciannya kepada Ali ibn Abi Thalib.”

*

Jadi apakah Anda mengira bahwa para ulama Ahlusunnah yang tegas-tegas menuduh Ibnu Taymiah sebagai munafik karena sikap sinis dan kurang ajarnya kepada Imam Ali as. tidak membaca pernyataan Ibnu Taymiah lainnya seperti yang Anda nukil panjang lebar tanpa hasil itu? Apakah Anda seolah baru menemukan tumpukan kata-kata Ibnu Taymiah dari dalam gua di Harrân, seperti dahulu ketika Ka’ab Ahbâr (sang pendeta Yahudi) menemukan lembaran Taurat berisikan keterangan tentang sifat Nabi Muhammad saw. yang sengaja dirahasiakan ayahnya?

Atau mereka membacanya, namun mereka memahami bahwa ia sama sekali tidak berguna sedikitpun sebab ia keluar dari mulut seorang yang berhati busuk yang membenci Ali as.?!

Jika kalian (Kaum Nawâshib) keberatan dengan kesimpulan kami, maka tolong buktikan kebohongan pernyataan para ulama yang diterangkan Ibnu Hajar Al Asqallâni di atas!

Dan Akhirnya!

Dan akhirnya, kami merasa berbesar hati (walaupun sejak awal kami yakin) kerena hingga kini kaum Nawâshib hanya berani menyanggah 2 tulisan kami, tulisan ini dan ini! Sementaara puluhan bukti akurat tentang kebohongan Ibnu Taymiah dan kesesatan-kesesatan pikirannya yang telah kami sajiikan di blog ini sejak sekitar bulan mei tahun 2007 M hingga kini, tidak satu pun pembela Ibnu Taymiah yang mampu membuktikan kepalsuan data yang kami bawakan… mereka terlalu lemah untuk membela Imam mereka, dan akhirnya mereka membiarkannya tersungkur tanpa daya dan tanpa pembelaan, kecuali hanya omelan dan caci maki atas kami!

Dan jika Anda perhatikan bahwa pembelaan kaum Nawâshib yang tergabung dalam blog haulasyiah begitu terlambat membela Imam mereka… kami telah membongkar kedok kesesatan pikirannya sejak: 24/Mei/2007 sementara mereka baru terbangun menyanggah kami pada: 14/07/2008.

Jadi sekali lagi kami tantang para penyembah kesesatan Ibnu Taymiah dan menjadikannya rabb/tuhan selain Allah [4] untuk membongkar “dusta”  kami (-seperti yang mereka tuduhkan-) atas Ibnu Taymiah –hamba yang dihinakan Allah– seperti kata Ibnu Hajar al Haitami, bukan kata kami-!!

Kami senatiasa sabar menanti, hingga kalian sanggup!

Wallahmdulillah!


[1] Ibnu Jauzi berkata tentang hukum melaknat Yazid: “Sebagian ulama yang wara’ (ekstra hati-hati dalam agama) telah membolehkannya, di antara mereka adalah Imam Ahmad ibn Hanbal.” (Ar Raddu ‘Ala al Muta’ashshib al ‘Anîd; Ibnu Jauzi: 6)

[2] Ada sebuah fenomena mengerikan yang sedang terjadi di kalangan akademisi di berbagai Universitas di Arab Saudi yang merangsang para mahasiswa dan sarjana di sana untuk berlomba-lomba menulis tesis dan desertasi yang menyudutkan Imam Ali as. dan meragukana keabsahan kekhalifahannnya. Dan konyolnya mereka menjadikan Ibnu Taymiah rujukan utamanya! Mereka beranggapan bahwa yang demikian dapat menjatuhkan argumentasi kaum Syi’ah! Kini –disadari atau tidak- mereka sudah terjebak dalam jaring perangkap kaum Nawâshib yang sedang mendominasi posisi-posisi setrategis di kampus-kampus dan lembaga-lembaga keagamaan ala Wahhâbi Arab Saudi! Waspadalah wahai kaum Muslimin!

[3] Ad Durr al Mantsûr,6/54.

[4] Maksud menjadikannya rabb bukanlah menyembah dalam bentuk bersujud dan sebagiannya, akan tetapi mengikutinya dengan meninggalkan Allah.. Jika ia menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah, mereka ikuti. Dan demikian juga sebaliknya jika mengharamkan yang dihalalkan Allah mereka juga ta’ati. Demikian yang ditegaskan dalam firman Allah:

اتَّخَذُوا أَحْبارَهُمْ وَ رُهْبانَهُمْ أَرْباباً مِنْ دُونِ اللَّهِ وَ الْمَسيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَ ما أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلهاً واحِداً لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh. menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(Qs. At Taubah/31)

Ibnu Jarir ath Thabari (rh) dalam tafsirnya Jâmi’ al Bayân,10/113-115 menjelaskan ayat di atas dengan mengutip tafsir para Salaf, di antaranya:

1)      adh Dhahhâk berkata: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka (yaitu para qurrâ’ dan ulama mereka) sebagai tuhan selain Allah (yaitu sebagai tuan-tuan untuk mereka selain Allah, mereka mena’ati para tuan itu dalam kemaksiatan kepada Allah. Mereka menghalalkan apa-apa yang diharamkan untuk mereka, lalu mereka pun mengikutinya dalam menghalalkannya, dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan lalu mereka pun mengikutinya dalam mengharamkannya.

2)      Adi ibn Hâtim (seorang sahabat Nabi saw. yang tadinya beragama Nasrhani): “Pertama kali aku datang menemui Nabi saw. sa’at itu beliau sedang membaca sebuah ayat dalam surah Barâ’ah (at Taubah): “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib- rahib mereka sebagai tuhan selain Allah… “. Maka beliau bersabda: ‘Sesungguhnya mereka tidak menyembah para pendeta dan ahbâr akan tetapi mereka  (para pendeta dan ahbâr) itu menghalalkan untuk mereka (sesuatu yang haram) lalu mereka (orang-orang yahdi & Nashrani) menghalalkannya.’”

3)      Dalam riwayat lain juga dari Adi ibn Hâtim: “Aku mendatangi Rasulullah saw. dan di leherku terdapat kalung salib, lalu beliau bersabda, ‘Hai Adi buanglah arca itu dari lehermu!’ maka aku pun membuangnya… aku menemui beliau sedang membaca ayat: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib- rahib mereka sebagai tuhan selain Allah… “. Dia berkata: ‘Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka.’ Maka beliau bersabda: ‘Bukankah mereka mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah lalu kalian pun ikut mengharamkannya? Mereka menghalalkan apa-apa yang diharamkan Allah dan kalian pun ikut menghalalkannya?’ Aku berkata: ‘Ya benar.’ Beliau saw. bersabda: ‘Itulah penyembahan kalian terhadap mereka.’”

Dan selain itu masih banyak keterangan lain.

Dan itulah yang dilarang keras Allah dalam firman-Nya:

قُلْ يا أَهْلَ الْكِتابِ تَعالَوْا إِلى‏ كَلِمَةٍ سَواءٍ بَيْنَنا وَ بَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللَّهَ وَ لا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَ لا يَتَّخِذَ بَعْضُنا بَعْضاً أَرْباباً مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Katakanlah:” Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat ( ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak(pula)sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka:” Saksikanlah, bahwa kami adalah orang- orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Âlu Imrân/64) Ibnu Juraij berkata, “Sebagian dari kita menta’ati sebagian lainnya dalam kemaksiatan kepada Allah.”(Tafsir Ibnu Katsir,1/371.)

.

**********************************************************************

TULISAN TENTANG IBNU TAYMIAH

  1. Imam Besar Wahabi Ibnu taymiah: Pengutamaan Ahlul Bait  Nabi saw adalah Peninggalan Jahiliyah
  2. Membantah Syubhat Imam Wahabi Ibnu Taymiah dan Pengekornya Tentang Hadis Tsaqolain
  3. Bantahan Atas Klaim Ibnu Taymiah: “Semua Kota Besar Islam Telah Disinari Ilmu Nabi saw. dari Selain Ali (1)
  4. Bantahan Atas Klaim Ibnu Taymiah: “Semua Kota Besar Islam Telah Disinari Ilmu Nabi saw. dari Selain Ali (2)
  5. Bantahan Atas Kebohongan Ibnu Taymiah: “Semua Bukti Ilmu Ali as. Palsu !”
  6. Penolakan Ibnu Taymiah Terhadap Hadis Tsaqolain
  7. Kekeliruan Ibnu Taimiyyah Terhadap Hadis Tsaqalain

________________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: