Masihkah Ahli hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (6)

Masihkah Ahli hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (6)

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Oleh Ibnu Jakfari

Muhammad ibn Yahya adz Dzuhali Musuh Bebuyutan Imam Bukhari!

Di antara tokoh yang sangat diandalkan dalam memberikan penilaian terhadap para periwayat Sunnah Nabi saw. adalah: Muhammad ibn Yahya adz Dzuhali. Ia adalah seorang al Imam Syeikhul Islam, Hâfidz kota Nisabur… kepemimpinan ilmu di wilayah Khurasan berada di tangannya, ia terpercaya, tsiqah, berhati-hati dalam agama dan konsisten menjalankan sunnah…

Abu Hatim bertutur tentangnya, “Beliau adalah imam ahli zamannya.’ Abu Bakar ibn Ziyad bertutur, ‘Beliau adalah Amirul Mukminin dalam disiplin ilmu hadis.” Demikian adz Dzahabi memperkenalkan al Hafidz adz Dzuhali dalam Tadzkirah al Huffâdz-nya. [1]

Ia adalah guru Imam Bukhari! yang kemudian menjadi musuh bebuyutannya!!

Di anatara komentar para ulama tentangnya ialah apa yang disampaikan oleh Hasan ibn Muhammad ibn Jabir, ia berkata, “Ketika Muhammad ibn Ismail (Bukhari) mengunjungi ke kota Naysâbûr, Muhammad ibn Yahya (adz Dzuhali) berkata (kepada murid-muridnya), ‘Pergilah kepada orang alim yang shalih itu dan dengarlah hadis darinya!’ Dan orang-orangpun mulai berdatangan memenuhi majlisnya (Bukhari) dan antusias mendengar hadis darinya, sampai-sampai majlis Muhammad ibn Yahya mulai sepi pengunjung, maka setelah itu ia hasud terhadapnya dan mengecamnya.” [2]

Sekali lagi, perbedaan pandangan dalam rincian masalah-masalah teologi menjadi menjadi senjata pencacatan bahkan pengkafiran!!

Adz Dzuhalii berfatwa, “Al Qur’an adalah Kalamulah, ia bukan makhluq dari segala sisinya. Barangsiapa mengklaim bahwa Al Qur’an adalah makhluq, maka ia benar-benar telah kafir, keluar dari keimanan, istrinya harus dipisahkan darinya, ia harus diminta untuk bertaubat, jika bertaubat (maka diterima), jika tidak kapalanya harus dipenggal, dan hartanya harus dibagi di antara kaum Muslim sebagai harta fai’. Ia tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum Muslim. Barangsiapa bersikap waqf dan berkata, ‘Saya tidak mengatakan bahwa Al Qur’an makhluq atau bukan makhluq maka ia telah menyamai kekufuran. Barang siapa berkata, ucapan/ bacaanku lafadz-lafadz Al Qur’an itu makhluq, maka ia adalah seorang pembid’ah, tidak boleh diajak duduk dan diajak berbicara. Barangsiapa setelah mendengar keterangan kami di majlis ini mendatangi Muhammad ibn Ismail al Bukhari maka curigai ia, sebab tidak hadir di majlisnya kecuali orang yang berpandangan seperti mazhab (pandangan)nya.’ [3]

Dan karena sikap adz Dzuhali yang keras kepala dan fanatik buta yang bisa jadi diilhami oleh rasa kecemburuan dan iri hati, Bukhari mengeluhkannya kepada Allah SWT dan kemudian ia mengalah meninggalkan kota ilmu Naysâbûr kembali ke kampung halamannya. Bukhari berkata mengeluh, “Ya Allah Engkau Maha mengetahui bahwa aku tidak tinggal di kota ini kerena ingin berbuat kerusakan atau mencari pamor, tetapi jiwaku enggan tinggal di kota asalku kerena kaum penentang telah berjaya. Dan orang ini (adz Dzuhali maksudnya) telah menyerangku karena rasa hasud atas apa yang Allah anugerahkan kepadaku, bukan karena hal lain.”[4]

Imam Bukhari menyadari bahwa sikap gurunya itu lebih diilhami rasa dengki dan hasud ketimbang membela prinsip mazhab. Sebab seperti diriwayatkan para ulama bahwa Bukhari telah berusaha mengklarifikasi tuduhan itu dengan menolaknya dan membeberkan pandangannya tentang Al Qur’an, namun tetap saja penejelasan Bukhari di majlis-majlis itu itu tidak mampu menggoyah dan mengubah sikap adz Dzuhali. Rasa hasud telah membakar jiwa adz Dzuhali. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Râji’ûn.

Apakah kita masih sudi mempercayakan urusan agama kita kepada seorang yang digerogoti rasa dengki dan hasud sehingga berbuat kerusakan dan kejahatan?!

Apa jadinya nasib Sunnah Nabi saw. jika ternyata para “Pengawal Garis Depannya” bermental buruk? Sektarian! Kaku! Haus pengkafiran sesama Muslim hanya karena masalah-masalah sepele yang tidak semestinya meminta sikap sekaras itu!?

Bukankah ini juga bukti nyata betapa persengketaan di antara para imam besar Ahlusunnah telah mencapai kondisi yang sangat memprihatinkan! Memalukan! Dan mengkhawatirkan kejujuran mereka dalam menyambung lisan suci Nabi saw.!

Sepertinya, sikap saling mencacat…. saling menghasud…. saling  menohok adalah hal biasa yang menjadi berita utama!

Di mana kerukunan dan keharmonisan yang dilukiskan sebagian orang tentang mereka? Mana gambaran bahwa mereka cerminan Ahli Surga yang saling kasih dan hormat?

Sepertinya ia hanya  angan-angan belaka!!

Nantikan, saya akan menyajikan tayangan spesial tentang tokoh Hadis sentral kenamaan Ahlusunnah!


[1] dalamTadzkirah al Huffâdz,2/530-531 ketika menyebut biografi adz Dzuhali.

[2] Tarikh Baghdad,2/302 ketika menyebut biografi Bukhari dan Kritik Kesahihan Hadis Imam al- Bukhari; Dr. H.Muhibbin Noor, M.A.:48-50.

[3] Tarikh Baghdad,2/31-32 ketika menyebut biografi al Bukhari.

[4] Taghlîq at Ta’lîq,5/434.

.

**********************************************************************

TULISAN TERKAIT

  1. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (1)
  2. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (2)
  3. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (3)
  4. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (4)
  5. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (5)

________________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: