Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (1)

Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (1)

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Oleh Ibnu Jakfari

Sunnah adalah pondasi kedua ajaran Islam setelah Al Qur’an

Sementara keshahihan hadis adalah syarat mutlak untuk dijadikan hujjah syar’iyah… dan untuk menentukan shahih tidaknya sebuah hadis kunci utamanya adalah kualitas periwayat yang menjadi perantara periwayatan hadis!! Ia seorang perawi yang tsiqah atau tidak? Munkarul hadis atau tidak? Maqbûl hadis atau tidak?

Dan yang menentukan itu semua adalah Ahli hadis, tepatnya Ahli al jarh wa at ta’dîl; yaitu mereka melibatkan diri dalam menilai kualitas periwayat!!

Karenanya, disyaratkan beberapa syarat yang harus terpenuhi dalam diri Ahli al jarh wa at ta’dîl. Syarat-syarat tersebut antara lain: ketaqwaan dan kehati-hatian, menjauhkan diri dari hawa nafsu, disamping tentunya ilmu yang cukup tentangnya.

Akan tetapi, apakah syarat-syarat tersebut terpenuhi dalam diri Ahli al jarh wa at ta’dîl Ahlusunnah atau tidak?

Itulah yang akan menjadi sorotan artikel ini.

Dari penelitian yang dilakukan para pakar secara seksama, dapat disimpulkan bahwa kelihatannya komentar dan vonis-vonis Ahli Jarh wa Ta’dîl dalam men-jarh atau men-ta’dil itu sulit diterima dan dijadikan acuan akhir dalam menilai kualitas periwayat. Hal itu karena beberapa alasan, di antaranya ialah karena para tokoh yang diandalkan komentar mereka dalam menjarh dan atau menta’dil itu sendiri masih diragukan keadilan dan kredebilitasnya. Tidak sedikit dari mereka adalah pribadi-pribadi yang cacat dan memiliki citra buruk yang setelah dilakukan penelitian, ternyata berakhir dengan pencacatan dan kesimpulan yang mencoreng nama baik mereka. Tidak terkecuali nama-nama penting seperti Imam Malik, Yahya ibn Sa’id Al Qaththaan, Yahya ibn Ma’in, Ahmad ibn Hanbal, Muhammad ibn Yahya Al Dzuhali, Abu Hatim, Al Turmudzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, apalagi Al Jawzajâni ,Ibnu Hazm, Ibnu Al Jawzi, Adz Dzahabi.

Imam Malik Cacat!

Sebagai sekedar contoh, Malik, seorang Imam besar yang di andalkan dalam menilai para periwayat ternyata ia sendiri bermasalah.

Perhatikan catatan di bawah ini:

Imam Malik adalah salah seorang tokoh besar dan imam, pendiri mazhab yang dikenal. Ia sangat dekat dengan para penguasa dinasti Abbasiah; Manshur dan Harun ar Rasyîd.

Ia pernah meriwayatkan hadis dari dari Hamîd ibn Qais al A’raj dan sekaligus mentsiqahkannya. Namun gara-gara saudara Hamîd yang bernama Amr ibn Qais yang melecehkan dan menyerang Imam Malik lalu kemudian celaan itu sampai kepadanya, sepontan Malik berkata, “Andai aku tahu bahwa Hamîd adalah saudaranya pasti aku tidak sudi meriwayatkan darinya.” [1]

Ibnu al Madîni berkata, “Malik menyebut-nyebut Hamîd al A’raj seraya mentsiqahkan, kemudian ia berkata, ‘saudaranya! ‘saudaranya! Lalu ia mendha’ifkannya (Hamîd).[2]

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa salah dan dosa Hamîd ibn Qais, jika Amr, saudaranya yang mencacat Malik, sampai-sampai Malik meninggalkan meriwayatkan darinya dan melemahkannya setelah sebelumnya mentsiqahkan dan rela meriwayatkan darinya?! Lebih dari itu, Ibnu hajar menyebutkan bahwa Hamîd ini telah ditsiqahkan oleh banyak tokoh kenamaan Ahlusunah seperti Ibnu Ma’in, Abu Zar’ah, Ahmad ibn Hanbal, Abu Daud, Ibnu Kharrâsy, Imam Bukhari, Ya’qub ibn Sufyan dan Ibnu Sa’ad.

Tidakkah berbahaya melibatkan emosi berlebihan dalam men-jarh para periwayat. Lalu apa tidak mungkin juga luapan emosi terlibat jauh dalam mentsiqahkan dan memuji seorang periwayat?!

Saya akan kembali membahas masalah ini ketika menyoroti tindak cacat mencacat antara rekan semasa dan yang bergelut dalam profesi yang sama.

Dalam Tahdzîb at Tahdzîb-nya, Ibnu Hajar berkata ketika menyebutkan biografi Sa’ad ibn Ibrahim ibn Abdurrahman ibn Auf, “Malik tidak mau menulis hadis darinya.” As Sâji berkata membongkar akar masalahnya, ia berkata, “Disebutkan bahwa Sa’ad menasihati Malik, lalu malik sakit hati karenanya.”

Ibnu Hajar juga menukil pernyataan Ibnu Ma’in bahwa Sa’ad berbicara tentang nasab Malik, oleh sebab itu Malik tidak mau meriwayatkan darinya.

Keterangan Ibnu Ma’in ini mungkin dapat memberikan alasan, mengapa Malik marah terhadap Sa’ad yang telah berbicara tentang masalah yang sangat pribadi, yaitu nasab seorang. Tetapi sepertinya Sa’ad tidak bisa disalahkan begitu saja, sebab konon, Malik lahir tiga tahun setelah kematian ayahnya, Malik mengklaim bahwa ia berada dalam kandungan ibundanya selama tiga tahun!

Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa Imam Malik juga berkomentar kasar tentang Muhammad ibn Ishaq; sejarawan agung, “Ia (Muhammad ibn Ishaq) adalah dajjal dari dajjal-dajjal (maksudnya pembohong besar), seperti akan dibahas lebih lanjut nanti.

(Bersambung)

_________________

[1] Al Kâmil Fi Dhu’afâ’ ar Rijâl,5/8 ketika menyebut biografi Amr ibn Qais al Makki, Tahdzîb at Tahdzîb,7/432juga ketika menyebut biografi Amr ibn Qais al Makki.

[2] Tahdzîb at Tahdzîb,7/432.

_____________________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: