Masihkah Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (4)

Masihkah Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (4)

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Oleh Ibnu Jakfari

Ali ibn al Madîni (W.234H).

Tokoh alternatif lain yang kini menjadi tumpuan harapan para pecinta Sunnah Nabi saw. adalah Ali ibn al Madîniguru besar Bukhari-…

Nama Lengkapnya Dan Kedudukannya di Mata Ulama Ahlusunnah

Adapun nama lengkap Ibnu al Madîni adalah Abul Hasan Ali ibn Abdullah ibn Ja’far. Beliau adalah guru Imam Bukhari dan para muhaddis kondang lainnya

Para ulama, seperti adz Dzahabi mensifatinya dengan, “Asy Syeikh, al Imâm, al Hujjah, Amirul Mukminin dalam hadis”,[1] dan mereka banyak menukil darinya dan mengandalkannya dalam menentukan status para periwayat. Akan tetapi adz Dzahabi menyebutkannya dalam kitab Mizân-nya (yang khusus untuk menyebut para periwayat dha’if) dan menegaskan keengganan Imam Muslim dan Ibrahim al Harbi untuk meriwayatkan darinya. Demikian juga dengan al Uqaili, ia memasukannya dalam kitab Dhu’afâ’-nya.

Begitu juga dengan Imam Ahmad ibn Hanbal, ia telah menuduhnya berdusta [2], dan Amr ibn Ali juga telah mencacatnya [3]

Al Mazi berkata, “Ibnu Abi Daud (Jaksa Agung) berkata kepada al Mu’tashim, ‘Wahai Amirul Mukminim, orang ini (Ahmad maksudnya) mengaku bahwa Allah kelak di akhirat dapat dilihat dengan mata kepala, sementara mata tidak dapat menatap kecuali benda terbatas, sedangkan Allah tidak terbatas.’

Al Mu’tashim menegur Ahmad, ‘Apa alasanmu tentang masalah ini?’

Ahmad berkata, ‘Wahai Amurul Mukminin, aku punya hadis dari Rasulullah saw.

Al Mu’tashim, ‘Apa sabda beliau saw.?’

Ahmad berkata, ‘Telah mengabarkan kepadaku…. dari Jarir ibn Abdillah al Bajali, ia berkata, ‘kami bersama Rasulullah saw. pada malam keempat belas, lalu beliau memandang bulan purmana, kemudian bersabda, ‘Kalian akan menyaksikan Tuhan kalian sebagaimana kalian menyaksikan bulan purnama ini, tidak terhalangi dalam memandang-Nya.’

Lalu Al Mu’tashim berkata kepada Ahmad ibn Abi Daud, ‘Apa pendapatmu?’

Ia menjawab, ‘Saya akan teliti dahulu sanad pembawa hadis ini.’

Kejadian itu di pagi hari. Kemudian ia pergi, lalu ia mengutus seorang untuk mendatangkan Ali ibn al Madîni –yang ketika itu berada di kota Baghdad dan sangat papah, sampai-sampai ia tidak mampu membeli kebutuhan sehari-harinya-, setelah hadir, Ibnu Abi Daud tidak berbicara apapaun sebelum memberikan kepadanya sepulur ribu dirham, dan ia berkata, ‘ini adalah santunanmu dari Amirul Mukminin, ia memerintahkanku untuk menyerahkannya kepadamu hak kamu selama dua tahun.

Setelahnya ia berkata, ‘Wahai Abul Hasan, apa pendapatmu tentang hadis Jarir tentang ru’yah, memandang Allah?’

Ia berkata, ‘Shahih.’

Ibnu Abi Daud, ‘Apa Anda punya sesuatu (pencacatan) tentangnya?’

Ia berkata, ‘Sebaiknya Bapak Qadhi (Jaksa) membebaskanku dari membicarakannya.’

Ibnu Abi Daud, ‘Wahai Abul Hasan, ini sangat di butuhkan sekarang ini.’ Kemudian ia menambah hadiahnya dengan memberikan baju-baju mewah, minyak wangi dan kendaraan lengkap dengan pelananya dan jok kursinya. Ibnu Abi Daud terus merayunya hingga pada akhirnya ia berkata, ‘Ya pada sanadnya terdapat seorang yang tidak bisa diandalkan dan tidak juga riwayatnya, ia adalah Qais ibn Abi Hazim, seorang arab baduwi yang suka kencing di kedua tumitnya.’ Karena sangat gembiranya, ia mencium dan memeluk Ibnu al Madîni.

Kesokan harinya, ketika mereka semua berkumpul, Ibnu Abi Daud berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, orang ini berhujjah tentang masalah melihat Allah dengan hadis Jarir, padahal ia hanya diriwayatkan oleh Qais ibn Abi Hazim; seorang arab baduwi yang suka kencing di kedua tumitnya.’”[4]

Kisah di atas telah dinukil al Khathib dalam Tarikh-nya dengan sanad sahih!

Abu Bakar al Marwazi berkata, “Aku berkata kepada Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal, ‘Sesungguhnya Ali ibn al Madîni menyampaikan hadis dari al Walîd ibn Muslim … dari Umar, ‘Serahkan kepada Penciptanya, Khaliqihi.’ Maka Ahmad berkata, ‘Berbohonglah ia!’ Al Walîd ibn Muslim dua kali menyampaikan hadis itu kepada kami dengan redaksi, ‘Serahkanlah kepada yang mengerti tentangnya, ‘Âlimihi.’

Aku berkata lagi, “Sesungguhnya Abbas al Ghabri berkata, ‘Ketika Ali ibn al Madîni menyampaikan hadis ini di kota ‘Askar, aku berkata kepadanya, ‘Mereka telah mengingkari (menyalahkanmu) tentang hadis itu.’ Ia menjawab, ‘Bukankah aku telah menyampaikannya di kota Bashrah?! Lalu ia menyebutkan bahwa al Walîd ibn Muslim telah salah dalam hadis ini.

Maka marahlah Ahmad, ia berkata, ‘Jika ia tahu bahwa al Walîd ibn Muslim salah, lalu mengapa ia menyampaikannya kepada mereka. Apa ia sengaja memberikan hadis keliru?![5]

Ibnu Jarir berkata, “Dikatakan kepada Ibrahim al Harbi, ‘Apakah Ali ibn al Madini tertuduh sebagai berbohong?”

Ia menjawab, ‘Tidak! Tetapi ia menyampaikan hadis lalu menambahnya dengan sebuah kata agar Ibnu Abi Daud puas (rela).”

Ditanyakan lagi, “Apakah ia juga mencacat Ahmad?”

Ia menjawab, “Tidak! Hanya saja, jika ia melihat hadis dari jalur Ahmad ia berkata, ’Tinggalkan hadis ini’ hal itu ia lakukan demi merelakan Ibnu Abi Daud.”[6]

Demikinlah dapat pembaca saksikan bagaimana Ibnu al Madini demi mendapat kerelaan sang Jaksa Agung ia mencacat seorang perawi yang jujur… Dan ia tentunya mencederai keadilannya, oleh sebab itu al Khathib dan adz Dzahabi dibuat kacau menghadapinya!

Begitu juga ia meninggalkan hadis Imam Ahmad juga demi kepuasan sang Jaksa Agung. Jika memang ia tidak kuasa untuk bersikap tegas di hadapan para penguasa dan aparatnya, paling tidak semestinya ia menjauhkan diri dari arena mereka, walaupun dengan menyendiri di dalam kamar rumahnya dan tidak menikmati santunan mereka dengan mengorbankan hadis dan mencacat para pembawanya!!

Sepertinya cacat-mencacat ini juga tidak luput dari berbagai kepentingan mazhab dan materi!

Al ‘Uqaili berkata,Ahmad ibn Abdurrahman ar Razi menyampaikan kepada kami, ia berkata, ‘Aku mendengar Azhar ibn Jumail berkata, “Kami sedang duduk di sisi Yahya ibn Said al Qaththan, di sana ada Sahl ibn Hassân ibn Abi Jarubah, Ibnu al Madini, asy Syadzkûni, Sulaiman al Bashri dan Sufyan ar Râs, lalu datanglah Abdurrahman ibn Mahdi, setelah mengucapkan salam ia duduk. Yahya berkata kepada, ‘Mengapa engkau kelihatan gelisah?’ ia menjawab, ‘Semalam aku bermimpi yang menakutkanku.’ Yahya berkata, ‘Mimpi baik insyaallah! Ali ibn al Madini bertanya, ‘Mimpi apa wahai Abu Sa’id?’ Abdurrahman berkata, ‘Aku melihat sekelompok dari rekan-rekan kita ditelungkupkan.‘ Ibnu al Madini berkata menenangkan, ‘Hanya mimpi, itu kembang tidur.’ Maka Abdurahman berkata menghardik, ‘Diam engkau! Demi Allah engkau adalah salah satunya.’ Ibnu al Madini berkata, ‘Sesungguhnya Allah berfirman: “Barang siapa dipanjangkan umurnya ia akan dikembalikan dalam ciptaannya.”. Abdurahman berkata, ‘Tidak! Bukan itu maksud mimpiku.’”

Aku membaca kitab al Ilal di hadapan Abdullah –putra Ahmad- dari ayahnya, maka melihat di dalamnya banyak penukilan ayahnya dari Ali (Ibnu al Madini), kemudian ia mencoret namanya dan menulis di atasnya ‘dari seorang’, kemudian iapun menghapus semua hadis darinya. Maka kutanyakan hal itu kepada Abdullah, ia menjawab, ‘Dahulu ayahnku menukil hadis darinya kemudian ia tidak mau lagi menyebut namanya, beliau berkata, ‘Seseorang telah menyampaikan hadis kepadaku.’ Kemudian setelahnya beliau meningggalkan total menyampaikan hadis darinya…. “.[7]

Dan ketika al ‘Uqaili memasukkannya dalam kitab adh Dhu’afâ’, Adz Dzahabi naik pitam dan marah berat atas perlakuan al ‘Uqaili, ia berkata, Apa kamu tidak punya akal, hai ‘Uqaili?! Tahukah kamu siapa yang kamu cacat itu?!”[8]

Demikanlah sekilas tentang Ibnu al Madini dan sikap ulama terhadapnya.


[1] Ibid.11/41.

[2] Tahdzîb at Tahdzîb,7/30, Tahdzîb al Kamâl,21/27, Tarikh Baghdâd,11/458 semuanya ketika menyebut biografi Ali ibn Abdullah ibn Ja’far ibn najîh as Sa’di; Abul Hasan ibn al Madîni

[3] Tahdzîb al Kamâl,21/31, Siyar A’lâm an Nubalâ’,11/58 ketika menyebut biografi Ali ibn al Madîni.

[4] Tahdzîb al Kamâl,21/22-23 ketika menyebut biografi Ali ibn al Madîni, dan adz Dzahabi dalam Siyarnya,11/52-53, al Khathib dalam Tarikh Baghdad,11/458 menyetkan kisah ini dengan lengkap.

[5] Tarikh Baghdad,11/458, Tahdzîb at Tahdzîb,7/309, Tahdzîb al Kamâl,21/26-27 dan Siyar A’lam an Nubala’,11/55.

[6]Tahdzîb at Tahdzîb,7/310, Siyar,11/57, dan Tarikh Baghdad,11/458.

[7] Adh Dhu’afâ’; Al ‘Uqalil,3/235-239.

[8] Mizân al I’tidâl,3/140.

________________________________________________________________________

TULISAN TERKAIT

  1. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (1)
  2. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (2)
  3. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (3)

________________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: