Masihkah Ulama hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (3)

Masihkah Ulama hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (3)

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Oleh Ibnu Jakfari

Yahya ibn Ma’in (W.233H).

Setelah Sa’id ibn Yahya al Qaththân mengecewakan harapaan para pecinta hadis, para ulama Ahlusunnah mencar-cari tokoh andalan alternatif untuk mengisi kekosongan posisi pengawal Sunnah. Maka tokoh andalan alternatif yang namanya muncul dalam kancah ini dan sering melontarkan suara adalah Yahya ibn Ma’in…. mengingat ketokohan dan keseniorannya, maka kita layak menetilinya… coba kita teliti, siapa sebenarnya Yahya ibn Ma’in; tokoh alternatif setelah tokoh sebelumnya mengecewakan banyak pihak dan tidak dapat memberikan jaminan dan kemantapan!

Para Ulama Ahlusunnah Memuji Yahya ibn Ma’in.

“Yahya ibn Ma’in adalah Imam al hafidz, jahbadz (pakar agung), syeikhul muhadditsîn (gubu besar para ahli hadis).” Demikian adz Dzahabi mensifatinya [1]

Bagaimana kualitas Mental Yahya ibn Ma’in?

Adz Dzahabi berkomentar tentang Yahya ibn Ma’in, “Abu Amr ibn Abdil Barr berkata, ‘Kami meriwayatkan dari Muhammad ibn Wadhdhâh, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Yahya ibn Ma’in tentang Syafi’i, maka ia berkata, ia (Syafi’i) bukan orang yang tsiqah (jujur terpercaya)… Ibn Abdil Barr juga berkata, ‘Telah benar dari banyak jalur bahwa Ibnu Ma’in banyak berbicara (buruk) tentang Syaifi’i.”

Saya (Dzahabi) berkata, “Dengan itu, Ibnu Ma’in menyakiti dirinya sendiri. Orang-orang tidak menghiraukan omongannya tentang Syafi’i, tidak juga omongannya tentang sekelompok orang yang kuat. Sebagaimana mereka juga tidak menghiraukan pen-tsiqahan-nya terhadap sebagian orang, sebab kita akan menerima ucapannya dalam jarh dan ta’dil dan kami utamakan di atas banyak para hafidz selama ia tidak menyalai jumhur dalam ijtihadnya. Jika ia menyendiri dalam mentsiqahkan orang yang dilembekkan jumhur atau mendha’ifkan orang yang ditsiqahkan dan diterima jumhur, maka keputusan akhir adalah ucapan para imam, bukan orang yang syadzdza, menyimpang (dengan pendapatnya)… terkadang ia menyendiri dengan omongan tentang seseorang dan lainnya, lalu tampak kesalahannya dalam ijtihadnya dengan dasar apa yang kami telah katakan, maka sesungguhnya ia manusia biasa, tidak ma’shum. Bahkan ia sendiri terkadang mentsiqahkan seorang syeikh. Ijtihadnya berbeda tentang seseorang, ia menjawab seorang penanya sesuai dengan ijtihadnya saat itu.”

Andai Dzahabi berhenti di sini, mungkin masalahnya akan selesai! Akan tetapi menyambungnya dengan kata-kata berikut ini, “Dan omongannya (Ibnu Ma’in tentang Syafi’i) bukan dari jenis ini -yaitu dari hasil ijtihadnya-, namun ia dari ketergelinciran lisan dengan dorongan hawa nafsu dan ashabiyyah (fanatik buta), sebab Ibnu Ma’in dari golongan Hanafiyah yang Ghulâh (ekstrim keras) walaupun ia seorang ahli hadis. Demikian juga ucapan hafidz Abu Hâmid asy Syarqi, ‘Yahya ibn Ma’in dan Abu Ubaid jelek pandangannya tentang Syafi’i.’ Demi Allah, benar Ibnu asy Syarqi, keduanya telah merusak reputasinya dengan mencacat tokoh masanya (Syafi’i).” [2]

Diriwayatkan dari Ahmad ibn Hanbal bahwa Ibnu Ma’in berjumpa dengan Syujâ’ lalu berkata mencercanya, ya kadzdzâb, hai pembohong besar! Syujâ’ marah dan berkata kepadanya, jika aku memang kadzdzab (biarlah omonganmu itu), tapi jika tidak maka semoga Allah membongkar kejelekanmu! Setelahnya Ahmad berkata, ‘Sepertinya doa syeikh itu mengenai Ibnu Ma’in.’”[3]

Dalam lembaran-lembaran berikutnya saya akan sebutkan lebih lanjut sikap Ahmad terhadap Ibnu Ma’in dkk.

Abu Zar’ah berkomentar tentang Ibnu Ma’in, “Ilmunya tidak bermanfaat, sebab ia banyak mencela banyak orang!” [4]

Ibnu Hajar juga menukil komentar serupa dari Ali ibn al Madîni dari berbagai jalur.[5]

Ketika Abu Al Azhar meriwayatkan hadis Abd. Razaq tentang keutamaan Ali as. dari Ma’mar dari Azhari dari Abaidillah dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi saw. memandang Ali as. Lalu beliau bersabda,’Engkau sayyidun, Pemimpin di dunia dan sayyidun di akhirat…’, dilaporkan kepada Yahya ibn Ma’in. Kemudian pada suatu hari ketika Yahya duduk bersama banyak ulama’, Yahya berkata, ‘Siapakah si pembohong besar dari kota Nisabur yang meriwayatkan hadis Abd. Razzaq ini?’ Maka Abu Al Azhar bangun dan dengan tegas mengatakan, ‘Saya orangnya’. Lalu Yahya tersenyum dan mengatakan, ‘Kamu bukan seorang pembohong’. Yahya heran mengapa ia masih selamat, lalu ia melanjutkan, ‘Tentang hadis ini, ia bukan dosa kamu, ia adalah dosa orang lain!’ “. [6]

Coba pembaca perhatikan bagaimana Ibnu Ma’in dengan gegabah dan tanpa alasan menuduh periwayat hadis tersebut sebagai pembohong, kemudian ia dengan tanpa alasan pula menarik vonisnya dengan mendadak, walaupun ia tetap saja membohongkan hadis itu dengan mengatakan ‘Tentang hadis ini, ia bukan dosa kamu, ia adalah dosa orang lain!’ padahal apabila kita perhatikan para periwayat dalam mata rantai sanad hadis di atas adalah para tokoh dan perawi kondang dan andalan yang tsiqât.

Apabila demikian tolok ukur mereka dalam membohongkan hadis dan mencerca periwayatnya, padahal hadis-hadis lain yang senada dengan hadis di atas sangat banyak dan diriwayatkan dari berbagai jalur akurat maka bagaimana kita dapat mengandalkan omongan dan vonis-vonis Ibnu Ma’in?! Khususnya terhadap para pecinta dan pengikut setia Ali ibn Abi Thalib ra.

Catatan:

Adz Dzahabi mengisahkan sebuah kisah ketika ia menyebutkan biografi al Husain ibn Fahm, bahwa ia berkata, ‘Aku mendengar Yahya ibn Ma’in berkata, ‘Aku berada di negri Mesir, lalu aku menyaksikan seorang budak wanita dijual dengan harga seribu dinar, aku tidak pernah menyaksikan wanita secantik dia, shallahu ‘alaiha (semaga shalawat Allah atasnya).’ Maka aku berkata menegurnya, ‘Wahai Abu Zakaria! Orang sepertimu mengucapkan kalimat itu?! Ia berkata, ‘Ya. shallahu ‘alaiha wa ‘ala kulli malîh (semaga shalawat Allah atasnya dan atas setiap wanita cantik jelita).[7]

Tentunya kalimat itu tidak sepantassnya keluar dari seorang tokoh alim ulama yang bertaqwa, oleh karena itu Husain ibn Fahm menegurnya dan menganggapnya tidak senonoh! Tetapi adz Dzahabi demi menjaga wibawa Ibnu Ma’in menganggapnya ucapan senda gurau, du’âbah!!


[1] Ibid,11/71 nomer28.

[2] Ar Ruwât ats Tsiqât al Mutakkal Fîhim Bimâ Lâ Yûjibu Radduhum,29-31.

[3]Tahdzîb al Tahdzîb,12/386, Tarikh Baghdâd,9/249, Bahru ad Dam:200, Risalah fi al Jarhi wa at Ta’dîl:25, , Siyar A’lâm an Nubalâ’,9/353 dan Mizân al I’didâl,3/364, semuanya ketika menyebut biografi Syujâ’ ibn al Walîd ibn Qais as Sukuni.

[4] Tahdzîb al Tahdzîb,11/238 ketika menyebut biodata Yahya ibn Ma’in, Siyar A’laam al Nubalâ’,11/90 dan Tahdzîb Al Kamaal,31/550.

[5] Tahdzîb al Tahdzîb,11/238 ketika menyebut biodata Yahya ibn Ma’in

[6] Tahdzîb al Tahdzîb,11/10, ketika menyebut biodata Ahmad ibn Ibrahim at Taimi, Mustadrak,3.138, kitab ma’rifatush shahabah, wa min manaqibi amirul mu’minîn Ali ibn Abi Thalib, Siyar A’laam al Nubalâ’,9/575 ketika menyebut biodata Abdur Razzâq ibn Humâm, dan 12/367 ketika menyebut biodata Ahmad ibn al Azhar, dan Tahdzîb Al Kamaal,1/260 ketika menyebut biodata Ahmad ibn al Azhar dan Târîkh Badgdâd,4/41-42 ketika menyebut biodata Ahmad ibn al Azhar.

[7] Siyar,11/87.

________________________________________________________________________

TULISAN TERKAIT

  1. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (1)
  2. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (2)

_____________________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: