Masihkah Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (2)

Masihkah Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (2)

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Oleh: Ibnu Jakfari

Yahya ibn Sa’id al Qaththân (W.198H)

Tokoh Ahli Hadis Ahlusunnah lainnya, yang sangat dipercaya dalam menilai kualitas para periwayat hadsi/sunnah Nabi saw. adalah Yahya ibn Sa’id al Qaththân…

Adz Dzahabi mensifatinya dengan, “al Imam al kabir (imam besar), Amirul Mukminin dalam hadis… Ia consen dalam disiplin ilmi ini dengan sepenuh arti, ia melancong untuk tujuan itu. Ia memimpin rekan-rekan sejawatnya, dan pimpinan para hafidz di tangannya. Ia berkomentar tentang penyakit hadis dan tentang para periwayat/rijâl. Para hafidz belajar darinya… Ali ibn al Madini berkata, ‘Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih pandai tentang rijâl dari Yahya ibn Sa’id.

Akan tetapi, sayang seribu sayang dia sendiri punya masalah besar dalam obyektifitas penilaiannya… sulit dipercaya!! Padahal para ulama Ahlusunnah sudah terlanjur mempercayainya dan bersandar kepadanya!

Adz Dzahabi juga berkomentar, “Aku berkata, ‘Yahya ibn Sa’id adalah terlalu mencari-cari kesalahan dalam mengkritik rijâl, maka jika kamu melihatnya telah mentsiqahkan seorang maka andalkan dia, adapun jika ia melemahkan seseorang maka berhati-hatilah, jangan gegabah tentangnya sehingga kamu memperhatikan komentar orang lain, sebab ia telah melemahkan para periwayat seperti Israil, Hummâm dan sekelompok lain yang dijadikan hujjah/diandalkan dalam periwayatan oleh Syaikhân; Bukhari dan Muslim…” [1]

Ketika Yahya ibn Sa’id al Qaththân menjarah Humâm ibn Yahya ibn Dînâr, Imam Ahmad berkomentar tentangnya, “Dahulu, di masa mudanya Yahya pernah memberikan kesaksian (di hadapan Humâm), tetapi Humâm tidak menganggapnya adil (tidak menerimanya), lalu Yahya dendam kepadanya.”[2]

Di sini coba pembaca perhatikan, bagaimana jelas sekali bahwa Imam Ahmad menuduh Yahya ibn Said telah mencacat tanpa dasar, hanya karena dendam kusumat yang terpendam dalam jiwanya kepada Humâm. Dan sikap itu jelas kejahatan atas Humâm. Lalu bagaimana kita dapat mengandalkan Yahya ibn Said dalam menilai selain Humâm, baik ketika menjarh maupun ketika menta’dil?!

Apakah seorang alim yang serendah itu kualitas mentalnya diandalkan dalam dipercaya mengawal Sunnah Nabi saw. dan dalam menentukan siapa yang layak mengemban Sunnah dan siapa yang tidak layak?!

Jika Sunnah Nabi saw. yang kita jadikan sandaran utama setelah Al Qur’an itu harus dipastikan dibawa oleh parawi terpercaya dan tentang dipercaya atau tidaknya seorang pariwayat itu didasarkan kepada komentar seorang seperti Yahya, maka apa jadinya nasib agama kita?

Bukankan ini sebuah masalah serius yang harus segera dipecahkan para ulama Ahlusunah sendiri!

Sepertinya mereka harus segera mencari tokoh alternatif untuk dapat dipercaya dalam memberikan data dan penilaian tentang para periwayat dan pengemban Sunnah Nabi saw.!

Siapakah gerangan kira-kira ulama yang pantas diandalkan dalam hal ini? Mungkin Yahya ibn Ma’in? Atau Ahmad ibn Hanbal?

Akan kita teliti dalam halaqah akan datang tentang mereka berdua! Mudah-mudahan keduanya tidak mengecewakan seperti senior mereka! Semoga!

Kita nantikan saja!


[1] Siyar A’lâm an Nubalâ’,9/183.

[2] Ibid.3/41 ketika menyebut biografi Hamâm ibn Yahya ibn Dînâr,

________________________________________________________________________

TULISAN TERKAIT

  1. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (1)

_____________________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: