Masihkah Ahli Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (5)

Masihkah Ahli Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (5)

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Oleh Ibnu Jakfari

Imam Ahmad ibn Hanbal

Tokoh lain yang begitu diandalkan Ahlusunnah dalam penukilan hadis dan penilaian para periwayat adalah Imam Ahmad ibn Hanbal –sala seorang pendiri empat mazhab fikih Ahlusunnah dan bapaak Mazhab Kalam Sunni-.

Kedudukan Imam Ahmad di Mata Ulama Ahlusunnah

Imam Ahmad ibn Hanbal adalah salah satu tokoh sentral dalam al jarh wa at ta’dîl, seorang muhaddis besar dan imam mazhab yang terkenal. Sebagaimana perannya dalam membangun ideologi Ahli Hadis cukup signifikan. Namun demikian tidak berarti ia selamat dari kecaman dan pencacatan serta kritik tajam dari sebagian pakar ahli dan rekan sejawatnya dalam menjarah dan atau menta’dil.

Abu Bakar ibn Abi Kaitsamah berkata, “Dikatakan kepada Yahya ibn Ma’in, ‘Sesungguhnya Ahmad ibn Hanbal berkata, ‘Ali ibn Ashim adalah tsiqah.’ Maka Yahya berkata, ‘Demi Allah, Ali ibn Ashim sama sekali tidak tsiqah menurutnya, ia-pun tidak sudi meriwayatkan darinya, lalu mengapa sakarang ia menjadi tsiqah menurutnya?! [1]

Pernyataan di atas tegas-tegas menuduh Imam Ahmad tidak beres dalam menilai seorang perawi. Minimal menurut Ibnu Ma’in!

Contoh lain ialah ada seorang perawi bernama ‘Âmir ibn Shâlih ibn Abdillah az Zubairi. Tentangnya:

Ibnu Ma’in berkata, “Ia kadzdzâb, pembohong besar.”[2]

Ad Dârulquthni berkata, “Yutraku, Ia ditinggalkan.”[3]

An Nasa’i berkata, “Laisa bitsiqatin, ia tidak tsiqah.”[4]

Azdi berkata, “Dzâhibul hadîts, lenyap hadisnya.”[5]

Dzahabi berkata, “Wâhin, lemah.”[6]

Ibnu Ady berkata, “Mayoritas hadisnya adalah hasil curian dari orang-orang tsiqah.” [7]

Abu Nu’aim berkata, “Ia meriwayatkan hadis-hadis munkar dari Hisyam ibn Urwah. Ia tidak bernilai, lâ syai’.”[8]

Abu Zar’ah ditanya tentangnya, ia mengatakan, “Ia banyak membawa kemunkaran dalam hadis. [9]

Ibnu Hibban berkata, “Ia banyak meriwayatkan hadis-hadis palsu, mawdhû’ât dari orang-orang kuat, atsbât. Tidak halal meriwayatkan hadis darinya” [10]

Ibnu Hajar berkata, “Matrûkul hadits, ia adalah orang yang ditinggalkan hadisnya.” [11]

Dan al Hakim an Nisaburi berkata, “Ia meriwayatkan dari Hisyam ibn Urwah banyak hadis munkar.[12]

Catatan:

Para ulama Hadis, seperti Ibnu Shalah, an Nawawi, Ibnu Hajar, Jalaluddin as Suyuthi dkk. dalam bahasan tentang al jarh a at ta’dil menyebutkan tingkatan-tingkatan jarh dan penta’dilan berikut redaksi yang akrab digunakan para ahli dalam menilai kualitas para periwayat. Tingkatan jarh, pencacatan pertama adalah ketika seorang periwayat dicacat dengan redaksi-redsaksi, di antaranya sebagai berikut ini: Kadzdzâb (pembohong besar), yakdzib, wadha’ul hadîts (memalsu hadis),… . tingkatan kedua, dengan megunakan redaksi- redaksi, di antaranya sebagai berikut ini: fulân muttahamun bil kadzib aw al wadh’i (si polan terduduh berbohong atau memalsu hadis), fulân sâqitun (polan itu gugur/jatuh), fulân hâlikun (si polan binasa), fulân dzâhibun (si polan hilang), fulân dzâhibul hadîts (si polan hilang/tidak terpakai hadisnya), matrûk (ditinggalkan), matrûkul hadîts (hadisnya ditinggalkan), tarakûhu (mereka meninggalkannya), laisa bitsiqatin (tidak tsiqah) ….[13]

Dari redaksi-redaksi pencacata dan vonis yang dijatuhkan para pakar atas ‘Amir ibn Shalih terlihat dengan jelas bahwa perawi yang satu ini memiliki cacat berat, sebab redaksi-redaksi yang dipergunakan adalah redaksi penjarhan tingkat pertama dan kedua.

Kendati demikian Ahmad ibn Hanbal mentsiqahkannya. Adz Dzahabi berkomnetar tentangnya, Mungkin Ahmad tidak pernah meriwayatkan dari seorangpun yang lebih lemah darinya. Kemudian ia ditanya tentangnya, Ahmad menjawab, ‘Ia tsiqah, ia tidak berbohong.’[14]

Pentsiqahan ini membuat para pakar hadis bereaksi keras atasnya. Ahmad ibn Muhammad ibn Qasim berkata, “Yahya ibn Ma’in berkata tentang ‘Amir ibn Shalih, ‘Kazdzdâb, khabîts, aduwwullah (ia seorang pembohong besar, jahat dan musuh Allah).’”

Kemudian ia melanjutkan, “Aku berkata kepada Yahya, ‘Ahmad ibn Hanbal menyampaikan hadis darinya.’ Mengapa, padahal ia mengetahui bahwa kami semua meninggalkan syeikh itu semasa hidupnya.’ Aku bertanya, ‘Mengapa mereka meninggalkannya?’ Ia menjawab, ‘Hajaj al A’war berkata, ‘Dia (‘Amir) datang kepadaku lalu menulis dariku hadis Hisyam ibn Urwah dari Abi Luhai’ah dan Laits, kemudian ia pergi dan setelahnya ia mengakui hadis itu dan meriwayatkannya langsung dari Hisyam.’” [15]

Para ulama menukil tamparan pedas dari Yahya ibn Ma’in atas Ahmad, ia berkata, “Ahmad telah gila! Ia meriwayatkan hadis dari ‘Amir ibn Shalih.” [16]

Sikap Sektarian Imam Ahmad

Adalah sebuah  kenyataan bahwa Imam Ahmad sangat sensitif terhadap masalah-masalah kemazhaban, khususnya setelah ia di hadapkan kepada masalah pendapatnya tentang Al qur’an, sehingga membentuk sikapnya dalam menilai seorang periwayat. Imam Ahmad –dengan segala hormat saya kepadanya- ketika menerjunkan diri dalam kubangan masalah: Apakah Alqur’an itu qadîm atau bukan, beliau menjadikan masalah ini sejajar dengan konsep tauhid atau bahkan melebihinya. Beliau menolak hadis dari seorang periwayat yang menyalahi pendapatnya dalam masalah ini. Dan sikap seperti ini tentunya merugikan Sunnah Nabi saw. Bahkan lebih jauh, Imam Ahmad menolak hadis dari seorang periwayat yang berhenti tidak memberikan pendapat apapun tentangnya, al wâqif. Ia mengecamnya dengan kata-kata ‘wâqifi masy ûm (seorang yang bersikap nentral/tidak berbendapat apapun yang sial). Bahkan lebih jauh lagi beliau menolak hadis riwayat mereka yang terpaksa berpendapat lain di hadapan Khalifah yang memaksanya saat itu, seperti yang dialami Yahya ibn Ma’in. Ahmad berkata, “Aku tidak suka meriwayatkan dari orang yang menjawab sesuai pendapat Khalifah.”[17] Padahal ia mengakui bahwa kondisi itu adalah ujian berat bagi para muhaddis, mihnah.[18]

Adz Dzahabi melaporkan bahwa Ahmad berkata, “Aku benci menulis hadis dari periwayat yang menjawab (sesuai dengan kemauan Khalifah) dalam mihnah seperti Yahya dan Abu Nashr at Tammâr.”[19]

Ibnu Jakfari bertkata:

Apabila perbedaan pendapat dalam masalah ini menjadi sebab kerasnya sikap dalam mencacat, kendati jelas-jelas orang yang dicacat itu jujur, lalu apa yang menjamin kita bahwa perbedan dalam masalah-masalah lain, seperti sikap tentang keadilan seluruh sahabat tanpa terkecuali, kecintaan kepada Ahlulbait as. Dan membenci musuh-mush mereka tidak dijadikan sebab pencacatan seorang perawi?! Dan adakah yang menjamin bahwa kecocokan dalam mazhab dan pendapat dengan seorang periwayat tidak menjadi sebab utama ketergesah-gesahan dalam menilai positif seorang periwayat dengan tanpa alasan yang benar?!


[1] Al Jarh wa at Ta’dil,6/198 ketika menyebut biografi Ali ibn Ashim al Wâshithi, keterangan serupa dengan sedikit perbedaan dapat dilihat dalam Tahdzîb at Tahdzîb,7/304, Tahdzîb al Kamâl,20/517 dan Tarikh Baghdad,11/455.

[2] Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn; Ibnu al Jauzi,2/72, Mîzân al I;didâl,4/17, al Mughni fi adh Dhu’afâ’:323, Tahdzîb at Tahdzîb,5/62, al Kâsyif,1/523, dan Tahdzîb al Kamâl,14/46.

[3] Mîzân al I’tidâl,4/17, al Mughni fi adh Dhu’afâ’:323, al Kâsyif,1/523, Tahdzîb al Kamâl,14/46, Tarikh Baghdad,12/236 dan Sualât al Burqâni:50.

[4] Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn; Ibnu al Jauzi,2/72, al Kâmil fi adh Dhu’afâ’,5/83, Tahdzîb at Tahdzîb,5/62 dan Tahdzîb al Kamâl,14/47.

[5] Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn; Ibnu al Jauzi,2/72, Tahdzîb al Kamâl,14/47, Tahdzîb at Tahdzîb,5/62.

[6] Mîzân al I;didâl,4/17.

[7] Al Kâmil fi adh Dhu’afâ’,5/83, Tahdzîb at Tahdzîb,5/62 dan Tahdzîb al Kamâl,14/48.

[8] Adh Dhu’afâ’; Abu Nu’aim:124 dan Tahdzîb at Tahdzîb,5/62.

[9] Sualât al Burdza’i:426.

[10] Al Majrûhîn; Ibnu Hibbân,2/188, Adh Dhu’afâ’ wa al Matrûkîn;2/72, Tahdzîb at Tahdzîb,5/62 dan Tahdzîb al Kamâl,14/48.

[11] Taqrîb at Tahdzîb,1/287.

[12] Al Madkhal Ila ash Shahih:182.

[13] Tawdhîh al Afkâr Lima’âni Tanqîhil Andzâr; Muhammad ibn Ismail ash Shan’ani,2/268, masalam ke 48.

[14] Mizân al I’tidâl,4/17 dan al Mughni fi adh Dhu’afâ’:323.

[15] Tahdzîb al Kamâl,14/47, Mizân al I’tidâl,4/17, Tahdzîb at Tahdzîb,5/62 dan Tarikh Baghdad,12/236.

[16]Mizân al I’tidâl,4/17 dan al Kâmil fi Dh’afâ’I ar Rijâl,5/83.

[17]Al ‘Atbu al Jamîl; Sayyid Muhammad ibn Aqil al Alawi asy Syafi’i:130

[18]Pada akhir abad kedua Hijrah muncul perbincangan seputar masalah apakah kalamullah makhluk atau qadim. Kaum Mu’tazilah dengan dukungan Khalifah Ma’mun meyakini bahwa Al qur’an adalah makhluk. Pada tahun 212 H. Khalifah Ma’mun mengumumkan bahwa mazhab yang haq adalah bahwa Al qur’an makhluk. Sejak itu ia mengajak meyakininya dalam majlis-majlis diskusi yang ia adakan di istana kekhalifahan. Ia mengemukakan argumentasi mantap tentangnya, dan masing-masing peserta diberi kebebasan menyampaikan pendapatnya. Akan tetapi pada tahun 218 H. yaitu tahun kematiannya, ia berpendapat untuk memaksa dengan kekuasaannya agar semua meyakini seperti pendapatnya. Ia menulis sepucuk surat kepada gubenur kota Baghdad; Ishaq bin Ibrahim berisikan pendapatnya tentang Al qur’an dan meminta semua meyakininya. Maka Ishaq bercepat-cepat melaksanakan perintah tersebut dan mengumpulkan para ulama’ dan merekapun menyatakan sependapat dengan Khalifah Ma’mun, kecuali empat ulama’: Ahmad bin Hambal, Muhammad bin Nuh, Al Waqariri dan Sajadah, mereka bertahan mengatakan bahwa Al qur’an bukan makhluk. Atas sikap mereka, mereka di borgol. Dan kemudian dua dari mereka menyerah dan mengikuti pendapat Khalifah Ma’mun sementara dua lainnya, yaitu Ahmad dan Muhammad bin Nuh bertahan. Keduanya di giring ke kota Thurthus untuk di hadapkan kepada Khalifah Ma’mun, dan di tengah jalan Muhammad bin Nuh meninggal dunia. Dan sebelum Imam Ahmad sampai dan di hadapkan kepada Khalifah Ma’mun, sang Khalifah mati dan berwasiat kepada penerusnya agar berjalan atas kebijakan yang sama. Dan Khalifah Al Mu’tashim kemudian Al Watsiq berkuasa sepeninggal Ma’mun dan merekapun menempuh kebijakan yang sama. Seperti telah di singgung bahwa Ahli hadis, dan di Bârisan terdepan mereka adalah Imam Ahmad bin Hambal adalah kelompok yang menyakini bahwa kalamullah adalah bukan makhluk. Ia menanggung berbagai penderitaan dalam mempertahankan keyakinannya. Ia menyakini konsep tersebut walaupun tidak ada nash tentangnya baik dari Nabi saw. maupun dari para sahabat. Memang pada awalnya ia menyakini bahwa berbicara seputar masalah itu adalah bid’ah akan tetapi setelah topan fitnah berlalu dengan kematian para penguasa Abbasiyah yang memaksa para ulama’ menyakini bahwa Al qur’an adalah makhluk/haadits, dan lahirlah era baru -sepeninggal Khalifah Ma’mun dan dua penerusnya; Khalifah Al Mu’tashim kemudian Al Watsiq- di bawah kekhilafahan Al Mutawakil yang bertolak belakang dengan para pendahulunya serta mendukung pandangan Imam Ahli hadis, dan meminta Imam Ahmad untuk mengemukakan pandangannya tentang Al qur’an, beliau menegaskan bahwa ia bukan makhluk, kendati demikian- kata Abu Zuhrah- tidak pernah di nukil dari Ahmad bahwa beliau mengatakan bahwa Al qur’an itu qadim. (Tarikh Al Madzahib Al Islamiah:300.) Dan apabila kita menengok sejarah kebelakang, maka kita akan menemukan bahwa masalah Al qur’an bukan makhluk itu telah muncul di abad kedua Hijrah. Orang pertama yang mengatakannya adalah Ja’ad bin Dirham hanya saja pendapat itu terpendam hingga masa Khalifah Ma’mun. Komentataor kitab Al Ushul Al Khamsah karya Abdul Jabbar mengatakan: pembicaraan seputar Al qur’an dan Kalamullah adalah salah satu masalah penting yang di hadapi para pemikir Islam. Ia telah menimbulkan kekacauan besar di tengah-tengah Bârisan para ulama’ dan kaum awam dan terkait dengan sebuah bencana besar yang di kenal dengan bencana Imam Ahmad bin Hambal. Slogan kedua teori itu ialah “Apakah Al qur’an itu makhluk atau bukan makhluk?”. Kelompok Mu’tazilah berada di Bârisan yang mengumandangkan konsep Al qur’an makhluk, mereka merangkul kedalam Bârisan mereka Kahlifah agung yaitu Ma’mun dan seorang adi patih agung yaitu Ahmad bin Abi Daud. Dalam perselisihan itu banyak yang menjadi korban dan mereka yang meyakini bahwa Al qur’an itu bukan makhluk bertahan di atas pendapat mereka, mereka tidak menikmati sedikitpun urusan pemerintahan. Dan mereka yang meyakini bahwa Al qur’an adalah makhluk mulai mundur teratur di bawah tekanan massa dan Imam Ahmad bin Hambal keluar dari kemelut bencana sebagai pemenang dan contoh model keteguhan dalam mempertahankan keyakinan/akidah. Sebagaimana kelompok Mu’tazilah dengan sikap mereka dan usaha mereka untuk memaksa manusia meyakni seperti keyakinan mereka menampilkan contoh buruk campur tangan dalam masalah pemikiran, padahal mereka adalah penganjur kebebasan berfikir. (Al Ushûl Al Khamsah:527).

[19] Mizân al I’tidâl,7/222 ketika menyebut biografi Yahya ibn Ma’in.

.

________________________________________________________________________

TULISAN TERKAIT

  1. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (1)
  2. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (2)
  3. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (3)
  4. Masihkan Ulama Hadis Ahlusunnah Dapat Dipercaya? (4)

________________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: