Ulama Ahlusunnah Mencacat Rakan-rekan Mereka Sendiri (1)

Ulama Ahlusunnah Mencacat Rakan-rekan Mereka Sendiri (1)

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Di tulis Oleh: Ibnu Jakfari

Pendahuluan:

Semua sekte/kelompok di dalam tubuh kaum Muslim mengklaim bahwa kelompoknya adalah berpegang dengan Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw. Dan berada di atas shirâth mustaqîm, dan kelompok lainnya adaalah ahli bid’ah bahkan tidak sedikit yang dikafirkan!

وكلُّ يدَّعي وصلاً بليـلى..!

.

Memang banyak bukti Qur’ani dan Sunnah yang dapat diajukan sebagai bukti bahwa kelompok tertentu telah menyimpang baik dekat maupun jauh dari ajaran Al Qur’an dan Sunnah…. Akan tetapi, kali ini saya akan menawarkan kepada pembaca bukti baru yang mungkin dirasa unik sebagai bukti penyimpangan kelompok/sekte tertentu melalui vonis dan pernyataan ulama semazhab tertentu itu atas rekan-rekan semazhabnya.

Kali ini, saya mengajak pembaca menelusuri data-data kecaman ulama Ahlusunnah atas rekan-rekan mereka; ulama Ahlusunnah sendiri dan pernyataan bahwa rekan-rekan mereka itu telah menyimpang dan berada di atas dhalâlah.

Rekan-rekan yang mereka kecan dan meraka jatuhi vonis itu tidak diragukan kesunnian mereka! Namun kendati demikian mereka divonis sesat dan menyimpang!!

Apa Tujuan Kajian Ini?

Tujuan kajian ini adalah untuk membuktikan bahwa pada kenyataannya, dengan memerhatikan carut mawutnya kecaman, saling tuduh menuduh, dan saling sesat menyesatkan, bahwa kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah saja belum cukup untuk menyelesaikan konflik interen yang terjadi di antara umat Islam! Hanya Al Qur’an dan Sunnah semata belum cukup untuk menjamin hidayah bagi umat Islam! Ada sebuah unsur tambahan yang harus dimasukkan dalam usaha yang dapat menjamin hidayah dan penyelesaian konfilk antara umat Islam! Yaitu keberadaan Imam Ma’shum yang ditunjuk Allah melalui Rasul-Nya saw. Argumentasi itu pernah dikemukakan oleh seorang murid kesayangan Imam Ja’far ash Shadiq as. Yang bernama Hisyâm ibn Hakam (rahimahullah).

Di sini saya katakana bahwa pada kenyataan bukan saja umat Islam ini saling sesat menyesatkan, kafir mengafirkan sesama Muslim hanya karena berbeda mazhab dan aliran…. Akan tetapi di antara ulama Ahlusunnah sendiri (yang mengklaim bahwa merekalah yang paling mewakili Islam sejati) ternyata telah terjadi saling sesat menyesatkan… mereka telah mengakui dan bahkan memvonis bahwa sebagian mereka telah terjebak dalam kesesatan.

Di sini Anda berhak bertanya: Kilo benar kalian berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah, lalu mengapa muncul dari kalian ulama-ulama yang sesat? Mereka adalah ulama kawakan dan bukan awam yang rendahan!

Kalia harus mencari sebab dibalik bermunculannya “ulama-ulama sesat” dalam pandangan kalian itu?

Untuk menghemat waktu Anda, langsung saja saya menyebutkan beberapa contoh “ulama-ulama Sunni yang sesat” dalam pandangan ulama Sunni sendiri.

1) Muhammad ibn Syujâ’ ats Tsalji, seorang tokoh Fikih Mazhab Hanafi di negeri Irak.

Para ulama Ahlusunnah telah menvonisnya sebagai:

مبتدع، يضع الأحاديث، كافر، زائغ عن الدين…

“Ia adalah seorang penyandang bid’ah, pemalsu hadis, seorang kafir dan menyimpang dari agama.” (Syadzarât adz Dzahab:2/151)

.

Muhammad ibn Syujâ’ ats Tsalji ini adalah seorang tokoh Fikih yang tidak diragukan ketokohannya… ia tokoh Fikih Mazhab Hanafi… belajar dari Ismail ibn Aliyyah, mendalami fikih kepada Hasan ibn Ziyâd al Lu’lu’i… ia banyak menulis buku dan juga bekerja…. Ia seorang pemalsu hadis… tapi anehnya ia mati di saat sujud dalam shalat! Dalam usia sekiratb 90 tahun. Ia mati tahun 266 H.

Dalam kitab al Mughni disebutkan:

.

محمد بن شجاع بن الثلجي الفقيه قال ابن عدي كان يضع الأحاديث في التشبيه ينسبها إلى أصحاب الحديث يثلبهم بذلك.

“Muhammad ibn Syajâ’ ats Tsalji al Faqîh. Ibnu Adiy berkata, “ Ia sering memalsu hadis tentang menyerupakan Allah dan menisbatkannya kepada ulama Ahli Hadis, ia mencacat mereka karena itu.”

Dalam kitab Thabaqât al Hanafiyah:2/69 diseburtkan:

.

وكان فقيه أهل العراق فى وقته والمقدم فى الفقه والحديث وقراءة القرآن.

“Ia adalah Ahli fikihnya orang-orang Irak di masanya dan yang diunggulkan dalam fikih dan hadis serta qir’at Qur’an.”

.

Ibnu Hajar dalam Tahdzîb at Tahdzîb:9/195 menyebutkan bahwa Imam Ahmad berkomentar tentangnya:

مبتدع صاحب هوى.

“Ia seorang penyandang bid’ah dan penyembah hawa nafsu.”

.

Al Qawârîri juga berkomentar:

هو كافر.

“Ia adalah seorang kafir!.”

.

As Sâji berkata:

أما الثلجي فكان كذاباً، احتال في إبطال حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم ورده؛ نصرةً لمذهبه”.

“Adapun ats Tsalji ia adalah seorang pembohong. Ia bermakar untuk menolak hadis Rasulullah saw. demi membela mazhabnya.”

.

Ibnu Adiy berkata:

كان يضع أحاديث التشبيه.

“Ia sering memalsu hadis tentang penyerupaan Allah dengan makhluk.”

.

Al Azdi berkata:

كذاب لا تحل الرواية عنه؛ لسوء مذهبه وزيغه عن الدين.

“Ia seorang pembohong besar. Tidak halal meriwayatkan hadis darinya karena jelaknya mazhabnya dan penyimpangannya dari agama.”

2) Abu Bisyr Ahmad ibn Muhammad al Kindi al Marwazi. Seorang Hafidz, Imam dan Muhaddits Agung!

Nama lain yang juga menjadi sasaran kecaman dan vonis sebagai pemalsu ulung adalah Abu Bisyr Ahmad ibn Muhammad al Kindi al Marwazi, seorang hafidz besar, imam/tokoh dan muhaddis agung…. Tiga gelar yang menandakan ketinggian klaulitas akademiknya di bidang Ilmu Hdis!! Gelar hafidz bukan sembarang gelar yang dapat disematkan ke pundak setiap orang walaupun ia telah banyak mendalami dan menyelami lautan hadis dan sunnah. Demikian juga dengan gelar imam, sebuah cermin bahwa ia adalah panutan dan menjadi rujukan!

Tetapi ada sebuah kenyataan yang tentu mengagetkan kita semua dan sulit rasanya menerimanya! Dengan gemerlapannya gelar akedemik tersebut di atas, ternyata Abu Bisyr Ahmad ibn Muhammad al Kindi al Marwazi adalah seorang wadhdhâ’/pemalsu hadis ulung dan kadzdzâb/pembohong besar!!

Dalam kitab Mirâtul Jinân:2/287 karya al Yâfi’i disebutkan sebagai berikut:

.

الحافظ أبو بشر أحمد بن محمد الكندى المروزى . روى عن محمود ابن آدم وطائفة . وهو أحد الوضاعين الكذابين ، مع كونه مُحدِّثًا إمامًا في السنة والرد على المبتدعة.

“Al Hâfudz Abu Bisyr Ahmad ibn Muhammad al Kindi al Marwazi. Ia telah meriwayatkan hadis dari Mahmud ibn Adam dan sekelompok ulama lainnya. Ia salah seorang pemalsu hadis yang ahli bohong padahal ia seorang muhaddis, seorang imam dalam (Ahlu) Sunnah dan melawan ahli bid’ah (selain Sunni).”

Keterangan seperti itu juga dapat ditemukan dalam Syadzarât adz Dzahab:2/298.

(bersambung)

.


.

_____________________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: