Menyoal Kejujuran Ahli Hadis Sunni (bag. 3)

Menyoal Kejujuran Ahli Hadis Sunni (bag. 3)

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Di tulis Oleh Ibnu Jakfari

Abu Hâtim ibnu Hibbân

Ibnu Hibbân adalah salah satu tokoh dan pakar al jarh wa at ta’dîl yang sering diandalkan oleh jumhur. Tentangnya adz Dzahabi bertutur,

“Imam Abu ‘Amr ibn ash Shalâh menyebutnya dalam kitab Thabaqât asy Syâfi’iyah dan berkata, ‘Ia (Ibnu Hibbân) telah salah dengan kesalahan fatal dalam sikapnya.’ Benar Abu ‘Amr, ia banyak kesalahannya, al Hafidz Dhiyâuddin telah menelusuri sebagiannya. Abu Ismail al Anshari -Syeikhul Islam- berkata, ‘Aku bertanya keada Yahya ibn Ammâr tentang Abu Hâtim, maka ia berkata, ‘Aku perna menyaksikannya. Kami (para ulama) pernah mengusirnya dari kota Sijistân. Ia memang punya banyak ilmu tetapi tidak memiliki banyak keberagamaan…’ Abu Ismail al Anshari berkata, ‘Aku mendengar Abdush Shmad ibn Muhammad berkata, ‘Aku mendengar ayahku berkata, ‘Para ulama menentang Ibnu Hibân karena ucapannya bahwa kenabian adalah ilmu dan amal. Kerenanya mereka menghukuminya telah zindiq, kafir dan mereka mengucilkannya. Khalifah saat itu menuliskan keputusan agar ia dihukum mati. [1]

.



At Turmudzi

Adapun Abu Isa at Turmudzi-penulis kitab Sunan-, ia telah dicacat adz Dzahabi ketika menyebutkan sebuah hadis, ketika ia membicarakan Yahya ibn Yamân, “At Turmudzi mensahihkannya, sementara di dalamnya terdapat tiga periwayat dha’if (lemah). Dan janganlah kamu tertipu dengan penghasanan at Turmudzi, sebab jika diteliti kebanyakan adalah lemah. [2]

Ketika membicarakan Katsir ibn Abdillah al Muzani, adz Dzahabi berkata, “Para ulama tidak bersandar kepada pen-shahih-an at Turmudzi. [3]

Al Mubârakfûfi-pensyarah Sunan at Turmudzi yang terkenal- berkata, “Adapun vonis hasan oleh at Turmudzi maka tidak dapat dijadikan sandaran, sebab ia sering menggampangkan.” [4]

Ketika membicarakan Ismail ibn Râfi’, Adz Dzahabi juga menukil pencacatan sekelompok ulama atas at Turmudzi dan sebagian lainnya mengatakan ia matrûk (dibuang/ditinggalkan). Setelahnya adz Dzahabi berkata mengecam at Turmudzi dalam sikapnya yang terkesan menyembunyikan cacat dengan kata-katanya, “Dan termasuk penipuan at Turmudzi adalah ucapannya bahwa ia dikecam oleh sebagian ahli ilmu.” [5]

Jika ucapannya itu benar-benar penipuan oleh at Turmudzi maka bagaimana kita dapat tentram mengandalkannya?! Jika bukan termasuk penipuan bagaiaman kita dapat mengandalkan adz Dzahabi yang mencacatnya dalam menilai para tokoh dan periwayat?!

Ibnu Handah dan Abu Nu’aim

Ibnu Hajar dalam Lisân al Mîzân-nya ketika menyebut biografi Abu Nu’aim al Isbahani; Ahmad ibn Abdullah mengatakan,“Ia salah seorang tokoh, shadûq (jujur). Ia dikecam tanpa alasan. Tetapi ini adalah balasan dari Allah sebab ucapannya tentang Ibnu Mandah dengan dasar hawa nafsu. dan ucapan Ibnu Mandah tentang Abu Nu’aim sangat keji, saya tidak suka menceritakannya. Dan saya tidak menerima ucapan masing-masing keduanya tentang mereka berdua. Tetapi keduanya menurut saya maqbûlani (sama-sama dapat diterima), dan saya tidak mengetahui dosa mereka yang lebih besar dari meriwayatkan hadis-hadis palsu tanpa menerangkan kepalsuannya… Aku membaca tulisan tangan Yusuf ibn Ahmad asy Syirâzi al Hafidz, aku melihat tulisan tangan Ibnu Thahir al Maqdisi, ia berkata, ‘Semoga Allah memanaskan mata Abu Nu’aim , ia berbicara/mencacat Abu Abdillah ibn Mandah, sementara para ulama telah bersepakat akan keimamahannya dan ia mendiamkan orang yang di bawahnya sementara para ulama telah bersepakat akan kebohongannya.” Ibnu Hajar berkomentar, “Ucapan para teman sezaman tentang sesama mereka tidak perlu dihiraukan, khususnya jika tampak darinya bahwa ia muncul karena permusuhan atau perbedaan mazhab atau rasa hasud. Tidak selamat darinya kecuali orang yang diselamatkan Allah. Dan aku tidak mengetahu ada suatu masa yang penghuninya selamat darinya selain para nabi dan shiddîqîn. Andai aku mau pasti akan aku sebutkan hal itu dalam banyak jilid buku…” [6]

Jika Abu Nu’aim berkata tentang Ibnu Mandah dengan dorongan hawa nafsu, bagaimana kita dapat tentram mengandalkannya dalam menjarh dan menta’dil?! Sebab seorang yang dikuasai hawa nafsu pasti menjauh dari jalan kebenaran, dan bagaimana dapat dibedakan antara yang benar dengan yang keliru?! Antara yang jujur dan yang palsu?!

Demikian juga halnya dengan Ibnu Mandah, jika Abu Nu’aim itu seorang yang jujur dan dapat diandalkan, bagaimana kira-kira nasib Ibnu Mandah yang mencacatnya tanpa hujjah dan alasan yang membenarkan dan dengan kata-kata keji, sampai-sampai Ibnu Hajar tidak sanggup membeberkannya kepada kita?

Pada bagian lain makalah ini Anda akan saksikan bahwa permasalahan ini sunguh serius!!

Dan dalam akhir ucapan Ibnu Hajar tampak jelas bahwa pencacatan atas dorongan hawa nafsu; rasa hasud, permusuhan pribadi, perbedaan faham dan aliran adalah hal biasa terjadi di antara para ulama yang hidup sezaman. Oleh sebab itu ucapan-ucapan mereka tidak perlu digubris dalam menjarh dan menta’dil, sekalipun terhadap orang yang tidak sezaman, atau ketika tidak tampak adanya tendensi hasud atau permusuhan, sebab kepercayaan kita sudah sirna dan keadilan mereka pun perlu dipertanyakan dan telah terbukti mereka pernah berbohong tentang rekan se profesinya!

Al Hâkim an Naysâbûri

Al Hâkîm an Naysâbûri adalah seorang tokoh dan pakar ilmu hadis dan jarh wa ta’dil yang cukup handal. Kendati demikian ia dikecam karena sikapnya yang gegabah dalam menilai periwayat! Demikian disifati adz Dzahabi. Dalam Mizan al I’tidâl-nya, ketika menyebutkan biografi Ibnu Qutaibah, adz Dzahabi berkata, “Abdullah Muslim ibn Qutaibah; Abu Muhammad, penulis banyak buku, ia shadûq, jujur… al Khathib bertutur, ‘Ia tsiqah (jujur/terpercaya), teguh dalam agamanya, agung.’ Al Hakim berkata, ‘Umat bersepakat bahwa al Qutabi (Ibnu Qutaibah) adalah kadzdzâb (pembohong besar).’ Aku (adz Dzahabi) berkata, ‘Ini adalah ngawur, asal ngomong yang jelek, dan ucapan seorang yang tidak takut kepada Allah!!.” [7]

Dalam kitab Siyar A’lâm an Nubalâ’-nya [8] ia kembali berkomentar tentang ucapan al Hâkim, “Ini adalah asal ngomong, sedikit kehati-hatian (dalam agama). Saya tidak pernah mengetahui ada seorang yang menuduh Ibnu Qutaibah sebagai pembohong sebelum ucapan ini. Bahkan al Khathib berkata, ‘Ia tsiqah’. Dan telah mengabarkan kepadaku Ahmad ibn Salamah dari Hammâd al Harrâni bahwa ia mendengar al Salafi mengingkari ucapan al Hakim ‘tidak boleh meriwayatkan dari Ibnu Qutaibah’. Ia berkata, ‘Ibnu qutabah itu tsiqah dan Ahlusunnah.’ Lalu ia melanjutkan, ‘tetapi al Hâkim mencacatnya sebab urusan mazhab.’

Ibnu Hajar mengomentari ucapan terakhir ini dengan kata-kata, “Dan yang tampak bagi saya ialah bahwa maksud al Salafi dengan urusan mazhab ialah kenasibian, sebab Ibnu Qutaibah menyimpang dari Ahlulbait, sementara al Hakim bertolak belakang dengannya. [9]

Catatan Kaki

[1] Mizân al I’tidâl,6/99 ketika menyebut biografi Muhammad ibn Hibbân; Abu Hatim al Busti dan Tadzkirah al Huffâdz,3/921-922 juga ketika menyebut biografi Ibnu Hibbân.

[2] Mizân al I’tidâl,7/231ketika menyebut biografi Yahya ibn Yamân al Ijli.

[3] Ibdi.5/493 231ketika menyebut biografi Katsir ibn Abdillah ibn ‘Amr ibn ‘Auf.

[4] Tuhfah al Ahwadzi,2/93.

[5] Mizân al I’tidâl,1/384ketika menyebut biografi Ismail ibn Râfi’.

[6] Lisân al Mîzân,1/201-202.

[7] Mizân al I’tidâl,4/198.

[8] 13/299.

[9]Lisân al Mîzân,3/358.

____________________________

ARTIKEL TERKAIT

  1. Menyoal Kejujuran Ahli Hadis sunni (1)
  2. Menyoal Kejujuran Ahli Hadis sunni (2)
___________________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: