Menyoal Kejujuran Ahli Hadis sunni (1)

Menyoal Kejujuran Ahli Hadis sunni (1)

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Di tulis Oleh Ibnu Jakfari

Mempertanyakan Validitas Jarh wa Ta’dîl

Kelihatannya komentar dan omongan para ahli Jarh wa Ta’dîl dalam men-jarh atau men-ta’dil itu sulit diterima dan dijadikan acuan akhir dalam menilai kualitas periwayat. Hal itu karena beberapa alasan:

Poin Pertama, karena para tokoh yang diandalkan komentar mereka dalam men-jarh dan atau men-ta’dil itu sendiri masih diragukan keadilannya. Tidak jarang mereka pribadi-pribadi yang cacat dan memiliki citra buruk yang setelah dilakukan penelitian mereka berakhir dengan pencacatan dan kesimpulan yang mencoreng nama mereka. Tidak terkecuali nama-nama penting seperti Imam Malik, Yahya ibn Sa’id Al Qaththaan, Yahya ibn Ma’in, Ahmad ibn Hanbal, Muhammad ibn Yahya Al Dzuhali, Abu Hatim, Al-Turmudzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Mandah, Abu Nu’aim, apalagi Al Jawzajani ,Ibnu Hazm, Ibnu Al Jawzi, Adz Dzahabi.

Poin Kedua, Adanya saling cacat-mencacat sesama teman sezaman karena alasan-alasan pribadi atau kemazhaban atau bahkan perbedaan pendapat.

Poin Ketiga, Kesengajaan menyembunyikan cacat sebagian Ahli hadis dan merahasiakan keadaannya.

Poin Keempat, Pencacatan dengan tanpa alasan jelas.

Poin Kelima: Dan hal-hal lain.

Maka dengan demikian, sepertinya tidaklah terlalu berharga pencacatan dan atau pujian mereka terhadap perawi tertentu, kecuali jika dapat dipastikan bahwa pencacatan dan atau pujian itu disampaikan bersih dari tendensi tertentu.

Kajian kita kali ini akan kita fokuskan pada dua ketegori cacat mencacat, ath thu’ûn; ath thu’ûn khâshshah, cacat mencacat yang bersifat khusus, dan ath thu’ûn âmmah, cacat mencacat yang bersifat umum.

Ath thu’ûn khâshshah

Kategori pertama adalah cacat-mencacat yang bersifat khusus bagi setiap person dari para tokoh tersebut. Dalam kesempatan ini saya hanya akan menyajikan sebagian informasi dan data tentang para tokoh ahli jarh wa ta’dîl yang diselipkan para ulama kita di sela-sela buku-buku mereka.

Imam Malik ibn Anas.

Imam Malik adalah salah seorang tokoh besar dan imam, pendiri mazhab yang dikenal. Ia sangat dekat dengan para penguasa dinasti Abbasiah; Manshur dan Harun ar Rasyîd.

Ia pernah meriwayatkan hadis dari Hamîd ibn Qais al A’raj dan sekaligus mentsiqahkannya. Namun gara-gara saudara Hamîd yang bernama Amr ibn Qais yang melecehkan dan menyerang Imam Malik lalu kemudian celaan itu sampai kepadanya, sepontan Malik berkata, “Andai aku tahu bahwa Hamîd adalah saudaranya pasti aku tidak sudi meriwayatkan darinya.” [1]

Ibnu al Madîni berkata, “Malik menyebut-nyebut Hamîd al A’raj seraya men-tsiqah-kan, kemudian ia berkata, ‘saudaranya! ‘saudaranya! Lalu ia men-dha’if-kannya (Hamîd). [2]

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa salah dan dosa Hamîd ibn Qais, jika Amr, saudaranya yang mencacat Malik, sampai-sampai Malik meninggalkan meriwayatkan darinya dan melemahkannya setelah sebelumnya mentsiqahkan dan rela meriwayatkan darinya?! Lebih dari itu, Ibnu hajar menyebutkan bahwa Hamîd ini telah ditsiqahkan oleh banyak tokoh kenamaan Ahlusunah seperti Ibnu Ma’in, Abu Zar’ah, Ahmad ibn Hanbal, Abu Daud, Ibnu Kharrâsy, Imam Bukhari, Ya’qub ibn Sufyan dan Ibnu Sa’ad.

Tidakkah berbahaya melibatkan emosi berlebihan dalam men-jarh para periwayat. Lalu apa tidak mungkin juga luapan emosi terlibat jauh dalam mentsiqahkan dan memuji seorang periwayat?!

Saya akan kembali membahas masalah ini ketika menyoroti tindak cacat mencacat antara rekan semasa dan yang bergelut dalam profesi yang sama.

Dalam Tahdzîb at Tahdzîb-nya, Ibnu Hajar berkata ketika menyebutkan biografi Sa’ad ibn Ibrahim ibn Abdurrahman ibn Auf, “Malik tidak mau menulis hadis darinya.” As Sâji berkata membongkar akar masalahnya, ia berkata, “Disebutkan bahwa Sa’ad menasihati Malik, lalu malik sakit hati karenanya.”

Ibnu Hajar juga menukil pernyataan Ibnu Ma’in bahwa Sa’ad berbicara tentang nasab Malik, oleh sebab itu Malik tidak mau meriwayatkan darinya.

Keterangan Ibnu Ma’in ini mungkin dapat memberikan alasan, mengapa Malik marah terhadap Sa’ad yang telah berbicara tentang masalah yang sangat pribadi, yaitu nasab seorang. Tetapi sepertinya Sa’ad tidak bisa disalahkan begitu saja, sebab konon, Malik lahir tiga tahun setelah kematian ayahnya, Malik mengklaim bahwa ia berada dalam kandungan ibundanya selama tiga tahun!

Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa Imam Malik juga berkomentar kasar tentang Muhammad ibn Ishaq; sejarawan agung, “Ia (Muhammad ibn Ishaq) adalah dajjal dari dajjal-dajjal (maksudnya pembohong besar), seperti akan dibahas lebih lanjut nanti.

Yahya ibn Said al Qaththân.

Ketika Yahya ibn Said al Qaththân men-jarah Humâm ibn Yahya ibn Dînâr, Imam Ahmad berkomentar tentangnya, “Dahulu, di masa mudanya Yahya pernah memberikan kesaksian (di hadapan Humâm), tetapi Humâm tidak menganggapnya adil (tidak menerimanya), lalu yahya dendam kepadanya.” [3]

Coba Anda perhatikan, ia jelas sekali bahwa Imam Ahmad menuduh Yahya ibn Said telah mencacat tanpa dasar, hanya karena dendam kusumat yang terpendam dalam jiwanya kepada Humâm. Dan sikap itu jelas kejahatan atas Humâm. Lalu bagaimana kita dapat mengandalkan Yahya ibn Said dalam menilai selain Humâm, baik ketika men-jarh maupun ketika men-ta’dil?!

Yahya ibn Ma’in.

Dzahabi berkomentar tentang Yahya ibn Ma’in, “Abu Amr ibn Abdil Barr berkata, ‘kami meriwayatkan dari Muhammad ibn Wadhdhâh, ia berkata, ‘aku bertanya kepada Yahya ibn Ma’in tentang Syafi’i, maka ia berkata, ia (Syafi’i) bukan orang yang tsiqah (jujur terpercaya) Ibn Abdil Barr juga berkata, ‘Telah benar dari banyak jalur bahwa Ibnu Ma’in banyak berbicara (buruk) tentang Syaifi’i.

Saya (Dzahabi) berkata,

“Dengan itu, Ibnu Ma’in menyakiti dirinya sendiri. Orang-orang tidak menghiraukan omongannya tentang Syafi’i, tidak juga omongannya tentang sekelompok orang yang kuat. Sebagaimana mereka juga tidak menghiraukan mentsiqahannya terhadap sebagian orang, sebab kita akan menerima ucapannya dalam jarh dan ta’dil dan kami utamakan di atas banyak para hafidz selama ia tidak menyalahi jumhur dalam ijtihadnya. Jika ia menyendiri dalam mentsiqahkan orang yang dilembekkan jumhur atau mendha’ifkan orang yang ditsiqahkan dan diterima jumhur, maka keputusan akhir adalah ucapan para imam, bukan orang yang syadzdza, menyimpang (dengan pendapatnya)… terkadang ia menyendiri dengan omongan tentang seseorang dan lainnya, lalu tampak kesalahannya dalam ijtihadnya dengan dasar apa yang kami telah katakan, maka sesungguhnya manusia biasa, tidak ma’shum. Bahkan ia sendiri terkadang mentsiqahkan seorang syeikh. Ijtihadnya berbeda tentang seseorang, ia menjawab seorang penanya sesuai dengan ijtihadnya saat itu.”

Andai Dzahabi berhenti di sini, mungkin masalahnya akan selesai! Akan tetapi menyambungnya dengan kata-kata berikut ini,

“Dan omongannya (Ibnu Ma’in tentang Syafi’i) bukan dari jenis ini -yaitu dari hasil ijtihadnya-, namun ia dari ketergelinciran lisan dengan dorongan hawa nafsu dan ashabiyyah (fanatik buta), sebab Ibnu Ma’in dari golongan Hanafiyah yang Ghulâh (ekstrim keras) walaupun ia seorang ahli hadis.

Demikian juga ucapan hafidz Abu Hâmid asy Syarqi, ‘Yahya ibn ma’in dan Abu Ubaid jelek pandangannya tentang Syafi’i.’ Demi Allah, benar Ibnu asy Syarqi, keduanya telah merusak reputasinya dengan mencacat tokoh masanya (Syafi’i). [4]

Diriwayatkan dari Ahmad ibn Hanbal bahwa Ibnu Ma’in berjumpa dengan Syujâ’ lalu berkata mencercanya, ya kadzdzâb, hai pembohong besar! Syujâ’ marah dan berkata kepadanya, jika aku memang kadzdzab (biarlah omonganmu itu), tapi jika tidak maka semoga Allah membongkar kejelekanmu! Setelahnya Ahmad berkata, ‘Sepertinya doa syeikh itu mengenai Ibnu Ma’in.’ [5]

Dalam lembaran-lembaran berikutnya saya akan sebutkan lebih lanjut sikap Ahmad terhadap Ibnu Ma’in dkk.

Abu Zar’ah berkomentar tentang Ibnu Ma’in, “Ilmunya tidak bermanfaat, sebab ia banyak menceloteh banyak orang!” [6]

Ibnu Hajar juga menukil komentar serupa dari Ali ibn al Madîni dari berbagai jalur. [7]

Ketika Abu Al Azhar meriwayatkan hadis Abd. Razaq tentang keutamaan Ali as. dari Ma’mar dari Azhari dari Ubaidillah dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Nabi saw. memandang Ali as. Lalu beliau bersabda,’Engkau sayyidun, Pemimpin di dunia dan sayyidun di akhirat…’, dilaporkan kepada Yahya ibn Ma’in. Kemudian pada suatu hari ketika Yahya duduk bersama banyak ulama’, Yahya berkata, ‘Siapakah si pembohong besar dari kota Nisabur yang meriwayatkan hadis Abd. Razzaq ini?’ Maka Abu Al Azhar bangun dan dengan tegas mengatakan, ‘Saya orangnya’. Lalu Yahya tersenyum dan mengatakan, ‘Kamu bukan seorang pembohong’. Yahya heran mengapa ia masih selamat, lalu ia melanjutkan, ‘Tentang hadis ini, ia bukan dosa kamu, ia adalah dosa orang lain!’ [8]

Coba Anda perhatikan bagaimana Ibnu Ma’in dengan gegabah dan tanpa alasan menuduh periwayat hadis tersebut sebagai pembohong, kemudian ia dengan tanpa alasan pula menarik vonisnya dengan mendadak, walaupun ia tetap saja membohongkan hadis itu dengan mengatakan ‘Tentang hadis ini, ia bukan dosa kamu, ia adalah dosa orang lain!’ padahal apabila kita perhatikan para periwayat dalam mata rantai sanad hadis di atas adalah para tokoh dan perawi kondang dan andalan yang tsiqât.

Apabila demikian tolok ukur mereka dalam membohongkan hadis dan mencerca periwayatnya, padahal hadis-hadis lain yang senada dengan hadis di atas sangat banyak dan diriwayatkan dari berbagai jalur akurat maka bagaimana kita dapat mengandalkan omongan dan vonis-vonis Ibnu Ma’in?! Khususnya terhadap para pecinta dan pengikut setia Al ibn Abi Thalib ra.

Ali ibn al Madîni.

Adapun Ibnu al Madîni; Abul Hasan Ali ibn Abdullah ibn Ja’far, guru Imam Bukhari dan para muhaddis kondang lainnya, maka perlu Anda ketahui bahwa Imam Ahmad ibn Hanbal telah menuduhnya berdusta [9] , dan Amr ibn Ali juga telah mencacatnya [10]

Al Mazi berkata, “Ibnu Abi Daud (Jaksa Agung) berkata kepada al Mu’tashim, ‘Wahai Amirul Mukminim, orang ini (ahmad maksudnya) mengaku bahwa bahwa Allah kelak di akhirat dapat dilihat dengan mata kepala, sementara mata tidak dapat menatap kecuali benda terbatas, sedangkan Allah tidak terbatas.’

Al Mu’tashim menegur Ahmad, ‘Apa alasanmu tentang masalah ini?’

Ahmad berkata, ‘Wahai Amurul Mukminin, aku punya hadis dari Rasulullah saw.

Al Mu’tashim, ‘Apa sabda beliau saw.?’

Ahmad berkata, ‘Telah mengabarkan kepadaku…. dari Jarir ibn Abdillah al Bajali, ia berkata, ‘kami bersama Rasulullah saw. pada malam keempat belas, lalu beliau memandang bulan purmana, kemudian bersabda, ‘Kalian akan menyaksikan Tuhan kalian sebagaimana kalian menyaksiakn bulan purnama ini, tidak terhalangi dalam memandang-Nya.’

Lalu Al Mu’tashim berkata kepada Ahmad ibn Abi Daud, ‘Apa pendapatmu?’

Ia menjawab, ‘Saya akan teliti dahulu sanad pembawa hadis ini.’

Kejadian itu di pagi hari. Kemudian ia pergi, lalu ia mengutus seorang untuk mendatangkan Ali ibn al Madîni –yang ketika itu berada di kota Baghdad dan sangat papah, sampai-sampai ia tidak mampu membeli kebutuhan sehari-harinya-, setelah hadir, Ibnu Abi Daud tidak berbicara apapaun sebelum memberikan kepadanya sepuluh ribu dirham, dan ia berkata, ‘ini adalah santunanmu dari Amirul Mukminin, ia memerintahkanku untu menyerahkannya kepadamu hak kamu selama dua tahun.

Setelahnya ia berkata, ‘Wahai Abul Hasan, apa pendapatmu tentang hadis Jarir tentang ru’yah, memandang Allah?’

Ia berkata, ‘Shahih.’

Ibnu Abi Daud, ‘Apa Anda punya sesuatu (pencacatan) tentangnya?’

Ia berkata, ‘Sebaiknya Bapak Qadhi (Jaksa) mebebaskanku dari membicarakannya.’

Ibnu Abi Daud, ‘Wahai Abul Hasan, ini sangat di butuhkan sekarang ini.’ Kemdian ia menambah hadishnya dengan memberikan baju-baju mewah, minyak wangi dan kendaraan lengkap dengan pelananya dan jok kursinya. Ibnu Abi Daud terus merayunya hingga pada akhirnya ia berkata, ‘Ya pada sanadnya terdapat seorang yang tidak bisa diandalkan dan tidak juga riwayatnya, ia adalah Qais ibn Abi Hazim, seorang arab baduwi yang suka kencing di kedua tumitnya.’ Karena sangat gembiranya, ia mencium dan memeluk Ibnu al Madîni.

Keesokan harinya, ketika mereka semua berkumpul, Ibnu Abi Daud berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, orang ini berhujjah tentang masalah melihat Allah dengan hadis Jarir, padahal ia hanya diriwayatkan oleh Qais ibn Abi Hazim; seorang arab baduwi yang suka kencing di kedua tumtinya.’ [11]

Abu Bakar al Marwazi berkata, “Aku berkata kepada Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal, ‘Sesungguhnya Ali ibn al Madîni menyampaikan hadis dari al Walîd ibn Muslim … dari Umar, ‘Serahkan kepada Penciptanya, Khaliqihi.’ Maka Ahmad berkata, ‘Berbohonglah ia!’ Al Walîd ibn Muslim dua kali menyampaikan hadis itu kepada kami dengan redaksi, ‘Serahkanlah kepada yang mengerti tentangnya, ‘Âlimihi.’

Aku berkat lagi, “sesungguhnya Abbas al Ghabri berkata, ‘Ketika Ali ibn al Madîni menyampaikan hadis ini di kota ‘Askar, aku berkata kepadanya, ‘mereka telah mengingkari (menyalahkanmu) tentang hadis itu.’ Ia menjawab, ‘Bukankah aku telah menyampaikannya di kota Bashrah?! Lalu ia menyebutkan bahwa al Walîd ibn Muslim telah salah dalam hadis ini.

Maka marahlah Ahmad, ia berkata, ‘Jika ia tahu bahwa al Walîd ibn Muslim salah, lalu mengapa ia menyampaikannya kepada mereka. Apa ia sengaja memberikan hadis keliru?! [12]

Ibnu Jarir berkata, “Dikatakan kepada Ibrahim al harbi, ‘Apakah Ali ibn al Madini tertuduh sebagai berbohong?”

Ia menjawab, ‘Tidak! Tetapi ia menyampaikan hadis lalu menambahnya dengan sebuah kata agar Ibnu Abi Daud puas (rela).”

Ditanyakan lagi, “Apakah ia juga mencacat Ahmad?”

Ia menjawab, “Tidak! Hanya saja, jika ia melihat hadis dari jalur Ahmad ia berkata, ’Tinggalkan hadis ini’ hal itu ia lakukan demi merelakan Ibnu Abi Daud.” [13]

Demikinlah dapat Anda saksikan bagaimana Ibnu al Madini demi mendapat kerelaan sang Jaksa Agung ia mencacat seorang perawi yang jujur… dan ia juga meninggalkan hadis Imam Ahmad juga demi kepuasaan sang Jaksa Agung. Jika memang ia tidak kuasa untuk bersikap tegas di hadapan para penguasa dan aparatnya, paling tidak semestinya ia menjauhkan diri dari arena mereka, walaupun dengan menyendiri di dalam kamar rumahnya dan tidak menikmati santunan mereka dengan mengorbankan hadis dan mencacat para pembawanya!!

Sepertinya cacat-mencacat ini juga tidak luput dari berbagai kepentingan mazhab dan materi!

Al ‘Uqaili berkata, “Ahmad ibn Abdurrahman ar Razi menyampaikan kepada kami, ia berkata, ‘Aku mendengar Azhar ibn Jumail berkata, “Kami sedang duduk di sisi Yahya ibn Said al Qaththan, di sana ada Sahl ibn Hassân ibn Abi Jarubah, Ibnu al Madini, asy Syadzkûni, Sulaiman al Bashri dan Sufyan ar Râs, lalu datanglah Abdurrahman ibn Mahdi, setelah mengucapkan salam ia duduk. Yahya berkata kepada, ‘mengapa engkau kelihatan gelisah?’ ia menjawab, ‘semalam aku bermimpi yang menakutkanku.’ Yahya berkata, ‘Mimpi baik insyaallah! Ali ibn al Madini bertanya, ‘Mimpi apa wahai Abu Said?’ Abdurrahman berkata, ‘Aku melihat sekelompok dari rekan-rekan kita ditelungkupkan.‘ Ibnu al Madini berkata menenangkan, ‘Hanya mimpi, itu kembang tidur.’ Maka Abdurahman berkata menghardik, ‘Diam engkau! Demi Allah engkau adalah salah satunya.’ Ibnu al Madini berkata, ‘Sesungguhnya Allah berfirman: “Barang siapa dipanjangkan umurnya ia akan dikembalikan dalam ciptaannya.”. Abdurahman berkata, ‘Tidak! Bukan itu maksud mimpiku.’”

Aku membaca kitab al Ilal di hadapan Abdullah –putra Ahmad- dari ayahnya, maka melihat di dalamnya banyak penukilan dari ayahnya Ali Abdullah (Ibnu al Madini), kemudian ia mencoret namanya dan menulis di atasnya ‘dari seorang’, kemudian iapun menghapus semua hadis darinya. Maka kutanyakan hal itu kepada Abdullah, ia menjawab, ‘dahulu ayahku menukil hadis darinya kemudian ia tidak mau lagi menyebut namanya, beliau berkata, ‘Seseorang telah menyampaikan hadis kepadaku.’ Kemudian setelahnya beliau meninggalkan total menyampaikan hadis darinya…. “. [14]

Demikanlah sekilas tentang Ibnu al Madini dan sikap ulama terhadapnya.

Ahmad ibn Hanbal

Imam Ahmad ibn Hanbal adalah salah satu tokoh sentral dalam al jarh wa at ta’dîl, seorang muhaddis besar dan imam mazhab yang terkenal. Sebagaimana perannya dalam membangun ideologi Ahli Hadis cukup signifikan. Namun demikian tidak berarti ia selamat dari kecaman dan pencacatan serta kritik tajam dari sebagian pakar ahli dan rekan sejawatnya dalam menjarah dan atau menta’dil.

(Bersambung)

_______________________

[1] Al Kâmil Fi Dhu’afâ’ ar Rijâl,5/8 ketika menyebut biografi Amr ibn Qais al Makki, Tahdzîb at Tahdzîb,7/432juga ketika menyebut biografi Amr ibn Qais al Makki.

[2] Tahdzîb at Tahdzîb,7/432.

[3] Ibid.3/41 ketika menyebut biografi Hamâm ibn Yahya ibn Dînâr,

[4] Ar Ruwât ats Tsiqât al Mutakkal Fîhim Bimâ Lâ Yûjibu Radduhum,29-31.

[5] Tahdzîb al Tahdzîb,12/386, Tarikh Baghdâd,9/249, Bahru ad Dam:200, Risalah fi al Jarhi wa at Ta’dîl:25, , Siyar A’lâm an Nubalâ’,9/353 dan Mizân al I’didâl,3/364, semuanya ketika menyebut biografi Syujâ’ ibn al Walîd ibn Qais as Sukuni.

[6] Tahdzîb al Tahdzîb,11/238 ketika menyebut biodata Yahya ibn Ma’in, Siyar A’laam al Nubalâ’,11/90 dan Tahdzîb Al Kamaal,31/550.

[7] Tahdzîb al Tahdzîb,11/238 ketika menyebut biodata Yahya ibn Ma’in

[8] Tahdzîb al Tahdzîb,11/10, ketika menyebut biodata Ahmad ibn Ibrahim at Taimi, Mustadrak,3.138, kitab ma’rifatush shahabah, wa min manaqibi amirul mu’minîn Ali ibn Abi Thalib, Siyar A’laam al Nubalâ’,9/575 ketika menyebut biodata Abdur Razzâq ibn Humâm, dan 12/367 ketika menyebut biodata Ahmad ibn al Azhar, dan Tahdzîb Al Kamaal,1/260 ketika menyebut biodata Ahmad ibn al Azhar dan Târîkh Badgdâd,4/41-42 ketika menyebut biodata Ahmad ibn al Azhar.

[9] Tahdzîb at Tahdzîb,7/30, Tahdzîb al Kamâl,21/27, Tarikh Baghdâd,11/458 semuanya ketika menyebut biografi Ali ibn Abdullah ibn Ja’far ibn najîh as Sa’di; Abul Hasan ibn al Madîni

[10] Tahdzîb al Kamâl,21/31, Siyar A’lâm an Nubalâ’,11/58 ketika menyebut biografi Ali ibn al Madîni.

[11] Tahdzîb al Kamâl,21/22-23 ketika menyebut biografi Ali ibn al Madîni, dan adz Dazahabi dalam Siyarnya,11/52-53, al Khathib dalam Tarikh Baghdad,11/458 menyetkan kisah ini dengan lengkap.

[12] Tarikh Baghdad,11/458, Tahdzîb at Tahdzîb,7/309, Tahdzîb al Kamâl,21/26-27 dan Siyar A’lam an Nubala’,11/55.

[13] Tahdzîb at Tahdzîb,7/310, Siyar,11/57, dan Tarikh Baghdad,11/458.

[14] Adh Dhu’afâ’; Al ‘Uqalil,3/235-239.

___________________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: