Bantahan Atas Haula Syi’ah: “Ahlul Bait Bagaikan Pintu Pengampunan?”

Ketika Pendengki Ahlulbait Suci Nabi saw. Sok Berlagak Membela Ahlulbait (1)

Bantahan atas “haulasyiah”: AHLUL BAIT BAGAIKAN PINTU PENGAMPUNAN?

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Ditulis Oleh: Ibnu Jakfari

Ketika kaum pendengki Ali dan Ahlulbait Nabi AS. hendak menjaring kaum awam dan menjajakan ajaran miring-nya tentang sikap mereka terhadap keagungan dan keutamaan Ahlulbait Nabi AS., mereka harus pandai berkostum yang memikat dan bak “srigala berbulu domba”….

Mereka harus pandai-pandai menyembunyikan jati diri dan hakikat keyakinan mereka terhadap Ahlulbait as.

Namun demikian, dengan sedikit mau teliti, hakikat asli mereka mudah terdeteksi dan bau busuk kedengkian kepada Ahlulbait as. segera menyengat hidung para pemerhati, sehingga segera akan terbongkarlah kedok kepalsuan mereka yang berpura-pura membela kesucian keluarga suci; Ahlulbait Nabi saw. sebab seperti kata Imam Ali as., “Tiada seorang menyembunyikan dalam hatinya sesuatu kecuali ia akan berluncuran dari lisannya.”


Kedok kepalsuan sikap mereka akan mudah dikenali karena:

(A) Mereka gemar menolak hadis-hadis keutamaan Ahlulbait as. dengan alasan yang semu dan bahkan dalam banyak kali tanpa alasan dan bukti… Hanya sekedar berdalil dengan dha’ifnya seorang perawi misalnya. Sementara komentar para ulama yang menshahihkan hadis tersebut mereka abaikan dan bahkan sering kali mereka serang dengan menebar tuduhan-tuduhan palsu serampangan!

(B) Mereka selalu longgar sikap ketika berhadapan dengan riwayat-riwayat keutamaan selain Ahlulbait as., apalagi musuh-musuh Ahlulbait as.

(C) Mereka selalu “mati-matian” membela siapapun yang menampakkan kesinisan sikap kepada Ahlulbait as., baik dari kalangan ulama maupun selainnya.

Ada Yang Aneh Dalam Sikpa Mereka!

Dalam blog haulasyiah pengelolahnya menyebutkan ada dua kelompok yang salah dalam menyikapi Ahlul bait Nabi as., pertama kaum Syi’ah Rafidha dan kedua kaum Nawâshib.

Untuk kelompok pertama penulisnya berpanjang-panjang dalam menjabarkannya, disamping kesamaran kata-kata dan istilah seakan sengaja ditaburkan di dalamnya.. ia berkata:

Mereka sangat berlebihan dalam mencintai Ahlul bait. sampai-sampai, memiliki keyakinan-keyakinan sesat dan kufur.

Sepertinya yang ia maksud dengannya adalah apa yang ia terangkan dalam alenia berikutnya… di mana ada sekelompok kaum yang telah menuhankan Ali as. lalu ia membakar mereka!

Tentang menuhankan Ali atau siapapun dari Ahlulbait Nabi suci as. adalah kekafiran yang tak samar sedikit pun sikap para ulama mulia Syi’ah Imamiyah Ja’fariyah Itsna Asyariyyah (yang dianut oleh mayorits penduduk Muslim Republik Islam Iran)… fatwa-fatwa mereka sangat gaamblang dalam masalah ini! Lalu apa relevansinya menyebutkan masalah ini dan mengaitkannya dengan Syi’ah?!

Adapun apa yang ia tuduhkan kepada Imam Khumaini (rahmatullah ‘Alaihi wa Hasyarahu ma’a ajdâdihi al-Ath-hâr/semoga Allah merahmati beliau dan mengumpulkannya bersama para leluhur beliau para imam suci dari keturunan Nabi as,)

pertama-tama yang harus segera diperbaiki oleh kawan-kawan dari sekte Wahhabi adalah: Biasakan Anda menyebutkan sumber rujukan yang akurat ketika Anda menisbatkan pendapat kepada pemiliknya. Sebab yang demikian adalah ciri keilmiahan sebuah tulisan!

Kedua: Hendaknya kalian berhias diri dengan amanat dalam menukil dan dalam menerjemahkannya… agar tidak memfitnah serampangan setiap kaum yang Anda benci!

Saya hanya menanti kesediaan Anda menyebutkan rujukan tangan pertama, kalau diperlukan sertakan dan lengkapi dengan scan agar para pembaca dapat yakin akan kebenarannya. Setelahnya saya akan meladeni dan membuktikan kepalsuan fitnah murahan Anda!

Ketiga: Fahami teks/pernyataan setiap ulama dengan benar… sebab yang sering terlihat dari teman-teman Wahhabi adalah kelemahan mereka dalam memahami pernyataan atau dalil lawan mereka. Atau boleh jadi ketidak-mau tauaan mereka akan dalil-dalil lawan diskusi!

Kaum Sunni Juga bersikap Ghuluw/berlebihan Terhadap Para Sahabat dan Para Khulafa’

Dan yang aneh juga ialah kebiasaan menuding Syi’ah bersikap ghuluw /berlebihan terhadap Alhulbait Nabi saw., sementara di kalangan Sunni sendiri tidak sedikit sikap ghuluw itu “tampil dengan tanpa malu” dan benar-benar menggelikan. Bukan sekarang waktu yang tepat membongkarnya. Insya Allah di lain waktu akan saya bongkar! Nantikan sobat!

Selain itu, kata berlebihan/ghuluw sering kali dilonrtarkan begitu saja tanpa pembatasan yang jelas tentangnya!

Kaum Nawâshib!

Namun yang aneh bin ajaib ialah para pendengki Ahlulbait as. itu selalu bermesraan sikap kepada para pembenci Ahlulbait yang dikenal dengan sebutan nawâshib (bentuk jama’ dari nâshibi)….

Di sini pengelolah blog haulasyiah, seakan tidak betah berbicara tentang siapa mereka? Apa ciri-ciri mereka? Apa yang telah mereka perbuat terhadap Ahlulbait? Dan apa sikap yang harus kita ambil terhadap mereka?

Ia bercepat-cepat dan dengan mencuri kelengahan kaum awam memutar kendali seratus delapan puluh derajat dengan memalingkan atau menyederhanakan pembicaraan dengan hanya menyebut kaum Khawârij saja! Benarkah hanya kaum Khawârij saja yang berstatus sebagai Nawashib? Lalu mereka yang mengobarkan api permusuhan dan peperangan terhadap Imam Ali as… terhadap Imam Husain… dan melaknatinya di sepanjang masa kekuasaan mereka, tidak tergolong Nawâshib? Apakah mereka yang memerangi Ali dan Ahlhulbait as. itu terdiri dari kaum Syi’ah Faridhah?

Mengapakah justeru kaum Wahhabi begitu membanggakan kaum “Nawâshih Kelas Kakap” dan tak henti-hentinya membela mereka dan menabur mutiara palsu keistimewaan mereka?!

Raibnya Manhajiyah Dalam Mengkaji!

Di antara hal yang perlu segera dibenahi kaum Wahhhabi dalam hujatan mereka terhadap Syi’ah Imamiyah Ja’fariyyah Itsnâ Asyariyah adalah raibnya manhajiyah/metodologi yang bertanggung jawab dalam mengkaji dan meneliti serta menjatuhkan vonis … entah apa penyebabnya? Apakah keterbatasan pengetahuan… atau kerancuan pola pikir? Atau nafsu memfitnah yang menggelora dalam dada membara mereka? Atau entah apa penyebabnya?!

Yang pasti hal demikian membuat cacatnya hasil penelitian…..

Sebagai contoh! Perhatikan haulasyiah ketika menulis:

Jadi, orang-orang yang selalu menampilkan hadits lemah tentang Ahlul bait akan memborong minimalnya empat sifat jelek.

o menghina Ahlul bait (karena mensifati mereka dengan hadits palsu).

o menentang ayat (Allah membersihkan Ahlul bait, mereka justru mengotorinya dengan hadits palsu).

o mendapatkan ancaman nabi, rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku (membuat hadits palsu) maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari api neraka.” Termasuk juga yang menyebarkan hadits palsu.

o Telah bersikap berlebihan terhadap Ahlul bait.

Coba perhatikan saudaraku –rahimakumullah-, bagaimana ia mencampur adukkan antara penyebutan hadis lemah (dha’if) dengan hadis palsu (maudhu’)… sementara antara keduanya terdapat jurang perbedaan yang sangat jauh… tidak semua hadis dhai’f itu boleh sembarangan kita cap sebagai hadis palsu (maudhu’). Lalu mengapakah ia setelah mengatakan:

“orang-orang yang selalu menampilkan hadits lemah tentang Ahlul bait akan memborong minimalnya empat sifat jelek.”

Berubah menyebut hadis palsu:

karena mensifati mereka dengan hadits palsu… mereka justru mengotorinya dengan hadits palsu!

Menvonis Palsu Hadis Tanpa Dasar Adalah Sama Dengan Menentang Nabi saw.!

Setelah ia membangun pondasi rapuh sebagai batu pijakan untuk menolak hadis keutamaan Ahlulbait (yang menjadi tujuan dan semangat berapi-api kaum Nawâshib sejak masa silam hingga dewasa ini)… setelah itu semua ia bergegas menvonis bahwa hadis Safinah yang dalam redaksinya terhadapat tambahan penyerupaan Ahlulbait dengan “Pintu Pengampunan/Bâbu Hiththah” di kalangan bani Israil dengan tanpa dasar! Dan tidak ketinggalan melampiaskan kedengkian jiwanya terhadap para penyebar hadis-hadis keutamaan Ahlulbait as. dengan menyebut kami sebagai ANAK KETURUNAN ABDULLAH BIN SABA’! sebuah kebiasaan kaum lemah ketika berhujjah dengan kebatilan!

Ia menulis sub judul demikian:

Hadits-hadits palsu tentang Ahlul bait …..

Setelahnya ia mengatakan demikian:

Dalam tulisannya itu, ia menyebutkan sebuah hadits lemah yang diriwayatkan Imam Thabarani dari shahabat mulia Abu Sa’id Al-Khudri…

Kawan coba perhatikan sekali lagi, bagaimana kekacauan pola pikir sang pendengki Ahlulbait as. yang berpura-pura membela Ahlulbait! Pada sub judulnya ia menulis hadis palsu. Dan di sini ia menghujat kami karena menyebutkan hadis lemah!

Kalau menyebutkan hadis-hadis lemah/dhhaîf itu terkecam dan ciri KETURUNAN ABDULLAH BIN SABA’, mestinya yang harus ia kecam bukan kami (Ibnu Jakfari)… justru para ulama hadis Ahlusunnah-lah yang juga harus ia hujat dan kecam pertama kali! Sebab mereka-lah yang memuat hadis-hadis lemah keutamaan Ahlulbait as. (dalam penilaian haulasyiah dan kaum Nawâshib lainnya)!

Hendaknya ia kecam ratusan ulama Ahlusunnah yang telah dengan sengaja dan penuh antusias menyebutkan hadis Abu Said al Khudri itu.

Yang harus ia kecam dan ia tuduh sebagai ANAK KETURUNAN ABDULLAH BIN SABA’ adalah nama-nama penting ulama dan tokoh Ahlusunnah, di antara mereka adalah:

1] Imam al-Hakim (ia meriwayatkanya dalam al-Mustadrak)

2] Al Bazzâr ia meriwayatkannya dalam kitab Musnadnya:2614.

3] Al Qadhâ’i dalam asy Syihâbnya:1343,1344 dan 1345

4] Al Haitsami penulis kitab Majma’ az Zawâid ia menyebutnya pada:9/169.

5] Syeikhul Islam al-Hamawaini (ia menyebutnya dalam Farâid as-Simthain: 2/242 dari jalur yang sama yang bersambung kepada ath Thabarani)

6] Allamah Al-Imam Nuruddîn as-Samhudi (ia menyebutnya dalam Jawâhir al Iqdain:260)

7] Ibnu Hajar al-Haitami (ia menyebutnya dalam ash Shawâiqnya:152 pada keterangan ayat ke 7 yang turun tentang keutamaan Alhulbait as.)

8] Jalaluddin as-Suyuthi (ia menyebutnya dalam kitab Ihyâ’ al-Mait hadis no 20)

Serta banyak lainnya tidak mungkin saya sebutkan satu persatu di sini.

Cara Curang dalam Mendha’ifkan Hadis

Di antara cara-cara curang dan licik yang biasa dilakukan para Nawâshib adalah mereka menvonis lemah sebuah hadis hanya dengan memerhatikan penilaian terhadap satu riwayat (sanad saja) dari sekian banyak sanad/riwayat hadis tersebut!

Dalam kasus kita kali ini, haulasyiah malah sudah keterlaluan, karena ia telah menvonis palsu hadis tersebut (hadis Safinah yang memuat tambahan redaksi penyerupaan Ahlulbait dengan pintu pengampunan) hanya berdasarkan kesimpulannya setelah memerhatikan hadis itu dari satu jalur saja… dengan satu sanadnya saja yaitu dari Abu Sa’id al-Khudri… cara demikian adalah cara keliru dan cacat ilmiah, seperti diketahui! Itu jika kita terima alasan yang mendasarinya dalam penilaiannya terhadap kualitas sanad tersebut!!

Berpegangan Dengan Keterangan ath-Thabarani

Dan seperti biasanya kaum Nawâshib akan menari-nari kegirangan bak tante girang mabok terserempet bisa setan setiap kali menemukan pernyataan yang mendukung pelampiasan kedengkian mereka… kali ini mereka mengusung komentar ath-Thabarani bagaiakan wahyu langit yang Lâ ya’tîhil bâthilu min baini yadaihi wala min khalfihi… dan seakan ath-Thabarani adalah seorang alim yang Wa mâ yanthiqu ‘anil hawâ in huwa illâ wahyun yûhâ.

Karena saking girangnya sampai-sampai mereka tidak mengerti apa yang dimaksudkan ole ath-Thabarani dengan kata-katanya itu:

لم يروه عن أبي سلمة إلا ابن أبي حماد ، تفرد به عبد العزيز بن محمد بن ربيعة

“Tidak ada yang meriwayatkan dari Abu Salamah kecuali Ibnu Abi Hammad. (bersamaan itu) ‘Abdul ‘Aziz bin Muhamad bin Rabi’ah meriwayatkan sendirian (tidak ada yang menemaninya).”

Kemudian ia menyimpulkan dengan bermodal kedengkian kepada Ahlulbait as. bahwa pernyataan ath-Thabarani itu menunjukkan pendha’ifan atas hadis tersebut. Haulasyiah menulis:

Istilah seperti ini biasa digunakan oleh ahli ilmu mushtholah hadits untuk mendha’ifkan hadits (lit thadh’if).

Jadi hadits diatas sesuai yang disebutkan Imam Thabarani memiliki dua penyakit kronis, pertama pada rowi yang bernama Ibnu Abi Hammad, yang kedua Abdul Aziz bin Muhammad bin Rabi’ah.

Pertama yang harus dilakukan oleh ustadz Wahhabi (Salafi) kita yang satu ini adalah menyebutkan di kitab Mushthalah Hadis yang mana istilah seperti itu menunjukkan pendha’ifan?

Untuk membuktikan ketidak benaran pernyataan haulasyiah di atas saya persilahkan Anda memerhatikan berbagai kitab Mushthalah Hadis, seperti Tadribru Rawi, pada Nau’ (Macam bahasan ke16 dan 17).

Ath Thabarani Melemahkan, haulasyiah Memaudhu’kan!

Selain itu haulasyiah begitu membanggakan ath-Thabarani dalam penilaiannya atas hadis di atas, ia menulis:

Kalau saja Imam Thabarani selaku periwayat hadits telah menganggapnya lemah, untuk apalagi kita bersusah payah membelanya, karena menurut kaedah ilmu hadits: “Perowi itu lebih tahu terhadap hadits yang ia riwayatkan”. Selama tidak ada sanad lain yang menguatkan jalur diatas maka hadits itu tetap lemah dan tidak boleh dijadikan sandaran beramal.

Lalu mengapakan Anda hai haluasyiah menvonisnya palsu?! Apa Anda lebih pandai dari Imam ath-Thabarani Anda?! Apakah Anda telah menemukan cacat tambahan dalam hadis itu yang tidak diketahui oleh Imam ath-Thabarani Anda?!

Kalau Imam ath-Thabarani Anda saja hanya berani mendha’ifkan hadis tersebut (itu pun berdasarkan kesimpulan salah Anda), lalu mengapakah Anda berani menvonis palsu hadis tersebut?!

Sungguh aneh sikap Anda wahai sobat!

Apa yang Anda maksud dengan adanya penyakit kronis dalam hadis di atas? Rupanya Anda tidak mengerti apa-apa tentang redaksi jarh/pencacatan yang biasa digunakan para Ahli hadis! Sehingga kata-kata ath-Thabarani di atas Anda anggap sebagai pencacatan!

Selain itu, bukankah para ulama Ahlusunnah telah membangun sebuah kaidah bahwa hendakknya kita tidak berketat-ketat, hendaknya bertasâmuh pada hadis-hadis fadhâil?! Anda kemanakan kaidah yang dibangun ulama Ahlusunnah itu?!

Pencacatan Atas ‘Athiyah Tidak berdasar!

Tidak puas dengan mencacat dua perawi hadis di atas, haulasyiah mengalamatkan kecamanannya atas ‘Athiyah. Ia menulis:

Selain penyakit yang disebutkan Imam Thabarani diatas, masih ada lagi satu penyakit yang juga berbahaya, yaitu Athiyyah guru dari Salamah Ash-Shaigh, ia adalah Al-‘Aufi seorang perowi yang lemah.

Ibnu Jakfari berkata:

Dalam salah satu artikel saya yang menanggapi tuduhan palsu Imam Wahhabiyah; Ibnu Abdil Wahhâb telah saya jelaskan status ‘Athiyah yang dicacat tanpa dasar oleh sebagian orang…

Di bawah ini akan saya sebutkan kembali di sini

Tentang Athiyyah

Secara ringkas di sini saya ingin menyebutkan bahwa Athiyyah adalah seorang tokoh genarasi Tabi’în. Al Hâkim berkata tentang genarasi Tabi’în:

فخير الناس قرناً بعـد الصحـابة من شـافه أصحـاب رسول الله صلى الله عليه [وآله] وسلّم، وحفظ عنهم الدين والسنن، وهم قد شهدوا الوحي والتنزيل.

“Maka sebaik-baik generasi setelah sahabat (Nabi saw.) adalah mereka yang bertemu langsung dengan para sahabat Rasulullah saw., memelihara dari mereka agama dan sunnah, sementara mereka (sahabat) itu menyaksikan wahyu dan diturunkannya (Al Qur’an).” [1]

Selain itu, Athiyyah termasuk periwayat yang dipakai oleh Abu Daud, dimana Abu Daud telah mengatakan sendiri:

ما ذكرت فيه حديثاً أجمع الناس على تركه

“Aku tidak menyebutkan hadis yang disepakati untuk ditinggalkan orang-orang (ulama).”

Al-Kahthtâbi berkata tentang kitab Sunan Abu Daud:

لم يصنّف في علم الدين مثله، وهو أحسن وضعاً وأكثر فقهاً من الصحيحين.

“Tidak dikarang sebuah kitab tentang ilmu agama sepertinya, ia lebih bagus penyusunannya dan lebih banyak muatan fikih dibanding dengan kitab Bukhari dan Muslim.” [2]

Athiyyah juga periwayat yang dipakai oleh at-Turmudzi yang telah berkata:

صنّفت هذا الكتاب فعرضته على علماء الحجاز فرضوا به، وعرضته على علماء العراق فرضوا به، وعرضته على علماء خراسان فرضوا به. ومن كان في بيته هذا الكتاب فكأنّما في بيته نبيّ يتكلّم.

“Aku telah mengarang kitab ini, lalu aku sodorkan kepada ulama Hijâz maka mereka relah (puas). Aku sodorkan kepada ulama Iraq maka mereka rela (puas). Aku sodorkan kepada ulama Khurâsân maka mereka rela (puas). Jadi barang siapa yang di rumahnya terdapat kitab ini maka seakan-akan ada Nabi saw. berbicara.” Demikian masyhur dinukil para ulama dari at Turmudzi.”

Selain itu, Athiyyah juga perawi yang dipakai oleh Ibnu Majah dalam kitab Shahihnya. Tentang kitab Ibnu Majah tersebut, Abu Zar’ah berkomentar setelah menelitinya:

لعلّه لا يكون فيه تمام ثلاثين حديثاً ممّا في إسناده ضعف.

“Mungkin dalam rangkaian tiga puluh hadis yang ia sebutkan tidak satu pun hadis yang dha’if dalam sanadnya.” [3]

Disamping itu semua, Ibnu Sa’d telah menegaskan ketsiqahannya. Yahya ibn Main menilainya sebagai shaleh/baik. Abu bakar al-Bazzâr kerkomentar tentangnya, “Ia tergolong berfaham Syi’ah. Para ulama agung meriwayatkan hadis darinya.”

Jadi dapat dimengerti bahwa mereka yang mencacatnya hanya karena dorongan kebencian dan perseteruan mazhab, bukan karena cacat yang ada pada kejujurannya. Lagi pula para pencacatnya adalah orang-orang yang cacat aqidah yaitu kaum pembenci Ahlulbait (Nawâshib). Para ulama Ahlusunnah telah menggolongkan kenashibian (kebencian kepada Ahlulbait Nabi) adalah faham yang menyimpang dan bid’ah dhalalah. Penyandangnya adalah mubtadi’ (ahli bid’ah). Sementara itu, para ulama dan pakar hadis Ahlusunnah juga mengatakan bahwa pencacatan yang dilakukan oleh kaum pembid’ah tidak dapat diterima, seperti ditegaskan Ibnu Hajar. [4]

Hanya Kaum Nawashib Yang Mencacat Athiyyah

Dan apabila kita perhatikan mereka yang mencacat Athiyyah, Anda akan dapatkan nama-nama gembong kaum Nawâshib sebagai yang paling getol dan bersemangat dalam mencacatnya, seperti al-Jauzajâni dkk.

Tentang kenashibian al-Jauzajani Ibnu Hajar berkomentar:

كان ناصبيّاً منحرفاً عن عليّ

“Ia (al Jauzajâni) adalah seorang Nâshibi yang menyimpang dari Ali.” [5]

Dalam kesempatan lain ia menyebutkan bahwa Al-Jawzajâni adalah seorang yang ghâlin fi an Nushbi, ekstrim dalam penyimpangannya dari Ali…” [6]

Ibnu Adi berkata, “Ia sangat condong kepada mazhab penduduk Syam dalam hal membenci Ali.”

Karenanya, tidaklah heran jika orang sepertinya selalu menjulurkan lidah berbisanya untuk mencacat para pecinta Ali as. dan penyebar hadis keutamaannya. Demikian disinggung oleh Ibnu Hajar, ia berkata,

“… Maka sesungguhnya seorang yang jeli jika ia memperhatikan pencacatan Abu Ishaq Al-Jawzajâni tehadap penduduk kota Kufah pasti ia menyaksikan hal dahsyat, yang demikian itu disebabkan ia sangat menyimpang dalam kenasibiannya, sementara penduduk kota Kufah tersohor dengan kesyi’ahnnya. Engkau tidak menyaksikannya segan-segan mencacat siapapun dari penduduk Kufah yang ia sebut dengan lisan sadis dan reaksi lepas/tanpa tanggung jawab. Sampai-sampai ia melemahkan orang seperti al-A’masy, Abu Nu’aim, Ubaid ibn Musa dan tokoh-tokoh hadis dan pilar-pilar periwayatan…” [7]

Dan alasan yang menjadikan mereka mencacat Athiyyah adalah karena ia mengutamakan Imam Ali as. atas sahabat-sahabat lain.

Satu Lagi Kebohongan haulasyiah!

Ketika menelan mentah-mentah pendh’ifan hadis di atas, haulasyiah menulis:

karena menurut kaedah ilmu hadits: “Perowi itu lebih tahu terhadap hadits yang ia riwayatkan”.

Jika memang demikian yang Anda yakini mengapakah anda menolak dan menganggap palsu hadis yang diriwyatkan al-Hakim dan ia shahihkan! Bukankah berdasarkan kaidah yang Anda sebutkan dan Anda yakini perawi sebuah hadis lebih tahu tentang hadis yang ia riwayatkan?!

Bukankah hadis Safinah telah dishahihkan al-Hakim –sang perawi hadis-? Lalu mengapakah Anda justeru melemahkan bahkan menvonis palsu?!

Pernyataan Ibnu Hajar!

Selain itu haulasyiah menyebutkan pernyataan Ibnu Hajar al-Haitami,

Untuk lebih meyakinkan lemahnya hadits diatas, mari kita simak kesimpulan dari seorang pakar hadits, Ibnu Hajar Al-Haitsami rahimahullah:

“Diriwayatkan Thabarani dalam Ash-Shaghir dan Al-Ausath, pada sanadnya terdapat beberapa rawi yang tidak aku ketahui.”

tapi sayangnya tidak menyertakan di kitab mana dan pada halaman berapa penyataan itu dapat kami temukan!

Sementara yang kami temukan justru Ibnu Hajar al-Haitami menguatkan hadis tersebut! Baca ash Shawâiq: 152 pada keterangan ayat ke 7 yang turun tentang keutamaan Alhulbait as. ia berkata, “Telah datang (hadis) dari jalur yang banyak yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lainnya:

إنما مثل أهل بيتي فيكم كمثل سفينة نوح من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق ،

‘Perumpamaan Ahlulbaitku di tengah-tengah kalian bagaikan perahu (Nabi) Nuh. Siapa yang menaikinya akan selamat…”

Dan dalam riwayat (Imam) Muslim: dan siapa yang tertinggal akan tenggelam.

Dalam riwayat lain: akan binasa…

وإنما مثل أهل بيتي فيكم مثل باب حطة في بني إسرائيل من دخله غفر له

“Dan perumpamaan Ahlulbaitku bagaikan Babu Hiththah (pintu pengampunan) bagi bani Israil. Siapa yang memasukinya akan diampuni dosanya.”

Selain itu pernyataan seperti itu tidak menunjukkan kelemahan si perawi sama sekali… Saya tidak mengerti kalau kejahilan Anda ini telah mencapai puncaknya… Anda mengatakan kaidah ini kaidah itu! Sementara kaidah “dadakan” Anda itu tidak pernah dikenal para ulama Ahli hadis.

Ketidak kenalan terhadap seorang perawi oleh sebagian ulama’ sama sekali bukan bukti cacatnya si perawi yang tidak ia kenal itu? Sebab bisa jadi itu akibat keterbatasannya dalam meneliti data-data para perawi hadis? Apakah jika Ibnu hajar tidak mengenalnya berarti sang perawi tidak dikenal oleh ulama siapapun selainnya?

Entah dari mana Anda merangkum kaidah sakit sepert itu?!

Di sini saya hanya akan memelekkan Anda dengan menyebutkan satu contoh serupa:

Al-Haitsami daalam Majma’ az Zawâid-nya ketika menyebutkan nama Fatimah binti Imam Ali as. ia berkata, “Fatimah binti Ali ibn Abi Thalib, Aku tidak mengenalnya.” [8]

Padahal Fatimah putri Imam Ali as. ini adalah seorang perawi yang dipakai oleh: (1) An Nasa’i (2) Ibnu Majah dalam tafsir. Dan beliau ra. telah ditsiqahkan oleh Ibnu Hajar al-Asqallani dalam Taqrib at-Tahdzîb, 2/609.

Ketika Kajahilan Menjadi dasar Penolakan Hadis!

Apa jadinya agama ini jika kebodohan seorang awam yang sok alim dijadikan landasan dan dasar penolakan hadis-hadis (Sunnah) Nabi saw.?!

Apa pula bayangan kita yang akan tersisa dari agama ini jika setiap hadis yang tidak diketahui maknanya oleh si jahil atau yang ia sengaja tidak mau tau maknanya itu dijadikan penentu kebenaran dan keshahihan hadis-hadis Nabi saw.?!

Saya yakin apabila para kaum jahil berbondong-bondong memasuki arena “Diskusi Agama” hanya kakacauan yang akan lahir dan pintu-pintu setan segara terbuka lebar-lebar!

Andai kaum jahil mau bersabar menahan diri untuk tidak menjadi Hakim Gadungan yang sok mengetuk palu vonis atas hadis-hadis yang tidak bersalah untuk dijatuhi vonis palsu! Lemah! Pastilah agama kita akan terhindar dari banyak kekacauan dalam pemikiran umatnya! Namun sayang seribu sayang kaum yang dalam hatinya terdapat zaighun/penyimpangan selalu berkubang dalam Lumpur kesesatan dan menarik kaum bersih agar terjatuh dalam kubangan lumpur kotor nun menjijikkan itu….

Setelah berputar-putar di sekitar kubangan Lumpur kotor, pengelolah blog haulasyiah menulis sebuah kesimpulan:

Seandainya pun hadits ini shahih, maka maknanya tidak dapat dipahami. Apa yang dimaksud dengan pintu pengampunan?? Bukankah pintu pengampunan Allah hanya akan diraih dengan taubat dan amal shalih?! Kalau yang dimaksud bahwa seorang akan mendapatkan pengampunan jika mengikuti ahlul bait secara mutlak, ini tidaklah benar, karena kita saksikan sekarang banyak orang mengaku ahlul bait justru menyeru manusia kepada kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan. Wal-’iyadzu billahi.

Coba perhatikan kata-kata di atas: maka maknanya tidak dapat dipahami!

Tidak dapat difahami oleh siapa? Dan mengapa? Apa karena sabda itu tergolong mutasyâbihat? Dengan kaca mata apa Anda memandangnya?

Akhi kalau Anda buta jangan Anda kira semua orang buta seperti Anda?

Jika hidung Anda bermasalah sehingga tidak mampu mencium harumnya aroma mawar dan semua bau harum tercium bak bangkai, maka jangan persalahkan bunga mawar itu! Dan juga jangan salahkan orang lain yang hidungnya sehat yang mampu mencium aroma semerbak harumnya bunga mawar itu!

Akhi mengapa kejahilan Anda (atau jangan-jangan kesengajaan berjahil-jahil) Anda jadikan dasar penolakan hadis Nabi saw.?!

Nabi saw. bersabda bahwa Ahlulbaitnya adalah pintu pengampunan! Anda menolaknya dengan mengatakan bahwa: Bukankah pintu pengampunan Allah hanya akan diraih dengan taubat dan amal shalih?! Dari mana kata-kata “hanya” Anda peroleh? Dari wahyu yang diturunkan malaikat Jibril ke atas qalbu Anda? Atau dari bisikan perewangan Anda?

Lalu bukankah mencintai Ahlulbait Nabi as. adalah sebuah aqidah/amal kebajikan yang telah dijanjikan banyak pahala atasnya?.

o Bukankah kecintaan kepada Ahlulbait as. pondasi Islam?

Rasulullah saw. bersabda: “Setiap sesuatu itu memiliki pondasi, dan pondasi Islam adalah kecintaan kepada kami Ahlulbait.” [9]

o Bukankah kecintaan kepada Ahlulbait as. adalah syarat keimanan:

لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إليْهِ مِنْ نَفْسِِهِ ، و أَهْلِيْ أحبَّ غليهِ منْ أَهلِهِ ،و عترتي أحبَّ إليه مِنْ عترتِهِ ، و ذاتِيْ أحب إليه من ذاتِهِ .

“Tidak beriman seorang hamba sehingga aku lebih ia cintai dari jiwanya sendiri, keluargaku lebih ia cintai dari keluarganya, ‘itrahku lebih ia cintai dari itrahnya, dan dzatku lebih ia cintai dari dzat-nya. [10]

o Bukankah kecintaan kepada Ahlulbait as. dan mengenal hak-hak mereka adalah syarat diterimanya amal seorang hamba?

Rasulullah saw. bersabda:

إلْزَمُوْا مَوَدَّتَنَا أهْلَ الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ مَنْ لَقِيَ اللهَ تَعَالَى وَهُوَ يَوَدُّنَا دَخَلَ الْجَّنَّةَ بِشَفَاعَتِنَا,وَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لاَ يَنْفَعُ عَبْدًا عَمَلٌ عَمِلَهُ إلاَّ بِمَعْرِفَةِ حَقِّنَا.

“Mantapkanlah (hatimu) atas kecintaan kepada kami Ahlulbait, karena sesungguhnya barang siapa menghadap Allah dengan mencintai kami pasti ia masuk surga dengan syafa’at kami. Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tidak akan bermanfa’at amal seseorang bagi dirinya kecuali ia mengenal hak kami (atasnya).” [11]

Serta masih banyak lagi maqam dan posisi Ahlulbait as. yang telah disabdakan Rasulullah saw.

Apa yang sedang Anda lakukan adalah menentang nash shahih dengan dasar hawa nafsu dan kajahilan!

Dan sebelum saya mengakhiri artikel ini saya akan sebutkan bagaimana para ulama setelah menerima hadis di atas mereka menerangkan maksudnya. Ibnu Hajar al-Haitami (yang tadi Anda banggakan kealimannya) berkomentar,

“Sisi keserupaan dalam memperumpamakan Ahlulbait dengan Pintu Pengampunan adalah bahwa Allah menjadikan memasuki pintu masuk itu yaitu pintu Ariha’ atau pintu masuk Baitul Maqdis dengan ketawadhuan dan meminta ampunan sebagai sebab diampuninya mereka. Dan Allah menjadikan untuk umat ini kecintaan kepada Ahlulbait adalah sebab untuk pengampunan itu.” [12]

Dan yang dimaksud dengan Ahlulbait Nabi as. yang akan menjadi sebab diampuninya dosa hamba adalah para ulama dari kalangan mereka. Demikian difahami oleh para ulama seperti Ibnu Hajar dalam ash-Shawâiqnya. Jadi bukan asal semua yang bersambung secara nasab kepada Rasulullah saw. walaupun bersambungnya nasab kepada Nabi Muhammad adalah sebuah kemulian tersendiri, seperti diakui para ulama Ahlusunnah! Maka dengan demikian tidak ada tempat bagi kekhawatiran berlebihan bahwa Ahlulbait akan mengajak kepada kesesatan dan bid’ah!

Fahami terlebih dahulu makna hadis sebelum menyampaikan keberatan-keberatan yang hanya mencerminkan kejahilan dan mungkin juga bukti kedengkian!

Wallahul Hâdi Ilâ Sharâtim Mustaqîm.

____________________________

[1] Ma’rifah Ilmi al Hadîts:41.

[2] Al Mirqât Fî Syarhi al Misykât,1/22.

[3] Tadzkirah al Huffâdz,2/189.

[4] Mukaddimah Fath al Bâri:387.

[5] Hadyu as Sâri Mukaddimah Fath al Bâri,2/144.

[6] Ibid,160.

[7] Lisân Mizân,1/16.

[8] Majma’ az Zawâid,8/297.

[9] Al Muttaqi al Hindi, Kanz al ‘Ummâl,12/105.

[10] Al Mu’jam al Awsath,6/116 hadis 5790, al Mu’jam al Kabir,7/86 hadis 6416, Firdaus, 5/154 hadis 7796.

[11] Ibid. hadis ke 18.

[12] Ash Shawâiq:153.

_______________________

ARTIKEL TERKAIT:

____________________________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: