Bahaya Wahabisme

Bahaya Wahabisme

SUMBER: EAST-LAM Blog

GeorgeBushKingAbdullahKissingRaja Abdulah al Wahabi al Saudi Sekutu dekat Amerika


Dua pekan silam (20 April 2007), segelintir demonstran menyusup di antara kerumunan iring-iringan rombongan yang pulang shalat Jumat. Para penyusup berteriak-teriak marah dan mengeluarkan kata-kata jorok. Mereka menuntut pembubaran mazhab Syiah dan penutupan beberapa fasilitas pendidikan yang terindikasi mengajarkan mazhab Syiah. Dalam aksi ini, para penyusup mengaku membela mazhab Ahlusunah wal Jamaah.

Satu pekan sebelumnya, satu kelompok demonstran yang lebih garang dalam jumlah lebih besar menggelar aksi serupa di daerah Madura. Sambil mengacung-acungkan celurit dan memasang wajah berang, mereka menuntut tokoh setempat yang bermazhab Syiah untuk kembali mengikrarkan diri sebagai penganut Ahlusunah wal Jamaah. Tokoh terhormat ini menolak tegas, dengan alasan bahwa setiap orang berhak menganut mazhab yang dipilihnya sendiri.

Aksi-aksi di atas sebenarnya hanyalah the tip of the iceberg. Gelombang aksi lebih besar, lebih anarkis dan lebih brutal terjadi di hampir seluruh dunia. Pada tragedi 11 September 2001, dunia dikejutkan dengan keganasan kelompok ini. Masyarakat AS sangat terkejut karena mendengar kabar bahwa 15 dari 19 pelaku teror itu adalah warga Arab Saudi, negara Arab yang paling dekat dengan AS selama 4 dekade belakangan ini.

Pada 11 September itu, rakyat AS baru merasakan langsung kegilaan Wahabisme— ideologi yang telah lama dibesarkan oleh rezim yang berkuasa di Gedung Putih. Penyebaran Wahabime ke seluruh dunia Muslim berlangsung cepat lantaran dukungan dana kerajaan Arab Saudi dan sebagian besar negara Teluk. Ada begitu banyak bukti yang menunjukkan simbiosis antara agenda rezim-rezim korup Arab, kekuatan kolonial Barat dan kelompok Wahabi. Kelompok liar seperti ini memang sengaja ditanam sebagai bom waktu di tengah masyarakat Muslim. Begitu terendus adanya kebangkitan Muslim untuk melawan kolonialisme, rezim korup Aran dan kekuatan kolonial yang menyokongnya tinggal memencet tombol detonator gerakan ini. Euforia ekstremisme gaya Wahabi akan mencegah kemungkinan bersatunya langkah umat demi perbaikan bersama.

Ditinjau dari sudut pandang sejarah Islam, mereka sebenarnya bukanlah fenomena baru. Sudah sejak lama mereka bercokol di dalam tubuh umat Islam. Hanya saja, nama dan identitas mereka terus berganti. Di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib, mereka ingkar pada bait, mengkafirkan Sang Khalifah dan menghalalkan darahnya. Para ahli menyebut mereka sebagai khawarij (kelompok yang memberontak atas pemerintahan yang sah). Pada awal abad lampau, kelompok dengan ideologi serupa kembali mengangkat senjata untuk melawan penganut Ahlusunah wal Jamaah di bawah kekhalifahan Usmaniyah yang memerintah jazirah Arab waktu itu. Dibantu oleh kekuatan imperialis Inggris, kelompok penganut Muhammad bin Abdul Wahab ini akhirnya berhasil mendepak pasukan Usmaniyah.

Setelah pembentukan kerajaan Arab Saudi, ajaran-ajaran Muhammad bin Abdul Wahab yang lebih dikenal dengan sebutan Wahabi ini menjadi ideologi resmi Kerajaan. Sejumlah negara Teluk lain yang berada dalam lingkaran pengaruh Suadi juga mengadopsi ideologi yang sama. Sejak itu, kelompok ini tanpa ampun membasmi basis sosial, politik dan budaya Ahlusunah wal Jamaah di jazirah Arabia. Sekalipun masyarakat tetap pada mazhab mereka semula, tapi kebanyakan rezim yang berkuasa sudah berkolusi dengan para ulama Wahabi untuk menghabiskan jejak-jejak “Islam lama” dan menggantikannya dengan “Islam ala Wahabi”.

Sekalipun berganti-ganti nama, ada satu ciri khas yang tidak akan bisa mereka ubah: pengkafiran terhadap salah satu kelompok di dalam tubuh umat. Ciri-khas ini sebenarnya adalah konsekuensi alamiah dari kerancuan berpikir dan kesempitan pandangan mereka tentang Islam, bahkan tentang Tuhan, manusia dan alam semesta. Mengkafirkan kelompok lain adalah raison d’etat bagi ajaran mereka. Tanpa ciri ini mereka tidak akan mempunyai sensasi atau keunggulan apapun dari mazhab-mazhab lain dalam Islam.

Agenda utama mereka adalah menyusun strategi di bawah tanah, dan membangun radikalisme di kalangan remaja yang minim pemahaman agama. Begitu mendapatkan momentum, mereka akan bergerak menekan kelompok penganut mazhab Islam lain yang paling lemah dan sedikit. Gerakan semacam itu sama sekali bukan untuk memurnikan Islam dari kesesatan sebagaimana yang mereka gembar-gemborkan, tapi justru untuk menggalang opini dan memobilisasi massa. Ujung-ujungnya tak lebih dan tak kurang adalah keinginan menguasai umat Muslim. Dan cara paling mudah untuk berkuasa di tengah umat adalah menciptakan gesekan dan perpecahan di tengah umat Islam, sehingga umat akan sibuk bertikai. Pada saat itu, mereka akan dengan mudah melakukan rekrutmen, membangun jaringan, menghancurkan landasan legitimasi tradisional, merangsek ke pusat-pusat kekuasaan sosial, politik dan ekonomi.

Begitulah kerja mereka selama 3 dekade terakhir ini di Pakistan, India, Afghanistan, Somalia, Sudan, Nigeria, Aljazair, Mesir dan negara-negara Muslim lainnya. Di Mesir, mereka sempat berhasil memecah gerakan Ikhwanul Muslimin dan menguasai kalangan pelajar muda universitas-universitas Islam, terutama Al-Azhar. Pada pertengahan tahun 70-an sampai 90-an, mereka meraup legitimasi dan kredibilitas besar di tengah umat. Namun, berkat konsolidasi internal para penganut mazhab Ahlusunah wal Jamaah, kelompok ini lantas terusir dan terkucilkan. Mereka akhirnya hanya dikenal dengan sebutan jama’ah at-takfir wal hijrah (kelompok yang mengafirkan dan berhijrah).

Untunglah, gerakan Wahabi tidak pernah mendapatkan momentum di kalangan umat Muslim Indonesia. Sejak lama ulama Indonesia memperingatkan umat agar jangan sampai kelompok ekstrem ini membajak Islam demi kepentingan-kepentingan sempit dan gila mereka. Akibatnya, dengan segala dukungan dana besar dan akses luas di Timur Tengah, mereka tidak menemukan celah masuk ke negeri ini. Lebih-lebih, masyarakat Indonesia pada dasarnya tidak akan menerima ajaran kering spiritualitas yang mereka sodorkan itu. Menangisi orang yang mati, ziarah kubur, mendoakan orangtua yang sudah wafat, meminta doa pada orang suci, membawa bunga untuk orang sakit dan sebagainya adalah beberapa aktivitas manusiawi yang mereka anggap sebagai menyekutukan Allah. Jelas ini kegilaan yang tidak akan mungkin bisa diterima kecuali oleh masyarakat yang secara genetik cenderung skizofrenik—kehilangan hubungan dengan realitas.

Namun demikian, akhir-akhir ini, seiring invasi Irak, kelompok ini kembali melihat peluang menguasai opini publik di dunia Muslim. Mereka kini mencoba bangkit dari siksa kubur untuk berdiri di antara puing-puing pertikaian satu kelompok Muslim dengan kelompok Muslim lain. Kelompok ini mengirim para pelaku bom bunuh diri yang bekerja sepenuhnya acak untuk membunuh ribuan kaum Muslim Syiah di Irak. Lalu, mereka menghasut mayoritas Muslim Sunni, seperti di Indonesia, untuk bangkit dan melawan saudara Muslim Syiah mereka.

Demikianlah, umat Muslim harus segera disembuhkan dari kegilaan ideologi Wahabi ini. Demi kepentingan agama dan bangsa, kita mesti bangkit bersama-sama untuk mengikis mazhab skizofrenik yang anti segala norma kemanusiaan ini. Umat Muslim Indonesia dituntut untuk bisa menetralisasi ideologi barbar ini. Semangat di balik konferensi ulama Islam yang baru-baru ini diadakan di Bogor untuk merekatkan hubungan antar penganut mazhab Islam sebenarnya terletak di sini: menyingkirkan syakwasaksa dan kecurigaan di antara sesama umat Muhammad. Dan agenda ini jelas bertentangan dengan hakikat Wahabi.

_____________________________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: