Bantahan Atas Klaim Ibnu Taymiah: “Semua Kota Besar Islam Telah Disinari Ilmu Nabi saw. dari Selain Ali ! (2)

Semua Kota Besar Islam Telah Disinari Ilmu Nabi saw. dari Selain Ali ! (2)

SUMBER: http://ibnutaymiah.wordpress.com/2007/07/31/31/

Ditulis Oleh Zaenal Abidin

Yaman

Adapun ucapan Ibnu Taymiah bahwa, “Aktifitas Mu’adz mengajar penduduk Yaman dan bermukinya di tengah-tengah mereka lebih lama di banding Ali, karenanya penduduk Yaman lebih banyak meriwayatkan dari Mu’adz dari pada dari Ali”

Maka perlu diketahui bahwa ucapan itu mengandung banyak poin, yang semuanya palsu!

1. Aktifitas Mu’adz mengajar pendudukYaman…

2. Mu’adz bermukinya di tengah-tengah penduduk Yaman…

3. Mu’adz lebih lama mengajar penduduk Yaman di banding Ali as. …

4. Mu’adz lebih lama tinggal di Yaman…

5. Penduduk Yaman meriwayatkan dari Mu’adz…

6.Yang mereka riwayatkan dari Mu’adz lebih banyak dari yang mereka riwayatkan dari Ali….

Untuk kesemua klaimnya di atas Ibnu Taymiah tidak memiliki bukti, dan hanya membuktikan kebodohan sikapnya, khususnya di hadapan ulama Syi’ah yang sedang ia hujat!! Bahkan banyak dasarnya yang tidak mampu dipertahankan berdasarkan data-data yang ada di tengah-tengah ulama Ahlusunnah sendiri.

Asal muasaal klaim Ibnu Taymiah adalah pengutusan Nabi saw. Imam Ali as. dan Mu’adz ibn Jabal ke Yaman. Yang perlu diketahui dalam hal ini ialah bahwa pemberangkatan Imam as. ke Yaman adalah berita yang disepakati Sunnah dan Syi’ah. Adapun pemberangkatan Mu’adz hanya diriwayatkan Ahslusunnah sendiri. Oleh sebab itu, Ibnu Taymiah adalah tidak benar berhujjah di hadapan orang-orang Syi’ah (Allamah al Hilli) yang sedang ia keritik dengan riwayat Ahlusunnah, ia mesti membawakan riwayat Syi’ah. Demikian etika berdialoq!!

Andai, riwayat itu diterima Syi’ah sekalipun, hal itu tidak menguntungkan Ibnu Taymiah barang sedikitpun, sebab seperti diketahui, pemberangkatan Imam Ali as. ke Yaman untuk tujuan pengajaran dan penyuluhan ajaran Islam, sementara pemberangkatan Mu’adz adalah untuk tujuan menutupi kebutuhan dunianya, sebagaimana disebutkan para ulama Ahlusunnah sendiri.

Adapun anggapan sementara kalangan bahwa pemberangkatan Mu’adz ke Yaman untuk tujuan qadha’ (peleraian masalah sengketa/menjadi qadhi), adalah anggapan yang tidak benar, tidak ada riwayat sahih yang melaporkan hal itu. Dasar mereka hanyalah sebuah hadis riwayat sementara ulama, sementara itu, Ibnu Hazm, misalnya dan beberapa ulama lainnya mencacat dan menolak dengan keras riwayat tersebut!

Jika demikian kenyatannya, bagaimana dapat dikatakan bahwa keberangkatan Mu’adz ke Yaman untuk tujuan pengajaran?! Apalagi dikatakan bahwa pengajarannya kepada penduduk Yaman lebih banyak dan dominan. Andai benar, bahwa disamping tujuan utama kepergiannya ke Yaman ia juga mengajar sebagian pengajaran maka dapat dipastikan bahwa apa yang ia sampaikan perlu disangsikan kebenarannya, sebab Mu’adz sendiri banyak tidak mengetahui hukum halal dana haram!

Dan anggaplah benar apa yang diklaim sebagian orang bahwa keberangkatan Mu’adz ke Yaman untuk tujuan pengajaran, maka tidaklah berdasar klaim bahwa pengajarannya lebih unggul dan berkaulitas dibanding pengajaran Imam Ali as., sebab seperti disepakati ulama besar Ahlusunnah bahwa Imam Ali as. jauh lebih afdhal, utama di atas Mu’adz dari segala sisinya. Oleh kerena itu, andai benar kenyataan bahwa Mu’adz tinggal di tengah-tengah penduduk Yaman selama Nabi Nuh as. di tinggal di tengah-tengah kaumnya, sementara Imam Ali as. hanya tingga sebentar, pastilah pengajara Imam Ali as. lebih unggul dan lebih bermutu, serta lebih membekas dan lebih banyak manfaatnya.

Bukankah para ulama Ahlusunnah melaporkan bahwa Nabi saw. sebelumnya telah mengutus Khalid ibn Walîd ke Yaman dengan tujuan mengajak penduduknya memeluk Islam dan menerangkan ajaran Islam, tetepi selama enam bulan Khalid tinggal di sana tidak satupun penduduknya yang tertarik dengan ajaran Islam yang diterangkan Khalid. Maka kemudian nabi saw. mengutus Imam Ali as. ke sana menyusul Khalid. Sesampainya di sana, Imam Ali as. menerangkan ajaran Islam, dan (di luar dugaan Ibnu Taymiah dan para pengagumnya) pada hari pertama itu, mereka menerima Islam dengan penuh kepuasan dan keyakinan!

Dan ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa penyampain orang yang memiliki keutamaan dan keunggulan, fâdhil lebih membekas dan berpengaruh di banding omongan orang yang tidak menyandang keutamaan, walaupun kita andaikan dia tinggal lebih lama!! Dari sini, jelaslah kesalahan membandingkan pengajaran Imam Ali as. dengan pengajaran lainnya, apalagi dengan pengajaran Mu’adz. Salahlah orang yang membanding-bandingkan Ahlulabit as. dengan orang-orang lain.

Syuraih dan Lainnya Belajar Agama dari Mu’adz!

Adapun klaim Ibnu Taymiah bahwa Syuraih dan para pembesar tabi’in belajar agama, tafaqqahû dari Mu’adz adalah sebuah kepalsuan belaka, seperti kebohongannya dalam banyak kesempatan lain, Ibnu Taymiah dan para “penyembahnya” tidak mungkin mampu membuktikannya, berdasarkan konsep pembuktian ala Ahlusunnah apalagi ala Syi’ah!! Sebab anggapan itu hanya dilontarkan kecuali oleh Ali ibn al Madîni seorang, itupun dengan tanpa memastikan, ia hanya menukil dari seseorang yang majhûl, tidak diketahui jati dirinya.

Perhatikan apa yang ditulis Ibnu Hajar dalam al Ishâbah,

‘(Syuraih) menjabat sebagi qadhi di kota Kufah selama lima puluh tiga tahun, ia tinggal di Bashrah selama tuju tahun. Dan dikatakan bahwa ia belajar dari Mu’adz ketika ia berada di Yaman.” [1]

Coba Anda perhatikan laporan itu Dan dikatakan bahwa ia belajar dari Mu’adz ketika ia berada di Yaman, siapa yang mengatakan? Demi Allah, ilmiahkah kita membuktikan sebuah klaim dengan data rapuh seperti itu?!  Bahkan kalau kita mau meluangkan sedikit waktu menelusuri buku-buku sejarah para tokoh dan perawi, kita akan menemukan beberapa data yang menafikan klaim mereka itu. Di antaranya, tidak disebutnya Syuraih dalam daftar para ulama yang meriwayatkan dari Mu’adz.  Andai benar klaim Ibnu Taymiah pastilah nama Syuraih akan disebut.

Coba Anda perhatikan keterangan para ulama tentangnya.

Ibnu Hibbân tentang Syuraih;

“Syuraih ibn Hârits al Qadhi al Kindi, sekutu mereka (bani Kindah), gelar kun-yahnya Abu Umayyah ada yang mengatakan Abu Abdurrahman,…, ia seorang qadhi. Ia meriwayatkan dari Umar ibn al Khaththab, darinya asy Sya’bi meriwayatkan. Wafat tahun delapan puluh delapan atau delapan pulu tujuh dalam usia seratus sepuluh tahun, ada yang mengatakan seratus dua puluh tahun. Ia menjadi qadhi selama tujuh puluh lima tahun, tidak pernah absen kecuali selama tiga tahun di masa kekacaaun ketika Ibnu Zubair memberontak.” [2]

An Nawawi berkata;

“Ia mengalami masa hidup Nabi saw. teteapi tidak sempat berjumpa. Ada yang mengatakan menjumpainya. Yang masyhur adalah pendapat pertama. Yahya ibn Ma’in berkata, ‘Ia hidup di masa Nabi saw. tetapi tidak pernah mendengar apapun dai beliau.’ Ia meriwayatkan dari Umar ibn al Khaththab, Ali, Ibnu Mas’ud, Zaid ibn Tsabit, Abdurrahman ibn Abi Bakar dan Urwah al Bâriqi ra.” [3]

Ibnu Hajar berkata;

“Ia meriwayatkan dari Nabi saw. secara mursalan (dengan menggugurkan nama sahabat yang menjadi perantaraan riwayat) , dan juga dari Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Urwah al Bâriqi dan Abdurrahman ibn Abi Bakar.” [4]

Al Khazraji berkata;

“Ia adalah salah satu ulama yang mulia dan cerdas. (Ia meriwayatkan) dari Ali, Ibnu Mas’ud. Darinya asy Sya’bi dan Abu Wâil meriwayatkan.” [5]

Dari kutipan pernyataan para ulama di atas tampak jelas bahwa nama Mu’adz tidak pernah disebut-sebut sebagai guru atau yang pernah ditimba ilmu oleh Syuraih. Dan ini adalah bukti pendukung yang cukup, andai perna meriwayatkan walau sekali saja pastilah namanya akan dicantumkan sebagai guru yang yang pernah ditimba ilmunya!

Ini semua terkait dengan klaim Ibnu Taymiah bahwa Syuraih beralajar agama, tafaqqaha dari Mu’adz. Adapun klaim bahwa para pembasar tabi’in belajar dari Mu’adz, maka ia sekedar klaim yang tak pernah mampu dibuktikan, tidak seorang pun yang pernah mengatakannya, baik pengucap yang majhûl atau yang dikenal!! Ia benar-benar kata-kata yang terucap dari Ibnu Taymiah dari bisikan teman dan perewangan-nya!

Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya”. (QS.43;36)

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, Yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. (QS.6;112)

Adapun ucapannya (Ibnu Taymiah) bahwa:

و لمَا قدِمَ عَلِيُّ الكوفَةَ كان شريح فيها قاضِيًا

Ketika Ali datang ke kota Kufah, Syuraih sudah menjabat sebagai Qadhi.

Adalah omongan yang tidak berguna sedikitpun. Lalu apakah hal itu membuktikan bahwa qadha’, keputusan-keputusannya yang ia putuskan sebelum kedatangan Imam Ali ke kota Kufah itu tidak salah?! Betapa banyak jaksa yang diangkat para penguasa sementara mereka itu adalah orang-orang bodoh!

Anggap omongan Ibnu Taymiah itu berguna, tetapi bukankah Syuraih termasuk yang meriwayatkan dari Imam Ali as.! dan ia berujuk kepadanya dalam memecahkan permasalahn yang rumit, seperti juga temannya; Ubaidullah al Salmani… Jadi Syuraih tidak dapat berpaling dari membutuhkan Imam Ali as.

Sedangkan omongan Ibnu Taymiah , “Ia bersama Ubaidah al Salmani belajar agama dari selain Ali.” adalah tertolak, sebab klaim bahwa Syuraih belajar dan mendalami agama dari selain Imam Ali as. adalah klaim tanpa bukti. Sementara itu, belajarnya Syuraih dari Mu’adz telah Anda ketahui tidak adanya bukti atasnya bahkan bukti-bukti yang ada justru menafikannya.

Dan kalau ada orang lain yang darinya Syuraih belajar dan mendalami agama, maka siapakah gerangan oran tersebut? Adapun klaim bahwa Ubaidah al Salmani belajar dan mendalami dari selain Imam Ali as. adalah kebohongan yang sangat konyol dari Anak Taymiah, sebab para ulama yang menyebutkan biografi dan sejarah hidup Ubaidah as Salmani telah bersepakat bahwa ia belajar dan mendalami agama dari Imam Ali as. dan Ibnu Mas’ud.

Perhatikan komentar para ulama di bawah ini:

As Sam’ani berkata; “Dia adalah termasuk murid-murid (Imam) Ali dan Ibnu Mas’ud. Hadisnya diriwayatkan dalam dua kitab Shahih (Bukhari & Muslim)…

Ahmad ibn Abdullah al Ijli berkata;

‘Ubaidah al Salmani, ia bermata juling, salah seorang murid Ubaidah ibn Mas’ud yang mengajar Alqur’an dan memberikan fatwa. Syuraih apabila mengalami kesulitan, ia berkata, ‘Di sana ada seorang dari suku bani Salamah memiliki pengetahuan’ lalu ia mengutus mereka kepadanya (Ubaidah al Salmani). Ibnu Sîrîn paling banyak meriwayatkan darinya. Semua yang diriwayatkan Ibnu Sîrîn dari Ubaidah, selain pendapatnya, maka itu dari Ali. Ia wafat tahun tujuh puluh dua atau tujuh puluh tiga hijrah.” [6]

Pernyataan serupa juga disampaikan al Mazi dalam Tahdzîb al Kamâl-nya. [7]

An Nawawi berkata;

“Ia dikenal bersahabat (berguru) kepada Ali. Darinya asy Sya’bi an Nakha’i, Abu Hudshain, Ibnu Sîrîn dan beberapa lainnya meriwayatkan. Ia pernah tinggal di Kufah dan berkunjung ke Madimah. Ia hadir di barisan Ali dalam peperangan melawan kaum Khawarij. Ia seorang murid Ibnu Mas’ud yang mengajarkan Alqur’an dan berfatwa. Dan adalah Syuraih apabila mengalami kesulitan, ia mengutus penanya kepada Ubaidah…” [8]

Ibnu Hajar berkata, “Ia adalah murid Ali dan Abdullah (Ibnu Mas’ud).” [9]dll.

Dari keterangan di atas tampak dengan jelas bahwa Ubaidah tafaqqaha, mendalami agama dari selain Imam Ali as. seperti klaim Ibnu Taymiah adalah kebohongan dan fitnah yang tidak bertanggung jawab. Sebab ia mendalami agama dari Imam Ali as. baik secara langsung maupun melalui murid beliau, Ibnu Mas’ud. Tetapi seperti perlu diketahui bahwa hal demikian tidak meniscayakan Ubaidah sebagai seorang dari Syi’ah Ali as. yang meyakini imamah dan kemakshumannya!

Dari sini dapat dimengerti bagaimana sikap keduanya yang tidak jarang berseberangan dengan pendapat Imam Ali as.! Memang Imam Ali as. dikarenakan kondisi umat yang sangat buruk dan tidak menguntungkan, beliau tidak memaksakan banyak hal agar secepatnya dirubah, karena khawatir menimbulkan kericuhan dan kekacauan di tengah-tengah umat, sementara kesatuan mereka demi menghadapi konspirasi dan persekonkolan kaum Quraisy untuk merongrong kekhilafahan beliau sangat diperlukan. Imam Ali as. bersabda, seperti diriwayatkan Ibnu Sîrîn dari Ubaidah:

أثقْضُوا كما كُنْتُمْ تَقْضُونَ فَإِنِّيْ أَكْرَهُ الإخْتلافَ، حَتَّى يكونَ الناسُ جماعَةً أَوْ أموتُ كما مات أَصْحابِيْ.

“Berikan keputusan seperti dahulu kalian memberikan keputusan, karena sesungguynya aku tidak suka perselisihan, sehingga nanti manusia menjadi bersatu, jama’ah, atau aku mati seperti teman-temanku.” [10]

Para pensyarah Bukhari telah menerangkan bahwa ucapan Imam Ali as. di atas berawal dari pendapat beliau yang bertentangan dengan pendapat Umar (Khalifah pendahu beliau) tentang anak dari hasil hubungan dengan budak wanita, Ali berpendapat ia boleh dijual, sementara menurut Umar tidak boleh. Imam Ali as. kemdian menarik pendapatnya karena khawatir timbul perpecahan! [11]

Dari semua keterangan di atas dapat diketahui bahwa ilmu-ilmu Islam telah tersebar di seantero wilayah Islam melalui Imam Ali as. baik langsung mamupun melalui perantara murid-murid beliau, kendati kenyataan tersebut menjengkelkan Ibnu Taymiah dan para pemujanya, walhamdulillah.

____________________________

[1] Al Ishâbah,2/144.

[2] Ats Tsiqât,4/352.

[3] Tahdzîb al Asmâ’ wa al Lughât,1/243.

[4] Tahdzîb at Tahdzîb,4/326.

[5] Khulashah Tahdzîb at Tahdzîb:165.

[6] Al Ansâb karya al Sam’ani.

[7] Tahdzîb al Kamâl,19/266.

[8] Tahdzîb al Asmâ’ wa al Lughât,1/317.

[9] Tahdzîb at Tahdzîb,7/84.

[10] Shahih Bukhari,5/81, bab fadhâil Ash-hâb an Nabi, Manâqib Ali.

[11] Cob abaca: Fath al Bâri,7/59, ‘Umdah al Qâri,16/218 dan Irsyâd as Sâri,6/118.

__________________________________________________________________________

********************************************

BAGI PEMBACA YANG INGIN BERINTERAKSI DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS ARTIKEL DIATAS, ATAU MEMBERI KOMENTAR, DIPERSILAHKAN MENGKLIK DISINI

-HAULA WAHABIYAH-


%d blogger menyukai ini: