Bantahan Atas Klaim Ibnu Taymiah: “Semua Kota Besar Islam Telah Disinari Ilmu Nabi saw. dari Selain Ali (1) !”

Semua Kota Besar Islam Telah Disinari Ilmu Nabi saw. dari Selain Ali ! (1)

SUMBER: ibnutaymiah.wordpress.com

Tidak cukup dengan mengatakan bahwa Ibnu Mas’ud dan para sahabat tidak pernah sedikitpun menimba ilmu dari Imam Ali as. dan Ibnu Abbas ra. yang dikenal sebagai murid Imam Ali as. adalah sebuah kepalsuan belaka…., tidak cukup hanya itu, Ibnu Taymiah memekikkan suara sumbangngnya dengan mengatakan bahwa tidak satu pun kota-kota besar yang tersinari dengan cahaya ilmu Ali as. !! Sementara itu, para sahabat telah menyiraminya dengan ilmu-ilmu mereka… hanya Ali seorang yang ilmunya tidak sampai ke kota-kota tersebut!

Perhatikan apa yang ia katakan dengan redaksi tegas tanpa sungkan ketika ia menolak hadis Madinatul Ilmi seperti di bawah ini:

Ibnu Taymiah berkata:

فَعُلِمَ أنَّ هذا الحديثَ إنما افْتراهُ زنْدِيْقٌ جاهِلٌ ظّنَّهُ مَدْحًا و هُوَ يُطَرِّقُ الزنادِقَةَ إلى القَدْحِ في دينِ الإسْلامِ.

“Maka diketahui bahwa hadis ini dipalsukan oleh seorang zindîq yang jâhil, ia menganggapnya sebagai pujian sementara itu ia membuka jalan bagi kauk zindiq lainnya untuk mencacat Islam…

Kemudia Ia menambahkan:

Kemudian hal itu adalah bertolak belakang dengan apa yang diketahui secara mutawatir, sebab seluruh kota-kota besar Islam telah sampai kepadanya ilmu para sahabat dari Rasulullah dari selain Ali”

(Minhaj as Sunnah, Tahqiq Dr. Muhammad Rashad Salim  7/516)

Setelahnya ia berusaha membuktikan klaimnya diatas dengan mengatakan:

أَمَّا أهْلُ المدينَةِ و مَكَّةَ فالأمْرُ فيهما ظاهِرٌ، و كذلِكَ الشَّأم و البصرَة، فَإِنَّ هؤلآءِ لم يكونًوا يروُوْنَ عن علِيٍّ إلاَّ شيءئًا قليلاً، و إنما كان غالبُ علمِهِ في الكوفَةِ، و مع هذا فَأَهْلُ الكوفة كانوا يَعْلَمونَ القُرْآنَ و السنّةَ قبل أنْ يتولَّي عثمانُ فضْلآً عن عليٍّ ، ففُقهاءُ أهلِ المدينَةِ تعَلَّمُوا الدينَ في خلافَةِ عمَرَ. و تعْلِيْمُ معاذ لأَهْلِ اليمن و مُقامُهُ فيهم أكثرمِنْ عليٍّ، و لهذا روَى أهْلُ اليمن عن معاذ بن جبل أكثرَ مِمَا روَوْا عن علِيٍّ. و شُريح و غيرُهُ مِنْ أكابر التابِعِيْنَ إنما تَفَقَّهُوا على معاذ بن جبل، و لمَا قدِمَ عَلِيُّ الكوفَةَ كان شريح فيها قاضِيًا، و هو و عبيدة السليماني تفَقَّها على غيرِهِ، فانْتشَرَ علمُ الإسلامِ في المدائِِنِ قبلَ أنْ يَقْدَمَ عليٌّ الكوفةَ

… Adapun penduduk kota Madinah dan Mekkah, telah jelas urusannya. Demikian pula kota Syam dan Bashrah, mereka tidak meriwayatkan dari Ali melainkan sangat sedikit.

Kebanyakan ilmu Ali hanya di kota Kufah, namun kendati demikian penduduk Kufah, mereka telah mengetahui Alqur’an dan Sunnah sebelum Utsman memerintah, apalagi Ali. Para fukaha’ kota Madinah, mereka belajar agama di masa Khilafah Umar.

Aktifitas Mu’adz mengajar penduduk Yaman dan bermukimnya di tengah-tengah mereka lebih lama di banding Ali, karenanya penduduk Yaman lebih banyak meriwayatkan dari Mu’adz dari pada dari Ali. Syuraih dan para pembesar tabi’in lainnya mereka hanya belajar agama dari Mu’adz ibn Jabal. Ketika Ali datang ke kota Kufah.

Syuraih sudah menjabat sebagai Qadhi. Ia bersama Ubaidah al-Salmani belajar agama dari selain Ali. Dan ilmu Islam telah tersebar di kota al-Madain sebelum kedatangan Ali ke Kufah…” [1]

Demikianlah panjang lebar Ibnu Taymiah berusaha membuktikan bahwa seluruh kota-kota besar Islam itu telah mengenal Islam dan ajaran Alqur’an dan Sunnah bukan dari Imam Ali as., akan tetapi dari para sahabat lain. Ilmu Rasulullah saw. melalui selain Ali-lah dalam klaim Ibnu Taymiah yang telah menyinari seantero wilayah-wilayah Islam saat itu.

Adapun ilmu Ali, ia hanya sekedar dongeng dan nyanyian kebanggaan yang hanya dilagukan kaum Syi’ah saja!! Maka dengan demikian pastilah dalam penilaian Ibnu Taymiah hadis Nabi saw. yang menerangkan bahwa Ali adalah pintu kota ilmu kenabian dan kerasulan adalah sebuah kepalsuan belaka… ia adalah produk kaum zindiq jahil! Dan hanya membuka jalan bagi pencacatan atas kevalidan ajaran Islam!!

Ikhtisar kata, kaum Muslimin di berbagai penjuru kota besar Islam tidak pernah mendapat manfat dari ilmu Ali. Hanya penduduk Kufah saja yang menjadi tempat pelimpahan ilmu Ali… itupun tidak terlalu berguna sebab kenyataannya mereka telah rampung mengetahui Alqur’an dan Sunnah Nabi saw, jauh sebelum kedatangan Ali ke sana dan menjadikannay ibu kota pemerintahannya. Bahkan dua pakar hukum Islam kota Kufah dan pembesar tabi’in, mereka belajar fikih dan agama bukan dari Ali, tetapi dari selain Ali yaitu Mu’adz!!

Demikianlah Ibnu Taymiah merampungkan argumentasinya!! (jika apa yang ia sebutkan itu dapat disebut sebagai argumen).
Nah, sekarang mari kita perhatikan apa yang dikatakan Ibnu taymiah di atas dengan memperhatikan bukti-bukti dan data-data sejarah akurat sebagaimana diabadikan para ulama.

Kota-kota besar Islam di masa itu, seperti yang juga ia sebutkan adalah: Al Madinah al Munawwarah, Makkah al Mukarramah, Syâm, Bashrah, Kufah dan Yaman.

Al Madinah al Munawwarah:

Adapun Madinah, Imam Ali telah tinggal di sana hampir seluruh usia beliau. Dan seperti telah disebutkan sebelumnya, Ali as. adalah guru dan tempat rujukan para pembesar sahabat… apalagi tabi’în!

Adapun ucapan Ibnu Taymiah bahwa “para fukaha’ kota Madinah, mereka belajar agama di masa Khilafah Umar(!)” perlu dikomfirmasi maksudnya. Apakah mereka itu belajar kepada Khalifah Umar? Atau dari orang lain?

Ibnu Taymiah sangat licin dalam redaksi yang ia pilih. Ia mengatakan bahwa para fukaha’ kota Madinah, mereka belajar agama di masa Khilafah Umar . Ya, belajar agama di masa Khalifah Umar! Ia tidak berani menegaskan bahwa para fukaha itu belajar dari Umar! Sebab Ibnu Taymiah menyadari bahwa ia akan kerepotan untuk membuktikannya, karena Umar sendiri selalu berujuk kepada Imam Ali dalam memecahkan masalah-masalah rumit yang ia hadapi. Dan tidak jarang dilaporkan bahwa Umar salah dalam memahami atau memutuskan sebuah keputusan hukum. Betapa sering beliau ra. mengakui ketidak-mampuannya. Umar berkata:, ‘Semua orang lebih pandai dari Umar, sampai-sampai wanita-wanita di rumahpun lebih mengerti dibanding Umar.’ dll.

Jadi kalau benar ucapan Ibnu Taymiah bahwa para fukaha’ kota Madinah, mereka belajar agama di masa Khilafah Umar pastilah mereka itu belajar dari Imam Ali as.! Jika para pembesar berujuk dan belajar dari Ali as., apalagi para tabi’in. Itu sudah pasti!!

Makkah al Mukarramah

Sedangkan kota Makkah, adalah kota kelahiran Imam Ali as. dan beliau tinggal di sana hingga Nabi saw. berhijrah. Dan setelah hijrah beliau sering datang ke kota makkah, lalu bagaimana dapat dikatakan bahwa ilmu beliau tidak sampai ke kota makkah?!

Selain itu, murid kesayangan beliau; Ibnu Abbas ra. ia tinggal di kota Mekkah dalam waktu yang cukup lama, beliau mengajarkan Alqur’an dan tafsir serta sunnah Nabi saw.. Ketika menyebutkan biografi Ibnu Abbas ra., adz Dzahabi berkata,

“A’,asy dari Abu Wâil berkata, Ali menugaskan Ibnu Abbas untuk mengurus pelaksanaan ibadah haji, ia berpidato andai sat itu di dengar oleh orang-orang Turki dan Romawi pasti mereka memeluk Islam. Kemudian Ibnu Abbas membacakan surah an Nûr dan menafsirkannya.” [2]

Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa pada suatu hari Aisyah memandang Ibnu Abbas ketika itu ia bersama sekelompok orang di malam-malam musim haji dan mereka bertanya kepadanya, kemudian Aisyah berkata,

“Dia adalah paling pandainya orang yang tersisa (masih hidup) tentang manasik haji.” [3]

Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dari Abdulah ibn Shafwân bahwa ketika ia melewati rumah Ibnu Abbas ra. ia menyaksikan sekelompok orang sedang belajar agama darinya, maka ia(Abdulah ibn Shafwân) menggubah bait-bait syair memojokkan Ibnu Zubair karena telah kehilangan kejayaan dengan simpatik yang diberikan kaum Muslimin kepada Ibnu Abbas…. [4]

Jadi telah tetaplah bahwa Ibnu Abbas ra. (murid Imam Ali as.) sebagai penyebar ilmu Islam; Alqur’an dan Sunnah di tengah-tengah penduduk kota suci Mekkah, sampai-sampai Ibnu Taymiah sendiri mengakui bahwa paling pandainya orang tentang tafsir adalah penduduk kota Mekkah, sebab mereka belajar dari Ibnu Abbas ra., ia berkata, “Orang yang paling pandai tentang tafsir dalah penduduk Mekkah, sebab mereka adalah murid-murid Ibnu abbas ra., seperti Mujahid, ‘Athâ’ ibn Abi Rabâh, Ikrimah-budak Ibnu Abbas-, Sa’id ibn Jubair, Thawûs dan selain mereka.[5]

Syâm

Adapun kota Syâm, maka yang paling pandai di antara penduduknya adalah Abu Dardâ’. Ia telah belajar dan menimba ilmu dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Mas’ud adalah seorang murid Imam Ali as. Adz-Dzahabi berkata,

“Abu dardâ’ adalah orang alimnya kota Syâm dan pengajar Alqur’an ibu kota Damaskus, ia adalah ahli fikih dan qadhinya mereka.” [6]

Al Muwaffaq ibn Ahmad meriwayatkan dari Abu dardâ’ sebagai mengatakan,

“Para ulama itu ada tiga, seorang di kota Syâm, (maksudnya adalah dirinya sendiri), seorang di kota Kufah (Ibnu Mas’ud maksudnya), dan seorang lagi di kota Madinah (Imam Ali as. maksudnya). Yang di Syâm bertanya kepada yang di Kufah dan yang di Kufah bertanya kepada yang di Madinah, dan yang di Madinah tidak bertanya kepada siapa-siapa.” [7]

Muhibbuddin ath Thabari meriwayatkan dari Abu az Za’râ’ dari Abdullah, ia berkata,

“Ulama dunia ada tiga, seorang di Syâm, seorang di Hijaz, dan seorang lagi di Irak. Adapun alimnya penduduk Syâm adalah Abu Dardâ’, orang alimnya penduduk Hijâz adalah Ali ibn Abi Thalib, sedangkan alimnya penduduk Irak adalah saudara kalian (Ibnu Mas’ud). Dan alimnya penduduk Syam dan orang alimnya penduduk Irak keduanya membutuhkan kepada alimnya penduduk Hijâz, sementara alimnya penduduk Hijâz tidak butuh kepada keduanya.” [8]

Selain itu, para ulama meriwayatkan bahwa Mu’awiyah –kendati ia adalah musuh utama Imam Ali as. yang mengobarkan api pemberontakan atas beliau as.- telah berujuk dan bertanya kepada Imam Ali as. dalam banyak kasus.

Bashrah

Kota Bashrah bukanlah kota asing bagi Imam Ali as., berkali-kali beliau mengunjunginya dan berpidato di sana. Nasehat-nasehat dan wejangan-wejangan beliau kepada penduduk kota tersebut tidak samar bagi para ulama. Anda dapat merujuknya dalam buku-buku sejarah seperti Tarikh Thabari dan lainnya.

Sebagaimana juga, tidak samar bagi para sejarawan Islam bahwa Ibnu Abbas ra. pernah ditunjuk Ali as. sebagai Gubernur wilayah Bashrah, dan para penduduknya banyak berkesempatan menimba ilmu agama darinya. Maka dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa ilmu Imam Ali as. telah sampai dan tersebar di kota Bashrah, melalui Ibnu Abbas juga sebagai murid kesayangan Imam Ali as.!

Al Madâini meriwayatkan dari Nu’aim ibn Hafsh, ia berkata,

“Abu Bakrah berkata, ‘Ibnu Abbas datang ke kota kami bashrah, dan tiada di kalangan bangsa Arab yang menyamainya baik, fisik, ilmu, kemampuan menerangkan, ketampanan dan kesempurnaan.” [9]

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dengan sanad bersambung kepada Sulaiman dari ayahnya, Hasan, ia berkata, “Orang yang pertama dikenal di kota bashrah adalah Abdullah ibn Abbas… ia seorang yang supel dan banyak ilmunya… Ia membacakan surah Al Baqarah lalu menafsirkannya ayat demi ayat.” [10]

Ibnu Hajar berkata,

“Zubair meriwayatkan dengan sanadnya bahwa Ibnu Abbas selalu meberi makan malam di bulan Ramadhan, ia adalah Amir kota Bashrah. Tidak berlalu bulan itu melainkan ia telah tuntas mengajarkan fikih/agama kepeda mereka.” [11]

Jari jelaslah bahwa ilmu Imam Ali as. telah tersebar luas di berbagai kota besar Islam, madinah, Mekkah, Syâm, Bashrah dan lainnya, walaupun tidak berarti mereka yang menimba ilmu dari beliau adalah para pengikut setia beliau dan yang mengaku kewalian dan imamah beliau as.

Kufah

Adapun kota Kufah, yang kata Ibnu Taymiah bahwa ilmu Imam Ali kebanyakan hanya ada di Kufah, maka perlu Anda ketahui bahwa ilmu Imam ali as. adalah ilmu Rasulullah saw…. Andai seluruh ulama menimbanya dari lautan ilmu beliau pastilah cukup untuk mereka. Lalu bagaimana dikatakan bahwa kebanyakan ilmu beliau as. adalah di Kufah?! Mungkinkah mereka mampu menampung lautan kebanyakan ilmu Imam Ali as.?

Beliaulah yang bersabda, “Tanyakan kepadaku sebelum kalian kehilangan aku, sesungguhnya di antara rongga dadaku terdapat banyak ilmu…” seperti akan disebutkan pada artikel lain nanti, insyaallah.

Jika yang Ibnu Taymiah maksudkan bahwa yang tampak dari ilmu Imam Ali as. adalah di Kufah, maka sebenarnya ia salah, sebab kebanyakan ilmu beliau as. tampak di kota suci Madinah, bukan di Kufah!

Rujuknya para sahabat besar, tidak terkecuali tiga Khalifah sebelum beliau as. dalam berbagai masalh rumit adalah berita masyhur, dan itu semua terjadi di kota Madinah. Di kota Kufah beliau tidak banyak memiliki kesempatan untuk memberikan bimbingan sebab beliau as. disibukkan dengan pemberontakan demi pemberontakan yang dipimpin sebagian sahabat!

Sedangkan kata-kata Ibnu Taymiah bahwa “namun kendati demikian penduduk Kufah mereka telah mengetahui Alqur’an dan Sunnah sebelum Utsman memerintah, apalagi Ali” sepertinya ia ingin mengatakan bahwa mereka telah belajar agama di masa kekhalifahan Umar, tetapi anggapan ini salah sebab:

Pertama, kota Kufah baru diramaikan kaum Muslimin pada tahun tujuh belas hijrah, sementara Umar wafat tahun dua puluh tiga hijrah, lalu bagaimana kita dapat menerima anggapan bahwa mereka mmapu mempelajari Alqur’an dan Sunnah dalam kurun waktu sesingkat itu yaitu enam tahun, padahal Umar sendiri baru untuk mampu mempelajari surah al Baqarah butuh waktu selama dua belas tahun! seperti diriwayatkan para ulama, di antaranya as Suyuthi dalam ad Durr al Mantsûr-nya. [12]

Kedua, mereka yang datang ke kota Kufah sebagai utusan Khalifah Umar adalah Ammar ibn Yasir dibarengi Abdullah ibn Mas’ud. Jika yang dimaksud Ibnu Taymiah bahwa penduduk Kufah itu belajar dari kedua sahabat ini, maka tentunya hal itu merugikan statemen Ibnu Taymiah sendiri! sebab keduanya adalah murid Imam Ali as. Maka dari tetaplah bahwa penduduk Kufah mengambil ilmu Ali as. Banyak bukti dan data yang mengatakan bahwa penduduk kota Kufah belajar dari Ammar dan Ibnu Mas’ud.

Ibnu Sa’ad melaporkan bahwa pada awalnya Ibnu Mas’ud berhijrah ke kota Himsh kemudian dipindahkan Umar ke Kufah. Umar menulis sepucuk surat kepada mereka, “Sesungguhnya-demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya- aku lebih mementingkan kalian dengan mengutusnya kepada kalian, maka ambillah ilmu darinya!” [13]

Dalam riwayat lain dilaporkan, “Harits ibn Madhrab berkata, ‘Surat Umar ibn al Khaththab dibacakan di hadapan kami: Amma ba’du, aku telah mengutus kepada kalian Ammar ibn Yasir sebagai amir, dan Ibnu mas’ud sebagai pengajar dan pejabat pembantu… .” [14]

Ibnu Hajar melaporkan, “Dan Umar memberangkatkan Ibnu Mas’ud ke kota Kufah untuk mengajarkan kepada mereka urusan agama mereka, dan mengutus Ammar sebagai amir. Umar berkata, “mereka berdua adalah orang-orang pilihan dari sahabat (Nabi) Muhammad saw., maka berteladanlah dengan keduanya!” [15]

Dari semua ini jelaslah bahwa mereka belajar ilmu Imam Ali as. dari para murid dekat beliau, dan terbuktilah bahwa ilmu beliau telah menyebar di kota Kufah.

________________________

[1] Minhaj as Sunnah,4/139. (Lihat juga di Mihaj as Sunnah yang di Tahqiq Dr. Muhammad Rashad Salim 7/516-517, cetakan Saudi Arabia -red. Haula Wahabiyah-)
[2] Tadzkirah al Huffâdz,1/38.
[3] Ath Thabaqât,2/369.
[4] Anda saya persilahkan merujuk al Istî’âb, 3/937, dan akibat dari bait-bait syair itu Ibnu Zubair marah dan menampakkan kedengkiannya kepada Ibnu Abbas ra. serta berusaha melarangnya mengajar!!
[5] Al Itqân fi ‘Ulûmil Qur’an,2/190.
[6] Tadzkirah al Huffâdz,1/24.
[7] Manâqib Amirul Mukminin:55.
[8] Ar Riyâdh an Nadhirah,2/199.
[9] Tadzkirah al Huffâf,1/38 dan al Ishâbah,2/322.
[10] Ath Thabaq6at,2/367.
[11] Al Ishâbah,2/325.
[12] ad Durr al Mantsûr,1/21.
[13] Ath Thabaqât,3/175.
[14] Ath Thabaqât,3/255 dan riwayat serupa dapat dijumpai dalam al Istî’âb,3/992 dan140, Usdu al Ghabah,3/258, Tadzkirah al Huffâdz,1/14.
[15] Al Ishâbah,2/316 dan 506.

********************************************

BAGI PEMBACA YANG INGIN BERINTERAKSI DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS ARTIKEL DIATAS, ATAU MEMBERI KOMENTAR, DIPERSILAHKAN MENGKLIK DISINI

-HAULA WAHABIYAH-

%d blogger menyukai ini: