Riwayat Muawiyah Mencela Imam Ali AS Adalah Shahih

Riwayat Muawiyah Mencela Imam Ali AS Adalah Shahih

SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran

ditulis Oleh: J. Algar

Salah satu kabar yang masyhur dalam Sejarah Ahlul Bait adalah Adanya pihak-pihak yang mencaci maki Imam Ali AS. Tradisi ini dikatakan berasal dari bani Umayyah yang diawali oleh Muawiyah dan diikuti oleh para pengikutnya seperti Marwan, Mughirah dan Gubernur-gubernur yang diangkat Muawiyah. Tentu saja tradisi seperti ini adalah suatu kebatilan yang nyata dan tindakan seperti ini jelas mencoreng dan merendahkan siapapun yang melakukannya. Hal ini dikarenakan adanya hadis shahih yang menyatakan bahwa barang siapa yang mencaci maki Ali maka ia telah mencaci maki Rasulullah SAW.

Tentu sudah bisa ditebak kalau mereka para pecinta Muawiyah yang notabenenya para Salafiyun berteriak dengan parau seraya menuduh bahwa cerita itu adalah dusta dan dibuat-buat untuk menjatuhkan kedudukan Muawiyah. Dan tidak jarang mereka katakan bahwa Syiah lah yang membuat cerita palsu tersebut. Mereka para Salafiyun itu mencari segala macam cara untuk mendustakan adanya tradisi itu atau menakwilkannya demi melindungi Muawiyah. Bahkan tidak puas dengan sekedar membela, mereka malah membuat kitab-kitab khusus tentang Keutamaan Muawiyah.

Tulisan ini akan menunjukkan dengan jelas bahwa Tindakan Muawiyah yang mencela Imam Ali telah diriwayatkan dengan sanad yang shahih. Kami akan menunjukkan dua riwayat yang menjadi bukti yaitu dalam Shahih Muslim dan Sunan Ibnu Majah

Riwayat Shahih Muslim
Dalam kitab Shahih Muslim Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi 4/1870 no 2404 diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash

أمر معاوية بن أبي سفيان سعدا فقال ما منعك أن تسب أبا التراب ؟ فقال أما ذكرت ثلاثا قالهن له رسول الله صلى الله عليه و سلم فلن أسبه لأن تكون لي واحدة منهن أحب إلي من حمر النعم سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول له خلفه في بعض مغازيه فقال له علي يا رسول الله خلفتني مع النساء والصبيان ؟ فقال له رسول الله صلى الله عليه و سلم أما ترضى أن تكون مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبوة بعدي وسمعته يقول يوم خيبر لأعطين الراية رجلا يحب الله ورسوله ويحبه الله ورسوله قال فتطاولنا لها فقال ادعوا لي عليا فأتى به أرمد فبصق في عينه ودفع الراية إليه ففتح الله عليه ولما نزلت هذه الآية فقل تعالوا ندع أبناءنا وأبنائكم [ 3 / آل عمران / 61 ] دعا رسول الله صلى الله عليه و سلم عليا وفاطمة وحسنا وحسينا فقال اللهم هؤلاء أهلي

Muawiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad, lalu berkata “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”?. Sa’ad berkata “Selama aku masih mengingat tiga hal yang dikatakan oleh Rasulullah SAW aku tidak akan mencacinya yang jika aku memiliki salah satu saja darinya maka itu lebih aku sukai dari segala macam kebaikan. Rasulullah SAW telah menunjuknya sebagai Pengganti Beliau dalam salah satu perang, kemudian Ali berkata kepada Beliau “Wahai Rasulullah SAW engkau telah meninggalkanku bersama perempuan dan anak-anak?” Maka Rasulullah SAW berkata kepadanya Tidakkah kamu ridha bahwa kedudukanmu disisiku sama seperti kedudukan Harun disisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku. Aku mendengar Rasulullah SAW berkata di Khaibar “Sungguh Aku akan memberikan panji ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya serta dicintai Allah dan RasulNya. Maka kami semua berharap untuk mendapatkannya. Lalu Beliau berkata “Panggilkan Ali untukku”. Lalu Ali datang dengan matanya yang sakit, kemudian Beliau meludahi kedua matanya dan memberikan panji kepadanya. Dan ketika turun ayat “Maka katakanlah : Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian”(Ali Imran ayat 61), Rasulullah SAW memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan berkata “Ya Allah merekalah keluargaku”.
.
.

Penjelasan Hadis

Jika kita melihat hadis di atas dengan baik, maka kita akan melihat bahwa pada awalnya Muawiyah memberikan perintah pada Sa’ad bin Abi Waqqash baru setelah itu ia bertanya “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”. Timbul pertanyaan, perintah apa yang diberikan Muawiyah kepada Sa’ad sehingga setelah itu ia bertanya kepada Sa’ad. Jika kita mengkaitkan antara perintah Muawiyah dengan pertanyaan selanjutnya Muawiyah yaitu “Apa yang menghalangimu mencaci Abu Turab” maka kita dapat memahami bahwa Perintah yang diberikan Muawiyah adalah agar Sa’ad mencaci Abu Turab tetapi Sa’ad menolak sehingga Muawiyah bertanya “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab?”.

Tentu saja pemahaman seperti ini akan mudah dimengerti tetapi para Salafiyun berusaha membela Muawiyah dengan mencatut Penakwilan Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Dalam Syarh Shahih Muslim 15/175-176 An Nawawi berkata

Menurut para Ulama(ahli ilmu), semua hadis yang zhahirnya mengandung serangan terhadap pribadi salah seorang sahabat maka hadis tersebut mesti ditakwilkan. Mereka mengatakan semua hadis dari perawi tsiqat pasti dapat ditakwilkan. Karena itu perkataan Muawiyah di atas tidak harus itu berarti dia memerintah Sa’ad mencaci Ali. Dia hanya bertanya alasan apa yang menyebabkan Sa’ad tidak mencaci Ali?. Seakan-akan Muawiyah berkata “Apakah engkau tidak melakukan itu karena khawatir berbuat dosa, takut atau sebab lain? Jika kamu tidak mencerca Ali karena takut berbuat dosa atau mengagungkan ia maka kamu adalah orang yang benar, kalau bukan karena itu kamu pasti punya alasan lain”. Mungkin juga Sa’ad ketika itu berada di tengah-tengah suatu kelompok yang mencaci maki Ali tetapi dia tidak turut mencaci bersama mereka. Sa’ad mungkin tidak mampu menentang mereka tetapi ia tidak setuju dengan mereka. Lalu Muawiyah mengajukan pertanyaan kepada Sa’ad. Atau menurut mereka, hadis tersebut bisa juga ditakwilkan dengan kata-kata “Mengapa kamu tidak menyalahkan pendapat dan ijtihad Ali dan memperlihatkan kepada semua orang bahwa pendapat dan ijtihad kami adalah benar sedangkan ijtihad Ali itu salah?.

Sayangnya para Salafiyun itu tidak bisa membedakan sebuah pendekatan yang benar dan penakwilan yang jauh dan dibuat-buat. Mereka hanya bisa berdalih dan bertaklid bahwa makna hadis tersebut adalah seperti yang dikatakan An Nawawi. Sebelum kami menganalisis Penakwilan Nawawi di atas, maka kami ingatkan bahwa Dalil sejelas apapun tetap bisa dicari-cari penolakannya dan bisa dibuat tafsiran-tafsiran untuk menakwilkan demi mengarahkannya pada makna tertentu yang diinginkan. Oleh karena itu kita akan menerapkan tiga landasan metode dalam menilai setiap interpretasi

  1. Berpegang pada teksnya
  2. Mencari Penafsiran yang terdekat dengan teksnya
  3. Membandingkannya dengan riwayat lain yang relevan dengan hadis tersebut

.

.

Analisis Penakwilan Imam Nawawi
Pada awalnya Imam Nawawi berkata

Menurut para Ulama, semua hadis yang zhahirnya mengandung serangan terhadap pribadi salah seorang sahabat maka hadis tersebut mesti ditakwilkan. Mereka mengatakan semua hadis dari perawi tsiqat pasti dapat ditakwilkan.

Perhatikan baik-baik, Imam Nawawi mengawali penjelasannya dengan mengatakan bahwa semua hadis yang zhahirnya mengandung serangan terhadap pribadi sahabat harus ditakwilkan. Hal ini menunjukkan bahwa Imam Nawawi juga menangkap dalam hadis di atas adanya serangan terhadap pribadi Muawiyah sehingga dengan itu ia melakukan penakwilan untuk membela Muawiyah.

Imam Nawawi berkata

Karena itu perkataan Muawiyah di atas tidak harus itu berarti dia memerintah Sa’ad mencaci Ali. Dia hanya bertanya alasan apa yang menyebabkan Sa’ad tidak mencaci Ali?

Memang benar kalau Muawiyah bertanya Alasan apa yang menyebabkan Sa’ad tidak mau mencaci Ali?. Dan Muawiyah ingin mengetahui alasan yang membuat Sa’ad menolak perintahnya untuk mencaci Abu Turab.
Secara zahir teks kita melihat ada dua premis

  • Muawiyah Memerintah Sa’ad
  • Muawiyah bertanya kepada Sa’ad “Apa yang menghalangimu Mencaci Abu Turab”?

Dengan asumsi bahwa kedua premis tersebut berhubungan maka kita dapat menduga ada hubungan antara apa yang diperintahkan Muawiyah dan apa yang membuat Muwiyah bertanya. Jika kita mengasumsikan bahwa Muawiyah memerintah Sa’ad untuk mencaci Ali maka kita dapat menarik hubungan antara perintah tersebut dengan pertanyaan Muawiyah. Hubungannya yaitu Sa’ad menolak untuk mencaci Abu Turab, hal inilah yang membuat Muawiyah bertanya “Apa yang menghalangimu mencaci Abu Turab”?. Jadi asumsi Muawiyah memerintah Sa’ad mencaci Abu Turab cukup relevan dan sesuai dengan zahir teks hadisnya.

Imam Nawawi membuat penakwilan pertama

Seakan-akan Muawiyah berkata “Apakah engkau tidak melakukan itu karena khawatir berbuat dosa, takut atau sebab lain? Jika kamu tidak mencerca Ali karena takut berbuat dosa atau mengagungkan ia maka kamu adalah orang yang benar, kalau bukan karena itu kamu pasti punya alasan lain”.

Tentu saja perkataan Muawiyah yang seakan-akan ini hanyalah rekaan yang dibuat oleh Nawawi. Siapapun tidak akan bisa menghubungkan kata-kata Muawiyah yang seakan-akan ini dengan zahir teks hadis
Muawiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad, lalu berkata “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”?.
Jadi singkat kata penjelasan Nawawi itu malah merekayasa teks hadis sendiri yang berbeda dengan zahir teks hadis yang sudah ada. Tentu saja berbeda dengan asumsi “Muawiyah memerintah Sa’ad mencaci Abu Turab” yang justru berawal dari zahir teks hadis bahwa Muawiyah memerintah Sa’ad kemudian bertanya.

Imam Nawawi memberikan penakwilan kedua

Mungkin juga Sa’ad ketika itu berada di tengah-tengah suatu kelompok yang mencaci maki Ali tetapi dia tidak turut mencaci bersama mereka. Sa’ad mungkin tidak mampu menentang mereka tetapi ia tidak setuju dengan mereka. Lalu Muawiyah mengajukan pertanyaan kepada Sa’ad.

Inipun bisa dibilang asumsi yang dimasukkan pada hadis tersebut. Seandainya kita menerima asumsi ini maka itu tidak menafikan kalau Muawiyah memerintah Sa’ad untuk mencaci Abu Turab. Bahkan bisa dibilang kita dapat menguatkan asumsi kalau Muawiyah memerintah Sa’ad mencaci Abu Turab dengan asumsi Imam Nawawi ini. Perhatikan, mungkin saja saat itu Muawiyah dan Sa’ad berada di tengah-tengah kelompok yang mencaci-maki Ali. Sa’ad tidak mencaci Ali bersama mereka, tetapi bagaimana dengan Muawiyah, ada dua kemungkinan

  • Muawiyah ikut mencaci
  • Muawiyah tidak ikut mencaci

Mari kita ambil perandaian Imam Nawawi tentang perkataan Muawiyah yang Seakan-akan Muawiyah berkata “Apakah engkau tidak melakukan itu karena khawatir berbuat dosa, takut atau sebab lain? Jika kamu tidak mencerca Ali karena takut berbuat dosa atau mengagungkan ia maka kamu adalah orang yang benar, kalau bukan karena itu kamu pasti punya alasan lain”.

Intinya Imam Nawawi mendudukkan posisi Muawiyah sebagai orang yang mengetahui bahwa mencaci Ali itu jelas tidak benar. Nah kalau memang begitu bukankah Muawiyah yang berada di tengah-tengah kelompok yang mencaci maki Ali dapat melarang tindakan kelompok tersebut atau mengecam mereka. Sa’ad mungkin saja tidak mampu menentang mereka tetapi bukankah Muawiyah yang merupakan Penguasa saat itu memiliki kemampuan untuk itu.

Hal yang aneh ditampilkan oleh Imam Nawawi adalah ketimbang Muawiyah melarang kelompok tersebut ia malah mengajukan pertanyaan kepada Sa’ad yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan. Paling tidak pertanyaan yang harus diajukan untuk situasi tersebut adalah pertanyaan kepada kelompok yang mencaci Ali “mengapa mereka sampai mencaci Ali” bukan kepada Sa’ad

Adanya pertanyaan kepada Sa’ad membuat kita berasumsi bahwa Muawiyah ikut mencaci Ali bersama kelompok tersebut sehingga dalam hal ini Muawiyah tidak perlu bersusah-susah melarang mereka dan ketika ia melihat Sa’ad tidak mau mencaci Ali atau bisa saja saat itu ia memerintah Sa’ad untuk ikut mencaci Ali dan Sa’ad menolak maka Muawiyah bertanya “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”. Asumsi ini jelas lebih masuk akal. Nah kita lihat, kesimpangsiuran dari andai-andai Imam Nawawi ini sangat jelas terlihat jika dianalisis dengan baik.

Imam Nawawi mengajukan penakwilan terakhir

Atau menurut mereka, hadis tersebut bisa juga ditakwilkan dengan kata-kata “Mengapa kamu tidak menyalahkan pendapat dan ijtihad Ali dan memperlihatkan kepada semua orang bahwa pendapat dan ijtihad kami adalah benar sedangkan ijtihad Ali itu salah?.

Sudah jelas penakwilan seperti ini sangat jauh sekali dari teks hadisnya. Intinya kita tidak dapat menarik atau menimbulkan kata-kata ini dari zahir teks hadisnya. Singkatnya asumsi ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan zahir teks hadis
Muawiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad, lalu berkata “Apa yang menghalangimu untuk mencaci Abu Turab”?.
Sudah jelas kata-kata pada hadis tersebut adalah mencaci bukan soal ijtihad yang benar atau salah. Jadi penakwilan ini sungguh jauh sekali dari teks hadisnya bahkan hanya sekedar dibuat-buat.

.

.

Penafsiran Ulama Lain

Penakwilan Nawawi di atas sudah jelas hanyalah sebuah pembelaan semata yang tidak memuat sedikitpun hujjah dan argumentasi yang kuat sehingga dalam hal ini kita dapat melihat terdapat ulama-ulama yang mengkritik penakwilan yang dilakukan Imam Nawawi atau menyatakan dengan jelas bahwa hadis Muslim di atas memang mengindikasikan Muawiyah memerintah Sa’ad untuk mencaci Abu Turab, diantara mereka adalah

  • Al Hafiz Muhammad bin Abdul Hadi As Sindi dalam Syarh Sunan Ibnu Majah no 118 berkata ”Muawiyah telah mencaci Ali dan ia juga memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Ali sebagaimana disebutkan oleh Muslim dan Tirmidzi”.
  • Muhibbudin Ath Thabari dalam Riyadh An Nadirah 3/194 telah membawakan hadis Muslim dan Tirmidzi di atas dan beliau mengawali penjelasan hadis Muslim di atas dengan kata-kata ”Muawiyah memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Abu Turab kemudian Sa’ad berkata Selama aku masih mengingat tiga hal..(dan seterusnya) dikeluarkan oleh Muslim dan Tirmidzi.”
  • Muhammad Abu Zahrah dalam Tarikh Mahdzab Al Islam 1/38 telah mengkritik Imam Nawawi mengenai penjelasannya dalam Syarh Shahih Muslim, beliau telah menilai Imam Nawawi tidak jujur dalam membela Muawiyah.

Sebagai penjelasan terakhir akan ditunjukkan bukti kuat yang benar-benar membuktikan kalau Muawiyah telah mencela Imam Ali yaitu riwayat dalam Sunan Ibnu Majah berikut
.

.

.

Riwayat Sunan Ibnu Majah
Dalam Sunan Ibnu Majah Tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi 1/45 no 121 terdapat hadis riwayat Sa’ad berikut

حدثنا علي بن محمد . حدثنا أبو معاوية . حدثنا موسى بن مسلم عن ابن سابط وهو عبد الرحمن عن سعد بن أبي وقاص قال قدم معاوية في بعض حجاته فدخل عليه سعد فذكروا عليا . فنال منه . فغضب سعد وقال تقول هذا لرجل سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ( من كنت مولاه فعلي مولاه ) وسمعته يقول ( أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنه لا نبي بعدي ) وسمعته يقول ( لأعطين الرأية اليوم رجلا يحب الله ورسوله ) ؟

Ali bin Muhammad menceritakan kepada kami yang berkata Abu Muawiyah menceritakan kepada kami yang berkata Musa bin Muslim menceritakan kepada kami dari Ibnu Sabith dan dia adalah Abdurrahman dari Sa’ad bin Abi Waqash yang berkata ”Ketika Muawiyah malaksanakan ibadah haji maka Saad datang menemuinya. Mereka kemudian membicarakan Ali lalu Muawiyah mencelanya. Mendengar hal ini maka Sa’ad menjadi marah dan berkata ”kamu berkata seperti ini pada seseorang dimana aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda ”barangsiapa yang Aku adalah mawlanya maka Ali adalah mawlanya”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Kamu disisiKu sama seperti kedudukan Harun disisi Musa hanya saja tidak ada Nabi setelahKu”. Dan aku juga mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Ali ”Sungguh akan Aku berikan panji hari ini pada orang yang mencintai Allah dan RasulNya”.

.

.

Hadis ini telah dinyatakan Shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no 98. Hadis di atas adalah bukti yang paling kuat kalau Muawiyah memang telah mencela Imam Ali. Al Hafiz Muhammad bin Abdul Hadis As Sindi dalam Syarh Sunan Ibnu Majah no 118 telah menunjukkan dengan kata-kata yang jelas dalam komentarnya tentang hadis ini ”bahwa Muawiyah telah mencaci Imam Ali bahkan memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Imam Ali sebagaimana yang disebutkan oleh Muslim dan Tirmidzi”.

.

.

Salam Damai

Catatan :

  • Kutipan dari Al Hafiz Al Sindi dan Muhibudin Ath Thabari itu memang dari kami sendiri
  • Kutipan Abu Zahrah adalah tambahan dari saudara FP, terimakasih atas masukannya

 

.

________________________________

TULISAN TERKAIT TENTANG MUAWIYAH

  1. BANTAHAN ATAS: “SEKELUMIT TENTANG KEUTAMA’AN MUAWIYAH BIN ABI SUFYAN” (IBNU RAHAWAIH: TIDAK SAHIH SATUPUN DARI HADIS KEUTAMA’AN MUAWIYAH)
  2. Meluruskan Muawiyah
  3. Sahabat Nabi Yang Menghina Ahlul Bait
  4. Muawiyah dan Mimbar Nabi
  5. Kedudukan Hadis “Ya Allah Jadikanlah Muawiyah Seorang Yang Memberi Petunjuk”
  6. Riwayat Muawiyah Mencela Imam Ali AS Adalah Shahih
  7. Kedudukan Hadis “Ya Allah Ajarkanlah Muawiyah Al Kitab dan Al Hisab”
  8. Hadis Penyimpangan Muawiyah Dalam Shahih Muslim
  9. Mu’awiyah Memberantas Hadis Keutamaan Imam Ali as.
  10. Penulis Wahyu
  11. Hadis Muawiyah Meminum Minuman Yang Haram
  12. Meluruskan Sikap Muawiyah Terhadap Hadis Nabi SAW
  13. Hadis Penyimpangan Muawiyah Dalam Sunan Abu Dawud
  14. Muawiyah Membunuh Sahabat Nabi Hujr bin Adi
  15. Sahabat Nabi Yang Membunuh Ammar bin Yaser RA
  16. Kedudukan Hadis “Jika Kamu Melihat Mu’awiyah Di MimbarKu Maka Bunuhlah Ia”
  17. Pembahasan Matan Hadis “Jika Kamu Melihat Muawiyah Di MimbarKu Maka Bunuhlah Ia”.
  18. Imam Hasan Dan Bani Umayyah Di Mimbar Nabi
  19. Semua Hadis Keutamaan Mu’awiyah Palsu ! Bantahan Atas Blog Haulasyiah
  20. Bantahan Atas -Haula Syiah-: Hadis: “Semoga Allah tidak Mengenyangkan Perutnya, Yakni Perut Muawiyah”. Adalah Doa Keburukan Nabi saw. Atas Mu’awiyah
  21. Hadiah Buat Salafiyun : Inikah Bukti Muawiyah Pembawa Petunjuk Yang Memberikan Petunjuk?


______________________________________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

 

%d blogger menyukai ini: