Kedudukan Hadis “Memandang Ali Adalah Ibadah”

Kedudukan Hadis “Memandang Ali Adalah Ibadah”

Sumber: secondprince.wordpress.com

Oleh J. Algar

.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم النظر إلى علي عبادة

Rasulullah SAW bersabda “Memandang Ali Adalah Ibadah”

.

Hadis ini diriwayatkan oleh banyak sahabat di antaranya, Abdullah bin Mas’ud RA, Abu Bakar RA, Aisyah RA, Usman bin Affan RA, Jabir bin Abdullah RA, Muadz RA, Imran bin Hushain RA, Abu Hurairah RA dan lain-lain. Hadis ini dikeluarkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak 3/141 hadis Imran bin Hushain no 4681, hadis Ibnu Mas’ud no 4682 dan 4683. Al Hakim berkata pada hadis Imran bin Hushain

حديث صحيح الإسناد وشواهده عن عبد الله بن مسعود صحيحة

Hadis ini shahih yang didukung oleh hadis shahih dari Ibnu Mas’ud.
Adz Dzahabi berkata dalam Talkhis Al Mustadrak

موضوع ، وشاهده صحيح

hadis ini maudhu’ dan penguatnya shahih

Syaikh Al Albani dalam kitabnya Silsilah Adh Dhaifah no 4702 menyatakan hadis ini maudhu’ dan menolak pernyataan Hakim dan Adz Dzahabi. Beliau membicarakan panjang lebar sanad hadis ini dan mengkritik satu-persatu sanad hadis tersebut. Semua sanad hadis ini memang tidak satupun lepas dari kritik tetapi hadis ini telah diriwayatkan dengan banyak sanad dan saling kuat-menguatkan. Jalaluddin As Suyuthi telah membawakan banyak syahid atau penguat bagi hadis ini dalam kitabnya Al Laai.

Saudara haula syiah dalam salah satu tulisannya mengatakan tentang hadis ini

bahwa walaupun memiliki banyak penguat tapi semuanya lemah dan palsu sehingga tidak dapat merubah kedudukannya yang mudhu’(palsu).

Anehnya, Al Hafiz As Suyuthi telah menyatakan bahwa hadis ini hasan dalam kitabnya Tarikh Al Khulafa 1/70, beliau berkata:

وأخرج الطبراني والحاكم عن ابن مسعود رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” النظر إلى علي عبادة ” إسناده حسن.

Diriwayatkan oleh Thabrani dan Al Hakim dari Ibnu Mas’ud RA bahwa Nabi SAW bersabda “Memandang Ali Adalah Ibadah”. Hadis ini sanadnya hasan

Kontradiksi Saudara haulasyiah
Kontradiksi yang saya maksud adalah mengenai dasar-dasar yang beliau gunakan dalam tulisan-tulisannya. Saya akan menerapkan dasar yang ia gunakan dalam salah satu tulisannya yang membantah saudara jakfari untuk menilai tulisannya tentang hadis “Memandang Ali adalah Ibadah”. Ia berkata bahwa Ulama yang meriwayatkan hadis lebih mengetahui hadis yang ia bawakan dibanding orang lain. Berikut saya kutip pernyataan beliau

karena menurut kaedah ilmu hadits: “Perowi itu lebih tahu terhadap hadits yang ia riwayatkan”.

Jika memang begitu maka sudah selayaknya kalau Al Hakim yang meriwayatkan hadis ini dan menyatakan hadis ini shahih lebih dapat diterima daripada mereka yang menyatakan palsunya hadis ini.

Pada tulisannya yang membantah saudara Jakfari itu, ia juga berhujjah dengan Pernyataan Ulama Ibnu Hajar Al Haitsami yang ia katakan sebagai Ulama pakar hadis

Untuk lebih meyakinkan lemahnya hadits diatas, mari kita simak kesimpulan dari seorang pakar hadits, Ibnu Hajar Al-Haitsami rahimahullah:
“Diriwayatkan Thabarani dalam Ash-Shaghir dan Al-Ausath, pada sanadnya terdapat beberapa rawi yang tidak aku ketahui.”

Anehnya Ibnu Hajar Al Haitsami menyatakan hadis ”Memandang Ali adalah ibadah” sebagai hadis hasan dalam kitabnya Ash Shawaiq Al Muhriqah 2/360

أخرج الطبراني والحاكم عن ابن مسعود رضي الله عنه أن النبي قال النظر إلى علي عبادة إسناده حسن

Dikeluarkan oleh Thabrani dan Al Hakim dari Ibnu Mas’ud RA bahwa Nabi berkata “Memandang Ali Adalah Ibadah”. Hadis ini hasan

Ibnu Hajar Al Haitsami adalah ulama sunni yang mengkritik Syiah dalam kitabnya Ash Shawaiq Al Muhriqah. Tetapi beliau sepertinya cukup objektif untuk tetap menyatakan hadis di atas hasan dan tidak menuduh Syiah memalsukan hadis ini. Coba simak kata-kata saudara haulasyiah yang ini

Kalau saja seorang Al-Haitsami, yang merupakan pakar hadits mengatakan demikian, bagaimana dengan kita??! Dimana kadar ilmu kita di bandingkan ilmu mereka??

Agak aneh menurut saya, bukankah pakar hadis yang dikatakan oleh saudara haulasyiah itu justru menghasankan hadis “Memandang Ali adalah ibadah”. Tetapi saudara haulasyiah justru menyatakan hadis tersebut lemah dan palsu.

Hadis ini tidak hanya diriwayatkan oleh mereka yang dikatakan sebagai pemalsu hadis. Tetapi diriwayatkan juga oleh perawi shaduq yang walaupun sering salah tetapi dikuatkan oleh yang lain

Salah satu sanad hadis Ibnu Mas’ud telah dikritik oleh Syaikh Al Albani karena di dalamnya ada Yahya bin Isa Ar Ramli, beliau Syaikh berkata Ar Ramli telah didhaifkan oleh Ibnu Main dan An Nasa’I mengatakan ia tidak kuat. Hal ini memang benar sebagaimana disebutkan dalam At Tahdzib juz 11 no 428, tetapi disana disebutkan juga kalau Yahya Ar Ramli adalah perawi yang dijadikan hujjah oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Imam Ahmad memuji Yahya bahwa ia muqarib Al hadis dan hadisnya hasan. Al Ajli menyatakan ia tsiqat tapi tasyayyu’ dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/311 memberikan predikat shaduq yukhti’u (jujur walau terkadang salah). Dengan kata lain hadis Yahya ini derajatnya hasan jika dikuatkan oleh jalan-jalan lain.

Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 9/157 hadis no 14694 menyebutkan hadis ini dan berkata

رواه الطبراني وفيه أحمد بن بديل اليامي وثقه ابن حبان وقال مستقيم الحديث وابن أبي حاتم وفيه ضعف وبقية رجاله رجال الصحيح

Hadis riwayat Thabrani dan di dalamnya ada Ahmad bin Badil Al Yamiy yang ditsiqatkan Ibnu Hibban (yang berkata “hadisnya lurus”) dan Ibnu Abi Hatim walaupun ada kelemahan padanya, dan perawi lainnya adalah para perawi shahih.

Dalam At Tahdzib juz 1 no 14 disebutkan bahwa An Nasa’I mengatakan la ba’sa bihi (tidak mengapa), Ibnu Abi Hatim berkata Mahalluhu shidqu(tempat kejujuran), dan Ibnu Hibban menyatakan tsiqat. Kelemahan padanya dikarenakan ia meriwayatkan hadis mungkar sehingga Daruquthni berkata Layyin(lemah). Tetapi walaupun begitu ia bukan seorang pemalsu hadis atau pendusta. Oleh karena itu dapat dimaklumi kalau Ibnu Hajar dalam At Taqrib memberikan predikat shaduq lahu auham (jujur tetapi sekali-kali salah).

Dengan memperhatikan riwayat Ath Thabrani dan Al Hakim di atas, dapat dilihat bahwa walaupun ada kelemahan pada sanadnya tetapi kelemahan ini tertutupi oleh sanad-sanadnya yang saling menguatkan. Ini adalah salah satu contoh walaupun hadis ini diperbincangkan sanadnya tetapi sanad-sanadnya banyak dan saling menguatkan sehingga As Suyuthi dan Ibnu Hajar menyatakan hadis tersebut hasan. Bahkan Sayyid Abdul Aziz bin Shiddiq Al Ghumari menulis kitab khusus Al Ifada yang membuktikan keshahihan hadis ini.

Salam Damai

Catatan : Tulisan ini hanya menampilkan sisi lain atau pendapat lain dari hadis “Memandang Ali Adalah Ibadah” yang dinyatakan palsu oleh sebagian orang.

_______________________

ARTIKEL TERKAIT

  1. BANTAHAN ATAS: Kedudukan Hadits “Memandang Ali adalah Ibadah” (1)
  2. BANTAHAN ATAS: Kedudukan Hadits “Memandang Ali adalah Ibadah” (2)

_________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: