BANTAHAN ATAS: Kedudukan Hadits “Memandang Ali adalah Ibadah” (2)

Hadis Memandang Wajah Ali adalah Ibadah Shahih! (2)

Sumber: jakfari.wordpress.com


Bantahan Atas: Kedudukan Hadits “Memandang Ali adalah Ibadah” oleh haulasyiah

Ditulis Oleh: Ibnu Jakfari

Menanggapi Vonis Gegabah Nâshiruddîn al Albâni

Seperti Anda telah saksikan dalam komentar Nâshiruddîn al Albâni bahwa al Hakim telah menshahihkan hadis di atas, dan Jalaluddîn as Suyuthi pun menolak anggapan dan vonis Ibnu al Jauzi bahwa hadis itu palsu dengan mengemukakan sebuah jalur lain yang di dalamnya tidak terdapat periwayat yang ia cacat itu!

Namun demikian Nâshiruddîn al Albâni tetap bersikeras menvonis palsu hadis tersebut dengan alasan bahwa pada jalur riwayat penguat yang disebutkan as Suyuthi juga terdapat periwayat yang cacat.

Karenanya saya akan mengajak pembaca untuk meneliti dasar vonis gegabah al Albâni dengan memerhatikan komontar para Ahli Jarh wa Ta’dîl tentang para periwayat tersebut.

Muhammad ibn Zakaria Al Ghullabi Di Mata Ulama

Sebagai langkah awal, al Albâni mesti harus mencacat periwayat ini agar terbuka jalan baginya untuk menvonis palsu hadis tersebut di atas. al Albâni menuduhnya sebagai pemalsu hadis!

Untuk lebih lengkapnya saya akan sebutkan komentar sebagian ulama tentangnya.

قال الدارقطني: يضع الحديث.

Ad Dâruquthni berkata, “Ia memalsu hadis.”

Ibnu Jakfari berkata:

Inilah sepertinya yang menjaadi sandaran utama al Albâni dalam menjatuhkan vonisnya. Akan tetapi perlu Anda ketahui bahwa vonis dan tuduhan sumbang Ad Dâruquthni di atas tidak seorang pun dari ulama Ahli Jarh wa Ta’dîl yang mendukungnya! Hanya ia seorang yang menvonis demikian!

Dan vonis ad Dâruquthni ini adalah sebuah kesema-menahan dan sikap berlebihan. Bahkan adz Dzahabi (yang dikenal begitu keras dan gemar mencari-cari cacat periwayat, khususnya yang meriwayatkan hadis keutamaan Ali as.) hanya mencukupkan dengan mendha’ifkan saja![1] Dan ia menyebutkan bahwa Ibnu Hibbân memasukkannya dalam daftar para periwayat yang tsiqât/terpercaya. Ia berkata:

يُعتبر بحديثه إذا روى عن ثقة،

“Hadisnya bisa dii’tibarkan jika ia meriwayatkan dari seorang yang tsiqah.”

Ia juga berkata:

وقال: في روايته عن المجاهيل بعض المناكير.

“Pada riwayatnya dari orang-orang majâhîl (yang tidak dikenal) terdapat sebagian kemunkaran.”

Ibnu Mandah berkata:

تُكُلّم فيه

“Ia dibicarakan.”[2]

Di sini Anda perlu mengetahui sebab apa ia dicacat? Tidak akan Anda temukan alasan pencacatan itu kecuali dikarenakan ia adalah seorang tokoh Syi’ah di kota Bashrah yang banyak meriwayatkan hadis-hadis keutamaan Ahlulbat Nabi as. bahkan ia mengarang sebuah buku yang menghimppun hadis-hadis tersebut!

Tidak ada cacat lain selain kesyi’ahannya. Ibnu Nadîm berkata dalam kitab al Fahrasatnya:

كان ثقةً صادقاً.

“Ia adalaah tsiqah/terpercaya dan shadûq/jujur.”

Al Qadhâ’I berkata:

محمّد بن زكريا الغلابي رجل حديثه حسن.

“Muhammad ibn Zakaria al Ghilabi adaalaah seorang yang bagus hadisnya.”[3]

Andai kita boleh mengambil komentar dan vonis ad Dâruquthni tentang al Ghillabi tentunya kita juga boleh mengambil komentar dan vonisnya atas Imam Abu Hainfah yang ia cacat dan lemahkan dalam hadis![4] Dan pasti mereka tidak akan setuju!

Maka demikian juga, pencacatan ad Dâruquthni atas Muhamad ibn Zakaria tidak bisa diambil dan tidak perlu dihiraukan.

Dan andai benar apa yang dikatakannya, tidaklah sedikit pun merusak kasus kita ini, sebab Al Ghillabi tidak menyendiri dalam meriwayatkan hadis ini.

Dan andai kita terima pendha’ifannya, tidaklah berarti kita boleh menvonisnya palsu… kita hanya boleh mengatakannya hadis dha’if. Dan hadis dha’if dalam masalah keutamaan, fadhâil ditoleransi para ulama hadis. Apalagi ternyata hadis tersebut dikuatkan oleh hadis-hadis lain. Sehingga tidaklah salah asy Syaukâni ketika menetapkan status Hasan terhadap hadis tersebut. Lebih lanjut baca al Fawâid al Majmû’ah:361.

___________________________

[1] Mizân al I’tidâl,3/550.

[2] Ibid. dan Lisân al Mîzân,5/169.

[3] Musnad asy Syihâb,2109.

[4] Seperti disebutkan dalam Sunan ad Dâruquthni,1/123 Bab Dzikru Qaulihi saw.: Man Kân Lahu Imâm… dan an Nasa’i juga telah mencacat Abu Hanifah seperti disebutkan dalam Mîzân al I’tidâl dan kitab ar raf’u wa at Takmîl:121. begitu juga dengan al Khathib al Baghdadi. Dan diikuti oleh Ibnu al Jauzi.

_______________________

ARTIKEL TERKAIT

  1. BANTAHAN ATAS: Kedudukan Hadits “Memandang Ali adalah Ibadah” (1)
  2. BANTAHAN ATAS: Kedudukan Hadits “Memandang Ali adalah Ibadah” (2)
  3. Kedudukan Hadis “Memandang Ali Adalah Ibadah”


_________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: