BANTAHAN ATAS: “TAFSIR SURAT AL-BAYYINAH AYAT YANG KE7 menurut syi’ah” (2)

BANTAHAN ATAS: “TAFSIR SURAT AL-BAYYINAH AYAT YANG KE7 menurut syi’ah” (2)

Sumber: Jakfari.wordpress.com

Oleh Ibnu Jakfari

Bantahan (Bagian ke II) Atas:

“Tafsir Surat Al-Bayyinah Ayat Yang ke 7. Menurut Syiah”

____________

Ali dan Syi’ahnya adalah Sebaik-baik Makhluk Allah (2)

Hadis Riwayat Imam Ali as.

1) Al Khawârizmi, Ibnu Mardawaih dan Al Hiskâni:

Dengan sanad bersambung kepada Ismail ibn Ziyâd al Bazzâr dari Ibrahim ibn Muhâjir, ia berkata, Yazid ibn Syurâhil al Anshari –juru tulis Ali- menyampaikan hadis kepadaku, ia berkata, “Aku mendengar Ali as. berkata, ‘Rasulullah saw. meesabda kepadaku ketika beliau bersandar di dadaku-, ‘Hai Ali, tidakkah engkau mendengar firman Allah –Ta’ala-:

 

إِنَّ الذينَ آمَنُوا و عَمِلُوا الصالِحاتِ أُولَئِكَ هُمْ خيرُ البَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk” (QS 98:7)

 

هُمْ أنت وَ شيعتُكَ، و مَوْعِدِيْ و مَوْعِدُكم الحوضُ إذا جاءَتِ الأُمَمُ للِحسابِ يومَ القيامة تُدْعَوْنَ غُرًّا مُحَجَّلِيْنَ.

“Mereka itu adalah kamu dan Syi’ahmu. Tempat perjumpaanku dan kamu adalah telaga, Al-Haudh. Ketika umat manusia untuk hisab, kalian akan dipanggil dalam keadaan berseri-seri.” [1]


Hadis Riwayat Imam Muhammad al Baqir as.

2) Ath Thabari: Dengan sanadnya, Ibnu Humaid menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, Isa ibn Farqad menyampaikan hadis kepada kami, dari Abu al Jârud dari Muhammad ibn Ali:

أُولَئِكَ هُمْ خيرُ البَرِيَّةِ

Nabi saw. bersabda:

أنت يا علِيُّ وَ شيعتُكَ

“Engkau dan Syi’ahmu, hai Ali.” [2]

Dalam Syawâhid at Tanzîl-nya, al Hâfidz al Hakim al Hiskâni meriwayatkan tafsir ayat tersebut dari Imam Muhammad al Baqir as. (Imam Kelima Syi’ah Imamiyah, Ja’fariyah Istnâasyariyah) dari berbagai jalur periwayatan:

A) Dari Israil dari jabir ibn Yazid al Ju’fi dari Abu Ja’far Muhammad ibn Ali as., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda (tentang ayat):

إِنَّ الذينَ آمَنُوا و عَمِلُوا الصالِحاتِ أُولَئِكَ هُمْ خيرُ البَرِيَّةِ.؟

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk” (QS 98:7)

هُمْ أنت وَ شيعتُكَ يا عِلي.

“Hai Ali, mereka itu adalah kamu dan Syi’ahmu.”

B) Dari Syaddâd al Ju’fi dari jabir dari Ja’far Muhammad ibn Ali as., ia berkata, (hadis yang sama).

C) Dari Syaddâd ibn Rusyaid dan dari ‘Amr ibn Syimr keduanya dari Ja’far Muhammad ibn Ali as., ia berkata, (hadis yang sama).

D) Dari Israil dan Abân ibn Taghlib dari Jabir (hadis yang sama).

E) Dari ‘Amr ibn Syimr dari Jabir dari Abu Ja’far dari Nabi saw. bersabda (terkait dengan ayat):

إِنَّ الذينَ آمَنُوا و عَمِلُوا الصالِحاتِ أُولَئِكَ هُمْ خيرُ البَرِيَّةِ.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk” (QS 98:7)

هُمْ أَنْتَ وَ شِيْعَتُكَ، تَردُ عَلَيَّ أنتَ وَ شيعتُكَ راضين مرضِيِّيْنَ.

“Mereka adalah engkau dan Syi ‘ahmu. Engkau dan Syi’ahmu akan datang menemuiku dalam keadaan ridha dan diriidhai.”

F) Dari Mas’ud ibn Sa’ad al Ju’fi dari Jabir al Ju’fi dari Abu Ja’far tentang firman Allah:

إِنَّ الذينَ آمَنُوا و عَمِلُوا الصالِحاتِ أُولَئِكَ هُمْ خيرُ البَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk” (QS 98:7)

Beliau berkata, “Yang dimaksud dengan mereka adalah Ali dan Syi’ahnya.”

Catatan:

Pertama, Dalam tafsir besanya, ath Thabari tidak menukil sebuah riwayat dari seorang mufassir-pun selain Imam Muhammad al Baqir as. yang menafsirkan ayat di atas dengan tafsiran yang telah Anda baca,. Dan ia tidak memberikan komentar yang bernada meragukan, misalnya. Itu dapat menjadi indikasi kuat bahwa beliau menerimanya.

Kedua, Al Hakim al Hiskâni dalam Syawahid at Tanzîl-nya telah menetapkan ayat di atas sebagai ayat yang turun untuk keutamaan Imam Ali as. dan ia mendukungnya dengan belasan riwayat dari para sahabat dan Imam al Baqir as. Hadis 1125- hadis1148.

Ketiga, Ibnu Hajar al Haitami asy Syafi’i juga menegaskan bahwa ayat ini turn berkenaan dengan keutamaan Imam Ali dan Syi’ahnya. Ia menggolongkannya sebagai ayat ke 11 dan mendukungnya dengan hadis riwayat Ibnu Abbas (hadis nomer 7). [3]

Keempat, Al Alûsi juga menyebutkan beberapa riwayat yang mendukung bahwa ayat ini turun untuk menjelaskan keutamaan Imam Ali as. dan keluarganya [4].

Setelah semua bukti ini, masihkan ada yang menggolongkan tafsir ayat di atas berdasarkan hadis sahih riwayat para ulama Ahlusunnah wal Jama’ah sebagai tafsir Syi’ah dengan maksud mendiskriditkannya?!

Apa yang dilakukan sebagian pembenci Ahlulbait as. dengan menabur keraguan di seputar keadalian dan kejujuran Abu al Jarud andai kita terima tidaklah cukup alasan untuk melemahkannya dan kemudian menolaknya, sebab:

Pertama, Pencacatan atas Abu al Jarud, seperti dapat Anda saksikan, terkesan tidak adil… ia pencacatan yang diilhami oleh perselisihan mazhab… pencacatan dan luapan emosi para penjarh itu yang mereka muntahkan ke atas Abu al Jarud adalah karena kesyi’ahannya… dan karenanya semua tuduhan dan cercaan halal bagi para pencacat itu… mereka mengatakan Abu al Jârûd seorang kadzdzâb/pembohong! Tetapi jika Anda bertanya, adakah bukti kebohongannya? Pasti jawabnya singkat: Riwayat-riwayat keutamaan Ahlulbait itu sebaik-baik bukti kebohongannya!! Itu semua adalah gaya lama peninggalan para tiran bani Umayyah dan bani al Abbas yang telah mendidik kaum Nawashib, anjing-anjing nereka, kilâbun nâr, untuk selalu menjulurkan lidah najisnya ke wajah setiap para pecinta keluarga suci Nabi saw. dan periwayat hadis-hadis keutamaan Ahlulbait as. dengan berbagai cercaan, caci maki, tuduhan palsu dan penfasikan serta pembid’ahan!!

Masalah ini panjang untuk dibicarakan di sini, semoga kami berkesempatan membahasnya secara khusus dalam kesempatan lain. Namun saya akan ajak pembaca meperhatikan beberapa data di bawah ini agar menjadi jelas benang merah permasalahannya.

Segera setelah menancapkan taring kekuasaannya, Mua’wiyah putra pasangan Abu Sufyan dan Hindun (si perobek perut dan pengunyah jantung Hamzah pamanda Nabi saw.) mengeluarkan beberapa titah kepada seluruh aparatnya, di antaranya:

Mu’awiyah menulis surat keputusan yang dikirimkan kepada para gubenur dan kepala daerah segera setelah ia berkuasa:

أن برِئَت الذمة مِمن روى شيئا فِي فَضْلِ أبِي تُراب و أهْلِ بَيْتِهِ .

“Lepas kekebalan bagi yang meriwayatkan sesuatu apapun tentang keutamaan Abu Thurab (Imam Ali as. maksudnya-pen) dan Ahlulbaitnya.”

Maka setelah itu –kata al Madâini, seorang sejarawan kondang Ahlusunnah- para penceramah di setiap desa dan di atas setiap mimbar berlomba-lomba melaknati Ali dan berlepas tangan darinya serta mencaci makinya dan juga Ahlulbaitnya. Masyarakat paling sengsara saat itu adalah penduduk kota Kufah sebab banyak dari mereka adalah Syi’ah Ali as. Dan untuk lebih menekan mereka, Mu’awiyah mengangkat Ziyad ibn Sumayyah sebagai gubernur kota tersebut dengan menggabungkan propinsi Basrah dan Kufah. Ziyad menyisir kaum Syiah –dan ia sangat mengenali mereka, sebab dahulu ia pernah bergabung dengan mereka di masa Khilafah Ali as.. Ziyad membantai mereka di manapun mereka ditemukan, mengintimidasi mereka, memotong tangan-tangan dan kaki-kaki mereka, menusuk mata-mata mereka dengan besi mengangah dan menyalib mereka di atas batang-batang pohon kurma. Mereka juga diusir dari Irak, sehingga tidak ada lagi dari mereka yang terkenal. [5]

Setelah menyusulnya dengan beberapa surat perintah yang menganjurkan pembuatan hadis-hadis keutamaan yang bertujuan menandingi keutamaan Ali as., Mua’wiyah menyusulnya dengan surat kelima sebagai di bawah ini:

انْظُرُوْا إِلَى مَن قَامَتْ عليهِ الْبَيِّنَةُ أنَّهُ يُحِبُّ عَلِيًّا وَ أهْلَ بَيْتِهِ فَامْحُوْهُ مِنَ الدِّيوَانِ وَ أسْقِطُوا عَطَاءَهُ وَ رِزْقَهُ.

“Perhatikan siapa yang terbukti mencintai Ali dan Ahlulbaitnya maka hapuslah namanya dari catatan sipil negara, gugurkan uang pemberian untuknya!”

Tidak puas dengan itu, Mu’awiyah malayangkan surat keenam:

مَنْ اتَّهَمْتُمُوْهُ بِمُوَالاَةِ هَؤُلاَءِ القَوْمِ فَنَكِّلُوْا بِهِ وَ اهْدِمُوْا دَارَهُ.

“Barang siapa yang kamu curigai mencintai Ali dari mereka maka jatuhkan sangsi berat atasnya! Hancurkan rumahnya!”

Jadi, sekedar tertuduh mencintai Imam Ali as. dan para Syi’ahnya sudah cukup alasan untuk dijatuhi hukuman dan sanksi berat atasnya. Maka tidak ada yang menderita lebih dari penduduk Irak, khususnya kota Kufah, sampai-sampai seorang dari Syi’ah didatangi temannya yang ia percayai lalu masuk ke rumahnya dan ia menyampaikan beberapa rahasia, ia takut dari pembantu dan budaknya. Dan ia tidak menyampaikannya sebelum ia meminta sumpah dengan sumpah yang berat untuk tidak menyebarkannya.

Maka tidaklah berlebihan kekhawatiran sebagian pemerhati Sunnah Nabi saw. bahwa sikap sebagian Muhaddis kita itu sebenarnya akibat sikpa provokatif rezim Umawiyyah, khususnya Mu’awiyah di atas.

Coba Anda perhatikan dengan seksama kesamaan antara semangat sebagian Muhaddis dalam mencacat setiap periwayat keutamaan Imam Ali as. dan Ahlulbait as. dengan politik Mu’wiyah di atas.

Kedua, Ternyata hadis riwayat tafsiran Nabi saw. itu telah diriwayatkan oleh banyak sahabat.

Ketiga, Anggap benar Abu al Jurud, perawi tafsir itu dari Imam Muhammad ibn Ali al Baqir as. adalah cacat, bukankah ternyata tafsiran itu tidak hanya diriwayatkan dari Imam Al Baqir as. dari jalur Abu al Jârud!

Jadi jika mereka bernafsu menggugurkan hadis tersebut hendaknya mencacat seluruh jalur periwayatnnya.

Atau mereka (Neo Nawashib/Salafi/wahhabi) hendak mengatakan bahwa Imam Al Baqir itu jahil dalam tafsir sehingga tidak layak dijadikan rujukan![6] Atau riwayatnya dari Nabi saw. tidak mu’tabarah, sebab beliau tidak hidup sezaman dengan kakek beliau; Nabi saw. sehingga riwayatnya terputus dan mursal dalam istilah ilmu hadis, seperti yang telah dikatakan Luqman bin Muhammad Ba’abduh dalam artikelnya?!

Mengapakah hadis mursalnya Imam al Baqir as. didha’ifkan sementara hadis mursalnya Sa’id ibn Musayyib (menantu Abu Hurairah) disahihkan? [7] Apakah Sa’id ibn Musayyib lebih mulia dan lebih utama di banmding Imam Al Baqir as. cucu Imam Husain putra Ali as.?

Apakah Anda mengira bahwa Imam Al Baqir as. memungut hadis kekek beliau Rasulullah saw. dari jalanan seperti umumnya para pemburu hadis? Apakah ayah beliau Imam Zainal Abidin as. tidak mampu menyampaikan hadis kakek beliau melalui Imam Husain as. dari Ali ibn Abi Thalib as.?

Ma’af, saya sepertinya salah alamat ketika mengarahkan perbicaraan tentang keagungan para imam suci Ahlulbait Nabi saw. kepada pewaris-pewaris kebencian dan dendam kusumat Jahiliah para kaum kafir dan thilaqâ’ (tawanan yang dibebaskan Nabi saw. setelah penaklukan kota Makkah, seperti kebanyakan bani Umayyah) akibat kekalahan di Badr, Uhud, Khandaq dan Hunain.

Semoga Allah merahmati orang yang berbicara bijak bahwa Mu’awiyah telah mencetak kader-kader militant berupa anjing-anjing neraka di setiap zaman yang akan melanggengkan kesesatannya dan menjulurkan lidah najisnya untuk mencacat setiap hadis keutamaan Ahlulbait Nabi saw…

CATATAN KAKI

[1] Syawahid at Tanzîl,2/356 hadis 1125 al Manâqib, pasdal 17, hal.265-266 hadis.247 dari riwayat Ibnu Mardawaih, dan darinya as Suyuthi meriwayatkan dalam ad Durr al Mantsûr,6/643.

[2] J^ami’ al Bayân ‘An Ta’wîl al Qur’an,30/265.

[3] Ash Shawâiq, bab: 11 pasal pertama ayat ke sebelas hal:161.

[4] Tafsir Rûh al-Ma’âni,15/431.

[5] Syarah Nahj al Balâghah, jilid III/juz 11/14-17.

[6] Dirâsât al Labîb:437.

[7] At taqyîd wa al Îdhâh:73.

 

_______________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: