Bantahan Atas -haulasyiah-: HADIS BER-IQTIDA’ DENGAN ABUBAKAR DAN UMAR (BAGIAN III)

HADIS BER-IQTIDA’ DENGAN ABUBAKAR DAN UMAR (BAGIAN III)

SUMBER: jakfari.wordpress.com

Oleh Ibnu Jakfari

(Tulisan ini adalah rangkain bantahan Ibnu Jakfari atas artikel blog haulasyiah -Keutamaan Abu Bakar Dan Umar Di Atas Ali RadhiAllahu Anhum- bantahan sebelumnya berjudul Keutamaan Imam Ali as. Di Atas Abu Bakar Dan Umar )

____________________

Setelah Anda ketahui bersama kelemahan dan cacat pada jalur-jalur riwayat tersebut dalam kitab-kitab Shahih, maka tidak perlu lagi memperpanjang pembicaraan dengan mendiskusikan jalur-jalur lain dalam kitab-kitab lain yang secara kualitas jauh di bawah kitab-kitab Shahih tersebut….

Dan kini pembaca kami ajak untuk menyaksikan langsung komentar para ulama’ dan pakar hadis Ahlusunnah sendiri tentang kualitas hadis tersebut, bagaimana mereka mencacat dan menegaskan bahwa hadis itu palsu, maudhû’ baik dengan redaksi tegas tersebut maupun dengan vonis bâthil atau munkar atau lâ yashihhu atau mencacatnya dengan sisi-sisi cacat lainnya.

1. Komentar Abu Hatim ar Râzi (W.277H)

Imam Abu Hâtim Muhammad ibn Idris ar Râzi telah mencacat hadis ini sebagaiaman dikutip oleh al Munnâwi ketika mensyarahi hadis itu, ia berkata, “…dan Abu Hatim mencacatnya, dan al Bazzâr berpendapat seperti Ibnu Hazm, ia berkata, ‘hadis itu tidak sahih, sebab Abdul Malik tidak mendengarnya dari Rib’iy, dan Rib’iy tidak mendengarnya dari Hudzaifah, tetapi ia memilki syâhid…. .”[1]

Keagungan dan keimamahan Abu Hatim tidak diragukan sedikitpun oleh para ulama Ahlusunnah, ia disejajarkan dengan Imam Bukhari dan Muslim. Ibnu al Atsîr berkomentar tentangnya, “Beliau termasuk sejajar dengan Bukhari dan Muslim.”[2] Beliau adalah imam besar, hâfidz dan rujukan para ulama dalam penyelesaian hadis-hadis musykil, rumit.[3]Jadi keahlian dan kredebilitasnya dalam meneliti dan mengoreksi hadis dapat diakui dan diandalkan.

2. Komentar Abu Isa at Turmudzi (W.279H)

At Turmudzi juga telah mencacatnya, seperti telah lewat disebutkan. Beliau berkomentar tentangnya, “Hadis ini adalah gharîb dari sisi ini dari hadis Ibnu Mas’ud, kami tidak mengenalnya kecuali dari hadis riwayat Yahya ibn Salamah ibn Kuhali. Dan Yahya ibn Salamah dilemahkan dalam periwayatan hadis. Sedangkan Abu az Za’râ’ nama lengkapnya adalah Abdullah ibn Hâni’. Adapun Abu az Za’râ’ yang dikutip darinya oleh Syu’bah, ats Tsauri dan Ibnu ‘Uyainah namanya adalah Amr ibn Amr, ia adalah keponakan Abu al Ahwash, murid Ibnu Mas’ud.[4]

3. Komentar Al Bazzâr (W.292H)

Al Hâfidz Abu Bakar Ahmad ibn Abdul Khaliq yang masyhur dengan nama al Bazzâr, penulis kitab Musnad telah mencacatnya, seperti telah Anda baca dari kemontar al Munnâwi di atas.

Ketika menyebutnya, adz Dzahabi mensifatinya dengan ,”Asy Syaikh al Imam al Hâfidz al Kabîr, seorang tokoh, imam dan hafidz agung…. .”[5]

4. Al Hâfidz al ‘Uqaili (W.322H)

Dalam kitab adh Dh’afâ’-nya, ketika menyebut biodata Muhammad ibn Abdullah ibn Uar ibn al Qasim al Umari, menyebutkan jalur hadis iqtidâ’ dari Ibnu Umar melalui jalur Muhammad tersebut di atas (yang juga disinggung oleh ustadz as Sewed), setelahnya ia berkomentar, “Hadis munkar, tidak punya asal muassal dari hadis Malik.”[6]

Pencacatan al ‘Uqaili ini dikutip oleh Ibnu Hajar[7] dan adz Dzahabi[8] dan mereka berdua mendukungnya dan menjadikannya sebagai sandaran.

5. Abu al Hasan ad Dârulquthni (H. 385H)

Al Hâfidz ad Dârulquthni juga mencacat hadis ini. Setelah meriwayatkannya dari jalur al Umari, ia berkata, “Hadis ini tidak tetap adanya, dan al Umari dha’if.”[9]

6. Ibnu Hazm al Andalusi (W. 475H)

Ibnu Hazm al Andalusi juga mencacatnya, menegaskan kebatilannya dan melarang berhujjah dengannya… ketika membicarakan pendapat Syeikhain (Abu Bakar&Umar) ia berkomentar, “Adapun riwayat:

اقْتَدُوا باللذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ

adalah hadis tidak sahih, sebab ia diriwayatkan dari budak Rib’iy yang majhûl (tidak dikenal identitasnya) dari al Mufadhdhal adh Dhabbi, dan ia bukan hujjah (cacat).”

…dan setelah menyebutkan beberapa sanad riwayat itu, ia menambahkan, “Salim dha’if, sebagian orang menyebut budak sahaya Rib’iy itu dengan nama Hilâl maula Rib’iy, ia majhûl, tidak dikenal sama sekali. Dan andai hadis ini sahih pastilah ia hujjah yang memberatkan mereka (pengikut mazhab Maliki dan Syafi’i) sebab mereka paling banyak meninggalkan pendapat Abu Bakar dan Umar. Kami telah jelaskan bahwa para (ulama’) pengikut Malik telah menyalahi Abu Bakar tentang masalah-masalah yang diriwayatkan dalam Muwaththa’ saja dalam lima kasus, dan menyalahi Umar dalam sekitar tiga puluh kasus. Dan telah kami sebutkan juga bahwa Abu Bakar dan Umar saling menyalahi satu sama lainnya, dan mengikuti keduanya dalam hal yang mereka perselisihkan adalah hal mustahil… .”[10]

Dalam kitab al Fishal-nya, Ibu Hazm kembali berkomentar, “Anda kami membolehkan menipu dalam agama, tadlîs dan membolehkan berhujjah dengan sebuah perkara yang apabila musuh-musuh kami menemukannya pasti mereka akan terbang kegirangan, pastilah kami akan berhujjah dengan riwayat:

إقْتَدُوا باللذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ أبي بكْرٍ و عُمَرَ….

Ikutilah dua orang setelahku; Abu Bakar dan Umar…

Akan tetapi hadis itu tidak sahih, dan semoga Allah melingdungi kami dari berhujjah dengan hadis yang tidak sahih.”[11]

7. Adz Dzahabi (W.748H)

Dalam banyak kesempatan adz Dzahabi menegaskan cacat dan kepalsuan hadis iqtidâ’ ini. Dalam hal ini ia merujuk komentar para pakar ilmu hadis dan Rijâl. Di bawah ini kami akan kutp sebagian darinya.

§ Adz Dzahabi berkata, “Ahmad ibn Shulaih dari Dzin Nûn al Mishri dari Malik dari Nâfi’ dari Ibnu Umar dengan hadis:

إقْتَدُوا باللذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ

Dan ini adalah salah, ghalath, Ahmad tidak dapat diandalkan.”[12]

§ Ahmad ibn Muhammad ibn Ghalib al Bâhili, ghulâm, sahaya Khalil dari Ismail ibn Abi Uwais, Syaibân dan Qarrah ibn Habib. Dan darinya Ibnu Kâmil dan Ibnu as Sammâk dan sekelompok orang.

Dia (sahaya Khalil) adalah termasuk pembesar kaum zuhud di kota Baghdad. Ibnu Adi berkata, ‘Aku mendengar Abu Abdillah an Nahâwandi berkata, ‘aku berkata kepada ghulâm Khalil, ‘hadis-hadis apa ini tentang pelembut hati yang engkau sebar luaskan? Ia menjawab, ‘kami membuat-buatnya (memalsu) untuk memperlembut jiwa kaum awam.’

Abu Daud berkata, ‘Aku khawatir dia itu dajjalnya kota Baghdad.’ (dajjal=kadzdzaâb/pembohong besar).

Ad Dârulquthni berkata, ‘Ia perawi yang matrûk/ dibuang/ditinggalkan.’

Dan dari bencana bawaannya adalah ia berkata: Muhammad ibn Abdullah al Umari menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata Malik menyampaikan hadis kepada kami dari Nâfi’ dari Ibnu Umar, ia berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda:

إقْتَدُوا باللذَيْنِ مِنْ بَعْدِيْ أبي بكْرٍ و عُمَرَ….

Ikutilah dua orang setelahku; Abu Bakar dan Umar…

Hadis ini ditempelkan kepada Malik. Abu Bakar an Naqqâsy berkata, ‘… dia ini wâhin (lemah).’”[13]

§ Adz Dzahabi berkata, “Al ‘Uqaili menyebutnya, dan berkata, ‘Ia tidak sahih hadisnya, tidak dikenal sebagai menukil/periwayat hadis… (setelah menyebutkan hadis di atas darinya, ia berkata), ‘Riwayat ini tidak punya asal muasssal dari hadis Malik…’

Ad Dârulquthni berkata, ‘al Umari membawakan hadis-hadis batil dari Malik.’

Ibnu Mandah berkata, “Ia mepunyai hadis-hadis yang munkar.” [14]

Dalam Talkhîsh al Mustadrak-nya, setelah menyebutkan riwayat Ibnu Mas’ud, ad Dzahabi kembali berkomentar, “Aku berkata, ‘sanad hadis ini sangat lemah, wâhin jiddan.’”[15]

8. Ibnu Hajar al Asqallani (W.852H)

Al Hâfidz Ibn Hajar al Asqallani mengikuti jejak adz Dzahabi dalam mencacat hadis ini dalam banyak kesempatan dalam berbagai bukunya.

Pencacatan Ibnu Hajar atas hadis ini dapat Anda jumpai dalam Lisân al Mîzân,1/188,1/272 dan 5/237.

Setelah ini semua, apa nilai hadis perintah mengikuti Abu Bakar dan Umar yang selalu dianggat kaum Bakriyah, sekelompok “Ekstrimisme Sunni“ dan New Nawashib/Salafy sebagai hujjah dalam berbagai bahasan mereka, khususnya ketika mereka hendak menetapkan sebuah konsep?!

Sampai kapankah kaum Bakriyah bersikap acuh terhadap agama dengan membanggakan hadis palsu sebagai hujjah dan sampai kapankah kaum awam dibodohi dengan sajian aneka hadis palsu yang dianggapnya dalam mengangkat nama baik Syeikhain dan dengan niat menandingi keunggulan Imam Ali as. Yang tak mungkin tertandingi dengan hadis-hadis palsu seperti itu?

CATATAN KAKI

[1] Faidhu al Qadîr, Syarh al Jâmi’ ash Shaghîr,2/56.

[2] Al Kâmil fî at Târîkh,6/67. Pernyataan serupa juga disampaikan adz Dzahabi dalam Tadzkirah al Huffâdz,2/567.

[3] Al Ansâb; al Handzali,4/251-252 dan Siyar A’lâm an Nubalâ’,13/247.

[4] Sunan at Turmudzi,5/672, dan dengan syarah al Mubarakfûri,bab Manâqib Abdillah ibn Mas’ud ra. 10/308, hadis 3893.

[5] Tadzkirah al Huffâdz,2/228.

[6] Ad Dhu’afâ’ al Kabîr,4/95.

[7] Lisân al Mîzân,5/237.

[8] Mîzân al I’tidâl,3/610.

[9] Baca Lisân al Mîzân,5/237.

[10] Al Ihkâm,jilid 2, juz6 hal.242-243.

[11] Al Fishal Fî al Milal wa al Nihal,4/88.

[12] Mîzân al I’tidâl,1/105.

[13] Ibid.1/141.

[14] Ibid.3/610.

[15] Talkhîsh al Mustadrak,3/75.

 

_________________________________________________

BANTAHAN TERKAIT ATAS ARTIKEL haulasyiah “Keutamaan Abu Bakar dan Umar di Atas Ali RadhiAllahu Anhum”

  1. Bantahan Untuk haulasyiah: “KEUTAMA’AN IMAM ALI as. DIATAS ABUBAKAR DAN UMAR”
  2. Bantahan Atas haulasyi’ah: “Hadis Perintah Ber-iqtida’ Dengan Abubakar Dan Umar (Bagian I)”
  3. Bantahan Atas haulasyi’ah: “Hadis Perintah Ber-iqtida’ Dengan Abubakar Dan Umar (Bagian II)”
  4. Bantahan Atas haulasyi’ah: “Hadis Perintah Ber-iqtida’ Dengan Abubakar Dan Umar (Bagian III)”

_________________________________________________________________________

******************************************************************************

UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN -KLIK DISINI-

*******************************************************************************

%d blogger menyukai ini: