<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Haula Wahabiyah</title>
	<atom:link href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com</link>
	<description>Islam Versus Wahabi</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Nov 2011 15:23:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='haulawahabiyah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Haula Wahabiyah</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/osd.xml" title="Haula Wahabiyah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://haulawahabiyah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Oknum Salafiyun Mendistorsi Hadis Imam Ali</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/oknum-salafiyun-mendistorsi-hadis-imam-ali/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/oknum-salafiyun-mendistorsi-hadis-imam-ali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 15:22:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Salafy-Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syubuhat Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=964</guid>
		<description><![CDATA[Oknum Salafiyun Mendistorsi Hadis Imam Ali SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar Sebelumnya saya pernah berjanji dengan seseorang untuk membahas hadis ini. Hadis yang sering dijadikan hujjah oleh oknum salafiyun [you know lah siapa dia], hadis yang menurutnya membantah bahwa Imam Ali adalah pemimpin setelah Nabi SAW. Pada salah satu (atau beberapa) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=964&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Oknum Salafiyun Mendistorsi Hadis Imam Ali </strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/17/oknum-salafiyun-mendistorsi-hadis-imam-ali/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;">Sebelumnya saya pernah berjanji dengan <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-8263" target="_blank">seseorang</a> untuk membahas <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/09/imam-ali-mengakui-kepemimpinannya-hujjah-hadis-ghadir-khum/#comment-10927" target="_blank">hadis ini</a>. Hadis yang sering dijadikan hujjah oleh oknum salafiyun <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10788" target="_blank">[you know lah siapa dia]</a>, hadis yang menurutnya membantah bahwa Imam Ali adalah pemimpin setelah Nabi SAW. Pada salah satu (atau beberapa) thread disini, orang tersebut membawakan hadis berikut <span id="more-964"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Diriwayatkan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim at Taimi dari ayahnya, dia berkata, “Ali bin Abi Thalib berpidato di hadapan kami dan berkata”, <span style="color:#0000ff;">“Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah)</span> selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah (secarik kertas yang tersimpan dalam sarung pedangnya berisi tentang umur unta dan diyat tindakan kriminal) maka sesungguhnya dia telah berkata dusta! Dan diantara sahifah itu disebutkan sabda Rasulullah “Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Ir dan Tsaur, maka barang siapa membuat sesuatu yang baru atau melindungi orang tersebut maka atasnya laknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan. dan barangsiapa menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya ataupun menisbatkan dirinya kepada selain tuannya, maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan, dan sesungguhnya dzimmah (jaminan yang diberikan kaum muslimin thd orang kafir) adalah satu. Maka barangsiapa merusak dzimmah seorang mukmin maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan maupun suapan” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad)</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Orang itu mengatakan bahwa Imam Ali tidak merasa mendapat wasiat jadi hadis-hadis tentang kepemimpinan Imam Ali itu tertolak. Dengan berat hati kami katakan orang itu benar-benar keliru [kalau tidak mau dikatakan berdusta]. Ia keliru memahami hadis tersebut dan [entah sengaja atau tidak] ia mendistorsi teks hadis yang dijadikan hujjah olehnya. Kami akan membawakan teks asli hadis tersebut dalam kitab Shahih Muslim dan Musnad Ahmad</p>
<h2 style="text-align:right;">وحدثنا أبو كريب حدثنا أبو معاوية حدثنا الأعمش عن إبراهيم التيمي عن أبيه قال خطبنا علي بن أبي طالب فقال من زعم أن <span style="color:#0000ff;">عندنا شيئا نقرأه إلى كتاب الله وهذه الصحيفة</span> ( قال وصحيفة معلقة في قراب سيفه ) فقد كذب فيها أسنان الإبل وأشياء من الجراحات وفيها قال النبي صلى الله عليه و سلم المدينة حرم ما بين عير إلى ثور فمن أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفا ولا عدلا وذمة المسلمين واحدة يسعى أدناهم ومن ادعى إلى غير أبيه أو انتمى إلى غير مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفا ولا عدلا</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amasy dari Ibrahim At Taimi dari Ayahnya bahwa Ali bin Abi Thalib berkhutbah “Barang siapa mengatakan <span style="color:#0000ff;">bahwa kami memiliki <span style="text-decoration:underline;">sesuatu yang kami baca</span> selain Kitab Allah dan Shahifah (lembaran) ini</span> [berkata Ayah Ibrahim : lembaran yang tergantung di sarung pedangnya] maka sungguh dia telah berdusta. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang umur unta dan diyat. Di dalamnya juga terdapat perkataan Nabi SAW “Madinah itu adalah tanah haram dari ‘Air hingga Tsaur. Barang siapa yang membuat maksiat di Madinah atau membantu orang yang membuat maksiat maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Jaminan perlindungan(dzimmah) kaum muslimin itu sama dan berlaku pula oleh orang yang terendah dari mereka. Barangsiapa menasabkan diri kepada orang yang bukan ayahnya atau menisbatkan diri kepada selain maulanya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. <strong>[Shahih Muslim 2/994 no 1370 dan Shahih Muslim 2/1146 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi]</strong><br />
</em><br />
Maka perhatikanlah hadis Shahih Muslim di atas dan hadis yang dibawakan oleh orang itu</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Orang itu membawa hadis dengan lafaz “Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki <span style="text-decoration:underline;"><strong>sesuatu wasiat (dari Rasulullah)</strong></span> selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah”</em></li>
<li><em>Sedangkan lafaz hadis yang benar adalah “Barang siapa mengatakan bahwa kami memiliki <span style="text-decoration:underline;"><strong>sesuatu yang kami baca </strong></span>selain Kitab Allah dan Shahifah”.</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ada perbedaan yang krusial dari kedua lafaz yang berbeda ini. Lafaz hadis yang asli tidaklah menafikan bahwa Rasulullah SAW telah menetapkan <em>Imam Ali sebagai pemimpin atau khalifah setelah Beliau</em> sebagaimana yang tertera dalam hadis shahih. Sedangkan lafaz yang dibawa orang itu hanyalah angan-angannya semata yang berkeras ingin membantah hadis shahih. Kemudian perhatikan hadis riwayat Ahmad berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا محمد بن جعفر ثنا شعبة عن سليمان عن إبراهيم التيمي عن الحرث بن سويد قال قيل لعلي رضي الله عنه <span style="color:#0000ff;">أن رسولكم كان يخصكم بشيء دون الناس عامة</span> قال ما خصنا رسول الله صلى الله عليه و سلم بشيء لم يخص به الناس إلا بشيء في قراب سيفى هذا فاخرج صحيفة فيها شيء من أسنان الإبل وفيها ان المدينة حرم من بين ثور إلى عائر من أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فإن عليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه يوم القيامة صرف ولا عدل وذمة المسلمين واحدة فمن أخفر مسلما فعليه لعنه الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه يوم القيامة صرف ولا عدل ومن تولى مولى بغير أذنهم فعليه لعنه الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه يوم القيامة صرف ولا عدل</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sulaiman dari Ibrahim At Taimi dari Al Harts bin Suwaid bahwa dia berkata “Ditanyakan kepada Ali, <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">Apakah Rasul kalian pernah menyampaikan sesuatu secara khusus kepada kalian dimana Beliau tidak menyampaikannya kepada seluruh manusia?</span></span>. Ali menjawab Rasulullah SAW tidak pernah menyampaikan sesuatu secara khusus kepada kami dimana Beliau tidak menyampaikannya kepada manusia kecuali sesuatu yang ada dalam sarung pedangku ini. Ali pun mengeluarkan lembaran yang berisi sesuatu dari umur unta. Dalam lembaran tersebut tertulis “Madinah itu adalah tanah haram dari ‘Air hingga Tsaur. Barang siapa yang membuat maksiat di Madinah atau membantu orang yang membuat maksiat maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Jaminan perlindungan(dzimmah) kaum muslimin itu sama dan barang siapa melanggarnya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. Barang siapa memperbudak seorang budak tanpa seizinnya maka dia akan mendapat laknat Allah, para malaikat dan umat manusia seluruhnya dan tidak akan diterima taubat dan tebusannya di hari kiamat kelak. <strong>[Musnad Ahmad 1/151 no 1297 tahqiq Syaikh Syu’aib Al Arnaut dan ia berkata “hadis shahih sesuai dengan syarat Bukhari Muslim. Syaikh Ahmad Syakir dalam Syarh Musnad Ahmad no 1297 menyatakan bahwa sanad ini merupakan sanad yang paling shahih]</strong><br />
</em><br />
Hadis di atas juga tidak bisa dijadikan hujjah untuk menentang <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis shahih bahwa Imam Ali pemimpin atau khalifah setelah Nabi SAW </em></span>karena pernyataan bahwa Imam Ali sebagai pemimpin telah diucapkan Rasulullah SAW kepada para sahabat. Bukankah sangat masuk akal kalau Rasulullah SAW ingin menetapkan seseorang sebagai pemimpin maka Rasulullah SAW akan mengatakannya kepada manusia, Rasulullah SAW jelas tidak akan hanya berbicara kepada Imam Ali saja. Beliau seperti yang tertera dalam hadis shahih telah mengucapkan hadis-hadis kepemimpinan Imam Ali kepada para sahabat. Dan sebagaimana yang juga tertera dalam kabar shahih bahwa <span style="color:#0000ff;"><em>Imam Ali telah meminta kesaksian para sahabat mengenai hadis kepemimpinan Beliau</em>.</span> Mana mungkin ucapan tersebut hanya khusus disampaikan kepada Imam Ali saja karena terbukti Imam Ali justru meminta kesaksian mereka yang mendengar hadis tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Akhir kata kami katakan betapa lucunya para oknum salafiyun itu berhujjah, mereka seolah tidak memahami hadis yang mereka jadikan hujjah dan mereka bahkan tidak memahami apa yang ingin mereka bantah <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
<p style="text-align:justify;">******************</p>
<p><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></p>
<ol>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/21/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait-2/" target="_blank">Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/pengantar-jawaban-untuk-sdr-jakfar-maaf-maaf-perhatian-sebelumnya/" target="_blank">Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kekhalifahan-sunni/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kekhalifahan Sunni)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-12-khalifah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis 12 Khalifah)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/" target="_blank">Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali</a></li>
<li><a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/" target="_blank">Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW”</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw-bantahan-untuk-abul-jauza/" target="_blank">Analisis Tafsir Salafy Terhadap Hadis Ali Khalifah Setelah Nabi SAW</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/al-mahdi-khalifah-allah-swt/" target="_blank">Al Mahdi Khalifah Allah SWT</a></li>
</ol>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><strong><span style="color:#008000;">UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN</span> <span style="color:#0000ff;"> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/17/oknum-salafiyun-mendistorsi-hadis-imam-ali/#comments" target="_blank">-KLIK DISINI-</a></span></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<p>.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;text-decoration:underline;"><strong>BEBERAPA DISKUSI PENULIS DENGAN PEMBACA</strong></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>kembali ke aqidah yg benar</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/17/oknum-salafiyun-mendistorsi-hadis-imam-ali/#comment-11014">Oktober 17, 2009 at 11:32 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@sp</p>
<p style="text-align:justify;">Ada lagi nih…:</p>
<p style="text-align:justify;">“Ditanyakan kepada ‘Aisyah, mengenai perkataan orang-orang yang menerangkan bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam telah memberikan wasiat kepada Ali (untuk menjadi khalifah) maka ia berkata, “Apa yang diwasiatkan Rosululloh kepada Ali?” ‘Aisyah menjawab, ‘Beliau (Rosululloh) menyuruh agar bejana tempat buang air kecil dibawakan, kemudian ia bersandar dan akulah yang menjadi tempat sandarannya, tak lama kepala beliau terkulai jatuh dan ternyata beliau telah wafat tanpa aku ketahui.’ Jadi bagaimana mungkin orang-orang itu mengatakan bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam memberikan wasiat kepada Ali?”</p>
<p style="text-align:justify;">(Shahih Bukhari, kitab al-Wasaya 5/356 dari Fathul Bari dan Muslim, kitab al-Waisyah hadits no. 1637)</p>
<p style="text-align:justify;">Tolong dong, di mana letak distorsinya? dg analisa anda.</p>
<p style="text-align:justify;">DITUNGGU LOH… halaman blognya yg baru untuk ini.</p>
<p style="text-align:justify;">**********************</p>
<p style="text-align:justify;">@kembali ke aqidah yang benar</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Ditanyakan kepada ‘Aisyah, mengenai perkataan orang-orang yang menerangkan bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam telah memberikan wasiat kepada Ali (untuk menjadi khalifah)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">bawa aja tuh teks arabnya, saya mau lihat kata yang di dalam kurung itu ada apa kagak? <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p style="text-align:justify;">******************</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>antirafidhah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/17/oknum-salafiyun-mendistorsi-hadis-imam-ali/#comment-11030">Oktober 18, 2009 at 11:54 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Hehehe .. apa bedanya dengan terjemahan SP yang menerjemahkan Tsaqalain dengan “dua pusaka”</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi Oke lah kita ikutin terjemahan &amp; logika SP mengenai hadits tersebut, saya sih tidak terlalu mengambil perhatian dg tuduhan2 nya dan mari kita perhatikan teks-teks hadits yg lain yang masih berhubungan dengan khutbah Imam Ali tersebut.</p>
<p style="text-align:right;">حدثنا ‏ ‏محمد بن كثير ‏ ‏أخبرنا ‏ ‏سفيان ‏ ‏عن ‏ ‏الأعمش ‏ ‏عن ‏ ‏إبراهيم التيمي ‏ ‏عن ‏ ‏أبيه ‏ ‏عن ‏ ‏علي ‏ ‏رضي الله عنه ‏ ‏قال ‏<br />
‏ما كتبنا عن رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إلا القرآن وما في هذه الصحيفة قال قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏المدينة ‏ ‏حرام…</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Al-A’masyi dari Ibrahim At-Taimi dari Ali radhiyallahu ‘anhu : “Kami tidak mencatat/menulis sesuatu dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam kecuali Al-Qur’an dan apa yang ada pada shahifah”. Bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam : “Madinah itu adalah tanah haram… (HR Abu Dawud dalam Kitab Manasik 2/216)</em></p>
<p style="text-align:right;">عَنْ أَبِي الطًُّفَيْلِ قَالَ سُئِلَ عَلِيٌّ أَخَصَّكُمْ رُسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَمَ بِشَيْءٍ فَقَالَ مَا خَصَّنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَيْءٍ لَمْ يَعُمْ بِهِ النَّاسَ كَافَّةً إِلاَّ مَا كَانَ فِي قُرَابِ سَيْفِي هَذَا قَالَ فَأَخْرَجَ صَحِيْفَةً مَكْتُوْبٌ فِيْهَا لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ…</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Diriwayatkan dari Abu Thufail bahwa Ali radhiallahu ‘anhu ditanya: “Apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam <strong>mengkhususkan sesuatu kepadamu</strong>?. Maka beliau menjawab: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam <strong>tidak mengkhususkan aku dengan sesuatu pun </strong>yang beliau tidak menyebarkannya kepada manusia, kecuali apa yang ada di sarung pedangku ini. Kemudian beliau mengeluarkan lembaran dari sarung pedangnya yang tertulis padanya: Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah… “ (HR Muslim, Bab Kitab Adhahi, bab Tahriimu dzabhi lighairillahi wa la’nu faa’ilihi)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan bahwa riwayat di atas juga dari shahih Muslim dan teksnya mirip dengan riwayat Ahmad. Bagi saya, yang dimaksud oleh si penanya dengan istilah “mengkhususkan sesuatu kepadamu” adalah wasiat Rasulullah yang khusus diberikan hanya kepada Imam Ali yang berbentuk tulisan, dan hal ini diketahui berdasarkan jawaban dari Imam Ali dengan menunjukkan sahifah/lembaran yang ada pada sarung pedangnya yang isinya sama sekali tidak ada hubungannya dengan penunjukkan khalifah terhadap beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari semua teks riwayat-riwayat di atas, jelas Imam Ali tidak mendapatkan sesuatu yang khusus berbentuk tulisan atau catatan atau bacaan yang berupa apapun, baik itu berupa perintah khusus, wasiat dll dari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kecuali Kitabullah dan Shahifah/lembaran yang ada pada sarung pedang beliau. Maka secara otomatis bisa dikatakan tidak ada wasiat penunjukkan terhadap Imam Ali berkenaan dengan khalifah dalam bentuk tulisan.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka di sini saya pahami, SP pun mengakuinya memang tidak ada wasiat atau perintah khusus atau apapun istilahnya yang berbentuk tulisan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengenai pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang saya tangkap, SP menganggap bahwa wasiat pengangkatan Imam Ali adalah berbentuk lisan, yaitu telah disampaikan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pada peristiwa Ghadir Khum.</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal sudah jelas anggapan SP tersebut tidak benar,</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, apapun hadits yang SP pakai, entah itu hadits ghadir khum ataupun hadits manzilah. Semuanya tidak menunjukkan pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah pengganti Rasulullah setelah beliau wafat. Melainkan hanya penunjukkan ataupun deklarasi yang sifatnya parsial pada saat itu sesuai konteks yang terjadi saat itu dan konteksnya pun sangat jelas berbeda dengan apa yang SP &amp; kaum syi’ah lainnya pahami. Tetapi ya namanya pemahaman tekstual yang memang kayak gitu.. susah jadinya.. <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1308958621g" alt=":lol:" /></p>
<p style="text-align:justify;">Yang kedua, tambahan riwayat yang menyebut kata “khalifah” pada hadits Ghadir Khum maupun hadits Manzilah jelas masih diperselisihkan oleh para ulama mengenai keshahihannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang ketiga, Imam Ali sendiri terlihat tidak merasa kalau dirinya ditunjuk sebagai khalifah pengganti Rasul setelah beliau wafat. Hal ini terlihat jelas dalam riwayat berikut ini:</p>
<p style="text-align:right;">عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنَ عَبَّاسٍ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عَنْهُ خَرَجَ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْعِهِ الَّذِي تُوُفِّىَ فِيْهِ فَقَالَ النَّاسُ: يَا أَبَا الْحَسَنِ كَيْفَ أَصْبَحَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَصْبَحَ بِحَمْدِ اللهِ بَارِئًا فَأَخَذَ بِيَدِهِ الْعَبَّاسُ فَقَالَ لَهُ أَلاَ تَرَاهُ أَنْتَ وَاللهِ بَعْدَ ثَلاَثٍ عَبْدُ الْعَصَا وَاللهِ إِنِّي َلأَرَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوْفَ تُوُفِّىَ فِي وَجْعِهِ وَإِنِّي َلأَعْرِفُ فِي وُجُوْهِ بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ الْمَوْتَ فَاذْهَبْ بِنَا إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَسْأَلُهُ فِيْمَنْ هَذَا اْلأمْرُ؟ فَإِنْ كَانَ فِيْنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ وَإْنْ كَانَ فِي غَيْرِنَا عَلِمْنَا ذَلِكَ فَأَوْصَى بِنَا. قَالَ عَلِيُّ وَاللهِ لَئِنْ سَأَلْنَاهَا رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنَعْنَاهَا لاَ يُعْطِيْنَاهَا النَّاسُ بَعْدَهُ وَإِنِّي وَاللهِ لاَ أَسْأَلُهَا رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. رواه البخاري</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Ali bin Abi Thalib keluar dari sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: “Wahai Abal Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam?” Beliau menjawab: “Alhamdulillah baik”. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Engkau, demi Allah, setelah tiga hari ini akan menjadi hamba tongkat (akan diperintah oleh seseorang). Sungguh aku mengerti bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan kepada siapa urusan ini dipegang? Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun mengetahuinya. atau kita minta agar beliau mewasiatkan kepada kita *). Ali bin Abi Thalib menjawab: “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakannya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan memintanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447)<br />
*) “Dan Rasulullah bisa berwasiat padanya agar menjaga kita” (Tarikh Ibnu Hisyam 2/654)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Jelas sekali pada teks hadits di atas, Al-Abbas mengajak Imam Ali menanyakan siapa yang akan memegang urusan kepemimpinan sepeninggal Rasul, hal ini membuktikan bahwa Abbas tidak menganggap/merasa bahwa Ali telah ditunjuk oleh Rasulullah sebelumnya sebagai khalifah, Imam Ali sendiripun ternyata tidak merasa Rasulullah menunjuk diri beliau menjadi khalifah pengganti Rasul sebelum peristiwa tersebut dan bahkan beliau tidak mau memintanya kepada Rasul. Seandainya benar Imam Ali telah ditunjuk oleh Rasul –misalnya- pada saat di Ghadir Khum, tentu beliau langsung akan mengatakan kepada Al-Abbas bahwa beliau sudah ditunjuk oleh Nabi pada saat di Ghadir Khum, tetapi kenyataannya tidak ada keluar kata-kata seperti itu dari Imam Ali mengenai hal itu. Dan dari hadits di atas juga dapat diambil kesimpulan bahwa mereka berdua (Al-Abbas dan Ali) tidak mengetahui siapa yang akan memegang kepemimpinan setelah Rasul, sehingga mereka perlu bertanya kepada Rasul mengenai hal itu. maka tidak syak lagi hadits ghadir khum ataupun hadits manzilah bukanlah nash penunjukkan imam Ali menjadi khalifah setelah Rasul. Saya kira hal ini sudah sangat jelas, hanya orang syi’ah dan terpengaruh paham syi’ah saja yang menolaknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lebih jelas lagi perkataan Imam Ali dalam riwayat berikut ini:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Al-Hafidz Al-Baihaqi berkata : “telah berkata kepada kami Abu Abdullah Al-Hafidz, dia berkata, telah berkata kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ahmad Al-Mazki di Marwa, dia berkata, telah berkata kepada kami Abdullah bin Rauh Al-Madaini, dia berkata, telah berkata kepada kami Syabbabah bin Sawwar, dia berkata, telah berkata kepada kami Syu’aib bin Maimun dari Husein bin Abdurrahman, dari As-Sya’bi dari Abu Wa’il, dia berkata, “pernah ditanyakan kepada Ali bin Abi Thalib ra, “Apakah engkau tidak memilih penggantimu untuk kami?” Beliau menjawab, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memilih penggantinya, kenapa aku harus memilih? Namun jika Allah ingin kebaikan untuk manusia, Dia pasti akan mengumpulkan segala urusan mereka di bawah pimpinan orang yang terbaik dari mereka sebagaimana Allah telah memilih pemimpin terbaik setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dari orang yang terbaik diantara mereka”. “Sanadnya baik, namun mereka tidak meriwayatkannya”. (Dalail an-Nubuwwah 7/223, dan Uqbah berkata, Syahid (penguat hadits) dari Ali ra kemudian menyebutkan hadits yang akan datang dengan sanadnya). </em></p>
<p style="text-align:justify;">hehehe.. ternyata Imam Ali pun sepaham dengan kita dengan kata2 beliau : <strong>jika Allah ingin kebaikan untuk manusia, Dia pasti akan mengumpulkan segala urusan mereka di bawah pimpinan orang yang terbaik dari mereka sebagaimana Allah telah memilih pemimpin terbaik setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dari orang yang terbaik diantara mereka”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Sufyan ats-Tsauri berkata, Aswad bin Qais meriwayatkan dari Amru bin Sufyan, dia berkata, “Ketika Ali menang dalam perang Jamal, beliau berpidato, “Wahai sekalian manusia sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menjanjikan kepada kami untuk mendapatkan jabatan ini sama sekali. Kami sepakat bahwa bahwa Abu Bakar lah yang pantas menggantikan beliau. Dan ternyata beliau dapat menjalankan kepemimpinannya dengan baik hingga beliau wafat. Kemudian menurut Abu Bakar, Umar-lah yang lebih layak, maka beliau memilih Umar. Dan ternyata Umar juga dapat menjalankan amanah dengan istiqomah hingga beliau wafat –atau dia berkata- hingga beliau dapat menegakkan agama”. (Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah 7/223).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dan di bawah ini adalah perkataan cucu Imam Ali ra :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Nu’aim menuturkan dari Hasan al-Mutsanna ibn al-Hasan as-Sibth al-Akbar bahwa mereka bertanya kepada Ibn al-Hasan tentang hadits “Barangsiapa mengakui aku sebagai walinya apakah hadits ini merupakan nash untuk kekhalifahan Ali. Jawabnya: “Seandainya Nabi memaksudkan hadits itu sebagai nash bagi kekhalifahan Ali, tentu beliau akan mengungkapkannya dengan tegas dan jelas seperti berikut ini: “Hai manusia, inilah wali urusanku dan yang akan memimpin kamu semua setelahku, dengarkanlah dan patuhilah dia!” Kata Hasan selanjutnya: “Demi Allah, seandainya Allah dan RasulNya memilih Ali sebagai pemimpin, dan ia tidak melaksanakan perintah Allah dan Rasul itu, maka tentu ia termasuk orang yang paling berdosa, lantaran tidak melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.” Seorang bertanya: “Tidakkah Rasulullah saw telah bersabda: “Barangsiapa mengakui aku sebagai walinya, maka Ali adalah juga walinya?” Jawab Hasan: “Tidak. Demi Allah, seandainya Rasulullah menghendaki Ali sebagai khalifah, pasti ia akan mengatakan dengan jelas, dan menerangkannya sebagaimana ia menerangkan shalat dan zakat, dan berkata: “Hai manusia, sesungguhnya Ali adalah pemegang urusanmu setelahku, dan yang akan menegakkan urusanku di tengah-tengah manusia. (Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna Asy’ariyah, hal. 161, diriwayatkan juga oleh Ibnu Sa’ad dalam al-Thabaqat al-Kubra, Jilid 5).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Yang keempat, Bukti yang sangat nyata adalah bahwa Allah dan kaum mukminin menghendaki Abu Bakar menjadi khalifah setelah Rasul termasuk Imam Ali dengan bai’at beliau kepada Abu Bakar.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang ada riwayat Imam Ali telah mengingatkan kepada orang-orang mengenai hadits ghadir khum di masa pemerintahannya, tetapi jelas bukan agar orang-orang mau mengangkatnya sebagai khalifah, karena saat itu beliau sudah menjadi khalifah yang sah, tetapi beliau melakukan hal tsb agar orang-orang yang masih tidak ta’at kepada beliau untuk ta’at, dan diharapkan orang-orang yang membenci beliau disebabkan fitnah terbunuhnya Khalifah Utsman bisa berubah setelah mendengar hadits keutamaan beliau tersebut, Sebagaimana hal itu telah Rasulullah lakukan di Ghadir Khum dalam rangka membela Imam Ali dan mengembalikan loyalitas pasukannya yg merasa kecewa thd beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi betapa lucunya SP dan kaum Syi’ah lainnya ngotot mengklaim hadits Ghadir Khum sebagai dalil pengangkatan Imam Ali sebagai Khalifah pengganti Rasul setelah beliau wafat, sedangkan Imam Ali sendiri tidak pernah merasa… <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p style="text-align:justify;">****************</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/17/oknum-salafiyun-mendistorsi-hadis-imam-ali/#comment-11031">Oktober 19, 2009 at 6:15 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@antirafidhah</p>
<blockquote><p>Hehehe .. apa bedanya dengan terjemahan SP yang menerjemahkan Tsaqalain dengan “dua pusaka”</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Beda bangetlah, dengan terjemahan tersebut saya tidak membuat distorsi terhadap makna hadisnya. Berbeda dengan apa yang anda lakukan yaitu mendistorsi maknanya <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958621g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan bahwa riwayat di atas juga dari shahih Muslim dan teksnya mirip dengan riwayat Ahmad. Bagi saya, yang dimaksud oleh si penanya dengan istilah “mengkhususkan sesuatu kepadamu” adalah wasiat Rasulullah yang khusus diberikan hanya kepada Imam Ali yang berbentuk tulisan,</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">nah jauh beda kan dengan tafsiran anda sebelumnya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Yang saya tangkap, SP menganggap bahwa wasiat pengangkatan Imam Ali adalah berbentuk lisan, yaitu telah disampaikan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pada peristiwa Ghadir Khum.</p>
<p>Padahal sudah jelas anggapan SP tersebut tidak benar,</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">ah saya rasa anggapan anda yang tidak benar <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pertama, apapun hadits yang SP pakai, entah itu hadits ghadir khum ataupun hadits manzilah. Semuanya tidak menunjukkan pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah pengganti Rasulullah setelah beliau wafat.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">ho ho ho lafaz hadisnya jelas kok, kalau gak setuju dengan hadisnya yo wes, apa mau dikata <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958621g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Melainkan hanya penunjukkan ataupun deklarasi yang sifatnya parsial pada saat itu sesuai konteks yang terjadi saat itu dan konteksnya pun sangat jelas berbeda dengan apa yang SP &amp; kaum syi’ah lainnya pahami.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">gitu deh kalau mengada-ada. sok bicara konteks. Konteks itu tetap bersandar pada qarinah di lafaz hadisnya bukan dari angan-angan. Apalagi tulisan terbaru anda soal penakwilan hadis ghadir khum yang anda kaitkan soal Yaman (tulisan blog alfanarku), itu mah terlalu mengada-ada. Di khutbah Ghadir Khum tidak ada sedikitpun Rasulullah SAW menyinggung soal insiden rampasan di Yaman. kelihatan jelas kan siapa yang mengada-ada <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Tetapi ya namanya pemahaman tekstual yang memang kayak gitu.. susah jadinya..</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Yah kalau teks hadis dipelintir-pelintir agar sesuai dengan keyakinannya, bisa repot, padahal hadis shahih adalah penentu keyakinan siapa yang benar <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Yang kedua, tambahan riwayat yang menyebut kata “khalifah” pada hadits Ghadir Khum maupun hadits Manzilah jelas masih diperselisihkan oleh para ulama mengenai keshahihannya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">yah kalau ulamanya gak setuju dengan hadis lafaz tersebut, dia pasti bakal cari-cari cara untuk mencacatkan hadisnya. Tapi usaha mandul begitu mudah sekali ketahuan oleh mereka yang belajar ilmunya, bukan sekedar taklid semata <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958621g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>Yang ketiga, Imam Ali sendiri terlihat tidak merasa kalau dirinya ditunjuk sebagai khalifah pengganti Rasul setelah beliau wafat. Hal ini terlihat jelas dalam riwayat berikut ini:</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">oh apakah itu hadis bicara soal kekhalifahan ya, tahu dari mana anda <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Jelas sekali pada teks hadits di atas, Al-Abbas mengajak Imam Ali menanyakan siapa yang akan memegang urusan kepemimpinan sepeninggal Rasul,</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">pada teks yang mana ya yang menyebut <em><strong>kepemimpinan sepeninggal Rasul</strong></em>. btw hadis-hadis dari kitab Dalail yang anda jadikan hujjah, bisa tolong dibawakan teks arabnya, biar lebih jelas gitu <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Abu Nu’aim menuturkan dari Hasan al-Mutsanna ibn al-Hasan as-Sibth al-Akbar bahwa mereka bertanya kepada Ibn al-Hasan tentang hadits “Barangsiapa mengakui aku sebagai walinya apakah hadits ini merupakan nash untuk kekhalifahan Ali. Jawabnya: “Seandainya Nabi memaksudkan hadits itu sebagai nash bagi kekhalifahan Ali, tentu beliau akan mengungkapkannya dengan tegas dan jelas seperti berikut ini: “Hai manusia, inilah wali urusanku dan yang akan memimpin kamu semua setelahku, dengarkanlah dan patuhilah dia!” Kata Hasan selanjutnya: “Demi Allah, seandainya Allah dan RasulNya memilih Ali sebagai pemimpin, dan ia tidak melaksanakan perintah Allah dan Rasul itu, maka tentu ia termasuk orang yang paling berdosa, lantaran tidak melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya.” Seorang bertanya: “Tidakkah Rasulullah saw telah bersabda: “Barangsiapa mengakui aku sebagai walinya, maka Ali adalah juga walinya?” Jawab Hasan: “Tidak. Demi Allah, seandainya Rasulullah menghendaki Ali sebagai khalifah, pasti ia akan mengatakan dengan jelas, dan menerangkannya sebagaimana ia menerangkan shalat dan zakat, dan berkata: “Hai manusia, sesungguhnya Ali adalah pemegang urusanmu setelahku, dan yang akan menegakkan urusanku di tengah-tengah manusia. (Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna Asy’ariyah, hal. 161, diriwayatkan juga oleh Ibnu Sa’ad dalam al-Thabaqat al-Kubra, Jilid 5).</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Hadis-hadis shahih membuktikan bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Engkau adalah Pemimpin setiap mukmin setelahku”. lafaz yang jelas <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958621g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Yang keempat, Bukti yang sangat nyata adalah bahwa Allah dan kaum mukminin menghendaki Abu Bakar menjadi khalifah setelah Rasul termasuk Imam Ali dengan bai’at beliau kepada Abu Bakar.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Bukti nyata sebagian kaum mukminin berselisih soal kekhalifahan Abu Bakar, ada yang tidak mau berbaiat sampai-sampai mereka diancam mau dibakar rumahnya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Memang ada riwayat Imam Ali telah mengingatkan kepada orang-orang mengenai hadits ghadir khum di masa pemerintahannya, tetapi jelas bukan agar orang-orang mau mengangkatnya sebagai khalifah, karena saat itu beliau sudah menjadi khalifah yang sah,</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">itu artinya beliau menginginkan kekhalifahan itu tegak dengan dasar hadis ghadir khum.</p>
<blockquote><p>tetapi beliau melakukan hal tsb agar orang-orang yang masih tidak ta’at kepada beliau untuk ta’at, dan diharapkan orang-orang yang membenci beliau disebabkan fitnah terbunuhnya Khalifah Utsman bisa berubah setelah mendengar hadits keutamaan beliau tersebut,</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">apa iya, silakan tunjukkan buktinya <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958621g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>Sebagaimana hal itu telah Rasulullah lakukan di Ghadir Khum dalam rangka membela Imam Ali dan mengembalikan loyalitas pasukannya yg merasa kecewa thd beliau.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Nah ini yang saya bilang tafsiran mengada-ada, di ghadir khum khutbah Rasulullah SAW sedikitpun tidak menyinggung soal orang-orang yang kecewa, insiden rampasan perang di Yaman. Justru di sana Rasul SAW berwasiat agar umat islam berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Itrati Ahlul Bait kemudian Rasulullah menegaskan kepemimpinan Imam Ali. itu isi khutbah yang sangat jelas</p>
<blockquote><p>Jadi betapa lucunya SP dan kaum Syi’ah lainnya ngotot mengklaim hadits Ghadir Khum sebagai dalil pengangkatan Imam Ali sebagai Khalifah pengganti Rasul setelah beliau wafat, sedangkan Imam Ali sendiri tidak pernah merasa…</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Yang lucu itu orang yang menghalalkan segala cara untuk menolak hadis-hadis shahih karena hadis tersebut bertentangan dengan keyakinan mahzab mereka. Penolakannya bisa macem-macem, ada yang keras menolak hadisnya dan ada yang membuat tafsiran mengada-ada untuk memelintir hadisnya agar sesuai dengan mahzabnya. Padahal hadis shahih sebaik-baik bukti yang berbicara <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">****************</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong><span style="color:#800000;">Komen dan diskusi selanjutnya silahkan berkunjung langsung </span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/17/oknum-salafiyun-mendistorsi-hadis-imam-ali/#comments" target="_blank">KESINI</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em><br />
</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/964/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/964/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/964/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/964/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/964/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/964/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/964/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/964/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=964&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/oknum-salafiyun-mendistorsi-hadis-imam-ali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958621g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Imam Ali Mengakui Kepemimpinannya : Hujjah Hadis Ghadir Khum</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/imam-ali-mengakui-kepemimpinannya-hujjah-hadis-ghadir-khum/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/imam-ali-mengakui-kepemimpinannya-hujjah-hadis-ghadir-khum/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 14:53:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=960</guid>
		<description><![CDATA[Imam Ali Mengakui Kepemimpinannya : Hujjah Hadis Ghadir Khum SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=960&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Imam Ali Mengakui Kepemimpinannya : Hujjah Hadis Ghadir Khum</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/09/imam-ali-mengakui-kepemimpinannya-hujjah-hadis-ghadir-khum/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong>Hadis Ghadir Khum yang menunjukkan kepemimpinan Imam Ali adalah salah satu hadis shahih yang sering dijadikan hujjah oleh kaum Syiah dan ditolak oleh kaum Sunni. Kebanyakan mereka yang mengingkari hadis ini membuat takwilan-takwilan agar bisa disesuaikan dengan keyakinan mahzabnya. Padahal Imam Ali sendiri mengakui kalau hadis ini adalah hujjah bagi kepemimpinan Beliau. Hal ini terbukti dalam riwayat-riwayat yang shahih dimana <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><em>Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum</em></span>. .<span id="more-960"></span></p>
<h2 style="text-align:right;">عن سعيد بن وهب وعن زيد بن يثيع قالا نشد على الناس في الرحبة من سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يوم غدير خم الا قام قال فقام من قبل سعيد ستة ومن قبل زيد ستة فشهدوا انهم سمعوا رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول لعلي رضي الله عنه يوم غدير خم أليس الله أولى بالمؤمنين قالوا بلى قال اللهم من كنت مولاه فعلي مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Sa’id bin Wahb dan Zaid bin Yutsai’ keduanya berkata “Ali pernah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang “Siapa yang telah mendengar Rasulullah SAW bersabda pada hari Ghadir Khum maka berdirilah?. Enam orang dari arah Sa’id pun berdiri dan enam orang lainnya dari arah Za’id juga berdiri. Mereka bersaksi bahwa sesungguhnya mereka pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali di Ghadir Khum “Bukankah Allah lebih berhak terhadap kaum mukminin”. Mereka menjawab “benar”. Beliau bersabda <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">“Ya Allah barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka Ali pun menjadi pemimpinnya</span>, dukunglah orang yang mendukung Ali dan musuhilah orang yang memusuhinya”.<strong> [Musnad Ahmad 1/118 no 950 dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Syakir]</strong><br />
</em><br />
Sebagian orang membuat takwilan batil bahwa kata <em>mawla </em>dalam hadis Ghadir Khum bukan menunjukkan <em>kepemimpinan </em>tetapi menunjukkan<em> persahabatan</em> atau <em>yang dicintai,</em> takwilan ini hanyalah dibuat-buat. Jika memang menunjukkan <em>persahabatan atau yang dicintai</em> maka mengapa ada sahabat Nabi yang merasa <span style="text-decoration:underline;"><em>ada sesuatu yang mengganjal di hatinya ketika mendengar kata-kata Imam Ali di atas</em>.</span> Adanya keraguan di hati seorang sahabat Nabi menyiratkan bahwa Imam Ali mengakui hadis ini sebagai hujjah kepemimpinan. Maka dari itu sahabat tersebut merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya karena hujjah hadis tersebut memberatkan kepemimpinan ketiga khalifah sebelumnya. Sungguh tidak mungkin ada keraguan di hati sahabat Nabi kalau hadis tersebut menunjukkan persahabatan atau yang dicintai.</p>
<h2 style="text-align:right;">عن أبي الطفيل قال جمع علي رضي الله تعالى عنه الناس في الرحبة ثم قال لهم أنشد الله كل امرئ مسلم سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يوم غدير خم ما سمع لما قام فقام ثلاثون من الناس وقال أبو نعيم فقام ناس كثير فشهدوا حين أخذه بيده فقال للناس أتعلمون انى أولى بالمؤمنين من أنفسهم قالوا نعم يا رسول الله قال من كنت مولاه فهذا مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه قال فخرجت وكأن في نفسي شيئا فلقيت زيد بن أرقم فقلت له انى سمعت عليا رضي الله تعالى عنه يقول كذا وكذا قال فما تنكر قد سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ذلك له</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Abu Thufail yang berkata <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">“Ali mengumpulkan orang-orang di tanah lapang</span> dan berkata “Aku meminta dengan nama Allah agar setiap muslim yang mendengar Rasulullah SAW bersabda di Ghadir khum terhadap apa yang telah didengarnya. Ketika ia berdiri maka berdirilah tigapuluh orang dari mereka. Abu Nu’aim berkata “kemudian berdirilah banyak orang dan memberi kesaksian yaitu ketika Rasulullah SAW memegang tangannya (Ali) dan bersabda kepada manusia “Bukankah kalian mengetahui bahwa saya lebih berhak atas kaum mu’min lebih dari diri mereka sendiri”. Para sahabat menjawab “benar ya Rasulullah”. Beliau bersabda <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">“barang siapa yang menjadikan Aku sebagai pemimpinnya maka Ali pun adalah pemimpinnya</span> dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Abu Thufail berkata “ketika itu muncul sesuatu yang mengganjal dalam hatiku maka aku pun menemui Zaid bin Arqam dan berkata kepadanya “sesungguhnya aku mendengar Ali RA berkata begini begitu, Zaid berkata “Apa yang patut diingkari, aku mendengar Rasulullah SAW berkata seperti itu tentangnya”.<strong>[Musnad Ahmad 4/370 no 19321 dengan sanad yang shahih seperti yang dikatakan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 88 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini]</strong><br />
</em><br />
Kata <em>mawla </em>dalam hadis ini sama halnya dengan kata <em>waliy</em> yang berarti <em>pemimpin</em>, kata waly biasa dipakai oleh sahabat untuk menunjukkan kepemimpinan seperti yang dikatakan Abu Bakar dalam khutbahnya. Inilah salah satu hadis Ghadir Khum dengan lafaz Waly.</p>
<h2 style="text-align:right;">عن سعيد بن وهب قال قال علي في الرحبة أنشد بالله من سمع رسول الله يوم غدير خم يقول إن الله ورسوله ولي المؤمنين ومن كنت وليه فهذا وليه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه وأنصر من نصره</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Sa’id bin Wahb yang berkata “Ali berkata di tanah lapang aku meminta dengan nama Allah siapa yang mendengar Rasulullah SAW pada hari Ghadir Khum berkata “Allah dan RasulNya adalah pemimpin bagi kaum mukminin dan <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">siapa yang menganggap aku sebagai pemimpinnya maka ini (Ali) menjadi pemimpinnya</span> dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah orang yang memusuhinya dan jayakanlah orang yang menjayakannya. <strong>[Tahdzib Khasa’is An Nasa’i no 93 dishahihkan oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini].</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Dan perhatikan khutbah Abu Bakar ketika ia selesai dibaiat, ia menggunakan kata Waly untuk menunjukkan kepemimpinannya. Inilah khutbah Abu Bakar</p>
<h2 style="text-align:right;">قال أما بعد أيها الناس فأني <span style="color:#0000ff;">قد وليت عليكم</span> ولست بخيركم فان أحسنت فأعينوني وإن أسأت فقوموني الصدق أمانة والكذب خيانة والضعيف فيكم قوي عندي حتى أرجع عليه حقه إن شاء الله والقوي فيكم ضعيف حتى آخذ الحق منه إن شاء الله لا يدع قوم الجهاد في سبيل الله إلا خذلهم الله بالذل ولا تشيع الفاحشة في قوم إلا عمهم الله بالبلاء أطيعوني ما أطعت الله ورسوله فاذا عصيت الله ورسوله فلا طاعة لي عليكم قوموا الى صلاتكم يرحمكم الله</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ia berkata “Amma ba’du, wahai manusia sekalian <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">sesungguhnya aku telah dipilih sebagai pimpinan atas kalian</span></span> dan bukanlah aku yang terbaik diantara kalian maka jika berbuat kebaikan bantulah aku. Jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku, kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah khianat. Orang yang lemah diantara kalian ia kuanggap kuat hingga aku mengembalikan haknya kepadanya jika Allah menghendaki. Sebaliknya yang kuat diantara kalian aku anggap lemah hingga aku mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya jika Allah mengehendaki. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah timpakan kehinaan dan tidaklah kekejian tersebar di suatu kaum kecuali adzab Allah ditimpakan kepada kaum tersebut. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mentaati Allah dan RasulNya maka tiada kewajiban untuk taat kepadaku. Sekarang berdirilah untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian. <strong>[Sirah Ibnu Hisyam 4/413-414 tahqiq Hammam Sa’id dan Muhammad Abu Suailik, dinukil Ibnu Katsir dalam Al Bidayah 5/269 dan 6/333 dimana beliau menshahihkannya].</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Terakhir kami akan menanggapi syubhat paling lemah soal hadis Ghadir Khum yaitu <span style="text-decoration:underline;"><em>takwilan kalau hadis ini diucapkan untuk meredakan orang-orang yang merendahkan atau tidak suka kepada Imam Ali perihal pembagian rampasan di Yaman.</em></span> Silakan perhatikan hadis Ghadir Khum yang disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada banyak orang, tidak ada di sana disebutkan <em>perihal orang-orang yang merendahkan atau mencaci Imam Ali</em>. Kalau memang hadis ghadir khum diucapkan Rasulullah SAW untuk menepis cacian orang-orang terhadap Imam Ali maka Rasulullah SAW pasti akan menjelaskan duduk perkara rampasan di Yaman itu, atau menunjukkan kecaman Beliau kepada mereka yang mencaci Ali. Tetapi kenyataannya dalam lafaz hadis Ghadir Khum tidak ada yang seperti itu, yang ada malah <span style="text-decoration:underline;"><em>Rasulullah meninggalkan wasiat bahwa seolah Beliau SAW akan dipanggil ke rahmatullah, wasiat tersebut berkaitan dengan kepemimpinan Imam Ali dan berpegang teguh pada Al Qur’an dan ithrati Ahlul Bait.</em></span> Sungguh betapa jauhnya lafaz hadis tersebut dari syubhat para pengingkar.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis yang dijadikan hujjah oleh penyebar syubhat ini adalah hadis Buraidah ketika ia menceritakan soal para sahabat yang merendahkan Imam Ali. Hadis tersebut bukan diucapkan di Ghadir Khum dan tentu saja Rasulullah SAW akan marah kepada sahabat yang menjelekkan Imam Ali karena <em>Imam Ali adalah pemimpin setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW . </em>Disini Rasulullah SAW mengingatkan Buraidah dan sahabat lain yang ikut di Yaman agar berhenti dari sikap mereka karena Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin sepeninggal Nabi SAW.</p>
<h2 style="text-align:right;">عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة قال بعث رسول الله صلى الله عليه و سلم بعثين إلى اليمن على أحدهما علي بن أبي طالب وعلى الآخر خالد بن الوليد فقال إذا التقيتم فعلي على الناس وان افترقتما فكل واحد منكما على جنده قال فلقينا بنى زيد من أهل اليمن فاقتتلنا فظهر المسلمون على المشركين فقتلنا المقاتلة وسبينا الذرية فاصطفى علي امرأة من السبي لنفسه قال بريدة فكتب معي خالد بن الوليد إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم يخبره بذلك فلما أتيت النبي صلى الله عليه و سلم دفعت الكتاب فقرئ عليه فرأيت الغضب في وجه رسول الله صلى الله عليه و سلم فقلت يا رسول الله هذا مكان العائذ بعثتني مع رجل وأمرتني ان أطيعه ففعلت ما أرسلت به فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا تقع في <span style="color:#0000ff;">علي فإنه منى وأنا منه وهو وليكم بعدي وانه منى وأنا منه وهو وليكم بعدي</span></h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah yang berkata “Rasulullah SAW mengirim dua utusan ke Yaman, salah satunya dipimpin Ali bin Abi Thalib dan yang lainnya dipimpin Khalid bin Walid. Beliau SAW bersabda “bila kalian bertemu maka yang jadi pemimpin adalah Ali dan bila kalian berpisah maka masing-masing dari kalian memimpin pasukannya. Buraidah berkata “kami bertemu dengan bani Zaid dari penduduk Yaman kami berperang dan kaum muslimin menang dari kaum musyrikin. Kami membunuh banyak orang dan menawan banyak orang kemudian Ali memilih seorang wanita diantara para tawanan untuk dirinya. Buraidah berkata “Khalid bin Walid mengirim surat kepada Rasulullah SAW memberitahukan hal itu. Ketika aku datang kepada Rasulullah SAW, aku serahkan surat itu, surat itu dibacakan lalu aku melihat wajah Rasulullah SAW yang marah kemudian aku berkata “Wahai Rasulullah SAW, aku meminta perlindungan kepadamu sebab Engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang laki-laki dan memerintahkan untuk mentaatinya dan aku hanya melaksanakan tugasku karena diutus. Rasulullah SAW bersabda “Jangan membenci Ali, karena <span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;">ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu, ia bagian dariKu dan Aku bagian darinya dan Ia adalah pemimpin kalian sepeninggalKu</span>.<strong> [Musnad Ahmad tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan Hamzah Zain hadis no 22908 dan dinyatakan shahih].</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Al Albani berkata dalam <em>Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah</em> no 1187 menyatakan bahwa sanad hadis ini jayyid, ia berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">أخرجه أحمد من طريق أجلح الكندي عن عبد الله بن بريدة عن أبيه بريدة وإسناده جيد رجاله ثقات رجال الشيخين غير أجلح وهو ابن عبد الله بن جحيفة الكندي وهو شيعي صدوق</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dikeluarkan Ahmad dengan jalan Ajlah Al Kindi dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya Buraidah dengan sanad yang jayyid (baik) para perawinya terpercaya, perawi Bukhari dan Muslim kecuali Ajlah dan dia adalah Ibnu Abdullah bin Hujayyah Al Kindi dan dia seorang syiah yang (shaduq) jujur.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Justru hadis Buraidah di atas menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi)  sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Salam Damai</strong></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*****************</span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ol>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/21/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait-2/" target="_blank">Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/pengantar-jawaban-untuk-sdr-jakfar-maaf-maaf-perhatian-sebelumnya/" target="_blank">Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kekhalifahan-sunni/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kekhalifahan Sunni)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-12-khalifah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis 12 Khalifah)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/" target="_blank">Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali</a></li>
<li><a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/" target="_blank">Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW”</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw-bantahan-untuk-abul-jauza/" target="_blank">Analisis Tafsir Salafy Terhadap Hadis Ali Khalifah Setelah Nabi SAW</a></li>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/al-mahdi-khalifah-allah-swt/" target="_blank">Al Mahdi Khalifah Allah SWT</a></li>
</ol>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN <span style="color:#0000ff;"> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/09/imam-ali-mengakui-kepemimpinannya-hujjah-hadis-ghadir-khum/#comments" target="_blank">-KLIK DISINI-</a></span></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<p>___________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><strong>BEBERAPA DISKUSI PENULIS DENGAN PEMBACA</strong></span></p>
<p><strong>imem</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/09/imam-ali-mengakui-kepemimpinannya-hujjah-hadis-ghadir-khum/#comment-10894">Oktober 9, 2009 at 3:00 pm</a>said:</p>
<p>wuakakakak bisa ditebak….</p>
<blockquote><p>Imam Ali ketika menjadi khalifah mengumpulkan orang-orang di tanah lapang dan berbicara meminta kesaksian soal hadis Ghadir Khum.</p></blockquote>
<p>Jelas di sini bahwa Imam Ali telah menjadi Khalifah saat mengingatkan mengenai hadits ghadir khum tersebut, pertanyaannya mengapa Imam Ali mengingatkan hal ini baru setelah beliau menjadi khalifah? setelah hampir 25 th setelah Rasulullah wafat? mengapa beliau tidak gunakan hal tersebut saat Abu Bakar baru dibai’at, atau saat Abu Bakar akan meninggal, atau saat Umar baru dilantik atau saat pemilihan kepemimpinan setelah Umar, yg saya yakin beliau mempunyai byk kesempatan saat itu bahkan beliau menjadi panitia formatur pemilihan khalifah setelah Umar?</p>
<p>Jawabannya :</p>
<p>Karena memang hadits tersebut bukanlah hadits wasiat tentang kekhalifahan beliau setelah wafatnya Rasulullah, karena bukankah beliau sudah mendapatkan kedudukan khalifah saat mengingatkan orang2 di tanah lapang tsb?, sehingga jelas hadits tersebut digunakan beliau untuk tujuan yang lain bukan agar kaum muslimin memilih beliau menjadi khalifah yang beliau sudah memegangnya, tetapi untuk mengingatkan orang-orang yang tidak mau ta’at kepadanya setelah beliau dibai’at, hal tsb bisa dimengerti karena saat Imam Ali dilantik, fitnah sedang melanda umat Islam karena terbunuhnya Utsman, yg sebagian kaum muslimin tidak bersedia ta’at kepada beliau. Hal ini sesuai dengan uslub (hehehe bhsnya antirafidhah) hadits ghadir khum yang disabdakan Rasulullah agar kaum muslimin ta’at, menghormati dan tidak membenci Ali yang telah beliau pilih sebagai pemimpin rombongan di Yaman. itulah fungsi yang jelas dari hadits ghadir khum tersebut. Jadi sekali lagi hadits tersebut tidak menunjukkan sama sekali wasiat kekhalifahan untuk Imam Ali setelah Rasulullah wafat.</p>
<blockquote><p>Justru hadis Buraidah di atas menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.</p></blockquote>
<p>Saya melihat kok tidak tho, hadits tersebut mirip dengan hadits Manzilah saat perang Tabuk, seharusnya terjemahan وليكم بعدي bagi kalian setelahku, maksudnya jika Imam Ali sudah ditetapkan menjadi pemimpin rombongan di Yaman ya dia harus dita’ati sebagaimana menta’ati Rasulullah sendiri. lihatlah kalimat sebelumnya sangat jelas sekali itu :</p>
<blockquote><p>“Wahai Rasulullah SAW, aku meminta perlindungan kepadamu sebab Engkau sendiri yang mengutusku bersama seorang laki-laki dan memerintahkan untuk mentaatinya dan aku hanya melaksanakan tugasku karena diutus. Rasulullah SAW bersabda “Jangan membenci Ali, karena….</p></blockquote>
<p>jelas kalimat Nabi berhubungan dengan kalimat sebelumnya.</p>
<p>Ditambah lagi dapat kita temui hadits2 yang shahih dari Imam Ali sendiri yang membantah pemahaman seperti itu. hadits2 nya sudah disebutkan di threat2 sebelah.</p>
<p>So intinya ya sama ajah,.. hadits tersebut tidak bisa dijadikan hujjah untuk mazhab S** ‘ *h tulen .. wuakakakak ..</p>
<p>*************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/09/imam-ali-mengakui-kepemimpinannya-hujjah-hadis-ghadir-khum/#comment-10897">Oktober 9, 2009 at 7:17 pm</a>said:</p>
<p>@imem</p>
<blockquote><p>Saya melihat kok tidak tho, hadits tersebut mirip dengan hadits Manzilah saat perang Tabuk, seharusnya terjemahan وليكم بعدي bagi kalian setelahku, maksudnya jika Imam Ali sudah ditetapkan menjadi pemimpin rombongan di Yaman ya dia harus dita’ati sebagaimana menta’ati Rasulullah sendiri.</p></blockquote>
<p align="justify">ho ho percuma deh klaim sampean,anda kan suka melihat(mengada-ada) yang tidak dilihat orang lain, buktinya lafaz itu menunjukkan Imam Ali memang pemimpin setelah Nabi SAW, he he he karena tidak sesuai dengan keyakinan anda makanya cari-cari dalih, sejak dulu mah itikad anda memang begitu suka menentang hadis sambil pura-pura berpegang hadis, silakan cari or tanya deh dalam bahasa arab kira-kira lafaz itu artinya apa, seperti biasa komentar anda isinya menggerutu semua <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1317700116g" alt=":P" /></p>
<p align="justify">*************</p>
<p align="justify"><strong>kembali ke aqidah yg benar</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/09/imam-ali-mengakui-kepemimpinannya-hujjah-hadis-ghadir-khum/#comment-10910">Oktober 10, 2009 at 4:05 pm</a>said:</p>
<p>hadits buraidah itu……<br />
Yah, hanya pemimpin rombongan ke yaman.</p>
<p>hampir sama dg:</p>
<p>1.Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Abu Said dan Abu Hurairah Marfu’ (yang tetap sanadnya sampai kepada Rasul): “Jika keluar tiga orang dalam sebuah perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat pemimpin salah satunya. Dan bentuk permintaan dalam hadits adalah perintah sebab menggunakan ungkapan Fi’il Mudhari (kata kerja sekarang dan akan datang) dengan disertai Lamul Amr (Huruf Lam yang mengandung arti perintah) maka ia mengandung makna kewajiban.</p>
<p>2.Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya dari hadits Abdullah bin Amr sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Tidaklah dibenarkan bagi tiga orang yang berada pada sebuah padang di bumi kecuali mereka mengangkat pemimpin salah seorang di antara mereka”.</p>
<p>Dua hadits telah jelas menetapkan kewajiban mengangkat pemimpin pada sebuah kelompok dan golongan yang kecil dalam sebuah perjalanan yang mereka lakukan.</p>
<p>Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi pemimpin, HANYA dalam perjalanan.</p>
<p>******************</p>
<p><strong>kembali ke aqidah yg benar</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/09/imam-ali-mengakui-kepemimpinannya-hujjah-hadis-ghadir-khum/#comment-10911">Oktober 10, 2009 at 4:18 pm</a>said:</p>
<p>Justru hadis Buraidah di atas menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.</p>
<p>LUCU YA…ngomongnya.</p>
<p>*********************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/09/imam-ali-mengakui-kepemimpinannya-hujjah-hadis-ghadir-khum/#comment-10914">Oktober 10, 2009 at 4:54 pm</a>said:</p>
<p>@kembali ke aqidah yang benar</p>
<blockquote><p>hadits buraidah itu……<br />
Yah, hanya pemimpin rombongan ke yaman.</p></blockquote>
<p align="justify">silakan aja berkeras dengan doktrin anda, kalau anda mau membaca hadis Buraidah dengan baik-baik maka sebelum Buraidah datang ke Rasul SAW Imam Ali sudah jadi pemimpin rombongan ke Yaman, nah ketika sahabat2 menjelekkan Imam Ali dan disampaikan Buraidah ke Rasulullah SAW maka Rasulullah SAW mengatakan kepada mereka kalau Imam Ali itu adalah Pemimpin sepeninggal Beliau, jadi ya jangan coba-coba merendahkan Imam Ali, he he he pahami hadis itu jangan sepotong-potong <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1317700116g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Justru hadis Buraidah di atas menjadi penguat bahwa Imam Ali adalah pemimpin bagi setiap mukmin (semua sahabat Nabi) sepeninggal Nabi SAW dan sungguh tidak berguna syubhat dari para pengingkar.</p>
<p>LUCU YA…ngomongnya.</p></blockquote>
<p align="justify">Hoooo yang ngomong “Imam Ali pemimpin sepeninggal Nabi SAW” ya Nabi SAW sendiri, kalau anda mau mengatakannya lucu, ya terserah saya berlepas diri dari anda <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1317700116g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p align="justify">btw gak perlu deh kopas terus tulisan albayyinat yang gak jelas itu, isinya cuma asumsi-asumsi yang bertentangan dengan lafaz hadisnya. Anehnya anda lebih suka berpegang pada kopas gak jelas ketimbang hadis Nabi SAW <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1317700116g" alt=":P" /></p>
<p style="text-align:center;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">************************</span></p>
<p align="justify"><strong><span style="color:#800000;">Komen dan diskusi selanjutnya silahkan berkunjung langsung</span>  <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/10/09/imam-ali-mengakui-kepemimpinannya-hujjah-hadis-ghadir-khum/#comments" target="_blank">KESINI</a></strong></p>
<p><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/960/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/960/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/960/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/960/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/960/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/960/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/960/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/960/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=960&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/imam-ali-mengakui-kepemimpinannya-hujjah-hadis-ghadir-khum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1317700116g" medium="image">
			<media:title type="html">:P</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1317700116g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1317700116g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1317700116g" medium="image">
			<media:title type="html">:P</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al Mahdi Khalifah Allah SWT</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/al-mahdi-khalifah-allah-swt/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/al-mahdi-khalifah-allah-swt/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 14:22:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhail Imam Ali as.]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=957</guid>
		<description><![CDATA[Al Mahdi Khalifah Allah SWT SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar Imam Mahdi adalah sosok yang sangat dimuliakan dan sangat dinanti-nanti oleh umat Islam. Terdapat berbagai kontroversi seputar Imam Mahdi dari yang menolak keberadaannya sampai klaim mengenai siapakah sebenarnya Imam Mahdi. Tulisan ini sayangnya bukan mau membahas mengenai kontroversi tersebut. Bagi kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=957&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Al Mahdi Khalifah Allah SWT</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/08/30/al-mahdi-khalifah-allah-swt/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;">Imam Mahdi adalah sosok yang sangat dimuliakan dan sangat dinanti-nanti oleh umat Islam. Terdapat berbagai kontroversi seputar Imam Mahdi dari yang menolak keberadaannya sampai klaim mengenai siapakah sebenarnya Imam Mahdi. Tulisan ini sayangnya bukan mau membahas mengenai kontroversi tersebut. Bagi kami <em>keberadaan dan datangnya Imam Mahdi adalah perkara hak yang telah dikabarkan melalui kabar-kabar shahih dan mutawatir</em>. Tulisan ini akan membahas sebuah hadis tentang Al Mahdi yang menjadi korban kesinisan kaum salafiyun yaitu<em> Hadis Al Mahdi Khalifah Allah</em>. Salafiyun berkeras menyatakan dhaif hadis tersebut padahal kenyataannya hadis tersebut bersanad shahih. <span id="more-957"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis tersebut salah satunya diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam <em>Sunan Ibnu Majah</em> 2/1367 no 4084</p>
<h2 style="text-align:right;">حدثنا محمد بن يحيى وأحمد بن يوسف قالا حدثنا عبد الرزاق عن سفيان الثوري عن خالد الحذاء عن أبي قلابة عن أبي أسماء الرحبي عن ثوبان قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( يقتيل عند كنزكم ثلاثة كلهم ابن خليفة . ثم لا يصير إلى واحد منهم . ثم نطلع الرايات السود من قبل المشرق . فيقتلونكم قتلا لم يقتله قوم ) ثم ذكر شيئا لا أحفظه . فقال ( فإذا رأيتموه فبايعوه ولو حبوا على الثلج . فإنه خليفة الله المهدي )</h2>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya dan Ahmad bin Yusuf yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Sufyan Ats Tsawri dari Khalid Al Hidza’ dari Abi Qilabah dari Abi Asma’ Ar Rahabi dari Tsawban yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaan kalian, mereka bertiga adalah putera Khalifah. Tetapi tidak seorangpun diantara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian bendera-bendera hitam akan muncul dari arah Timur, maka mereka memerangi kalian dengan perang yang belum pernah dialami oleh kaum sebelum kalian. Kemudian Rasulullah SAW mengucapkan sesuatu yang aku tidak hafal. Beliau SAW kemudian bersabda “Maka siapa diantara kamu yang melihatnya, berikanlah baiat kepadanya walaupun dengan merangkak diatas salju karena<span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"> sesungguhnya dia adalah Khalifah Allah Al Mahdi</span>”</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini juga diriwayatkan oleh Al Hakim dalam <em>Mustadrak As Shahihain</em> 4/510 no 8432, <em>Dalail An Nubuwah</em> Baihaqi hal 516, <em>Bahr Az Zakhar Musnad Al Bazzar </em>10/100 no 4163</p>
<p style="text-align:justify;">Hadis di atas adalah hadis yang shahih dan para perawinya tsiqat. Al Bushairi berkata dalam <em>Az Zawaid</em> 2/297 no 1450</p>
<h2 style="text-align:right;">هذا إسناد صحيح رجاله ثقات رواه الحاكم في المستدرك من طريق الحسين بن حفص عن سفيان به وقال هذا حديث صحيح على شرط الشيخين</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Hadis ini sanadnya shahih dan para perawinya terpercaya. Diriwayatkan Al Hakim dalam Al Mustadrak dengan jalan Al Husain bin Hafsh dari Sufyan-dengan sanad seperti di atas- dan ia berkata “hadis shahih dengan syarat Bukhari Muslim”</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain Al Hafiz Al Bushairi hadis ini telah dishahihkan oleh banyak ulama di antaranya</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Al Hakim dalam <em>Al Mustadrak</em> 4/510 no 8432 berkata<span style="text-decoration:underline;"> <em>“hadis shahih sesuai syarat Bukhari Muslim”</em></span>. Hal ini disepakati oleh Adz Dzahabi dalam <em>At Talkhis</em>.</li>
<li>Al Bazzar dalam <em>Bahru Az Zakhar Musnad Al Bazzar</em> 10/100 no 4163 berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“hadis ini sanadnya shahih”</em>.</span></li>
<li>Ibnu Katsir dalam <em>An Nihayah Fi Fitan Wal Malahim</em> 1/26 berkata <span style="text-decoration:underline;"><em>“hadis ini kuat dan shahih”</em>.</span></li>
<li>Al Qurtubi dalam kitabnya <em>At Tadzkirah Fi Ahwal Al Mawta </em>1/699 menyatakan bahwa <em>hadis ini shahih</em>.</li>
<li>Syaikh Abdul Alim Abdul Azhim Al Bustawi dalam kitabnya <em>Al Hadits Al Waridah Fil Mahdi Fi Mizanil Jarh Wat Ta’dil</em> 1/184 menyatakan bahwa <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis ini shahih</em>.</span></li>
<li>Syaikh Mustafha Al Adawy dalam <em>As Shahihul Musnad Min Ahadits Al Fitan Wal Malahim</em> no 337 menyatakan <span style="text-decoration:underline;"><em>hadis ini shahih</em>.</span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Sungguh hal yang aneh sekali, Syaikh Al Albani memasukkan hadis ini dalam <em>Dhaif Sunan Ibnu Majah</em> no 4084 dan <em>Silsilah Ahadits Ad Dhaifah</em> no 85 seraya berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">و هذه الزيادة خليفة الله ليس لها طريق ثابت , و لا ما يصلح أن يكون شاهدا لها , فهي منكرة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dan tambahan “Khalifah Allah” tidaklah memiliki jalan yang tsabit dan shahih serta tidak memiliki syahid sehingga lafal tersebut munkar.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja perkataan ini keliru. Hadis riwayat Tsauban di atas sangat jelas keshahihannya. Justru pencacatan Syaikh terkesan dicari-cari dan tidak berdasar. Syaikh mengatakan bahwa cacat hadis ini karena Abu Qilabah seorang mudallis dan riwayatnya di atas dengan ‘an ‘an ah. Pencacatan syaikh sangat jelas kekeliruannya bagi mereka yang paham dengan ilmu hadis.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Mudallis memiliki banyak tingkatan dan tidak setiap mudallis dinyatakan dhaif hadisnya dengan lafal ‘an ‘an ah. Ibnu Hajar memasukkan Abu Qilabah dalam <em>Thabaqat Al Mudallisin</em> no 15 artinya<span style="text-decoration:underline;"><em> Abu Qilabah adalah mudallis tingkatan pertama</em>.</span> <em>Mudallis tingkatan pertama adalah mudallis yang dijadikan hujjah hadisnya walaupun dengan lafal ‘an‘anah</em>. Termasuk dalam kelompok pertama ini adalah Malik bin Anas, Yahya bin Said, Muhammad bin Ismail Al Bukhari dan Muslim bin Hajjaj. Mereka semua dijadikan hujjah ‘an ‘an ahnya.</li>
<li><span style="color:#0000ff;"><em>Syaikh Al Albani sendiri telah menyatakan shahih hadis ‘an ‘an ah Abu Qilabah</em> dalam <em>Shahih Sunan Ibnu Majah</em></span> no 1672 dan<em> Irwa’ Al Ghalil</em> 7/100 no 2035. Dalam Al Irwa’ syaikh menyebutkan takhrij hadis (tentang thalaq) dan semuanya berakhir pada ‘an ‘an ah Abu Qilabah. Di sini beliau tidak mendhaifkan hadis tersebut bahkan menyatakan hadis tersebut shahih.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Al Albani juga menyatakan bahwa hadis tersebut munkar karena kata-kata Khalifah Allah menurut beliau bertentangan dengan syariat. Syaikh mengutip pernyataan Ibnu Taimiyah dalam <em>Al Fatawa Al Qubra</em> 2/416</p>
<h2 style="text-align:right;">و قد ظن بعض القائلين الغالطين كابن عربي , أن الخليفة هو الخليفة عن الله , مثل نائب الله , و الله تعالى لا يجوز له خليفة , و لهذا قالوا لأبي بكر : يا خليفة الله ! فقال : لست بخليفة الله , و لكن خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Sungguh banyak orang mengira dengan salah seperti Ibnu Arabi bahwa yang dimaksud Khalifah adalah Khalifah Tuhan sebagai wakil Tuhan. Allah tidak memiliki wakil. Oleh karena itu ketika ada yang berkata kepada Abu Bakar “wahai Khalifah Allah” Ia berkata “Aku bukanlah Khalifah Allah </em></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Ibnu Taimiyyah itu patut diberikan catatan. Tidak ada masalah jika dikatakan Allah SWT mempunyai wakil, tentu <em>wakil dalam arti orang yang ditunjuk oleh Allah SWT untuk melaksanakan tugas seperti para Nabi atau orang yang dijadikan oleh Allah SWT sebagai Imam bagi manusia</em>. Aneh sekali kalau Ibnu Taimiyyah atau Syaikh beranggapan bahwa <em>satu-satunya arti Khalifah adalah Pengganti (Pengganti bagi mereka yang sudah tidak ada). </em>Sehingga jika dikatakan khalifah Allah maka sama saja mengatakan Allah SWT telah digantikan dan ini batil. Pernyataan Khalifah Allah tidaklah semata-mata memiliki arti seperti itu. Perhatikanlah dengan baik, Orang yang mengucapkan kata-kata <em>“Khalifah Allah”</em> adalah Rasulullah SAW jadi sangat tidak mungkin kalau yang dimaksud Rasulullah SAW adalah tafsiran batil versi Ibnu Taimiyyah. Pengingkaran Ibnu Taimiyyah benar-benar sangat berlebihan sampai akhirnya ia berkata <em>“Barang siapa yang menjadikan-Nya mempunyai Khalifah, orang itu berarti telah menyekutukanNya yakni musyrik”</em>. Sungguh kami tidak mengerti bagaimana mungkin jika terbukti dengan sanad yang shahih bahwa Rasulullah SAW berkata <em>“Al Mahdi Khalifah Allah”</em> maka akan datang seorang ulama yang mengatakan perkataan itu sebagai suatu kesyirikan, naudzubillah.</p>
<p style="text-align:justify;">Khalifah Allah yang dimaksud dalam hadis di atas adalah <em>Khalifah yang ditunjuk, diangkat atau ditetapkan oleh Allah SWT</em><em> </em>dan jelas sekali Allah SWT berkuasa untuk itu. Al Mahdi adalah Khalifah bagi umat manusia yang diangkat dan ditetapkan oleh Allah  SWT oleh karena itulah Imam Mahdi dikatakan sebagai Khalifah Allah. Bisa dimaklumi kalau seandainya Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Al Albani tidak pernah terpikirkan adanya tafsir seperti ini karena mungkin saja bagi mereka seorang Khalifah itu dipilih oleh manusia bukan diangkat oleh Allah SWT.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum mengakhiri tulisan ini, kami akan menampilkan hadis lain tentang Al Mahdi Khalifah Allah yang diriwayatkan oleh Al Hakim dalam <em>Al Mustadrak As Shahihain</em> 4/547 no 8351 dan Al Baihaqi dalam <em>Dalail An Nubuwah </em>hal 517 dengan sanad yang shahih, berikut riwayat Al Hakim</p>
<h2 style="text-align:right;">عن ثوبان رضى الله تعالى عنه قال إذا رأيتم الرايات السود خرجت من قبل خراسان فأتوها ولو حبوا فإن فيها خليفة الله المهدي هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Tsauban RA yang berkata “Jika kalian melihat bendera hitam berkibar datang dari arah Khurasan maka datangilah walau dengan merangkak karena disana ada Khalifah Allah Al Mahdi”. Hadis ini shahih dengan syarat Bukhari Muslim tetapi mereka tidak meriwayatkannya.</em></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">****************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><a href="../2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/21/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait-2/" target="_blank">Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/pengantar-jawaban-untuk-sdr-jakfar-maaf-maaf-perhatian-sebelumnya/" target="_blank">Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kekhalifahan-sunni/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kekhalifahan Sunni)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-12-khalifah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis 12 Khalifah)</a></li>
<li><a href="../2011/11/10/2011/10/29/2011/10/25/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/" target="_blank">Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali</a></li>
<li><a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/" target="_blank">Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW”</a></li>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw-bantahan-untuk-abul-jauza/" target="_blank">Analisis Tafsir Salafy Terhadap Hadis Ali Khalifah Setelah Nabi SAW</a></li>
</ol>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN  <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/08/30/al-mahdi-khalifah-allah-swt/#comments" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">-KLIK DISINI-</span></a></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/957/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/957/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/957/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/957/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/957/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/957/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/957/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/957/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=957&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/al-mahdi-khalifah-allah-swt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Analisis Tafsir Salafy Terhadap Hadis Ali Khalifah Setelah Nabi SAW (Bantahan Untuk Abul Jauza)</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw-bantahan-untuk-abul-jauza/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw-bantahan-untuk-abul-jauza/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 13:25:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh dan Ta&#039;dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Salafy-Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syubuhat Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=950</guid>
		<description><![CDATA[Analisis Tafsir Salafy Terhadap Hadis Ali Khalifah Setelah Nabi SAW SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar . (Tulisan dibawah adalah bantahan penulis untuk artikel salafy nashibi Abul Jauza INI -Haula Wahabiyah ) Al Hafiz Ibnu Abi Ashim Asy Syaibani dalam Kitabnya As Sunnah hal 519 hadis no 1188 telah meriwayatkan dengan sanad [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=950&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Analisis Tafsir Salafy Terhadap Hadis Ali Khalifah Setelah Nabi SAW</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<blockquote><p><span style="color:#800080;">(Tulisan dibawah adalah bantahan penulis untuk artikel salafy nashibi Abul Jauza</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/" target="_blank"><strong>INI</strong></a><span style="color:#800000;"><em> -Haula Wahabiyah</em></span> <span style="color:#800080;">)</span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Al Hafiz Ibnu Abi Ashim Asy Syaibani dalam Kitabnya <em>As Sunnah</em> hal 519 hadis no 1188 telah meriwayatkan dengan sanad yang shahih sebagai berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى بن حماد عن أبي عوانة عن يحيى ابن سليم أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنك لست نبيا إنه لا ينبغي أن أذهب إلا وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali <span style="text-decoration:underline;">“KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi</span>. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali <span style="text-decoration:underline;">Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata <span id="more-950"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadits di atas dipergunakan dalil oleh kaum Syi’ah sebagai legalitas kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu (yang seharusnya menjadi khalifah setelah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam – bukan Abu Bakr Ash-Shaiddiq radliyallaahu ‘anhu).</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Aneh sekali, seolah-olah setiap <em>hadis yang membicarakan kekhalifahan</em> harus dipandang dari sudut <em>yang mana tafsir Sunni </em>dan <em>yang mana tafsir Syiah.</em> Seolah-olah sebuah tafsir harus dipahami dalam kerangka mana anda berdiri. Apakah anda orang sunni? maka tafsirnya harus begini. Kalau anda menafsirkan begitu maka itu adalah tafsir Syiah. <em>Pahamilah sebuah hadis bagaimana hadisnya sendiri berbicara </em>karena kebenaran tidak terikat dengan apakah anda Sunni ataukah Syiah.</p>
<blockquote><p>Sungguh dugaan mereka keliru. Tidak ada sisi pendalilan atas klaim mereka terhadap hadits tersebut.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Yang keliru berkata keliru. Bagaimana mungkin dikatakan <em>tidak ada sisi pendalilan atas klaim Syiah</em>. Padahal salafy sendiri juga mengklaim. Orang lain juga dengan mudah berkata sebaliknya <em>“Sungguh dugaan salafy keliru, tidak ada sisi pendalilan atas klaim salafy terhadap hadis tersebut”.</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dalam memahami satu hadits tentu saja harus dipahami berbarengan dengan hadits lain yang semakna agar menghasilkan satu pemahaman yang komprehensif.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mari kita memahami dengan pemahaman yang komprehensif dan mari kita lihat bersama siapa yang mendudukkan dalil dengan semestinya dengan berpegang pada hadisnya dan mana yang menundukkan hadis pada keyakinan yang dianut.</p>
<p style="text-align:justify;">Sa’d bin Abi Waqqash radliyallaahu ‘anhu membawakan hadits semisal dalam Ash-Shahiihain</p>
<h2 style="text-align:right;">عن سعد بن أبي وقاص قال خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم علي بن أبي طالب في غزوة تبوك فقال يا رسول الله تخلفني في النساء والصبيان فقال أما ترضى ان تكون مني بمنزلة هارون من موسى غير انه لا نبي بعدي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Sa’d bin Abi Waqqaash ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi tugas ‘Ali bin Abi Thaalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). ‘Ali pun berkata : ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah ?’. Maka beliau menjawab : ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku ?” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 4416 dan Muslim no. 2404].</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hadis Shahihain ini diucapkan Nabi SAW pada perang Tabuk, tetapi <span style="color:#0000ff;">Salafy mengklaim bahwa keutamaan yang dimiliki Imam Ali <em>kedudukan Beliau di sisi Nabi SAW seperti kedudukan Harun di sisi Musa</em> adalah terkhusus pada perang Tabuk saja dan tidak untuk setelahnya.</span> Jelas sekali klaim mereka ini memerlukan bukti. Mana bukti dari hadis diatas yang menunjukkan bahwa keutamaan <em>kedudukan Harun di sisi Musa hanya berlaku saat perang Tabuk saja</em>. Hadis di atas hanya menunjukkan bahwa <em>keutamaan tersebut berlaku saat Perang Tabuk tetapi tidak menafikan kalau keutamaan tersebut berlaku untuk seterusnya.</em> <span style="color:#800000;">Sebuah hadis dengan lafaz yang umum akan berlaku sesuai keumumannya kecuali terdapat pernyataan tegas soal kekhususannya</span>. Dan maaf kita tidak menemukan adanya kekhususan bahwa hadis di atas hanya berlaku saat perang tabuk saja. Kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafal.</p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dari hadits ini kita dapat mengetahui apa makna “khalifah” sebagaimana dimaksud pada hadits pertama. Makna “khalifah” di sini adalah pengganti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam pengurusan wanita dan anak-anak saat mereka ditinggal oleh ayah atau suami mereka berangkat jihad di Tabuk. Konteks hadits dan peristiwanya menyatakan demikian</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Konteks hadis menyatakan bahwa <em>Imam Ali adalah khalifah pengganti Rasulullah SAW saat Perang Tabuk.</em> Dan hal ini adalah bagian dari keumuman lafal <em>kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW seperti kedudukan Harun di sisi Musa. </em>Selain itu lafal <span style="color:#0000ff;"><em>“Tidak sepantasnya Aku pergi Kecuali Engkau sebagai Khalifahku” </em></span>memiliki arti jika Rasulullah SAW pergi atau tidak ada maka Imam Ali adalah pengganti Beliau. Hal ini selaras dengan kedudukan Harun di sisi Musa. Kedudukan tersebut mencakup jika Nabi Musa AS tidak ada atau pergi dan Nabi Harun AS masih hidup maka Nabi Harun AS yang akan menjadi penggantinya. Perhatikanlah kita menerima keduanya baik konteks hadis dan teks hadis yang umum.</p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jika mereka (kaum Syi’ah) menyangka dengan hadits ini Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengamanatkan kepemimpinan (khilaafah) kaum muslimin kepada ‘Ali secara khusus setelah wafat beliau, niscaya akan banyak khalifah di kalangan shahabat yang ditunjuk beliau – jika kita mengqiyaskannya sesuai dengan ‘illat haditsnya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi tugas serupa kepada ‘Utsman bin ‘Affaan, Ibnu Ummi Maktum, Sa’d bin ‘Ubaadah, dan yang lainnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sungguh persangkaan mudah sekali keliru. <em>Bagaimana Syiah menafsirkan hadis itu </em>maka itu urusan mereka. Sekarang yang kita bahas adalah <em>apa makna sebenarnya hadis ini</em>. Jika salafy mengqiyaskan dengan <em>illat hadis yang diklaim seenaknya</em> maka begitulah jadinya. Jika salafy hanya berpegang pada asumsi mereka dan menafikan lafal hadisnya maka nampaklah kekeliruan mereka. Kekeliruan salafy adalah mereka bermaksud <em>bahwa keutamaan Kedudukan Harun di sisi Musa itu hanya sebatas perang Tabuk saja</em> dan ini terkait dengan <em>kepemimpinan Imam Ali saat di Madinah saja dan itu pun saat Perang Tabuk saja.</em> Kalau memang Salafy mengakui bahwa banyak sahabat yang mendapat kepemimpinan seperti itu <span style="color:#0000ff;">maka jika kita mengqiyaskan dengan illat yang dimaksud salafy niscaya keutamaan <em>Kedudukan Harun di sisi Musa tidak hanya milik Imam Ali tetapi juga milik sahabat lain yang mendapat tugas dari Nabi SAW. </em>Adakah salafy berkeyakinan seperti itu?.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jika ada yang bertanya :<br />
Mengapa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menggunakan redaksi yang sama kepada para shahabat lain saat mereka menjadi pengganti/wakil beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk mengurus wanita dan anak-anak ?.<br />
Dijawab :<br />
Perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Ali : “Engkau di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, namun engkau bukanlah seorang nabi….dst.” adalah untuk menghibur sekaligus pembelaan terhadap ‘Ali atas cercaan kaum munafiq.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak menafikan bahwa bisa saja untuk dikatakan bahwa <em>perkataan itu untuk menghibur</em>. Tetapi walau bagaimanapun <em>perkataan yang diucapkan oleh Rasulullah SAW adalah sebuah kebenaran</em>. Rasulullah SAW memberikan hiburan bahwa <em>keutamaan Imam Ali di sisi Beliau adalah seperti kedudukan Harun di sisi Musa. </em>Hal ini mencakup berbagai kedudukan yang dimiliki Harun di sisi Musa kecuali <em>yang telah dikhususkan oleh Rasulullah SAW bahwa itu tidak termasuk</em> yaitu <em>Kenabian. </em>Jika memang salafy berkeyakinan bahwa kata-kata tersebut hanya sekedar perumpamaan artinya <em>kepemimpinan Ali saat perang Tabuk serupa dengan kepemimpinan Harun saat Musa pergi ke Thursina dan hanya terbatas untuk itu saja.</em> Maka tidak ada faedahnya kata-kata <em>“namun engkau bukanlah seorang nabi”. </em>Adanya kata-kata mengkhususkan seperti itu menunjukkan bahwa kedudukan tersebut tidaklah khusus tetapi bersifat umum yaitu <em>Mencakup semua kecuali apa yang telah dikhususkan oleh Nabi SAW bahwa itu tidak termasuk yaitu Kenabian.</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Juga, untuk menegaskan keutamaan ‘Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu di sisi beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja, sebuah penegasan keutamaan merupakan jalan yang paling ampuh untuk menangkal cercaan kaum munafiqin tersebut.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja benar dan <em>sebuah keutamaan yang disematkan kepada Imam Ali</em> tidaklah akan sirna atau hilang jika kaum munafik sudah tidak mencela. Apakah salafy ingin mengatakan bahwa tujuan keutamaan tersebut hanya untuk menangkal cercaan kaum munafik saja tetapi tidak menjelaskan kedudukan yang sebenarnya?. <em>Keutamaan tersebut menjelaskan kedudukan sebenarnya Imam Ali di sisi Nabi SAW dan kedudukan tersebut akan terus ada dan melekat pada Imam Ali.</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Adz-Dzahabiy berkata :<br />
“……..<em>Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menugaskan ‘Aliy bin Abi Thaalib menjaga keluarganya dan mengurus segala keperluannya. Kaum munafiqin pun menyebarkan berita buruk karena penugasan tersebut dan berkata : ‘Tidaklah beliau menugaskannya (untuk tinggal di Madinah/tidak ikut berperang) kecuali karena ia (‘Ali) merasa berat untuk berangkat (jihad) dan kemudian diberikan keringanan (oleh beliau). Ketika kaum munafiqin mengatakan hal itu, ‘Ali bergegas mengambil senjatanya dan kemudian keluar untuk menyusul Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di Jarf. ‘Ali berkata : “Wahai Rasulullah, kaum munafiqin mengatakan bahwa engkau menugaskan aku karena engkau memandang aku berat untuk berangkat jihad dan kemudian memberikan keringanan”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Mereka telah berdusta ! Kembalilah, aku menugaskanmu selama aku meninggalkanmu di belakangku untuk mengurus keluargaku dan keluargamu. ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku ?”. Maka ‘Ali pun akhirnya kembali ke Madinah” [Taariikhul-Islaam, 1/232].</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Perhatikanlah hadis di atas. Mari kita berikan analogi yang sama buat salafy. Jika kita memahami hadis riwayat Adz Dzahabi maka disitu disebutkan bahwa <em>Rasulullah SAW menugaskan Imam Ali untuk mengurus keluarga Nabi dan keluarga Ali.</em> Hal ini terlihat dari kata-kata <em>Kembalilah, aku menugaskanmu selama aku meninggalkanmu di belakangku untuk mengurus keluargaku dan keluargamu.</em> Kemudian setelah itu Rasulullah SAW mengucapkan <em>‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku ?”</em>. <span style="color:#0000ff;">Dengan cara berpikir salafy maka kita dapat mengatakan bahwa</span><em> illat hadis Manzilah adalah tugas untuk mengurus keluarga Nabi dan keluarga Ali. </em>Lantas<span style="color:#0000ff;"> mengapa mereka sebelumnya mengatakan</span> <em>Makna “khalifah” bagi Imam Ali di sini adalah  pengganti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam pengurusan wanita dan anak-anak saat mereka ditinggal oleh ayah atau suami mereka berangkat jihad di Tabuk.</em> <span style="color:#0000ff;">Apakah semua orang di Madinah saat itu hanya keluarga Nabi dan keluarga Imam Ali saja?. Yah begitulah kontradiksi salafy dalam memahami hadis.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lantas : “Apa makna : khaliifatii fii kulli mukmin min ba’di ?” – sebagaimana riwayat Ibnu Abi ‘Aashim. Bukankah ia menunjukkan lafadh mutlak yang menunjukkan ‘Ali merupakan pengganti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sepeninggal beliau ? Dan lafadh mukmin ini meliputi seluruh shahabat yang hidup pada waktu itu ?<br />
Bahkan hal itu telah terjawab pada penjelasan sebelumnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;">Anehnya silakan anda perhatikan baik-baik. Penjelasan sebelumnya jauh berbeda dengan penjelasan salafy setelah ini</span>. Sebelumnya ia mengatakan bahwa <em>makna khalifah tersebut Makna “khalifah” bagi Imam Ali di sini adalah  pengganti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam pengurusan wanita dan anak-anak saat mereka ditinggal oleh ayah atau suami mereka berangkat jihad di Tabuk.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Makna : khaliifatii fii kulli mukmin min ba’di ; ini mempunyai dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah sebagaimana perkataan mereka (Syi’ah) – yaitu menjadi pengganti beliau secara mutlak setelah beliau wafat;</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ternyata sisi pendalilan itu ada, kata-kata tersebut sangat jelas. Anehnya salafy sebelumnya berkata <em>Tidak ada sisi pendalilan atas klaim mereka terhadap hadits tersebut.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">sedangkan kemungkinan kedua bahwa perkataan itu menunjukkan ‘Ali menjadi pengganti beliau bagi seluruh orang mukmin (para shahabat) hanya saat setelah kepergian beliau menuju Tabuk. Kemungkinan kedua inilah yang kuat.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lihatlah baik-baik adakah salafy mengatakan sebelumnya bahwa<em> khalifah itu bagi seluruh orang mukmin</em>. Bukankah kita lihat bahwa sebelumnya salafy berkata <em>Makna “khalifah” bagi Imam Ali di sini adalah  pengganti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam pengurusan wanita dan anak-anak saat mereka ditinggal oleh ayah atau suami mereka berangkat jihad di Tabuk.</em> Jika memang kemungkinan kedua ini yang terkuat maka <em>kepemimpinan tersebut juga bagi ayah atau suami mereka yang ikut berjihad saat perang Tabuk,</em> karena bukankah mereka juga termasuk orang mukmin. Anehnya kalau memang begitu maka kepemimpinan tersebut tidak terbatas pada di Madinah saja <em>(seperti klaim Salafy) </em>tetapi juga mencakup orang mukmin lain yang tidak berada di Madinah. <span style="color:#0000ff;">Sekali lagi kita melihat hal-hal yang kontradiksi.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Sejauh ini salafy tidak memiliki dasar untuk mengatakan bahwa <em>khalifah yang dimaksud hanya terkhusus saat perang Tabuk saja. </em>Mereka hanya mengklaim begitu saja bahwa <em>itu dikhususkan</em> tanpa menunjukkan <em>bukti yang mengkhususkannya.</em> Siapa yang mengkhususkan?. Ketika Rasul SAW berkata <em>untuk setiap orang mukmin</em> maka ada yang berkata <em>khusus untuk anak-anak dan wanita di Madinah saja</em>. Ketika Rasul SAW berkata <em>“setelahku”</em> maka ada yang berkata <em>khusus untuk perang Tabuk saja.</em> Siapa yang mengkhususkan kalau bukan klaim mereka sendiri. Padahal lafal hadis yang diucapkan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa <em>Imam Ali adalah pengganti beliau secara mutlak bagi setiap mukmin setelah beliau wafat.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalimat ‘min ba’dii’ (setelahku) di sini maknanya bukan mencakup setelah wafat beliau. Namun ia muqayyad (terikat) pada ‘illat hadits yang disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari. Yaitu : ‘Ali menjadi pengganti Nabi setelah keberangkatan beliau menuju Tabuk dalam hal pengurusan wanita dan anak-anak di Madinah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada dasar bahwa <em>lafal tersebut muqayyad </em>karena illat hadis yang dimaksud hanyalah klaim salafy semata. Pertama-tama mari kita kembalikan pada riwayat Adz Dzahabi bukankah disana <em>dengan cara berpikir salafy</em> maka <em>‘illat hadis adalah Ali menjadi pengganti Nabi setelah keberangkatan beliau menuju Tabuk dalam hal pengurusan keluarga Nabi dan keluarga Ali.</em> Bukankah <em>‘illat dari riwayat Al Bukhari</em> dan <em>‘illat riwayat yang dikutip Adz Dzahabi </em>berbeda, bagaimana bisa salafy luput melihat hal ini. Bagi saya pribadi <em>kepemimpinan Imam Ali di perang Tabuk baik terhadap keluarga Nabi dan keluarga Ali ataupun terhadap wanita dan anak-anak Madinah adalah bagian dari keumuman Kedudukan Ali di sisi Nabi seperti kedudukan Harun di sisi Musa.</em> Dan ini mencakup kedudukan Harun yang akan menjadi pengganti bagi Musa jika Musa pergi atau tidak ada, dengan syarat saat itu Nabi Harun AS masih hidup. Dengan kata lain <em>bagian dari kedudukan tersebut</em> adalah <em>Seseorang akan menjadi pengganti bagi orang yang dimaksud jika seseorang tersebut masih hidup. </em>Oleh karena itulah Rasulullah SAW menjelaskan dengan kata-kata selanjutnya bahwa <em>Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu. </em>Kata-kata ini dengan jelas mendudukkan Imam Ali sebagai khalifah bagi setiap Mukmin selepas Nabi SAW karena selepas Nabi SAW Imam Ali masih hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote><p>Karena kalimat sebelumnya berbunyi : “Tidak sepantasnya aku pergi” – yaitu kepergian beliau menuju Tabuk.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang perlu diingat hadis riwayat Ibnu Abi Ashim yang memuat kata-kata ini tidak menunjukkan bukti yang pasti bahwa kata-kata ini diucapkan pada perang Tabuk. Ada saja kemungkinan bahwa hadis ini diucapkan Nabi di saat yang lain sehingga perkataan <em>tidak sepantasnya</em> aku pergi dijelaskan oleh kata-kata <em>setelahKu</em> sehingga yang dimaksud kepergian itu adalah <em>kepergian saat Nabi SAW wafat</em>. Salafy tidak bisa menafikan kemungkinan ini hanya dengan klaimnya semata. Seandainya pula hadis ini diucapkan saat Perang Tabuk maka perkataan tersebut diartikan bahwa saat Perang Tabuk Nabi juga telah mengatakan bahwa <em>khalifah sepeninggal Beliau SAW adalah Imam Ali.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sungguh sangat aneh (jika tidak boleh dikatakan mengada-ada) bagi mereka yang paham akan lisan Arab atas perkataan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak sepantasnya aku pergi (menuju Tabuk) kecuali engkau sebagai “khalifah”-ku bagi setiap mukmin setelahku” – mencakup setelah wafat beliau.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sungguh sangat aneh <em>(jika tidak dikatakan mengada-ada)</em> bagi mereka yang paham akan lisan arab bahwa perkataan <em>khaliifatii fii kulli mukmin min ba’di</em> berarti <em>khalifah bagi wanita dan anak-anak saat perang Tabuk.</em> Secara bahasa arab itu berarti <em>Khalifah bagi setiap orang mukmin sepeninggal Nabi SAW</em>. Dan tentu lafaz<em> ba’di </em>memiliki arti <em>sepeninggal (wafat).</em> Aneh sekali jika orang yang paham lisan arab dengan mudah menafikan makna <em>ba’di sebagai sepeninggal (wafat).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Penyamaan ‘Ali bin Abi Thaalib dengan Harun dalam hadits semakin membatalkan klaim mereka. Sebagaimana diketahui bahwa Harun tidak pernah menggantikan Musa ‘alaihimas-salaam sebagai khalifah memimpin Bani Israil. Ia wafat ketika Musa masih hidup, dan hanya menggantikan untuk sementara waktu dalam pengurusan (memimpin) Bani Israil saat Musa pergi untuk bermunajat kepada Rabbnya. Tidak ada riwayat sama sekali yang menjelaskan bahwa Harun ‘alaihis-salaam menjadi khilafah/pemimpin bagi Bani Israil sepeninggal (wafat) Musa, melainkan hanya waktu itu saja. Yang menggantikan Musa setelah wafatnya dalam memimpin Bani Israel adalah Nabi Yusya’ bin Nuun ‘alaihis-salaam</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Justru salafy mengetahui tetapi tidak memahami. Penyerupaan yang dimaksud dalam hadis di atas adalah <em>penyerupaan Kedudukan orang yang satu di sisi orang yang lain. </em>Artinya <em>kedudukan Imam Ali di sisi Rasul SAW seperti kedudukan Harun di sisi Musa. </em>Mengapa Nabi Musa AS menunjuk Nabi Harun AS sebagai penggantinya karena <em>Nabi Harun AS adalah wazir Musa, keluarga dan sekutu dalam urusannya. </em>Sama halnya dengan mengatakan bahwa <em>kedudukan Harun saat itu di sisi Musa adalah kedudukan yang paling layak dan tepat sebagai pengganti Musa jika Musa akan pergi atau jika Musa tidak ada.</em> Kedudukan ini sudah jelas dimiliki Harun semasa hidupnya artinya<em> jika Nabi Harun AS masih hidup</em> maka dialah yang akan ditunjuk sebagai pengganti Nabi Musa AS. Begitu pula dengan kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW,<em> jika Imam Ali masih hidup</em> maka dialah yang akan menggantikan Nabi SAW oleh karena itu Rasulullah SAW menjelaskan dengan kata-kata <em>Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin sepeninggalKu.</em> Karena sepeninggal Nabi SAW Imam Ali masih hidup</p>
<p style="text-align:justify;">Salafy mengutip Nawawi yang sebenarnya tidak sedang menjelaskan hadis riwayat Ibnu Abi Ashim</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Berkata An-Nawawi rahimahullah :</p>
<h3 style="text-align:right;">وليس فيه دلالة لاستخلافه بعده لأن النبي صلى الله عليه وسلم إنما قال هذا لعلي رضي الله عنه حين استخلفه على المدينة في غزوة تبوك ويؤيد هذا أن هارون المشبه به لم يكن خليفة بعد موسى بل توفي في حياة موسى قبل وفاة موسى نحو أربعين سنة على ما هو المشهور عند أهل الأخبار والقصص</h3>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tidak ada petunjuk (dilaalah) di dalamnya bahwa ‘Ali sebagai pengganti setelah (wafatnya) beliau. Hal itu dikarenakan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallaqm hanya bersabda kepada ‘Ali radliyallaahu ‘anhu saat menjadikannya sebagai pengganti di Madinah pada waktu (beliau berangkat menuju) Perang Tabuk. Dan ini diperkuat bahwasannya Harun ‘alaihis-salaam yang diserupakan/disamakan dengan ‘Aliy, tidak pernah menjadi khalifah sepeninggal Musa. Bahkan ia meninggal saat Musa masih hidup sekitar 40 tahun sebelum wafatnya Musa – berdasarkan hal yang masyhur menurut para ahli sejarah”</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Perkataan ini tidak jauh berbeda dengan kata-kata salafy sebelumnya. Tetapi coba lihat kata-kata</p>
<h2 style="text-align:right;">وليس فيه دلالة لاستخلافه بعده</h2>
<p style="text-align:justify;">Kata-kata Nawawi diartikan salafy dengan<em> Tidak ada petunjuk (dilaalah) di dalamnya bahwa ‘Ali sebagai pengganti setelah (wafatnya) beliau. </em>Kali ini dengan mudah salafy memaknai <em>kata yang dicetak biru</em> sebagai <em>setelah (wafatnya) Beliau.</em> Anehnya dalam hadis riwayat Ibnu Abi Ashim ia menafikan bahwa <em>kata tersebut berarti wafat.</em><span style="color:#0000ff;"> Sekali lagi kontradiksi</span></p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Harun ‘alaihis-salaam adalah seorang waziir bagi Musa dalam memimpin Bani Israail sebagaimana ditegaskan oleh Allah melalui firman-Nya :</p>
<h3 style="text-align:right;">وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي * هَارُونَ أَخِي * اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي * وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي</h3>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dan jadikanlah untukku seorang wazir (pembantu) dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku” [QS. Thaha : 29-32].</em></p>
<p style="text-align:justify;">Seorang wazir mempunyai tugas untuk membantu dan memberi dukungan terhadap imam. Begitu pula dengan Nabi Harun yang menjadi waziir bagi Nabi Musa ‘alaihimas-salaam.[3] Jika Syi’ah hendak menyamakan kedudukan ‘Ali dengan Harun, maka cukuplah mereka berpendapat ‘Ali berkedudukan sebagai waziir bagi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bukan sebagai imam/khalifah yang ditunjuk. Oleh karena itu, klaim Syi’ah tentang keimamahan ‘Ali bin Abi Thaalib melalui hadits ini sungguh sangat tidak tepat.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan ayat Al Qur’an yang dikutip salafy maka <em>Nabi Harun AS tidak hanya seorang wazir Musa</em> tetapi juga <em>keluarga dan saudara Musa, orang yang meneguhkan kekuatan Musa dan merupakan sekutu Musa dalam urusannya. </em><span style="color:#0000ff;">Kedudukan Harun di sisi Musa ini dimiliki oleh Imam Ali di sisi Rasul SAW. Tidak hanya itu, Nabi Harun AS juga ditunjuk sebagai Imam atau khalifah bagi kaumnya ketika Musa AS akan pergi</span></p>
<h2 style="text-align:right;">وَقَالَ مُوسَى لاَِخِيه هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلاَ تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِين</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>“Musa berkata kepada saudaranya yaitu Harun “Gantikan Aku dalam memimpin kaumku, dan perbaikilah, dan jangan kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS Al-A’raf: 142)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini menunjukkan salah satu <em>kedudukan Harun di sisi Musa adalah Beliau menjadi khalifah semasa hidupnya (selagi hidup) jika Nabi Musa AS akan pergi</em>. Maka begitu pula <em>kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW, Beliau semasa hidupnya (selagi hidup) menjadi khalifah jika Nabi Muhammad SAW pergi.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kita tidak mengingkari bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan ‘Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu. Namun membawanya kepada makna ‘Ali adalah orang yang ditunjuk sebagai khalifah/amirul-mukminin sepeninggal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka inilah yang tidak kita sepakati. Tidaklah setiap lafadh yang menunjukkan keutamaan itu selalu berimplikasi kepada kepemimpinan</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Cara berpikir seperti ini jelas-jelas terbalik. Kita tidak mengingkari bahwa lafal <em>hadis Manzilah riwayat Ibnu Abi Ashim</em> memuat lafal <em>Khalifah sepeninggal Nabi SAW </em>dan sudah jelas lafal khalifah berimplikasi kepada kepemimpinan Imam  Ali sepeninggal Nabi SAW. Hal ini menunjukkan hadis Manzilah memiliki makna umum <em>(termasuk dalam hadis shahihain) </em>dan merupakan <em>keutamaan Imam Ali RA yang sangat besar di sisi Nabi SAW.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ada yang sangat memaksakan kehendak dengan menafikkan akal sehat yang padahal sangat mudah untuk memahaminya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka katakan bahwa Harun itu akan menggantikan Musa jika Harun masih hidup sepeninggal Musa. Begitulah kata mereka.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jika yang dimaksud akal sehat adalah setiap yang mendukung keyakinan salafy maka akal tersebut sudah menjadi tidak sehat. Karena sebuah keyakinan harus diukur dengan standar kebenaran bukan standar kebenaran yang harus ditundukkan pada keyakinan. Sudah jelas kedudukan Harun di sisi Musa adalah Harun akan selalu menjadi pengganti Musa jika Musa tidak ada dan saat itu Harun masih hidup. Siapapun yang berakal sehat tidak akan menafikan hal ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaannya : Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyamakan kedudukan ‘Ali radliyallaahu ‘anhu dengan Harun; apakah beliau shalallaahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui bahwa Harun telah meninggal sebelum Nabi Musa meninggal dan tidak pernah memegang tampuk khalifah/imam memimpin Bani Israel sepeninggal Musa ?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sudah jelas Rasulullah SAW tahu, oleh karena itulah <span style="color:#0000ff;">untuk menghapus syubhat dari para pengingkar maka Rasulullah SAW memberikan penjelasan khusus yaitu</span> <em><span style="color:#ff0000;">Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu</span>.</em> Hal ini dikarenakan Rasulullah SAW mengetahui bahwa Imam Ali masih hidup sepeninggal Beliau SAW, dan tentu sebagaimana layaknya Harun akan menjadi pengganti Musa jika Harun masih hidup maka Imam Ali akan menjadi pengganti Rasul SAW jika Imam Ali masih hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa Harun hanyalah menjadi pengganti (khalifah) bagi Musa untuk mengurus Bani Israel <strong>hanya</strong> saat Musa pergi ke Bukit Tursina.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kita sudah jelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa itu tidak hanya soal pengganti Musa ketika Musa pergi ke bukit Thursina saja. Kita telah jelaskan bahwa Harun adalah wazir Musa, keluarga dan saudara Musa, orang yang meneguhkan kekuatan Musa dan sekutu Musa dalam urusannya. Oleh karena itu tidak ada satupun yang layak menggantikan Musa selain Harun jika Nabi Harun AS masih hidup. Inilah kedudukan Harun di sisi Musa yang tidak dipahami oleh salafy. Beginilah cara mereka mengurangi keutamaan Imam Ali dengan menafikan keumuman dan mengkhususkan dengan situasi tertentu saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, beliau mengqiyaskan kedudukan mulia Harun ini kepada ‘Ali yang beliau tugaskan untuk mengurus orang-orang yang tinggal di Madinah saat beliau tinggalkan berperang menuju Tabuk.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan Imam Ali di sisi Beliau dengan kata-kata <em>kedudukanMu di sisi Ku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa kecuali tidak ada Nabi setelahKu.</em> Pengecualian yang ditetapkan oleh Rasul SAW adalah untuk membatasi keumuman kedudukan Harun yang memang banyak di sisi Musa.<span style="color:#0000ff;"> Jika seperti yang salafy katakan bahwa hal itu</span> <em>hanya pengqiyasan untuk situasi yang khusus </em><span style="color:#0000ff;">maka tidak ada faedahnya disebutkan pengecualian. Jika memang sudah dikhususkan mengapa harus dikecualikan.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Salafy berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Namun karena Syi’ah hendak memaksakan untuk membawa pengertian ini kepada penunjukan Khalifah sepeninggal Nabi, datanglah tafsir-tafsir aneh mengenai hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Begitulah salafy selalu mengatakan aneh <em>setiap tafsir yang bertentangan dengan mereka</em> <span style="color:#0000ff;">karena salafy hendak memaksakan untuk melindungi keyakinan mereka dan menunjukkan kedengkian mereka terhadap mahzab lain</span>. Mereka tidak bisa mengakui kebenaran pada mahzab lain karena menurut mereka <em>apapun setiap mahzab yang menentang mereka maka sudah jelas tafsirnya akan aneh-aneh.</em> Tidakkah cukup kata-kata Rasulullah SAW yang sangat jelas, ternyata tidak karena dalih selalu bisa dicari-cari. Pengingkar akan selalu ada dan itu tidak tergantung dari mahzab apa ia berasal. Untuk menentukan ingkar atau tidak anda hanya perlu melihat dengan jelas <em>siapa yang berpegang pada hadis Rasul SAW dan siapa yang berpegang pada keyakinan pribadi. </em><span style="color:#0000ff;">Sekali lagi saya tekankan kepada para pencari kebenaran</span>, <span style="color:#800000;"><em>anda tidak perlu menjadi sunni atau syiah</em> untuk memahami hadis di atas dan anda tidak perlu terkelabui oleh syubhat b<em>ahwa kalau anda memahami begitu maka anda akan menjadi syiah, atau kalau anda memahami seperti ini maka anda adalah sunni.</em></span> <span style="color:#0000ff;">Cukup pahami hadis tersebut sebagaimana hadis tersebut berbicara.</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">****************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><a href="../2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/21/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait-2/" target="_blank">Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait</a></li>
<li><a href="../2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/pengantar-jawaban-untuk-sdr-jakfar-maaf-maaf-perhatian-sebelumnya/" target="_blank">Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya</a></li>
<li><a href="../2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</a></li>
<li><a href="../2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)</a></li>
<li><a href="../2011/10/29/2011/10/25/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir)</a></li>
<li><a href="../2011/10/29/2011/10/25/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kekhalifahan-sunni/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kekhalifahan Sunni)</a></li>
<li><a href="../2011/10/29/2011/10/25/2011/10/25/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-12-khalifah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis 12 Khalifah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/29/2011/10/25/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/" target="_blank">Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali</a></li>
<li><a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/" target="_blank">Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW”</a></li>
</ol>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><strong><span style="color:#008000;">UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN</span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comments" target="_blank"><span style="color:#0000ff;"> -KLIK DISINI-</span></a></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:left;">.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><strong><span style="text-decoration:underline;">BEBERAPA DISKUSI PENULIS DENGAN PEMBACA</span></strong></span></p>
<p><strong>kembali ke aqidah yg benar</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10547">September 15, 2009 at 7:52 pm</a>said:</p>
<p>Rasulullah yang mulia Shallallahu ‘alahi wa ‘ala Ali wa Salam pernah bersabda :</p>
<p>من كنت مولاه فعلي مولاه, اللهمّ والى من واله وعادى من عاداه</p>
<p>”Barangsiapa yang menganggap aku sebagai walinya, maka (aku angkat) Ali sebagai walinya, Ya Allah, dukunglah siapa saja yang mendukungnya (Ali)dan musuhilah siapa saja yang memusuhinya.”</p>
<p>Imam Albani berkata : “Adapun yang disebutkan oleh Syi’ah dalam hadits ini dengan tambahan lafazh yang lain, bahwasanya Nabi bersabda, “Sesungguhnya ia adalah khalifahku sepeninggalku nanti”, maka lafazh (tambahan) ini tidak shahih dari segala penjuru/sisi, bahkan padanya memiliki kebathilan yang banyak, yang menunjukkan kejadian/peristiwa tersebut di atas kedustaan.</p>
<p>Seandainya memang benar Nabi bersabda demikian, pastilah akan terjadi, karena tidaklah beliau mengucapkan sesuatu melainkan dari wahyu yang diwahyukan oleh Allah dan Allah tak pernah menyelisihi perkataannya/janjinya.”</p>
<p>Dan telah dikeluarkan hadits-hadits dusta ini dalam kitab lainnya milik Imam Albani, yakni ‘adh-Dha’ifah’ (4923,4932).</p>
<p>Lucunya, dengan hadits dusta dan munkar ini, syi’ah mengklaim bahwa ‘Ali adalah khalifah setelah Rasulullah, sedangkan Abu Bakar dan Umar mengkhianati Ali dan mengkhianati sabda Rasulullah dengan merampas hak wilayah Ali, maka sungguh mereka (syi’ah) itu telah melakukan:</p>
<p>1.Kedustaan atas nama Allah dan Rasul-Nya.<br />
2. Kedustaan atas nama Ali dan sahabat-sahabatnya.<br />
3.Mengingkari firman Allah subhanahu wa Ta’ala bahwa tidaklah Muhammad itu berkata kecuali dari wahyu yang diwahyukan.<br />
4.Mendustakan kebenaran sabda Nabi.<br />
5.Menuduh Allah Ta’ala tidak amanah dengan perkataan dan janji-Nya.<br />
6.Menuduh Rasulullah berdusta karena sabdanya tidak terlaksana.<br />
7.Menuduh, menfitnah dan mencela sahabat-sahabat Rasulullah yang mulia.<br />
8.Mendustakan hadits-hadist Nabawi yang shohih.<br />
9.Mengada-adakan sesuatu di dalam Islam yang tak pernah dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya.<br />
10.Mengkafirkan sahabat Rasulullah, melaknat mereka dan mengkafirkan ahlus sunnah wal jama’ah.</p>
<p>Maka wajib atas kita, baro’ terhadap kesesatan dan kekufuran mereka (syi’ah) atas tuduhan dan pengada-adaan yang mereka lakukan di dalam dien ini.</p>
<p>Allahumman-shur man nashoro dien wakh-dzul man khadzalahu.!!!</p>
<p>Ya Alloh tolonglah hamba-Mu yang membela agama-Mu dan hinakanlah mereka yang menghinakan agama-Mu</p>
<p>(diringkas dari Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah IV/330-334/1750)</p>
<p>***********</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10549">September 15, 2009 at 9:02 pm</a>said:</p>
<p>@Kembali ke aqidah yang benar</p>
<blockquote><p>Imam Albani berkata : “Adapun yang disebutkan oleh Syi’ah dalam hadits ini dengan tambahan lafazh yang lain, bahwasanya Nabi bersabda, “Sesungguhnya ia adalah khalifahku sepeninggalku nanti”, maka lafazh (tambahan) ini tidak shahih dari segala penjuru/sisi, bahkan padanya memiliki kebathilan yang banyak, yang menunjukkan kejadian/peristiwa tersebut di atas kedustaan.</p></blockquote>
<p>Silakan dibaca tulisan di atas dengan benar. Jelas sekali hadis di atas riwayat Ibnu Abi Ashim memiliki lafaz “Khalifah sepeninggalku” dan hadis tersebut shahih. Jadi silakan mau ikut Syaikh Albani atau ikut Rasulullah SAW. Sungguh benarlah perkataan Rasulullah, dan Syaikh Al Albani itu salah tenan. Saya heran dengan anda ini, seolah-olah setiap perkataan Syaikh Albani itu seperti hukum yang tidak bisa diganggu gugat atau selalu benar sampai-sampai anda ingin membantah hadis shahih hanya dengan perkataan Syaikh Al Albani. Yee salah tempat dong Mas, yang jadi rujukan itu mah Rasulullah SAW.</p>
<p>*******************</p>
<p><strong>kembali ke aqidah yg benar</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10771">Oktober 4, 2009 at 12:45 am</a>said:</p>
<p>@ sp</p>
<p>dari blog anda:</p>
<p>Sa’d bin Abi Waqqash radliyallaahu ‘anhu membawakan hadits semisal dalam Ash-Shahiihain<br />
عن سعد بن أبي وقاص قال خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم علي بن أبي طالب في غزوة تبوك فقال يا رسول الله تخلفني في النساء والصبيان فقال أما ترضى ان تكون مني بمنزلة هارون من موسى غير انه لا نبي بعدي</p>
<p>Dari Sa’d bin Abi Waqqaash ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi tugas ‘Ali bin Abi Thaalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). ‘Ali pun berkata : ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah ?’. Maka beliau menjawab : ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku ?” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 4416 dan Muslim no. 2404].</p>
<p>Hadis Shahihain ini diucapkan Nabi SAW pada perang Tabuk, tetapi Salafy mengklaim bahwa keutamaan yang dimiliki Imam Ali kedudukan Beliau di sisi Nabi SAW seperti kedudukan Harun di sisi Musa adalah terkhusus pada perang Tabuk saja dan tidak untuk setelahnya.</p>
<p>Ada lagi COPAS yg hampir sama dg diatas:<br />
==================================</p>
<p>Apa yang dimaksud dengan hadits :</p>
<p>من كنت مولاه فعلى مولاه .</p>
<p>“ Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”.</p>
<p>Adapun yang dimaksud dari hadits : “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”, maka dalam kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh ulama-ulama Ahlussunnah diterangkan sebagai berikut :</p>
<p>Pada tahun 10 H, Rasulullah beserta para sahabat berangkat ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji dan haji tersebut kemudian dikenal dengan haji Wada’.</p>
<p>Bertepatan dengan itu, rombongan Muslimin yang dikirim oleh Rasulullah ke Yaman sudah meninggalkan Yaman, mereka menuju Mekkah, untuk bergabung dengan Rasulullah. Rombongan tersebut dipimpin oleh Imam Ali bin Abi Thalib.</p>
<p>Begitu rombongan sudah mendekati tempat dimana Rasulullah berada, maka Imam Ali segera meninggalkan rombongannya guna bertemu dan melapor kepada Rasulullah SAW, dan sebagai wakilnya adalah sahabat Buraidah.</p>
<p>Sepeninggal Imam Ali, Buraidah membagi-bagikan pakaian hasil rampasan yang masih tersimpan dalam tempatnya, dengan maksud agar rombongan jika masuk kota (bertemu dengan yang lain) kelihatan rapi dan baik.</p>
<p>Namun begitu Imam Ali kembali menghampiri rombongannya beliau terkejut dan marah, serta memerintahkan agar pakaian-pakaian tersebut dilepaskan dan dikembalikan ke tempatnya. Hal mana karena Imam Ali berpendapat, bahwa yang berhak membagi adalah Rasulullah SAW.</p>
<p>Tindakan Imam Ali tersebut membuat anak buahnya kecewa dan terjadilah perselisihan pendapat.</p>
<p>Selanjutnya begitu rombongan sudah sampai ditempat Rasulullah, Buraidah segera menghadap Rasulullah dan menceritakan mengenai kejadian yang dialaminya bersama rombongan dari tindakan Imam Ali. Bahkan dari kesalnya, saat itu Buraidah sampai menjelek-jelekkan Imam Ali di depan Rasulullah SAW.</p>
<p>Mendengar laporan tersebut, Rasulullah agak berubah wajahnya, karena beliau tahu bahwa tindakan Imam Ali tersebut benar.</p>
<p>Kemudian Rasulullah bersabda kepada Buraidah sebagai berikut :</p>
<p>يا بريدة ألست أولى بالمؤمنين من أنفسهم.</p>
<p>“ Hai Buraidah, apakah saya tidak lebih utama untuk diikuti dan dicintai oleh Mukminin daripada diri mereka sendiri”.</p>
<p>Maka Buraidah menjawab :</p>
<p>بلى يارسول الله</p>
<p>“ Benar Yaa Rasulullah”.</p>
<p>Kemudian Rasulullah bersabda :</p>
<p>من كنت مولاه فعلى مولاه رواه الترمذى والحاكم</p>
<p>“ Barangsiapa menganggap aku sebagai pemimpinnya, maka terimalah Ali sebagai pemimpin”.</p>
<p>Yang dimaksud oleh hadits tersebut adalah, apabila Muslimin menganggap Rasulullah sebagai pemimpin mereka, maka Imam Ali harus diterima sebagai pemimpin, sebab yang mengangkat Imam Ali sebagai pemimpin rombongan ke Yaman itu Rasulullah SAW. Karena itu dia harus dicintai dan dibantu serta dipatuhi semua perintahnya.</p>
<p>Demikian maksud dari hadits : “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”. Sebagaimana yang tertera dalam kitab-kitab yang ditulis oleh ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah (baca kitab Al Bidayatul Hidayah oleh Ibnu Katsir).</p>
<p>Selanjutnya, oleh karena perselisihan tersebut, tidak hanya terjadi antara Imam Ali dengan Buraidah saja, tapi dengan seluruh rombonganya, dimana orang-orang tersebut menjelek-jelekkan Imam Ali dengan kata-kata tidak baik, yang berakibat dapat menjatuhkan nama baik Imam Ali, bahkan perselisihan tersebut didengar oleh orang-orang yang tidak ikut dalam rombongan ke Yaman itu, maka setelah Rasulullah selesai melaksanakan ibadah haji, disaat Rasulullah dan Muslimin sampai di satu tempat yang bernama Ghodir Khum, Rasulullah berkhotbah, dimana diantaranya beliau mengulangi lagi kata-kata yang telah disampaikan kepada Buraidah tersebut, yaitu “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”</p>
<p>Itulah sebabnya hadits tersebut dikenal sebagai hadits Ghodir Khum. Karena waktu disampaikan di Ghodir Khum itu, disaksikan oleh ribuan sahabat.</p>
<p>Jadi sekali lagi, bahwa hadits : “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”. Itu tidak ada hubungannya dengan penunjukan Imam Ali sebagai Khalifah sesudah Rasulullah wafat. Tapi sebagai pemimpin rombongan ke Yaman yang harus dicintai dan ditaati semua perintahnya.</p>
<p>Sebenarnya apabila hadits tersebut akan diartikan sebagaimana orang-orang Syiah mengartikan hadits tersebut, yaitu dianggap sebagai pengangkatan Imam Ali sebagai Khalifah, maka faham yang demikian itu akan membawa konsekuensi dan resiko yang sangat besar. Sebab sangsi bagi orang-orang yang menolak atau meninggalkan nash Rasulullah, apalagi menghianati Rasulullah adalah kafir.</p>
<p>Dengan demikian, Sayyidina Abu Bakar akan dihukum kafir karena melanggar dan meninggalkan nash Rasulullah, demikian pula para sahabat yang membai’at Khalifah Abu Bakar, Khalifah Umar dan Khalifah Ustman mereka juga akan dihukum kafir, sebab tidak melaksanakan dan melanggar nash Rasulullah. Bahkan Imam Ali sendiri akan terkena sangsi kufur tersebut, sebab dia melanggar dan menolak bahkan menghianati nash Rasulullah tersebut.</p>
<p>Itulah resiko dan konsekuensi bila hadits “Man Kuntu Maulahu Fa Aliyyun Maulahu”, diartikan sebagai penunjukan Imam Ali sebagai Khalifah pengganti Rasulullah SAW.</p>
<p>Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari aqidah Syiah yang sesat dan menyesatkan. Amin.</p>
<p>APA PERSAMAANNYA:</p>
<p>1. Syiah mengklaim hadits ghadir khum sebagai penunjukan Imam Ali sebagai Khalifah sesudah Rasulullah wafat.<br />
Ternyata, sebagai pemimpin rombongan ke Yaman yang harus dicintai dan ditaati semua perintahnya.</p>
<p>2. Syiah mengklaim, hadits</p>
<p>Sa’d bin Abi Waqqash radliyallaahu ‘anhu membawakan hadits semisal dalam Ash-Shahiihain<br />
عن سعد بن أبي وقاص قال خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم علي بن أبي طالب في غزوة تبوك فقال يا رسول الله تخلفني في النساء والصبيان فقال أما ترضى ان تكون مني بمنزلة هارون من موسى غير انه لا نبي بعدي</p>
<p>Dari Sa’d bin Abi Waqqaash ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah memberi tugas ‘Ali bin Abi Thaalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). ‘Ali pun berkata : ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah ?’. Maka beliau menjawab : ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku ?” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy no. 4416 dan Muslim no. 2404].</p>
<p>sebagai penunjukan Imam Ali sebagai Khalifah sesudah Rasulullah wafat.<br />
Ternyata, terkhusus pada perang Tabuk saja dan tidak untuk setelahnya.</p>
<p>COBA LIHAT HADITS INI:</p>
<p>1.Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Abu Said dan Abu Hurairah Marfu’ (yang tetap sanadnya sampai kepada Rasul): “Jika keluar tiga orang dalam sebuah perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat pemimpin salah satunya. Dan bentuk permintaan dalam hadits adalah perintah sebab menggunakan ungkapan Fi’il Mudhari (kata kerja sekarang dan akan datang) dengan disertai Lamul Amr (Huruf Lam yang mengandung arti perintah) maka ia mengandung makna kewajiban.</p>
<p>2.Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya dari hadits Abdullah bin Amr sesungguhnya Nabi SAW bersabda: “Tidaklah dibenarkan bagi tiga orang yang berada pada sebuah padang di bumi kecuali mereka mengangkat pemimpin salah seorang di antara mereka”.</p>
<p>Dua hadits telah jelas menetapkan kewajiban mengangkat pemimpin pada sebuah kelompok dan golongan yang kecil dalam sebuah perjalanan yang mereka lakukan.</p>
<p>Jadi Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi pemimpin, HANYA dalam perjalanan , seperti Nabi Musa AS mengajak tujuh puluh orang yang telah dipilih diantara pengikutnya untuk menyertainya ke bukit Thur Sina dan mengangkat Nabi Harun AS sebagai wakilnya mengurus serta memimpin kaum yang ditinggalkan selama kepergiannya ke tempat bermunajat itu.</p>
<p>PERTANYAAN BESAR:<br />
Lalu apakah kepemimpinan itu berlanjut setelah USAI perjalanan?<br />
Silahkan cari jawabannya, jika anda benar.</p>
<p>*********************</p>
<p><strong>kembali ke aqidah yg benar</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10774">Oktober 4, 2009 at 10:22 am</a>said:</p>
<p>ada tambahan :</p>
<p>Nabi Harun AS wafat sebelum Nabi Musa AS. Jadi tidak bisa DIANALOGIKAN Ali bin abi thalib ra menggantikan kepimpinan setelah Nabi SAW wafat.</p>
<p>Jadi hadits yg @SP berikan, khusus hanya untuk pada saat perang tabuk saja.</p>
<p>BUKAN BEGITU?</p>
<p>*******************</p>
<p><strong>kembali ke aqidah yg benar</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10775">Oktober 4, 2009 at 10:49 am</a>said:</p>
<p>@SP</p>
<p>Jadi anda yg SALAH TENAN, bukan Syaikh Albani.</p>
<p>*******************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10776">Oktober 4, 2009 at 11:01 am</a>said:</p>
<p>@kembali ke aqidah yang benar<br />
sampean itu ngomong apa?. sebelum komentar baca dulu baik-baik tulisan saya (gak ada bahas hadis ghadir kum di atas), itu ada hadis Rasul SAW di atas yang berbunyi<br />
وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي<br />
Engkau Khalifah bagi setiap mukmin sepeninggalKu.<br />
mau ikut syaikh Albani ya silakan, saya lebih ikut Rasul SAW.</p>
<p>**********************</p>
<p><strong>kembali ke aqidah yg benar</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10778">Oktober 4, 2009 at 4:46 pm</a>said:</p>
<p>@SP</p>
<p>Jangan ambil sepotong2 haditsnya.</p>
<p>Hadits yg anda ambil, ketika Nabi SAW hendak pergi ke perang tabuk dan memberikan mandat kepemimpinan kepada Ali ra untuk menjaga anak2 dan wanita di rumah.</p>
<p>Sama halnya ketika Nabi Musa AS memberi mandat kepemimpinan kepada Nabi Harun AS untuk bani israil, ketika Nabi Musa as pergi ke bukit Thur Sina.</p>
<p>Dan itu tidak ada hubungannya untuk kekhalifahan Ali bin Abi Thalib setelah Nabi SAW wafat.<br />
Karena tidak bisa dianalogikan dengan Nabi Harun AS yg wafat lebih dahulu sebelum Nabi Musa As.</p>
<p>*******************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10781">Oktober 4, 2009 at 5:24 pm</a>said:</p>
<p>@kembali ke aqidah yang benar<br />
siapa yang motong, saya menunjukkan kalau anda itu tidak membaca lafaz hadis<br />
وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي<br />
Engkau Khalifah bagi setiap mukmin sepeninggalKu<br />
itu kata-kata yang jelas kalau Rasul SAW menunjuk Imam Ali sebagai khalifah sepeninggal Beliau SAW. Jadi kalau memang aqidah anda benar ya berpegang dong pada perkataan Rasul bukannya malah taklid buta sama Syaikh Albani</p>
<p>*******************</p>
<p><strong>kembali ke aqidah yg benar</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10782">Oktober 4, 2009 at 5:25 pm</a>said:</p>
<p>@sp</p>
<p>ini juga dari RASULULLAH:</p>
<p>Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Ali bin Abi Thalib keluar dari sisi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: “Wahai Abal Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam?” Beliau menjawab: “Alhamdulillah baik”. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Engkau, demi Allah, setelah tiga hari ini akan memegang tongkat kepemimpinan. Sungguh aku mengerti bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan kepada siapa urusan ini dipegang? Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun mengetahuinya dan beliau akan MEMBERIKAN wasiatnya”. Ali bin Abi Thalib menjawab: “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakannya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan memintanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447)</p>
<p>Nabi saw TIDAK MEMBERIKAN WASIAT KEKHALIFAHAN kpeada ALI ra.</p>
<p>******************</p>
<p><strong>kembali ke aqidah yg benar</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10783">Oktober 4, 2009 at 5:31 pm</a>said:</p>
<p>@sp</p>
<p>sepeninggal apanya? wafat atau HANYA pergi ke perang tabuk?</p>
<p>********************</p>
<p><strong>imem</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10784">Oktober 4, 2009 at 6:04 pm</a>said:</p>
<p>@kembali ke aqidah yg benar</p>
<p>Siip.. dan hadits yg anda bawakan tsb kualitas keshahihannya di atas hadits yg SP bawakan..</p>
<p>Kita lihat apakah beliau ini akan tetap mengingkari juga hadits yang shahih dengan matan yg begitu jelas yg membantah pemahaman dia mengenai hadits yg dibawakannya? jika tetep spt itu, maka tidak syak lagi memang beliau ini adalah “S**’ *h Tulen”<br />
wuakakakak…</p>
<p>********************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10786">Oktober 4, 2009 at 6:38 pm</a>said:</p>
<p>@imem</p>
<blockquote><p>Siip.. dan hadits yg anda bawakan tsb kualitas keshahihannya di atas hadits yg SP bawakan..</p></blockquote>
<p>yah sejak kapan situ ngerti soal sanad hadis, bukannya sampean yang terbukti berhujjah dengan hadis dhaif, lucu sekali <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /><br />
nih simak baik-baik</p>
<blockquote><p>Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Engkau, demi Allah, setelah tiga hari ini akan memegang tongkat kepemimpinan.</p></blockquote>
<p>Bukankah ini pengakuan Abbas kalau Imam Ali akan memegang kepemimpinan, lantas darimana dia tahu, sudah jelas dari perkataan Rasulullah SAW sebelumnya, salah satunya yang saya tulis di tulisan di atas.</p>
<blockquote><p>Sungguh aku mengerti bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam untuk menanyakan kepada siapa urusan ini dipegang? Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya.</p></blockquote>
<p>Sahabat Abbas RA hanya ingin meminta kejelasan lagi dari Rasulullah SAW</p>
<blockquote><p>Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun mengetahuinya dan beliau akan MEMBERIKAN wasiatnya”.</p></blockquote>
<p>Maka perhatikanlah, tidak ada wasiat dari Rasul bahwa khalifah akan diserahkan kepada sahabat yang lain kecuali kepada Ali bin Abi Thalib diantaranya hadis di atas dan hadis lain yang akan kami kutip nanti. Kalau memang akan diserahkan kepada selain Ahlul bait maka akan diberikan wasiatnya.</p>
<blockquote><p>Ali bin Abi Thalib menjawab: “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakannya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka tidak akan diberikan oleh manusia kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan memintanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.</p></blockquote>
<p>Imam Ali tidak mau menanyakan lagi masalah ini, karena telah diketahui dengan jelas bahwa Ahlul Bait lah pengganti bagi Nabi SAW diantaranya dari hadis berikut yang diucapkan Nabi jauh setelah perang Tabuk</p>
<p>ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لعلي أنت ولي كل مؤمن بعدي<br />
Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelahku”.<br />
[diriwayatkan dalam Musnad Abu Daud Ath Thayalisi no 829 dan 2752, Sunan Tirmidzi no 3713, Khasa’is An Nasa’i no 89, Musnad Abu Ya’la no 355, Shahih Ibnu Hibban no 6929, Musnad Ahmad 5/356 dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dan Al Mustadrak 3/134, Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 4/468 menyatakan sanadnya kuat, Syaikh Al Albani memasukkan hadis ini dalam Silsilah Ahadits As Shahihah no 2223].</p>
<p>Dan Ahlul bait sebagai khalifah pengganti Nabi dapat dilihat di hadis dalam tulisan berikut<br />
<a href="http://secondprince.wordpress.com/2008/05/25/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait/" rel="nofollow">http://secondprince.wordpress.com/2008/05/25/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait/</a></p>
<p>Nah sekarang giliran anda-anda semua, apakah mau mengingkari hadis shahih yang saya bawakan, jika tetap seperti itu maka tidak syak lagi memang kalian ini adalah ing**r sunnah tulen <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p>*****************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10787">Oktober 4, 2009 at 6:50 pm</a>said:</p>
<p>@kembali ke aqidah yang benar</p>
<blockquote><p>sepeninggal apanya? wafat atau HANYA pergi ke perang tabuk?</p></blockquote>
<p>Makanya kalau baca hadis itu jangan baca terjemahan doang, tuh baca arabnya yang saya tampilkan, kata-kata Rasul SAW itu<br />
أنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي<br />
jangan cuma ngulang argumennya si imem or antirafidhah, dia mah kagak mau baca arabnya, dan sekalian situ lihat kutipan yang ini dalam tulisan di atas</p>
<p>وليس فيه دلالة لاستخلافه بعده<br />
Kata-kata Nawawi diartikan salafy dengan <strong>Tidak ada petunjuk (dilaalah) di dalamnya bahwa ‘Ali sebagai pengganti setelah (wafatnya) beliau.</strong> Kali ini dengan mudah salafy memaknai kata yang dicetak biru sebagai setelah (wafatnya) Beliau. Anehnya dalam hadis riwayat Ibnu Abi Ashim ia menafikan bahwa kata tersebut berarti wafat. Sekali lagi kontradiksi<br />
Sudah dari sebelumnya saya katakan, tulisan saya di atas dibaca dulu yang benar, baru komentar <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<p>*****************</p>
<p><strong>imem</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10788">Oktober 4, 2009 at 7:23 pm</a>said:</p>
<blockquote><p>Bukankah ini pengakuan Abbas kalau Imam Ali akan memegang kepemimpinan, lantas darimana dia tahu, sudah jelas dari perkataan Rasulullah SAW sebelumnya, salah satunya yang saya tulis di tulisan di atas.</p></blockquote>
<p>Terjemahannya kali yg kurang tepat, seharusnya diterjemahkan bukan memegang kepemimpinan, tetapi sebagai “hamba tongkat” yg artinya dia akan dipimpin oleh seseorang.. wuakakak..</p>
<blockquote><p>Sahabat Abbas RA hanya ingin meminta kejelasan lagi dari Rasulullah SAW</p></blockquote>
<p>Menunjukkan bahwa memang sebelumnya tidak ada penunjukkan terhadap Imam Ali.. jelas sekali itu..</p>
<blockquote><p>Maka perhatikanlah, tidak ada wasiat dari Rasul bahwa khalifah akan diserahkan kepada sahabat yang lain kecuali kepada Ali bin Abi Thalib diantaranya hadis di atas dan hadis lain yang akan kami kutip nanti. Kalau memang akan diserahkan kepada selain Ahlul bait maka akan diberikan wasiatnya.</p></blockquote>
<p>Ya intinya mereka pun juga tidak menerima wasiat</p>
<blockquote><p>Imam Ali tidak mau menanyakan lagi masalah ini, karena telah diketahui dengan jelas bahwa Ahlul Bait lah pengganti bagi Nabi SAW diantaranya dari hadis berikut yang diucapkan Nabi jauh setelah perang Tabuk</p></blockquote>
<p>wuakakak.. bertentangan dengan perkataan Imam Ali sendiri dunk kalo gitu :</p>
<p>Diriwayatkan dari hadits al-A’masy dari Ibrahim at Taimi dari ayahnya, dia berkata, “Ali bin Abi Thalib berpidato di hadapan kami dan berkata”, <em>“Barangsiapa menganggap bahwa kami memiliki sesuatu wasiat (dari Rasulullah) selain Kitabullah dan apa yang terdapat dalam sahifah (secarik kertas yang tersimpan dalam sarung pedangnya berisi tentang umur unta dan diyat tindakan kriminal) <strong>maka sesungguhnya dia telah berkata dusta! </strong> Dan diantara sahifah itu disebutkan sabda Rasulullah “Madinah adalah tanah suci antara gunung ‘Ir dan Tsaur, maka barang siapa membuat sesuatu yang baru atau melindungi orang tersebut maka atasnya laknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan. dan barangsiapa menisbatkan dirinya kepada selain ayahnya ataupun menisbatkan dirinya kepada selain tuannya, maka atasnya laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan, dan sesungguhnya dzimmah (jaminan yang diberikan kaum muslimin thd orang kafir) adalah satu. Maka barangsiapa merusak dzimmah seorang mukmin maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak akan menerima darinya sedikitpun tebusan maupun suapan” </em>(HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad)</p>
<p>Perhatikan Imam Ali tidak pernah merasa mendapatkan wasiat selain yang beliau sebutkan di atas, bahkan beliau mengatakan Dusta! kepada orang2 yg beranggapan selain dari apa yg beliau ucapkan. Nah apakah sampeyan mau mengingkari juga perkataan Imam Ali yg sedemikian jelas di atas?, jika tetap spt itu, wah bener-bener S** ‘ *h tulen nich.. <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /> wuakakakak</p>
<p>********************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10791">Oktober 4, 2009 at 10:53 pm</a>said:</p>
<p>@imem<br />
sebelum bawa hadis lain tanggapi dulu dong hadis yang saya bawakan itu, jangan cuma saya aja yang ngoceh. atau memang gak bisa membantah, silakan tanggapi dulu baru kita lanjut <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<p>**************</p>
<p><strong>kembali ke aqidah yg benar</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10821">Oktober 6, 2009 at 11:19 pm</a>said:</p>
<p>salafy memiliki argumen<br />
syiah mempunyai argumen</p>
<p>Tetapi sudah jelas siapa yg berDUSTA tasa nama Ali bin Abi Thalib ra.</p>
<p>******************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10823">Oktober 7, 2009 at 5:05 am</a>said:</p>
<p>@kembali ke aqidah yang benar</p>
<blockquote><p>salafy memiliki argumen<br />
syiah mempunyai argumen</p>
<p>Tetapi sudah jelas siapa yg berDUSTA tasa nama Ali bin Abi Thalib ra.</p></blockquote>
<p>Dan sudah jelas pula siapa yang berdusta atas nama Rasul SAW <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<p>*******************</p>
<p><strong>imem</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10844">Oktober 7, 2009 at 1:22 pm</a>said:</p>
<p>@SP</p>
<blockquote><p>@imem<br />
sebelum bawa hadis lain tanggapi dulu dong hadis yang saya bawakan itu, jangan cuma saya aja yang ngoceh. atau memang gak bisa membantah, silakan tanggapi dulu baru kita lanjut</p></blockquote>
<p>wuakakak… mana yg perlu ditanggapi? kan udah ditanggapi? kalo bukan saya yg laen kan dah nanggapi.. makanya jgn parsial kalo ngambil dalil2 milik sunni, semua ada keterkaitannya… ketauan nech SP ga bs bantah lagi ya… jika sampeyan bukan S** ‘ *h tulen pastilah anda akan membenarkan perkataan Imam Ali di atas sesuai ilmu hadits yg anda tekuni, tapi kalo dasarnya memang S** ‘ *h ya riwayat2 yg diambil hanya yg sesuai keyakinan S** ‘ *h-nya aja iya tho… wuakakak … jangan sampai lho menjadi orang yg termasuk dikatakan Dusta oleh beliau? wuakakakak…</p>
<blockquote><p>salafy memiliki argumen<br />
syiah mempunyai argumen</p>
<p>Tetapi sudah jelas siapa yg berDUSTA tasa nama Ali bin Abi Thalib ra.</p>
<p>Dan sudah jelas pula siapa yang berdusta atas nama Rasul SAW</p></blockquote>
<p>Dan sudah jelas siapa yang berdusta atas nama Rasulullah SAW seklaigus Imam Ali ra… terlalu jelas sih… wuakakakak</p>
<p>********************</p>
<p><strong>antirafidhah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10848">Oktober 7, 2009 at 4:03 pm</a>said:</p>
<p>@armand</p>
<p>Mungkin yang dimaksud bung Imem, penunjukkan langsung oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam secara jelas memang tidak ada, tetapi secara isyarat dan signal memang ada, salah satunya adalah hadits yg anda sebutkan di atas dan Rasulullah terlihat mengetahui siapa yang bakal menjadi khalifah selepas beliau dengan ungkapan beliau dalam suatu hadits <em>“Allah dan Kaum Mukminin tidak akan ridha melainkan Abu Bakar”</em>, di sini terlihat Rasulullah mengatakan tanpa melibatkan diri beliau, bahwa yang menghendaki Abu Bakar menjadi khalifah selepas beliau adalah Allah dan kaum mukminin.. dan kenyataannya memang seperti itu. oleh karena itu bisa dipahami mengapa Rasulullah begitu tegas menunjuk Abu Bakar sebagai Imam Shalat pengganti beliau dengan uslub kalimat yang sama ketika beliau mengingkari sahabat selain Abu Bakar menjadi Imam Shalat yaitu <em>“Mana Abu Bakar? Sesungguhnya Allah dan kaum muslimin tidak akan rela dengan ini, Sesungguhnya Allah dan kaum muslimin tidak akan rela dengan ini”</em></p>
<p>Wallahu A’lam bishowab</p>
<p>*********************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10854">Oktober 7, 2009 at 8:07 pm</a>said:</p>
<p>@imem</p>
<blockquote><p>wuakakak… mana yg perlu ditanggapi? kan udah ditanggapi?</p></blockquote>
<p>akan lebih baik kalau anda berhenti tertawa dan fokus untuk menanggapi komentar-komentar saya. kecuali kalau anda kehabisan hujjah maka yang bisa anda lakukan cuma tertawa.</p>
<blockquote><p>kalo bukan saya yg laen kan dah nanggapi..</p></blockquote>
<p>yang laen mana?, kagak ada tuh. Saya menanggapi dengan membawa dua hadis shahih Rasulullah SAW</p>
<ol>
<li>Hadis Tsaqalain dengan matan Khalifah</li>
<li>Hadis Ali Pemimpin bagi setiap mukmin setelah Nabi</li>
</ol>
<p>Nah silakan ditanggapi, atau mau mendustakan kedua hadis tersebut.</p>
<blockquote><p>makanya jgn parsial kalo ngambil dalil2 milik sunni, semua ada keterkaitannya…</p></blockquote>
<p>Kagak nyadar ya, kalau yang begitu kan sampean sendiri <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>ketauan nech SP ga bs bantah lagi ya…</p></blockquote>
<p>Saya cukup membawa perkataan Rasulullah SAW saja, bagi anda yang mau ingkar itu urusan anda sendiri <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>.jika sampeyan bukan S** ‘ *h tulen pastilah anda akan membenarkan perkataan Imam Ali di atas sesuai ilmu hadits yg anda tekuni,</p></blockquote>
<p>Makanya situ jangan parsial ngambil perkataan Imam Ali. Ada kok atsar Imam Ali yang mengakui kepemimpinannya.</p>
<blockquote><p>tapi kalo dasarnya memang S** ‘ *h ya riwayat2 yg diambil hanya yg sesuai keyakinan S** ‘ *h-nya aja iya tho…</p></blockquote>
<p>Yah kalau pengikut salafy kehabisan dalil begitu deh bahasanya. toh bukannya salafy yang punya kebiasaan hanya mengambil sesuai keyakinannya saja dan menakwilkan setiap dalil yang memberatkan mereka agar bisa disesuai-sesuaikan dengan keyakinan salafy. Yah seperti kerja sampean ini <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>wuakakak … jangan sampai lho menjadi orang yg termasuk dikatakan Dusta oleh beliau? wuakakakak…</p></blockquote>
<p>Insya Allah berpegang pada hadis shahih bukanlah sebuah kedustaan, justru mencatut perkataan Imam Ali dan menjadikannya dalil untuk menentang hadis Rasulullah SAW adalah dusta. Imam Ali sendiri mengakui kepemimpinan yang diberikan Rasul SAW kepadanya dan itu cukup menjadi hujjah <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<p>@antirafidhah</p>
<blockquote><p>Mungkin yang dimaksud bung Imem, penunjukkan langsung oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam secara jelas memang tidak ada, tetapi secara isyarat dan signal memang ada,</p></blockquote>
<p>ada kok, itu hadis dalam tulisan saya di atas plus hadis<br />
ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لعلي أنت ولي كل مؤمن بعدي<br />
Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelahku”. uups ditambah hadis Tsaqalain dengan matan “khalifah”<br />
Tetapi sayangnya anda atau imem mencari-cari dalih untuk menolak. <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>salah satunya adalah hadits yg anda sebutkan di atas dan Rasulullah terlihat mengetahui siapa yang bakal menjadi khalifah selepas beliau dengan ungkapan beliau dalam suatu hadits “Allah dan Kaum Mukminin tidak akan ridha melainkan Abu Bakar”,</p></blockquote>
<p>Gak ada kok soal khalifah dalam hadis yang anda bawa, itu namanya mengada-ada. Tetapi mengagumkan juga, hadis yang ada kata khalifah anda tolak or dicari-cari ta’wilnya tetapi hadis yang gak ada kata khalifah anda tarik seenaknya agar berarti khalifah. aplaus deh buat anda <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>di sini terlihat Rasulullah mengatakan tanpa melibatkan diri beliau, bahwa yang menghendaki Abu Bakar menjadi khalifah selepas beliau adalah Allah dan kaum mukminin..</p></blockquote>
<p>hooo klaim nih, tahu dari mana Allah dan kaum mukminin menginginkan Abu Bakar menjadi khalifah. Jujur ya kalau saja Abu Bakar gak datang ke Saqifah maka kaum Anshar pasti sudah membaiat pemimpin mereka <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>dan kenyataannya memang seperti itu. oleh karena itu bisa dipahami mengapa Rasulullah begitu tegas menunjuk Abu Bakar sebagai Imam Shalat pengganti beliau dengan uslub kalimat yang sama ketika beliau mengingkari sahabat selain Abu Bakar menjadi Imam Shalat yaitu “Mana Abu Bakar? Sesungguhnya Allah dan kaum muslimin tidak akan rela dengan ini, Sesungguhnya Allah dan kaum muslimin tidak akan rela dengan ini”</p></blockquote>
<p>Nah kalau yang ini mah lebih sesuai dengan hadisnya, itu berarti kata-kata Sesungguhnya Allah dan kaum muslimin tidak akan rela dengan ini, itu ditujukan soal imam shalat bukan kekhalifahan kan, nah gimana, jangan tarik ulur sekenanya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p>*************</p>
<p><strong>antirafidhah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10857">Oktober 8, 2009 at 12:43 am</a>said:</p>
<p>@SP</p>
<blockquote><p>ada kok, itu hadis dalam tulisan saya di atas plus hadis<br />
ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لعلي أنت ولي كل مؤمن بعدي<br />
Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “Engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelahku”. uups ditambah hadis Tsaqalain dengan matan “khalifah”<br />
Tetapi sayangnya anda atau imem mencari-cari dalih untuk menolak.</p></blockquote>
<p>Perasaan hal itu sudah ditanggapi dg panjang lebar dech, Yang memang itulah yang kita pahami, bahwa memang hadits tsb bukanlah dalil penunjukkan Imam Ali untuk menjadi khalifah setelah Rasulullah wafat, silahkan dibaca lg dech.. terlalu banyak dalil utk disebutkan <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Gak ada kok soal khalifah dalam hadis yang anda bawa, itu namanya mengada-ada. Tetapi mengagumkan juga, hadis yang ada kata khalifah anda tolak or dicari-cari ta’wilnya tetapi hadis yang gak ada kata khalifah anda tarik seenaknya agar berarti khalifah. aplaus deh buat anda</p></blockquote>
<p>Terpaksa saya setuju apa kata bung Imem, memang anda itu parsial dlm memahami sesuatu <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /><br />
Itu memang salah satu isyarat dari Rasulullah mengenai kepemimpinan Abu Bakar selepas beliau, yang jelas Rasulullah menghendaki menulis wasiat untuk Abu Bakar, supaya tidak ada orang yang nanti mengatakan “aku lebih berhak” tetapi tampaknya beliau tidak jadi karena beliau yakin dan bersabda bahwa “Allah dan kaum mukminin hanya menghendaki Abu Bakar”.. silahkan saja anda mau menta’wilkan dg yang lain ga ada mslh buat kami <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /> , kalau kami sih sudah paham akan isyarat tsb. dan kenyataan yang terjadi menunjukkan kebenarannya, memang Allah dan kaum mukminin berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali, inilah sebaik-baik bukti akan kebenaran pemahaman kami akan hadits tersebut, sedangkan takwilan anda pada hadits yg anda bawakan ternyata tidak terbukti <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" alt=":lol:" /> dan lebih-lebih lagi Imam Ali sendiri berba’iat kepada Abu Bakar, mengakui keutamaan Abu Bakar, bahkan beliau mengaku tidak merasa mendapat wasiat kekhalifahan di dlm riwayat2 yg shahih.</p>
<blockquote><p>hooo klaim nih, tahu dari mana Allah dan kaum mukminin menginginkan Abu Bakar menjadi khalifah. Jujur ya kalau saja Abu Bakar gak datang ke Saqifah maka kaum Anshar pasti sudah membaiat pemimpin mereka</p></blockquote>
<p>Lah kalau sesuatu yang sudah terjadi entah bagaimanapun prosesnya, apakah menurut anda itu bukan kehendak Allah? dan ternyata kaum Anshar membai’at Abu Bakar juga, itu kenyataannya mas dan sesuai dengan isyarat Nabi memang Allah dan kaum mukminin menghendaki Abu Bakar yang menjadi khalifah selepas Rasul dan bahkan Imam Ali yang makshum menurut Syi’ah pun berbai’at dan mengakui keutamaan Abu Bakar bahkan 2 khalifah selanjutnya.. 3 periode kepemimpinan mas beliau konsisten dengan sikap beliau tsb.. sekali lagi itu lah kenyataannya mas…. walaupun anda ga mau terima <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Nah kalau yang ini mah lebih sesuai dengan hadisnya, itu berarti kata-kata Sesungguhnya Allah dan kaum muslimin tidak akan rela dengan ini, itu ditujukan soal imam shalat bukan kekhalifahan kan, nah gimana, jangan tarik ulur sekenanya</p></blockquote>
<p>Ya silahkan saja, yang jelas kedua hadits tersebut sudah terbukti kebenarannya dan telah menjadi kenyataan, orang yg masih jernih pikirannya, akan sangat mudah sekali memahami dan menerimanya. dan kami tidak butuh penakwilan hadits yg ternyata tidak terbukti kenyataannya, apalagi terbukti penakwilan tsb adalah salah dilihat dari berbagai segi <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /> Ya saya cuma bisa kasihan kepada anda jika ternyata keinginan anda dan kaum Syi’ah tidak dikehendaki oleh Allah, Rasul-Nya, kaum mukminin dan Imam Ali sendiri.. jadi maaf-maaf saja ya kalau anda kecewa dg kenyataan yg ada, moga2 saja tidak dibawa sampai mati aja kekesalan itu <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" alt=":lol:" /></p>
<p>Tapi ga ada paksaan kok, benar salah itu sudah terlihat begitu terang <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p>*************</p>
<p><strong>antirafidhah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10858">Oktober 8, 2009 at 4:02 am</a>said:</p>
<p>Maaf Ralat :</p>
<p>pada komentar saya di atas</p>
<blockquote><p>kalau kami sih sudah paham akan isyarat tsb. dan kenyataan yang terjadi menunjukkan kebenarannya, memang Allah dan kaum mukminin berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali, inilah sebaik-baik bukti akan kebenaran pemahaman kami akan hadits tersebut,…</p></blockquote>
<p>seharusnya</p>
<blockquote><p>kalau kami sih sudah paham akan isyarat tsb. dan kenyataan yang terjadi menunjukkan kebenarannya, memang Allah dan kaum mukminin menghendaki Abu Bakar menjadi khalifah selepas Rasulullah wafat, kaum mukminin berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali, inilah sebaik-baik bukti akan kebenaran pemahaman kami akan hadits tersebut,…</p></blockquote>
<p>**************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10859">Oktober 8, 2009 at 5:39 am</a>said:</p>
<p>@antirafidhah</p>
<blockquote><p>Perasaan hal itu sudah ditanggapi dg panjang lebar dech, Yang memang itulah yang kita pahami, bahwa memang hadits tsb bukanlah dalil penunjukkan Imam Ali untuk menjadi khalifah setelah Rasulullah wafat, silahkan dibaca lg dech.. terlalu banyak dalil utk disebutkan</p></blockquote>
<p>tanggapan dari mana? jangan mengada-adalah. giliran diberi dalil yang jelas bilangnya “ah sudah ditanggapi”. Palsu banget. Memangnya dalil-dalil yang sampean bawa gak ada yang menanggapin apa. terlalu banyak kali yang sudah menanggapi kalian <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Terpaksa saya setuju apa kata bung Imem, memang anda itu parsial dlm memahami sesuatu</p></blockquote>
<p>ah anda atau imem kan memang sama, jadi gak ada artinya deh <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Itu memang salah satu isyarat dari Rasulullah mengenai kepemimpinan Abu Bakar selepas beliau, yang jelas Rasulullah menghendaki menulis wasiat untuk Abu Bakar, supaya tidak ada orang yang nanti mengatakan “aku lebih berhak” tetapi tampaknya beliau tidak jadi karena beliau yakin dan bersabda bahwa “Allah dan kaum mukminin hanya menghendaki Abu Bakar”.. silahkan saja anda mau menta’wilkan dg yang lain ga ada mslh buat kami</p></blockquote>
<p>Gampang aja deh Mas, coba jawab itu wasiat buat apa, jawab dengan dalil bukan dengan perasaan <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>kalau kami sih sudah paham akan isyarat tsb. dan kenyataan yang terjadi menunjukkan kebenarannya, memang Allah dan kaum mukminin berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali, inilah sebaik-baik bukti akan kebenaran pemahaman kami akan hadits tersebut,</p></blockquote>
<p>bukti dari mana? kalau memang kaum mukminin hanya rela dengan abu bakar. Kenapa pada awalnya kaum anshar malah mau memilih pemimpin sendiri, dan kenapa ada sahabat-sahabat yang menunda baiatnya, dan kenapa perlu ada ancaman sampai mau membakar rumah Ahlul Bait. siapa nih yang sekarang parsial dalam memahami sesuatu <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>dan lebih-lebih lagi Imam Ali sendiri berba’iat kepada Abu Bakar, mengakui keutamaan Abu Bakar, bahkan beliau mengaku tidak merasa mendapat wasiat kekhalifahan di dlm riwayat2 yg shahih.</p></blockquote>
<p>Imam Ali menunda baiatnya, sangat jelas itu. btw kapan beliau mengakui tidak merasa mendapat wasiat kekhalifahan. hadis yang anda atau imem jadikan hujjah itu soal wasiat yang dimiliki Ahlul Bait tetapi tidak disampaikan kepada umatnya, dan memang tidak ada wasiat seperti itu. sedangkan soal kekhalifahan sudah Rasulullah SAW katakan kepada umatnya.</p>
<blockquote><p>Lah kalau sesuatu yang sudah terjadi entah bagaimanapun prosesnya, apakah menurut anda itu bukan kehendak Allah?</p></blockquote>
<p>jangan parsial deh memahami, saya beri contoh nih, kalau suatu kezaliman terjadi di muka bumi ini, itu kehendak Allah SWT bukan? terus itu diridhai Allah SWT tidak?. betapa anehnya cara berpikir anda</p>
<blockquote><p>dan ternyata kaum Anshar membai’at Abu Bakar juga, itu kenyataannya mas dan sesuai dengan isyarat Nabi memang Allah dan kaum mukminin menghendaki Abu Bakar yang menjadi khalifah selepas Rasul dan bahkan Imam Ali yang makshum menurut Syi’ah pun berbai’at dan mengakui keutamaan Abu Bakar bahkan 2 khalifah selanjutnya.</p></blockquote>
<p>saya tidak menafikan soal baiat, tapi dalil anda itu kalau kaum mukminin hanya rela dengan Abu Bakar, itu yang saya maksud mengada-ada. kaum muslimin mengalami perselisihan soal khalifah dimulai dari kaum anshar di saqifah sampai sahabat-sahabat di rumah sayyidah Fathimah beserta bani hasyim, nah pertanyaannya kalau memang semua kaum mukminin hanya rela kepada Abu Bakar kok gak dari awal sudah disepakati, itu maksud saya <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>3 periode kepemimpinan mas beliau konsisten dengan sikap beliau tsb.. sekali lagi itu lah kenyataannya mas…. walaupun anda ga mau terima</p></blockquote>
<p>konsisten apanya? baca tuh sejarah pada zaman Abu Bakar, khalifah Imam Ali memisahkan diri dan btw pada zaman ketiga khalifah Imam Ali tidak satupun aktif mengikuti perperangan ataupun menjadi pejabat pemerintah.</p>
<blockquote><p>Ya silahkan saja, yang jelas kedua hadits tersebut sudah terbukti kebenarannya dan telah menjadi kenyataan, orang yg masih jernih pikirannya, akan sangat mudah sekali memahami dan menerimanya.</p></blockquote>
<p>Ya silakan saja, Hadis Rasulullah SAW itu sangat jelas kok sehingga membuat semua penakwilan menjadi tidak ada gunanya. hanya orang yang masih jernih pikirannya yang akan memahami dan menerima hadis Rasulullah SAW dengan baik.</p>
<blockquote><p>dan kami tidak butuh penakwilan hadits yg ternyata tidak terbukti kenyataannya, apalagi terbukti penakwilan tsb adalah salah dilihat dari berbagai segi</p></blockquote>
<p>sip itu kata-kata yang tepat buat anda atau imem.</p>
<blockquote><p>Ya saya cuma bisa kasihan kepada anda jika ternyata keinginan anda dan kaum Syi’ah tidak dikehendaki oleh Allah, Rasul-Nya, kaum mukminin dan Imam Ali sendiri.</p></blockquote>
<p>ho-ho maaf ya saya lebih kasihan dengan cara berpikir anda yang rusak, seolah setiap yang terjadi di muka bumi ini diridhai oleh Allah SWT. kalau gak paham soal Iradah tasyri’ dan Iradah takwiniyah makanya dipelajari. cara berpikir anda ini sudah dari dulu ditanggapi tapi anda tetap aja gak ngeh</p>
<blockquote><p>jadi maaf-maaf saja ya kalau anda kecewa dg kenyataan yg ada, moga2 saja tidak dibawa sampai mati aja kekesalan itu</p></blockquote>
<p>maaf ya Mas gak ada kok yang kesal disini, saya mah cuma memaparkan hadis Rasulullah SAW dan anehnya beberapa orang kok sok sewot dan kesal sampai menuduh-nuduh, biasa aja lagi <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Tapi ga ada paksaan kok, benar salah itu sudah terlihat begitu terang</p></blockquote>
<p>tidak ada paksaan disini, yang mau mengikuti hadis Rasul SAW silakan, yang tidak mau mengikuti hadis Rasul SAW dan mencari dalih penolakan ya silakan juga. Kebenaran itu jelas tidak tergantung mahzab apapun. <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<p>*************</p>
<p><strong>antirafidhah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10868">Oktober 8, 2009 at 3:03 pm</a>said:</p>
<blockquote><p>bukti dari mana? kalau memang kaum mukminin hanya rela dengan abu bakar. Kenapa pada awalnya kaum anshar malah mau memilih pemimpin sendiri, dan kenapa ada sahabat-sahabat yang menunda baiatnya, dan kenapa perlu ada ancaman sampai mau membakar rumah Ahlul Bait. siapa nih yang sekarang parsial dalam memahami sesuatu</p></blockquote>
<p>Hmm.. anda sy yakin sudah membaca riwayat hadits tsb.. Rasulullah bersabda demikian kepada Aisyah dikala beliau sedang sakit menjelang wafat beliau, dan kaum Anshar belum mengetahui hadits tsb? kalau mereka mengetahui hadits tersebut pastilah mereka langsung mencari Abu Bakar dan membai’atnya, Jadi memang belum ada kesepakatan sebelumnya, semuanya terjadi dengan sendirinya (tentunya atas kehendak Allah) dan berakhir pada terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah Rasulullah, itulah hal yg jelas, apa yang disabdakan Rasulullah telah menjadi kenyataan, bagaimanapun prosesnya akhirnya seluruh kaum mukminin berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali. Ingat mas yang kita bicarakan adalah peristiwa masa lalu yg sudah terjadi, sehingga lebih mudah kita memahami alurnya.</p>
<blockquote><p>Imam Ali menunda baiatnya, sangat jelas itu. btw kapan beliau mengakui tidak merasa mendapat wasiat kekhalifahan. hadis yang anda atau imem jadikan hujjah itu soal wasiat yang dimiliki Ahlul Bait tetapi tidak disampaikan kepada umatnya, dan memang tidak ada wasiat seperti itu. sedangkan soal kekhalifahan sudah Rasulullah SAW katakan kepada umatnya.</p></blockquote>
<p>Jelas sekali Imam Ali mengatakan bahwa wasiat yang diberikan Rasulullah hanya Kitabullah dan apa yang ada pada sahifah saja, lainnya tidak ada, termasuk soal kekhalifahan, dan jika ada yg mengatakan yang lain berarti dia telah berdusta atas nama Imam Ali. Maka otomatis hadits Tabuk yg menurut anda sangka adalah wasiat Rasul mengenai kekhalifahan setelah sepeninggal beliau adalah keliru, bukan demikian maksud hadits tersebut, tetapi hanya perintah kepada Imam Ali saat perang tabuk saja. Ingat Imam Ali mengatakan seperti itu dlm riwayat tsb dalam rangka membantah orang yang menganggap dia memiliki wasiat dari Rasulullah melebihi dari apa yang ada pada beliau. Kalau memang beliau memiliki wasiat spt yg anda sangkakan itu, mengapa beliau tidak memperjuangkannya pada saat yg tepat itu? jangan mendiskreditkan Imam Ali ah!</p>
<p>sepengetahuan saya, Imam Ali berbai’at dua kali, yg pertama bai’at bersama kaum muslimin di hari kedua setelah meninggalnya Rasulullah dan kedua 6 bln berikutnya, yg beliau lakukan untuk menghilangkan keraguan kaum muslimin akan tetapnya loyalitas beliau kepada Abu Bakar yg hal tsb terjadi disebabkan perbedaan pandangan soal harta warisan.</p>
<blockquote><p>jangan parsial deh memahami, saya beri contoh nih, kalau suatu kezaliman terjadi di muka bumi ini, itu kehendak Allah SWT bukan? terus itu diridhai Allah SWT tidak?. betapa anehnya cara berpikir anda</p></blockquote>
<p>Rasulullah dengan jelas telah bersabda mengenai Abu Bakar, “Allah dan Kaum Mukminin hanya Ridha/Rela kepada Abu Bakar” beberapa waktu sebelum beliau wafat dan kemudian kejadian sesaat setelah Rasulullah wafat yang berkenaan dengan Abu Bakar adalah Abu Bakar dibai’at oleh kaum mukminin. tidak ada selain peristiwa tersebut yang melibatkan kaum mukminin berkenaan dg Abu Bakar. Silahkan tunjukkan jika anda menemukan peristiwa lain yang berkaitan dengan Abu Bakar yang melibatkan kaum mukminin secara massal sesaat selepas Rasulullah wafat selain pembai’atan beliau.. silahkan..</p>
<blockquote><p>saya tidak menafikan soal baiat, tapi dalil anda itu kalau kaum mukminin hanya rela dengan Abu Bakar, itu yang saya maksud mengada-ada. kaum muslimin mengalami perselisihan soal khalifah dimulai dari kaum anshar di saqifah sampai sahabat-sahabat di rumah sayyidah Fathimah beserta bani hasyim, nah pertanyaannya kalau memang semua kaum mukminin hanya rela kepada Abu Bakar kok gak dari awal sudah disepakati, itu maksud saya</p></blockquote>
<p>Siapa yang bilang disepakati? sabda Rasulullah tersebut belum sempat tersebar, dan pemilihan Abu Bakar terjadi dengan sendirinya (Atas Kehendak Allah tentunya), bahkan kalau anda membaca, Abu Bakar sendiri pun juga tidak menyangka bahwa dirinya akan terpilih menjadi khalifah, tetapi karena umat Islam mengetahui keutamaan beliau, maka hampir seluruh kaum mukminin membai’at beliau saat itu. adanya friksi2 pd awalnya adalah hal yg wajar, tetapi akhirnya seluruh kaum mukminin disatukan hatinya oleh Allah untuk berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali. dan saya pribadi tidak setuju jika Imam Ali berbai’at secara terpaksa, itu namanya pembunuhan karakter beliau. Anda, sy yakin sudah membaca di shahih bukhari saat beliau membai’at Abu Bakar, bahkan beliau memuji Abu Bakar dan terlihat tidak ada unsur keterpaksaan atau ketidakjujuran pada ucapan beliau tersebut.</p>
<blockquote><p>konsisten apanya? baca tuh sejarah pada zaman Abu Bakar, khalifah Imam Ali memisahkan diri dan btw pada zaman ketiga khalifah Imam Ali tidak satupun aktif mengikuti perperangan ataupun menjadi pejabat pemerintah.</p></blockquote>
<p>Kata siapa mas, sepengetahuan saya Imam Ali pun aktif membantu dalam perang Riddah yg dipimpin oleh Abu Bakar, bahkan beliau mendapatkan istri yang bernama Khaulah binti Ja’far bin Qais yang berasal dari Bani Hanifah, dia ditawan oleh Khalid bin Walid dlm perang Riddah dan kemudian diberikan kepada Ali bin Abi Thalib, darinya Imam Ali mempunyai Putra bernama Muhammad Al-Akbar (Muhammad bin Al-Hanafiyah). Ini bukti yg nyata, kalau beliau mendukung apa yg dilakukan Abu Bakar saat itu.</p>
<p>Kemudian pada masa Umar, beliau pernah menjadi khalifah di Madinah saat ditinggal pergi oleh Umar ke Baitul Maqdis. dll</p>
<p>Allahu A’lam bishowab.</p>
<p>*****************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10871">Oktober 8, 2009 at 5:49 pm</a>said:</p>
<p>@antirafidhah</p>
<blockquote><p>Hmm.. anda sy yakin sudah membaca riwayat hadits tsb.. Rasulullah bersabda demikian kepada Aisyah dikala beliau sedang sakit menjelang wafat beliau, dan kaum Anshar belum mengetahui hadits tsb? kalau mereka mengetahui hadits tersebut pastilah mereka langsung mencari Abu Bakar dan membai’atnya, Jadi memang belum ada kesepakatan sebelumnya, semuanya terjadi dengan sendirinya (tentunya atas kehendak Allah) dan berakhir pada terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah Rasulullah, itulah hal yg jelas, apa yang disabdakan Rasulullah telah menjadi kenyataan, bagaimanapun prosesnya akhirnya seluruh kaum mukminin berbai’at kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali. Ingat mas yang kita bicarakan adalah peristiwa masa lalu yg sudah terjadi, sehingga lebih mudah kita memahami alurnya.</p></blockquote>
<p align="justify">Coba deh anda perhatikan dengan seksama soal hadis yang anda jadikan hujjah, apakah ada dari hadis tersebut keterangan kalau yang dibicarakan itu berkaitan dengan kekhalifahan. Saya rasa anda juga tahu kan hadis lain yang memuat lafaz “Allah dan kaum mukminin tidak rela” dan itu berkaitan dengan Imam shalat. Jadi hadis yang anda jadikan hujjah itu gak bisa sekenanya anda masukkan sebagai hujjah buat kekhalifahan justru hadis tersebut lebih tepat dikatakan berkaitan dengan imam shalat.</p>
<blockquote><p>Jelas sekali Imam Ali mengatakan bahwa wasiat yang diberikan Rasulullah hanya Kitabullah dan apa yang ada pada sahifah saja, lainnya tidak ada, termasuk soal kekhalifahan,</p></blockquote>
<p align="justify">Yang dimaksud tidak ada wasiat oleh Imam Ali adalah wasiat yang diberikan atau dititipkan kepada Ahlul bait yang belum disampaikan kepada manusia. Jelas tidak ada wasiat yang seperti itu yang dititipkan pada Ahlul Bait. mengenai kekhalifahan hadis-hadisnya telah disampaikan Rasul SAW kepada umatnya. seperti yang saya sebutkan</p>
<ol>
<li>Hadis Khalifah setelahKu di tulisan saya di atas</li>
<li>Hadis Tsaqalain dengan matan Khalifah</li>
<li>Hadis Pemimpin setelahKu</li>
</ol>
<p>Kalau anda tidak sependapat ya silakan, saya sudah menampilkan hadisnya dan anda juga sudah menyampaikan penolakan anda <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>dan jika ada yg mengatakan yang lain berarti dia telah berdusta atas nama Imam Ali.</p></blockquote>
<p align="justify">benar jika ada yang mengatakan Ahlul bait menyimpan wasiat lain yang tidak disampaikan kepada manusia maka dia telah berdusta berdasarkan hadis tersebut.</p>
<blockquote><p>Maka otomatis hadits Tabuk yg menurut anda sangka adalah wasiat Rasul mengenai kekhalifahan setelah sepeninggal beliau adalah keliru,</p></blockquote>
<p align="justify">Sudah ditanggapi dalam tulisan saya di atas, keliru atau tidak harus ada buktinya, tidak dengan mudah mengklaim.</p>
<blockquote><p>bukan demikian maksud hadits tersebut, tetapi hanya perintah kepada Imam Ali saat perang tabuk saja.</p></blockquote>
<p align="justify">Silakan perhatikan teksnya hadisnya, jika memang terbatas pada saat perang Tabuk, lafaz hadisnya tidak akan seperti itu. Itulah gunanya memahami hadis dengan baik bukan dengan prakonsepsi pribadi</p>
<blockquote><p>Ingat Imam Ali mengatakan seperti itu dlm riwayat tsb dalam rangka membantah orang yang menganggap dia memiliki wasiat dari Rasulullah melebihi dari apa yang ada pada beliau.</p></blockquote>
<p align="justify">Tidak ada masalah, soal Imam Ali sebagai khalifah itu sudah disampaikan Rasulullah SAW sendiri kepada Umatnya</p>
<blockquote><p>Kalau memang beliau memiliki wasiat spt yg anda sangkakan itu, mengapa beliau tidak memperjuangkannya pada saat yg tepat itu? jangan mendiskreditkan Imam Ali ah!</p></blockquote>
<p align="justify">memperjuangkan yang anda maksud itu harus seperti apa?. Imam Ali adalah pemimpin setelah Nabi kalau orang-orang tidak mau dan mencari pemimpin lain ya pertanggungjawaban ada pada mereka. Saya yakin Imam Ali bukan orang yang harus menurut kehendak anda atau siapa saja bahwa beliau harus mengangkat senjata atau harus berteriak-teriak di keramaian. Imam Ali lebih memikirkan persatuan Umat dan keutuhan agama Islam.</p>
<blockquote><p>sepengetahuan saya, Imam Ali berbai’at dua kali, yg pertama bai’at bersama kaum muslimin di hari kedua setelah meninggalnya Rasulullah dan kedua 6 bln berikutnya, yg beliau lakukan untuk menghilangkan keraguan kaum muslimin akan tetapnya loyalitas beliau kepada Abu Bakar yg hal tsb terjadi disebabkan perbedaan pandangan soal harta warisan.</p></blockquote>
<p align="justify">Memangnya kalau terjadi perbedaan pandangan maka harus ada baiat kedua kalinya. baiat yang benar adalah setelah 6 bulan. Dalam Shahih Bukhari hadis riwayat Aisyah yang tampak jelas dari teks hadisnya baiat setelah 6 bulan adalah baiat yang pertama. Menjadikan itu sebagai baiat kedua malah bertentangan dengan hadis Aisyah itu sendiri.</p>
<blockquote><p>Rasulullah dengan jelas telah bersabda mengenai Abu Bakar, “Allah dan Kaum Mukminin hanya Ridha/Rela kepada Abu Bakar” beberapa waktu sebelum beliau wafat dan kemudian kejadian sesaat setelah Rasulullah wafat yang berkenaan dengan Abu Bakar adalah Abu Bakar dibai’at oleh kaum mukminin. tidak ada selain peristiwa tersebut yang melibatkan kaum mukminin berkenaan dg Abu Bakar.</p></blockquote>
<p>Hadis yang anda maksud berkaitan dengan Imam shalat, nah itulah yang shahih</p>
<blockquote><p>Silahkan tunjukkan jika anda menemukan peristiwa lain yang berkaitan dengan Abu Bakar yang melibatkan kaum mukminin secara massal sesaat selepas Rasulullah wafat selain pembai’atan beliau.. silahkan..</p></blockquote>
<p align="justify">Gak ada hubungannya, mengapa saya harus menuruti cara berpikir anda. poin saya itu sudah saya jelaskan bahwa hadis yang anda maksud berkaitan dengan Imam shalat.</p>
<blockquote><p>Siapa yang bilang disepakati? sabda Rasulullah tersebut belum sempat tersebar, dan pemilihan Abu Bakar terjadi dengan sendirinya (Atas Kehendak Allah tentunya), bahkan kalau anda membaca, Abu Bakar sendiri pun juga tidak menyangka bahwa dirinya akan terpilih menjadi khalifah, tetapi karena umat Islam mengetahui keutamaan beliau,</p></blockquote>
<p align="justify">Kalau anda membaca hadis Saqifah dengan benar maka baiat terhadap Abu Bakar bukan karena sepakat akan keutamaan buktinya bahkan setelah Abu Bakar datang, terdapat sahabat Anshar yang mangatakan untuk mengangkat pemimpin masing-masing bagi Anshar dan Muhajirin. baiat tersebut terjadi terburu-buru atau apa ya istilahnya faltah kali <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>maka hampir seluruh kaum mukminin membai’at beliau saat itu. adanya friksi2 pd awalnya adalah hal yg wajar, tetapi akhirnya seluruh kaum mukminin disatukan hatinya oleh Allah untuk berbai’at<br />
kepada Abu Bakar termasuk Imam Ali.</p></blockquote>
<p align="justify">jika sebagian orang sudah membaiat seseorang maka kewajiabn sebagian orang yang lain adalah mengikuti baiat tersebut tidak ada pilihan buat mereka kecuali mereka akan diperangi. jadi friksi yang ada tidak akan ada artinya jika baiat sudah diberikan, kalau mau dipaksakan ya bisa pertentangan yang besar yang kayaknya tidak diinginkan semua sahabat pada saat itu.</p>
<blockquote><p>dan saya pribadi tidak setuju jika Imam Ali berbai’at secara terpaksa, itu namanya pembunuhan karakter beliau.</p></blockquote>
<p align="justify">siapa yang bilang begitu?. justru yang harus anda perhatikan adalah mengapa peristiwa baiat membaiat itu sampai menimbulkan ancaman pembakaran rumah Ahlul Bait. Mana mungkin yang begini dianggap remeh kecuali orang yang gak ada cinta di hatinya kepada Ahlul bait.</p>
<blockquote><p>Anda, sy yakin sudah membaca di shahih bukhari saat beliau membai’at Abu Bakar, bahkan beliau memuji Abu Bakar dan terlihat tidak ada unsur keterpaksaan atau ketidakjujuran pada ucapan beliau tersebut.</p></blockquote>
<p>Itu kan yang terjadi 6 bulan <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Kata siapa mas, sepengetahuan saya Imam Ali pun aktif membantu dalam perang Riddah yg dipimpin oleh Abu Bakar,</p></blockquote>
<p align="justify">Karena anda yang menampilkan dan berhujjah dengannya maka tugas andalah untuk menampilkan sumber dan kebenaran kisah ini. Apa benar Imam Ali aktif membantu perang Riddah? <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>. Ini bukti yg nyata, kalau beliau mendukung apa yg dilakukan Abu Bakar saat itu.</p></blockquote>
<p>Anda belum membuktikan apapun, itu baru kata anda saja, silakan dibuktikan <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>Kemudian pada masa Umar, beliau pernah menjadi khalifah di Madinah saat ditinggal pergi oleh Umar ke Baitul Maqdis. dll</p></blockquote>
<p>Nah yang ini juga silakan dibuktikan dulu, insya Allah baru ditanggapi.</p>
<p>******************</p>
<p><strong>antirafidhah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10876">Oktober 8, 2009 at 10:07 pm</a>said:</p>
<p>semakin lama semakin terlihat lemah hujjah anda SP <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" alt=":lol:" /></p>
<blockquote><p>Coba deh anda perhatikan dengan seksama soal hadis yang anda jadikan hujjah, apakah ada dari hadis tersebut keterangan kalau yang dibicarakan itu berkaitan dengan kekhalifahan. Saya rasa anda juga tahu kan hadis lain yang memuat lafaz “Allah dan kaum mukminin tidak rela” dan itu berkaitan dengan Imam shalat. Jadi hadis yang anda jadikan hujjah itu gak bisa sekenanya anda masukkan sebagai hujjah buat kekhalifahan justru hadis tersebut lebih tepat dikatakan berkaitan dengan imam shalat.</p></blockquote>
<p>terpaksa saya harus tertawa <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" alt=":lol:" /> Untuk hadits2 ttg Imam Shalat berbeda dg hadits dari Aisyah mengenai wasiat, Rasulullah langsung menunjuk Abu Bakar menjadi Imam Shalat dihadapan beberapa sahabat dan istrinya dengan tegas, bukan lagi bersifat isyarat atau berbentuk wasiat yg akan ditulis, tetapi merupakan perintah langsung yg keras. karena hal tsb, kedua istri beliau pun beliau tegur, ketika Umar maju menjadi Imam Shalat, beliau marah dan keluarlah sabda beliau tersebut. Maka keinginan yang kuat dari Rasulullah supaya Abu Bakar menggantikan posisinya sebagai Imam Salat di Masjid beliau adalah salah satu isyarat yg lain tentang kepemimpinan Abu Bakar, karena selama Rasulullah masih sehat dan berada di Madinah, yang memimpin shalat di Masjid An-Nabawi adalah beliau sendiri, maka jika beliau menunjuk seseorang menggantikan kedudukan beliau sebagai imam shalat di Masjid beliau sendiri di saat menjelang wafatnya adalah merupakan isyarat yg jelas isyarat penunjukkan beliau thd seseorang tsb untuk menggantikan kedudukan beliau sebagai pemimpin umat selepas beliau, dan ternyata kenyataan Abu Bakar memang menjadi khalifah selepas wafatnya beliau.</p>
<p>sebagaimana Imam Ali sendiri berkata mengenai hal ini :<br />
<strong>”… Maka kami memilih untuk urusan dunia kami<br />
orang yang telah kami pilih untuk urusan agama kami. Shalat adalah pokok Islam,<br />
adalah komandan agama dan tiang agama. Oleh sebab itulah kami membaiat Abu<br />
Bakar, sebab dia memang pantas untuk memikul tugas itu…” (Diriwayatkan oleh<br />
Ibnu Asakir)</strong></p>
<p>Berbeda dengan hadits dari Aisyah, Rasulullah baru meminta menulis wasiat untuk Abu Bakar agar tidak ada yg berkeinginan dan yg lain mengatakan lebih berhak, tetapi tampaknya urung niat beliau tersebut dan beliau bersabda bahwa “Allah dan Kaum Mukminin hanya ridha kepada Abu Bakar”.</p>
<p>baik kita coba lihat kembali hadits yang dibawakan oleh saudara kembali ke aqidah yg benar, ttg perkataan Abbas kepada Ali :</p>
<blockquote><p>Ayo kita masuk kepada Rasulullah SAW dan menanyakan kepada beliau siapa yang akan<br />
memerintah? Apabila diserahkan kepada kita, maka kita akan tahu dan kalau kepada orang lain pun kita akan tahu, atau kita minta agar beliau mewasiatkan kepada kita.” Sayyidina Ali menjawab: ”Demi Allah, apabila kita meminta hal ini kepada Rasulullah SAW, dan ternyata beliau menolaknya, maka orang-orang<br />
selamanya tidak akan memberikan posisi itu kepada kita. Demi Allah, aku tidak akan meminta hal itu kepada Rasulullah SAW.” (HR Imam Bukhari)</p></blockquote>
<p>Jadi untuk masalah kepemimpinan (khilafah), sudah lazim adanya wasiat, baik wasiat utk ahlul bait, jika memang Rasul menunjuk Ahlul Bait atau wasiat untuk salah seorang sahabatnya jika beliau menunjuk salah satu sahabatnya sebagai pemimpin selepas beliau (dr hadits itu saja sdh terlihat dg jelas bahwa Rasulullah belum memberikan wasiat kepada siapapun, ntah itu ahlul bait ataupun sahabat), sehingga jelaslah bahwa wasiat yg akan ditulis Rasulullah kepada Abu Bakar bukanlah soal Imam Shalat, karena soal Imam Shalat, beliau sudah menunjuk dengan tegas akan hal tsb secara langsung.</p>
<p>Maka tinggal satu lagi yg paling kuat, bahwa wasiat tsb adalah soal pengganti beliau dan ternyata Rasulullah memilih untuk membiarkan saja hal tersebut dan hanya bersabda kepada Aisyah : “Allah dan Kaum Mukminin hanya ridha kepada Abu Bakar” artinya beliau membiarkan saja hal tersebut tanpa wasiat/penunjukkan langsung, karena beliau mengetahui Allah dan kaum mukminin bakal menghendaki Abu Bakar yg menjadi pemimpin selepas beliau. dan terbukti peristiwa besar selepas beliau wafat yang berkaitan dengan Abu Bakar dan melibatkan kaum mukminin adalah peristiwa pembai’atan Abu Bakar oleh Kaum Mukminin. Shadaqa Rasul Shalallahu alaihi wasallam.</p>
<blockquote><p>Yang dimaksud tidak ada wasiat oleh Imam Ali adalah wasiat yang diberikan atau dititipkan kepada Ahlul bait yang belum disampaikan kepada manusia.</p></blockquote>
<p>Memangnya Kitabullah adalah wasiat yang belum disampaikan kepada manusia? kenapa masih beliau sebutkan juga di situ? <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Tidak ada masalah, soal Imam Ali sebagai khalifah itu sudah disampaikan Rasulullah SAW sendiri kepada Umatnya</p></blockquote>
<p>Ya masalah lah.. karena Imam Ali sendiri mengatakan dusta pada org mengatakan bahwa beliau mempunyai wasiat dari Rasul selain Kitabullah dan sahifah miliknya dan kalau benar hadits2 di atas adlah salah satu wasiat Rasulullah kepada beliau, pastilah beliau menyebutkannya juga saat itu.. berarti memang beliau tidak menganggap hadits2 yg anda sebutkan itu adalah wasiat.</p>
<blockquote><p>Anda, sy yakin sudah membaca di shahih bukhari saat beliau membai’at Abu Bakar, bahkan beliau memuji Abu Bakar dan terlihat tidak ada unsur keterpaksaan atau ketidakjujuran pada ucapan beliau tersebut.</p>
<p>Itu kan yang terjadi 6 bulan <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p></blockquote>
<p>Apa maksud anda? apakah Imam Ali berubah pendirian stlh 6 bulan? dan apa yg beliau katakan adalah pura2? yang bener aja Mas.. <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Anda belum membuktikan apapun, itu baru kata anda saja, silakan dibuktikan</p></blockquote>
<p>Lho silahkan anda bisa baca riwayat mengenai istri2 dan anak2 Imam Ali, diantaranya adalah Khaulah binti Ja’far bin Qais yang merupakan tawanan Khalid bin Walid pada perang Riddah yang kemudian diserahkan kepada Imam Ali. lihat ath-thabaqat Al-Kubra, 3/19-20 dan tarikh ath-Thabari, 5/153-155</p>
<p>Yang artinya Imam Ali tidak memisahkan diri sebagaimana anggapan anda, dan dengan dia menerima tawanan tersebut menjadi istrinya, menunjukkan bahwa waktu itu beliaupun aktif berhubungan dengan Abu Bakar dan juga Khalid bin Walid dalam perang Riddah tsb. Masak beliau mau menerima tawanan dr perang Riddah sebagai istrinya tetapi tidak mendukung perang tersebut?</p>
<p>Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abu Bakar mengimami shalat Ashar beberapa malam setelah Rasulullah wafat, kemudian ia keluar dari Masjid dan bertemu dengan al-Hasan bin Ali sedang bermain bersama anak-anak, maka Abu Bakar menggendongnya sembari berkata, “Sungguh mirip dengan Nabi, tidak mirip dengan Ali”, sementara Ali tertawa melihatnya. (Shahih Bukhari, Kitab Al-Manaqib, hadits no. 3750)</p>
<p>Jelas menunjukkan bahwa Imam Ali tidak memisahkan diri saat pemerintahan Abu Bakar.</p>
<p>****************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10877">Oktober 8, 2009 at 11:33 pm</a>said:</p>
<p>@antirafidhah</p>
<blockquote><p>semakin lama semakin terlihat lemah hujjah anda SP</p></blockquote>
<p align="justify">jujur aja deh, sejak kapan anda pernah menganggap kuat hujjah-hujjah saya. hadis seshahih apapun saja bisa anda tolak apalagi perkataan saya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>terpaksa saya harus tertawa <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" alt=":lol:" /> Untuk hadits2 ttg Imam Shalat berbeda dg hadits dari Aisyah mengenai wasiat,</p></blockquote>
<p align="justify">justru yang patut ditertawakan adalah orang yang berhujjah dengan angan-angannya sendiri sambil mencatut hadis, padahal hadis tersebut tidak memuat lafaz yang menjadi hujjahnya. Simpel saja Mas, sejauh ini anda tidak bisa menunjukkan bagian mana dari hadis tersebut yang memuat lafaz kekhalifahan. Tidak bisa makanya mengada-ada ya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Rasulullah langsung menunjuk Abu Bakar menjadi Imam Shalat dihadapan beberapa sahabat dan istrinya dengan tegas, bukan lagi bersifat isyarat atau berbentuk wasiat yg akan ditulis, tetapi merupakan perintah langsung yg keras. karena hal tsb, kedua istri beliau pun beliau tegur, ketika Umar maju menjadi Imam Shalat, beliau marah dan keluarlah sabda beliau tersebut.</p></blockquote>
<p align="justify">Nah kalau memang begitu ya benar hadis itu berkaitan dengan Imam shalat. Hadis yang samar harus dirujukkan pada hadis yang jelas bukannya mengada-ada <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1306902214g" alt=":P" /></p>
<blockquote><p>Maka keinginan yang kuat dari Rasulullah supaya Abu Bakar menggantikan posisinya sebagai Imam Salat di Masjid beliau adalah salah satu isyarat yg lain tentang kepemimpinan Abu Bakar,</p></blockquote>
<p align="justify">isyarat apa nih, saya juga bisa kok seenaknya mengatakan penunjukkan Usamah bin Zaid sebagai pemimpin kaum muslimin muhajirin dan anshar termasuk di dalamnya Abu Bakar dan Umar sebagai isyarat kekhalifahan. Akui saja Imam shalat, Pemimpin perang adalah hal yang berbeda dengan kekhalifahan <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>maka jika beliau menunjuk seseorang menggantikan kedudukan beliau sebagai imam shalat di Masjid beliau sendiri di saat menjelang wafatnya adalah merupakan isyarat yg jelas isyarat penunjukkan beliau thd seseorang tsb untuk menggantikan kedudukan beliau sebagai pemimpin umat selepas beliau,</p></blockquote>
<p align="justify">isyarat yang mengada-ada. btw bicara soal penunjukkan kepemimpinan. Rasulullah SAW telah menyerahkan kepemimpinan dalam hal agama kepada Ahlul bait (merujuk pada hadis Tsaqalain yang anda takwilkan seenaknya), disitu Rasulullah SAW berwasiat kepada semua sahabat (termasuk Abu Bakar) agar mengikuti Ahlul Bait agar tidak sesat. Tidak ada yang lebih jelas dari itu. <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>sebagaimana Imam Ali sendiri berkata mengenai hal ini :<br />
”… Maka kami memilih untuk urusan dunia kami<br />
orang yang telah kami pilih untuk urusan agama kami. Shalat adalah pokok Islam,<br />
adalah komandan agama dan tiang agama. Oleh sebab itulah kami membaiat Abu<br />
Bakar, sebab dia memang pantas untuk memikul tugas itu…” (Diriwayatkan oleh<br />
Ibnu Asakir)</p></blockquote>
<p align="justify">silakan buktikan dulu validitas riwayat anda ini, jangan cuma asal kupipes. Setiap orang bisa kok membawa ribuan dalil kalau cuma menulis dengan gaya anda begitu.</p>
<blockquote><p>Berbeda dengan hadits dari Aisyah, Rasulullah baru meminta menulis wasiat untuk Abu Bakar agar tidak ada yg berkeinginan dan yg lain mengatakan lebih berhak, tetapi tampaknya urung niat beliau tersebut dan beliau bersabda bahwa “Allah dan Kaum Mukminin hanya ridha kepada Abu Bakar”.</p></blockquote>
<p align="justify">logikanya kok tambah kacau. Kalau wasiat yang anda maksud itu soal kekhalifahan maka seharusnya wasiat itu disampaikan ke orang-orang atau kalau tidak ya benar-benar dituliskan. Tindakan Rasul SAW yang tidak jadi menuliskannya itu berarti berkaitan dengan sesuatu yang sudah Rasul SAW katakan yaitu berkaitan dengan imam shalat. lucunya hadis wasiat gaya anda ini tidak pernah dijadikan hujjah oleh satu orang sahabatpun ketika mereka berselisih soal kekhalifahan.</p>
<blockquote><p>Jadi untuk masalah kepemimpinan (khilafah), sudah lazim adanya wasiat, baik wasiat utk ahlul bait, jika memang Rasul menunjuk Ahlul Bait atau wasiat untuk salah seorang sahabatnya jika beliau menunjuk salah satu sahabatnya sebagai pemimpin selepas beliau (dr hadits itu saja sdh terlihat dg jelas bahwa Rasulullah belum memberikan wasiat kepada siapapun, ntah itu ahlul bait ataupun sahabat), sehingga jelaslah bahwa wasiat yg akan ditulis Rasulullah kepada Abu Bakar bukanlah soal Imam Shalat, karena soal Imam Shalat, beliau sudah menunjuk dengan tegas akan hal tsb secara langsung.</p></blockquote>
<p align="justify">Kalau memang butuh wasiatnya, mana wasiat yang dituliskan itu?. Sadar gak sih kalau anda ini hanya berhujjah dengan asumsi anda sendiri. Anda hanya mengatasnamakan hadis padahal hadisnya sendiri menentang asumsi anda. Hadisnya tidak ada bicara soal khalifah eh anda memasukkan seenaknya kata khalifah. Hadisnya menunjukkan Rasul SAW tidak jadi menulis wasiat eh anda bilang <em>dalam soal khalifah sudah lazim adanya wasiat</em>. Kalau memang perlu kok gak ditulis <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>Maka tinggal satu lagi yg paling kuat, bahwa wasiat tsb adalah soal pengganti beliau dan ternyata Rasulullah memilih untuk membiarkan saja hal tersebut dan hanya bersabda kepada Aisyah : “Allah dan Kaum Mukminin hanya ridha kepada Abu Bakar”</p></blockquote>
<p align="justify">Maksa nih, satu yang paling kuat menurut anda itu ya satu-satunya yang ada dalam pikiran anda, makanya wajar kalau anda bilang paling kuat <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>artinya beliau membiarkan saja hal tersebut tanpa wasiat/penunjukkan langsung, karena beliau mengetahui Allah dan kaum mukminin bakal menghendaki Abu Bakar yg menjadi pemimpin selepas beliau.</p></blockquote>
<p align="justify">Palsu ah, gampang saja nih seperti yang saya katakan sebelumnya kalau kaum mukminin hanya ridha dengan abu bakar maka mengapa kaum Anshar sibuk berkumpul di Saqifah untuk mengangkat pemimpin sendiri. Kayaknya mereka gak seperti anda ya, yang memahami bahwa Abu Bakar sebagai Imam itu isyarat bagi khalifah buktinya mereka (kalau memang ikut) kan berhari-hari sudah mengikut Abu Bakar sebagai Imam kok masih aja tuh berkumpul di Saqifah untuk mengangkat pemimpin dari kalangan mereka sendiri <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Memangnya Kitabullah adalah wasiat yang belum disampaikan kepada manusia? kenapa masih beliau sebutkan juga di situ?</p></blockquote>
<p align="justify">makanya baca hadis jangan parsial,kumpulkan dulu semua hadis yang bicara soal itu, inysa Allah akan saya buat postingan khusus tentang itu <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>Ya masalah lah.. karena Imam Ali sendiri mengatakan dusta pada org mengatakan bahwa beliau mempunyai wasiat dari Rasul selain Kitabullah dan sahifah miliknya</p></blockquote>
<p align="justify">Rasul SAW sudah berwasiat pada umatnya kok, itu tuh di ghadir kum, wasiatnya bukan khusus pada Imam Ali tetapi kepada umatnya. mau menolak ya silakan.</p>
<blockquote><p>Rasulullah kepada beliau, pastilah beliau menyebutkannya juga saat itu.. berarti memang beliau tidak menganggap hadits2 yg anda sebutkan itu adalah wasiat.</p></blockquote>
<p>Rasulullah SAW sudah menyebutkannya kok, diantaranya di ghadir kum perihal hadis Tsaqalain.</p>
<blockquote><p>Apa maksud anda? apakah Imam Ali berubah pendirian stlh 6 bulan? dan apa yg beliau katakan adalah pura2? yang bener aja Mas.</p></blockquote>
<p>Pahami komentar orang dengan baik, yang saya maksud baiat itu terjadi setelah 6 bulan. <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Lho silahkan anda bisa baca riwayat mengenai istri2 dan anak2 Imam Ali, diantaranya adalah Khaulah binti Ja’far bin Qais yang merupakan tawanan Khalid bin Walid pada perang Riddah yang kemudian diserahkan kepada Imam Ali. lihat ath-thabaqat Al-Kubra, 3/19-20 dan tarikh ath-Thabari, 5/153-155</p></blockquote>
<p align="justify">Ah ini bukti kalau anda tidak memahami komentar saya sebelumnya, yang saya minta bukti itu soal imam Ali aktif di perang Riddah? bukannya yang sampean tulis barusan <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Yang artinya Imam Ali tidak memisahkan diri sebagaimana anggapan anda, dan dengan dia menerima tawanan tersebut menjadi istrinya, menunjukkan bahwa waktu itu beliaupun aktif berhubungan dengan Abu Bakar dan juga Khalid bin Walid dalam perang Riddah tsb. Masak beliau mau menerima tawanan dr perang Riddah sebagai istrinya tetapi tidak mendukung perang tersebut?</p></blockquote>
<p align="justify">jangan mengada-ada deh Mas, memangnya kalau Imam Ali menerima pemberian khalifah itu berarti Imam Ali ikut berperang?. logika dari mana <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1306902214g" alt=":roll:" /></p>
<blockquote><p>Dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abu Bakar mengimami shalat Ashar beberapa malam setelah Rasulullah wafat, kemudian ia keluar dari Masjid dan bertemu dengan al-Hasan bin Ali sedang bermain bersama anak-anak, maka Abu Bakar menggendongnya sembari berkata, “Sungguh mirip dengan Nabi, tidak mirip dengan Ali”, sementara Ali tertawa melihatnya. (Shahih Bukhari, Kitab Al-Manaqib, hadits no. 3750)</p>
<p>Jelas menunjukkan bahwa Imam Ali tidak memisahkan diri saat pemerintahan Abu Bakar.</p></blockquote>
<p>.</p>
<p align="justify">lucunya hadis Bukhari no 3750 matannya gak sama dengan apa yang anda kutip, gak ada tuh keterangan soal shalat ashar kemudian beberapa malam terus keluar masjid, anda kupipes dari mana? <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1306902214g" alt=":roll:" /> Yang saya maksud memisahkan diri bukannya tidak keluar-keluar dari rumah, tapi tidak ikut aktif dalam pemerintahan Abu Bakar <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" alt=":lol:" /></p>
<p align="justify">****************</p>
<p align="justify"><strong>antirafidhah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10879">Oktober 9, 2009 at 1:35 am</a>said:</p>
<blockquote><p>justru yang patut ditertawakan adalah orang yang berhujjah dengan angan-angannya sendiri sambil mencatut hadis, padahal hadis tersebut tidak memuat lafaz yang menjadi hujjahnya. Simpel saja Mas, sejauh ini anda tidak bisa menunjukkan bagian mana dari hadis tersebut yang memuat lafaz kekhalifahan. Tidak bisa makanya mengada-ada ya</p></blockquote>
<p>Tidak juga, emang seluruh sunni berangan-angan? kyknya anda dech yang berangan-angan dg hadits yg jelas tidak menunjukkan kekhalifahan Imam Ali setelah wafatnya Rasulullah, Imam Ali saja tidak merasa kok anda tetep ngotot memakainya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" alt=":lol:" /> makanya jangan tekstual kalau memahami hadits lihat yg lainnya dunk <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Kalau memang butuh wasiatnya, mana wasiat yang dituliskan itu?. Sadar gak sih kalau anda ini hanya berhujjah dengan asumsi anda sendiri. Anda hanya mengatasnamakan hadis padahal hadisnya sendiri menentang asumsi anda. Hadisnya tidak ada bicara soal khalifah eh anda memasukkan seenaknya kata khalifah. Hadisnya menunjukkan Rasul SAW tidak jadi menulis wasiat eh anda bilang dalam soal khalifah sudah lazim adanya wasiat. Kalau memang perlu kok gak ditulis</p></blockquote>
<p>Tampak sekali anda ga paham dan ga membaca seluruh komentar saya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Palsu ah, gampang saja nih seperti yang saya katakan sebelumnya kalau kaum mukminin hanya ridha dengan abu bakar maka mengapa kaum Anshar sibuk berkumpul di Saqifah untuk mengangkat pemimpin sendiri. Kayaknya mereka gak seperti anda ya, yang memahami bahwa Abu Bakar sebagai Imam itu isyarat bagi khalifah buktinya mereka (kalau memang ikut) kan berhari-hari sudah mengikut Abu Bakar sebagai Imam kok masih aja tuh berkumpul di Saqifah untuk mengangkat pemimpin dari kalangan mereka sendiri</p></blockquote>
<p>Tapi kan yang penting finally mereka semua berbai’at termasuk Imam Ali, hal itu jelas bukti nyata bahwa Allah telah menyatukan hati2 mereka.. itulah kenyataan yg ada.. mau gimana lagi…terima saja lah.. Imam Ali saja menerima kok, anda kok menolak gmn tuch <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>makanya baca hadis jangan parsial,kumpulkan dulu semua hadis yang bicara soal itu, inysa Allah akan saya buat postingan khusus tentang itu</p></blockquote>
<p>Silahkan.. bisa ditebak kok <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /> seperti biasa.. paling2 jg asumsi &amp; apologi lagi.. sami mawon… <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" alt=":lol:" /></p>
<blockquote><p>Rasul SAW sudah berwasiat pada umatnya kok, itu tuh di ghadir kum, wasiatnya bukan khusus pada Imam Ali tetapi kepada umatnya. mau menolak ya silakan.</p></blockquote>
<p>Lha kok Imam Ali ga merasa ya? aneh? bahkan sama Abbas beliau hendak menanyakan lagi? <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Rasulullah SAW sudah menyebutkannya kok, diantaranya di ghadir kum perihal hadis Tsaqalain</p></blockquote>
<p>komentar idem ama di atas <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Ah ini bukti kalau anda tidak memahami komentar saya sebelumnya, yang saya minta bukti itu soal imam Ali aktif di perang Riddah? bukannya yang sampean tulis barusan</p></blockquote>
<p>memang Imam Ali bukanlah salah seorang yang ditunjuk sebagai panglima dalam perang Riddah, tetapi keaktifan beliau dan interaksi beliau dengan Abu Bakar dan sahabat yang lain spt misalnya Khalid bin Walid panglima dalam perang Riddah tersebut, terlihat jelas dengan dia mendapatkan istri dari tawanan perang Riddah.. ga bisa dipungkiri hal tsb.. artinya imam Ali masih aktif tidak memisahkan diri dari pemerintahan Abu Bakar itu saja.. <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /> maka asumsi anda lah yang perlu dikoreksi.. <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" alt=":lol:" /></p>
<p>******************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10880">Oktober 9, 2009 at 6:21 am</a>said:</p>
<p>@antirafidhah</p>
<blockquote><p>Tidak juga, emang seluruh sunni berangan-angan?</p></blockquote>
<p>logika macam apa itu, orang lain mah enak juga bilang , emang seluruh syiah berangan-angan? <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>kyknya anda dech yang berangan-angan dg hadits yg jelas tidak menunjukkan kekhalifahan Imam Ali setelah wafatnya Rasulullah,</p></blockquote>
<p>hadisnya shahih dan berlafaz jelas <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>Imam Ali saja tidak merasa kok anda tetep ngotot memakainya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" alt=":lol:" /> makanya jangan tekstual kalau memahami hadits lihat yg lainnya dunk</p></blockquote>
<p align="justify">Imam Ali justru mengakui kepemimpinannya kok itu tertera dalam hadis shahih. situ aja yang gak lihat hadis lainnya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Tampak sekali anda ga paham dan ga membaca seluruh komentar saya</p></blockquote>
<p align="justify">maaf tapi anda yang sebenarnya gak paham logika anda yang rusak, hadis yang gak bicara soal khalifah eh dijadikan dalil soal kekhalifahan <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1306902214g" alt=":P" /></p>
<blockquote><p>Tapi kan yang penting finally mereka semua berbai’at termasuk Imam Ali, hal itu jelas bukti nyata bahwa Allah telah menyatukan hati2 mereka..</p></blockquote>
<p align="justify">situ kagak ngerti nih, padahal sudah saya jelaskan berulang-ulang. perselisihan sahabat soal siapa yang akan jadi khalifah menunjukkan bahwa lafaz “Allah dan kaum mukminin hanya rela dengan” bukan bicara soal khalifah tetapi soal imam shalat. Lucunya hadis imam shalat yang menurut anda isyarat bagi khalifah tidak dipahami oleh kaum Anshar. Mereka bukannya menunggu-nunggu untuk membaiat Abu Bakar malah sibuk mengangkat pemimpin sendiri di Saqifah. Kalau Abu Bakar gak datang, pemimpinnya udah dibaiat kali oleh kaum Anshar <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /> . perhatikan kata-kata saya sebelumnya “jika sebagian sahabat sudah membaiat seseorang maka sebagian sahabat lain yang belum membaiat harus memberikan baiatnya jika tidak akan diperangi” makanya dalam peristiwa baiat-membaiat itu perselisihannya begitu besar sampai mau mengancam membakar rumah Ahlul Bait.</p>
<blockquote><p>Silahkan.. bisa ditebak kok <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /> seperti biasa.. paling2 jg asumsi &amp; apologi lagi.. sami mawon…</p></blockquote>
<p align="justify">ah itu mah kerja sampean atau imem, kita lihat saja nanti lafaz hadisnya menentang asumsi anda yang gak jelas itu <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Lha kok Imam Ali ga merasa ya? aneh? bahkan sama Abbas beliau hendak menanyakan lagi?</p></blockquote>
<p align="justify">ho ho ho gak pernah baca ya, kalau Imam Ali ketika menjadi khalifah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang soal hadis tersebut. Artinya Imam Ali mau menjadi khalifah dengan hujjah dalil tersebut <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>memang Imam Ali bukanlah salah seorang yang ditunjuk sebagai panglima dalam perang Riddah,</p></blockquote>
<p>lho terus kata-kata anda yang ini</p>
<blockquote><p>Kata siapa mas, sepengetahuan saya Imam Ali pun aktif membantu dalam perang Riddah yg dipimpin oleh Abu Bakar</p></blockquote>
<p align="justify">mau dikemanakan itu, mau menentang perkataan anda sendiri. kan anda yang bilang Imam Ali aktif membantu dalam perang Riddah, ditanya buktinya eh malah ngeles menentang perkataannya sendiri <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>artinya imam Ali masih aktif tidak memisahkan diri dari pemerintahan Abu Bakar itu saja..</p></blockquote>
<p align="justify">asumsi andalah yang mesti diperiksa, ditanya bukti kok malah ngelantur. terbukti Imam Ali gak ikut perang apapun di zaman Abu Bakar, nah mau bicara apa lagi <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif?m=1306902214g" alt=":D" /></p>
<p align="justify">****************</p>
<p align="justify"><strong>antirafidhah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10902">Oktober 10, 2009 at 12:30 am</a>said:</p>
<blockquote><p>hadisnya shahih dan berlafaz jelas</p></blockquote>
<p>Itulah yg saya maksud anda itu tekstual dlm memahami hadits, tanpa memperhatikan asbabul wurud &amp; hadits2 yg lain <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" alt=":lol:" /></p>
<blockquote><p>Imam Ali justru mengakui kepemimpinannya kok itu tertera dalam hadis shahih. situ aja yang gak lihat hadis lainnya</p></blockquote>
<p>hoho yang itu tho.. kyknya dah ada yg jawab tuch <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>maaf tapi anda yang sebenarnya gak paham logika anda yang rusak, hadis yang gak bicara soal khalifah eh dijadikan dalil soal kekhalifahan</p></blockquote>
<p>hehehe.. jelas sekali kok logikanya dan buktinya sudah menjadi kenyataan <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>situ kagak ngerti nih, padahal sudah saya jelaskan berulang-ulang. perselisihan sahabat soal siapa yang akan jadi khalifah menunjukkan bahwa lafaz “Allah dan kaum mukminin hanya rela dengan” bukan bicara soal khalifah tetapi soal imam shalat. Lucunya hadis imam shalat yang menurut anda isyarat bagi khalifah tidak dipahami oleh kaum Anshar. Mereka bukannya menunggu-nunggu untuk membaiat Abu Bakar malah sibuk mengangkat pemimpin sendiri di Saqifah. Kalau Abu Bakar gak datang, pemimpinnya udah dibaiat kali oleh kaum Anshar . perhatikan kata-kata saya sebelumnya “jika sebagian sahabat sudah membaiat seseorang maka sebagian sahabat lain yang belum membaiat harus memberikan baiatnya jika tidak akan diperangi” makanya dalam peristiwa baiat-membaiat itu perselisihannya begitu besar sampai mau mengancam membakar rumah Ahlul Bait.</p></blockquote>
<p>Kalau anda faham yg namanya “Proses” maka anda ga akan berpemahaman spt itu, semuanya ada prosesnya ga langsung abakadabra lgsung jadi, maka friksi2 yg terjadi (kalau itu riwayatnya bener) adlh bagian dari proses.., mengenai kaum Anshar, awalnya mungkin bagi mereka belum terpikirkan mengenai keutamaan Abu Bakar, tetapi begitu Abu Bakar datang dan Umar mengingatkan keutamaan beliau, serentak mereka pun berbai’at.. itulah Finally nya.. dan peristiwa tsb bukan peristiwa yg akan dtg tetapi masa lampau yg bisa ditarik alurnya dg mudah.. gimana seh sampeyan ini <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>ah itu mah kerja sampean atau imem, kita lihat saja nanti lafaz hadisnya menentang asumsi anda yang gak jelas itu</p></blockquote>
<p>Ah ga juga ternyata… <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>ho ho ho gak pernah baca ya, kalau Imam Ali ketika menjadi khalifah meminta kesaksian orang-orang di tanah lapang soal hadis tersebut. Artinya Imam Ali mau menjadi khalifah dengan hujjah dalil tersebut</p></blockquote>
<p>udah ada yg ngebantah, kalau dr saya ntar ya… Insya Allah <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>memang Imam Ali bukanlah salah seorang yang ditunjuk sebagai panglima dalam perang Riddah,</p>
<p>lho terus kata-kata anda yang ini</p>
<p>Kata siapa mas, sepengetahuan saya Imam Ali pun aktif membantu dalam perang Riddah yg dipimpin oleh Abu Bakar</p>
<p>mau dikemanakan itu, mau menentang perkataan anda sendiri. kan anda yang bilang Imam Ali aktif membantu dalam perang Riddah, ditanya buktinya eh malah ngeles menentang perkataannya sendiri</p></blockquote>
<p>Bukannya justru anda sendiri yg menentang perkataan anda sendiri :</p>
<blockquote><p>konsisten apanya? baca tuh sejarah pada zaman Abu Bakar, khalifah Imam Ali <strong>memisahkan diri</strong> dan btw pada zaman ketiga khalifah Imam Ali tidak satupun aktif mengikuti perperangan ataupun menjadi pejabat pemerintah.</p></blockquote>
<p>Padahal beliau masih berhubungan dg Abu Bakar dan juga sahabat lain, dan menurut pengertian saya mengikuti peperangan bukan berarti terjun langsung ke medan perang, tetapi berinteraksi dg Abu Bakar dan sahabat yg lain dalam aktivitas mereka. Bukti beliau mendapat istri dari tawanan perang Riddah adalah sebaik-baik bukti bahwa beliau pun ikut terlibat, at least mendukung perang yg dipimpin Abu Bakar tsb. Jadi kira2 siapa yg berasumsi? <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p>********************</p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comment-10903">Oktober 10, 2009 at 6:45 am</a>said:</p>
<p>@antirafidhah</p>
<blockquote><p>Itulah yg saya maksud anda itu tekstual dlm memahami hadits, tanpa memperhatikan asbabul wurud &amp; hadits2 yg lain</p></blockquote>
<p align="justify">Gak perlu sok bicara asbabul wurud deh kalau situ gak ngerti, udah dijelasin dari dulu kok gak ngerti, dan ada banyak tuh hadis-hadis lain yang senada, situ aja yang terbiasa membelokkan makna hadis sesuai keinginannya</p>
<blockquote><p>Kalau anda faham yg namanya “Proses” maka anda ga akan berpemahaman spt itu, semuanya ada prosesnya ga langsung abakadabra lgsung jadi,</p></blockquote>
<p align="justify">Proses yang terjadi justru membuktikan kalau ada banyak pertentangan soal Abu Bakar menjadi khalifah dan itu membuktikan kalau kaum mukminin saat itu gak berpikir kayak anda kalau Imam shalat berarti isyarat kekhalifahan <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>maka friksi2 yg terjadi (kalau itu riwayatnya bener) adlh bagian dari proses..,</p></blockquote>
<p align="justify">friksinya sampe keterlaluan tuh, pakai mengancam membakar rumah Ahlul Bait, <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1306902214g" alt=":roll:" /></p>
<blockquote><p>mengenai kaum Anshar, awalnya mungkin bagi mereka belum terpikirkan mengenai keutamaan Abu Bakar,</p></blockquote>
<p align="justify">jawaban model apa ini, kok bisa kaum Anshar belum terpikirkan keutamaan Abu Bakar, bukannya menurut anda Abu Bakar sahabat yang paling utama, kok kaum Anshar gak kepikiran ya, apalagi menurut anda mereka berimam kepada Abu Bakar selama beberapa hari <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>tetapi begitu Abu Bakar datang dan Umar mengingatkan keutamaan beliau, serentak mereka pun berbai’at..</p></blockquote>
<p>keutamaan yang mana, situ kok ngasal <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>itulah Finally nya.. dan peristiwa tsb bukan peristiwa yg akan dtg tetapi masa lampau yg bisa ditarik alurnya dg mudah.. gimana seh sampeyan ini</p></blockquote>
<p align="justify">Gak nyadar ya, situ kan awalnya bilang kata-kata “Allah dan kaum mukminin gak akan rela kecuali dengan Abu Bakar” menunjukkan kekhalifahan tetapi terbukti kok ada sahabat-sahabat yang menentang baiat tersebut sampai ada ancaman membakar rumah ahlul bait, kalau memang gak akan rela kecuali dengan Abu Bakar maka ngapain pake friksi-friksian yang sampe ancam membakar rumah ahlul bait. Jadi jelas sekali kata-kata “Allah dan kaum mukminin gak akan rela kecuali dengan Abu Bakar” bukan merujuk pada kekhalifahn <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>udah ada yg ngebantah, kalau dr saya ntar ya… Insya Allah</p></blockquote>
<p>oooh jadi itu bukan anda yang membantah <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Bukannya justru anda sendiri yg menentang perkataan anda sendiri :</p></blockquote>
<p align="justify">Memisahkan diri itu artinya tidak ikut aktif dalam pemerintahan, bandingkan saja dengan aktivitas Imam Ali di masa Rasul SAW yang hampir mengikuti setiap perperangan kecuali dalam Perang Tabuk, itu pun Imam Ali ingin ikut tetapi diperintahkan Rasul SAW untuk tinggal. udah saya bilang emangnya yang namanya memisahkan diri harus mengurung diri dalam kamar, jangan naif deh <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1306902214g" alt=":P" /></p>
<blockquote><p>Padahal beliau masih berhubungan dg Abu Bakar dan juga sahabat lain, dan menurut pengertian saya mengikuti peperangan bukan berarti terjun langsung ke medan perang,</p></blockquote>
<p align="justify">Gak nyadar ya, situ kan yang bilang <strong>sepengetahuan saya Imam Ali pun aktif membantu dalam perang Riddah yg dipimpin oleh Abu Bakar</strong>, situ bilangnya aktif membantu dalam Perang lho, lagian lucu banget <strong>mengikuti perperangan bukan berarti terjun langsung ke medan perang</strong>. Ah ternyata asumsi membuat pikiran anda jadi terbiasa rusak, <strong>mengikuti perperangan</strong> ya artinya ikut dalam perang, yah masa’ sih tidak mengerti kata-kata yang anda ucapkan sendiri <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p align="justify">*******************</p>
<p style="text-align:center;" align="justify"><strong><span style="color:#800000;">Komen dan diskusi selanjutnya silahkan berkunjung langsung</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/16/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw/#comments" target="_blank">KESINI</a></strong></p>
<p><strong><em><br />
</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/950/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/950/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/950/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/950/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/950/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/950/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/950/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/950/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=950&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/11/10/analisis-tafsir-salafy-terhadap-hadis-ali-khalifah-setelah-nabi-saw-bantahan-untuk-abul-jauza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:P</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:roll:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:roll:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:P</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:roll:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:P</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1306902214g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW”</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/29/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/29/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 12:22:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhail Imam Ali as.]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh dan Ta&#039;dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Salafy-Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syubuhat Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=934</guid>
		<description><![CDATA[Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW” SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar . Imam Ali AS memiliki kemuliaan yang tinggi dalam Islam. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kedudukan Imam Ali AS di sisi Rasulullah SAW sama seperti kedudukan Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS. Seharusnya kita sebagai umat Islam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=934&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Kedudukan Hadis “Ali Khalifah Setelah Nabi SAW”</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Ali AS memiliki kemuliaan yang tinggi dalam Islam. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa <em>kedudukan Imam Ali AS di sisi Rasulullah SAW sama seperti kedudukan Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS.</em> Seharusnya kita sebagai umat Islam menerima dengan baik keutamaan Imam Ali AS dan mengecam sikap-sikap yang menurunkan atau meragukan keutamaan Beliau. Berikut akan kami sajikan hadis keutamaan Imam Ali AS yang mungkin memicu keraguan dari sebagian orang. <span id="more-934"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Al Hafiz Ibnu Abi Ashim Asy Syaibani dalam Kitabnya <em>As Sunnah</em> hal 519 hadis no 1188 telah meriwayatkan sebagai berikut</p>
<h2 style="text-align:right;">ثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى بن حماد عن أبي عوانة عن يحيى ابن سليم أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنك لست نبيا إنه لا ينبغي أن أذهب إلا وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Ali “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali <strong>Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedudukan Hadis</strong><em><strong><br />
</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;">Syaikh Al Albani dalam kitabnya <em>Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah</em> hal 520 hadis no 1188 memberikan penilaian bahwa <em>hadis ini sanadnya hasan,</em> dimana Beliau menyatakan bahwa <em>semua perawinya tsiqat. </em>Hadis ini telah diriwayatkan oleh para perawi Bukhari Muslim kecuali Abi Balj yang dinilai shaduq sehingga Syaikh Al Albani menyatakan hadis tersebut hasan. Setelah kami melakukan penelitian lebih lanjut maka kami temukan bahwa <em><strong>hadis ini adalah hadis Shahih dan Yahya bin Sulaim Abi Balj adalah perawi tsiqat. </strong></em>Berikut analisis terhadap para perawinya.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Analisis Perawi Hadis</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Muhammad bin Al Mutsanna</strong><br />
Muhammad bin Al Mutsanna Abu Musa Al Bashri adalah <em>seorang Hafiz yang tsiqat.</em> Hadisnya telah dijadikan hujjah oleh Bukhari dan Muslim serta Ashabus Sunan. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Daruquthni, Al Khatib dan Ibnu Hajar. Dalam <em>At Tahdzib</em> juz 9 no 698 disebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">قال عبد الله بن أحمد عن بن معين ثقة وقال أبو سعد الهروي سألت الذهلي عنه فقال حجة وقال صالح بن محمد صدوق اللهجة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abdullah bin Ahmad berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqah” dan Abu Sa’ad Al Harawi bertanya kepada Adz Dzahili yang berkata “hujjah” dan Shalih bin Muhammad berkata “shaduq hujjah”.</em></p>
<h2 style="text-align:right;">وقال أبو حاتم صالح الحديث صدوق</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Abu Hatim berkata “ hadisnya baik, shaduq (jujur)”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Syahin memasukkan Muhammad bin Al Mutsanna dalam kitabnya <em>Tarikh Asma Ats Tsiqat</em> no 1278. Ibnu Hajar menyatakan<em> ia tsiqat tsabit </em>dalam<em> Taqrib At Tahdzib</em> 2/129. Adz Dzahabi dalam <em>Al Kasyf</em> no 5134 juga menyatakan <em>Muhammad bin Al Mutsanna tsiqat.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Yahya bin Hamad</strong><br />
Yahya bin Hamad Al Bashri adalah seorang perawi tsiqat yang dijadikan hujjah oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud dalam <em>Nasikh Wa Mansukh</em>, Trimidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Disebutkan dalam <em>At Tahdzib</em> juz 11 no 338</p>
<h2 style="text-align:right;">قال بن سعد كان ثقة كثير الحديث وقال أبو حاتم ثقة وذكره بن حبان في الثقات</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat dan memiliki banyak hadis”. Abu Hatim berkata “tsiqat” dan disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Al Ajli dalam <em>Ma’rifat Ats Tsiqat</em> no 1971 menyatakan <em>Yahya bin Hamad tsiqat.</em> Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 2/300 menyatakan ia tsiqat. Adz Dzahabi dalam <em>Al Kasyf </em>no 6158 juga menyatakannya tsiqat.<br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abu Awanah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Awanah atau <em>Wadhdhah bin Abdullah Al Yasykuri </em>adalah perawi yang dijadikan hujjah oleh Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan, Ia telah meriwayatkan hadis dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dan telah meriwayatkan darinya Yahya bin Hamad. Abu Awanah telah dinyatakan tsiqah oleh Al Ajli, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim, Ibnu Ma’in dan yang lainnya. Al Ajli dalam <em>Ma’rifat Ats Tsiqah</em> no 1937 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">وضاح أبو عوانة بصرى ثقة مولى يزيد بن عطاء الواسطي</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Wadhdhah Abu Awanah orang Bashrah yang tsiqat mawla Yazid bin Atha’ Al Wasithi</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Syahin memasukkan namanya dalam <em>Tarikh Asma Ats Tsiqat </em>no 1508 dan berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">قال يحيى بن معين أبو عوانة ثقة واسمه الوضاح</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Yahya bin Ma’in berkata “Abu Awanah tsiqat namanya adalah Wadhdhah”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>At Tahdzib </em>juz 11 no 204 disebutkan bahwa Abu Hatim, Abu Zar’ah Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Sa’ad, Ibnu Abdil Barr menyatakan <em>Abu Awanah tsiqat,</em> Ibnu Kharrasy menyatakan<em> ia shaduq </em>dan Yaqub bin Abi Syaibah menyatakan <em>Abu Awanah seorang Hafiz yang tsabit dan shalih.</em> Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 2/283 menyatakan <em>Abu Awanah tsiqat tsabit </em>dan Adz Dzahabi dalam <em>Al Kasyf</em> no 6049 juga menyatakan<em> ia tsiqah.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Yahya bin Sulaim Abi Balj</strong><br />
Yahya bin Sulaim adalah perawi Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Beliau dikenal dengan kunniyah Abu Balj dan ada pula yang menyebutnya Yahya bin Abi Sulaim. Beliau telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma’in, Nasa’i, Ibnu Sa’ad dan Daruquthni. Dalam <em>At Tahdzib</em> juz 12 no 184 Ibnu Hajar menyebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">وقال بن معين وابن سعد والنسائي والدارقطني ثقة وقال البخاري فيه نظر وقال أبو حاتم صالح الحديث لا بأس به</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Nasa’i dan Daruquthni menyatakan ia tsiqat. Bukhari berkata “perlu diteliti lagi” dan Abu Hatim berkata “hadisnya baik dan tidak ada masalah dengannya”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Yaqub bin Sufyan Al Fasawi dalam<em> Ma’rifat Wa Tarikh</em> 3/106 menyebutkan tentang Abu Balj</p>
<h2 style="text-align:right;">قال يعقوب بن سفيان أبي بلج كوفي لا بأس به</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Yaqub bin Sufyan berkata “Abi Balj Al Kufi tidak ada masalah dengannya”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Bukhari <em>“fihi nazhar (perlu diteliti lagi)” </em>terhadap Yahya bin Sulaim Abi Balj tidaklah benar. Kami telah menelusuri karya-karya Bukhari seperti <em>Tarikh As Shaghir</em> dan<em> Tarikh Al Kabir</em> ternyata <em>tidak ada keterangan bahwa Bukhari menyatakan Abu Balj dengan sebutan “fihi nazhar”. </em>Selain itu, Bukhari sendiri tidak memasukkan Abu Balj dalam kitabnya <em>Adh Dhua’fa As Shaghir </em>yang berarti <em>Bukhari tidak menganggapnya cacat.</em> Bukhari menyebutkan biografi Yahya bin Abi Sulaim Abu Balj dalam<em> Tarikh Al Kabir</em> juz 8 no 2996 dan beliau menyebutkan</p>
<h2 style="text-align:right;">يحيى بن أبي سليم قال إسحاق نا سويد بن عبد العزيز وهو كوفي ويقال واسطي أبو بلج الفزاري روى عنه الثوري وهشيم ويقال يحيى بن أبي الأسود وقال سهل بن حماد نا شعبة قال نا أبو بلج يحيى بن أبي سليم</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Yahya bin Abi Sulaim, Ishaq berkata telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Abdul Aziz “dia orang Kufah dan dikatakan juga orang Wasith Abu Balj Al Fazari, telah meriwayatkan darinya Tsawri dan Hasym, ada yang mengatakan Yahya bin Abil Aswad”. Sahl bin Hamad berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Balj Yahya bin Abi Sulaim. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam biografi Abu Balj yang disebutkan Bukhari <em>tidak ada pernyataan Bukhari yang menyebutnya cacat apalagi dengan sebutan fihi nazhar </em>bahkan dari keterangan Bukhari dapat diketahui bahwa <em>Syu’bah telah meriwayatkan dari Yahya bin Abu Sulaim Abu Balj.</em> Hal ini berarti <em>Syu’bah menganggap Abu Balj sebagai tsiqah</em> karena telah sangat dikenal bahwa <em>Syu’bah tidak meriwayatkan kecuali dari para perawi tsiqah</em>. Oleh karena itu tidak diragukan lagi kalau <strong>Abu Balj seorang yang tsiqat.</strong><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Amr bin Maimun</strong><br />
Amr bin Maimun Al Audi adalah seorang tabiin yang tsiqah termasuk Al Mukhadramun menemui masa jahiliyah tetapi tidak bertemu dengan Nabi SAW. Ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA. Al Ajli dalam <em>Ma’rifat Ats Tsiqah</em> no 1412 berkata</p>
<h2 style="text-align:right;">عمرو بن ميمون الأودي كوفي تابعي ثقة</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>Amr bin Maimun Al Audi Tabiin kufah yang tsiqat.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ibnu Hajar menyebutkan dalam<em> At Tahdzib </em>juz 8 no 181 bahwa selain Al Ajli, Amr bin Maimun juga dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Nasa’i dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalam <em>At Taqrib</em> 1/747 mengatakan kalau <em>Amr bin Maimun adalah mukhadramun yang dikenal tsiqat.</em><br />
.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kesimpulan</strong><br />
Hadis di atas telah diriwayatkan oleh <em>para perawi tsiqat. </em>Dimana semua perawinya adalah perawi Bukhari dan Muslim kecuali <em>Yahya bin Sulaim Abi Balj dan dia adalah perawi yang tidak diragukan ketsiqahannya.</em> Oleh karena itu <strong><em>hadis tersebut sanadnya Shahih.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>.</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Catatan :</em></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Semoga Hadis  ini bisa didiskusikan dengan sebijak mungkin tanpa hujatan dan tuduhan </em> <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" alt=":)" /></li>
<li><em>Kepada seseorang, silakan dibaca hadiah saya yang tertunda </em> <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" alt=":mrgreen:" /></li>
</ul>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#008000;"> BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comments" target="_blank">-KLIK DISINI-</a></strong></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>_____________________</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><strong><span style="text-decoration:underline;">BEBERAPA DIALOG PENULIS DENGAN PEMBACA</span></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>hadi</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-7812">Juli 5, 2009 at 4:50 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Salam</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin hadis berikut bisa mencerahkan bagi mereka yang suka bersilat lidah setiap kali menemukan hadis yang menyudut pegangan mereka:</p>
<p style="text-align:justify;">كتاب السلسة الصحيحة للألباني (5/222 ( صحيح )<br />
[2223 - " ما تريدون من علي ؟ إن عليا مني و أنا منه و هو ولي كل مؤمن بعدي " . ]</p>
<p style="text-align:justify;">Sabda Nabi saaw, ‘Apa yang kalian mahukan dari Ali? Dia adalah dariku dan aku darinya dan dia adalah wali bagi mukmin sesudahku’.<br />
(al Albani menshahihkannya dlm kitab silsilat alahadith alsahihah jilid 5 hlm 222)</p>
<p style="text-align:justify;">Salam Damai</p>
<p style="text-align:justify;">********************</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>imem</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-7792">Juli 5, 2009 at 8:52 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana yg masyhur telah kita ketahui, hadits Manzilah tidak terlepas dari peristiwa perang Tabuk, dimana pada perang ini Imam Ali oleh Rasulullah tidak diikutsertakan, karena beliau ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjadi pejabat interim, yaitu diserahi tanggung jawab menggantikan Rasulullah dalam memimpin Madinah yang terdiri dari orang tua, perempuan, anak-anak dan orang-orang yang mendapat uzur utk tdk ikut perang. Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau karena beliau tidak bisa ikut berjihad bersama sahabat2 Nabi yg lain, kemudian beliau menghadap kepada Rasulullah mengadukan hal ini.. sehingga keluarlah sabda Rasulullah kepada Imam Ali yg dikenal dg hadits Manzilah untuk menyenangkan Imam Ali.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka marilah kita coba pahami hadits tsb dg benar agar tidak salah paham..</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penyerupaan ini mengingatkan kita kepada kisah Nabi Musa ketika hendak pergi ke bukit Thursina untuk menerima perintah Allah, beliau serahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun, dan sekembalinya Nabi Musa dari gunung Thursina, kepemimpinan kembali kepada Nabi Musa, demikian juga halnya, begitu Nabi Muhammad kembali dari perang Tabuk, maka kepemimpinan pun kembali kepada Rasulullah.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi jelas di sini terlihat bahwa kepemimpinan yg diserahkan kepada Imam Ali dalam hadits tersebut bersifat sementara di saat Rasulullah masih hidup (dan hal spt itu juga pernah terjadi pada sahabat2 yg lain selain Imam Ali), jadi yg dimaksud khalifah/wakil (jika tambahan ini benar) pada hadits di atas adalah bukan khalifah setelah Rasulullah meninggal tetapi hanya khalifah yg terbatas utk kota madinah dan bersifat sementara saja sampai Rasulullah kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">Sbgmana kita tahu, pengganti Nabi Musa setelah beliau wafat adalah Yusya’ (Joshua) bin Nun, bukan Nabi Harun. Jika hadits dia atas difahami sebagai khalifah pengganti Rasulullah setelah beliau wafat, maka seharusnya Imam Ali diserupakan kedudukannya dengan Yusya’ bin Nun bukan dengan Nabi Harun.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan yang dimaksud kalimat <strong>Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu</strong> pada hadits di atas adalah <strong> Sesungguhnya tidak sepatutnya aku pergi (ke perang Tabuk), kecuali engkau sebagai penggantiku untuk setiap mukmin di Madinah setelah kepergianku..</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seorang pengganti hanya bisa menjadi pengganti ketika yang digantikan sedang tidak ada atau telah meninggal. Karena itu, setiap pengganti Nabi di kala beliau masih hidup, penggantiannya (khilafah) berakhir begitu Nabi kembali ke Madinah.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">****************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-7816">Juli 5, 2009 at 6:10 pm</a> said:</p>
<p style="text-align:justify;">@hadi<br />
ho ho ah Mas ini kayak nggak tahu aja, dalih itu selalu bisa dicari-cari <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" alt=":)" /></p>
<p style="text-align:justify;">@imem</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana yg masyhur telah kita ketahui, hadits Manzilah tidak terlepas dari peristiwa perang Tabuk, dimana pada perang ini Imam Ali oleh Rasulullah tidak diikutsertakan, karena beliau ditugaskan oleh Rasulullah untuk menjadi pejabat interim, yaitu diserahi tanggung jawab menggantikan Rasulullah dalam memimpin Madinah yang terdiri dari orang tua, perempuan, anak-anak dan orang-orang yang mendapat uzur utk tdk ikut perang.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Yang harus diclearkan terlebih dahulu adalah apakah anda menganggap hadis Manzilah sebuah keutamaan bagi Imam Ali atau tidak?.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau karena beliau tidak bisa ikut berjihad bersama sahabat2 Nabi yg lain, kemudian beliau menghadap kepada Rasulullah mengadukan hal ini.. sehingga keluarlah sabda Rasulullah kepada Imam Ali yg dikenal dg hadits Manzilah untuk menyenangkan Imam Ali.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">pernyataan anda bahwa <em>Imam Ali merasa tugas itu merendahkan Beliau</em> adalah interpretasi anda sendiri. Saya pribadi mengartikan bahwa Imam Ali ingin bersama Rasul SAW dalam perang tersebut dan ingin melindungi Beliau oleh karenanya Beliau merasa sedih. Ada perbedaan nyata antara orang yang berhati-hati dalam menggunakan kata-kata dengan yang tidak.</p>
<blockquote><p>Maka marilah kita coba pahami hadits tsb dg benar agar tidak salah paham..</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">mari kita lihat</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Penyerupaan ini mengingatkan kita kepada kisah Nabi Musa ketika hendak pergi ke bukit Thursina untuk menerima perintah Allah, beliau serahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun, dan sekembalinya Nabi Musa dari gunung Thursina, kepemimpinan kembali kepada Nabi Musa, demikian juga halnya, begitu Nabi Muhammad kembali dari perang Tabuk, maka kepemimpinan pun kembali kepada Rasulullah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">silakan kalau mau mengartikan begitu, pertanyaannya adalah apa dasarnya bahwa penjelasan anda benar. Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?. Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jadi jelas di sini terlihat bahwa kepemimpinan yg diserahkan kepada Imam Ali dalam hadits tersebut bersifat sementara di saat Rasulullah masih hidup</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">seperti biasa anda melihat banyak hal yang tidak dilihat orang lain karena kenyataannya memang tidak ada. Tidak ada indikasi dalam teks tersebut yang bersifat sementara. Apalagi teks yang saya kutip memiliki kata-kata yang jelas yaitu <em>Khalifah bagi setiap mukmin</em> dan kata-kata <em>SetelahKu</em>. Teks hadis ini jauh lebih terlihat jelas dibandingkan semua asumsi yang anda katakan.</p>
<blockquote><p>(dan hal spt itu juga pernah terjadi pada sahabat2 yg lain selain Imam Ali),</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan mudah untuk mengugurkan klaim anda adalah coba tunjukkan sahabat lain yang disebut Rasulullah SAW dengan kedudukan Harun di sisi Musa?. Silakan kalau bisa, kalau tidak maka tidak ada gunanya berasumsi. Dan coba perhatikan kata-kata anda sendiri kalau memang sahabat-sahabat yang lain banyak mengalami hal seperti itu mengapa para sahabat menganggap hadis Manzilah ini sebagai keutamaan Imam Ali yang begitu besar.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">jadi yg dimaksud khalifah/wakil (jika tambahan ini benar) pada hadits di atas adalah bukan khalifah setelah Rasulullah meninggal tetapi hanya khalifah yg terbatas utk kota madinah dan bersifat sementara saja sampai Rasulullah kembali.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Itu kan asumsi anda dan teks hadisnya menolak semua asumsi anda. Khalifah itu untuk setiap mukmin, perhatikan teks arabnya yang bersifat umum. Kemudian kata-kata SetelahKu apakah bersifat sementara.</p>
<blockquote><p>Sbgmana kita tahu, pengganti Nabi Musa setelah beliau wafat adalah Yusya’ (Joshua) bin Nun, bukan Nabi Harun.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan sederhana, anda tahu itu dari mana?, jangan-jangan dari sumber yang anda lecehkan sendiri. Silakan tunjukkan bukti pernyataan anda itu</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jika hadits dia atas difahami sebagai khalifah pengganti Rasulullah setelah beliau wafat, maka seharusnya Imam Ali diserupakan kedudukannya dengan Yusya’ bin Nun bukan dengan Nabi Harun.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jangan terburu-buru, dasar argumen anda adalah informasi sepotong yang tidak valid pula oleh karena itu silakan tunjukkan dulu validitas informasi yang anda gunakan sebagai dasar argumen anda.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan yang dimaksud kalimat Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu pada hadits di atas adalah Sesungguhnya tidak sepatutnya aku pergi (ke perang Tabuk), kecuali engkau sebagai penggantiku untuk setiap mukmin di Madinah setelah kepergianku..</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Wah wah anda bukannya menjelaskan hadis tetapi malah merubah-rubah teks hadis <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Seorang pengganti hanya bisa menjadi pengganti ketika yang digantikan sedang tidak ada atau telah meninggal. Karena itu, setiap pengganti Nabi di kala beliau masih hidup, penggantiannya (khilafah) berakhir begitu Nabi kembali ke Madinah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan lagi buat anda, apakah sebelum Rasulullah SAW mengucapkan hadis Manzilah di atas Rasulullah SAW sudah memutuskan Imam Ali akan tinggal atau belum?. Jika seperti yang anda katakan bahwa hadis tersebut diucapkan karena Imam Ali mengadu pada Rasulullah SAW maka seharusnya saya bisa berasumsi bahwa sebelum Hadis Manzilah tersebut diucapkan, Imam Ali sudah diputuskan Rasulullah SAW untuk tinggal dan ditunjuk sebagai pemimpin kota Madinah tetapi karena Imam Ali ingin sekali bersama Rasulullah SAW dan melindungi Beliau maka Imam Ali mengadukan kesedihannya kepada Rasulullah SAW.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***********************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>imem</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-7847">Juli 6, 2009 at 9:06 am</a>said:</p>
<blockquote><p>Yang harus diclearkan terlebih dahulu adalah apakah anda menganggap hadis Manzilah sebuah keutamaan bagi Imam Ali atau tidak?.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Iya jelas itu adalah salah satu keutamaan dan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul, tidak ada keraguan padanya..</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">pernyataan anda bahwa Imam Ali merasa tugas itu merendahkan Beliau adalah interpretasi anda sendiri. Saya pribadi mengartikan bahwa Imam Ali ingin bersama Rasul SAW dalam perang tersebut dan ingin melindungi Beliau oleh karenanya Beliau merasa sedih. Ada perbedaan nyata antara orang yang berhati-hati dalam menggunakan kata-kata dengan yang tidak.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jgn salah paham dulu, Imam Ali itu tipe pejuang yg tidak bisa tinggal diam, beliau selalu mengikuti peperangan2 yg ada, shg dg tugas memimpin Madinah yg diberikan oleh Rasul padanya pada perang Tabuk adlh sangat membuat beliau merasa kurang berperan saat itu.. padahal sebenarnya tugas yg diemban beliau di Madinah adalah sangat berat, karena selama Rasulullah tidak ada, beliau hrs menjaga stabilitas politik &amp; keamanan di Madinah, apalagi saat itu gerakan Kaum Munafiqin begitu mengkhawatirkan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">silakan kalau mau mengartikan begitu, pertanyaannya adalah apa dasarnya bahwa penjelasan anda benar. Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Loh, saya yakin anda telah byk membaca riwayat2 mengenai hadits manzilah ini di kutubus sittah.. dan tidak ada perselisihan bahwa hadits manzilah ini diucapkan Rasulullah pada perang Tabuk ketika Imam Ali menghadap Rasulullah sambil menangis, karena beliau tidak diikutsertakan dalam perang dan ditugaskan untuk memimpin Madinah. itu sangat jelas sekali.. kecuali kalo anda memahami hadits di atas secara tekstual saja tanpa memperhatikan asbabul wurudnya, ya silahkan aja tidak ada paksaan..</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Selagi lagi kalo anda memahami secara tekstual tanpa memperhatikan asbabul wurudnya ya silahkan saja… jelas sekali penyerupaan yang diucapkan Nabi tsb sangat berkaitan dengan tugas yg diberikan oleh beliau kepada Imam Ali untuk memimpin Madinah sebagaimana Nabi Musa menyerahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun di saat beliau bermunajat ke bukit Thursina.. ini pointnya.. jadi ini bukan hal yg umum tetapi hal yg khusus dan sangat berkaitan sekali dg peristiwa yg terjadi.. kalo misalnya ada lagi peristiwa yg mirip dg peristiwa ini di perang2 yg lain, ya hadits ini berlaku lagi, tetapi kan ternyata ga ada lagi toh..</p>
<p style="text-align:justify;">Konteks haditsnya spt di atas, tetapi kalo anda melihatnya dari sisi hubungan antara Rasulullah dan Imam Ali spt hubungan antara Nabi Musa dan Harun secara umum ya boleh-boleh aja.</p>
<blockquote><p>seperti biasa anda melihat banyak hal yang tidak dilihat orang lain karena kenyataannya memang tidak ada.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalo anda dan yang lain tidak bisa melihat sesuatu yg menurut saya sangat jelas, ya jangan salahkan saya, tanyakan apakah sebenarnya yang telah menutupi mata hati anda shg tdk bisa melihat sesuatu yg begitu jelas..</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada indikasi dalam teks tersebut yang bersifat sementara. Apalagi teks yang saya kutip memiliki kata-kata yang jelas yaitu Khalifah bagi setiap mukmin dan kata-kata SetelahKu. Teks hadis ini jauh lebih terlihat jelas dibandingkan semua asumsi yang anda katakan.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">ya itu kalo anda memahami secara tekstual dan mengabaikan asbabul wurud dr hadits tsb.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan mudah untuk mengugurkan klaim anda adalah coba tunjukkan sahabat lain yang disebut Rasulullah SAW dengan kedudukan Harun di sisi Musa?. Silakan kalau bisa, kalau tidak maka tidak ada gunanya berasumsi.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maksud saya adalah jabatan memimpin Madinah di saat Rasulullah tidak ada juga pernah dipercayakan kepada selain Imam Ali, dan mereka langsung menerimanya dan tidak bersedih hati..</p>
<p style="text-align:justify;">penyerupaan2 spt di atas tidak hanya diberikan kepada Imam Ali saja tetapi jg kepada sahabat-sahabat yang lain, dan memang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun adalah hanya pernah diucapkan rasulullah kepada Imam Ali saja..</p>
<p style="text-align:justify;">contoh :</p>
<p style="text-align:justify;">“Akan kuceritakan kepadamu tentang dua orang yang sepadan dengan kamu. Engkau, wahai Abu Bakar, sama dengan Ibrahim ketika ia berkata: Barangsiapa mengikuti aku, ia termasuk golonganku. Barangsiapa durhaka kepadaku, sesungguhnya Tuhan maha pengampun dan maha Pengasih (QS, Ibrahim, 14:36). Engkau juga sama dengan Nabi Isa ketika ia berkata: “Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Mulia dan Maha Bijaksana”. (QS, al-Ma’idah, 5:118). Adapun engkau, wahai ‘Umar, sama seperti Nuh ketika ia berkata: “Ya Tuhanku janganlah Engkau biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir tinggal di atas bumi”. (QS, Nuh, 71:26). Engkau juga seperti Nabi Musa ketika ia berkata: “Ya Tuhan kami binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih”. (QS, Yunus, 10:88). (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
<p style="text-align:justify;">Persamaan di atas sebatas konteks yang ditunjukkan oleh pernyataan di atas, yaitu sifat keras (asy-syiddah) dari lembut (al-layyin) kepada musuh-musuh Allah. Demikian pula, kesamaan kedudukan Ali dengan Harun adalah sebatas yang ditunjukkan oleh konteks perkataan itu, yaitu menjadi pengganti Nabi dikala beliau tidak ada, sebagaimana Musa mengangkat Harun sebagai penggantinya</p>
<blockquote><p>Itu kan asumsi anda dan teks hadisnya menolak semua asumsi anda. Khalifah itu untuk setiap mukmin, perhatikan teks arabnya yang bersifat umum. Kemudian kata-kata SetelahKu apakah bersifat sementara.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lha asbabul wurud hadits Manzilah memang spt itu mau apa lagi..</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sbgmana kita tahu, pengganti Nabi Musa setelah beliau wafat adalah Yusya’ (Joshua) bin Nun, bukan Nabi Harun.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan sederhana, anda tahu itu dari mana?, jangan-jangan dari sumber yang anda lecehkan sendiri. Silakan tunjukkan bukti pernyataan anda itu</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda baca aja kitab2 tarikh baik dari kalangan Muslim maupun Ahli Kitab, yang jelas setelah Nabi Musa wafat, Yusya’ bin Nun lah yang menjadi pemimpin Bani Israel dan berhasil memasuki Palestina. dan tidak ada pakar sejarah yg menselisihi dalam hal ini, sedangkan Nabi Harun wafat ketika Nabi Musa masih hidup, jadi beliau tidak pernah menjadi khalifah setelah Nabi Musa.. maka jika kedudukan Imam Ali seperti Nabi Harun, berarti khalifah yg dimaksud dlm hadits di atas adalah khalifah sementara bukan khalifah setelah Rasulullah wafat.. jika anda tidak setuju silahkan tunjukkan siapa pemimpin Bani Israel setelah Nabi Musa wafat jika bukan Yusya’ bin Nun.. silahkan..</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jika seperti yang anda katakan bahwa hadis tersebut diucapkan karena Imam Ali mengadu pada Rasulullah SAW maka seharusnya saya bisa berasumsi bahwa sebelum Hadis Manzilah tersebut diucapkan, Imam Ali sudah diputuskan Rasulullah SAW untuk tinggal dan ditunjuk sebagai pemimpin kota Madinah tetapi karena Imam Ali ingin sekali bersama Rasulullah SAW dan melindungi Beliau maka Imam Ali mengadukan kesedihannya kepada Rasulullah SAW.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">bisa-bisa aja kok, memang sebelum berangkat ke perang Tabuk Rasulullah sudah menunjuk Imam Ali untuk memimpin Madinah, setelah beliau kembali kemudian beliau memerintahkan Imam Ali ke Yaman..</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Oooh jadi maksudnya hanya untuk menyenangkan saja, begitukah?. Pertanyaannya kata-kata yang diucapkan Rasul SAW untuk menyenangkan itu adalah kata-kata yang benar atau tidak menurut anda atau cuma untuk menghibur?.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">dua2nya.. Penyerupaan Rasulullah sangat tepat dan penuh makna sekaligus berhasil menghibur Imam Ali. makanya Rasulullah dikenal memiliki jawami’ al kalim (ucapan ringkas, tapi padat maknanya).</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Perumpamaan itu memang sangat tepat untuk menjelaskan Keutamaan Imam Ali yang begitu tinggi di sisi Rasulullah SAW sama seperti keutamaan Harun di sisi Musa. Dan tentu sama seperti umat Nabi Musa AS saat itu yang tidak bisa dibandingkan dengan Nabi Harun AS maka begitu pula Umat Nabi Muhammad SAW saat itu jelas tidak bisa dibandingkan dengan Imam Ali AS</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Iya memang itu adalah salah satu keutamaan Imam Ali, memang benar, kecuali 3 khalifah sebelumnya, tidak ada umat Nabi Muhammad yg sebanding dengan Imam Ali dalam hal keutamaan..</p>
<p style="text-align:justify;">Hadits2 semacam itu juga pernah disampaikan kepada sahabat yg lain, contoh kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah :”Sesungguhnya orang yang paling terpercaya bagiku, baik dalam persahabatan maupun dalam hartanya, adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih selain Tuhanku, pasti aku mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Akan tetapi cukuplah menjadi saudara seagama (Islam) dan berkasih sayang didalamnya. Janganlah ada pintu terbuka di dalam masjid selain pintu Abu Bakar.” (HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">**************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-7871">Juli 6, 2009 at 8:53 pm</a> said:</p>
<p style="text-align:justify;">@imem</p>
<blockquote><p>Iya jelas itu adalah salah satu keutamaan dan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul, tidak ada keraguan padanya..</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya catat ini, hadis Manzilah adalah keutamaan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul SAW</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jgn salah paham dulu, Imam Ali itu tipe pejuang yg tidak bisa tinggal diam, beliau selalu mengikuti peperangan2 yg ada, shg dg tugas memimpin Madinah yg diberikan oleh Rasul padanya pada perang Tabuk adlh sangat membuat beliau merasa kurang berperan saat itu.. padahal sebenarnya tugas yg diemban beliau di Madinah adalah sangat berat, karena selama Rasulullah tidak ada, beliau hrs menjaga stabilitas politik &amp; keamanan di Madinah, apalagi saat itu gerakan Kaum Munafiqin begitu mengkhawatirkan.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak salah paham, saya menunjukkan ketidakhati-hatian anda dalam menggunakan kata-kata. Maafkan kalau saya katakan anda berbicara terlalu banyak sehingga lupa apa yang telah anda bicarakan. Sekarang anda mengatakan kalau tugas Imam Ali sangat berat karena harus menjaga stabilitas politik dan keamanan Madinah padahal sebelumnya anda mengatakan <em>Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau</em>. Itu kontradiksi anda yang harus anda jelaskan, kemudian pernyataan anda <em>soal kaum munafik yang mengkhawatirkan</em> adalah asumsi baru yang saya tidak tahu benar atau tidak</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Loh, saya yakin anda telah byk membaca riwayat2 mengenai hadits manzilah ini di kutubus sittah.. dan tidak ada perselisihan bahwa hadits manzilah ini diucapkan Rasulullah pada perang Tabuk ketika Imam Ali menghadap Rasulullah sambil menangis, karena beliau tidak diikutsertakan dalam perang dan ditugaskan untuk memimpin Madinah. itu sangat jelas sekali..</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lho apakah anda tidak mengerti pertanyaan saya, saya tidak mengingkari Rasulullah SAW pernah mengucapkan hadis Manzilah saat perang Tabuk tetapi yang saya tanyakan adalah <em>Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?.</em>. Bunyi hadis yang diucapkan Rasulullah SAW di atas bersifat umum dan saya telah menjelaskan <em>Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.</em></p>
<blockquote><p>kecuali kalo anda memahami hadits di atas secara tekstual saja tanpa memperhatikan asbabul wurudnya, ya silahkan aja tidak ada paksaan..</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Secara tekstual hadis tersebut berarti umum secara kontekstual peristiwa yang anda katakan asbabul wurud tidak menafikan keumumman hadis tersebut.</p>
<blockquote><p>Selagi lagi kalo anda memahami secara tekstual tanpa memperhatikan asbabul wurudnya ya silahkan saja…</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">asbabul wurud yang anda maksud tidak bersifat mengkhususkan, silakan anda tampilkan apa yang anda sebut asbabul wurud dan akan kita lihat bahwa dari asbabul wurudnya tidak ditemukan pengkhususan bahwa hadis Manzilah hanya berlaku saat perang Tabuk saja.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">jelas sekali penyerupaan yang diucapkan Nabi tsb sangat berkaitan dengan tugas yg diberikan oleh beliau kepada Imam Ali untuk memimpin Madinah sebagaimana Nabi Musa menyerahkan kepemimpinan bani Israel kepada Nabi Harun di saat beliau bermunajat ke bukit Thursina.. ini pointnya..</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda perhatikan penjelasan saudara Nomad, dia menjelaskan maksud saya dengan baik yaitu pada poin bahwa kata-kata yang digunakan Nabi bersifat umum sehingga ia berlaku pada saat Perang Tabuk dan setelahnya atau tepat setelah hadis tersebut diucapkan hingga seterusnya.</p>
<blockquote><p>jadi ini bukan hal yg umum tetapi hal yg khusus dan sangat berkaitan sekali dg peristiwa yg terjadi..</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pernahkah anda mendengar kaidah kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafaz.</p>
<blockquote><p>kalo misalnya ada lagi peristiwa yg mirip dg peristiwa ini di perang2 yg lain, ya hadits ini berlaku lagi, tetapi kan ternyata ga ada lagi toh..</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maaf kalau tidak salah, sebelumnya anda mengatakan bahwa Hadis Manzilah terkait dengan peristiwa Imam Ali ditunjuk sebagai pemimpin Madinah. Kemudian anda juga mengatakan banyak sahabat lain yang ditunjuk Nabi sebagai pengganti di Madinah, maka tidak salah kalau saya bertanya pada peristiwa sahabat-sahabat lain itu kenapa tidak ada disebutkan hadis Manzilah.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Konteks haditsnya spt di atas, tetapi kalo anda melihatnya dari sisi hubungan antara Rasulullah dan Imam Ali spt hubungan antara Nabi Musa dan Harun secara umum ya boleh-boleh aja.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah SAW yang mengucapkan hadis tersebut dengan makna yang umum sehingga beliau memberi satu batasan bahwa hubungan yang dimaksud tidak mencakup Kenabian. Anda jelas tidak memperhatikan lafaz hadis yang diucapkan</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalo anda dan yang lain tidak bisa melihat sesuatu yg menurut saya sangat jelas, ya jangan salahkan saya, tanyakan apakah sebenarnya yang telah menutupi mata hati anda shg tdk bisa melihat sesuatu yg begitu jelas..</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Apa sebenarnya yang menutupi mata hati anda sehingga tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas. Bukankah anda mengatakan bahwa hadis Manzilah sebagai keutamaan ketinggian kedudukan Imam Ali, tetapi anda menyatakan bahwa hadis manzilah hanya berlaku saat perang Tabuk saja terkait dengan Imam Ali yang ditunjuk sebagai pengganti Madinah dan anda juga mengatakan banyak sahabat lain yang seperti itu. Bukankah para sahabat menganggap hadis Manzilah sebagai keutamaan khusus Imam Ali. Saya tanya apakah sahabat yang lain juga menyandang keutamaan hadis Manzilah merujuk pada penafsiran anda bahwa hadis manzilah terkait dengan penggantian pemimpin di Madinah?</p>
<blockquote><p>ya itu kalo anda memahami secara tekstual dan mengabaikan asbabul wurud dr hadits tsb.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya tidak mengabaikan asbabul wurudnya, saya berpegang pada teks hadisnya dan mendudukkan asbabul wurud sebagai bagian dari keumuman lafaz hadisnya. sedangkan anda tidak memperhatikan lafaz hadisnya dan maaf salah mendudukkan asbabul wurudnya?. Buktinya adalah hadis-hadis yang menyebutkan asbabul wurud seperti kata anda pada saat Perang Tabuk tidak menunjukkan adanya indikasi mengkhususkan, hadis asbabul wurud itu justru menunjukkan Nabi SAW mengucapkan lafaz hadis yang umum saat Perang Tabuk <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maksud saya adalah jabatan memimpin Madinah di saat Rasulullah tidak ada juga pernah dipercayakan kepada selain Imam Ali,</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dan bukankah anda sebelumnya mengatakan bahwa hadis Manzilah terkait dengan jabatan memimpin Madinah, kalau memang terkait ya wajar kan saya bertanya adakah sahabat lain (yang menurut anda pernah memimpin Madinah) juga mendapatkan hadis Manzilah?.</p>
<blockquote><p>dan mereka langsung menerimanya dan tidak bersedih hati..</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Apa maksud dari pernyataan anda ini? saya tidak berani menduga-duga, jadi kalau anda mau jelaskan kalau tidak ya sudah <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">penyerupaan2 spt di atas tidak hanya diberikan kepada Imam Ali saja tetapi jg kepada sahabat-sahabat yang lain, dan memang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun adalah hanya pernah diucapkan rasulullah kepada Imam Ali saja..</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda bilang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun terkait dengan jabatan memimpin Madinah, dan anda bilang jabatan tersebut juga diberikan kepada sahabat2 lain. lalu kenapa sahabat2 lain tidak mendapat hadis Manzilah. Ini membuktikan bahwa jabatan memimpin Madinah bukanlah sebab bagi hadis Manzilah. Sebab bagi hadis Manzilah adalah keutamaan Imam Ali itu sendiri.</p>
<blockquote><p>contoh :</p>
<p style="text-align:justify;">“Akan kuceritakan kepadamu tentang dua orang yang sepadan dengan kamu. Engkau, wahai Abu Bakar, sama dengan Ibrahim ketika ia berkata: Barangsiapa mengikuti aku, ia termasuk golonganku. Barangsiapa durhaka kepadaku, sesungguhnya Tuhan maha pengampun dan maha Pengasih (QS, Ibrahim, 14:36). Engkau juga sama dengan Nabi Isa ketika ia berkata: “Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu. Dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Mulia dan Maha Bijaksana”. (QS, al-Ma’idah, 5:118). Adapun engkau, wahai ‘Umar, sama seperti Nuh ketika ia berkata: “Ya Tuhanku janganlah Engkau biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir tinggal di atas bumi”. (QS, Nuh, 71:26). Engkau juga seperti Nabi Musa ketika ia berkata: “Ya Tuhan kami binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih”. (QS, Yunus, 10:88). (HR. Bukhari &amp; Muslim)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Contoh yang anda bawa sangat tepat untuk menjelaskan asbabul wurud yang bersifat mengkhususkan atau tidak. Perhatikan lafal hadis yang diucapkan Rasulullah SAW yaitu <em>Engkau, wahai Abu Bakar, sama dengan Ibrahim ketika ia berkata:</em>. Lafal ini bersifat khusus artinya aspek kesamaan Abu Bakar dengan Ibrahim telah dijelaskan oleh Nabi SAW sendiri. begitu pula lafal Nabi SAW terhadap Umar <em>Adapun engkau, wahai ‘Umar, sama seperti Nuh ketika ia berkata:</em> lafal ini sudah jelas bersifat khusus dimana Nabi SAW telah menjelaskan letak kesamaan atau penyerupaannya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Persamaan di atas sebatas konteks yang ditunjukkan oleh pernyataan di atas, yaitu sifat keras (asy-syiddah) dari lembut (al-layyin) kepada musuh-musuh Allah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.<br />
tentu saja konteks yang anda maksud sangat terkait dengan lafal hadisnya yang bersifat khusus. Berbeda dengan Hadis Manzilah, Rasulullah SAW menyebutkan lafal yang umum sehingga itu mencakup keseluruhan kecuali yang Rasulullah SAW batasi yaitu Kenabian. Semoga anda bisa memahami penjelasan saya <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Demikian pula, kesamaan kedudukan Ali dengan Harun adalah sebatas yang ditunjukkan oleh konteks perkataan itu, yaitu menjadi pengganti Nabi dikala beliau tidak ada, sebagaimana Musa mengangkat Harun sebagai penggantinya</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Penjelasan ini adalah asumsi anda, karena Rasulullah SAW tidak mengucapkan atau mengindikasikan suatu lafal/ucapan yang bersifat mengkhususkan kalau hadis manzilah terbatas saat Perang Tabuk saja</p>
<blockquote><p>Lha asbabul wurud hadits Manzilah memang spt itu mau apa lagi..</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Seperti itu bagaimana, silakan anda pahami dulu yang benar penjelasan saya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda baca aja kitab2 tarikh baik dari kalangan Muslim maupun Ahli Kitab, yang jelas setelah Nabi Musa wafat, Yusya’ bin Nun lah yang menjadi pemimpin Bani Israel dan berhasil memasuki Palestina. dan tidak ada pakar sejarah yg menselisihi dalam hal ini,</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maaf kan yang mengeluarkan informasi ini adalah anda bahkan anda menjadikannya sebagai hujjah anda, sangat wajar jika saya meminta anda membuktikan validitas informasi yang anda pakai sebagai berhujjah. Lucu sekali, anda yang berhujjah kok saya yang harus buktikan dasar hujjah anda. Anda menyebutkan kitab Tarikh dari kalangan Muslim dan Ahli Kitab, jadi tugas anda untuk menyebutkan secara lengkap sumber informasi anda?. kemudian apakah anda mengakui semua yang ada dalam kitab tarikh adalah benar?. Bukankah saya pernah mengatakan jangan2 sumber yang anda gunakan adalah sumber yang justru anda lecehkan, maafkan kalau dugaan saya salah dan silakan membuktikannya</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">sedangkan Nabi Harun wafat ketika Nabi Musa masih hidup, jadi beliau tidak pernah menjadi khalifah setelah Nabi Musa.. maka jika kedudukan Imam Ali seperti Nabi Harun, berarti khalifah yg dimaksud dlm hadits di atas adalah khalifah sementara bukan khalifah setelah Rasulullah wafat..</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lho bukankah itu malah memberatkan hujjah anda, kalau memang yang menyebabkan Nabi Harun tidak menjadi khalifah adalah karena Beliau AS wafat ketika nabi Musa AS masih hidup maka seandainya Nabi Harun AS masih hidup ketika Nabi Musa AS wafat beliaulah yang akan menggantikan Nabi Musa. Intinya penyerupaan yang dimaksud dalam hadis Manzilah adalah kedudukan Harun di sisi Musa, jika Nabi Musa wafat ketika Nabi Harun masih ada maka Beliaulah yang akan menggantikannya. Nah bagaimana?</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">jika anda tidak setuju silahkan tunjukkan siapa pemimpin Bani Israel setelah Nabi Musa wafat jika bukan Yusya’ bin Nun.. silahkan..</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lho sekali lagi andalah yang berhujjah dengan itu bukan saya, sebelum saya menyatakan setuju atau tidak setuju maka saya harus yakin dulu apakah anda sedang berbohong atau tidak, apakah anda keliru atau tidak yaitu dengan cara terlebih dahulu tunjukkan referensi lengkap yang bisa saya rujuk. Kalau anda tidak bisa, maka lebih baik tidak usah anda gunakan sebagai hujjah <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">bisa-bisa aja kok, memang sebelum berangkat ke perang Tabuk Rasulullah sudah menunjuk Imam Ali untuk memimpin Madinah, setelah beliau kembali kemudian beliau memerintahkan Imam Ali ke Yaman..</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ah anda tidak memahami penjelasan saya, yang saya maksud sebelum Rasulullah SAW mengucapkan hadis Manzilah, Imam Ali sudah ditunjuk sebagai pemimpin Madinah, nah anda setuju tidak?</p>
<blockquote><p>dua2nya.. Penyerupaan Rasulullah sangat tepat dan penuh makna sekaligus berhasil menghibur Imam Ali. makanya Rasulullah dikenal memiliki jawami’ al kalim (ucapan ringkas, tapi padat maknanya).</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Penyerupaan Rasulullah SAW memang penuh makna hanya orang-orang tertentu saja yang saya tidak tahu terpengaruh apa, kok berani-beraninya membatasi makna yang disampaikan Rasulullah SAW <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Iya memang itu adalah salah satu keutamaan Imam Ali, memang benar, kecuali 3 khalifah sebelumnya, tidak ada umat Nabi Muhammad yg sebanding dengan Imam Ali dalam hal keutamaan..</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadis Manzilah justru menunjukkan keutamaan Imam Ali di atas semua sahabat yang lain termasuk 3 khalifah, bukankah kedudukan Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi Musa AS maka begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi SAW. Ditambah lagi anda perhatikan lafal hadis yang saya kutip di atas <em><strong>bagi setiap mukmin</strong></em>, saya rasa 3 khalifah juga orang mukmin kan <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadits2 semacam itu juga pernah disampaikan kepada sahabat yg lain, contoh kedudukan Abu Bakar di sisi Rasulullah :”Sesungguhnya orang yang paling terpercaya bagiku, baik dalam persahabatan maupun dalam hartanya, adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil seorang kekasih selain Tuhanku, pasti aku mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Akan tetapi cukuplah menjadi saudara seagama (Islam) dan berkasih sayang didalamnya. Janganlah ada pintu terbuka di dalam masjid selain pintu Abu Bakar.” (HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lho bukankah ada juga hadis bahwa yang paling terpercaya itu adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, kok saya jadi bingung <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1308975618g" alt=":roll:" /> tapi kita tak perlu melebar, cukup bahas hadis manzilah dulu <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" alt=":)" /></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>imem</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-7892">Juli 7, 2009 at 8:56 am</a>said:</p>
<blockquote><p>Saya catat ini, hadis Manzilah adalah keutamaan ketinggian kedudukan Imam Ali di sisi Rasul SAW</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silahkan dicatat, karena bagi saya Imam Ali adalah termasuk dalam 4 besar manusia yang paling utama setelah Nabi Muhammad Shalalallahu alaihi wassalam..</p>
<blockquote><p>Sehingga beliau merasa tugas ini merendahkan beliau</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sudah saya terangkan maksud saya dengan :</p>
<blockquote><p>membuat beliau merasa kurang berperan saat itu</p></blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lho apakah anda tidak mengerti pertanyaan saya, saya tidak mengingkari Rasulullah SAW pernah mengucapkan hadis Manzilah saat perang Tabuk tetapi yang saya tanyakan adalah Apa dasar anda mengatakan bahwa hadis itu hanya berlaku saat perang Tabuk saja?..</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Para ahli hadits telah sepakat bahwa hadits manzilah itu tidak pernah diucapkan oleh Nabi kecuali sekali saja. Beliau tidak pernah mengulanginya, sebelum ataupun sesudahnya. Nabi hanya mengatakannya sekali saja, yaitu pada perang Tabuk. Dalam kutubussittah, sebagian besar menerangkan sebab lahirnya hadits itu, yaitu pengaduan ‘Ali dan tangisannya ketika ia ditunjuk sebagai pengganti Nabi di Madinah untuk mengurus kaum wanita dan anak-anak serta orang-orang yang mendapat izin absen dalam perang Tabuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Riwayat hadits itu terdapat dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Tirmidzi, Ibn Majah, Thabaqat ibn Sa’ad, Musnad Imam Ahmad, dan Musnad Abi Daud ath-Thayalisi. Semua riwayat tersebut bersepakat, seperti dikemukakan tadi, bahwa hadits tersebut tidak pernah disampaikan Nabi pada kesempatan lain, kecuali pada perang Tabuk itu. Dan sebab lahirnya hadits itu juga ada di sekitar perang itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Maka cukuplah itu menjadi dasar yang kuat dalam memahami hadits manzilah. Jika pun ada riwayat2 yg lain yg seolah-olah menselisihinya, tidaklah cukup kuat untuk mengalahkan kesepakatan di atas.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bunyi hadis yang diucapkan Rasulullah SAW di atas bersifat umum dan saya telah menjelaskan Teks hadis tersebut menjelaskan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum oleh karenanya Rasulullah SAW memberikan pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi. Dengan kata lain semua kedudukan Harun disisi Musa dimiliki oleh Imam Ali di sisi Nabi Muhammad kecuali Kenabian. Dan tentu kedudukan Imam Ali ini tidak berlaku hanya pada perang Tabuk saja.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Justru dengan kalimat pengecualian dari Rasulullah, bahwa Imam Ali bukan Nabi, menunjukkan unsur kesamaan antara Ali dan Harun terletak pada masalah penggantian. Zhahir hadits ini menetapkan bahwa Ali adalah pengganti Nabi selama beliau berada di Tabuk, sebagaimana Harun menjadi pengganti Musa bagi kaumnya selama Musa pergi meninggalkan mereka untuk bermunajat kepada Tuhannya. Inilah yang dimaksud perkataan Musa kepada saudaranya, Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku”. (QS, al-A’raf, 7:142). Dalam pernyataan ini tidak ada keumuman sama sekali.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Secara tekstual hadis tersebut berarti umum secara kontekstual peristiwa yang anda katakan asbabul wurud tidak menafikan keumumman hadis tersebut.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sudah berulangkali saya jelaskan..</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">asbabul wurud yang anda maksud tidak bersifat mengkhususkan, silakan anda tampilkan apa yang anda sebut asbabul wurud dan akan kita lihat bahwa dari asbabul wurudnya tidak ditemukan pengkhususan bahwa hadis Manzilah hanya berlaku saat perang Tabuk saja.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi sudah saya jelaskan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda perhatikan penjelasan saudara Nomad, dia menjelaskan maksud saya dengan baik yaitu pada poin bahwa kata-kata yang digunakan Nabi bersifat umum sehingga ia berlaku pada saat Perang Tabuk dan setelahnya atau tepat setelah hadis tersebut diucapkan hingga seterusnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silahkan jika anda berpendapat demikian, tetapi maaf saya tidak sependapat, saya tetap berpendapat bahwa kalimat Rasulullah kepada Imam Ali “kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harum di sisi Musa” sangat terkait dengan tugas yang diberikan Rasul..</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana Musa memberi tugas kepada Harun dan begitu Musa kembali dari bukit Thursina, maka tugas Harun memimpin nabi Israel pun berakhir, demikian juga begitu Rasul kembali ke Madinah, maka penyerupaan itu pun berakhir. Tetapi bukan berarti bahwa saya tidak mengakui penyerupaan tsb merupakan keutamaan Imam Ali bahkan saya mengakui perumpamaan tsb merupakan keistimewaan yg dimiliki Imam Ali yg menunjukkan begitu dekatnya hubungan beliau dengan Rasulullah.</p>
<blockquote><p>Pernahkah anda mendengar kaidah kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafaz.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tetapi kayaknya kaidah tsb tidak cocok diterapkan untuk kasus ini.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maaf kalau tidak salah, sebelumnya anda mengatakan bahwa Hadis Manzilah terkait dengan peristiwa Imam Ali ditunjuk sebagai pemimpin Madinah. Kemudian anda juga mengatakan banyak sahabat lain yang ditunjuk Nabi sebagai pengganti di Madinah, maka tidak salah kalau saya bertanya pada peristiwa sahabat-sahabat lain itu kenapa tidak ada disebutkan hadis Manzilah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Rasulullah keluar menuju perang Tabuk, dan beliau mewakilkan Ali (untuk tinggal di kota Madinah), <strong>maka Ali pun berkata, “Apakah<br />
engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak?”</strong> Rasulullah bersabda,<br />
“Apakah engkau tidak rela apabila kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, namun tidak ada nabi setelahku.” (HR. Bukhari)</p>
<p style="text-align:justify;">Yang dicetak tebal itu adalah jawabannya. sedangkan sahabat yang lain tidak menanyakan seperti itu ketika mereka ditunjuk oleh Rasulullah. Tetapi karena pengaduan itulah Rasulullah menunjukkan kasih sayang beliau dan itu adalah merupakan keutamaan Imam Ali. wallahu A’lam.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya tanya apakah sahabat yang lain juga menyandang keutamaan hadis Manzilah merujuk pada penafsiran anda bahwa hadis manzilah terkait dengan penggantian pemimpin di Madinah?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Masing-masing sahabat punya keutamaan sendiri-sendiri..</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda bilang penyerupaan kedudukan Musa dan Harun terkait dengan jabatan memimpin Madinah, dan anda bilang jabatan tersebut juga diberikan kepada sahabat2 lain. lalu kenapa sahabat2 lain tidak mendapat hadis Manzilah. Ini membuktikan bahwa jabatan memimpin Madinah bukanlah sebab bagi hadis Manzilah. Sebab bagi hadis Manzilah adalah keutamaan Imam Ali itu sendiri.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya sudah jawab di atas.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Penjelasan ini adalah asumsi anda, karena Rasulullah SAW tidak mengucapkan atau mengindikasikan suatu lafal/ucapan yang bersifat mengkhususkan kalau hadis manzilah terbatas saat Perang Tabuk saja</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya hanya berdasarkan asbabul wurud dan saya telah jelaskan, dan menurut saya itulah yg benar, kalo tidak sependapat ya ga pa2.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maaf kan yang mengeluarkan informasi ini adalah anda bahkan anda menjadikannya sebagai hujjah anda, sangat wajar jika saya meminta anda membuktikan validitas informasi yang anda pakai sebagai berhujjah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Al Qurtubi di dalam tafsirnya membantah keyakinan syi’ah dalam memahami hadits manzilah :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Maka tidak ada ikhtilaf bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak memaksudkan kedudukan Harun bagi Musa itu sebagai khalifah setelahnya. Tidak ada perselisihan bahwa Harun meninggal sebelum Musa ‘Alaihi Sallam dan tidak menjadi khalifah setelah Musa. Justru yang menjadi khalifah setelah Musa adalah Yusya’ Bin Nun. Kalau yang dimaksud dengan ucapan :” Engkau bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa.” Adalah khilafah, maka pasti beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan mengatakan :” Engkau bagiku seperti Yusya’ bagi Musa.” Maka ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mengatakan demikian maka hal ini menjadi dalil bahwa maksud beliau tidaklah demikian. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanyalah memaksudkan bahwa aku menjadikanmu sebagai penggantiku terhadap keluargaku dalam kehidupanku sebagaimana Harun menjadi pengganti (khalifah) bagi Musa atas kaumnya ketika Musa ‘Alaihi Sallam keluar (pergi) untuk menujat kepada Allah.” (Tafsir Al Qurthubi 1/268)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lho bukankah itu malah memberatkan hujjah anda, kalau memang yang menyebabkan Nabi Harun tidak menjadi khalifah adalah karena Beliau AS wafat ketika nabi Musa AS masih hidup maka seandainya Nabi Harun AS masih hidup ketika Nabi Musa AS wafat beliaulah yang akan menggantikan Nabi Musa. Intinya penyerupaan yang dimaksud dalam hadis Manzilah adalah kedudukan Harun di sisi Musa, jika Nabi Musa wafat ketika Nabi Harun masih ada maka Beliaulah yang akan menggantikannya. Nah bagaimana?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda mulai berasumsi dech.. jelas Rasulullah hidup jauh setelah Nabi Musa dan Harun, dan semuanya telah terjadi, jadi ga bisa diterima pengandaian anda yg seperti itu..</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ah anda tidak memahami penjelasan saya, yang saya maksud sebelum Rasulullah SAW mengucapkan hadis Manzilah, Imam Ali sudah ditunjuk sebagai pemimpin Madinah, nah anda setuju tidak?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya setuju, dan setelah Rasulullah kembali ke Madinah, kepemimpinan Imam Ali pun berakhir.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Penyerupaan Rasulullah SAW memang penuh makna hanya orang-orang tertentu saja yang saya tidak tahu terpengaruh apa, kok berani-beraninya membatasi makna yang disampaikan Rasulullah SAW</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Justru yg saya tidak ngerti dan terpengaruh apa, kok ada orang yg suka melebih-lebihkan sesuatu yang disampaikan Rasulullah melebihi dari yg seharusnya.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadis Manzilah justru menunjukkan keutamaan Imam Ali di atas semua sahabat yang lain termasuk 3 khalifah, bukankah kedudukan Nabi Harun AS di sisi Nabi Musa AS kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi Musa AS maka begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW kedudukannya di atas semua sahabat atau pengikut Nabi SAW. Ditambah lagi anda perhatikan lafal hadis yang saya kutip di atas bagi setiap mukmin, saya rasa 3 khalifah juga orang mukmin kan</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Oh kalo yg itu biar Imam Ali sendiri yg menjawab :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri yang diriwayatkan secara mustafidlah dari Muhammad Ibnil Hanafiyah:</p>
<p style="text-align:right;">قُلْتُ ِلأَبِي: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهَ ?؟ قَالَ: أَبُو بَكْرٍ. قَلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: عُمَرُ. وَخَشِيْتُ أَنْ يَقُوْلَ عُثْمَانُ. قُلْتُ: ثُمَّ أَنْْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلاَّ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. رواه البخاري: كتاب فضائل الصحابة باب 4 وفتح البارى 7/20</p>
<p style="text-align:justify;">Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu): Siapakah manusia yang terbaik setelah Rasulullah ? ? Ia menjawab: “Abu Bakar”. Aku bertanya (lagi): “Kemudian siapa?”. Ia menjawab: “Umar”. Dan aku khwatir ia akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau menjawab: “Tidaklah aku kecuali seorang dari kalangan muslimin”. (HR. Bukhari, kitab Fadlailus Shahabah, bab 4 dan Fathul Bari juz 4/20)</p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lho bukankah ada juga hadis bahwa yang paling terpercaya itu adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, kok saya jadi bingung tapi kita tak perlu melebar, cukup bahas hadis manzilah dulu</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tak perlu bingung, Abu Ubaidah adalah kepercayaan Umat, sedangkan Abu Bakar adalah orang kepercayaan (istilah sekarang “tangan kanan”) Rasulullah. Lagian poin yg saya maksud dlm hadits tsb adlh Rasulullah mengambil Abu Bakar sebagai kekasihnya.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-7929">Juli 7, 2009 at 9:39 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@imem</p>
<blockquote><p>Sudah saya terangkan maksud saya dengan :</p>
<p>membuat beliau merasa kurang berperan saat itu</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ooh kalau begitu anda memahami bahwa tugas Imam Ali kurang berperan <strong>padahal sebenarnya tugas yg diemban beliau di Madinah adalah sangat berat, karena selama Rasulullah tidak ada, beliau hrs menjaga stabilitas politik &amp; keamanan di Madinah, apalagi saat itu gerakan Kaum Munafiqin begitu mengkhawatirkan</strong>. Ehem itu kata-kata siapa ya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Para ahli hadits telah sepakat bahwa hadits manzilah itu tidak pernah diucapkan oleh Nabi kecuali sekali saja. Beliau tidak pernah mengulanginya, sebelum ataupun sesudahnya. Nabi hanya mengatakannya sekali saja, yaitu pada perang Tabuk.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bukannya saudara hadi telah menunjukkan kepada anda riwayat bahwa hadis manzilah selain pada peristiwa perang tabuk dimuat oleh sebagian ulama, baik anda dan Mas Hadi telah membawa hujjah masing-masing, bedanya Mas Hadi menyebutkan hadisnya dengan jelas dan anda tidak menyebutkan nama ulama-ulama yang sepakat itu dengan jelas.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dalam kutubussittah, sebagian besar menerangkan sebab lahirnya hadits itu, yaitu pengaduan ‘Ali dan tangisannya ketika ia ditunjuk sebagai pengganti Nabi di Madinah untuk mengurus kaum wanita dan anak-anak serta orang-orang yang mendapat izin absen dalam perang Tabuk.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Disini letak perbedaan anda dan saya. Saya memandang bahwa hadis tersebut dikeluarkan oleh Nabi SAW ketika Imam Ali bertanya kepada Nabi. Di sini Nabi SAW menunjukkan bahwa keutamaan Imam Ali begitu tinggi di sisi Nabi layaknya keutamaan Harun di sisi Musa tetapi Nabi SAW memberi batasan bahwa keutamaan itu tidak mencakup Kenabian.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Riwayat hadits itu terdapat dalam Sahih Bukhari, Sahih Muslim, Tirmidzi, Ibn Majah, Thabaqat ibn Sa’ad, Musnad Imam Ahmad, dan Musnad Abi Daud ath-Thayalisi. Semua riwayat tersebut bersepakat, seperti dikemukakan tadi, bahwa hadits tersebut tidak pernah disampaikan Nabi pada kesempatan lain, kecuali pada perang Tabuk itu. Dan sebab lahirnya hadits itu juga ada di sekitar perang itu.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda salah menarik kesimpulan, semua kitab hadis yang anda sebutkan bersepakat bahwa <em>hadis Manzilah pernah diucapkan Nabi SAW saat perang Tabuk.</em> Sedangkan <em>kesimpulan bahwa hadis tersebut tidak pernah disampaikan pada kesempatan lain</em> harus melihat hadis-hadis di kitab lain. Dan salah satunya sudah disebutkan oleh saudara Hadi. Poin saya disini saya tidak menolak bahwa semua kitab hadis yang anda sebutkan memuat hadis Manzilah saat Perang Tabuk.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maka cukuplah itu menjadi dasar yang kuat dalam memahami hadits manzilah. Jika pun ada riwayat2 yg lain yg seolah-olah menselisihinya, tidaklah cukup kuat untuk mengalahkan kesepakatan di atas.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dari dasar yang keliru maka anda menarik kesimpulan yang keliru pula. Hadis Manzilah di kitab-kitab hadis yang anda sebutkan tidak sedikitpun memuat pernyataan bahwa hadis tersebut terkhusus saat Perang Tabuk saja. Sehingga hadis-hadis tersebut tidak bisa anda jadikan dasar untuk menolak jika ada hadis lain yang menyebutkan hadis Manzilah di tempat yang lain. Seandainya ada Hadis Manzilah di tempat yang lain maka dengan merujuk adanya hadis Manzilah saat perang Tabuk, kesimpulan yang benar adalah <em>hadis Manzilah diucapkan saat Perang Tabuk dan di tempat yang lain.</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Justru dengan kalimat pengecualian dari Rasulullah, bahwa Imam Ali bukan Nabi, menunjukkan unsur kesamaan antara Ali dan Harun terletak pada masalah penggantian.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mari kita analisa dengan baik logika anda. Anda mengatakan <em>pengecualian Imam Ali bukan Nabi</em> menunjukkan <em>unsur kesamaan antara Ali dan Harun terletak pada masalah penggantian.</em>Kata-kata Nabi SAW adalah <strong>kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahKu.</strong>.<br />
Ada dua premis disini<br />
1. Premis pertama <strong>kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa</strong>. Premis ini menurut saya umum, sedangkan menurut anda khusus<br />
2. Premis kedua <strong>hanya saja tidak ada Nabi setelahku</strong>, premis ini bersifat khusus.<br />
Premis khusus diucapkan untuk membuat pengecualian premis umum sebelumnya, tidak ada suatu kaidah bahwa premis khusus membuat pengecualian premis yang khusus pula. sehingga pengecualian bahwa Imam Ali bukan Nabi adalah untuk membatasi semua keutamaan yang dimiliki Harun di sisi Musa. Jika premis <strong>kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa</strong> bersifat khusus maka tidak perlu memberi batasan, kalau premis <strong>kedudukanMu disisiku seperti Kedudukan Harun di sisi Musa</strong> seperti kata anda terbatas pada perang Tabuk saja maka tidak perlu memberi batasan dengan kata-kata <strong>hanya saja tidak ada Nabi setelahku</strong>.</p>
<blockquote><p>Zhahir hadits ini menetapkan bahwa Ali adalah pengganti Nabi selama beliau berada di Tabuk</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Disinilah anda keliru, karena sebelum hadis Manzilah tersebut diucapkan Nabi SAW telah menetapkan Imam Ali sebagai pengganti Nabi di Madinah, hal yang bahkan saya lihat sudah anda setujui. Ditambah lagi tidak ada kata-kata secara zahir yang menyebutkan bahwa<strong> Imam Ali sebagai pengganti di Madinah pada saat perang Tabuk saja.</strong></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">sebagaimana Harun menjadi pengganti Musa bagi kaumnya selama Musa pergi meninggalkan mereka untuk bermunajat kepada Tuhannya. Inilah yang dimaksud perkataan Musa kepada saudaranya, Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku”. (QS, al-A’raf, 7:142). Dalam pernyataan ini tidak ada keumuman sama sekali.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kedudukan Harun dalam memimpin umat Nabi Musa adalah bagian dari keumuman <em>kedudukan Harun disisi Musa</em>. Hal itu yang harus anda pahami, dan jika anda mau mengetahui bagaimana kedudukan Harun disisi Musa, maka anda harus melihat banyak ayat lain. misalnya pada surah Thaha ayat 29-32 Nabi Musa AS berdoa kepda Allah SWT <strong>Jadikan untukku wazir (pembantu) dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku, teguhkan dengan dia kekuatanku, dan jadikan dia sekutu dalam urusanku.</strong>. Sehingga dengan ayat ini dan ayat yang anda kutip maka kedudukan Harun di sisi Musa adalah seorang Wazir, saudara dan menjadi sekutu dalam urusannya termasuk ketika Nabi Musa akan pergi maka Nabi Harun AS yang akan memegang kepemimpinan.</p>
<blockquote><p>Sudah berulangkali saya jelaskan..</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">dari awal juga saya tahu penjelasan anda, saya menunjukkan bahwa asbabul wurud hadis Manzilah tidak mengkhususkan lafal hadisnya sehingga dalam hal ini kaidah kekhususan sebab tidak menafikan keumuman lafal jelas sangat berlaku <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silahkan jika anda berpendapat demikian, tetapi maaf saya tidak sependapat, saya tetap berpendapat bahwa kalimat Rasulullah kepada Imam Ali “kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harum di sisi Musa” sangat terkait dengan tugas yang diberikan Rasul..</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan tidak ada paksaan disini, saya cuma menunjukkan penjelasan saya yang bersandar pada teks hadisnya dan penjelasan anda yang menambahkan asumsi anda sendiri. tidak ada masalah jika mau berpegang teguh pada keyakinan masing-masing.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sebagaimana Musa memberi tugas kepada Harun dan begitu Musa kembali dari bukit Thursina, maka tugas Harun memimpin nabi Israel pun berakhir, demikian juga begitu Rasul kembali ke Madinah, maka penyerupaan itu pun berakhir.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bahkan ketika Musa kembali dari bukit Thursina kedudukan Harun di sisi Musa tetaplah ada yaitu ia sebagai wazir, saudara, sekutu urusan Nabi Musa dan jika Musa pergi kembali maka Harun akan menggantikannya lagi. Maka begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi Muhammad SAW.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tetapi bukan berarti bahwa saya tidak mengakui penyerupaan tsb merupakan keutamaan Imam Ali bahkan saya mengakui perumpamaan tsb merupakan keistimewaan yg dimiliki Imam Ali yg menunjukkan begitu dekatnya hubungan beliau dengan Rasulullah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hubungan Beliau Imam Ali dengan Rasulullah SAW memang begitu dekat sehingga Rasulullah SAW berkata “tidak sepatutnya aku pergi kecuali engkau sebagai KhalifahKu bagi setiap mukmin setelahKu.</p>
<blockquote><p>Tetapi kayaknya kaidah tsb tidak cocok diterapkan untuk kasus ini.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya anda tidak memiliki alasan atau bukti dari klaim anda ini, sehingga saya dengan mudah bisa saja berkata sebaliknya, kayaknya anda keliru</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Rasulullah keluar menuju perang Tabuk, dan beliau mewakilkan Ali (untuk tinggal di kota Madinah), maka Ali pun berkata, “Apakah<br />
engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak?” Rasulullah bersabda,<br />
“Apakah engkau tidak rela apabila kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, namun tidak ada nabi setelahku.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya rasa inilah asbabul wurud yang menjadi hujjah anda, sekarang perhatikanlah baik-baik Rasulullah SAW telah menunjuk Imam Ali sebagai pengganti di Madinah, maka Imam Ali berkata kepada Rasulullah <em>Apakah engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak?</em> di sini Rasulullah SAW menjawab yang menurut anda untuk menenangkan Imam Ali yaitu dengan mengatakan bahwa Kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW begitu besar yaitu <strong>kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, namun tidak ada nabi setelahku</strong>. Disini Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kepemimpinan di Madinah adalah bagian dari Kedudukan Imam Ali yang begitu tinggi yaitu seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Seandainya kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud hanya terbatas pada pemimpin di Madinah maka apa bedanya sebelum hadis Manzilah diucapkan dan setelah hadis Manzilah diucapkan.<br />
Sebelum hadis Manzilah diucapkan, <strong>Imam Ali sudah ditunjuk sebagai pemimpin di Madinah.</strong><br />
Setelah hadis Manzilah diucapkan, <strong>anda mengatakan bahwa kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud adalah sebagai pemimpin di Madinah.</strong><br />
Jadi tidak ada bedanya, dan saya jadi bingung apa makna keutamaan Imam Ali yang anda maksud. Apalagi anda mengatakan banyak sahabat lain yang memimpin Madinah, jadi tambah bingung saya makna keutamaan yang anda maksud<br />
Lain halnya dengan memperhatikan bahwa sebenarnya kedudukan Harun di sisi Musa yang dimaksud bersifat umum artinya mencakup semuanya seperti <em>wazir, saudara dan sekutu dalam urusan termasuk kepemimpinan setiap Rasul SAW akan pergi</em>, sehingga dalam hal ini keumuman tersebut dibatasi oleh Rasul SAW tidak mencakup Kenabian.<br />
Kemudian silakan anda perhatikan hadis manzilah yang saya kutip di atas,bukankah menurut anda hadis tersebut diucapkan saat perang Tabuk maka hadis tersebut justru membuktikan keumuman yang saya bicarakan. Ketika Imam Ali berkata <em>Apakah engkau tinggalkan aku dengan para wanita dan anak-anak?</em> maka Rasulullah SAW menjawab <strong>sesungguhnya KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.</strong><br />
Rasulullah SAW mengatakan bahwa sama seperti kedudukan Harun disisi Musa bahwa dia akan menggantikan Musa sebagai khalifah bagi setiap umat Musa maka begitu pula Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Ali adalah khalifah bagi setiap mukmin Umat Nabi SAW.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Yang dicetak tebal itu adalah jawabannya. sedangkan sahabat yang lain tidak menanyakan seperti itu ketika mereka ditunjuk oleh Rasulullah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dari mana anda mengetahui tidak ada?. apakah jika ada sahabat lain yang bertanya seperti itu maka Rasulullah SAW juga akan menyebutkan hadis Manzilah?. Kalau anda bilang tidak, lalu apa gunanya anda menampilkan pernyataan itu.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tetapi karena pengaduan itulah Rasulullah menunjukkan kasih sayang beliau dan itu adalah merupakan keutamaan Imam Ali.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah SAW menunjukkan kasih sayangnya dengan menjelaskan keutamaan Imam Ali yang begitu tinggi seperti kedudukan Harun disi Musa diantaranya Imam Ali adalah khalifah bagi setiap mukmin setelah Nabi SAW.</p>
<blockquote><p>Masing-masing sahabat punya keutamaan sendiri-sendiri..</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">lho Saya menanyakan <em>apakah sahabat yang lain juga menyandang keutamaan hadis Manzilah merujuk pada penafsiran anda bahwa hadis manzilah terkait dengan penggantian pemimpin di Madinah</em> bukankah anda menyebutkan <em>ada banyak sahabat yang memimpin di Madinah</em>, jika keutamaan kedudukan Harun di sisi Musa adalah sebagai pemimpin di Madinah saat perang Tabuk saja maka dengan alasan apa anda membedakan sahabat2 lain yang memimpin Madinah seperti kata anda.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya hanya berdasarkan asbabul wurud dan saya telah jelaskan, dan menurut saya itulah yg benar, kalo tidak sependapat ya ga pa2.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silakan kita sudah sama-sama menjelaskan <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>Al Qurtubi di dalam tafsirnya membantah keyakinan syi’ah dalam memahami hadits manzilah :</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat apakah Al Qurtubi menuruti keinginannya semata untuk membantah syiah atau malah membantah hadis Manzilah itu sendiri</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maka tidak ada ikhtilaf bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak memaksudkan kedudukan Harun bagi Musa itu sebagai khalifah setelahnya</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan teks hadis di atas Rasulullah SAW bersabda <strong>Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.</strong>. Perkataan Al Qurtubi bertentangan dengan perkataan Rasulullah SAW. Perkataan Rasulullah SAW lebih layak dijadikan pegangan</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada perselisihan bahwa Harun meninggal sebelum Musa ‘Alaihi Sallam dan tidak menjadi khalifah setelah Musa. Justru yang menjadi khalifah setelah Musa adalah Yusya’ Bin Nun. Kalau yang dimaksud dengan ucapan :” Engkau bagiku seperti kedudukan Harun bagi Musa.” Adalah khilafah, maka pasti beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam akan mengatakan :” Engkau bagiku seperti Yusya’ bagi Musa.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, seberapa valid informasi ini?. Kemudian poin yang dimaksud hadis Manzilah tersebut adalah kedudukan Harun di sisi Musa sama seperti kedudukan Ali di sisi Nabi Muhammad SAW. Kedudukan tersebut mencakup semuanya kecuali Kenabian seperti kedudukan sebagai wazir, sebagai saudara sebagai sekutu dalam urusan dan sebagai orang yang akan menjadi pemimpin jika yang lain pergi. Oleh karena itu saya katakan kepada anda, dengan melihat kedudukan Harun yang begitu tinggi maka ketika Nabi Musa AS pergi tidak ada satupun dari umat Musa yang layak menggantikan kecuali Harun dan begitu pula dengan Imam Ali, tidak ada satupun dari Umat Muhammad yang lebih layak sebagai pengganti Nabi SAW kecuali Imam Ali.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanyalah memaksudkan bahwa aku menjadikanmu sebagai penggantiku terhadap keluargaku dalam kehidupanku</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi hadis di atas dengan jelas membantah Al Qurtubi. Rasulullah SAW mengatakan bahwa Imam Ali sebagai Khalifah tidak hanya bagi keluarga Beliau tetapi bagi stiap kaum mukmin dan Rasulullah SAW mengatakan bahwa hal itu terjadi sepeninggal Beliau SAW, hal ini terlihat jelas dari kata-kata <em>SetelahKu</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda mulai berasumsi dech.. jelas Rasulullah hidup jauh setelah Nabi Musa dan Harun, dan semuanya telah terjadi, jadi ga bisa diterima pengandaian anda yg seperti itu..</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Siapa yang berandai saya menunjukkan kepada anda bahwa keutamaan hadis Manzilah terletak pada Kedudukan Harun di sisi Nabi Musa dimana jika Nabi Musa AS pergi dan Nabi Harun masih ada maka tidak ada satupun Umat Musa AS yang berhak memegang kepemimpinan karena selagi Nabi Harun masih ada maka beliaulah yang layak memegang kepemimpinan. Dan begitu pula kedudukan Imam Ali di sisi Nabi SAW, selagi Imam Ali AS masih ada maka tidak ada satupun dari Umat Muhammad SAW yang berhak memegang kepemimpinan kecuali Imam Ali.</p>
<blockquote><p>Saya setuju, dan setelah Rasulullah kembali ke Madinah, kepemimpinan Imam Ali pun berakhir.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidak masalah, yang tetap ada dan menjadi keutamaan melekat bagi Imam Ali adalah Kedudukannya di sisi Nabi SAW sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Justru yg saya tidak ngerti dan terpengaruh apa, kok ada orang yg suka melebih-lebihkan sesuatu yang disampaikan Rasulullah melebihi dari yg seharusnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Contoh sederhana adalah hadis di atas, mau anda kemanakan kata-kata Rasulullah SAW <strong>Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu.</strong> Rasulullah berkata dengan lafal umum untuk setiap mukmin, eh anda mengkhususkan untuk di Madinah saja <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" alt=":mrgreen:" /><br />
Nah bukankah ini namanya membatasi apa-apa yang sudah ditetapkan Rasulullah SAW</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Oh kalo yg itu biar Imam Ali sendiri yg menjawab :Hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri yang diriwayatkan secara mustafidlah dari Muhammad Ibnil Hanafiyah:</p>
<p style="text-align:right;">قُلْتُ ِلأَبِي: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهَ ?؟ قَالَ: أَبُو بَكْرٍ. قَلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: عُمَرُ. وَخَشِيْتُ أَنْ يَقُوْلَ عُثْمَانُ. قُلْتُ: ثُمَّ أَنْْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلاَّ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. رواه البخاري: كتاب فضائل الصحابة باب 4 وفتح البارى 7/20</p>
<p style="text-align:justify;">Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu): Siapakah manusia yang terbaik setelah Rasulullah ? ? Ia menjawab: “Abu Bakar”. Aku bertanya (lagi): “Kemudian siapa?”. Ia menjawab: “Umar”. Dan aku khwatir ia akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau menjawab: “Tidaklah aku kecuali seorang dari kalangan muslimin”. (HR. Bukhari, kitab Fadlailus Shahabah, bab 4 dan Fathul Bari juz 4/20)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anehnya hadis yang anda kutip justru menyerang klaim anda sendiri. Bukankah anda mengatakan bahwa</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Silahkan dicatat, karena bagi saya Imam Ali adalah termasuk dalam <strong>4 besar manusia yang paling utama setelah Nabi Muhammad Shalalallahu alaihi wassalam</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Padahal hadis yang anda jadikan hujjah menyatakan <em>manusia yang terbaik setelah Rasul SAW ada tiga yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman sedangkan Imam Ali hanyalah seorang dari kaum muslimin.</em> Nah saya jadi bingung, kok keyakinan anda bertentangan dengan hadis yang menjadi hujjah anda <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1308975618g" alt=":roll:" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tak perlu bingung, Abu Ubaidah adalah kepercayaan Umat, sedangkan Abu Bakar adalah orang kepercayaan (istilah sekarang “tangan kanan”) Rasulullah. Lagian poin yg saya maksud dlm hadits tsb adlh Rasulullah mengambil Abu Bakar sebagai kekasihnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ooooh jadi beda ya, Abu Ubaidah kepercayaan umat dan Abu Bakar kepercayaan Rasul SAW. Jika memang begitu bukankah ketika Rasul SAW wafat dan kepemimpinan diserahkan kepada umat maka logika sederhana orang kepercayaan Umat lebih layak jadi khalifah, La kan yang milih Umat, jadi bingung lagi <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>antirafidhah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-7932">Juli 7, 2009 at 10:37 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Ya sudah.. yang jelas Imem dan SP berbeda dalam memahami hadits. dan saya salut sama bung Imem yg tetep tegas dan jelas prinsipnya dalam berdiskusi walopun banyak yang ngroyok dia <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1308975618g" alt=":lol:" /></p>
<p style="text-align:justify;">Bravo bung Imem! <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1308975618g" alt=":lol:" /></p>
<p style="text-align:justify;">tetapi yg membuat saya tersenyum dengan bantahan SP yg ini :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anehnya hadis yang anda kutip justru menyerang klaim anda sendiri. Bukankah anda mengatakan bahwa</p>
<p style="text-align:justify;">Silahkan dicatat, karena bagi saya Imam Ali adalah termasuk dalam 4 besar manusia yang paling utama setelah Nabi Muhammad Shalalallahu alaihi wassalam</p>
<p style="text-align:justify;">Padahal hadis yang anda jadikan hujjah menyatakan manusia yang terbaik setelah Rasul SAW ada tiga yaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman sedangkan Imam Ali hanyalah seorang dari kaum muslimin. Nah saya jadi bingung, kok keyakinan anda bertentangan dengan hadis yang menjadi hujjah anda <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1308975618g" alt=":roll:" /></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">dan juga yang ini :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ooooh jadi beda ya, Abu Ubaidah kepercayaan umat dan Abu Bakar kepercayaan Rasul SAW. Jika memang begitu bukankah ketika Rasul SAW wafat dan kepemimpinan diserahkan kepada umat maka logika sederhana orang kepercayaan Umat lebih layak jadi khalifah, La kan yang milih Umat, jadi bingung lagi <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" alt=":mrgreen:" /></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya yakin bung Imem akan tersenyum juga membacanya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1308975618g" alt=":lol:" /> saya heran, secara SP hal yang tidak terlalu menggigit kayak gini kok dipermasalahkan, ada indikasi SP mau memperlebar topik nich <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1308975618g" alt=":roll:" /></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-7935">Juli 7, 2009 at 10:57 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@antirafidhah</p>
<blockquote><p>Saya yakin bung Imem akan tersenyum juga membacanya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1308975618g" alt=":lol:" /></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya juga yakin, tentu setelah anda mengatakan kalau anda tersenyum <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1308975618g" alt=":P" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">saya heran, secara SP hal yang tidak terlalu menggigit kayak gini kok dipermasalahkan, ada indikasi SP mau memperlebar topik nich</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">saya malah tersenyum dengan komentar anda. Bisa dibilang saya selalu menyesuaikan dengan lawan bicara saya. Dan saya rasa kalau anda melihat dengan lebih jeli, antara saya dengan orang yang anda sebut imem siapakah yang pertama-tama membawa hadis lain di luar tema tulisan ini alias tidak berkaitan? Orang tersebut terbukti sudah memperlebar topik. Nah silakan dilihat, biar anda bisa kembali tersenyum atau terdiam <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>antirafidhah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-7959">Juli 8, 2009 at 5:50 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau yang saya tangkap dari pendapat saudara Imem, <strong>fungsi</strong> dari penserupaan kedudukan Ali di sisi Rasul seperti kedudukan Harun di sisi Musa yang berupa pelimpahan wewenang di Madinah, telah berakhir semenjak kembalinya Rasul dari perang Tabuk dan ini sangat jelas sekali, tetapi <strong>keutamaan</strong> dari penserupaan tersebut akan tetap langgeng sebagai sebuah keutamaan khusus Imam Ali di sisi Rasul yang tidak terdapat pada sahabat lain, dan ini diakui oleh saudara imem, tetapi bukanlah berarti keutamaan tersebut menutupi keutamaan sahabat-sahabat yang lain, karena setiap sahabat (termasuk Imam Ali) mempunyai keutamaan sendiri-sendiri berdasarkan hadits-hadits Rasullah Sahalallahu Alaihi Wassalam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan juga yang saudara Imem tolak adalah anggapan bahwa keutamaan tersebut membawa implikasi penunjukkan Imam Ali sebagai khalifah setelah Rasul wafat. padahal sebenarnya penunjukkan tersebut terbatas hanya pada saat Rasulullah keluar dari Madinah untuk memimpin perang Tabuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Sehingga saya tidak melihat adanya ketidak-konsistenan dari argumentasi saudara Imem di atas, justru yang saya anggap tidak konsisten adalah orang yang mengakui keutamaan Imam Ali berdasarkan hadits Rasulullah, tetapi di sisi lain dia tidak mengakui keutamaan Sahabat Nabi yang lain, padahal sumbernya sama-sama dari hadits Rasulullah juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Salam</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">**************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-7962">Juli 8, 2009 at 6:21 pm</a> said:</p>
<p style="text-align:justify;">@antirafidhah</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalau yang saya tangkap dari pendapat saudara Imem, fungsi dari penserupaan kedudukan Ali di sisi Rasul seperti kedudukan Harun di sisi Musa yang berupa pelimpahan wewenang di Madinah, telah berakhir semenjak kembalinya Rasul dari perang Tabuk dan ini sangat jelas sekali,</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat apa yang anda sebut jelas, anda mengatakan penyerupaan itu berupa <strong>pelimpahan wewenang di Madinah</strong>. Kemudian anda berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">tetapi keutamaan dari penserupaan tersebut akan tetap langgeng sebagai sebuah keutamaan khusus Imam Ali di sisi Rasul yang tidak terdapat pada sahabat lain, dan ini diakui oleh saudara imem,</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalau anda mengakui bahwa penyerupaan itu berarti <strong>pelimpahan wewenang di Madinah</strong> maka sahabat-sahabat lain juga ada yang mendapat <strong>pelimpahan wewenang di Madinah</strong>. Lalu apa bedanya dan dimana letak keutamaan yang anda maksudkan. Kalau anda bilang sahabat-sahabat lain tidak mendapat penyerupaan, hakikatnya sama saja karena anda mengatakan bahwa penyerupaan itu berarti <strong>pelimpahan wewenang di Madinah</strong> dan para sahabat yang dimaksud imem itu telah mendapatkan pelimpahan ini. Lantas dimana keutamaan yang anda maksud?</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dan juga yang saudara Imem tolak adalah anggapan bahwa keutamaan tersebut membawa implikasi penunjukkan Imam Ali sebagai khalifah setelah Rasul wafat. padahal sebenarnya penunjukkan tersebut terbatas hanya pada saat Rasulullah keluar dari Madinah untuk memimpin perang Tabuk.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadis Rasulullah SAW yang saya tulis di atas adalah sebaik-baik bukti bahwa pembatasan anda keliru. Rasulullah SAW mengatakan Imam Ali Khalifah bagi setiap mukmin Setelah Beliau SAW. Silakan kalau mau menolak</p>
<blockquote><p>Sehingga saya tidak melihat adanya ketidak-konsistenan dari argumentasi saudara Imem di atas,</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ada kok Mas, coba jawab keutamaan Hadis Manzilah itu apa bagi Imam Ali?.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">justru yang saya anggap tidak konsisten adalah orang yang mengakui keutamaan Imam Ali berdasarkan hadits Rasulullah, tetapi di sisi lain dia tidak mengakui keutamaan Sahabat Nabi yang lain, padahal sumbernya sama-sama dari hadits Rasulullah juga.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ini ngomongin siapa ya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1308975618g" alt=":roll:" /> .Saya pribadi mengakui bahwa sahabat Nabi memiliki keutamaan tetapi saya tidak pernah menganggap keutamaan mereka adalah hujjah yang membuat mereka selalu benar atau membuat mereka tidak layak untuk dikritik jika melakukan kesalahan.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>antirafidhah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-8170">Juli 13, 2009 at 1:07 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@blockquote&gt;<br />
وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي</p>
<p style="text-align:justify;">Engkau sebagai KhalifahKu untuk<br />
setiap mukmin setelahKu</p>
<p style="text-align:justify;">Yaitu ketika Ali menjadi Khalifah/pengganti Rasulullah untuk setiap mukmin di Madinah pada saat Rasulullah pergi untuk perang Tabuk.. dan ketika Rasulullah kembali, kekhalifahan Imam Ali pun berakhir.. jelas sekali itu? <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1308975618g" alt=":lol:" /></p>
<p style="text-align:justify;">atau kalau mau ditafsirkan setelah Rasulullah wafat, ya bisa aja, bukankah Imam Ali memang telah menjadi Khalifah setelah Rasulullah wafat, yaitu khalifah ke 4 setelah Abu Bakar, Umar dan Utsman… <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1308975618g" alt=":P" /></p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi kalau kalian memahami bahwa khalifah yg dimaksud di atas adalah khalifah pertama setelah Rasulullah wafat haruslah Imam Ali, berarti kalian telah merendahkan Rasulullah, karena dalam hadits di atas disebutkan bahwa “Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu”. sedangkan kita tahu bahwa Rasulullah adalah seorang yang maksum, maka sabdanya adalah suatu keniscayaan, dan ternyata pada kenyataannya yang menjadi khalifah setelah Rasulullah adalah Abu Bakar, bukan Imam Ali.. maka mau ga mau pemahaman tsb adalah keliru dan pendapat di atas-lah yang benar sebagaimana juga yang telah disebutkan oleh bung Imem, bahwa yg dimaksud khalifah dlm hadits di atas adalah khalifah/pengganti Rasulullah untuk sementara di Madinah di saat Rasulullah pergi untuk perang Tabuk.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>imem</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-8171">Juli 13, 2009 at 4:48 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Iya anda benar, dan Rasulullah pun telah mengabarkan kepada kita melalui hadits yang shahih, bahwa Allah dan kaum Mukminin tidak meridhai kecuali Abu Bakar… dan hadits tersebut telah terbukti kebenarannya bahwa ternyata Abu Bakar-lah kemudian yang dikehendaki oleh Allah menjadi Khalifah Rasulullah dan dibai’at oleh seluruh kaum mukminin saat itu termasuk oleh Imam Ali sendiri…</p>
<p style="text-align:justify;">Saran saya kepada anda-anda sekalian… terimalah kenyataan yang ada dengan ikhlas, Ikutilah Imam Ali, beliau saja telah membai’at 3 khalifah sebelumnya.. beliau membai’at Abu Bakar, kemudian beliau membai’at Umar dan sebelum Umar wafat, beliau pun bersedia dipilih sebagai anggota formatur pemilihan khalifah pengganti Umar, dan ketika terpilih Utsman beliau pun membai’at Utsman… selama 3 periode kehalifahan ato 24 thn lebih beliau tetap konsisten dengan sikapnya tersebut… ya itu kalo kalian memang benar-benar pengikut beliau, tetapi kalo hanya di bibir aja saya maklum kalo kalian ga mau meneladani beliau bahkan menselisihi beliau… tapi ga ada paksaan kok…</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>imem</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-8173">Juli 13, 2009 at 6:32 am</a>said:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">banyak umat yang mengaku mengikut Rasul tetapi mereka membuat penentangan atas perkataan Rasul, Rasul berkata begini mereka berkata bukan begitu, Rasul berkata semua mereka berkata sebagian, tidak heran kalau pendahulu mereka juga dulu ingkar apalagi mereka, kebenaran telah jelas dan kebatilan akan lenyap, salut dan terimakasih buat empunya blog</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Apakah anda masukkan juga Imam Ali termasuk yang menentang Rasul? karena beliau telah berbai’at kepada ke 3 khalifah sebelum beliau? dan beliau pun turut berperan dalam pemerintahan ke 3 khalifah tsb?<br />
apakah menurut anda Rasul telah gagal mendidik umatnya? padahal jelas-jelas Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Allah akan memenangkan agama ini di atas agama-agama yang lain, dan ternyata orang-orang yang anda anggap menentang Rasul itulah yang Allah kehendaki untuk memenuhi janji-Nya tersebut… buka mata, buka hati, lihatlah kenyataan yang terjadi, buanglah virus rafidhah yg ada pada diri anda, supaya mati anda tenang dg tidak membawa warisan dendam dari musuh2 Islam yang telah dikalahkan pada masa lalu…</p>
<p style="text-align:justify;">anda hanya memahami hadits tsb secara tekstual dg mengabaikan asbabul wurudnya.. ya silahkan saja.. tidak ada paksaan kok…</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comment-8174">Juli 13, 2009 at 6:38 am</a> said:</p>
<p style="text-align:justify;">@antirafidhah</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Yaitu ketika Ali menjadi Khalifah/pengganti Rasulullah untuk setiap mukmin di Madinah pada saat Rasulullah pergi untuk perang Tabuk.. dan ketika Rasulullah kembali, kekhalifahan Imam Ali pun berakhir.. jelas sekali itu?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sesuatu yang sudah jelas malah anda buat kabur, hadis di atas tidak ada kata-kata “di Madinah” dan “pergi untuk perang Tabuk”. Itu yang sangat jelas, dan tidak terlihat oleh anda <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>sedangkan kita tahu bahwa Rasulullah adalah seorang yang maksum, maka sabdanya adalah suatu keniscayaan,</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Setuju tapi penerapan anda keliru, saya misalkan saja Banyak Nabi yang ditetapkan oleh Allah SWT sebagai Nabi tetapi ternyata kaum Nabi tersebut mengingkarinya dan menolak kenabian. Padahal yang menetapkan Kenabian itu adalah Allah SWT. Nabi tersebut tetaplah Nabi dan yang ingkar atau menolak kenabian tetap ada. Padahal penetapan Allah SWT merupakan suatu keniscayaan. silakan direnungkan analogi yang saya tampilkan.</p>
<p style="text-align:justify;">@imem</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Iya anda benar, dan Rasulullah pun telah mengabarkan kepada kita melalui hadits yang shahih, bahwa Allah dan kaum Mukminin tidak meridhai kecuali Abu Bakar…</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Yah begitulah anda, dalil yang jelas anda paksakan kabur yang kabur anda paksakan jelas. Contohnya hadis yang anda bawa, sedikitpun tidak bicara soal kekhalifahan dan ngomong-ngomong bagaimana kalau orang lain berkata hadis itu terbatas waktu itu saja dan tidak berlaku selepas Rasulullah SAW wafat. Nah lho</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>SaifulIslam</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20131">Oktober 13, 2011 at 1:40 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Sp berkenaan dengan Yahya bin Sulaim Abi Balj perlu dinilai semula</p>
<p style="text-align:justify;">1. Pernyataan al-Bukhari tidak semestinya disebut dalam kitabnya bahkan disebutkan juga dengan bersanad oleh imam huffaz yang lain seperti Ibnu Adiy dalam al-Kamil fi Du’afa al-Rijal</p>
<p style="text-align:right;">الكامل في ضعفاء الرجال ج7/ص229<br />
2128 يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري ثنا علان ثنا بن أبى مريم سمعت يحيى بن معين يقول أبو بلج يحيى بن أبى سليم سمعت بن حماد يقول قال البخاري يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري سمع محمد بن حاطب وعمرو بن ميمون فيه نظر .</p>
<p style="text-align:justify;">2. Kita tidak mesti membutuhkan al-Bukhari untuk memasukkan setiap perawi dalam buku-bukunya untuk kita menerima apa yang dikatakan tentang perawi tersebut. Hal ini sama kasusnya dengan tautheeq Nasa’ie terhadap Abi Balj.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Terdapat bukti al-Bukhari tidak menerima hadith Abi Balj. Perhatikan hadith berikut dalam Tarikh al-Kabir</p>
<p style="text-align:right;">قال نعيم بن حماد حدثنا هشيم عن ابى بلج وحصين: عن عمرو بن ميمون: رأيت في الجاهلية قردة اجتمع عليها قرود فرجموها فرجمتها معهم</p>
<p style="text-align:justify;">Terjemahan: Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dari Hushaim dari Abi Balj dan Hussain dari Amr bin Maymun. Aku melihat di waktu jahiliyyah monyet , monyet lain berkumpul padanya merejamnya dan aku merejam bersama mereka</p>
<p style="text-align:justify;">Namun dalam Shahih al-Bukhari, tiada nama Abi Balj dalam sanad yang dibawakan</p>
<p style="text-align:right;">حدثنا نعيم بن حماد حدثنا هشيم عن حصين عن عمرو بن ميمون قال<br />
رأيت في الجاهلية قردة اجتمع عليها قردة قد زنت فرجموها فرجمتها معهم</p>
<p style="text-align:justify;">Terjemahan: Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dari Hushaim dari Hussain dari Amr bin Maymun, Aku melihat di waktu jahiliyyah monyet , monyet lain berkumpul padanya, dia berzina dan mereka merejamnya dan aku merejam bersama mereka</p>
<p style="text-align:justify;">Ini bukti jelas dia bukan hujah disisi al-Bukhari</p>
<p style="text-align:justify;">4. Terdapat pernyataan jelas akan penolakan Yahya bin Sulaim Abi Balj</p>
<p style="text-align:justify;">a) Abdul Ghani bin Sa’eed al Masri al Hafiz menyatakan dia melakukan kesilapan dalam penyebutkan nama Amru bin Maymun dan dia tidak sama dengan yang masyhur disebut iaitu Amru bin Maymun tapi dia adalah Maymun Abu Abdullah Maula AbdurRahman bin Samrah dan dia adalah lemah</p>
<p style="text-align:right;">وذكر عبد الغني بن سعيد المصري الحافظ أن أبا بلج أخطأ في اسم عمرو بن ميمون هذا ، وليس هو بعمرو بن ميمون المشهور، إنما هو ميمون أبو عبد الله مولى عبد الرحمن بن سمرة، وهو ضعيف.</p>
<p style="text-align:justify;">b) Ibn Abdul Barr dan Ibnul Jauzi meriwayatkan Ibn Ma’in melemahkan beliau dan Ahmad menyatakan dia meriwayatkan hadith mungkar</p>
<p style="text-align:right;">ونقل ابن عبد البر وابن الجوزي: أن ابن معين ضعفه، وقال أحمد: روى حديثا منكرا.</p>
<p style="text-align:justify;">c) Al Hafiz Ibn hajar menyatakan dalam at-Taqrib dia Saduq tapi melakukan kesalahan</p>
<p style="text-align:right;">وقال الحافظ ابن حجر في (التقريب): صدوق ربما أخطأ.</p>
<p style="text-align:justify;">d) Al Sa’adee menyatakan : Abu Balaj al Wasiti tidak tsiqah</p>
<p style="text-align:right;">وقال السعدي: أبو بلج الواسطي غير ثقة.</p>
<p style="text-align:justify;">e) Az-Zahabi menyatakan dia layyin dalam al-Muqtana</p>
<p style="text-align:right;">وقال الذهبي في (المقتنى): لين.</p>
<p style="text-align:justify;">f) Az-Zahabi sendiri menyatakan hadith ini mungkar dalam Mizan al-‘itidal dibawah biografi Abu Balj. Kitab ini adalah antara kitab terakhir beliau. Komen beliau dalam al-Mustadrak ditulis semasa beliau masih muda dan dia sendiri menyatakan ia perlukan usaha yang lebih. Sila rujuk Siyar A’alam Al-Nubala pada biografi Al-Hakim.</p>
<p style="text-align:justify;">g) Al jawzjani menyebutkan dalam “Ahwal al Rijal” bahawa dia tidak tsiqah</p>
<p style="text-align:right;">وقال الجوزجاني في (أحوال الرجال): كان يروج الفواخت؛ ليس بثقة.</p>
<p style="text-align:justify;">h) Ibn HIbban menyebutkan dalam al-Majruhin bahawa dia termasuk dikalangan mereka yang melakukan kesalahan dalam hadith dan riwayat yang hanya datang darinya perlu ditolak dan bukan hujah</p>
<p style="text-align:right;">قال ابن حبان في (المجروحين): كان ممن يخطئ ، لم يفحش خطؤه حتى استحق الترك ، ولا أتى منه ما لا ينفك البشر عنه فيسلك به مسلك العدول، فأرى أن لا يحتج بما انفرد من الرواية، وهو ممن أستخير الله فيه</p>
<p style="text-align:justify;">i) Dia diketahui meriwayatkan banyak hadith mungkar. Az-Zahabi menyebutkan dalam al-Mizan</p>
<p style="text-align:right;">الذهبي في (الميزان): ومن مناكيره عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بسد الأبواب إلا باب علي رضي الله عنه، رواه أبو عوانة عنه، ويروى عن شعبة عنه.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulan</p>
<p style="text-align:justify;">Sesetengah ulama menstiqahkannya dan sesetengah yang lain menjarahkannya. Ada ulama yang mengambil pendekatan sederhana seperti Ibnu Hibban</p>
<p style="text-align:justify;">Secara umumnya, dia termasuk dikalangan orang yang lemah dan secara specifiknya hadith ini ditolak</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">**************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>SaifulIslam</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20133">Oktober 13, 2011 at 2:15 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan tambahan</p>
<p style="text-align:justify;">Sp berkata,’ Syaikh Al Albani dalam kitabnya Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah hal 520 hadis no 1188 memberikan penilaian bahwa hadis ini sanadnya hasan, dimana Beliau menyatakan bahwa semua perawinya tsiqat. Hadis ini telah diriwayatkan oleh para perawi Bukhari Muslim kecuali Abi Balj yang dinilai shaduq sehingga Syaikh Al Albani menyatakan hadis tersebut hasan.’</p>
<p style="text-align:justify;">Sp ingin memberikan impression bahawa semua lafaz hadith tersebut diperakui oleh Syeikh Albani sebagai hasan</p>
<p style="text-align:justify;">Hakikatnya lafaz hadith tu memang diperakui sebagai hasan tapi syeikh Al Albani sendiri menolak tambahan ‘Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin setelahKu’</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau menjelaskan dalam Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, vol. 4, ms. 343, no1750,</p>
<p style="text-align:right;">أما ما يذكره الشيعة في هذا الحديث و غيره أن النبي صلى الله عليه وسلم قال في علي رضي الله عنه : ” إنه خليفتي من بعدي ” . فلا يصح بوجه من الوجوه , بل هو من أباطيلهم الكثيرة التي دل الواقع التاريخي على كذبها لأنه لو فرض أن النبي صلى الله عليه وسلم قاله , لوقع كما قال لأنه ( وحي يوحى ) و الله سبحانه لا يخلف وعده</p>
<p style="text-align:justify;">Terjemahan: Adapun apa yang disebutkan oleh syiah berkenaan hadith (i.e. Hadith al-Ghadir) dan selainnya bahawa nabi SAW berkata kepada Ali ra ‘ Engkau adalah khalifahku untuk setiap mukmin selepasku’, tidaklah sahih dalam apa saja wajah bahkan ia adalah kebatilan banyak yang ditolak sejarah keatas kedustaannya …</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*****************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20136">Oktober 13, 2011 at 11:35 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@SaifulIslam</p>
<blockquote><p>Pernyataan Sp berkenaan dengan Yahya bin Sulaim Abi Balj perlu dinilai semula</p>
<p style="text-align:justify;">1. Pernyataan al-Bukhari tidak semestinya disebut dalam kitabnya bahkan disebutkan juga dengan bersanad oleh imam huffaz yang lain seperti Ibnu Adiy dalam al-Kamil fi Du’afa al-Rijal</p>
<p style="text-align:right;">الكامل في ضعفاء الرجال ج7/ص229<br />
2128 يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري ثنا علان ثنا بن أبى مريم سمعت يحيى بن معين يقول أبو بلج يحيى بن أبى سليم سمعت بن حماد يقول قال البخاري يحيى بن أبى سليم أبو بلج الفزاري سمع محمد بن حاطب وعمرو بن ميمون فيه نظر .</p>
<p style="text-align:justify;">2. Kita tidak mesti membutuhkan al-Bukhari untuk memasukkan setiap perawi dalam buku-bukunya untuk kita menerima apa yang dikatakan tentang perawi tersebut. Hal ini sama kasusnya dengan tautheeq Nasa’ie terhadap Abi Balj.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Terlihat bahwa anda [atau siapapun yang berkata seperti ini] tidak berpengalaman membahas kitab kitab Rijal. Ini bukan perkara butuh dan tidak butuh tetapi soal “asal penukilan”. Ilmu Rijal itu ilmu nukil menukil dan faktanya tidak setiap ulama yang menukil selalu benar dalam penukilannya. Ada banyak ulama yang salah dalam menukil [contohnya banyak]. Maka yang kami permasalahkan disini adalah apakah penukilan itu tsabit?. Ibnu Hammad mengatakan bahwa Bukhari berkata soal Yahya bin Abi Sulaim “fihi nazhar” tetapi Bukhari sendiri dalam kitab Rijal-nya ia menulis Yahya bin Abi Sulaim tanpa menyebutkan jarh tersebut. Ini yang kami maksud bahwa penukilan pendapat Bukhari itu tidaklah tsabit.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Hal ini berbeda dengan tautsiq Nasa’I yang anda permasalahkan. Apakah Nasa’I memiliki kitab rijal yang dapat kita jadikan tempat untuk melihat “asal penukilan”?. Apakah Nasa’I memiliki kitab yang memuat para perawi tsiqat menurutnya?. Kalau memang ada maka kita dapat mengoreksinya kalau tidak ada ya kita menerimanya. Ilmu hadis itu bukan ilmu pasti, pendekatannya ya disesuaikan dengan “bahan” yang ada dan kaidah atau metode yang disesuaikan.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Selain itu anda juga harus sering mengupdate “ilmu hadis”. Pernyataan “fihi nazhar” ala Bukhari memang masyhur sebagai jarh syadid [dulu kami pun beranggapan begitu] tetapi sekarang sudah diperselisihkan keadaannya karena dalam kitab Bukhari sendiri terdapat perawi Bukhari yang dikatakan “fihi nazhar” bahkan dapat dilihat bahwa Bukhari pernah menyatakan “fihi nazhar” kepada sahabat Nabi Sha’sha’ah bin Najiyah [Tarikh Al Kabir juz 4 no 2978].</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">3. Terdapat bukti al-Bukhari tidak menerima hadith Abi Balj. Perhatikan hadith berikut dalam Tarikh al-Kabir</p>
<p style="text-align:right;">قال نعيم بن حماد حدثنا هشيم عن ابى بلج وحصين: عن عمرو بن ميمون: رأيت في الجاهلية قردة اجتمع عليها قرود فرجموها فرجمتها معهم</p>
<p style="text-align:justify;">Terjemahan: Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dari Hushaim dari Abi Balj dan Hussain dari Amr bin Maymun. Aku melihat di waktu jahiliyyah monyet , monyet lain berkumpul padanya merejamnya dan aku merejam bersama mereka</p>
<p style="text-align:justify;">Namun dalam Shahih al-Bukhari, tiada nama Abi Balj dalam sanad yang dibawakan</p>
<p style="text-align:right;">حدثنا نعيم بن حماد حدثنا هشيم عن حصين عن عمرو بن ميمون قال<br />
رأيت في الجاهلية قردة اجتمع عليها قردة قد زنت فرجموها فرجمتها معهم</p>
<p style="text-align:justify;">Terjemahan: Nu’aim bin Hammad meriwayatkan dari Hushaim dari Hussain dari Amr bin Maymun, Aku melihat di waktu jahiliyyah monyet , monyet lain berkumpul padanya, dia berzina dan mereka merejamnya dan aku merejam bersama mereka</p>
<p style="text-align:justify;">Ini bukti jelas dia bukan hujah disisi al-Bukhari</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Maaf ini argumen yang lemah. Bisa saja Bukhari tidak memasukkan sanad Abu Balj dalam Shahih-nya karena ia merasa cukup dengan menyebutkan Hushain saja. Anda berhujjah dengan kemungkinan maka saya katakan kemungkinan anda tidak menafikan kemungkinan yang lain. Analogi sederhana, jika ada dua orang teman baik yang anda percaya yaitu si farid dan si efendi mengabarkan bahwa karim itu pendusta, kemudian anda mengabarkan kepada saya “kata si efendi saudara Karim itu pendusta”. Anda tidak menyebutkan nama Farid, apakah langsung bisa disimpulkan kalau anda menuduh Farid seorang pendusta yang tidak bisa dipercaya. Bisa saja anda merasa cukup dengan menyebutkan nama Efendi tanpa menyebutkan nama Farid, ya lumrah lumrah saja.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">4. Terdapat pernyataan jelas akan penolakan Yahya bin Sulaim Abi Balj</p>
<p style="text-align:justify;">a) Abdul Ghani bin Sa’eed al Masri al Hafiz menyatakan dia melakukan kesilapan dalam penyebutkan nama Amru bin Maymun dan dia tidak sama dengan yang masyhur disebut iaitu Amru bin Maymun tapi dia adalah Maymun Abu Abdullah Maula AbdurRahman bin Samrah dan dia adalah lemah</p>
<p style="text-align:right;">وذكر عبد الغني بن سعيد المصري الحافظ أن أبا بلج أخطأ في اسم عمرو بن ميمون هذا ، وليس هو بعمرو بن ميمون المشهور، إنما هو ميمون أبو عبد الله مولى عبد الرحمن بن سمرة، وهو ضعيف.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Abdul Ghani bin Sa’id disini jelas keliru. ‘Amru bin Maimun dengan Maimun Abu Abdullah itu tidak sama. Hadis yang dipermasalahkan Abdul Ghani ini sebenarnya adalah hadis lain tentang keutamaan Imam Ali yang kedudukannya shahih. Kedua perawi yang dimaksud berbeda. ‘Amru bin Maimun meriwayatkan hadis ini dari Ibnu Abbas dan Abu Balj memang dikenal meriwayatkan dari ‘Amru bin Maimun. Anda sendiri mengutip atsar ‘Amru bin Maimun dalam kisah “monyet merajam” yang diriwayatkan oleh Hushain dan Abi Balj. Sedangkan Maimun Abu Abdullah meriwayatkan dari Zaid bin Arqam dan tidak dikenal Abu Balj meriwayatkan darinya. Jadi pernyataan Abdul Ghani di atas tidak bernilai karena hanya dugaan saja.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">b) Ibn Abdul Barr dan Ibnul Jauzi meriwayatkan Ibn Ma’in melemahkan beliau dan Ahmad menyatakan dia meriwayatkan hadith mungkar</p>
<p style="text-align:right;">ونقل ابن عبد البر وابن الجوزي: أن ابن معين ضعفه، وقال أحمد: روى حديثا منكرا.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Penukilan ini tidaklah tsabit. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari ayahnya dari Ishaq bin Manshur dari Ibnu Ma’in bahwa Abu Balj tsiqat. Kemudian perkataan Imam Ahmad tidak memiliki asal penukilan yang tsabit, kami juga tidak menemukan pernyataan ini dalam kitab Al Ilal Ahmad bin Hanbal.</p>
<blockquote><p>c) Al Hafiz Ibn hajar menyatakan dalam at-Taqrib dia Saduq tapi melakukan kesalahan</p>
<p style="text-align:right;">وقال الحافظ ابن حجر في (التقريب): صدوق ربما أخطأ.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Pernyataan “melakukan kesalahan” terkait dengan pendapat ulama yang mempermasalahkan hadis Abi Balj padahal sebenarnya hadis tersebut shahih. Jadi kesalahan yang dituduhkan tidaklah tsabit</p>
<blockquote><p>d) Al Sa’adee menyatakan : Abu Balaj al Wasiti tidak tsiqah</p>
<p style="text-align:right;">وقال السعدي: أبو بلج الواسطي غير ثقة.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Pernyataan As Sa’diy tidak menjadi hujjah. Maaf dia bukanlah ulama yang bisa dijadikan pegangan perkataannyamengenai perawi hadis. Dikenal dia terlalu berlebihan mencela perawi tsiqat</p>
<blockquote><p>e) Az-Zahabi menyatakan dia layyin dalam al-Muqtana</p>
<p style="text-align:right;">وقال الذهبي في (المقتنى): لين.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Pernyataan Adz Dzahabi disebabkan oleh hadis Abu Balj yang ia katakan mungkar. Dan pernyataan ini keliru karena hadis yang disebutkan Adz Dzahabi bukan hadis mungkar melainkan hadis shahih dan diriwayatkan dengan banyak jalan. [hadis yang dimaksud adalah hadis tutuplah pintu masjid selain pintu Imam Ali]</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">f) Az-Zahabi sendiri menyatakan hadith ini mungkar dalam Mizan al-‘itidal dibawah biografi Abu Balj. Kitab ini adalah antara kitab terakhir beliau. Komen beliau dalam al-Mustadrak ditulis semasa beliau masih muda dan dia sendiri menyatakan ia perlukan usaha yang lebih. Sila rujuk Siyar A’alam Al-Nubala pada biografi Al-Hakim.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Yang dinyatakan mungkar oleh Adz Dzahabi bukan hadis di atas melainkan hadis tutuplan pintu masjid kecuali pintu Imam Ali. Hadis tersebut kedudukannya shahih dengan mengumpulkan jalan-jalannya.</p>
<blockquote><p>g) Al jawzjani menyebutkan dalam “Ahwal al Rijal” bahawa dia tidak tsiqah</p>
<p style="text-align:right;">وقال الجوزجاني في (أحوال الرجال): كان يروج الفواخت؛ ليس بثقة.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Nah kebetulan anda menyebut Al Jawzjani disini, sekedar info buat anda karena sepertinya anda tidak tahu [sebab asal mengutip hujjah orang lain] bahwa As Sa’diy yang anda sebutkan sebelumnya adalah Al Jawzjaniy, dia ulama yang berlebihan dalam menjarh perawi apalagi perawi yang meriwayatkan hadis keutamaan Imam Ali sebab ia dikenal nashibi. Ada baiknya anda membaca At Tahdzib dimana Ibnu Hajar berkata tentang Abu Balj</p>
<p style="text-align:right;" align="justify">وقال إبراهيم بن يعقوب الجوزجاني وأبو الفتح الأزدي كان ثقة<br />
Ibrahim bin Ya’qub Al Jawzjaniy dan Abu Fath Al Azdiy berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 12 no 184]</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Kami kutip ini sebagai contoh bagi anda bahwa ulama terkenal pun sering salah dalam mengutip. Dalam kitabnya Al Jawzjaniy jelas menyatakan Abi Balj tidak tsiqat tetapi Ibnu Hajar malah mengutip “tsiqat”. Al Jawzjaniy yang tanaqudh atau Ibnu Hajar yang salah mengutip. Makanya mencari “asal penukilan” itu sangat penting dalam pembahasan perawi hadis <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1305259314g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:right;">h) Ibn HIbban menyebutkan dalam al-Majruhin bahawa dia termasuk dikalangan mereka yang melakukan kesalahan dalam hadith dan riwayat yang hanya datang darinya perlu ditolak dan bukan hujah</p>
<p style="text-align:right;">قال ابن حبان في (المجروحين): كان ممن يخطئ ، لم يفحش خطؤه حتى استحق الترك ، ولا أتى منه ما لا ينفك البشر عنه فيسلك به مسلك العدول، فأرى أن لا يحتج بما انفرد من الرواية، وهو ممن أستخير الله فيه</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Pernyataan ini tertolak karena kesalahan yang dituduhkan pada Abu Balj tidak terbukti. Hadis yang dikatakan kesalahan Abu Balj ternyata memiliki syawahid dengan banyak jalan sehingga kedudukannya shahih</p>
<blockquote><p>i) Dia diketahui meriwayatkan banyak hadith mungkar. Az-Zahabi menyebutkan dalam al-Mizan</p>
<p style="text-align:right;">الذهبي في (الميزان): ومن مناكيره عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بسد الأبواب إلا باب علي رضي الله عنه، رواه أبو عوانة عنه، ويروى عن شعبة عنه.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Hadis ini shahih, silakan baca penjelasan Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari 7/14</p>
<p style="text-align:right;" align="right">وأخرج النسائي من طريق العلاء بن عرار بمهملات قال : فقلت لابن عمر : أخبرني عن علي وعثمان – فذكر الحديث وفيه – وأما علي فلا تسأل عنه أحدا وانظر إلى منزلته من رسول الله (ص) , قد سد أبوابنا في المسجد وأقر بابه ، ورجاله رجال الصحيح إلا العلاء وقد وثقه يحيى بن معين وغيره . وهذه الأحاديث يقوي بعضها بعضا وكل طريق منها صالح للاحتجاج فضلا عن مجموعها</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Ibnu Hajar sendiri telah menshahihkan hadis Abu Balj soal menutup pintu masjid selain pintu Imam Ali karena telah diriwayatkan dengan banyak jalan yang saling menguatkan. Jadi tuduhan hadis tersebut mungkar adalah keliru</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kesimpulan</p>
<p style="text-align:justify;">Sesetengah ulama menstiqahkannya dan sesetengah yang lain menjarahkannya. Ada ulama yang mengambil pendekatan sederhana seperti Ibnu Hibban</p>
<p style="text-align:justify;">Secara umumnya, dia termasuk dikalangan orang yang lemah dan secara specifiknya hadith ini ditolak</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Mereka yang membicarakan Abu Balj jelas keliru karena hujjah mereka hanya bersandar pada dugaan dan kutipan yang tidak tsabit. Abu Balj telah dita’dilkan oleh ulama mutaqaddimin seperti Syu’bah, Ibnu Ma’in, Nasa’I, Ibnu Sa’ad, Daruquthni, Abu Hatim, Al Fasawi. Selain Nasa’i semua penukilan tersebut tsabit.</p>
<p style="text-align:center;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">************************</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>SaifulIslam</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20140">Oktober 14, 2011 at 2:56 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan,</p>
<p style="text-align:justify;">Terlihat bahwa anda [atau siapapun yang berkata seperti ini] tidak berpengalaman membahas kitab kitab Rijal. Ini bukan perkara butuh dan tidak butuh tetapi soal “asal penukilan”. Ilmu Rijal itu ilmu nukil menukil dan faktanya tidak setiap ulama yang menukil selalu benar dalam penukilannya. Ada banyak ulama yang salah dalam menukil [contohnya banyak]. Maka yang kami permasalahkan disini adalah apakah penukilan itu tsabit?. Ibnu Hammad mengatakan bahwa Bukhari berkata soal Yahya bin Abi Sulaim “fihi nazhar” tetapi Bukhari sendiri dalam kitab Rijal-nya ia menulis Yahya bin Abi Sulaim tanpa menyebutkan jarh tersebut. Ini yang kami maksud bahwa penukilan pendapat Bukhari itu tidaklah tsabit.<br />
Hal ini berbeda dengan tautsiq Nasa’I yang anda permasalahkan. Apakah Nasa’I memiliki kitab rijal yang dapat kita jadikan tempat untuk melihat “asal penukilan”?. Apakah Nasa’I memiliki kitab yang memuat para perawi tsiqat menurutnya?. Kalau memang ada maka kita dapat mengoreksinya kalau tidak ada ya kita menerimanya. Ilmu hadis itu bukan ilmu pasti, pendekatannya ya disesuaikan dengan “bahan” yang ada dan kaidah atau metode yang disesuaikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak semestinya perkataan ulama hanya sekadar apa yang ditulis dalam kitabnya sahaja. Boleh saja diketahui pendapat ulama melalui pernyataan dalam kitab-kitab yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Mencukupkan pernyataan hanya berdasarkan kepada kalam ulama adalah fatal kerana sebahagian ulama tidak mempunyai kitab khusus dalam jarah wa ta’dil</p>
<p style="text-align:justify;">Sp boleh menerima kalam mereka walaupun mereka tiada kitab tapi tidak boleh menerima kalam ulama yang direkodkan oleh ulama lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini pandangan lemah</p>
<p style="text-align:justify;">Kita sendiri tahu salah satu sumber utama kenyataan al-Bukhari adalah dalam Ilal Al-Tirmithi Al-Kabeer.</p>
<p style="text-align:justify;">Cuba kita perhatikan muka surat #328, Al-Tirmithi bertanyakan Al-Bukhari berkenaan sebuah hadith. Al-Bukhari menjawab Mohammed bin Fadha’a adalah lemah. Dia samada pemabuk ataupun penjual alcohol dan ayahnya majhul.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang, apabila kita rujuk kepada kitab al-Bukhari, tidak ditemui pandangan al-Bukhari ini. Kita hanya temui dia memetik Sulaiman bin Harb yang menuduh Mohammed bin Fadha’a menjual alcohol dan melemahkannya (Al-Tareekh Al-Kabeer 1/210, Al-Tareekh Al-Awsat 2/109)</p>
<p style="text-align:justify;">Perhatikan perbandingannya, dalam Ilal Al-Tirmithi adalah pandangan al-Bukhari tapi dalam buku al-Bukhari sendiri, kita ada pandangan Sulaiman bin Harb dan tiada berkenaan dengan Fadha’a dan ayahnya yang dihukum majhul</p>
<p style="text-align:justify;">Maka apakah kita akan menuduh Tirmidzi sebagai penipu??ataupun menolak mentah-mentah pernyataan tersebut??</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang SP sebutkan, ilmu hadith terbatas maka sepatutnya kita mengumpulkan sebanyak maklumat yang penting.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalam ulama tidak terbatas hanya kepada apa yang disebut dalam kitab mereka. Ia juga boleh ada dalam karya anak murid mereka</p>
<p style="text-align:justify;">MAka kita patut menggabungkan kesemuanya dan bukan memilih apa yang kita suka</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>SaifulIslam</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20141">Oktober 14, 2011 at 3:18 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan,<br />
Selain itu anda juga harus sering mengupdate “ilmu hadis”. Pernyataan “fihi nazhar” ala Bukhari memang masyhur sebagai jarh syadid [dulu kami pun beranggapan begitu] tetapi sekarang sudah diperselisihkan keadaannya karena dalam kitab Bukhari sendiri terdapat perawi Bukhari yang dikatakan “fihi nazhar” bahkan dapat dilihat bahwa Bukhari pernah menyatakan “fihi nazhar” kepada sahabat Nabi Sha’sha’ah bin Najiyah [Tarikh Al Kabir juz 4 no 2978].</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Bukhari merujuk kepada hadith yang dihujahkan dan bukannya sahaba tersebut. Al-Bukhari tidak mengomentari kredibiliti sahabah</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan,<br />
Maaf ini argumen yang lemah. Bisa saja Bukhari tidak memasukkan sanad Abu Balj dalam Shahih-nya karena ia merasa cukup dengan menyebutkan Hushain saja. Anda berhujjah dengan kemungkinan maka saya katakan kemungkinan anda tidak menafikan kemungkinan yang lain. Analogi sederhana, jika ada dua orang teman baik yang anda percaya yaitu si farid dan si efendi mengabarkan bahwa karim itu pendusta, kemudian anda mengabarkan kepada saya “kata si efendi saudara Karim itu pendusta”. Anda tidak menyebutkan nama Farid, apakah langsung bisa disimpulkan kalau anda menuduh Farid seorang pendusta yang tidak bisa dipercaya. Bisa saja anda merasa cukup dengan menyebutkan nama Efendi tanpa menyebutkan nama Farid, ya lumrah lumrah saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Realitinya bukan seperti yang Sp sebutkan. Telah tsabit dari kalam al-Bukhari sendiri dia adalah lemah. Maka al-Bukhari sering menyebut perawi lemah sebagai mutaba’ah untuk menguatkan hadith. Sudah semestinya dia tidak memasukkan al-Balj kerana kelemahannya itu</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan,</p>
<p style="text-align:justify;">Abdul Ghani bin Sa’id disini jelas keliru. ‘Amru bin Maimun dengan Maimun Abu Abdullah itu tidak sama. Hadis yang dipermasalahkan Abdul Ghani ini sebenarnya adalah hadis lain tentang keutamaan Imam Ali yang kedudukannya shahih. Kedua perawi yang dimaksud berbeda. ‘Amru bin Maimun meriwayatkan hadis ini dari Ibnu Abbas dan Abu Balj memang dikenal meriwayatkan dari ‘Amru bin Maimun. Anda sendiri mengutip atsar ‘Amru bin Maimun dalam kisah “monyet merajam” yang diriwayatkan oleh Hushain dan Abi Balj. Sedangkan Maimun Abu Abdullah meriwayatkan dari Zaid bin Arqam dan tidak dikenal Abu Balj meriwayatkan darinya. Jadi pernyataan Abdul Ghani di atas tidak bernilai karena hanya dugaan saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Abdul Ghani seorang hafiz dan dia sedia maklum keduanya tidak sama. Dia menyebutkan Abu Balj membuat kesilapan dan menyandarkan hadith Maymun Abu Abdullah kepada Amr bin Maimun yang dikenal sebagai Abu Abdullah. Rujuk riwayat Ibnu Adiy sebelumnya</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian perkataan Imam Ahmad tidak memiliki asal penukilan yang tsabit, kami juga tidak menemukan pernyataan ini dalam kitab Al Ilal Ahmad bin Hanbal.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Perkataan Imam Ahmad tidak mesti ada hanya dalam kitab ‘Ilalnya sama seperti Nasai’e yang tidak juga ditemui . An-Nasai juga ada mengarang kitab al-JArh wa Ta’dil</p>
<p style="text-align:justify;">Kelemahan Abu Balj oleh imam Ahmad boleh didapati lebih dari satu sumber seperti yang disebutkan Abu Ahmad Al-Hakim (d. 378) dalam Kuna (2/352) dan Ibn Al-Jawzi (d. 592) dalam Al-Dhu’afa’a wal Matrookeen (3/196).</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut muhaqiq Al-Kuna, manuskrip Al-Kuna oleh Ibn Abdulbar juga memetik dari Imam Ahmad dalam melemahkan Abu Balj. Maka, apakah SP menganggap kesemua mereka salah?</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan,</p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan As Sa’diy tidak menjadi hujjah. Maaf dia bukanlah ulama yang bisa dijadikan pegangan perkataannyamengenai perawi hadis. Dikenal dia terlalu berlebihan mencela perawi tsiqat</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Dia menjadi hujjah kepada sunni dan bukan shia. Sila rujuk kepada muqadimah Ahmwal ar-Rijal oleh Subhi Al-Samera’ee</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan,</p>
<p style="text-align:justify;">Yang dinyatakan mungkar oleh Adz Dzahabi bukan hadis di atas melainkan hadis tutuplan pintu masjid kecuali pintu Imam Ali. Hadis tersebut kedudukannya shahih dengan mengumpulkan jalan-jalannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Ia adalah hadith yang sama. Rujuk hadith panjang dalam Musnad Ahmad berkenaan 10 kemuliaan Ali r.a</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka yang membicarakan Abu Balj jelas keliru karena hujjah mereka hanya bersandar pada dugaan dan kutipan yang tidak tsabit. Abu Balj telah dita’dilkan oleh ulama mutaqaddimin seperti Syu’bah, Ibnu Ma’in, Nasa’I, Ibnu Sa’ad, Daruquthni, Abu Hatim, Al Fasawi. Selain Nasa’i semua penukilan tersebut tsabit.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Sp seolah-oleh menunjukkan Al-Bukhari, Ahmad, dan Al-Jawjazani bukan ulama mutaqaddimin.</p>
<p style="text-align:justify;">Abu Hatim mengatakan dia salih menunjukkan hadithnya tidak diterima jika dia tafarrud</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***********************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20142">Oktober 14, 2011 at 4:21 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@SaifulIslam</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tidak semestinya perkataan ulama hanya sekadar apa yang ditulis dalam kitabnya sahaja. Boleh saja diketahui pendapat ulama melalui pernyataan dalam kitab-kitab yang lain.<br />
Mencukupkan pernyataan hanya berdasarkan kepada kalam ulama adalah fatal kerana sebahagian ulama tidak mempunyai kitab khusus dalam jarah wa ta’dil<br />
Sp boleh menerima kalam mereka walaupun mereka tiada kitab tapi tidak boleh menerima kalam ulama yang direkodkan oleh ulama lain.<br />
Ini pandangan lemah</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Maaf anda tidak mengerti penjelasan saya. Perkataan ulama terkait penukilan atau pendapat ulama lain tidak selalu benar. Jika ulama yang dimaksud memang memiliki kitab yang memuat biografi perawi menurutnya maka mengoreksi penukilan ulama lain dengan kitab tersebut adalah sesuatu yang lumrah. Jika kitab yang dimaksud tidak ada maka kita menerima perkataan ulama tersebut. Banyak contohnya penukilan pendapat ulama yang tidak tsabit, itu telah dijelaskan oleh para muhaqqiq.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Bukankah sudah saya kasih contoh dalam At Tahdzib Ibnu Hajar berkata Al Jauzjaniy dan Abu Fath Al Azdiy menyatakan Abu Balj tsiqat. Bisa saja saya mencukupkan diri dengan penukilan ini tetapi ternyata dalam kitab Al Jauzjaniy justru ia menyatakan Abu Balj tidak tsiqat. Maka saya katakana penukilan Ibnu Hajar itu tidak tsabit. Terus apa salahnya saya melakukan hal yang sama terhadap penukilan pendapat Bukhari.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kita sendiri tahu salah satu sumber utama kenyataan al-Bukhari adalah dalam Ilal Al-Tirmithi Al-Kabeer.<br />
Cuba kita perhatikan muka surat #328, Al-Tirmithi bertanyakan Al-Bukhari berkenaan sebuah hadith. Al-Bukhari menjawab Mohammed bin Fadha’a adalah lemah. Dia samada pemabuk ataupun penjual alcohol dan ayahnya majhul.<br />
Sekarang, apabila kita rujuk kepada kitab al-Bukhari, tidak ditemui pandangan al-Bukhari ini. Kita hanya temui dia memetik Sulaiman bin Harb yang menuduh Mohammed bin Fadha’a menjual alcohol dan melemahkannya (Al-Tareekh Al-Kabeer 1/210, Al-Tareekh Al-Awsat 2/109)<br />
Perhatikan perbandingannya, dalam Ilal Al-Tirmithi adalah pandangan al-Bukhari tapi dalam buku al-Bukhari sendiri, kita ada pandangan Sulaiman bin Harb dan tiada berkenaan dengan Fadha’a dan ayahnya yang dihukum majhul<br />
Maka apakah kita akan menuduh Tirmidzi sebagai penipu??ataupun menolak mentah-mentah pernyataan tersebut??</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Alangkah lucunya perkataan anda di atas. Apa yang anda katakan justru menjadi hujjah bagi saya. Pernyataan Bukhari memang ada dalam kitabnya, dalam hal ini Bukhari mengikuti apa yang dikatakan oleh Sulaiman bin Harb. Jarh tersebut ya memang ada dalam kitab Bukhari, hal ini menunjukkan bahwa apa yang ditulis Bukhari dalam kitabnya itu menjadi dasar bagi pendapatnya yang dikutip oleh Tirmidzi. Selain itu ada perbedaan nyata antara nukilan Tirmidzi dan Ibnu Hammad. Tirmidzi itu dikenal sebagai murid Bukhari tetapi saya tidak tahu kalau Ibnu Hammad.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang SP sebutkan, ilmu hadith terbatas maka sepatutnya kita mengumpulkan sebanyak maklumat yang penting.<br />
Kalam ulama tidak terbatas hanya kepada apa yang disebut dalam kitab mereka. Ia juga boleh ada dalam karya anak murid mereka<br />
MAka kita patut menggabungkan kesemuanya dan bukan memilih apa yang kita suka</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Yah mungkin anda bisa menunjukkan kepada saya bukti bahwa Ibnu Hammad termasuk salah satu murid Al Bukhari. Itu akan menjadi tambahan info bagi saya</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Al-Bukhari merujuk kepada hadith yang dihujahkan dan bukannya sahaba tersebut. Al-Bukhari tidak mengomentari kredibiliti sahabah</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Rasanya Bukhari itu berkata “fihi nazhar” bukan “fi isnad nazhar” atau “fi hadits nazhar”. Jika memang seperti yang anda katakan maka pernyataan “fihi nazhar” Bukhari tidak selalu berarti komentar bagi kredibilitas perawi bisa jadi itu komentar hadis tertentu dari perawi tersebut.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Realitinya bukan seperti yang Sp sebutkan. Telah tsabit dari kalam al-Bukhari sendiri dia adalah lemah. Maka al-Bukhari sering menyebut perawi lemah sebagai mutaba’ah untuk menguatkan hadith. Sudah semestinya dia tidak memasukkan al-Balj kerana kelemahannya itu</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Maaf andalah yang keliru, tidak tsabit penukilan Bukhari yang melemahkan Abu Balj karena ia sendiri dalam kitabnya tentang biografi perawi tidak sedikitpun mencela Abu Balj. Ini adalah hujjah yang utama. Bagaimana bisa penukilan Ibnu Hammad itu dikatakan tsabit jika Bukharinya sendiri tidak mencela Abu Balj dan tidak juga memasukkannya dalam Adh Dhu’afa. Apa Bukhari begitu “lazy” untuk sekedar menuliskan dua kata “fihi nazhar” dalam kitabnya ketika ia menulis biografi Abu Balj?. Hujjah anda soal kemungkinan itu tidak menafikan kemungkinan yang saya katakan. Berhujjah dengan kemungkinan bukan hujjah yang kuat</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Abdul Ghani seorang hafiz dan dia sedia maklum keduanya tidak sama. Dia menyebutkan Abu Balj membuat kesilapan dan menyandarkan hadith Maymun Abu Abdullah kepada Amr bin Maimun yang dikenal sebagai Abu Abdullah. Rujuk riwayat Ibnu Adiy sebelumnya</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Kenapa tidak terpikir oleh anda apa dasarnya mengatakan Abu Balj keliru dalam menyebutkan nama perawi. Hadis Maimun Abu Abdullah ia riwayatkan dari Zaid bin Arqam sedangkan hadis ‘Amru bin Maimun ia riwayatkan dari Ibnu Abbas. Abu Balj tidak pernah meriwayatkan dari Maimun Abu Abdullah justru Abu Balj dikenal sering meriwayatkan dari ‘Amru bin Maimun. Jadi logika dari mana dikatakan Abu Balj salah menyebutkan nama.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Perawi yang satu bernama ‘Amru sedangkan perawi yang lain bernama Maimun. Perawi yang satu meriwayatkan dari Ibnu Abbas sedangkan perawi yang lain meriwayatkan dari Zaid bin Arqam. Jadi bagaimana ceritanya Abu Balj dikatakan keliru. Orang yang mengatakan keliru itu tidak memiliki hujjah atau dasar selain dugaannya saja.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Perkataan Imam Ahmad tidak mesti ada hanya dalam kitab ‘Ilalnya sama seperti Nasai’e yang tidak juga ditemui . An-Nasai juga ada mengarang kitab al-JArh wa Ta’dil</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Kitab Nasa’I mana yang anda maksud, Adh Dhu’afa?. Yang benar saja kemana pikiran anda, apa anda akan menemukan nama perawi tsiqat menurut Nasa’I dalam kitabnya yang memuat perawi dhaif. Lucu sekali, lain ceritanya jika memang ada kitab Nasa’i yang secara jelas menyebutkan berbagai pendapatnya seputar perawi hadis. Silakan tampilkan saya ingin lihat</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kelemahan Abu Balj oleh imam Ahmad boleh didapati lebih dari satu sumber seperti yang disebutkan Abu Ahmad Al-Hakim (d. 378) dalam Kuna (2/352) dan Ibn Al-Jawzi (d. 592) dalam Al-Dhu’afa’a wal Matrookeen (3/196).<br />
Menurut muhaqiq Al-Kuna, manuskrip Al-Kuna oleh Ibn Abdulbar juga memetik dari Imam Ahmad dalam melemahkan Abu Balj. Maka, apakah SP menganggap kesemua mereka salah?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Itulah fenomena nukil menukil dalam ilmu hadis. Tugas seorang peneliti ya membuktikan apakah penukilan itu tsabit atau tidak. Al Hakim dan Ibnu Jauzi itu tidak dikenal sebagai murid Ahmad bin Hanbal antara mereka terpisah jarak yang jauh. Anda tidak bisa belajar dari contoh yang saya berikan. Sebelumnya anda bilang Ibnu Jauzi dan Ibnu Abdil barr mengutip bahwa Ibnu Main mendhaifkan Abu Balj ternyata penukilan ini keliru karena justru yang tsabit adalah Ibnu Main menyatakan Abu Balj tsiqat. Maka sangat mungkin penukilan pendapat Imam Ahmad juga keliru mengingat tidak ada sanad yang tsabit sampai ke Ahmad bin Hanbal soal perkataan itu. Dalam kitab Al Ilal Ahmad bin Hanbal ada menyebutkan tentang Abu Balj atau Yahya bin Abi Sulaim tetapi tidak ada sedikitpun ia mencelanya. Maka jika ada penukilan Ahmad bin Hanbal yang mencela Abu Balj silakan buktikan penukilan itu tsabit sanadnya sampai ke Ahmad bin Hanbal.</p>
<blockquote><p>Dia menjadi hujjah kepada sunni dan bukan shia. Sila rujuk kepada muqadimah Ahmwal ar-Rijal oleh Subhi Al-Samera’ee</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Silakan perhatikan apa yang dikatakan Ibnu Hajar. Dalam Lisân Mizânnya, Ibnu Hajar berkata, “Maka sesungguhnya seorang yang jeli jika ia memperhatikan pencacatan Abu Ishaq Al Jawzjâni tehadap penduduk kota Kufah pasti ia menyaksikan hal dahsyat, yang demikian itu disebabkan ia sangat menyimpang dalam kenasibiannya, sementara penduduk kota Kufah tersohor dengan kesyi’ahnnya. Engkau tidak menyaksiannya segan-segan mencacat siapa pun dari penduduk Kufah yang ia sebut dengan lisan sadis dan redaksi lepas. Sampai-sampai ia melemahkan seorang perawi seperti al A’masy, Abu Nu’aim, Ubaidillah bin Musa dan tokoh-tokoh hadis dan pilar-pilar riwayat. [Lisan Al Mizan 1/16]. Selain Ibnu Hajar, Daruquthni dan Ibnu Ady juga menyatakan kalau Al Jawzjaniy itu seorang nashibi. Bisa dimengerti kalau para pengikut nashibi menjadikan perkataan Al jawzjaniy sebagai hujjah ya karena ia adalah ulama nashibi panutan mereka.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sp seolah-oleh menunjukkan Al-Bukhari, Ahmad, dan Al-Jawjazani bukan ulama mutaqaddimin.<br />
Abu Hatim mengatakan dia salih menunjukkan hadithnya tidak diterima jika dia tafarrud</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Pernyataan Bukhari “fihi nazhar” itu tidak tsabit. Seandainya tsabit pun tetap saja tidak menjadi jarh yang menjatuhkan Abu Balj karena terdapat juga perawi sahih yang ditsiqatkan ulama lain dan dikatakan Bukhari fihi nazhar seperti Habib bin Salim [perawi Muslim]. Pernyataan Ahmad itu tidak tsabit dan seandainya tsabitpun maka akar permasalahannya adalah hadis yang dikatakan mungkar oleh Ahmad adalah hadis yang shahih kedudukannya dan diriwayatkan dengan banyak sanad [insya Allah kalau sempat akan saya buat takhrijnya, doakan saja]. Pernyataan Al Jawzjaniy bukan hujjah karena ia sering berlebihan mencacatkan perawi tsiqat yang dituduh syiah atau yang meriwayatkan hadis keutamaan Imam Ali. Pernyataan Abu Hatim itu adalah bentuk ta’dil dan siapa bilang Abu Balj tafarrud dalam meriwayatkan hadis di atas. Bukankah ada lagi hadis dengan matan yang sama maknanya yaitu Waliy bagi setiap mukmin sepeninggalku, silakan lihat pembahasannya dalam tulisan saya tentang hadis tersebut.</p>
<p style="text-align:center;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">**************************</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>SaifulIslam</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20146">Oktober 15, 2011 at 11:17 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Sp, sebelum pergi lebih jauh. Saya ingin ulas beberapa perkara yang penting dahulu</p>
<p style="text-align:justify;">Saya lihat anda tidak konsisten dalam hujah yang anda berikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada awalnya anda menolak kenyataan al-Bukhari kerana ia tidak ada dalam kitab karangannya sendiri dan nukilan ulama lain tidak boleh diterima kerana boleh berlaku kesilapan</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam masa yang sama, anda menerima kalam an-Nasa’i walaupun ia tidak ditemui dalam kitab yang ditulis sendiri oleh beliau dan tidak disandarkan kepada beliau dengan sanad</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudiannya, anda boleh menerima kalam al-Bukhari tapi dengan syarat ia mesti dari anak murid beliau dan anda tidak tahu samada Ibnu Hammad adalah anak murid beliau</p>
<p style="text-align:justify;">Hakikatnya, Ibnu Hammad adalah anak murid al-Bukhari dan merupakan salah satu perawi utama kitab Al-Dhu’afa’ Al-Sagheer. Rujuk muqadimah Fathul al-Bari</p>
<p style="text-align:justify;">Keduanya, al-Nasaie mempunyai kitab yang berjudul Al-Jarh wal Ta’deel dimana dia menguatkan perawi dan merujuknya sebagai tsiqaat. Salah satu contoh ialah Sa’eed bin Hakeem. Rujuk Tahtheeb Al-Tahtheeb berkenaan hal ini</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">********************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sunnah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20148">Oktober 16, 2011 at 12:37 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Sp,</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah terdapat hadith sahih nabi ingin melantik Abu Bakar sebagai pengantinya</p>
<p style="text-align:justify;">Narrated Al-Qasim bin Muhammad:</p>
<p style="text-align:justify;">‘Aisha, (complaining of headache) said, “Oh, my head”! Allah’s Apostle said, “I wish that had happened while I was still living, for then I would ask Allah’s Forgiveness for you and invoke Allah for you.”</p>
<p style="text-align:justify;">Aisha said, “Wa thuklayah! By Allah, I think you want me to die; and If this should happen, you would spend the last part of the day sleeping with one of your wives!” The Prophet said, “Nay, I should say, ‘Oh my head!’ I felt like sending for Abu Bakr and his son, and appoint him as my successor lest some people claimed something or some others wished something, but then I said (to myself), ‘Allah would not allow it to be otherwise, and the Muslims would prevent it to be otherwise”.</p>
<p style="text-align:justify;">(Sahih alBukhari – Book #70, Hadith #570)</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20149">Oktober 16, 2011 at 1:22 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@SaifulIslam</p>
<blockquote><p>Sp, sebelum pergi lebih jauh. Saya ingin ulas beberapa perkara yang penting dahulu<br />
Saya lihat anda tidak konsisten dalam hujah yang anda berikan.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Silakan cek kembali komentar saya dan silakan pahami kata-kata yang saya gunakan. Saya masih maklum kalau anda tidak begitu memahami bahasa yang saya gunakan, apa daya saya tak pandai bahasa “seberang”.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pada awalnya anda menolak kenyataan al-Bukhari kerana ia tidak ada dalam kitab karangannya sendiri dan nukilan ulama lain tidak boleh diterima kerana boleh berlaku kesilapan</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Anehnya saya tidak mengerti apa yang anda maksud dari kata “tidak boleh diterima”. Meragukan suatu penukilan itu wajar-wajar saja jika penukilan tersebut tidak terdapat dalam kitab Ulama yang dinukil. Saya tidak menyatakan mutlak semua penukilan tidak diterima. Dan harap anda juga perhatikan ada perbedaan yang nyata dari dua fenomena berikut. Perawi yang memang tidak disebutkan dari kitab tersebut dan perawi yang disebutkan tetapi nukilannya tidak ada.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dalam masa yang sama, anda menerima kalam an-Nasa’i walaupun ia tidak ditemui dalam kitab yang ditulis sendiri oleh beliau dan tidak disandarkan kepada beliau dengan sanad</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Pertama, apa masalahnya dengan itu. Kalau itu anda katakan tidak konsisten maka ilmu hadis pun sebenarnya gak konsisten. Mengapa? karena dalam ilmu hadis penta’dilan itu tidak diperlukan alasan tetapi jarh diperlukan alasan yang jelas [mufassar]. So dalam ilmu hadis jika terdapat nukilan penta’dilan dan jarh maka metode penetapan jarh lebih ketat dari penetapan ta’dil.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Kedua, kitab Nasa’I yang ada pada saya memang Ad Dhu’afa. Lah kalau memang situ punya kitab lain ya silakan cek ada tidak disebutkan nama Abu Balj dan apa pendapat Nasa’i tentangnya.</p>
<blockquote><p>Kemudiannya, anda boleh menerima kalam al-Bukhari tapi dengan syarat ia mesti dari anak murid beliau dan anda tidak tahu samada Ibnu Hammad adalah anak murid beliau</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Maaf kapan saya menetapkan begitu, komentar saya sebelumnya terkait dengan hujjah anda yang mengutip riwayat Tirmidzi dari Bukhari. Nah saya bandingkan dengan riwayat Ibnu Hammad dari Bukhari [yang anda kutip]. Saya katakana ada perbedaan nyata antara keduanya, pada riwayat itu Tirmidzi dikenal sebagai murid Bukhari sedangkan Ibnu Hammad pada awalnya saya tidak tahu siapa dia dan riwayatnya dari Bukhari itu seperti riwayat pengutipan bukan riwayat langsung [saya lihat sighat-nya yang memang berbunyi “Bukhari berkata”]</p>
<blockquote><p>Hakikatnya, Ibnu Hammad adalah anak murid al-Bukhari dan merupakan salah satu perawi utama kitab Al-Dhu’afa’ Al-Sagheer. Rujuk muqadimah Fathul al-Bari</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Sudah saya cek ternyata Ibnu Hammad itu adalah Muhammad bin Ahmad bin Hammad Ad Duulabiy. Memang disebutkan ia salah satu perawi kitab Ad Dhu’afa Ash Shaghiir tetapi anehnya dalam kitab Adh Dhuafa tidak ada disebutkan Abu Balj, tanya kenapa?. Btw sekedar info tuh buat anda dan sahabat tercinta anda itu “si Farid” silakan baca kutipan ini [kalian kan ahlinya kritik pakai kutip mengutip]</p>
<p style="text-align:justify;" align="right">قال أبو سعيد بن يونس كان أبو بشر من أهل الصنعة وكان يضعف</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Abu Sa’id bin Yunus berkata Abu Bisyr termasuk penduduk Shan’ah dan ia telah didhaifkan</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Adz Dzahabi memasukkan Ibnu Hammad dalam Mughni Adh Dhu’afa no 5255 dan berkata</p>
<p style="text-align:justify;" align="right">محمد بن أحمد بن حماد الحافظ أبو بشر الدولابي قال الدارقطني تكلموا فيه</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Muhammad bin Ahmad bin Hammad Al Hafizh Abu Bisyr Ad Duulabiy, Daruquthni berkata “ia telah diperbincangkan”</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Kedua kutipan di atas adalah bentuk jarh dan bagaimana menurut anda dan [saudara Farid] soal kutipan di atas. Kalian mau cari-cari alasan pembelaan ya silakan <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1305259314g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Saya tetap konsisten dari awal. Hujjah utama saya adalah ya apa yang tertulis ulama dalam kitabnya dalam hal ini Bukhari dalam Tarikh Al Kabir. Ia menyebutkan Abu Balj tidak menjarh-nya bahkan menegaskan kalau Syu’bah meriwayatkan darinya. Ini adalah indikasi ta’dil, yah anda kan tidak akan mengharap Bukhari berkata “tsiqat” dalam kitab-kitabnya <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1305259314g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Saya pribadi bukan pertama kalinya menghadapi kasus penukilan seperti ini. Nah ada yang lumayan mirip dengan kasus Abu Balj ini yaitu soal perawi yang bernama Sa’id bin Zaid</p>
<p style="text-align:justify;" align="right">نا عباس الدوري قال سمعت يحيى بن معين يقول: سعيد بن زيد اخو حماد بن زيد ليس بقوى</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">[Abu Hatim berkata] telah menceritakan kepada kami ‘Abbas Ad Duuriy yang berkata aku mendengar Yahya bin Ma’in mengatakan Sa’id bin Zaid saudara Hammad bin Zaid “tidak kuat”. [Al Jarh Wat Ta’dil 4/21 no 87]</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Tetapi dalam kitabnya Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy yang tertulis adalah berikut</p>
<p style="text-align:justify;" align="right">سمعت يحيى يقول سعيد بن زيد أخو حماد بن زيد ثقة</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">[Ad Duuriy] berkata “aku mendengar Yahya mengatakan Sa’id bin Zaid saudara Hammad bin Zaid tsiqat” [Tarikh Ibnu Ma’in no 3851]</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Yang menjadi hujjah jelas apa yang tertulis dalam kitab Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy sedangkan riwayat Abu Hatim walaupun bersanad langsung kepada Ad Duuriy keliru. Ini Cuma contoh mengapa kami katakan hujjah utama adalah apa yang tertulis dalam kitab ulama yang bersangkutan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Keduanya, al-Nasaie mempunyai kitab yang berjudul Al-Jarh wal Ta’deel dimana dia menguatkan perawi dan merujuknya sebagai tsiqaat. Salah satu contoh ialah Sa’eed bin Hakeem. Rujuk Tahtheeb Al-Tahtheeb berkenaan hal ini</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Lha silakan kalau anda memang punya kitab tersebut, silakan cek apakah Abu Balj ada di dalamnya?. Kalau ada maka apa yang dikatakan Nasa’i tentangnya. Ngapain anda minta saya rujuk kitab At Tahdzib, seharusnya yang dirujuk ya kitab yang anda sebut “Al Jarh Wal Ta’dil”. Pertanyaan saya, ada tidak nama Abu Balj dalam kitab tersebut?.</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Btw walaupun diskusi ini arahnya sudah tidak jelas, saya tetap akan menyesuaikan saja. Walaupun begitu tidak ada salahnya saya katakan satu permasalahan lagi buat anda para nashibi, penta’dilan terhadap Abu Balj itu sudah tsabit sedangkan jarh terhadapnya jika memang tsabit bukan jarh mufassar melainkan jarh mubham. Sedangkan soal hadis Abu Balj yang dikatakan mungkar atau khata’ maaf itu tidak terbukti karena ulama lain yang telah mengumpulkan sanad-sanadnya menyatakan hadis tersebut shahih [seperti Ibnu Hajar dan Asy Syaukani]. Pernyataan mereka berdua memang terbukti dari thuruq hadis tersebut sedangkan pernyataan mungkar dan khata’ itu cuma perkataan tanpa bukti alias dugaan semata. Dalam ilmu hadis ta’dil lebih didahulukan daripada jarh mubham.</p>
<p style="text-align:center;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">*****************</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20150">Oktober 16, 2011 at 1:37 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@Sunnah</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bukankah terdapat hadith sahih nabi ingin melantik Abu Bakar sebagai pengantinya</p>
<p style="text-align:justify;">Narrated Al-Qasim bin Muhammad:</p>
<p style="text-align:justify;">‘Aisha, (complaining of headache) said, “Oh, my head”! Allah’s Apostle said, “I wish that had happened while I was still living, for then I would ask Allah’s Forgiveness for you and invoke Allah for you.”</p>
<p style="text-align:justify;">Aisha said, “Wa thuklayah! By Allah, I think you want me to die; and If this should happen, you would spend the last part of the day sleeping with one of your wives!” The Prophet said, “Nay, I should say, ‘Oh my head!’ I felt like sending for Abu Bakr and his son, and appoint him as my successor lest some people claimed something or some others wished something, but then I said (to myself), ‘Allah would not allow it to be otherwise, and the Muslims would prevent it to be otherwise”.</p>
<p style="text-align:justify;">(Sahih alBukhari – Book #70, Hadith #570)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Perkataan “and appoint him as my successor ” itu muncul dari mana. Coba anda lihat teks arabnya, apa benar artinya begitu. Banyak nashibi menuduh syiah berdusta tetapi faktanya nashibi pendusta juga</p>
<p style="text-align:center;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">**********************</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>Sunnah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20151">Oktober 16, 2011 at 6:47 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Hadith di atas tu ada versi yang lainnya</p>
<p style="text-align:justify;">ادعي أبا بكر أباك ، و أخاك ، حتى أكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمن ، و يقول قائل : أنا أولى ، و يأبى الله و المؤمنون إلا أبا بكر<br />
الراوي: عائشة المحدث: الألباني – المصدر: صحيح الجامع – الصفحة أو الرقم: 247<br />
خلاصة حكم المحدث: صحيح</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">**************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saifulislam</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20152">Oktober 16, 2011 at 7:05 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan,</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama, apa masalahnya dengan itu. Kalau itu anda katakan tidak konsisten maka ilmu hadis pun sebenarnya gak konsisten. Mengapa? karena dalam ilmu hadis penta’dilan itu tidak diperlukan alasan tetapi jarh diperlukan alasan yang jelas [mufassar]. So dalam ilmu hadis jika terdapat nukilan penta’dilan dan jarh maka metode penetapan jarh lebih ketat dari penetapan ta’dil.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan Sp tidak tepat. Apakah ini menunjukkan untuk penta’dilan tidak langsung diperlukan sumber tapi untuk jarh mesti dibutuhkan??</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan,</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah saya cek ternyata Ibnu Hammad itu adalah Muhammad bin Ahmad bin Hammad Ad Duulabiy. Memang disebutkan ia salah satu perawi kitab Ad Dhu’afa Ash Shaghiir tetapi anehnya dalam kitab Adh Dhuafa tidak ada disebutkan Abu Balj, tanya kenapa?</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang disebutkan, bukan semuanya mesti terdapat dalam kitab ulama tersebut. Boleh saja ia datang dalam bentuk periwayatan. Tambahan, versi al-Dhu’afa yang kita ada hari ini bukanlah riwayat al-Dulabi</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan,<br />
Kedua kutipan di atas adalah bentuk jarh dan bagaimana menurut anda dan [saudara Farid] soal kutipan di atas. Kalian mau cari-cari alasan pembelaan ya silakan</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi Sp telah berubah pandangan. Sp tidak menerima pernyataan verbal pada mulanya, kini Sp menerimanya tapi menolak al-Dulabi</p>
<p style="text-align:justify;">Hakikatnya, kenyataan al-Dulabi sudah memadai bagi ulama menerima beliau sebagai tsiqa</p>
<p style="text-align:justify;">Ibn Qotlobogha menyebutkan dala Al-Thiqaat (8/123) memetik Ibn Yunus yang berkata:</p>
<p style="text-align:justify;">كان من أهل الصنعة، حسن التصنيف، وله بالحديث معرفة، وكان يصحف</p>
<p style="text-align:justify;">Al-Daraqutni mengatakan:</p>
<p style="text-align:justify;">تكلموا فيه، ما تبين من أمره إلا خير.</p>
<p style="text-align:justify;">Tautheeq ulama sangat jelas hinggakan dia menjadi salah satu sumber utama al-Bukhari dalam pandangan ulama awal</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan</p>
<p style="text-align:justify;">Lha silakan kalau anda memang punya kitab tersebut, silakan cek apakah Abu Balj ada di dalamnya?. Kalau ada maka apa yang dikatakan Nasa’i tentangnya. Ngapain anda minta saya rujuk kitab At Tahdzib, seharusnya yang dirujuk ya kitab yang anda sebut “Al Jarh Wal Ta’dil”. Pertanyaan saya, ada tidak nama Abu Balj dalam kitab tersebut?.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Kitab ini tidak lagi wujud tapi itulah hujah saya. Sp melemahkan kenyataan al-Bukhari dan Ahmad hanya kerana ia tidak ada dalam kitab beliau tapi dalam masa yang An-Nasa’I juga mempunyai kitab yang tidak sampai kepada kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ilmu hadis ta’dil lebih didahulukan daripada jarh mubham.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Ini tidak benar. Biarpun jarh mufassar diutamakan dari ta’dil tapi itu bukanlah bererti ta’dil diutamakan dari jarh mubham. Jika tidak, kebanyakan perawi yang dianggap lemah akan menjadi tsiqaat</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20154">Oktober 16, 2011 at 8:30 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@SaifulIslam</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ulasan Sp tidak tepat. Apakah ini menunjukkan untuk penta’dilan tidak langsung diperlukan sumber tapi untuk jarh mesti dibutuhkan??</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Tepat atau tidak itu terserah sampean. Poin yang saya tanggapi adalah “inkonsistensi” yang anda sebutkan. Bagi saya apa masalahnya kalau metode untuk menetapkan jarh lebih kuat dari metode penetapan ta’dil. Dalam ilmu hadis hasil akhir kesimpulan perawi digunakan kaidah ta’dil didahulukan dari jarh mubham kecuali jika jarh-nya mufassar maka jarh tersebut didahulukan. Untuk mengugurkan ta’dil maka diperlukan jarh yang tsabit dan mufassar, bukankah ini sesuai dengan metode ilmu hadis bukannya dibalik untuk menggugurkan jarh maka diperlukan ta’dil yang tsabit dan mufassar. Kalau anda punya kaidah ilmu sendiri ya silakan saja</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang disebutkan, bukan semuanya mesti terdapat dalam kitab ulama tersebut. Boleh saja ia datang dalam bentuk periwayatan. Tambahan, versi al-Dhu’afa yang kita ada hari ini bukanlah riwayat al-Dulabi</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Hey tolong bangun, sepertinya anda ini menggerutu soal yang bahkan tidak pernah saya nyatakan. Saya tidak pernah menolak periwayatan tetapi akar permasalahan yang kita bahas awalnya soal penukilan yang tidak tsabit. Silakan saja anda membawakan riwayat Ibnu Hammad dari Bukhari tetapi saya berhujjah dengan apa yang ditulis Bukhari dalam kitabnya. Yang mana yang lebih kuat, silakan anda jawab sendiri.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi Sp telah berubah pandangan. Sp tidak menerima pernyataan verbal pada mulanya, kini Sp menerimanya tapi menolak al-Dulabi</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Sekali lagi betapa menyedihkan akal anda dalam menangkap apa yang saya katakan. Pandangan saya yang mana yang berubah. Sejak tadi itu itu saja, anda saja yang mempersepsi begitu. Anda mempersepsi sendiri kemudian menisbatkan persepsi itu kepada saya. Kapan saya katakan tidak menerima pernyataan verbal, itu kan ocehan anda saja. Awalnya kita bicara soal penukilan, sebelumnya saya anggap Ibnu Hammad itu cuma menukil perkataan Bukhari secara saya tidak tahu siapa dia tetapi setelah tahu bahwa ia adalah Ad Duulabiy maka saya bawakan kutipan jarh terhadapan Ad Duulabiy itu sebagai hadiah buat anda.Karena orang seperti anda suka melemahkan perawi hanya dengan menukil jarh terhadap perawi tersebut maka silakan lemahkan juga Ad Duulabiy</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Pandangan saya sendiri dari semula tetap apa yang ditulis Bukhari dalam kitabnya adalah hujjah yang utama. Bukankah sudah saya kasih contoh, sebagaimana Abu Hatim bisa tersilap soal riwayat dari Ad Duuriy maka Ad Duulabiy bisa juga tersilap soal riwayat dari Bukhari. Apa buktinya, silakan lihat apa yang ditulis Bukhari dalam kitabnya tidak ada sebutan “fihi nazhar”</p>
<blockquote><p>Hakikatnya, kenyataan al-Dulabi sudah memadai bagi ulama menerima beliau sebagai tsiqa</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Ucapan apa ini, kalau anda diskusi dengan patung lha iya maka anda bisa berucap sesuka hatinya. Mengapa tidak anda katakan kenyataan Abu Balj sudah memadai bagi ulama yang menerima beliau sebagi tsiqat. Sebagaimana anda melemparkan pendapat yang menjarh Ad Dulabi maka silakan lempar juga pendapat yang menjarh Abu Balj. Siapa nih yang sebenarnya inkonsisten</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ibn Qotlobogha menyebutkan dala Al-Thiqaat (8/123) memetik Ibn Yunus yang berkata:<br />
كان من أهل الصنعة، حسن التصنيف، وله بالحديث معرفة، وكان يصحف<br />
Al-Daraqutni mengatakan:<br />
تكلموا فيه، ما تبين من أمره إلا خير<br />
Tautheeq ulama sangat jelas hinggakan dia menjadi salah satu sumber utama al-Bukhari dalam pandangan ulama awal</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Masih tidak mengerti juga, tinggal saya ulang taustiq ulama awal terhadap Abu Balj itu sudah sangat jelas hingga para ulama menshahihkan hadisnya. Hanya saja ketika ia meriwayatkan hadis keutamaan Ahlul Bait muncul pendapat pendapat nyeleneh bin ajaib. Yang saya herankan mau anda kemanakan pendapat yang melemahkan Ad Duulabiy, apa dasar anda menafikannya hanya karena ada ulama yang menta’dilkan Ad Duulabiy kalau begitu seharusnya begitu juga dalam kasus Abu Balj ya nafikan saja pendapat yang melemahkan Abu Balj karena banyak ulama yang menta’dilkan Abu Balj. Disini Ad Duulabiy anda katakan tsiqat tetapi Abu Balj anda katakan dhaif.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kitab ini tidak lagi wujud tapi itulah hujah saya. Sp melemahkan kenyataan al-Bukhari dan Ahmad hanya kerana ia tidak ada dalam kitab beliau tapi dalam masa yang An-Nasa’I juga mempunyai kitab yang tidak sampai kepada kita.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Astaga, ternyata anda masih belum mengerti juga. Wajar saja anda muter muter disitu. Saya tidak pernah menafikan penukilan ulama terhadap ulama lain tetapi jika ulama yang dinukil memiliki kitab dimana ia menuliskan pendapatnya maka merujuk pada kitab tersebut adalah lebih utama dibanding penukilan. Itulah yang saya lakukan dalam kasus Bukhari terhadap Abu Balj. Tidak ada gunanya anda mempertikaikan kutipan An Nasa’I secara anda katakan sendiri kitab tersebut tidak lagi wujud jadi tidak ada yang bisa kita rujuk dari kitab yang ditulis Nasa’i. Kasihan sekali kalau masih tidak mengerti.</p>
<blockquote><p>Ini tidak benar. Biarpun jarh mufassar diutamakan dari ta’dil tapi itu bukanlah bererti ta’dil diutamakan dari jarh mubham. Jika tidak, kebanyakan perawi yang dianggap lemah akan menjadi tsiqaat</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Jadi apa yang benar, jarh mubham diutamakan dari ta’dil? Kalau begitu gak usah ada kaidah jarh mufassar diutamakan dari ta’dil toh setiap jarh diutamakan daripada ta’dil. Praktekkan saja tuh, Ad Duulabiy ternukil pendapat yang menjarah-nya maka ini lebih diutamakan dari ta’dil. Nah itulah konsekuensi perkataan anda. Justru dengan perkataan anda maka banyak perawi tsiqat [bahkan perawi shahih] menjadi dhaif. Lucu sekali, tampaknya untuk membantah hujjah orang-orang seperti anda saya hanya cukup mengikuti cara berhujjah yang anda pakai.</p>
<p style="text-align:center;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">****************************</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20155">Oktober 16, 2011 at 8:49 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@Sunnah</p>
<blockquote><p>Hadith di atas tu ada versi yang lainnya</p>
<p>ادعي أبا بكر أباك ، و أخاك ، حتى أكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمن ، و يقول قائل : أنا أولى ، و يأبى الله و المؤمنون إلا أبا بكر<br />
الراوي: عائشة المحدث: الألباني – المصدر: صحيح الجامع – الصفحة أو الرقم: 247<br />
خلاصة حكم المحدث: صحيح</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Maaf apa saudara tidak bisa membaca komentar saya. Sebelumnya saya katakan <strong>Perkataan “and appoint him as my successor ” itu muncul dari mana</strong>. Lafaz mana dari arab yang anda kutip memiliki arti seperti itu</p>
<p style="text-align:center;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">******************</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>Sunnah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20159">Oktober 17, 2011 at 4:47 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Sp,</p>
<p style="text-align:justify;">Berkenaan dengan perntanyaan anda, baik ditanya kepada penterjemah Sahih al-Bukhari dalam english. Bisa saja dia tersilap atau terkeliru dengan lafaz-lafaz yang lain</p>
<p style="text-align:justify;">Kini saya bertanyakan hadith yang berikut</p>
<p style="text-align:justify;">ادعي أبا بكر أباك ، و أخاك ، حتى أكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمن ، و يقول قائل : أنا أولى ، و يأبى الله و المؤمنون إلا أبا بكر</p>
<p style="text-align:justify;">الراوي: عائشة المحدث: الألباني – المصدر: صحيح الجامع – الصفحة أو الرقم: 247<br />
خلاصة حكم المحدث: صحيح</p>
<p style="text-align:justify;">The prophet SAWS told ‘Aisha (ra): Call your father Abu Bakr and your brother so that I may write them a book, I fear that someone might wish for it and say “I am more worthy” however Allah and the believers will not accept anyone other than Abu Bakr.<br />
source: Sahih al-Jami’i 247.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">**********************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Saifulislam</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20162">Oktober 17, 2011 at 5:20 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan,</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada gunanya anda mempertikaikan kutipan An Nasa’I secara anda katakan sendiri kitab tersebut tidak lagi wujud jadi tidak ada yang bisa kita rujuk dari kitab yang ditulis Nasa’i. Kasihan sekali kalau masih tidak mengerti.</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian kitab al-Bukhari juga telah hilang seperti Al-Dhu’afa’a Al-Kabeer dan Al-Dhu’afa’a Al-Sagheer dengan periwayatn al-Dulabi<br />
Anda mengkritik saya kerana tidak menerima tauthiq Abu Balj sedangkan dalam post yang sebelumnya telahpun dibawakan pandangan mereka yang menyakini kestiqahannya. Saya memilih pandangan Ibnu Hibban yang lebih seimbang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sp katakan</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apa yang benar, jarh mubham diutamakan dari ta’dil?</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan saya</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan melihat kepada qara’in. Jika majoriti melemahkan seorang perawi dengan jarh mubham maka ia diterima. Jika mereka yang memberikan ta’dil termasuk dikalangan yang lembut maka penjarahan lebih diterima.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">**********************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20163">Oktober 17, 2011 at 9:58 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@SaifulIslam</p>
<blockquote><p>Sebagian kitab al-Bukhari juga telah hilang seperti Al-Dhu’afa’a Al-Kabeer dan Al-Dhu’afa’a Al-Sagheer dengan periwayatn al-Dulabi</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Ini jawaban orang ngedumel. Saya heran kok anda tidak paham pokok permasalahan yang saya jadikan hujjah. Anda malah sibuk mempertikaikan kalimat saya dan mencari bantahannya. Saya katakana lha iya memang ada kitab Bukhari yang juga telah hilang jadi kenapa?. Apa itu meruntuhkan hujjah saya? Tidak. Kitab yang hilang ya tidak bisa kita rujuk, kitab yang ada itulah yang harus kita rujuk. Itulah pendekatan secara metodologis. Jika anda tidak setuju dengan metode yang saya jadikan hujjah ya silakan. Ambil saja jarh “fihi nazhar” Bukhari itu untuk anda jadikan hujjah dan itu sedikitpun tidak mengganggu hujjah saya karena kalimat “fihi nazhar” di sisi Bukhari tidak selalu bersifat “jarh syadid” bahkan bisa juga ditujukan Bukhari untuk perawi dita’dilkannya. Selain itu dari segi jenis jarh-nya, “fihi nazhar” adalah jarh mubham bukan jarh mufassar. Silakan anda belajar ilmu musthalah hadis untuk mengetahui secara detailnya.</p>
<blockquote><p>Anda mengkritik saya kerana tidak menerima tauthiq Abu Balj sedangkan dalam post yang sebelumnya telahpun dibawakan pandangan mereka yang menyakini kestiqahannya. Saya memilih pandangan Ibnu Hibban yang lebih seimbang.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Pandangan Ibnu Hibban itu keliru, silakan anda lihat Ibnu Hibban memasukkannya dalam Adh Dhu’afa dan mengutip riwayat sebagai bukti khata’ Abu Balj. Kekeliruan Ibnu Hibban sangat jelas karena hadis yang ia sebutkan itu telah dikuatkan oleh para ulama seperti At Tirmidzi dan Ibnu Thahir. Hadis-hadis Abu Balj lain yang dinyatakan mungkarpun tidak terbukti karena memiliki syawahid dan tidak ada bukti kemungkarannya.</p>
<blockquote><p>Dengan melihat kepada qara’in. Jika majoriti melemahkan seorang perawi dengan jarh mubham maka ia diterima. Jika mereka yang memberikan ta’dil termasuk dikalangan yang lembut maka penjarahan lebih diterima.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Lha itu berarti anda gak ngerti saya bicarakan. Saya belum membicarakan soal “mayoritas” atau “sedikit” saya bicarakan dari segi kaidah ta’dil lebih didahulukan daripada jarh mubham dan jarh mufassar lebih didahulukan daripada ta’dil. Ini yang dibicarakan soal kaidahnya, Selain kaidah itu ya ada pula soal lain misalnya mengenai kualitas ulama yang menjarh dan menta’dil itu kan macam-macam. Ada yang pertengahan, ada yang tasahul dan ada yang berlebihan atau terlalu ketat, kemudian bagaimana tingkatan jarh atau ta’dil yang diberikan ulama-ulama tersebut. Termasuk soal lainnya adalah jumlah ulama yang menjarh dan menta’dil dan dari kalangan mana ulama tersebut apakah mutaqaddimin atau mutaakhirin .</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Kita gak usah panjang-panjang bicara soal metode [bisa lama]. Langsung to the point, si Abu Balj ini anda simpulkan bagaimana keadaannya. Kalau anda katakan ia tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud maka ia tidak tafarrud dalam meriwayatkan hadis tersebut. Kalau pandangan saya, ia jelas tsiqat karena tuduhan terhadapnya tidak tsabit [itu jika anda menelitinya dengan baik dan objektif bukan asal menukil ini itu]. Case closed kecuali kalau anda mau komentar “siklik” lagi ya silakan <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1305259314g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p style="text-align:center;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">*******************</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20164">Oktober 17, 2011 at 11:25 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@Sunnah</p>
<blockquote><p>Berkenaan dengan perntanyaan anda, baik ditanya kepada penterjemah Sahih al-Bukhari dalam english. Bisa saja dia tersilap atau terkeliru dengan lafaz-lafaz yang lain</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Heh bukannya anda yang menampilkan hadis tersebut dalam bahasa inggris kok nyuruh saya nanya penerjemahnya. Kalau saya yang buat ya iya, lha ini anda yang buat. Aneh sepertinya anda suka sekali membantah bukannya mengakui kalau salah menerjemahkan atau kalau anda tidak mau mengakui salah menerjemahkan maka silakan akui kalau anda berdusta. Kalau orang tidak sepaham dengan anda, akan mudah sekali anda tuduh bodoh, taqiyyah, syiah, rafidhah, munafik, pendusta tetapi jika diri anda terbukti seperti di atas, anda berkelit melemparkan kesalahan pada orang lain yang tidak jelas. Anehnya diri anda wahai nashibi</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kini saya bertanyakan hadith yang berikut<br />
The prophet SAWS told ‘Aisha (ra): Call your father Abu Bakr and your brother so that I may write them a book, I fear that someone might wish for it and say “I am more worthy” however Allah and the believers will not accept anyone other than Abu Bakr.<br />
source: Sahih al-Jami’i 247.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Tepatnya apa yang akan anda tanya. Tulisan saya di atas membicarakan soal Imam Ali menjadi pemimpin sepeninggal Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tidak ada dalam lafaz hadis yang anda sebutkan keterangan yang membatalkan hadis yang saya jadikan hujjah di atas. Lain ceritanya jika anda tidak bisa membedakan lafaz hadisnya dengan persepsi anda soal hadis tersebut. Silakan terangkan lebih jelas apa hujjah anda dengan hadis Bukhari yang anda kutip baru kemudian akan saya tanggapi.</p>
<p style="text-align:center;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">***********************</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong>RIAN</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20157">Oktober 16, 2011 at 8:26 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@Sp….</p>
<p style="text-align:justify;">Just curios…Apakah hadits hadits ttg keutamaan Ahlul bait dilemahkan selama ini dgn modus seperti ini. dilemahkan dgn pernyataan yg tdk berdasar atau mengatasnakan Jarh pada satu ulama Hadits padahal tdk ada dalam kitabnya.</p>
<p style="text-align:justify;">selain modus lain dengan menjarh karena mereka mencintai Ahlul bait..? sorry OOT hihihiihihii</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*********************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/#comment-20165">Oktober 17, 2011 at 11:51 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@Rian</p>
<blockquote><p>Just curios…Apakah hadits hadits ttg keutamaan Ahlul bait dilemahkan selama ini dgn modus seperti ini. dilemahkan dgn pernyataan yg tdk berdasar atau mengatasnakan Jarh pada satu ulama Hadits padahal tdk ada dalam kitabnya.</p>
<p>selain modus lain dengan menjarh karena mereka mencintai Ahlul bait..? sorry OOT hihihiihihii</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Yah macam-macam modus mereka kan tergantung orangnya tetapi kalau yang dibicarakan adalah orang yang sedang diskusi tidak langsung dengan saya seperti efendi farid dan nashibi lainnya mereka suka melemahkan hadis keutamaan ahlul bait hanya dengan mengutip jarh ulama terhadap perawinya. Padahal hampir sebagian besar perawi bahkan perawi shahih pasti ada saja ternukil ulama yang menjarh-nya. Mereka ingin hadis shahih itu perawinya adalah perawi yang “zero jarh-nya”</p>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Modus lain adalah mereka suka mengkritik sanad hadis satu-satu seolah-olah hadis-hadis tersebut terpisah satu dengan lainnya sehingga jika setiap sanad tidak ada satupun yang selamat dari kritik maka dhaiflah hadis tersebut. Ini penyakit khas mereka kaum nashibi, kaidah seperti ini tidak ada dalam ilmu hadis. Hadis dengan pembahasan atau matan yang sama harus dikumpulkan jalan-jalannya walaupun tiap jalan mengandung kelemahan tetap dinilai apakah kelamahan itu saling menguatkan sehingga kedudukannya bisa terangkat menjadi hasan atau shahih sehingga dalam ilmu hadis dikenal istilah hasan lighairihi dan shahih lighairihi</p>
<p style="text-align:center;" align="justify"><span style="color:#ff0000;">******************</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><strong><span style="color:#800000;">Komen dan diskusi selanjutnya silahkan berkunjung langsung</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comments" target="_blank">KESINI</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em><br />
</em></strong></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***********************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#000080;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li style="text-align:justify;"><a href="../2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/21/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait-2/" target="_blank">Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait</a></li>
<li style="text-align:justify;"><a href="../2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/pengantar-jawaban-untuk-sdr-jakfar-maaf-maaf-perhatian-sebelumnya/" target="_blank">Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya</a></li>
<li style="text-align:justify;"><a href="../2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</a></li>
<li style="text-align:justify;"><a href="../2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</a></li>
<li style="text-align:justify;"><a href="../2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</a></li>
<li style="text-align:justify;"><a href="../2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)</a></li>
<li style="text-align:justify;"><a href="../2011/10/25/2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)</a></li>
<li style="text-align:justify;"><a href="../2011/10/25/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir)</a></li>
<li style="text-align:justify;"><a href="../2011/10/25/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kekhalifahan-sunni/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kekhalifahan Sunni)</a></li>
<li style="text-align:justify;"><a href="../2011/10/25/2011/10/25/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-12-khalifah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis 12 Khalifah)</a></li>
<li style="text-align:justify;"><a href="../2011/10/25/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/" target="_blank">Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">___________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN <a href="http://secondprince.wordpress.com/2009/07/05/kedudukan-hadis-%E2%80%9Cali-khalifah-setelah-nabi-saw%E2%80%9D/#comments" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">-KLIK DISINI-</span></a></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/934/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/934/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/934/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/934/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/934/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/934/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/934/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/934/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/934/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/934/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/934/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/934/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/934/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/934/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=934&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/29/kedudukan-hadis-%e2%80%9cali-khalifah-setelah-nabi-saw%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:roll:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:roll:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:roll:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:roll:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:P</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:roll:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:lol:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:P</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308975618g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1305259314g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1305259314g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1305259314g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1305259314g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Khalifah Abu Bakar Dan Umar Di Mata Imam Bukhari Dan Muslim (Kasus Fadak)</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/27/khalifah-abu-bakar-dan-umar-di-mata-imam-bukhari-dan-muslim-kasus-fadak/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/27/khalifah-abu-bakar-dan-umar-di-mata-imam-bukhari-dan-muslim-kasus-fadak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 10:01:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fadak]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Salafy-Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Penyimpangan Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Syubuhat Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=936</guid>
		<description><![CDATA[Khalifah Abu Bakar dan Umar Di Mata Imam Bukhari dan Muslim (Kasus Fadak) SUMBER: jakfari.wordpress.com Oleh: Ibnu Jakfari Di Mata Imam Ali as. Dan Abbas ra. Abu Bakar Dan Umar adalah Pembohong, Pendosa, Penipu dan Pengkhianat! Pendahuluan: Di antara perkara menarik untuk dikaji adalah sikap dan penilaian Imam Bukhari dan Imam Muslim terhadap kedudukan Abu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=936&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Khalifah Abu Bakar dan Umar Di Mata Imam Bukhari dan Muslim (Kasus Fadak)</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER</span>: <a href="http://jakfari.wordpress.com/2009/06/16/khalifah-abu-bakar-umar-di-mata-imam-bukhari-muslim/" target="_blank">jakfari.wordpress.com</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>Oleh: Ibnu Jakfari</strong></span><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Di Mata Imam Ali as. Dan Abbas ra. Abu Bakar Dan Umar adalah Pembohong, Pendosa, Penipu dan Pengkhianat!</strong><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pendahuluan:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara perkara menarik untuk dikaji adalah sikap dan penilaian Imam Bukhari dan Imam Muslim terhadap kedudukan Abu Bakar dan Umar. Mengakaji sikap dan pandangan mereka terhadap kedua tokoh sahabat itu dapat ditelusuri melalui hadis-hadis/riwayat-riwayat yang mereka abadikan dalam kitab Shahih mereka setelah menyeleksinya dari ratusan ribu hadis shahih yang mereka berdua hafal atau riwayatkan dari syeikh-syeikh/guru-guru mereka berdua!</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kajian ini pembaca kami ajak meneliti sikap Imam Bukhari dan Muslim terhadap Abu Bakar dan Umar, baik di masa hidup Nabi saw. ataupun setelah wafat beliau dalam sikap mereka ketika menjabat sebagai Khalifah! <span id="more-936"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sengketa Antara Abu Bakar dan Fatimah as. –Putri Tercinta Rasulullah saw. –</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di antara lembaran hitam sejarah umat Islam yang tak dapat dipungkiri adalah terjadinya sengketa antara Fatimah as. –selaku ahli waris Nabi saw.<strong>– </strong>dan Abu Bakar selaku penguasa terkait dengan tanah Fadak dan beberapa harta waris yang ditinggalkan Nabi saw.</p>
<p style="text-align:justify;">Menolak adanya sengketa dalam masalah ini bukan sikap ilmiah! Ia hanya sikap pengecut yang ingin lari dari kenyataan demi mencari keselamatan dikarenakan tidak adanya keberanian dalam menentukan sikap membela yang benar dan tertindas dan menyalahkan yang salah dan penindas!</p>
<p style="text-align:justify;">Data-data akurat telah mengabadikan sengketa tersebut! Karena deras dan masyhurnya kenyataaan itu sehingga alat penyaring Imam Bukhari dan Muslim tak mampu menyaringnya! Atau bisa jadi <em>sangking</em> shahihnya hadis tentangnya sehingga <span style="color:#0000ff;">Imam Bukhari dan Muslim</span> –sebagai penulis kitab hadis paling selektif pun- menshahihkannya dan kemudian mengoleksinya dalam kedua kitab hadis Shahih mereka!</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kali ini kami tidak hendak membicarakan kasus sengketa tanah Fadak secara rinci. Akan tetapi kami hanya akan menyoroti “argumentasi dadakan” yang diajukan Abu Bakar secara spontan demi melegalkan perampasan tanah Fadak! Argumentasi Abu Bakar tersebut adalah “hadis Nabi” yang kemudian menjadi sangat masyhur di kalangan para pembela Abu Bakar! Hadis tersebut adalah hadis<em> “Kami para nabi tidak diwarisi, apa-apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”<a href="http://jakfari.wordpress.com/2009/06/16/khalifah-abu-bakar-umar-di-mata-imam-bukhari-muslim/#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah dilontarkan pertama kali oleh Abu Bakar secara dadakan di hadapan argumentasi qur’ani yang diajukan putri kenabian; Fatimah az Zahra as., hadis itu menerobos mencari posisi sejajar dengan sabda-sabda suci Nabi saw. lainnya. Tidak penting sekarang bagi kita untuk menyimak penilaian para pakar hadis atau lainnya tentang status hadis tersebut! Apakah ia benar sabda suci Nabi saw. atau ia sekedar akala-akalan Abu Bakar saja demi melegetimasi perampasan tanah Fadak!</p>
<p style="text-align:justify;">Yang penting bagi kita sekarang bagaimana sikap Imam Ali as. dalam menyikapi Abu Bakar yang membawa-bawa nama Nabi saw. dalam hadis itu!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Abu Bakar<em> Kâdzib</em>!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Imam Bukhari dan Imam Muslim keduanya melaporkan dengan beberapa jalur yang meyakinkan bahwa segera setalah Abu Bakar melontarkan hadis itu dan dengannya ia melegalkan perampasan tanah Fadak, Imam Ali as. menegaskan bahwa Abu Bakar telah berbohong atas nama Rasulullah saw. dalam hadis tersebut!</p>
<p style="text-align:justify;">Di bawah ini kami sebutkan hadis panjang riwayat Bukhari dan Muslim yang melaporkan pengaduan/sengketa antara Abbas dan Imam Ali as. di hadapan Umar –semasa menjabat sebagai Khalifah:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">فلما توفي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم قال أبو بكر: أنا وليُّ رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم، فجئتما تطلب ميراثك كن ابن أخيك و يطلب هذا ميراث إمرأته من أبيها فقال أبو بكر: قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال: ما نورث ما تركنا صدقة! <strong><span style="color:#ff0000;">فرأيتماه كاذبا آثما غادرا خائنا</span> والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق</strong><strong> </strong><strong>…..</strong><strong> </strong></h2>
<p style="text-align:justify;">“… Dan ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berkata, ‘Aku adalah walinya Rasulullah, lalu kalian berdua (Ali dan Abbas) datang menuntut warisanmu dari anak saudaramu dan yang ini menuntut bagian warisan istrinya dari ayahnya. Maka Abu Bakar berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda:<em> “Kami tidak diwarisi, apa- apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah.”</em>,<span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"> lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat.</span> Demi Allah ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran. Kemudian Abu Bakar wafat dan aku berkata, ‘Akulah walinya Rasulullah saw. dan walinya Abu Bakar, lalu<span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"> kalian berdua memandangku sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat</span>…. “ (HR. Muslim, Kitab <em>al Jihâd wa as Sair</em>, Bab<em> Hukm al Fai’</em>,5/152)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Imam Bukhari Merahasiakan Teks Sabda Nabi saw.!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hadis shahih di atas jelas sekali ditegaskan bahwa Imam Ali as. dan Abbas ra. paman Nabi saw. telah menuduh Abu Bakar dan Umar yang merampas seluruh harta warisan Nabi saw. dari ahli waris beliau dengan membawa-bawa hadis palsu atas nama Nabi saw. sebagai:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pembohong/<em>Kâdziban</em>.</li>
<li>Pendosa/<em>Atsiman</em>.</li>
<li>Penipu/<em>Ghadiran</em>.</li>
<li>Pengkhianat/<em>Khâinan</em>.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Kenyataan ini sangat lah jelas, tidak ada peluang untuk dita’wilkan dengan makna-makna pelesetan yang biasa dilakukan sebagian ulama ketika berhadapaan dengan redaksi yang agak semu! Karenanya Imam Bukhari dengan terpaksa, -agar kaum awam, mungkin termasuk Anda yang sedang membaca artikel ini tidak menodai kesucian fitrahnya dengan mengetahui kenyataan mengerikan ini; yaitu kejelekan pandangan Imam Ali as. dan Abbas ra. terhadap Abu Bakar dan Umar-<span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"> maka ia (Bukhari) merahasiakan data yang dapat mencoreng nama harum Abu Bakar dan Umar!</span></p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin niat Imam Bukhari baik! Demi menjaga kemantapan akidah Anda agar tidak diguncang oleh <em>waswasil khanâs</em>!</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika sampai redaksi ini:</p>
<blockquote>
<h2 style="text-align:right;">…. ثم توفى الله نبيه ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فقال ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏أنا ولي رسول الله فقبضها ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏يعمل فيها بما عمل به فيها رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأنتما حينئذ وأقبل على ‏ ‏علي ‏ ‏وعباس ‏ ‏<span style="color:#ff0000;">تزعمان أن ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏كذا وكذا</span> والله يعلم أنه فيها صادق بار راشد تابع للحق ثم توفى الله ‏ ‏أبا بكر ‏ ‏فقلت أنا ولي رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأبي بكر ‏ ‏فقبضتها سنتين أعمل فيها بما عمل رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وأبو بكر ‏ ‏ثم جئتماني وكلمتكما واحدة وأمركما جميع جئتني تسألني نصيبك من ابن أخيك وأتى هذا يسألني نصيب امرأته من أبيها فقلت إن شئتما دفعته إليكما على أن عليكما عهد الله وميثاقه لتعملان فيها بما عمل به رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وبما عمل به فيها ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏وبما عملت به فيها منذ وليتها وإلا فلا تكلماني فيها فقلتما ادفعها إلينا بذلك فدفعتها إليكما بذلك أنشدكم بالله هل دفعتها إليهما بذلك فقال الرهط نعم قال فأقبل على ‏ ‏علي ‏ ‏وعباس ‏ ‏فقال أنشدكما بالله هل دفعتها إليكما بذلك قالا نعم قال أفتلتمسان مني قضاء غير ذلك فوالذي بإذنه تقوم السماء والأرض لا أقضي فيها قضاء غير ذلك حتى تقوم الساعة فإن عجزتما عنها فادفعاها فأنا أكفيكماها ‏</h2>
<p style="text-align:justify;"><em>… lalu kalian berdua memandangnya sebagai pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat,</em> Imam Bukhari –dan tentunya setelah shalat dua rakaat mencari wangsit dari Allah SWT. ia menghapus redaksi tersebut dan mengantinya dengan: <em><span style="color:#ff0000;">lalu kalian berdua memandangnya sebagai begini dan begitu! &#8230;&#8230;&#8230;.</span><a href="http://jakfari.wordpress.com/2009/06/16/khalifah-abu-bakar-umar-di-mata-imam-bukhari-muslim/#_ftn2"><strong>[2]<br />
</strong></a></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>(HR. Bukhari,6/191, <em>Kitab an Nafaqât</em>/Nafkah, Bab<em> Habsu ar Rajuli Qûta Sanatihi</em>/ Seorang menahan kebuhutan pangan setahunya)</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah teka teki yang pasti membuat Anda bertanya-tanya, apa ya seperti itu dahulu ketika Umar mengatakannya?!</p>
<p style="text-align:justify;">Dan dalam banyak tempat lainnya, secara total Imam Bukahri menghapus penegasan sikap Imam Ali as. dan Abbas ra., ia tidak menyebut-nyebutnya sama sekali! Seperti dalam:</p>
<p style="text-align:justify;">1)      Bab <em>Fardhu al Khumus</em>/Kewajiban Khumus,4/44.</p>
<p style="text-align:justify;">2)      Kitab <em>al Maghâzi</em>/peperangan, Bab Hadîts Bani an Nadhîr,5/24.</p>
<p style="text-align:justify;">3)      Kitab<em> al Farâidh</em>/warisan, Bab <em>Qaulu an Nabi saw. Lâ Nûrats Mâ Taraknahu Shadaqah</em>/Kami tidak diwarisi, apa yang kami tinggalkan adalah shadaqah,8/4.</p>
<p style="text-align:justify;">4)      Kitab <em>al I’tishâm</em>/berpegang teguh, Bab <em>Mâ Yukrahu min at Ta’ammuq wa at Tanâzu’</em>/larangan berdalam-dalam dan bersengketa,8/147.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi sayangnya, Imam Bukhari masih meninggalkan jejak dan dapat menjadi petunjuk yaitu pembelaan Umar atas dirinya dan juga atas Abu Bakar! Bukhari menyebutkan kata-kata Umar: <em>Allah mengetahui bahwa ia adalah seorang yang jujur, bakti, terbimbing dan mengikuti kebenaran!</em> Dan kata-kata itu dapat menjadi petunjuk awal bahwa apa yang dikatakan Ali dan Abbas paling tidak kebalikan darinya atau yang mendekati kebalikan darinya! Sebab apa latar belakang yang mengharuskan Umar mengatakan kata-kata tersebut andai bukan karena adanya tuduhan Ali dan Abbas ra. atas Abu Bakar dan Umar?!</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Para</strong><strong> Pensyarah Bukhari Membongkar Apa Yang Dirahasiakannuya!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi, kendati demikian para pensyarah Shahih Bukhari, seperti Khatimatul Huffâdz; <span style="color:#0000ff;">Ibnu Hajar al Asqallan</span>i membongkar apa yang dirahasiakan Bukhari!<a href="http://jakfari.wordpress.com/2009/06/16/khalifah-abu-bakar-umar-di-mata-imam-bukhari-muslim/#_ftn3">[3]</a> Maka gugurlah usaha Bukhari agar kaum Muslimin tidak mengetahui kenyataan pahit di atas! Dan ini adalah salah satu bukti keunggulan kebenaran/<em>al Haq</em>! Betapa pun ditutup-tutupi tetap Allah akan membongkarnya!<strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#800000;"><strong>Ibnu Jakfari Berkata:</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kesempatan ini kami tidak akan memberikan komentar apa-apa! Sepenuhnya kami serahkan kepada para ulama, pemikir, cendikiawan dan santri Ahlusunnah wal Jama’ah untuk menentukan sikap dan tanggapanya atas sikap Imam Ali as. dan Abbas ra. terhadap Abu Bakar dan Umar!</p>
<p style="text-align:justify;">Kami hanya hendak mengatakan kepada pembaca yang terhormat: Jika ada bertanya kepada Anda, jika Imam Ali as. benar-benar telah mengetahui bahwa hadis yang disampaikan Abu Bakar itu benar sabda Nabi suci saw., mungkinkah Ali as. menuduh Abu Bakar berbohong?!</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkinkah Ali as. –sebagai pintu kota ilmu Nabi saw.- tidak mengatahui sabda itu? Bukankah yang lebih pantas diberitahu Nabi saw. adalah Ali dan Fatimah? Lalu mengapakah mereka berdua tidak diberi tahu hukum itu, sementara Abu Bakar yang bukan apa-apa; bukan ahli waris Nabi saw. diberi tahu?</p>
<p style="text-align:justify;">Anggap Imam Ali as.dan Abbas ra. tidak diberti tahu oleh Nabi saw. dan Abu Bakar lah yang diberi tahu, pantaskah Imam Ali as. membohongkan sesuatu yang belum ia ketahui? Bukankah sikap arif menuntut Ali agar berhati-hati dalam mendustakan sabda suci Nabi saw. dengan mencari tahu, dari para sahabat lain?! Namun mengapa, hingga zaman Umar berkuasa pun Ali as. dan Abbas ra. masih saja tetap pada pendiriannya bahwa Abu Bakar berbohong dalam meriwayatkan hadis Nabi saw. tersebut!!</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah dengan mencantumkan riwayat-riwayat seperti itu dalam kedua kitab Shahihnya, <em>Syeikhân</em> (khususnya Imam Muslim) hendak mengecam dan menuduh Abu Bakar dan Umar sebagai: <strong>pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat</strong>?</p>
<p style="text-align:justify;">Atau jangan-jangan kitab nomer wahid kaum Ahlusunnah ini telah tercemari dengan kepalsuan kaum Syi’ah Rafidhah?!</p>
<p style="text-align:justify;">Kami dapat memaklumi bahwa dengan riwayat-riwayat shahih seperti di atas saudara-saudara kami Ahlusunnah dibuat repot dan kebingungan menetukan sikap!</p>
<p style="text-align:justify;">(A)     Apakah harus menuduh Imam Bukhari dan Muslim telah mengada-ngada dan memalsu hadis? Dan itu artinya kesakralan kitab Shahih Bukhari dan Muslim akan runtuh dengan sendirinya!!</p>
<p style="text-align:justify;">(B)      Atau menerima keshahihan hadis-hadis shahih yang diriwayatkan dari banyak jalur di atas dan itu artinya Abu Bakar dan Umar di mata Imam Ali as. dan Abbas ra. adalah:<strong> pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat</strong>!! Maka jika demikian adanya, mungkinkah para imam dan tokoh ulama dari keturunan Imam Ali as. akan menyanjung Abu Bakar dan Umar, meyakininya sebagai dua imam pengemban hidayah, sebagai <em>Shiddîq</em> dan<em> Fârûq</em> dan memandang keduanya dengan pandangan yang berbeda dengan ayah mereka?</p>
<p style="text-align:justify;">(C)     Atau menuduh Ali as. dan Abbas ra. sebagai telah menyimpang dari kebenaran dan mengatakan sebuah kepalsuan tentang Abu Bakar dan Umar ketita menuduh keduanya sebagai<strong> pembohong, pendosa, penipu dan pengkhianat</strong>?</p>
<p style="text-align:justify;">(D)     Atau jangan-jangan para ulama Ahlusunnah telah meramu sebuah formula khusus yang akan memberi mereka jalan keluar yang aman?!</p>
<p style="text-align:justify;">(E)      Atau sebagian ulama Ahlusunnah akan menempuh jalan pintas dengan  membuang redaksi tersebut dari hadis shahih itu, <em>tawarru’an</em>/sebagai bukti kewara’an, seperti yang dilakukan Bukhari dan sebagian lainnya.<a href="http://jakfari.wordpress.com/2009/06/16/khalifah-abu-bakar-umar-di-mata-imam-bukhari-muslim/#_ftn4">[4]</a> Dan tentunya ini adalah sebuah cara aman untuk keluar dari kemelut yang mengguncang kemapanan doqma mazhab! Hadis seshahih apapun harus disinggkirkan dari arena jika membuat repot para Pembela Mazhab dan akan membukakan pintu keresahan kaum awam atau bahkan setengah awam, setengah alim!</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga Allah memberi kemudahan bagi saudara-saudara kami Ahlusunnah untuk menumukan jalan keluar ilmiah yang bertanggung jawab dari kemelut di atas.<em> Amîn Ya Rabbal Alamîn</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<hr size="1" />
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/2009/06/16/khalifah-abu-bakar-umar-di-mata-imam-bukhari-muslim/#_ftnref1">[1]</a><span style="text-decoration:underline;">Para ulama Ahlusunnah sendiri menegaskan bahwa hanya Abu Bakar seorang yang meriwayatkan ucapan itu atas nama Nabi saw.</span>! Tidak seorang pun dari sahabat atau Ahlulbait Nabi saw. yang pernah mendengar hadis itu dari Nabi saw.! Semenatara Fatimah –putri tercita Nabi saw.- tidak mengakuinya sebagai hadis, beliau menudh Abu Bakar telah berdusta atas nama Nabi saw. karenanya beliau as. tetap bersikeras menuntut hak waris beliau dari ayahnya. Demikian juga dengan Imam Ali dan Abbas, keduanya, seperti akan Anda ketahui di sini menuduh Abu Bakar telah berdusta atas nama Nabi saw.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/2009/06/16/khalifah-abu-bakar-umar-di-mata-imam-bukhari-muslim/#_ftnref2">[2]</a> Demi meringkas tulisan ini, sengaja kami tidak cantumkan riwayat secara lengkap dan tidak juga terjemahkan secara total potongan hadis di atas!</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/2009/06/16/khalifah-abu-bakar-umar-di-mata-imam-bukhari-muslim/#_ftnref3">[3]</a> Fathu al Bâri, ketika menysarahi hadis tersebut pada Bab Kewajiban Khumus,13/238.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://jakfari.wordpress.com/2009/06/16/khalifah-abu-bakar-umar-di-mata-imam-bukhari-muslim/#_ftnref4">[4]</a> Baca syarah Shahih Muslim oleh Imam Nawawi,12/72.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************</span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;color:#000080;"><strong>ARTIKEL TERKAIT TENTANG “FADAK”</strong></span></p>
<ol>
<li><a href="../2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2009/07/13/analisis-riwayat-fadak-antara-sayyidah-fatimah-az-zahra-as-dan-abu-bakar-ra/" target="_blank">Analisis Riwayat Fadak Antara Sayyidah Fatimah Az-Zahra AS Dan Abu Bakar RA.</a> Fadak 1</li>
<li><a href="../2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2009/07/13/menolak-keraguan-seputar-riwayat-fadak/" target="_blank">Menolak Keraguan Seputar Riwayat Fadak</a> Fadak 2</li>
<li><a href="../2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2009/07/13/tanggapan-makna-hadis-tanah-fadak/" target="_blank">Tanggapan Tulisan ”Makna Hadis Tanah Fadak”</a> Fadak 3</li>
<li><a href="../2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2009/07/13/penyimpangan-kisah-fadak-oleh-situs-hakekat-com/" target="_blank">Penyimpangan Kisah Fadak Oleh Situs Hakekat.Com</a> Fadak 4</li>
<li><a href="../2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2009/07/13/imam-ali-berselisih-dengan-abu-bakar-dalam-masalah-fadak/" target="_blank">Imam Ali Berselisih Dengan Abu Bakar Dalam Masalah Fadak</a> Fadak 5</li>
<li><a href="../2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2009/07/13/bantahan-atas-situs-hakekat-com-tidak-shahih-abu-bakar-meminta-maaf-pada-sayyidah-fatimah/" target="_blank">Bantahan Atas Situs Hakekat.Com: “Tidak Shahih Abu Bakar Meminta Ma’af Pada Sayyidah Fatimah”</a> Fadak 6</li>
<li><a href="../2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2009/07/13/kedudukan-hadis-%E2%80%9Crasulullah-saw-memberikan-fadak-pada-sayyidah-fathimah-as%E2%80%9D/" target="_blank">Kedudukan Hadis “Rasulullah SAW Memberikan Fadak Pada Sayyidah Fathimah AS”</a> Fadak 7</li>
<li><a href="../2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/apakah-ali-dan-abbas-mendengar-dari-rasulullah-hadis-nabi-tidak-mewariskan/" target="_blank">Apakah Ali dan Abbas Mendengar dari Rasulullah Hadis Nabi Tidak Mewariskan?</a> Fadak 8</li>
<li><a href="../2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/ternyata-tidak-semua-peninggalan-rasulullah-saw-menjadi-sedekah/" target="_blank">Ternyata Tidak Semua Peninggalan Rasulullah SAW Menjadi Sedekah?</a> Fadak 9</li>
<li><a href="../2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/anomali-salafy-yang-berhujjah-dengan-hadis-%E2%80%98amru-bin-al-haarits-tentang-fadak/" target="_blank">Anomali Salafy Yang Berhujjah Dengan Hadis ‘Amru bin Al Haarits (Tentang Fadak)</a> Fadak 10</li>
<li><a href="../2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/2011/06/25/analisis-terhadap-athiyyah-al-%E2%80%98aufi/" target="_blank">Analisis Kredibilitas Athiyyah Al ‘Aufi </a> Hadis tsaqolain &amp; Fadak 11</li>
<li><a href="../2011/08/06/2011/08/06/2011/08/06/apakah-ali-dan-abbas-menerima-hadis-abu-bakar-dan-umar-tentang-warisan-nabi-bantahan-atas-alfanarku/" target="_blank">Apakah Ali dan Abbas Menerima Hadis Abu Bakar dan Umar Tentang Warisan Nabi: Bantahan Atas Alfanarku</a> Fadak 12</li>
<li><a href="../2011/08/06/anomali-hadis-abu-bakar-tentang-warisan-nabi/" target="_blank">Anomali Hadis Abu Bakar Tentang Warisan Nabi?</a> Fadak 13</li>
<li><a href="../2011/08/06/anomali-hadis-abu-bakar-anomali-bantahan-nashibi/" target="_blank">Anomali Hadis Abu Bakar : Anomali Bantahan Nashibi (Bantahan Untuk Alfanarku)</a> Fadak 14</li>
</ol>
<p>___________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN <a href="http://jakfari.wordpress.com/2009/06/16/khalifah-abu-bakar-umar-di-mata-imam-bukhari-muslim/" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">-KLIK DISINI-</span></a></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/936/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/936/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/936/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/936/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/936/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/936/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/936/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/936/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=936&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/27/khalifah-abu-bakar-dan-umar-di-mata-imam-bukhari-dan-muslim-kasus-fadak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/25/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/25/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 14:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhail Imam Ali as.]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Abu Jauzah]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Al Fanarku]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Salafy-Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Menjawab Blog -haulasyiah-]]></category>
		<category><![CDATA[Syubuhat Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=880</guid>
		<description><![CDATA[Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar Menanggapi komentar seseorang dalam tulisan saya Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah) maka dengan ini saya nyatakan saya akan berusaha menampilkan tulisan yang akan memperjelas Shahihnya pernyataan Ayat Al Wilayah Al Maidah Ayat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=880&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;">Menanggapi komentar seseorang dalam tulisan saya <a title="komentar pengikut sunnah" href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/#comment-2034" target="_blank"><em>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</em> </a>maka <em>dengan ini saya nyatakan</em> saya akan berusaha menampilkan tulisan yang akan memperjelas <em>Shahihnya pernyataan Ayat Al Wilayah Al Maidah Ayat 55 Turun Untuk Imam Ali.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ayat yang dimaksud adalah <span id="more-880"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya Waliy kamu hanyalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka Ruku’ (kepada Allah).</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalau terjemahan versi Departemen Agama adalah sebagai berikut</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya Penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka Tunduk (kepada Allah).</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ayat di atas diturunkan untuk Imam Ali AS sehubungan dengan peristiwa dimana Beliau memberikan sedekah kepada seorang peminta-minta ketika sedang ruku’ dalam shalat. Ada banyak hadis yang menjelaskan tentang <em>Asababun Nuzul</em> ayat ini . Di antara hadis-hadis tersebut ada yang shahih dan dhaif ,walaupun begitu As Suyuthi salah seorang Ulama Ahlus Sunnah dalam Kitabnya <em>Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul</em> menyatakan bahwa sanad hadis tersebut saling kuat-menguatkan. Berikut ini saya akan menampilkan salah satu hadis shahih tentang Asbabun Nuzul ayat tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><em>Hadis Shahih Dalam Tafsir Ibnu Katsir</em></strong></em><br />
Dalam kitab <em>Tafsir Ibnu Katsir</em> jilid 5 hal 266 Al Maidah ayat 55 diriwayatkan dari Ibnu Mardawaih dari Sufyan Ats Tsauri dari Abi Sinan dari Dhahhak bin Mazahim dari Ibnu Abbas yang berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>“ketika Ali memberikan cincinnya kepada peminta-minta selagi Ia Ruku’ maka turunlah ayat “Sesungguhnya Waliy kamu hanyalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka Ruku’.”(Al Maidah 55).</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hadis ini diriwayatkan oleh perawi-perawi yang dikenal tsiqah. Walaupun begitu Ibnu Katsir mencacatkan hadis ini karena menurutnya Ad Dhahhak tidak bertemu dengan Ibnu Abbas jadi hadis tersebut Munqathi<em>(terputus sanadnya).</em><br />
Menurut kami pernyataan Ibnu Katsir tersebut keliru, Ad Dhahhak mendengar dari Ibnu Abbas. Berikut adalah sedikit analisis mengenai sanad Ad Dhahhhak dari Ibnu Abbas.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ad Dhahhak bertemu dengan Ibnu Abbas</em></strong><br />
Dalam kitab <em>As Saghir</em> Al Bukhari dan <em>Tarikh Al Kabir</em> jilid 4 hal 332 Bukhari menyatakan bahwa Ad Dhahhak meninggal tahun 102 H, ada yang mengatakan tahun 105 H dan usianya telah mencapai 80 tahun. Sedangkan Ibnu Abbas meninggal tahun 68 H atau 70 H sebagaimana yang dikatakan Al Bukhari dalam <em>Tarikh Al Kabir</em> jilid 5 hal 3. Hal ini menunjukkan bahwa Ad Dhahhak lahir tahun 22 H atau 25 H sehingga beliau satu masa dengan Ibnu Abbas dan ketika Ibnu Abbas meninggal usia Ad Dhahhak mencapai lebih kurang 45 tahun. Adanya kemungkinan bertemu dan satu masa ini sudah cukup untuk menyatakan bahwa sanad Ad Dhahhak dari Ibnu Abbas adalah bersambung<em>(muttasil) </em>dan tidak terputus<em>(munqathi).</em> Persyaratan ketersambungan sanad dengan dasar <em>perawi-perawi tsiqah tersebut dalam satu masa </em>adalah kriteria yang ditetapkan Imam Muslim dalam kitab hadisnya <em>Shahih Muslim</em>. Maka berdasarkan Syarat Imam Muslim, Adh Dhahhak yang tsiqah satu masa dengan Ibnu Abbas maka sanad Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas adalah bersambung atau muttasil.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Alasan Ulama Menyatakan Inqitha’ Sanad Adh Dhahhak Dari Ibnu Abbas</em></strong><br />
Lantas Mengapa ada ulama seperti Ibnu Katsir menyatakan bahwa sanad Ad Dhahhak dari Ibnu Abbas adalah terputus atau munqathi?. Hal ini dikarenakan adanya riwayat dalam Kitab <em>Jarh Wat Ta’dil Ibnu Abi Hatim</em> jilid 4 no 2024 dari Abdul Malik bin Abi Maysarah yang berkata Ia pernah bertanya kepada Adh Dhahhak <em>“Apakah kamu mendengar sesuatu dari Ibnu Abbas?”</em>. Adh Dhahhak menjawabnya tidak. Abdul Malik kemudian bertanya <em>“Jadi dari mana kamu ambil cerita yang kamu katakan dari Ibnu Abbas?”.</em> Adh Dhahhak menjawab <em>dari fulan dan dari fulan<br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kritik Terhadap Inqitha’ Sanad Ad Dhahhak Dari Ibnu Abbas</em></strong><br />
Alasan tersebut tetap saja tidak menafikan bersambungnya sanad Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas dengan pertimbangan.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Hal ini karena terdapat riwayat yang lain, justru menyatakan bahwa Adh Dhahhak mendengar dari Ibnu Abbas. Ibnu Hajar dalam <em>Tahdzib At Tahdzib</em> jilid 4 hal 398 meriwayatkan dari Abu Janab Al Kalbi yang mendengar Ad Dhahhak berkata <em>“Aku menyertai Ibnu Abbas selama 7 tahun”.</em> Riwayat ini sudah jelas menyatakan bahwa Adh Dhahhak memang bertemu Ibnu Abbas apalagi dikuatkan oleh bahwa beliau memang satu masa dengan Ibnu Abbas.</li>
<li>Adh Dhahhak bin Muzahim Adalah seorang tabiin yang terkenal tsiqah dan amanah sedangkan riwayat Ibnu Abi Hatim berkesan beliau meriwayatkan hal yang ia dengar dari orang lain kemudian menisbatkannya kepada Ibnu Abbas tanpa mendengar sendiri dari Ibnu Abbas.</li>
<li>Riwayat Ibnu Abi Hatim tertolak<em>(dengan pertimbangan-pertimbangan di atas)</em> atau dapat saja diterima dengan pengertian bahwa apa yang dikatakan Adh Dhahhak itu berkaitan dengan beberapa hadis yang dinisbatkan kepada beliau dari Ibnu Abbas. Padahal beliau sendiri tidak mendengar riwayat itu langsung dari Ibnu Abbas.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Pernyataan Syaikh Ahmad Muhammad Syakir</em></strong><br />
Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam <em>Syarh Musnad Ahmad bin Hanbal</em> telah menolak pernyataan <em>Inqitha’(keterputusan) Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas.</em> Beliau menyatakan bahwa hal itu keliru dan beliau telah menshahihkan hadis dengan sanad Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas. Salah satunya tertera dalam <em>Musnad Ahmad bin Hanbal</em> jilid 3 Syarh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir catatan kaki hadis no 2262, dimana beliau berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em> “…Adh Dhahhak bin Muzahim AlHilali Abu Al Qasim adalah seorang tabiin, <strong>dia meriwayatkan dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan yang lainnya,</strong> dia orang yang tsiqah lagi amanah sebagaimana yang dinyatakan Ahmad. Sebagian mereka mengingkari mendengarnya Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas atau sahabat lainnya, demikian yang diisyaratkan Al Bukhari pada biografinya dengan ungkapan Humaid ‘mursal’. <strong>Mengenai hal ini banyak sekali catatan, bahkan hal itu keliru </strong>karena ia meninggal pada tahun 102 ada juga yang mengatakan tahun 105 dan usianya telah mencapai 80 tahun atau lebih…”.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua pertimbangan di atas menunjukkan bahwa yang paling kuat dalam hal ini adalah <em>bahwa sanad Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas adalah bersambung atau tidak terputus. </em>Dalam hal ini Ibnu Katsir keliru ketika mencacat hadis tersebut dan <em>derajat hadis tersebut sebenarnya shahih</em>. <em>Wallahu ‘Alam.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Salam Damai</em> <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1317676991g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p style="text-align:justify;">____________________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;"><strong><span style="text-decoration:underline;">BEBERAPA DISKUSI PENULIS DENGAN PEMBACA</span></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://watonist.wordpress.com/" rel="external nofollow">watonist</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comment-2079">April 22, 2008 at 3:05 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@As Sunnah<br />
jangan apriori duluan gitu lah …<br />
dalil boleh sama, pemahaman bisa beda … jadi kalau pengen didengar, ajukan saja pemahaman versi sampeyan <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" alt=":)" /></p>
<p style="text-align:justify;">saya termasuk orang yang kurang sreg jika ada yang tiba-tiba … ucluk … ucluk … ucluk … bilang si A pendusta, golongan B pendusta. adalah lebih elegan jika memang kita menemukan satu kesalahan, kita fokus pada kesalahan tersebut, jangan merembet kemana-mana.</p>
<p style="text-align:justify;">dan satu lagi, saya juga salah satu orang yang yakin “jika ada orang yang melakukan kesalahan” itu bukan semata-mata karena dia mencintai kesalahan tersebut, even orang yang jelas-jelas maling pun masih punya alibi atas ke-maling-annya, entah alasan ekonomi … entah alasan ikut-ikutan … dst, artinya apa ?!, “jelas, pada dasarnya dia tidak nyaman dengan tindakan menjadi maling tersebut”.</p>
<p style="text-align:justify;">maaf, saya nulisnya dengan mengedepankan hawa napsu (tanpa menukil dalil), jadi harap dimaklumi <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958029g" alt=":mrgreen:" /></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comment-2101">April 22, 2008 at 5:14 pm</a> said:</p>
<p style="text-align:justify;">@As Sunnah<br />
Saya memang mengutip Ulama ahlussunnah Mas, dan menurut saya. saya gak pake nafsu-nafsuan waktu nulisnya, kan Mas sendiri yang ngotot mau minta sanad yang shahih. sok atuh saya udah tampilkan, maaf kalau nggak puas.</p>
<blockquote><p>dari dulu rafidhah memang terkenal pendusta</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalau menurut saya ini gak nyambung Mas dengan tulisan saya. daripada sibuk dengan yang nggak nyambung lebih baik Mas bahas tulisan saya di atas<br />
salam</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***********************</span></p>
<p><strong>Muhibbin</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comment-2622">Juni 13, 2008 at 12:52 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">“<em> Dalam kitab As Saghir Al Bukhari dan Tarikh Al Kabir jilid 4 hal 332 Bukhari menyatakan bahwa Ad Dhahhak meninggal tahun 102 H, ada yang mengatakan tahun 105 H dan usianya telah mencapai 80 tahun. Sedangkan Ibnu Abbas meninggal tahun 68 H atau 70 H sebagaimana yang dikatakan Al Bukhari dalam Tarikh Al Kabir jilid 5 hal 3… </em>”</p>
<p style="text-align:justify;">Hahaha….<br />
Pantesan semua artikel di blog ini pada ngaco semua. Rujukannya banyak yang pake kitab al kabir yak, kitabnya para syiah.</p>
<p style="text-align:justify;">Mau taqiyah kok bahlul sie, masak mau bohong pake rujukan kitab sesat sendiiri. Ya ketahuan lha ^_^</p>
<p>Dasar syiah bin majusi amatiran ^_^</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">**********************</span></p>
<p><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comment-2640">Juni 13, 2008 at 4:40 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@Muhibbin</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hahaha….<br />
Pantesan semua artikel di blog ini pada ngaco semua. Rujukannya banyak yang pake kitab al kabir yak, kitabnya para syiah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maafkan Mas kalau kali ini Mas benar-benar salah besar, Kitab <em>Tarikh al Kabir</em> adalah Kitab karya Al Bukhari Mas, kok Mas bilang kitabnya para Syiah, heran sekali saya . Sejak kapan Bukhari jadi Syiah<br />
Apa ini Mas dapat dari Habib Mas? Kalau begitu maafkan kalau saya menyatakan tidak percaya dengan Mas yang katanya belajar dari Habib. Heran saja saya kalau ada Habib yang tidak tahu Kitab <em>Tarikh Al Kabir,</em> Al Bukhari. Hmm jangan-jangan memang begitu Habibnya Mas, wah sayang sekali saya gak jadi iri nih <img src="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958029g" alt=":mrgreen:" /></p>
<blockquote><p>Mau taqiyah kok bahlul sie, masak mau bohong pake rujukan kitab sesat sendiiri. Ya ketahuan lha ^_^</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">saya nggak pernah taqiyyah, jangan terlalu banyak menghina kalau Mas sendiri keliru besar. Kan sayang kalau merendahkan orang lain karena praduga dan keterbatasan ilmu. Mari belajar Mas dan gak perlu menghina <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>Dasar syiah bin majusi amatiran ^_^</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pakai menghina syiah pula, wah banyak sekali yang sudah anda hina</p>
<p style="text-align:justify;">***********************</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://www.echal.wordpress.com/" rel="external nofollow">al fakir</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comment-4059">Oktober 15, 2008 at 10:57 am</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">ga salah tuh, klo gitu imam ali batal donk sholatnya, klo gitu imam ali ga taat ma kewajibannya sendiri, yang benar aja bikin dalil</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">**********************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comment-4064">Oktober 15, 2008 at 5:40 pm</a> said:</p>
<p style="text-align:justify;">@al fakir<br />
pendapat saya shalatnya gak batal kok Mas, dalilnya sudah saya jelaskan disini, silakan dibaca<br />
<a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/" rel="nofollow"><em>Jawaban Buat Saudara Ja’far Tentang Ayat Al Wilayah</em></a><br />
Kalau anda kurang berkenan maka saya bisa kupipes salah satu</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">“Dari Abu Qatadah Al-Anshari berkata, ‘Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam mengimami shalat sedangkan Umamah binti Abi Al-’Ash, yaitu anak Zainab putri Nabi Shallallaahu alaihi wasallam berada di pundak beliau. Apabila beliau ruku’, beliau meletak-kannya dan apabila beliau bangkit dari sujudnya beliau kembalikan lagi Umamah itu ke pundak beliau.” (HR. Muslim)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya kira Rasulullah SAW adalah manusia yang paling paham soal batal atau tidaknya shalat. Silakan direnungkan <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" alt=":)" /></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">**************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>anti taqiyah ala syiah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comment-12726">Maret 11, 2010 at 1:02 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Anda bersikeras bahwa Adh-Dhahhak bertemu dgn Ibnu Abbas dgn alasan dia sudah bertetangga dgn Ibnu Abbas selama tujuh tahun? Riwayat siapa itu? Shahihkah riwayat yg menyatakan itu? Silahkan dijawab.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">**************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comment-12729">Maret 11, 2010 at 1:40 pm</a>said:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda bersikeras bahwa Adh-Dhahhak bertemu dgn Ibnu Abbas dgn alasan dia sudah bertetangga dgn Ibnu Abbas selama tujuh tahun? Riwayat siapa itu? Shahihkah riwayat yg menyatakan itu? Silahkan dijawab</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ah itu riwayat Abu Janab dan dia sendiri memang banyak pembicaraan terhadapnya ada yang menta’dilkannya dan ada pula yang menjarhnya. Silakan kalau anda mau berpegang pada mereka yang menjarhnya sedangkan saya menyatakan kalau jarh terhadapnya dikarenakan ia melakukan tadlis dan ini berlaku buat hadis-hadisnya sedangkan kesaksian Abu Janab Al Kalbi di atas bukan tentang hadis tetapi tentang riwayat kalau Dhahak bertetangga dengan Ibnu Abbas. btw sekalipun anda menolak riwayat ini dan menyatakan Dhahhak tidak bertemu dengan Ibnu Abbas tetap saja riwayat ini shahih karena Dhahhak mengambil tafsir Ibnu Abbas dari Sa’id bin Jubair yang dikenal tsiqah. Begitulah yang dikatakan oleh para ulama seperti Ahmad dan Ibnu Abi Hatim.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">**************************</span></p>
<p><strong>anti taqiyah ala syiah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comment-12732">Maret 11, 2010 at 4:42 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Andai tidak ada pernyataan dari Adh-Dhahhak sendiri bahwa dia tidak pernah mendengar dari Ibnu Abbas maka pernyataan Abu Janab itu masih bisa dipertimbangkan. Tapi persoalannya adalah karena bertentangan dgn pernyataan ADh-Dhahhak sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekiranya Adh-Dhhak tegas mengatakan bahwa dia mengambil tafsir surah Al-MAidah itu dari Sa’id bin Jubair maka hilanglah syubhat inqitha`, yg jadi soal karena dia tidak dgn tegas dari mana dia mengambil tafsir kali ini, bisa jadi dari sumber yg hanya katanya dan katanya…Bukankah untuk itulah kita mempelajari adanya ittishal dan inqitha’, kalau semuanya dianggap ittishal ya berarti tidak ada namanya inqitha’, sebab bisa jadi si Fulan mengambilnya dari Si Fulan yg tsiqah, sehingga ntuk menetapkan keshahihan riwyaat kita memakai metode “bisa jadi”.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comment-12739">Maret 12, 2010 at 12:07 am</a>said:</p>
<p>@anti taqiyah</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Andai tidak ada pernyataan dari Adh-Dhahhak sendiri bahwa dia tidak pernah mendengar dari Ibnu Abbas maka pernyataan Abu Janab itu masih bisa dipertimbangkan.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">kayaknya riwayat Abu Janab itu perkataan Adh Dhahhak juga deh. seharusnya kalau mau digabungkan masih bisa kok. Awalnya Adh Dhahhak tidak mendengar dari Ibnu Abbas tetapi di tahun2 terakhir hidupnya ia telah bertetangga dengn Ibnu Abbas selama 7 tahun. masih klop tuh <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tapi persoalannya adalah karena bertentangan dgn pernyataan ADh-Dhahhak sendiri.</p>
</blockquote>
<p align="justify">masih bisa dikompromikan tuh. Itu semua kan perkataan Adh Dhahhak.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sekiranya Adh-Dhhak tegas mengatakan bahwa dia mengambil tafsir surah Al-MAidah itu dari Sa’id bin Jubair maka hilanglah syubhat inqitha`,</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;" align="justify">Justru yang menyatakan inqitha’ itu adalah para ulama. dan para ulama juga menyatakan kalau Adh Dhahhak itu mengambil tafsir Ibnu Abbas dari Said bin Jubair. Kasus seperti ini kan mirip sekali dengan Tafsir Ali bin Abu Thalhah dari Ibnu Abbas. Para ulama tetap berpegang pada tafsir itu sekalipun Ali bin Abi Thalhah tidak bertemu dengan Ibnu Abbas karena para ulama menegaskan kalau ia mengambil tafsir dari Mujahid.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">yg jadi soal karena dia tidak dgn tegas dari mana dia mengambil tafsir kali ini, bisa jadi dari sumber yg hanya katanya dan katanya…</p>
</blockquote>
<p>tapi katanya katanya itu kata siapa <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bukankah untuk itulah kita mempelajari adanya ittishal dan inqitha’, kalau semuanya dianggap ittishal ya berarti tidak ada namanya inqitha’, sebab bisa jadi si Fulan mengambilnya dari Si Fulan yg tsiqah, sehingga ntuk menetapkan keshahihan riwyaat kita memakai metode “bisa jadi”.</p>
</blockquote>
<p align="justify">Secara umum memang begitu ilmu hadis, tetapi secara mendetail faktanya tidak selalu begitu. Saya kasih contoh adalah tentang mudallis. banyak tuh para ulama yang dikatakan mudallis tetapi ‘an ‘an ah mereka diterima karena mereka hanya mentadliskan sanad dari para perawi tsiqat atau hanya sedikit melakukan tadlis. Mereka tidak selalu menyebutkan siapa perawi dari hadis yang mereka tadliskan, yah namanya saja tadlis pasti sumbernya tidak jelas. Nah anehnya banyak tuh mudallis yang dijadikan hujjah, mereka ini yang kata Ibnu hajar masuk dalam kategori mudallis martabat pertama dan kedua. bahkan Imam Malik, Imam Bukhari, Yahya, Sufyan juga tidak lepas dari tadlis seperti ini.</p>
<p align="justify">Sama saja tuh dengan anggapan mereka sedikit melakukan tadlis lantas siapa yang bisa menjamin kalau hadis an an ah mereka bukan tadlis lha bisa jadi itu juga termasuk tadlis yang sedikit itu kan. Makany secara metodis para ulama tetap menjadikan riwayat mudallis martabat pertama dan kedua sebagai hujjah.</p>
<p align="justify">Begitu pula kasus inqitha’ yang dituduhkan pada Adh Dhahhak, para ulama menegaskan kalau Adh Dhahhak mengambil tafsir Ibnu Abbas dari Said bin Jubair, ini adalah petunjuk yang menguatkan keshahihan, bukan sekedar bisa jadi. Satu lagi saya kasih contoh, banyak <em>para perawi tsiqat bukan pentadlis</em> meriwayatkan hadis dari perawi tsiqat lain yangs semasa tetapi inqitha’. nah dari mana tahunya inqitha’ lagi-lagi dari perkataan ulama jarh wat ta’dil. terkadang ulama itu sendiri tidak hidup semasa dengan perawi tersebut tetapi perkataannya diterima. sama halnya dengan kasus Adh Dhahhak dari Ibnu Abbas, riwayatnya bisa diterima karena para ulama telah menetapkan bahwa Adh Dhahhak mengambil tafsir Ibnu Abbas dari Said bin Jubair. bukankah perkataan ulama itu dijadikan hujjah dalam perkara jarh wat ta’dil seperti ini.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>anti taqiyah ala syiah</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comment-12896">Maret 21, 2010 at 8:06 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">SP: erkadang ulama itu sendiri tidak hidup semasa dengan perawi tersebut tetapi perkataannya diterima.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu mengapa anda menolak penilaian Adz Dzahabi terhadap Ibnu Abi Darim, padahal Al Hafizh Ibnu Hajar pun telah menyetujui pernyataan Adz Dzahabi itu sehingga memasukkannya lagi tanpa membantah dalam Lisan Al Mizan??</p>
<p style="text-align:justify;">Bukankah cukup jelas bahwa Adz Dzahabi menukil itu dari Al Hakim dan Ibnu Ahma Al Kufi? Anda malah mempertanyakan sanadnya, bukankah anda sendiri yg mengatakan kepada Abu Al Jauza bahwa tak semua jarh wa ta’dil dari ulama mu’tabar itu butuh sanad??</p>
<p style="text-align:justify;">Tambahan lagi, Adz-Dzahabi mengindikasikan nukilannya dari Ibnu Hammad Al Kufi dari kitab, karena dia menyebutkan “setelah dia (Ibnu Hammad) menyebutkan tarikh wafatnya (Ibnu Abi Darim)….” dan bisa saja kitab itu tidak sampai kepada kita, betapa banyak kitab yg ada di tangan ulama seperti Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar yg tidak sampai kepada kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu tak satupun ulama setelah Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar yg menentang pernyataan mereka yg menganggap Ibnu Abi Darim itu rafidhi ghairu tsiqah atau kadzdzab. Andai mereka anggap salah tentu mereka sudah menentangnya.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*************************</span></p>
<p>@anti taqiyah ala syiah</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">SP: erkadang ulama itu sendiri tidak hidup semasa dengan perawi tersebut tetapi perkataannya diterima.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">lha iya toh, kalau hal begini mau pakai sanad bisa kacau balau ilmu hadis sekarang. tapi yang aneh itu kayaknya para ulama hadis itu berasa-rasa bangga bener sampai ada anekdot “sanad itu separuh dari agama” nyatanya biasa saja tuh, sebagai sebuah metode kaidah ilmu hadis gak “emas-emas amat” <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" alt=":)" /></p>
<blockquote><p>Lalu mengapa anda menolak penilaian Adz Dzahabi terhadap Ibnu Abi Darim,</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">kan sudah disebutkan sebelumnya kalau Adz Dzahabi itu mengalami tanaqudh. Kalau memang ia mencela Ibnu Abi Darim ngapain ia menyatakan Ibnu Abi Darim Al Hafizh Al Imam Fadhl, kalau ia mencela hadis-hadisnya Ibnu Abi Darim maka ngapain ia menshahihkan hadis-hadis Ibnu Abi Darim. Saya tanya anda nih, mengapa anda gak ikut Adz Dzahabi menshahihkan hadis-hadis Ibnu Abi Darim?</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">padahal Al Hafizh Ibnu Hajar pun telah menyetujui pernyataan Adz Dzahabi itu sehingga memasukkannya lagi tanpa membantah dalam Lisan Al Mizan??</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">lha itu berarti Ibnu Hajar dalam perkara ini hanya taklid semata kepada Adz Dzahabi dan kebanyakan memang begitulah, lisan al mizan biasanya cuma pengulangan mizan al itidal plus kalau ada keterangan lain.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bukankah cukup jelas bahwa Adz Dzahabi menukil itu dari Al Hakim dan Ibnu Ahma Al Kufi?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sepertinya saya sudah bahas masalah penukilan Al Hakim. Al Hakim sendiri dalam Al Mustadrak telah berhujjah dengan hadis Ibnu Abi darim yang merupakan gurunya sendiri. Jika Al Hakim menganggap Ibnu Abi Darim tidak tsiqah mengapa Al Hakim selalu menshahihkan hadis-hadis gurunya itu?. Disini saja kalau kita berpegang dengan metode yang benar maka apa yang dinyatakan Al Hakim dalam Al Mustadrak jelas lebih bernilai dibanding penukilan Adz Dzahabi yang jelas-jelas bertentangan dengan pernyataan Al Hakim sendiri.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anda malah mempertanyakan sanadnya, bukankah anda sendiri yg mengatakan kepada Abu Al Jauza bahwa tak semua jarh wa ta’dil dari ulama mu’tabar itu butuh sanad??</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Karena dalam perkara ini memang dibutuhkan hal seperti itu, buktinya Adz Dzahabi sendiri masih menshahihkan hadis-hadis Ibnu Abi darim lha bukankah ini namanya “aneh”. kalau satu dua kali mah bisa saja dibilang waham tetapi tuh berkali-kali ia bilang shahih ni kan bukti kalau Adz Dzahabi sendiri tidak mempermasalahkan hadis Ibnu Abi darim. Seperti yang saya bilang Adz Dzahabi itu mengalami tanaqudh soal Ibnu Abi darim maka dari itu sangat perlu sekali untuk mencari bukti yang benar-benar kuat.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tambahan lagi, Adz-Dzahabi mengindikasikan nukilannya dari Ibnu Hammad Al Kufi dari kitab, karena dia menyebutkan “setelah dia (Ibnu Hammad) menyebutkan tarikh wafatnya (Ibnu Abi Darim)….” dan bisa saja kitab itu tidak sampai kepada kita, betapa banyak kitab yg ada di tangan ulama seperti Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar yg tidak sampai kepada kita.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">tidak ada masalah tuh, mau kitab atau orang tetap perlu dinilai kredibilitasnya, itu kalau mau mencari bukti yang kuat. Kalau mau asal taklid yo wes. Bagi saya pribadi, Al Hakim sebagai ulama yang belajar dan mengambil langsung hadis Ibnu Abi Darim tentu lebih mengenal Ibnu Abi Darim. Lucunya Ibnu Hammad itu kayaknya juga menyampaikan kata-kata penta’dilan kepada Ibnu Abi Darim <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lalu tak satupun ulama setelah Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar yg menentang pernyataan mereka yg menganggap Ibnu Abi Darim itu rafidhi ghairu tsiqah atau kadzdzab. Andai mereka anggap salah tentu mereka sudah menentangnya.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ya tak satupun menentang karena mereka tidak memiliki bukti atau dasar untuk menentangnya. toh mereka juga tidak mengenal keterangan seperti itu di kitab lain atau sanad yang sampai kepada mereka. Intinya jarh terhadap Ibnu Abi darim itu dikarenakan tuduhan rafidhah dan ini kayaknya bukan jarh yang tsabit karena cukup banyak rafidhah yang dikenal jujur seperti Abbad bin yaqub. Seorang yang dikatakan rafidhah bisa saja ditolak pendapat atau penafsirannya tetapi diterima periwayatannya dalam hadis karena ia seorang yang shaduq atau tsiqat bukankah ini yang terjadi pada Abbad bin Yaqub. Kalau anda mau mempermasalahkan Ibnu Abi darim yang katanya mencela sahabat lalu bagaimana anda bersikap terhadap para nashibi yang membenci dan mencaci Imam Ali tetapi tetap dinyatakan tsiqat oleh para ulama?.Mengapa ulama2 itu tidak menuduh mereka kadzdzab karena telah mencela sahabat? silakan dijawab <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" alt=":)" /></p>
<p style="text-align:justify;">________________</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800000;">Dialog selanjutnya dan juga kalo mau nimbrung silahkan dirujuk</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comments" target="_blank">DISINI </a></strong></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***********************</span></p>
<p><span style="text-decoration:underline;color:#000080;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ol>
<li><a href="../2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/21/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait-2/" target="_blank">Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait</a></li>
<li><a href="../2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/pengantar-jawaban-untuk-sdr-jakfar-maaf-maaf-perhatian-sebelumnya/" target="_blank">Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya</a></li>
<li><a href="../2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</a></li>
<li><a href="../2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/25/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kekhalifahan-sunni/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kekhalifahan Sunni)</a></li>
<li><a href="../2011/10/25/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-12-khalifah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis 12 Khalifah)</a></li>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/25/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/" target="_blank">Ayat Al Wilayah Al Maidah 55 Turun Untuk Imam Ali</a></li>
</ol>
<p>___________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#008000;">UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN</span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2008/04/20/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/#comments" target="_blank">-KLIK DISINI-</a></strong></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/880/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/880/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/880/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/880/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/880/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/880/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/880/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/880/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/880/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/880/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/880/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/880/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/880/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/880/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=880&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/25/ayat-al-wilayah-al-maidah-55-turun-untuk-imam-ali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1317676991g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958029g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif?m=1308958029g" medium="image">
			<media:title type="html">:mrgreen:</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1308958029g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis 12 Khalifah)</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/25/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-12-khalifah/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/25/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-12-khalifah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 13:38:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh dan Ta&#039;dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Salafy-Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syubuhat Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=925</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis 12 Khalifah) SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar . Hadis 12 Khalifah Saudara Ja’far juga membahas hadis 12 khalifah dalam tulisannya dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Saya masuk bersama ayah saya kepada Nabi SAW. maka saya mendengar beliau berkata, ‘Sesungguhnya urusan ini tidak akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=925&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis 12 Khalifah)</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-12-khalifah/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008080;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis 12 Khalifah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Saudara Ja’far juga membahas hadis 12 khalifah dalam tulisannya<em> </em></p>
<blockquote><p style="text-align:justify;"><em>dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Saya masuk bersama ayah saya kepada Nabi SAW. maka saya mendengar beliau berkata, ‘Sesungguhnya urusan ini tidak akan habis sampai melewati dua belas khalifah.’ </em><em>Jabir berkata, ‘Kemudian beliau berbicara dengan suara pelan. Maka saya bertanya kepada ayah saya, ‘Apakah yang dikatakannya?’ Ia berkata, ‘Semuanya dari suku Quraisy.’ Dalam riwayat yang lain disebutkan, ‘Urusan manusia akan tetap berjalan selama dimpimpin oleh dua belas orang.’ Dalam satu riwayat disebutkan. ‘Agama ini akan senantiasa jaya dan terlindungi sampai dua belas khalifah. (H.R.Shahih Muslim, kitab “kepemimpinan”, bab”manusia pengikut bagi Quraisy dan khalifah dalam kelompok Quraisy”).</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kemudian penulis menambahkan dalam Catatan : <span id="more-925"></span></p>
<blockquote><p style="text-align:justify;"><em>Dalam berbicara masalah khalifah atau pemimpin maka Rasulullah SAw jelas menggunakan kata ‘khalifah’ atau ‘Amri’ sebagaimana yang bisa dilihat pada hadis diatas, bukan kata ‘Maulah’</em>. <em>Hadis ini bisa dijadikan tambahan argumentasi bahwa hadis ‘Man kuntu maulah fa’aliyyun maulah’ bukanlah berbicara tentang pemimpin / khalifah. Maulah dalam hadis tsb tidak diartikan sebagai imam atau khalifah.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jawab saya ;Sebenarnya justru bisa saja itu berarti dalam masalah kekhalifahan Rasulullah SAW bisa menggunakan kata Khalifah, Amir, Wali atau Maula.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis(Ja’far) menyatakan bahwa hadis ini tidak bisa dijadikan dalil bahwa khalifah yang dimaksud adalah 12 Imam AhlulBait. Alasannya yang pertama bahwa</p>
<blockquote><p><em>Dalam hadis tersebut tidak ada tercantum khalifah dari Ahlul Bayt, yang ada adalah khalifah dari Quraisy.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jawab saya :Benar sekali dan Ahlul Bait adalah dari Quraisy, lengkapnya seperti ini Bani Hasyim adalah yang termulia dari suku Quraisy dan Ahlul Bait adalah yang termulia dari Bani Hasyim. Tidak berlebihan kalau dikatakan Ahlul Bait semulia-mulia dari Quraisy<strong> . </strong>Dalam Hadis <em>Shahih</em> <em>Muslim</em> <em>Kitab keutamaan, Bab keutamaan nasab Nabi</em> <em>no: 2276</em> diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda <em>Sesungguhnya Allah telah memilih (suku) Kinanah daripada anak keturunan Ismail dan telah memilih (bangsa) Quraisy daripada (suku) Kinanah, dan telah memilih daripada (bangsa) Quraisy Bani Hasyim dan telah memilih aku daripada Bani Hasyim.</em><em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Alasan kedua penulis </em><em></em></p>
<blockquote><p><em>Rasulullah SAW tidak menyebutkan nama-nama siapakah yang menjadi khalifah tersebut</em>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya disisi Syiah(Imamiyah) hadis-hadis tentang ini cukup jelas. Kemudian penulis mengartikan hadis itu</p>
<blockquote><p style="text-align:justify;"><em>sebagai Hadis ini menunjukkan masa kejayaan islam ketika dipimpin dua belas khalifah tersebut. Lantas siapakah dua belas orang tersebut? Kita hanyalah bisa menebak-nebak. Kita bisa menebaknya sebagian dengan melihat sejarah Islam pada khalifah mana islam berjaya. Misalnya: Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Umar bin Abdul Aziz dan lain-lain dengan syarat ketika mereka menjadi khalifah islam berjaya. Khalifah ini juga tidak terbatas pada masa kekhalifahan islam yang ada dulu, tetapi berlaku juga ketika khilafah islamiyah akan tegak kembali. Siapapun yang menjadi khalifah baik dulu maupun yang akan datang sampai hitungannya ada dua belas dimana Islam berjaya pada masa mereka menjadi khalifah maka merekalah dua belas orang yang disebut oleh Nabi SAW tsb. Intinya, dua belas orang tsb adalah dua belas khalifah terhebat (yang berasal dari suku Quraisy yang menjayakan islam) dari semua khalifah islam yang pernah ada dan yang akan datang.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sebagai sebuah penafsiran, yang seperti ini boleh-boleh saja dan perlu ditambahkan Ulama Sunni sendiri berbeda-beda penafsirannya terhadap hadis ini bahkan banyak yang tidak sependapat dengan penafsiran penulis(saudara Ja’far). Saya hanya ingin membahas kata-kata Saudara Ja’far <em>Intinya, dua belas orang tsb adalah dua belas khalifah terhebat (yang berasal dari suku Quraisy yang menjayakan islam) dari semua khalifah islam yang pernah ada dan yang akan datang. </em>Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kalau khalifah islam yang ada untuk umat Islam itu hanya 12 belas.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelumnya saya ingin menunjukkan sebuah hadis dalam <em>Musnad Ahmad</em> no 3781 <em>diriwayatkan dari</em> <em>Masyruq yang berkata”Kami duduk dengan Abdullah bin Mas’ud mempelajari Al Quran darinya. Seseorang bertanya padanya ‘Apakah engkau menanyakan kepada Rasulullah SAW berapa khalifah yang akan memerintah umat ini?Ibnu Mas’ud menjawab ‘tentu saja kami menanyakan hal ini kepada Rasulullah SAW dan Beliau SAW menjawab ‘Dua belas seperti jumlah pemimpin suku Bani Israil’.</em> Dalam <em>Fath Al Bari</em> Ibnu Hajar Al Asqallani menyatakan hadis Ahmad dengan kutipan dari Ibnu Mas’ud ini memiliki sanad yang baik. Hadis ini juga dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam <em>Takhrij Musnad Ahmad.</em> Merujuk ke hadis di atas ternyata Khalifah untuk umat Islam itu hanya 12 belas. Padahal kenyataannya ada banyak sekali khalifah yang memerintah umat Islam.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi Ulama Syiah hadis ini merujuk kepada 12 Imam Ahlul Bait sebagai pengganti Rasulullah SAW. Jika kita mengambil premis bahwa ada banyak sekali khalifah yang memerintah umat Islam atau khalifah yang dimiliki umat Islam maka jelas sekali pemerintahan yang dimaksud bukanlah pemerintahan Islam yang memiliki banyak kahlifah yang terbagi dalam Khulafaur Rasyidin(di sisi Sunni), Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, dan Dinasti Utsmaniyyah karena mereka semua jauh lebih banyak dari 12. Dari sini dapat dimengerti mengapa Ulama Syiah menyatakan bahwa khalifah yang dimaksud disini adalah 12 khalifah pengganti Rasulullah SAW. Tentu saya pribadi tidak akan menilai penafsiran mana yang lebih baik. Saya hanya ingin menampilkan bahwa penafsiran Ulama Syiah terhadap hadis 12 khalifah ini juga ada dasarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya sang penulis justru berkata</p>
<blockquote><p style="text-align:justify;"><em>Berbeda dengan syi’ah, dimana bagi mereka nama-nama imam tsb telah disebutkan oleh Rasulullah SAW. Tetapi manakah hadis yang mengatakan nama-nama khalifah tsb? Hadis yang menunjukkan nama-nama tsb hanyalah hadis dari syi’ah. Hadis itupun bahkan hadis yang palsu/dibuat-buat</em>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Disini kembali penulis menunjukkan subjektivitasnya, baginya setiap hadis dari syiah adalah palsu dan dibuat-buat, tentu saya tidak akan membuang waktu dengan menanggapi ulang masalah ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Adapun bukti yang beliau maksud</p>
<blockquote><p style="text-align:justify;"><em>Buktinya syi’ah dalam sejarahnya terpecah belah menjadi beberapa firqah karena mereka berselisih siapakah yang akan menjadi imam selanjutnya setelah satu imam meninggal. (Lihat Al-Milal wa Al-Nihal)</em>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja kata Syiah disini sedikit ambigu, kalau seandainya dari awal yang kita bicarakan ini Syiah Imamiyah(dan saya rasa memang itu) maka pernyataan penulis itu tidak ada artinya. Mereka yang berpecah belah dari Syiah imamiyah tidaklah lagi disebut Syiah kecuali sebagai sebutan saja. Syiah Zaidiyah dan Syiah Ismailiyah tidaklah disebut Syiah oleh Syiah Imamiyah. Lagipula adanya orang yang menyalahi nash tidaklah berarti nash itu sendiri palsu. Logika darimana itu, bukankah bisa juga sebaliknya berarti orang tersebut telah membangkang atau melanggar nash. Sekali lagi sang penulis menunjukkan subjektivitasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya rasa cukup sekian uraian saya, Uraian ini lebih bersifat deskriptif yang disertai analisis terhadap tulisan saudara Ja’far tersebut. Tulisan ini jelas tidak bertujuan menyatakan bahwa Syiah Imamiyah adalah satu-satunya mahzab yang benar. Yang ingin ditekankan dalam tulisan ini bahwa Syiah Imamiyah adalah mahzab Islam yang memiliki dasar dan dalil sebagai mahzab yang diakui dalam Islam.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">***********************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#000080;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/21/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait-2/" target="_blank">Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/pengantar-jawaban-untuk-sdr-jakfar-maaf-maaf-perhatian-sebelumnya/" target="_blank">Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)</a></li>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir)</a></li>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kekhalifahan-sunni/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kekhalifahan Sunni)</a></li>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/25/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-12-khalifah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis 12 Khalifah)</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">___________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN<a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%E2%80%99far-tentang-imamah-hadis-12-khalifah/#comments" target="_blank"><span style="color:#0000ff;"> -KLIK DISINI-</span></a></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/925/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/925/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/925/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/925/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/925/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/925/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/925/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/925/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/925/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/925/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/925/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/925/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/925/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/925/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=925&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/25/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-12-khalifah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kekhalifahan Sunni)</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kekhalifahan-sunni/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kekhalifahan-sunni/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 15:35:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh dan Ta&#039;dil]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Salafy-Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syubuhat Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=922</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kekhalifahan Sunni) SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar . Hadis Kekhalifahan Di Sisi Sunni Mengenai hadis-hadis tentang Rasulullah tidak menunjuk khalifah itu memang ada dasarnya di sisi Sunni dan sanadnya shahih. Penulis(Ja’far) juga menambahkan bahwa Rasulullah SAW memberikan pilihan kepada Abu Bakar, Umar dan Ali(Ali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=922&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kekhalifahan Sunni)</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kekhalifahan-sunni/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Kekhalifahan Di Sisi Sunni</strong><br />
Mengenai hadis-hadis tentang Rasulullah tidak menunjuk khalifah itu memang ada dasarnya di sisi Sunni dan sanadnya shahih. Penulis(Ja’far) juga menambahkan bahwa Rasulullah SAW memberikan pilihan kepada Abu Bakar, Umar dan Ali(Ali tidak dipilih maka tinggal Abu Bakar dan Umar). Kemudian penulis melanjutkan Walaupun Rasulullah SAW memberikan tiga pilihan orang yang akan menggantikan beliau, beliau menganjurkan umat agar memilih Abu Bakar. Mari kita bersikap kritis terhadap pernyataan saudara Ja’far, <em>apa benar Rasulullah SAW menganjurkan umatnya? <span id="more-922"></span><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Kalau memang begitu kenapa ketika peristiwa Saqifah kaum Anshar ribut-ribut tentang pengganti Rasulullah SAW, bukankah sebagian mereka memilih Saad bin Ubadah ra sebelum Abu Bakar ra dan Umar ra datang. Kenapa hadis ini tidak muncul sedikitpun dalam peristiwa Saqifah. Hadis Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda <em>“Sungguh saya berhasrat atau ingin mengirimkan surat kepada Abu Bakar dan putranya lalu saya mengangkatnya sebagai khalifah. Sebab (aku khawatir) jika ada seseorang yang mengatakan atau orang yang mempunyai harapan.”.</em> Apakah surat ini memang dibuat atau tidak juga tidak jelas, kalau tidak kenapa Rasulullah SAW mengurungkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sama juga halnya dengan hadis <em>‘Panggilah Abu Bakar dan saudaramu untuk datang kepadaku agar aku tuliskan sesuatu kepadanya. Sebab sesungguhnya saya khawatir jika ada orang yang berharap dan terdapat seseorang yang mengatakan, ‘Aku lebih berhak.’ Dan Allah dan orang-orang yang beriman tidak menghendaki kecuali Abu Bakar.”.</em> Apakah tulisan itu jadi dibuat, kenapa tidak, kenapa Rasulullah SAWmengurungkan niatnya? Sekali lagi kenapa hadis ini tidak muncul ketika peristiwa Saqifah. Seandainya Rasulullah SAW benar menganjurkan Abu Bakar kepada umatnya maka adalah aneh jika pada awalnya para shahabat Anshar itu ribut-ribut di Saqifah.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis juga berkata Ali bin Thalib r.a juga tidak pernah terpaksa untuk berba’iat kepada Abu Bakar r.a dengan alasan persatuan umat islam. Anehnya beliau hanya mengutip hadis baiat Imam Ali kepada Abu Bakar tanpa memperhatikan hadis lain yang diriwayatkan dalam<em> Shahih Bukhari Kitab AlMaghazi Bab Ghazwah Khaibar 3 hal 38</em> yang diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Imam Ali tidak mau memberikan Baiat kepada Abu Bakar selama hidup Fatimah putri Nabi SAW. Jadi pernyataan ini tidak hanya diriwayatkan oleh Az Zuhri seperti yang dikatakan penulis. Ini juga diriwayatkan oleh Aisyah ra dalam <em>Shahih Bukhari.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Penundaan baiat Imam Ali adalah hal yang mahsyur dalam sejarah. Memang terjadi perbedaan pendapat dalam masalah ini, ada yang berpendapat bahwa Imam Ali berbaiat dua kali dan ada yang berpendapat justru yang benar Imam Ali berbaiat setelah 6 bulan. Dalam <em>Usdu Al Ghabah</em> jilid 3 hal 222 Ibnu Hajar mengatakan <em>”Baiat yang mereka(Ali dan para pendukungnya) berikan menurut pendapat yang benar adalah setelah enam bulan</em>. Dalam <em>Musnad Ahmad</em> tentang hadis Saqifah yang menjelaskan pidato Umar tentang peristiwa Saqifah<em>(shahih oleh syaikh Ahmad Syakir)</em> terdapat kata-kata Umar bahwa <em>ketika Abu Bakar di baiat Ali dan Zubair memisahkan diri dari Kami.</em> Setidaknya itu semua menunjukkan ada penundaan baiat Imam Ali kepada Abu Bakar ra.</p>
<p style="text-align:justify;">Paling tidak ada beberapa alasan yang memberatkan pernyataan penulis bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memilih Abu Bakar ra</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">• Kaum Anshar di Saqifah berselisih paham tentang pengganti Nabi SAW di Saqifah sebelum kedatangan Abu Bakar ra dan Umar ra. Sebagian mereka malah memilih Saad bin Ubadah ra.<br />
• Imam Ali ra dan beberapa sahabat Nabi menunda pembaiatan kepada Abu Bakar ra.<br />
• Sayyidah Fatimah Az Zahra as berselisih dengan Abu Bakar ra dalam masalah Fadak. Berdasarkan dalil yang shahih<em>(Shahih Bukhari)</em> Sayyidah Fatimah as marah kepada Abu Bakar ra selama 6 bulan yang waktu itu sudah diangkat sebagai khalifah. Ini menunjukkan bahwa Sayyidah Fatimah as tidak membaiat Abu Bakar ra.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">***********************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/21/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait-2/" target="_blank">Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/pengantar-jawaban-untuk-sdr-jakfar-maaf-maaf-perhatian-sebelumnya/" target="_blank">Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">___________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN <span style="color:#0000ff;"><a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kekhalifahan-sunni/" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">-KLIK DISINI-</span></a></span></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/922/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/922/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/922/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/922/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/922/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/922/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/922/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/922/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=922&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kekhalifahan-sunni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir)</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 15:08:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh dan Ta&#039;dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Salafy-Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syubuhat Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=917</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir) SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar . Hadis Al Ghadir Sebelumnya saya telah mengatakan bahwa hadis al Ghadir adalah mutawatir, pernyataan ini adalah benar dan diakui oleh ulama Sunni yang telah membuat kitab khusus tentang riwayat-riwayat hadis Al Ghadir diantaranya • Ibnu Jarir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=917&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir)</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Hadis Al Ghadir</strong><br />
Sebelumnya saya telah mengatakan bahwa hadis al Ghadir adalah mutawatir, pernyataan ini adalah benar dan diakui oleh ulama Sunni yang telah membuat kitab khusus tentang riwayat-riwayat hadis Al Ghadir diantaranya</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">• Ibnu Jarir Ath Thabari dalam kitabnya <em>Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir</em><br />
• Ibnu Uqdah dalam kitabnya <em>Al Wilayah Fi Thuruq Hadits Al Ghadir</em><br />
• Abu Bakar Al Ja’abi dalam kitabnya <em>Man Rawa Hadits Ghadir Kum</em><br />
• Abu Sa’id As Sijistani dalam kitabnya <em>Ad Dirayah Fi Hadits Al Wilayah</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Walaupun begitu perlu diperhatikan mutawatir disini adalah mutawatir ma’nawi Artinya hadis-hadis tersebut memiliki matan yang bermacam-macam dan dapat dikelompokkan menjadi <span id="more-917"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">• Matan yang Mutawatir, Artinya matan ini ada dalam setiap hadis Al Ghadir apapun sanadnya, matan itu adalah perkataan Rasulullah SAW di Ghadir Kum <em>“barang siapa menganggap Aku Maulanya maka Ali adalah Maulanya”.</em> Oleh karenanya perkataan ini bisa dikatakan bersifat pasti kebenarannya karena sanadnya mutawatir.<br />
• Matan yang shahih, artinya matan ini diriwayatkan dalam hadis-hadis Al Ghadir tetapi tidak semua hadis Al Ghadir meriwayatkan matan ini. Adapun hadis yang mengandung matan ini sanadnya shahih. Yaitu antara lain matan yang mengandung <em>perkataan Rasulullah SAW bahwa Sebentar lagi Rasulullah SAW akan dipanggil ke hadirat Allah SWT</em>. Atau matan yang mengandung <em>perkataan Rasulullah SAW kepada umatnya untuk berpegang kepada dua hal Kitab Allah dan Ahlul BaitKu</em>, matan yang mengandung <em>peristiwa kesaksian di Rahbah oleh beberapa sahabat terhadap Imam Ali</em>, matan yang mengandung <em>perkataan Rasulullah SAW ”bukankah Kalian telah mengetahui bahwa sesungguhnya Aku lebih berhak atas orang-orang mukmin dari pada diri mereka sendiri?”</em> dan Matan yang mengandung <em>ucapan selamat Umar kepada Ali</em>(matan selamat ini diriwayatkan dalam <em>Musnad Ahmad</em> 4 hal 281 dalam sanadnya terdapat Zaid bin Hasan Al Anmathi, tentang beliau Abu Hatim berkata <em>hadisnya mungkar</em> tapi Ibnu Hibban memasukkannya dalam <em>Ats Tsiqat</em>, Syaikh Al Albani telah menshahihkan hadis dalam <em>Sunan Tirmidzi</em> no3 786 dan dalam sanadnya ada Zaid bin Hasan, oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa hadis dalam <em>Musnad Ahmad</em> itu shahih.)<br />
• Matan yang diperselisihkan sanadnya atau dhaif(menurut Ulama Sunni), artinya matan ini diriwayatkan dalam hadis Al Ghadir dimana sanad hadisnya adalah dhaif di sisi Ulama Sunni. Yaitu matan hadis Al Ghadir yang mengandung Ayat Tabligh Al Maidah 67 dan Al Maidah ayat 3.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat kembali pernyataan penulis(Ja’far) seputar hadis Al Ghadir, beliau mengutip pernyataan Al Alusi</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Adapun pada saat khutbah Rasulullah sepulang dari haji wada’ tersebut tidak didapati hadis yang shahih mengenai pengangkatan Ali sebagai khalifah / pemimpin / menjadikannya maula. Al-Alusi berkata, “Riwayat-riwayat tentang Ghadir Khum – yang di dalamnya terdapat perintah kepada Nabi SAW untuk mengangkat Ali sebagai khalifah – tidak shahih dan sama sekali tidak diterima oleh AhluSunnah” (Tafsir Al-Alusi).</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jika yang dimaksudkan adalah hadis dengan perkataan maula itu, maka dalam hal ini Al Alusi keliru karena pengangkatan Ali sebagai maula di Ghadir Kum telah dishahihkan banyak ulama Ahlus Sunnah seperti At Tirmidzi dalam <em>Sunan Tirmidzi</em>, Syaikh Al Albani dalam <em>Shahih Ibnu Majah</em>, Al Hakim dalam <em>Al Mustadrak</em> dan Adz Dzahabi dalam <em>Talkhis Al Mustadrak.</em> Tentu Ulama syiah menafsirkan maula sebagai pemimpin, sedangkan ulama sunni menafsirkan maula sebagai sahabat atau yang dicintai.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi jika yang dimaksudkan adalah hadis dengan turunnya Al Maidah ayat 67 dan Al Maidah ayat 3 maka saya sependapat. Karena hadis tentang itu terdapat keraguan pada sanadnya dan saya setuju dengan pernyataan penulis bahwa Al Maidah ayat 3 berdasarkan dalil shahih disisi Sunni turun di arafah.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis(Ja’far) mengkritik hadis Al Ghadir yang mengandung matan maula dengan berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em> Masih ada beberapa hadis lain yang serupa dua hadis diatas dalam Musnad Imam Ahmad. Kata-kata ‘Man kuntu MAULAH fa’aliyyun maulah’ (Siapa yang aku sebagai PEMIMPINNYA maka Ali sebagai PEMIMPINNYA) tidak dapat dijadikan dalil bahwa Ali adalah khalifah setelah rasulullah SAW wafat.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mari kita telaah masing-masing alasannya</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Alasan pertama Imam Ahmad bin Hanbal yang meriwayatkan hadis tsb adalah AhluSunnah. Jika Imam Ahmad menafsirkan hadis tsb sebagai dalil yang menjadikan Ali sebagai khalifah/imam setelah rasulullah wafat maka dia seharusnya menjadi ulama syi’ah. Akan tetapi, Imam Ahmad adalah seorang ahlusunnah, dengan begitu Imam Ahmad tidak menafsirkan hadis tsb sebagai dalil penunjukkan Ali sebagai pengganti Rasullah SAW. </em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Alasan ini rancu sekali dan bagi saya orang yang memakai alasan seperti ini tidak perlu jauh-jauh menggunakan dalil dan pembahasan dalam mengkritik Syiah, dia cukup berkata seandainya Syiah itu benar maka Ulama-ulama sunni akan menjadi Syiah tetapi kenyataannya tidak maka Syiah tidak benar. Nah selesai urusannya. Kalau ingin melakukan pembahasan maka harus melihat dalil itu sendiri dan menilai penafsiran mana yang benar antara Ulama Sunni dan Syiah. Dalam hal ini Penulis telah melakukan Fallacy Argumentum Ad Verecundiam.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Alasan kedua Pengartian kata ‘maulah’ dalam konteks hadis tsb sebagai ‘pemimpin’ tidak tepat. Maulah dalam hadis tsb berarti loyalitas atau kecintaan, sesuai dengan akar katanya yaitu ‘Wali’.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mari kita telaah, si penulis berargumen bahwa berdasarkan konteksnya maula itu bukan berarti pemimpin. Anehnya beliau malah mengartikan maula berdasar akar kata. Ulama Syiah berkata Maula adalah lafal Musytakarah(punya banyak arti) dan untuk mengetahui arti yang tepat adalah dengan melihat konteksnya pada hadis Al Ghadir.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat apa kata Ulama Syiah tentang makna maula. Dalam Hadis Al Ghadir terdapat kata-kata Rasulullah SAW bahwa beliau sebentar lagi akan dipanggil ke hadirat Allah <em>” Kurasa seakan-akan aku segera akan dipanggil (Allah), dan segera pula memenuhi panggilan itu, Maka sesungguhnya aku meninggalkan kepadamu Ats Tsaqalain(dua peninggalan yang berat). Yang satu lebih besar (lebih agung) dari yang kedua : Yaitu kitab Allah dan Ittrahku. Jagalah Baik-baik dan berhati-hatilah dalam perlakuanmu tehadap kedua peninggalanKu itu, sebab Keduanya takkan berpisah sehingga berkumpul kembali denganKu di Al Haudh. </em><br />
Bukankah kata-kata ini berarti Rasulullah SAW telah mewasiatkan sebelum beliau meninggal untuk mengikuti Al Quran dan Ahlul Bait, adalah wajar kalau hal ini diartikan Ulama Syiah sebagai Rasulullah SAW menyerahkan kepemimpinan Agama kepada Ahlul Bait.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian kata-kata <em>“Bukankah Aku ini lebih berhak terhadap kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri.. Orang-orang menjawab “Ya”. Hingga akhirnya Rasulullah SAW berkata” Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka Ali adalah juga maulanya.</em> Ulama Syiah menafsirkan kata lebih berhak menunjukkan bahwa maula yang dimaksud berkaitan dengan kekuasaan dan tidak tepat jika diartikan sahabat atau dicintai. Selain itu kata-kata terakhir <em>Ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya. </em>Menunjukkan bahwa pada saat itu Imam Ali dianugerahkan tanggung jawab yang memungkinkan beliau dicintai atau dimusuhi orang, tanggung jawab ini lebih tepat diartikan kekuasaan ketimbang yang dicintai.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu Ulama Syiah menafsirkan maula sebagai pemimpin ditambah lagi <em>ucapan selamat Umar kepada Ali yang menurut Syiah janggal diberikan hanya karena Ali dinobatkan sebagai yang dicintai</em>, Ulama syiah berkata <em>apakah sebelumnya Imam Ali adalah musuh sehingga ketika dinobatkan sebagai yang dicintai maka beliau diberi selamat. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan kata-kata penulis</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Seandainya maulah diartikan sebagai imam / khalifah maka seharusnya para sahabat tidak menjadikan Abu Bakar r.a sebagai khalifah setelah Rasulullah SAW. Mana mungkin mayoritas sahabat mengkhianati Rasulullah SAW. Para sahabat tidak pernah menafsirkan hadis tsb sebagai dalil penunjukkan Ali. Kalau kita menganggap hadis tsb sbg dalil penunjukkan Ali maka otomatis para sahabat adalah orang yang tidak melaksanakan amanat Rasulullah SAW</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">maka saya katakan itulah tepatnya kenapa Ulama Sunni berkeras bahwa kata maula itu bukan pemimpin. Disini penulis sudah memahami dengan prakonsepsinya terlebih dahulu tentang shahabat baru menilai nash hadis Al Ghadir bedanya dengan Syiah mereka memahami nash hadis Al Ghadir terlebih dahulu baru menilai shahabat.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai hadis tentang murtadnya shahabat Nabi kecuali beberapa orang di sisi Syiah, maka saya memilih untuk berdiam diri karena saya tidak mengetahui shahih tidaknya hadis tersebut di sisi Syiah dan apa arti murtad yang dimaksud. Karena yang saya tahu ada cukup banyak Sahabat Nabi yang diakui oleh Syiah bukan hanya beberapa orang, Silakan dirujuk pada <em>Ikhtilaf Sunnah Syiah </em>karya Syaikh Al Musawi hal 205-214. Saya juga ingin mengingatkan penulis bahwa di dalam <em>Shahih Bukhari</em> dan <em>Shahih Muslim</em> terdapat hadis yang jika diartikan secara literal mengindikasikan cukup banyak shahabat Nabi yang masuk neraka karena berpaling setelah Nabi SAW wafat.</p>
<p style="text-align:justify;">Contohnya hadis <em>Shahih Bukhari</em> juz 8 hal 150 d<em>iriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Akan datang di hadapanKu kelak sekelompok shahabatKu tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya ”wahai TuhanKu mereka adalah shahabat-shahabatKu”. Lalu dikatakan ”Engkau Tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling.”. </em>Tentu Ulama Sunni memiliki pemahaman sendiri terhadap hadis ini dengan berkata bahwa memang ada yang murtad dan yang murtad itu tidak lagi disebut sebagai shahabat. Yang ingin saya tekankan kalau Ulama Sunni bisa melakukan penafsiran terhadap teks mereka. Kenapa kita tidak bisa mendengar apa kata Ulama Syiah tentang hadis mereka.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Alasan yang ketiga Hadis-hadis tsb lebih tepatnya menceritakan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib bukan dalil tentang penunjukkannya.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya setuju kalau hadis itu menunjukkan keutamaan tapi keutamaan sebagai apa, nah disinilah terjadi beda penafsiran. Syiah justru berkata itulah keutamaan Imam Ali yang ditunjuk sebagai pengganti Rasulullah SAW.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/21/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait-2/" target="_blank">Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/pengantar-jawaban-untuk-sdr-jakfar-maaf-maaf-perhatian-sebelumnya/" target="_blank">Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)</a></li>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)</a></li>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Al Ghadir)</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">___________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%E2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/#comments" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">-KLIK DISINI-</span></a></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/917/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/917/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/917/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/917/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/917/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/917/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/917/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/917/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/917/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/917/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/917/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/917/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/917/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/917/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=917&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 07:46:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh dan Ta&#039;dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Salafy-Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syubuhat Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=914</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh) SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar Ayat Tabligh “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari manusia . Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S.Al-Ma’idah : 67) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=914&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Tabligh)</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER</span>: <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;">Ayat Tabligh<br />
<em>“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari manusia . Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S.Al-Ma’idah : 67)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Berkenaan dengan ayat ini penulis berkata <span id="more-914"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ayat ini dinamakan Syi’ah sebagai ayat tabligh, karena menurut Syi’ah dengan ayat ini Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan hal yang sangat penting bagi umat islam yaitu penunjukkan dan pengangkatan Ali r.a sebagai pengganti beliau. Peristiwa pengangkatan ini menurut syi’ah terjadi di Ghadir Kum sepulang dari haji Wada’ tanggal 18 Dzulhijjah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan ini memang cukup banyak ditemukan dalam literatur hadis Syiah dari para Imam Ahlul Bait as.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian mengenai literatur dalam sumber Sunni, Ulama Syiah cenderung menyatakan bahwa pendapat ini juga pendapat kebanyakan ahli tafsir Sunni. Hal ini yang dibantah oleh Penulis tersebut dalam menanggapi Syaikh Muhammad Mar’i al-Amin an-Antaki, seorang bekas Qadhi Besar Mazhab Syafi’i di Halab, Syria, seorang yang masuk syi’ah dalam karyanya Limadza Akhtartu Mahzab Ahlul Bayt (Mengapa aku memilih mahzab Ahlul Bait) . Dalam buku itu Syaikh Mar’i Al Amin berkata <em>“Semua ahli Tafsir Sunnah dan Syi’ah bersepakat bahwa ayat ini diturunkan di Ghadir Khum mengenai ‘Ali AS bagi melaksanakan urusan Imamah.” lalu tulisnya lagi “…Aku berpendapat sebenarnya para ulama Islam telah bersepakat bahwa ayat al-Tabligh (Surah al-Maidah(5):67) telah diturunkan kepada ‘Ali AS secara khusus bagi mengukuhkan khalifah untuknya. Di hari tersebut riwayat hadith al-Ghadir adalah Mutawatir. Ianya telah diriwayatkan oleh semua ahli sejarah dan ahli Hadith dari berbagai golongan dan ianya telah diperakukan oleh ahli Hadith dari golongan Sunnah dan Syi’ah”.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Sang penulis benar-benar tidak setuju dengan pernyataan ini sehingga dia berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Benarkah bahwa hadis Al-Ghadir adalah mutawatir? Semua ahli tafsir Sunnah sepakat bahwa ayat ini turun kepada Ali r.a di Ghadir Kum? Sungguh kebohongan yang amat besar !.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jawaban saya Hadis Al Ghadir benar mutawatir, dan memang semua ahli tafsir sunnah tidak sepakat bahwa ayat ini turun kepada Ali ra di Ghadir Kum. Yang benar adalah memang ada riwayat tentang turunnya ayat ini untuk Imam Ali di dalam literatur Sunni yaitu dalam <em>Tafsir Ibnu Abi Hatim</em> dalam tafsir Al Maidah ayat 67, Al Wahidi dalam <em>Asbabun Nuzul</em> Al Maidah ayat 67 dan <em>Tarikh Ibnu Asakir</em> dalam bab biografi Ali bin Abi Thalib.Yang kesemuanya <em>berpangkal dari sanad Ali bin Abas dari Amasy dari Athiyah dari Abu Said Al Khudri dia berkata: Diturunkan ayat ini: “Wahai Rasul Allah! Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” [al-Maidah 5:67] ke atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada Hari Ghadir Khum berkenaan ‘Ali bin Abi Thalib.</em><br />
Sanad hadis ini diperselisihkan oleh ulama sunni dan syiah. Kebanyakan ahli hadis Sunni menyatakan riwayat ini dhaif karena pada sanadnya terdapat Athiyah bin Sa’ad al Junadah Al Aufi. Dalam <em>Mizan Al ‘Itidal</em> jilid 3 hal 79 didapat keterangan tentang Athiyah</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">• Menurut Adz Dzahabi Athiyyah adalah <em>seorang tabiin yang dikenal dhaif </em><br />
• Abu Hatim berkata <em>hadisnya dhaif tapi bisa didaftar atau ditulis</em><br />
• An Nasai juga menyatakan <em>Athiyyah termasuk kelompok orang yang dhaif</em><br />
• Abu Zara’ah juga memandangnya <em>lemah.</em><br />
• Menurut Abu Dawud A<em>thiyyah tidak bisa dijadikan sandaran atau pegangan.</em><br />
• Menurut Al Saji <em>hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah, Ia mengutamakan Ali ra dari semua sahabat Nabi yang lain. </em><br />
• Salim Al Muradi menyatakan bahwa <em>Athiyyah adalah seorang syiah. </em><br />
• Abu Ahmad bin Adiy berkata <em>walaupun ia dhaif tetapi hadisnya dapat ditulis.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu tidak berlebihan kalau ahli hadis sunni menyatakan hadis tersebut dhaif. Tetapi ulama syiah menolak hal ini dengan menyatakan bahwa Athiyyah adalah perawi yang dipercaya di sisi Syiah bahkan ada ulama Sunni yang menta’dilkan beliau.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">• Dalam Tahdzîb at-Tahdzîb jilid 7 hal 220 Al-Hafidz Ibnu Hajar telah berkata tentang biografi Athiyyah, <em>“Ad-Dawri telah berkata dari Ibnu Mu’in bahwa ‘Athiyyah adalah seorang yang saleh.” </em>Selain itu dalam <em>Mizan Al ‘Itidal </em> ketika Yahya bin Main ditanya tentang hadis Athiyyah ,ia menjawab <em>“Bagus”.</em><br />
• Dalam <em>Tahdzîb at-Tahdzîb</em> jilid 2 hal 226 dan <em>Mizan Al ‘Itidal </em>jilid 3 hal 79, Ibnu Saad memandang <em>Athiyyah tsiqat, dan berkata insya Allah ia mempunyai banyak hadis yang baik, sebagian orang tidak memandang hadisnya sebagai hujjah.</em><br />
• Sibt Ibnul Jauzi(cucu Ibnu Jauzi) dalam kitabnya <em>Tadzkhiratul Khawass</em> memandangnya <em>sebagai perawi yang bisa dipercaya.</em><br />
• Athiyyah bin Sa’ad adalah perawi Bukhari dalam <em>Adab Al Mufrad</em>, perawi dalam <em>Sunan Nasa’i, Sunan Abu Daud, Sunan Ibnu Majah</em> dan <em>Musnad Ahmad bin Hanbal.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya juga tidak berlebihan kalau Ulama Syiah memandang Athiyyah sebagai perawi yang tsiqat apalagi dalam literatur mereka Athiyyah memang perawi syiah yang tsiqat. Oleh karena itu ulama syiah menolak pernyataan dhaif kepada Athiyyah, mereka berkata itu hanyalah kecenderungan Sunni untuk mendhaifkan perawi yang bermahzab syiah. Mengapa Athiyyah dinyatakan dhaif oleh sebagian kalangan?dan mengapa riwayatnya tidak diterima oleh sebagian Ulama Sunni, Jawabannya karena</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">• Athiyyah adalah perawi yang bermahzab syiah dan mengutamakan Ali ra dari semua sahabat Nabi yang lain. Dan biasanya riwayat seorang perawi Syiah tentang mahzabnya ditolak oleh Ulama Sunni<br />
• Athiyyah dipandang dhaif karena sifat tadlis. Dalam <em>Tahdzib at Tahzib</em> dan <em>Mizan Al ‘Itidal</em>, ketika membicarakan Athiyyah dan riwayatnya dari Abu Said, Ahmad menyatakan bahwa hadis Athiyyah itu dhaif, beliau berkata <em>“Sampai kepadaku berita bahwa Athiyyah belajar tafsir kepada Al Kalbi dan memberikan julukan Abu said kepadanya ,Agar dianggap Abu said Al Khudri.”.</em> Hal ini juga dikuatkan oleh pernyataan Ibnu Hibban <em>“Athiyyah mendengar beberapa hadis dari Abu said Al Khudri. Setelah Al Khudri ra meninggal ,ia belajar hadis dari Al Kalbi. Dan ketika Al Kalbi berkata Rasulullah SAW bersabda ‘demikian demikian’maka Athiyyah menghafalkan dan meriwayatkan hadis itu dengan menyebut Al Kalbi sebagai Abu Said. Oleh sebab itu jika Athiyyah ditanya siapakah yang menyampaikan hadis kepadamu?maka Athiyyah menjawab Abu Said. Mendengar jawaban ini orang banyak mengira yang dimaksudkannya adalah Abu Said Al Khudri ra, padahal sebenarnya Al Kalbi”.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya kedua alasan ini tidak diterima oleh Ulama Syiah, tentang alasan pertama mereka berkata itu sangat subjektif bukankah tidak ada salahnya kalau perawi tersebut meyakini apa yang ia riwayatkan. Singkatnya seperti ini Ulama Sunni jelas dari awal menganggap Syiah itu ahlul bid’ah oleh karenanya riwayat yang mendukung mahzab syiah mesti ditolak, menurut Ulama Sunni perawi syiah jelas sekali akan membuat riwayat yang mendukung mahzab mereka. Sedangkan ulama Syiah jelas tidak terima dinyatakan seperti itu makanya mereka bilang ulama sunni subjektif. Bukankah juga mungkin karena meyakini riwayat(yang katanya mendukung mahzab syiah) maka perawi itu lantas berpegang pada mahzab Syiah.</p>
<p style="text-align:justify;">Alasan yang kedua juga tidak mematikan hujjah ulama Syiah karena mereka dapat berkata apa buktinya pernyataan Ahmad dan Ibnu Hibban itu benar, bukankah bisa saja itu hanya sekedar kabar-kabar yang disebarkan untuk mendiskreditkan Athiyyah, Dalam <em>Tahdzîb at-Tahdzîb</em> jilid 2 hal 226 Ibnu Hajar Al’Asqalani telah berkata,<br />
<em>Ibnu Sa’ad telah berkata, “Athiyyah pergi bersama Ibnu al- Asy’ats, lalu Hajjaj menulis surat kepada Muhammad bin Qasim untuk memerintahkan ‘Athiyyah agar mencaci maki Ali, dan jika dia tidak melakukannya maka cambuklah dia sebanyak empat ratus kali dan cukurlah janggutnya. Muhammad bin Qasim pun memanggilnya, namun ‘Athiyyah tidak mau mencaci maki Ali, maka dijatuhkanlah ketetapan Hajaj kepadanya. Kemudian ‘Athiyyah pergi ke Khurasan, dan dia terus tinggal di sana hingga Umar bin Hubairah memerintah Irak. ‘Athiyyah tetap terus tinggal di Khurasan hingga meninggal pada tahun seratus sepuluh hijrah. Insya Allah, dia seorang yang dapat dipercaya, dan dia mempunyai hadis-hadis yang layak.”</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ada sebuah kemungkinan bahwa Athiyyah adalah orang yang dikenal tsiqat pada saat itu tetapi mungkin karena sikap terang-terangannya dalam memuliakan Imam Ali di atas sahabat yang lain sampai-sampai mengundang kecurigaan dari bani Umayyah. Oleh karenanya mungkin untuk menjatuhkan beliau disebarkanlah kabar-kabar yang mendiskreditkan beliau. Sayangnya ini adalah sebuah kemungkinan dan belum bisa dibuktikan. Baik Ulama Sunni dan Ulama Syiah dipengaruhi kecenderungan masing-masing dalam melihat pribadi Athiyyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Lantas mengapa Ulama Syiah berkeras bahwa riwayat turunnya ayat Al Maidah 67 dan Al Maidah 3 berkenaan peristiwa Al Ghadir adalah mutawatir di sisi Sunni? Jawabannya adalah mereka Ulama Syiah ketika menyebut riwayat turunnya Al Maidah 67 dan Al Maidah 3 sering merujuk ke kitab-kitab yang seringkali sulit dirujuk oleh Ulama Sunni seperti kitab <em>Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir</em> Ath Thabari. Kitab ini dibuat Ath Thabari pada akhir-akhir hidupnya dan sayangnya sekarang sudah tidak bisa ditemukan lagi. Yang ada hanyalah kitab-kitab yang memuat kutipan dari kitab Ath Thabari tersebut. Memang kitab-kitab yang mengutip kitab Ath Thabari itu kebanyakan adalah kitab-kitab Ulama Syiah. Hal ini bisa dimaklumi karena Ulama Syiah punya kecenderungan kuat untuk memelihara riwayat-riwayat Al Ghadir sebagai hujjah mereka terhadap Sunni.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya kitab Ath Thabari ini sudah tidak ada lagi disisi Sunni, entahlah apa sebabnya kitab ini bisa tidak terpelihara di sisi Sunni. Oleh karenanya ketika Ulama Syiah berhujjah dengan riwayat dalam kitab ini maka Ulama Sunni sekarang mentah-mentah menolaknya. Lucunya mereka Ulama Sunni berkata bahwa itu hanyalah buatan-buatan Syiah saja, atau ada yang menuduh Ath Thabari itu Syiah dan yang berlebihan menuduh kitab Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir itu dibuat oleh Syiah dan mengatasnamakan Ath Thabari. Padahal terdapat bukti yang jelas bahwa kitab <em>Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadi</em>r adalah benar-benar eksis dulunya dan merupakan hasil karya Ibnu Jarir Ath Thabari yang Sunni.</p>
<p style="text-align:justify;">Penolakan terhadap kitab Ath Thabari ini juga didasari bahwa dalam <em>Tafsir Ath Thabari</em> tentang Al Maidah ayat 67 dan Al Maidah ayat 3, beliau Ath Thabari tidak menyebut sedikitpun tentang peristiwa Al Ghadir. Sayangnya hal ini bukanlah dasar yang kuat untuk menolak kitab <em>Al Wilayah</em> Ath Thabari. Karena seperti yang sudah saya sebutkan kitab <em>Al Wilayah</em> ini dibuat pada akhir-akhir kehidupan Ath Thabari artinya jauh selepas beliau mengarang <em>Tafsir Ath Thabari.</em> Jadi ada kemungkinan beliau merubah pandangannya atau bisa jadi lingkungan kemahzaban yang kental di masa Ath Thabari tidak memungkinkannya untuk memasukkan riwayat Al Ghadir dalam Tafsir Beliau. Tapi sayangnya ini hanyalah sebuah kemungkinan dan memerlukan pembuktian.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi saya pribadi hujjah tidak bisa berdasarkan kemungkinan oleh karenanya saya lebih berdiam diri dalam masalah ini dan mungkin lebih baik untuk tidak menerima riwayat tentang ayat tabligh ini karena masih ada keraguan dalam sanadnya. Jadi memang pernyataan Syaikh Mar’i Al Amin itu keliru, <em>ahli tafsir Sunni tidak bersepakat tentang turunnya ayat tabligh untuk Imam Ali.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun begitu rupanya si penulis melihat kekeliruan Syaikh Mar’i Al Amin ini sebagai kebohongan besar. Entahlah, bagi saya ini adalah kecenderungan kemahzaban saja, sama halnya dengan yang terjadi pada Ibnu Taimiyyah dalam <em>Minhaj As Sunnah</em> yang membuat banyak kekeliruan karena berlebih-lebihan dalam membantah Ulama Syiah Ibnul Muthhahhar(Allamah Al Hilli). Keinginan Ibnu Taimiyyah untuk terus membantah itu membuatnya banyak menolak hadis-hadis shahih seperti hadis Tsaqalain, dengan mengatakan banyak yang menolak hadis tsaqalain padahal kenyataannya tidak demikian.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lanjutkan, kemudian penulis juga menjadi berlebih-lebihan ketika berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mana mungkin tulisan tsb berasal dari seorang yang banyak mempelajari agama (seorang Qadhi Besar) kecuali tulisan tsb berasal dari ulama syi’ah sendiri. Benarkah buku tsb berasal dari seorang yang keluar dari Mahzab Syafi’i lalu masuk Syi’ah? Jangan-jangan buku tsb dibuat oleh orang syi’ah sendiri dan mengatasnamakannya dari seorang AhluSunnah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya bukti kuat dalam masalah ini adalah buku itu sendiri. Dalam Limadza Akhtartu Mahzab Ahlul Bayt (Mengapa aku memilih mahzab Ahlul Bait), pengarang syaikh Mar’i Al Amin sendiri mengatakan bahwa beliau awalnya Qadhi Halab bermahzab syafii yang kemudian masuk Syiah. Tentu saja kesaksian ini lebih patut dipercaya ketimbang dugaan-dugaan tanpa bukti. Anehnya sepertinya penulis itu adem ayem saja menerima kabar bahwa Ayatullah Uzma Al Burqu’i adalah ulama Syiah yang keluar dari mahzab syiah yang ia kutip dari <em>Gen Syiah Ustad Mamduh Al Buhairi.<br />
</em><br />
Kemudian sang penulis menganalogikan dugaannya dengan dugaan lain yang sama tak berdasarnya</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Seperti halnya buku Al-Muraja’at, dialog Sunni-Syi’ah antara Syaikh Al-Azhar Salim Al-Bisyri dengan seorang syi’ah yaitu Syarafuddin Al-Musawi. Kitab Al-Muraja’at diterbitkan 20 tahun setelah Syekh Salim Al-Bisyri meninggal. DR.Ali Ahmad As-Salus, ulama AhluSunnah dari Qatar pakar aliran Syi’ah bertemu dengan putra Syekh Salim Al-Bisyri dan putranya tersebut berkata, “Saya telah membaca (mempelajari) hadis dari ayahku selama 30 tahun dan beliau tidak sedikitpun menyebutkan tentang Syi’ah kepadaku. Beliau juga tidak pernah menyembunyikan sesuatu kepadaku.”</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ada kepincangan dalam cara berpikir penulis, Beliau meragukan kitab <em>Al Muraja’at</em> sebagai buat-buatan saja oleh Syaikh Al Musawi singkatnya dialog dalam buku itu fiktif Padahal buku itu sendiri menjelaskan tentang terjadinya dialog tersebut. Tidak masalah dengan diterbitkannya buku itu 20 tahun kemudian. Hal ini juga diakui terang-terangan oleh Syaikh Al Musawi dalam buku itu dimana beliau menjelaskan karena sesuatu hal maka buku ini baru bisa diterbitkan. Pincangnya adalah penulis itu dengan mudahnya mempercayai apa yang dikatakan Ali As Salus dalam <em>Imamah dan Khilafah</em> yang berhujjah dengan perkataan anaknya Syaikh Salim Al Bisyri yang tidak jelas siapa namanya, kapan ia mengatakan itu, dimana, dan siapa saksinya. Bukankah kalau memang benar begitu si anak tersebut lebih berhak untuk membersihkan nama ayahnya dari tuduhan, sayangnya sampai saat ini saya belum menemukan karya yang membantah <em>Al Muraja’at</em> oleh anak tersebut. Lagipula apakah pernyataan anak tersebut adalah hujjah mati bahwa dialog dalam buku itu fiktif. Bukankah bisa saja sang Ayah merahasiakan dialog tersebut dari anaknya. Dugaan-dugaan tidak bisa dijadikan dasar dalam berhujjah karena hanya melahirkan suatu kemungkinan tetapi tidak mengabaikan kemungkinan yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya tunjukkan sedikit kekeliruan Ali As Salus dalam <em>Imamah dan Khilafah</em>, beliau Ali As Salus telah membuat dugaan bahwa kitab <em>Al Wilayat Fi Thuruq Al Ghadir</em> yang dikarang oleh Ibnu Jarir Ath Thabari adalah bukan dikarang oleh Ath Thabari yang sunni melainkan oleh Ath Thabari yang syiah. Dugaan ini jelas tidak berdasar sama sekali. Pernyataannya ini jelas bertentangan dengan apa yang dikatakan Ibnu Katsir dalam <em>Al Bidayah Wa An Nihayah</em> yang menjelaskan bahwa kitab itu memang dikarang oleh Ibnu Jarir Ath Thabari yang sunni. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Adz Dzahabi dalam <em>Tadzkirat Al Huffaz</em>, Adz Dzahabi menulis bahwa <em>” ketika Al Thabari mendengar bahwa Ibnu Abi Dawud menolak keotentikan hadis Al Ghadir, beliau menulis buku mengenai keotentikannya dan keutamaan Ahlul Bait”</em> kemudian Adz Dzahabi menambahkan bahwa dia sendiri melihat satu jilid karya Ath Thabari tentang Thuruq Hadis Al Ghadir dan dibuat kagum oleh besarnya jumlah periwayatnya. Yang bisa kita ambil sebagai pelajaran adalah tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa setiap dugaan memerlukan bukti agar bisa dipercaya. Tapi sayangnya ada banyak orang yang lebih mudah mempercayai dugaan karena dipengaruhi kecenderungannya.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">****************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><strong>SEDIKIT DISKUSI DENGAN PENULIS</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ali</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%E2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/#comment-1399">Januari 7, 2008 at 4:35 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">Bukannya ahli tafsir sunni sepakat kalau alMaidah ayat 67 turun di ghadir kum<br />
banyak kitab tafsir Sunni yang meriwayatkannya<br />
Almaidah ayat 3 itu juga turun di ghadir kum, anda bisa lihat riwayat ini dalam Ma Nazal Quran Ali oleh AlIsfahani,kalau tidak salah</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">******************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%E2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/#comment-1499">Januari 19, 2008 at 5:37 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@Ali<br />
Saya berterimakasih kalau Mas mau membahas lebih lanjut soal Kesepakatan ahli Tafsir sunni<br />
Rasanya saya juga pernah baca hadis dalam sumber yang Mas sebutkan<br />
Dan Maaf sanadnya juga bermasalah Mas</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#800080;">Diskusi selanjutnya dan juga kalo mau nimbrung klik</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%E2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/#comments" target="_blank">DISINI</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#800080;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/21/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait-2/" target="_blank">Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/pengantar-jawaban-untuk-sdr-jakfar-maaf-maaf-perhatian-sebelumnya/" target="_blank">Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</a></li>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</a></li>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">___________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%E2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/#comments" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">-KLIK DISINI-</span></a></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/914/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/914/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/914/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=914&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-tabligh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 06:55:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh dan Ta&#039;dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Salafy-Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syubuhat Wahabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=909</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah) SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar Ayat Al Mubahalah “Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=909&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Mubahalah)</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;">Ayat Al Mubahalah<br />
<em>“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Q.S.Ali Imran : 61)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau penulis menyebutkan <span id="more-909"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kebanyakan ahli Tafsir menyatakan Asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan Rasulullah SAW yang bermuhabalah dengan ahlul kitab nasrani. Kemudian Rasulullah mengajak Hasan, Husen, Fatimah dan Ali dalam bermuhabalah dengan orang Nasrani tsb. ‘Anak-anak kami’ mengacu kepada Hasan dan Husein, ‘Isteri-isteri kami’ mengacu kepada Fatimah Az-Zahra, dan ‘diri kami’ mengacu kepada Ali bin Abi Thalib</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini saya sependapat dengan pernyataan di atas berdasarkan hadis <em>Shahih Muslim Kitab Keutamaan para sahabat, Bab Keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib no: 2404<br />
diriwayatkan oleh Saad bin Abi Waqqas bahwa Tatkala diturunkan ayat: Maka katakanlah kepada mereka: “Marilah kita menyeru anak-anak kami serta anak-anak kamu……(‘Ali Imran 3:61), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain lalu berdoa: “Ya Allah! Merekalah ahli keluarga Aku.”</em><br />
Kemudian penulis berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Apakah dengan penggunaan kata ‘diri kami’ yang mengacu kepada Ali r.a berarti Rasulullah SAW menyamakan dirinya dengan Ali r.a ?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Adalah jelas bahwa diri Ali ra berbeda dengan diri Rasulullah SAW oleh karenanya penggunaan kata itu lebih bersifat kiasan betapa dekatnya Rasulullah SAW dan Ali ra ketimbang diartikan secara harfiah. Sama halnya dengan hadis Ali bagian dariKu dan Aku bagian dari Ali atau Husain bagian dariKu dan Aku bagian dari Husain.</p>
<p style="text-align:justify;">Penulis juga mengutip Ibnu Taimiyyah yang berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">bahwa Kata-kata DIRI dalam ayat-ayat tersebut maksudnya adalah saudara dalam nasab atau saudara dalam agama. Ibnu Taimiyyah menyandarkan pendapatnya itu pada Al Quranul Karim.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat <em>“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap DIRI MEREKA SENDIRI, dan berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (Q.S.An-Nur 12)</em>. Ayat ini berkaitan dengan peristiwa fitnah terhadap Aisyah ra dan salah seorang sahabat Nabi. Diri mereka dalam ayat ini memang merujuk pada arti saudara seagama. FirmanNya juga<em> : “..dan bunuhlah DIRIMU..” (Q.S.Al-Baqarah 54)</em>. Ayat ini ditujukan pada bani Israil dan dirimu pada ayat ini bisa merujuk pada diri tiap orang dari bani Israil atau sesama mereka yang berarti saudara satu kaum. Dan firmanNya : <em>“Dan ketika Kami mengambil janji dari kamu : kamu tidak akan menumpahkan darahmu , dan kamu tidak akan mengusir DIRIMU dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar sedang kamu mempersaksikannya.” (Q.S.Al-Baqarah 84).</em> Dalam Ayat ini jelas sekali menunjukkan bahwa kata dirimu ini merujuk pada saudara satu kaum atau saudara sebangsa. Jadi seharusnya Ibnu Taimiyyah berkata <em>dirimu dalam ayat-ayat(yang dia sebutkan) berarti saudara satu kaum atau sebangsa dan saudara seagama. Tidak ada keterangan tentang saudara senasab.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Apakah benar arti dirimu pada ayat Mubahalah merujuk pada saudara satu kaum atau saudara seagama? Jawaban saya, ketika ditujukan kepada Bani Najran maka dirimu dalam ayat ini bisa berarti diri tiap orang dari Bani Najran atau saudara sekaum dan seagama dengan mereka. Tapi <strong>bagi Rasulullah SAW dirimu ini diartikan Rasulullah SAW merujuk pada Beliau SAW sendiri dan Ali bin Abi Thalib ra karena nash yang shahih berkata demikian</strong>(lihat hadis <em>Shahih Muslim </em>di atas). Seandainya diri kamu bagi Rasulullah SAW diartikan kepada saudara sebangsa atau seagama maka adalah jelas bahwa Rasulullah SAW akan mengajak para Sahabat yang lain beserta anak dan isteri mereka, tetapi sayangnya tidak ada dalil yang menyatakan demikian. Seperti yang dikatakan penulis kebanyakan ahli tafsir Sunni menyatakan ketika ayat tersebut turun Rasulullah SAW menyeru Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.<br />
Saudara Ja’far kemudian berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Rasulullah SAW mengajak Ali, Fatimah, Hasan dan Husein bermuhabalah dengan ahlul kitab Nasrani tsb karena merekalah yang terdekat bagi Rasulullah SAW. Serupa dengan hadis penyelimutan Nabi SAW kepada mereka bukan kepada istri-istrinya Nabi SAW yang menunjukkan bahwa mereka lebih dekat kepada Rasulullah SAW dari pada istri-istri Nabi SAW.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya sependapat dengan hal ini dan perlu ditambahkan masalah penyelimutan itu, mengapa Nabi SAW menyelimuti Ali, Fatimah, Hasan dan Husain karena mereka lah yang dituju dalam ayat tersebut, dan kenapa Nabi SAW tidak menyelimuti istri-istri Beliau SAW karena mereka memang tidak dituju dalam ayat tersebut. Hal ini berbeda dengan pendapat penulis yang berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Akan tetapi, dengan tidak dilakukannya penyelimutan kepada istri-istri Nabi SAW bukanlah menunjukkan bahwa istri-istri Nabi SAW bukan Ahlul bait. Penjelasan hal ini lihat tulisan saya tentang Q.S.Al-Ahzab ayat 33.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya juga telah menanggapi tulisan beliau saudara Ja’far tentang ahlul bait dalam Al Ahzab ayat 33.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali ke ayat Mubahalah penulis berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ayat ini tidaklah dapat dijadikan pedoman bahwa Ali adalah pengganti Rasulullah SAW. Ayat ini hanyalah menunjukkan keutamaan Ali, Fatimah, Hasan dan Husein dimana mereka adalah ahlul bait nabi SAW yang termulia dan paling dekat dengan Nabi SAW.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jawaban saya benar sekali ayat ini tidak menjadi hujjah yang nyata bahwa Ali adalah pengganti Rasulullah SAW. Ayat ini menunjukkan bahwa mereka Ahlul Bait as adalah yang termulia setelah Rasulullah SAW. Berangkat dari sini bisa dimengerti kalau Ulama Syiah berpendapat bahwa jika ada pengganti Rasulullah SAW maka pengganti tersebut adalah lebih mungkin dari Ahlul Bait Beliau SAW dan tidak dari yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#0000ff;">*********************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="text-decoration:underline;color:#ff0000;"><strong>SEDIKIT DISKUSI PENULIS DENGAN PEMBACA</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>bersatu</strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/#comment-1836">Maret 31, 2008 at 10:06 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">kebodohan yata lagi , kalau memang pengganti Nabi adalah dari ahlul bait, kenapa begitu bodohnya para sahabat membiarkan itu terjadi, apa karena kedangkalan pemikiran anda yang katanya pecinta ahlul bait, gimana jadinya imam ali yang tidak memenuhi perintah Nabi untuk dijadikan pengganti …………. anda berargumen, kadang pakai dalil kadang pakai nafs ( contoh : Berangkat dari sini bisa dimengerti kalau Ulama Syiah berpendapat bahwa jika ada pengganti Rasulullah SAW maka pengganti tersebut adalah lebih mungkin dari Ahlul Bait Beliau SAW dan tidak dari yang lain. ) ini contoh argumen anda yang tidak sesuai dengan tuntunan, tapi hanya berdasa nafs ( seperti setan yang lebih berhak untuk tidak menyembah nabi adam )</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/" rel="external nofollow">secondprince</a></strong>, on <a title="" href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/#comment-1848">April 2, 2008 at 9:47 pm</a>said:</p>
<p style="text-align:justify;">@bersatu<br />
Begini Mas bersatu, sepertinya Mas ini belum memahami permasalahan dengan baik. Tulisan saya di atas adalah jawaban buat blog saudara Ja’far yang menulis kritikan buat Syiah. Saya menanggapi tulisan itu dan membahas kritikan beliau dari sudut pandang ulama Syiah yang tentu disertai dengan sedikit analisis tentang paparan saudara Ja’far dan apa yang dikatakan Ulama Syiah<br />
Menurut saya, menampilkan apa sebenarnya yang dinyatakan ulama Syiah adalah relevan dalam membahas tulisan saudara Ja’far yang memang mengkritik syiah. Jadi gak perlulah saling menghina</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">kebodohan yata lagi , kalau memang pengganti Nabi adalah dari ahlul bait, kenapa begitu bodohnya para sahabat membiarkan itu terjadi, apa karena kedangkalan pemikiran anda yang katanya pecinta ahlul bait,</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Nah yang ini juga pernah disampaikan saudara Ja’far juga, anda bisa lihat pembahasannya <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-al-ghadir/" rel="nofollow">disini </a></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">anda berargumen, kadang pakai dalil kadang pakai nafs ( contoh : Berangkat dari sini bisa dimengerti kalau Ulama Syiah berpendapat bahwa jika ada pengganti Rasulullah SAW maka pengganti tersebut adalah lebih mungkin dari Ahlul Bait Beliau SAW dan tidak dari yang lain. )</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maaf Mas itu adalah deskripsi saya bagaimana Ulama Syiah berpandangan soal dalil ayat Mubahalah itu, sekali lagi saya cuma memaparkan apa yang dipahami Ulama Syiah. Tulisan di atas mengulas kritikan saudara Ja’far terhadap syiah maka apa pandangan Syiah relevan sekali ditampilkan<br />
kalau menurut anda keliru maka anda bisa menyampaikan dimana letak kekeliruannya <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1303930650g" alt=":)" /></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">ini contoh argumen anda yang tidak sesuai dengan tuntunan, tapi hanya berdasa nafs ( seperti setan yang lebih berhak untuk tidak menyembah nabi adam )</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Apa yang saya tulis sebisa mungkin bersikap objektif dengan menampilkan apa yang dipahami Ulama Syiah, maaf kalau anda tidak mengerti <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif?m=1303930650g" alt=":(" /></p>
<p style="text-align:justify;">_______________________</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><strong>Komen dan diskusi selanjutnya juga kalo mau nimbrung klik</strong></span> <strong><a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%E2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/#comments" target="_blank">DISINI</a></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#800080;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/21/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait-2/" target="_blank">Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/pengantar-jawaban-untuk-sdr-jakfar-maaf-maaf-perhatian-sebelumnya/" target="_blank">Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">___________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN <span style="color:#0000ff;"><a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%E2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/#comments" target="_blank">-KLIK DISINI-</a></span></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/909/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/909/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/909/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/909/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/909/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/909/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/909/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/909/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/909/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/909/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/909/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/909/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/909/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/909/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=909&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-mubahalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif?m=1303930650g" medium="image">
			<media:title type="html">:)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif?m=1303930650g" medium="image">
			<media:title type="html">:(</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 06:10:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh dan Ta&#039;dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Salafy-Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syubuhat Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=900</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah) SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar Ayat Al Wilayah “Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka ruku’ (kepada Allah)” (Q.S.Al-Ma’idah ayat 55) Ayat ini dikatakan oleh Ulama Syiah sebagai ayat yang turun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=900&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#333399;"><strong>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Ayat Al Wilayah)</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span><a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/" target="_blank"> Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;">Ayat Al Wilayah<br />
<em>“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka ruku’ (kepada Allah)” (Q.S.Al-Ma’idah ayat 55)</em><br />
Ayat ini dikatakan oleh Ulama Syiah sebagai ayat yang turun kepada Imam Ali, mereka berkata “Orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya ruku” berkenaan kepada Ali yang ketika itu memberikan cincinnya kepada peminta-minta ketika beliau dalam posisi ruku’ dalam sholat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sepertinya sang penulis(saudara Ja’far) menunjukkan keraguannya tentang hal ini. Beliau berkata <span id="more-900"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Hadis-hadis tentang asbabun nuzul ayat ini adalah hadis-hadis yang periwayatnya diperselihkan atau bahkan mungkin hadis dhaif/maudhu’. </em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan ini adalah tidak benar, hadis yang menerangkan asbabun nuzul ayat ini memiliki banyak sanad yang diriwayatkan dalam berbagai kitab Ahlus Sunnah, sebagian hadisnya memang diperselisihkan perawinya dan dhaif tetapi sebagian lagi ada yang shahih. Oleh karena itu hadis-hadis tersebut satu sama lainnya saling menguatkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kitab <em>Lubab Al Nuqul fi Asbabun Nuzul</em> Jalaludin As Suyuthi hal. 93 beliau menjabarkan jalur-jalur dari hadis asbabun nuzul ayat ini, kemudian ia berkata <strong><em>” Dan ini adalah bukti-bukti yang saling mendukung”</em></strong>. Atau dapat dilihat dalam Edisi terjemahannya dari Kitab As Suyuthi oleh A Mudjab Mahali dalam <em>Asbabun Nuzul Studi Pendalaman Al Quran</em> hal 326 menguatkan asbabun nuzul ayat ini untuk Imam Ali. Beliau membawakan hadis At Thabrani dalam <em>Al Awsath</em> dan mengkritiknya karena terdapat perawi yang majhul dalam sanadnya tetapi kemudian beliau melanjutkan keterangannya <strong><em>”Sekalipun hadis ini ada rawi yang majhul(tidak dikenal) tetapi mempunyai beberapa hadis penguat di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Abdil Wahab bin Mujahid dari Ayahnya dari Ibnu Abbas. Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawih dari Ibnu Abbas dan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Mujahid dan Ibnu Abi Hatim dari Salamah bin Kuhail. Hadis ini satu sama lainnya saling kuat menguatkan”. </em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan Ulama Syiah bahwa mayoritas ahli hadis dan ahli tafsir menyatakan bahwa ayat ini turun untuk Imam Ali, sebenarnya juga dinyatakan oleh Ulama Sunni At Taftazani Asy Syafii dalam <em>Syarh Al Maqashid</em>, Al Jurjani dalam <em>Syarh Al Mawaqif</em> dan Al Qausyaji dalam <em>Syarh Tajrid</em>. Bahkan Al Alusi dalam <em>Ruh Al Ma’ani</em> jilid 6 hal 167 mengatakan bahwa turunnya ayat tersebut untuk Imam Ali ra adalah pendapat kebanyakan Ahli hadis.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya ingin sekali meminta kepada penulis tersebut siapa yang menyatakan hadis asbabun nuzul ayat ini untuk Imam Ali adalah dhaif atau maudhu’ setelah menganalisis semua jalur sanadnya. Sekedar pernyataan dari Ali As Salus dalam <em>Imamah dan Khilafah</em> atau Ibnu Taimiyyah dalam <em>Minhaj As Sunnah</em> jelas tidak kuat. Alasannya karena mereka yang saya sebutkan itu tidak menganalisis semua jalur sanad hadis asbabun nuzul ayat Al Wilayah. Mereka hanya mencacat sebagian hadisnya, seperti Ali As Salus yang hanya membahas hadis ini dalam <em>Tafsir Ath Thabari</em> kemudian langsung memutuskan bahwa riwayat tersebut dhaif tanpa melihat banyak sanad lainnya dari kitab lain. Apalagi Ibnu Taimiyyah yang melakukan banyak kekeliruan dalam <em>Minhaj As Sunnah</em> antara lain beliau mengatakan bahwa hadis asbabun nuzul ayat ini tidak ditemukan dalam <em>Tafsir Ath Thabari</em> dan <em>Tafsir Al Baghawi</em> padahal kenyataannya kedua kitab tafsir itu memuat hadis yang kita bicarakan ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian sang penulis(Ja’far) juga menyatakan keraguan bahwa Ayat Al Wilayah ini turun untuk Imam Ali, beliau berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Dalam ayat tsb sangat jelas bahwa “orang-orang yang beriman…” adalah jamak, maka bagaimana mungkin ayat itu menunjuk kepada satu orang yaitu Ali bin Abi Thalib r.a.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em> </em>Disini letak kekeliruan sang penulis dimana beliau telah menempatkan subjektivitasnya dalam menilai suatu nash. Ulama Syiah Syaikh Al Musawi dalam <em>Al Muraja’at</em> telah menyatakan bahwa memang ada ayat Al Quran yang kata-katanya jamak tetapi ditujukan untuk orang tertentu. Saya tidak akan menukil pernyataan Syaikh Al Musawi cukuplah kiranya saya menukil pernyataan penulis sendiri dalam pembahasan Ayat Al Mubahalah</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Q.S.Ali Imran : 61). </em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tentang ayat ini penulis(saudara Ja’far) berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Kebanyakan ahli Tafsir menyatakan Asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan Rasulullah SAW yang bermuhabalah dengan ahlul kitab nasrani. Kemudian Rasulullah mengajak Hasan, Husen, Fatimah dan Ali dalam bermuhabalah dengan orang Nasrani tsb. ‘Anak-anak kami’ mengacu kepada Hasan dan Husein, <strong>‘Isteri-isteri kami’ mengacu kepada Fatimah Az-Zahra,</strong> dan ‘diri kami’ mengacu kepada Ali bin Abi Thalib.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan An Nisaana yang diterjemahkan istri-istri kami atau perempuan perempuan kami adalah bersifat jamak, lalu mengapa hanya mengacu pada Sayyidah Fatimah Az Zahra saja.(perlu diingatkan bahwa dalam <em>Shahih Muslim</em> jelas bahwa hanya Sayyidah Fatimah Az Zahra as satu-satunya wanita yang diseru Nabi SAW untuk menyertai Beliau SAW bermubahalah). Jadi kalau pernyataan tentang ayat mubahalah ini diterima lantas mengapa mempermasalahkan Ayat Al Wilayah.<br />
Selanjutnya saudara Ja’far menuliskan Syi’ah mengatakan bahwa penggunaan kata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>“orang-orang yang beriman..dst” padahal ayat tersebut berkenaan dengan Ali dimaksudkan agar perbuatan Ali yang sangat peduli dan tidak menunda-nunda membantu orang miskin padahal ia (Ali) lagi sholat dicontoh oleh umat islam.<br />
Jawabanku; Bagaimana mungkin Allah menjadikan perbuatan memberikan zakat/sedekah ketika sholat sebagai teladan yang ‘terukir’ dalam Qur’an padahal Sholat membutuhkan konsentrasi yang penuh?</em>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan seperti <em>dimaksudkan agar perbuatan Ali yang sangat peduli dan tidak menunda-nunda membantu orang miskin padahal ia (Ali) lagi sholat dicontoh oleh umat islam,</em> sebenarnya juga dikemukakan oleh Ulama Sunni Az Zamakhsyari dalam <em>Tafsir Al Kasyaf</em> ketika membahas ayat Al Wilayah. Yang ingin penulis(saudara Ja’far) sampaikan adalah bagaimana mungkin bisa dibolehkan dalam shalat padahal shalat membutuhkan konsentrasi penuh. Sebelum menjawab penulis maka marilah kita perhatikan hadis-hadis ini.<br />
<em>“Bunuhlah kedua binatang yang hitam itu sekalipun dalam (keadaan) shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, shahih)<br />
</em><br />
<em>“Apabila salah seorang di antara kamu shalat meng-hadap ke arah sesuatu yang menjadi pembatas baginya dari manusia, kemudian ada yang mau melintas di hadapannya, maka hendaklah dia mendorongnya dan jika dia memaksa maka perangilah (cegahlah dengan keras). Sesungguhnya (perbuatannya) itu adalah (atas dorongan) syaitan.” (Muttafaq ‘alaih)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dari Jabir bin Abdullah , ia berkata, ‘Telah mengutus-ku Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang beliau pergi ke Bani Musthaliq. Kemudian beliau saya temui sedang shalat di atas onta-nya, maka saya pun berbicara kepadanya. Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya. Saya ber-bicara lagi kepada beliau, kemudian beliau kembali memberi isyarat sedang saya mendengar beliau membaca sambil memberi isyarat dengan kepalanya. Ketika beliau selesai dari shalatnya beliau bersabda, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan perintahku tadi? Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk bicara kecuali karena aku dalam keadaan shalat’.” (HR. Muslim)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Dari Ibnu Umar, dari Shuhaib , ia berkata: “Aku telah melewati Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat, maka aku beri salam kepadanya, beliau pun membalasnya dengan isyarat.” Berkata Ibnu Umar: “Aku tidak tahu terkecuali ia (Shuhaib) berkata dengan isyarat jari-jarinya.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan selain mereka, hadits shahih)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dari Abu Qatadah Al-Anshari berkata, ‘Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam mengimami shalat sedangkan Umamah binti Abi Al-’Ash, yaitu anak Zainab putri Nabi Shallallaahu alaihi wasallam berada di pundak beliau. Apabila beliau ruku’, beliau meletak-kannya dan apabila beliau bangkit dari sujudnya beliau kembalikan lagi Umamah itu ke pundak beliau.” (HR. Muslim)</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Dari Aisyah radhialaahu anha, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang shalat di dalam rumah, sedangkan pintu tertutup, kemudian aku datang dan minta dibukakan pintu, beliau pun berjalan menuju pintu dan membukakannya untukku, kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya. Dan terbayang bagiku bahwa pintu itu menghadap kiblat.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan)<br />
</em><br />
<em>“Dari Ibnu Abbas , ia berkata, ‘Aku pernah menginap di (rumah) bibiku, Maimunah, tiba-tiba Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bangun di waktu malam mendirikan shalat, maka aku pun ikut bangun, lalu aku ikut shalat bersama Nabi Shallallaahu alaihi wasallam, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di sebelah kanannya.” (Muttafaq ‘alaih)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Seandainya kita memakai logika yang dipakai oleh saudara penulis itu maka kita akan mengatakan maka Bagaimana mungkin membunuh ular atau kalajengking, menghadang orang yang lewat, memberi isyarat kepada orang yang berbicara atau memberi salam, menggendong anak, membukakan pintu dan menarik tubuh orang ketika shalat menjadi teladan karena bukankah shalat membutuhkan konsentrasi penuh. Lantas apakah hadis-hadis itu mesti ditolak?.</p>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lanjutkan tulisan Beliau</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Memang sangat bagus untuk tidak menunda-nunda membantu orang miskin yang butuh kepada kita tetapi sholat tidaklah memakan waktu yang lama, bukankah lebih baik jika orang miskin tsb meminta setelah sholat usai? atau jika dilihat dari sudut pandang orang miskin tsb, maka Al-Qur’an membolehkan/tidak menegur orang miskin meminta sedekah kepada orang yang lagi sholat padahal menurut saya (dan semua orang) perbuatan orang miskin tsb kurang beradab.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Apakah benar perbuatan orang miskin tersebut kurang beradab? Saya heran apakah penulis membaca sendiri hadis tentang ayat Al Wilayah ini. Bukankah pada hadis itu dijelaskan bahwa awalnya pengemis itu meminta-minta di masjid kepada beberapa orang di masjid(yang sedang tidak shalat) tetapi tidak ada satupun yang memberi. Ketika itu Imam Ali sedang shalat kemudian Beliau memberi isyarat kepada pengemis dengan jarinya yang bercincin dan pengemis itu mendekat kemudian pengemis itu mengambil cincin tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja tidak ada yang mengatakan kalau pengemis itu langsung meminta kepada orang yang shalat. Pengemis itu mendekat ketika Imam Ali sendiri berisyarat. Bukankah memberi isyarat dalam shalat adalah hal yang dibolehkan. Seandainya juga pengemis itu langsung meminta kepada Imam Ali yang ketika itu sedang shalat apakah lantas dikatakan tidak beradab lalu bagaimana dengan Jabir bin Abdullah yang berbicara dua kali kepada Nabi SAW yang ketika itu sedang shalat atau Ibnu Umar yang memberi salam kepada Nabi SAW ketika Beliau SAW sedang shalat. Apakah Nabi SAW selanjutnya melarang mereka Jabir bin Abdullah dan Ibnu Umar? Tidak kok(lihat saja hadis yang saya kutip di atas). Yang perlu ditambahkan adalah Ayat Al Wilayah ini juga dimasukkan oleh ahli tafsir Sunni Abu Bakar Al Jashshash dalam kitabnya <em>Tafsir Ahkam Al Quran</em> sebagai dasar bahwa sedikit gerakan dalam shalat tidak membatalkan shalat dan sedekah sunah dapat dinamai zakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kata-kata beliau</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Syi’ah juga menyebutkan bahwa bersedekah ketika ruku’ dalam sholat itu tidak mengurangi posisi Amirul Mukminin (Ali), bahkan tindakan itu diikuti para imam sesudahnya</em>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya tidak ada masalah dengan kata-kata ini tetapi penulis menanggapi dengan</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Di sini timbul pertanyaan, “Jika tindakan ini merupakan cermin keutamaan penghulu para Imam (Ali r.a) yang diikuti oleh para imam, lalu mengapa tindakan ini tidak dilakukan oleh manusia terbaik, Nabi Muhammad SAW? Juga tidak dilakukan oleh para sahabat yang lain?</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jawab saya: apakah setiap keutamaan seseorang itu harus diikuti oleh orang lain, bukankah setiap orang memiliki keutamaan masing-masing. Apakah seandainya suatu keutamaan tidak diikuti oleh beberapa orang maka gugurlah keutamaan itu?. Bukankah banyak keutamaan Imam Ali yang tidak dimiliki oleh sahabat yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengenai tafsir Al Maidah ayat 55 yang beliau jelaskan adalah penafsiran yang menyesuaikan dengan urutan ayat. Tafsir yang beliau kemukakan itu sama dengan tafsir ayat tersebut dalam kitab <em>Tafsir Ibnu Katsir. </em>Pendapat saya tentang tafsir ini boleh-boleh saja. Tidak ada masalah, justru yang jadi masalah jika kita mengabaikan banyak hadis yang menjelaskan asbabun nuzul ayat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#800080;">*********************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#0000ff;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><a href="../2011/10/21/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait-2/" target="_blank">Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/pengantar-jawaban-untuk-sdr-jakfar-maaf-maaf-perhatian-sebelumnya/" target="_blank">Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya</a></li>
<li><a href="../2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</a></li>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">___________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN<span style="color:#0000ff;"> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%E2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/#comments" target="_blank">-KLIK DISINI-</a></span></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:justify;">__________________________________________________________________</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/900/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/900/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/900/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=900&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-ayat-al-wilayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 05:56:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Imamah]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh dan Ta&#039;dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Salafy-Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syubuhat Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=896</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali) SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar Beliau Saudara Ja’far mengawali tulisannya dengan masalah Imamah yang diyakini oleh Syiah sebagai rukun iman. Berangkat dari sini beliau mempermasalahkan bagaimana dengan umat Islam yang tidak mempercayai Imamah dengan kata lain Islam Sunni. Sebenarnya pandangan Syiah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=896&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003300;"><strong>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Hadis Kepemimpinan Imam Ali)</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamahhadis-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;">Beliau Saudara Ja’far mengawali tulisannya dengan masalah Imamah yang diyakini oleh Syiah sebagai rukun iman. Berangkat dari sini beliau mempermasalahkan bagaimana dengan umat Islam yang tidak mempercayai Imamah dengan kata lain Islam Sunni. Sebenarnya pandangan Syiah terhadap keislaman Sunni ini sudah ditetapkan oleh ulama Syiah bahwa Sunni adalah sah keislamannya. Ini adalah pendapat yang muktabar di sisi Syiah seperti dalam <a title="Telaah Perbedaan Sunni Syiah" href="http://secondprince.wordpress.com/2007/09/11/telaah-perbedaan-sunni-dan-syiahi/" target="_blank">tulisan saya.</a> Tidak hanya Muhammad Husain Kasyif Al-Githa yang menyatakan seperti itu, Sayyid Abdul Husain Syarafudin Al Musawi dan Murtadha Muthahhari juga berpandangan demikian. Dan pandangan ini memiliki landasan dari hadis-hadis Imam Ahlul Bait as di sisi Syiah. <span id="more-896"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Beliau kemudian melanjutkan</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Jika seandainya Imamah termasuk rukun iman maka seharusnya ada dalil-dalil yang jelas dan tegas dari Al-Qur’an maupun hadis nabi Muhammad SAW tentang hal ini.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Maka jawab saya di sisi Syiah masalah ini jelas memiliki landasan yang kuat dari Al Quran(ini masalah penafsiran) walaupun tidak bersifat tegas(karena memerlukan hadis) tetapi masalah ini memiliki nash yang tegas dalam hadis-hadis Imam Ahlul Bait as di sisi Syiah. Kemudian saudara Ja’far menulis</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Setahu saya tidak ada dalil (dari Qur’an maupun hadis) yang mengatakan secara jelas dan tegas bahwa Ali bin Abi Thalib r.a berikut keturunan-keturunannya adalah pengganti rasulullah SAW.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jawab saya, saya setuju kalau dalam Al Quran tidak ada penunjukkan jelas masalah ini tetapi bagi Syiah banyak sekali hadis-hadis Imam Ahlul Bait as yang bersifat jelas tentang ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sepertinya yang beliau maksud hadis itu hanyalah hadis-hadis dari golongan Sunni saja sedangkan di sisi Syiah maka itu tidak disebut hadis. Pandangan seperti ini adalah tidak benar dan berat sebelah, Syiah mempunyai dasar yang kuat untuk berpegang pada hadis-hadis Imam Ahlul Bait as. Mari kita perjelas</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">• Syiah berpegang pada hadis-hadis Imam Ahlul Bait as adalah sesuai dengan landasan mereka yaitu Hadis Tsaqalain yang tidak hanya shahih dan mutawatir di sisi Syiah tetapi juga shahih di sisi Sunni.<br />
• Sunni sering mendakwa Syiah membuat-buat hadis dengan mengatasnamakan Ahlul Bait as. Pernyataan ini adalah pernyataan sepihak dan maaf sangat subjektif. Ulama Sunni seringkali menuduh perawi-perawi hadis Syiah sebagai pemalsu hadis. Hal ini tidak bisa diterima karena Syiah memiliki bukti yang jelas dari kitab Rijal mereka tentang perawi-perawi hadis Syiah. Dengan kata lain mengapa Ulama Syiah harus menghukum perawi-perawi hadis mereka dengan ukuran-ukuran yang ditetapkan oleh Ulama Sunni. Bukankah Ulama Sunni sendiri menetapkan ukuran perawi-perawi hadis mereka(sunni) dengan sumber mereka sendiri tidak dari sumber Syiah.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Baiklah mari kita ikuti kehendak penulis(beliau) dengan berlandaskan hadis-hadis di sisi Sunni saja. Beliau berkata</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Adapun dalil-dalil yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib r.a adalah khalifah / imam setelah Rasulullah SAW adalah hadis maudhu’ (palsu) dan dha’if (lemah).</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi yang dimaksud hadis di sini maksudnya hadis di sisi Sunni. Mari kita lihat hadis yang beliau maksud,</p>
<p style="text-align:justify;">.<em> “Barangsiapa yang ingin hidup seperti hidupku, ingin meninggal seperti aku meninggal, dan bertempat di surga yang telah dijanjikan Allah SWT kepadaku dan pohon-pohon ditanam oleh kedua tangan-Nya maka dia harus menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin, sebab dia tidak akan mengeluarkan kamu dari kebenaran dan tidak akan memasukkan kamu ke dalam kesesatan” (Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Ath-Thabrani<strong>(bukan At Thabari seperti yang dikutip penulis)</strong> dalam Al-Mu’jamal Kabir, Ibnu Syahin dalam Syarah as-Sunnah).<br />
Albani berkata : Hadis ini maudhu’ (lihat kitabnya Silsilah al-Ahadits al-dah’ifah wa Mawdhu’ah karya Nashiruddin Albani).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Penulis(beliau) menyatakan hadis ini maudhu’ berdasarkan pernyataan Syaikh Al Albani di atas. Hadis ini dan hadis no 2 serta no 3 memiliki matan yang sama(dengan sedikit tambahan tentang keturunan Ali bin Abi Thalib), hadis ini dijadikan hujjah oleh Ulama Syiah Syaikh Syarafuddin Al Musawi dalam <em>Al Muraja’at</em> dan beliau menyatakan bahwa hadis tersebut shahih. Pernyataan ini ditolak oleh Syaikh Al Albani yang justru menyatakan hadis tersebut maudhu’. Yang perlu diperhatikan adalah hadis ini diriwayatkan oleh Al Hakim dalam <em>Al Mustadrak</em> jilid 3 hal 128 dan beliau menyatakan shahih. Paling tidak ini bisa dijadikan alasan dari pihak Syiah bahwa ada ulama sunni yang menshahihkan hadis ini. Walaupun begitu saya sendiri lebih cenderung untuk menyatakan bahwa hadis ini dhaif karena dalam perawinya ada Yahya binYa’la Al Aslami yang dikenal dhaif. Oleh karena itu Adz Dzahabi dalam <em>Talkhis Al Mustadrak</em> menolak pernyataan shahihnya hadis ini oleh Al Hakim.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian saudara Ja’far melanjutkan dengan mengutip hadis <em>“Sesungguhnya Ali bagian diriku dan aku bagian darinya. Dan dia adalah pemimpin setiap orang mukmin yang sesudahku” (Musnad Imam Ahmad, Sunan Tirmidzi, dari Ja’far bin Sulaiman). </em>Anehnya beliau mencantumkan hadis ini dalam contoh hadis dhaif atau maudhu’ karena kredibilitas Ja’far bin Sulaiman Al Dhab’i.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam <em>Mizan Al Itidal</em> Adz Dzahabi jilid 1 hal 408 dan <em>Tahdzib At Tahdzib</em> Ibnu Hajar jilid 2 hal 95 terdapat keterangan tentang Ja’far bin Sulaiman.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">• Yahya bin Main menyatakan bahwa <strong><em>Ja’far bin Sulaiman tsiqat</em></strong><br />
• Ahmad bin Hanbal menilai<strong><em> Ja’far tidak tercela</em></strong><br />
• Ibnu Saad menyatakan <strong><em>Ja’far bin Sulaiman tsiqat tetapi tasyayyu</em></strong><br />
• Hammad bin Zaid berkata perihal Ja’far ”<strong><em>Tidak terlarang menerima riwayatnya meskipun dia Syiah dan banyak menceritakan tentang Ali dan orang Basrah berlebih-lebihan dalam memuji Ali” </em></strong><br />
• Ahmad bin Adiy menegaskan <strong><em>”Ja’far itu orang Syiah tetapi itu bukan masalah. Dia juga meriwayatkan hadis-hadis yang menerangkan keutamaan Abu Bakar dan Umar dan hadis-hadisnya tidak ditolak. Menurut pendapatku dia termasuk orang yang pantas diterima riwayatnya”.</em></strong><br />
• Ibnu Hibban berkata <strong><em>”Ja’far seorang tsiqat dalam meriwayatkanhadis”</em></strong>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan ini maka <strong><em>Ja’far bin Sulaiman adalah tsiqat.</em></strong> Keraguan yang disampaikan penulis perihal Ja’far bin Sulaiman seperti dalam kata-kata S<em>edangkan dalam kitabnya, Ad-Dhu’afa’,bukhari berkata,”Dia diperselisihkan dalam sebagian hadisnya”. Ibnu Syahiin dan Ibnu Ammar mengatakan bahwa Ja’far bin Sulaiman dhaif.</em> Keraguan seperti ini tidak tepat dan tidak bisa dijadikan hujjah karena</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">• Jika keadaan suatu perawi telah jelas ketsiqatannya maka setiap jarh yang dikemukakan harus disertai alasan yang kuat. Jadi tidak hanya sekedar jarh(celaan).<br />
• Penulis(beliau) tidak menyampaikan apa alasan jarh terhadap Ja’far bin Sulaiman. Dari kitab <em>Al Mizan</em> memang beredar isu kalau Ja’far bin Sulaiman memaki Abu Bakar dan Umar(kemungkinan besar hal ini yang menyebabkan keraguan terhadap Ja’far bin Sulaiman). Saya tidak menemukan alasan yang lain tentang celaan terhadap Ja’far bin Sulaiman selain hal ini. Tetapi isu ini telah dibantah oleh Ulama hadis seperti Ibnu Adiy bahkan Al Dzahabi berkata ketika membenarkan pernyataan Ibnu Adiy <strong><em>”terbukti bahwa Ja’far bin Sulaiman juga meriwayatkan hadis keutamaan Abu Bakar dan Umar. Jadi Ja’far itu jujur dan polos”.</em></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ja’far bin Sulaiman adalah perawi hadis <em>Shahih Muslim</em> dan Kitab <em>Sunan</em> serta <em>beliau telah dikenal tsiqat.</em> Oleh karena itu berdasarkan hal ini maka hadis yang dikemukakan saudara penulis itu adalah hadis yang shahih.. Hadis yang dipermasalahkan penulis itu adalah hadis <em>Sunan Tirmidzi</em> no 3712 yang dinyatakan hasan gharib oleh Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam <em>Shahih Sunan Tirmidzi</em>. Hadis dengan matan seperti ini juga diriwayatkan dalam <em>Musnad Ahmad</em> jilid I hal 330 hadis no 3062 &amp; 3063 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam <em>Takhrij Musnad Ahmad</em>. Selain itu hadis ini juga diriwayatkan Al Hakim dalam <em>Mustadrak Ash Shahihain</em> jilid 3 hal 134 dan beliau menyatakan hadis tersebut shahih. Pernyataan Al Hakim ini dibenarkan oleh Adz Dzahabi dalam <em>Talkhis Al Mustadrak</em>. Jadi kesimpulannya <strong><em>hadis tersebut adalah shahih</em></strong> dan dalam hal ini saya menunjukkan keheranan saya terhadap pernyataan penulis yang memasukkan hadis ini dalam contoh hadis dhaif dan maudhu’.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian beliau penulis itu melanjutkan</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Seandainya masalah imamah adalah masalah yang termasuk sangat-sangat penting (termasuk rukun iman / syarat kesempurnaan iman) maka harusnya Rasulullah SAW menyatakan keimamahan Ali dan keturunannya dengan tegas dan sering</em>,</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Pernyataan seperti ini sedikit kurang jelas menurut saya. Bagi Syiah keimamahan Ali dan keturunannya bersifat tegas, dan dalil-dalil tentang ini dapat ditemukan dalam kitab Sunni. Bukankah jika Rasulullah SAW menetapkan hal ini berapapun banyaknya mau sedikit atau sering maka itu sudah menjadi hujjah yang nyata.</p>
<p style="text-align:justify;">Kemudian pernyataan beliau yang menyamakan rukun iman dan syarat kesempurnaan iman itu juga layak dikritisi maksudnya. Rukun iman adalah berkaitan dengan apa yang kita yakini. Apa salahnya jika Syiah meyakini setiap apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW tentang Imamah(menurut mereka). Lalu apa hubungannya dengan syarat kesempurnaan iman, apakah penulis ingin menyatakan bahwa jika tidak meyakini Imamah maka imannya tidak sempurna. Disini perlu diperjelas keyakinan terhadap Imamah adalah keyakinan yang bersumber dari Rasulullah SAW(menurut Syiah). Tentu saja bagi mereka yang menganggap dalil syiah itu samar atau tidak benar jelas tidak akan mengimaninya. Jadi perbedaannya ada pada persepsi masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Saudara Ja’far melanjutkan</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>sehingga dengan demikian akan dijumpai banyak hadis-hadis yang shahih yang diriwayatkan dari banyak jalur serta tidak ada/sangat sedikit perselihan dalam masalah sanadnya mengenai hal tsb.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dalil disisi Syiah jelas sangat banyak oleh karena itu mereka mengimaninya. Sedangkan dalil di sisi Sunni maka Syiah lagi-lagi berkata juga banyak, contohnya adalah hadis Al Ghadir yang mutawatir di sisi Sunni. Hadis Al Ghadir ini dari sisi sanad tidak bisa ditolak tetapi Sunni memang mengartikan lain hadis ini. Yang perlu diingat kesalahan atau penolakan memang selalu saja bisa dicari-cari.</p>
<p style="text-align:justify;">Seprti yang dikatakan saudara Ja’far</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Akan tetapi kenyataan yang ada adalah sebaliknya; hadis-hadis tentang keimamahan Ali dan keturunannya adalah hadis yang maudhu’ atau dha’if atau jika tidak maudhu’/dhaif maka akan dijumpai banyak perselisihan dalam hal sanadnya atau sedikit jalur periwayatannya</em>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jawab saya: cukup banyak dalil shahih di sisi Sunni yang dijadikan dasar oleh Ulama Syiah hanya saja Sunni menafsirkan lain dalil-dalil tersebut. Oleh karena itu seharusnya yang perlu ditelaah adalah penafsiran mana yang benar atau lebih benar. Mari selanjutnya kita bahas ayat-ayat Al Quran yang dibicarakan oleh penulis tersebut.</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#800080;">*****************************</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;color:#993300;"><strong>ARTIKEL TERKAIT</strong></span></p>
<ol>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/21/khalifah-umat-islam-adalah-ahlul-bait-2/" target="_blank">Khalifah Umat Islam Adalah Ahlul Bait</a></li>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/pengantar-jawaban-untuk-sdr-jakfar-maaf-maaf-perhatian-sebelumnya/" target="_blank">Pengantar Jawaban Untuk Sdr Jakfar: Maaf, Maaf, Perhatian Sebelumnya</a></li>
<li><a href="http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</a></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">___________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN<a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamahhadis-hadis-kepemimpinan-imam-ali/" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">-KLIK DISINI-</span></a></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:justify;">__________________________________________________________________</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/896/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/896/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/896/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=896&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-hadis-kepemimpinan-imam-ali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</title>
		<link>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/</link>
		<comments>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 05:42:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>haula wahabiyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ahlul Bait]]></category>
		<category><![CDATA[Ilmu Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ali AS.]]></category>
		<category><![CDATA[Jarh dan Ta&#039;dil]]></category>
		<category><![CDATA[Kajian Hadis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Khilafah]]></category>
		<category><![CDATA[Membantah Salafy-Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syubuhat Wahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Tela'ah Hadis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://haulawahabiyah.wordpress.com/?p=891</guid>
		<description><![CDATA[Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah) SUMBER: Blog Analisis Pencari Kebenaran ditulis Oleh: J. Algar Tulisan ini adalah tanggapan saya pribadi atas tulisan saudara Ja’far yang berjudul Apakah Memang Ada Dalil Tentang Imamah?. Tulisan Beliau ini adalah tulisan yang berupa kritik terhadap Syiah dan dalam tulisannya beliau mengutip tafsir dan hadis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=891&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#003366;"><strong>Jawaban Untuk Saudara Ja’far Tentang Imamah (Kecenderungan Sunni Dan Syiah)</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">SUMBER:</span> <a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank">Blog Analisis Pencari Kebenaran</a></strong></p>
<h3 style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>ditulis Oleh: J. Algar</strong></span></h3>
<p style="text-align:justify;">Tulisan ini adalah tanggapan saya pribadi atas tulisan <a title="Situs saudara Ja'far" href="http://jafarshodiqalpalembani.wordpress.com/2007/08/27/apakah-memang-ada-dalil-tentang-imamah-kritik-terhadap-syiah/" target="_blank">saudara Ja’far yang berjudul <em>Apakah Memang Ada Dalil Tentang Imamah?</em>.</a> Tulisan Beliau ini adalah tulisan yang berupa kritik terhadap Syiah dan dalam tulisannya beliau mengutip tafsir dan hadis dari Ahlus Sunnah. Oleh karena itu tidak berlebihan jika saya menyimpulkan bahwa yang dimaksud oleh Beliau dengan dalil itu adalah dalil dari Sunni. <span id="more-891"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Secara sederhana memang rasanya aneh apabila ada dalil yang sangat jelas tentang Imamah di sisi Sunni karena jika ada maka itu akan membuat semua Sunni adalah Syiah atau tidak akan ada perbedaan Sunni dan Syiah. Lain halnya bagi Syiah disisi mereka dalil tentang Imamah itu sangat jelas sehingga mereka menjadikan itu sebagai dasar keimanan mereka. Oleh karena itu tidaklah benar langsung menyalahkan Syiah dengan dasar tidak ada dalilnya di sisi Sunni. Logika seperti ini terkesan berat sebelah dan bukankah mereka Syiah bisa mencap sebaliknya bahwa Sunni salah karena bertentangan dengan dalil yang shahih di sisi mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam perkembangannya Sunni dan Syiah seringkali berseteru pemahaman dan ini dapat dilihat dari karya-karya Ulama Sunni yang menyerang Syiah dan karya Ulama Syiah yang menjawab Ulama Sunni. Imamah jelas menjadi pokok permasalahan yang dibicarakan. Jadi bisa dikatakan apa yang ditulis oleh saudara Ja’far itu bukanlah hal baru oleh karenanya tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa banyak Ulama Syiah yang telah menjawab masalah yang beliau kemukakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang perlu diperhatikan bahwa Ulama Syiah seringkali berargumentasi tentang Imamah dengan menggunakan dalil di sisi Sunni. Tentu saja hal ini membuat respon yang kuat dari pihak Sunni. Mereka berusaha menyangkal dalil sunni yang digunakan oleh pihak Syiah. Penyangkalan ini dapat berupa penolakan Sunni akan shahihnya dalil itu walaupun ada di kitab Sunni sendiri dan yang kedua penolakan Sunni terhadap penafsiran Syiah terhadap dalil Sunni tersebut. Oleh karena itu wajar jika polemik ini jelas tidak pernah selesai.<br />
Kecenderungan atau subjektivitas dalam hal ini jelas cukup berperan di kedua belah pihak. Mari kita batasi dengan dalil Sunni yang dipakai pihak Syiah. Dalam hal ini Kecenderungan Ulama Syiah adalah</p>
<blockquote><p>• Mereka kadang cukup berpuas dengan adanya pihak sunni yang menshahihkan dalil yang mereka pakai seraya mengabaikan pihak sunni lain yang menolaknya<br />
• Mereka Ulama Syiah juga cenderung menyatakan telah terjadi ijma’ Ulama Sunni terhadap dalil yang mereka pakai walaupun pada kenyataannya terdapat ulama sunni lain yang menolak ijma’ ini.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan di sisi Sunni juga terdapat kecenderungan di antara Ulama-ulamanya ketika berhujjah dengan Ulama Syiah</p>
<blockquote><p>• Mereka Ulama Sunni cenderung untuk menyalahkan setiap apapun yang dikatakan Syiah walaupun dalilnya ternyata shahih disisi Sunni(kecenderungan ini saya temukan pada Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj As Sunnah dan Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah)<br />
• Selain itu Ulama Sunni juga punya kecenderungan untuk begitu mudah mencacat suatu dalil dengan alasan perawi dalil itu adalah syiah walaupun dalil itu sendiri tercatat dalam kitab Sunni.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Semua kecenderungan ini membuat polemik Sunni dan Syiah tidak pernah selesai, sehingga tidak jarang ada yang melihat bahwa kebenaran ada disisi Syiah atau sebaliknya Sunnilah yang benar. Semuanya itu tergantung juga dari kecenderungan mereka yang mempelajari dalil yang dipaparkan pihak Syiah dan Sunni. Tulisan saya adalah jelas tidak bermaksud menyimpulkan mana yang benar dalam masalah ini. Saya hanya ingin menampilkan bagaimana sudut pandang Syiah terhadap dalil Sunni yang mereka dakwa memperkuat keyakinan mereka. Tulisan ini hanyalah tanggapan terhadap tulisan saudara Ja’far.</p>
<p style="text-align:justify;">_____________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#008000;"><strong>UNTUK BERKOMENTAR DAN BERDIALOG DENGAN PENULIS SILAHKAN<a href="http://secondprince.wordpress.com/2007/10/11/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/" target="_blank"><span style="color:#0000ff;">-KLIK DISINI-</span></a></strong></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">*******************************************************************************</span></p>
<p style="text-align:justify;">____________________________________________________________________</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/haulawahabiyah.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/haulawahabiyah.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/haulawahabiyah.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/haulawahabiyah.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/haulawahabiyah.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/haulawahabiyah.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/haulawahabiyah.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/haulawahabiyah.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/haulawahabiyah.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/haulawahabiyah.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/haulawahabiyah.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/haulawahabiyah.wordpress.com/891/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/haulawahabiyah.wordpress.com/891/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/haulawahabiyah.wordpress.com/891/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=haulawahabiyah.wordpress.com&amp;blog=1498669&amp;post=891&amp;subd=haulawahabiyah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://haulawahabiyah.wordpress.com/2011/10/23/jawaban-untuk-saudara-ja%e2%80%99far-tentang-imamah-kecenderungan-sunni-dan-syiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/989cc43a7f176d87396e381e983a9971?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">haula wahabiyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
